Anda di halaman 1dari 24

PEMBENTUKAN MINERAL

Mineral tanah adalah mineral yang terkandung di dalam tanah dan merupakan salah satu
bahan utama penyusun tanah. Mineral dalam tanah berasal dari pelapukan fisik dan kimia dari
batuan yang merupakan bahan induk tanah, rekristalisasi dari senyawa-senyawa hasil pelapukan
lainnya atau pelapukan (alterasi) dari mineral primer dan sekunder yang ada.

Mineral mempunyai peran yang sangat penting dalam suatu tanah, antara lain sebagai
indikator cadangan sumber hara dalam tanah dan indikator muatan tanah beserta lingkungan
pembentukannya. Jenis mineral tanah secara garis besar dapat dibedakan atas mineral primer dan
mineral sekunder.

MINERAL PRIMER
Mineral primer adalah mineral tanah yang umumnya mempunyai ukuran butir fraksi pasir (2 – 0,05
mm). Contoh dari mineral primer yang banyak terdapat di Indonesia beserta sumbernya disajikan
dalam Tabel 1.

Tabel 1. Beberapa jenis mineral primer

Analisis jenis dan jumlah mineral primer dilakukan di laboratorium mineral dengan bantuan alat
mikroskop polarisasi. Pekerjaan analisis mineral primer dilaksanakan dalam dua tahapan, yaitu
pemisahan fraksi pasir dan identifikasi jenis mineral.

Pemisahan fraksi pasir


Prinsip dasar pemisahan fraksi pasir adalah menghilangkan material penyemen yang
menyelimuti atau menyemen butir-butir pasir dan memisahkan butir mineral berukuran fraksi pasir
dari fraksi debu dan liat. Material yang menyeliputi butir pasir dalam tanah umumnya berupa bahan
organik. Namun pada beberapa jenis tanah, material penyeliput tersebut selain oleh bahan organik,
juga oleh besi (pada tanah merah) dan oleh karbonat (pada tanah kapur). Bahan organik dihilangkan
dengan hidrogen peroksida (H2O2) besi dengan sodium dithionit (Na2S2O4) dan karbonat dengan
Chlorida (HCl).

Setelah butir mineral terlepas dilakukan pemisahan fraksi pasir dengan menggunakan
ayakan yang berukuran 1-0,05 mm. Jenis analisis mineral primer yang biasa dilaksanakan adalah
fraksi berat, fraksi ringan, dan fraksi total. Untuk analisis mineral pasir fraksi berat, terlebih dahulu
harus dipisahkan antara pasir fraksi berat dengan fraksi ringan. Yang tergolong dalam mineral pasir
fraksi berat adalah mineral pasir yang tenggelam dalam larutan bromoform dengan BJ 2,87. Untuk
analisis mineral pasir fraksi total, hasil pengayakan bisa langsung diperiksa.

Indentifikasi mineral pasir


Untuk keperluan identifikasi jenis mineral pasir, diperlukan lempeng kaca berukuran 2,5 cm
x 5 cm, cairan nitro bensol, dan mikroskop polarisasi. Butir pasir ditebarkan di atas lempeng kaca
hingga merata kemudian ditetesi nitro bensol dan diaduk sampai tidak ada pasir yang mengambang.
Lempeng kaca di taruh di mikroskop dan mulai diamati (Gambar 1).
Gambar 1. Kenampakan mineral pasir dilihat

dengan mikroskop polarisasi Pengamatan dilakukan mengikuti metode ”line counting” artinya
hanya mineral pasir yang terletak pada garis horizontal pada bidang pandang mikroskop yang
dihitung. Untuk analisis rutin penghitungan dilakukan hingga 100 butir, tapi untuk keperluan
penelitian yang lebih detail, penghitungan dapat dilakukan hingga 300 butir.

MINERAL SEKUNDER
Yang dimaksud dengan mineral sekunder atau mineral liat adalah mineral-mineral hasil
pembentukan baru atau hasil pelapukan mineral primer yang terjadi selama proses pembentukan
tanah yang komposisi maupun strukturnya sudah berbeda dengan mineral yang terlapuk. Jenis
mineral ini berukuran halus (<2μ), sehingga untuk identifikasinya digunakan alat XRD.

Contoh dari mineral sekunder yang banyak terdapat di Indonesia disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Beberapa jenis mineral sekunder

Analisis mineral liat terdiri atas pemisahan fraksi liat dan identifikasi mineral liat.

Pemisahan fraksi liat


Prinsip dasar pemisahan fraksi liat adalah menghilangkan bahan penyeliput dan penyemen,
serta memisahkan fraksi liat dari fraksi debu dan pasir. Dalam proses pemisahan fraksi ini dapat
digunakan contoh yang sama dengan contoh yang digunakan untuk analisis fraksi pasir, sehingga
proses destruksi bahan organik, besi, dan karbonat bisa dilakukan sekaligus.

Pemisahan fraksi liat dilakukan dengan cara yang sama seperti pemisahan fraksi untuk
tekstur yaitu dengan cara pengendapan yang didasarkan pada hukum Stoke.

Identifikasi mineral liat


Identifikasi mineral liat dilakukan dengan bantuan alat difraktometer sinar X (XRD).
Terlebih dahulu dibuat preparatnya dengan mengendapkan fraksi liat pada lempeng kramik, setelah
siap, preparat tersebut dijenuhkan dengan Mg2+, Mg2+ + glycerol, K+ dan K+ dipanaskan pada
suhu 550oC selama 1 jam (Gambar 2).
Gambar 2. Preparat mineral liat untuk analisis
Prinsip analisis dengan XRD adalah merekam dan memvisualisasikan pantulan sinar X dari kisikisi
kristal dalam bentuk grafik. Grafik tersebut kemudian dianalisis, terdiri atas mineral liat apa saja
dan relatif komposisinya.Analisis mineral liat juga dapat dilakukan dengan contoh berupa serbuk
halus (powder). Analisis ini biasanya dilakukan untuk menganalisis pupuk, mineral standar, atau
mineral primer yang sulit diidentifikasi dengan mikroskop.

KLASIFIKASI ENDAPAN MINERAL

Dalam kuliah Endapan Mineral untuk mahasiswa tingkat akhir Jurusan Teknik Geologi
biasanya diperkenalkan klasifikasi endapan mineral menurut Lindgren (1933), yang terdiri atas
epitermal, mesotermal, dan hipotermal. Pembagian ini didasarkan atas kontras suhu dan kedalaman
pembentukan endapan ini. Namun, pada perkembangan selanjutnya dua dari tiga istilah tersebut
sangat jarang digunakan, bahkan istilah hipotermal yang dulu diperuntukkan pada endapan yang
terbentuk pada lingkungan yang dalam (3-15 km) dengan suhu ~300-600oC tidak pernah lagi
digunakan. Orang lebih mudah memahami istilah sistem porfiri dibandingkan hipotermal. Hal ini
didasarkan atas karakteristik tekstur dan proses pembentukannya.

Bagimana dengan istilah mesotermal? Apakah begitu suhu pembentukan mineral


mencapai/melebihi 300oC suatu endapan bisa dikelompokkan ke dalam mesotermal, seperti pada
presentasi di IAGI November 2007 yang lalu? Menurut Lindgren (1933), endapan mesotermal
terbentuk pada kedalaman sedang (1,2-4,5 km) dengan kisaran suhu 200-300oC. Namun, pada
perkembangan modern, istilah mesotermal lebih difokuskan pada mineralisasi yang berhubungan
dengan proses orogenesa (orogenic gold), seperti zear zone, metamorphic lode, orogenic, atau
greenstone belt. Jadi, endapan mesotermal difokuskan pada endapan logam (emas) yang berasosiasi
dengan proses pembentukan batuan metamorfik.

Jadi kalau dilihat dari suhu pembentukannya, memang endapan mesotermal pasti di antara
200-300oC bahkan lebih dari 300oC. Meskipun demikian, mineralisasi yang masih berhubungan
dengan sistem porfiri, mendekati 300-an deg masih dianggap sebagai endapan epitermal, jadi bukan
termasuk mesotermal. Sebenarnya, faktor suhu ini akan berhubungan dengan logam apa yang akan
terdeposisi dan ligan apa yang akan mengantarkan logam pada tempat pengendapannya. Penelitian
terhadap suhu pembentukan saat ini tidak menjadi pusat perhatian dalam endapan logam, tetapi
lebih ditekankan kepada mekanisme pengangkutan (jenis larutan dan ligan) dan sumber larutan
pembentuk endapan itu sendiri (isotop stabil).

Bagaimana ciri-ciri endapan mesotermal atau yang lebih dikenal dengan istilah shear zone,
lode atau orogenic? Endapan mesotermal terbentuk oleh hasil ekstraksi logam dari batuan
pembawanya, misalnya batuan pelitik (lempung, lanau) atau basalt pada proses pembentukan
pegunungan (orogenesa). Ekstraksi logam khususnya emas dikontrol oleh penyangga karbon
dioksida (diistilahkan sebagai sekresi metamorfik). Jadi, kalau kita mendapatkan conto urat kuarsa
dan dianalisis inklusi fluidanya akan diperoleh inklusi yang kaya akan CO2.
Proses Pembentukan

Minyak dan gas dihasilkan dari pembusukan organisma, kebanyakannya tumbuhan laut
(terutama ganggang dan tumbuhan sejenis) dan juga binatang kecil seperti ikan, yang terkubur
dalam lumpur yang berubah menjadi bebatuan. Proses pemanasan dan tekanan di lapisan-lapisan
bumi membantu proses terjadinya minyak dan gas bumi. Cairan dan gas yang membusuk berpindah
dari lokasi awal dan terperangkap pada struktur tertentu. Lokasi awalnya sendiri telah mengeras,
setelah lumpur itu berubah menjadi bebatuan.

Minyak dan gas berpindah dari lokasi yang lebih dalam menuju bebatuan yang cocok.
Tempat ini biasanya berupa bebatuan-pasir yang berporos (berlubang-lubang kecil) atau juga batu
kapur dan patahan yang terbentuk dari aktifitas gunung berapi bisa berpeluang menyimpan minyak.
Yang paling penting adalah bebatuan tempat tersimpannya minyak ini, paling tidak bagian atasnya,
tertutup lapisan bebatuan kedap. Minyak dan gas ini biasanya berada dalam tekanan dan akan
keluar ke permukaan bumi, apakah dikarenakan pergerakan alami sebagian lapisan permukaan bumi
atau dengan penetrasi pengeboran. Bila tekanan cukup tinggi, maka minyak dan gas akan keluar ke
permukaan dengan sendirinya, tetapi jika tekanan tak cukup maka diperlukan pompa untuk
mengeluarkannya.

