Anda di halaman 1dari 38

KLIPING

TOKOH-TOKOH MUHAMMADIYAH
UNTUK BANGSA

TUGAS KEMUHAMMADIYAHAN

OLEH :
Nama : Vannesya Catherina
Kelas : VI AL-MUKMIN
No. Induk :

MAJELIS PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH


PIMPINAN CABANG MUHAMMADIYAH MAGETAN
SD MUHAMMADIYAH 1 MAGETAN
Status : Terakreditasi A NSS : 102051001050
Jalan M.H. Thamrin No. 18 Magetan (0351) 897384
APRIL 2019
LEMBAR PENGESAHAN

1. Judul Tugas : Tugas Kemuhammadiyahan


Kliping Tokoh-tokoh Muhammadiyah Untuk Bangsa

2. Disusun Oleh :
Nama : Vannesya Catherina
Kelas :
No. Induk :

3. Guru Pembimbing
Nama :
NIP :

Magetan, Maret 2019

Menyetujui
Guru Pembimbing Penyusun

...................................... VANNESYA CATHERINA

Mengetahui
Wali Kelas

............................................

ii
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.


Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, taufik serta
hidayahnya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan tugas kliping ini. Tidak lupa pula
sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita nabi besar Muhammad
SAW. yang telah membawa kita dari zaman jahiliyah ke zaman yang terang benderang penuh
dengan ilmu pengetahuan. Semoga kita termasuk umatnya yang akan mendapatkan syafaatnya
besok di hari kiamat. Amin.
Kliping “Tokoh-Tokoh Muhammadiyah untuk Bangsa” ini kami buat untuk memenuhi tugas
Akhir Kemuhammadiyahan. Kliping ini berisi tentang tokoh-tokoh Muhammadiyah tingkat
nasional dan tokoh nasional dari Muhammadiyah.
Semoga kliping ini bisa memberikan manfaat bagi kita semua, terutama bagi kami. Kami
menyadari bahwa kliping ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua
pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan kliping ini.
Akhir kata, kami sampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam
penyusunan kliping ini dari awal sampai akhir. Apabila ada kekeliruan kata atau kalimat, kami
mohon maaf yang sebesar besarnya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Magetan, Maret 2019

Penyusun

iii
DAFTAR ISI

SAMPUL ............................................................................................................................. i

LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................................. ii

KATA PENGANTAR ......................................................................................................... iii

DAFTAR ISI ....................................................................................................................... iv

A. TOKOH MUHAMMADIYAH TINGKAT NASIONAL ................................... 1


1. KH. Ahmad Dahlan ........................................................................................... 1
2. KH. Ibrahim ....................................................................................................... 3
3. KH. Mas Mansyur ............................................................................................ 6
4. Ki Bagus Hadi Kusumo ..................................................................................... 9
5. KH. Faqih Usman ............................................................................................. 11
6. KH. Abdul Rozak Fachruddin ........................................................................... 12
7. Prof. KH. Abdul Kahar Muzakkir .................................................................... 15
8. KH. Ahmad Azhar Basyir, MA ......................................................................... 16
9. Prof. Dr. Amien Rais ........................................................................................ 17
10. Prof. Dr. Ahmad Syafi’i Ma’arif ....................................................................... 20
11. Prof. Dr. Muh. Sirajuddin Syamsuddin, MA ..................................................... 23
12. Dr. H. Haedar Nashir, M.Si.S. ........................................................................... 25
B. TOKOH NASIONAL DARI MUHAMMADIYAH ........................................... 28
1. Presiden Soekarno ............................................................................................ 28
2. Presiden Soeharto ............................................................................................. 30
3. Jenderal Sudirman ............................................................................................. 31
4. Ir. H. Djuanda Kartawidjaja .............................................................................. 33

iv
A. TOKOH MUHAMMADIYAH TINGKAT NASIONAL
1. KH. Ahmad Dahlan
Kyai Haji Ahmad Dahlan lahir di Yogyakarta, 1 Agustus 1868,
Nama kecil KH. Ahmad Dahlan adalah Muhammad Darwis. Ia
merupakan anak keempat dari tujuh orang bersaudara yang
keseluruhan saudaranya perempuan, kecuali adik bungsunya. Pendiri
Muhammadiyah ini termasuk keturunan yang kedua belas dari
Maulana Malik Ibrahim, salah seorang yang terkemuka di antara
Walisongo, yaitu pelopor penyebaran agama Islam di Jawa.

Silsilahnya tersebut ialah Maulana Malik Ibrahim, Maulana Ishaq,


Maulana 'Ainul Yaqin, Maulana Muhammad Fadlullah (Sunan
Prapen), Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Djatinom), Demang
Djurung Djuru Sapisan, Demang Djurung Djuru Kapindo, Kyai Ilyas,
Kyai Murtadla, KH. Muhammad Sulaiman, KH. Abu Bakar, dan
Muhammad Darwisy (Ahmad Dahlan).

Pada umur 15 tahun, ia pergi haji dan tinggal di Mekah selama lima tahun. Pada periode ini, Ahmad
Dahlan mulai berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam Islam, seperti
Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha dan Ibnu Taimiyah. Ketika pulang kembali ke
kampungnya tahun 1888, ia berganti nama menjadi Ahmad Dahlan. Pada tahun 1903, ia bertolak
kembali ke Mekah dan menetap selama dua tahun. Pada masa ini, ia sempat berguru kepada Syeh
Ahmad Khatib yang juga guru dari pendiri NU, KH. Hasyim Asyari. Pada tahun 1912, ia
mendirikan Muhammadiyah di kampung Kauman, Yogyakarta.
Sepulang dari Mekkah, ia menikah dengan Siti Walidah, sepupunya sendiri, anak Kyai Penghulu
Haji Fadhil, yang kelak dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan, seorang Pahlawanan Nasional dan
pendiri Aisyiyah. Dari perkawinannya dengan Siti Walidah, KH. Ahmad Dahlan mendapat enam
orang anak yaitu Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, Siti Zaharah.

Disamping itu KH. Ahmad Dahlan pernah pula menikahi Nyai Abdullah, janda H. Abdullah. la
juga pernah menikahi Nyai Rum, adik Kyai Munawwir Krapyak. KH. Ahmad Dahlan juga
mempunyai putera dari perkawinannya dengan Nyai Aisyah (adik Adjengan Penghulu) Cianjur
yang bernama Dandanah. Ia pernah pula menikah dengan Nyai Yasin Pakualaman Yogyakarta.

Masuk Organisasi Budi Utomo


Dengan maksud mengajar agama, pada tahun 1909 Kiai Dahlan masuk Boedi Oetomo, organisasi
yang melahirkan banyak tokoh-tokoh nasionalis. Di sana beliau memberikan pelajaran-pelajaran
untuk memenuhi keperluan anggota. Pelajaran yang diberikannya terasa sangat berguna bagi
anggota Boedi Oetomo sehingga para anggota Boedi Oetomo ini menyarankan agar Kiai Dahlan
membuka sekolah sendiri yang diatur dengan rapi dan didukung oleh organisasi yang bersifat
permanen.

Hal tersebut dimaksudkan untuk menghindari nasib seperti pesantren tradisional yang terpaksa
tutup bila kiai pemimpinnya meninggal dunia. Saran itu kemudian ditindaklanjuti Kiai Dahlan
dengan mendirikan sebuah organisasi yang diberi nama Muhammadiyah pada 18 November 1912
(8 Dzulhijjah 1330). Organisasi ini bergerak di bidang kemasyarakatan dan pendidikan. Melalui
organisasi inilah beliau berusaha memajukan pendidikan dan membangun masyarakat Islam.

Bagi Kiai Dahlan, Islam hendak didekati serta dikaji melalui kacamata modern sesuai dengan
panggilan dan tuntutan zaman, bukan secara tradisional. Beliau mengajarkan kitab suci Al Qur'an
dengan terjemahan dan tafsir agar masyarakat tidak hanya pandai membaca ataupun melagukan
Qur'an semata, melainkan dapat memahami makna yang ada di dalamnya.
1
Dengan demikian diharapkan akan membuahkan amal perbuatan sesuai dengan yang diharapkan
Qur’an itu sendiri. Menurut pengamatannya, keadaan masyarakat sebelumnya hanya mempelajari
Islam dari kulitnya tanpa mendalami dan memahami isinya. Sehingga Islam hanya merupakan
suatu dogma yang mati.

Di bidang pendidikan, Kiai Dahlan lantas mereformasi sistem pendidikan pesantren zaman itu,
yang menurutnya tidak jelas jenjangnya dan tidak efektif metodenya lantaran mengutamakan
menghafal dan tidak merespon ilmu pengetahuan umum. Maka Kiai Dahlan mendirikan sekolah-
sekolah agama dengan memberikan pelajaran pengetahuan umum serta bahasa Belanda.

Bahkan ada juga Sekolah Muhammadiyah seperti H.I.S. met de Qur'an. Sebaliknya, beliau pun
memasukkan pelajaran agama pada sekolah-sekolah umum. Kiai Dahlan terus mengembangkan
dan membangun sekolah-sekolah. Sehingga semasa hidupnya, beliau telah banyak mendirikan
sekolah, masjid, langgar, rumah sakit, poliklinik, dan rumah yatim piatu.

Kegiatan dakwah pun tidak ketinggalan. Beliau semakin meningkatkan dakwah dengan ajaran
pembaruannya. Di antara ajaran utamanya yang terkenal, beliau mengajarkan bahwa semua ibadah
diharamkan kecuali yang ada perintahnya dari Nabi Muhammad SAW.

Beliau juga mengajarkan larangan ziarah kubur, penyembahan dan perlakuan yang berlebihan
terhadap pusaka-pusaka keraton seperti keris, kereta kuda, dan tombak. Di samping itu, beliau juga
memurnikan agama Islam dari percampuran ajaran agama Hindu, Budha, animisme, dinamisme,
dan kejawen.

Di bidang organisasi, pada tahun 1918, beliau membentuk organisasi Aisyiyah yang khusus untuk
kaum wanita. Pembentukan organisasi Aisyiyah, yang juga merupakan bagian dari
Muhammadiyah ini, karena menyadari pentingnya peranan kaum wanita dalam hidup dan
perjuangannya sebagai pendamping dan partner kaum pria.

Sementara untuk pemuda, Kiai Dahlan membentuk Padvinder atau Pandu - sekarang dikenal
dengan nama Pramuka - dengan nama Hizbul Wathan disingkat H.W. Di sana para pemuda diajari
baris-berbaris dengan genderang, memakai celana pendek, berdasi, dan bertopi. Hizbul Wathan ini
juga mengenakan uniform atau pakaian seragam, mirip Pramuka sekarang.

Pembentukan Hizbul Wathan ini dimaksudkan sebagai tempat pendidikan para pemuda yang
merupakan bunga harapan agama dan bangsa. Sebagai tempat persemaian kader-kader terpercaya,
sekaligus menunjukkan bahwa Agama Islam itu tidaklah kolot melainkan progressif. Tidak
ketinggalan zaman, namun sejalan dengan tuntutan keadaan dan kemajuan zaman.

Karena semua pembaruan yang diajarkan Kyai Dahlan ini agak menyimpang dari tradisi yang ada
saat itu, maka segala gerak dan langkah yang dilakukannya dipandang aneh. Sang Kiai sering
diteror seperti diancam bunuh, rumahnya dilempari batu dan kotoran binatang.

Ketika mengadakan dakwah di Banyuwangi, beliau diancam akan dibunuh dan dituduh sebagai
kiai palsu. Walaupun begitu, beliau tidak mundur. Beliau menyadari bahwa melakukan suatu
pembaruan ajaran agama (mushlih) pastilah menimbulkan gejolak dan mempunyai risiko. Dengan
penuh kesabaran, masyarakat perlahan-lahan menerima perubaban yang diajarkannya. Tujuan
mulia terkandung dalam pembaruan yang diajarkannya.
Segala tindak perbuatan, langkah dan usaha yang ditempuh Kiai ini dimaksudkan untuk
membuktikan bahwa Islam itu adalah Agama kemajuan. Dapat mengangkat derajat umat dan
bangsa ke taraf yang lebih tinggi. Usahanya ini ternyata membawa dampak positif bagi bangsa
Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Banyak golongan intelektual dan pemuda yang tertarik
dengan metoda yang dipraktekkan Kiai Dahlan ini sehingga mereka banyak yang menjadi anggota
Muhammadiyah. Dalam perkembangannya, Muhammadiyah kemudian menjadi salah satu
organisasi massa Islam terbesar di Indonesia.

2
Melihat metoda pembaruan KH Ahmad Dahlan ini, beliaulah ulama Islam pertama atau mungkin
satu-satunya ulama Islam di Indonesia yang melakukan pendidikan dan perbaikan kehidupan
um’mat, tidak dengan pesantren dan tidak dengan kitab karangan, melainkan dengan organisasi.

Sebab selama hidup, beliau diketahui tidak pernah mendirikan pondok pesantren seperti halnya
ulama-ulama yang lain. Dan sepanjang pengetahuan, beliau juga konon belum pernah mengarang
sesuatu kitab atau buku agama.

Muhammadiyah sebagai organisasi tempat beramal dan melaksanakan ide-ide pembaruan Kiai
Dahlan ini sangat menarik perhatian para pengamat perkembangan Islam dunia ketika itu. Para
sarjana dan pengarang dari Timur maupun Barat sangat memfokuskan perhatian pada
Muhammadiyah.

Nama Kiai Haji Akhmad Dahlan pun semakin tersohor di dunia. Dalam kancah perjuangan
kemerdekaan Republik Indonesia, peranan dan sumbangan beliau sangatlah besar. Kiai Dahlan
dengan segala ide-ide pembaruan yang diajarkannya merupakan saham yang sangat besar bagi
Kebangkitan Nasional di awal abad ke-20.

Kiai Dahlan menimba berbagai bidang ilmu dari banyak kiai yakni KH. Muhammad Shaleh di
bidang ilmu fikih; dari KH. Muhsin di bidang ilmu Nahwu-Sharaf (tata bahasa); dari KH. Raden
Dahlan di bidang ilmu falak (astronomi); dari Kiai Mahfud dan Syekh KH. Ayyat di bidang ilmu
hadis; dari Syekh Amin dan Sayid Bakri Satock di bidang ilmu Al-Quran, serta dari Syekh Hasan
di bidang ilmu pengobatan dan racun binatang.

Pada usia 54 tahun, tepatnya pada tanggal 23 Februari 1923, Kiai Haji Akhmad Dahlan wafat di
Yogyakarta. Beliau kemudian dimakamkan di kampung Karangkajen, Brontokusuman, wilayah
bernama Mergangsan di Yogyakarta. Atas jasa-jasa Kiai Haji Akhmad Dahlan maka negara
menganugerahkan kepada beliau gelar kehormatan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional.
Gelar kehormatan tersebut dituangkan dalam SK Presiden RI No.657 Tahun 1961, tgl 27 Desember
1961.

2. Kyai Haji Ibrahim


Sebelum Kyai Haji Ahmad Dahlan wafat, ia berpesan kepada
para sahabatnya agar tongkat kepemimpinan Muhamadiyah
sepeninggalnya diserahkan kepada Kiai Haji Ibrahim, adik ipar
KHA. Dahlan. Mula-mula K.H. Ibrahim yang terkenal sebagai
ulama besar menyatakan tidak sanggup memikul beban yang
demikian berat itu. Namun, atas desakan sahabat-sahabatnya agar
amanat pendiri Muhammadiyah bisa dipenuhi, akhirnya dia bisa
menerimanya. Kepemimpinannya dalam Muhammadiyah
dikukuhkan pada bulan Maret 1923 dalam Rapat Tahunan Anggota
Muhammadiyah sebagai Voorzitter Hoofdbestuur Moehammadijah
Hindia Timur (Soedja‘, 1933: 232).

K.H. Ibrahim lahir di Kauman Yogyakarta pada tanggal 7 Mei


1874. Ia adalah putra K.H. Fadlil Rachmaningrat, seorang Penghulu
Hakim Kesultanan Yogyakarta pada zaman Sultan Hamengkubuwono ke VII OGRE(Soedja‘.
1933: 227), dan ia merupakan adik kandung Nyai Ahmad Dahlan.

Ibrahim menikah dengan Siti Moechidah binti Abdulrahman alias Djojotaruno (Soeja‘, 1933:228)
pada tahun 1904. Pernikahannya dengan Siti Moechidah ini tidak berlangsung lama, karena istrinya
segera dipanggil menghadap Allah. Selang beberapa waktu kemudian Ibrahim menikah dengan ibu
Moesinah, putri ragil dari K.H. Abdulrahman (adik kandung dari ibu Moechidah).

3
Ibu Moesinah (Nyai Ibrahim yang ke-2) dikaruniai usia yang cukup panjang yaitu sampai 108
tahun, dan baru meninggal pada 9 September 1998. Menurut penilaian para sahabat dan
saudaranya, Ibu Moesinah Ibrahim merupakan potret wanita zuhud, penyabar, gemar sholat malam
dan gemar silaturahmi. Karena kepribadiannya itulah maka Hj. Moesinah sering dikatakan sebagai
ibu teladan (Suara ‘Aisyiyah. No.1/1999: 20).

Masa kecil Ibrahim dilalui dalam asuhan orang tuanya dengan diajarkan mengkaji Al-Qur’an sejak
usia 5 tahun. Ia juga dibimbing memperdalam ilmu agama oleh saudaranya sendiri (kakak tertua),
yaitu KH. M. Nur. Ia menunaikan ibadah haji pada usia 17 tahun, dan dilanjutkan pula menuntut
ilmu di Mekkah selama lebih kurang 7-8 tahun. Pada tahun 1902 ia pulang ke tanah air karena
ayahnya sudah lanjut usia.

K.H. Ibrahim yang selalu mengenakan jubah panjang dan sorban dikenal sebagai ulama besar
dan berilmu tinggi. Setibanya di tanah air, K.H. Ibrahim mendapat sambutan yang luar biasa dari
masyarakat. Banyak orang berduyun-duyun untuk mengaji ke hadapan K.H. Ibrahim. Beliau
termasuk seorang ulama besar yang cerdas, luas wawasannya, sangat dalam ilmunya dan disegani.
Ia hafal (hafidh) Al-Quran dan ahli qira’ah (seni baca Al-Quran), serta mahir berbahasa Arab.
Sebagai seorang Jawa, ia sangat dikagumi oleh banyak orang karena keahlian dan kefasihannya
dalam penghafalan Al-Qur’an dan bahasa Arab. Pernah orang begitu kagum dan takjub, ketika
dalam pidato pembukaan (khutbah al-’arsy atau sekarang disebut khutbah iftitah) Kongres
Muhammadiyah ke-19 di Bukittinggi Sumatera Barat pada tahun 1939, ia menyampaikan dalam
bahasa Arab yang fasih.

