Anda di halaman 1dari 74

1

BAB I
TEKNIK RESERVOIR

Minyak bumi/Hidrokarbon merupakan senyawa kimia yang tersusun dari atom


karbon dan hydrogen serta beberapa unsur impurities seperti n2,co2,h2s dan sampai saat ini
masih menjadi primadona konsumsi energi dunia.
Ada beberapa teori mengenai pembentukan minyak bumi, diantaranya :
1. Teori anorgnik (abiogenesis)
Barth Barthelot (1866) berpendapat bahwa di dalam minyak bumi ada logam
alkali. Dalam keadaan bebas dengan temperatur tinggi logam ini akan
bersentuhan dengan CO2 membentuk asitilena. Kemudian pada tahun 1877,
Mendeleyev berpendapat bahwa minyak bumi terbentuk akibat adanya
pengaruh kerja uap pada karbida-karbida logam dalam bumi
2. Teori organik (biogenesis)
Teori ini pertama kali diterangkan oleh Macquir pada tahun 1758, dia
seorang berkebangsaan Prancis. Macquir menerangkan bahwa minyak bumi
berasal dari tumbuh-tumbuhan.
3. Teori duplex
Teori duplex ini merupakan perpaduan dari kedua teori di atas.

Dari ketiga teori di atas teori duplex lebih banyak diterima oleh kalangan luas. Teori
duplex ini mengemukakan tentang terbentuknya minyak bumi yang berasal dari
materi hewani dan materi nabati. Akibat pengaruh waktu, tekanan dan suhu maka
materi ini berubah bentuk.Material tersebut berasal dari source rock yang berada di
bawah permukaan bumi kemudian terakumulasi di reservoir yang bermigrasi
melalui rekahan batuan/migration route kemudian terjebak di reservoir karena
batuan perangkap kemudian di tutup lagi dengan cap rock.
Reservoir merupakan suatu tempat terakumulasinya fluida hidrokarbon, gas dan air.

1
2

Proses akumulasi minyak bumi di bawah permukaan haruslah memenuhi beberapa


syarat, yang merupakan unsur-unsur suatu reservoir minyak bumi. Unsur-unsur yang
menyusun reservoir adalah sebagai berikut :
1. Batuan reservoir, sebagai wadah yang diisi dan dijenuhi oleh minyak bumi, gas
bumi atau keduanya. Biasanya batuan reservoir berupa lapisan batuan yang porous
dan permeable.
2. Lapisan penutup (cap rock), yaitu suatu lapisan batuan yang bersifat impermeable,
yang terdapat pada bagian atas suatu reservoir, sehingga berfungsi sebagai penyekat
fluida reservoir.
3. Perangkap reservoir (reservoir trap), merupakan suatu unsur pembentuk reservoir
yang mempunyai bentuk sedemikian rupa sehingga lapisan beserta penutupnya
merupakan bentuk konkav ke bawah dan dan menyebabkan minyak dan gas bumi
berada dibagian teratas reservoir.

Karakteristik suatu reservoir sangat dipengaruhi oleh karakteristik batuan


penyusunnya, fluida reservoir yang menempatinya dan kondisi reservoir itu sendiri, yang
satu sama lain akan saling berkaitan

1.1. Karakteristik Batuan Reservoir


Batuan adalah kumpulan dari mineral-mineral, sedangkan suatu mineral dibentuk
dari beberapa ikatan kimia. Komposisi kimia dan jenis mineral yang menyusunnya akan
menentukan jenis batuan yang terbentuk.
Batuan reservoir umumnya terdiri dari batuan sedimen, yang berupa batupasir dan
karbonat (sedimen klastik) serta batuan shale (sedimen non-klastik) atau kadang-kadang
volkanik. Masing-masing batuan tersebut mempunyai komposisi kimia yang berbeda,
demikian juga dengan sifat fisiknya. Komponen penyusun batuan serta macam batuannya
dapat dilihat pada Gambar 1.1.

