Anda di halaman 1dari 133

.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. W POST OPERASI HERNIA


INGUINALIS LATERALIS HARI KE-1 DI RUANG PERABU 3
SILIWANGI RSD GUNUNG JATI KOTA CIREBON
TAHUN 2018

Disusun Oleh
IRFAN RISMAYUDA
NIM. 4201.0415.A.042

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes Cirebon)


PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN
CIREBON
2018
.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. W POST OPERASI HERNIA


INGUINALIS LATERALIS HARI KE-1 DI RUANG PERABU 3
SILIWANGI RSD GUNUNG JATI KOTA CIREBON
TAHUN 2018

Karya Tulis Ilmiah

Diajukan untuk memenuhi persyaratan


Ujian Akhir Program Pendidikan Diploma III Keperawatan

Disusun Oleh
IRFAN RISMAYUDA
NIM. 4201.0415.A.042

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes Cirebon)


PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN
CIREBON
2018

i
LEMBAR PERSETUJUAN

JUDUL : ASUHAN KEPERAWATAN POST OPERASI HERNIA

INGUINALIS HARI KE-1 PADA Tn. W DI RUANG

PRABU SILIWANGI RSUD GUNUNG JATI KOTA

CIREBON TAHUN 2018

PENYUSUN : IRFAN RISMAYUDA

NIM : 4201.0415.A.042

Cirebon, 2017

Pembimbing I Pembimbing II

Karya Tulis Ilmiah Lahan Praktik

…………………. ………………….

Menyetujui:

Program Studi D III Keperawatan

Ketua,

Ns.R.NUR ABDURAKHMAN, S.Kep.MH

ii
LEMBAR PENGESAHAN

JUDUL : ASUHAN KEPERAWATAN POST OPERASI HERNIA

INGUINALIS HARI KE-1 PADA Tn. W DI RUANG

PRABU SILIWANGI RSUD GUNUNG JATI KOTA

CIREBON TAHUN 2018

PENYUSUN : IRFAN RISMAYUDA

NIM : 4201.0415.A.042

Diterima dan disahkan oleh Tim Penguji Karya Tulis Ilmiah Diploma III

Keperawatan, pada

Hari :

Tanggal :

Penguji I Penguji II

…………………. ………………….

Menyetujui:

Ketua,
Program Studi D III Keperawatan

Ns.R.NUR ABDURAKHMAN, S.Kep.MH

iii
MOTTO

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan maka


apabila kamu telah selesai dari suatu urusan kerjakanlah dengan
sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya
kamu mengharap”
(QS. Alamnasyarah : 5-8)

Alhamduliilah.............. dengan Ridha-Mu ya Allah.....


Amanah ini telah selesai, sebuah langkah usai sudah, namun itu bukan
akhir dari perjalanan ku melainkan awal dari sebuah perjalanan

Ayah.......... Ibu........
Tiada cinta yang paling suci selain kasih sayang ayahanda dan ibundaku
Setulus hatimu bunda, searif arahanmu ayah. Do’amu hadirkan
keridhaan untukku, petuahmu tuntunkan jalanku. Pelukmu berkahi
;hidupku, diantara perjuangan dan tetesan do’a malammu.

Dan sebait do’a telah merangkul diriku, menuju hari depan yang cerah,
Kini diriku telah selesai dalam studi ku. Dengan rasa hormat dan
segenap cinta diiringi do’a yang tulus kupersembahkan karya tulis ini
dengan sejuta untaian kasih. Ayahanda dan ibunda tercinta

Adindaku ku tanpa bantuan dan dukungan mu tidak akan dapat gelar


Diploma III Terima kasih kuucapkan yang tak terhingga untukmu
Adindaku Walaupun kata-kata ini telah terurai, namun belum dapat
sedikitpun terbalaskan semua yang telah kalian berikan.

Thank’s For my best frend..........


Kepada sahabat-sahabat yang selama ini yang menjadi pendorong
semangat, Special untuk seseorang, kepada Hamdani yang salalu
memberikan semangat untuk saya dan semua teman-teman seperjuangan
di sendratasik yang selalu kukenang sampai kita akan menghadapi
kehidupan yang baru dan kehidupan masing-masing dari kita semuanya.

Buatnya para Dosen, Staf STIKes Kota Cirebon,Pembimbing tercinta


Yang telah banyak membantu dan berdoa atas keberhasilan saya
dan meningkatkan motivasi saya.

iv
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan

rahmat, hidayah serta kekuatan sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis

ilmiah ini dengan judul “Asuhan Keperawatan Post Operasi Hernia Inguinalis Pada

Tn. W Di Ruang Prabu Siliwangi RSUD Gunung Jati Kota Cirebon Tahun 2018”.

Adapun tujuan penulisan karya tulis ini untuk memenuhi salah satu syarat

dalam menempuh pendidikan Program Studi Diploma III Keperawatan STIKes

Cirebon. Dalam kesempatan ini perkenankan kami mengucapkan rasa terima kasih

kepada yang kami hormati :

1. H. E. Djumhana Cholil, MM sebagai Ketua Yayasan Rise Cirebon.

2. H. Mokh. Firman Ismana,S.Kom,MM sebagai Ketua Sekolah Tinggi Ilmu

Kesehatan Cirebon

3. Awaludin Jahid Abdillah, M.Kep sebagai Ketua Program Diploma III

Keperawatan Cirebon

4. Dr. Bunadi, MKM, MMRS Sebagai Kepala Direktur Rumah Sakit Daerah

Gunung Jati.

5. R. Nur Abdurakhman, S.Kep., Ners., M.H sebagai pembimbing akademik

yang telah memberikan bimbingan dan arahan selama pembuatan skripsi ini.

6. Komarudin, S.Kep sebagai pembimbing lapangan yang telah memberikan

bimbingan dan arahan salam pembuatan karya tulis ilmiah ini.

7. Seluruh dosen dan staf Program Studi DIII Keperawatan STIKes Cirebon.

v
8. Orang tua serta saudara yang telah memberikan dorongan baik secara moral,

material maupun spiritual selama proses pembuatan karya tulis ilmiah ini.

9. Klien Tn. W beserta keluarga yang telah kooperatif selama penulis

melakukan tindakan Asuhan Keperawatan.

10. Untuk teman- teman seperjuangan yang telah membantu semangat dan

motivasinya sehingga dan motivasinya sehingga dapat menyelesaikan Karya

Ilmiah ini.

Semoga segala bimbingan dan bantuan yang bapak/ibu dan saudara berikan

mendapat balasan dari Allah SWT.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh

karena itu kritik saran yang membangun dari berbagai pihak sangat penulis

harapkan demi perbaikan-perbaikan ke depan.

Penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan

pembaca pada umumnya.

Cirebon, Januari 2018

Penulis

vi
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i

LEMBAR PERSETUJUAN .......................................................................... ii

LEMBAR PENGESAHAN ........................................................................... iii

KATA PENGANTAR ................................................................................... iv

DAFTAR ISI ................................................................................................... vi

DAFTAR BAGAN .......................................................................................... viii

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang ................................................................ 1

1.2. Rumusan Masalah ........................................................... 4

1.3. Tujuan .......................................................................... 5

1.3.1. Tujuan Umum ................................................... 5

1.3.2. Tujuan Khusus .................................................. 5

1.4. Ruang Lingkup ................................................................ 6

1.5. Manfaat .......................................................................... 6

1.6. Metode Penulisan ............................................................ 7

1.7. Sistematika Penulisan ..................................................... 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Hernia .......................................................................... 10

2.1.1 Pengertian Hernia ............................................. 10

2.1.2 Anatomi Fisiologi ............................................. 10

2.1.3 Etiologi.............................................................. 14

vii
2.1.4 Klasifikasi Hernia ............................................. 16

2.1.5 Patofisiologi ...................................................... 19

2.1.6 Pathway ............................................................ 25

2.1.7 Manifestasi Klinis ............................................. 26

2.1.8 Pemeriksaan Diagnostik ................................... 30

2.1.9 Penatalaksanaan ................................................ 33

2.1.10 Komplikasi Dampak Pembedahan Herniotomy 36

2.2 Tinjauan Teori Manajemen Keperawatan ........................ 39

2.2.1 Pengkajian ......................................................... 39

2.2.2 Diagnosa Keperawatan Post Operasi ................ 42

2.2.3 Intervensi Keperawatan .................................... 43

2.2.4 Implementasi Keperawatan ............................... 54

2.2.5 Evaluasi Keperawatan ....................................... 55

BAB III TINJAUAN KASUS

3.1 Pengkajian ....................................................................... 56

3.2 Pemeriksaan Fisik ............................................................ 60

3.3 Pemeriksaan Penunjang ................................................... 63

3.4 Terapi Medis .................................................................... 64

3.5 Analisa Data ..................................................................... 64

3.6 Diagnosa Keperawatan .................................................... 68

3.7 Intervensi Keperawatan.................................................... 68

3.8 Implementasi Keperawatan .............................................. 72

3.9 Evaluasi .......................................................................... 81

viii
BAB IV PEMBAHASAN

4.1 Pengkajian ....................................................................... 95

4.2 Diagnosa Keperawatan ................................................... 96

4.3 Intervensi Keperawatan................................................... 99

4.4 Implementasi Keperawatan ............................................. 103

4.5 Evaluasi Keperawatan ..................................................... 104

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan ........................................................................ 107

5.2 Saran................................................................................ 108

DAFTAR PUSTAKA

ix
DAFTAR BAGAN

Gambar 1. Pathway Hernia inguinalis ............................................................. 25

x
1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Dewasa ini di zaman modern dengan adanya peningkatan derajat

ekonomi yang juga terjadi pada masyarakat sangat berpengaruh terhadap

gaya hidup sehari-hari,misalnya pola aktifitas dan pekerjaan,namun tanpa

disadari bahaya yang mengancam kesehatan juga tidak dapat di

hindari.hernia merupakan masalah kesehatan yang sering muncul karena hal

tersebut. (1)

Hernia adalah penonjolan sebuah organ, jaringan atau struktur

melewati dinding rongga yang secara normal memang berisi bagian-

bagian tersebut. (1)

Secara umum hernia lebih sering terjadi pada orang yang sudah lanjut

usia, karena pada usia lanjut dinding otot sudah lemah, sehingga sangat

berpeluang terjadinya hernia. Dan umumnya terjadi pada laki-laki dari pada

perempuan dan lebih sering pada sisi kanan dari pada kiri. Dan adapun

faktor presipitasi yang dapat mengakibatkan hernia antara lain : obesitas,

kehamilan, mengejan, batuk kronis, mengangkat beban berat. (1)

Tanda dan gejala lebih dini/ awal biasanya tidak mereka sadari, namun

keadaan tersebut akan baru mereka sadari apabila sudah menimbulkan rasa

sakit. Seperti juga tanda dan gejala dari penyakit hernia inguinalis yang pada

1
2

waktu umumnya ada benjolan di lipat paha yang muncul pada waktu berdiri,

batuk, bersin, atau mengedan dan menghilang setelah berbaring. Karena

keluhan nyeri jarang dijumpai, kalau ada biasanya dirasakan di daerah

epigastrium atau para umbilical berupa nyeri visceral. (2)

Maka seseorang biasanya akan membiarkan saja karena tidak

menimbulkan sakit, bila terasa sakit baru mereka berorat ke dokter atau

tenaga kesehatan lain. (2)

Keadaan ini timbul biasanya pada golongan menengah kebawah

dimana gizi yang buruk dapat mempengaruhi perkembangan otot perut.

Insiden hernia inguinalis pada bayi dan anak –anak antara 1 dan 2%.

Kemungkinan terjadi hernia pada sisi kanan 60%, sisi kiri 20-25% dan

bilateral 15%. Insiden hernia inguinalis pada orang dewasa kira-kira 2%.

Kemungkinan kejadian hernia bilateral dari insiden tesebut mendekati 10%.

Insiden hernia meningkat dengan bertambahnyaa umur. Pada usia produktif

meningkatnya penyakit yang meninggikan tekanan intra abdomen dan

berkurangnya kekuatan jaringan penunjang. (3)

Hernia pada dinding perut merupakan penyakit yang sering dijumpai

dan memerlukan suatu tindakan pembedahan. Hernia inguinalis lateralis

sering dijumpai pada pria. Angka kejadian pria adalah 12 kali lebih sering

dibanding wanita. Pada wanita kurang lebih didapatkan 4 persen

dibandingkan pria. (3)

Sampai saat ini terjadinya hernia pada orang dewasa, diketahui oleh

karena penyebab sekunder atau didapat yang adekuat. Misal suatu penyakit
3

pembesaran prostat yang jinak, hal ini dapat menyebabkan terjadinya

hernia. Insidensi Hernia Inguinalis Lateralis adalah 15/1000 , dan total

jumlah tindakan hernioraphi sekitar 700.000 kasus pertahun ini akan

menimbulkan masalah sosioekonomi yang besar bagi masarakat, tindakan

hernioraphi dengan penggunaan general ataupun regional anestesi

memerlukan biaya yang lebih besar dibandingkan dengan penggunaan local

anestesi. (3)

Dengan penggunaan lokal anestesi efisiensi biaya lebih tinggi

disamping itu juga penghematan biaya untuk keluarga penderita karena

tidak memerlukan perawatan paska operasi. Komplikasi operasi yang

meliputi terjadinya infeksi luka operasi, oedema skrotum dan hematom serta

kemungkinan terjadinya kekambuhan tidak begitu berbeda bila

dibandingkan dengan penggunaan general anestesi. Dari beberapa studi

didapatkan dengan persiapan serta seleksi pasien yang baik lebih dari 90%

hernia dapat dilakukan dengan local anestesi, penggunaan mesh tidak

meningkatkan resiko infeksi dan apabila terjadi infeksi mesh tidak perlu

diangkat. (3)

Keuntungan lain penggunaan local anestesi dapat dilakukan uji coba

hasil operasi dengan cara batuk ataupun test valsava.Hernia inguinalis

lateralis dapat terjadi pada semua umur, namun tersering pada usia antara

45 sampai 75 tahun. (3)

Penyebab primer terjadinya Hernia inguinalis lateralis sampai saat ini

belum ada atau belum pernah dipublikasikan. Hal ini penting untuk
4

diketahui, sehingga diharapkan dapat diketahui diagnosa dini dan tindakan

pembedahan untuk mencegah terjadinya hernia yang terperangkap

(inkarserata) atau hernia yang tercekik (strangulata). Angka kemungkinan

terjadinya hernia strangulata adalah 2,8 persen setelah 3 bulan munculnya

hernia dan 4,5 persen setelah 2 tahun. Pada HIL jumlah proliferasi dari

fibroblast menurun dibanding normal dan kolagenolisis meningkat(3).

Berdasarkan buku laporan RSD Gunung Jati Kota Cirebon angka

kejadian Hernia Inguinalis di RSD Gunung Jati Kota Cirebon secara umum

tidak menjadi prioritas dalam 10 besar kasus di Rekam Medik. Data di RSD

Gunung Jati Kota Cirebon tercatat dari bulan Oktober sampai dengan

Desember 2017 terdapat kasus hernia sebanyak 71 orang. (4)

Berdasarkan data tersebut diatas mendorong penulis untuk

mengangkat permasalahan yang ada pada gangguan sistem pencernaan

yaitu Post Op Hernia Inguinalis, Maka penulis memaparkan untuk

menyusun Asuhan Keperawatan Post Operasi Hernia Inguinalis Pada Tn.W

di Ruang Perabu Siliwangi RSD Gunung Jati Kota Cirebon Tahun 2018.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang, maka penulis melakukan

pengkajian lebih lanjut dengan melakukan Asuhan Keperawatan Post

Operasi Hernia Inguinalis Hari Ke-1 Pada Tn. W di Ruang Perabu 3

Siliwangi RSUD Gunung Jati Kota Cirebon Tahun 2018 dengan membuat

rumusan masalah, yaitu “ Bagaimana Asuhan Keperawatan Post Operasi


5

Hernia Inguinalis Pada Tn. W di Ruang Prabu 3 Siliwangi RSD Gunung Jati

Kota Cirebon Tahun 2018.

1.3. Tujuan

1.3.3. Tujuan Umum

Setelah melakukan asuhan keperawatan pada pasien dengan post

operasi Hernia penulis dapat menerapkan asuhan keperawatan secara

komprehensif dan sesuai standar asuhan keperawatan yang berlaku.

1.3.4. Tujuan Khusus

Setelah melakukan asuhan keperawatan pasien dengan post operasi

apendisitis penulis dapat:

a. Melakukan pengkajian dengan mengumpulkan semua data baik melalui

anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang

dibutuhkan untuk menilai keadaan pasien secara meTneluruh pada

pasien dengan post operasi hernia inguinalis.

b. Mampu menganalisa masalah- masalah yang muncul pada pasien

dengan post operasi hernia inguinalis.

c. Mampu merumuskan diagnosa dan memprioritaskan masalah pada

pasien dengan post operasi hernia inguinalis.

d. Mampu membuat perencanaan tindakan asuhan keperawatan pada

pasien dengan operasi hernia inguinalis.

e. Mampu melaksanakan rencana asuhan keperawatan pada pasien

dengan post operasi hernia inguinalis.


6

f. Mampu mengevaluasi asuhan keperawatan yang telah dilakukan pada

pasien dengan post operasi hernia inguinalis.

g. Mampu mendokumentasikan asuhan keperawatan yang telah

dilaksanakan.

1.4. Ruang Lingkup

Berdasarkan uraian diatas maka ruang lingkup penulisan adalah

pelaksanaan Asuhan Keperawatan Post Operasi operasi hernia inguinalis.

Hari ke-1 Pada Tn. W di Ruang Prabu 3 Siliwangi RSD Gunung Jati dari

tanggal 05 Sampai dengan 07 Januari 2018.

1.5. Manfaat

1.5.1. Teoritis

Secara teoritis, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi

referensi atau masukan bagi perkembangan ilmu pengetahuan khususnya

dalam hal asuhan keperawatan pasien yang mengalami Post Operasi Hernia

Inguinalis Hari ke-1 Pada Tn. W di Ruang Prabu 3 Siliwangi RSD Gunung

Jati Kota Cirebon

1.5.2. Secara Praktis

1. Bagi Mahasiswa

a. Untuk meningkatkan ilmu pengetahuan dan pengalaman dalam

pemberian asuhan keperawatan pada pasien dengan post operasi

hernia inguinalis.
7

b. Menambah ketrampilan atau kemampuan mahasiswa dalam

menerapakan asuhan keperawatan pada pasien dengan post operasi

hernia inguinalis.

