Anda di halaman 1dari 23

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sistem reproduksi merupakan satu-satunya sistem tubuh yang tidak


mempunyai arti vital bagi kelangsungan hidup individu. Namun sistem ini
berperan dalam menghindari kepunahan suatu spesies. Masa kerja dari sistem
ini juga unik karena tidak berlangsung seumur hidup, ada suatu masa dalam
hidup manusia yang disebut masa reproduktif, diawali dengan pubertas dan
diakhiri dengan klimakterik. Pengaturan fisiologis sistem ini sebagian besar
oleh kerja hormon.

Organ reproduksi yang membentuk apa yang dikenal sebagai genetalis


yang berkembang, setelah traktus urinarius. Kelamin laki-laki maupun
perempuan semenjak lahir sudah dapat ditentukan. Tetapi sifat-sifat kelamin
beum dapat dikenal, sel produksi berkembang disebelah depan ginjal yang
tumbuh sebagai koloni-kloni sel kemudian membentuk kelenjar reproduksi.
Walaupun pada masa anak-anak, testis, ovarium dan organ seksual lainnya
sebenarnya mampu berfungsi penuh bila dirangsang dengan sesuai. Namun
gonadotropin dari hipofisis anterior yang bertanggung jawab terhadap
perangsangan ini belum diproduksi secara memadai karena memang tidak ada
rangsangan yang memadai dari hipotalamus.

Perkembangan sifat terjadi pada umur 10-14 tahun. Pada laki-laki dewasa
pubertas dimulai dengan perubahan suara lebih berat, pembesaran genetalis
eksterna, tampilnya bulu diatas tubuh dan muka. Perubahan penting terjadi
pada usia remaja dimana jiwa dan raganya menjadi matang. Pada wanita
ditandai dengan menstruasi pertama (menarche), uterus dan vagina membesar,
buah dada membesar serta jaringan ikat dan saluran darah bertambah, sifat
kelamin sekunder tampil, lengkung tubuh berkembang, adanya bulu ketiak
dan pubis pelvis melebar.

1
1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana sistem reproduksi pria?

2. Apa saja hormon yang mempengaruhi system reproduksi pria?

3. Bagaimana mekanisme ejakulasi?

4. Bagaimana tahap – tahap aktifitas seksual?

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui system reproduksi pria.

2. Untuk mengetahui hormone yang mempengaruhi system reproduksi pria.

3. Untuk mengetahui mekanisme ejakulasi.

4. Untuk mengetahui tahap – tahap aktifitas seksual.

2
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Reproduksi adalah kemampuan makhluk hidup untuk menghasilkan


keturunan yang baru. Tujuannya adalah untuk mempertahankan jenisnya dan
melestarikan jenis agar tidak punah. Pada manusia untuk menghasilkan keturunan
yang baru diawali dengan peristiwa fertilisasi.

Organ reproduksi pria dirancang untuk menghasilkan, menyimpan dan


mengirimkan sperma. Sperma tersimpan dalam cairan yang terlindung dan
bergizi, yaitu air mani. Organ genitalia masculine terdiri atas:

1. genitalia externa yaitu : penis dan scrotum


2. genitalia interna yaitu : testis dengan organ-organ penunjang fungsinya
yaitu epididimis, ductus deferens (vas deferens), vesicula seminalis, ductus
ejaculatorius, glandula prostata, glandula bulbourethalis (comperi)

Struktur luar dari sistem reproduksi pria terdiri dari penis, skrotum
(kantung zakar) dan testis (buah zakar). Struktur dalamnya terdiri dari vas
deferens, uretra, kelenjar prostat dan vesikula seminalis. Sperma (pembawa gen
pria) dibuat di testis dan disimpan di dalam vesikula seminalis. Ketika melakukan
hubungan seksual, sperma yang terdapat di dalam cairan yang disebut semen
dikeluarkan melalui vas deferens dan penis yang mengalami ereksi.