K.H. Ibrahim juga memimpin kaum ibu supaya rajin beramal dan beribadah, senantiasa mengingat
Allah, rajin mengerjakan perintah agama Islam dan diberi nama Adz-Dzakiraat (Soedja‘, 1933:
136). Perkumpulan Adz-Dzakiraat ini banyak memberikan jasa kepada Muhammadiyah dan
‘Aisyiyah, misalnya banyak membantu pencarian dana untuk Kas Muhammadiyah, ‘Aisyiyah,
PKU, Bagian Tabligh, dan Bagian Taman Poestaka.

Pengajian yang diasuh K.H. Ibrahim itu memakai metode sorogan dan weton. Pengajian
dilaksanakan setiap hari, kecuali hari Jum‘at dan Selasa. Dalam menerapkan dua macam metode
tersebut, dipakai waktu yang berbeda, yaitu :

1. Pada pagi hari mulai pukul 07.00 sampai 09.00 dengan cara sorogan, yaitu mengaji dengan
diajar seorang demi seorang/satu persatu, terutama untuk anak-anak muda yang ada di Kauman
pada saat itu.

2. Pada waktu sore hari sesudah Ashar sampai kurang lebih pukul 17.00 dengan cara weton, yaitu
mengajar mengaji dengan cara Kyai membaca sedang santri-santrinya mendengarkan dengan
memegang kitabnya masing-masing.

Semenjak kepemimpinan K.H. Ibrahim, kemajuan Muhammadiyah begitu pesat.


Muhammadiyah berkembang di seluruh Indonesia, dan meresap di seluruh Jawa dan Madura.
Kongres-kongres mulai diselenggarakan di luar kota Yogyakarta, seperti Kongres Muhammadiyah
ke-15 di Surabaya, Kongres Muhammadiyah ke-16 di Pekalongan, Kongres Muhammadiyah ke-
17 di Solo, Kongres Muhammadiyah ke-19 di Bukittinggi, Kongres Muhammadiyah ke-21 di
Makasar, dan Kongres Muhammadiyah ke-22 di Semarang. Dengan berpindah-pindahnya tempat
kongres tersebut, maka Muhammadiyah dapat meluas ke seluruh wilayah Indonesia.

Menurut catatan K.H. AR. Fachruddin (1991), pada masa kepemimpinan K.H. Ibrahim,
kegiatan-kegiatan yang dapat dikatakan menonjol, penting dan patut dicatat adalah: tahun 1924,
K.H. Ibrahim mendirikan Fonds Dachlan yang bertujuan membiayai sekolah untuk anak-anak
miskin. Pada tahun 1925, ia juga mengadakan khitanan massal. Disamping itu, ia juga mengadakan
perbaikan badan perkawinan untuk menjodohkan putra-putri keluarga Muhammadiyah. Dakwah
Muhammadiyah juga secara gencar disebarluaskan ke luar Jawa (AR Fachruddin, 1991).

4
Pada periode kepemimpinan K.H. Ibrahim, Muhammadiyah sejak tahun 1928 mengirim putra-putri
lulusan sekolah-sekolah Muhammadiyah (Mu‘allimin, Mu‘allimat, Tabligh School, Normaal-
school) ke seluruh pelosok tanah air, yang kemudian di kenal dengan ‘anak panah Muhammadiyah’
(AR Fachruddin, 1991).

Pada Kongres Muhammadiyah di Solo tahun 1929, Muhammadiyah mendirikan Uitgeefster


My, yaitu badan usaha penerbit buku-buku sekolah Muhammadiyah yang bernaung di bawah
Majelis Taman Pustaka. Pada waktu itu pula terjadi penurunan gambar Ahmad Dahlan karena pada
saat itu ada gejala mengkultuskan beliau. Sementara dalam Kongres Muhammadiyah ke-21 di
Makasar tahun 1932 diputuskan supaya Muhammadiyah menerbitkan surat kabar (dagblaad).
Untuk pelaksanaannya diserahkan kepada Pengurus Muhammadiyah Cabang Solo, yang di
kemudian hari dinamakan Adil.
K.H. Ibrahim selalu terpilih kembali sebagai ketua dalam sepuluh kali Kongres
Muhammadiyah. Selama periode kepemimpinannya, ia lebih banyak memberikan kebebasan gerak
bagi angkatan muda untuk mengekspresikan aktivitasnya dalam gerakan dakwah Muhammadiyah.
Di samping itu, ia juga berhasil membimbing gerakan Aisyiyah untuk semakin maju, tertib, dan
kuat. Ia juga berhasil meningkatkan kualitas takmirul masajid (pengelolaan masjid-masjid), serta
berhasil pula dalam mendorong berdirinya Koperasi Adz-Dzakirat.

Dalam masa kepemimpinannya, Muhammadiyah pernah mengalami fitnah dari pihak-pihak


yang tidak suka akan kemajuan Muhammadiyah. Muhammadiyah dan pengurus besarnya dianggap
sebagai kaki tangan Politieke Economische Bond (PEB), sebuah organisasi yang dibentuk oleh
persatuan pabrik gula yang dimiliki Belanda. Tujuan PEB ialah untuk mengatur koordinasi dan
kerjasama antar-pabrik gula di Jawa Tengah dan Jawa Timur dalam produksi, pemasaran dan juga
dalam aspek sosial-budaya yang ada hubungannya dengan politik-ekonomi pabrik gula.

PEB mendirikan perkumpulan dengan nama Jam’iyatul Hasanah yang bertujuan untuk meng-
himpun guru-guru agama dan membiayai mereka untuk mengajarkan agama Islam kepada buruh-
buruh di pabrik gula. Dengan demikian, fitnahan terhadap Pengurus Besar Muhammadiyah
semakin besar karena Pengurus Besar Muhammadiyah dianggap telah bekerja-sama dan menerima
dana dari PEB yang merupakan kaki-tangan Belanda. Namun fitnahan tersebut bisa diatasi dengan
keterbukaan dalam kepemimpinan K.H. Ibrahim dengan mengundang para utusan dari Cabang-
cabang Muhammadiyah untuk memeriksa keuangan dan notulensi rapat di Pengurus Besar
Muhammadiyah di Yogyakarta, dan terbukti fitnahan tersebut tidak benar.

Pada periode kepemimpinan K.H. Ibrahim telah diselenggarakan sepuluh kali Rapat Tahunan
Muhammadiyah. Mulai tahun 1926, istilah Rapat Tahunan Muhammadiyah diganti menjadi
Kongres Muhammadiyah, mengambil tempat di Surabaya sebagai Kongres Muhammadiyah ke-5.

K.H. Ibrahim wafat dalam usia yang masih sangat muda, 46 tahun, pada awal tahun 1934, setelah
menderita sakit agak lama. Di bawah kepemimpinannya, Muhammadiyah mengalami
perkembangan yang sangat pesat, bahkan pada Kongres Muhammadiyah ke-22 di Semarang tahun
1933 (Kongres Muhammadiyah terakhir dalam periode kepemimpinan K.H. Ibrahim) Cabang-
cabang Muhammadiyah telah berdiri hampir di seluruh tanah air.

5
3. KH. Mas Mansyur
Sebelum Muhammadiyah Cabang Surabaya didirikan, K.H. Ahmad
Dahlan sudah sering melakukan tabligh ke daerah ini. Tabligh-
tabligh itu dilaksanakan berupa pengajian yang diselenggarakan di
Peneleh, Surabaya. Dalam pengajian-pengajian itulah Bung Karno
muda dan Roeslan Abdul Gani muda, untuk pertama kalinya
mendengarkan penjelasan tentang ajaran Islam dari K.H. Ahmad
Dahlan.

Setiap melaksanakan tabligh di Surabaya, K.H. Ahmad Dahlan


biasanya bermalam di penginapan. Namun, suatu malam ia
didatangi seorang tamu yang memintanya agar setiap K.H. Ahmad
Dahlan ke Surabaya bersedia untuk menginap di rumahnya. Tamu
itu ialah Kiai Haji Mas Mansur. Mas Mansur selalu mengikuti
pengajian yang diberikan oleh K.H. Ahmad Dahlan, dan ia sangat tertarik oleh isi kajian yang
diberikannya, serta tertarik juga akan kesederhanaannya.

Mas Mansur lahir pada hari Kamis tanggal 25 Juni 1896 di Surabaya. Ibunya bernama Raudhah,
seorang wanita kaya yang berasal dari keluarga Pesantren Sidoresmo, Wonokromo, Surabaya.
Ayahnya bernama K.H. Mas Ahmad Marzuqi, seorang pioneer Islam, ahli agama yang terkenal di
Jawa Timur pada masanya. Dia berasal dari keturunan bangsawan Astatinggi Sumenep, Madura.
Dia dikenal sebagai imam tetap dan khatib di Masjid Agung Ampel Surabaya, suatu jabatan
terhormat pada saat itu.

Masa kecilnya dilalui dengan belajar agama pada ayahnya sendiri. Di samping itu, dia juga belajar
di Pesantren Sidoresmo dengan Kiai Muhammad Thaha sebagai gurunya. Pada tahun 1906, ketika
Mas Mansur berusia sepuluh tahun, dia dikirim oleh ayahnya ke Pondok Pesantren Demangan,
Bangkalan, Madura. Di sana, dia mengkaji Al-Qur‘an dan mendalami kitab Alfiyah ibn Malik
kepada Kiai Khalil. Belum lama dia belajar di sana, kurang lebih dua tahun, Kiai Khalil meninggal
dunia, sehingga Mas Mansur meninggalkan pesantren itu dan pulang ke Surabaya.

Sepulang dari Pesantren Demangan pada tahun 1908, oleh orang tuanya disarankan untuk
menunaikan ibadah haji dan belajar di Makkah pada Kiai Mahfudz yang berasal dari Pondok
Pesantren Termas, Jawa Tengah. Setelah kurang lebih empat tahun belajar di sana, situasi politik
di Saudi memaksanya pindah ke Mesir. Penguasa Arab Saudi, Sultan Syarif Hussen, mengeluarkan
instruksi bahwa orang asing harus meninggalkan Makkah supaya tidak terlibat sengketa itu. Pada
mulanya ayah Mas Mansur tidak mengizinkannya ke Mesir, karena citra Mesir (Kairo) saat itu
kurang baik di mata ayahnya, yaitu sebagai tempat bersenang-senang dan maksiat. Meskipun demi-
kian, Mas Mansur tetap melaksanakan keinginannya tanpa izin orang tuanya. Kepahitan dan
kesulitan hidup karena tidak mendapatkan kiriman uang dari orang tuanya untuk biaya sekolah dan
biaya hidup harus dijalaninya. Oleh karena itu, dia sering berpuasa Senin dan Kamis dan
mendapatkan uang dan makanan dari masjid-masjid. Keadaan ini berlangsung kurang lebih satu
tahun, dan setelah itu orang tuanya kembali mengiriminya dana untuk belajar di Mesir.

Di Mesir, dia belajar di Perguruan Tinggi Al-Azhar pada Syaikh Ahmad Maskawih. Suasana Mesir
pada saat itu sedang gencar-gencarnya membangun dan menumbuhkan semangat kebangkitan
nasionalisme dan pembaharuan. Banyak tokoh memupuk semangat rakyat Mesir, baik melalui
media massa maupun pidato. Mas Mansur juga memanfaatkan kondisi ini dengan membaca
tulisan-tulisan yang tersebar di media massa dan mendengarkan pidato-pidatonya. Ia berada di
Mesir selama kurang lebih dua tahun. Sebelum pulang ke tanah air, terlebih dulu dia singgah
kembali ke Makkah selama satu tahun, dan pada tahun 1915 dia pulang ke Indonesia.

Sepulang dari belajar di Mesir dan Makkah, ia menikah dengan puteri Haji Arif yaitu Siti Zakiyah
yang tinggalnya tidak jauh dari rumahnya. Dari hasil pernikahannya itu, mereka dikaruniai enam
6
orang anak, yaitu Nafiah, Ainurrafiq, Aminah, Muhammad Nuh, Ibrahim dan Luk-luk. Disamping
menikah dengan Siti Zakiyah, dia juga menikah dengan Halimah. Dia menjalani hidup dengan istri
kedua ini tidak berlangsung lama, hanya dua tahun, karena pada tahun 1939 Halimah meninggal
dunia.

Langkah awal Mas Mansur sepulang dari belajar di luar negeri ialah bergabung dalam Syarikat
Islam. Peristiwa yang dia saksikan dan alami baik di Makkah, yaitu terjadinya pergolakan politik,
maupun di Mesir, yaitu munculnya gerakan nasionalisme dan pembaharuan merupakan modal
baginya untuk mengembangkan sayapnya dalam suatu organisasi. Pada saat itu, SI dipimpin oleh
HOS. Cokroaminoto, dan terkenal sebagai organisasi yang radikal dan revolusioner. Ia dipercaya
sebagai Penasehat Pengurus Besar SI.

Selain itu, Mas Mansur juga membentuk majelis diskusi bersama Abdul Wahab Hasbullah yang
diberi nama Taswir al-Afkar (Cakrawala Pemikiran). Terbentuknya majelis ini diilhami oleh
keadaan masyarakat Surabaya yang diselimuti kabut kekolotan. Masyarakat sulit diajak maju,
bahkan mereka sulit menerima pemikiran baru yang berbeda dengan tradisi yang mereka
pegang. Taswir al-Afkar merupakan tempat berkumpulnya para ulama Surabaya yang sebelumnya
mereka mengadakan kegiatan pengajian di rumah atau di surau masing-masing. Masalah-masalah
yang dibahas berkaitan dengan masalah-masalah yang bersifat keagamaan murni sampai masalah
politik perjuangan melawan penjajah.

Aktivitas Taswir al-Afkar itu mengilhami lahirnya berbagai aktivitas lain di berbagai kota,
seperti Nahdhah al-Wathan (Kebangkitan Tanah Air) yang menitikberatkan pada pendidikan.
Sebagai kelanjutan Nahdhah al-Wathan, Mas Mansur dan Abdul Wahab Hasbullah mendirikan
madrasah yang bernama Khitab al-Wathan (Mimbar Tanah Air), kemudian madrasah Ahl al-
Wathan (Keluarga Tanah Air) di Wonokromo, Far’u al-Wathan (Cabang Tanah Air) di Gresik
dan Hidayah al-Wathan (Petunjuk Tanah Air) di Jombang. Kalau diamati, dari nama yang
dimunculkan, yaitu wathan yang berarti tanah air, maka dapat diketahui bahwa kecintaan mereka
terhadap tanah air sangat besar. Mereka berusaha mencerdaskan bangsa Indonesia dan berusaha
mengajak mereka untuk membebaskan tanah air dari belenggu penjajah. Pemerintahan sendiri
tanpa campur tangan bangsa lain, itulah yang mereka harapkan.

Taswir al-Afkar merupakan wadah yang diskusinya, mau tidak mau permasalahan yang mereka
diskusikan, merembet pada masalah khilafiyah, ijtihad dan madzhab. Terjadinya perbedaan
pendapat antara Mas Mansur dengan Abdul Wahab Hasbullah mengenai masalah-masalah tersebut
yang menyebabkan Mas Mansur keluar dari Taswir al-Afkar.
Mas Mansur juga banyak menghasilkan tulisan-tulisan yang berbobot. Pikiran-pikiran pemba-
haruannya dimuat di media massa. Majalah yang pertama kali diterbitkan bernama Suara Santri.
Kata santri digunakan sebagai nama majalah, karena pada saat itu kata santri sangat digemari oleh
masyarakat. Oleh karena itu, majalah Suara Santri mendapat sukses yang gemilang.
Majalah Jinem merupakan majalah kedua yang pernah diterbitkan oleh Mas Mansur. Majalah ini
terbit dua kali sebulan dengan menggunakan bahasa Jawa dengan huruf Arab (pegon). Kedua
majalah tersebut merupakan sarana untuk menuangkan pikiran-pikirannya dan mengajak
para pemuda melatih mengekspresikan pikirannya dalam bentuk tulisan. Melalui majalah itu, Mas
Mansur mengajak kaum muslimin untuk meninggalkan kemusyrikan dan kekolotan. Selain itu,
Mas Mansur pernah menjadi redaktur majalah Kawan Kita di Surabaya.

Tulisan-tulisan Mas Mansur pernah dimuat di majalah Siaran dan majalah Kentungan di
Surabaya; Penganjur dan Islam Bergerak di Yogyakarta; Panji Islam dan Pedoman Masyarakat di
Medan dan Adil di Solo. Di samping melalui majalah-majalah, Mas Mansur juga menuliskan ide
dan gagasannya dalam bentuk buku, antara lain yaitu Hadis Nabawiyah; Syarat Syahnya Nikah;
Risalah Tauhid dan Syirik; dan Adab al-Bahts wa al-Munadlarah.

7
Selain aktif dalam bidang tulis-menulis, dia juga aktif dalam organisasi, meskipun aktivitas
organisasi menyita waktunya dalam dunia jurnalistik. Pada tahun 1921, Mas Mansur masuk
organisasi Muhammadiyah. Aktivitas Mas Mansur di Muhammadiyah membawa angin segar dan
memperkokoh keberadaan Muhammadiyah sebagai organisasi pembaharuan. Tangga-tangga yang
dilalui Mas Mansur selalu dinaiki dengan mantap. Hal ini terlihat dari jenjang yang dilewatinya,
yakni setelah Ketua Cabang Muhammadiyah Surabaya, kemudian menjadi Konsul
Muhammadiyah Wilayah Jawa Timur. Puncak dari tangga tersebut adalah ketika Mas Mansur
menjadi Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah pada tahun 1937-1943. Mas Mansur dikukuhkan
sebagai Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah dalam Kongres Muhammadiyah ke-26 di
Yogyakarta pada bulan Oktober 1937.