2. Bagi Institusi

Sebagai bahan evaluasi sejauh mana kemampuan mahasiswa dalam

melakukan asuhan keperawatan pada pasien post operasi khususnya

post operasi hernia inguinalis.

3. Bagi Lahan Praktik

Dapat dijadikan bahan masukan bagi perawat di rumah sakit dalam

melakuakan tindakan asuahan keperawatan dalam rangka meningkatkan

mutu pelayanan yang baik khususnya pada pasien dengan post oprasi

hernia inguinalis.

1.6. Metode Penulisan

1.6.1. Metode Penyusunan

Penulis menggunakan metode deskriptif yaitu metode ilmiah yang bersifat

mengumpulkan data, menganalisa data dan menarik kesimpulan dengan

pendekatan studi kasus. Penulis menggambarkan suatu proses keperawatan

pada Tn. W dengan post operasi hernia inguinalis hari ke-1 dari pengkajian

sampai evaluasi.
8

1.6.2. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang penulis gunakan adalah sebagai berikut :

1. Observasi partisipatif

Observasi partisipatif adalah suatu teknik pengumpulan data yang

dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan melaksanakan asuhan

keperawatan pada pasien selama dirawat di rumah sakit dan lebih

bersifat obyektif, yaitu dengan melihat respon pasien setelah dilakukan

tindakan. Penulis melakukan observasi partisipatif dengan cara melihat

respon pasien setelah penulis melakukan tindakan keperawatan.(5)

2. Wawancara

Yaitu teknik pengumpulan data dengan melakukan tanya jawab

tentang masalah yang dihadapi pasien. Penulis melakukan wawancara

langsung dengan pasien, keluarga, perawat dan tenaga kesehatan lain

mengenai tentang teori keadaan pasien dengan posthemoroidektomi.

Penulis melakukan perawatan secara langsung pada Tn. W dengan post

operasi hernia inguinalis hari ke-1 di ruang Prabu Siliwangi RSUD

Gunung Jati. (5)

3. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik adalah teknik pemgumpulan data dengan

melakukan pemeriksaan mulai dari inspeksi, palpasi, perkusi dan

auskultasi untuk mendapatkan data fisik pasien secara keseluruhan.

Penulis melakukan pemeriksaan fisik secara langsung pada Tn. W


9

dengan post operasi hernia inguinalis di ruang Prabu Siliwangi RSD

Gunung Jati Cirebon. (5)

1.7. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan terdiri dari 5 bab yaitu :

BAB I : Pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, rumusan

masalah, tujuan, manfaat, ruang lingkup, sistematika

penulisan, metode penulisan dan teknik pengumpulan data.

BAB II : Tinjauan Pustaka yang terdiri dari konsep medis sinusitis dan

konsep asuhan keperawatan.

BAB III : Metode Penelitian

BAB IV : Tinjauan Kasus yang terdiri dari pengkajian, perumusan

diagnosa, intervensi, implementasi dan evaluasi.

BAB V : Penutup yang berisi kesimpulan dan saran.


10

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Hernia

2.1.1 Pengertian Hernia

Hernia merupakan suatu keadaan menonjolnya isi usus suatu

rongga melalui lubang.(1)

Hernia adalah penonjolan sebuah organ, jaringan atau struktur

melewati dinding rongga yang secara normal memang berisi bagian-

bagian tersebut. (1)

Hernia merupakan masuknya organ kedalam rongga yang disebabkan

oleh prosesus vaginalis berobliterasi. Sumber lain mengatakan bahwa

hernia merupakan sebuah tonjolan atau benjolan yang terjadi disalah satu

bagian tubuh yang seharusnya tidak ada. (1)

Secara umum hernia merupaka tonjolan yang terjadi akibat protrusi

abnormal jaringan, organ atau bagian organ melalui struktur yang secara

normal berisi.

2.1.2 Anatomi Fisiologi

Saluran pencernaan makanan merupakan saluran yang menerima

makanan dari luar dan mempersiapkannya untuk diserap oleh tubuh dengan

10
11

jalan proses pencernaan dengan enzim dan zat cair yang terbentang mulai

dari mulut sampai anus. (1)

Berikut ini adalah bagian-bagian dari anatomi struktur sistem

pencernaan. (2) Struktur pencernaan adalah:

1. Mulut

Mulut merupakan permulaan saluran pencernaan, selaput lendir

mulut ditutup epithelium yang berlapis-lapis. Dibawahnya terletak

kelenjar-kelenjar halus yang mengeluarkan lendir. Selaput ini kaya akan

pembuluh darah dan memuat ujung akhir saraf sensoris didalam rongga

mulut. (3)

2. Faring

Faring merupakan organ yang menghubungkan rongga mulut dan

kerongkongan (esofagus). Didalam lengkung faring terdapat tonsil

(amandel) yaitu kumpulan kelenjar limfe yang banyak mengandung

limfosit dan merupakan pertahanan terhadap infeksi, disini terletak

persimpangan antara jalan nafas dan jalan makanan, letaknya

dibelakang rongga mulut dan hidung.

3. Esofagus/Kerongkongan

Esofagus merupakan saluran pencernaan yang menghubungkan

tekak dengan lambung, 25cm, mulai dari faring sampai pintu masuk

kardiak dibawah ± panjangnya lambung.


12

4. Gaster/Lambung

Lambung merupakan bagian dari saluran yang dapat mengembang

paling banyak terutama di daerah spingter. Lambung terdiri dari bagian

atas fundus uteri berhubungan dengan osofagus melalui orifisium

pilorik, terletak dibawah diafragma didepan pankreas dan limpa,

menempel di sebelah kiri fundus uteri. (4)

5. Usus halus

Merupakan bagian dari sistem pencernaan makanan yang

berpangkal dari pilorus dan berakhir pada sekum, panjangnya ± 6 meter,

merupakan saluran paling panjang tempat proses pencernaan dan

absorbsi hasil pencernaan. (4) Usus halus dibagi tiga bagian, yaitu:

a) Duodenum/Usus 12 jari, panjang ± 25cm berbentuk seperti tapal

kuda melengkung kekiri, bagian kanan duodenum terdapat selaput

lendir yang disebut papilla vateri, disini terdapat muara saluran

empedu dan saluran pankreas. Empedu dibuat dihati untuk

dikeluarkan di duodenum melalui duktus koleduktus yang

fungsinya mengemulsikan lemak dengan bantuan lipase. Pankreas

menghasilkan amilase yang berfungsi mencerna hidrat arang

menjadi disakarida dan tripsin yang berfungsi mencerna protein

menjadi asam amino atau albumin dan polipeptida. (4)

b) Yeyunum/Jejunum, terletak di regio abdominalis media sebelah kiri

dengan panjang ± 2-3 meter. (4)


13

c) Ileum, terletak di regio abdominalis bawah dengan panjang ± 4-5

meter, lekukan yeyenum dan ileum melekat pada dinding abdomen

posterior dengan perantara lipatan peritonium yang berbentuk kipas

atau yang dikenal sebagai mesenterium. (4)

6. Usus besar/Intestinum mayor

Usus besar/Intestinum mayor 1,5m, lebarnya ± 5-6cm. Bagian-

bagian usus besar yaitu kolon asenden panjangnya 13cm, apendik (usus

buntu), kolon tranversum panjangnya ± 38cm, kolon desenden

panjangnya ± 25cm, kolon sigmoid, anus. (4)

7. Peritonium (selaput perut)

Peritonium terdiri dari dua bagian yaitu: peritonium parietal yang

melapisi dinding rongga abdomen dan peritonium viseral yang melapisi

semua organ yang berada dalam rongga abdomen. Fungsi peritonium:

a) Menutupi sebagian dari rongga abdomen dan pelvis.

b) Membentuk pembatas yang halus sehingga organ yang ada dalam

rongga peritonium tidak saling bergesekan.

c) Menjaga kedudukan dan mempertahankan hubungan organ terhadap

dinding posterior abdomen.

d) Kelenjar limfe dan pembuluh darah yang membantu melindungi

terhadap infeksi. (9)


14

Bagian – bagian hernia:

1) Kantong hernia

Pada hernia abdominalis berupa peritoneum parietalis.

Tidak semua hernia memiliki kantong, misalnya hernia

incisional, hernia adiposa, hernia intertitialis.

2) Isi hernia

Berupa organ atau jaringan yang keluar melalui kantong

hernia, misalnya usus, ovarium, dan jaringan penyangga usus

(omentum).

3) Pintu hernia

Merupakan bagian locus minoris resistance yang dilalui

kantong hernia.

4) Leher hernia

Bagian tersempit kantong hernia yang sesuai dengan

kantong hernia. (4)

2.1.3 Etiologi

Hernia dapat terjadi karena lubang embrional yang tidak menutup atau
(8)
melebar, atau akibat tekanan rongga perut yang meninggi. Adapun

beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya hernia antara lain

sebagai berikut:

1. Kongenital

Terjadi akibat prosesus vaginalis peritonium disertai dengan

annulus inguinalis yang cukup lebar, terutama ditemukan pada bayi.


15

Lemahnya dinding rongga perut. Dapat ada sejak lahir atau didapat

kemudian dalam hidup. Adapun penyebab kongenital atau bawaan dapat

dibagi menjadi dua berdasarkan kelainannya:

a) Hernia congenital sempurna. Bayi sudah menderita hernia kerena

adanya defek pada tempat – tempat tertentu. (5)

b) Hernia congenital tidak sempurna. Bayi dilahirkan normal

(kelainan belum tampak) tapi dia mempunyai defek pada tempat-

tempat tertentu (predisposisi) dan beberapa bulan (0 – 1 tahun)

setelah lahir akan terjadi hernia melalui defek tersebut karena

dipengaruhi oleh kenaikan tekanan intraabdominal (mengejan,

batuk, menangis). (4)

2. Prosesus vaginalis yang terbuka, yang disebabkan oleh:

a) Pekerjaan mengangkat barang-barang berat.

b) Batuk kronik, bronchitis kronik, TBC.

c) Hipertropi prostat dan konstipasi.

d) Pekerja keras(4)

3. Kelemahan otot dinding perut, yang disebabkan oleh:

a) Usia tua, sering melahirkan.

b) Perubahan defek setelah appendiktomy(4)

4. Aquisial, aquisial adalah hernia yang terbuka disebabkan karena adanya

defek bawaan tetapi disebabkan oleh fakor lain yang dialami manusia

selama hidupnya, antara lain :


16

a) Tekanan intraabdominal yang tinggi. Banyak dialami oleh pasien

yang sering mengejan yang baik saat BAB maupun BAK. (4)

b) Konstitusi tubuh. Orang kurus cenderung terkena hernia jaringan

ikatnya yang sedikit. Sedangkan pada orang gemuk juga dapat

terkena hernia karena banyaknya jaaringan lemak pada tubuhnya

yang menambah beban kerja jaringan ikat penyokong pada LMR.

c) Banyaknya preperitoneal fat banyak terjadi pada orang gemuk.

d) Distensi dinding abdomen karena peningkatan tekanan intra

abdominal. (4)

2.1.4 Klasifikasi Hernia


(10)
Terdapat pembagian hernia atau klasifikasi hernia. Berikut ini

adalah pembagian atau klasifikasi dari hernia:

1. Hernia Menurut Lokasinya.

a) Hernia inguinalis adalah hernia yang terjadi dilipatan paha. Batang

usus melewati cincin abdomen dan mengikuti saluran sperma

masuk ke dalam kanalis inguinalis. Jenis ini merupakan yang

tersering ditemukan atau terjadi pada pasien dan dikenal dengan

istilah turun berok atau burut. (5)

b) Hernia Scrotalis adalah hernia yang terjadi apabila usus masuk

kedalam kantung scrotum ini terjadi bila batang usus melewati

cincin abdomen dan mengikuti saluran sperma masuk ke dalam

kanalis inguinalis kemudian masuk kedalam kantong scrotum dan

menekan pada isi kantung scrotum sehingga scrotum membesar.


17

c) Hernia umbilikus adalah hernia yang tejadi apabila usus masuk

melalui prosecus discus pada pusat atau sering disebut hernia di

pusat, hernia jenis ini terjadi pada bayi yang baru lahir yang

disebabkan karena kelainaan kongenital. (5)

d) Hernia femoralis adalah hernia yang tejadi apabila usus masuk

melalui prosecus discus di paha. (5)

2. Hernia Menurut Isinya(6)

a) Hernia usus halus adalah hernia yang terjadi bila yang melewati

cincin abdomen adalah usus halus.

b) Henia Omentum

c) Hernia omentum adalah hernia yang terjadi bila yang melewati

cincin abdomen adalah penyangga usus. Omentum adalah berupa

organ atau jaringan yang keluar melalui kantong hernia, misalnya

usus, ovarium, dan jaringan penyangga usus (omentum).

d) Hernia Nukleus Pulposus

e) Adalah jenis hernia yang terjadi apabila, system syaraf pusat atau

sumsum tulang belakang pada vertebra terjepi pada discus

vertebrae terjadi karena trauma yang melibatkan tulang belakang

misalmya jatuh dalam posisi terduduk. (6)


18

3. Hernia Menurut Sifatnya(6)

a) Hernia Reponibel

Isi hernia dapat keluar masuk, usus keluar jika mengejan dan

masuk jika berbaring atau didorong masuk, tidak ada keluhan

nyeri/gejala.

b) Hernia Ireponibel

Kantong hernia tidak dapat dikembalikan ke dalam rongga,

ini disebabkan oleh perlengketan isi kantong pada peritonial.

Penatalaksanaan harus dengan operasi. (6)

c) Hernia Inkaserata/Hernia Stragulata

Isi hernia terjepit oleh cincin hernia/terperangkap, tidak dapat

kembali ke dalam rongga perut. (6)

Bagian – bagian hernia :

1) Kantong hernia

Pada hernia abdominalis berupa peritoneum parietalis. Tidak

semua hernia memiliki kantong, misalnya hernia incisional,

hernia adiposa, hernia intertitialis. (6)

2) Isi hernia

Berupa organ atau jaringan yang keluar melalui kantong hernia,

misalnya usus, ovarium, dan jaringan penyangga usus

(omentum).
19

3) Pintu hernia

Merupakan bagian locus minoris resistance yang dilalui

kantong hernia.

4) Leher hernia

Bagian tersempit kantong hernia yang sesuai dengan kantong

hernia. (6)

2.1.5 Patofisiologi

Pada hernia karena kelainan kongenital yang terjadi bawaan lahir,

kanalis inguinalis dalam kanal yang normal pada fetus. Pada bulan ke – 8

dari kehamilan, terjadinya desensus vestikulorum melalui kanal tersebut.

Penurunan testis itu akan menarik peritoneum ke daerah scrotum sehingga

terjadi tonjolan peritoneum yang disebut dengan prosesus vaginalis

peritonea. Bila bayi lahir umumnya prosesus ini telah mengalami obliterasi,

sehingga isi rongga perut tidak dapat melalui kanalis tersebut. Tetapi dalam

beberapa hal sering belum menutup, karena testis yang kiri turun terlebih

dahulu dari yang kanan, maka kanalis inguinalis yang kanan lebih sering

terbuka. Dalam keadaan normal, kanal yang terbuka ini akan menutup pada

usia 2 bulan. (7)

Bila prosesus terbuka sebagian, maka akan timbul hidrokel. Bila kanal

terbuka terus, karena prosesus tidak berobliterasi maka akan timbul hernia

inguinalis lateralis kongenital. Biasanya hernia pada orang dewasa ini

terjadi karena usia lanjut, karena pada umur tua otot dinding rongga perut
20

melemah. Sejalan dengan bertambahnya umur, organ dan jaringan tubuh

mengalami proses degenerasi. Pada orang tua kanalis tersebut telah

menutup. (7)

Namun karena daerah ini merupakan locus minoris resistance, maka

pada keadaan yang menyebabkan tekanan intraabdominal meningkat seperti

batuk – batuk kronik, bersin yang kuat dan mengangkat barang – barang

berat, mengejan. Kanal yang sudah tertutup dapat terbuka kembali dan

timbul hernia inguinalis lateralis karena terdorongnya sesuatu jaringan

tubuh dan keluar melalui defek tersebut. Akhirnya menekan dinding rongga

yang telah tertekan akibat trauma, hipertropi prostat, asites, kehamilan,

obesitas dan kelainan kongenital dan dapat terjadi pada semua. Pria lebih

banyak dari wanita, karena adanya perbedaan proses perkembangan alat

reproduksi pria dan wanita semasa janin. (7)

Potensial komplikasi terjadi perlengketan antara isi hernia dengan

dinding kantong hernia sehingga isi hernia tidak dapat dimasukkan kembali.

Terjadi penekanan terhadap cincin hernia, akibat semakin banyaknya usus

yang masuk, cincin hernia menjadi sempit dan menimbulkan gangguan

penyaluran isi usus. Timbulnya edema bila terjadi obtruksi usus yang

kemudian menekan pembuluh darah dan kemudian terjadi nekrosis. Bila

terjadi penyumbatan dan perdarahan akan timbul perut kembung, muntah,

konstipasi. Bila inkarserata dibiarkan, maka lama kelamaan akan timbul

edema sehingga terjadi penekanan pembuluh darah dan terjadi nekrosis.


21

Juga dapat terjadi bukan karena terjepit melainkan ususnya terputar. Bila isi

perut terjepit dapat terjadi shock, demam, asidosis metabolik, abses. (7)

Komplikasi hernia tergantung pada keadaan yang dialami oleh isi

hernia. Antara lain obstruksi usus sederhana hingga perforasi (lubangnya)

usus yang akhirnya dapat menimbulkan abses lokal, fistel atau peritonitis.