2
3

Sandstone
100 %

Limy Shaly
Sandstone Sandstone

Sandy Sandy
Limestone Shale

Limestone Shaly Limy


Shale
100 % Limestone Shale 100 %

Gambar 1.1. Diagram Komponen Penyusun Batuan

Unsur atau atom-atom penyusun batuan reservoir perlu diketahui mengingat macam
dan jumlah atom-atom tersebut akan menentukan sifat-sifat dari mineral yang terbentuk,
baik sifat-sifat fisik maupun sifat-sifat kimiawinya. Mineral merupakan zat-zat yang
tersusun dari komposissi kimia tertentu yang dinyatakan dalam bentuk rumus-rumus
dimana menunjukkan macam unsur-unsur serta jumlahnya yang terdapat dalam mineral
tersebut.

1.1.1. Komposisi Kimia Batuan Reservoir


Unsur-unsur atau atom-atom penyusun batuan reservoir perlu diketahui, karena
jenis dan jumlah atom-atom tersebut akan menentukan sifat-sifat dari mineral yang
terbentuk, baik sifat-sifat fisik maupun sifat-sifat kimiawinya.
a. Batuan Pasir
Batuan pasir termasuk golongan batuan klastik detritus dan sebetulnya yang
dimaksud batupasir disini adalah batuan detritus pada umumnya yang berkisar dari
lanau sampai konglomerat. Namun secara praktis hanyalah batupasir yang
dibahas.Batuan pasir merupakan reservoir yang paling penting dan paling banyak
dijumpai, 60 % daripada semua batuan reservoar adalah batupasir. Porositas yang

3
4

didapat di dalam batupasir ini hanya bersifat intergranular, pori-pori terdapat


diantara butir-butir dan khususnya terjadi secara primer, jadi rongga-rongga terjadi
pada waktu pengendapan. Namun tidak dapat dipungkiri, bahwa setelah proses
pengendapan tersebut dapat terjadi berbagai modifikasi dari pada rongga-ronga,
misalnya sementasi ataupun pelarutan dari semen dan juga proses sekunder lainnya
seperti peretakan.

b. Batuan Karbonat
Batuan karbonat yang dimaksud dalam bahasan ini adalah limestone,
dolomite, dan yang bersifat diantara keduanya. Limestone adalah istilah yang biasa
dipakai untuk kelompok batuan yang mengandung paling sedikit 80 %
calciumcarbonate atau magnesium. Istilah limestone juga dipakai untuk batuan yang
mempunyai fraksi karbonat melebihi unsur non-karbonatnya. Pada limestone fraksi
disusun terutama oleh mineral calcite, sedangkan pada dolomite mineral penyusun
utamanya adalah mineral dolomite.

c. Batuan Shale
Batuan shalemempunyai butir yang halus dan mempunyai permeabilitas
kurang baik. Batuan ini dapat menjadi batuan reservoir bila mengalami peretakan
dan pelarutan. Komposisi kimia batuan shalebervariasi sesuai dengan ukuran butir.
Fraksi yang kasar banyak mengandung silika, sedangkan fraksi yang halus
umumnya mengandung aluminium, besi, potash dan air. Komposisi dasar shale
adalah mineral clay. Tipe clay yang sering terdapat dalam formasi hidrokarbon,
yaitu : Montmorillonite, Illite dan Kaolinite.

1.1.2. Sifat Fisik Batuan Reservoir


Sifat-sifat batuan yang menjadi perhatian dalam setiap kegiatan eksploitasi minyak
dan gas bumi, diantaranya adalah porositas, permeabilitas absolut, permeabilitas relative,
tekanan kapiler, dan saturasi fluida. Porositas dan saturasi fluida digunakan dalam

4
5

perhitungan cadangan gas dan minyak. Permeabilitas digunakan untuk memperkirakan


kemampuan fluida mengalir di reservoir. Tekanan kapiler digunakan untuk
mengidentifikasi zona-zona di reservoir dan untuk memperkirakan permeabilitas relatif.
a. Porositas
Porositas () menggambarkan persantase dari total ruang pori batuan yang
tersedia untuk ditempati oleh suatu fluida reservoir yaitu minyak, gas dan air. Besar-
kecilnya porositas suatu batuan akan menentukan kapasitas penyimpanan fluida
reservoir. Secara matematis porositas dapat dinyatakan sebagai :
Vb  Vg Vp …………………………………...(1-1)
 
Vb Vb

Keterangan :
Vb = volume batuan total (bulk volume)
Vg = volume padatan batuan total (volume grain)
Vp = volume ruang pori-pori batuan.