Tahapan pembentukan spermatogenesis adalah proses gametogenesis pada


pria dengan cara pembelahan meiosis dan mitosis. Proses pembentukan sperma
(spermatogenesis) membutuhkan suhu yang stabil, yaitu beberapa derajat lebih
rendah daripada suhu tubuh. Spermatogenesis terjadi di dalam di dalam testis,
tepatnya pada tubulus seminiferus. Spermatogenesis mencakup pematangan sel
epitel germinal dengan melalui proses pembelahan dan diferensiasi sel, yang
mana bertujuan untuk membentu sperma fungsional. Pematangan sel terjadi di
tubulus seminiferus yang kemudian disimpan di epididimis.

Dinding tubulus seminiferus tersusun dari jaringan ikat dan jaringan


epitelium germinal (jaringan epitelium benih) yang berfungsi pada saat

3
spermatogenesis. Tubulus seminiferus terdiri dari sejumlah besar sel epitel
germinal (sel epitel benih) yang disebut spermatogonia (spermatogonium =
tunggal). Spermatogonia terletak di dua sampai tiga lapisan luar sel-sel epitel
tubulus seminiferus. Spermatogonia terus-menerus membelah untuk
memperbanyak diri, sebagian dari spermatogonia berdiferensiasi melalui tahap-
tahap perkembangan tertentu untuk membentuk sperma.

Pada tahap pertama spermatogenesis, spermatogonia yang bersifat diploid


(2n atau mengandung 23 kromosom berpasangan), berkumpul di tepi membran
epitel germinal yang disebut spermatogonia tipe A. Spermatogenia tipe A
membelah secara mitosis menjadi spermatogonia tipe B. Kemudian, setelah
beberapa kali membelah, sel-sel ini akhirnya menjadi spermatosit primer yang
masih bersifat diploid. Setelah melewati beberapa minggu, setiap spermatosit
primer membelah secara meiosis membentuk dua buah spermatosit sekunder yang
bersifat haploid. Spermatosit sekunder kemudian membelah lagi secara meiosis
membentuk empat buah spermatid. Spermatid merupakan calon sperma yang
belum memiliki ekor dan bersifat haploid (n atau mengandung 23 kromosom yang
tidak berpasangan). Setiap spermatid akan berdiferensiasi menjadi spermatozoa
(sperma). Proses perubahan spermatid menjadi sperma disebut spermiasi.

Ketika spermatid dibentuk pertama kali, spermatid memiliki bentuk seperti


sel-sel epitel. Namun, setelah spermatid mulai memanjang menjadi sperma, akan
terlihat bentuk yang terdiri dari kepala dan ekor.

Kepala sperma terdiri dari sel berinti tebal dengan hanya sedikit
sitoplasma. Pada bagian membran permukaan di ujung kepala sperma terdapat
selubung tebal yang disebut akrosom. Akrosom mengandung enzim hialuronidase
dan proteinase yang berfungsi untuk menembus lapisan pelindung ovum. Pada
ekor sperma terdapat badan sperma yang terletak di bagian tengah sperma. Badan
sperma banyak mengandung mitokondria yang berfungsi sebagai penghasil energi
untuk pergerakan sperma.

4
Semua tahap spermatogenesis terjadi karena adanya pengaruh sel-sel
sertoli yang memiliki fungsi khusus untuk menyediakan makanan dan mengatur
proses spermatogenesis.

Bagan/skema spermatogenesis

Spermatogenesis

Tahap Pembentukan Spermatogenesis:

a. Spermatogonium

Spermatogonium merupakan tahap pertama pada spermatogenesis yang


dihasilkan oleh testis. Spermatogoium terbentuk dari 46 kromosom dan 2N

5
kromatid.

b. Spermatosit primer

Spermatosit primer merupakan mitosis dari spermatogonium. Pada tahap ini


tidak terjadi pembelahan. Spermatosit primer terbentuk dari 46 kromosom
dan 4N kromatid.

c. Spermatosit sekunder

Spermatosit sekunder merupakan meiosis dari spermatosit primer. Pada


tahap ini terjadi pembelahan secara meiosis. Spermatosit sekunder terbentuk
dari 23 kromosom dan 2N kromatid.

d. Spermatid

Spermatid merupakan meiosis dari spermatosit sekunder. Pada tahap ini


terjadi pembelahan secara meiosis yang kedua. Spermatid terbentuk dari 23
kromosom dan 1N kromatid.

e. Sperma

Sperma merupakan diferensiasi atau pematangan dari spermatid. Pada tahap


ini terjadi diferensiasi. Sperma terbentuk dari 23 kromosom dan 1N
kromatid dan merupakan tahap sperma yang telah matang dan siap
dikeluarkan.

