Anda di halaman 1dari 97

1

RESUME (PEMBUAHAN)
INFERTILITAS

OLEH
Ade Novira (70300117033)

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
TAHUN AJARAN 2018/2019
2

BAB I
KONSEP DASAR MEDIS
A. Defenisi
Infertilitas di defenisikan sebagai ketidakmampuan pasangan untuk
mencapai kehamilan setelah 1 tahun hubungan seksual tanpa pelindung
(Keperawatan Medikal Bedah). Infertilitas (pasangan mandul) adalah pasangan
suami istri yang telah menikah selama satu tahun dan sudah melakukan hubungan
seksual tanpa menggunakan alat kontrasepsi, tetapi belum memiliki anak.

Infertilitas adalah pasangan yang telah kawin dan hidup harmonis serta
berusaha selama satu tahun tetapi belum hamil.Infertilitas adalah
ketidakmampuan untuk hamil dalam waktu satu tahun.Infertilitas primer bila
pasutri tidak pernah hamil dan infertilitas sekunder bila istri pernah
hamil.Pasangan infertil adalah suatu kesatuan hasil interaksi biologik yang tidak
menghasilkan kehamilan dan kelahiran bayi hidup.
B. Klasifikasi

Infertilitas terdiri dari 2 macam, yaitu :

1) Infertilitas primer yaitu jika perempuan belum berhasil hamil walaupun


bersenggama teratur dan dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan
selama 12 bulan berturut-turut.
2) Infertilitas sekunder yaitu Disebut infertilitas sekunder jika perempuan
penah hamil, akan tetapi kemudian tidak berhasil hamil lagi walaupun
bersenggama teratur dan dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan
selama 12 bulan berturut- turut.

C. Etiologi
1. Penyebab Infertilitas pada perempuan (Istri) :

 Faktor penyakit

o Endometriosis adalah jaringan endometrium yang semestinya berada di


lapisan paling dalam rahim (lapisan endometrium) terletak dan tumbuh di
tempat lain. Endometriosis bisa terletak di lapisan tengah dinding rahim
(lapisan myometrium) yang disebut juga adenomyosis, atau bisa juga terletak
di indung telur, saluran telur, atau bahkan dalam rongga perut. Gejala umum
penyakit endometriosis adalah nyeri yang sangat pada daerah panggul
terutama pada saat haid dan berhubungan intim, serta -tentu saja-infertilitas.
o Infeksi Panggul adalah suatu kumpulan penyakit pada saluran reproduksi
wanita bagian atas, meliputi radang pada rahim, saluran telur, indung telur,
atau dinding dalam panggul. Gejala umum infeksi panggul adalah: nyeri pada
daerah pusar ke bawah (pada sisi kanan dan kiri), nyeri pada awal haid, mual,
nyeri saat berkemih, demam, dan keputihan dengan cairan yang kental atau
berbau. Infeksi panggul memburuk akibat haid, hubungan seksual, aktivitas
3

fisik yang berat, pemeriksaan panggul, dan pemasangan AKDR (alat


kontrasepsi dalam rahim, misalnya: spiral).
o Mioma Uteriadalah tumor (tumor jinak) atau pembesaran jaringan otot yang
ada di rahim. Tergantung dari lokasinya, mioma dapat terletak di lapisan luar,
lapisan tengah, atau lapisan dalam rahim. Biasanya mioma uteri yang sering
menimbulkan infertilitas adalah mioma uteri yang terletak di lapisan dalam
(lapisan endometrium). Mioma uteri biasanya tidak bergejala. Mioma aktif
saat wanita dalam usia reproduksi sehingga -saat menopause- mioma uteri
akan mengecil atau sembuh.
o Polip adalah suatu jaringan yang membesar dan menjulur yang biasanya
diakibatkan oleh mioma uteri yang membesar dan teremas-remas oleh
kontraksi rahim. Polip dapat menjulur keluar ke vagina. Polip menyebabkan
pertemuan sperma-sel telur dan lingkungan uterus terganggu, sehingga bakal
janin akan susah tumbuh.
o Kista adalah suatu kantong tertutup yang dilapisi oleh selaput (membran)
yang tumbuh tidak normal di rongga maupun struktur tubuh
manusia.Terdapat berbagai macam jenis kista, dan pengaruhnya yang berbeda
terhadap kesuburan. Hal penting lainnya adalah mengenai ukuran kista. Tidak
semua kista harus dioperasi mengingat ukuran juga menjadi standar untuk
tindakan operasi. Jenis kista yang paling sering menyebabkan infertilitas
adalah sindrom ovarium polikistik. Penyakit tersebut ditandai amenore (tidak
haid), hirsutism (pertumbuhan rambut yang berlebihan, dapat terdistribusi
normal maupun tidak normal), obesitas, infertilitas, dan pembesaran indung
telur. Penyakit ini disebabkan tidak seimbangnya hormon yang
mempengaruhi reproduksi wanita.
o Saluran telur yang tersumbat menyebabkan sperma tidak bisa bertemu dengan
sel telur sehingga pembuahan tidak terjadi alias tidak terjadi kehamilan.
Pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui saluran telur yang tersumbat
adalah dengan HSG (Hystero Salpingo Graphy), yaitu semacam pemeriksaan
röntgen (sinar X) untuk melihat rahim dan saluran telur.
o Kelainan pada sel telur dapat mengakibatkan infertilitas yang umumnya
merupakan manifestasi dari gangguan proses pelepasan sel telur (ovulasi).
Delapan puluh persen penyebab gangguan ovulasi adalah sindrom ovarium
polikistik. Gangguan ovulasi biasanya direfleksikan dengan gangguan haid.
Haid yang normal memiliki siklus antara 26-35 hari, dengan jumlah darah
haid 80 cc dan lama haid antara 3-7 hari. Bila haid pada seorang wanita
terjadi di luar itu semua, maka sebaiknya beliau memeriksakan diri ke dokter.

 Faktor fungsional

o Gangguan system hormonal wanita dan dapat di sertai kelainan bawaan


(immunologis)
Apabila embrio memiliki antigen yang berbeda dari ibu, maka tubuh ibu
memberikan reaksi sebagai respon terhadap benda asing. Reaksi ini dapat
menyebabkan abortus spontan pada wanita hamil.
4

o Gangguan pada pelepasan sel telur (ovulasi).Ovulasi atau proses pengeluaran


sel telur dari ovarium terganggu jika terjadi gangguan hormonal. Salah
satunya adalah polikistik. Gangguan ini diketahui sebagai salah satu
penyebab utama kegagalan proses ovulasi yang normal. Ovarium polikistik
disebabkan oleh kadar hormon androgen yang tinggi dalam darah. Kadar
androgen yang berlebihan ini mengganggu hormon FSH (Follicle Stimulating
Hormone) dalam darah. Gangguan kadar hormon FSH ini akan mengkibatkan
folikel sel telur tidak bisa berkembang dengan baik, sehingga pada gilirannya
ovulasi juga akan terganggu.
o Gangguan pada leher rahim, uterus (rahim) dan Tuba fallopi (saluran telur)
Dalam keadaan normal, pada leher rahim terdapat lendir yang dapat
memperlancar perjalanan sperma. Jika produksi lendir terganggu, maka
perjalanan sperma akan terhambat. Sedangkan jika dalam rahim, yang
berperan adalah gerakan di dalam rahim yang mendorong sperma bertemu
dengan sel telur matang. Jika gerakan rahim terganggu, (akibat kekurangan
hormon prostaglandin) maka gerakan sperma melambat. Terakhir adalah
gangguan pada saluran telur. Di dalam saluran inilah sel telur bertemu
dengan sel sperma. Jika terjadi penyumbatan di dalam saluran telur, maka
sperma tidak bisa membuahi sel telur. Sumbatan tersebut biasanya
disebabkan oleh penyakit salpingitis, radang pada panggul (Pelvic
Inflammatory Disease) atau penyakit infeksi yang disebabkan oleh jamur
klamidia.Kelainan pada uterus, misalnya diakibatkan oleh malformasi uterus
yang mengganggu pertumbuhan fetus, mioma uteri dan adhesi uterus yang
menyebabkan terjadinya gangguan suplai darah untuk perkembangan fetus
dan akhirnya terjadi abortus berulang.Kelainan tuba falopii akibat infeksi
yang mengakibatkan adhesi tuba falopii dan terjadi obstruksi sehingga ovum
dan sperma tidak dapat bertemu.

Gangguan implantasi hasil konsepsi dalam Rahim.Setelah sel telur


dibuahi oleh sperma dan seterusnya berkembang menjadi embrio, selanjutnya
terjadi proses nidasi (penempelan) pada endometrium. Perempuan yang
memiliki kadar hormon progesteron rendah, cenderung mengalami gangguan
pembuahan. Diduga hal ini disebabkan oleh antara lain karena struktur
jaringan endometrium tidak dapat menghasilkan hormon progesteron yang
memadai.

2. Penyebab Infertilitas pada laki-laki (suami)

 Kelainan pada alat kelamin

o Hipospadia yaitu muara saluran kencing letaknya abnormal, antara lain pada
permukaan testis.
o Ejakulasi retrograd yaitu ejakulasi dimana air mani masuk kedalam kandung
kemih.
5

o Varikokel yaitu suatu keadaan dimana pembuluh darah menuju bauh zakar
terlalu besar, sehingga jumlah dan kemampuan gerak spermatozoa berkurang
yang berarti mengurangi kemampuannya untuk menimbulkan kehamilan.
o Testis tidak turun dapat terjadi karena testis atrofi sehingga tidak turun.

 Kegagalan fungsional

o Kemampuan ereksi kurang.


o Kelainan pembentukan spermatozoa
o Gangguan pada sperma.

 Gangguan di daerah sebelum testis (pretesticular). Gangguan biasanya terjadi


pada bagian otak, yaitu hipofisis yang bertugas mengeluarkan hormon FSH
dan LH. Kedua hormon tersebut mempengaruhi testis dalam menghasilkan
hormon testosteron, akibatnya produksi sperma dapat terganggu serta
mempengaruhi spermatogenesis dan keabnormalan semen Terapi yang bisa
dilakukan untuk peningkatan testosterone adalah dengan terapi hormon.
 Gangguan di daerah testis (testicular). Kerja testis dapat terganggu bila
terkena trauma pukulan, gangguan fisik, atau infeksi. Bisa juga terjadi,
selama pubertas testis tidak berkembang dengan baik, sehingga produksi
sperma menjadi terganggu. Dalam proses produksi, testis sebagai “pabrik”
sperma membutuhkan suhu yang lebih dingin daripada suhu tubuh, yaitu 34–
35 °C, sedangkan suhu tubuh normal 36,5–37,5 °C. Bila suhu tubuh terus-
menerus naik 2–3 °C saja, proses pembentukan sperma dapat terganggu.
 Gangguan di daerah setelah testis (posttesticular). Gangguan terjadi di
saluran sperma sehingga sperma tidak dapat disalurkan dengan lancar,
biasanya karena salurannya buntu. Penyebabnya bisa jadi bawaan sejak lahir,
terkena infeksi penyakit -seperti tuberkulosis (Tb)-, serta vasektomi yang
memang disengaja.
 Tidak adanya semen. Semen adalah cairan yang mengantarkan sperma dari
penis menuju vagina. Bila tidak ada semen maka sperma tidak terangkut
(tidak ada ejakulasi). Kondisi ini biasanya disebabkan penyakit atau?
kecelakaan yang memengaruhi tulang belakang.
 Kurangnya hormon testosterone. Kekurangan hormon ini dapat
mempengaruhi kemampuan testis dalam memproduksi sperma.

3. Penyebab Infertilitas pada suami istri

 Gangguan pada hubungan seksual.Kesalahan teknik sanggama dapat


menyebabkan penetrasi tak sempurna ke vagina, impotensi, ejakulasi
prekoks, vaginismus, kegagalan ejakulasi, dan kelainan anatomik seperti
hipospadia, epispadia, penyakit Peyronie.
6

 Faktor psikologis antara kedua pasangan (suami dan istri).

o Masalah tertekan karena sosial ekonomi belum stabil


o Masalah dalam pendidikan
o Emosi karena didahului orang lain hamil.

D. Patofisiologi
1. Patofisiologi pada wanita

Beberapa penyebab dari gangguan infertilitas dari wanita diantaranya


gangguan stimulasi hipofisis hipotalamus yang mengakibatkan pembentukan FSH
dan LH tidak adekuat sehingga terjadi gangguan dalam pembentukan folikel di
ovarium. Penyebab lain yaitu radiasi dan toksik yng mengakibatkan gangguan
pada ovulasi. Gangguan bentuk anatomi sistem reproduksi juga penyebab mayor
dari infertilitas, diantaranya cidera tuba dan perlekatan tuba sehingga ovum tidak
dapat lewat dan tidak terjadi fertilisasi dari ovum dan sperma. Kelainan bentuk
uterus menyebabkan hasil konsepsi tidak berkembang normal walapun
sebelumnya terjadi fertilisasi. Abnormalitas ovarium, mempengaruhi
pembentukan folikel. Abnormalitas servik mempegaruhi proses pemasukan
sperma. Faktor lain yang mempengaruhi infertilitas adalah aberasi genetik yang
menyebabkan kromosom seks tidak lengkap sehingga organ genitalia tidak
berkembang dengan baik.

Beberapa infeksi menyebabkan infertilitas dengan melibatkan reaksi imun


sehingga terjadi gangguan interaksi sperma sehingga sperma tidak bisa bertahan,
infeksi juga menyebebkan inflamasi berlanjut perlekatan yang pada akhirnya
menimbulkan gangguan implantasi zigot yang berujung pada abortus.

2. Patofisiologi pada pria

Abnormalitas androgen dan testosteron diawali dengan disfungsi


hipotalamus dan hipofisis yang mengakibatkan kelainan status fungsional testis.
Gaya hidup memberikan peran yang besar dalam mempengaruhi infertilitas
dinataranya merokok, penggunaan obat-obatan dan zat adiktif yang berdampak
pada abnormalitas sperma dan penurunan libido. Konsumsi alkohol
mempengaruhi masalah ereksi yang mengakibatkan berkurangnya pancaran
sperma. Suhu disekitar areal testis juga mempengaruhi abnormalitas
spermatogenesis. Terjadinya ejakulasi retrograt misalnya akibat pembedahan
sehingga menyebebkan sperma masuk ke vesika urinaria yang mengakibatkan
komposisi sperma terganggu.

E. Manifestasi klinis
1. Pada wanita

 Terjadi kelainan system endokrin


 Hipomenore dan amenore
7

 Diikuti dengan perkembangan seks sekunder yang tidak adekuat


menunjukkan masalah pada aksis ovarium hipotalamus hipofisis atau
aberasi genetik
 Wanita dengan sindrom turner biasanya pendek, memiliki payudara yang
tidak berkembang,dan gonatnya abnormal
 Wanita infertil dapat memiliki uterus
 Motilitas tuba dan ujung fimbrienya dapat menurun atau hilang akibat
infeksi, adhesi, atau tumor
 Traktus reproduksi internal yang abnormal

2. Pada pria

 Riwayat terpajan benda – benda mutan yang membahayakan reproduksi


(panas, radiasi, rokok, narkotik, alkohol, infeksi)
 Status gizi dan nutrisi terutama kekurangan protein dan vitamin tertentu
Riwayat infeksi genitorurinaria
 Hipertiroidisme dan hipotiroid
 Tumor hipofisis atau prolactinoma
 Disfungsi ereksi berat
 Ejakulasi retrograt
 Hypo/epispadia
 Mikropenis
 Andesensus testis (testis masih dalam perut/dalam liat paha
 Gangguan spermatogenesis (kelainan jumla, bentuk dan motilitas sperma)
 Hernia scrotalis (hernia berat sampai ke kantong testis )
 Varikhokel (varises pembuluh balik darah testis)
 Abnormalitas cairan semen

F. Prognosis

Menurut Behman dan Kistner, prognosis terjadinya kehamilan pada


pasangan infertilitas tergantung pada umur suami, umur istri, dan lamanya
dihadapkan pada kemungkinan kehamilan (frekuensi senggama dan lamanya
perkawinan).

Fertilitas maksimal wanita dicapai pada umur 24 tahun, sementara fertilitas


maksimal pria dicapai pada umur 24 hingga 25 tahun.pengelolaan mutahir
terhadap pasangan infertile dapat membawa kehamilan kepada lebih dari 50%
pasangan, walaupun masih selalu ada 10-20% pasangan yang belum diketahui
etiologinya. Separuhnya lagi terpaksa harus hidup tanpa anak, atau memperoleh
anak dengan jalan lain, umpamanya dengan inseminasi buatan donor, atau
mengangkat anak ( adopsi ).
8

G. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan fisik
o Hirsutisme diukur dengan skala Ferriman dan Gallway, jerawat
o Pembesaran kel. Tiroid
o Galaktorea
o Inspeksi lendir serviks ditunjukkan dengan kualitas mucus
o PDV untuk menunjukkan adanya tumor uterus / adneksa

2. Pemeriksaan penunjang
a) Analisis Sperma :
o Jumlah > 20 juta/ml
o Morfologi > 40 %
o Motilitas > 60 %
b) Deteksi ovulasi :
o Anamnesis siklus menstruasi, 90 % siklus menstrusi teratur :siklus
ovulatoar
o Peningkatan suhu badan basal, meningkat 0,6 - 1oC setelah ovulasi :
Bifasik
o Uji benang lendir serviks dan uji pakis, sesaat sebelum ovulasi : lendir
serviks encer, daya membenang lebih panjang, pembentukan gambaran
daun pakis dan terjadi Estradiol meningkat
c) Biopsi Endometrium
Beberapa hari menjelang haid , Endometrium fase sekresi : siklus
ovulatoar, Endometrium fase proliferasi/gambaran, Hiperplasia : siklus
Anovulatoar
d) Hormonal: FSH, LH, E2, Progesteron, Prolaktin
o FSH serum : 10 - 60 mIU/ml
o LH serum : 15 - 60 mIU/ml
o Estradiol : 200 - 600 pg/ml
o Progesteron : 5 - 20 mg/ml
o Prolaktin : 2 - 20 mg/ml
e) USG transvaginal
Secara serial : adanya ovulasi dan perkiraan saat ovulasi
Ovulasi : ukuran folikel 18 - 24 m
f) Histerosalpinografi
1. Radiografi kavum uteri dan tuba dengan pemberian materi kontras. Disini
dapat dilihat kelainan uterus, distrosi rongga uterus dan tuba uteri, jaringan
parut dan adesi akibat proses radang. Dilakukan secara terjadwal. Menilai
Faktor tuba : lumen, mukosa, oklusi, perlengketan
2. Faktor uterus : kelainan kongenital (Hipoplasia, septum, bikornus,
Duplex), mioma, polip, adhesi intrauterin (sindroma asherman)
3. Dilakukan pada fase proliferasi : 3 hari setelah haid bersih dan sebelum
perkiraan ovulasi
4. Keterbatasan : tidak bisa menilai
5. Kelainan Dinding tuba : kaku, sklerotik
6. Fimbria : Fimosis fimbria
9

7. Perlengketan genitalia Int.


8. Endometriosis
9. Kista ovarium
10. Patensi tuba dapat dinilai :HSG, Hidrotubasi (Cairan), Pertubasi (gas CO2)
g) Pemeriksaan pelvis ultrasound
Untuk memvisualisasi jaringan pelvis, misalnya untuk identifikasi
kelainan, perkembangan dan maturitas folikuler, serta informasi kehamilan
intra uterin.
h) Uji paska sanggama (UPS)
Syarat :
Pemeriksaan Lendir serviks + 6 - 10 jam paska sanggama. Waktu
sanggama sekitar ovulasi, bentuk lendir normal setelah kering terlihat
seperti daun pakis. Menilai :
Reseptifitas dan kemampuan sperma untuk hidup pada lendir serviks.
Penilaian UPS : Baik : > 10 sperma / LPB
 Analisa semen.
• Parameter
• Warna putih keruh
• Bau bunga akasia
• Ph 7,2 – 7,8.
• Volume 2-5 ml
• Vikositas 1,6 – 6,6 centipose
• Jumlah sperma 20 juta / ml
• Sperma motil > 50 %
• Bentuk normal > 60 %
• Kecepatan gerak sperma 0,18 – 1,2 detik
• Persentasi gerak motil > 60 %
• Aglutinasi tidak ada
• Sel – sel sedikit, tidak ada
• Uji fruktosa 150 – 650 mg/dl.
i) Laparoskopi :
Gambaran visualisasi genitalia interna secara internal menyuluruh.
Menilai faktor :
 Peritoneum/endometriosis
 Perlengketan genitalia Interna
 Tuba : patensi, dinding, fimbria
 Uterus : mioma
 Ovulasi : Stigma pada ovarium dan korpus luteum
Keterbatasan:
Tidak bisa menilai : Kelainan kavum uteri dan lumen tuba
Bersifat invasif dan operatif
10

BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian Keperawatan
Data Demografis meliputi : identitas klien termasuk data etnis, budaya dan
agama.
1. Pengkajian Anamnesa
a) Pengkajian Anamnesa pada Wanita
1. Riwayat Kesehatan Dahulu
 Riwayat terpajan benda – benda mutan yang membahayakan reproduksi di
rumah
 Riwayat infeksi genitorurinaria
 Hipertiroidisme dan hipotiroid, hirsutisme
 Infeksi bakteri dan virus ex: toksoplasama
 Tumor hipofisis atau prolaktinoma
 Riwayat penyakit menular seksual
 Riwayat kista
2. Riwayat Kesehatan Sekarang
 Endometriosis dan endometrits
 Vaginismus (kejang pada otot vagina)
 Gangguan ovulasi
 Abnormalitas tuba falopi, ovarium, uterus, dan servik
 Autoimun
3. Riwayat Kesehatan Keluarga
Meliputi riwayat saudara/keluarga dengan aberasi genetik
4. Riwayat Obstetri
 Tidak hamil dan melahirkan selama satu tahun tanpa alat kontrasepsi
 Mengalami aborsi berulang
 Sudah pernah melahirkan tapi tidak hamil selama satu tahun tanpa alat
kontrasepsi
b) Pengkajian pada Pria
1. Riwayat Kesehatan Dahulu meliputi : riwayat terpajan benda – benda
mutan yang membahayakan reproduksi (panas, radiasi, rokok, narkotik,
alkohol, infeksi)
2. Riwayat infeksi genitorurinaria, Hipertiroidisme dan hipotiroid, Tumor
hipofisis atau Prolactinoma
3. Riwayat trauma, kecelakan sehinga testis rusak
4. Konsumsi obat-obatan yang mengganggu spermatogenesis
5. Pernah menjalani operasi yang berefek menganggu organ reproduksi
contoh : operasi prostat, operasi tumor saluran kemih
6. Riwayat Kesehatan Sekarang
 Disfungsi ereksi berat
 Ejakulasi retrograt
 Hypo/epispadia
 Mikropenis
11