Porositas batuan reservoir dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :


 Porositas absolut, adalah perbandingan antara volume pori total terhadap
volume batuan total yang dinyatakan dalam persen, atau secara matematik
dapat ditulis sesuai persamaan sebagai berikut :
volume pori total
  100%
bulk volume …………………………(1-2)

 Porositas efektif, adalah perbandingan antara volume pori-pori yang saling


berhubungan terhadap volume batuan total (bulk volume) yang dinyatakan
dalam persen.
volume pori yang berhubunga n
  100%
bulk volume …………(1-3)

5
6

Connected or
Effective
Porosity

Total
Porosity

Isolated or
Non-Effec tive
Porosity

Gambar 1.2.Skema Perbandingan Porositas Efektif, Non-Efektif dan


Porositas Absolut Batuan

Berdasarkan waktu dan cara terjadinya, maka porositas dapat juga


diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :
 Porositas primer, yaitu porositas yang terbentuk pada waktu yang bersamaan
dengan proses pengendapan berlangsung.
 Porositas sekunder, yaitu porositas batuan yang terbentuk setelah proses
pengendapan.

Tipe batuan sedimen atau reservoir yang mempunyai porositas primer adalah
batuan konglomerat, batupasir, dan batu gamping. Porositas sekunder dapat
diklasifikasikan menjadi tiga golongan, yaitu :
 Porositas larutan, adalah ruang pori-pori yang terbentuk karena adanya
proses pelarutan batuan.
 Rekahan, celah, kekar, yaitu ruang pori-pori yang terbentuk karena adanya
kerusakan struktur batuan sebagai akibat dari variasi beban, seperti : lipatan,
sesar, atau patahan. Porositas tipe ini sulit untuk dievaluasi atau ditentukan
secara kuantitatip karena bentuknya tidak teratur.
 Dolomitisasi, dalam proses ini batu gamping (CaCO3) ditransformasikan
menjadi dolomite (CaMg(CO3)2) atau berdasarkan reaksi kimia berikut :

6
7

2CaCO3 + MgCl3 CaMg(CO3)2 + CaCl2

Besar-kecilnya porositas dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu


 Ukuran dan Bentuk Butir
Ukuran butir tidak mempengaruhi porositas total dari seluruh batuan, tetapi
mempengaruhi besar kecilnya pori-pori antar butir. Sedangkan bentuk butir
didasarkan pada bentuk penyudutan (ketajaman) dari pinggir butir. Sebagai
standar dipakai bentuk bola, jika bentuk butiran mendekati bola maka
porositas batuan akan lebih meningkat dibandingkan bentuk yang menyudut.
 Distribusi dan Penyusunan Butiran
Distribusi maksudnya penyebaran dari berbagai macam besar butir yang
tergantung pada proses sedimentasi dari batuan. Umumnya, jika batuan
tersebut diendapkan oleh arus kuat maka besar butir akan sama besar.
Sedangkan susunan adalah pengaturan butir saat batuan diendapkan.

90 o
o
90
90 o

a. Cubic (porosity = 47,6 %)

90 o
90 o
o
90

b. Rhombohedral (porosity = 25,96 %)

Gambar 1.3.Pengaruh Susunan Butir Terhadap Porositas


 Derajat Sementasi dan Kompaksi
Kompaksi batuan akan menyebabkan makin mengecilnya pori batuan akibat
adanya penekanan susunan batuan menjadi rapat. Sedangkan sementasi pada

7
8

batuan akan menutup pori-pori batuan tersebut.Adapun gambaran dari


berbagai faktor tersebut di atas dapat dibuktikan dari hasil penelitian yang
dilakukan oleh Nanz dengan Alat yang digunakan sieve analysis
sebagaimana yang terlihat pada gambar berikut :