Banyak hal pantas dicatat sebelum Mas Mansur terpilih sebagai Ketua Pengurus Besar Muham-
madiyah. Suasana yang berkembang saat itu ialah ketidakpuasan angkatan muda Muhammadiyah
terhadap kebijakan Pengurus Besar Muhammadiyah yang terlalu mengutamakan pendidikan,
hanya mengurusi persoalan sekolah-sekolah Muhammadiyah, tetapi melupakan bidang tabligh
(penyiaran agama Islam). Angkatan muda Muham-madiyah berpendapat bahwa Pengurus Besar
Muhammadiyah hanya dikuasai oleh tiga tokoh tua, yaitu K.H. Hisyam (Ketua Pengurus Besar),
K.H. Mukhtar (Wakil Ketua), dan K.H. Syuja’ sebagai Ketua Bahagian PKO (Penolong
Kesengsaraan Oemoem).

Situasi bertambah kritis ketika dalam Kongres Muhammadiyah ke-26 di Yogyakarta pada tahun
1937, Ranting-ranting Muhammadiyah lebih banyak memberikan suara kepada tiga tokoh tua
tersebut. Kelompok muda di lingkungan Muhammadiyah semakin kecewa. Namun setelah terjadi
dialog, ketiga tokoh tersebut ikhlas mengundurkan diri.
Setelah mereka mundur lewat musyawarah, Ki Bagus Hadikusumo diusulkan untuk menjadi
Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah, namun ia yang menolak. Kiai Hadjid juga menolak ketika
ia dihubungi untuk menjadi Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah. Perhatian pun diarahkan
kepada Mas Mansur (Konsul Muhammadiyah Daerah Surabaya). Pada mulanya Mas Mansur
menolak, tetapi setelah melalui dialog panjang ia bersedia menjadi Ketua Pengurus Besar
Muhammadiyah.

Pergeseran kepemimpinan dari kelompok tua kepada kelompok muda dalam Pengurus Besar
Muhammadiyah tersebut menunjukkan bahwa Muhammadiyah saat itu sangat akomodatif dan
demokratis terhadap aspirasi kalangan muda yang progresif demi kemajuan Muhammadiyah,
bukan demi kepentingan perseorangan. Bahkan Pengurus Besar Muhammadiyah pada periode Mas
Mansur juga banyak didominasi oleh angkatan muda Muhammadiyah yang cerdas, tangkas, dan
progresif.

Sebagai Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah, Mas Mansur bertindak disiplin dalam
berorganisasi. Sidang-sidang Pengurus Besar Muhammadiyah selalu diadakan tepat pada
waktunya. Demikian juga dengan para tamu Muhammadiyah dari daerah-daerah. Berbeda dari
Pengurus Besar Muhammadiyah sebelumnya yang seringkali menyelesaikan persoalan
Muhammadiyah di rumahnya masing-masing, Mas Mansur selalu menekankan bahwa kebiasaan
seperti itu tidak baik bagi disiplin organisasi, karena Pengurus Besar Muhammadiyah telah
memiliki kantor sendiri beserta segenap karyawan dan perlengkapannya. Namun ia tetap bersedia
untuk menerima silaturrahmi para tamu Muhammadiyah dari daerah-daerah itu di rumahnya untuk
urusan yang tidak berkaitan dengan Muhammadiyah.

Kepemimpinannya ditandai dengan kebijaksanaan baru yang disebut Langkah Muhammadiyah


1938-1949. Ada duabelas langkah yang dicanangkan. Mas Mansur juga banyak membuat gebrakan
dalam hukum Islam dan politik ummat Islam saat itu. Yang perlu juga dicatat, Mas Mansur tidak
ragu mengambil kesimpulan tentang hukum bank, yakni haram, tetapi diperkenankan,
dimudahkan, dan dimaafkan, selama keadaan memaksa untuk itu. Ia berpendapat bahwa secara

8
hukum bunga bank adalah haram, tetapi ia melihat bahwa perekonomian ummat Islam dalam
kondisi yang sangat memprihatinkan, sedangkan ekonomi perbankan saat itu sudah menjadi suatu
sistem yang kuat di masyarakat. Oleh karena itu, jika ummat Islam tidak memanfaatkan dunia
perbankan untuk sementara waktu, maka kondisi perekonomian ummat Islam akan semakin turun
secara drastis. Dengan demikian, dalam kondisi keterpaksaan tersebut dibolehkan untuk
memanfaatkan perbankan guna memperbaiki kondisi perekonomian ummat Islam.

Dalam dunia politik ummat Islam saat itu, Mas Mansur banyak melakukan gebrakan. Sebelum
menjadi Ketua PB Muhammadiyah, Mas Mansur sebenarnya sudah banyak terlibat dalam berbagai
aktivitas politik ummat Islam. Setelah menjadi Ketua PB Muhammadiyah, ia mulai melakukan
gebrakan politik yang cukup berhasil bagi ummat Islam dengan memprakarsai berdirinya Majelis
Islam A’la Indonesia (MIAI) bersama K.H. Ahmad Dahlan dan K.H. Wahab Hasbullah yang
keduanya dari Nahdlatul Ulama (NU). Ia juga memprakarsai berdirinya Partai Islam Indonesia
(PII) bersama Dr. Sukiman Wiryasanjaya sebagai perimbangan atas sikap non-kooperatif dari
Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII). Demikian juga ketika Jepang berkuasa di Indonesia, Mas
Mansur termasuk salah seorang dari empat orang tokoh nasional yang sangat diperhitungkan, yang
terkenal dengan sebutan empat serangkai, yaitu Soekarno, Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara,
dan Mas Mansur.

Keterlibatannya dalam empat serangkai mengharuskannya pindah ke Jakarta, sehingga jabatan


ketua PB Muhammadiyah diserahkan kepada Ki Bagus Hadikusumo. Namun, kekejaman
pemerintah Jepang yang luar biasa terhadap rakyat Indonesia menyebabkannya tidak tahan dalam
aktivitas empat serangkai tersebut, sehingga ia memutuskan untuk kembali ke Surabaya, dan
kedudukannya dalam empat serangkai digantikan oleh Ki Bagus Hadikusumo.
Ketika pecah perang kemerdekaan, Mas Mansur belum sembuh benar dari sakit. Namun, ia tetap
ikut berjuang memberikan semangat kepada barisan pemuda untuk melawan kedatangan tentara
Belanda (NICA). Akhirnya, ia ditangkap oleh tentara NICA dan dipenjarakan di Surabaya. Di
tengah pecahnya perang kemerdekaan yang berkecamuk itulah, Mas Mansur meninggal di tahanan
pada tanggal 25 April 1946. Jenazahnya dimakamkan di Gipo Surabaya.

Atas jasa-jasanya, oleh Pemerintah Republik Indonesia ia diangkat sebagai Pahlawan Nasional
bersama H. Fakhruddin.

4. Ki Bagus Hadikusumo
Pahlawan perintis Kemerdekaan Nasional Indonesia ini dilahirkan di
kampung Kauman Yogyakarta dengan nama R. Hidayat pada 11 Rabi’ul
Akhir 1038 Hijriyah. Ia putra ketiga dari lima bersaudara Raden Haji
Lurah Hasyim, seorang abdi dalem putihan agama Islam di Kraton
Yogyakarta. Seperti umumnya keluarga santri, Ki Bagus mulai
memperoleh pendidikan agama dari orang tuanya dan beberapa Kiai di
Kauman. Setelah tamat dari ‘Sekolah Ongko Loro’ (tiga tahun tingkat
sekolah dasar), Ki Bagus belajar di Pesantren Wonokromo, Yogyakarta.
Di Pesantren ini ia banyak mengkaji kitab-kitab fiqh dan tasawuf.
Dalam usia 20 tahun Ki Bagus menikah dengan Siti Fatmah (putri Raden
Haji Suhud) dan memperoleh enam anak. Salah seorang di antaranya ialah Djarnawi Hadikusumo,
yang kemudian menjadi tokoh Muhammadiyah dan pernah menjadi orang nomor satu di Parmusi.
Setelah Fatmah meninggal, ia menikah lagi dengan seorang wanita pengusaha dari Yogyakarta
bernama Mursilah. Pernikahan ini dikaruniai tiga orang anak. Ki Bagus kemudian menikah lagi
dengan Siti Fatimah (juga seorang pengusaha) setelah istri keduanya meninggal. Dari istri ketiga
ini ia memperoleh lima anak.

9
Sekolahnya tidak lebih dari sekolah rakyat (sekarang SD) ditambah mengaji dan besar di pesantren.
Namun, berkat kerajinan dan ketekunan mempelajari kitab-kitab terkenal akhirnya ia menjadi
orang alim, mubaligh dan pemimpin ummat. Ia merupakan pemimpin Muhammadiyah yang besar
andilnya dalam penyusunan Muqadimah UUD 1945, karena ia termasuk anggota Panitia Persiapan
Kemerdekan Indonesia (PPKI). Peran Ki Bagus sangat besar dalam perumusan Muqadimah UUD
1945 dengan memberikan landasan ketuhanan, kemanusiaan, keberadaban, dan keadilan. Pokok-
pokok pikirannya dengan memberikan landasan-landasan itu disetujui oleh semua anggota PPKI.

Secara formal, selain kegiatan tabligh, Ki Bagus pernah menjadi Ketua Majelis Tabligh (1922),
Ketua Majelis Tarjih, anggota Komisi MPM Hoofdbestuur Muhammadiyah (1926), dan Ketua PP
Muhammadiyah (1942-1953). Pokok-pokok pikiran Ahmad Dahlan berhasil ia rumuskan
sedemikian rupa sehingga dapat menjiwai dan mengarahkan gerak langkah serta perjuangan
Muhammadiyah. Bahkan, pokok-pokok pikiran itu menjadi Muqadimah Anggaran Dasar
Muhammadiyah. Muqaddimah yang merupakan dasar ideologi Muhammadiyah ini menginspirasi
sejumlah tokoh Muhammadiyah lainnya. HAMKA, misalnya, mendapatkan inspirasi dari
muqaddimah tersebut untuk merumuskan dua landasan idiil Muhammadiyah, yaitu Matan
Kepribadian Muhammadiyah dan Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah.

Ki Bagus juga sangat produktif dalam menuliskan buah pikirannya. Buku karyanya antara lain
Islam sebagai Dasar Negara dan Achlaq Pemimpin. Karya-karyanya yang lain yaitu Risalah
Katresnan Djati (1935), Poestaka Hadi (1936), Poestaka Islam (1940), Poestaka Ichsan (1941),
dan Poestaka Iman (1954). Dari buku-buku karyanya tersebut tercermin komitmennya terhadap
etika dan bahkan juga syariat Islam. Dari komitmen tersebut, Ki Bagus adalah termasuk seorang
tokoh yang memiliki kecenderungan kuat untuk pelembagaan Islam.
Bagi Ki Bagus, pelembagaan Islam menjadi sangat penting untuk alasan-alasan ideologi, politis,
dan juga intelektual. Ini nampak dalam upayanya memperkokoh eksistensi hukum Islam di
Indonesia ketika ia dan beberapa ulama lainnya terlibat dalam sebuah kepanitiaan yang bertugas
memperbaiki peradilan agama (priesterraden commisse). Hasil penting sidang-sidang komisi ini
ialah kesepakatan untuk memberlakukan hukum Islam. Akan tetapi Ki Bagus dikecewakan oleh
sikap politik pemerintah kolonial yang didukung oleh para ahli hukum adat yang membatalkan
seluruh keputusan penting tentang diberlakukannya hukum Islam untuk kemudian diganti dengan
hukum adat melalui penetapan Ordonansi 1931. Kekecewaannya itu ia ungkap kembali saat
menyampaikan pidato di depan Sidang BPUKPKI.

Munculnya Ki Bagus Hadikusumo sebagai Ketua PB Muhammadiyah adalah pada saat terjadi
pergolakan politik internasional, yaitu pecahnya perang dunia II. Kendati Ki Bagus Hadikusuma
menyatakan ketidaksediaannya sebagai Wakil Ketua PB Muhammadiyah ketika diminta oleh Mas
Mansur pada Kongres ke-26 tahun 1937 di Yogyakarta, ia tetap tidak bisa mengelak memenuhi
panggilan tugas untuk menjadi Ketua PB Muhammadiyah ketika Mas Mansur dipaksa menjadi
anggota pengurus Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA) di Jakarta pada tahun 1942. Apalagi dalam
situasi di bawah penjajahan Jepang, Muhammadyah memerlukan tokoh kuat dan patriotik. Ki
Bagus Hadikusumo berani menentang perintah pimpinan tentara Dai Nippon yang terkenal ganas
dan kejam, untuk memerintahkan ummat Islam dan warga Muhammadiyah melakukan upacara
kebaktian tiap pagi sebagai penghormatan kepada Dewa Matahari.

Ki Bagus Hadikusumo menjadi Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah selama 11 tahun (1942-
1953) dan wafat pada usia 64 tahun. Pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai
Pahlawan Perintis Kemerdekaan Nasional Indonesia

10
5. KH Faqih Usman
Kyai Haji Faqih Usman dilahirkan di Gresik, Jawa Timur tanggal 2
Maret 1904. Ia berasal dari keluarga santri sederhana
dan taat beribadah. Faqih Usman merupakan anak keempat dalam
keluarga yanga gemar akan ilmu pengetahuan, baik pengetahuan
agama maupun pengetahuan umum.

Masa kecilnya dilalui dengan belajar membaca al-Quran dan ilmu


pengetahuan umum dari ayahnya sendiri. Menginjak usia remaja ia
belajar di pondok pesantren di Gresik tahun 1914-1918. Kemudian,
antara tahun 1918-1924 dia menimba ilmu pengetahuan di pondok
pesantren di luar daerah Gresik. Dengan demikian, ia juga banyak
menguasai buku-buku yang diajarkan di pesantren-pesantren
tradisional, karena penguasaannya dalam bahasa Arab. Dia juga terbiasa membaca surat kabar dan
majalah berbahasa Arab, terutama dari Mesir yang berisi tentang pergerakan kemer-
dekaan. Apalagi, pada penghujung abad 19 dan awal abad 20 itu di dunia Islam pada umumnya
sedang terjadi gerakan kebangkitan.

Faqih Usman dikenal memiliki etos enterpreneurship yang kuat. Kegiatan bisnis yang
dilakukannya cukup besar dengan mendirikan beberapa perusahaan yang bergerak dalam bidang
penyediaan alat-alat bangunan, galangan kapal, dan pabrik tenun di Gresik. Bahkan, dia juga
diangkat sebagai Ketua Persekutuan Dagang Sekawan Se-Daerah Gresik.

Keterlibatannya dalam Muhammadiyah dimulai pada tahun 1925, ketika ia diangkat sebagai Ketua
Group Muhammadiyah Gresik, yang dalam perkembangan selanjutnya menjadi salah satu Cabang
Muhammadiyah di Wilayah Jawa Timur. Selanjutnya, karena kepiawaiannya sebagai ulama-
cendekiawan, ia diangkat sebagai Ketua Majelis Tarjih Muhammadiyah Jawa Timur periode 1932-
1936 yang berkedudukan di Surabaya. Ketika Mas Mansur dikukuhkan sebagai Ketua Pengurus
Besar Muhammadiyah, ia menggantikan kedudukan Mas Mansur sebagai Konsul Muhammadiyah
Jawa Timur pada tahun 1936. Pada tahun 1953, untuk pertama kalinya dia diangkat dan duduk
dalam susunan kepengurusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan seterusnya selalu terpilih
sebagai salah seorang staf Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Menjelang meninggalnya,
beliau dikukuhkan sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada Muktamar
Muhammadiyah ke-37 tahun 1968 di Yogyakarta untuk periode 1968-1971. Namun, jabatan itu
sempat diemban hanya beberapa hari saja, karena ia segera dipanggil menghadap Yang Maha
Kuasa pada tanggal 3 Oktober 1968. Selanjutnya kepemimpinan Muhammadiyah dilanjutkan oleh
Abdul Rozak Fachruddin yang masih sangat muda.

Faqih Usman banyak terlibat aktif di berbagai gerakan Islam yang sangat membantu pengem-
bangan Muhammadiyah. Dia pernah memimpin majalah Bintang Islam sebagai media cetak
Muhammadiyah Jawa Timur. Kegiatannya dalam Muhammadiyah memperluas jaringan
pergaulannya, sehingga iapun terlibat aktif di berbagai organisasi masyarakat, seperti Majelis Islam
A’la Indonesia (MIAI) pada tahun 1937.

Pada tahun 1940-1942, dia menjadi anggota Dewan Kota Surabaya. Pada tahun 1945 dia menjadi
anggota Komite Nasional Indonesia Pusat dan Ketua Komite Nasional Surabaya. Pada tahun 1959,
dia menerbitkan majalah Panji Masyarakat (Panjimas) bersama-sama dengan Buya Hamka, Joesoef
Abdullah Poear, dan Joesoef Ahmad. Majalah ini memiliki ikatan yang erat dengan
Muhammadiyah. Dia juga ikut andil dalam Partai Masyumi sejak didirikannya pada tanggal 7
Nopember 1945 dalam Muktamar Ummat Islam di Yogyakarta. Dia duduk sebagai salah seorang
Pengurus Besar Masyumi, dan pada tahun 1952 duduk sebagai Ketua II sampai dengan tahun 1960,
yaitu pada saat Masyumi dibubarkan.

11
Pembubaran Masyumi pada masa rezim Soekarno menancapkan luka yang mendalam bagi para
tokoh ummat Islam saat itu, sehingga ketika rezim itu tumbang digantikan oleh rezim Orde Baru,
maka Faqih Usman bersama dengan Hasan Basri (mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia)
dan Anwar Haryono (mantan Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia) mengirim nota politik
kepada pemerintah Orde Baru. Nota politik ini kemudian dikenal dengan Nota K.H. Faqih Usman,
yang isinya permintaan agar Pemerintah RI Orde Baru mau merehabilitasi Masyumi dari partai
terlarang.