 Andesensus testis (testis masih dalam perut/dalam liat paha)


 Gangguan spermatogenesis (kelainan jumla, bentuk dan motilitas sperma)
 Saluran sperma yang tersumbat
 Hernia scrotalis (hernia berat sampai ke kantong testis )
 Varikhokel (varises pembuluh balik darah testis)
 Abnormalitas cairan semen
7. Riwayat Kesehatan Keluarga
A. Memiliki riwayat saudara/keluarga dengan aberasi genetik
2. Pemeriksaan Penunjang
a) Pemeriksaan Penunjang padaWanita
1. Deteksi Ovulasi
2. Analisa hormone
3. Sitologi vagina
4. Uji pasca senggama
5. Biopsy endometrium terjadwal
6. Histerosalpinografi
7. Laparoskopi
8. Pemeriksaan pelvis ultrasound
b) Pemeriksaan Penunjang pada Pria
Analisa Semen:
Parameter
1. Warna Putih keruh
2. Bau Bunga akasia
3. PH 7,2 - 7,8
4. Volume 2 - 5 ml
5. Viskositas 1,6 – 6,6 centipose
6. Jumlah sperma 20 juta / ml
7. Sperma motil > 50%
8. Bentuk normal > 60%
9. Kecepatan gerak sperma 0,18-1,2 detik
10. Persentase gerak sperma motil > 60%
11. Aglutinasi Tidak ada
12. Sel – sel Sedikit,tidak ada
13. Uji fruktosa 150-650 mg/dl
14. Pemeriksaan endokrin
15. USG
16. Biopsi testis
17. Uji penetrasi sperma
18. Uji hemizona
B. Diagnosa dan Intervensi Keperawatan
1. Ansietas berhubungan dengan ancaman terhadap konsep diri Gangguan
konsep diri
2. Gangguan rasa nyaman b/d gejala penyakit
3. ketidakberdayaan
12

RESUME(PEMBUAHAN)
AMENORHEA

OLEH
Ade Novira (70300117033)

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
TAHUN AJARAN 2018/2019
13

A. Definisi
Amenorrhea adalah keadaan tidak adanya haid untuk sedikitnya 3
bulan berturut-turut. Lazim diadakan pembagian antara amenorrhea primer
dan amenorrhea sekunder. Kita berbicara tentang amenorrhea primer
apabila seorang wanita berumur 18 tahun keatas tidak pernah mendapat
haid, sedang pada amenorrhea sekunder penderita pernah mendapat haid,
tetapi kemudian tidak dapat lagi (Wiknjosastro,2008).
B. Etiologi
-Fisiologik
-Endokrinologik, atau organik, atau akibat gangguan perkembangan.
-Malnutrisi
-Keadaan emosional (stress)
- Perubahan lingkungan, dan beberapa penyakit organ reproduksi
-Gangguanhormonal
-Terdapat tumor alat kelamin atau terdapat penyakit menahun.
-Hipotensi, anemia, infeksi,
C. Manifestasi klinis
Menurut Nugroho dan Utama (2014), gejala amenore bervariasi tergantung
kepada penyebabnya. Jika penyebabnya adalah kegagalan mengalami
pubertas, maka tidak akan ditemukan tanda-tanda pubertas seperti
pembesaran payudara, pertumbuhan rambut ketiak serta perubahan bentuk
tubuh. Jika penyebabnya adalah kehamilan akan ditemukan morning
sicknessdan pembesaran perut. Jika penyebabnya adalah kadar hormon
tiroid yang tinggi maka gejalanya adalah denyut jantung yang cepat,
kecemasan, kulit yang hangat dan lembab. Sindroma cushingmenyebabkan
wajah bulat (moon face), perut buncit 16 dan lengan serta tungkai yang
kurus. Gejala lain yang mungkin ditemukan, yaitu: Sakit kepala ,Galaktore
(pembekuan air susu pada wanita yang tidak hamil dan tidak sedang
menyusui. Gangguan penglihatan (pada tumor hipofisa) Penurunan atau
penambahan berat badan yang berarti Vagina yang kering Hirsutisme
14

(pertumbuhan rambut yang berlebihan yangmengikuti pola pria),


perubahan suara dan perubahan ukuran payuara.

D. Diagnosa
- Ansietas b/d krisis situasi
- kurang pengetahuan b/d kurang informasi yang didapat tentang
penyakitnya

E. Pengobatan
Menurut Nugroho dan Utama (2014), pengobatan tergantung kepada
penyebabnya. 1)Jika penyebabnya adalah penurunan berat badan yang
drastis atau obesitas, penderita dianjurkan untuk menjalani dietyang tepat.
2)Jika penyebannya adalah olah raga yang berlebihan, penderita
dianjurkan untuk menguranginya.
3)Jika seorang anak perempuan belum pernah mengalami menstruasi dan
semua hasil pemeriksaan normal, maka dilakukan pemeriksaan setiap 3 – 6
bulan untuk memantau perkembangan pubertasnya. Untuk merangsang
menstruasi bisa diberikan progesteron. Untuk merangsan perubahan
pubertas pada anak perempuan yang payudaranya belum membesar atau
rambut kemaluan danketiaknya belum tumbuh bisa diberikan estrogen.
4)Jika penyebabnya adalah tumor, maka dilakukan pembedahan untuk
mengangkat tumor tersebut. Tumor hipofisa yang terletak di dalam otak
biasanya diobati dengan bromokriptin untuk mencegah perlu bisa
dilakukan pengangkatan tumor. Terapi penyinaran biasanya baru
dilakukan jika pemberian obat ataupun pembedahan tidak berhasil.
15

RESUME (PEMBUAHAN)
DISMENORE

OLEH

Ade Novira (70300117033)

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
TAHUN AJARAN 2018/2019
16

BAB I
KONSEP DASAR MEDIS
A. Definisi
Dismenore adalah perasaan nyeri pada waktu haid dapat berupa kram
ringan pada bagian kemaluan sampai terjadi gangguan dalam tugas sehari-
hari. Gangguan ini ada dua bentuk yaitu dismenorre primer dan
dismenorre sekunder.
Dismenore (nyeri haid) merupakan gejala yang timbul menjelang dan
selama mentruasi ditandai dengan gejala kram pada abdomen bagian
bawah .
Dismenore adalah nyeri selama menstruasi yang disebebkan karena
adanya kejang otot uterus .

B. Epidemiologi
Angka kejadian nyeri pada wanita di Indonesia mencapai angka
54,89%, sedangkan sisanya adalah penderita tipe sekunder, yang
menyebabkan mereka tidak mampu melakukan tindakan apapun, dan ini
akan menurunkan kualitas hidup masing-masing individu (Proverawati &
Misaroh, 2009). Nyeri menstruasi menyebabkan gangguan aktivitas
sehari-hari dan harus absen dari sekolah 1 – 7 hari setiap bulannya pada 15
% responden berusia 15 – 17 %. Remaja yang mengalami nyeri menstruasi
berat mendapat nilai yang rendah ( 6, 5 %), menurunnya konsentrasi
(87,1%), dan absen dari sekolah (80,6%).

C. Etiologi
Etiologi dapat diklasifikasikan menurut macam dari disminore itu sendiri.
a. Disminore Primer : Jumlah prostaglandin F2α yang berlebih pada darah
menstruasi, yang merangsang aktivitas uterus
b. Disminore sekunder : Timbul karena adanya masalah fisik, seperti
endometriosis, polip uteri, leiomioma, stenosis serviks, atau penyakit
radang panggul.

D. Gejala Klinis
Menurut Arif Mansjoer tanda dan gejala dari dismenore adalah

a. Dimenore primer
1) Usia lebih muda, maksimal usia 15-25 tahun
2) Timbul setelah terjadinya siklus haid yang teratur
3) Sering terjadi pada nulipara
4) Nyeri sering terasa sebagai kejang uterus dan spastic
5) Nyeri timbul mendahului haid dan meningkat pada hari pertama
atau kedua haid
6) Tidak dijumpai keadaan patologi pelvic
17

7) Hanya terjadi pada siklus haid yang ovulatorik


8) Sering memberikan respon terhadap pengobatan medikamentosa
9) Pemeriksaan pelvik normal
10) Sering disertai nausea, muntah, diare, kelelahan, nyeri kepala

b. Dismenore sekunder
1) Usia lebih tua, jarang sebelum usia 25 tahun
2) Cenderung timbul setelah 2 tahun siklus haid teratur
3) Tidak berhubngan dengan siklus paritas
4) Nyeri sering terasa terus menerus dan tumpul
5) Nyeri dimulai saat haid dan meningkat bersamaan dengan
keluarnya darah
6) Berhubungan dengan kelainan pelvic
7) Tidak berhubungan dengan adanya ovulasi
8) Seringkali memerlukan tindakan operatif
9) Terdapat kelainan pelvic

Nyeri pada disminore juga dapat dibagi menjadi beberapa bagian, berdasarkan
gradenya :
0 : Tidak disminore
1 : Nyeri ringan, aktivitas sedikit terganggu, jarang membutuhkan
obat, namun jika obat dikonsumsi dapat efektif mengurangi nyeri
2 : Nyeri sedang, aktivitas terganggu, membutuhkan obat, dan obat
tersebut efektif mengurangi nyeri
3 : Nyeri hebat, mengganggu sebagian besar aktivitas, membutuhkan
obat, tapi obat jarang efektif dalam mengurangi rasa nyeri
( Reece & Barberie, 2009)
E. Patofisiologi
Saat fase luteal, korpus luteum berdegenerasi karena tidak terjadi
pembuahan dan implantasi. Maka kadar estrogen dan progesterone di
sirkulasi akan menurun drastic. Penurunan kadar hormone tersebut
merangsang pengeluaran prostaglandin uterus. Prostaglandin adalah suatu
nyeawa yang berasal dari fosfolipid. Melalui enzim fosfolipase, fosfolipid
akan diubah menjadi as. Arakidonat. Asam ini akan disiklasi menjadi
prostaglandin endoperoksida siklik dalam bentuk PGG2 dengan bantuan
enzim endoperoksida isomerase dan peroksidase. Selanjutnya PGH2
diubah menjadi PGF2α dibentuk oleh enzim PGF2α reduktase dan
peroksidase. Prostaglandin yang dihasilkan tersebut akan menginduksi
terjadinya kontraksi uterus. Kontraksi uterus selama menstruasi mulai dari
tekanan basal < 10mmHg, sehingga menghasilkan tekanan intrauterine
yang lebih tinggi sapai sering mencapi 150 – 180 mmHg dan juga bisa
18

melebihi 400mmHg, frekuensi lebih sering yaitu <4 – 5 setiap 10 menit


dan tidak beritme atau berkoordinasi karena kontraksi dari uterus yang
berkepanjangan menyebabkan aliran darah keuterus akan menurun,
sehingga uterus akan mengalami iskemia. Selama uterus iskemia maka
akan terjadi metabolisme anaerob, dimana hasilnya akan merangsang saraf
nyeri kecil tipe C yang akan memberikan kontribusi untuk terjadinya
dismenore. Nyeri tersebut dapat menyebar kearah pinggang dan paha di
karenakan, pada uterus dipersarafi oleh T12, L1, L2, L3, S2, S3 dan S4
yang memberikan penyebaran nyeri ke pinggang dan paha (Rasjdid,
2008). Selain itu PGF2α dan PGE2 juga dapat menyebabkan timbulnya
keluhan seperti diare, mual, muntah, dll (Fritz & Speroff, 2010)
Dismenorea sekunder (secondary dysmenorrhea) dapat terjadi
kapan saja setelah menarche (haid pertama), namun paling sering muncul
di usia 20-an atau 30-an, setelah tahun-tahun normal, siklus tanpa nyeri
(relatively painless cycles). Peningkatan prostaglandin dapat berperan
pada dismenorea sekunder, namun, secara pengertian (by definition),
penyakit pelvis yang menyertai (concomitant pelvic pathology) haruslah
ada. Penyebab yang umum termasuk: endometriosis, leiomyomata
(fibroid), adenomyosis, polip endometrium, chronic pelvic inflammatory
disease, dan penggunaan peralatan kontrasepsi atau IUD (intrauterine
device). Karim Anton Calis (2006) mengemukakan sejumlah faktor yang
terlibat dalam patogenesis dismenorea sekunder. Kondisi patologis pelvis
berikut ini dapat memicu atau mencetuskan dismenorea sekunder :
a. Endometriosis
b. Pelvic inflammatory disease
c. Tumor dan kista ovarium
d. Oklusi atau stenosis servikal
e. Adenomyosis
f. Fibroids
g. Uterine polyps
h. Intrauterine adhesions
i. Congenital malformations (misalnya: bicornate uterus,
subseptate uterus)
j. Intrauterine contraceptive device
k. Transverse vaginal septum
l. Pelvic congestion syndrome
m. Allen-Masters syndrome
F. Klasifikasi
Berdasarkan klasifikasi menurut etiologinya, dismenore di bagi menjadi
dismenore primer dan sekunder.
a. Primer
Dismenorea ini terasa sangat nyeri tanpa patologis pelvis yang
dapat diidentifikasi. Dapat terjadi [ada waktu menarke ata segera
setelahnya. Dismenorea ditandai dengan oleh nyeri kram yang
dimulais sebelum atau segera setelah awitan aliran menstrual dan
19

berlanjut sampai beberapa 48 atau 72 jam. Jarang ada yang sampau 72


jam.
Gejala utama adalah nyeri, nyeri dapat tajam, tumpul, siklik, atau
menetap. Gejala sistemik yang menyertai adalah berupa mual, diare,
sakit kepala, dan perubahan emosional
Faktor psikologis seperti ansietas dan ketegangan juga dapat
menunjang dismenorea. Dengan bertambahnya usia wanita, nyeri
cenderung hilang, dan akan hilang sama sekali setelah melahirkan
anak.

b. Sekunder
Dismenore sekunder terjadi bila terdapat gangguan patologis
pelvis, seperti endometriosis, tumor, atau penyakit inflammatory.
Biasanya mereka mengalami nyeri sebelum haid, disertai ovulasi dan
kadang kala pada saat melakukan hubungan seksual.
Sedangkan berdasarkan klasifikasi menurut jenis nyerinya :
a. Nyeri Spasmodik
Nyeri ini terasa dibagian bawah perut dan berawal sebelum masa
haid atau segera setelah masa haid mulai. Biasanya perempuan
terpaksa harus berbaring karena terlalu menderita nyeri itu sehingga ia
tidak dapat mengerjakan apapun. Ada diantara mereka yang pingsan,
mereka sangat mual, bahkan ada yang benar benar muntah. Kebanyak
dari mereka adalah wanita muda, walaupun dijumpai juga pada wanita
umur 40 th keatas. Disminore spasmodic dapat diobat atau paling tidak
dikurangi dengan lahirnya bayi pertama, walaupun banyak pula
perempuan yang tidak mengalami gejala seperti itu.

b. Nyeri Kongestif
Penderita disminore kongestif yang biasanya akan tahu sejak
berharihari sebelumnya bahwa masa haidnya akan segera tiba mungkin
mengalami pegal, sakit pada buah dada, perut kembung tidak menentu,
pakaian dalam terasa terlalu ketat, sakit kepala, sakit punggung, pegal
pada paha, merasa lelah atau sulit dipahami, mudah tersinggung,
kehilangan keseimbangan, menjadi ceroboh, terganggu tidur, dan
muncul memar dipaha dan lengan atas. Semua itu merupakan symptom
pegal menyiksa yang berlangsung antara 2 dan 3 hari sampai kurang
dari 2 minggu. Proses menstruasi mungkin tidak terlalu menimbulkan
nyeri jika sedang berlangsung. Bahkan sekian hari pertama masa haid
orang yang menderita dismonore kongesif akan merasa lebih baik.
G. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang dilakukan meliputi :
1) Kepala : Pemeriksaan konjungtiva, pemeriksaan membrane mukosa
bibir
2) Dada :
Paru : peningkatan frekuensi nafas
20

Jantung : Peningkatan denyut jantung


3) Payudara dan ketiak : Adanya nyeri pada payudara
4) Abdomen : Nyeri pada bagian bawah abdomen, kaji penyebab nyeri,
Kualitas nyeri, Region nyeri, Skala Nyeri, Awitan terjadinya nyeri, sejak
kapan dan berapa lama
5) Genetalia : Kaji siklus menstruasi pasien
6) Integumen : kaji turgor kulit

H. Pemeriksaan Dignostik
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada klien dengan
dismenore adalah :
a. Tes laboratorium
1) Pemeriksaan darah lengkap : normal.
2) Urinalisis : normal
b. Tes diagnostic tambahan
- Laparaskopi : penyikapan atas adanya endomeriosi atau kelainan
pelvis yang lain.

I. Therapi
Therapi diberikan berdasarkan klasifikasi dismenore. Pada nyeri
primer diberikan agen antiinflamasi nonsteroid, yang menyekat sistensis
prostaglandin melaluo penghambatan enzim siklooksigenase, misalnya :
ibuprofen (Motrin), naproxen, alleve, Anaprox, Naproxyn, dan as.
Mefenamat (ponstel).
Dengan pemberian obat-obatan ini biasanya wanita akan
mengalami efek samping pada gastrointestinal. Kontra indikasi obat-
obatan ini adalah pada wanita dengan alergi, riwayat ulkus peptikum,
sensitive terhadap aspirin, asma dan terjadinya kehamilan. (Brunner &
Suddarth, 2002)
Terapi akan baik bila dilaksanakan sebelum gejala menstruasi
sampai gejala berkurang.
Dapat juga diberikan kontrasepsi oral, yang berfungsi menghambat
prostaglandin endometrium oleh progesterone. Obat-obatan ini akan
menurunkan jumlah menstruasi sehingga menurunkan konsentrasi
prostaglandin. (Price, 2002)
Pemberian analgesic sebelum kram mulai, juga dapat mengurangi
rasa nyeri. Aspirin, inhibitor prostaglandin ringan juga dapat di berikan
sesuai dosis, biasanya dianjurkan setiap 4 jam.
Sedangkan, tindakan yang dapat dilakukan untuk nyeri sekunder
adalah mengobati penyakit yang mendasarinya.
21

BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Biodata klien
Umur : pasien berada dalam usia masa menstruasi
Pendidikan : pendidikan pasien sangat mempengaruhi tingkat
pengetahuan pasien mengenai menstruasi
Pekerjaan : pekerjaan pasien (kegiatan rutinitas pasien) juga
mempengaruhi terjadinya gangguan menstruasi
b. Alasan MRS
Keluhan utama :
Merasakan nyeri yang berlebihan ketika haid pada bagian perut
disertai dengan mual muntah, pusing dan merasakan badan lemas.
c. Riwayat haid
Umur menarchi pertama kali, lama haid, jumlah darah yang keluar,
konsistensi, siklus haid.
d. Riwayat penyakit dahulu
Penyakit yang pernah diderita pada masa lalu, bagaimana cara
pengobatan yang dijalaninya, dimana mendapat pertolongan, apakah
penyakit tersebut diderita sampai saat ini atau kambuh berulang–ulang
e. Riwayat kesehatan keluarga
Adakah anggota keluarga yang menderita penyakit seperti yang pasien
alami.

Pola Kebutuhan Dasar (Gordon)


a. Pola Persepsi dan Tata Laksana Hidup Sehat
Pada kasus Dismenore akan timbul ketakutan karena ketidaktahuan
atau kurangnya informasi/ pengetahuan mengenai Dismenore.
b. Pola Nutrisi dan Metabolisme
Pada umumnya klien dengan dismenorre mengalami penurunan nafsu
makan, frekuensi minum klien juga mengalami penurunan.
c. Pola Eliminasi
Untuk kasus fraktur humerus tidak ada gangguan pada pola eliminasi,
tapi walaupun begitu perlu juga dikaji frekuensi, konsistensi, warna
serta bau feces pada pola eliminasi alvi. Sedangkan pada pola
eliminasi urin dikaji frekuensi, kepekatannya, warna, bau, dan jumlah.
Pada kedua pola ini juga dikaji ada kesulitan atau tidak.
d. Pola Tidur dan Istirahat
Klien dengan disminorre mengalami nyeri pada daerah perut sehingga
pola tidur klien menjadi terganggu, apakah mudah terganggu dengan
suara-suara, posisi saat tidur (penekanan pada perineum)
e. Pola Aktivitas
Kemampuan mobilisasi klien dibatasi, karena klien dengan disminorre
di anjurkan untuk istirahat.
f. Pola Hubungan dan Peran
22

Klien tidak akan kehilangan peran dalam keluarga dan dalam


masyarakat. Karena klien tidak harus menjalani rawat inap.
g. Pola Persepsi dan Konsep Diri
Pada kasus Dismenore akan timbul ketakutan karena ketidaktahuan
atau kurangnya informasi/ pengetahuan mengenai Dismenore.
h. Pola Sensori dan Kognitif
Pada klien Dismenore, daya rabanya tidak terjadi gangguan, sedangkan
pada indera yang lain tidak timbul gangguan.begitu juga pada
kognitifnya tidak mengalami gangguan. Namun timbul rasa nyeri pada
perut bagian bagian bawah.
i. Pola Reproduksi Seksual
Kebiasaan penggunaan pembalut sangat mempengaruhi terjadinya
gangguan menstruasi.
j. Pola Penanggulangan Stress
Pada klien Dismenore timbul rasa cemas tentang keadaan dirinya,
yaitu mengenai adanya kelainan pada sistem reproduksinya.
k. Pola Tata Nilai dan Keyakinan
Untuk klien Dismenore tidak dapat melaksanakan kebutuhan
beribadah dengan baik terutama frekuensi dan konsentrasi. Hal ini bisa
disebabkan karena nyeri dan keterbatasan gerak klien.
l. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang dilakukan meliputi :
1) Kepala : Pemeriksaan konjungtiva, pemeriksaan membrane
mukosa bibir
2) Dada :
Paru : peningkatan frekuensi nafas
Jantung : Peningkatan denyut jantung
3) Payudara dan ketiak : Adanya nyeri pada payudara
4) Abdomen : Nyeri pada bagian bawah abdomen, kaji penyebab
nyeri, Kualitas nyeri, Region nyeri, Skala Nyeri, Awitan terjadinya
nyeri, sejak kapan dan berapa lama
5) Genetalia : Kaji siklus menstruasi pasien
6) Integumen : kaji turgor kulit
3. Diagnosa
a. Nyeri akut b/d agen pencedera fisiologi
b. Intoleransi aktivitas b/d kelemahan
23

RESUME (PEMBUAHAN)
MOLA HIDATIDOSA

OLEH
Ade Novira (70300117033)

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
TAHUN AJARAN 2018/2019
BAB I
KONSEP DASAR MEDIS
24

BAB I
KONSEP DASAR MEDIS
A.Definisi
Mola hidatidosa adalah chorionic villi (jonjotan/gantungan) yang tumbuh
berganda berupa gelembung-gelembung kecil yang mengandung banyak cairan
sehingga menyerupai buah anggur atau mata ikan. Karena itu disebut juga hamil
anggur atau mata ikan.
Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal, dengan ciri-ciri stoma villus
korialis langka, vaskularisasi dan edematus. Janin biasanya meninggal akan tetapi
villus-villus yang membesar dan edematus itu hidup dan tumbuh terus, gambaran
yang diberikan adalah sebagai segugus buah anggur.
Mola hidatidosa adalah perubahan abnormal dari villi korionik menjadi sejumlah
kista yang menyerupai anggur yang dipenuhi dengan cairan. Embrio mati dan
mola tumbuh dengan cepat, membesarnya uterus dan menghasilkan sejumlah
besar human chorionic gonadotropin.
Mola Hidatidosa (Hamil Anggur) adalah suatu massa atau pertumbuhan di dalam
rahim yang terjadi pada awal kehamilan.