Proses Eksplorasi: Pemetaan Lineaments, Lithologic dan Geo-botanic

Eksplorasi sumber minyak dimulai dengan pencarian karakteristik pada permukaan bumi
yang menggambarkan lokasi deposit. Pemetaan kondisi permukaan bumi diawali dengan pemetaan
umum (reconnaissance), dan apabila ada indikasi tersimpannya mineral, dimulailah pemetaan detil.
Kedua pemetaan ini membutuhkan kerja validasi lapangan, akan tetapi kerja pemetaan ini sering
lebih mudah jika dibantu foto udara atau citra satelit. Setelah proses pemetaan, kerja eksplorasi
lebih intensif pada metoda-metoda geo-fisika, terutama seismik, yang dapat memetakan konstruksi
bawah permukaan bumi secara 3-dimensi untuk menemukan lokasi deposit secara tepat. Kemudian
dilakukan uji pengeboran.

Eksplorasi minyak dan gas bumi selalu bergantung pada peta permukaan bumi dan peta
jenis-jenis bebatuan serta struktur-struktur yang memberi petunjuk akan kondisi di bawah
permukaan bumi dengan yang cocok untuk terjadinya akumulasi minyak dan gas. Remote sensing
berpotensi dalam penentuan lokasi deposit mineral ini melalui pemetaan lineaments. Lineaments
adalah penampakan garis dalam skala regional sebagai akibat sifat geo-morfologis seperti alur air,
lereng, garis pegunungan, dan sifat menonjol lain yang menampak dalam bentuk zona-zona
patahan. Dengan menggunakan citra satelit gambaran keruangan alur air misalnya dapat dilihat
dalam skala luas, sehingga kemungkinan mencari relasi keruangan untuk lokasi deposit mineral
lebih besar.

Pemetaan lineament walaupun dapat dilakukan secara monoskopik (menggunakan satu


citra), tetapi akan lebih produktif jika digabungkan dengan pemetaan lithologic atau pemetaan unit-
unit bebatuan yang dilakukan secara stereoskopik (yang dapat mendeteksi ketinggian, karena
dilakukan pada dua buah citra stereo). Kalangan ahli geologi meyakini bahwa refleksi gelombang
elektromagnetik pada kisaran 1,6 sampai 2,2 mikrometer (=10-6 meter) atau pada spektrum
pertengahan infra-merah (1,3 ¡¦3,0 mikrometer) sangat cocok untuk eksplorasi mineral dan
pemetaan lithologic. Keberhasilan pemetaan ini bergantung pada bentuk topografi dan karakteristik
spektral sebagaimana diamati citra satelit. Untuk kawasan yang dipenuhi tumbuhan, mesti
dilakukan pendekatan geo-botanic, yaitu pengetahuan tentang hubungan antara jenis tetumbuhan
dengan kebutuhan nutrisi serta air pada tanah tempat tumbuhan ini tumbuh. Dengan demikian
distribusi tetumbuhan pun dapat menjadi indikator dalam mendeteksi komposisi tanah dan material
bebatuan di bawahnya.

Interpretasi citra dalam menemukan garis-garis patahan geologis memang membutuhkan


keahlian tersendiri. Jika hanya mengandalkan lineaments, maka beberapa riset menunjukkan cukup
banyak perbedaan interpretasi. Karenannya data garis ini dikorelasikan dengan karakteristik lain
yang tertangkap sensor remote sensing, yaitu jenis bebatuan, yang merupakan cerminan
mineralisasi permukaan bumi. Studi tentang jenis bebatuan dan respon spektral sangat membantu
pencarian permukaan di mana deposit mineral tersimpan.
Bagian luar bumi tertutupi oleh daratan dan lautan dimana bagian dari lautan lebih besar daripada
bagian daratan. Akan tetapi karena daratan adalah bagian dari kulit bumi yang dapat kita amati
langsung dengan dekat maka banyak hal-hal yang dapat pula kita ketahui dengan cepat dan jelas.
Salah satu diantaranya adalah kenyataan bahwa daratan tersusun oleh beberapa jenis batuan yang
berbeda satu sama lain. Dari jenisnya batuan-batuan tersebut dapat digolongkan menjadi 3 jenis
golongan. Mereka adalah : batuan beku (igneous rocks), batuan sediment (sedimentary rocks), dan
batuan metamorfosa/malihan (metamorphic rocks). Batuan-batuan tersebut berbeda-beda materi
penyusunnya dan berbeda pula proses terbentuknya.

Batuan beku atau sering disebut igneous rocks adalah batuan yang terbentuk dari satu atau beberapa
mineral dan terbentuk akibat pembekuan dari magma.
Berdasarkan teksturnya batuan beku ini bisa dibedakan lagi menjadi batuan beku plutonik dan
vulkanik. Perbedaan antara keduanya bisa dilihat dari besar mineral penyusun batuannya. Batuan
beku plutonik umumnya terbentuk dari pembekuan magma yang relatif lebih lambat sehingga
mineral-mineral penyusunnya relatif besar. Contoh batuan beku plutonik ini seperti gabro, diorite,
dan granit (yang sering dijadikan hiasan rumah). Sedangkan batuan beku vulkanik umumnya
terbentuk dari pembekuan magma yang sangat cepat (misalnya akibat letusan gunung api) sehingga
mineral penyusunnya lebih kecil. Contohnya adalah basalt, andesit (yang sering dijadikan pondasi
rumah), dan dacite

Batuan sediment atau sering disebut sedimentary rocks adalah batuan yang terbentuk akibat proses
pembatuan atau lithifikasi dari hasil proses pelapukan dan erosi yang kemudian tertransportasi dan
seterusnya terendapkan.
Batuan sediment ini bias digolongkan lagi menjadi beberapa bagian diantaranya batuan sediment
klastik, batuan sediment kimia, dan batuan sediment organik. Batuan sediment klastik terbentuk
melalui proses pengendapan dari material-material yang mengalami proses transportasi. Besar butir
dari batuan sediment klastik bervariasi dari mulai ukuran lempung sampai ukuran bongkah.
Biasanya batuan tersebut menjadi batuan penyimpan hidrokarbon (reservoir rocks) atau bisa juga
menjadi batuan induk sebagai penghasil hidrokarbon (source rocks). Contohnya batu konglomerat,
batu pasir dan batu lempung. Batuan sediment kimia terbentuk melalui proses presipitasi dari
larutan. Biasanya batuan tersebut menjadi batuan pelindung (seal rocks) hidrokarbon dari migrasi.
Contohnya anhidrit dan batu garam (salt). Batuan sediment organik terbentuk dari gabungan sisa-
sisa makhluk hidup. Batuan ini biasanya menjadi batuan induk (source) atau batuan penyimpan
(reservoir). Contohnya adalah batugamping terumbu.

Batuan metamorf atau batuan malihan adalah batuan yang terbentuk akibat proses perubahan
temperature dan/atau tekanan dari batuan yang telah ada sebelumnya. Akibat bertambahnya
temperature dan/atau tekanan, batuan sebelumnya akan berubah tektur dan strukturnya sehingga
membentuk batuan baru dengan tekstur dan struktur yang baru pula.
Contoh batuan tersebut adalah batu sabak atau slate yang merupakan perubahan batu lempung. Batu
marmer yang merupakan perubahan dari batu gamping. Batu kuarsit yang merupakan perubahan
dari batu pasir.Apabila semua batuan-batuan yang sebelumnya terpanaskan dan meleleh maka akan
membentuk magma yang kemudian mengalami proses pendinginan kembali dan menjadi batuan-
batuan baru lagi.

Proses-proses tersebut berlangsung sepanjang waktu baik di masa lampau maupun masa yang akan
datang. Kejadian alam dan proses geologi yang berlangsung sekarang inilah yang memberikan
gambaran apa yang telah terjadi di masa lampau seperti diungkapkan oleh ahli geologi “JAMES
HUTTON” dengan teorinya “THE PRESENT IS THE KEY TO THE PAST”

SIKLUS BATUAN

ROCK CYCLE / SIKLUS BATUAN


Sebelumnya kita sudah tahu bahwa di bumi ada tiga jenis batuan yaitu batuan beku,
batuan sedimen, dan batuan metamorf. Ketiga batuan tersebut dapat berubah
menjadi batuan metamorf tetapi ketiganya juga bisa berubah menjadi batuan lainnya.
Semua batuan akan mengalami pelapukan dan erosi menjadi partikel-partikel atau
pecahan-pecahan yang lebih kecil yang akhirnya juga bisa membentuk batuan
sedimen. Batuan juga bisa melebur atau meleleh menjadi magma dan kemudian
kembali menjadi batuan beku. Kesemuanya ini disebut siklus batuan atau ROCK
CYCLE.