Gangguan pada sistem reproduksi pria dapat berupa hipogonadisme,


kriptorkidisme, prostatitis, epididimitis, dan orkitis.

1. Hipogonadisme, merupakan penurunan fungsi testis yang disebabkan oleh


gangguan interaksi hormon, seperti hormon androgen dan estrogen.
Gangguan ini menyebabkan infertilitas, impotensi, dan tidak adanya tanda-
tanda kepriaan. Penanganannya dapat dilakukan dengan terapi hormon.

6
2. Kriptorkidisme, merupakan kegagalan dari satu atau kedua testis untuk
turun dari rongga abdomen ke dalam scrotum pada waktu bayi.
Penangannya dapat dilakukan dengan pemberian hormon human chorionic
gonadotropin untuk merangsang testoteron.

3. Uretritis, peradangan uretra dengan gejala rasa gatal pada penis dan sering
buang air kecil. Penyebabnya adalah Chlamydia trachomatis, Ureplasma
urealyticum, atau virus herpes.

4. Prostatitis, merupakan peradangan prostat. Penyebabnya adalah bakteri


Escherichia coli ataupun bukan bakteri.

5. Epididimitis, merupakan infeksi yang sering terjadi pada saluran


reproduksi pria. Penyebabnya adalah E. coli dan Chlamydia.

6. Orkitis, merupakan peradangan pada testis yang disebabkan oleh virus


parotitis. Jika terjadi pada pria dewasa dapat menyebabkan infertilitas.

7
BAB 3. PEMBAHASAN

3.1 Sistem Reproduksi Pada Pria

Reproduksi adalah kemampuan makhluk hidup untuk menghasilkan


keturunan yang baru. Tujuannya adalah untuk mempertahankan jenisnya dan
melestarikan jenis agar tidak punah. Pada manusia untuk menghasilkan keturunan
yang baru diawali dengan peristiwa fertilisasi. Sehingga dengan demikian
reproduksi pada manusia dilakukan dengan cara generatif atau seksual.
Reproduksi merupakan cara dasar mempertahankan diri yang dilakukan oleh
semua bentuk kehidupan, setiap individu organisme ada sebagai hasil dari suatu
proses reproduksi oleh pendahulunya. Proses reprodusi diatur oleh sistem
reproduksi. Manusia memiliki dua jenis, yaitu laki-laki dan perempuan. Keduanya
memiliki sistem reproduksi yang berlainan dan saling membutuhkan.

Organ reproduksi pria dirancang untuk menghasilkan, menyimpan dan


mengirimkan sperma. Sperma tersimpan dalam cairan yang terlindung dan
bergizi, yaitu air mani.

Ciri kelamin primer adalah ciri-ciri yang berhubungan dengan kemampuan


menghasilkan gamet. Pada pria, ciri kelamin primernya adalah memiliki testis
penghasil sperma dan organ reproduksi pria lainnya.

8
Ciri sekunder adalah ciri yang tampak dari luar sehingga kita mampu
membedakan antara pria dan wanita. Pada pria, ciri kelamin sekunder adalah
berjakun, suara besar, berkumis, dan pinggul ramping.

Alat kelamin pria mempunyai dua fungsi produksi untuk produksi sel
kelamin dan pelepasan sel-sel ini ke saluran sel kelamin wanita. Sistem reproduksi
pria meliputi organ-organ reproduksi, spermatogenesis dan hormon pada pria.
Organ reproduksi pria terdiri atas organ reproduksi dalam dan organ reproduksi
luar.