B. Etiologi
Penyebab mola hidatidosa tidak diketahui secara pasti, namun faktor penyebabnya
adalah:

1. Faktor ovum : ovum memang sudah patologik sehingga mati, tetapi


terlambat dikeluarkan.
2. Imunoselektif dari tropoblast.
3. Keadaan sosio-ekonomi yang rendah.
4. Paritas tinggie
5. Kekurangan protein
6. Infeksi virus dan faktor kromosom yang belum jelas.
Mola hidatifosa berasal dari plasenta dan/atau jaringan janin sehingga hanya
mungkin terjadi pada awal kehamilan. Massa biasanya terdiri dari bahan-bahan
plasenta yang tumbuh tak terkendali. Sering tidak ditemukan janin sama sekali.
Penyebab terjadinya mola belum sepenuhnya dimengerti. Penyebab yang paling
mungkin adalah kelainan pada sel telur, rahim dan/atau kekurangan gizi.
Resiko yang lebih tinggi ditemukan pada wanita yang berusia di bawah 20 tahun
atau diatas 40 tahun.
Faktor resiko terjadinya mola adalah:
Status sosial-ekonomi yang rendah
Diet rendah protein, asam folat dan karotin.

C. Patofisiologi
Mola hidatidosa dapat terbagi menjadi :

1. Mola hidatidosa komplet (klasik), jika tidak ditemukan janin.


2. Mola hidatidosa inkomplet (parsial), jika disertai janin atau bagian janin.
25

Ada beberapa teori yang diajukan untuk menerangkan patogenesis dari penyakit
trofoblast :

 Teori missed abortion


Mudigah (Calon Janin) mati pada kehamilan 3 – 5 minggu karena itu terjadi
gangguan peredarah darah sehingga terjadi penimbunan cairan masenkim dari
villi dan akhirnya terbentuklah gelembung-gelembung.

 Teori neoplasma dari Park


Sel-sel trofoblast adalah abnormal dan memiliki fungsi yang abnormal dimana
terjadi reabsorbsi cairan yang berlebihan ke dalam villi sehigga timbul
gelembung.

 Studi dari Hertig


Studi dari Hertig lebih menegaskan lagi bahwa mola hidatidosa semata-mata
akibat akumulasi cairan yang menyertai degenerasi awal atau tiak adanya embrio
komplit pada minggu ke tiga dan ke lima. Adanya sirkulasi maternal yang terus
menerus dan tidak adanya fetus menyebabkan trofoblast berproliferasi dan
melakukan fungsinya selama pembentukan cairan.
Jonjot-jonjot korion tumbuh berganda dan mengandung cairan merupakan kista-
kista kecil seperti anggur. Biasanya di dalamnya tidak berisi embrio. Secara histo
patologic kadang-kadang ditemukan jaringan mola pada plasenta dengan bayi
normal. Bisa juga terjadi kehamilan ganda mola adalah: satu janin tumbuh dan
yang satu menjadi mola hidatidosa. Gelembung mola besarnya bervariasi, mulai
dari yang kecil sampai berdiameter lebih dari 1 cm.
Mola parsialis adalah bila dijumpai janin dan gelembung - gelembung mola.
Secara mikroskopik terlihat trias :
1. Proliferasi dari trofoblas
2. Degenerasi hidropik dari stroma villi dan kesembaban
3. Terlambat atau hilangnya pembuluh darah dan stroma

D. Manifestasi Klinis
1. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala kehamilan dini didapatkan pada mola hidatidosa. Kecurigaaan
biasanya terjadi pada minggu ke 14 - 16 dimana ukuran rahim lebih besar dari
kehamilan biasa, pembesaran rahim yang terkadang diikuti perdarahan, dan
bercak berwarna merah darah beserta keluarnya materi seperti anggur pada
pakaian dalam.
Tanda dan gejala serta komplikasi mola :
1. Mual dan muntah yang parah yang menyebabkan 10% pasien masuk RS.
2. Pembesaran rahim yang tidak sesuai dengan usia kehamilan (lebih besar).
3. Gejala – gejala hipertitoidisme seperti intoleransi panas, gugup, penurunan BB
yang tidak dapat dijelaskan, tangan gemetar dan berkeringat, kulit lembab.
4. Gejala – gejala pre-eklampsi seperti pembengkakan pada kaki dan tungkai,
peningkatan tekanan darah, proteinuria (terdapat protein pada air seni).
5. Amenore dan tanda-tanda kehamilan
26

6. Perdarahan pervaginam berulang. Darah cenderung berwarna coklat. Pada


keadaan lanjut kadang keluar gelembung mola.
7. Tidak terabanya bagian janin pada palpasi dan tidak terdengarnya DJJ sekalipun
uterus sudah membesar setinggi pusat atau lebih.
2. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah :
a. Serum ß-hCG untuk memastikan kehamilan dan pemeriksaan ß-hCG serial
b. Ultrasonografi (USG). Melalui pemeriksaan USG kita dapat melihat adakah
janin di dalan kantung gestasi (kantung kehamilan) dan kita dapat mendeteksi
gerakan maupun detak jantung janin. Apabila semuanya tidak kita temukan di
dalam pemeriksaan USG maka kemungkinan kehamilan ini bukanlah kehamilan
yang normal.
c. Foto rontgen : pada mola ada gambaram emboli udara

E. Penatalaksanaan Medis
Penanganan yang biasa dilakukan pada mola hidatidosa adalah :

1. Diagnosis dini akan menguntungkan prognosis.


2. Pemeriksaan USG sangat membantu diagnosis. Pada fasilitas kesehatan di
mana sumber daya sangat terbatas, dapat dilakukan : Evaluasi klinik dengan
fokus pada : Riwayat haid terakhir dan kehamilan Perdarahan tidak teratur
atau spotting, pembesaran abnormal uterus, pelunakan serviks dan korpus
uteri. Kajian uji kehamilan dengan pengenceran urin. Pastikan tidak ada janin
(Ballottement) atau DJJ sebelum upaya diagnosis dengan perasat Hanifa
Wiknjosastro atau Acosta Sisson.
3. Lakukan pengosongan jaringan mola dengan segera.
4. Antisipasi komplikasi (krisis tiroid, perdarahan hebat atau perforasi uterus).
5. Lakukan pengamatan lanjut hingga minimal 1 tahun. Selain dari penanganan
di atas, masih terdapat beberapa penanganan khusus yang dilakukan pada
pasien dengan mola hidatidosa, yaitu : Segera lakukan evakuasi jaringan mola
dan sementara proses evakuasi berlangsung berikan infus 10 IU oksitosin
dalam 500 ml NaCl atau RL dengan kecepatan 40-60 tetes per menit (sebagai
tindakan preventif terhadap perdarahan hebat dan efektifitas kontraksi
terhadap pengosongan uterus secara tepat). Pengosongan dengan Aspirasi
Vakum lebih aman dari kuretase tajam. Bila sumber vakum adalah tabung
manual, siapkan peralatan AVM minimal 3 set agar dapat digunakan secara
bergantian hingga pengosongan kavum uteri selesai. Kenali dan tangani
komplikasi seperti tirotoksikasi atau krisis tiroid baik sebelum, selama dan
setelah prosedur evakuasi. Anemia sedang cukup diberikan Sulfas Ferosus 600
mg/hari, untuk anemia berat lakukan transfusi. Kadar hCG diatas 100.000
IU/L praevakuasi menunjukkan masih terdapat trofoblast aktif (diluar uterus
atau invasif), berikan kemoterapi MTX dan pantau beta-hCG serta besar
uterus secara klinis dan USG tiap 2 minggu. Selama pemantauan, pasien
dianjurkan untuk menggunakan kontrasepsi hormonal (apabila masih ingin
anak) atau tubektomy apabila ingin menghentikan fertilisasi.
27

BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Pengkajian Data Subjetif
Pengkajian adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data dan
menganalisanya sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan perawatan bagi
klien.
Adapun hal-hal yang perlu dikaji adalah :
a. Biodata : mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi ; nama, umur,
agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, perkawinan ke- ,
lamanya perkawinan dan alamat.
b. Keluhan utama : Kaji adanya menstruasi tidak lancar dan adanya perdarahan
pervaginam berulang.
c. Riwayat kesehatan, yang terdiri atas :
o Riwayat kesehatan sekarang yaitu keluhan sampai saat klien pergi ke Rumah
Sakit atau pada saat pengkajian seperti perdarahan pervaginam di luar siklus haid,
pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan.
o Riwayat kesehatan masa lalu
o Riwayat pembedahan : Kaji adanya pembedahan yang pernah dialami oleh klien,
jenis pembedahan , kapan , oleh siapa dan di mana tindakan tersebut berlangsung.
d. Riwayat penyakit yang pernah dialami : Kaji adanya penyakit yang pernah
dialami oleh klien misalnya DM, jantung, hipertensi, masalah ginekologi/urinary,
penyakit endokrin, dan penyakit-penyakit lainnya.
e. Riwayat kesehatan keluarga : Yang dapat dikaji melalui genogram dan dari
genogram tersebut dapat diidentifikasi mengenai penyakit turunan dan penyakit
menular yang terdapat dalam keluarga.
f. Riwayat kesehatan reproduksi : Kaji tentang mennorhoe, siklus menstruasi,
lamanya, banyaknya, sifat darah, bau, warna dan adanya dismenorhoe serta kaji
kapan menopause terjadi, gejala serta keluahan yang menyertainya.
g. Riwayat kehamilan , persalinan dan nifas : Kaji bagaimana keadaan anak klien
mulai dari dalam kandungan hingga saat ini, bagaimana keadaan kesehatan
anaknya.
h. Riwayat seksual : Kaji mengenai aktivitas seksual klien, jenis kontrasepsi yang
digunakan serta keluhan yang menyertainya.
i. Riwayat pemakaian obat : Kaji riwayat pemakaian obat-obatan kontrasepsi
oral, obat digitalis dan jenis obat lainnya.
j. Pola aktivitas sehari-hari : Kaji mengenai nutrisi, cairan dan elektrolit,
eliminasi (BAB dan BAK), istirahat tidur, hygiene, ketergantungan, baik sebelum
dan saat sakit.
2. Pengkajian Data Objektif
a. TTV: ada tidaknya demam, takikardi, hipotensi, frekuensi nafas
b. Status Gizi: Berat Badan meningkat/menurun
c. Status Kardiovaskuler: Bunyi jantung, karakter nadi
d. Status Respirasi: Pola pernafasan terhadap kedalaman dan kesimetrisan
e. Status Hidrasi: Edema, derajat kelembaban
28

f. Keadaan Integumen: Observasi kulit terhadap warna, lesi, laserasi, bekas luka
operasi, kontraksi dinding perut
g. Genital: nyeri kostovertebral dan suprapubik, perdarahan yang abnormal
h. Status Eliminasi: Perubahan konstipasi feses, konstipasi dan perubahan
frekuensi berkemih
i. Keadaan Muskoloskeletal: Bahasa tubuh, pergerakan, tegangan otot, ketut lutut
j. Keadaan janin: Pemeriksaan DJJ, TFU, dan perkembangan janin (apakah sesuai
dengan usia kehamilan)

B. Diagnosa Keperawatan

1. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan.


2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan.
3. Gangguan pola tidur berhubungan dengan adanya nyeri.
4. Gangguan rasa nyaman : hipertermi berhubungan dengan proses infeksi.
5. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan
29

RESUME(PEMBUAHAN)
ENDOMETRIOSIS

OLEH
Ade Novira (70300117033)

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
TAHUN AJARAN 2018/2019
30

BAB I
KONSEP DASAR MEDIS
1. Definsi
Endometriosis adalah keadaan ketika sel-sel endometrium yang
seharusnya terdapat hanya dalam uterus, tersebar juga ke dalam rongga pelvis .
Endometriosis merupakan suatu kondisi yang dicerminkan dengan keberadaan
dan pertumbuhan jaringan endometrium di luar uterus. Jaringan endometrium itu
bisa tumbuh di ovarium, tuba falopii, ligamen pembentuk uterus, atau bisa juga
tumbuh di apendiks, colon, ureter dan pelvis.
Endometriosis adalah lesi jinak atau lesi dengan sel-sel yang serupa
dengan sel-sel lapisan uterus tumbuh secara menyimpang dalam rongga pelvis
diluar uterus. Endometriosis adalah terdapatnya jaringan endometrium (kelenjar
dan stoma) diluar uterus Endometriosis adalah terdapatnya jaringan endometrium
di luar kavum uterus. Bila jaringan endometrium terdapat di dalam miometrium
disebut adenomiosis (adenometriosis internal) sedangkan bila diluar uterus disebut
(endometriorisis ekterna).

2. Etiologi / Penyebab
Etiologi endometriosis belum diketahui tetapi ada beberapa teori yang telah
dikemukakan :
a. Secara kongenital sudah ada sel-sel endometrium di luar uterus.
b. Pindahnya sel-sel endometrium melalui sirkulasi darah atau sirkulasi limfe.
c. Refluks menstruasi yang mengandung sel-sel endometrium ke tuba fallopi,
sampai ke rongga pelvis.
d. Herediter karena insiden lebih tinggi pada wanita yang ibunya juga
mengalami endometriosis

3. Patofisiologi
Endometriosis berasal dari kata endometrium, yaitu jaringan yang melapisi
dinding rahim. Endometriosis terjadi bila endometrium tumbuh di luar rahim.
Lokasi tumbuhnya beragam di rongga perut, seperti di ovarium, tuba falopii,
jaringan yang menunjang uterus, daerah di antara vagina dan rectum, juga di
kandung kemih. Dalam setiap siklus menstruasi lapisan dinding rahim menebal
dengan tumbuhnya pembuluh darah dan jaringan, untuk mempersiapkan diri
menerima sel telur yang akan dilepaskan oleh indung telur yang terhubungkan
dengan rahim oleh saluran yang disebut tuba falopii atau saluran telur. Apabila
telur yang sudah matang tersebut tidak dibuahi oleh sel sperma, maka lapisan
dinding rahim tadi luruh pada akhir siklus. Lepasnya lapisan dinding rahim inilah
yang disebut dengan peristiwa menstruasi. Keseluruhan proses ini diatur oleh
hormon, dan biasanya memerlukan waktu 28 sampai 30 hari sampai kembali lagi
ke awal proses. Salah satu teori mengatakan bahwa darah menstruasi masuk
kembali ke tuba falopii dengan membawa jaringan dari lapisan dinding rahim,
sehingga jaringan tersebut menetap dan tumbuh di luar rahim.
Teori lain mengatakan bahwa sel-sel jaringan endometrium keluar dari
rahim melalui pembuluh darah atau kelenjar getah bening, kemudian mulai
tumbuh di lokasi baru. Namun, ada pula teori yang mengatakan bahwa beberapa
31

perempuan memang terlahir dengan sel-sel yang “salah letak”, dan dapat tumbuh
menjadi endometrial implant kelak. Dalam kasus endometriosis, walaupun
jaringan endometrium tumbuh di luar rahim dan menjadi “imigran gelap” di
rongga perut seperti sudah disebutkan tadi, struktur jaringan dan pembuluh
darahnya juga sama dengan endometrium yang berada di dalam rahim. Si imigran
gelap (yang selanjutnya akan kita sebut endometrial implant) ini juga akan
merespons perubahan hormon dalam siklus menstruasi.
Menjelang masa menstruasi, jaringannya juga menebal. Namun, bila endometrium
dapat luruh dan melepaskan diri dari rahim dan ke luar menjadi darah menstruasi,
endometrial implant ini tidak punya jalan ke luar. Sehingga, mereka membesar
pada setiap siklus, dan gejala endometriosis (yaitu rasa sakit hebat di daerah
perut) cenderung makin lama makin parah. Intensitas rasa sakit yang disebabkan
oleh endometriosis ini sangat tergantung pada letak dan banyaknya endometrial
implant yang ada pada kita. Walaupun demikian, endometrial implant yang sangat
kecil pun dapat menyebabkan kita kesakitan luar biasa apabila terletak di dekat
saraf Setiap bulan, selaput endometrium akan berkembang dalam rahim dan
membentuk satu lapisan seperti dinding. Lapisan ini akan menebal pada awal
siklus haid sebagai persediaan menerima telur tersenyawa (embrio).
Endometriosis yang ada di luar rahim juga akan mengalami proses sama
seperti dalam rahim dan berdarah setiap bulan. Oleh karena selaput ini ada di
tempat tidak sepatutnya, ia tidak boleh keluar dari badan seperti lapisan
endometrium dalam rahim. Pada masa sama, selaput ini akan menghasilkan bahan
kimia yang akan mengganggu selaput lain dan menyebabkan rasa sakit. Lama
kelamaan, lapisan endometriosis ini semakin tebal dan membentuk benjolan atau
kista (kantung berisi cecair) dalam ovari .
Endometriosis dipengaruhi oleh faktor genetik. Wanita yang memiliki ibu
atau saudara perempuan yang menderita endometriosis memiliki resiko lebih
besar terkena penyakit ini juga. Hal ini disebabkan adanya gen abnormal yang
diturunkan dalam tubuh wanita tersebut.
Gangguan menstruasi seperti hipermenorea dan menoragia dapat mempengaruhi
sistem hormonal tubuh. Tubuh akan memberikan respon berupa gangguan sekresi
estrogen dan progesteron yang menyebabkan gangguan pertumbuhan sel
endometrium. Sama halnya dengan pertumbuhan sel endometrium biasa, sel-sel
endometriosis ini akan tumbuh seiring dengan peningkatan kadar estrogen dan
progesteron dalam tubuh.
Faktor penyebab lain berupa toksik dari sampah-sampah perkotaan
menyebabkan mikroorganisme masuk ke dalam tubuh. Mikroorganisme tersebut
akan menghasilkan makrofag yang menyebabkan resepon imun menurun yang
menyebabkan faktor pertumbuhan sel-sel abnormal meningkat seiring dengan
peningkatan perkembangbiakan sel abnormal.
Jaringan endometirum yang tumbuh di luar uterus, terdiri dari fragmen
endometrial. Fragmen endometrial tersebut dilemparkan dari infundibulum tuba
falopii menuju ke ovarium yang akan menjadi tempat tumbuhnya. Oleh karena
itu, ovarium merupakan bagian pertama dalam rongga pelvis yang dikenai
endometriosis. Sel endometrial ini dapat memasuki peredaran darah dan limpa,
32

sehingga sel endomatrial ini memiliki kesempatan untuk mengikuti aliran regional
tubuh dan menuju ke bagian tubuh lainnya.
Dimanapun lokasi terdapatnya, endometrial ekstrauterine ini dapat
dipengaruhi siklus endokrin normal. Karena dipengaruhi oleh siklus endokrin,
maka pada saat estrogen dan progesteron meningkat, jaringan endometrial ini juga
mengalami perkembangbiakan. Pada saat terjadi perubahan kadar estrogen dan
progesteron lebih rendah atau berkurang, jaringan endometrial ini akan menjadi
nekrosis dan terjadi perdarahan di daerah pelvic.
Perdarahan di daerah pelvis ini disebabkan karena iritasi peritonium dan
menyebabkan nyeri saat menstruasi (dysmenorea). Setelah perdarahan,
penggumpalan darah di pelvis akan menyebabkan adhesi/perlekatan di dinding
dan permukaan pelvis. Hal ini menyebabkan nyeri, tidak hanya di pelvis tapi juga
nyeri pada daerah permukaan yang terkait, nyeri saat latihan, defekasi, BAK dan
saat melakukan hubungan seks.
Adhesi juga dapat terjadi di sekitar uterus dan tuba fallopii. Adhesi di uterus
menyebabkan uterus mengalami retroversi, sedangkan adhesi di tuba fallopii
menyebabkan gerakan spontan ujung-ujung fimbriae untuk membawa ovum ke
uterus menjadi terhambat. Hal-hal inilah yang menyebabkan terjadinya infertil
pada endometriosis.
1. Gejala Klinis
Pada umumnya wanita dengan endometriosis tidak memiliki gejala. Gejala pada
umumnya terjadi ketika menstruasi dan bertambah hebat setiap tahunnya karena
pembesaran daerah endometriosis. Gejala yang paling sering terjadi adalah nyeri
panggul, dismenorea (nyeri ketika menstruasi), dispareunia (nyeri ketika
senggama), dan infertilitas (gangguan kesuburan, tidak dapat memiliki anak).
a. Nyeri panggul
Nyeri yang berkaitan dengan endometriosis adalah nyeri yang dikatakan sebagai
nyeri yang dalam, tumpul, atau tajam, dan biasanya nyeri bertambah ketika
menstruasi. Pada umumnya nyeri terdapat di sentral (tengah) dan nyeri yang
terjadi pada satu sisi berkaitan dengan lesi (luka atau gangguan) di indung telur
atau dinding samping panggul. Dispareunia terjadi terutama pada periode
premenstruasi dan menstruasi. Nyeri saat berkemih dan dyschezia dapat muncul
apabila terdapat keterlibatan saluran kemih atau saluran cerna.
b. Dismenorea
Nyeri ketika menstruasi adalah keluhan paling umum pada endometriosis.
c. Infertilitas
Efek endometriosis pada fertilitas (kesuburan) terjadi karena terjadinya gangguan
pada lingkungan rahim sehingga perlekatan sel telur yang sudah dibuahi pada
dinding rahim menjadi terganggu. Pada endometriosis yang sudah parah, terjadi
perlekatan pada rongga panggul, saluran tuba, atau indung telur yang dapat
mengganggu transportasi embrio (Missrani, 2009).