Semua batuan yang ada di permukaan bumi akan mengalami pelapukan. Penyebab
pelapukan tersebut ada 3 macam:
1. Pelapukan secara fisika: perubahan suhu dari panas ke dingin akan membuat
batuan mengalami perubahan. Hujan pun juga dapat membuat rekahan-rekahan yang
ada di batuan menjadi berkembang sehingga proses-proses fisika tersebut dapat
membuat batuan pecah menjadi bagian yang lebih kecil lagi.
2. Pelapukan secara kimia: beberapa jenis larutan kimia dapat bereaksi dengan
batuan seperti contohnya larutan HCl akan bereaksi dengan batu gamping. Bahkan air
pun dapat bereaksi melarutan beberapa jenis batuan. Salah satu contoh yang nyata
adalah “hujan asam” yang sangat mempengaruhi terjadinya pelapukan secara kimia.
3. Pelapukan secara biologi: Selain pelapukan yang terjadi akibat proses fisikan dan
kimia, salah satu pelapukan yang dapat terjadi adalah pelapukan secara biologi. Salah
satu contohnya adalah pelapukan yang disebabkan oleh gangguan dari akar tanaman
yang cukup besar. Akar-akar tanaman yang besar ini mampu membuat rekahan-
rekahan di batuan dan akhirnya dapat memecah batuan menjadi bagian yang lebih
kecil lagi.
Setelah batuan mengalami pelapukan, batuan-batuan tersebut akan pecah menjadi
bagian yang lebih kecil lagi sehingga mudah untuk berpindah tempat. Berpindahnya
tempat dari partikel-partikel kecil ini disebut erosi. Proses erosi ini dapat terjadi
melalui beberapa cara:
1. Akibat grafitasi: akibat adanya grafitasi bumi maka pecahan batuan yang ada bisa
langsung jatuh ke permukaan tanah atau menggelinding melalui tebing sampai
akhirnya terkumpul di permukaan tanah.
2. Akibat air: air yang melewati pecahan-pecahan kecil batuan yang ada dapat
mengangkut pecahan tersebut dari satu tempat ke tempat yang lain. Salah satu
contoh yang dapat diamati dengan jelas adalah peranan sungai dalam mengangkut
pecahan-pecahan batuan yang kecil ini.
3. Akibat angin: selain air, angin pun dapat mengangkut pecahan-pecahan batuan
yang kecil ukurannya seperti halnya yang saat ini terjadi di daerah gurun.
4. Akibat glasier: sungai es atau yang sering disebut glasier seperti yang ada di Alaska
sekarang juga mampu memindahkan pecahan-pecahan batuan yang ada.
Pecahan-pecahan batuan yang terbawa akibat erosi tidak dapat terbawa selamanya.
Seperti halnya sungai akan bertemu laut, angin akan berkurang tiupannya, dan juga
glasier akan meleleh. Akibat semua ini, maka pecahan batuan yang terbawa akan
terendapkan. Proses ini yang sering disebut proses pengendapan. Selama proses
pengendapan, pecahan batuan akan diendapkan secara berlapis dimana pecahan
yang berat akan diendapkan terlebih dahulu baru kemudian diikuti pecahan yang lebih
ringan dan seterusnya. Proses pengendapan ini akan membentuk perlapisan pada
batuan yang sering kita lihat di batuan sedimen saat ini.
Pada saat perlapisan di batuan sedimen ini terbentuk, tekanan yang ada di perlapisan
yang paling bawah akan bertambah akibat pertambahan beban di atasnya. Akibat
pertambahan tekanan ini, air yang ada dalam lapisan-lapisan batuan akan tertekan
sehingga keluar dari lapisan batuan yang ada. Proses ini sering disebut kompaksi.
Pada saat yang bersamaan pula, partikel-partikel yang ada dalam lapisan mulai
bersatu. Adanya semen seperti lempung, silika, atau kalsit diantara partikel-partikel
yang ada membuat partikel tersebut menyatu membentuk batuan yang lebih keras.
Proses ini sering disebut sementasi. Setelah proses kompaksi dan sementasi terjadi
pada pecahan batuan yang ada, perlapisan sedimen yang ada sebelumnya berganti
menjadi batuan sedimen yang berlapis-lapis. Batuan sedimen seperti batu pasir, batu
lempung, dan batu gamping dapat dibedakan dari batuan lainnya melalui adanya
perlapisan, butiran-butiran sedimen yang menjadi satu akibat adanya semen, dan juga
adanya fosil yang ikut terendapkan saat pecahan batuan dan fosil mengalami proses
erosi, kompaksi dan akhirnya tersementasikan bersama-sama.
Pada kerak bumi yang cukup dalam, tekanan dan suhu yang ada sangatlah tinggi.
Kondisi tekanan dan suhu yang sangat tinggi seperti ini dapat mengubah mineral yang
dalam batuan. Proses ini sering disebut proses metamorfisme. Semua batuan yang
ada dapat mengalami proses metamorfisme. Tingkat proses metamorfisme yang
terjadi tergantung dari:
1. Apakah batuan yang ada terkena efek tekanan dan atau suhu yang tinggi.
2. Apakah batuan tersebut mengalami perubahan bentuk.
3. Berapa lama batuan yang ada terkena tekanan dan suhu yang tinggi.
Dengan bertambahnya dalam suatu batuan dalam bumi, kemungkinan batuan yang
ada melebur kembali menjadi magma sangatlah besar. Ini karena tekanan dan suhu
yang sangat tinggi pada kedalaman yang sangat dalam. Akibat densitas dari magma
yang terbentuk lebih kecil dari batuan sekitarnya, maka magma tersebut akan
mencoba kembali ke permukaan menembus kerak bumi yang ada. Magma juga
terbentuk di bawah kerak bumi yaitu di mantle bumi. Magma ini juga akan berusaha
menerobos kerak bumi untuk kemudian berkumpul dengan magma yang sudah
terbentuk sebelumnya dan selanjutnya berusaha menerobos kerak bumi untuk
membentuk batuan beku baik itu plutonik ataupun vulkanik.
http://doddys.files.wordpress.com/2008/02/extrusive.jpgKadang-kadang magma
mampu menerobos sampai ke permukaan bumi melalui rekahan atau patahan yang
ada di bumi. Pada saat magma mampu menembus permukaan bumi, maka kadang
terbentuk ledakan atau sering disebut volcanic eruption. Proses ini sering disebut
proses ekstrusif. Batuan yang terbentuk dari magma yang keluar ke permukaan
disebut batuan beku ekstrusif. Basalt dan pumice (batu apung) adalah salah satu
contoh batuan ekstrusif. Jenis batuan yang terbentuk akibat proses ini tergantung dari
komposisi magma yang ada. Umumnya batuan beku ekstrusif memperlihatkan cirri-
ciri berikut:
1. Butirannya sangatlah kecil. Ini disebabkan magma yang keluar ke permukaan bumi
mengalami proses pendinginan yang sangat cepat sehingga mineral-mineral yang ada
sebagai penyusun batuan tidak mempunyai banyak waktu untuk dapat berkembang.
2. Umumnya memperlihatkan adanya rongga-rongga yang terbentuk akibat gas yang
terkandung dalam batuan atau yang sering disebut “gas bubble”.
Batuan yang meleleh akibat tekanan dan suhu yang sangat tinggi sering membentuk
magma chamber dalam kerak bumi. Magma ini bercampur dengan magma yang
terbentuk dari mantle. Karena letak magma chamber yang relatif dalam dan tidak
mengalami proses ekstrusif, maka magma yang ada mengalami proses pendinginan
yang relatif lambat dan membentuk kristal-kristal mineral yang akhirnya membentuk
batuan beku intrusif. Batuan beku intrusif dapat tersingkap di permukaan membentuk
pluton. Salah satu jenis pluton terbesar yang tersingkap dengan jelas adalah batholit
seperti yang ada di Sierra Nevada - USA yang merupakan batholit granit yang sangat
besar. Gabbro juga salah satu contoh batuan intrusif. Jenis batuan yang terbentuk
akibat proses ini tergantung dari komposisi magma yang ada. Umumnya batuan beku
intrusif memperlihatkan cirri-ciri berikut:
1. Butirannya cukup besar. Ini disebabkan magma yang keluar ke permukaan bumi
mengalami proses pendinginan yang sangat lambat sehingga mineral-mineral yang
ada sebagai penyusun batuan mempunyai banyak waktu untuk dapat berkembang.
2. Biasanya mineral-mineral pembentuk batuan beku intrusif memperlihatkan angular
interlocking.
Proses-proses inilah semua yang terjadi dimasa lampau, sekarang, dan yang akan
datang. Terjadinya proses-proses ini menjaga keseimbangan batuan yang ada di bumi.
Referensi :
• Oxford University Museum - http://www.oum.ox.ac.uk/
Batuan : Batuan Beku

Batuan beku atau batuan igneus (dari Bahasa Latin: ignis, “api”) adalah jenis batuan
yang terbentuk dari magma yang mendingin dan mengeras, dengan atau tanpa
proses kristalisasi, baik di bawah permukaan sebagai batuan intrusif (plutonik)
maupun di atas permukaan sebagai batuan ekstrusif (vulkanik). Magma ini dapat
berasal dari batuan setengah cair ataupun batuan yang sudah ada, baik di mantel
ataupun kerak bumi. Umumnya, proses pelelehan terjadi oleh salah satu dari proses-
proses berikut: kenaikan temperatur, penurunan tekanan, atau perubahan komposisi.
Lebih dari 700 tipe batuan beku telah berhasil dideskripsikan, sebagian besar
terbentuk di bawah permukaan kerak bumi.

STRUKTUR BATUAN BEKU


Berdasarkan tempat pembekuannya batuan beku dibedakan menjadi batuan beku
extrusive dan intrusive. Hal ini pada nantinya akan menyebabkan perbedaan pada
tekstur masing masing batuan tersebut. Kenampakan dari batuan beku yang
tersingkap merupakan hal pertama yang harus kita perhatikan. Kenampakan inilah
yang disebut sebagai struktur batuan beku

1. Struktur batuan beku ekstrusif

Batuan beku ekstrusif adalah batuan beku yang proses pembekuannya berlangsung
dipermukaan bumi. Batuan beku ekstrusif ini yaitu lava yang memiliki berbagia
struktur yang memberi petunjuk mengenai proses yang terjadi pada saat pembekuan
lava tersebut. Struktur ini diantaranya:
a. Masif, yaitu struktur yang memperlihatkan suatu masa batuan yang terlihat
seragam.
b. Sheeting joint, yaitu struktur batuan beku yang terlihat sebagai lapisan
c. Columnar joint, yaitu struktur yang memperlihatkan batuan terpisah poligonal
seperti batang pensil.
d. Pillow lava, yaitu struktur yang menyerupai bantal yang bergumpal-gumpal. Hal ini
diakibatkan proses pembekuan terjadi pada lingkungan air.
e. Vesikular, yaitu struktur yang memperlihatkan lubang-lubang pada batuan beku.
Lubang ini terbentuk akibat pelepasan gas pada saat pembekuan.
f. Amigdaloidal, yaitu struktur vesikular yang kemudian terisi oleh mineral lain seperti
kalsit, kuarsa atau zeolit
g. Struktur aliran, yaitu struktur yang memperlihatkan adanya kesejajaran mineral
pada arah tertentu akibat aliran

2. Struktur Batuan Beku Intrusif

intrusif1Batuan beku ekstrusif adalah batuan beku yang proses pembekuannya


berlangsung dibawah permukaan bumi. berdasarkan kedudukannya terhadap
perlapisan batuan yang diterobosnya struktur tubuh batuan beku intrusif terbagi
menjadi dua yaitu konkordan dan diskordan.

Konkordan

Tubuh batuan beku intrusif yang sejajar dengan perlapisan disekitarnya, jenis jenis
dari tubuh batuan ini yaitu :
a. Sill, tubuh batuan yang berupa lembaran dan sejajar dengan perlapisan batuan
disekitarnya.
b. Laccolith, tubuh batuan beku yang berbentuk kubah (dome), dimana perlapisan
batuan yang asalnya datar menjadi melengkung akibat penerobosan tubuh batuan ini,
sedangkan bagian dasarnya tetap datar. Diameter laccolih berkisar dari 2 sampai 4
mil dengan kedalaman ribuan meter.
c. Lopolith, bentuk tubuh batuan yang merupakan kebalikan dari laccolith, yaitu
bentuk tubuh batuan yang cembung ke bawah. Lopolith memiliki diameter yang lebih
besar dari laccolith, yaitu puluhan sampai ratusan kilometer dengan kedalaman ribuan
meter.
d. Paccolith, tubuh batuan beku yang menempati sinklin atau antiklin yang telah
terbentuk sebelumnya. Ketebalan paccolith berkisar antara ratusan sampai ribuan
kilometer
Diskordan

Tubuh batuan beku intrusif yang memotong perlapisan batuan disekitarnya. Jenis-jenis
tubuh batuan ini yaitu:
a. Dike, yaitu tubuh batuan yang memotong perlapisan disekitarnya dan memiliki
bentuk tabular atau memanjang. Ketebalannya dari beberapa sentimeter sampai
puluhan kilometer dengan panjang ratusan meter.
b. Batolith, yaitu tubuh batuan yang memiliki ukuran yang sangat besar yaitu > 100
km2 dan membeku pada kedalaman yang besar.
c. Stock, yaitu tubuh batuan yang mirip dengan Batolith tetapi ukurannya lebih kecil

TEKSTUR BATUAN BEKU

Magma merupakan larutan yang kompleks. Karena terjadi penurunan temperatur,


perubahan tekanan dan perubahan dalam komposisi, larutan magma ini mengalami
kristalisasi. Perbedaan kombinasi hal-hal tersebut pada saat pembekuan magma
mengakibatkan terbentuknya batuan yang memilki tekstur yang berbeda.