Hernia eksternal merupakan protrusi abnormal organ intra-abdominal

melewati defek faskia pada dinding abdominal. Hernia yang sering terjadi

adalah inguinal, femoral, umbilical, dan paraumbilikal. (7)

Hernia indirek bersifat congenital dan disebabkan oleh kegagalan

penutupan prosesus vaginalis (kantong hernia) sewaktu turun ke dalam

skrotum. Kantong yang dihasilkan bisa meluas sepanjang kanalis inguinalis;

jika meluas kedalam skrotum maka disebut hernia lengkap. Karena

processus vaginalis terletak didalam funikulus spermatikus, maka prosessus

ini dikelilingi oleh muskulus kremater dan dibentuk oleh pleksus venosus

pampiniformis, duktus spermatikus dan arteria spermatika. Lubang interna

ke dalam kavitas peritonealis selalu lateral terhadap arteria epigastrica

profunda dngan adanya hernia inguinalis indirek, sedangkan lubang interna

medial terhadap pembuluh darah ini bila hernianya direk.(12)

Hernia inguinalis dan scrotalis sering timbul pada pria dan lebih sering

pada sisi kanan dibandingkan sisi kiri. Peningkatan tekanan intra abdomen

akibat berbagai sebab, yang mencakup pengejanan yang mendadak, gerak

badan yang terlalu aktif, obesitas, batuk menahun, asites, mengejan pada
22

waktu buang air besar, kehamilan dan adanya massa abdomen yang besar,

mempredisposisi pasien ke perkembangan hernia. (7)

Peningkatan tekanan intra abdomen ini akan mendorong bagian dari

usus dan lambung ke dalam kanalis ini, atau bahkan kedalam scrotum.

Faktor yang dipandang berperan kausal adalah adanya prosesus vaginalis

yang terbuka, dan kelemahan otot dinding perut karena usia. Proses

turunnya testis mengikuti prosesus vaginalis. Pada neonatus kurang lebih

90% prosesus vaginalis tetap terbuka sedangkan pada bayi umur satu tahun

sekiar 30% prosesus vaginalis belum tertutup. Tetapi kejadian hernia pada

umur ini hanya beberapa persen. Tidak sampai 10% anak dengan prosesus

vaginalis paten menderita hernia. Pada anak dengan hernia unilateral dapat

dijumpai prosesus vaginalis paten kontralateral lebih dari separo, sedangkan

insidens hernia tidak melebihi 20%. Umumnya disimpulkan bahwa adanya

prosesus vaginalis yang paten bukan merupakan penyebab tunggal

terjadinya hernia tetapi diperlukan faktor lain seperti anulus ingunalis yang

cukup besar. (7)

Tekanan intraabdomen yang meninggi secara kronik seperti batuk

kronik, hipertrofi prostat, konstipasi, dan asites sering disertai hernia

ingunalis. (7)

Insidens hernia meningkat dengan bertambahnya umur mungkin

karena meningkatnya penyakit yang meninggikan tekanan intraabdomen

dan jaringan penunjang berkurang kekuatannya. (7)


23

Dalam keadaan relaksasi otot dinding perut, bagian yang membatasi

anulus internus turut kendur. Sebaliknya bila otot dinding perut

berkontraksi, kanalis inguinalis berjalan lebih transversal dan anulus

inguinalis tertutup sehingga dapat mencegah masuknya usus kedalam

kanalis inguinalis. Kelemahan otot dinding perut antara lain terjadi akibat

kerusakan N.Ilioinguinalis dan N.Iliofemoralis setelah apendektomi. (7)

Jika kantong hernia inguinalis lateralis mencapai skrotum disebut

hernia skrotalis. Hernia ini disebut lateralis karena menonjol dari perut

lateral pembuluh epigastrika inferior. Disebut indirek karena keluar melalui

dua pintu dan saluran yaitu anulus dan kanalis inguinalis; berbeda dengan

hernia medialis yang langsung menonjol melalui segitiga Hesselbach dan

disebut sebagai hernia direk. (7)

Pada pemeriksaan hernia lateralis, akan tampak tonjolan berbentuk

lonjong sedangkan hernia medial berbentuk tonjolan bulat. Pada bayi dan

anak, hernia lateralis disebabkan oleh kelainan bawaan berupa tidak

menutupnya prosesus vaginalis peritonium sebagai akibat proses penurunan

testis ke skrotum. Hernia geser dapat terjadi disebelah kanan atau kiri.

Sebelah kanan isi hernia biasanya terdiri dari sekum dan sebagian kolon

asendens, sedangkan sebelah kirinya terdiri dari sebagian kolon desendens.

Pada umumnya keluhan pada orang dewasa berupa benjolan di lipat paha

yang timbul pada waktu mengedan, batuk, atau mengangkat beban berat,

dan menghilang waktu istirahat baring. Pada bayi dan anak-anak adanya

benjolan yang hilang timbul di lipat paha biasanya diketahui oleh orang tua.
24

Jika hernia mengganggu dan anak atau bayi sering gelisah, banyak

menangis dan kadang-kadang perut kembung, harus dipikirkan

kemungkinan hernia strangulata. (7)

Defek pada dinding abdomen dapat kongenital (misalnya: hernia

umbilikalis, kanalis femoralis) atau didapat (misalnya akibat suatu insisi)

dan dibatasi oleh peritoneum (kantung). Peningkatan tekanan intraabdomen

lebih lanjut membuat defek semakin lemah dan menyebabkan beberapa isi

intraabdomen (misalnya: omentum, lengkung usus halus), keluar melalui

celah tersebut. Isi usus yang terjebak di dalam kantung menyebabkan

inkarserasi (ketidakmampuan untuk mengurangi isi) dan kemungkinan

strangulasi (terhambatnya aliran darah ke daerah yang mengalami

inkarserasi). (7)

Pasien datang dengan benjolan di tempat lokasi hernia. Hernia

femoralis berada di bawah dan lateral dari tuberkulum pubikum. Biasanya

hernia ini mendatarkan garis-garis kulit di lipatan paha dan 10 kali lebih

sering terjadi pada wanita dibandingkan pria. 50% kasus merupakan kasus

kegawatdaruratan bedah akibat terobstruksinya isi hernia dan 50% dari

kasus ini membutuhkan reseksi usus halts. Hernia femoralis tidak dapat

dikembalikan ke tempat semula (irreducible). Hernia inguinalis dimulai

pada bagian atas dan medial terhadap tuberkulum pubikum namun dapat

turun lebih luas jika membesar, biasanya mempertegas garis-garis lipatan

paha. Sebagian besar ringan dan jarang mengalami komplikasi. (8)


25

2.1.6 Pathway

Gambar 1. Pathway Hernia inguinalis (9)


26

2.1.7 Manifestasi Klinis

Pada kebanyakan kasus hernia, tanda dan gejala yang sering muncul

pada pasien yang dapat ditemui antara lain:

1. Berupa benjolan keluar masuk/keras

2. Adanya rasa nyeri pada daerah benjolan

3. Terdapat gejala mual dan muntah atau distensi bila telah ada komplikasi.

4. Terdapat keluhan kencing berupa disuria pada hernia femoralis yang

berisi kandung kencing. (10)

Hernia yang tak memperlihatkan gejala-gejala diketemukan pada

waktu pemeriksaan rutin. Suatu penonjolan atau gumpalan pada skrotum,

dan pada waktu batuk dan defekasi penonjolan semakin menonjol. Juga

pada waktu meningkat sesuatu atau kegiatan fisik lainnya. Pada beberapa

kasus tertentu massa menjulur sampai ke dalam skrotum, daerah pangkal

paha terasa tidak enak, terutama kalau hernia membesar. (15)

1. Suatu massa di daerah pangkal paha, reponibel atau inkarserata, kadang-

kadang sampai ke daerah skrotum. Pada bayi dan wanita adanya masa

itu satu-satunya tanda yang ada. Hernia kecil yang tak memperlihatkan

gejala tak akan terlihat dari luar.

2. Pada anak laki yang lebih besar dan pria, maka harus dilakukan

penanganan sebagai berikut. Skrotum dimasuki jari telunjuk dan jari

ditempatkan pada atau melalui annulus inguinalis eksterna. Instrusikan

pada pasien untuk menekan (mengedan) seakan-akan hendak buang air


27

besar. Ini akan meningkatkan tekanan intraabdominal. Kantung hernia

merupakan suatu struktur bagaikan balon yang menekan jari secara

langsung atau dari sisi lateral. Annulus eksterna yang membesar bukan

hernia, meskipun kemungkinan hernia yang menyebabkan pembesaran

itu dan hernia harus dicari dengan cermat kalau annulus cukup besar

sehingga jari telunjuk dapat masuk. Hernia inguinalis paling mudah

diperagakan kalau pasien berdiri tetapi periksalah pasien baik dalam

posisi berdiri maupun dalam posisi telentang. (10)

3. Indirek versus direk. Hernia indirek merupakan suatu massa elips yang

berjalan turun dan miring ke dalam kanal inguinalis. Mungkin akan

masuk ke dalam skrotum. Massa ini menekan sisi lateral jari yang

dipakai untuk memeriksa. Dengan menekan bagian atas annulus interna

dengan satu tangan maka dapat dicegah jangan sampai hernia masuk ke

dalam kanalis inguinalis. (10)

4. Hernia direk adalah suatu massa sferis, yang jarang turun sampai ke

skrotum. Massa itu menekan jari yang memeriksa langsung dari sebelah

depan. Dengan menekan annulus interna dengan tangan kita tak dapat

mengurangi hernia tersebut. (10)

Sebagian besar hernia adalah asimtomatik, dan kebanyakan

ditemukan pada pemeriksaan fisik rutin dengan palpasi benjolan pada

annulus inguinalis superfisialis atau suatu kantong setinggi annulus

inguinalis profundus. Yang terakhir dibuat terasa lebih menonjol bila pasien

batuk. Salah satu tanda pertama adalah adanya massa dalam daerah
28

inguinalis manapun atau bagian atas skrotum. Dengan berlalunya waktu,

sejumlah hernia turun ke dalam skrotum sehingga skrotum membesar.

Pasien hernia sering mengeluh tidak nyaman dan pegal pada daerah ini,

yang dapat dihilangkan dengan reposisi manual hernia ke dalam kavitas

peritonealis. Tetapi dengan berdiri atau terutama dengan gerak badan, maka

biasanya hernia muncul lagi. (3)

Umumnya pasien pengatakan turun berok, burut atau kelingsir,

mengatakan adanya benjolan di selangkangan/kemaluan. Benjolan tersebut

bisa mengecil atau menghilang pada waktu tidur, dan bila menangis,

mengejan, atau mengangkat benda berat atau bila posisi pasien berdiri dapat

timbul kembali. Bila telah terjadi komplikasi dapat ditemukan nyeri.(5)

Keadaan umum pasien biasanya baik. Bila benjolan tidak nampak,

pasien dapat disuruh mengejan dengan menutup mulut dalam keadaan

berdiri. Bila ada hernia maka akan tampak benjolan. Bila memang sudah

tampak benjolan, harus diperiksakan apakah benjolan tersebut dapat

dimasukkan kembali. Pasien diminta berbaring, bernapas dengan mulut

untuk mengurangi tekanan intraabdominal, lalu skrotum diangkat perlahan-

lahan. Diagnosis pasti hernia pada umumnya sudah dapat ditegakkan

dengan pemeriksaan klinis yang teliti.(5)

Keadaan cincin hernia juga perlu diperiksa. Melalui skrotum jari

telunjuk dimasukkan ke atas lateral dari tuberkulum pubikum. Ikuti

fasikulus spermatikus sampai ke annulus inguinalis internus. Pada keadaan

normal jari tangan tidak dapat masuk. Pasien diminta mengejan dan
29

merasakan apakah ada massa yang menyentuh jari tangan. Bila massa

tersebut menyentuh ujung jari maka itu adalah hernia inguinalis lateralis,

sedangkan bila menyentuh sisi jari maka diagnosisnya adalah hernia

inguinalis medialis.(5)

Pada pasien terlihat adanya massa bundar pada annulus inguinalis

eksterna yang mudah mengecil bila pasien tidur. Karena besarnya defek

pada dinding posterior maka hernia ini jarang sekali menjadi irreponibilis.

Hernia ini disebut direkta karena langsung menuju annulus inguinalis

eksterna sehingga meskipun annulus inguinalis interna ditekan bila pasien

berdiri atau mengejan, tetap akan timbul benjolan. Bila hernia ini sampai ke

skrotum, maka hanya akan sampai ke bagian atas skrotum, sedangkan testis

dan funikulus spermatikus dapat dipisahkan dari massa hernia.

Bila jari dimasukkan dalam annulus inguinalis eksterna, tidak akan

ditemukan dinding belakang. Bila pasien disuruh mengejan tidak akan

terasa tekanan dan ujung jari dengan mudah dapat meraba ligamentum

Cowperi pada ramus superior tulang pubis. Pada pasien kadang-kadang

ditemukan gejala mudah kencing karena buli-buli ikut membentuk dinding

medial hernia. .(5)

Umumnya penderita hernia menyatakan adanya benjolan di kemaluan.

Benjolan itu bisa mengecil atau menghilang, dan bila menangis mengejan

waktu defekasi/miksi, mengangkat benda berat akan timbul kembali. Dapat

pula ditemukan rasa nyeri pada benjolan atau gejala muntah dan mual bila

telah ada komplikasi. .(6)


30

Umumnya klien mengatakan adanya benjolan pada lipatan paha. Pada

bayi dan anak adanya benjolan yang hilang timbul dilipatan paha, dan hal

ini biasanya diketahui oleh orang tuanya. Pada inspeksi, diperhatikan pada

keadaan osimetris pada kedua sisi, lipatan paha, posisi berdiri dan berbaring.

Pada saat batuk dan mengedan biasanya akan timbul benjolan. Pada palpasi,

teraba bising usus, suara omentum (seperti karet).(16)

2.1.8 Pemeriksaan Diagnostik

Meskipun hernia dapat didefinisikan sebagai setiap penonjolan viskus,

atau sebagian daripadanya, melalui lubang normal atau abnormal, 90% dari

semua hernia ditemukan di daerah inguinal. Biasanya impuls hernia lebih

jelas dilihat daripada diraba. (17)

Pasien disuruh memutar kepalanya ke samping dan batuk atau

mengejan. Lakukan inspeksi daerah inguinal dan femoral untuk melihat

timbulnya benjolan mendadak selama batuk, yang dapat menunjukkan

hernia. Jika terlihat benjolan mendadak, mintalah pasien untuk batuk lagi

dan bandingkan impuls ini dengan impuls pada sisi lainnya. Jika pasien

mengeluh nyeri selama batuk, tentukanlah lokasi nyeri dan periksalah

kembali daerah itu. (9)

Palpasi hernia inguinal dilakukan dengan meletakan jari pemeriksa di

dalam skrotum di atas testis kiri dan menekan kulit skrotum ke dalam. Harus

ada kulit skrotum yang cukup banyak untuk mencapai cincin inguinal

eksterna. Jari harus diletakkan dengan kuku menghadap ke luar dan bantal
31

jari ke dalam. Tangan kiri pemeriksa dapat diletakkan pada pinggul kanan

pasien untuk sokongan yang lebih baik. Telunjuk kanan pemeriksa harus

mengikuti korda spermatika di lateral masuk ke dalam kanalis inguinalis

sejajar dengan ligamentum inguinalis dan digerakkan ke atas ke arah cincin

inguinal eksterna, yang terletak superior dan lateral dari tuberkulum

pubikum. Cincin eksterna dapat diperlebar dan dimasuki oleh jari tangan. (9)

Dengan jari telunjuk ditempatkan pada cincin eksterna atau di dalam

kanalis inguinalis, mintalah pasien untuk memutar kepalanya ke samping

dan batuk atau mengejan. Seandainya ada hernia, akan terasa impuls tiba-

tiba yang menyentuh ujung atau bantal jari penderita. Jika ada hernia, suruh

pasien berbaring terlentang dan perhatikanlah apakah hernia itu dapat

direduksi dengan tekanan yang lembut dan terus-menerus pada massa itu.

Jika pemeriksaan hernia dilakukan dengan perlahan-lahan, tindakan ini

tidak akan menimbulkan nyeri.(17)

Setelah memeriksa sisi kiri, prosedur ini diulangi dengan memakai jari

telunjuk kanan untuk memeriksa sisi kanan. Sebagian pemeriksa lebih suka

memakai jari telunjuk kanan untuk memeriksa sisi kanan pasien, dan jari

telunjuk kiri untuk memeriksa sisi kiri pasien. Cobalah kedua teknik ini dan

lihatlah cara mana yang anda rasakan lebih nyaman.(9)

Jika ada massa skrotum berukuran besar yang tidak tembus cahaya,

suatu hernia inguinal indirek mungkin ada di dalam skrotum. Auskultasi

massa itu dapat dipakai untuk menentukan apakah ada bunyi usus di dalam

skrotum, suatu tanda yang berguna untuk menegakkan diagnosis hernia


32

inguinal indirek. Jika anda menemukan massa skrotum, lakukanlah

transluminasi. Di dalam suatu ruang yang gelap, sumber cahaya diletakkan

pada sisi pembesaran skrotum. Struktur vaskuler, tumor, darah, hernia dan

testis normal tidak dapat ditembus sinar. Transmisi cahaya sebagai

bayangan merah menunjukkan rongga yang mengandung cairan serosa,

seperti hidrokel atau spermatokel. Dalam menegakkan diagnostik pada

penderita hernia dapat dilakukan:

1. Pemeriksaan fisik, pasien diminta untuk mengejan dengan menutup

mulut dalam keadaan berdiri bila ada hernia maka akan tampak

benjolan.(17)

2. Bila sudah ada benjolan dapat diperiksa dengan cara meminta pasien

untuk berbaring bernafas dengan mulut untuk mengurangi tekanan intra

abdominan, lalu scrotum diangkat perlahan-lahan. (17)

3. Limfadenopati inguinal. Perhatikan apakah ada infeksi pada kaki

sesisi.(9)

4. Tindakan diagnostik yaitu :

a. Foto thoraks: Menunjukan adanya massa tanpa udara jika omentum

yang masuk dan massa yang berisi udara jika lambung adalah usus

yang masuk.

b. Laboratorium : Menunjukan adanya peningkatn pada hasil

pemeriksaan SGOT.

c. EKG : Biasanya dilakukan untuk persiapan operasi. (9)


33

2.1.9 Penatalaksanaan

Pada hernia inguinalis lateralis responbilitas maka dilakukan tindakan

bedah efektif karena ditakutkan terjadi komplikasi. Pada yang

iresponbilitas, maka diusahakan agar isi hernia dapat dimasukkan kembali.