Tanda dan gejala endometriosis antara lain :


a. Nyeri :
1) Dismenore sekunder
2) Dismenore primer yang buruk
33

3) Dispareunia: Nyeri ovulasi


4) Nyeri pelvis terasa berat dan nyeri menyebar ke dalam paha, dan nyeri pada
bagian abdomen bawah selama siklus menstruasi.
5) Nyeri akibat latihan fisik atau selama dan setelah hubungan seksual
6) Nyeri pada saat pemeriksaan dalam oleh dokter

b. Perdarahan abnormal
1) Hipermenorea
2) Menoragia
3) Spotting sebelum menstruasi
4) Darah menstruasi yang bewarna gelap yang keluar sebelum menstruasi atau
di akhir menstruasi
5) Keluhan buang air besar dan buang air kecil
6) Nyeri sebelum, pada saat dan sesudah buang air besar
7) Darah pada feces
8) Diare, konstipasi dan kolik

2. Pemeriksaan Diagnostik / penunjang


Pemeriksaan yang dilakukan untuk membuktikan adanya endometirosis ini antara
lain:
a. Uji serum
CA-125: Sensitifitas atau spesifisitas berkurang
Protein plasenta 14 : Mungkin meningkat pada endometriosis yang mengalami
infiltrasi dalam, namun nilai klinis tidak diperlihatkan.
Antibodi endometrial: Sensitifitas dan spesifisitas berkurang
b. Teknik pencitraan
Ultrasound: Dapat membantu dalam mengidentifikasi endometrioma dengan
sensitifitas 11%
MRI: 90% sensitif dan 98% spesifik
Pembedahan: Melalui laparoskopi dan eksisi.
(Scott, R James, dkk. 2002. Buku Saku Obstetri dan Gynekologi. Widya
Medica: Jakarta)

8. Komplikasi
a. Obstruksi ginjal dan penurunan fungsi ginjal karena endometriosis dekat
kolon atau ureter.
b. Torsi ovarium atau ruptur ovarium sehingga terjadi peritonitis karena
endometrioma.
c. Infertilitas, ditemukan pada 30% – 40% kasus. Endometriosis merupakan
penyebab infertilitas kedua terbanyak pada wanita. (Mansjoer, 2001)
34

BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Riwayat Kesehatan Dahulu
Pernah terpapar agen toksin berupa pestisida, atau pernah ke daaerah pengolahan
katu dan produksi kertas, serta terkena limbah pembakaran sampah medis dan
sampah perkotaan.

b. Riwayat kesehatan sekarang


o Dysmenore primer ataupun sekunder
o Nyeri saat latihan fisik
o Dispareun
o Nyeri ovulasi
o Nyeri pelvis terasa berat dan nyeri menyebar ke dalam paha, dan nyeri pada
bagian abdomen bawah selama siklus menstruasi.
o Nyeri akibat latihan fisik atau selama dan setelah hubungan seksual
o Nyeri pada saat pemeriksaan dalam oleh dokter
o Hipermenorea
o Menoragia
o Feces berdarah
o Nyeri sebelum, sesudah dan saat defekasi.
o Konstipasi, diare, kolik

c. Riwayat kesehatan keluarga


Memiliki ibu atau saudara perempuan (terutama saudara kembar) yang menderita
endometriosis.

d. Riwayat obstetri dan menstruasi


Mengalami hipermenorea, menoragia, siklus menstruasi pendek, darah menstruasi
yang bewarna gelap yang keluar sebelum menstruasi atau di akhir menstruasi.

2. Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul


a. Nyeri b.d gangguan menstruasi, proses penjalaran penyakit.
b. Resiko tinggi gangguan citra tubuh b.d gangguan menstruasi
c. Resiko gangguan harga diri b.d infertilitas
35

RESUME (PEMBUAHAN)
KISTA OVARIUM

OLEH
Ade Novira (70300117033)

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
TAHUN AJARAN 2018/2019
36

BAB I
KONSEP DASAR MEDIS
A. Definisi
Kista ovarium merupakan suatu tumor, baik kecil maupun besar,
kistik maupun solid, jinak maupun ganas (Wiknjosastro, 2007: 346).
Kista ovarium (kista indung telur) berarti kantung berisi cairan,
normalnya berukuran kecil, yang terletak di indung telur (ovarium) (Nugroho,
2010: 101)
Kista ovarium (atau kista indung telur) berarti kantung berisi
cairan,normalnya berukuran kecil, yang terletak di indung telur (ovarium).
Kistaindung telur dapat terbentuk kapan saja, pada masa pubertas
sampaimenopause, juga selama masa kehamilan (Bilotta. K, 2012).
Kista indung telur adalah rongga berbentuk kantong berisi cairan di
dalam jaringan ovarium. Kista ini disebut juga kista fungsional karena
terbentuk setelah telur dilepaskan sewaktu ovulasi.

Gambar : Rahim normal dan kiata ovarium


Sumber : http://kistaovarium.org/

B. Klasifikasi
Menurut Nugroho (2010), klasifikasi kista ovarium adalah :
1. Tipe Kista Normal
Kista fungsional ini merupakan jenis kista ovarium yang paling
banyak ditemukan. Kista ini berasal dari sel telur dan korpus luteum,
terjadi bersamaan dengan siklus menstruasi yang normal.
Kista fungsional akan tumbuh setiap bulan dan akan pecah pada
masa subur, untuk melepaskan sel telur yang pada waktunya siap
37

dibuahi oleh sperma. Setelah pecah, kista fungsional akan menjadi kista
folikuler dan akan hilang saat menstruasi. Kista fungsional terdiri dari:
kista folikel dan kista korpus luteum. Keduanya tidak mengganggu,
tidak menimbulkan gejala dan dapat menghilang sendiri dalam waktu
6 – 8 minggu.

Gambar : kista ovarium fungsional


Sumber : http://kistamioma.com/tag/kista-ovarium-fungsional

2. Tipe Kista Abnormal


a. Kistadenoma
Merupakan kista yang berasal dari bagian luar sel indung telur.
Biasanya bersifat jinak, namun dapat membesar dan dapat
menimbulkan nyeri.
b. Kista coklat (endometrioma)
Merupakan endometrium yang tidak pada tempatnya. Disebut
kista coklat karena berisi timbunan darah yang berwarna coklat
kehitaman.
c. Kista dermoid
Merupakan kista yang berisi berbagai jenis bagian tubuh
seperti kulit, kuku, rambut, gigi dan lemak. Kista ini dapat
ditemukan di kedua bagian indung telur. Biasanya berukuran kecil
dan tidak menimbulkan gejala.
d. Kista endometriosis
Merupakan kista yang terjadi karena ada bagian endometrium
yang berada di luar rahim. Kista ini berkembang bersamaan dengan
tumbuhnya lapisan endometrium setiap bulan sehingga menimbulkan
nyeri hebat, terutama saat menstruasi dan infertilitas.
e. Kista hemorhage
Merupakan kista fungsional yang disertai perdarahan sehingga
menimbulkan nyeri di salah satu sisi perut bagian bawah.
f. Kista lutein
Merupakan kista yang sering terjadi saat kehamilan. Kista
lutein yang sesungguhnya, umumnya berasal dari korpus luteum
haematoma.
38

Gambar : kista corpus luteum


Sumber : http://www.ladycarehealth.com/causes-of-different-
ovarian-cysts/
g. Kista polikistik ovarium
Merupakan kista yang terjadi karena kista tidak dapat pecah
dan melepaskan sel telur secara kontinyu. Biasanya terjadi setiap
bulan. Ovarium akan membesar karena bertumpuknya kista ini. Kista
polikistik ovarium yang menetap (persisten), operasi harus dilakukan
untuk mengangkat kista tersebut agar tidak menimbulkan gangguan
dan rasa sakit.

Gambar : kista polikistik ovarium


Sumber : http://pcos-disease.blogspot.com/2010/11/polycystic-
ovarian-syndrome_06.html

C. Etiologi
Menurut Nugroho (2010: 101), kista ovarium disebabkan oleh
gangguan (pembentukan) hormon pada hipotalamus, hipofisis dan ovarium
(ketidakseimbangan hormon). Kista folikuler dapat timbul akibat hipersekresi
dari FSH dan LH yang gagal mengalami involusi atau mereabsorbsi cairan.
Kista granulosa lutein yang terjadi didalam korpus luteum indung telur yang
fungsional dan dapat membesar bukan karena tumor, disebabkan oleh
39

penimbunan darah yang berlebihan saat fase pendarahan dari siklus


menstruasi. Kista theka-lutein biasanya bersifay bilateral dan berisi cairan
bening, berwarna seperti jerami. Penyebab lain adalah adanya pertumbuhan
sel yang tidak terkendali di ovarium, misalnya pertumbuah abnormal dari
folikel ovarium, korpus luteum, sel telur.

D. Manifestasi Klinis
Manifestasi Klinis Kista Ovarium Menurut Nugroho (2010: 104),
kebanyakan wanita yang memiliki kista ovarium tidak memiliki gejala
sampai periode tertentu. Namun beberapa orang dapat mengalami gejala ini :
1. Nyeri saat menstruasi.
2. Nyeri di perut bagian bawah.
3. Nyeri saat berhubungan seksual.
4. Nyeri pada punggung terkadang menjalar sampai ke kaki.
5. Terkadang disertai nyeri saat berkemih atau BAB.
6. Siklus menstruasi tidak teratur, bisa juga jumlah darah yang keluar
banyak.
E. Patofisiologi
Fungsi ovarium yang abnormal dapat menyebabkan penimbunan
folikel yang terbentuk secara tidak sempurna didalam ovarium. Folikel
tersebut gagal mengalami pematangan dan gagal melepaskan sel telur,
terbentuk secara tidak sempurna didalam ovarium karena itu terbentuk kista
di dalam ovarium. Setiap hari, ovarium normal akan membentuk beberapa
kista kecil yang disebut Folikel de Graff. Pertengahan siklus, folikel
dominan dengan diameter lebih dari 2.8 cm akan melepaskan oosit
mature. Folikel yang ruptur akan menjadi korpus luteum, yang pada saat
matang memiliki struktur 1,5 – 2 cm dengan kista ditengah- tengah. Bila
tidak terjadi fertilisasi pada oosit, korpus luteum akan mengalami fibrosis
dan pengerutan secara progresif. Namun bila terjadi fertilisasi, korpus
luteum mula-mula akan membesar kemudian secara gradual akan mengecil
selama kehamilan. Kista ovari yang berasal dari proses ovulasi normal
disebut kista fungsional dan selalu jinak (Nugroho, 2010).
40

F. Komplikasi
Menurut Wiknjosastro,komplikasi yang dapat terjadi pada kista
ovarium diantaranya:
1. Akibat pertumbuhan kista ovarium
Adanya tumor di dalam perut bagian bawah bisa menyebabkan
pembesaran perut. Tekanan terhadap alat-alat disekitarnya disebabkan
oleh besarnya tumor atau posisinya dalam perut. Apabila tumor
mendesak kandung kemih dan dapat menimbulkan gangguan miksi,
sedangkan kista yang lebih besar tetapi terletak bebas di rongga perut
kadang-kadang hanya menimbulkan rasa berat dalam perut serta dapat
juga mengakibatkan edema pada tungkai.
2. Akibat aktivitas hormonal kista ovarium
` Tumor ovarium tidak mengubah pola haid kecuali jika tumor itu
sendiri mengeluarkan hormon.
3. Akibat komplikasi kista ovarium
a. Perdarahan ke dalam kista
Biasanya terjadi sedikit-sedikit sehingga berangsur-angsur
menyebabkan kista membesar, pembesaran luka dan hanya
menimbulkan gejala-gejala klinik yang minimal. Akan tetapi jika
perdarahan terjadi dalam jumah yang banyak akan terjadi distensi
yang cepat dari kista yang menimbukan nyeri di perut.
b. Torsio atau putaran tangkai
Torsio atau putaran tangkai terjadi pada tumor bertangkai
dengan diameter 5 cm atau lebih. Torsi meliputi ovarium, tuba
fallopi atau ligamentum rotundum pada uterus. Jika dipertahankan
torsi ini dapat berkembang menjadi infark, peritonitis dan kematian.
Torsi biasanya unilateral dan dikaitkan dengan kista, karsinoma,
TOA, massa yang tidak melekat atau yang dapat muncul pada
ovarium normal. Torsi ini paling sering muncul pada wanita usia
reproduksi. Gejalanya meliputi nyeri mendadak dan hebat di kuadran
abdomen bawah, mual dan muntah. Dapat terjadi demam dan
leukositosis. Laparoskopi adalah terapi pilihan, adneksa dilepaskan
(detorsi), viabilitasnya dikaji, adneksa gangren dibuang, setiap kista
dibuang dan dievaluasi secara histologis.
c. Infeksi pada tumor
Jika terjadi di dekat tumor ada sumber kuman patogen.
d. Robek dinding kista
Terjadi pada torsi tangkai, akan tetapi dapat pula sebagai
akibat trauma, seperti jatuh atau pukulan pada perut dan lebih sering
pada saat bersetubuh. Jika robekan kista disertai hemoragi yang
timbul secara akut, maka perdarahan bebas berlangsung ke uterus ke
dalam rongga peritoneum dan menimbulkan rasa nyeri terus menerus
disertai tanda-tanda abdomen akut.
e. Perubahan keganasan
Setelah tumor diangkat perlu dilakukan pemeriksaan
mikroskopis yang seksama terhadap kemungkinan perubahan
41

keganasannya. Adanya asites dalam hal ini mencurigakan. Massa


kista ovarium berkembang setelah masa menopause sehingga besar
kemungkinan untuk berubah menjadi kanker (maligna). Faktor inilah
yang menyebabkan pemeriksaan pelvik menjadi penting.

G. Pemeriksaan Penunjang
Tidak jarang tentang penegakkan diagnosis tidak dapat
diperolehkepastian sebelum dilakukan operasi, akan tetapi pemeriksaan yang
cermat dan analisis yang tajam dari gejala-gejala yang ditemukan dapat
membantudalam pembuatan differensial diagnosis. Beberapa cara yang
dapatdigunakan untuk membantu menegakkan diagnosis adalah (Bilotta,
2012 :1)
1. Laparaskopi
Pemeriksaan ini sangat berguna untuk mengetahui apakah sebuahtumor
berasal dari ovarium atau tidak, serta untuk menentukan sifat-sifat tumor
itu.
2. Ultrasonografi (USG)
Dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan letak dan batas tumor,apakah
tumor berasal dari uterus, ovarium, atau kandung kencing,apakah tumor
kistik atau solid, dan dapat pula dibedakan antara cairandalam rongga
perut yang bebas dan yang tidak.

Gambar : USG kista ovarium


Sumber : http://forum.detik.com/niwana-sod-mampu-menyembuhkan-
penyakit-kronis-seperti-kanker-kista-dll-t137091.html

3. Foto Rontgen
Pemeriksaan ini berguna untuk menentukan adanya
hidrotoraks.Selanjutnya, pada kista dermoid kadang-kadang dapat dilihat
adanyagigi dalam tumor.
4. Parasintesis
Pungsi ascites berguna untuk menentukan sebab ascites. Perludiperhatikan
bahwa tindakan tersebut dapat mencemarkan kavum peritonei dengan isi
kista bila dinding kista tertusuk.
42

H. Penatalaksanaan
1. Observasi
Jika kista tidak menimbulkan gejala, maka cukup dimonitor
(dipantau) selama 1 -2 bulan, karena kista fungsional akan menghilang
dengan sendirinya setelah satu atau dua siklus haid. Tindakan ini diambil
jika tidak curiga ganas (kanker) (Nugroho, 2010: 105).
2. Terapi bedah atau operasi
Bila tumor ovarium disertai gejala akut misalnya torsi, maka
tindakan operasi harus dilakukan pada waktu itu juga, bila tidak ada 22
gejala akut, tindakan operasi harus dipersiapkan terlebih dahulu dengan
seksama.
Kista berukuran besar dan menetap setelah berbulan-bulan
biasanya memerlukan operasi pengangkatan. Selain itu, wanita
menopause yang memiliki kista ovarium juga disarankan operasi
pengangkatan untuk meminimalisir resiko terjadinya kanker ovarium.
Wanita usia 50-70 tahun memiliki resiko cukup besar terkena kenker jenis
ini. Bila hanya kistanya yang diangkat, maka operasi ini disebut ovarian
cystectomy. Bila pembedahan mengangkat seluruh ovarium termasuk tuba
fallopi, maka disebut salpingo oophorectomy.
Faktor-faktor yang menentukan tipe pembedahan, antara lain
tergantung pada usia pasien, keinginan pasien untuk memiliki anak,
kondisi ovarium dan jenis kista.
Kista ovarium yang menyebabkan posisi batang ovarium terlilit
(twisted) dan menghentikan pasokan darah ke ovarium, memerlukan
tindakan darurat pembedahan (emergency surgery) untuk mengembalikan
posisi ovarium menurut Yatim, (2005: 23)
Prinsip pengobatan kista dengan pembedahan (operasi) menurut Yatim,
(2005: 23) yaitu:
a. Apabila kistanya kecil (misalnya, sebesar permen) dan pada
pemeriksaan sonogram tidak terlihat tanda-tanda proses keganasan,
biasanya dokter melakukan operasi dengan laparoskopi. Dengan cara
ini, alat laparoskopi dimasukkan ke dalam rongga panggul 23 dengan
melakukan sayatan kecil pada dinding perut, yaitu sayatan searah
dengan garis rambut kemaluan.
b. Apabila kistanya besar, biasanya pengangkatan kista dilakukan
dengan laparatomi. Teknik ini dilakukan dengan pembiusan total.
Dengan cara laparotomi, kista bisa diperiksa apakah sudah mengalami
proses keganasan (kanker) atau tidak. Bila sudah dalam proses
keganasan, operasi sekalian mengangkat ovarium dan saluran tuba,
jaringan lemak sekitar serta kelenjar limfe.
43

BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Langkah I (pertama) :
Pengumpulan Data Dasar Pada langkah pertama ini dikumpulkan
semua informasi yang akurat dari semua sumber yang berkaitan dengan
kondisi klien. Perawat mengumpulkan data dasar awal yang lengkap. Bila
klien mengalami komplikasi yang perlu dikonsultasikan kepada dokter
dalam 30 manajemen kolaborasi perawat akan melakukan konsultasi.
Pengkajian atau pengumpulan data dasar adalah mengumpulkan semua
data yang dibutuhkan untuk mengevaluasi keadaan pasien. (Muslihatun,
dkk. 2009: 115).
a. Data subyektif
1) Identitas pasien
a) Nama : Dikaji untuk mengenal atau memanggil agar tidak
keliru dengan pasien-pasien lain.
b) Umur : Untuk mengetahui apakah pasien masih dalam
masa reproduksi.
c) Agama : Untuk mengetahui pandangan agama klien
mengenai gangguan reproduksi.
d) Pendidikan : Dikaji untuk mengetahui sejauh mana tingkat
intelektualnya sehingga bidan dapat memberikan konseling
sesuai dengan pendidikannya.
e) Suku/bangsa : Dikaji untuk mengetahui adat istiadat atau
kebiasaan sehari-hari pasien.
f) Pekerjaan : Dikaji untuk mengetahui dan mengukur tingkat
sosial ekonominya.
g) Alamat : Dikaji untuk mempermudah kunjungan rumah bila
diperlukan.

2) Alasan Kunjungan Alasan apa yang mendasari ibu datang.