Ketika batuan beku membeku pada keadaan temperatur dan tekanan yang tinggi di
bawah permukaan dengan waktu pembekuan cukup lama maka mineral-mineral
penyusunya memiliki waktu untuk membentuk sistem kristal tertentu dengan ukuran
mineral yang relatif besar. Sedangkan pada kondisi pembekuan dengan temperatur
dan tekanan permukaan yang rendah, mineral-mineral penyusun batuan beku tidak
sempat membentuk sistem kristal tertentu, sehingga terbentuklah gelas (obsidian)
yang tidak memiliki sistem kristal, dan mineral yang terbentuk biasanya berukuran
relatif kecil. Berdasarkan hal di atas tekstur batuan beku dapat dibedakan
berdasarkan :

1. Tingkat kristalisasi
a) Holokristalin, yaitu batuan beku yang hampir seluruhnya disusun oleh kristal
b) Hipokristalin, yaitu batuan beku yang tersusun oleh kristal dan gelas
c) Holohyalin, yaitu batuan beku yang hampir seluruhnya tersusun oleh gelas

2. Ukuran butir
a) Phaneritic, yaitu batuan beku yang hampir seluruhmya tersusun oleh mineral-
mineral yang berukuran kasar.
b) Aphanitic, yaitu batuan beku yang hampir seluruhnya tersusun oleh mineral
berukuran halus.

3. Bentuk kristal
Ketika pembekuan magma, mineral-mineral yang terbentuk pertama kali biasanya
berbentuk sempurna sedangkan yang terbentuk terakhir biasanya mengisi ruang yang
ada sehingga bentuknya tidak sempurna. Bentuk mineral yang terlihat melalui
pengamatan mikroskop yaitu:
a) Euhedral, yaitu bentuk kristal yang sempurna
b) Subhedral, yaitu bentuk kristal yang kurang sempurna
c) Anhedral, yaitu bentuk kristal yang tidak sempurna.
batuan-beku

4. Berdasarkan kombinasi bentuk kristalnya


a) Unidiomorf (Automorf), yaitu sebagian besar kristalnya dibatasi oleh bidang kristal
atau bentuk kristal euhedral (sempurna)
b) Hypidiomorf (Hypautomorf), yaitu sebagian besar kristalnya berbentuk euhedral
dan subhedral.
c) Allotriomorf (Xenomorf), sebagian besar penyusunnya merupakan kristal yang
berbentuk anhedral.

5. Berdasarkan keseragaman antar butirnya


a) Equigranular, yaitu ukuran butir penyusun batuannya hampir sama
b) Inequigranular, yaitu ukuran butir penyusun batuannya tidak sama

KLASIFIKASI BATUAN BEKU

Batuan beku diklasifikasikan berdasarkan tempat terbentuknya, warna, kimia, tekstur,


dan mineraloginya.

a. Berdasarkan tempat terbentuknya batuan beku dibedakan atas :

1. Batuan beku Plutonik, yaitu batuan beku yang terbentuk jauh di perut bumi.
2. Batuan beku Hypabisal, yaitu batuan beku yang terbentu tidak jauh dari permukaan
bumi
3. Batuan beku vulkanik, yaitu batuan beku yang terbentuk di permukaan bumi
Berdasarkan warnanya, mineral pembentuk batuan beku ada dua yaitu mineral mafic
(gelap) seperti olivin, piroksen, amphibol dan biotit, dan mineral felsic (terang) seperti
Feldspar, muskovit, kuarsa dan feldspatoid.

b. Klasifikasi batuan beku berdasarkan warnanya yaitu:

1. Leucocratic rock, kandungan mineral mafic < 30%


2. Mesocratic rock, kandungan mineral mafic 30% - 60%
3. Melanocratic rock, kandungan mineral mafic 60% - 90%
4. Hypermalanic rock, kandungan mineral mafic > 90%

c. Berdasarkan kandungan kimianya yaitu kandungan SiO2-nya batuan beku


diklasifikasikan menjadi empat yaitu:

1. Batuan beku asam (acid), kandungan SiO2 > 65%, contohnya Granit, Ryolit.
2. Batuan beku menengah (intermediat), kandungan SiO2 65% - 52%. Contohnya
Diorit, Andesit
3. Batuan beku basa (basic), kandungan SiO2 52% - 45%, contohnya Gabbro, Basalt
4. Batuan beku ultra basa (ultra basic), kandungan SiO2 < 30%

PENGELOMPOKAN BATUAN BEKU

grafik

Untuk membedakan berbagai jenis batuan beku yang terdapat di Bumi, dilakukan
berbagai cara pengelompokan terhadap batuan beku (gambar). Pengelompokan yang
didasarkan kepada susunan kimia batuan, jarang dilakukan. Hal ini disebabkan
disamping prosesnya lama dan mahal, karena harus dilakukan melalui analisa
kimiawi. Dan yang sering digunakan adalah yang didasarkan kepada tekstur
dipadukan dengan susunan mineral, dimana keduanya dapat dilihat dengan kasat
mata.

Pada gambar disamping diperlihatkan pengelompokan batuan beku dalam bagan,


berdasarkan susunan mineralogi. Gabro adalah batuan beku dalam dimana sebagian
besar mineral-mineralnya adalah olivine dan piroksin. Sedangkan Felsparnya terdiri
dari felspar plagioklas Ca. Teksturnya kasar atau phanerik, karena mempunyai waktu
pendinginan yang cukup lama didalam litosfir. Kalau dia membeku lebih cepat karena
mencapai permukaan bumi, maka batuan beku yang terjadi adalah basalt dengan
tekstur halus. Jadi Gabro dan Basalt keduanya mempunyai susunan mineral yang
sama, tetapi teksturnya berbeda. Demikian pula dengan Granit dan Rhyolit, atau Diorit
dan Andesit. Granit dan Diorit mempunyai tekstur yang kasar, sedangkan Rhyolit dan
Andesit, halus. Basalt dan Andesit adalah batuan beku yang banyak dikeluarkan
gunung-berapi, sebagai hasil pembekuan lava.

grafik2

Para ahli teknik Sipil akan sangat tertarik untuk mempelajari batuan, disamping
fungsinya sebagai bahan bangunan, juga karena perannya sebagai batuan dasar atau
pondasi. Karena itu kepada mereka dianjurkan untuk dapat mengenal beberapa jenis
batuan beku yang utama di lapangan. Untuk memperoleh data tentang sifat batuan
yang diperlukan oleh para ahli Teknik Sipil, umumnya dilakukan pengujian lapangan
dan studi petrografi (mikroskopis). Data tersebut diperlukan dalam kaitannya untuk
penambangan, konstruksi bawah permukaan atau untuk menentukan cara-cara
membuat bukaan.

Batuan beku juga dapat dikelompokan berdasarkan bentuk-bentuknya didalam kerak


Bumi. Pada saat magma menerobos litosfir dalam perjalanannya menuju permukaan
Bumi, ia dapat menempati tempatnya didalam kerak dengan cara memotong struktur
batuan yang telah ada, atau mengikuti arah dari struktur batuan. Yang memotong
struktur disebut bentuk-bentuk diskordan, sedangkan yang mengikuti struktur disebut
konkordan.

MAGMA

Dalam siklus batuan dicantumkan bahwa batuan beku bersumber dari proses
pendinginan dan penghabluran lelehan batuan didalam Bumi yang disebut magma.
Magma adalah suatu lelehan silikat bersuhu tinggi berada didalam Litosfir, yang terdiri
dari ion-ion yang bergerak bebas, hablur yang mengapung didalamnya, serta
mengandung sejumlah bahan berwujud gas. Lelehan tersebut diperkirakan terbentuk
pada kedalaman berkisar sekitar 200 kilometer dibawah permukaan Bumi, terdiri
terutama dari unsur-unsur yang kemudian membentuk mineral-mineral silikat.

Magma yang mempunyai berat-jenis lebih ringan dari batuan sekelilingnya, akan
berusaha untuk naik melalui rekahan-rekahan yang ada dalam litosfir hingga akhirnya
mampu mencapai permukaan Bumi. Apabila magma keluar, melalui kegiatan gunung-
berapi dan mengalir diatas permukaan Bumi, ia akan dinamakan lava. Magma ketika
dalam perjalanannya naik menuju ke permukaan, dapat juga mulai kehilangan
mobilitasnya ketika masih berada didalam litosfir dan membentuk dapur-dapur
magma sebelum mencapai permukaan. Dalam keadaan seperti itu, magma akan
membeku ditempat, dimana ion-ion didalamnya akan mulai kehilangan gerak
bebasnya kemudian menyusun diri, menghablur dan membentuk batuan beku. Namun
dalam proses pembekuan tersebut, tidak seluruh bagian dari lelehan itu akan
menghablur pada saat yang sama. Ada beberapa jenis mineral yang terbentuk lebih
awal pada suhu yang tinggi dibanding dengan lainnya.

Dalam gambar berikut diperlihatkan urutan penghabluran (pembentukan mineral)


dalam proses pendinginan dan penghabluran lelehan silikat. Mineral-mineral yang
mempunyai berat-jenis tinggi karena kandungan Fe dan Mg seperti olivine, piroksen,
akan menghablur paling awal dalam keadaan suhu tinggi, dan kemudian disusul oleh
amphibole dan biotite. Disebelah kanannya kelompok mineral felspar, akan diawali
dengan jenis felspar calcium (Ca-Felspar) dan diikuti oleh felspar kalium (K-Felspar).
Akibatnya pada suatu keadaan tertentu, kita akan mendapatkan suatu bentuk dimana
hublur-hablur padat dikelilingi oleh lelehan.

magma

Bentuk-bentuk dan ukuran dari hablur yang terjadi, sangat ditentukan oleh derajat
kecepatan dari pendinginan magma. Pada proses pendinginan yang lambat, hablur
yang terbentuk akan mempunyai bentuk yang sempurna dengan ukuran yang besar-
besar. Sebaliknya, apabila pendinginan itu berlangsung cepat, maka ion-ion
didalamnya akan dengan segera menyusun diri dan membentuk hablur-hablur yang
berukuran kecil-kecil, kadang berukuran mikroskopis. Bentuk pola susunan hablur-
hablur mineral yang nampak pada batuan beku tersebut dinamakan tekstur batuan.