3.1.1 Fungsi Reproduksi Pria

Fungsi reproduksi pria dapat dibagi dalam tiga subgolongan utama:


pertama, spermatogenesis, yang hanya berarti pembentukan sperma; kedua,
pelaksanaan kerja seksual pria; dan ketiga, pengaturan fungsi seksual pria oleh
berbagai hormone. Yang berhubungan dengan fungsi reproduksi ini adalah efek
hormon seks pria pada organ seks tambahan, pada metabolisme sel, pada
pertumbuhan, dan pada fungsi tubuh lain.

3.1.2 Organ Reproduksi Dalam

a. Testis

Testis (gonad jantan) berbentuk oval dan terletak didalam kantung pelir
(skrotum). Testis berjumlah sepasang (testes = jamak). Testis terdapat di
bagian tubuh sebelah kiri dan kanan. Testis kiri dan kanan dibatasi oleh
suatu sekat yang terdiri dari serat jaringan ikat dan otot polos. Testis
merupakan organ kelamin pria tempat spermatozoa keluar dan hormon
pria dibentuk.

Fungsi testis secara umum merupakan alat untuk memproduksi sperma


dan hormon kelamin jantan yang disebut testoteron. Hormon testosteron
berfungsi untuk menentukan sifat-sifat kejantanan dan bekerja sebagai

9
kelenjar endokrin.

b. Epididimis

Epididimis merupakan saluran halus yang panjangnya kurang lebih 6 cm


terletak disepanjang atas tepi dan belakang dari testis. Struktur epididimis
dikelilingi oleh jaringan ikat, spermatozoa melalui ductus eferentis yang
panjangnya kurang lebih 20 cm, berkelok-kelok di dalam skrotum yang
keluar dari testis dan membentuk kerucut kecil yang bermuara ke ductus
epididimis yang berfungsi sebagai saluran penghantar testis, mengatur
sperma sebelum di ejakulasi dan memproduksi semen. Epididimis
berjumlah sepasang di sebelah kanan dan kiri. Epididimis berfungsi
sebagai tempat penyimpanan sementara sperma sampai sperma menjadi
matang dan bergerak menuju vas deferens.

c. Vas deferens

Vas deferens atau saluran sperma (duktus deferens) merupakan saluran


lurus yang mengarah ke atas yang membawa sperma dari epididimis.
Saluran ini berjalan ke bagian belakang prostat lalu masuk ke dalam uretra
dan membentuk duktus ejakulatorius. Struktur lainnya (misalnya
pembuluh darah dan saraf) berjalan bersama-sama vas deferens dan
membentuk korda spermatika. Vas deferens tidak menempel pada testis
dan ujung salurannya terdapat di dalam kelenjar prostat. Vas deferens
berfungsi sebagai saluran tempat jalannya sperma dari epididimis menuju
kantung semen atau kantung mani (vesikula seminalis).

d. Vesikula seminalis

Vesikula seminalis atau kantung semen (kantung mani) merupakan


kelenjar yang panjangnya 5-10 cm yang berupa kantong seperti huruf S
dan berlekuk-lekuk yang terletak di belakang kantung kemih. Vesikula
seminalis mempunyai saluran yang dinamai duktus vesikula seminalis dan
akan bergabung dengan duktus deferen. Dinding vesikula seminalis

10
menghasilkan zat makanan (berupa cairan lendir yang mengandung
fruktosa, asam askorbat dan asam amino) yang merupakan sumber
makanan bagi sperma.

e. Vesika Urinaria (Kandung Kemih)

Organ ini bukan merupakan alat reproduksi tetapi sebagai kantong untuk
penyimpan air kencing sementara, sehingga jika telah penuh terasa ingin
buang air kecil.

f. Kelenjar Prostat

Kelenjar prostat melingkari bagian atas uretra dan kelenjar yang terletak
dibawah vesika urinaria. Prostat mengeluarkan sekret cairan basa
berwarna putih susu yang bercampur dari sekret dari testis. Prostat dan
vesikula seminalis menghasilkan cairan yang merupakan sumber makanan
bagi sperma. Cairan ini merupakan bagian terbesar dari semen. Cairan
lainnya yang membentuk semen berasal dari vas deferens dan dari kelenjar
lendir di dalam kepala penis. Cairan ini berfungsi untuk menetralkan sifat
asam pada saluran vasa eferentia dan cairan pada vagina sehingga sperma
dapat bergerak dengan aktif.