Tuliskan sesuai uangkapan.
a) Keluhan Utama
Dikaji dengan benar-benar apa yang dirasakan ibu untuk
mengetahui permasalahan utama yang dihadapi ibu mengenai
kesehatan reproduksi.
b) Riwayat Kesehatan
(1) Riwayat kesehatan yang lalu
Dikaji untuk mengetahui penyakit yang dulu pernah diderita
yang dapat mempengaruhi dan memperparah penyakit yang
saat ini diderita.
(2) Riwayat kesehatan sekarang
Data ini dikaji untuk mengetahui kemungkinan adanya
penyakit yang diderita pada saat ini yang berhubungan
dengan gangguan reproduksi terutama kista ovarium.
(3) Riwayat kesehatan keluarga
44

Data ini dikaji untuk mengetahui kemungkinan adanya


pengaruh penyakit keluarga terhadap gaangguan kesehatan
pasien.
c) Riwayat Perkawinan
Untuk mengetahui status perkawinan, berapa kali menikah, syah
atau tidak, umur berapa menikah dan lama pernikahan.
d) Riwayat menstruasi
Untuk mengetahui tentang menarche umur berapa, siklus, lama
menstruasi, banyak menstruasi, sifat dan warna darah,
disminorhoe atau tidak dan flour albus atau tidak. Dikaji untuk
mengetahui ada tidaknya kelainan system reproduksi
sehubungan dengan menstruasi.
e) Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu
Bertujuan untuk mengetahui apabila terdapat penyulit, maka
bidan harus menggali lebih spesifik untuk memastikan bahwa
apa yang terjadi pada ibu adalah normal atau patologis.
f) Riwayat KB
Dikaji untuk mengetahui alat kontrasepsi yang pernah dan saat
ini digunakan ibu yang kemungkinan menjadi penyebab atau
berpengaruh pada penyakit yang diderita saat ini.
g) Pola Pemenuhan Kebutuhan Sehari-hari
(1) Nutrisi
Dikaji tentang kebiasaan makan, apakah ibu suka memakan
makanan yang masih mentah dan apakah ibu suka minum
minuman beralkohol karena dapat merangsang pertumbuhan
tumor dalam tubuh.
(2) Eliminasi
Dikaji untuk mengetahui pola fungsi sekresi yaitu kebiasaan
buang air besar meliputi frekuensi, jumlah, konsistensi dan
bau serta kebiasaan air kecil meliputi frekuensi, warna,
jumlah.
(3) Hubungan seksul
Dikaji pengaruh gangguan kesehatan reproduksi tersebut
apakah menimbulkan keluhan pada hubungan seksual atau
sebaliknya.
(4) Istirahat
Dikaji untuk mengetahui apakah klien beristirahat yang
cukup atau tidak.
(5) Personal hygiene
Dikaji untuk mengetahui apakah ibu selalu menjaga
kebersihan tubuh terutama pada daerah genetalia.
(6) Aktivitas
Dikaji untuk menggambarkan pola aktivitas pasien sehari
hari. Pada pola ini perlu dikaji pengaruh aktivitas terhadap
kesehatannya.
45

b. Data Objektif
Seorang perawat harus mengumpulkan data untuk memastikan bahwa
keadaan klien dalam keadaan stabil. Yang termasuk dalam komponen-
komponen pengkajian data obyektif ini adalah:
1) Pemeriksaan umum
a) Keadaan umum
Dikaji untuk menilai keadaan umum pasien baik atau tidak.
b) Kesadaran
Dikaji untuk menilai kesadaran pasien.
c) Vital sign
Dikaji untuk mengetahui keadaan ibu berkaitan dengan kondisi
yang dialaminya, meliputi : Tekanan darah, temperatur/ suhu,
nadi serta pernafasan
2) Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan dari ujung rambut sampai ujung kaki.
a) Kepala : Dikaji untuk mengetahui bentuk kepala, keadaan
rambut rontok atau tidak, kebersihan kulit kepala.
b) Muka : Dikaji untuk mengetahui keadaan muka oedem
atau tidak, pucat atau tidak.
c) Mata : Dikaji untuk mengetahui keadaan mata sklera
ikterik atau tidak, konjungtiva anemis atau tidak.
d) Hidung : Dikaji untuk mengetahui keadaan hidung simetris
atau tidak, bersih atau tidak, ada infeksi atau tidak.
e) Telinga : Dikaji untuk mengetahui apakah ada penumpukan
sekret atau tidak.
f) Mulut : Dikaji untuk mengetahui apakah bibir pecah-pecah
atau tidak, stomatitis atau tidak, gigi berlubang atau tidak.
g) Leher : Dikaji untuk mengetahui apakah ada pembesaran
kelenjar tiroid, limfe, vena jugularis atau tidak.
h) Ketiak : Dikaji untuk mengetahui apakah ada pembesaran
kelenjar limfe atau tidak.
i) Dada : Dikaji untuk mengetahui apakah simetris atau
tidak, ada benjolan atau tidak.
j) Abdomen : Dikaji untuk mengetahui luka bekas operasi dan
pembesaran perut.
k) Ekstermitas atas : Dikaji untuk mengetahui keadaan turgor
baik atau tidak, ikterik atau tidak, sianosis atau tidak.
l) Ekstermitas bawah : Dikaji untuk mengetahui keadaan turgor
baik atau tidak, sianosis atau tidak, oedem atau tidak, reflek
patella positif atau tidak.
m) Genitalia : Untuk mengetahui apakah ada kelainan, abses
ataupun pengeluaran yang tidak normal.
n) Anus : Dikaji untuk mengetahui apakah ada hemorrhoid
atau tidak.
3) Pemeriksaan khusus
a) Inspeksi
46

Inspeksi adalah proses pengamatan dilakukan untuk melihat


keadaan muka, payudara, abdomen dan genetalia.
b) Palpasi
Palpasi adalah pemeriksaan dengan indera peraba atau tangan,
digunakan untuk memeriksa payudara dan abdomen.
4) Pemeriksaan Penunjang
Mendukung diagnosa medis, kemungkinan komplikasi, kelainan
dan penyakit.

2. Langkah II (kedua): Interpretasi Data Dasar


Pada langkah ini dilakukan interpretasi data yang benar terhadap
diagnosa atau masalah dan kebutuhan klien berdasarkan interpretasi yang
benar atas data-data yang telah dikumpulkan (Muslihatun, dkk. 2009:
115).
Dalam langkah ini data yang telah dikumpulkan di interpretasikan
menjadi diagnosa keperawatan dan masalah.
a. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan dapat ditegakkan yang berkaitan dengan nama
ibu, umur ibu dan keadaan gangguan reproduksi. Data dasar meliputi:
1) Data Subyektif
Pernyataan ibu tentang keterangan umur serta keluhan yang
dialami ibu.
2) Data Obyektif
Hasil pemeriksaan yang telah dilakukan.
b. Masalah
Permasalahan yang muncul berdasarkaan pernyataan pasien Data
dasar meliputi:
1) Data Subyektif
Data yang di dapat dari hasil anamnesa pasien.
2) Data Obyektif
Data yang didapat dari hasil pemeriksaan.
3. Langkah III (ketiga): Mengidentifikasikan Diagnosa atau Masalah
Potensial
Pada langkah ini, perawat mengidentifikasi masalah atau diagnosis
potensial lain berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosis yang sudah
diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi. Jika memungkinkan,
dilakukan pencegahan. Sambil mengamati kondisi klien, bidan
diharapkan dapat bersiap jika diagnosis atau masalah potensial benar-
benar terjadi. Langkah ini menentukan cara perawat melakukan asuhan
yang aman (Purwandari, 2008:79).
4. Langkah IV (keempat): Mengidentifikasi dan Menetapkan Kebutuhan
yang Memerlukan Penanganan Segera
Langkah keempat mencerminkan kesinambungan dari proses
manajemen keperawatann. Data baru mungkin saja perlu dikumpulkan
dan dievaluasi. Beberapa data mungkin mengindikasikan situasi yang
47

gawat dimana bidan harus bertindak segera untuk kepentingan


keselamatan jiwa ibu (Muslihatun, dkk. 2009: 117).
Dari data yang dikumpulkan dapat menunjukan satu situasi yang
memerlukan tindakan segera sementara yang lain harus menunggu
intervensi dari seorang dokter. Situasi lainya bisa saja tidak merupakan
kegawatan tetapi memerlukan konsultasi atau kolaborasi dengan dokter
(Muslihatun, dkk. 2009: 117).
5. Langkah V (kelima): Merencanakan Asuhan yang Menyeluruh
Pada langkah ini, direncanakan asuhan yang menyeluruh
ditentukan oleh langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan
manajemen terhadap diagnosis atau masalah yang telah diidentifikasi atau
diantisipasi. Pada langkah ini informasi atau data dasar yang tidak
lengkap dapat dilengkapi(Purwandari, 2008: 81).
Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya meliputi apa yang
sudah teridentifikasi dari kondisi klien atau dari setiap masalah yang
berkaitan, tetapi juga dari kerangka pedoman antisipasi terhadap wanita
tersebut tentang apa yang akan terjadi berikutnya, apakah dibutuhkan
penyuluhan untuk masalah sosial ekonomi, budaya, atau 40 psikologis.
Dengan kata lain, asuhan terhadap wanita tersebut sudah mencakup setiap
hal yang berkaitan dengan semua aspek asuhan. Setiap rencana asuhan
harus disetujui oleh kedua belah pihak, yaitu perawat dan klien, agar
dapat dilaksanakan dengan efektif karena klien merupakan bagian
pelaksanaan rencana tersebut. Oleh karena itu, pada langkah ini tugas
perawat adalah merumuskan rencana asuhan sesuai hasil pembahasan
rencana bersama klien, kemudian membuat kesepakatan bersama sebelum
melaksanakannya (Purwandari, 2008: 81).
6. Langkah VI (keenam): Melaksanakan perencanaan
Pada langkah keenam ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang
telah diuraikan pada langkah ke 5 dilaksanakan secara efisien dan aman.
Perencanaan ini bisa dilakukan oleh perawat atau sebagian dilakukan oleh
bidan dan sebagian lagi oleh klien, atau anggota tim kesehatan yang lain.
Jika perawat tidak melakukannya sendiri ia tetap memikul tanggung
jawab untuk mengarahkan pelaksanaanya. Manajemen yang efisien akan
menyingkat waktu dan biaya serta meningkatkan mutu dari asuhan klien
(Muslihatun, dkk. 2009: 118).
7. Langkah VII (terakhir): Evaluasi
Pada langkah ke-7 ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan
yang sudah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan bantuan yang
diidentifikasi dalam masalah dan diagnosis. Ada kemungkinan rencana
tersebut efektif, sedang sebagian yang lain belum efektif. Mengingat
proses manajemen asuhan ini merupakan suatu kontinum, perlu
mengulang kembali dari awal setiap asuhan yang tidak efektif melalui
proses manajemen tidak efektif serta melakukan penyesuaian pada
rencana asuhan tersebut (Purwandari, 2008: 82).
Langkah proses manajemen pada umumnya merupakan pengkajian
yang memperjelas proses pemikiran dan mempengaruhi tindakan serta
48

orientasi proses klinis. Karena proses manajemen tersebut berlangsung di


dalam situasi klinis dan dua langkah yang terakhir tergantung pada klien
dan situasi klinis, tidak mungkin manajemen ini dievaluasi dalam tulisan
saja (Purwandari, 2008: 83).

Data Perkembangan
Menurut Muslihatun, (2009: 123-124) pendokumentasian atau catatan
manajemen keperawatan dapat deterapkan dengan metode SOAP, yang
merupakan singkatan dari:
1) S (Subjektif)
Merupakan pendokumentasian manajemen keperawatan langkah pertama
(pengkajian data), terutama data yang diperoleh dari anamnesis.
2) O (Objektif)
Merupakan pendokumentasian manajemen keperawatan langkah pertama
(pengkajian data, terutama data yang diperoleh dari pemeriksaan fisik
pasien, pemeriksaan laboratorium) pemeriksaan diagnostik lain.
3) A (Assessment)
Merupakaan pendokumentasian hasil analisis dan interpretasi
(kesimpulan) dari data subjektif dan objektif.
4) P (Planning)
Berisi tentang rencana asuhan yang disusun berdasarkan hasil analisis
dan interpretasi data. Rencana asuhan ini bertujuan untuk mengusahakan
tercapainya kondisi pasien seoptimal mungkin dan mempertahankan
kesejahteraannya.
B. Diagnosa
Herdman (2011), kemungkinan diagnosa yang muncul pada pasien dengan
kista ovarium adalah :
Pre Operasi
1. Nyeri akut b.d agen cedera biologi
2. Ansietas b.d perubahan status kesehatan
Post Operasi
1. Nyeri akut b.d agen cedera biologi
2. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur pembedahan
3. Hambatan mobilisasi fisik b.d kelemahan fisik
49

RESUME (KEHAMILAN)
HIPEREMESIS GRAVIDARUM

OLEH
Ade Novira (70300117033)

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
TAHUN AJARAN 2018/2019
50

BAB I
KONSEP DASAR MEDIS
A. Definisi
Hiperemesis gravidarum adalah mual (nausea) dan muntah sebagai
suatu gejala yang wajar yang terjadi pada kehamilan trimester 1,  6 minggu
kehamilan. Mual biasanya terjadi pada pagi hari dan gejala ini biasa
berlangsung  10 minggu.
Hiperemesis gravidarum adalah keadaan dimana penderita mual dan
muntah lebih dari 10 kali dalam 24 jam,sehingga mengganggu kesehatan dan
pekerjaan sehari-hari (Arief B, 2009)

B. Etiologi
Hiperemesis gravidarum belum diketahui faktor penyebab secara pasti.
Adapun faktor Penyebab Hiperemesis gravidarum belum diketahui secara
pasti, Beberapa faktor predisposisi yang ditemukan :
1. Sering terjadi pada primigravida, mola hidatidosa dan kehamilan
ganda hal ini menimbulkan dugaan bahwa faktor hormon memegang
peranan, karena pada kedua keadaan tersebut hormon Khorionik
gonadotropin dibentuk berlebihan
2. Faktor organik,karena masuknya vili khorialis dalam sirkulasi maternal
dan perubahan metabolik akibat hamil serta resistensi yang menurun dari
pihak ibu tehadap perubahan ini.Alergi juga disebut sebagai salah satu
faktor organik karena sebagai salah satu respon dari jaringan.ibu terhadap
anak
3. Faktor psikologik memegang peranan yang penting pada penyakit ini
walaupun hubungannya dengan terjadinya hiperemesis gravidarum belum
diketahui dengan pasti,takut terhadap kehamilan dan persalinan, takut
terhadap tanggung jawab sebagai ibu, dapat menyebabkan konflik mental
yang dapat memperberat mual dan muntah. Tidak jarang dengan
memberikan suasana yang baru sudah dapat membantu mengurangi
frekwensi muntah klien

C. Tanda dan Gejala


1. Muntah yang hebat
2. Haus
3. Dehidrasi
4. BB menurun (>1/10 normal)
5. Keadaan umum menurun
6. Peningkatan suhu tubuh
7. Ikterik
8. Gangguan kesadaran, delirium
9. Biasanya terjadi pada minggu ke 6-1
51

D. Klasifikasi Gravidarum
Hiperemesis gravidarum terbagi menjadi tiga (3) tingkatan, yaitu :
1. Hiperemesis gravidarum tingkat I
Hiperemesis gravidarum tingkat I mempunyai gejala seperti:
lemah, nafsu makan menurun; berat badan menurun; nyeri epigastrium;
penurunan tekanan darah sistolik; lidah kering; turgor kulit kurang; dan
mata cekung.
2. Hiperemesis gravidarum tingkat II
Hiperemesis gravidarum tingkat II mempunyai gejala seperti: mual
muntah hebat; keadaan umum lemah; apatis; nadi cepat dan kecil; lidah
kering dan kotor; suhu badan meningkat (dehidrasi); mata cekung dan
ikterik ringan; oliguria dan konstipasi; nafas bau aseton dan aseton dalam
urin.
3. Hiperemesis gravidarum tingkat III
Hiperemesis gravidarum tingkat III mempunyai gejala seperti:
keadaan umum jelek; mual muntah berhenti; kesadaran menurun
(somnolen hingga koma); nadi kecil, cepat dan halus; suhu badan
meningkat; dehidrasi hebat; tekanan darah turun sekali; ikterus dan terjadi
komplikasi fatal ensefalopati Wernicke (nistagmus, diplopia, perubahan
mental).
E. Patofisologi
Perasaan mual adalah akibat dari meningkatnya kadar estrogen yang biasa
terjadi pada trimester I. bila perasaan terjadi terus-menerus dapat
mengakibatkan cadangan karbohidrat dan lemak habis terpakai untuk
keperluan energi. Karena oksidasi lemak yang tak sempurna, terjadilah ketosis
dengan tertimbunnya asam aseto-asetik, asam hidroksida butirik dan aseton
darah. Muntah menyebabkan dehidrasi, sehingga caira ekstraseluler dan
plasma berkurang. Natrium dan klorida darah turun. Selain itu dehidrasai
menyebabkan hemokonsentrasi, sehingga aliran darah ke jaringan berkurang.
Hal ini menyebabkan jumlah zat makanan dan oksigen ke jaringan berkuang
pula tertimbunnya zat metabolik yang toksik. Disamping dehidrasi dan
gangguan keseimbangan elektrolit. Disamping dehidraasi dan gangguan
keseimbangan elektrolit, dapat terjadi robekan pada selaput lendir esofagus
dan lambung (sindroma mollary-weiss), dengan akibat perdarahan
gastrointestinal .

F. Komplikasi
1. Dehidrasi
2. Ikterik
3. Takikardi
4. Alkalosis
5. Menarik diri, depresi
6. Ensefalopati wernicke yang ditandai oleh adanya nistagmus, diplopia,
perubahan mental
7. Suhu tubuh meningkat
52

G. Penatalaksanaan
1. Pemberian antiemetik
2. Dipuasakan selama masih muntah
3. Monitor intake dan output
4. Obat-obatan
Obat yang diberikan biasanya sedatif adalah fenobarbital, vitamin yang
dianjurkan vitamin B1, dan vitamin B6.
5. Isolasi
Penderita diberikan kamar yang tenang, tetapi cerah dan sirkulasi udara
yang baik, catat cairan yang keluar dan masuk.
6. Terapi psikologik
Penderita perlu diyakinkan bahwa penyakit dapat disembuhkan, hilangkan
rasa takut oleh karena kehamilan, kurangi pekerjaan serta menghilangkan
masalah dan konflik yang kiranya dapat menjadi latar belakang penyakit
ini.
7. Cairan parenteral
Berikan cairan parenteral yang cukup elektrolit, karbohidrat dan protein
dengan glukosa 5% sampai 10% dalam cairan garam fisiologik sebanyak
2-3 liter/hari.
H. Pencegahan
Prinsip pencegahan untuk mengobati emesis agar tidak menjadi hiperemesis
adalah :
1. Penerapan bahwa kehamilan dan persalinan adalah proses fisiologi
2. Makan sedikit tapi sering dengan (makanan kering)
3. Hindari makanan berminyak dan berbau
4. Defekasi teratur
I. Pemeriksaan Penunjang
 Kadar potassium, sodium, klorida, dan protein menurun
 Hemoglobin dan hematokrit menurun
 Urinalisis : adanya keton dan kadang-kadang adanya protein
 Kadar vitamin dalam darah menurun
 BUN, non protein nitrogen, uric acid meningkat.
53

BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Keluhan

 Muntah yang hebat


 Mual, muntah pada pagi hari dan setelah makan
 Nyeri epigastrik
 Merasa haus
 Tidak nafsu makan
 Muntah makanan/cairan asam
2. Faktor predisposisi

 Umur ibu < 20 tahun


 Multiple gestasi
 Obesitas
 Trofoblastik desease
3. Pemeriksaan fisik

 Asidosis metabolik yang ditandai dengan sakit kepala, disorientasi


 Takikardi, hypotensi, vertigo
 Konjungtiva ikterik
 Gangguan kesadaran, delirium
Tanda-tanda dehidrasi :

 Kulit kering, membran mukosa bibir kering


 Turgor kulit kembali lambat
 Kelopak mata cekung
 Penurunan BB
 Peningkatan suhu tubuh
 Oliguria, ketonuria
 Urin pekat
4. Data laboratorium:
- Proteinuria
- Ketonuria
- Urobilinogen
- Penurunan kadar potasium, sodium, klorida, dan protein
- Kadar vitamin menurun
- Peningkatan Hb dan Ht
54

B. Diagnosa Keperawatan yang muncul


1. Gangguan Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
pengeluaran nutrisi yang berlebihan dan intake kurang
2. Gangguan Keseimbangan Cairan Dan Elektrolit Berhubungan Dengan
Kehilangan Cairan
3. Intoleransi Aktifitas Berhubungan Dengan Kelemahan Umum
55

RESUME (KEHAMILAN)
ABORTUS

OLEH
Ade Novira (70300117033)

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
TAHUN AJARAN 2018/2019
56

BAB I
KONSEP DASAR MEDIS
A. Pengertian
Abortus adalah berakhirnya kehamilan dengan pengeluaran hasil
konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan dengan usia gestasi
kurang dari 20 minggu dan berat badan janin kurang dari 500 gram.
Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan oleh akibat-akibat
tertentu pada atau sebelum kehamilan oleh akibat-akibat tertentu pada atau
sebelum kehamilan tersebut berusia 22 minggu atau buah kehamilan belum
mampu untuk hidup di luar kandungan.
Abortus adalah ancaman atau hasil pengeluaran konsepsi pada usia
kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram,
sebelum janin mampu hidup di luar kandungan (Nugroho, 2010)
Abortus kompletus adalah keguguran lengkap di mana semua hasil
konsepsi (desidua dan fetus) telah keluar tanpa membutuhkan intervensi
medis.

B. Macam-Macam Abortus
Abortus spontan adalah penghentian kehamilan sebelum janin mencapai
viabilitas (usia kehamilan 22 minggu). Tahapan abortus spontan meliputi :
1. Abortus imminens (kehamilan dapat berlanjut).
2. Abortus insipiens (kehamilan tidak akan berlanjut dan akan berkembang
menjadi
abortus inkomplit atau abortus komplit).
3. Abortus inkomplit (sebagian hasil konsepsi telah dikeluarkan).
4. Abortus komplit (seluruh hasil konsepsi telah dikeluarkan).
Abortus yang disengaja adalah suatu proses dihentikannya kehamilan
sebelum janin mencapai viabilitas.
Abortus tidak aman adalah suatu prosedur yang dilakukan oleh orang yang
tidak berpengalaman atau dalam lingkungan yang tidak memenuhi standar
medis minimal atau keduanya.
Abortus septik adalah abortus yang mengalami komplikasi berupa infeksi-
sepsis dapat berasal dari infeksi jika organisme penyebab naik dari saluran
kemih bawah setelah abortus spontan atau abortus tidak aman. Sepsis
cenderung akan terjadi jika terdapat sisa hasil konsepsi atau terjadi penundaan
dalam pengeluaran hasil konsepsi. Sepsis merupakan komplikasi yang sering
terjadi pada abortus tidak aman dengan menggunakan peralatan.

Abortus pun dibagi bagi lagi menjadi beberapa bagian, antara lain :
1. Abortus Komplet
Seluruh hasil konsepsi telah keluar dari rahim pada kehamilan kurang dari 20
minggu.
2. Abortus Inkomplet
Sebagian hasil konsepsi telah keluar dari rahim dan masih ada yang tertinggal.
3. Abortus Insipiens
Abortus yang sedang mengancam yang ditandai dengan serviks yang telah
57

mendatar, sedangkan hasil konsepsi masih berada lengkap di dalam rahim.


4. Abortus Iminens
Abortus tingkat permulaan, terjadi perdarahan per vaginam, sedangkan jalan
lahir masih tertutup dan hasil konsepsi masih baik di dalam rahim.
5. Missed Abortion
Abortus yang ditandai dengan embrio atau fetus terlah meninggal dalam
kandungan sebelum kehamilan 20 minggu dan hasil konsepsi seluruhnya
masih dalam kandungan.
6. Abortus Habitualis
Abortus yang terjadi sebanyak tiga kali berturut turut atau lebih.