Disamping derajat kecepatan pendinginan, susunan mineralogi dari magma serta


kadar gas yang dikandungnya, juga turut menentukan dalam proses
penghablurannya. Mengingat magma dalam aspek-aspek tersebut diatas sangat
berbeda, maka batuan beku yang terbentuk juga sangat beragam dalam susunan
mineralogi dan kenampakan fisiknya. Meskipun demikian, batuan beku tetap dapat
dikelompokan berdasarkan cara-cara pembentukan seta susunan mineraloginya.

PROSES PEMBENTUKAN MAGMA

Magma dalam kerak Bumi dapat terbentuk sebagai akibat dari perbenturan antara 2
(dua) lempeng litosfir, dimana salah satu dari lempeng yang berinteraksi itu
menunjam dan menyusup kedalam astenosfir. Sebagai akibat dari gesekan yang
berlangsung antara kedua lempeng litosfir tersebut, maka akan terjadi peningkatan
suhu dan tekanan, ditambah dengan penambahan air berasal dari sedimen-sedimen
samudra akan disusul oleh proses peleburan sebagian dari litosfir (gambar berikut)

magma2

Sumber magma yang terjadi sebagai akibat dari peleburan tersebut akan
menghasilkan magma yang bersusunan asam (kandungan unsur SiO2 lebih besar dari
55%). Magma yang bersusunan basa, adalah magma yang terjadi dan bersumber dari
astenosfir. Magma seperti itu didapat di daerah-daerah yang mengalami gejala
regangan yang dilanjutkan dengan pemisahan litosfir.

Berdasakan sifat kimiawinya, batuan beku dapat dikelompokan menjadi 4 (empat)


kelompok, yaitu: (1) Kelompok batuan beku ultrabasa/ultramafic; (2) Kelompok batuan
beku basa; (3) Kelompok batuan beku intermediate; dan (4) Kelompok batuan beku
asam. Dengan demikian maka magma asal yang membentuk batuan batuan tersebut
diatas dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu magma basa, magma intermediate, dan
magma asam. Yang menjadi persoalan dari magma adalah :

1) Apakah benar bahwa magma terdiri dari 3 jenis (magma basa, intermediate,
asam) ?

2) Apakah mungkin magma itu hanya ada satu jenis saja dan kalau mungkin
bagaimana menjelaskan cara terbentuknya batuan-batuan yang komposisinya bersifat
ultrabasa, basa, intermediate dan asam?
Berdasarkan pengelompokan batuan beku, maka pertanyaan pertama dapat
dibenarkan dan masuk akal apabila magma terdiri dari 3 jenis, sedangkan pertanyaan
kedua, apakah benar bahwa magma hanya ada satu jenis saja dan bagaimana
caranya sehingga dapat membentuk batuan yang bersifat ultrabasa, basa,
intermediate, dan asam?. Untuk menjawab pertanyaan ini, ada 2 cara untuk
menjelaskan bagaimana batuan yang bersifat basa, intermediate, dan asam itu dapat
terbentuk dari satu jenis magma saja? Jawabannya adalah melalui proses Diferensiasi
Magma dan proses Asimilasi Magma.

Diferensiasi Magma adalah proses penurunan temperatur magma yang terjadi secara
perlahan yang diikuti dengan terbentuknya mineral-mineral seperti yang ditunjukkan
dalam deret reaksi Bowen. Pada penurunan temperatur magma maka mineral yang
pertama kali yang akan terbentuk adalah mineral Olivine, kemudian dilanjutkan
dengan Pyroxene, Hornblende, Biotite (Deret tidak kontinu). Pada deret yang kontinu,
pembentukan mineral dimulai dengan terbentuknya mineral Ca-Plagioclase dan
diakhiri dengan pembentukan Na-Plagioclase. Pada penurunan temperatur selanjutnya
akan terbentuk mineral K-Feldspar(Orthoclase), kemudian dilanjutkan oleh Muscovite
dan diakhiri dengan terbentuknya mineral Kuarsa (Quartz). Proses pembentukan
mineral akibat proses diferensiasi magma dikenal juga sebagai Mineral Pembentuk
Batuan (Rock Forming Minerals).

Pembentukan batuan yang berkomposisi ultrabasa, basa, intermediate, dan asam


dapat terjadi melalui proses diferensiasi magma. Pada tahap awal penurunan
temperatur magma, maka mineral-mineral yang akan terbentuk untuk pertama
kalinya adalah Olivine, Pyroxene dan Ca-plagioklas dan sebagaimana diketahui bahwa
mineral-mineral tersebut adalah merupakan mineral penyusun batuan ultra basa.
Dengan terbentuknya mineral-mineral Olivine, pyroxene, dan Ca-Plagioklas maka
konsentrasi larutan magma akan semakin bersifat basa hingga intermediate dan pada
kondisi ini akan terbentuk mineral mineral Amphibol, Biotite dan Plagioklas yang
intermediate (Labradorite – Andesine) yang merupakan mineral pembentuk batuan
Gabro (basa) dan Diorite (intermediate). Dengan terbentuknya mineral-mineral
tersebut diatas, maka sekarang konsentrasi magma menjadi semakin bersifat asam.
Pada kondisi ini mulai terbentuk mineral-mineral K-Feldspar (Orthoclase), Na-
Plagioklas (Albit), Muscovite, dan Kuarsa yang merupakan mineral-mineral penyusun
batuan Granite dan Granodiorite (Proses diferensiasi magma ini dikenal dengan seri
reaksi Bowen).

Asimilasi Magma adalah proses meleburnya batuan samping (migling) akibat naiknya
magma ke arah permukaan dan proses ini dapat menyebabkan magma yang tadinya
bersifat basa berubah menjadi asam karena komposisi batuan sampingnya lebih
bersifat asam. Apabila magma asalnya bersifat asam sedangkan batuan sampingnya
bersifat basa, maka batuan yang terbentuk umumnya dicirikan oleh adanya Xenolite
(Xenolite adalah fragment batuan yang bersifat basa yang terdapat dalam batuan
asam). Pembentukan batuan yang berkomposisi ultrabasa, basa, intermediate, dan
asam dapat juga terjadi apabila magma asal (magma basa) mengalami asimilasi
dengan batuan sampingnya.

Sebagai contoh suatu magma basa yang menerobos batuan samping yang
berkomposisi asam maka akan terjadi asimilasi magma, dimana batuan samping akan
melebur dengan larutan magma dan hal ini akan membuat konsentrasi magma
menjadi bersifat intermediate hingga asam. Dengan demikian maka batuan-batuan
yang berkomposisi mineral intermediate maupun asam dapat terbentuk dari magma
basa yang mengalami asimilasi dengan batuan sampingnya. Klasifikasi batuan beku
dapat dilakukan berdasarkan kandungan mineralnya, kejadian / genesanya (plutonik,
hypabisal, dan volkanik), komposisi kimia batuannya, dan indek warna batuannya.
Untuk berbagai keperluan klasifikasi, biasanya kandungan mineral dipakai untuk
mengklasifikasi batuan dan merupakan cara yang paling mudah dalam menjelaskan
batuan beku. Berdasarkan kejadiannya (genesanya), batuan beku dapat
dikelompokkan sebagai berikut:

1) Batuan Volcanic adalah batuan beku yang terbentuk dipermukaan atau sangat
dekat permukaan bumi dan umumnya berbutir sangat halus hingga gelas.
2) Batuan Hypabysal adalah batuan beku intrusive yang terbentuk dekat permukaan
bumi dengan ciri umum bertekstur porphyritic.
3) Batuan Plutonic adalah batuan beku intrusive yang terbentuk jauh dibawah
permukaan bumi dan umumnya bertekstur sedang hingga kasar.
4) Batuan Extrusive adalah batuan beku, bersifat fragmental atau sebaliknya dan
terbentuk sebagai hasil erupsi ke permukaan bumi.
5) Batuan Intrusive adalah batuan beku yang terbentuk dibawah permukaan bumi.

PENAMAAN BATUAN BEKU

grafik3

Penamaan batuan beku ditentukan berdasarkan dari komposisi mineral-mineral utama


(ditentukan berdasarkan persentase volumenya) dan apabila dalam penentuan
komposisi mineralnya sulit ditentukan secara pasti, maka analisis kimia dapat
dilakukan untuk memastikan komposisinya. Yang dimaksud dengan klasifikasi batuan
beku disini adalah semua batuan beku yang terbentuk seperti yang diuraikan diatas
(volkanik, plutonik, extrusive, dan intrusive). Dan batuan beku ini mungkin terbentuk
oleh proses magmatik, metamorfosa, atau kristalisasi metasomatism.

Penamaan batuan beku didasarkan atas Tekstur Batuan dan Komposisi Mineral.
Tekstur batuan beku adalah hubungan antar mineral dan derajat kristalisasinya.
Tekstur batuan beku terdiri dari 3 jenis (gambar bsamping), yaitu Aphanitics
(bertekstur halus), Porphyritics (bertekstur halus dan kasar), dan Phanerics (bertekstur
kasar). Pada batuan beku kita mengenal derajat kristalisasi batuan: Holohyaline
(seluruhnya terdiri dari mineral amorf/gelas)), holocrystalline (seluruhnya terdiri dari
kristal), dan hypocrystalline (sebagian teridiri dari amorf dan sebagian kristal).
Sedangkan bentuk mineral/butir dalam batuan beku dikenal dengan bentuk mineral:
Anhedral, Euhedral, dan Glass/amorf.

Komposisi mineral utama batuan adalah mineral penyusun batuan (Rock forming
Mineral) dari Bowen series, dapat terdiri dari satu atau lebih mineral. Komposisi
mineral dalam batuan beku dapat terdiri dari mineral primer (mineral yang terbentuk
pada saat pembentukan batuan / bersamaan pembekuan magma) dan mineral
sekunder (mineral yang terbentuk setelah pembentukan batuan).

Dalam Tabel berikut diperlihatkan jenis batuan beku Intrusif dan batuan beku Ekstrusif
dan batuan Ultramafik beserta komposisi mineral utama dan mineral sedikit yang
menyusun pada setiap jenis batuannya.

Sumber : Noor, D., 2008. “Pengantar Geologi”, Universitas Pakuan, Bogor

Batuan-batuan di bumi (Jenis dan terbentuknya)

siklus.jpg Bagian luar bumi tertutupi oleh daratan dan lautan dimana bagian dari
lautan lebih besar daripada bagian daratan. Akan tetapi karena daratan adalah bagian
dari kulit bumi yang dapat kita amati langsung dengan dekat maka banyak hal-hal
yang dapat pula kita ketahui dengan cepat dan jelas. Salah satu diantaranya adalah
kenyataan bahwa daratan tersusun oleh beberapa jenis batuan yang berbeda satu
sama lain. Dari jenisnya batuan-batuan tersebut dapat digolongkan menjadi 3 jenis
golongan. Mereka adalah : batuan beku (igneous rocks), batuan sediment
(sedimentary rocks), dan batuan metamorfosa/malihan (metamorphic rocks). Batuan-
batuan tersebut berbeda-beda materi penyusunnya dan berbeda pula proses
terbentuknya.