Pasien istirahat baring dan dipuasakan atau mendapat diit halus. Dilakukan

tekanan yang kontinyu pada benjolan misalnya dengan bantal pasir. Baik

juga dilakukan kompres es untuk mengurangi pembengkakan. Lakukan

usaha ini berulang-ulang sehingga isi hernia masuk untuk kemudian

dilakukan bedah efektif di kemudian hari atau menjadi inkarserasi. (17)

Pada inkerserasi dan strangulasi maka perlu dilakukan bedah darurat.

Tindakan bedah pada hernia ini disebut herniotomi (memotong hernia dan

herniorafi (menjahit kantong hernia). Pada bedah efektif manalis dibuka, isi

hernia dimasukkan kantong diikat dan dilakukan “bassin plasty” untuk

memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis. Pada bedah darurat, maka

prinsipnya seperti bedah efektif. Cincin hernia langsung dicari dan

dipotong. Usus dilihat apakah vital/tidak. Bila tidak dikembalikan ke rongga

perut dan bila tidak dilakukan reseksi usus dan anastomois end to end. (17)

1. Konservatif

Pengobatan konservatif terbatas pada tindakan melakukan

reposisi dan pemakaian penyangga atau penunjang untuk

mempertahankan isi hernia yang telah direposisi. (7)


34

2. Operatif

Pengobatan operatif merupakan satu-satunya pengobatan hernia

inguinalis yang rasional. Indikasi operasi sudah ada begitu diagnosis

ditegakkan. Prinsip dasar operasi hernia adalah hernioraphy, yang

terdiri dari herniotomi dan hernioplasti. (7)

3. Herniotomi

Pada herniotomi dilakukan pembebasan kantong hernia sampai

ke lehernya. Kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan kalau ada

perlekatan, kemudian direposisi, kantong hernia dijahit-ikat setinggi

mungkin lalu dipotong. (7)

4. Hernioplasti

Pada hernioplasti dilakukan tindakan memperkecil anulus

inguinalis internus dan memperkuat dinding belakang kanalis

inguinalis. Hernioplasti lebih penting artinya dalam mencegah

terjadinya residif dibandingkan dengan herniotomi. Dikenal berbagai

metode hernioplasti seperti memperkecil anulus inguinalis internus

dengan jahitan terputus, menutup dan memperkuat fasia transversa,

dan menjahitkan pertemuan muskulus tranversus internus abdominis

dan muskulus oblikus internus abdominis yang dikenal dengan nama

conjoint tendon ke ligamentum inguinale poupart menurut metode

Bassini, atau menjahitkan fasia tranversa musculus transversus

abdominis, musculus oblikus internus abdominis ke ligamentum

cooper pada metode Mac Vay. Bila defek cukup besar atau terjadi
35

residif berulang diperlukan pemakaian bahan sintesis seperti

mersilene, prolene mesh atau marleks untuk menutup defek. (7)

Dalam melaksanakan tindakan penatalaksanaan pada pasien

dengan hernia maka yang hal-hal yang harus diperhatikan antara lain

adalah prinsip pembedahan:

a) Herniotomi: eksisi kantung hernianya saja untuk pasien anak.

b) Herniorafi: memperbaiki defek, perbaikan dengan pemasangan

jaring (mesh) yang biasa dilakukan untuk hernia inguinalis, yang

dimasukkan melalui bedah terbuka atau laparoskopik. (7)

Setelah dilakukan tindakan pembedahan herniotomy yang harus

diperhatikan adalah perawatan untuk post operasi:

a) Hindari penyakit yang mungkin terjadi yaitu: Perdarahan, Syok,

Muntah, Distensi, Kedinginan, Infeksi, Dekubitus, Sulit buang

air kecil.

b) Observasi keadaan klien.

c) Cek Tanda-tanda vital pasien.

d) Lakukan perawatan luka dan ganti balutan operasi sesuai dengan

jadwal.

e) Perhatikan drainase.

f) Penuhi kebutuhan nutrisi klien.

g) Mobilisasi diri secara dini terutama pada hari pertama dan hari

kedua.
36

1) Perawatan tidur dengan sikap Fowler (sudut 45o - 60o).

2) Hari kedua boleh duduk (untuk herniotomi hari ke-5).

3) Hari ketiga boleh jalan (untuk herniotomi hari ke-7).

h) Diet dan pemenuhan kebutuhan nutrisi:

1) Hari 0: Bila pengaruh obat anestesi hilang boleh diberi

minum sedikit-sedikit

2) Hari 1: Diet Vloiher atau bubur sumsum dan susu cair

(herniotomi diet sama dengan post laparatomi)

3) Hari 2: Diet bubur saring

4) Hari 3: Berturut-turut diet ditingkatkan(7)

2.1.10 Komplikasi dan Dampak Pembedahan Herniotomy

1. Hemtoma (luka atau pada skrotum).

2. Retensi urin akut.

3. Infeksi pada luka.

4. Gangguan aktivitas

5. Nyeri kronis.

6. Nyeri dan pembengkakan testis yang menyebabkan atrofi testis

7. Rekurensi hernia (sekitar 2%).(7)

Dampak post herniotomi terhadap sistem tubuh dan system

kelangsungan aktivitas pasien setelah dilakukan post operasi herniotomy

antara lain adalah sebagai berikut:


37

1. Sistem Gastrointestinal

Pembedahan traktus gastrointestinal sering kali mengganggu

proses fisiologi normal pencernaan dan penyerapan. Mual, muntah

dan nyeri dapat terjadi selama pembedahan ketika digunakan anestesia

spinal. Dan penurunan peristaltik usus ini mengakibatkan distensi

abdomen dan gagal untuk mengeluarkan feses dan flatus. motalitas

gastrointestinal dapat mengakibatkan distensi abdomen dan gagal

untuk mengeluarkan feses dan flatus. (8)

2. Sistem Neurologi

Luka pembedahan mengakibatkan spasme otot dan pembuluh

darah sehingga merangsang pelepasan mediator kimia ( seratonin,

bradikinin, histamin ). Proses ini merangsang reseptor nyeri kemudian

rangsangan ditransmisikan ke thalamus, kortek cerebri sehingga terasa

nyeri. Nyeri akan merangsang RAS ( Retikular Activating Sistem )

stimulus ini menyebabkan sikap terjaga dan berkurangnya stimulus

untuk mengantuk. (8)

3. Sistem Pernapasan

Peningkatan frekuensi nafas dapat terjadi akibat nyeri pada luka

operasi, hal ini merangsang sinyal dari sum-sum tulang belakang yang

dihantarkan melalui dua jalur yaitu Spinal Thalamus Traktus ( STT )

ke Spinal Respiratory Traktus ( SRT ). Dari spinal thalamus traktus

akan dihantarkan ke korteks cerebri sehingga nyeri dipersepsikan,

sedangkan dari spinal respirator, traktus akan dihantarkan ke medula


38

oblongata sehingga mengakibatkan neural inspiratory yang akan

meningkatkan frekuensi pernapasan. Nyeri pada luka operasi dapat

menekan pengembanahan rongga dada dan pasien dapat memerlukan

sangat banyak dorongan untuk beergerak, ambulasi dan bernafas

dalam. (8)

4. Sistem Kardiovaskuler

Pada klien post herniotomi biasanya dapat terjadi peningkatan

denyut nadi, hal ini disebabkan dari rasa nyeri akibat luka operasi

sehingga mengakibatkan medula oblongata untuk meningkatkan

frekuensi pernapasan dan merangsang epineprin sehingga

menstimulasi jantung untuk memompa lebih cepat selain itu juga

dapat terjadi akibat faktor metabolik, endokrin dan keadaan yang

menghasilkan adrenergik sehingga dimanifestasikan peningkatan

denyut nadi.

5. Sistem Integumen

Luka operasi akan mengakibatkan kerusakan kontinuitas

jaringan dan keterbatasan gerak dapat mengakibatkan kerusakan kulit

pada daerah yang tertekan karena sirkulasi perifer terhambat. Akibat

dari keadaan post operatif seperti peradangan, edema dan perdarahan,

sering terjadi pembekakan skrotum setelah perbaikan hernia inguinal

lateral. (8)
39

6. Sistem Muskuloskeletal

Nyeri pada luka operasi timbul akibat terputusnya kontinuitas

jaringan serta adanya spasme otot, terjadi penekanan pada pembuluh

darah yang mengakibatkan metabolisme anaerob sehingga

menghasilkan asam laktat, hal ini mengakibatkan terjadinya gangguan

pergerakan ( otot persendian ) sehingga aktivitas sehari-hari dapat

terganggu. Selain itu nyeri akibat luka operasi dapat mengakibatkan

klien mengalami keterbatasan gerak.

7. Sistem Perkemihan

Terjadinya retensi urine dapat terjadi setelah prosedur

pembedahan. Retensi terjadi paling sering setelah pembedahan pada

rektum, anus dan vagina setelah pembedahan pada abdomen bagian

bawah, penyebabnya diduga adalah spasme spinkter kandung

kemih.(17)

2.2 Tinjauan Teori Manajemen Keperawatan

2.2.1 Pengkajian

Tahap ini merupakan tahap awal dalam proses keperawatan dan

menentukan hasil dari tahap berikutnya. Pengkajian dilakukan secara

sistematis mulai dari pengumpulan data, identifikasi dan evaulasi status

kesehatan klien. (10)

Pengkajian data fisik berdasarkan pada pengkajian abdomen dapat

menunjukan benjolan pada lipat paha atau area umbilikal. Keluhan tentang
40

aktivitas yang mempengaruhi ukuran benjolan. Benjolan mungkin ada

secara spontan atau hanya tampak pada aktivitas yang meningkatkan

tekanan intra abdomen, seperti batuk, bersin, mengangkat berat atau

defekasi. Keluhan tentang ketidaknyamanan. Beberapa ketidaknyamanan

dialami karena tegangan yang meningkatkan tekanan intra abdomen, seperti

batuk, bersin, mengangkat berat atau defekasi. (10)

Keluhan tentang ketidaknyamanan. Beberapa ketidaknyamanan

dialami karena tegangan. Nyeri menandakan strangulasi dan kebutuhan

terhadap pembedahan segera. Selain itu manifestasi obstruksi usus dapat

dideteksi (bising usus, nada tinggi sampai tidak ada mual/muntah).Data

yang diperoleh atau dikaji tergantung pada tempat terjadinya, beratnya,

apakah akut atau kronik apakah berpengaruh terhadap struktur

disekelilingnya dan banyaknya akar saraf yang terkompresi atau tertekan.

Pengkajian secara teoritis yang dapat muncul diantaranya:

1. Aktivitas/Istirahat

Gejala : Riwayat pekerjaan yang perlu mengangkat benda berat,

duduk, mengemudi dalam waktu lama. Membutuhkan

matras/papan yanag keras saat tidur. Penurunan rentang

gerak dari ekstremitas pada salah satu bagian tubuh.

Tidak mampu melakukan aktivitas yang biasa dilakukan.


(11)

Tanda : Atropi otot pada bagian yang terkena. Gangguan dalam

berjalan.
41

2. Eliminasi

Gejala : Konstipasi, mengalami kesulitan dalam defekasi, adanya

inkontinensia atau retensi urine. (11)

3. Integritas Ego

Gejala : Ketakutan akan timbulnya paralisis, ansietas masalah

pekerjaan, finansial keluarga.

Tanda : Tampak cemas, depresi menghindar dari keluarga atau

orang terdekat. (11)

4. Neuro Sensori

Gejala : Kesemutan, kekauan, kelemahan dari tangan atau kaki.

Tanda : Penurunan refleks tendon dalam, kelemahan otot,

hipotonia. Nyeri tekan atau spasme otot pada vertebralis.

Penurunan persepsi nyeri (sensorik). (20)

5. Nyeri/Kenyamanan

Gejala : Nyeri seperti tertusuk pisau yang akan semakin memburuk

dengan adanya batuk, bersin, membengkokan badan,

mengangkat, defekasi, mengangkat kaki atau fleksi pada

leher, nyeri yang tiada hentinya atau adanya episode

nyeri yanag lebih berat secara intermiten. Nyeri yang

menjalar pada kaki, bokong (lumbal) atau bahu/lengan,

kaku pada leher atau servikal. Terdengar adanya suara

‘krek’ saat nyeri bahu timbul/saat trauma atau merasa


42

‘punggung patah’. Keterbatasan untuk mobilisasi atau

membungkuk kedepan.

Tanda : Sikap dengan cara bersandar dari bagian tubuh yang

tekena. Perubahan cara berjalan, berjalan dengan

terpincang-pincang, pinggang terangkat pada bagian

tubuh yang terkena. Nyeri pada palpasi. (11)

2.2.2 Diagnosa Keperawatan Post Operasi

Diagnosa keperawatan yang dapat muncul pada pasien dengan Hernia

Scrotalis pasca operasi antara lain sebagai berikut:

1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan terputusnya konti-

nuitas jaringan dan proses inflamasi luka operasi

2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan adanya keterbatasan rentang

gerak dan ketakutan bergerak akibat dari respon nyeri dan prosedur

infasive.

3. Konstipasi berhubungan dengan immobilisasi sekunder akibat post

operasi dan efek anastesi

4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan akibat

prosedur invasive/ tindakan operatif dan adanya proses inflamasi luka

post operasi

5. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan dan nyeri

akibat terputusnya kontinuitas jaringan akibat prosedur invasive dan

immobilisasi post operasi


43

6. Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan efek tekanan akibat

trauma dan bedah perbaikan/insisi post operasi

7. Resiko tinggi retensi urine yang berhubungan dengan nyeri, trauma dan

penggunaan anestetik selama pembedahan abdomen

8. Kurang pengetahuan klien dan keluarga: potensial komplikasi

Gastrointestinal yang berkenaan dengan adanya hernia post operasi dan

kurangnya informasi. (11)

2.2.3 Intervensi Keperawatan

Dari beberapa diagnosa keperawatan yang dapat muncul pada pasien

dengan Hernia pasca operasi, intervensi pada masing-masing diagnosa

antara lain sebagai berikut:

1. Diagnosa 1 : Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan

terputusnya konti-nuitas jaringan, dan proses inflamasi luka operasi.(11)

Tujuan :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan nyeri dapat

berkurang sampai hilang. (11)

Kriteria hasil :

a. Ekspresi wajah pasien rileks dan tidak menahan nyeri

b. Klien menyatakan nyeri berkurang sampai hilang, skala nyeri

berkurang

c. Tanda–tanda vital dalam batas normal. (11)


44

Intevensi

a. Monitor tanda–tanda vital pasien sesuai kondisi pasien dan jadwal

b. Kaji nyeri meliputi lokasi, frekuensi, kwalitas dan skala nyeri

pasien.

c. Posisikan yang nyaman dengan sokong/tinggikan dengan

ganjal pada posisi anatomi ekstremitas yang sakit dan kurangi

pergerakan dini pada area luka operasi

d. Ajarkan tekhnik relaksasi dan dextrasi nafas dalam untuk

mengurangi nyeri saat nyeri muncul

e. Anjurkan pada keluarga untuk memberikan massase pada area

abdomen yang nyeri tapi bukan area luka operasi.

f. Kolaborasi dengan tim medis dalam program therapy analgetik

Rasional: Program terapi sebagai system kolaboratif dalam

menyelesaikan masalah nyeri.

Rasional :

a. Tanda-tanda vital merupakan pedoman terhadap perubahan pada

kondisi klien dan abnormalitas pada kondisi klien

b. Mengetahui status nyeri pada klien

c. Latihan aktivitas bertahan mengurangi respon nyeri tapi tetap

pertahan kenyamanan klien dan mengurangi rasa nyeri klien

d. Nafas dalam dan tekhnik relaksasi mengurangi nyeri secara

bertahap dan dapat dilakukan mandiri.


45

e. Relaksasi dan pengalihan merupakan rasa mengalihkan rasa nyeri

dan menciptakan kenyamanan klien(11)

2. Diagnosa 2 : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan adanya

keterbatasan rentang gerak dan ketakutan bergerak akibat dari respon

nyeri dan prosedur infasive. (11)

Tujuan :

Intoleransi aktifitas dapat teratasi setelah dilakukan tindakan

keperawatan

Kriteria hasil :

a. Klien tidak lemah

b. Klien dapat melakukan aktifitas secara mandiri

c. Klien tidak takut bergerak lagi dan mau beraktivitas mandiri.

Intervensi

a. Kaji kemampuan klien dalam melakukan aktifitas.

b. Awasi tekanan darah, nadi, pernapasan selama dan sesudah

aktifitas.

c. Bantu klien dalam memilih posisi yang nyaman untuk istirahat dan

tidur.

d. Dorong partisipasi klien dalam semua aktifitas sesuai kemampuan

individual.

e. Dorong dukungan dan bantuan keluarga/orang terdekat dalam

latihan gerak.

f. Berikan lingkungan tenang dan mempertahankan tirah baring.


46

g. Bantu aktifitas atau ambulasi pasien sesuai dengan kebutuhan

h. Memperbaiki kondisi klien(11)

Rasional:

f. Mempengaruhi pilihan intervensi/bantuan.

g. Manifestasi kardiopulmonal dari upaya jantung dan paru untuk

membawa jumlah oksigen adekuat ke jaringan

h. Membantu klien seperlunya dalam latihan beraktivitas

i. Melatih klien untuk beraktivitas secara mandiri dan meningkatkan

kemampuan klien.

j. Melatih klien beraktivitas dan kemandirian klien dalam memenuhi

kebutuhan sehari-hari

k. Meningkatkan kenyaman dan kecemasan klien.

l. Meningkatkan kemandirian klien dalam beraktivitas(11)

3. Diagnosa 3 : Konstipasi berhubungan dengan immobilisasi sekunder

akibat post operasi dan efek anastesi(11)

Tujuan :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan klien dapat BAB

secara rutin dan tidak terjadi konstipasi

Kriteria hasil :

a. Pasien bisa BAB minimal 1x dalam sehari

b. Konsistensi feses lunak

c. Nyeri berkurang saat BAB.

d. Tidak ada penumpukan masa feses pada abdomen


47

Intervensi

a. Kaji dan observasi adanya kesulitan BAB dan masalah dalam BAB

pasien

b. Anjurkan pasien untuk alih posisi tiap 2 jam sekali

c. Anjurkan pada pasien untuk minum banyak 1500–3000cc tiap hari

dan makanan yang mengandung serat.

d. Anjurkan pada pasien makan makanan yang lunak porsi sedikit-

sedikit tapi sering

e. Kaji peristaltik usus setiap pagi dan sesuai kondisi klien

f. Anjurkan pasien menghindari mengejan saat BAB

Rasional:

Mengetahui masalah dan hambatan dalam pola eliminasi klien

a. Meningkatkan peristaltik usus dan meningkatkan kemampuan BAB

b. Asupan cairan memungkinkan feses lunak dan klien dapat

melakukan BAB

c. Makanan yang lunak dan berserat sangat mudah dicerna sehingga

system pencernaan membaik dan klien mampu BAB

d. Peningkatan peristaltic usus mengidentifikasikan adanya

kelancaran dalam metabolisme pencernaan

e. Rasional: Mengejan saat BAB meningkatkan rasa nyeri pada klien.

