Anda di halaman 1dari 9

TUGAS

METROLOGI ULIR, RODA GIGI DAN KEBULATAN


Ditujukan untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Metrologi Industri

Disusun oleh:
Fajar Ahmad Faisal 122016037

JURUSAN TEKNIK MESIN


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL
BANDUNG
2018
Soal Metrologi Industri
1. Sebutkan Jenis Jenis Ulir!
2. Gambar penampang ulir lalu tuliskan spesifikasi geometri ulir pada gambar tersebut!
3. Jelaskan bagaimana cara mengukur geometri ulir tersebut!
4. Cara membuat involute, kenapa harus involute.
5. Gambarkan roda gigi, jelaskan bagian bagian roda gigi tersebut (geometri roda gigi)
6. Cara mengukur geometri roda gigi.
7. Gambarkan symbol taleransi untuk kebulatan dan jelaskan apa interpretasi dari
symbol tersebut.
8. Apa kerugian jika penampang suatu poros memiliki ketidakbulatan melebihi toleransi
9. Bagaimana mengukur kebulatan
10. Jelaskan cara memperkirakan MRZ.

Jawaban

1. Jenis-jenis ulir
a. Ulir ISO metrik atau Ulir Unified, digunakan sebagai ulir pemersatu.
b. Ulir Whitworth, berfungsi sebagai ulir pemersatu dan sekaligus untuk
mencegah kebocoran (dipakai sebagai ulir pipa).
c. Ulir Trapesium, dipakai sebagai ulir penggerak.
2. Gambar penampang ulir lalu tuliskan spesifikasi geometri ulir

 Sudut ulir, á (angle of thread, included angle); sudut antara sisi ulir yang
berseberangan, yang diukur pada bidang yang melalui sumbu ulir (bidang aksial).

 Sudut Sisi Ulir, á1, á2 (flank angle); sudut antara salah satu sisi ulir dengan bidang
yang tegak lurus sumbu ulir dan diukur pada bidang aksial. Untuk profil ulir yang
simetrik, sudut sisi ulir ini sama dengan setengah sudut ulir, á1 = á2 = á/2.
 Pits, p atau P (pitch); jarak antara titik pada sisi ulir yang sama dari dua profil ulir
yang terdekat yang diukur pada bidang aksial dan sejajar sumbu.
 Kisar (lead); jarak yang ditempuh oleh salah satu komponen dari pasangan baut dan
mur apabila salah satu komponen di putar satu putaran relatif terhadap
pasangannya.
 Catatan: Dengan demikian, ada dua jenis pengukuran geometrik ulir yaitu
pengukur-an pits dan pengukuran kisar, yang mungkin memberikan hasil yang
berbeda.
 Sudut Kisar, ã (lead angle); sudut antara garis yang menyinggung lingkaran pits dan
menyinggung sisi ulir (berimpit dengan arah pits ulir) dengan bidang yang tegak
lurus sumbu ulir. Sudut kisar diukur pada bidang melalui sumbu ulir.
 Segitiga Dasar/Fundamental (fundamental triangle); segitiga yang terbentuk
dengan menghubungkan tiga titik perpotongan antara sisi ulir yang diperpanjang
sehingga saling memotong.
 Kedalaman Ulir, t atau T (depth of thread); jarak antara puncak ulir dengan dasar
ulir, diukur pada arah tegak lurus sumbu ulir.
 Tebal Ulir (axial thickness); tebal profil antara sisi luar yang bertolak belakang yang
diukur pada silinder pits searah dengan sumbu ulir. Jarak ini sama dengan jarak
setengah pits.
 Pemenggalan atau Pembulatan (truncation & rounding); ujung segitiga fundamental
dipenggal atau dibulatkan dalam arah radial setinggi a atau a1 (A1 atau A).
 Addendum; jarak radial antara silinder mayor sampai dengan silinder pits bagi ulir
luar, atau jarak radial antara silinder pits sampai dengan silinder minor bagi ulir
dalam.
 Dedendum; jarak radial antara silinder pits sampai dengan silinder minor bagi ulir
luar, atau jarak radial antara silinder mayor sampai silinder pits bagi ulir dalam.
 Diameter Mayor, d atau D (mayor diameter, outside diameter, crest diameter, full
diameter); diameter silinder mayor, yaitu silinder khayal yang mempunyai sumbu
berimpit dengan sumbu ulir serta menying-gung puncak ulir.
 Diameter Minor, d1 atau D1 (minor diameter, root diameter, core diameter);
diameter silinder minor, yaitu silinder kayal yang mempunyai sumbu yang berimpit
dengan sumbu ulir serta menyinggung dasar ulir.
 Diameter Pits, d2 atau D2 (pits diameter, simple effective diameter);
(diameter efektif) diameter silinder pits, yaitu silinder kayal yang mempunyai
sumbu yang berimpit dengan sumbu ulir serta memotong sisi ulir sedemikian rupa
sehingga tebal ulir dan jarak pada ruang kosong antara sisi ulir yang berseberangan
adalah sama.
 Diameter Fungsional, d'2 atau D'2 (virtual effective diameter, functional diameter);
diameter pits mur yang dipasang pada baut yang mempu-nyai profil sempurna
sehingga sisi ulirnya saling bersinggungan.
3. Mengukur geometri ulir
PENGUKURAN DIAMETER MINOR