11
Kelenjar prostat menghasilkan getah yang mengandung kolesterol, garam
dan fosfolipid yang berperan untuk kelangsungan hidup sperma. Fungsi
kelenjar prostat, menambah cairan alkalis pada cairan seminalis yang
berguna untuk melindungi spermatozoa terhadap tekanan pada uretra dan
vagina.

g. Glandula Bulburethialis

Terdapat pada radix penis yang berguna untuk membersihkan sisa-sisa


kotoran pada saluran penis, dan penghasil cairan pelicin.

h. Uretra

Uretra merupakan saluran akhir reproduksi yang terdapat di dalam penis.


Uretra berfungsi sebagai saluran kelamin yang berasal dari kantung semen
dan saluran untuk membuang urin dari kantung kemih serta sebagai
saluran ejakulasi (mani). Pengeluaran urin tidak bersamaan dengan
ejakulasi karena diatur oleh kegiatan kontraksi prostat. Tetapi berjalan
melalui penis dan mempunyai dua fungsi yaitu tempat pembuangan dan
mengeluarkan semen.

i. Kelenjar Asesoris

Selama sperma melalui saluran pengeluaran, terjadi penambahan berbagai


getah kelamin yang dihasilkan oleh kelenjar asesoris. Getah-getah ini
berfungsi untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan pergerakan
sperma. Kelenjar asesoris merupakan kelenjar kelamin yang terdiri dari
vesikula seminalis, kelenjar prostat dan kelenjar Cowper.

j. Kelenjar Cowper

Kelenjar Cowper (kelenjar bulbouretra) merupakan kelenjar yang


salurannya langsung menuju uretra. Kelenjar Cowper menghasilkan getah
yang bersifat alkali (basa).

12
3.1.3 Organ Reproduksi Luar

a. Penis

Penis dapat kita bagi menjadi dua bagian yaitu batang- bagian terbesar dari
penis-dan kepala. Pada bagian kepala penis terdapat kulit yang menutupinya.
Kulit ini yang dibuang saat seseorang melakukan sunat (sirkumsisi).

Penis terdiri dari tiga rongga yang berisi jaringan spons. Dua rongga yang
terletak di bagian atas berupa jaringan spons korpus kavernosa. Satu rongga
lagi berada di bagian bawah yang berupa jaringan spons korpus spongiosum
yang membungkus uretra. Uretra pada penis dikelilingi oleh jaringan erektil
yang rongga-rongganya banyak mengandung pembuluh darah dan ujung-
ujung saraf perasa. Bila hasrat seksual seorang pria meningkat, atau
kadangkala tanpa alasan yang jelas, jaringan ini akan terisi darah dan
akibatnya penis membesar dan mengeras. Keadaan ini disebut ereksi.

13
Kemampuan untuk ereksi sangat berperan dalam fungsi reproduksi. Pada
bagian dalam penis juga terdapat sebuah saluran yang berfungsi untuk
mengeluarkan urin. Saluran ini juga berperan untuk mengalirkan sperma
keluar. Selain itu dapat juga berfungsi sebagai alat kopulasi (persetubuhan).
Dalam alat ini terdapat saluran ejakulasi yang berperan menempatkan
sperma hingga masuk ke dalam uretra dan disalurkan keluar.

b. Skrotum

Skrotum merupakan kantung berkulit tipis yang mengelilingi dan


melindungi testis. Skrotum (kantung buah zakar) merupakan kantung yang
di dalamnya berisi testis. Skrotum berjumlah sepasang, yaitu skrotum kanan
dan skrotum kiri. Di antara skrotum kanan dan skrotum kiri dibatasi oleh
sekat yang berupa jaringan ikat dan otot polos (otot dartos). Otot dartos
berfungsi untuk menggerakan skrotum sehingga dapat mengerut dan
mengendur. Di dalam skrotum juga tedapat serat-serat otot yang berasal dari
penerusan otot lurik dinding perut yang disebut otot kremaster. Otot ini
bertindak sebagai pengatur suhu lingkungan testis agar kondisinya stabil.
Proses pembentukan sperma (spermatogenesis) membutuhkan suhu yang
stabil, yaitu beberapa derajat lebih rendah daripada suhu tubuh.