4. Diagnosa 4 : Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma

jaringan akibat prosedur invasive/ tindakan operatif dan adanya proses

inflamasi luka post operasi(11)


48

Tujuan :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan infeksi tidak

terjadi.

Kriteria hasil :

a. Tidak terdapat tanda-tanda infeksi seprti pada luka operasi terdapat

pus dan kemerahan, oedem.

b. Tanda–tanda vital dalam batas normalLaboratorium leukosit, dan

hemoglobin normal.

c. Luka kering dan menunjukan penyembuhan(11)

Intervensi

a. Observasi tanda–tanda vital pasien sesuai kondisi pasien.

b. Kaji adanya tanda–tanda infeksi dan peradangan meliputi adanya

kemerahan sekitar luka dan pus pada luka operasi.

c. Lakukan medikasi luka steril/bersih tiap hari.

d. Pertahankan tekhnik aseptic antiseptik/kesterilan dalam perawatan

luka dan tindakan keperawatan lainnya.

e. Jaga personal hygiene pasien.

f. Manajemen kebersihan lingkungan pasien.

g. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian therapy antibiotik

Rasional:

a. Tanda-tanda vital merupakan pedoman terhadap perubahan pada

kondisi klien dan abnormalitas pada kondisi klien


49

b. Adanya kemerahan, oedem, pus, dan rasa panas pada luka

merupakan adanya infeksi pada luka operasi

c. Mensterilkan luka dan menjaga luka agar tetap steril/tidak infeksi

dan cepat sembuh.

d. Meningkatkan penyembuhan dan menghindari infeksi pada luka

operasi.

e. Meningkatkan sterilan pada luka dan personal hygiene klien

f. Agar ruangan tetap steril

g. Mempercepat penyembuhan luka agar tidak terjadi infeksi.

5. Diagnosa 5 : Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan

kelemahan dan nyeri akibat terputusnya kontinuitas jaringan akibat

prosedur invasive dan immobilisasi post operasi. (11)

Tujuan :

Kerusakan mobilitas fisik dapat berkurang setelah dilakukan tindakan

keperawatan.

Kriteria hasil :

a. Meningkatkan mobilitas pada tingkat paling tinggi yang mungkin

b. Mempertahankan posisi fungsional

c. Meningkatkan kekuatan/fungsi yang sakit

d. Menunjukkan tehnik mampu melakukan aktivitas

Intervensi :

a. Pertahankan tirah baring dalam posisi yang diprogramkan

b. Tinggikan ekstrimitas yang sakit


50

c. Instruksi klien/bantu dalam latihan rentang gerak pada ekstremitas

yang sakit dan tak sakit.

d. Jelaskan pandangan dan keterbatasan dalam aktivitas

e. Berikan dorongan pada pasien untuk melakukan aktifitas dalam

lingkup keterbatasan dan beri bantuan sesuai kebutuhan. Awasi

tekanan darah, nadi dengan melakukan aktivitas

f. Ubah posisi secara periodic tiap 2 jam

Rasional:

a. Tirah baring mengistirahatkan muskuloskelektal sehingga aktivitas

bertahap tidak kelelahan

b. Sebagai relaksasi mmengurangi rasa nyeri dan kenyamanan

mobilitas fisik

c. Latihan secara bertahap dapat meningkatkan kemandirian klien

dalam beraktivitas.

d. Keterbatasan gerak dapat dimanfaatkan untuk istirahat dan

kenyamanan klien dan latihan bertahap dapat meningkatkan

kemampuan klien dalam beraktivitas.

e. Untuk meningkatkan kemandirian klien dalam beraktivitas dan

mobilisasi, latihan secara bertahap menghindari kelelahan dan

injury

f. Meningkatkan kenyamanan dan keamanan klien dan mencegah

dekubitus.
51

6. Diagnosa 6 : Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan efek

tekanan akibat trauma dan bedah perbaikan/insisi post operasi. (11)

Tujuan :

Kerusakan integritas jaringan dapat diatasi setelah tindakan perawatan.

Kriteria hasil :

a. Penyembuhan luka sesuai waktu

b. Tidak ada laserasi, integritas kulit baik

Intervensi :

a. Kaji ulang integritas luka dan observasi terhadap tanda infeksi atau

drainage.

b. Monitor tanda-tanda vital dan suhu tubuh pasien

c. Lakukan perawatan pada luka operasi sesuai dengan jadwal

d. Lakukan alih posisi dengan sering pertahankan kesejajaran tubuh

e. Pertahankan sprei tempat tidut tetap kering dan bebas kerutan

f. Gunakan tempat tidur busa atau kasut udara sesuai indikasi

g. Kolaborasi pemberian antibiotic

Rasional:

a. Untuk mengetahui tingkat kerusakan integritas kulit dan derajat

keparahan.

b. Tanda-tanda vital untuk memonitor keadaan dan perubahan status

kesehatan klien

c. Mencegah keparahan dan memperbaiki jaringan kulit yang rusak

d. Menghindari dekubitus
52

e. Menghindari adanya decubitus pada klien

f. Menghindari adanya decubitus pada klien

g. Mempercepat proses penyembuhan luka operasi dan decubitus.

7. Diagnosa 7 : Resiko tinggi retensi urine yang berhubungan dengan

nyeri, trauma dan penggunaan anestetik selama pembedahan abdomen.


(11)

Tujuan :

Tidak terjadi retensi urine dan klien mampu memenuhi keutuhan

eliminasi urine dan tidak nyeri saat BAK.

Kriteria hasil :

a. Dalam 8-10 jam pembedahan, pasien berkemih tanpa kesulitan.

b. Haluaran urine  100 ml setiap berkemih dan adekuat (kira-kira

1000-1500 ml) selama periode 24 jam.

Intervensi :

a. Kaji dan catat distensi suprapubik atau keluhan pasien tidak dapat

berkemih.

b. Pantau haluaran urine dan endapan darah pada urine

c. Anjurkan klien BAB agar tigak mengejan

d. Lakukan bleder training

Rasional :

a. Untuk mengetahui masalah dan kelainan dalam pola eliminasi urine

klien
53

b. Mengetahui jumlah urine yang keluar mencegah adanya dehidrasi

dan overhidrasi dan masalah dalam pola eliminasi klien

c. Mengejan saat BAK akan meningkatkan rasa nyeri

d. Untuk meningkatkan kemandirian dalam eliminasi urine

8. Diagnosa 8 : Kurang pengetahuan klien dan keluarga: potensial

komplikasi Gastrointestinal yang berkenaan dengan adanya hernia post

operasi dan kurangnya informasi(11)

Tujuan:

Keluarga mampu merawat mengenal masalah hernia dan pencegahan

komplikasi dan perawatan pasien post operasi.

Kriteria hasil:

a. Keluarga mampu menyebutkan mengenai masalah hernia.

b. Keluarga mampu menyebutkan perawatan hernia.

Intervensi:

a. Kaji pengetahuan keluarga tentang pengertian, tanda gejala,

penyebab dan perawatan hernia.

b. Diskusikan dengan keluarga tentang komplikasi hernia.

c. Evaluasi semua hal yang telah dilakukan bersama keluarga.

d. Beri penyuluhan pada klien dan keluarga tentang penyakit hernia

Rasional :

a. Mengetahui tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang

penyakit yang diderita klien


54

b. Agar keluarga memahami bagaimana pencegahan komplikasi dan

perawatan setelah operasi

c. Agar keluarga memahami bagaimana pencegahan komplikasi dan

perawatan setelah oparasi

2.2.4 Implementasi Keperawatan

Pelaksanaan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai

tujuan spesifik. Tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan

disusun dan ditujukan pada nursing orders untuk membantu klien mencapai

tujuan yang diharapkan. (10)

Pelaksanaan tindakan kepewaratan pada klien dengan post op hernia

inguinalis dilakukan sesuai dengan perencanaan keperawatan yang telah

ditentukan, dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan pasien secara

optimal. Pelaksanaan adalah pengolahan dan perwujudan dari rencana

keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan. (11) Jenis tindakan:

1. Mengkaji nyeri meliputi lokasi, frekuensi, kwalitas dan skala nyeri

pasien.

2. Mengawasi tekanan darah, nadi, pernapasan selama dan sesudah

aktifitas.

3. Mengkaji peristaltik usus setiap pagi dan sesuai kondisi klien

4. Mengkaji adanya tanda–tanda infeksi dan peradangan meliputi adanya

kemerahan sekitar luka dan pus pada luka operasi.

5. Mempertahankan tirah baring dalam posisi yang diprogramkan


55

6. Mengkaji ulang integritas luka dan observasi terhadap tanda infeksi atau

drainage. (11)

2.2.5 Evaluasi Keperawatan

Evaluasi adalah intelektual untuk melengkapi proses asuhan

keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan,

rencana tindakan, dan pelaksanaanya yang berhasil dicapai. Meskipun

evaluasi diletakkan pada akhir asuhan keperawatan, evaluasi merupakan

bagian integral pada setiap tahap asuhan keperawatan. (22)

Setelah data dikumpulkan tentang status keadaan klien maka perawat

memebandingkan data dengan outcomes. Tahap selanjutnya adalah

membuat keputusan tentang pencapaian klien outcomes, ada 3

kemungkinan keputusan tahap ini :

1. Klien telah mencapai hasil yang ditentukan dalam tujuan.

2. Klien masih dalam catatan hasil yang ditentukan.

3. Klien tidak dapat mencapai hasil yang ditentukan.


56

BAB III

TINJAUAN KASUS

3.1 Pengkajian

3.1.1 Identitas Pasien

a. Klien

Nama : Tn. W

Umur : 60 tahun

Jenis kelamin : laki – laki

Pendidikan : SMP

Pekerjaan ; Wiraswasta

Agama : Islam

Suku /Bangsa : Jawa /Indonesia

Alamat : Jepara lor Cirebon

No. Medrex : 992113

Ruangan : PS.3

Dx. Medis ; Hernia

Tanggal Masuk : 6.01.2018

Tanggal Pengkajian : 7.01.2018

b. Penanggung Jawab

Nama : Tn. F

Usia : 26 Tahun

56
57

Jenis Kelamin : Laki – laki

Pendidikan : SMA

Agama : Islam

Alamat : Jepara lor Cirebon

Hubungan : Anak Kandung

3.1.2 Keluhan Utama

Klien mengeluh nyeri pada luka post op

3.1.3 Riwayat Kesehatan

1. Riyawat Kesehatan Sekarang

Klien mengeluh nyeri pada luka post operasi, dengan skala nyeri 7-10,

kualitas nyeri seperti berdenyut, intensitas terus menerus, karakteristik

nyeri setempat, nyeri timbul pada saat ganti pembalut ditekan, klien

tampak meringis kesakitan, klien mengatakan jika melakukan

pergerakan atau perubahan posisi dan akan berkurang, jika klien

beristirahatatau diberikan obat analgesik, klien mengeluh kakinya

tidak dapat digerakan karena takut jahitan operasinya lepaskalau

banyak bergerak dan klien beserta keluarganya banyak bertanya

tentang perawatan luka operasi dirumah karena klien dan keluarga

kurang tahu tentang perawatan luka operasi.

P: Nyeri dirasakan berat pada saat klien menggerakan kakinya

dan nyeri berkurang pada saat tidak bergerak

Q: Nyeri dirasakan pada saat bergerak

R: Gejala dirasakan pada daerah selangkangan


58

S: Skala nyeri 7 dari (0-10)

T: Nyeri dirasakan sebelum dan sesudah klien dioperasi dan

dirasakan sampai saat ini

2. Riwayat Kesehatan Dahulu

- Klien tidak pernah menderita penyakit yang sama

- Klien tidak pernah di rawat di Rumah Sakit

- Klien tidak ada riwayat DM, Hipertensi dan Penyakit Jantung

3.1.4 Data Psikologis

Klien tampak gelisah dan tidak tenang karena takut tidak akan sembuh dan

malu terhadap penyakit yang dideritanya.

3.1.5 Data Sosisal

Klien berhubungan dengan baik dengan anggota keluarga serta

berinteraksi baik dengan tetangga.

3.1.6 Data Spiritual

Klien beragama islam dan klien menjalankan ibadah shalat dalam 5 waktu.

3.1.7 Genogram
59

Keterangan :

: Klien

: Perempuan (Istri)

: Anak Laki - laki

: Anak perempuan

3.1.8 Pola Aktivitas Sehari - hari

No Aktivitas Di Rumah Di RS/ Selama Sakit


1 - Makan

Frekuensi 3 x 1 Sehari 3 x sehari

Porsi 1 Porsi ½ porsi

Lauk Pauk Ikan, ayam, Sayur tempe

tempe
60

2 - Minum

Frekuensi 1500 cc/ hari 1500 cc/ hari

Jenis Minuman Air putih Air putih

3 Eliminasi

- BAB

Frekuensi 1 hari sekali Belum BAB

- Konsistensi Lembek -

Warna Kuning -

- BAK

Frekuensi 4 – 5 / hari Terpasang Kerteter

- Konsistensi Kuning Kuning

Warna ± 1500 cc / hari ± 1500 cc / hari

4 Personal Hygiene

- Cuci Rambut 3x Seminggu Belum cuci rambut

- Gosok Gigi 2x / hari -

- Mandibn 2x / hari Di lap 1 x sehari

5 Istirahat dan Tidur

- Kebiasaan Nonton TV Tidak ada

- Lama Tidur 7-8 jam/ hari 2-3 jam / hari

3.2 Pemeriksaan Fisik

1. Keadaan Umum

Penampilan Umum : Lemah


61

Kesadaran : Compos mentis

GCS 15 E:4 M:6 V:5

Tekanan Darah : 130/ 80 mmHg

Nadi : 80 x/ detik

Suhu Tubuh : 270C

BB/ TB : 55 Kg / 156 Cm

2. Head to Toe

a. Pemeriksaan Kepala

Rambut bersih,pertumbuhan rambut merata, rambut tidak beruban.

b. Pemeriksaan Mata

Bentuk mata dan bola mata simetris, saat rangsangan cahaya

miomis, konjungtiva, tidak anemis, selera tidak ikteria, gerakan

bola mata baik

c. Pemeriksaan Hidung

Bentuksimetris tidak ada kelainan pada hidung, Kebersihan pada

rongga hidung sedikit ada kotoran fungsi pernafasan klien normal

tidak terdapat suara tambahan

d. Pemeriksaan Telinga

Lubang telinga sedikit ada serum, letaknya simetris. Tidak ada

nyeri tekan, fungsi pendengaran klien normal, klien tidak

menggunakan alat bantu pendengaran.


62

e. Pemeriksaan Mulut

Bentuk simetris tidak terjadi lobi akusis yaitu bibir sumbing, tidak

ada keries pada gigi, tidak ada abses dan peradangan

f. Pemeriksaan Leher

Saat di palpasi tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada

nyeri tekan.

g. Pemeriksaan Dada

Bentuk dada normal, irama pernafasan eupneu pengembangan

dada ikut nafas. Ekspansi data seimbang kiri dan kanan tidak

ateraba adanya masa, tidak ada nyeri tekan. Tidak terdengat adanya

penimbulan cairan. Tidak ada suara bunyi tambahan. Tidak tampak

apx jantung

h. Pemeriksaan Abdomen

Tidak ada lesi, tidak ada nyeri tekan terdapat luka post op pada

perut bagian bawah.

i. Pemeriksaan Ekstremitas

1) Ekstrimitas Atas

- Motorik : Klien menggunakan ekstrimitas, kiri dan kanan

tapi terbatas karena terpasan infus pada tangan kanan

- Refleksi

1. Biceps kiri/ kanan : normal

2. Triceps kiri/ kanan : normal


63

- Sensorik : Tida ada nyeri tekan, sensitif terhadap

rangsangan

2) Ekstrimitas Bawah

- Motorik : Kekuatan otot penuh dan tidak ada luka

- Refleks

1. Patela kanan/ kiri : normal

2. Achilles kanan/ kiri : normal

3. Babinsky kanan/ kiri : normal

- Sensorik

Tidak ada nyeri tekan, sensitif pada rangsangan suhu

j. Pemeriksaan Genetalia

Terpasang Kateler

3.3 Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan Satuan


HEMATOLOGI

Hemoglobin 14,4 12 – 15 g/ dl

Lekosit 9180 4500 – 13000 /ul

Trombosit 244 150- 400 10^3/uL

Eritrosit 4,88 4,5 – 5,8 10^6/uL

Hematokrit 43,6 37 – 54 %

MCV 89,3 82 – 98 Mikreo M3

McH 29,6 27 – 34 Pg
64

McHc 33,2 32 – 36 G / dL

KOLU CV 35 – 56 %

KOLU SD

Bleeding Time 1’30” 1–3 Menit detik

Clotting Time 3’30 2–6 Menit detik

KIMIA KLINIK

Glukosa sewaktu 76 70 – 140 Mg/ dL

Sgot 31 0 – 50 u/L

SGPT 25 0 – 50 u/L

Ureum 20,4 15 – 45 mg /dL

Kreatinin 0,79 0,62 – 1,1 mg/ dL

3.4 Terapi Medis

No Terapi Dosis Rute


1 Ketoroloks 2ml/ gr IV

2 Ranitidin 3 m/ gr IV

3 CepoFbxacine 250 mg tablet


65

3.5 Analisa Data

NO. DATA ETIOLOGI MASALAH

1. DS : Herniasi usus pada Gangguan rasa

a. Klien mengeluh nyeri pada scrotum nyaman nyeri

luka post operasi, dengan  berhubungan

skala nyeri 7-10, kualitas Proses pembedahan/ dengan

nyeri seperti berdenyut, mengembalikan terputusnya konti-

intensitas terus menerus, herniasi keposisi nuitas jaringan,

karakteristik nyeri semula dan proses

setempat, nyeri timbul pada  inflamasi luka

saat ganti pembalut Terputusnya operasi.

ditekan, klien tampak kontinuitas jaringan

meringis kesakitan, abdomen

b. Klien mengatakan luka 

operasi terasa pedih dan Proses inflamasi

panas 

c. Pada pengkajian nyeri, saat Peningkatan

di berikan pilihan rentang Nociceptor/ rangsang

nyeri 1–10 pasien nyeri

mengungkapkan nyerinya 

pada angka 7. Nyeri akut


66

DO :

a. Ekspresi wajah klien

tampak menahan nyeri.

b. Skala nyeri 7 (sedang)

c. Pasien tampak memegangi

bagian perut dan tampak

hati–hati dalam melakukan

pergerakan.

d. Pada abdomen klien

terdapat luka operasi pada

kuadran abdomen bagian

bawah tepatnya dibawah

umbilicus atas shimpisis

pubis, panjang luka kurang

lebih 7cm terdapat jahitan

simpul sebanyak 10

simpul, keadaan luka

bersih tidak terdapat pus.