Pengukuran diameter minor dilaksanakan dengan memakai mikrometer yang dibantu


dengan batang prisma (batang V).

PENGUKURAN DIAMETER PITS


Pengukuran diameter pits dapat dilaksanakan dengan dua cara, yaitu :

1 dengan mikrometer ulir, 2. dengan dua/tiga kawat.


PENGUKURAN ULIR DALAM

Untuk pengukuran yang lebih cermat (misalnya diameter pits kaliber ulir ring)
digunakan metode dua bola

PENGUKURAN SUDUT ULIR DAN PITS


Sudut ulir luar dapat diukur dengan memakai profil proyektor

KALIBER PEMERIKSA ULIR

untuk memeriksa ulir luar dan kedua untuk memeriksa ulir dalam. Untuk pemeriksaan
ulir luar ada dua jenis kaliber yaitu kaliber ulir ring dan kaliber ulir celah, sedang bagi
pemeriksaan ulir dalam digunakan kaliber ulir pena
4. Cara membuat involute, kenapa harus involute.
Di posisi awal, salah satu ujung pada tepi batang dari garis lurus menempel pada
lingkaran dasar dititik Po. Apabila batang tersebut digulingkan, ujungnya yang semula
berimpit akan bergerak menjauhmenurut garis lengkungnya yang disebut involute.
Saat batang digulingkan, titik potongan antara garislurus dengan lingkaran dasar akan
sampai pada titik A. Bersamaan dengan itu pula titik yang semula Po akan bergerak
menuju titik P.

Agar perpindahan gerakan gigi ini berlangsung dengan halus tanpa terjadi gesekan
yang merugikan, diciptakanlah profil gigi dengan bentuk yang sedemikian rupa .

5. Roda gigi

Garis Aksi, Jarak Kontak, dan Sudut Tekan

Profil standar (ISO) untuk batang gigi A dan roda gigi B.