Faqih Usman banyak terlibat dalam aktivitas politik di negeri ini. Dia pernah dipercaya Pemerintah
RI untuk memimpin Departemen Agama pada masa Kabinet Halim Perdanakusumah sejak 21
Januari 1950 sampai 6 September 1950. Pada tahun 1951 ia ditunjuk sebagai Kepala Jawatan
Agama Pusat. Situasi politik di tanah air yang tidak stabil saat itu menyebabkan susunan kabinet
pun jatuh bangun. Ia dipercaya kembali sebagai Menteri Agama pada masa Kabinet Wilopo sejak
3 April l952 sampai 1 Agustus 1953. Fenomena terpilihnya Faqih Usman sebagai Menteri Agama
yang kedua kalinya sempat menimbulkan konflik politik antara Masyumi dan Nahdhatul Ulama.
K.H. Abdul Wahab Hasbullah yang merupakan representasi kubu NU menuntut agar jabatan
Menteri Agama diberikan kepada unsur NU. Namun, setelah diadakan pemungutan suara, ternyata
Faqih Usman (representasi Masyumi) yang terpilih. Hal ini mempengaruhi peta politik Islam di
tanah air, karena akhirnya justru mempercepat proses pemisahan Nahdhatul Ulama (NU) dari
Masyumi.

Selepas dari jabatan Menteri Agama RI, ia masih tetap duduk sebagai anggota aktif Konstituate,
di samping jabatannya sebagai pegawai tinggi yang diperbantukan pada Departeman Agama sejak
tahun l954. Sebagai salah seorang tokoh Masyumi, dia juga terlibat aktif dalam resolusi konflik
politik dalam negeri. Hal itu terlihat menjelang meletusnya gerakan Pemerintahan Revolusioner
Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera Utara. Bersama dengan Mohammad Roem, dia berusaha
menjadi mediator untuk mendamaikan konflik antara PRRI dengan pemerintah pusat saat itu. Ia
berusaha menemui rekan-rekannya di Masyumi yang terlibat dalam kegiatan PRRI tersebut, seperti
Muhammad Natsir, Boerhanuddin Harahap, dan Sjafruddin Prawiranegara untuk mendialogkan
persoalan yang semakin menajam menjadi perang saudara tersebut. Upaya ini tidak membawa hasil
yang memuaskan, bahkan bisa dianggap gagal. Dalam keputusasaan tersebut, akhirnya Fakih
Usman kembali ke Muhammadiyah yang menjadi basis aktivitas kemasyarakatannya.

Sebagai salah seorang Wakil Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada kepengurusan KHA.
Badawi yang pertama (1962-1965), KH Fakih Usman merumuskan sebuah konsep pemikiran yang
kemudian dikenal dengan Kepribadian Muhammadiyah. Rumusan pemikirannya ini diajukan
dalam Muktamar Muhammadiyah ke-35 tahun 1962 di Jakarta, yang akhirnya diterima sebagai
pedoman bagi warga Muhammadiyah.

6. KH. Abdur Rozak Fachruddin


Pak AR demikian nama panggilan akrab Kiai Haji Abdur Rozak
Fachruddin, adalah pemegang rekor paling lama memimpin
Muhammadiyah, yaitu selama 22 tahun (1968-1990). Pak AR lahir
14 Februari 1916 di Cilangkap, Purwanggan, Pakualaman,
Yogyakarta. Ayahnya, K.H. Fachruddin adalah seorang Lurah Naib
atau Penghulu di Puro Pakualaman yang diangkat oleh kakek Sri
Paduka Paku Alam VIII, berasal dari Bleberan, Brosot, Galur,
Kulonprogo. Sementara ibunya adalah Maimunah binti K.H. Idris,
Pakualaman.

Pada tahun 1923, untuk pertama kalinya A.R. Fachruddin


bersekolah formal di Standaard School Muhammadiyah Bausasran, Yogyakarta. Setelah ayahnya
tidak menjadi Penghulu dan usahanya dagang batik juga jatuh, maka ia pulang ke desanya di

12
Bleberan, Galur, Kulonprogo. Pada tahun 1925, ia pindah ke sekolah Standaard School (Sekolah
Dasar) Muhammadiyah Prenggan, Kotagede, Yogyakarta. Setamat dari Standaard
School Kotagede tahun 1928, ia masuk ke Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta. Baru
belajar dua tahun di Muallimin, ayahnya memanggilnya untuk pulang ke Bleberan, dan belajar
kepada beberapa kiai di sana, seperti ayahnya sendiri, K.H. Abdullah Rosad, dan K.H. Abu Amar.
Sehabis Mahgrib sampai pukul 21.00, ia juga belajar di Madrasah Wustha Muhammadiyah
Wanapeti, Sewugalur, Kulonprogo.

Setelah ayahnya meninggal di Bleberan dalam usia 72 tahun (1930), pada tahun 1932 A.R. Fach-
ruddin masuk belajar di Madrasah Darul Ulum Muhammadiyah Wanapeti, Sewugalur.
Selanjutnya, pada tahun 1935 A.R. Fachruddin melanjutkan sekolahnya ke Madrasah
Tablighschool (Madrasah Muballighin) Muhammadiyah kelas Tiga.
Pada tahun 1935, A.R. Fachruddin dikirim (dibenum) oleh Hoofdbestuur Muhammadiyah ke
Talangbalai (sekarang Ogan Komering Ilir) dengan tugas mengembangkan gerakan dakwah
Muhammadiyah. Di sana, ia mendirikan Sekolah Wustha Muallimin Muhammadiyah, setingkat
SMP. Pada tahun 1938, ia juga mengembangkan hal yang sama di Ulak Paceh, Sekayu, Musi Ilir
(sekarang Kabupaten Musi Banyu Asin). Pada tahun 1941, ia pindah ke Sungai Batang, Sungai
Gerong, Palembang sebagai pengajar HIS (Hollandcse Inlanders School) Muhammadiyah,
setingkat dengan SD.

Pada tanggal 14 Februari 1942, Jepang menyerbu pabrik minyak Sungai Gerong. Dengan
sendirinya sekolah tempat mengajarnya ditutup. Kemudian A.R. Fachruddin dipindahkan ke
Tebing Grinting, Muara Meranjat, Palembang sampai tahun 1944. Selama bertugas itu Pak AR
mengajar di sekolah Muhammadiyah serta memimpin dan melatih HW, memberi Pengajian dan
sebagainya

Ketika kembali Yogyakarta, ke desanya Bleberan, Kulon Progo (tahun 1944), A.R. Fachruddin
terus aktif berdakwah dalam Muhammadiyah. Ketika pada tahun 1950 pindah ke Kauman
Yogyakarta, A.R. Fachruddin tetap aktif sambil terus belajar kepada para assabiqunal
awwalun Muhammadiyah, seperti K.H. Syudjak, KHA. Badawi, KRH. Hadjid, K.H. Muchtar, Ki
Bagus Hadikusumo, K.H. Djohar, K.H. Muslim, K.H. Hanad, K.H. Bakir Saleh, K.H Basyir
Mahfudz, Ibu Hj. Badilah Zuber dan sebagainya.

Keterlibatan A.R. Fachruddin di pusat Muhammadiyah mengantarkan beliau menjadi Ketua


Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta, kemudian menjadi Ketua Pimpinan Wilayah
Muhammadiyah DIY, selanjutnya menjadi anggota Dzawil Qurba Pimpinan Pusat
Muhammadiyah, sampai akhirnya dipercaya memimpin Muhammadiyah selama kira-kira 22 tahun
(1968-1990).

Pak AR menjadi Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah sejak tahun 1968 setelah di-fait
accomply untuk menjadi Pejabat Ketua PP Muhammadiyah sehubungan dengan wafatnya K.H.
Faqih Usman. Dalam Sidang Tanwir di Ponorogo (Jawa Timur) pada tahun 1969, akhirnya Pak
AR dikukuhkan menjadi Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah sampai Muktamar
Muhammadiyah ke-38 di Makassar pada tahun 1971. Sejak saat itu ia terpilih secara berturut-turut
dalam empat kali Muktamar Muhammadiyah berikutnya untuk periode 1971-1974, 1974-1978,
1978-1985 dan terakhir 1985-1990.

Dari riwayat perjalanan dakwahnya, dapat ditarik kesimpulan, Pak AR meniti karir di
Muhammadiyah sejak dari bawah, yaitu menjadi anggota, menjadi muballigh yang ditugaskan di
pelosok Sumatera Selatan dan di kampungnya sendiri, sampai pada pimpinan puncak yakni
dipercaya sebagai Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pak AR menjadi pemimpin setelah
melalui proses yang amat panjang.

13
Melihat sosok Pak AR, akan didapatkan sebuah cermin, bahwa seorang pemimpin perlu
menghayati bagaimana kehidupan ummat secara riil. Bagaimana derita dan nestapa ummat
di tingkat bawah, bagaimana pahit getir berdakwah dan menggerakkan organisasi di tingkat
Ranting yang jauh dari kota, yang serba kekurangan prasarana dan sarana. Susah payah, kesulitan-
kesulitan, dan suka duka yang dialami seorang pemimpin yang bekerja di tingkat Ranting dan
Cabang dapat memberi pengalaman yang berharga dan menjadikan seorang pemimpin menjadi arif
dalam mengambil kebijakan dalam memimpin umat.

Pak AR adalah ulama besar yang berwajah sejuk dan bersahaja. Kesejukannya sebagai pemimpin
ummat Islam bisa dirasakan oleh ummat beragama lain. Ketika menyambut kunjungan pimpinan
Vatikan, Paus Yohanes Paulus II di Yogyakarta, sebenarnya Pak AR menyampaikan kritikan
kepada umat Katholik, tetapi kritik itu disampaikannya secara halus dan sejuk berupa sebuah surat
terbuka.

Dalam surat itu, Pak AR mengungkapkan bahwa sebagian besar rakyat Indonesia adalah muslim.
Namun, ada hal yang terasa mengganjal bagi umat Islam Indonesia, bahwa umat Katholik banyak
menggunakan kesempatan untuk mempengaruhi ummat Islam yang masih menderita dan miskin
agar mau masuk ke agama Katolik. Mereka diberi uang, dicukupi kebutuhannya, dibangunkan
rumah-rumah sederhana, dipinjami uang untuk modal dagang, tetapi dengan ajakan agar menjadi
umat kristen. Umat Islam dibujuk dan dirayu untuk pindah agama. Dalam tulisannya kepada Paus
Yohanes Paulus II itu, Pak AR menyatakan bahwa agama harus disebarluaskan dengan cara-cara
yang perwira dan sportif. Kritik ini diterima dengan lapang dada oleh ummat lain karena
disampaikan dengan lembut dan sejuk dalam bahasa Jawa halus, serta dijiwai semangat toleransi
yang tinggi.
Orang mengatakan bahwa Pak AR adalah penyejuk. Orang selalu mengatakan bahwa kelebihan
Pak AR adalah kesejukan dalam menyampaikan dakwah. Gaya kepemimpinan Pak AR yang terasa
adalah kesejukan.

Semasa hidupnya Pak AR memberi contoh hidup welas asih dalam ber-Muhammadiyah. Sikap
hidup beliau yang teduh, sejuk, ramah, menyapa siapa saja, sering humor, dan bersahaja, adalah
pantulan dari mutiara terpendam dalam nuraninya. Pak AR adalah penyebar rasa kasih sayang
dalam kehidupan ber-Muhammadiyah, baik dengan sesama Muslim, bahkan juga non Muslim
dalam persaudaraan kemanusiaan yang luhur. Beliau tidak pernah menyebarkan sikap dan suasana
saling membenci, curiga, iri hati, saling ingin menapikan, apalagi suka menebar aib sesama dalam
kehidupan ber-Muhammadiyah.
Selain dikenal sebagai seorang mubaligh yang sejuk, ia juga dikenal sebagai penulis yang
produktif. Karya tulisnya banyak dibukukan untuk dijadikan pedoman. Di antara karya-karyanya
ialah Naskah Kesyukuran; Naskah Enthengan, Serat Kawruh Islam Kawedar; Upaya Mewujudkan
Muhammadiyah sebagai Gerakan Amal; Pemikiran dan Dakwah Islam; Syahadatain Kawedar;
Tanya Jawab Entheng-Enthengan; Muhammadiyah adalah Organisasi Dakwah Islamiyah; Al-
Islam Bagian Pertama; Menuju Muhammadiyah; Sekaten dan Tuntunan Sholat Basa Jawi; Kembali
kepada Al-Qur‘an dan Hadis; Chutbah Nikah dan Terjemahannya; Pilihlah Pimpinan
Muhammadiyah yang Tepat; Soal-Jawab Entheng-enthengan; Sarono Entheng-
enthengan Pancasila; Ruh Muhammadiyah; dan lain-lain.

Ulama kharismatik ini tidak bersedia dipilih kembali menjadi Ketua Pimpinan Pusat Muham-
madiyah pada Muktamar Muhammadiyah ke-42 tahun 1990 di Yogyakarta, walaupun masih
banyak Muktamirin yang mengharapkannya. Ia berharap ada alih generasi yang sehat dalam
Muhammadiyah. Setalah tidak menjabat sebagai Ketua PP Muhammadiyah, dan menjabat sebagai
Penasehat PP Muhammadiyah, Pak AR masih aktif melaksanakan kegiatan tabligh ke berbagai
tempat. Hingga akhirnya, penyakit vertigo memaksanya harus beristirahat, sesekali di rumah sakit.

14
Namun, dalam keadaan demikian, sepertinya beliau tidak mau berhenti. Pak AR wafat pada 17
Maret 1995 di Rumah Sakit Islam Jakarta pada usia 79 tahun.

7. Prof. KH. Abdul Kahar Muzakir


Prof. KH. Abdoel Kahar Moezakir atau ejaan baru Abdul
Kahar Muzakir, ada pula yang menuliskannya dengan nama
Abdul Qahhar Mudzakkar adalah Rektor Magnificus yang dipilih
Universitas Islam Indonesia untuk pertama kali dengan nama STI
selama 2 periode 1945 - 1948 dan 1948 - 1960. Ia adalah anggota
BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan
Kemerdekaan Indonesia). Pada masa sekarang ia diusulkan untuk
dianugerahi gelar pahlawan nasional. Ia merupakan salah
satu Tokoh Pendidikan Indonesia.

Tokoh Islam yang pernah menjadi anggota Dokuritsu Zunby


Tyoosakai (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan
Kemerdekaan Indonesia) ini pula yang tetap dipertahankan ketika UII dihadirkan sebagai
pengganti STI pada 4 Juni 1948. Ia menduduki jabatan sebagai Rektor UII sampai tahun 1960.

Abdoel Kahar Moezakir lahir di Yogyakarta tahun 1908. Pendidikan dasarnya ia awali di Sekolah
Dasar Muhammadiyah Kota Gede namun hanya sampai kelas dua. kemudian neliau melanjutkan
pendidikannya di pesantren Mambaul Ulum di Solo. Sementara itu, pendidikan lanjutannya ia
selesaikan di pesantren Jamsaren di Jawa Tengah dan Pesantren Tremas di Jawa Timur, tempat
terakhir pendidikan formalnya di Indonesia.
Tidak puas dengan pendidikannya di Indonesia, pada tahun 1925 Abdul Kahar meninggalkan
Indonesia menuju Kairo, dalam usia 16 tahun. Di Kairo ia memasuki Darul Ulum - sebuah fakultas
baru pada Universitas Fuad (sekarang Kairo) - dan lulus dari Universitas ini pada tingkat lanjut
dalam Hukum Islam, Ilmu Pendidikan, Bahasa Arab dan Yahudi; tahun 1936.
Karir Politik dimulai ketika dia bergabung HMI Cabang Yogyakarta (1967 - 1974), kemudian dia
bergabung di DPD AMPI Sumsel (1984-1989), beliau juga mantan wakil Ketua DPD Partai
Golkar Sumsel. Kemudian dia terpilih menjadi anggota DPRD komisi X wilayah Sumatera selatan
II yang menangani masalah Pendidikan, Pemuda, Olahraga, Pariwisata, Kesenian, Kebudayaan.
Pada saat pemilihan Komposisi Dan Personalia Dewan Nasional Soksi Masa Bhakti 2010 – 2015,
Muzakir terpilih sebagai Ketua Bidang Organisasi dan Keanggotaan.
Tahun 1938 Prof. Abdul Kahar kembali ke Indonesia, Beliau mulai mengajar di Mu’allimin
Muhammadiyah di Yogyakarta. Kemudian beliau bergabung dan amat aktif di Muhamamdiyah,
yang menekankan perjuangannya di sektor pendidikan. terbukti saat pecahnya perang dunia II,
beliau menduduki pimpinan pada Organisasi Pemuda dan Bagian Kesejahteraan Sosial. Hingga
saat wafatnya pun beliau masih sebagai Pengurus Besar Muhammadiyah, yang sudah dipegangnya
berkali-kali-kali sejak 1946.
Pada tahun pertama kedatangannya di Indonesia Abdul Kahar sudah mulai terjun ke dalam kancah
politik Indonesia secara langsung. Ketika itu usianya menginjak 28 tahun, dan menyatakan dirinya
bergabung dengan Partai Islam Indonesia (PII) dan terpilih sebagai salah satu komisarisnya, hingga
tahun 1941.
Ketika masih pada pendudukan Jepang, Abdul Kahar menjabat di Departemen Agama sebagai
wakil ketua. Abdul Kahar pernah pula menjabat sebagai Dewan Penasehat Pusat, yang kemudian
membawanya berada di Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI),
mewakili organisasi Islam. Dua bulan menjelang kemerdekaan Ia menjadi subkomite BPUPKI, dan
bersama 9 anggota lainnya, termasuk Sukarno dan Hatta, ia ikut menandatangani “Piagam Jakarta”,
Mukaddimah tidak resmi UUD ‘45.