Skrotum adalah sebuah kantung kulit yang menggantung di bawah penis.


Tugasnya adalah menyangga dan melindungi testis. Skrotum juga bertindak
sebagai sistem pengontrol suhu untuk testis. Karena menggantung di luar
tubuh, skrotum juga membuat suhu testis lebih rendah dari suhu dalam
tubuh. Kondisi ini menguntungkan karena testis dapat membuat sperma
pada kondisi terbaik dan terbentuk secara normal. Otot kremaster pada
dinding skrotum akan mengendur atau mengencang sehingga testis
menggantung lebih jauh dari tubuh (dan suhunya menjadi lebih dingin) atau
lebih dekat ke tubuh (dan suhunya menjadi lebih hangat). Dalam
menjalankan fungsinya, skrotum bahkan dapat merubah ukurannya. Bila
suhu udara dingin, skrotum akan mengerut dan menyebabkan testis lebih

14
dekat dengan tubuh dan dengan demikian lebih hangat. Sebaliknya pada
cuaca panas, skrotum akan membesar dan kendur. Akibatnya luas
permukaan skrotum meningkat dan panas dapat dikeluarkan.

c. Glands Penis

Terdapat pada coput penis yang dilindungi oleh kulit tipis disebut
preputium. Pada ujungnya terdapat lubang yang disebut ostium uretrae
externom.

15
3.2 Hormon Yang Mempengaruhi Sistem Reproduksi Pria

16
Hormon adalah zat kimia yang diproduksi oleh kelenjar endokrin yang
mempunyai efek tertentu pada aktifitas organ-organ lain dalam tubuh. Hormon
seks merupakan zat yang dikeluarkan oleh kelenjar seks dan kelenjar adrenalin
langsung ke dalam aliran darah. Mereka secara sebagian bertanggungjawab dalam
menentukan jenis kelamin janin dan bagi perkembangan organ seks yang normal.
Mereka juga memulai pubertas dan kemudian memainkan peran dalam
pengaturan perilaku seksual.

Hormon yang mempengaruhi sistem reproduksi pria:

a. Testoteron

Testoteron disekresi oleh sel-sel Leydig yang terdapat di antara tubulus


seminiferus. Hormon ini penting bagi tahap pembelahan sel-sel germinal
untuk membentuk sperma, terutama pembelahan meiosis untuk
membentuk spermatosit sekunder. Testoteron berfungsi merangsang
perkembangan organ seks primer pada saat embrio belum lahir,
mempengaruhi perkembangan alat reproduksi dan ciri kelamin sekunder
misalnya jambang, kumis, jakun, suara membesar, serta memelihara ciri-
ciri kelamin sekunder dan mendorong spermatogenesis.

b. LH (Luteinizing Hormone)

LH disekresi oleh kelenjar hipofisis anterior. LH berfungsi menstimulasi


sel-sel Leydig untuk mensekresi testoteron

c. FSH (Follicle Stimulating Hormone)

FSH juga disekresi oleh sel-sel kelenjar hipofisis anterior dan berfungsi
mempengaruhi dan menstimulasi perkembangan tubulus seminiferus dan
sel-sel sertoli untuk menghasilkan ABP (Androgen Binding
Protein/protein Pengikat Androgen) yang memacu pembentukan sperma.
Tanpa stimulasi ini, pengubahan spermatid menjadi sperma (spermiasi)
tidak akan terjadi.