Gambar 1.4.Distribusi Kumulatif Ukuran Butiran dari Graywacke


a). Batu pasir b). Shalysand

Berikut ini adalah ukuran porositas yang sering digunakan sebagai


pegangan di lapangan:

Tabel 1.1. Ukuran Porositas di Lapangan

Porositas (%) Kualitas


0–5 Jelek sekali
5 – 10 Jelek
10 – 15 Sedang
15 – 20 Baik
> 20 Sangat bagus

8
9

b. Permeabilitas
Permeabilitas didefinisikan sebagai ukuran suatu ruang pori batuan yang
dapat dialiri atau dilewati fluida. Definisi kuantitatif permeabilitas pertama-tama
dikembangkan oleh Henry Darcy (1856) dalam hubungan empiris dengan bentuk
differensial sebagai berikut :
k dP
v x
 dL ……………………………...….(1-4)
Keterangan :
v = kecepatan aliran, cm/sec
 = viskositas fluida yang mengalir, cp
dP/dL = gradien tekanan dalam arah aliran, atm/cm
k = permeabilitas media berpori.

Tanda negatif pada Persamaan diatas menunjukkan bahwa bila tekanan


bertambah dalam satu arah, maka arah alirannya berlawanan dengan arah
pertambahan tekanan tersebut. Asumsi-asumsi yang digunakan dalam Persamaan
diatasadalah:
1. Alirannya mantap (steady state),
2. Fluida yang mengalir satu fasa,
3. Viskositas fluida yang mengalir konstan,
4. Kondisi aliran isothermal, dan
5. Formasinya homogen dan arah alirannya horizontal.
6. Fluidanya incompressible.

Dasar penentuan permeabilitas batuan adalah hasil percobaan yang


dilakukan oleh Henry Darcy. Dalam percobaan ini, Henry Darcy menggunakan
batupasir tidak kompak yang dialiri air, seperti terlihat pada gambar 2.6. Batupasir
silindris yang porous ini 100% dijenuhi cairan dengan viskositas , dengan luas
penampang A, dan panjangnya L. Kemudian dengan memberikan tekanan masuk P1

9
10

pada salah satu ujungnya maka terjadi aliran dengan laju sebesar Q, sedangkan P 2
adalah tekanan keluar. Dari percobaan dapat ditunjukkan bahwa Q..L/A.(P1-P2)
adalah konstan dan akan sama dengan harga permeabilitas batuan yang tidak
tergantung dari cairan, perbedaan tekanan dan dimensi batuan yang digunakan.
Dengan mengatur laju Q sedemikian rupa sehingga tidak terjadi aliran turbulen,
maka diperoleh harga permeabilitas absolut batuan.

Gambar 1.5. Diagram Percobaan Pengukuran Permeabilitas

Berdasarkan jumlah fasa yang mengalir dalam batuan reservoir,


permeabilitas dibedakan menjadi tiga, yaitu :
 Permeabilitas absolut, adalah yaitu dimana fluida yang mengalir melalui
media berpori tersebut hanya satu fasa, misalnya hanya minyak atau gas saja.
 Permeabilitas efektif, yaitu permeabilitas batuan dimana fluida yang
mengalir lebih dari satu fasa, misalnya minyak dan air, air dan gas, gas dan
minyak atau ketiga-tiganya.
 Permeabilitas relatif, merupakan perbandingan antara permeabilitas efektif
dengan permeabilitas absolut.