S: 370 C

N : 72x/mnt

RR : 34x/ Menit

TD : 120/ 90 mmHg
67

2. DS : Cidera jaringan/ Intoleransi

a. Klien mengatakan takut prosedur Infasive aktivitas

bergerak dan beraktivitas  berhubungan

karena luka akan terasa Peningkatan rangsang dengan adanya

nyeri saat beraktivitas nociceptor keterbatasan

b. Keluarga klien mengatakan  rentang gerak dan

semua aktivitas klien Nyeri ketakutan

seperti makan, minum dan  bergerak akibat

kebersihan diri dibantu Ketakutan bergerak dari respon nyeri

oleh orang tua.  dan prosedur

DO : Malaise infasive.

a. Pasien tampak lemah. 

b. Pasien menggunakan Keterbatasan rentang

ekstrimitas, kiri dan kanan gerak

tapi terbatas karena 

terpasang infus pada Intolerasi

tangan kanan.

c. Untuk memenuhi ADLnya

pasien dibantu oleh

keluarga dan perawat.

3. DS : Adanya proses Resiko tinggi

Pasien mengatakan luka terasa inflamasi luka post infeksi

panas dan pedih. operasi berhubungan


68

DO :  dengan trauma

a. Pada abdomen klien Terpapar organisme jaringan akibat

terdapat luka operasi pada luar prosedur invasive/

kuadran abdomen bagian  tindakan operatif

bawah tepatnya dibawah Rubor, dollor kalor dan adanya proses

umbilicus atas shimpisis dan Pus pada luka inflamasi luka

pubis, panjang luka  post operasi

kurang lebih 7cm terdapat Resiko infeksi

jahitan simpul sebanyak

10 simpul dan luka

tertutup kassa steril.

b. Keadaan luka bersih tidak

terdapat pus dan tidak

oedem, luka teraba agak

hangat dan luka agak

kemerahan.

c. Pemeriksaan leukosit:

10.200/ul.

d. Suhu : 370 C
69

3.6 Diagnosa Keperawatan

1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan terputusnya konti-

nuitas jaringan, dan proses inflamasi luka operasi.

2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan adanya keterbatasan rentang

gerak dan ketakutan bergerak akibat dari respon nyeri dan prosedur

infasive.

3. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan akibat

prosedur invasive/ tindakan operatif dan adanya proses inflamasi luka

post operasi

3.7 Intervensi Keperawatan

Tujuan dan Kriteria


No. Diagnosa Kep. Rencana Tindakan Paraf
Hasil
1. Gangguan rasa Tujuan : a. Monitor tanda–tanda vital

nyaman nyeri 1) Setelah dilakukan pasien sesuai kondisi

berhubungan tindakan pasien dan jadwal

dengan keperawatan b. Kaji nyeri meliputi lokasi,

terputusnya diharapkan nyeri frekuensi, kwalitas dan

konti-nuitas dapat berkurang skala nyeri pasien.

jaringan, dan sampai hilang. c. Posisikan yang nyaman

proses inflamasi Kriteria hasil: dengan sokong/tinggikan

luka operasi. dengan ganjal pada posisi

anatomi ekstremitas yang


70

1) Ekspresi wajah sakit dan kurangi

pasien rileks dan pergerakan dini pada area

tidak menahan nyeri luka operasi

2) Klien menyatakan d. Ajarkan tekhnik relaksasi

nyeri berkurang dan dextrasi nafas dalam

sampai hilang, skala untuk mengurangi nyeri

nyeri berkurang saat nyeri muncul

3) Tanda–tanda vital e. Anjurkan pada keluarga

dalam batas normal. untuk memberikan

massase pada area

abdomen yang nyeri tapi

bukan area luka operasi.

f. Kolaborasi dengan tim

medis dalam

program therapy analgetik

Rasional: Program terapi

sebagai system kolaboratif

dalam menyelesaikan

masalah nyeri.

2. Intoleransi Tujuan : a. Kaji kemampuan klien

aktivitas 1) Intoleransi aktifitas dalam melakukan

berhubungan dapat teratasi setelah aktifitas.

dengan adanya
71

keterbatasan dilakukan tindakan b. Awasi tekanan darah,

rentang gerak keperawatan nadi, pernapasan selama

dan ketakutan Kriteria hasil: dan sesudah aktifitas.

bergerak akibat 1) Klien tidak lemah c. Bantu klien dalam

dari respon nyeri 2) Klien dapat memilih posisi yang

dan prosedur melakukan aktifitas nyaman untuk istirahat

infasive. secara mandiri dan tidur.

3) Klien tidak takut d. Dorong partisipasi klien

bergerak lagi dan dalam semua aktifitas

mau beraktivitas sesuai kemampuan

mandiri. individual.

e. Dorong dukungan dan

bantuan keluarga/orang

terdekat dalam latihan

gerak.

f. Berikan lingkungan

tenang dan

mempertahankan tirah

baring.

g. Bantu aktifitas atau

ambulasi pasien sesuai

dengan kebutuhan

h. Perbaiki kondisi klien


72

3. Resiko tinggi Tujuan : a. Observasi tanda–tanda

infeksi 1) Resiko tinggi infeksi vital pasien sesuai kondisi

berhubungan berhubungan dengan pasien.

dengan trauma trauma jaringan b. Kaji adanya tanda–tanda

jaringan akibat akibat prosedur infeksi dan peradangan

prosedur invasive/ tindakan meliputi adanya

invasive/ operatif dan adanya kemerahan sekitar luka

tindakan proses inflamasi dan pus pada luka operasi.

operatif dan luka post operasi c. Lakukan medikasi luka

adanya proses Kriteria Hasil : steril/bersih tiap hari.

inflamasi luka 1) Tidak terdapat d. Pertahankan tekhnik

post operasi tanda-tanda infeksi aseptic antiseptik /

seprti pada luka kesterilan dalam

operasi terdapat pus perawatan luka dan

dan kemerahan, tindakan keperawatan

oedem. lainnya.

2) Tanda–tanda vital e. Menjaga personal

dalam batas hygiene pasien.

normalLaboratorium f. Memanajemen

leukosit, dan kebersihan lingkungan

hemoglobin normal. pasien.


73

3) Luka kering dan g. kolaborasi dengan tim

menunjukan medis dalam pemberian

penyembuhan therapy antibiotik

3.8 Implementasi Keperawatan

Hari ke -1

Diagnosa
No Tanggal Tindakan Keperawatan Hasil Paraf
Keperawatan
.
1. 8 Januari Gangguan rasa a. Mengkaji tanda– a. Tanda vital

2018 nyaman nyeri tanda vital pasien dalam batas

Pkl berhubungan sesuai kondisi nornal :

08.00Wib dengan pasien dan jadwal S: 370 C

Respon terputusnya b. Mengkaji nyeri N : 72x/mnt

Pkl konti-nuitas meliputi lokasi, RR : 34x/ Menit

08.10Wib jaringan, dan frekuensi, kwalitas TD : 120/ 90

proses dan skala nyeri mmHg

inflamasi luka pasien. b. Skala nyeri 7

operasi. c. Membantu pasien (sedang)

posisikan yang c. Klien tampak

nyaman dengan memegangi

sokong/tinggikan bagian perut

dengan ganjal pada dan tampak


74

posisi anatomi hati–hati dalam

ekstremitas yang melakukan

sakit dan kurangi pergerakan.

pergerakan dini d. Latihan

pada area luka aktivitas

operasi bertahan

d. Membantu ajarkan mengurangi

pasien tekhnik respon nyeri

relaksasi dan tapi tetap

dextrasi nafas dalam pertahan

untuk mengurangi kenyamanan

nyeri saat nyeri klien dan

muncul mengurangi

rasa nyeri klien

2. 8 Januari Intoleransi a. Membantu kaji a. Klien

2018 aktivitas kemampuan klien mengatakan

Pkl berhubungan dalam melakukan takut bergerak

10.00Wib dengan adanya aktifitas. karena nyeri

Respon keterbatasan b. Mengawasi tekanan pada luka post

Pkl rentang gerak darah, nadi, operasi

10.10Wib dan ketakutan pernapasan selama b. S: 370 C

bergerak dan sesudah N : 72x/mnt

akibat dari aktifitas. RR : 34x/ Menit


75

respon nyeri c. Membantu klien TD : 120/ 90

dan prosedur dalam memilih mmHg

infasive. posisi yang nyaman c. Klien

untuk istirahat dan mengatakan

tidur. apabila

d. Menganjurkan klien berbaring

berpartisipasi dalam merasa nyaman

semua aktifitas dan berani

sesuai kemampuan bergerak

individual sedikit- sedikit

d. Klien mulai mau

bergerak dan

belajar

beraktivitas

misalnya mau

mengambil

minum sendiri

3. 8 Januari Resiko tinggi a. Mengukur tanda – a. Klien

2018 infeksi tanda vital pasien, mengatakan

Pkl berhubungan dan mengkaji luka masih

12.00Wib dengan trauma adanya tanda – terasa nyeri dan

Respon jaringan akibat tanda infeksi dan kaku

prosedur
76

Pkl invasive/ peradangan pada b. Tanda vital

12.10Wib tindakan luka operasi dalam batas

operatif dan b. Melakukan nornal :

adanya proses medikasi lukas S: 370 C

inflamasi luka bersih/ steril, N : 72x/mnt

post operasi dengan cairan NaCl RR : 34x/ Menit

dan bethadine pada TD : 120/ 90

luka bersih mmHg

c. Luka tampak

bersih dan tidak

terdapat pus

Hari ke -2

No
Diagnosa Tindakan
Tanggal Hasil Paraf
. Keperawatan Keperawatan

1. 9 Januari Gangguan rasa a. Mengkaji tanda– a. Tanda vital

2018 nyaman nyeri tanda vital pasien dalam batas

Pkl berhubungan sesuai kondisi nornal :

08.00Wib dengan pasien dan jadwal S: 370 C


77

Respon terputusnya b. Mengkaji nyeri N : 72x/mnt

Pkl konti-nuitas meliputi lokasi, RR : 34x/

08.10Wib jaringan, dan frekuensi, Menit

proses kwalitas dan skala TD : 120/ 90

inflamasi luka nyeri pasien. mmHg

operasi. c. Membantu pasien b. Pasien

posisikan yang mengatakan

nyaman dengan nyeri sudah

sokong/tinggikan mulai

dengan berkurang,

ganjal pada skala nyeri

posisi anatomi 3(0-7)

ekstremitas yang c. Klien tampak

sakit dan kurangi mulai rileks

pergerakan dini memegang

pada area luka bagian perut

operasi

2. 9Januari Intoleransi a. Menganjurkan a. Keluarga klien

2018 aktivitas klien mengatakan

Pkl berhubungan berpartisipasi klien mulai

10.00Wib dengan adanya dalam semua mau berjalan

Respon keterbatasan aktifitas sesuai


78

Pkl rentang gerak kemampuan b. Klien

10.10Wib dan ketakutan individual mengatakan

bergerak b. Membantu kaji sudah tidak

akibat dari kemampuan klien takut

respon nyeri dalam melakukan beraktivitas

dan prosedur aktifitas. dan nyeri mulai

infasive. c. Mengawasi berkurang

tekanan darah, c. S: 370 C

nadi, pernapasan N : 72x/mnt

selama dan RR : 34x/

sesudah aktifitas. Menit

TD : 120/ 90

mmHg

3. 9 Januari Resiko tinggi a. Mengukur tanda – a. Klien

2018 infeksi tanda vital pasien, mengatakan

Pkl berhubungan mengganti linen luka nyeri

12.00Wib dengan trauma dan sudah mulai

Respon jaringan akibat membersihkan berkurang

Pkl prosedur tempat tidur Tanda vital

12.10Wib invasive/ pasien tiap pagi S: 370 C

tindakan b. Melakukan N : 86x/mnt

operatif dan medikasi lukas RR : 20x/

adanya proses bersih/ steril Menit


79

inflamasi luka TD : 100/ 80

post operasi mmHg

b. Luka tampak

bersih dan

tidak terdapat

pus

Hari ke -3

Diagnosa
No Tanggal Tindakan Keperawatan Hasil Paraf
Keperawatan
.
1. 10 Januari Gangguan a. Mengkaji tanda– a. Tanda vital

2018 rasa nyaman tanda vital pasien dalam batas

Pkl nyeri sesuai kondisi nornal :

08.00Wib berhubungan pasien dan jadwal S: 370 C

Respon dengan b. Mengkaji nyeri N : 72x/mnt

Pkl terputusnya meliputi lokasi, RR : 34x/

08.10Wib konti-nuitas frekuensi, kwalitas Menit

jaringan, dan dan skala nyeri TD : 120/ 90

proses pasien. mmHg

inflamasi c. Membantu pasien b. Pasien

luka operasi. posisikan yang mengatakan

nyaman dengan nyeri sudah


80

sokong/tinggikan berkurang,

dengan ganjal pada nyeri tidak

posisi anatomi menusuk-

ekstremitas yang nusuk lagi,

sakit dan kurangi skala nyeri 1

pergerakan dini c. Klien tampak

pada area luka rileks

operasi memegang

bagian perut

2. 10 Januari Intoleransi a. Menganjurkan klien a. Keluarga klien

2018 aktivitas berpartisipasi dalam mengatakan

Pkl berhubungan semua aktifitas klien mulai

10.00Wib dengan sesuai kemampuan mau berjalan

Respon adanya individual dan bangun

Pkl keterbatasan b. Membantu kaji sendiri dan ke

10.10Wib rentang gerak kemampuan klien kamar mandi

dan ketakutan dalam melakukan sendiri

bergerak aktifitas. b. Klien mampu

akibat dari beraktifitas

respon nyeri mandiri. Klien

dan prosedur tidak cemas

infasive. lagi.
81

3. 8 Januari Resiko tinggi a. Mengukur tanda – a. Klien

2018 infeksi tanda vital pasien, mengatakan

Pkl berhubungan mengganti linen dan luka sudah

12.00Wib dengan membersihkan tidak begitu

Respon trauma tempat tidur pasien nyeri dan kaku

Pkl jaringan tiap pagi Tanda vital

12.10Wib akibat b. Melakukan S: 370 C

prosedur medikasi lukas N : 86x/mnt

invasive/ bersih/ steril RR : 20x/

tindakan Menit

operatif dan TD : 100/ 80

adanya mmHg

proses b. Luka tampak

inflamasi bersih dan

luka post tidak ada

operasi infeksi seperti

tidak terdapat

oedem dan

kemerahan

pada luka dan

tidak terdapat

pus, jahitan

luka rapi dan


82

luka bersih

tertutup kassa

steril

3.9 Evaluasi Keperawatan

Hari ke -1

Tanggal dan Diagnosa


No. Evaluasi (SOAP) Paraf
Waktu Keperawatan
1. 8 Januari 2018 Gangguan 1. Mengkaji tanda–tanda vital

Pkl 08.00Wib rasa nyaman pasien sesuai kondisi pasien dan

Respon nyeri jadwal

Pkl 08.10Wib berhubungan 2. Mengkaji nyeri meliputi lokasi,

dengan frekuensi, kwalitas dan skala

terputusnya nyeri pasien.

konti-nuitas 3. Membantu pasien posisikan yang

jaringan, dan nyaman dengan sokong/

proses tinggikan dengan ganjal pada

inflamasi luka posisi anatomi ekstremitas yang

operasi. sakit dan kurangi pergerakan dini

pada area luka operasi

4. Membantu ajarkan pasien

tekhnik relaksasi dan dextrasi


83

nafas dalam untuk mengurangi

nyeri saat nyeri muncul

S : Klien mengatakan nyeri pada luka

operasi yaitu diperut bagian

bawah, dibawah pusat, nyeri

terasa menusuk

O: Pasien tampak memegangi

bagian perut dan tampak hati–

hati dalam melakukan

pergerakan.

A : Gangguan rasa nyaman nyeri

P : Intervensi dilanjutkan hari ke-2

1. Mengkaji tanda–tanda vital

pasien sesuai kondisi pasien dan

jadwal

2. Mengkaji nyeri meliputi lokasi,

frekuensi, kwalitas dan skala

nyeri pasien.

3. Membantu pasien posisikan yang

nyaman dengan

sokong/tinggikan dengan

ganjal pada posisi anatomi


84

ekstremitas yang sakit dan

kurangi pergerakan dini pada

area luka operasi

2. 8 Januari 2018 Intoleransi a. Membantu kaji kemampuan klien

Pkl 10.00Wib aktivitas dalam melakukan aktifitas.

Respon berhubungan b. Mengawasi tekanan darah, nadi,

Pkl 10.10Wib dengan pernapasan selama dan sesudah

adanya aktifitas.

keterbatasan c. Membantu klien dalam memilih

rentang gerak posisi yang nyaman untuk

dan ketakutan istirahat dan tidur.

bergerak d. Menganjurkan klien

akibat dari berpartisipasi dalam semua

respon nyeri aktifitas sesuai kemampuan

dan prosedur individual

infasive. S : Klien mengatakan takut bergerak

dan beraktivitas karena luka

akan terasa nyeri saat

beraktivitas

O: Pasien tampak lemah

A: Intoleransi aktivitas

berhubungan dengan adanya

keterbatasan rentang gerak dan


85

ketakutan bergerak akibat dari

respon nyeri dan prosedur

infasive.