15
Setelah masa kolonial, perhatian Abdul Kahar lebih berkonsentrasi kepada usaha memajukan
pendidikan (tinggi) Islam. Ia begitu besar andilnya dalam pendirian Sekolah Tinggi Islam (STI),
ketika menjelang berakhirnya masa pendudukan Jepang. Ia pula yang akhirnya bersama Moh. Hatta
memimpin lembaga pendidikan ini.
Ketika itu Hatta sebagai direktur Badan Usahanya, dan ia sendiri merupakan rektor pertamanya.
Pada tahun 1946, STI dipindahkan ke Yogyakarta. Yang kemudian berganti nama menjadi
Unviersitas Islam Indonesia (UII), tepatnya pada tanggal 10 Maret 1948. Selain itu, beliau juga
pernah ikut berpartisipasi mendirikan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri Yogyakarta, yang
sekarang dikenal sebagai IAIN Sunan Kalijaga itu.
Bagi UII, ia mempunyai arti amat penting. Selain memang ia sendiri termasuk pendirinya, Prof.
Abdul Kahar Muzakkir merupakan orang pertama dan terlama yang pernah memegang jabatan
rektor yang dipegangnya selama tak kurang dari 12 tahun (1948–1960).
Abdoel Kahar Moezakir wafat pada 2 Desember 1973 di Kota Gede Yogyakarta karena serangan
jantung, dalam usia 65 tahun.
8. KH. Ahmad Azhar Baasyir
Tokoh kharismatik dan pejuang perang sabil ini dikenal sebagai
ulama yang sederhana, dan tak sedikit pula orang yang kagum pada
kecemerlangan iktelektualnya. Azhar Basyir, demikian Kyai Haji
Ahmad Azhar Basyir, MA kerap disapa. Ulama-intelektual ini lahir
di Yogyakarta, 21 November 1928. Masa kecilnya tumbuh dan
dibesarkan di lingkungan masyarakat yang kuat berpegang pada nilai
agama. Yaitu, di kampung Kauman.
Selama 34 tahun Azhar Basyir malang melintang menggeluti studi
formalnya di Tanah Air hingga luar negeri. Putra pasangan Haji
Muhammad Basyir dan Siti Djilalah ini memulai pendidikan di
Sekolah Rendah Muhammadiyah Suronatan, Yogyakarta. Setelah
tamat, Azhar Basyir lantas nyantri di Madrasah Salafiyah, Ponpes
Salafiyah Tremas, Pacitan, Jawa Timur. Setahun kemudian, Azhar Basyir berpindah ke Madrasah
Al-Fallah Kauman dan menyelesaikan pendidikan tingkat menengah pertamanya pada Tahun 1944.
Pendidikan lanjutan kemudian ditempuhnya di Madrasah Mubalighin III (Tabligh School)
Muhammadiyah Yogyakarta dan rampung dalam dua tahun.
Pada masa revolusi, Azhar Basyir bergabung dengan kesatuan TNI Hizbullah, Batalion 36
Yogyakarta. Pasca kemerdekaan, Azhar Basyir kembali ke bangku study melalui Madrasah
Menengah Tinggi Yogyakarta tahun 1949, dan tamat tahun 1952. Baru kemudian meneruskan ke
Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri Yogyakarta. Berkat kegigihan yang ditunjang kemampuan
ilmu agamanya, Azhar Basyir dipercaya menjadi ketua Pemuda Muhammadiyah tatkala lembaga
ini baru didirikan tahun 1954. Jabatannya mendapat pengukuhan kembali pada Muktamar Pemuda
Muhammadiyah di Palembang tahun 1956. Tak lama tugas itu diembannya, Azhar Basyir
mendapat beasiswa untuk belajar di Universitas Baghdad, Irak. Fakultas Adab Jurusan Sastra
adalah bidang yang diambilnya. Dari sini, Azhar Basyir melanjutkan studi ke Fakultas Dar Al
'Ulum Universitas Kairo, serta belajar Islamic Studies sampai meraih gelar master dengan
tesis: Nizam al-Miras fi Indunisia, Bain al-'Urf wa asy-Syari'ah al-Islamiyah (Sistem Warisan di
Indonesia, antara Hukum Adat dan Hukum Islam).
Sekembalinya ke Indonesia selama study di Timur Tengah, Azhar Basyir diangkat sebagai dosen
di Universitas Gadjah Mada (UGM). Tak hanya bidang keilmuan yang ditekuninya, di lapangan
organisasi Azhar Basyir pun aktif terlibat. Bahkan sejak duduk di sekolah menengah sudah bergiat
di Majelis Tabligh Muhammadiyah. Karir berorganisasinya dimulai sebagai Juru Tulis yang

16
tugasnya mengetik dan mengantar surat. Barulah kemudian Azhar Basyir masuk dalam jajaran
Pimpinan Pusat Muhammadiyah, yaitu di Majelis Tarjih sampai tahun 1985.
Pada Muktamar Muhammadiyah di Semarang tahun 1990, ulama intelektual ini diberi amanah
di jajaran Ketua PP Muhammadiyah. Saat memasuki musim haji tahun 1994, pemerintah
menunjuknya selaku perwakilan Amirul Haj Indonesia. Pulang dari Tanah Suci, Azhar Basyir
kembali bekerja keras. Dan pada saat yang sama, duduk di beberapa organisasi seperti menjadi
salah satu ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat masa bakti 1990-1995, anggota Dewan
Pengawas Syariah Bank Muamalat Indonesia, serta anggota MPR-RI periode 1993-1998. Pada usia
65 tahun, tokoh kharismatik ini mulai memasuki masa pensiun dari kegiatan mengajar di Fakultas
Filsafat UGM. Tetapi, tetap bertekad mengabdikan ilmunya dengan mengajar di Fakultas Hukum
UGM, IAIN Sunan Kalijaga dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Pada Muktamar Muhammadiyah ke-42 di Yogyakarta tahun 1995, Azhar Basyir terpilih sebagai
Ketua Muhammadiyah menggantikan KH AR Fakhruddin. Berkenaan dengan dimensi tasawuf
dalam Muhammadiyah, Azhar Basyir menyatakan bahwa Muhammadiyah juga menganut tasawuf,
seperti yang ditulis Buya Hamka dalam buku Tasauf Modern. Menurutnya, orang dapat saja
melakukan kegiatan yang berorientasi dunia tanpa meninggalkan dzikir. Demikianlah ketegasan
tokoh ini dalam menetapkan garis kebijakan Muhammadiyah. Melalui gagasan dan pemikirannya
itulah Azhar Basyir dikenal sebagai ulama yang banyak menguasai ilmu agama, kehadirannya
dalam khazanah pemikiran Islam seumpama sumur yang tak surut ditimba. Dapatlah dikata, Azhar
Basyir merupakan sosok perpaduan ulama dan intelektual. Oleh karenanya, Muhammadiyah di
bawah kepemimpinannya cukup intens memunculkan kegiatan yang berbentuk pengajian dan
kajian dalam mengurai berbagai persoalan keummatan dan pemikiran keislaman. Karya ilmiah
yang pernah ditulis Azhar Basyir cukup banyak dijadikan rujukan dalam kajian ilmiah di berbagai
Universitas di Tanah Air. Di waktu senggangnya, Azhar Basyir juga bergiat menulis buku. Di
antara karya-karyanya adalah Refleksi Atas Persoalan Keislaman (seputar filsafat, hukum, politik
dan ekonomi); Garis-garis Besar Ekonomi Islam; Hukum Waris Islam; Sex Education; Citra
Manusia Muslim; Syarah Hadits; Missi Muhammadiyah; Falsafah Ibadah dalam Islam; Hukum
Perkawinan Islam; Negara dan Pemerintahan dalam Islam; Mazhab Mu’tazilah (Aliran
Rasionalisme dalam Filsafat Islam); Peranan Agama dalam Pembinaan Moral Pancasila; Agama
Islam I dan II, dan lain-lain. Selain itu, Magister dalam ilmu Dirasat Islamiyah ini diakui secara
internasional sebagai ahli fiqih yang disegani. Itulah mengapa, sosoknya dengan mudah diterima
duduk di Lembaga Fiqih Islam: Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang memiliki persyaratan
ketat.
Tepatnya pada awal Juni 1994, ulama ini masuk rumah sakit karena komplikasi penyakit gula,
radang usus, dan jantung. Kondisinya kian memburuk. Hingga akhirnya, wafad di Rumah Sakit
Umum Pusat Dr. Sarjito setelah dirawat di PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Azhar Basyir wafad
tepat pada tanggal 28 Juni 1994 dalam usia 66 tahun dan dimakamkan di Pemakaman Umum
Karangkajen Yogyakarta.

9. Prof. Dr. H. Amien Rais


Meskipun tak semua nama otomatis mewakili kepribadian seseorang,
namun membaca nama Tokoh Sentral Reformasi Indonesia 1998 satu
ini sudah cukup sebagai referensi awal untuk melihat sosoknya yang
besar. Prof. Dr. Muhammad. Amien Rais, MA. yang lebih populer
dikenal Amien Rais adalah sosok pemimpin terpercaya di republik ini.
Lahir pada 26 April 1944 di Surakarta. Orang tuanya berharap putra
kedua dari enam bersaudara ini menjadi kyai dan melanjutkan
pendidikan agama ke Mesir, sehingga pendidikan yang ditanamkan
Syuhud Rais dan Sudalmiyah, ayah dan ibunya, sejak dini sudah
mencerminkan nilai-nilai agama yang sangat menekankan tumbuhnya
kepribadian disiplin, taat beribadah, banyak membaca dan berbudi

17
pekerti. Dari lingkungan sekitarnya, Amien Rais juga banyak belajar tentang realitas masyarakat
dimana dirinya sangat dekat dengan kondisi keluarga miskin, kampung sederhana, dan bahkan
memahami betul bentuk ruang tidur dan dapurnya yang alakadarnya.

Amien Rais menyelesaikan pendidikan dasarnya di Sekolah Dasar Muhammadiyah I Surakarta,


sampai pendidikan SMP dan SMU juga selesai di sekolah Muhammadiyah. Pendidikan tingkat
sarjana Amien Rais selesaikan di Jurusan Hubungan Internasional fakultas FISIPOL Universitas
Gadjah Mada pada tahun 1968, bahkan tahun berikutnya juga menerima gelar Sarjana Muda dari
Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Di masa-masa mahasiswa inilah Amien Rais
terlibat aktif dan berperan di berbagai organisasi kemahasiswaan, seperti Ikatan Mahasiswa
Muhammadiyah (Ketua Dewan Pimpinan Pusat IMM) dan Himpunan Mahasiswa Islam (Ketua
Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam HMI Yogyakarta). Studinya dilanjutkan pada tingkat Master
bidang Ilmu Politik di University of Notre Dame, Indiana, dan selesai tahun 1974. Dari universitas
yang sama juga memperoleh Certificate on East-European Studies. Sedangkan gelar Doktoralnya
diperoleh dari University of Chicago, Amerika Serikat (1981) dengan mengambil spesialisasi di
bidang politik Timur Tengah dan selesai tahun 1984. Disertasinya yang cukup terkenal,
berjudul: The Moslem Brotherhood in Egypt: its Rise, Demise, and resurgence (Organisasi
Ikhwanul Muslimin di Mesir: Kelahiran, Keruntuhan dan Kebangkitannya kembali).
Program Post-Doctoral Program di George Washington University pada tahun 1986 dan di UCLA
pada tahun 1988 pernah pula diikutinya.

Saat mengenang Zainal Zakze Award yang di raihnya tahun1967, sebuah penghargaan jurnalisme
bagi penulis mahasiswa krits, Amien Rais hanya berkomentar pendek ”Sejak itu, saya tidak pernah
tidak kritis.”
Sebagai ilmuwan dan akademisi sekaligus Guru Besar Ilmu Politik di Universitas Gadjah Mada,
Amien Rais mengajar mata kuliah Teori Politik Internasional, Sejarah dan Diplomasi di Timur
Tengah, Teori-teori Sosialisme, hingga memegang mata kuliah Teori Revolusi dan Teori Politik di
Program Pascasarjana Ilmu Politik. Selain itu, Amien Rais mengelola Pusat Pengkajian Strategi
dan Kebijakan (PPSK), lembaga yang konsen dalam kegiatan pengkajian dan penelitian sebagai
bentuk keprihatinan atas terbatasnya produk kebijakan menyangkut masalah-masalah strategis
yang berorientasi pada penguatan pilar-pilar kehidupan masyarakat. Perjalanan pendidikan Amien
Rais memberinya tak sedikit pengalaman dan kemampuan kognitif-analitis, dimana kemampuan
itu mengantarnya menjadi salah seorang intelektual terkemuka di negeri sendiri dan di berbagai
negeri mancanegara. Sepanjang rentang aktivitas sekembalinya ke Tanah Air setelah sekian lama
malang-melintang menimba ilmu di negeri Paman Sam, tugas-tugas intelektualisme yang
kemudian Amien Rais geluti --baik berupa transformasi keilmuan dengan mengajar di berbagai
universitas maupun dengan melakukan kritik atas fenomena sosial yang sedang berlangsung--
meneguhkan sosoknya yang memiliki daya kepemimpinan di atas rata-rata dan dapat dipercaya.
Kritiknya yang sangat vokal bahkan mewarnai opini publik di Indonesia. Dan sebagai pakar politik
Timur Tengah, Amien Rais juga seringkali melontarkan kritik yang sangat tajam terhadap
kebijakan politik luar negeri Amerika, sebuah negeri tempatnya sendiri belajar tentang demokrasi
dan hak asasi manusia.

Konsistensi Amien Rais dalam menolak sikap lembek bangsanya terhadap intervensi asing dan
budaya koorporatokrasi yang menjagal hak-hak dasar hajat hidup bangsa Indonesia sendiri terekam
jelas dalam buah pikirnya pada buku: Selamatkan Indoenesia; Agenda Mendesak Bangsa. Dalam
komentarnya tentang buku itu, Amin Rais tak segan-segan mengakuinya sebagai Angry
Book (buku yang marah). “Saya mencoba menggugah anak anak-anak bangsa yang sudah
dibrainwashing sejak jaman londo dahulu, dan sekarang masih melekat sebagai mental inlander.
Tanpa melepaskan mental inlander (mental budak), kita tidak bisa bangkit. Sayangnya, pemimpin
kita tidak mengikuti Sultan Agung Mataram tapi malah mengikuti Amangkurat I dan II yang
menjual Pelabuhan Cirebon (pada bangsa asing) dan memanggil eyang pada Gubernur Jendral

18
Belanda”. Tukasnya tanpa tedeng aling-aling dalan sebuah kesempatan diskusi Majelis
Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah (2008).

Jauh masa sebelum Amien Rais melontarkan hal itu, perannnya sebagai cerdik cendekia terkemuka
telah menempatkannya di posisi Ketua Dewan Pakar ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim
Indonesia), yang lahir dan besar dari rahim Orde Baru. Namun, kondisi politik dan perekonomian
yang sudah terlanjur membusuk dan sangat tidak sehat bagi demokratisasi mendorongnya
mengambil langkah berani yang tidak populer dan bersuara lantang tentang silang sengkarut
praktik KKN (korupsi, kolusi, Nepotisme) di tubuh birokarasi serta eksploitasi serakah kekayaan
negeri yang sangat merugikan negara di sejumlah perusahaan besar asing seperti Busang dan
Freeport . Seperti resiko yang diduga banyak orang, Amien Rais kemudian terpental dari posisinya
di ICMI.
Namun kehadirannya di Muhammadiyah dan lompatan-lompatan gagasannya justru dianggap
sejalan dengan watak gerakan pembaharuan yang kritis dan korektif, hal itu kemudian menuai
dukungan penuh. Maka tahun 1993, dihadapan peserta Tanwir Muhammadiyah yang berlangsung
di Surabaya Amien Rais kembali menggulirkan issu besar, yakni perlunya suksesi kepresidenan.
Sebuah langkah janggal pada saat itu sebab gurita kepemimpinan Orde Baru masih sangat
mencengkeram. Keberaniannya mengambil resiko yang tak jarang bahkan mengancam jiwanya,
diakui suami Kusnariyati Sri Rahayu ini sebagai sikap amal ma’ruf nahi mungkar yang
sesungguhnya amanat dan sekaligus ruh gerakan dakwah Muhammadiyah. Aminen Rais juga
merasa bahagia menerjang segala resiko perjuangannya karena mendapat supportpenuh dari istri
dan kelima putra-putrinya: Ahmad Hanafi, Hanum Salsabilla, Ahmad Mumtaz, Tasnim Fauzia, dan
Ahmad Baihaqi.
”Saya dulu dididik ibu untuk amar ma’ruf. Menurut beliau, melaksanakan amar ma’ruf tidak ada
resikonya. Orang yang tidak setuju pun tidak marah. Tapi, melaksanakan nahi mungkar banyak
resikonya,” gugahnya nan bersahaja.

Proses ragi politik yang terus membusuk dan melemahkan sendi-sendi ekonomi bangsa pada dasa-
warsa kedua tahun 1990-an, mendorong Amien Rais kembali menggulirkan gagasan tentang
suksesi, bahkan dengan desakan lebih luas: Reformasi Total. Berawal dari kasus Freeport dan
Busang, Amien Rais sengaja meggerbah kelesuan perubahan sosial yang mendasar di negeri ini.
Bahkan, gagasan dan gerakannya berada di garda paling depan dalam meruntuhkan kebobrokan
politik Orde Baru. Sejak awal bergulirnya reformasi, Amien Rais sudah menyatakan ”siap”
mencalonkan diri sebagai presiden. Ini sebuah pernyataan yang dinilai sangat berani pada saat itu
meskipun diakuinya sendiri hanya sebatas political education. Namun wacana pencalonan dirinya
sebagai presiden, bukanlah semata-mata didorong hasrat untuk berkuasa melainkan cermin
sikap high politic-nya yang konsekwen mendorong upaya pengentasan penderitaan rakyat akibat
distorsi kepemimpinan nasional yang otoriter dan korup. Amien Rais melihat keterpurukan bangsa
ini harus diperbaiki mulai dari tampuk kekuasaan.

Keterlibatan Amien Rais di Pimpinan Pusat Muhammadiyah dimulai sejak Muktamar


Muhammadiyah tahun 1985 di Surakarta sebagai Ketua Majelis Tabligh. Pada Muktamar
Muhammadiyah ke-42 (1990) di Yogyakarta, Amien Rais terpilih sebagai Ketua Pimpinan Pusat
Muhammadiyah. Meninggalnya K.H. Ahmad Azhar Basyir selaku Ketua Umum Muhammadiyah
pada tahun 1994 kemudian mendaulat Sang Pemberani ini ke posisi puncak itu. Muktamar
Muhammadiyah ke-43 tahun 1995 di Banda Aceh akhirnya secara aklamasi meminta kesediannya
melanjutkan tampuk nakhoda Muhammadiyah.