C. Patofisilogi
Pada awal abortus terjadi perdarahan dalam desidua basalis kemudian
diikuti oleh nekrosis jaringan sekitarnya. Hal tersebut menyebabkan hasil
konsepsi terlepas sebagian atau seluruhnya, sehingga merupakan benda asing
dalam uterus. Keadaan ini menyebabkan uterus berkontraksi untuk
mengeluarkan isinya. Pada kehamilan kurang dari 8 minggu hasil konsepsi itu
biasanya dikeluarkan seluruhnya karena villi korialis belum menembus
desidua secara mendalam. Pada kehamilan antara 8 sampai 14 minggu villi
korialis menembus desidua lebih dalam, sehingga umumnya plasenta tidak
dilepaskan sempurna yang dapat menyebabkan banyak perdarahan. Pada
kehamilan 14 minggu keatas umumnya yang dikeluarkan setelah ketuban
pecah ialah janin, disusul beberapa waktu kemudian plasenta. Perdarahan
tidak banyak jika plasenta segera terlepas dengan lengkap. Peristiwa abortus
ini menyerupai persalinan dalam bentuk miniature.
Hasil konsepsi pada abortus dapat dikeluarkan dalam berbagai bentuk.
Ada kalanya kantong amnion kosong atau tampak di dalamnya benda kecil
tanpa bentuk yang jelas dan mungkin pula janin telah mati lama. Apabila
mudigah yang mati tidak dikeluarkan dalam waktu yang cepat maka ia dapat
diliputi oleh lapisan bekuan darah, isi uterus dinamakan mola kruenta. Bentuk
ini menjadi mola karnosa apabila pigmen darah telah diserap dan dalam
sisanya terjadi organisasi sehingga semuanya tampak seperti daging. Bentuk
lain adalah mola tuberose, dalam hal ini amnion tampak berbenjol-benjol
karena terjadi hematoma antara amnion dan korion.
Pada janin yang telah meninggal dan tidak dikeluarkan dapat terjadi
proses mumifikasi diamana janin mengering dan karena cairan amnion
berkurang maka ia jadi gepeng (fetus kompressus). Dalam tingkat lebih lanjut
ia menjadi tipis seperti kertas perkamen (fetus papiraseus)
Kemungkinan lain pada janin mati yang tidak segera dikeluarkan
adalah terjadinya maserasi, kulit terkupas, tengkorak menjadi lembek, perut
membesar karena terisi cairan dan seluruh janin berwarna kemerah – merahan
dan dapat menyebabkan infeksi pada ibu apabila perdarahan yang terjadi
sudah berlangsung lama.
58

D. Penyebab Abortus
1. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi. Kelainan inilah yang paling umum
menyebabkan abortus pada kehamilan sebelum umur kehamilan 8 minggu.
Beberapa faktor yang menyebabkan kelainan ini antara lain : kelainan
kromoson/genetik, lingkungan tempat menempelnya hasil pembuahan
yang tidak bagus atau kurang sempurna dan pengaruh zat zat yang
berbahaya bagi janin seperti radiasi, obat obatan, tembakau, alkohol dan
infeksi virus.
2. Kelainan pada plasenta. Kelainan ini bisa berupa gangguan pembentukan
pembuluh darah pada plasenta yang disebabkan oleh karena penyakit
darah tinggi yang menahun.
3. Faktor ibu seperti penyakit penyakit khronis yang diderita oleh sang ibu
seperti radang paru paru, tifus, anemia berat, keracunan dan infeksi virus
toxoplasma.
4. Kelainan yang terjadi pada organ kelamin ibu seperti gangguan pada mulut
rahim, kelainan bentuk rahim terutama rahim yang lengkungannya ke
belakang (secara umum rahim melengkung ke depan), mioma uteri, dan
kelainan bawaan pada rahim.
5. Trauma
Tapi biasanya jika terjadi langsung pada kavum uteri. Hubungan seksual
khususnya kalau terjadi orgasme, dapat menyebabkan abortus pada wanita
dengan riwayat keguguran yang berkali-kali.
6. Faktor-faktor hormonal
Misalnya penurunan sekresi progesteron diperkirakan sebagai penyebab
terjadinya abortus pada usia kehamilan 10 sampai 12 minggu, yaitu saat
plasenta mengambil alih fungsi korpus luteum dalam produksi hormon.
7. Penyebab dari segi Janin
a. Kematian janin akibat kelainan bawaan.
b. Mola hidatidosa.
c. Penyakit plasenta dan desidua, misalnya inflamasi dan degenerasi.

E. Manifestasi Klinik
Diduga abortus apabila seorang wanita dalam masa reproduksi mengeluh
tentang perdarahan per vaginam setelah mengalami haid yang terlambat juga
sering terdapat rasa mulas dan keluhan nyeri pada perut bagian bawah.
(Mitayani, 2009)
Secara umum terdiri dari:
1. Terlambat haid atau amenhore kurang dari 20 minggu.
2. Pada pemeriksaan fisik, keadaan umum tampak lemah atau kesadaran
menurun, tekanan darah normal atau menurun, denyut nadi normal atau
cepat dan kecil, suhu badan normal atau meningkat.
3. Perdarahan per vaginam, mungkin disertai keluarnya jaringan hasil
konsepsi.
4. Rasa mulas atau kram perut di daerah simfisis, sering disertai nyeri
pinggang akibat kontraksi uterus.
Ciri-ciri abortus kompletus adalah :
59

perdarahan pervaginam, kontraksi uterus, ostium serviks sudah menutup, ada


keluar jaringan, tidak ada sisa dalam uterus.

F. Penangan
1. Abortus Komplet Tidak memerlukan penanganan khusus, hanya apabila
menderita anemia ringan perlu diberikan tablet besi dan dianjurkan supaya
makan makanan yang mengandung banyak protein, vitamin dan mineral.
2. Observasi untuk melihat adanya perdarahan banyak
3. Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan
4. Apabila terdapat anemia sedang, berikan tablet sulfas ferrosus 600 mg per
hari
selama 2 minggu.
5. Jika anemia berat berikan transfusi darah.
6. Konseling asuhan pasca keguguran dan pemantauan lanjut.

G. Pemeriksaan
Pemeriksaan Ginekologi
1. Inspeksi vulva : Perdarahan per vaginam, ada atau tidak jaringan hasil
konsepsi, tercium atau tidak bau busuk dari vulva.
2. Inspekulo : Perdarahan dari kavum uteri, ostium uteri terbuka atau sudah
tertutup, ada atau tidak jaringan keluar dari ostium, ada atau tidak cairan
atau jaringan berbau busuk dari ostium.
3. Vaginal toucher : Porsio masih terbuka atau sudah tertutup, teraba atau
tidak jaringan dalam kavum uteri, besar uterus sesuai atau lebih kecil dari
usia kehamilan, tidak nyeri saat porsio digoyang, tidak nyeri pada
perabaan adneksa, kavum douglasi tidak menonjol dan tidak nyeri.
Pemeriksaan Penunjang
1. Tes kehamilan : pemeriksaan HCG, positif bila janin masih hidup, bahkan
2-3 minggu setelah abortus.
2. Pemeriksaan doppler atau USG : untuk menentukan apakah janin masih
hidup.
3. Histerosalfingografi, untuk mengetahui ada tidaknya mioma uterus
submukosa dan anomali kongenital.
4. BMR dan kadar urium darah diukur untuk mengetahui apakah ada atau
tidak gangguan glandula thyroidea.
5. Pemeriksaan kadar hemoglobin cenderung menurun akibat perdarahan.

H. Komplikasi
1. Perdarahan
Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil
konsepsi dan jika perlu pemberian transfusi darah. Kematian karena
perdarahan dapat terjadi apabila pertolongan tidak diberikan pada waktunya.
2. Perforasi
Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi
hiperretrofleksi. Dengan adanya dugaan atau kepastian terjadinya perforasi,
60

laparatomi harus segera dilakukan untuk menentukan luasnya perlukaan pada


uterus dan apakah ada perlukan alat-alat lain.
3. Syok
Syok pada abortus bisa terjadi karena perdarahan (syok hemoragik) dan
karena infeksi berat.
4. Infeksi
Sebenarnya pada genitalia eksterna dan vagina dihuni oleh bakteri yang
merupakan flora normal. Khususnya pada genitalia eksterna yaitu
staphylococci, streptococci, Gram negatif enteric bacilli, Mycoplasma,
Treponema (selain T. paliidum), Leptospira, jamur, Trichomonas vaginalis,
sedangkan pada vagina ada lactobacili,streptococci, staphylococci, Gram
negatif enteric bacilli, Clostridium sp., Bacteroides sp, Listeria dan jamur.
Organisme-organisme yang paling sering bertanggung jawab terhadap infeksi
paska abortus adalah E.coli, Streptococcus non hemolitikus, Streptococci
anaerob, Staphylococcus aureus, Streptococcus hemolitikus, dan Clostridium
perfringens. Bakteri lain yang kadang dijumpai adalah Neisseria gonorrhoeae,
Pneumococcus dan Clostridium tetani. Streptococcus pyogenes potensial
berbahaya oleh karena dapat membentuk gas.
61

BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
menganalisanya sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan perawatan
bagi klien. Adapun hal-hal yang perlu dikaji adalah :
2. Biodata : mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi ; nama,
umur, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan,
perkawinan ke- , lamanya perkawinan dan alamat
3. Keluhan utama : Kaji adanya menstruasi tidak lancar dan adanya perdarahan
pervaginam berulang pervaginam berulang
Riwayat kesehatan ,
Riwayat pembedahan : Kaji adanya pembedahan yang pernah dialami oleh
klien, jenis pembedahan , kapan , oleh siapa dan di mana tindakan tersebut
berlangsung.
Riwayat penyakit yang pernah dialami : Kaji adanya penyakit yang pernah
dialami oleh klien misalnya DM , jantung , hipertensi , masalah
ginekologi/urinary , penyakit endokrin , dan penyakit-penyakit lainnya.
Riwayat kesehatan keluarga : Yang dapat dikaji melalui genogram dan dari
genogram tersebut dapat diidentifikasi mengenai penyakit turunan dan
penyakit menular yang terdapat dalam keluarga.
Riwayat kesehatan reproduksi : Kaji tentang mennorhoe, siklus menstruasi,
lamanya, banyaknya, sifat darah, bau, warna dan adanya dismenorhoe serta
kaji kapan menopause terjadi, gejala serta keluahan yang menyertainya
Riwayat kehamilan , persalinan dan nifas : Kaji bagaimana keadaan anak
klien mulai dari dalam kandungan hingga saat ini, bagaimana keadaan
kesehatan anaknya.

4. Pola aktivitas sehari-hari : Kaji mengenai nutrisi, cairan dan elektrolit,


eliminasi (BAB dan BAK), istirahat tidur, hygiene, ketergantungan, baik
sebelum dan saat sakit.

5. Pemeriksaan fisik, meliputi :


Inspeksi
Hal yang diinspeksi antara lain :
mengobservasi kulit terhadap warna, perubahan warna, laserasi, lesi terhadap
drainase, pola pernafasan terhadap kedalaman dan kesimetrisan, bahasa tubuh,
pergerakan dan postur, penggunaan ekstremitas, adanya keterbatasan fifik, dan
seterusnya
Palpasi
Sentuhan : merasakan suatu pembengkakan, mencatat suhu, derajat
kelembaban dan tekstur kulit atau menentukan kekuatan kontraksi uterus.
Tekanan : menentukan karakter nadi, mengevaluasi edema, memperhatikan
posisi janin atau mencubit kulit untuk mengamati turgor.
Pemeriksaan dalam : menentukan tegangan/tonus otot atau respon nyeri yang
abnormal
Perkusi
62

Auskultasi
6. Pemeriksaan laboratorium :
Darah dan urine serta pemeriksaan penunjang : rontgen, USG, biopsi, pap
smear. Keluarga berencana : Kaji mengenai pengetahuan klien tentang KB,
apakah klien setuju, apakah klien menggunakan kontrasepsi, dan
menggunakan KB jenis apa.
7. Data lain-lain :
Kaji mengenai perawatan dan pengobatan yang telah diberikan selama dirawat
di RS.

2. Diagnosa Keperawatan
Kemungkinan diagnosis keperawatan yang muncul adalah sebagai berikut:
1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan vaskuler dalam
jumlah berlebih
2. Nyeri berhubungan dengan dilatasi serviks, trauma jaringan dan kontraksi
uterus
3. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan
4. Ansietas berhubungan dengan ancaman kematian diri sendiri dan janin
63

RESUME (PERSALINAN)
PARTUS MACET

OLEH
Ade Novira (70300117033)

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
TAHUN AJARAN 2018/2019
64

BAB I
KONSEP DASAR MEDIS
A. Definisi
Partus macet adalah suatu keadaan dari suatu persalinan yang mengalami
kemacetan dan berlangsung lama sehingga timbul komplikasi ibu maupun
janin (anak).
Partus macet merupakan persalinan yang berjalan lebih dari 24 jam untuk
primigravida dan atau 18 jam untuk multi gravida.

B. Etiologi
Penyebab persalinan lama diantaranya adalah kelainan letak janin,
kelainan panggul, kelainan keluaran his dan mengejan, terjadi
ketidakseimbangan sefalopelfik, pimpinan persalinan yang salah dan primi tua
primer atau sekunder.

C. Komplikasi
- Ibu
1. Infeksi sampai sepsis
2. asidosis dengan gangguan elektrolit
3. dehidrasi, syock, kegagalan fungsi organ-organ
4. robekan jalan lahir
5. fistula buli-buli, vagina, rahim dan rectum
- janin
1. Gawat janin dalam rahim sampai meninggal
2. lahir dalam asfiksia berat sehingga dapat menimbulkan cacat otak
menetap
3. trauma persalinan, fraktur clavicula, humerus, femur
D. Gejala Klinis
1. Tanda – tanda kelelahan dan intake yang kurang
- Dehidrasi, nadi cepat dan lemah
- Metorismus
- Febris
- His yang hilang/ melemah
2. tanda – tanda rahim pecah (rupture uteri)
- Perdarahan melaluli orivisium eksternum
- His yang hilang
- Bagian janin yang mudah teraba
- Robekan dapat meluas sampai cervix dan vagina
3. tanda infeksi intra uteri
- keluar air ketuban berwarna keruh kehijauan dan berbau, kadang
bercampur dengan meconium
- suhu rectal > 37,50 c
4. tanda gawat janin
- air ketuban bercampur dengan mekonium
- denyut jantung janin irreguler
- gerak anak berkurang atau hiperaktif ( gerak konfulsif).
65

RESUME (PERSALINAN)
PRESIPITATUS

OLEH
Ade Novira (70300117033)

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
TAHUN AJARAN 2018/2019
66

BAB I
KONSEP DASAR MEDIS
A. Definisi
Partus presipitatus adalah persalinan berlangsung sangat cepat. Kemajuan
cepat dari persalinan, berakhir kurang dari 3 jam dari awitan kelahiran, dan
melahirkan di luar rumah sakit adalah situasi kedaruratan yang membuat
terjadi peningkatan resiko komplikasi dan/atau hasil yang tidak baik pada
klien/janin.
B. Etiologi
Abnormalitas tahanan yang rendah pada bagian jalan lahir - Abnormalitas
kontraksi uterus dan rahim yang terlalu kuat - Pada keadaan yang sangat jarang
dijumpai oleh tidak adanya rasa nyeri pada saat his sehingga ibu tidak menyadari
adanya proses-proses persalinan yang sangat kuat itu
C. Gejala
Dapat mengalami ambang nyeri yang tidak biasanya atau tidak menyadari
kontraksi abdominal. Kemungkinan tidak ada kontraksi yang dapat diraba, bila
terjadi pada ibu yang obesitas. Ketidaknyamanan punggung bagian bawah (tidak
dikenali sebagai tanda kemajuan persalinan). Kontraksi uterus yang lama/hebat,
ketidak-adekuatan relaksasi uterus diantara kontraksi. Dorongan invalunter lintula
mengejan.
D. Akibat Pada Ibu
Partus presipitatus jarang disertai dengan komplikasi maternal yagn serius
jika serviks mengadakan penipisan serta dilatasi dengan mudah, vagina
sebelumnya sudah teregang dan perineum dalam keadaan lemas (relaksasi).
Namun demikian, kontraksi uterus yang kuat disertai serviks yang panjang serta
kaku, dan vagina, vulva atau perineum yang tidak teregang dapat menimbulkan
rupture uteri atau laserasi yang luas pada serviks, vagina, vulva atau perineum.
Dalam keadaan yang terakhir, emboli cairan ketuban yang langka itu besar
kemungkinannya untuk terjadi. Uterus yang mengadakan kontraksi dengan
kekuatan yang tidak lazim sebelum proses persalinan bayi, kemungkinan akan
menjadi hipotonik setelah proses persalinan tersebut dan sebagai konsekuensinya,
akan disertai dengan perdarahan dari templat implantasi placenta.
E. Penanganan
Kontraksi uterus spontan yang kuat dan tidak lazim, tidak mungkin dapat
diubah menjadi derajat kontraksi yang bermakna oleh pemberian anastesi. Jika
tindakan anastesi hendak dicoba, takarannya harus sedemikian rupa sehingga
keadaan bayi yang akan dilahirkan itu tidak bertambah buruk dengan pemberian
anastesi kepada ibunya. Penggangguan anastesi umum dengan preparat yang bisa
mengganggu kemampuan kontraksi rahim, seperti haloton dan isofluran,
seringkali merupakan tindakan yang terlalu berani. Tentu saja, setiap preparat
oksitasik yang sudah diberikan harus dihentikan dengan segera. Preparat tokolitik,
seperti ritodrin dan magnesium sulfat parenteral, terbukti efektif. Tindakan
mengunci tungkai ibu atau menahan kepala bayi secara langsung dalam upaya
untuk memperlambat persalinan tidak akan bisa dipertahankan. Perasat semacam
ini dapat merusak otak bayi tersebut.
67

RESUME (KEHAMILAN)
RUPTUR UTERIS

OLEH
Ade Novira (70300117033)

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
TAHUN AJARAN 2018/2019
68

BAB I
KONSEP DASAR MEDIS

A. Definisi
 Ruptur Uteri adalah robekan atau diskontinuita dinding rahim akibat
dilampauinya daya regang miomentrium. ( buku acuan nasional pelayanan
kesehatan maternal dan neonatal )
 Rupture uteri adalah robeknya dinding uterus pada saat kehamilan atau
dalam persalinan dengan atau tanpa robeknya perioneum visceral.
( Obstetri dan Ginekologi )
B. Etiologi
1. riwayat pembedahan terhadap fundus atau korpus uterus
2. induksi dengan oksitosin yang sembarangan atau persalinan yang lama
3. presentasi abnormal ( terutama terjadi penipisan pada segmen bawah
uterus ).
C. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala ruptur uteri dapat terjadi secara dramatis atau tenang.

Dramatis

 Nyeri tajam, yang sangat pada abdomen bawah saat kontraksi hebat
memuncak
 Penghentian kontraksi uterus disertai hilangnya rasa nyeri
 Perdarahan vagina ( dalam jumlah sedikit atau hemoragi )
 Terdapat tanda dan gejala syok, denyut nadi meningkat, tekanan darah
menurun dan nafas pendek ( sesak )
 Temuan pada palpasi abdomen tidak sama dengan temuan terdahulu
 Bagian presentasi dapat digerakkan diatas rongga panggul
 Janin dapat tereposisi atau terelokasi secara dramatis dalam abdomen ibu
 Bagian janin lebih mudah dipalpasi
 Gerakan janin dapat menjadi kuat dan kemudian menurun menjadi tidak
ada gerakan dan DJJ sama sekali atau DJJ masih didengar
 Lingkar uterus dan kepadatannya ( kontraksi ) dapat dirasakan disamping
janin ( janin seperti berada diluar uterus ).
Tenang

 Kemungkinan terjadi muntah


 Nyeri tekan meningkat diseluruh abdomen
 Nyeri berat pada suprapubis
 Kontraksi uterus hipotonik
 Perkembangan persalinan menurun
 Perasaan ingin pingsan
 Hematuri ( kadang-kadang kencing darah )
 Perdarahan vagina ( kadang-kadang )
 Tanda-tanda syok progresif
69

 Kontraksi dapat berlanjut tanpa menimbulkan efek pada servik atau


kontraksi mungkin tidak dirasakan
 DJJ mungkin akan hilang
D. Klasifikasi
Ruptur uteri dapat dibagi menurut beberapa cara :
1. Menurut waktu terjadinya
a) R. u. Gravidarum
 Waktu sedang hamil
 Sering lokasinya pada korpus
b) R. u. Durante Partum
 Waktu melahirkan anak
 Ini yang terbanyak
2. Menurut lokasinya
a) Korpus uteri, ini biasanya terjadi pada rahim yang sudah pernah
mengalami operasi seperti seksio sesarea klasik ( korporal ),
miemoktomi
b) Segmen bawah rahim ( SBR ), ini biasanya terjadi pada partus yang
sulit dan lama tidak maju, SBR tambah lama tambah regang dan tipis
dan akhirnya terjadilah ruptur uteri yang sebenarnya
c) Serviks uteri ini biasanya terjadi pada waktu melakukan ekstraksi
forsipal atau versi dan ekstraksi sedang pembukaan belum lengkap
d) Kolpoporeksis, robekan-robekan di antara serviks dan vagina
3. Menurut robeknya peritoneum
a). R. u. Kompleta : robekan pada dinding uterus berikut peritoneumnya (
perimetrium ) ; dalam hal ini terjadi hubungan langsung antara rongga
perut dan rongga uterus dengan bahaya peritonitis
b) R. u. Inkompleta : robekan otot rahim tanpa ikut robek peritoneumnya.
Perdarahan terjadi subperitoneal dan bisa meluas ke lig.latum
4. Menurut etiologinya
a) Ruptur uteri spontanea
Menurut etiologinya dibagi 2 :
1) Karena dinding rahim yang lemah dan cacat
- bekas seksio sesarea
- bekas miomectomia
- bekas perforasi waktu keratase
- bekas histerorafia
- bekas pelepasan plasenta secara manual
- pada gravida dikornu yang rudimenter dan graviditas
interstitialis
- kelainan kongenital dari uterus
- penyakit pada rahim
- dinding rahim tipis dan regang ( gemelli & hidramnion )
2) Karena peregangan yang luarbiasa dari rahim
- pada panggul sempit atau kelainan bentuk dari panggul
70

- janin yang besar


- kelainan kongenital dari janin
- kelainan letak janin
- malposisi dari kepala
- adanya tumor pada jalan lahir
- rigid cervik
- retrofleksia uteri gravida dengan sakulasi
- grandemultipara dengan perut gantung ( pendulum )
- pimpinan partus salah
b) Ruptur uteri violenta
Karena tindakan dan trauma lain :
- Ekstraksi forsipal
- Versi dan ekstraksi
- Embriotomi
- Braxton hicks version
- Sindroma tolakan
- Manual plasenta
- Kuretase
- Ekspresi kristeller atau crede
- Trauma tumpul dan tajam dari luar
- Pemberian piton tanpa indikasi dan pengawasan
5. Menurut simtoma klinik
a) R. u. Imminens ( membakat = mengancam )
b) Ruptur Uteri ( sebenarnya )
E. Tes Laboratorium
Hitung Darah lengkap dan Apusan Darah
Batas dasar hemoglobin dan nilai hematokrit dapat tidak menjelaskan
banyaknya kehilangan darah.