Batuan beku atau sering disebut igneous rocks adalah batuan yang terbentuk dari
satu atau beberapa mineral dan terbentuk akibat pembekuan dari magma.
Berdasarkan teksturnya batuan beku ini bisa dibedakan lagi menjadi batuan beku
plutonik dan vulkanik. Perbedaan antara keduanya bisa dilihat dari besar mineral
penyusun batuannya. Batuan beku plutonik umumnya terbentuk dari pembekuan
magma yang relatif lebih lambat sehingga mineral-mineral penyusunnya relatif besar.
Contoh batuan beku plutonik ini seperti gabro, diorite, dan granit (yang sering
dijadikan hiasan rumah). Sedangkan batuan beku vulkanik umumnya terbentuk dari
pembekuan magma yang sangat cepat (misalnya akibat letusan gunung api) sehingga
mineral penyusunnya lebih kecil. Contohnya adalah basalt, andesit (yang sering
dijadikan pondasi rumah), dan dacite

Batuan sediment atau sering disebut sedimentary rocks adalah batuan yang terbentuk
akibat proses pembatuan atau lithifikasi dari hasil proses pelapukan dan erosi yang
kemudian tertransportasi dan seterusnya terendapkan. Batuan sediment ini bias
digolongkan lagi menjadi beberapa bagian diantaranya batuan sediment klastik,
batuan sediment kimia, dan batuan sediment organik. Batuan sediment klastik
terbentuk melalui proses pengendapan dari material-material yang mengalami proses
transportasi. Besar butir dari batuan sediment klastik bervariasi dari mulai ukuran
lempung sampai ukuran bongkah. Biasanya batuan tersebut menjadi batuan
penyimpan hidrokarbon (reservoir rocks) atau bisa juga menjadi batuan induk sebagai
penghasil hidrokarbon (source rocks). Contohnya batu konglomerat, batu pasir dan
batu lempung. Batuan sediment kimia terbentuk melalui proses presipitasi dari
larutan. Biasanya batuan tersebut menjadi batuan pelindung (seal rocks) hidrokarbon
dari migrasi. Contohnya anhidrit dan batu garam (salt). Batuan sediment organik
terbentuk dari gabungan sisa-sisa makhluk hidup. Batuan ini biasanya menjadi batuan
induk (source) atau batuan penyimpan (reservoir). Contohnya adalah batugamping
terumbu.

Batuan metamorf atau batuan malihan adalah batuan yang terbentuk akibat proses
perubahan temperature dan/atau tekanan dari batuan yang telah ada sebelumnya.
Akibat bertambahnya temperature dan/atau tekanan, batuan sebelumnya akan
berubah tektur dan strukturnya sehingga membentuk batuan baru dengan tekstur dan
struktur yang baru pula. Contoh batuan tersebut adalah batu sabak atau slate yang
merupakan perubahan batu lempung. Batu marmer yang merupakan perubahan dari
batu gamping. Batu kuarsit yang merupakan perubahan dari batu pasir.Apabila semua
batuan-batuan yang sebelumnya terpanaskan dan meleleh maka akan membentuk
magma yang kemudian mengalami proses pendinginan kembali dan menjadi batuan-
batuan baru lagi.

Proses-proses tersebut berlangsung sepanjang waktu baik di masa lampau maupun


masa yang akan datang. Kejadian alam dan proses geologi yang berlangsung
sekarang inilah yang memberikan gambaran apa yang telah terjadi di masa lampau
seperti diungkapkan oleh ahli geologi “JAMES HUTTON” dengan teorinya “THE
PRESENT IS THE KEY TO THE PAST”

Referensi :

* AAPG – www.aapg.org
* Bahan pelajaran dari University of North Dakota – http://volcano.und.edu
BAHAN GALIAN LOGAM

Bahan galian logam (bijih) atau ore dapat merupakan senyawa


Misal: Calaverite AuTe2
Sylvanite (Ag.Au)Te2
Atau dalam bentuk unsur logam tunggal
Misal: Native gold (Au)

Ore adalah batuan dan mineral, tidak hanya metal atau mineral yang mengan-dung
metal, tetapi beberapa non-metalik seperti sulfur dan flourite juga termasuk disebut
ore.
Yang tidak termasuk ore: batuan, pasir untuk bangunan, lempung, garam. Ini adalah
batuan dan mineral industri atau mineral-mineral ekonomis. Sehingga kita dengan
mudah dapat memisahkan yang mana material industri atau mineral bijih.

Teori modern mengenai ore diformulasikan oleh:

1. Georg Bauer atau Georgius Agricola pada abad 16, mengamati dan mengobser-vasi
ore deposit. Beliau juga disebut sebagai BAPAK EKONOMI GEOLOGI. Buku yang
diterbitkan berjudul: De re Metallica (tahun 1556)

2. Nicolaus Steno pada pertengahan abad 18: memberikan pandangan mengenai


tanggung jawab dan kontribusi seorang ahli geologi yang berhubungan dengan
geologi umum harus dihubungkan dengan mineral bijih; di mana sebagai produksi/
kondensasi dari uap/gas yang naik melalui rekahan-rekahan (fisures).

3. Henkel (tahun 1725 dan 1727) dan Zimmerman (tahun 1746) memberi masukan
tentang pentingnya hydrothermal solution atau uap yang berasal dari bagian paling
dalam (deep seated origin) yang menghasilkan endapan bijih karena proses
metasomatisme (replacement).

4. Von Oppel (tahun 1749) membuat perbedaan antara urat kuarsa (vein) dan lapisan
endapan (bedded deposits), yaitu cross cutting features adalah sekunder dan open
fissure adalah origin (primer), dan kemudian menyesuaikan diri dengan lapisan
interbedded sedimen.

5. Delius (tahun 1770 dan 1773) mempelajari tentang alterasi batuan/bijih oleh agen
atmosfer, beliau juga mengamati perkembangan mineral sekunder pada zone alterasi
sebagai zone supergen.

6. Charpenter seorang profesor dari Jerman (tahun 1778 dan 1779) yakin bahwa urat
kuarsa (vein) terbentuk oleh alterasi dari batuan induk (country rock) dan memotong
batuan-batuan dinding yang di antaranya terjadi silifikasi.

7. Gerhard (tahun 1781) menulis bahwa urat kuarsa (vein) membuka dan terisi oleh
sisa cairan magma atau mineral-mineral yang terbawa (mineral leached) atau open
fissure fillid dari dalam bumi.
Teori lateral secretion (batuan ore deposits berasal dari mineral cucian (mineral
leached) dari wall rock oleh air (meteoric origin) dari Charpenter dan Gerhard ini
bertahan + 100 tahun (tahun 1882)

8. James Huton, a Scot dan Abraham Gottlob Wenner dari Jerman, mempredik-sikan
pengaruh yang luas tentang ore deposits. Huton seorang plutonist (tahun 1888 dan
1895) terkenal dengan teorinya: yaitu magma yang berhubungan dengan endapan
mineral logam, berasal dari perputaran cairan sisa magma.
9. Joseph Bruneur (1801), Scipione Breaslak (1811) ahli geologi Italia menyebutkan
bahwa proses segregasi magma dapat menjelaskan bagaimana mineral hadir
terkonsentrasi dalam lapisan batuan beku.

10. Spurr (1923) memodifikasi bahwa magma bijih (ore magma) diterima sebagai
pembawa/mengandung bodi bijih (ore bodies).

11. Werner seorang Neptunist menerangkan bahwa basalt, sandstone, limestone, ore
deposit terbentuk sebagai sedimen awal dalam lautan. Dalam bukunya yang berjudul:
New teory of the formation of veins. Diterangkan bahwa vein berasal dari dasar laut.
Bermula dari terbentuknya sebagai rekahan/crack yang disebabkan oleh slumping
atau gempa bumi, kemudian crack terisi oleh proses resapan kimia.

Hutton dan Werner yang terkenal dengan plutonist dan neptunist selama bertahun-
tahun mengadakan observasi dan menghasilkan bahwa lava bukan suatu formasi
sedimen, karena mereka melihat bahwa terdapat mineral-mineral (termasuk mineral
bijih) larut dan tertranspot serta terendapkan dari media air/cairan. Sehingga dapat
diketahui bahwa magmatisme dan singenetis tidak dapat berdiri sendiri-sendiri.

Sebagai contoh:
nikel selalu berasosiasi dengan norites (batuan beku basa) dan peridotit.
Kehadiran monsonit dan atau quartz monzonite stock) akan ditemukan dissemi-nated
copper.
Timah akan ditemukan berasosiasi dengan siliceous plutonic rock (granit)
Hal ini merupakan bukti dari hubungan bijih dengan aktivitas volkanik yaitu adanya
fumarol atau mataair panas/hot spring.

12. Pada abad 19 banyak ilmuan terkenal yang menyumbangkan teori tentang trans-
portasi bijih dan pengendapannya. Di antaranya: Von Cotta, Sandberger dan Stelzner
dari Jerman, Danbree dan Launay dari Perancis, Poepny dari Bohemia, Phillips dari
Inggris, Vogt dari Norwegia dan Emmons dari amerika Serikat.

Secara umum banyak ilmu pengetahuan yang dikemukakan, tetapi para ahli geologi
masih belum mengetahui secara jelas, bahwa tidak ada teori single yang dapat
menjelaskan genesis endapan bijih secara keseluruhan.

13. Pada abad 20, klasifikasi endapan bijih sangat meningkat dengan pesat, dan
Lindgren (tahun 1907, 1913 dan 1922) mempopulerkan Genetic Classification atau
klasifikasi deposit dari produk mekanika atau konsentrasi kimia dan klasifikasi urat-
urat hidrotermal (hydrothermal vein). Dalam group Lindgren termasuk pirometa-
somatik (batuan beku metamorpik) dan deposit hidrotermal.

Berdasarkan atas proses cara terbentuknya bahan galian logam/mineral bijih/ore


dibagi menjadi 2 yaitu:
1. Bijih primer = bijih hipogen
Bijih yang diendapkan pada saat terjadinya proses metalisasi
2. Bijih sekunder = supergen
Bijih yang diendapkan sebagai akibat alterasi dari bijih primer, oleh proses pelapuk-an
dari air permukaan yang meresap ke dalam tanah.