Dapat dikata, aktivitas bermuhammadiyah Amien Rais tidak pernah terlepas dari pandangan
keprihatinannya terhadap kehidupan politik nasional yang menurutnya perlu direformasi untuk
menghindari keterpurukan bangsa yang semakin dalam. Setelah tumbangnya Rezim Orde Baru
dengan mundurnya Soeharto dari jabatan presiden selama 32 tahun, situasi politik berlangsung

19
mencekam dan sangat meresahkan. Maka bersama berbagai komponen tokoh bangsa lainnya
Amien Rais mendirikan Majelis Amanat Rakyat (MARA) untuk mencari solusi terbaik pasca
reformasi. Tak sedikit yang mengaggap sudah kepalang tanggung jika Amien Rais harus berhenti
hanya sampai disitu, atas desakan dari berbagai komponen bangsa yang menginginkan perubahan
paradigma politik Indonesia, Amien Rais kemudian mendirikan partai politik yang diberi nama
Partai Amanat Nasional (PAN). Sebagai konsekuensi dari langkah politik itu, Amien Rais harus
melepaskan posisi puncak di Muhammadiyah.
”Muhammdiyah adalah rumah abadi saya,” tegasnya tak dapat mengelakkan rasa haru.

Kiprah Amien Rais selama mamainkan peran awal hingga sekarang di pentas politik nasional
cukup fenomenal. Partai Amanat Nasional yang kemudian dinakhodainya sendiri berhasil cukup
gemilang dalam mengikuti pemilu pertamakali tahun 1999, dimana partai berlambang matahari itu
mampu meraup perolehan suara 7% dan menempatkan posisinya di peringkat ke-5 dalam perolehan
suara nasional seluruh partai kontestan. Posisi tersebut, berhasil pula mengantarkan Amien Rais
sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR RI). Dalam posisi paling atas lembaga
tertinggi negara itu, Amien Rais menjadi king maker regulasi demokrasi nasional. Bahkan dengan
kepiawaian dan kecerdasan politiknya, Amien Rais menggulirkan gagasan Poros Tengah untuk
membangun jalan baru dari dua titik ekstrim dalam kubu politik yang cenderung berlaku zero some
game sebab tersandung kebekuan hubungan politik, sampai kemudian berhasil mencalonkan,
mengawal dan sekaligus mengantarkan Abdurrahman Wahid ke tampuk kursi Presiden ke-4 RI.
Dan ternyata, gagasan Poros Tengah itu mampu memberi pengaruh pula bagi upaya merajut
hubungan harmonis Muhammadiyah-NU yang sebelumnya kerap bersebrangan tegang dalam
pilihan instrumen dan gerak dakwahnya. Meskipun keharmonisan hubungan itu tak lama disemai,
sebab proses politik setelahnya berlangsung di luar duga, dimana presiden ke-4 RI yang tak lain
tokoh sentral NU itu akhirnya dilengserkan secara konstitusional oleh MPR RI yang kebetulan
masih dikomandani Amien Rais.
Meskipun Amin Rais sendiri belum berhasil meraih kursi presiden ke-5 RI dalam kontestasi Pemilu
Presiden yang diselenggarakan pertamakali secara langsung (2004), namun prestasi politiknya tak
terpungkiri sejarah bangsa Indeonsia sebagai sosok bapak dan sekaligus sokoguru politik bangsa
yang mewakili lima nilai istimewa rapor politikus era reformasi: Ikhlas, cerdas, tegas, jujur dan
bersih. Kini, menjelang usia lanjut dan tampak mulai memasuki masa sepuh, Amin Rais masih
segar sumringah berkiprah di Muhammadiyah.

10. Prof. Dr. H. Ahmad Syafii Maarif


Buya Safii, demikian sapaan akrab Prof. DR. Ahmad Safii Maarif.
Tokoh pluralis yang tak sedikit menyumbangkan gagasan dan
pemikiran keislaman dalam naungan payung besar kemajemukan
bangsa Indonesia ini lahir di Sumpur Kudus, Sumatera Barat, 31
Mei 1935. Masa kecil Buya Syafii yang sangat dekat dengan tradisi
Islam telah menjadi magnet awal yang senantiasa mengajaknya
bergumul dengan pengetahuan keislaman serta berusaha
memahaminya sedalam mungkin. Geliat hidup demikian itu, dapat
dikata pula berkat bimbingan dari almarhumah ibunya, Makrifah.
Ketajaman minat Buya Safii mendalami Islam kian terasah dan
makin tajam oleh pendidikan yang dijalaninya kemudian, dan pada
akhirnya membentuk dirinya hidup secara kental dalam kultur
Islam.

Setamat Sekolah Rakyat Ibtidaiyah di kampung kelahirannya, Buya Safii menginjakkan kaki di
lantai sekolah Madrasah Mu’allimin Lintau, Sumatera Barat. Sampai kemudian menyebrangkan
20
kakinya jauh melintasi lautan untuk melanjutkan sekolah ke Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah
di Yogyakarta, dan tamat tahun 1956. Berbekal ilmu agama di Mu’allimin itu, Buya Safii pun
menerima dengan lapang dada tugas pengabdian yang harus diembannya ke Lombok Timur selama
satu tahun sebagai guru di sekolah Muhammadiyah.

Setelah menjalani masa pengabdian itu, Buya Safii melanjutkan studinya kembali ke perguruan
tinggi, meskipun ikhtiar menempuh pendidikan tinggi baginya bukanlah hal yang mudah. Namun
tekad dan semangatnya menimba ilmu telah membuatnya mampu menerabas segala rintangan.
Bayangkan, dalam keadaan yatim piatu Buya Safii masih sanggup merentang jerih usahanya
dengan hanya ditopang saudaranya untuk bisa duduk sebagai mahasiswa Fakultas Hukum
Universitas Cokroaminoto Surakarta. Saya terdampar di pantai karena belas kasihan
ombak, kenangnya mengilustrasikan perjalanan hidupnya dalam sebuah wawancara dengan
Majalah Kuntum.

Baru satu tahun kuliah, pemberontakan PRRI/Permesta meletus dan menyebabkan terputusnya
jalur hubungan Sumatera-Jawa. Dengan demikian, bantuan biaya kuliah dari saudaranya terputus,
sehingga Buya Safii memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah. Masa itu cukup getir, dimana
Buya Safii harus menyambung hidup sebagai guru desa di wilayah Kecamatan Baturetno,
Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.

Tak salah banyak orang memuji semangat keilmuannya, motivasi belajar Buya Safii tak berhenti
hanya oleh getah getir kesulitan hidup yang membelintang di hadapannya. Sembari bekerja, suami
dari Hj. Nurkhalifah dan ayah dari ketiga putranya: Salman, Ikhwan dan Mohammad Hafiz ini,
Buya Safii kembali melanjutkan kuliah di Jurusan Sejarah, karena tidak mungkin lagi kembali ke
Fakultas Hukum. Gelar Sarjana Muda berhasil diraihnya dari Universitas Cokroaminoto pada tahun
1964, sedangkan gelar Sarjananya diperoleh dari IKIP Yogyakarta empat tahun kemudian.
Kepakarannya di bidang sejarah semakin teruji setelah memperoleh gelar Master dari Ohio State
Universitas, Amerika Serikat.

Pilihan yang tak sengaja itu ternyata telah menuntun saya menemukan hikmah
kemanusiaan, komentarnya ringan dalam sebuah wawancara dengan KOMPAS.
Gelar Doktoralnya diperoleh pada tahun 1993 dari Universitas Chicago dalam Program Studi
Bahasa dan Peradaban Timur Dekat dengan disertasi: Islam as the Basis of State: A Study of the
Islamic Political Ideas as Reflected in the Constituent Assembly Debates in Indonesia. Anak
bungsu di antara empat bersaudara ini, terlibat secara intensif melakukan pengkajian terhadap Al-
Quran dengan bimbingan seorang tokoh pembaharu pemikiran Islam, Fazrul Rahman. Di sana pula,
Buya Safii kerap terlibat diskusi intensif dengan Nurcholish Madjid dan Amien Rais yang sedang
menjalani pendidikan doktor.

Buya Safii mengakui bahwa ilmu dan pengetahuan sejarah telah demikian memikat minatnya
karena sejarah berbicara tentang simpul-simpul kemanusiaan secara totalitas. Tak heran jika dalam
sebuah ungkapannya terlukis kesan itu: Sudah 25 tahun terakhir, perhatian terhadap sejarah, filsafat
dan agama melebihi perhatian saya terhadap cabang ilmu yang lain. Namun saya sadar sepenuhnya,
bahwa semakin saya memasuki ketiga wilayah itu semakin tidak ada tepinya. Tidak jarang saya
merasa sebagai orang asing di kawasan itu, kawasan yang seakan-akan tanpa batas.

Dari proses itu pula, rasa humanisnya tumbuh dan memperdalam perhatiannya pada masalah-
masalah kemanusiaan. Kehidupan relegius yang kuat berurat akar dalam sanubarinya kemudian
memercik indah dalam tafsir dan ajakan membumikan islam dalam
kembangan Hablumminnas yang sejati: saling mencintai dan mengasihi sesama manusia di muka
bumi. Dan menyerukan agar Islam tak dipeluk dalam keyakinan sebatas ritual, namun juga harus
mampu mengembangkan praktik dan perilaku hidup keislaman dengan memeluk utuh Islam sesuai
seruan hakikinya: rahmatan lil’alamin.

21
”Terasalah kekecilan diri ini berhadapan dengan luas dan dalamnya lautan jelajah yang hendak
dilayari.” Kalimat bersahaja itu terlontar pada mukaddimah pidato Pengukuhan Guru Besar-nya di
IKIP Yogyakarta. “Rendah hati adalah refleksi dari iman,” sambungnya.
Maka tak berelebihan, jika begitu banyak orang yang terpukau dan takzin pada sosok Buya Safii
sebagai ilmuwan yang selalu menempatkan kekuatan religi dalam setiap pergulatan dengan
ilmunya. Ia sejarawan dan ahli filsafat, tetapi di tengah masyarakat lehadirannya selaku anak
bangsa lebih dikenal sebagai seorang agamawan. Tidaklah kamu diberi ilmu, kecuali sedikit
saja, pungkasnya mengutip sebuah ayat suci Al-Quran. Ini adalah nasehat untuk meredam ambisi
dan rasa ingin tahu manusia untuk tidak melangkahi kawasan luar batas kemampuannya sendiri.
Dalam pengertian itulah, maka timbul semakin kuat keyakinanya bahwa dalam setiap ilmu
pengetahuan ada tanda-tanda keberadaan Tuhan. Kita harus percaya pada realitas yang ada di
luar jangkauan manusia, demikian tekannya. Alam semesta dan seluruh muatannya tidak bisa
menjelaskan dirinya, diam seribu bahasa mengenai asal-usul kejadian dan keberadaannya. Hanya
wahyu yang kemudian menolong otak manusia dan persepsinya guna memahami semua fenomena
itu. Hanya lewat agama, manusia bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang tujuan eksistensi
manusia dan tentang makna kematian. Filsafat, apalagi sejarah, tidak mampu melakukannya.

Membaca buku adalah kesibukan harian yang dilakukan Buya Safii, selain menjalankan
aktivitasnya sebagai Ketua PP Muhammadiyah, anggota Dewan Pertimbangan Agung dan staf
pengajar di IKIP Yogyakarta. Tidak heran kalau Buya Safii juga fasih menyitir ungkapan yang
berharga dari kalangan ilmuwan, dan juga kaya dengan ungkapan-ungkapan puitis yang bermakna
cukup mendalam.

Bahkan keterlibatan Buya Safii sebagai Ketua Umum Muhammadiyah merupakan sebuah
keharusan sejarah itu sendiri. Tatkala desakan reformasi sedang bergulir di Indonesia, dan Amien
Rais sebagai salah satu lokomotif pendesak yang saat itu menakhodai Muhammadiyah harus
melibatkan diri dalam aktivitas politik untuk mengawal gerak roda reformasi secara praktis, maka
sebagai nakhoda pengganti Buya Safii sadar bahwa pada saat itu pula Muhammadiyah seumpama
bahtera induk yang harus tetap diarahkan ke haluan utamanya agar tak terseret-seret oleh tarikan
arus pergumulan politik praktis dan kepentingan jangka pendek.

”Janganlah kita berlama-lama berada dalam iklim ketidakpastian masa depan, sebab itu berarti kita
membiarkan bangsa ini berkubang dalam proses pembusukan sejarah. Sungguh memalukan dan
melelahkan!”

Setelah kembali terpilih sebagai Ketua Umum Muhammadiyah dalam Muktamar ke-44 (2000)
yang berlangsung di Jakarta, Buya Safii kemudian mengemudikan perannya dalam mendinamisasi
Muhammadiyah agar dapat secara optimal menggerakkan usaha-usaha tajdid dan cita-cita
pencerahan yang hendak diraihnya. Jangan sampai gerakan pembaharuan sebagai dasar filosofis
Muhammadiyah tergerus dan hanya menjadi slogan kosong dalam aktualisasi gerakannya. Salah
satu usahanya adalah mendorong laju kebangkitan intelektual di kalangan Angkatan Muda
Muhammadiyah, sebab sangat menyadari bahwa keilmuan dan keislaman adalah semangat inti
segala gerak Muhammadiyah. Dimana kepemilikan ilmu dan daya intelektualitas adalah pintu
gerbang kemampuan memahami dan mengamalkan Islam secara kaffah, dan AMM sebagai pelaku
sejarah gerakan Muhammadiyah masa depan menjadi juru kunci cerah dan buramnya wajah
Muhammadiyah dalam pergulatan dunia.

Dalam sebuah catatan pendeknya, Buya Safii mempertegas suara hidupnya sebagai bapak bangsa:
Aku mencintai bangsa ini secara tulus dan dalam sekali. Bagiku, membela bangsa adalah dalam
rangka membela Islam.

Usaha dan perjuangan Buya Safii tak berhenti tatkala meletakkan kepemimpinan Muhyammadiyah
pada gernerasi di bawahnya. Buya kemudian mendirikan Maarif Institud sebagai wahana
melanjutkan ikhtiar dalam rangka mengawal dan menggapai kebangkitan intelektual di kalangan

22
generasi muida Islam. Kini, di bawah layar Maarif Institud, Buya Safii pun kian
menancapkokohkan jejaknya sebagai tokoh pluralis yang konsisten memperjuangkan nilai-nilai
kemajukan dakam bingkai keislamam, keindonesiaan dan kemanusiaan.

11. Prof. Dr. Muhammad Sirajuddin Syamsuddin, MA


Prof. Dr. Muhammad Sirajuddin Syamsuddin, MA dikenal pula
dengan nama pendek dan lebih populer, Din Syamsudin. Suami
Fira Beranata ini lahir di Sumbawa Besar, 31 Agustus 1958.
Selama mengarungi bahtera rumah tangganya, Din Syamsuddin
dikarunia dua putra dan seorang putri yang masing-masing
memiliki nama indah. Yaitu, Farazahdi Fidiansyah, Mihra Dildari
dan Fiardhi Farzanggi.

Kiprah Din Syamsuddin di Persyarikatan Muhammadiyah


dimulai sejak tampil menjadi Ketua Umum sementara Ikatan
Mahasiswa Muhammadiyah, Ketua Umum Pemuda
Muhammadiyah, dan Wakil Ketua Muhammadiyah. Alur kiprah
kepemimpinannya di Muhammadiyah terbilang unik karena berangkat dari bekal pendidikan dasar
dan menengah di Madrasah Ibtidaiyah Nahdhatul Ulama dan Madrasah Tsanawiyah Nahdhatul
Ulama Sumbawa Besar. Di masa itu, Din Syamsuddin juga mendapat kesempatan memimpin
Ikatan Pelajar Nahdhatul Ulama, IPNU Cabang Sumbawa (1970 - 1972). Tamat dari Ponpes
Modern Gontor, Din Syamsuddin melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi dan berhasil
menyelesaikan studi sarjana Ushuluddin jurusan Perbandingan Agama di IAIN Syarif
Hidayatullah, Jakarta (1980).

Seumpama biduk yang terus melenggang di pusaran arus dan riak gelombang kehidupan, semangat
Din Syamsuddin mendalami khazanah ilmu dan cakrawala Islam tak terjeda aral melintang. Salah
satu sumber spiritnya adalah mertuanya sendiri, Darnelis binti Thaher. Dalam ranah kecil
keluarganya, istri dan putra putrinya mengenal sososk Din Syamsuddin sebagai ayah dan suami
pendidik yang santun nan kaya teladan. Tak heran, jika seluruh aktivitasnya mendapat dukungan
penuh dari keluarganya. Pada kesempatan terakhir saat melepas jenazah sang mertua, Din
Syamsuddin mengungkapkan bahwa ibu mertuanya selalu mendukung gerak hidupnya. Bahkan,
saat hendak memulai studi di Amerika hingga ketika akan mencalonkan diri menjadi ketua umum
PP Muhammadiyah.

“Sejak awal kami memang sudah berkomitmen untuk menjadi keluarga yang saling mendukung,”
ungkapnya tak tahan dibeslah rasa haru.

Ketekunan belajar dalam girah Islam yang pantang surut itu, berhasil mengantar Din Syamsuddin
menempuh pasca sarjana Interdepartmental Programme in Islamic Studies di University
of California Los Angeles (UCLA) USA hingga meraih gelar MA, dan menyandang gelar doktor
di universitas yang sama pada tahun 1996. Setelah kembali ke tanah air, Din Syamsuddin sempat
bersinggungan dengan dunia politik praktis dengan mengomandani litbang Golkar. Dan sebagai
akademisi, sehari-harinya Din Syamsuddin malang-melintang menggeluti profesi Dosen di
berbagai Perguruan Tinggi seperti Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), UHAMKA dan
Universitas Indonesia (UI). Pada tahun-tahun berikutnya, berkesempatan pula mendapat berbagai
tugas kenegaraan yang cukup penting, diantaranya sebagai Anggota Dewan Riset Nasional, Dirjen
Binapenta Departemen Tenaga Kerja RI, Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) hingga
tugas lain yang tak kalah penting seperti Sekretaris Dewan Penasihat Ikatan Cendekiawan Muslim
Iindonesia, ICMI.

23
Sebagai cendekiawan muslim yang cukup konsen mendorong proses demokratisasi, Din
Syamsuddin merasa berkepentingan untuk turut mengawal arah perkembangan dan kemajuan
proses demokrasi di negara yang memiliki pemeluk Islam terbesar di dunia ini. Ikhtiar mulia ini,
tercermin dalam sebuah statemennya: Kemenangan politik Islam di Indonesia tidak hanya ditandai
oleh perolehan suara partai-partai Islam dan penguasaan posisi politik kenegaraan. Tapi pada
sejauh mana nilai-nilai Islam seperti keadilan, kebenaran dan persamaan dapat menjadi bagian
dari watak bangsa. Ini yang harus terus diperjuangkan bersama seluruh komponen bangsa.