17
d. Estrogen
Estrogen dibentuk oleh sel-sel sertoli ketika distimulasi oleh FSH. Sel-sel
sertoli juga mensekresi suatu protein pengikat androgen yang mengikat
testoteron dan estrogen serta membawa keduanya ke dalam cairan pada
tubulus seminiferus. Kedua hormon ini tersedia untuk pematangan sperma.

e. Hormon Pertumbuhan

Hormon pertumbuhan diperlukan untuk mengatur fungsi metabolisme


testis. Hormon pertumbuhan secara khusus meningkatkan pembelahan
awal pada spermatogenesis.

3.3 Mekanisme Ejakulasi pada Sistem Reproduksi Pria

Ejakulasi adalah mekanisme keluarnya cairan sperma. Ejakulasi terjadi


karena mekanisme refleks yang dicetuskan oleh rangsangan pada penis melalui
saraf sensorik pudendus yang terhubung dengan persarafan tulang belakang (T12-
L2) dan korteks sensorik (salah satu bagian otak).

Selama melakukan hubungan seksual, penis menjadi kaku dan tegak


sehingga memungkinkan terjadinya penetrasi (masuknya penis ke dalam vagina)
Ereksi terjadi akibat interaksi yang rumit dari sitem saraf, pembuluh darah,
hormon dan psikis. Rangsang yang menyenangkan menyebabkan suatu reaksi di
otak, yang kemudian mengirimkan sinyalnya melalui korda spinalis ke penis.
Arteri yang membawa darah ke korpus kavernosus dan korpus spongiosum
memberikan respon, yaitu berdilatasi (melebar). Arteri yang melebar
menyebabkan peningkatan aliran darah ke daerah erektil ini, sehingga daerah
erektil terisi darah dan melebar. Otot-otot di sekitar vena yang dalam keadaan
normal mengalirkan darah dari penis, akan memperlambat aliran darahnya.
Tekanan darah yang meningkat di dalam penis menyebabkan panjang dan
diameter penis bertambah.

18
Ejakulasi terjadi pada saat mencapai klimaks, yaitu ketika gesekan pada
glans penis dan rangsangan lainnya mengirimkan sinyal ke otak dan korda
spinalis. Saraf merangsang kontraksi otot di sepanjang saluran epididimis dan vas
deferens, vesikula seminalis dan prostat. Kontraksi ini mendorong semen ke
dalam uretra. Selanjutnya kontraksi otot di sekeliling uretra akan mendorong
semen keluar dari penis. Volume cairan semen yang dikeluarkan pada ejakulasi
sekitar 1-10 ml, rata-rata 3 ml. Tiap ml cairan semen mengandung 50 juta-120
juta spermatozoa. Setelah ejakulasi, spermatozoa dapat bertahan hidup 24-72 jam
dalam organ reproduksi wanita. Leher kandung kemih juga berkonstriksi agar
semen tidak mengalir kembali ke dalam kandung kemih.

Setelah terjadi ejakulasi (atau setelah rangsangan berhenti), arteri


mengencang dan vena mengendur. Akibatnya aliran darah yang masuk ke arteri
berkurang dan aliran darah yang keluar dari vena bertambah, sehingga penis
menjadi lunak.

3.4 Tahap-Tahap Aktifitas Seksual Pria

1. Ereksi penis

Ereksi disebabkan karena impuls parasimpatis yang melepaskan nitric oxide


dan atau peptide intestinal vasoaktif selain asetilkolin (Guyton, 2006).
Selama ereksi, jaringan arteri memasok darah sekurang-kurangnya 100-140
ml. Pada puncak ereksi, tekanan intrakavernosa melebihi tekanan sistolik
(Wibowo, 2007).

2. Lubrikasi

Selama perangsangan seksual, serabut saraf parasimpatis juga menyebabkan


glandula uretral dan bulbouretral mensekresi cairan mukosa yang mengalir
melewati uretra.

3. Emisi

19
Emisi adalah suatu respon simpatis, terintegrasi di segmen lumbal bagian
atas medulla spinalis dan terjadi akibat kontraksi otot polos fase deferensial
dan vesikula seminalis sebagai respon terhadap rangsangan di saraf
hipogastrik. pergerakan semen ke dalam uretra.