Satuan permeabilitas dalam percobaan ini adalah :

10
11

Q (cm 3 / sec) .  (centipoise ) . L (cm)


k (darcy) 
A (sq.cm) . (P1  P2 ) (atm) …………(1-5)

Pada prakteknya di reservoir, jarang sekali terjadi aliran satu fasa, akan
tetapi dua atau bahkan tiga fasa. Oleh karena itu dikembangkan pula konsep
mengenai permeabilitas efektif dan permeabilitas relatif. Harga permeabilitas efektif
dinyatakan sebagai ko, kg, kw, dimana masing-masing untuk minyak, gas, dan air.
Sedangkan permeabilitas relatif untuk masing-masing fluida reservoir dinyatakan
dengan persamaan sebagai berikut :
k kg k
k ro  o , k rg  , k rw  w .
k k k

Sedangkan besarnya harga permeabilitas efektif untuk minyak dan air


dinyatakan dengan persamaan :
Qo . o . L
ko 
A . (P1  P2 ) …………………………………(1-7)
Qw . w . L
kw 
A . (P1  P2 ) …………………………………(1-8)

Harga-harga ko dan kw pada Persamaan diatas jika diplot terhadap So dan Sw


akan diperoleh hubungan seperti yang ditunjukkan pada Gambar berikut ini :

11
12

Grafik1.1. Kurva Permeabilitas Efektif Untuk Sistem Minyak dan Air

1 1

Effective Permeab ility to Water, k w

Effective Permeab ility to Oil, k o


0 0
0 Oil Saturation, So 1
1 Water Sa turation, Sw 0

Gambar diatas menunjukkanbahwa ko pada Sw = 0 dan pada So = 1 akan


sama dengan k absolut, demikian juga untuk harga k absolutnya (titik A dan B) .
Ada tiga hal penting untuk kurva permeabilitas efektif sistem minyak-air (Gambar
2.9.) , yaitu :
 ko akan turun dengan cepat jika Sw bertambah dari nol, demikian juga kw
akan turun dengan cepat jika Sw berkurang dari satu, sehingga dapat
dikatakan untuk So yang kecil akan mengurangi laju aliran minyak karena
ko-nya yang kecil, demikian pula untuk air.
 ko akan turun menjadi nol, dimana masih ada saturasi minyak dalam batuan
(titik C) atau disebut Residual Oil Saturation (Sor), demikian juga untuk air
yaitu (Swr).

12
13

Grafik 1.2.. Kurva krelatif Sistem Air-Minyak

c. Saturasi Fluida
Saturasi fluida batuan didefinisikan sebagai perbandingan antara volume
pori-pori batuan yang ditempati oleh suatu fluida tertentu dengan volume pori-pori
total pada suatu batuan berpori. Dalam batuan reservoir minyak umumnya terdapat
lebih dari satu macam fluida, kemungkinan terdapat air, minyak, dan gas yang
tersebar ke seluruh bagian reservoir. Secara matematis, besarnya saturasi untuk
masing-masing fluida dituliskan dalam persamaan berikut :

 Saturasi minyak (So) adalah :


volume pori  pori yang diisi oleh min yak
So 
volume pori  pori total …………(1-9)

 Saturasi air (Sw) adalah :


volume pori  pori yang diisi oleh air
Sw 
volume pori  pori total ………..(1-10)

 Saturasi gas (Sg) adalah :


volume pori  pori yang diisi oleh gas
Sg 
volume pori  pori total ………..(1-11)

13
14

Jika pori-pori batuan diisi oleh gas-minyak-air maka berlaku hubungan :


Sg + So + Sw = 1 ………………………………..(1-12)
Sedangkan jika pori-pori batuan hanya terisi minyak dan air, maka :
So + Sw = 1 ………………………………..(1-13)

d. Wettabilitas
Wettabilitas didefinisikan sebagai suatu kemampuan batuan untuk dibasahi
oleh fasa fluida, jika diberikan dua fluida yang tak saling campur (immisible). Pada
bidang antar muka cairan dengan benda padat terjadi gaya tarik-menarik antara
cairan dengan benda padat (gaya adhesi), yang merupakan faktor dari tegangan
permukaan antara fluida dan batuan. Pada umumnya reservoir bersifat water wet,
sehingga air cenderung untuk melekat pada permukaan batuan sedangkan minyak
akan terletak diantara fasa air. Jadi minyak tidak mempunyai gaya tarik-menarik
dengan batuan dan akan lebih mudah mengalir.