Sementara di kancah internasional, Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta ini telah menorehkan kiprah yang tak sedikit dalam usahanya merajut relasi konstruktif dan
menyuarakan urgensi hubungan damai antar pemeluk agama melalui berbagai forum yang
domotorinya seperti World Peace Forum/ WPF, Asian Committee on Religions for Peace/ ACRP,
Tokyo. World Conference on Religions for Peace/ WCRP, New York. World Council of World
Islamic Call Society, Tripoli. World Islamic People’s Leadership, Tripoli. Strategic Alliance
Russia based Islamic World. UK-Indonesia Islamic advisory Group.

Seusai terpilih sebagai Ketua Umum Muhammadiyah hasil Mukatamar ke-45 yang belangsung di
Malang (periode 2005-2010), Din Syamsuddin senantiasa istiqomah mengabdikan amal
dakwahnya. Sosok dan pemikiran yang humanis demokratis kian tampak jelas dalam langkah-
langkah gerakannya yang tak henti menerjang sekat-sekat “kekakuan dan kebekuan” gerakan
dakwah Islam. Dengan sikapnya yang jernih tapi berani, Din Syamsuddin gencar menyuarakan
perlunya Islam membuka diri terhadap nilai-nilai luhur kemanusiaan dalam kehidupan berbangsa,
bernegara dan berdunia sebagai manifestasi rahmatan lil’alamin.

Negara-negara maju, seperti AS, Uni Eropa, Cina, India dan Jepang, harus ikut berinvestasi dalam
menciptakan perdamaian dunia. Ketiadaan perdamaian dan krisis-krisis global selama ini harus
diakui adalah akibat kegagalan sistem dunia yang didukung negara-negara maju. Demikian hal ini
ditegaskan Din Syamsuddin dalam kapasitasnya sebagai Presiden Kehormatan WCRP dan
Presiden ACRP pada momentum World Summit on Peace (WSP) dan International Leadership
Conference (ILC) dihadapan lebih dari 300 tokoh dunia dari berbagai negara yang diselenggarakan
di New York (2009).

“Inilah saatnya bagi bangsa-bangsa cinta damai dan keadilan untuk bangkit dan bekerjasama
membangun perdamaian sejati, menghentikan kezaliman dan penjajahan baru dalam berbagai
bentuknya. Maka perlu ada sistem altermatif terhadap sistem dunia yang rusak selama ini untuk
berorientasi memecahkan masalah umat manusia, seperti mengentaskan kemiskinan dan
pengangguran, melenyapkan penyakit menular, memperbaiki kerusakan lingkungan,
menghentikan perang dan berbagai bentuk kekerasan lainnya. Dalam kaitan ini, agama penting
sekali berperan dengan mendorong etika agama itu sendiri untuk perubahan, perbaikan dan
kemajuan. Namun hal ini hanya mungkin terjadi jika agama menampilkan misi sucinya sebagai
penebar rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil 'alamin).” Serunya dalam kesempatan yang lain.

Selama menakhodai Muhammadiyah, Din Syamsuddin cenderung menampilkan langgam


kepemimpinan yang akomodatif-rekonsiliatif, sembari terus beriktiar meredam ketegangan antar
pemeluk agama serta mencari corak gerak perjuangan yang kontributif dan saling mendamaikan.
Paling tidak, buah dari ikhtiar itu sudah terlihat dalam bingkai hubungan antara Muhammadiyah
dan Nahdhatul Ulama yang cenderung lebih kondusif sebagai dua ormas utama pilar bangsa.
Dengan usahanya yang gigih, Din Syamsuddin dapat dikata telah mampu pula membuktikan pada
dunia bahwa Persyarikatan Muhammadiyah bukan hanya ormas Islam terbesar di dunia dilihat dari
spektrum amal usahanya. Namun juga, mampu meneguhkan eksistensi dan peran kekinian
Muhammadiyah sebagai gerakan pembaharuan dan pencerahan menuju masyarakat utama yang
menjunjung tinggi perdamaian dan kebersamaan umat manusia semesta.

24
12. Dr. H. Haedar Nashir, M.Si.
Dilahirkan di Bandung, 28 Februari 1958, kesehariannya bekerja
sebagai Dosen di FISIPOL UMY. Mantan Sekretaris PP
Muhammadiyah periode 2000-2005 ini, Menamatkan
pendidikan dasar di Bandung, kemudian hijrah ke Yogyakarta
untuk memperoleh gelar S1 di STPMD / APMD Yogyakarta.
Gelar S2 dan S3 diperoleh di Fisipol UGM pada bidang
Sosiologi. Menjadi anggota Muhammadiyah sejak tahun 1983
dengan nomor anggota 545549. Penulis buku "Muhammadiyah
Gerakan Pembaruan" (2010) ini pernah menjadi Ketua PP Ikatan
Pelajar Muhammadiyah periode 1983-1986 dan Ketua Dep. Kader PP Pemuda Muhammadiyah
periode 1985-1990.

Bersama Istrinya Dra. Hj. Siti Noordjanah Djohantini, M.M., M.Si., yang juga Ketua Umum
PP 'Aisyiyah 2015-2020 menjalankan amanah Muktamar Muhammadiyah ke 47 di Makassar.
Haedar Nashir juga menyempatkan kesibukaannya sebagai Ketua Umum untuk menjadi Pemimpin
Redaksi Majalah Tertua di Indonesia, Suara Muhammadiyah.

Berikut Data Diri Ketua Umum PP Muhammadiyah Periode 2015-2020

Nama : Haedar Nashir


Tpt Tgl Lahir : Bandung, 28 Februari 1958
Pekerjaan : Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Status Keluarga : Kawin

Nama Istri : Dra. Hj. St. Noordjannah Djohantini, MM, M.Si.


(Dosen FE UMY dan Ketua Umum Pimpinan Pusat Aisyiyah)
Anak :

1) dr. Hilma Nadhifa Mujahidah/perempuan (dokter lulusan FK UMY)


2) dr. Nuha Aulia Rahman/laki-laki (dokter lulusan FK UGM)

Pendidikan :

1) Madrasah Ibtidaiyah Ciparay, Bandung


2) SMP Muhammadiyah III, Bandung
3) SMA Negeri 10, Bandung
4) STPMD APMD Yogyakarta, lulusan terbaik
5) Pascasarjana S2-Sosiologi UGM, lulus Cumlaude
6) Pascasarjana S3 Sosiologi UGM, lulus Cimlaude

Pendidikan Agama : Pondok Pesantren Cintawana, Tasikmalaya Jawa Barat

Pengalaman Kemasyarakatan dan Akademik:


1) LSM: Dhworowati Cultural Institute, 1980-1985 Yogyakarta
2) Pelatihan Peneliti Agama, Depag R.I, tahun 1993

25
3) Muktamar Islam Asy-Syi’bi di Bagdhad, Irak tahun 2001.
4) Seminar nasional di berbagai lingkungan publik dan akademis

5) Studi lingkungan dan Civil Society di Berlin, Frankfurt, dan Mainz (Jerman) yang
dilaksanakan Kementrian KLH R.I dan German Technology Cooperation (GTZ), tahun
2004.
6) Dosen Luar Biasa Fak Dakwah IAIN Su-Ka YK (1993-1998)

7) Mengajar “Pemikiran Islam Kontemporer” pada Program Doktor Pascasarjana UIN-Suka


Yogyakarta, 2012

8) Membimbing Disertasi pada Pascasarjana Sosiologi UGM dan Pascasaarjana Psikologi


UGM

9) Mengajar pada Program Doktor Politik Islam pada Pascasarjana Universitas


Muhammadiyah Yogyakarta (2009-sekarang)

Karya Ilmiah (Buku) :


1. Buku Budaya Politik dan Kekuasaan (1997)
2. Buku Agama dan Krisis Kemanusiaan Modern (1997, 1999)
3. Buku Pragmatisme Politik Kaum Elit (1999)
4. Buku Perilaku Politik Elit Muhammadiyah (2000)
5. Buku Dinamika Politik Muhammadiyah (2001)
6. Buku Revitalisasi Gerakan Muhammadiyah (2001)
7. Buku Ideologi Gerakan Muhammadiyah (2002)
8. Buku Islam dan Perilaku Pemeluknya (2002)
9. Buku Meneguhkan Ideologi Gerakan Muhammadiyah (2006)
10. Buku Manifestasi Gerakan Tarbiyah (2006)
11. Buku Gerakan Islam Syariat: Reproduksi Salafiah Ideologis di Indonesia (2007).
12. Buku Kristalisasi Ideologi dan Komitmen Bermuhammadiyah (2009)
13. Buku Muhammadiyah Gerakan Pembaruan (2010)
14. Buku Muhammadiyah Abad Kedua (2011)
15. Buku Pendidikan Karakter Berbasis Agama dan Kebudayaan (2012)
16. Buku Ibrah Kehidupan: Sosiologi Makna Untuk Pencerahan Hidup (2013)
17. Buku Memahami Ideologi Muhammadiyah (2014)
18. Buku Islam Syariat: Reproduksi Salafiah Ideologis di Indonesia, Edisi baru (2013)
19. Buku Dinamisasi Gerakan Muhammadiyah (Juli, 2015)
20. Buku Gerakan Islam Pencerahan (Juli, 2015)
21. Muhammadiyah A Reform Movement, 2015, UMS.
22. Understunding The Ideology Of Muhammadiyah, 2015, UMS.

26
Karya Ilmiah Lain
1) Penulis tetap “Refleksi” pada Harian Umum Republika
2) Menulis di media massa Kedaulatan Rakyat, Kompas, Republika, Jawa Pos, Pikiran
Rakyat, Sindo, dll.
3) Menulis di beberapa jurnal ilmiah
4) Memberi kata pengantar pada sejumlah buku.

Jabatan di Muhammadiyah:
1) Ketua Ikatan Pelajar Muhammadiyah Cabang, Wilayah, Pusat (1979-1986)
2) Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah (1985-1990)
3) Pemimpin Redaksi Majalah Suara Muhammadiyah.
4) Wakil Pimpinan Umum Jurnal Ilmu dan Kemanusiaan INOVASI Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta.
5) Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2000-2005.
6) Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Periode 2005-2010.
7) Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Periode 2010-2015.
8) Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2015-2020

27
B. TOKOH NASIONAL DARI MUHAMMADIYAH
1. Ir. Soekarno
Ir Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia yang akrab
dipanggil Bung Karno lahir pada 6 Juni 1901 di Surabaya,
Jawa Timur.

Ayahnya bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo dan ibunya


Ida Ayu Nyoman Rai. Semasa hidupnya, ia memiliki sembilan
istri dan dikaruniai sebelas anak.

Ketika dilahirkan, Ir Soekarno diberi nama Kusno


Sosrodihardjo oleh orangtuanya. Tetapi sebab ia sering sakit
maka saat berumur lima tahun namanya diubah menjadi
Soekarno oleh ayahnya.

Nama tersebut diambil dari seorang panglima perang dalam


kisah Bharatayudha yakni Karna. Nama “Karna" sendiri berubah menjadi “Karno" karena dalam
bahasa Jawa pengucapan huruf “a" adalah “o" sedangkan awalan “su" mempunyaii arti “baik".

Suatu saat hari ketika menjadi Presiden Republik Indonesia, ejaan nama Soekarno diganti oleh
dirinya sendiri menjadi Sukarno, sebab menurut founding fathers bangsa ini nama Soekarno
memakai ejaan Belanda.

Namun, ia tetap menggunakan nama Soekarno dalam tanda tangannya karena tanda tangan
tersebut ialah tanda tangan yang tercantum dalam Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang
tidak boleh diubah.

Masa kecil Soekarno hanya beberapa tahun hidup bersama orangtuanya di Blitar. Ia juga sempat
tinggal beberapa saat dengan kakeknya, Raden hardjokromo di Tulungagung sebelum pindah

Di Mojokerto, ayahnya menyekolahkan Soekarno kecil di Eerste Inlande School. Namun, pada
tahun 1911 Soekarno dipindahkan ke Europeeshe Lagere School (ELS) untuk mempermudah ia
diterima di Hoogere Burger School (HBS), Surabaya.

Setelah lulus dari ELS pada tahun 1915, Soekarno muda melanjutkan pendidikannya di HBS,
Surabaya. Disinilah ia mulai berinteraksi dengan Haji Oemar Said Tjokroaminoto, politisi
kawakan pendiri Syarikat Islam.

Ketika belajar di HBS, Ir Soekarno menggembleng jiwa nasionalismenya. Ia aktif di organisasi


pemuda tri Koro Darmo yang merupakan bentukan daripada organisasi Budi Utomo yang
fenomenal. Dan seiring berjalannya waktu Ir Soekarno mengubah nama organisasi ini menjadi
Jong Java (Pemuda Jawa) pada tahun 1918.

Setelah lulus dari HBS tahun 1920, ia pindah ke Bandung untuk melanjutkan belajarnya di
Technische Hoogeschool atau THS (yang sekarang menjadi ITB). Soekarno berhasil meraih gelar
“Ir" pada 25 Mei 1926.

Kemudian, ia mulai merumuskan ajaran Marhaenisme dan mendirikan PNI (Partai Nasional
lndonesia) pada 4 Juli 1927, dengan tujuan Indonesia Merdeka. Akibat dari pendirian itu, Belanda
memasukkannya ke penjara Sukamiskin, Bandung pada 29 Desember 1929. Dari dalam penjara
inilah, Ir Soekarno membuat pledoi yang tersohor, Indonesia Menggugat. Ia memaparkan
kebejatan Belanda, bangsa yang mengaku lebih maju itu.

28
Pembelaannya itu membuat Belanda semakin marah. Sehingga pada bulan Juli 1930, PNI pun
dibubarkan. Setelah bebas pada tahun 1931, Soekarno bergabung dengan Partindo (Partai
Indonesia) dan sekaligus menjadi pemimpinnya.

Akibatnya, ia kembali ditangkap oleh Belanda dan dibuang ke Ende, Flores pada tahun 1933.
Empat tahun kemudian diasingkn ke Bengkulu. Ir Soekarno baru benar-benar bebas setelah masa
kependudukan Jepang pada tahun 1942.

Di awal kependudukannya, Jepang tidak terlalu memberi perhatian pada tokoh-tokoh pergerakan
Indonesia. Sampai akhirnya sekitar tahun 1943 Jepang baru menyadari betapa pentingnya para
tokoh ini. Jepang mulai memanfaatkannya dan salah satu tokoh yang bisa menarik perhatian
penduduk Indonesia terhadap propaganda Jepang ialah Ir Soekarno.

Akhirnya tokoh-tokoh nasional ini mulai bekerjasama dengan pemerintah Jepang untuk dapat
mencapai kemerdekaan Indonesia, walapun adapula yang tetap melakukan gerakan perlawanan
seperti Sutan Sjahrir dan Amir Sjarifuddin karena menganggap Jepang merupakan fasis yang
berbahaya.

Ir Soekarno sendiri mulai aktif mempersiapkan kemerdekaan Indonesia, diantaranya adalah


merumuskan Pancasila, UUD 1945 dan dasar-dasar pemerintahan Indonesia termasuk
merumuskan naskah proklamasi Kemerdekaan.

Setelah melewati perjuangan yang cukup panjang pada tanggal 17 Agustus 1945, Ir Soekarno dan
Drs. Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Dalam sidang PPKI tanggal 18 Agustus 1945, Ir Soekarno dipilih secara aklamasi sebagai Presiden
Republik Indonesia yang pertama.

Kemerdekaan yang telah dicapai ini tidak langsung bisa dinikmati, sebab di tahun-tahun
berikutnya masih ada tindakan sekutu yang secara terang-terangan tidak mengakui kemerdekaan
Indonesia dan bahkan berusaha untuk kembali merebut kekuasaan di Indonesia.
Ir Soekarno ialah sosok pemimpin yang fenomenal, ia bisa menghimpun bangsa-bangsa di Asia,
Afrika, dan Amerika Latin dengan Konferensi Asia Afrika di Bandung pada tahun 1955 yang
kemudian berkembang menjadi Gerakan Non Blok.
Pemberontakan G-30-S/PKI pada tahun 1965 melahirkan krisis politik hebat yang menyebabkan
penolakan MPR atas pertanggungjawabannya. Sebaliknya MPR mengangkat Soeharto sebagai
Presiden.

Pada hari Minggu, 21 Juni 1970 Ir Soekarno meninggal dunia di RSPAD (Rumah Sakit Pusat
Angkatan Darat) Gatot Subroto, Jakarta. Ia di semayamkan di Wisma Yaso, Jakarta dan kemudian
dikebumikan di Blitar, Jawa Timur di dekat makam ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai.

Ir Soekarno ialah sosok pahlawan yang sejati. Ia tidak hanya diakui berjasa bagi bangsanya sendiri,
namun juga memberikan pengabdiannya untuk kedamaian di dunia.

Semua sepakat bahwa Ir Soekarno merupakan seorang “manusia tidak biasa" yang belum tentu
dilahirkan kembali dalam kurun waktu satu abad. Ir Soekarno adalah bapak bangsa yang tidak
akan dilupakan jasanya dan pemerintah memberi anugerah kepadanya sebagai “Pahlawan
Proklamasi".

29
2. Jenderal Soeharto
Jend. Besar TNI Purn. Haji Muhammad Soeharto, (ER, EYD:
Suharto) adalah Presiden Indonesia yang kedua (1967-1998),
menggantikan Soekarno. Di dunia internasional, terutama di Dunia
Barat, Soeharto sering dirujuk dengan sebutan populer "The
Smiling General" (bahasa Indonesia: "Sang Jenderal yang
Tersenyum") karena raut mukanya yang selalu tersenyum di muka
pers dalam setiap acara resmi kenegaraan.Beliau lahir di Dusun
Kemusuk, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Bantul,
Yogyakarta, 8 Juni 1921 dan meninggal di Jakarta, 27 Januari 2008
pada umur 86 tahun.