Urinalisis :
Hematuria sering menunjukkan adanya hubungan denga perlukaan
kandung kemih.

Golongan Darah dan Rhesus


4 sampai 6 unit darah dipersiapkan untuk tranfusi bila diperlukan
F. Penatalaksanaan
Tindakan pertama adalah memberantas syok, memperbaiki keadaan umum
penderita dengan pemberian infus cairan dan tranfusi darah, kardiotinika,
antibiotika, dsb. Bila keadaan umum mulai baik, tindakan selanjutnya adalah
melakukan laparatomi dengan tindakan jenis operasi :
1. histerektomi baik total maupun sub total
71

2. histerorafia, yaitu luka di eksidir pinggirnya lalu di jahit sebaik-


baiknya
3. konserfatif : hanya dengan temponade dan pemberian antibiotika yang
cukup.
Tindakan yang akan dipilih tergantung pada beberapa faktor, diantaranya
adala :
1. keadaan umum penderita
2. jenis ruptur incompleta atau completa
3. jenis luka robekan : jelek, terlalu lebar, agak lama, pinggir tidak rata
dan sudah banyak nekrosis
4. tempat luka : serviks, korpus, segmen bawah rahim
5. perdarahan dari luka : sedikit, banyak
6. umur dan jumlah anak hidup
7. kemampuan dan ketrampilan penolong

Manejemen
 segera hubungi dokter, konsultan, ahli anestesi, dan staff kamar
operasi
 buat dua jalur infus intravena dengan intra kateter no 16 : satu oleh
larutan elektrolit, misalnya oleh larutan rimger laktat dan yang lain
oleh tranfusi darah. ( jaga agar jalur ini tetap tebuka dengan
mengalirkan saline normal, sampai darah didapatkan ).
 Hubungi bank darah untuk kebutuhan tranfusi darah cito, perkiraan
jumlah unit dan plasma beku segar yang diperlukan
 Berikan oksigen
 Buatlah persiapan untuk pembedahan abdomen segera ( laparatomi
dan histerektomi )
 Pada situasi yang mengkhawatirkan berikan kompresi aorta dan
tambahkan oksitosin dalam cairan intra vena.
72

LAPORAN PENDAHULUAN (NIFAS)


PERDARAHAN

OLEH
Ade Novira (70300117033)

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
TAHUN AJARAN 2018/2019
73

BAB I
KONSEP DASAR MEDIS

A. Defenisi
Perdarahan postpartum adalah perdarahan lebih dari 500-600 ml selama 24
jam setelah anak lahir. Termasuk perdarahan karena retensio plasenta.
Perdarahan post partum adalah perdarahan dalam kala IV lebih dari 500-600
cc dalam 24 jam setelah anak dan plasenta lahir (Prof. Dr. Rustam Mochtar,
MPH, 1998).
Haemoragic Post Partum (HPP) adalah hilangnya darah lebih dari 500 ml
dalam 24 jam pertama setelah lahirnya bayi (Williams, 1998)
HPP biasanya kehilangan darah lebih dari 500 ml selama atau setelah
kelahiran(Marylin E Dongoes, 2001).

Perdarahan Post partum diklasifikasikan menjadi 2, yaitu:


-Early Postpartum : Terjadi 24 jam pertama setelah bayi lahir
- Late Postpartum : Terjadi lebih dari 24 jam pertama setelah bayi lahir

Tiga hal yang harus diperhatikan dalam menolong persalinan dengan komplikasi
perdarahan post partum :

1. Menghentikan perdarahan.
2. Mencegah timbulnya syok.
3. Mengganti darah yang hilang.

B.Etiologi
Penyebab umum perdarahan postpartum adalah:
1. Atonia Uteri
2. Retensi Plasenta
3. Sisa Plasenta dan selaput ketuban
- Pelekatan yang abnormal (plasaenta akreta dan perkreta)
- Tidak ada kelainan perlekatan (plasenta seccenturia)
4. Trauma jalan lahir
a. Episiotomi yang lebar
b. Lacerasi perineum, vagina, serviks, forniks dan rahim
c. Rupture uteri
5. Penyakit darah

B. Manifestasi Klinis
Gejala Klinis umum yang terjadic adalah kehilangan darah dalam jumlah yang
banyak (> 500 ml), nadi lemah, pucat, lochea berwarna merah, haus, pusing,
gelisah, letih, dan dapat terjadi syok hipovolemik, tekanan darah rendah,
ekstremitas dingin, mual.
74

Gejala Klinis berdasarkan penyebab:


a. Atonia Uteri:
Gejala yang selalu ada: Uterus tidak berkontraksi dan lembek dan perdarahan
segera setelah anak lahir (perarahan postpartum primer)
Gejala yang kadang-kadang timbul: Syok (tekanan darah rendah, denyut nadi
cepat dan kecil, ekstremitas dingin, gelisah, mual dan lain-lain)
b. Robekan jalan lahir
Gejala yang selalu ada: perdarahan segera, darah segar mengalir segera setelah
bayi lahir, kontraksi uteru baik, plasenta baik.
Gejala yang kadang-kadang timbul: pucat, lemah, menggigil.
c. Retensio plasenta
Gejala yang selalu ada: plasenta belum lahir setelah 30 menit, perdarahan segera,
kontraksi uterus baik.
Gejala yang kadang-kadang timbul: tali pusat putus akibat traksi berlebihan,
inversi uteri akibat tarikan, perdarahan lanjutan
d. Tertinggalnya plasenta (sisa plasenta)
Gejala yang selalu ada : plasenta atau sebagian selaput (mengandung pembuluh
darah ) tidak lengkap dan perdarahan segera.
Gejala yang kadang-kadang timbul: Uterus berkontraksi baik tetapi tinggi fundus
tidak berkurang.
e. Inversio uterus.
Gejala yang selalu ada: uterus tidak teraba, lumen vagina terisi massa, tampak tali
pusat (jika plasenta belum lahir), perdarahan segera, dan nyeri sedikit atau berat.
Gejala yang kadang-kadang timbul: Syok neurogenik dan pucat

C. Patofisiologi
Dalam persalinan pembuluh darah yang ada di uterus melebar untuk
meningkatkan sirkulasi ke sana, atoni uteri dan subinvolusi uterus menyebabkan
kontraksi uterus menurun sehingga pembuluh darah-pembuluh darah yang
melebar tadi tidak menutup sempurna sehingga perdarahan terjadi terus menerus.
Trauma jalan lahir seperti epiostomi yang lebar, laserasi perineum, dan rupture
uteri juga menyebabkan perdarahan karena terbukanya pembuluh darah, penyakit
darah pada ibu; misalnya afibrinogemia atau hipofibrinogemia karena tidak ada
atau kurangnya fibrin untuk membantu proses pembekuan darah juga merupakan
penyebab dari perdarahan postpartum. Perdarahan yang sulit dihentikan bisa
mendorong pada keadaan shock hemoragik.
75

Perbedaan perdarahan pasca persalinan karena atonia uteri dan robekan jalan lahir
adalah:
· Atonia uteri (sebelum/sesudah plasenta lahir).
1. Kontraksi uterus lembek, lemah, dan membesar (fundus uteri masih tinggi.
2.Perdarahan terjadi beberapa menit setelah anak lahir.
3. Bila kontraksi lemah, setelah masase atau pemberian uterotonika, kontraksi
yang lemah tersebut menjadi kuat.
Robekan jalan lahir (robekan jaringan lunak).
1. Kontraksi uterus kuat, keras dan mengecil.
2. Perdarahan terjadi langsung setelah anak lahir. Perdarahan ini terus-menerus.
Penanganannya, ambil spekulum dan cari robekan.
3. Setelah dilakukan masase atau pemberian uterotonika langsung uterus
mengeras tapi perdarahan tidak berkurang.

D. Pemeriksaan Penunjang
a. Golongan darah : menentukan Rh, ABO dan percocokan silang
b. Jumlah darah lengkap : menunjukkan penurunan Hb/Ht dan peningkatan
jumlah sel darah putuih (SDP). (Hb saat tidak hamil:12-16gr/dl, saat hamil: 10-
14gr/dl. Ht saat tidak hamil:37%-47%, saat hamil:32%-42%. Total SDP saat tidak
hamil 4.500-10.000/mm3. saat hamil 5.000-15.000)
c. Kultur uterus dan vagina : mengesampingkan infeksi pasca partum
d. Urinalisis : memastikan kerusakan kandung kemih
e. Profil koagulasi : peningkatan degradasi, kadar produk fibrin/produk split fibrin
(FDP/FSP), penurunan kadar fibrinogen : masa tromboplastin partial diaktivasi,
masa tromboplastin partial (APT/PTT), masa protrombin memanjang pada KID
Sonografi : menentukan adanya jaringan plasenta yang tertahan.
76

RESUME (NIFAS)
POST SC

OLEH
Ade Novira (70300117033)

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
TAHUN AJARAN 2018/2019
77

BAB I
KONSEP DASAR MEDIS
A. Definisi
Sectio caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka
dinding perut dan dinding uterus. (Sarwono , 2005).
Sectio caesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan
pada dinding uterus melalui depan perut atau vagina. Atau disebut juga
histerotomia untuk melahirkan janin dari dalam rahim. (Mochtar, 1998).
Sectio Caesaria ialah tindakan untuk melahirkan janin dengan berat badan
diatas 500 gram melalui sayatan pada dinding uterus yang utuh(Gulardi
&Wiknjosastro, 2006).

B. Etiologi
a. Indikasi Ibu
a) Panggul sempit absolute
b) Placenta previa
c) Ruptura uteri mengancam
d) Partus Lama
e) Partus Tak Maju
f) Pre eklampsia, dan Hipertensi
b. Indikasi Janin
a) Kelainan Letak
1. Letak lintang
Bila terjadi kesempitan panggul, maka sectio caesarea adalah
jalan/cara yang terbaik dalam melahirkan janin dengan segala letak
lintang yang janinnya hidup dan besarnya biasa. Semua primigravida
dengan letak lintang harus ditolong dengan sectio caesarea walaupun
tidak ada perkiraan panggul sempit. Multipara dengan letak lintang dapat
lebih dulu ditolong dengan cara lain.
2. Letak belakang
Sectio caesarea disarankan atau dianjurkan pada letak belakang bila
panggul sempit, primigravida, janin besar dan berharga.
b) Gawat Janin
c) Janin Besar
c. Kontra Indikasi
a) Janin Mati
b) Syok, anemia berat.
c) Kelainan congenital Berat

C. Tujuan Sectio Caesarea


Tujuan melakukan sectio caesarea (SC) adalah untuk mempersingkat lamanya
perdarahan dan mencegah terjadinya robekan serviks dan segmen bawah rahim.
Sectio caesarea dilakukan pada plasenta previa totalis dan plasenta previa lainnya
jika perdarahan hebat. Selain dapat mengurangi kematian bayi pada plasenta
previa, sectio caesarea juga dilakukan untuk kepentingan ibu, sehingga sectio
caesarea dilakukan pada placenta previa walaupun anak sudah mati.
78

D. Manifestasi Klinik Post Sectio Caesaria


Persalinan dengan Sectio Caesaria , memerlukan perawatan yang lebih
koprehensif yaitu: perawatan post operatif dan perawatan
post partum.Manifestasi klinis sectio caesarea menurut Doenges
(2001),antara lain :
a. Nyeri akibat ada luka pembedahan
b . Adanya luka insisi pada bagian abdomen
c . Fundus uterus kontraksi kuat dan terletak di umbilicus
d. Aliran lokhea sedang dan bebas bekuan yang berlebihan (lokhea
tidak banyak)
e. Kehilangan darah selama prosedur pembedahan kira -kira 600-
800ml
f. Emosi labil / perubahan emosional dengan mengekspresikan
ketidakmampuan menghadapi situasi baru
g. Biasanya terpasang kateter urinarius
h . Auskultasi bising usus tidak terdengar atau samar
i. Pengaruh anestesi dapat menimbulkan mual dan muntah
j. Status pulmonary bunyi paru jelas dan vesikuler
k. Pada kelahiran secara SC tidak direncanakan maka bisanya kurang paham
prosedur
l. Bonding dan Attachment pada anak yang baru dilahirkan.

E. Jenis - Jenis Operasi Sectio Caesarea (SC)


a. Abdomen (SC Abdominalis)
a) Sectio Caesarea Transperitonealis
Sectio caesarea klasik atau corporal : dengan insisi memanjang pada
corpus uteri y a n g m e m p u n ya i k e l e b i h a n m e n g e l u a r k a n j a n i n
l e b i h c e p a t , tidak mengakibatkan komplikasi kandung kemih
tertarik, dan sayatan bias diperpanjang proksimal atau distal .
Sedangkan kekurangan dari cara ini adalah infeksi mudah menyebar
secara intra abdominal karena tidak ada reperitonealisasi yang baik danuntuk
persalinan berikutnya lebih sering terjadi ruptura uteri spontan.
b) Sectio caesarea profunda : dengan insisi pada segmen bawah rahim
dengan kelebihan penjahitan luka lebih mudah, penutupan luka
dengan reperitonealisasi yang baik, perdarahan kurang dan kemungkinan
rupture uteri spontan kurang/lebih kecil. Dan memiliki kekurangan luka
dapat melebar kekiri, bawah, dan kanan sehingga mengakibtakan
pendarahan yang banyak serta keluhan pada kandung kemih.
c) Sectio caesarea ekstraperitonealis
Merupakan sectio caesarea tanpa membuka peritoneum parietalis dan
dengan demikian tidak membuka kavum abdominalis.
b. Vagina (sectio caesarea vaginalis)
Menurut arah sayatan pada rahim, sectio caesaria dapat dilakukan apabila :
a) Sayatan memanjang (longitudinal)
79

b) Sayatan melintang (tranversal)


c) Sayatan huruf T (T Insisian)
d. Sectio Caesarea Klasik (korporal)
Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus uteri kira-kira
10cm.
Kelebihan :
a) Mengeluarkan janin lebih memanjang
b) Tidak menyebabkan komplikasi kandung kemih tertarik
c) Sayatan bisa diperpanjang proksimal atau distal
Kekurangan :
1. Infeksi mudah menyebar secara intraabdominal karena tidak ada
reperitonial yang baik.
2. Untuk persalinan berikutnya lebih sering terjadi rupture uteri spontan.
3. Ruptura uteri karena luka bekas SC klasik lebih sering terjadi
dibandingkan dengan luka SC profunda. Ruptur uteri karena luka
bekas SC klasik sudah dapat terjadi pada akhir kehamilan, sedangkan
pada luka bekas SC profunda biasanya baru terjadi dalam persalinan.
4. Untuk mengurangi kemungkinan ruptura uteri, dianjurkan supaya ibu
yang telah mengalami SC jangan terlalu lekas hamil lagi. Sekurang -
kurangnya dapat istirahat selama 2 tahun. Rasionalnya adalah
memberikan kesempatan luka sembuh dengan baik. Untuk tujuan ini
maka dipasang akor sebelum menutup luka rahim.
e. Sectio Caesarea (Ismika Profunda)
Dilakukan dengan membuat sayatan melintang konkaf pada segmen
bawah rahim kira-kira 10cm
Kelebihan :
a) Penjahitan luka lebih mudah
b) Penutupan luka dengan reperitonialisasi yang baik
c) Tumpang tindih dari peritoneal flap baik sekali untuk menahan isi
uterus ke rongga perineum
d) Perdarahan kurang
e) Dibandingkan dengan cara klasik kemungkinan ruptur uteri spontan
lebih kecil
Kekurangan :
a) Luka dapat melebar ke kiri, ke kanan dan bawah sehingga dapat
menyebabkan arteri uteri putus yang akan menyebabkan perdarahan yang
banyak.
b) Keluhan utama pada kandung kemih post operatif tinggi.

F. Komplikasi
a. Infeksi Puerpuralis
a) Ringan : dengan kenaikan suhu beberapa hari saja.
b) Sedang : dengan kenaikan suhu yang lebih tinggi disertai dehidrasi
atau perut sedikit kembung
c) Berat : dengan peritonitis, sepsis dan ileus paralitik. Hal ini sering
kita jumpai pada partus terlantar dimana sebelumnya telah
80

terjadi infeksi intrapartum karena ketuban yang telah pecah terlalu


lama.
b. Pendarahan disebabkan karena :
a) Banyak pembuluh darah yang terputus dan terbuka
b) Atonia Uteri
c) Pendarahan pada placenta bled
c. Luka pada kandung kemih, emboli paru dan keluhan kandung kemih bila
reperitonalisasi terlalu tinggi.
d. Suatu komplikasi yang baru kemudian tampak ialah kurang kuatnya perut
pada dinding uterus, sehingga pada kehamilan berikutnya bisa terjadi ruptura
uteri. Kemungkinan hal ini lebih banyak ditemukan sesudah sectio caesarea
klasik.

G. Patofisiologi
Adanya beberapa kelainan / hambatan pada proses persalinan yang
menyebabkan bayi tidak dapat lahir secara normal / spontan, misalnya plasenta
previa sentralis dan lateralis, panggul sempit, disproporsi cephalo pelvic, rupture
uteri mengancam, partus lama, partus tidak maju, pre-eklamsia, distosia serviks,
dan malpresentasi janin. Kondisi tersebut menyebabkan perlu adanya suatu
tindakan pembedahan yaitu Sectio Caesarea (SC).
Dalam proses operasinya dilakukan tindakan anestesi yang akan menyebabkan
pasien mengalami imobilisasi sehingga akan menimbulkan masalah intoleransi
aktivitas. Adanya kelumpuhan sementara dan kelemahan fisik akan menyebabkan
pasien tidak mampu melakukan aktivitas perawatan diri pasien secara mandiri
sehingga timbul masalah defisit perawatan diri.
Kurangnya informasi mengenai proses pembedahan, penyembuhan, dan
perawatan post operasi akan menimbulkan masalah ansietas pada pasien. Selain
itu, dalam proses pembedahan juga akan dilakukan tindakan insisi pada dinding
abdomen sehingga menyebabkan terputusnya inkontinuitas jaringan, pembuluh
darah, dan saraf - saraf di sekitar daerah insisi. Hal ini akan merangsang
pengeluaran histamin dan prostaglandin yang akan menimbulkan rasa nyeri (nyeri
akut). Setelah proses pembedahan berakhir, daerah insisi akan ditutup dan
menimbulkan luka post op, yang bila tidak dirawat dengan baik akan
menimbulkan masalah resiko infeksi.

H. Pemeriksaan Penunjang
a. Hemoglobin atau hematokrit (HB/Ht) untuk mengkaji perubahan dari kadar
pra operasi dan mengevaluasi efek kehilangan darah pada pembedahan.
b. Leukosit (WBC) mengidentifikasi adanya infeksi
c. Tes golongan darah, lama perdarahan, waktu pembekuan darah
d. Urinalisis / kultur urine
e. Pemeriksaan elektrolit
81

BABA II
ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian
a. Identitas klien dan penanggung jawab
Meliputi nama, umur, pendidikan, suku bangsa, pekerjaan, agam, alamat,
status perkawinan, ruang rawat, nomor medical record, diagnosa medik, yang
mengirim, cara masuk, alasan masuk, keadaan umum tanda vital.
b. Keluhan utama
c. Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas sebelumnya bagi klien multipara
d. Data Riwayat penyakit
a) Riwayat kesehatan sekarang.
Meliputi keluhan atau yang berhubungan dengan gangguan atau penyakit
dirasakan saat ini dan keluhan yang dirasakan setelah pasien operasi.
b) Riwayat Kesehatan Dahulu
Meliputi penyakit yang lain yang dapat mempengaruhi penyakit sekarang,
Maksudnya apakah pasien pernah mengalami penyakit yang sama
(Plasenta previa).
c) Riwayat Kesehatan Keluarga
d) Meliputi penyakit yang diderita pasien dan apakah keluarga pasien ada
juga mempunyai riwayat persalinan plasenta previa.
e. Keadaan klien meliputi :
a) Sirkulasi
Hipertensi dan pendarahan vagina yang mungkin terjadi. Kemungkinan
kehilangan darah selama prosedur pembedahan kira-kira 600-800 mL
b) Integritas ego
Dapat menunjukkan prosedur yang diantisipasi sebagai tanda kegagalan
dan atau refleksi negatif pada kemampuan sebagai wanita. Menunjukkan
labilitas emosional dari kegembiraan, ketakutan, menarik diri, atau
kecemasan.
c) Makanan dan cairan
Abdomen lunak dengan tidak ada distensi (diet ditentukan).
d) Neurosensori
Kerusakan gerakan dan sensasi di bawah tingkat anestesi spinal epidural.
e) Nyeri / ketidaknyamanan
Mungkin mengeluh nyeri dari berbagai sumber karena trauma bedah,
distensi kandung kemih , efek - efek anesthesia, nyeri tekan uterus
mungkin ada.
f) Pernapasan
Bunyi paru - paru vesikuler dan terdengar jelas.
g) Keamanan
h) Balutan abdomen dapat tampak sedikit noda / kering dan utuh.
i) Seksualitas
Fundus kontraksi kuat dan terletak di umbilikus. Aliran lokhea sedang.
82

2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri akut berhubungan dengan pelepasan mediator nyeri (histamin,
prostaglandin) akibat trauma jaringan dalam pembedahan (section caesarea)
b. Intoleransi aktivitas b/d tindakan anestesi, kelemahan, penurunan sirkulasi
c. Gangguan Integritas Kulit b.d tindakan pembedahan
d. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan / luka kering
bekas operasi.
e. Ansietas berhubungan dengan kurangnya informasi tentang prosedur
pembedahan, penyembuhan dan perawatan post operasi.
f. Defisit perawatan diri b/d kelemahan fisik akibat tindakan anestesi dan
pembedahan
83

RESUME (NIFAS)
LUKA EPISIOTOMI

OLEH
Ade Novira (70300117033)