e. Tekanan Kapiler
Tekanan kapiler (Pc) didefinisikan sebagai perbedaan tekanan yang ada
antara permukaan dua fluida yang tidak tercampur (cairan-cairan atau cairan-gas)
sebagai akibat dari terjadinya pertemuan permukaan yang memisahkan kedua fluida
tersebut. Perbedaan tekanan dua fluida ini adalah perbedaan tekanan antara fluida
“non-wetting fasa” (Pnw) dengan fluida “wetting fasa” (Pw).
Pc = Pnw – Pw ………………………………..(1-14)
Dimana:
Pc = Tekanan kapiler
Pnw = Tekanan non wetting fasa
Pw = Tekanan wetting fasa

Grafik 1.3. Grafik h (Pc) Vs Water Saturation

14
15

Ukuran pori-pori batuan sering dihubungkan dengan besaran permeabilitas.


Batuan reservoir dengan permeabilitas yang besar akan mempunyai tekanan kapiler
yang rendah dan ketebalan zona transisi yang tipis daripada reservoir dengan
permeabilitas yang rendah, seperti terlihat pada Grafik 1.4.

15
16

Grafik 1.4. Pengaruh Permeabilitas terhadap Tekanan Kapiler

Reservoir minyak yang mepunyai API gravity rendah maka kontak minyak-
air akan mempunyai zona transisi yang panjang (fluida yang berbeda). Dapat dilihat
pada Grafik 1.5. di bawah ini.

Grafik 1.5. Pengaruh API Gravity Minyak terhadap Tekanan Kapiler

16
17

f. Kompressibilitas
Pada formasi batuan kedalaman tertentu terdapat dua gaya yang bekerja
padanya, yaitu gaya akibat beban batuan diatasnya (overburden) dan gaya yang
timbul akibat adanya fluida yang terkandung dalam pori-pori batuan tersebut. Pada
keadaan statik, kedua gaya berada dalam keadaan setimbang. Bila tekanan reservoir
berkurang akibat pengosongan fluida, maka kesetimbangan gaya ini terganggu,
akibatnya terjadi penyesuaian dalam bentuk volume pori-pori, dan perubahan
batuan.

1.2. Karakteristik Fluida Reservoir


Fluida reservoir yang terdapat dalam ruang pori-pori batuan reservoir pada tekanan
dan temperatur tertentu, secara alamiah merupakan campuran yang sangat kompleks dalam
susunan atau komposisi kimianya. Mengetahui sifat-sifat dari fluida hidrokarbon untuk
memperkirakan cadangan akumulasi hidrokarbon, menentukan laju aliran minyak atau gas
dari reservoir menuju dasar sumur, mengontrol gerakan fluida dalam reservoir dan lain-
lain.

1.2.1. Sifat Fisik Fluida Reservoir


Fluida reservoir terdiri dari fluida hidrokarbon dan air formasi. Hidrokarbon sendiri
terdiri dari fasa cair (minyak bumi) maupun fasa gas, yang tergantung pada kondisi
(tekanan dan temperatur) reservoir yang ditempati. Perubahan kondisi reservoir akan
mengakibatkan perubahan fasa serta sifat fisik fluida reservoir.

17
18

1.2.2.1.Sifat Fisik Minyak


Sifat-sifat minyak bumi yaitu densitas, viskositas, faktor volume formasi dan
kompressibilitas.

1. Densitas Minyak
Densitas didefinisikan sebagai perbandingan berat masa suatu substansi
dengan volume dari unit tersebut, sehingga densitas minyak (o) merupakan
perbandingan antara berat minyak (lb) terhadap volume minyak (cuft). Densitas
minyak biasanya dinyatakan dalam specific gravity minyak (o), yang didefinisikan
sebagai perbandingan densitas minyak terhadap densitas air, yang secara matematis,
dituliskan :
o
o 
w ………………………………………..(1-15)
Keterangan :
o = specific gravity minyak
o = densitas minyak, lb/cuft
w = densitas air, lb/cuft

Industri perminyakan seringkali menyatakan specific gravityminyak dalam


satuan oAPI, yang dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut :
141,5
o
API =  131,5
o ………………………………..(1-16)