Soeharto adalah putra Kertosudiro, seorang petani yang juga


sebagai pembantu lurah dalam pengairan sawah desa, sedangkan ibunya bernama Sukirah.
Soeharto masuk sekolah tatkala berusia delapan tahun, tetapi sering pindah. Sampai akhirnya
terpilih menjadi prajurit teladan di Sekolah Bintara, Gombong, Jawa Tengah pada tahun 1941. Dia
resmi menjadi anggota TNI pada 5 Oktober 1945. Pada tahun 1947, Soeharto menikah dengan Siti
Hartinah seorang anak pegawai Mangkunegaran.

Pernikahan Soeharto dan Siti Hartinah dilangsungkan tanggal 26 Desember 1947 di Solo. Waktu
itu usia Soeharto 26 tahun dan Hartinah 24 tahun. Mereka dikaruniai enam putra dan putri; Siti
Hardiyanti Hastuti, Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Herijadi, Hutomo
Mandala Putra dan Siti Hutami Endang Adiningsih.

Soeharto telah menapaki perjalanan panjang di dalam karir militer dan politiknya. Di kemiliteran,
Pak Harto memulainya dari pangkat sersan tentara KNIL, kemudian komandan PETA, komandan
resimen dengan pangkat Mayor dan komandan batalyon berpangkat Letnan Kolonel. Pada tahun
1949, dia berhasil memimpin pasukannya merebut kembali kota Yogyakarta dari tangan penjajah
Belanda saat itu. Beliau juga pernah menjadi Pengawal Panglima Besar Sudirman. Selain itu juga
pernah menjadi Panglima Mandala (pembebasan Irian Barat).

Sebelum menjadi presiden, Soeharto adalah pemimpin militer pada masa pendudukan Jepang dan
Belanda, dengan pangkat terakhir Mayor Jenderal. Tanggal 1 Oktober 1965, meletus G-30-S/PKI.
Soeharto mengambil alih pimpinan Angkatan Darat dan menyatakan bahwa PKI adalah pihak yang
bertanggung jawab dan memimpin operasi untuk menumpasnya. Operasi ini menewaskan lebih
dari 500.000 jiwa.

Selain dikukuhkan sebagai Pangad, Jenderal Soeharto ditunjuk sebagai Pangkopkamtib oleh
Presiden Soekarno. Bulan Maret 1966, Jenderal Soeharto menerima Surat Perintah 11 Maret dari
Presiden Soekarno. Tugasnya, mengembalikan keamanan dan ketertiban serta mengamankan
ajaran-ajaran Pemimpin besar revolusi Bung Karno.

Karena situasi politik yang memburuk setelah meletusnya G-30-S/PKI, Sidang Istimewa MPRS,
Maret 1967, menunjuk Pak Harto sebagai Pejabat Presiden, dan pada bulan Maret 1968 Ia
dikukuhkan selaku Presiden RI Kedua.

Setelah Soeharto mengambil alih kekuasaan dari Soekarno, dan resmi menjadi presiden pada tahun
1968. Ia dipilih kembali oleh MPR pada tahun 1973, 1978, 1983, 1988, 1993, dan 1998. Pada
tahun 1998, masa jabatannya berakhir setelah mengundurkan diri pada tanggal 21 Mei tahun
tersebut, menyusul terjadinya Kerusuhan Mei 1998 dan pendudukan gedung DPR/MPR oleh
ribuan mahasiswa. Ia merupakan orang Indonesia terlama dalam jabatannya sebagai presiden.
Soeharto digantikan oleh B.J. Habibie.

30
Soeharto yang harus meletakkan jabatan secara tragis, bukan semata-mata karena desakan
demonstrasi mahasiswa pada 1998, melainkan lebih akibat pengkhianatan para pembantu dekatnya
yang sebelumnya ABS dan Ambisius tanpa fatsoen politik. Ayah lima anak ini pun menunjukkan
ketabahan dan keteguhannya. Dia akhirnya sempat diadili dengan tuduhan korupsi,
penyalahgunaan dana yayasan-yayasan yang didirikannya. Soeharto menyatakan bersedia
mempertanggungjawabkan dana yayasan itu. Tapi, ia pun jatuh sakit yang menyebabkan proses
peradilannya dihentikan. Tapi tidak semua mantan menterinya tega mengkhianati, tidak
mempunyai moral politik. Ada beberapa yang justru makin dekat dengannya secara pribadi setelah
bukan lagi berkuasa.

Peninggalan Soeharto masih diperdebatkan sampai saat ini. Dalam masa kekuasaannya, yang
disebut Orde Baru, Soeharto membangun negara yang stabil dan mencapai kemajuan ekonomi dan
infrastruktur. Suharto juga membatasi kebebasan warganegara Indonesia keturunan Tionghoa,
menduduki Timor Timur.
Soeharto wafat pada pukul 13.10 WIB Minggu, 27 Januari 2008. Dia meninggal dalam usia 87
tahun setelah dirawat selama 24 hari, sejak 4 sampai 27 Januari 2008 di Rumah Sakit Pusat
Pertamina (RSPP), Jakarta. Berita wafatnya Soeharto pertama kali diinformasikan Kapolsek
Kebayoran Baru, Kompol. Dicky Sonandi, di Jakarta. Kemudian secara resmi Tim Dokter
Kepresidenan menyampaikan siaran pers tentang wafatnya Pak Harto tepat pukul 13.10 WIB
Minggu, 27 Januari 2008 di RSPP Jakarta akibat kegagalan multi organ

3. Jenderal Sudirman
Jenderal Sudirman adalah Panglima Besar TNI yang pertama dan
juga Pahlawan Nasional. Sudirman lahir di Bodas Karangjati,
Rembang, Purbalingga, 24 Januari 1916 dari psangan suami istri
Karsid Kartowirodji dan Siyem. Sejak masih bayi Sudirman sudah
diadopsi oleh pamannya, Cokrosunaryo, Asisten Wedana (Camat)
Bodas Karangjati. Masa kanak-kanak dan masa remajanya
dihabiskan di Cilacap.

Pendidikan formal ditempuhnya di Sekolah Taman Siswa,


kemudian melanjutkan ke HIK (sekolah guru) Muhammadiyah,
Surakarta, tetapi tidak sampai tamat. Saat di sekolah menengah,
Sudirman mulai menunjukkan kemampuannya dalam memimpin
dan berorganisasi, dan dia sangat taat dengan ajaran Islam. Setelah
berhenti dari sekolah keguruan, pada tahun 1936 ia menjadi
seorang guru, dan kemudian menjadi kepala sekolah, di sekolah
dasar Muhammadiyah; ia juga aktif dalam kegiatan Muhammadiyah lainnya dan menjadi
pemimpin Kelompok Pemuda Muhammadiyah pada tahun 1937.

Ketika pendudukan Jepang, pemerintah Jepang mengumumkan akan membentuk Tentara Pembela
Tanah Air (PETA). Pemuda-pemuda Indonesia mendapat kesempatan mengikuti pendidikan
militer. Para pemuda ini kelak yang akan dimanfaatkan oleh Jepang untuk menahan serangan
sekutu. Tapi tujuan itu tidak pernah tercapai.

Sudirman mengikuti latihan Peta Angkatan ke dua di Bogor. Setelah selesai, ia diangkat menjadi
Daidanco (Komandan Batalyon) di Kroya, daerah Banyumas. Tiap-tiap kesatuan Peta dipimpin
oleh perwira Indonesia. Sedangkan orang Jepang yang ada dalam kesatuan itu hanya bertindak
sebagai pelatih. Hubungan antara Sudirman dengan pelatih tersebut, tidak selamanya berjalan baik.
Seringkali mereka bertindak diluar batas dan Sudirman pun pasti melancarkan protes atas tindakan
tersebut. Karena itu ia dicurigai dan dianggap sebagai orang yang berbahaya.

31
Pada Juli 1945, Sudirman bersama dengan beberapa orang perwira PETA lainnya, yang juga
dianggap berbahaya, diperintahkan ke Bogor. Resminya, untuk memperoleh pendidikan yang lebih
intensif. Tetapi sebenarnya, Jepang punyak rencana busuk. Jepang berkeinginan untuk
melenyapkan para perwira semacam Sudirman. Rencana itu tidak sempat dilaksanakan, sebab
tanggal 14 Agustus 1945 Jepang sudah menyerah kembali kepada Sekutu.

Setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, Sudirman


melarikan diri, kemudian pergi ke Jakarta untuk bertemu dengan Presiden Soekarno. Ia ditugaskan
untuk mengawasi proses penyerahan diri tentara Jepang di Banyumas, yang dilakukannya setelah
mendirikan divisi lokal Badan Keamanan Rakyat. Pasukannya lalu dijadikan bagian dari Divisi V
pada 20 Oktober oleh panglima sementara Oerip Soemohardjo, dan Sudirman bertanggung jawab
atas divisi tersebut.

Melalui Konferensi TKR tanggal 12 November 1945, Sudirman terpilih menjadi Panglima Besar
TKR/Panglima Angkatan Perang RI. Kedatangan pasukan Sekutu yang ternyata juga diikuti
tentara NICA Belanda menyebabkan timbulnya pertempuran dengan TKR di berbagai tempat.
Salah satu pertempuran besar terjadi di Ambarawa. Sudirman memimpin langsung pasukan TKR
menggempur posisi pasukan Inggris dan Belanda selama lima hari, mulai tanggal 12 Desember
1945. Pertempuran yang dikenal sebagai Palagan Ambarawa ini berhasil memukul mundur
pasukan Inggris dan Belanda ke Semarang.

Pertempuran ini dan penarikan diri tentara Inggris menyebabkan semakin kuatnya dukungan
rakyat terhadap Sudirman, dan ia akhirnya diangkat sebagai panglima besar pada tanggal 18
Desember dan pangkat Jenderal diberikan padanya lewat pelantikan Presiden. Jadi ia memperoleh
pangkat Jenderal tidak melalui Akademi Militer atau pendidikan tinggi lainnya sebagaimana
lazimnya, tapi karena prestasinya.

Selama tiga tahun berikutnya, Sudirman menjadi saksi kegagalan negosiasi dengan tentara
kolonial Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia, yang pertama adalah Perjanjian
Linggarjati –yang turut disusun oleh Sudirman – dan kemudian Perjanjian Renville –yang
menyebabkan Indonesia harus mengembalikan wilayah yang diambilnya dalam Agresi Militer I
kepada Belanda dan penarikan 35.000 tentara Indonesia. Ia juga menghadapi pemberontakan dari
dalam, termasuk upaya kudeta pada 1948. Ia kemudian menyalahkan peristiwa-peristiwa tersebut
sebagai penyebab penyakit tuberkulosis-nya; karena infeksi tersebut, paru-paru kanannya
dikempeskan pada bulan November 1948.

Saat terjadi Agresi Militer II oleh Belanda(19 Desember 1948),Yogyakarta sebagai ibukota saat
itu pun jatuh ke tangan musuh. Para pemimpin bangsa, seperti Presiden Sukarno dan Wakil
Presiden Muhammad Hatta ditawan Belanda. Sudirman tetap berjuang dengan cara bergerilya,
meskipun saat itu sudah menderita sakit TBC yang parah dan hanya bernapas dengan satu paru
saja. Presiden Sukarno pun sebenarnya sudah meminta beliau untuk tetap di Yogya dan berobat,
tetapi melihat keteguhan hati Sudirman maka Bung Karno pun menyetujui keputusan beliau untuk
memimpin langsung gerilya. Perjuangan dengan senjata dan di meja perundingan memaksa
Belanda ke perundingan. Setelah Perundingan Roem-Royen yang menetapkan gencatan senjata
antara Belanda dan Indonesia, Jenderal Sudirman kembali ke Yogyakarta dengan
disambut Bung Karno, Bung Hatta, dan Sri Sultan HB IXdalam suasana penuh keharuan. Saat itu,
Jenderal Sudirman terlihat sangat kurus dan lusuh. Dalam perundingan KMB pada Desember
1949. Belanda kemudian mengakui kedaulatan Indonesia.

Pada tangal 29 Januari 1950, Sudirman meninggal dunia di Magelang, Jawa Tengah, karena sakit
yang dideritanya. Beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara di Semaki,
Yogyakarta. Pada tahun 1997, Jenderal Sudirman mendapat gelar sebagai Jenderal Besar

32
Anumerta dengan pangkat bintang lima. Pada tanggal 10 Desember 1964, ia juga ditetapkan juga
Pahlawan Nasional Indonesia

4. Ir. H. Juanda Kartawijaya


Nama tokoh ini diabadikan sebagai nama sebuah bandar udara di
Surabaya. Ia merupakan salah satu pahlawan nasional
Indonesia. Ir. R. Djoeanda Kartawidjaja atau Ir. Haji
Juanda lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, 14 Januari 1911 adalah
Perdana Menteri Indonesia ke-10 sekaligus yang terakhir, namanya
diabadikan menjadi sebuah nama bandar udara di Surabaya yaitu
bandar udara Djuanda Surabaya. Ia menjabat dari 9 April 1957
hingga 9 Juli 1959. Setelah itu ia menjabat sebagai Menteri
Keuangan dalam Kabinet Kerja I. Sumbangannya yang terbesar
dalam masa jabatannya adalah Deklarasi Djuanda tahun 1957 yang
menyatakan bahwa laut Indonesia adalah termasuk laut sekitar, di
antara dan di dalam kepulauan Indonesia menjadi satu kesatuan wilayah NKRI atau dikenal dengan
sebutan sebagai negara kepulauan dalam konvensi hukum laut United Nations Convention on Law
of the Sea (UNCLOS)
Juanda merupakan anak pertama pasangan Raden Kartawidjaja dan Nyi Monat, ayahnya seorang
Mantri Guru pada Hollandsch Inlansdsch School (HIS). Pendidikan sekolah dasar diselesaikan di
HIS dan kemudian pindah ke sekolah untuk anak orang Eropa Europesche Lagere School (ELS),
tamat tahun 1924. Selanjutnya oleh ayahnya dimasukkan ke sekolah menengah khusus orang
Eropa yaitu Hogere Burger School (HBS) di Bandung, dan lulus tahun 1929.
Pada tahun yang sama dia masuk ke sekolah Tinggi Teknik (Technische Hooge School) sekarang
Institut Teknologi Bandung (ITB) di Bandung, mengambil jurusan teknik sipil dan lulus tahun
1933. Semasa mudanya Djuanda hanya aktif dalam organisasi non politik yaitu Paguyuban
Pasundan dan anggota Muhamadiyah, dan pernah menjadi pimpinan sekolah Muhamadiyah. Karir
selanjutnya dijalaninya sebagai pegawai Departemen Pekerjaan Umum propinsi Jawa Barat,
Hindia Belanda sejak tahun 1939.
Ir. H. Djuanda seorang abdi negara dan abdi masyarakat. Dia seorang pegawai negeri yang patut
diteladani. Meniti karir dalam berbagai jabatan pengabdian kepada negara dan bangsa. Semenjak
lulus dari Technische Hogeschool (1933) dia memilih mengabdi di tengah masyarakat. Dia
memilih mengajar di SMA Muhammadiyah di Jakarta dengan gaji seadanya. Padahal, kala itu dia
ditawari menjadi asisten dosen di Technische Hogeschool dengan gaji lebih besar. Setelah empat
tahun mengajar di SMA Muhammadiyah Jakarta, pada 1937, Djuanda mengabdi dalam dinas
pemerintah di Jawaatan Irigasi Jawa Barat. Selain itu, dia juga aktif sebagai anggota Dewan Daerah
Jakarta.
Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, tepatnya pada 28 September 1945, Djuanda memimpin para
pemuda mengambil-alih Jawatan Kereta Api dari Jepang. Disusul pengambil-alihan Jawatan
Pertambangan, Kotapraja, Keresidenan dan obyek-obyek militer di Gudang Utara Bandung.
Kemudian pemerintah RI mengangkat Djuanda sebagai Kepala Jawatan Kereta Api untuk wilayah
Jawa dan Madura. Setelah itu, dia diangkat menjabat Menteri Perhubungan. Dia pun pernah
menjabat Menteri Pengairan, Kemakmuran, Keuangan dan Pertahanan. Beberapa kali dia
memimpin perundingan dengan Belanda. Di antaranya dalam Perundingan KMB, dia bertindak
sebagai Ketua Panitia Ekonomi dan Keuangan Delegasi Indonesia. Dalam Perundingan KMB ini,
Belanda mengakui kedaulatan pemerintahan RI.
Djuanda sempat ditangkap tentara Belanda saat Agresi Militer II tanggal 19 Desember 1948. Dia
dibujuk agar bersedia ikut dalam pemerintahan Negara Pasundan. Tetapi dia menolak. Dia seorang
abdi negara dan masyarakat yang bekerja melampaui batas panggilan tugasnya. Mampu

33
menghadapi tantangan dan mencari solusi terbaik demi kepentingan bangsa dan negaranya. Karya
pengabdiannya yang paling strategis adalah Deklarasi Djuanda 13 Desember 1957.
Ir. Djuanda oleh kalangan pers dijuluki ‘menteri marathon’ karena sejak awal kemerdekaan (1946)
sudah menjabat sebagai menteri muda perhubungan sampai menjadi Perdana Menteri dan Menteri
Pertahanan (1957-1959) sampai menjadi Menteri Pertama pada masa Demokrasi Terpimpin
(1959-1963). Sehingga dari tahun 1946 sampai meninggalnya tahun 1963, beliau menjabat sekali
sebagai menteri muda, 14 kali sebagai menteri, dan sekali menjabat Perdana Menteri. Dia seorang
pemimpin yang luwes. Dalam beberapa hal dia kadangkala berbeda pendapat dengan Presiden
Soekarno dan tokoh-tokoh politik lainnya.
Namanya diabadikan sebagai nama lapangan terbang di Surabaya, Jawa Timur yaitu Bandara
Djuanda atas jasanya dalam memperjuangkan pembangunan lapangan terbang tersebut sehingga
dapat terlaksana. Selain itu juga diabadikan untuk nama hutan raya di Bandung yaitu Taman Hutan
Raya Ir. H. Djuanda, dalam taman ini terdapat Museum dan Monumen Ir. H. Djuanda. Djuanda
wafat di Jakarta 7 November 1963 karena serang jantung dan dimakamkan di TMP Kalibata,
Jakarta. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No.244/1963 Ir. H. Djuanda Kartawidjaja
diangkat sebagai tokoh nasional/pahlawan kemerdekaan nasional.

34