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
TAHUN AJARAN 2018/2019
84

BAB I
KONSEP DASAR MEDIS

1. Definisi
Episiotomi atau perineotomi adalah insisi perineum untuk
memperlebar ruang pada jalan lahir yang menyebabkan terpotongnya selaput
lender vagina, cincin selaput dara, jaringan pada septum rektovaginal, otot-
otot dan fascia perineum dan kulit sebelah depan perineum, sehingga
memudahkan kelahiran anak.
Episiotomi adalah torehan dari perineum untuk memudahkan
persalinan dan mencegah ruptur perienium totalis. Di masa lalu, dianjurkan
untuk melakukan episiotomi secara rutin yang tujuannya adalah untuk
mencegah robekan berlebihan pada perineum, membuat tepi luka rata
sehingga mudah dilakukan penjahitan (reparasi), mencegah penyulit atau
tahanan pada kepala dan infeksi tetapi hal tersebut ternyata tidak didukung
oleh bukti-bukti ilmiah yang cukup (Enkin et al, 2000; Wooley, 1995).
Tujuan dilakukannya episiotomi yaitu :
a. Episiotomi membuat luka yang lurus dengan pinggir yang tajam,
sedangkan,ruptur perineum yang spontan bersifat luka koyak dengan
dinding luka bergerigi. Luka lurus dan tajam lebih mudah dijahit dan
sembuh dengan sempurna.
b. Mengurangi tekanan pada kepala anak.
c. Mempersingkat kala II.
d. Episiotomi lateralis dan mediolateralis mengurangi kemungkinan ruptur
perineum totalis.
2. Prosedur melakukan episiotomy
Episiotomi sebaiknya tidak dilakukan terlalu dini, waktu yang tepat adalah
ketika perineum tipis dan pucat kehilangan darah paling sedikit jika
pengguntingan sesaat sebelum kelahiran. Gunting yang digunakan harus
tajam, pengguntingan dilakukan dengan menyelipkan dua jari di dalam vagina
dengan tujuan untuk melindungi kepala janin dari guntingan serta melakukan
pengguntingan pada saat his. Jika kepala janin tidak lahir dengan segera, tekan
luka episiotomi diantara his unutk mengurangi perdarahan.
85

a. Episiotomi Medialis
Dimulai dari ujung terbawah introitus vagina sampai batas atas
otot-otot sfingter ani. Cara anestesi yang dipakai adalah cara anestesi
infiltrasi antara lain dengan larutan procaine 1-2%. Setelah pemberian
anestesi, dilakukan insisi dengan mempergunakan gunting yang tajam
dimulai dari bagian terbawah introitus vagina menuju anus, tetapi tidak
sampai memotong pinggir atas sfingter ani, hingga kepala dapat
dilahirkan. Keuntungan dari episiotomi medialis ini adalah:
1) Perdarahan yang timbul dari luka episiotomi lebih sedikit oleh
karena merupakan daerah yang relatif sedikit mengandung pembuluh
darah.
2) Sayatan bersifat simetris dan anatomis sehingga penjahitan kembali
lebih mudah dan penyembuhan lebih memuaskan.
3) Kesalahan penyembuhan jarang
4) Insisi akan lebih mudah sembuh, karena bekas insisi tersebut mudah
dirapatkan.
5) Tidak begitu sakit pada masa nifas.
6) Dispareuni jarang terjadi
7) Hasil akhir anatomik selalu bagus
8) Hilangnya darah lebih sedikit, didaerah insisi ini hanya terdapat sedikit
pembuluh darah.
Kerugiannya adalah dapat terjadi ruptur perinei tingkat III inkomplet
(laserasi m.sfingter ani) atau komplet (laserasi dinding rektum).

b. Episiotomi mediolateralis
Insisi dimulai dari bagian belakang introitus vagina menuju ke arah
belakang dan samping. Arah insisi ini dapat dilakukan ke arah kanan
ataupun kiri, panjang insisi kira-kira 4 cm. Sayatan disini sengaja
dilakukan menjauhi otot sfingter ani untuk mencegah ruptura perinei
tingkat III. Perdarahan luka lebih banyak oleh karena melibatkan daerah
yang banyak pembuluh darahnya. Otot-otot perineum terpotong sehingga
penjahitan luka lebih sukar. Penjahitan dilakukan sedemikian rupa
sehingga setelah penjahitan selesai hasilnya harus simetris.
Keuntungan dan kerugian episiotomy mediolateralis:
1) Lebih sulit memperbaikinya (menjahitnya)
2) Insisi lateral akan menyebabkan distorsi (penyimpangan)
keseimbangan dasar pelvis.
3) Kesalahan penyembuhan lebih sering
4) Otot – ototnya agak lebih sulit untuk disatukan secara benar
(aposisinya sulit).
5) Rasa nyeri pada sepertiga kasus selama beberapa hari
6) Kadang – kadang diikuti dispareuni
7) Hasil akhir anatomik tidak selalu bagus (pada 10% kasus)
8) Terbentuk jaringan parut yang kurang baik
9) Kehilangan darah lebih banyak
10) Daerah insisi kaya akan fleksus venosus.
86

11) Perluasan ke sfingter lebih jarang.

c. Episiotomi lateralis
Sayatan disini dilakukan ke arah lateral mulai dari kira-kira jam 3
atau 9 menurut arah jarum jam. Jenis episiotomi ini sekarang tidak
dilakukan lagi, oleh karena banyak menimbulkan komplikasi. Luka
sayatan dapat melebar ke arah dimana terdapat pembuluh darah pudendal
interna, sehingga dapat menimbulkan perdarahan yang banyak. Selain itu
parut yang terjadi dapat menimbulkan rasa nyeri yang mengganggu
penderita.

d. Insisi Schuchardt
Jenis ini merupakan variasi dari episiotomi mediolateralis, tetapi
sayatannya melengkung ke arah bawah lateral, melingkari rektum, serta
sayatannya lebih lebar.

3. Cara penjahitan jelujur pada luka episiotomi:


 Telusuri daerah luka dengan jari-jari tangan. Teruskan secara jelas batas-
batas luka. Lakukan jahitan sekitar 1 cm diatas ujung luka di dalam
vagina. Ikat dan potong salah satu dari benang, tinggalkan sisa benang
tidak lebih dari 2 cm.
 Tutup mukosa vagina dengan jahitan jelujur ke arah bawah hingga
mencapai lingkaran hiemn
 Tusukkan jarum menembus mukosa vagina di belakang himen hingga
ujung jarum mencapai luka pada daerah perineum
 Teruskan melakukan jahitan jelujur hingga ujung caudal luka pastikan
bahwa setiap jahitan pada tiap sisi memiliki ukuran yang sama dan otot
yang berada di bagian dalam sudah tertutup
 Setelah mencapai ujung dari luka, arahkan jarum ke kranial dan mulai
lakukan penjahitan secara jelujur untuk menutup jaringan subkutikuler.
Jahitan ini merupakan lapisan kedua pada daerah yang sama. Lapisan
jahitan yang kedua ini akan meninggalkan luka yang tetap terbuka sekitar
0,5 cm dalamnya. Luka ini akan menutup dengan sendirinya pada saat
penyembuhan luka
 Kini masukkan jarum dari robekan di daerah perineum ke arah vagina.
Ujung jarum harus keluar di belakang lingkaran himen Ikat benang dengan
simpul di dalam vagina. Potong ujung benang sepanjang kira-kira 1,5 cm
dari simpul. Jika benang dipotong terlalu pendek maka simpul dapat lepas
dan luka akan terbuka.

4. Tindakan Delatasi Jalan Lahir


Robekan perineum karena peristiwa pada persalinan :
a. Robekan perineum umumnya terjadi pada persalinan :
 Kepala janin terlalu cepat lahir
 Persalinan tidak dipimpin semestinya
 Sebelumnya pada perineum terdapat banyak jaringan parut
87

 Pada persalinan dengan distosia bahu

b. Jenis / tingkat robekan perineum :

Cara menjahit robekan perineum :


1) Derajat 1
Robekan ini kalau tidak terlalu lebar tidak perlu dijahit
2) Derajat 2
Sebelum penjahitan bila dijumpai pinggir robekan yang tidak rata atau
bergerigi, maka pinggir yang bergerigi tersebut harus diratakan terlebih
dahulu, kemudian dilakukan penjahitan robekan perineum. Mula-mula
otot dijahit dengan catgut. Kemudian mukosa vagina dijahit secara
terputus-putus atau jelujur. Penjahitan mukosa vagina dimulai dari
puncak robekan. Terakhir kulit dijahit secara subkutikuler.
3) Derajat 3
Mula-mula dinding depan rectum yang robek dijahit. Kemudian fascia
pascia perirektal dan fascia septum rektovaginal dijahit, sehingga
bertemu kembali. Ujung-ujung otot-sfingter ani yang robek diklem,
kemudian dijahit dengan 2-3 jahitan sehingga bertemu kembali.
Selanjutnya robekan dijahit lapis demi lapis seperti menjahit robekan
perineum derajat 2.
4) Derajat 4
Penjahitan derajat 4 hampir sama dengan derajat 3, hanya pada serajat 4
mukosa rectum dijahit dengan benang kromik 3-0 atau 4-0 secara
interrupted dengan 0,5 cm antara jahitan. Selanjutnya jahitan sama
seperti derajat 3.

c. Robekan dinding vagina


Perlukaan pada dinding vagina sering terjadi pada :
 Ekstraksi bokong
88

 Melahirkan janin dengan cunam


 Ekstraksi vakum
 Reposisi presentasi kepala janin seperti pada letak oksipito posterior

5. Komplikasi
a. Perdarahan. Pada umumnya pada luka robek yang kecil dan superficial
tidak terjadi perdarahan yang banyak, akan tetapi jika robekan lebar dan
dalam menimbulkan perdarahan yang hebat.
b. Infeksi, Jika robekan tidak ditangani dengan semestinya dapat terjadi
infeksi, bahkan dapat terjadi septikem. Infeksi bekas episiotomi, Infeksi
lokal sekitar kulit dan fasia superfisial akan mudah timbul pada bekas
insisi episiotomi
c. Nyeri post partum dan dyspareunia.
d. Rasa nyeri setelah melahirkan lebih sering dirasakan pada pasien bekas
episiotomi, garis jahitan (sutura) episiotomi lebih menyebabkan rasa sakit.
e. Jaringan parut yang terjadi pada bekas luka episiotomi dapat menyebabkan
dyspareunia apabila jahitannya terlalu erat
f. Nyeri pada saat menstruasi pada bekas episiotomi dan terabanya massa .
g. Trauma perineum posterior berat.
h. Trauma perineum anterior
i. Cedera dasar panggul dan inkontinensia urin dan feses
j. Gangguan dalam hubungan seksual, Jika jahitan yang tidak cukup erat,
menyebabkan akan menjadi kendur dan mengurangi rasa nikmat untuk
kedua pasangan saat melakukan hubungan seksual.

6. Penanganan
Pada luka robek yang kecil dan superfisil, tidak diperlukan penanganan
khusus. Pada luka robek yang lebar dan dalam, perlu dilakukan penjahitan
secara terputus-putus atau jelujur. Biasanya robekan pada dinding vagina
sering diiringi dengan robekan pada vulva maupun perineum.
Penjahitan/Repair Luka Episiotomi
Teknik penjahitan luka episiotomi sangat menentukan hasil penyembuhan
luka episiotomi, bahkan lebih penting dari jenis episiotomi itu sendiri.
Penjahitan biasanya dilakukan setelah plasenta lahir, kecuali bila timbul
perdarahan yang banyak dari luka episiotomi maka dilakukan dahulu
hemostasis dengan mengklem atau mengikat pembuluh darah yang terbuka.
Beberapa prinsip dalam penjahitan luka episiotomi yang harus
diperhatikan adalah sebgai berikut:4
a. Penyingkapan luka episiotomi yang adekwat dengan penerangan yang
baik, sehingga restorasi anatomi luka dapat dilakukan dengan baik.
b. Hemostasis yang baik dan mencegah dead space.
c. Penggunaan benang jahitan yang mudah diabsorbsi.
d. 4.Pencegahan penembusan kulit oleh jahitan dan mencegah tegangan yang
berlebihan.
e. Jumlah jahitan dan simpul jahitan diusahakan seminimal mungkin.
f. Hati-hati agar jahitan tidak menembus rektum.
89

b. Untuk mencegah kerusakan jaringan, sebaiknya dipakai jarum atraumatik.


7. Penyembuhan Luka Episiotomi
Proses penyembuhan sangat dihubungi oleh usia, berat badan, status
nutrisi, dehidrasi, aliran darah yang adekuat ke area luka, dan status
imunologinya. Penyembuhan luka sayatan episiotomi yang sempurna
tergantung kepada beberapa hal. Tidak adanya infeksi pada vagina sangat
mempermudah penyembuhan. Keterampilan menjahit juga sangat diperlukan
agar otot-otot yang tersayat diatur kembali sesuai dengan fungsinya atau
jalurnya dan juga dihindari sedikit mungkin pembuluh darah agar tidak
tersayat. Jika sel saraf terpotong, pembuluh darah tidak akan terbentuk lagi.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses Penyembuhan Luka
a. Status nutrisi yang tidak tercukupi memperlambat penyembuhan luka
b. Kebiasaan merokok dapat memperlambat penyembuhan luka
c. Penambahan usia memperlambat penyembuhan luka
d. Peningkatan kortikosteroid akibat stress dapat memperlambat
penyembuhan luka
e. Ganguan oksigenisasi dapat mengganggu sintesis kolagen dan
menghambat epitelisasi sehingga memperlambat penyembuhan luka
f. Infeksi dapat memperlambat penyembuhan luka

Menurut Walsh (2008) proses penyembuhan terjadi dalam tiga fase, yaitu:
a. Fase 1: Segera setelah cedera, respons peradangan menyebabkan
peningkatan aliran darah ke area luka, meningkatkan cairan dalam
jaringan,serta akumulasi leukosit dan fibrosit. Leukosit akan memproduksi
enzim proteolitik yang memakan jaringan yang mengalami cedera.
b. Fase 2: Setelah beberapa hari kemudian, fibroblast akan membentuk
benang – benang kolagen pada tempat cedera.
c. Fase 3: Pada akhirnya jumlah kolagen yang cukup akan melapisi jaringan
yang rusak kemudian menutup luka.

8. Perawatan luka episiotomy


Tindakan episiotomi adalah pengguntingan jaringan yang terletak di antara
lubang kemaluan (vagina) dan anus. Tujuannya untuk memperlebar jalan lahir
sehingga memudahkan proses lahirnya bayi. Jika persalinan normal sampai
memerlukan tindakan episiotomi, ada beberapa hal yang harus dilakukan agar
proses pemulihan berlangsung seperti yang diharapkan.
Perawatan luka bekas jahitan sangat penting karena luka bekas jahitan
jalan lahir ini dapat menjadi pintu masuk kuman dan menimbulkan infeksi, ibu
menjadi demam , luka basah dan jahitan terbuka, bahkan ada yang
mengeluarkan bau busuk dari jalan lahir. Perawatan luka jalan lahir dilakukan
sesegera mungkin setelah 6 jam dari persalinan normal. Ibu akan dilatih dan
dianjurkan untuk mulai bergerak duduk dan latihan berjalan.Tentu saja bila
keadaan ibu cukup stabil dan tidak mengalami komplikasi misalnya tekanan
darah tinggi atau pendarahan1
Persiapan dan cara merawat luka episiotomi
90

a. Siapkan air hangat


b. Sabun dan waslap
c. Handuk kering dan bersih
d. Pembalut ganti yang secukupnya
e. Celana dalam yang bersih
Cara merawat luka episiotomi:
a. Lepas semua pembalut dan cebok dari arah depan ke belakang.
b. Waslap di basahi dan buat busa sabun lalu gosokkan perlahan waslap
yang sudah ada busa sabun tersebut ke seluruh lokasi luka jahitan. Jangan
takut dengan rasa nyeri, bila tidak di bersihkan dengan benar maka darah
kotor akan menempel pada luka jahitan dan menjadi tempat kuman
berkembang biak.
c. Bilas dengan air hangat dan ulangi sekali lagi sampai yakin bahwa luka
benar – benar bersih. Bila perlu lihat dengan cermin kecil.
d. Kenakan pembalut baru yang nyaman, celana dalam yang bersih dari
bahan katun. Setelah buang air kecil dan besar atau pada saat hendak
mengganti pembalut darah nifas, bersihkan vagina dan anus dengan air
seperti biasa. Jika ibu benar-benar takut untuk menyentuh luka jahitan
disarankan untuk duduk berendam dalam larutan antiseptik selama 10
menit. Dengan begitu, kotoran berupa sisa air seni dan feses juga akan
hilang.
e. Segera mengganti pembalut jika terasa darah penuh, semakin bersih luka
jahitan maka akan semakin cepat sembuh dan kering. Lakukan perawatan
yang benar setiap kali ibu buang air kecil atau saat mandi dan bila terasa
pembalut sudah penuh.
f. Konsumsi makanan bergizi dan berprotein tinggi agar luka jahitan cepat
sembuh. Terutama ikan, ayam, daging dan telur. Kecuali bila ibu alergi
dengan jenis protein hewani tersebut.
g. Untuk menghindari rasa sakit kala buang air besar, ibu dianjurkan
memperbanyak konsumsi serat seperti buah-buahan dan sayuran. Dengan
begitu tinja yang dikeluarkan menjadi tidak keras dan ibu tak perlu
mengejan.
h. Jangan pantang makanan, ibu boleh makan semua makanan kecuali jamu
yang tidak dapat dipertanggungjawabkan produksinya. Dan sebaiknya
berkonsultasi dengan dokter atau bidan bila disaranakan untuk minum
jamu oleh keluarga.
i. Untuk menahan rasa sakit akibat proses jahitan, dokter akan memberikan
obat penahan rasa sakit.
j. Dengan kondisi robekan yang terlalu luas pada anus, hindarkan banyak
bergerak pada minggu pertama karena bisa merusak otot-otot perineum.
Banyak-banyaklah duduk dan berbaring. Hindari berjalan karena akan
membuat otot perineum bergeser.
k. Jika kondisi robekan tidak mencapai anus, ibu disarankan segera
melakukan mobilisasi setelah cukup beristirahat.
l. Bila memang dianjurkan dokter, luka di bagian perineum dapat diolesi
salep antibiotik.
91

m. Lakukan senam nifas. Yaitu senam untuk ibu setelah melahirkan, boleh
mengangkat kaki saat tiduran secara bergantian. Kaki boleh diangkat satu
persatu secara bergantian mulai 45 ˚ sampai setinggi 90˚. Perbanyak
latihan jalan dengan posisi badan lurus jangan membungkuk. Boleh
jongkok pelan – pelan. Jangan kuatir jahitan akan lepas karena jahitan
sangat kuat. Lepas karena ibu tidak rajin membersihkan luka jahitan
sehingga terjadi infeksi. Atau pada beberapa kasus yang sangat jarang ibu
alergi benang jahitan tersebut.1

Ada beberapa catatan yang perlu diketahui:


a. Luka jahitan memang akan terasa sedikit nyeri
Jangan cemas, rasa nyeri ini akibat terputusnya jaringan syaraf dan ringan
otot , namaun semakin sering di gerakkan maka nyeri akan berkurang. Bila
ibu hanya berbaring terus menerus dan takut bergerak karena nyeri akan
menghambat proses penyenbuhan. Sirkulasi darah pada luka menjadi tidak
lancar.
b. Luka terlihat sedikit bengkak dan merah
Pada proses penyembuhan luka tubuh secara alami akan memproduksi zat
– zat yang merupakan reaksi perlawanan terhadap kuman. Sehingga
dalam proses penyembuhan luka kadang terjadi sedikit pembengkakan
dan kemerahan. Asalkan luka bersih ibu tak perlu cemas. Bengkak dan
merah ini bersifat sementara.
Beberapa keluarga masih ada yang menganjurkan untuk mengurangi
minum air putih agar jahitan cepat kering. Hal ini sama sekali tidak
dibenarkan . Justru ibu harus minum yang banyak, minimal 8 gelas sehari
untuk memperlancar buang air kecil, mengganti cairan tubuh yang hilang
dan memperlancar proses pengeluaran ASI.1
c. Pengeringan luka jahitan
Luka jahitan rata – rata akan kering dan baik dalam waktu kurang dari
satu minggu.
d. Infeksi pasca episiotomi1
Infeksi bisa terjadi karena ibu kurang telaten melakukan perawatan
pascapersalinan. Ibu takut menyentuh luka yang ada di perineum
sehingga memilih tidak membersihkannya. Padahal, dalam keadaan luka,
perineum rentan didatangi kuman dan bakteri sehingga mudah terinfeksi.
Gejala-gejala infeksi yang dapat diamati adalah:
1) suhu tubuh melebihi 37,5° C.
2) menggigil, pusing, dan mual
3) keputihan
4) keluar cairan seperti nanah dari vagina
5) cairan yang keluar disertai bau
6) keluarnya cairan disertai dengan rasa nyeri
7) terasa nyeri di perut
8) perdarahan kembali banyak padahal sebelumnya sudah sedikit.
Misalnya, seminggu sesudah melahirkan, pendarahan mulai
berkurang tapi tiba-tiba darah kembali banyak keluar.
92

Bila ada tanda-tanda seperti di atas, segera periksakan diri ke dokter.


Infeksi vagina yang ringan biasanya ditindaklanjuti dengan penggunaan
antibiotik yang adekuat untuk membunuh kuman-kuman yang ada di situ.

Pembalutan dan perawatan luka


Penutup/pembalut luka berfungsi sebagai penghalang dan
pelindung terhadap infeksi selama proses penyembuhan yang dikenal
dengan reepitelisasi. Pertahankan penutup luka ini selama hari pertama
setelah pembedahan untuk mencegah infeksi selama proses reepitelisasi
berlangsung.
1) Jika pada pembalut luka terdapat perdarahan sedikit atau keluar cairan
tidak terlalu banyak, jangan mengganti pembalut:
2) Perkuat pembalutnya
3) Pantau keluar cairan dan darah
4) Jika perdarahan tetap bertambah atau sudah membasahi setengah atau
lebih dari pembalutnya, buka pembalut, inspeksi luka, atasi
penyebabnya dan ganti dengan pembalut baru.
5) Jika pembalut agak kendor, jangan ganti pembalut tetapi diplester
untuk mengencangkan. Ganti pembalut dengan cara yang streil
6) Luka harus dijaga tetap kering dan bersih, tidak boleh terdapat bukti
infeksi atau seroma sampai ibu diperbolehkan pulang dari rumah
sakit.
93

LAMPIRAN
94
95
96
97