P: Intervensi dilanjutkan hari ke-2

1. Menganjurkan klien

berpartisipasi dalam semua

aktifitas sesuai kemampuan

individual

2. Membantu kaji kemampuan

klien dalam melakukan aktifitas.

3. Mengawasi tekanan darah, nadi,

pernapasan selama dan sesudah

aktifitas.

3. 8 Januari 2018 Resiko tinggi 1. Mengukur tanda – tanda vital

Pkl 12.00Wib infeksi pasien, dan mengkaji adanya

Respon berhubungan tanda – tanda infeksi dan

Pkl 12.10Wib dengan trauma peradangan pada luka operasi

jaringan 2. Melakukan medikasi lukas

akibat bersih/ steril, dengan cairan NaCl

prosedur dan bethadine pada luka bersih

invasive/ S : Pasien mengatakan luka terasa

tindakan panas dan pedih.


86

operatif dan O: Klien terlihat lemas

adanya proses A : Resiko tinggi infeksi

inflamasi luka berhubungan dengan trauma

post operasi jaringan akibat prosedur

invasive/ tindakan operatif dan

adanya proses inflamasi luka

post operasi

P : Intervensi dilanjutkan hari ke-2

1. Mengukur tanda – tanda vital

pasien, mengganti linen dan

membersihkan tempat tidur

pasien tiap pagi

2. Melakukan medikasi lukas

bersih/ steril

Hari ke -2

Tanggal dan Diagnosa


No. Evaluasi (SOAP) Paraf
Waktu Keperawatan
1. 9 Januari 2018 Gangguan 1. Mengkaji tanda–tanda vital

Pkl 08.00Wib rasa nyaman pasien sesuai kondisi pasien dan

Respon nyeri jadwal

Pkl 08.10Wib berhubungan 2. Mengkaji nyeri meliputi lokasi,

dengan frekuensi, kwalitas dan skala

terputusnya nyeri pasien.


87

konti-nuitas 3. Membantu pasien posisikan yang

jaringan, dan nyaman dengan sokong/

proses tinggikan dengan ganjal pada

inflamasi luka posisi anatomi ekstremitas yang

operasi. sakit dan kurangi pergerakan dini

pada area luka operasi

4. Membantu ajarkan pasien

tekhnik relaksasi dan dextrasi

nafas dalam untuk mengurangi

nyeri saat nyeri muncul

S : Klien mengatakan nyeri sudah

mulai berkurang, skala nyeri 3(0-

7)

O: Klien tampak mulai rileks

memegang bagian perut

A : Gangguan rasa nyaman nyeri

P : Intervensi dilanjutkan hari ke-3

1. Mengkaji tanda–tanda vital

pasien sesuai kondisi pasien dan

jadwal
88

2. Mengkaji nyeri meliputi lokasi,

frekuensi, kwalitas dan skala

nyeri pasien.

3. Membantu pasien posisikan yang

nyaman dengan

sokong/tinggikan dengan

ganjal pada posisi anatomi

ekstremitas yang sakit dan

kurangi pergerakan dini pada

area luka operasi

2. 9 Januari 2018 Intoleransi 1. Membantu kaji kemampuan klien

Pkl 10.00Wib aktivitas dalam melakukan aktifitas.

Respon berhubungan 2. Mengawasi tekanan darah, nadi,

Pkl 10.10Wib dengan pernapasan selama dan sesudah

adanya aktifitas.

keterbatasan 3. Membantu klien dalam memilih

rentang gerak posisi yang nyaman untuk

dan ketakutan istirahat dan tidur.

bergerak 4. Menganjurkan klien

akibat dari berpartisipasi dalam semua

respon nyeri aktifitas sesuai kemampuan

dan prosedur individual

infasive.
89

S : Keluarga klien mengatakan klien

mulai mau berjalan

O: Klien mengatakan sudah tidak

takut beraktivitas dan nyeri

mulai berkurang

S: 370 C

N : 72x/mnt

RR : 34x/ Menit

TD : 120/ 90 mmHg

A: Intoleransi aktivitas

berhubungan dengan adanya

keterbatasan rentang gerak dan

ketakutan bergerak akibat dari

respon nyeri dan prosedur

infasive.

P: Intervensi dilanjutkan hari ke-3

1. Menganjurkan klien

berpartisipasi dalam semua

aktifitas sesuai kemampuan

individual

2. Membantu kaji kemampuan

klien dalam melakukan aktifitas.


90

3. 9 Januari 2018 Resiko tinggi 1. Mengukur tanda – tanda vital

Pkl 12.00Wib infeksi pasien, dan mengkaji adanya

Respon berhubungan tanda – tanda infeksi dan

Pkl 12.10Wib dengan trauma peradangan pada luka operasi

jaringan 2. Melakukan medikasi lukas

akibat bersih/ steril, dengan cairan NaCl

prosedur dan bethadine pada luka bersih

invasive/ S : Klien mengatakan luka nyeri

tindakan sudah mulai berkurang

operatif dan S: 370 C

adanya proses N : 86x/mnt

inflamasi luka RR : 20x/ Menit

post operasi TD : 100/ 80 mmHg

O: Luka tampak bersih dan tidak

terdapat pus

A : Resiko tinggi infeksi

berhubungan dengan trauma

jaringan akibat prosedur

invasive/ tindakan operatif dan

adanya proses inflamasi luka

post operasi

P : Intervensi dilanjutkan hari ke-3


91

1. Mengukur tanda – tanda vital

pasien, mengganti linen dan

membersihkan tempat tidur

pasien tiap pagi

2. Melakukan medikasi lukas

bersih/ steril

Hari ke -3

Tanggal dan Diagnosa


No. Evaluasi (SOAP) Paraf
Waktu Keperawatan
1. 10 Januari Gangguan 1. Mengkaji tanda–tanda vital

2018 rasa nyaman pasien sesuai kondisi pasien dan

Pkl 08.00Wib nyeri jadwal

Respon berhubungan 2. Mengkaji nyeri meliputi lokasi,

Pkl 08.10Wib dengan frekuensi, kwalitas dan skala

terputusnya nyeri pasien.

konti-nuitas 3. Membantu pasien posisikan

jaringan, dan yang nyaman dengan sokong/

proses tinggikan dengan ganjal pada

inflamasi luka posisi anatomi ekstremitas yang

operasi. sakit dan kurangi pergerakan

dini pada area luka operasi


92

4. Membantu ajarkan pasien

tekhnik relaksasi dan dextrasi

nafas dalam untuk mengurangi

nyeri saat nyeri muncul

S : Klien mengatakan nyeri sudah

berkurang, nyeri tidak

menusuk-nusuk lagi, skala

nyeri 1

S: 370 C

N : 72x/mnt

RR : 34x/ Menit

TD : 120/ 90 mmHg

O: Klien tampak rileks memegang

bagian perut

A : Gangguan rasa nyaman nyeri

P : Intervensi diberhentikan

1. Membantu pasien posisikan

yang nyaman dengan sokong/

tinggikan dengan ganjal pada

posisi anatomi ekstremitas yang

sakit dan kurangi pergerakan

dini pada area luka operasi


93

2. 10 Januari Intoleransi 1. Menganjurkan klien

2018 aktivitas berpartisipasi dalam semua

Pkl 10.00Wib berhubungan aktifitas sesuai kemampuan

Respon dengan individual.

Pkl 10.10Wib adanya 2. Membantu kaji kemampuan

keterbatasan klien dalam melakukan

rentang gerak aktifitas.

dan ketakutan S : Keluarga klien mengatakan

bergerak klien mulai mau berjalan dan

akibat dari bangun sendiri dan ke kamar

respon nyeri mandi sendiri

dan prosedur O: Klien mampu beraktifitas

infasive. mandiri. Klien tidak cemas lagi.

A: Intoleransi aktivitas

berhubungan dengan adanya

keterbatasan rentang gerak dan

ketakutan bergerak akibat dari

respon nyeri dan prosedur

infasive.

P: Intervensi diberhentikan

1. Menganjurkan klien

berpartisipasi dalam semua


94

aktifitas sesuai kemampuan

individual

3. 10 Januari Resiko tinggi 1. Mengukur tanda – tanda vital

2018 infeksi pasien, mengganti linen dan

Pkl 12.00Wib berhubungan membersihkan tempat tidur

Respon dengan trauma pasien tiap pagi

Pkl 12.10Wib jaringan 2. Melakukan medikasi lukas

akibat bersih/ steril

prosedur S : Klien mengatakan luka sudah

invasive/ tidak begitu nyeri dan kaku

tindakan Tanda vital

operatif dan S: 370 C

adanya proses N : 86x/mnt

inflamasi luka RR : 20x/ Menit

post operasi TD : 100/ 80 mmHg

O: Luka tampak bersih dan tidak

ada infeksi seperti tidak

terdapat oedem dan kemerahan

pada luka dan tidak terdapat

pus, jahitan luka rapi dan luka

bersih tertutup kassa steril

A : Resiko tinggi infeksi

berhubungan dengan trauma


95

jaringan akibat prosedur

invasive/ tindakan operatif dan

adanya proses inflamasi luka

post operasi

P : Intervensi diberhentikan
96

BAB IV

PEMBAHASAN

Pada bab pembahasan ini akan diungkapkan antara kesenjangan antara teori

dan kenyataan yang ditemukan klien denganPost Operasi Hernia Inguinalis di

Ruang Perabu 3 Siliwangi RSD Gunung Jati Kota Cirebon. Untuk mendapatkan

gambaran yang jelas makan kesenjangan yang terjadi akan diuraikan dalam setiap

komponen keperawatan. Dan komponen yang mengalami kesenjangan dimana pada

kasus tidak muncul tetapi terdapat pada teori yaitu pada proses keperawatan

pengkajian dan diagnosa keperawatan, munculnya pengangkatan masalah baru

maka secara otomatis intervensi, implementasi dan evaluasi tidak muncul.

4.1 Pengkajian

Teori mengatakan bahwa hernia merupakan tonjolan yang terjadi

akibat protrusi abnormal jaringan, organ atau bagian organ melalui struktur

yang secara normal berisi(1). Klien datang ke polidengan keluhan

adabenjolan diselangkangan kanan, klien terlihat gelisah disertai nyeri.

Dalam pengkajian Tn. W didapat pengkajiansebagai berikut : Tn.W

mengatakan nyeri pada daerah selangkangan,skala nyeri 7 (0-10).

Dalam penelitian, penulis tidak menemukan hambatan Tn. W

bersedia menerima penulis dan secara terbuka memberikan keterangan –

keterangan yang diperlukan.

95
97

Disini terjadi kecocokan antara teori dan kenyataan karena di teori

ditemuan hernia merupakan tonjolan yang terjadi akibat protrusi abnormal

jaringan, organ atau bagian organ melalui struktur yang secara normal

berisi, sedangkan dikenyataan ditemukan keluhan adabenjolan

diselangkangan kanan.

4.2 Diagnosa Keperawatan

Berdasarkan literatur yang ada, terdapat 8 diagnosa keperawatan.

Adapun diagnosa kelima tersebut adalah :

1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan terputusnya

kontinuitas jaringan, dan proses inflamasi luka operasi

2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan adanya keterbatasan rentang

gerak dan ketakutan bergerak akibat dari respon nyeri dan prosedur

infasive.

3. Konstipasi berhubungan dengan immobilisasi sekunder akibat post

operasi dan efek anastesi.

4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan akibat

prosedur invasive/ tindakan operatif dan adanya proses inflamasi luka

post operasi.

5. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan dan nyeri

akibat terputusnya kontinuitas jaringan akibat prosedur invasive dan

immobilisasi post operasi.


98

6. Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan efek tekanan akibat

trauma dan bedah perbaikan/insisi post operasi

7. Resiko tinggi retensi urine yang berhubungan dengan nyeri, trauma dan

penggunaan anestetik selama pembedahan abdomen.

8. Kurang pengetahuan klien dan keluarga: potensial komplikasi

Gastrointestinal yang berkenaan dengan adanya hernia post operasi dan

kurangnya informasi.(11)

Sedangkan dari tinjauan kasus, asuhan keperawatan pada klien Tn.W

didapat 3 diagnosa sebagai berikut :

1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan terputusnya

kontinuitas jaringan, dan proses inflamasi luka operasi

2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan adanya keterbatasan rentang

gerak dan ketakutan bergerak akibat dari respon nyeri dan prosedur

infasive.

3. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan akibat

prosedur invasive/ tindakan operatif dan adanya proses inflamasi luka

post operasi.

Dengan demikian dari diagnosa keperawatan ditemukan 3 diagnosa

keperawatan, sedangkan 5 diagnosa yaitu :

1. Konstipasi berhubungan dengan immobilisasi sekunder akibat post

operasi dan efek anastesi.


99

2. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan akibat

prosedur invasive/ tindakan operatif dan adanya proses inflamasi luka

post operasi.

3. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan dan nyeri

akibat terputusnya kontinuitas jaringan akibat prosedur invasive dan

immobilisasi post operasi.

4. Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan efek tekanan akibat

trauma dan bedah perbaikan/insisi post operasi

5. Kurang pengetahuan klien dan keluarga: potensial komplikasi

Gastrointestinal yang berkenaan dengan adanya hernia post operasi dan

kurangnya informasi.

Tidak ditemukan, karena tidak ada data yang mendukung adanya

diagnosa keperawatan tersebut.

1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan terputusnya

kontinuitas jaringan, dan proses inflamasi luka operasi. Klien

mengatakan nyeri pada luka operasi yaitu diperut bagian bawah,

dibawah pusat, nyeri terasa menusuk. Klien mengatakan luka operasi

terasa pedih dan panas. Skalanya Nyeri 7 (1-10)

- S: 370 C

- N : 72x/mnt

- RR : 34x/ Menit

- TD : 120/ 90 mmHg
100

2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan adanya keterbatasan rentang

gerak dan ketakutan bergerak akibat dari respon nyeri dan prosedur

infasive. Klien mengatakan takut bergerak dan beraktivitas karena luka

akan terasa nyeri saat beraktivitas. Keluarga klien mengatakan semua

aktivitas klien seperti makan, minum dan kebersihan diri dibantu oleh

orang tua.

3. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan akibat

prosedur invasive/ tindakan operatif dan adanya proses inflamasi luka

post operasi.Klien mengatakan luka terasa panas dan pedih.

4.3 Intervensi Keperawatan

Rencana asuhan keperawatan adalah petunjuk teknis tertulis yang

menggambarkan secara tepat mengenai rencana tindakan yang akan

dilakukanterhadap pasien sesuai dengan kebutuhannya berdasarkan

diagnosa yang ada.

Merencanakan pada Tn.W dibuat dengan sesuai teori yang ada.

Adapun jenis tindakan yang direncakan terhadap Tn. W meliputi :

penyuluhan kesehatan, memelihara dan meningkatkan kesehatan Tn. W,

serta lebih menekankan perubahan Tn. W dari perilaku yang memperburuk

penyakit yang dideritanya.


101

Intervensi yang dilakukan setelah diagnosa :

1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan terputusnya

kontinuitas jaringan, dan proses inflamasi luka operasi.

Tujuan :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan nyeri dapat

berkurang sampai hilang.

Kriteria hasil:

a. Ekspresi wajah pasien rileks dan tidak menahan nyeri

b. Klien menyatakan nyeri berkurang sampai hilang, skala nyeri

berkurang

c. Tanda–tanda vital dalam batas normal.

Intervensi

a. Monitor tanda–tanda vital pasien sesuai kondisi pasien dan jadwal

b. Kaji nyeri meliputi lokasi, frekuensi, kwalitas dan skala nyeri

pasien.

c. Posisikan yang nyaman dengan sokong/tinggikan dengan

ganjal pada posisi anatomi ekstremitas yang sakit dan kurangi

pergerakan dini pada area luka operasi

d. Ajarkan tekhnik relaksasi dan dextrasi nafas dalam untuk

mengurangi nyeri saat nyeri muncul

e. Anjurkan pada keluarga untuk memberikan massase pada area

abdomen yang nyeri tapi bukan area luka operasi.


102

f. Kolaborasi dengan tim medis dalam program therapy analgetik

Rasional: Program terapi sebagai system kolaboratif dalam

menyelesaikan masalah nyeri.

2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan adanya keterbatasan rentang

gerak dan ketakutan bergerak akibat dari respon nyeri dan prosedur

infasive.

Tujuan :

Intoleransi aktifitas dapat teratasi setelah dilakukan tindakan

keperawatan

Kriteria hasil:

a. Klien tidak lemah

b. Klien dapat melakukan aktifitas secara mandiri

c. Klien tidak takut bergerak lagi dan mau beraktivitas mandiri.

Intervensi :

a. Kaji kemampuan klien dalam melakukan aktifitas.

b. Awasi tekanan darah, nadi, pernapasan selama dan sesudah

aktifitas.

c. Bantu klien dalam memilih posisi yang nyaman untuk istirahat dan

tidur.

d. Dorong partisipasi klien dalam semua aktifitas sesuai kemampuan

individual.

e. Dorong dukungan dan bantuan keluarga/orang terdekat dalam

latihan gerak.
103

f. Berikan lingkungan tenang dan mempertahankan tirah baring.

g. Bantu aktifitas atau ambulasi pasien sesuai dengan kebutuhan

h. Perbaiki kondisi klien

3. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan akibat

prosedur invasive/ tindakan operatif dan adanya proses inflamasi luka

post operasi

Tujuan :

Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan akibat

prosedur invasive/ tindakan operatif dan adanya proses inflamasi luka

post operasi

Kriteria Hasil :

a. Tidak terdapat tanda-tanda infeksi seprti pada luka operasi terdapat

pus dan kemerahan, oedem.

b. Tanda–tanda vital dalam batas normalLaboratorium leukosit, dan

hemoglobin normal.

c. Luka kering dan menunjukan penyembuhan

Intervensi :

a. Observasi tanda–tanda vital pasien sesuai kondisi pasien.

b. Kaji adanya tanda–tanda infeksi dan peradangan meliputi adanya

kemerahan sekitar luka dan pus pada luka operasi.

c. Lakukan medikasi luka steril/bersih tiap hari.

d. Pertahankan tekhnik aseptic antiseptik/ kesterilan dalam perawatan

luka dan tindakan keperawatan lainnya.