Proses pembentukan bahan galian:


Proses terbentuknya bahan galian adalah sangat komplek. Sering lebih dari satu
proses bekerja bersama-sama.
Meskipun dari satu jenis bahan galian logam, apabila terbentuk oleh proses yang
berbeda-beda, maka akan menghasilkan tipe endapan yang berbeda pula.
Contoh endapan bijih besi dapat dihasilkan oleh:
1. Diferensiasi magmatik
2. Larutan hidrotermal
3. Proses sedimentasi
4. Proses pelapukan
Tiap-tiap proses akan menghasilkan endapan bijih besi yang berbeda dalam:
1. Mutu
2. Besar cadangan
3. Jenis mineral ikutan
Mengenal proses yang membentuk endapan bahan galian akan sangat membantu di
dalam:
1. pencarian
2. Penemuan
3. Pengembangan bahan galian

Proses-proses yang dapat membentuk endapan bahan galian

No Proses Deposit yang dihasilkan


1 Konsentrasi magmatik Deposit magmatik
2 Sublimasi Sublimat
3 Kontak metasomatisme Deposit kontak metasomatik
4 Konsentrasi hidrotermal Pengisian celah-celah terbuka
Pertukaranion pada batuan
5 Sedimentasi Lapisan sedimenter
Evaporit
6 Pelapukan Konsentrasi residual
7 Metamorfisme Deposit metamorfik
8 Hidrologi Airtanah
Garam tanah
Endapan caliche
1. Konsentrasi magmatik
Beberapa mineral dalam batuan beku mempunyai nilai ekonomis, tetapi mem-punyai
konsentrasi kecil. Proses konsentrasi tersebut terjadi pada saat batuan beku masih
berupa magma, oleh sebab itu disebut konsentrasi magmatik.
Deposit bahan galian sebagai hasil proses ini berkaitan erat dengan batuan beku
intrusif.

Konsentrasi magmatik digolongkan menjadi 2:


a. Magmatik awal
1) Kristalisasi tanpa konsentrasi: intan
2) Kristalisasi dan segregasi: kromium, platinum

b. Magmatik akhir
1) Akumulasi dan atau injeksi larutan residual: besi titan, platinum, kromium
2) Akumulasi dan pemisahan larutan: deposit nikel, tembaga
3) Pegmatit
Hasil dari proses pegmatik dibagi menjadi 4 jenis:
a. Logam tunggal (native metal): Au, Ag, Pb, Fe dan Ni.
b. Oksida: hematit (FeS, tilanit (Ti), chromite (Cr)
c. Sulfida: chalcopirit (Ni-Cu)
d. Batu mulia (gemstone): intan, garnet.

Kerap kali dijumpai satu produk bahan galian /metal berasosiasi dengan metal yang
lain, misal:
Besi dengan titan
Tembaga dengan emas
Emas dengan perak
2. Sublimasi
Proses sublimasi merupakan prose pembentukan bahan galian yang tidak begitu
berarti karena sedikit terjadi. Proses ini menyangkut perubahan langsung dari
keadaan gas atau uap ke keadaan padat tanpa melalui fase cair. Proses ini berhu-
bungan erat dengan kegiatan gunungapi dan fumarol, tetapi sublimat yang dihasilkan
jumlahnya sedikit.
Belerang adalah sebagai salah satu contoh. Misalnya yang didapat di Gunung
Welirang Jawa Timur. Di samping belerang, juga garam-garam klorida dari besi,
tembaga zinc dan garam-garam dari logam alkali lainnya. Tetapi pada umumnya
dalam jumlah sangat kecil, sehingga kurang menguntungkan untuk ditambang.

3. Kontak metasomatisme
Pada saat magma cair dan pijar dalam keadaan sangat panas menerobos batu-an,
maka magma tersebut panasnya makin lama makin turun dan akhirnya hilang. Hasil
akhir akan membentuk batuan beku intrusif. Proses tersebut dapat terjadi pada
keadaan yang dangkal, menengah ataupun dalam. Sehingga dikenal batuan beku
intrusif dangkal, menengah dan dalam,
Dalam proses tersebut akan terjadi tekanan dan suhu yang sangat tinggi, terutama
pada kontak terobosannya antara magma yang masih cair dengan batuan di seki-
tarnya (country rocks).

Akibat dari kontak ini dapat dibagi menjadi 2 jenis:


a. Akibat dari panas saja, tanpa adanya perubahan-perubahan kimiawi, baik pada
magma maupun pada batuan yang diterobos. Kontak ini disebut kontak
metamorfisme.
b. Akibat panas disertai adanya perubahan-perubahan kimiawi sebagai akibat
pertukaran ion, pertambahan ion dan sebagainya, dari magma ke batuan yang
diterobos dan sebaliknya. Kontak semacam ini disebut disebut kontak
metasomatisme.

Kedua jenis kontak tersebut menimbulkan hasil yang sangat berbeda:


a. Kontak metamorfisme: akan menghasilkan bahan galian yang sangat terbatas dan
bulan logam. Misalnya: silimanit, marmer
b. Kontak metasomatisme: akan menghasilkan bahan galianlogam yang sangat
bervariasi. Hal ini ini terjadi apabila batuan yang diterobos mudah bereaksi,
penerobosan terjadi cukup dalam.
Suhu di daerah kontak akan berkisar 500-1.100oC untuk magma yang bersifat silikaan
(siliceous magma) dan makin jauh dari kontak suhunya menurun.
Terdapatnya mineral-mineral tertentu akan menunjukkan suhu tertentu, di mana
mineral tersebut terbentuk misal:
Mineral wollastonite: tidaklebih 1.125oC
Mineral kuarsa: suhu di atas 573oC

Bahan galian yang terbentuk karena kontak metasomatisme, terjadi karena proses:
a. Rekristalisasi
b. Penggabungan unsur
c. Penggantian ion
d. Penambahan unsur-unsur baru
Dari magma ke batuan yang diterobos.
Secara umum dapat diuraikan sebagai berikut:
Kalau suatu batuan country rock mempunyai komposisi mineral AB dan CD, maka
melauli proses penggabungan kembali akan berubah menjadi mineral AC dan BD.
Oleh proses penambahan unsur-unsur dari magma akan berubah lagi menjadi ACX
dan BDX, di mana X dan Y unsur dari magma.
Penambahan unsur dari magma sebagian berupa logam, silika, boron, klorin, florin,
kalium, magnesium dan natrium. Mineral logam (ore mineral) yang terbentuk dalam
kontak metasomatisme hampir semua berasal dari magma, demikian pula kandungan-
kandungan yang asing pada batuan yang diterobos, melalui proses penambahan
unsur.
Jenis magma yang menerobos batuan yang akhirnya akan menghasilkan endapan
bahan galian kontak metasomatisme, pada umumnya terbatas pada magma silika
dengan komposisi menengah (intermediate) seperti: kuarsa monzonit, granodiorit dan
kuarsa diorit. Sedang magma yang kaya akan silika seperti granit, jarang
menghasilkan endapan galian, demikian juga magma ultra basa, pada magma yang
basa, kadang-kadang dapat membentuk endapan bahan galian kontak metasomatik.
Hampir semua endapan bahan galian kontak metasomatisme berasosiasi dengan
tubuh batuan beku intrusif yang berupa stock, batholit, dan tidak pernah berasosiasi
dengan dike atau sill yang berukuran kecil. Untuk lacolith dan sill yang besar
meskipun jarang, tetapi kadang-kadang dapat menghasilkan endapan bahan galian
kontak metasomatik.
Melihat tekstur endapan bahan galian metasomatisme ini selalu berhubungan dengan
batuan beku intrusif dengan tekstur granular, yang menunjukkan bahwa pendinginan
magma waktu itu sangat lambat dengan kedalaman yang cukup besar. Sebaliknya
pada batuan intrusif yang bertekstur gelas maupun afanitik, hampir tidak pernah
dijumpai adanya endapan bahan galian kontak metasomatik. Hal ini membuktikan
bahwa endapan kontak metasomatik selalu hanya berhubungan dengan magma
dalam saja. Kedalaman pembekuan magma yang akan menghasilkan batuan beku
intrusif dengan tekstur granular diperkirakan + 1.500 m. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa pada penerobosan magma dengan komposisi menengah pada
kedalaman sekitar 1.500 m. Batuan country rock yang terterobos oleh magma yang
paling besar kemungkinannya untuk dapat menimbulkan deposit kontak metasomatik
adalah batuan karbonat.
Batugamping murni ataupun dolomit dengan segera akan mengalami rekristalisasi
dan rekombinasi dengan unsur yang diintrodusir dari magma. Pada batugamping yang
tidak murni, efek kontak metasomatik yang terjadi lebih kuat, karena unsur-unsur
pengotor seperti silika, alumina dan besi adalah bahan-bahan yang dapat dengan
mudah membentuk kombinasi-kombinasi baru dengan kalsium oksida. Seluruh massa
batuan di sekitar kontak dapat berubah menjadi garnet, silika dan mineral-mineral
bijih.
Batuan yang agak sedikit terpengaruh oleh intrusi magma adalah batupasir. Kalau
mengalami rekristalisasi batupasir akan menjadi kuarsit yang kadang-kadang
mengandung mineral-mineral kontak metasomatisme tersebar setempat-setempat.
Sedang batulempung akan mengalami pengerasan dan dapat berubah menjadi
hornfels, yang umumnya mengandung mineral andalusit, silimanit dan straurolit.
Tingkat perubahan yang terjadi pada batuan sedimen klastis halus tersebut,
tergantung pada tingkat kemurniannya. Paling baik kalau batulempung tersebut
bersifat karbonatan, tetapi secara umum batuan sedimen argilaceous (berbutir halus)
jarang yang mengandung mineral bahan galian.
Apabila batuan beku ataupun metamorf mengalami terobosan magma, hampir tidak
akan mengalami perubahan yang berarti, kecuali kalau antara magma yang
menerobos dengan batuan beku yang diterobos mempunyai komposisi yang sangat
berbeda. Misal magma granodiorit menerobos gabro, maka kemungkinan besar akan
ada perubahan-perubahan besar pada gabronya. Secara umum dapat dikata-kan
bahwa batuan yang paling peka terhadap kontak metasomatisme dan paling cocok
untuk terjadinya pembentukan endapan bahan galian bijih, adalah batuan sedimen,
terutama yang bersifat karbonatan dan tidak murni.
Bentuk posisi ataupun penyebaran dari bahan galian yang terjadi pada proses
metasomatisme banyak tergantung pada struktur batuan yang diterobos. Akan tetapi
umumnya berbentuk ireguler dan terpisah-pisah. Bentuk ireguler tersebut lebih sering
terjadi pada batugamping yang tebal, sedang pada batugamping berlapis-lapis
ataupun terkekarkan, maka endapan bijih tersebut dapat berbentuk menjari atau
melidah.
Volume deposit kontak metasomatisme pada umumnya kecil antara puluhan sampai
beberapa ratus ribu ton saja, dan jarang yang sampai jutaan ton berat.