Keterangan
a) Lingkaran Dasar (Base Circle)
Lingkaran semu dengan diameter db yang merupakan dasar dari pembentukan
involute.
b) Lingkaran Referensi (Reference Circle)
Lingkaran semu dengan diameter d, di mana kelilingnya merupakan hasil kali dari
pits p dengan jumlah gigi z.
c) Pits (Pitch, p)
Pits adalah panjang busur pada lingkaran referensi di antara dua involute yang
berurutan.
d) Modul (Module, m)
Modul merupakan parameter yang menentukan jumlah gigi bagi suatu lingkaran
referensi yang tertentu.
e) Modul (Module, m)
Modul merupakan parameter yang menentukan jumlah gigi bagi suatu lingkaran
referensi yang tertentu.
f) Sudut Tekan (Pressure Angle, á)
Sudut tekan adalah sudut terkecil antara garis normal pada involut dengan garis
singgung pada lingkaran referensi di titik potong antara involut dengan lingkaran.
g) Lingkaran Puncak (Tip Circle)
Lingkaran puncak adalah lingkaran dengan diameter da, merupakan penampang
silinder puncak yang dipotong oleh bidang tegak lurus sumbu roda gigi.
h) Lingkaran Kaki (Root Circle)
Lingkaran kaki adalah lingkaran dengan diameter df, merupakan penampang
silinder kaki yang dipotong oleh bidang tegak lurus sumbu roda gigi.
i) Pits Dasar (Base Pitch, Pb)
Pits dasar ada;ah panjang busur pada lingkaran dasar di antara dua involut yang
berurutan. Apabila tidak ada kesalahan pada involut,
j) Tebal Gigi (Tooth Thickness, s)
Tebal gigi adalah panjang busur pada lingkaran referensi di antara dua buah sisi
(profil) pada satu gigi.
k) Jarak Gigi (Space Width, R)
Jarak gigi adalah panjang busur pada lingkaran referensi di antara dua sisi gigi
yang berseberangan (antara dua gigi)
l) Addendum (ha)
Addendum adalah jarak radial antara lingkaran puncak dengan lingkaran referensi.
m) Dedendum (hf)
Dedendum adalah jarak radial antara lingkaran referensi dengan lingkaran kaki.
n) Tinggi Gigi (Tooth Depth, hz)
Tinggi gigi adalah jarak radial antara lingkaran puncak dengan lingkaran kaki.
6. Pengukuran roda gigi

Pits dapat diukur dengan memakai alat ukur dengan Alat Ukur Variasi Pits (pada
lingkaran referensi).

PENGUKURAN EKSENTRISITAS GIGI

Yaitu dengan mengukur penyimpangan put ar radial bagi roda gigi yang diletakkan di
antara senter at au poros pemegang

PENGUKURAN PROFIL GIGI

Yaitu dengan memakai kaliber profil, pelat yang dipotong sehingga mempunyai
bentuk profil involute negatif dari satu gigi.

PENGUKURAN TEBAL GIGI

Tebal gigi pada lingkaran referensi diukur dengan memakai rahang ukur tangensial .
Dalam hal ini yang diukur adalah t ali busurnya. Tinggi (q) dan t ebal gigi ( )
7. Symbol taleransi untuk kebulatan

Untuk symbol tersebut artinya profil kebulatan yang mempunyai MZC yang sama
tersebut harus mempunyai harga MRZ yang tidak melebihi harga toleransi
kebulatannya (0.01 mm).

8. Kerugian jika penampang suatu poros memiliki ketidakbulatan melebihi toleransi


maka poros susuah untuk dipasangkan dengan lubang
9. Alat ukur kebulatan dibagi menjadi 2 yaitu
a. jenis dengan sensor putar, dan
Jenis sensor putar
Spindel (poros utama) yang berputar hanya menerima beban yang ri-ngan dan
tetap (tekanan pengu-kuran dan berat sensor ringan).
Meja untuk meletakkan benda ukur tidak mempengaruhi sistem pengukur-an.

b. jenis dengan meja putar.


Karena sensor tidak berputar, berbagai pengukuran yang berkaitan dengan
kebulatan dapat dilaksanakan, misalnya konsentrisitas, kesamaan sumbu,
kesejajaran, kesilindrisan, kelurusan dan ketegaklurus-an.
Pengukuran kelurusan bisa dilakukan dengan menambahkan peralatan untuk
menggerakkan sensor dalam arah transversal (vertikal) tanpa harus mengubah
posisi spindel.
Berat benda ukur terbatas, karena keterbatasan kemampuan spindel untuk
menahan beban, demi untuk menjamin ketelitian.
10. Cara memperkirakan MRZ.
Penentuan MRZ dengan cara coba_koreksi dengan bantuan mistar lingkaran
transparan. Untuk itu dapat dilakukan pembuatan grafik sekali lagi (bila set- up
pengukuran belum diubah) dengan memilih pembesaran (magnification) yang lebih
kecil. Kemudian hasilnya dapat digunakan untuk memperkirakan letak MZC pada
usaha coba-koreksi yang dilakukan pada profil kebulatan semula. Jikalau tidak ada
keberatan dalam pertimbangan kualitas, penentuan harga ketidakbulatan berdasarkan
lingkaran luar minimum atau lingkaran dalam maksimum dapat dipilih karena lebih
mudah menentukannya.