2. Faktor Volume Formasi Minyak


Faktor volume formasi minyak (Bo) didefinisikan sebagai volume minyak
dalam barrel pada kondisi standar yang ditempati oleh satu stock tank barrel minyak
termasuk gas yang terlarut. Atau dengan kata lain sebagai perbandingan antara
volume minyak termasuk gas yang terlarut pada kondisi reservoir dengan volume

18
19

minyak pada kondisi standard (14,7 psi, 60 F). Satuan yang digunakan adalah
bbl/stb. Perhitungan Bo secara empiris (Standing) dinyatakan dengan persamaan :
Bo = 0.972 + (0.000147 . F 1.175) ………………..(1-17)
 g 
F  R s .   1.25 T

 o  ………………………..(1-18)
Keterangan :
Rs = kelarutan gas dalam minyak, scf/stb
o = specific gravity minyak, lb/cuft
g = specific gravity gas, lb/cuft
T = temperatur, oF.

Perubahan Bo terhadap tekanan untuk minyak mentah jenuh ditunjukkan


oleh Grafik 1.6. Tekanan reservoir awal adalah Pi dan harga awal faktor volume
formasi adalah Boi. Dengan turunnya tekanan reservoir dibawah tekanan buble
point, maka gas akan keluar dan Bo akan turun.

Grafik 1.6. Hubungan antara Tekanan dan Faktor Volume Formasi Minyak (Bo)
Formation - Volume Fac tor, Bo

Bob

Pb
1
0 Reservoir pressure, psia

19
20

Terdapat dua hal penting dari grafik diatas, yaitu :


a. Jika kondisi tekanan reservoir berada diatas Pb, maka Bo akan naik dengan
berkurangnya tekanan sampai mencapai Pb, sehingga volume sistem cairan
bertambah sebagai akibat terjadinya pengembangan minyak.
b. Setelah Pb dicapai, maka harga Bo akan turun dengan berkurangnya tekanan,
disebabkan karena semakin banyak gas yang dibebaskan.

3. Kelarutan Gas dalam Minyak


Kelarutan gas (Rs) adalah banyaknya SCF gas yang terlarut dalam satu STB
minyak pada kondisi standar 14,7 psi dan 60 F, ketika minyak dan gas masih
berada dalam tekanan dan temperatur reservoir.

………..(1-19)

Pada grafik hubungan antara tekanan dan kelarutan gas dalam minyak (Rs),
bila temperatur dianggap tetap maka Rs akan naik bila tekanan naik, kecuali jika
tekanan gelembung telah terlewati, maka harga Rs akan konstan untuk minyak tidak
jenuh.

Grafik 1.7. Hubungan antara Tekanan dan Kelarutan Gas dalam Minyak

20
21

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kelarutan gas dalam minyak,
diantaranya adalah sebagai berikut:
 Tekanan Reservoir
Bila temperatur dianggap tetap maka Rs akan naik bila tekanan naik, kecuali
jika tekanan gelembung telah terlewati, maka harga Rs akan konstan untuk
minyak tidak jenuh.
 Temperatur Reservoir
Jika tekanan dianggap tetap maka Rs akan turun jika temperatur naik.
 Komposisi Minyak
Pada temperatur dan tekanan tertentu Rs akan naik dengan turunnya berat
jenis minyak atau naiknya 0API.

4. Kompressibilitas Minyak
Kompressibilitas minyak didefinisikan sebagai perubahan volume minyak
akibat adanya perubahan tekanan, secara matematis dapat dituliskan sebagai
berikut:
1  V 
Co    
V  P  ………………………………..(1-20)

Kompressibilitas minyak dibagi menjadi dua berdasarkan kondisi


kejenuhannya, yaitu :
a. Kompressibilitas minyak tak jenuh (undersaturated oil)
Besarnya harga kompressibilitas minyak tak jenuh ini tergantung dari berat
jenis, tekanan, dan temperatur. Dapat dinyatakan dengan persamaan sebagai
berikut:
C pr
Co 
Ppc
………………………………..(1-21)
dimana :
Co = kompressibilitas minyak, psi-1

21
22

Cpr = pseudo reduced compressibility


Ppc = pseudo critical pressure, psi

Untuk menentukan harga Cpr dilakukan dengan menggunakan grafik 1.8.