104

e. Jaga personal hygiene pasien.

f. Manajemen kebersihan lingkungan pasien.

g. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian therapy antibiotik

4.4 Implementasi Keperawatan

Implementasi adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana

keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan.

Dari diagnosa 1-3 implementasi dapat dilakukan sesuai dengan

intervensi yang ada. Implementasi yang dilakukan dari 3 diagnosa tinjauan

kasus adalah :

1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan terputusnya konti-

nuitas jaringan, dan proses inflamasi luka operasi.

a. Mengkaji tanda–tanda vital pasien sesuai kondisi pasien dan jadwal

b. Mengkaji nyeri meliputi lokasi, frekuensi, kwalitas dan skala nyeri

pasien.

c. Membantu pasien posisikan yang nyaman dengan sokong/

tinggikan dengan ganjal pada posisi anatomi ekstremitas yang sakit

dan kurangi pergerakan dini pada area luka operasi

2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan adanya keterbatasan rentang

gerak dan ketakutan bergerak akibat dari respon nyeri dan prosedur

infasive.

a. Menganjurkan klien berpartisipasi dalam semua aktifitas sesuai

kemampuan individual
105

b. Membantu kaji kemampuan klien dalam melakukan aktifitas.

3. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan akibat

prosedur invasive/ tindakan operatif dan adanya proses inflamasi luka

post operasi

a. Mengukur tanda – tanda vital pasien, mengganti linen dan

membersihkan tempat tidur pasien tiap pagi

b. Melakukan medikasi lukas bersih/ steril

4.5 Evaluasi Keperawatan

Menurut teori penilaian atau evaluasi adalah mengukur keberhasilan

dari rencana dan pelaksanaan tindakan keperawatan yang dilakukan dalam

memenuhi kebutuhan pasien. Evaluasi yang dilakukan dari 3 diagnosa

tinjauan kasus adalah :

1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan terputusnya konti-

nuitas jaringan, dan proses inflamasi luka operasi.

S : Klien mengatakan nyeri sudah berkurang, nyeri tidak menusuk-

nusuk lagi, skala nyeri 1

S: 370 C

N : 72x/mnt

RR : 34x/ Menit

TD : 120/ 90 mmHg

O: Klien tampak rileks memegang bagian perut

A : Gangguan rasa nyaman nyeri


106

P: Intervensi diberhentikan

1. Membantu pasien posisikan yang nyaman dengan sokong/ tinggikan

dengan ganjal pada posisi anatomi ekstremitas yang sakit dan kurangi

pergerakan dini pada area luka operasi

2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan adanya keterbatasan rentang

gerak dan ketakutan bergerak akibat dari respon nyeri dan prosedur

infasive.

S: Keluarga klien mengatakan klien mulai mau berjalan dan

bangun sendiri dan ke kamar mandi sendiri

O: Klien mampu beraktifitas mandiri. Klien tidak cemas lagi.

A: Intoleransi aktivitas berhubungan dengan adanya keterbatasan

rentang gerak dan ketakutan bergerak akibat dari respon nyeri

dan prosedur infasive.

P: Intervensi diberhentikan

1. Menganjurkan klien berpartisipasi dalam semua aktifitas sesuai

kemampuan individual

3. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan akibat

prosedur invasive/ tindakan operatif dan adanya proses inflamasi luka

post operasi

S : Klien mengatakan luka sudah tidak begitu nyeri dan kaku Tanda

vital

S: 370 C

N : 86x/mnt
107

RR : 20x/ Menit

TD : 100/ 80 mmHg

O: Luka tampak bersih dan tidak ada infeksi seperti tidak terdapat

oedem dan kemerahan pada luka dan tidak terdapat pus, jahitan

luka rapi dan luka bersih tertutup kassa steril

A : Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan akibat

prosedur invasive/ tindakan operatif dan adanya proses inflamasi

luka post operasi

P : Intervensi diberhentikan

Dari diagnosa 1- 3 setelah dilakukan evaluasi masalah dapat teratasi.


108

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

Setelah melakukan asuhan keperawatan post operasi hernia inguinalis hari

ke-1 pada Tn. W di Ruang Perabu 3 Siliwangi RSD Gunung Jati Kota Cirebon dari

tanggal 07 Januari 2018 , maka penulis dapat menentukan simpulan dan serta

memberikan saran.

5.1 Simpulan

1. Dalam hasil pengkajian ternyata ditemukan beberapa masalah

keperawatan pada Tn. W yang memerlukan penanganan dari petugas

kesehatan.Tn.W mengatakan nyeri pada daerah selangkangan, skala

nyeri 7 (0-10).

2. Didapatkan 3 diagnosa yaitu :

a. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan terputusnya

kontinuitas jaringan, dan proses inflamasi luka operasi

b. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan adanya keterbatasan

rentang gerak dan ketakutan bergerak akibat dari respon nyeri dan

prosedur infasive.

c. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan akibat

prosedur invasive/ tindakan operatif dan adanya proses inflamasi

luka post operasi.

107
109

3. Membuat rencana asuhan keperawatan pada Tn. W dengan post op

hernia inguinalis meliputi : penyuluhan kesehatan, memelihara dan

meningkatkan kesehatan Tn. W, serta lebih menekankan perubahan Tn.

W dari perilaku yang memperburuk penyakit yang dideritanya.

4. Melaksanakan implementasi pada Tn. W dengan post op hernia

inguinalis :

a. Membantu ajarkan pasien tekhnik relaksasi dan dextrasi nafas

dalam untuk mengurangi nyeri saat nyeri muncul

b. Menganjurkan klien berpartisipasi dalam semua aktifitas sesuai

kemampuan individual.

c. Melakukan medikasi lukas bersih/ steril

5. Mengevaluasi tindakan keperawatan pada Tn. W dengan post op hernia

inguinalis, klien mengatakan nyeri selangkangan berkurang setelah

rutin medikasi obat dan mengimbangi dengan istirahat cukup.

5.2 Saran

1. Untuk Rumah Sakit lebih motivasi perawat memberikan informasipada

Tn. W memberikan informasi tentang hernia inginalis dengan

melakukan penyuluhan kesehatan serta pemberian leaflet dan leaflet di

disimpan di ruang-ruangan.

2. Untuk klien, hindari mengangkat barang berat yang dapat memperburuk

masalah hernia inguinalis. Dianjurkan untuk tidak mengangkat barang


110

yang berat, dibutuhkan peran keluarga untuk mengangkat barang-

barang berat.
DAFTAR PUSTAKA

1. Brunner & Suddarth, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 volume
2. Jakarta EGC. 2013

2. Long, Barbara C. Perawatan Medikal Bedah (Suatu Pendekatan Proses


Keperawatan) Jilid 3. Bandung : Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan
Keperawatan. 2006

3. Mansjoer, Arif. Dkk. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 2. Jakarta : Media


Aesculapius. 2008

4. Price Sylvia A, Wilson Lorraine M. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses


Penyakit. Jakarta: EGC; 2012.

5. Sjamsuhidajat & de jong. Buku Ajar Ilmu Bedah.Jakarta: EGC. 2010

6. T.Heather Heradman, Ph.D, RN, FNI.Diagnosis Keperawatan, Definisi dan


Klasifikasi. Buku Kedokteran. Jakarta.2017

7. Nanda. Diagnosis keperawatan: Definisi dan Klasifikasi.Jakarta: EGC. 2013

8. Muttaqin. Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem Muskuloskletal.


Jakarta: EGC. 2008

9. Rekam Medis RSUD Kraton. Angka Prevalensi Hernia.2016

10. Doenges, E. M, Rencana Asuhan Keperawatan (Terjemahan), Edisi 3, Jakarta:


EGC. 2008

11. Nursalam. Konsep Dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu keperawatan.


Edisi 2. Jakarta : Salemba Medika Nursalam. Manajemen Keperawatan.edisi 3.
Jakarta : Salemba Medika.2008

12. Wilkison M J.. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Dengan Intervensi NIC dan
Kriteria Hasil NOC. Jakarta : EGC. 2007

13. Yuudi. Hernia.2012.http://yuudi.blogspot.com/2011/02/hernia.html. diakses


tanggal 10 Feb 2018 pukul 16.00 WIB.

14. Herdman Heater T.Nanda International Diagnosis Keperawatan Definisi Dan


Klasifikasi. Jakarta: EGC.2015
15. Kozier B. Glenora. Berman A. Snyder S. Buku Ajar Fundamental Keperawatan
Konsep, Proses, Praktik. Jakarta: EGC. 2011
SATUAN ACARA PENYULUHAN

Masalah : Kurangnya pengetahuan klien tentang cara merawat luka


Pokok Bahasan : Post Operasi Hernia Inguinalis Lateralis
Sub Pokok Bahasan : Perawatan Luka
Sasaran : Klien dan keluarga
Waktu : 30 Menit
Pertemuan ke : 1 (Pertama)
Tanggal :
Tempat : Ruang Perabu 3 Siliwangi RSD Gunung Jati Kota
Cirebon

A. Tujuan Instruksional Umum


Setelah diberikan penyuluhan, diharapkan sasaran mampu memahami tentang
cara perawatan luka dirumah.

B. Tujuan Instruksional Khusus


Setelah diberikan penjelasan selama 30 menit diharapkan sasaran dapat :
1. Menyebutkan pengertian perawatan luka
2. Menyebutkan penyebab infeksi luka
3. Menyebutkan tanda dan gejala infeksi pada luka
4. Menjelaskan cara perawatan luka di rumah

C. Pokok Materi
1. Pengertian perawatan luka
2. Penyebab infeksi pada luka
3. Tanda dan gejala infeksi pada luka
4. Cara perawatan luka dirumah

D. Kegiatan belajar mengajar


 Metode: Ceramah, tanya jawab
 Langkah – langkah kegiatan:
1. Kegiatan Pra Pembelajaran
a. Mempersiapkan materi, media dan tempat
b. Kontrak waktu
2. Membuka pelajaran
a. Memberi salam
b. Perkenalan
c. Menjelaskan pokok bahasan
d. Menjelaskan tujuan
e. Apersepsi
3. Kegiatan Inti
a. Penyuluh menyampaikan materi
b. Sasaranmenyimak materi
c. Sasaran mengajukan pertanyaan
d. Penyuluh menjawab pertanyaan
e. Penyuluh menyimpulkan jawaban
4. Penutup
a. Evaluasi
b. Penyuluh dan sasaran menyimpulan materi
c. Memberi salam

E. Media dan Sumber


 Media : Leaflet
 Sumber :
 Morison. Moya J. 2004.Manajemen Luka, Jakarta : EGC
 Wolf, Weiltzel, Fuerst. 1984. Dasar – dasar Ilmu Keperawatan, Jilid II.
Jakarta : Gunung Agung

F. Evaluasi
 Prosedur : Post Test
 Jenis Test : Pertanyaan secara lisan
 Butir Soal :4 soal
1. Sebutkan pengertian perawatan luka
2. Sebutkan penyebab infeksi pada luka
3. Sebutkantanda dan gejala infeksi pada luka

G. Lampiran materi dan Media

MATERI PENYULUHAN

PENGERTIAN
Perawatan luka adalah merawat luka dengan memasang pembalut atau penutup
pada luka agar luka tidak terbuka
Perawatan luka adalah upaya atau tindakan yang dilakukan untuk mencegah
infeksi yang dilakukan dengan langkah-langkah tertentu.

TUJUAN
a. Agar terhindar dari infeksi.
b. Agar luka tetap bersih.
c. Mempercepat penyembuhan.
d. Mencegah masuknya kuman dan kotoran ke dalam luka
e. Mencegah terjadinya pencemaran oleh cairan dan kuman yang berasal dari
luka ke daerah sekitarnya
f. Mencegah terjadinya infeksi silang
g. Mengistirahatkan bagian yang luka atau sakit
h. Sebagai penahan pada bagian yang luka atau sakit
i. Memberikan rasa aman dan nyaman

ALAT-ALAT PERAWATAN LUKA


1. Seperangkat peralatan steril
a. Pinset anatomi
b. Pinset chirurgi
c. Gunting lurus
d. Kapas lidi
e. Kasa steril
f. Kasa penekan
g. Kom kecil

2. Peralatan tidak steril


a. Gunting pembalut
b. Plester
c. Alkohol 70% dalam tempatnya
d. Bensin dalam tempatnya
e. Bengkok
f. Kain pembalut atau verband
g. Alat-alat desinfektan dalam tempatnya (misalnya bethadin solution)
h. Alat luka sesuai kebutuhan

CARA-CARA PERAWATAN LUKA


1. Cuci tangan sebelum melakan tindakan
2. Lepaskan verban/balutan dengan cara menyentuh bagian luarnya saja. Jika
kotor, pergunakan pinset.
3. Jika verban/balutan menempel pada luka, basahi dengan larutan NaCl atau
garam, buka kalau sudah longgar.
4. Buang verban/balutan yang kotor ke dalam kantong tahan air untuk dibakar.
5. Bersihkan luka dengan hati-hati dengan obat anti kuman dari dokter atau rumah
sakit.
6. Sarung tangan bebas kuman atau atau pinset bebas kuman dapat dipakai untuk
memegang gumpalan kasa.
7. Mulai dari atas atau dekat dengan luka dan terus makin keluar.
8. Buang kasaa atau kapas yang digunakan untuk membersihkan setiap kali sekali
mengsusap luka itu.
9. Tutup luka dengan verban/balutan bebas kuman, dengan memakai sarung
tangan bebas kuman, pinset bebas kuman atau hanya disentuh disebelah luar,
eratkan verban/balutan dengan plester.
10. Cuci tangan

HAL-HAL YANG PERLU DIKETAHUI OLEH PASIEN


1. Dibutuhkan verband steril dan kering untuk jangka waktu tertentu
2. Jaga jangan sampai luka tergesek-gesek oleh pakaian.
3. Langsung hubungi dokter jika tempat atau lokasi bekas luka terlihat
membangkak, demam tinggi, nyeri hebat, dan pengeluaran nanah yang
berlebih.

PERAWATAN LUKA DI RUMAH


1) Alat-alat yang digunakan
a. Kasa atau kain bersih.
b. Betadine.
c. Plester.
d. Air hangat.
2) Langkah-langkah
a. Mencuci tangan.
b. Membersihkan luka dengan air hangat.
c. Menutup luka dengan kasa atau kain bersih yang sudah diberikan betadine.
d. Kemudian ditutup dengan kain bersih.
e. Plester dengan rapi.
f. Bereskan alat.
g. Mencuci tangan.

KERUGIAN TIDAK MELAKUKAN PERAWATAN LUKA


a. Infeksi berat.
b. Kecacatan.
c. Gangguan terhadap sistem tubuh yang lain.
d. Kematian.
SATUAN ACARA PENYULUHAN

Masalah : Kurangnya pengetahuan klien tentang cara merawat luka


Pokok Bahasan : Post Operasi Hernia Inguinalis Lateralis
Sub Pokok Bahasan : Tekhnik napas dalam.
Sasaran : Klien dan keluarga
Waktu : 30 Menit
Pertemuan ke : 1 (Pertama)
Tanggal :
Tempat : Ruang Prabu 3 Siliwangi RSD Gunung Jati Kota Cirebon

A. Tujuan Instruksional Umum


Setelah diberikan penyuluhan, diharapkan sasaran mampu memahami tentang
cara perawatan luka dirumah.

B. Tujuan Instruksional Khusus


Setelah diberikan penjelasan selama 30 menit diharapkan sasaran dapat :
1. Menyebutkan Pengertian Nyeri
2. Menyebutkan Fakto-faktor yang mempengaruhi nyeri.
3. Menjelaskan Teknik mengatasi nyeri
4. Menjelaskan Tekhnik napas dalam.

C. Pokok Materi
1. Pengertian Nyeri
2. Fakto-faktor yang mempengaruhi nyeri.
3. Teknik mengatasi nyeri
4. Tekhnik napas dalam.

D. Kegiatan belajar mengajar


 Metode: Ceramah, tanya jawab
 Langkah – langkah kegiatan:
1. Kegiatan Pra Pembelajaran
a. Mempersiapkan materi, media dan tempat
b. Kontrak waktu
2. Membuka pelajaran
a. Memberi salam
b. Perkenalan
c. Menjelaskan pokok bahasan
d. Menjelaskan tujuan
e. Apersepsi
3. Kegiatan Inti
a. Penyuluh menyampaikan materi
b. Sasaranmenyimak materi
c. Sasaran mengajukan pertanyaan
d. Penyuluh menjawab pertanyaan
e. Penyuluh menyimpulkan jawaban
4. Penutup
a. Evaluasi
b. Penyuluh dan sasaran menyimpulan materi
c. Memberi salam

E. Media dan Sumber


 Media : Leaflet
 Sumber :
 Wolf Junadi, Purnawan, Dkk. 1982. Kapita Selekta
Kedokteran. Jakarta : FKUI.

F. Evaluasi
1. Sebutkan pengertian Nyeri
2. Sebutkan 2 dari 4 faktor-faktor yang mempengarui nyeri.
3. Sebutkan 1 dari 3 tekhnik mengatasi nyeri
4. Coba Demontrsikan tekhnik napas dalam
G. Lampiran materi dan Media
MATERI PENYULUHAN
A. Pengertian
Nyeri adalah suatu perasan tidak menyenangkan yang bersipat individu serta
tidak dapat dibagi keorang lain, sering kali merupakan tanda bahwa ada suatu
yang secara fisiologis terganggu

B. Faktor-faktor yang mepengaruhi nyeri


1. lingkungan
2. Usia
3. Kelelahan
4. Mekanisme koping

C. Tekhnik mengatasi nyeri


1. Distraksi
a. Mendengarkan musik
b. Bimbingan imajinasi
c. Tekhnik pernapasan
2. Stimulasi kulit
a. Massage atau pijatan
b. Kompres dingin
c. Kompres hangat
d. Pemberian terapi
3. Relaksasi
a. Meditasi
b. Tekhnik napas dalam
c. Merubah posisi
D. Tekhnik napas dalam
1. Tujuan
Untuk mengatasi atau mengurangi rasa nyeri
2. Cara melakukan tekhnik napas dalm
Anjurkan klien tarik napas biasa beberapa kali, kemudian tarik napas
panjang dari hidung kemudian tahan selama 3 detik lalu hembuskan napas
melalui mulut perlahan-lahan