4. Ejakulasi

Ejakulasi adalah suatu reflex spinal dua tahap yang melibatkan emisi,
pergerakan semen dalam uretra, dan ejakulasi sebenarnya, terdorongnya
semen keluar uretra pada saat orgasme.

5. Resolusi

Pada fase terakhir terjadi kontriksi otot polos trabekuler dan vasokontriksi
arteriol yang memasok darah ke jaringan erektil. Terjadi aliran darah keluar
dari sinus venosus sehingga penis menjadi lemas atau flaksid. Fase ini
diperantarai oleh saraf adrenergik simpatis.

Mekanisme fungsi seksual melibatkan beberapa unsur : libido, ereksi dan


ejakulasi. Disfungsi seksual dapat terjadi akibat gangguan fungsi tersebut dan
kombinasinya.

20
BAB 4 PENUTUP

4.1 Kesimpulan

1. Sistem reproduksi pria terdiri atas organ reproduksi dalam (testis, saluran
pengeluaran, epididimis, vas deferens, saluran ejakulasi, uretra, kelenjar
asesoris, vesikula seminalis, kelenjar prostat, kelenjar cowper) dan organ
reproduksi luar (penis, skrotum).
2. Hormon yang mempengaruhi sistem reproduksi pria
a. Testoteron
b. LH (Luteinizing Hormone)
c. FSH (Follicle Stimulating Hormone)
d. Estrogen
e. Hormon Pertumbuhan
3. Mekanisme ejakulasi Ejakulasi adalah mekanisme keluarnya cairan
sperma. Ejakulasi terjadi karena mekanisme refleks yang dicetuskan oleh
rangsangan pada penis melalui saraf sensorik pudendus yang terhubung
dengan persarafan tulang belakang (T12-L2) dan korteks sensorik (salah
satu bagian otak).
4. Tahap – tahap aktifitas seksual adalah
a. Ereksi penis
b. Lubrikasi
c. Emisi
d. Ejakulasi
e. Resolusi

21
4.2 Saran

1. Bagi pemerintah sebaiknya sering mengadakan sosialisasi cara


bereproduksi manusia yang sehat dan benar pada remaja dan masyarakat
umum.

2. Bagi masyarakat sebaiknya ikut mendukung program pemerintah dalam


sosialisasi cara reproduksi manusia yang sehat dan benar.

3. Bagi masyarakat umum sebaiknya berusaha belajar dan memahami apa


dan bagaimana sistem reproduksi manusia yang benar agar tidak terjadi
masalah di kemudian hari.

22
DAFTAR PUSTAKA

Ali, Iqbal. 2008. Spermatogenesis vs Oogenesis.


http://iqbalali.com/2008/02/01/spermatogenesis-vs-oogenesis/ [Online, 19
September 2010]

Anonim. Sistem Reproduksi Pria. http://gurumuda.com/bse/gangguan-pada-


sistem-reproduksi#more-6776. [Online, 18 September 2010]

Anonim. Mekanisme Ejakulasi. http://webcache.googleusercontent.com/search?


q=cache:lem6uUcqVgoJ:images.sukmasinta.multiply.com/attachment/0/R1F
K0QoKCqYAAB00aKM1/FISIOLOGI.ppt%3Fnmid
%3D70461491+mekanisme+ejakulasi&cd=2&hl=id&ct=clnk&gl=id
[Online, 19 September 2010]

Disfungsi Alat Reproduksi dan Ereksi.


http://www.kabarindonesia.com/berita.php?
pil=3&jd=Referensi+Lengkap+Disfungsi+Ereksi+%28Bagian+I
%29&dn=20080223174402 [Online, 18 September 2010]

Ganong, William F. 2003. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 20. Jakarta :
EGC.

Herdiana, Tri R. Tanpa Tahun. Mekanisme Ejakulasi.


http://seks.klikdokter.com/subpage.php?id=1&sub=51 [Online, 19
September 2010]

Tambayong, Jan. Anatomi dan Fisiologi Untuk Keperawatan. Jakarta : EGC.

23