4. Konsentrasi hidrotermal
Produk akhir dari proses diferensiasi magmatik adalah suatu larutan yang dise-but
larutan magmatik yang mungkin dapat mengandung konsentrasi logam yang
dahulunya berada dalam magma.
Larutan magmatik ini yang juga disebut larutan hidrotermal banyak mengandung
logam-logam yang berasal dari magma, yang sedang membeku dan diendapkan di
tempat-tempat sekitar magma yang sedang membeku tadi.
Larutan ini makin jauh dari magma, akan makin kehilangan panasnya sehingga
dikenal:
a. Deposit hidrotermal suhu tinggi: di tempat terdekat dengan intrusi.
b. Deposit hidrotermal suhu menengah: di tempat-tempat yang agak jauh.
c. Deposit hidrotermal suhu rendah: ditempat yang jauh

Deposit tersebut juga dinamakan deposit hidrotermal, mesotermal dan epitermal,


tergantung dari suhu, tekanan dan keadaan geologi di mana mereka terbentuk,
seperti yang ditunjukkan oleh mineral-mineral yang dikandungnya.
Dalam perjalanan menerobos batuan, larutan hidrotermal akan mendepositkan
mineral-mineral yang dikandungnya di rongga-rongga batuan dan membentuk deposit
celah (cavity filling deposit) atau melalui proses metasomatik membentuk deposit
pergantian (replacement deposit).
Secara umum deposit replasemen terjadi pada kondisi suhu dan tekanan tinggi, pada
daerah lebih dekat dengan batuan intrusifnya yang merupakan deposit hipotermal,
sedang deposit celah lebih banyak terjadi di daerah dengan suhu dan tekanan rendah,
yang merupakan deposit epitermal yang terletak agak jauh dari batuan intrusifnya.

Syarat penting terjadinya deposit hidrotermal adalah:


a. Adanya larutan yang mampu melarutkan mineral.
b. Adanya rekahan/rongga pada batuan, di mana larutan dapat lewat.
c. Adanya tempat, di mana larutan akan mendepositkan kandungan mineralnya.
d. Adanya reaksi kimia yang menghasilkan pengendapan mineral
e. Konsentrasi mineral yang cukup di dalam deposit, sehingga menguntungkan kalau
ditambang.

5. Sedimentasi

Batuan Metamorf

Batuan metamorf adalah batuan yang terbentuk sebagai akibat dari proses
metamorfosa pada batuan yang sudah ada karena perubahan temperatur(T), tekanan
(P), atau Temperatur (T) dan Tekanan (P) secara bersamaan. Batuan metamorf
diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) kelas atas dasar derajat metamorfosanya, yaitu:

• Batuan metamorfosa derajat rendah;


• Batuan metamorfosa derjat menengah, dan
• Batuan metamorf derajat tinggi.

Penamaan Batuan Metamorf

Penamaan batuan metamorf didasarkan atas tekstur, struktur dan komposisi mineral yang menyusun
batuan tersebut. Adapun tekstur batuan metamorf terdiri dari: Bentuk butir granoblatik (terdiri dari
mineral-mineral granular), lepidoblastik (terdiri dari mineral-mineral pipih), dan nematoblastik
(terdiri dari mineral-mineral orthorombik), sedangkan teksturnya ada foliasi, dan non foliasi.
Tekstur foliasi (tekstur batuan metamorf yang memperlihatkan adanya orientasi dari mineralnya).
Struktur batuan metamorf dapat terdiri dari struktur schistose (struktur batuan metamorf yang
memperlihatkan perselingan orientasi mineral pipih dan mineral granular / nematoblastik),
gneistose (struktur batuan metamorf yang memperlihatkan hubungan dari orientasi mineral pipih
dan mineral nematoblastik/granular yang saling berpotongan/tidak menerus), hornfelsic (struktur
batuan metamorf yang hanya tidak memperlihatkan foliasi).

Derajat Metamorfosa

Derajat metamorfosa adalah suatu tingkatan metamorfosa yang didasarkan atas temperatur (T) atau
tekanan (P) atau keduanya T dan P. Tabel dibawah ini adalah tingkatan batuan metamorf
berdasarkan derajat metamorfosa:

umber : Noor, D., 2008. “Pengantar Geologi”, Universitas Pakuan, Bogor

Siklus batuan menunjukkan kemungkinan batuan untuk berubah bentuk. Batuan yang terkubur
sangat dalam mengalami perubahan tekanan dan temperatur. Jika mencapai suhu tertentu, batuan
tersebut akan melebur menjadi magma. Namun, saat belum mencapai titik peleburan kembali
menjadi magma, apa yang terjadi pada batuan tersebut? Batuan tersebut berubah menjadi batuan
metamorf.

Batuan metamorf adalah batuan yang telah mengalami proses metamorfosis. Proses metamorfosis
terjadi hanya di dalam Bumi. Proses tersebut mengubah tekstur asal batuan, susunan mineral
batuan, atau keduanya. Proses ini terjadi dalam solid state, artinya, batuan tersebut tidak melebur.
Bayangkan sebuah roti yang berubah menjadi roti bakar. Meskipun demikian, penting untuk
diingat bahwa fluida – terutama air – memiliki peranan penting dalam proses metamorfosis.

Batugamping termetamorfosis menjadi marmer.

Butiran halus kalsit pada batugamping terekristalisasi menjadi butiran besar. Perubahan yang terjadi
hanya pada teksturnya.

Serpih termetamorfosis menjadi mika berbutir besar.

Mineral lempung pada serpih tidak stabil pada temperatur tinggi. Perubahan yang terjadi, selain
teksturnya, juga mencakup pembentukan mineral baru.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KARAKTERISTIK BATUAN


METAMORF

1. Komposisi Mineral Batuan Asal

2. Temperatur dan Tekanan Selama Metamorfosis

3. Pengaruh Gaya Tektonik

4. Pengaruh Fluida

KLASIFIKASI BATUAN METAMORF

Batuan metamorf diklasifikasikan berdasakan ada atau tidaknya foliasi. Foliasi adalah struktur
planar pada batuan metamorf yang disebabkan oleh pengaruh tekanan diferensial saat proses
metmorfosis.

Tidak Terfoliasi

Kelas ini diklasifikasikan lagi menurut komposisi mineralnya.


Marmer terdiri dari butiran kalsit berukuran kasar. Jika batuan asalnya adalah dolomit, namanya
menjadi marmer dolomit.

Kuarsit terdiri dari butiran kuarsa yang terlaskan bersama dan terikat kuat pada temperatur tinggi.

Hornfels berukuran butir sangat halus. Hornfels mika berasal dari serpih dan hornfels amphibole
berasal dari basalt.

Terfoliasi

Kelas ini diklasifikasikan lagi menurut tipe foliasinya. Makin jelas foliasinya, makin tinggi derajat
metamorfosisnya (menandakan makin tingginya tekanan/temperatur).

Derajat Struktur Nama Batuan Mineral Karakter Khas


metamorfosis Penciri
Makin Slaty Slate/Batusaba Lempung, Butiran sangat halus.
rendah k silika Kilap earthy. Mudah
melembar membelah menjadi
lembaran tipis datar.

Slaty – Phyllite Mika Butiran halus. Kilap sutra.


Schistose Membelah mengikuti
permukaan
bergelombang.

Schistose Schist Biotit, Berkomposisi mineral


amfibol melembar dan
muskovit memanjang dengan
susunan mendatar.
Variasi mineral yang luas.

Gneissic Gneiss Feldspar, Mineral gelap dan terang


kuarsa, terpisah dan membentuk
amfibol, perlapisan atau lenses.
biotit Perlapisan mungkin
berlipat. Lapisan gelap:
biotit, hornblende; lapisan
terang: felspar, kuarsa

JENIS-JENIS METAMORFISME

Metamorfisme Kontak/Termal

Metmorfisme ini faktor dominannya ialah temperatur tinggi. Tekanan confining (tekanan yang
pengaruhnya sama besar ke semua permukaan benda) juga berpengaruh, namun tidak signifikan.
Kebanyakan terjadi <>baking effect. Zona kontak ini (disebut aureole) tidak terlalu luas, hanya
sekitar 1 – 100 meter. Karena tekanan diferensial (tekanan yang pengaruhnya tidak sama besar ke
semua permukaan benda) juga tidak terlalu signifikan, batuan metamorf yang terbentuk biasanya
tidak terfoliasi.

Metamorfisme Regional/Dinamotermal

Metemorfisme ini terjadi pada kedalaman yang signifikan yakni > 5 km. Batuan jenis ini
merupakan yang paling banyak tersingkap di permukaan. Biasanya pada dasar pegunungan yang
bagian atasnya tererosi. Batuan dari proses ini kebanyakan terfoliasi, menandakan tingginya tingkat
tekanan diferensial (akibat gaya tekonik). Temperatur saat terjadi proses ini bervariasi, tergantung
oleh kedalaman dan kehadiran badan magma. Kehadiran mineral indeks dapat menentukan tingkat
tekanan dan temperatur proses rekristalisasi. Contohnya: schisthijau dan batuschist yang
mengandung mineral klorit, aktinolit, dan plagioklas kaya sodium, terbentuk pada P & T lebih
rendah; sedangkan amphibolit yang mengandung hornblende, plagioklas feldspar, dan terkadang
garnet, terbentuk pada P & T lebih tinggi.

Gneiss

Gneiss adalah typical dari jenis batuan metamorf, batuan ini terbentuk pada saat
batuan sediment atau batuan beku yang terpendam pada tempat yang dalam
mengalami tekanan dan temperatur yang tinggi. Hampir dari semua jejak jejak asli
batuan ( termasuk kandungan fosil) dan bentuk bentuk struktur lapisan ( seperti
layering dan ripple marks) menjadi hilang akibat dari mineral-mineral mengalami
proses migrasi dan rekristalisasi. Pada batuan ini terbentuk goresan goresan yang
tersusun dari mineral mineral seperti hornblende yang tidak terdapat pada batuan
batuan sediment.

Pada batuan gneiss, kurang dari 50 persen dari mineral mineral menjadi mempunyai
bentuk bentuk penjajaran yang tipis dan terlipat pada lapisan-lapisan. Kita dapat
melihat bahwasannya tidak seperti pada batuan schist yang mempunyai pensejajaran
mineral yang sangat kuat, batuan gneiss tidak retak atau hancur sepanjang bidang
dari pensejajaran mineral tersebut, dan terbentuk urat-urat yang tebal yang terdiri
dari butiran-butiran mineral di dalam batuan tersebut, hal ini tidak seperti kebanyakan
bentuk bentuk perlapisan yang terdapat pada batuan schist. Dengan proses
metamorfosa lebih lanjut batuan gneiss dapat berubah menjadi magmatite dan
akhirnya terkristalisasi secara total menjadi batuan granit.

Meskipun batuan ini terubah secara alamiah, gneiss dapat mengekalkan bukti
terjadinya proses geokimia di dalam sejarah pembentukannya, khususnya pada
mineral mineral seperti zircon yang bertolak belakang dengan proses metamorfosa itu
sendiri. Batuan batuan keras yang berumur tua seperti pada batuan gneiss yang
berasal dari bagian barat Greenland, Isotop atom karbon dari batuan tersebut
menunjukkan bahwasannya ada kehidupan pada masa batuan tersebut terbentuk ,
yaitu sekitar 4 millyar tahun yang lalu.