Sebelumnya menentukan harga Tpr dan Ppr dahulu, yaitu :
T
T pr 
T pc
………………………………..(1-22)
P
Ppr 
Ppc
………………………………..(1-23)
dimana :
P = tekanan waktu pengukuran, psia
Ppc = tekanan kritik semu, psia
T = temperatur waktu pengukuran, oF
Tpc = temperatur kritik semu, oF

b. Kompressibilitas minyak jenuh (saturated oil)


Harga kompressibilitas minyak jenuh umumnya lebih besar dibandingkan
harga kompressibilitas minyak tak jenuh. Penentuan harga kompressibilitas
ini dengan persamaan sebagai berikut :
1 dRs  dBo 
Co   Bg  
Bo dP  dRs  .……………………….(1-24)

Grafik 1.8. Grafik Hubungan Cpr vs Ppr dan Tpr untuk Minyak

22
23

5. Viskositas Minyak
Viskositas didefinisikan sebagai ketahanan internal suatu fluida untuk
mengalir. Bila tekanan reservoir mula-mula lebih besar dari tekanan gelembung
(bubble point pressure), maka penurunan tekanan akan memperkecil
viskositasminyak (μo). Setelah mencapai Pb, penurunan tekanan selanjutnya akan
menaikkan harga viskositasminyak (μo) dan dengan semakin naiknya temperatur
reservoir akan menurunkan harga viskositasminyak (μo). Hubungan antara tekanan
dan viskositasminyak dapat dilihat pada Grafik 1.9.

Grafik 1.9. Hubungan antara Tekanan dan Viskositas Minyak

23
24

Secara matematis, besarnya viskositas dapat dinyatakan dengan persamaan


F y
 
A v ………………………………..(1-25)
Keterangan :
 = viskositas, gr/(cm.sec)
F = shear stress
A = luas bidang paralel terhadap aliran, cm2
y / v = gradient kecepatan, cm/(sec.cm).

1.2.2.2.Sifat Fisik Gas


Sifat fisik gas yang akan dibahas adalah spesific gravity, faktor volume formasi gas,
kompresibilitas gas, faktor kompressibilitas gas, viskositas gas.
1. Densitas Gas
Densitas atau berat jenis gas didefinisikan sebagai perbandingan antara
rapatan gas tersebut dengan rapatan suatu gas standar. Biasanya yang digunakan
sebagai gas standar adalah udara kering. Secara matematis berat jenis gas
dirumuskan sebagai berikut :
o
BJ gas 
u ……...………………………………...(1-26)

2. Faktor Volume Formasi Gas


Faktor volume formasi gas (Bg) didefinisikan sebagai besarnya perbandingan
volume gas pada kondisi tekanan dan temperatur reservoir dengan volume gas pada
kondisi standar (60 F, 14,7 psia). Pada faktor volume formasi ini berlaku hukum
Boyle - Gay Lussac. Bila satu standar cubic feet ditempatkan dalam reservoir
dengan tekanan Pr dan temperatur Tr, maka rumus - rumus gas dapat digunakan
untuk mendapatkan hubungan antara kedua keadaan dari gas tersebut, yaitu :

24
25

P1 V1 P V
 r r
Z r Tr Z r Tr ……………….……………….(1-27)

Untuk harga P1 dan T1 dalam keadaan standar, maka diperoleh :


Z r Tr
Vr  0.0283 cuft
Pr ………………………………..(1-28)

Untuk keadaan standar, maka Vr (cuft) harus dibagi dengan 1 scf untuk
mendapatkan volume standar. Jadi faktor volume formasi gas (Bg) adalah :
Z r Tr
Bg  0.0283 cuft / scf
Pr ………………………..(1-29)

Dalam satuan bbl / scf, besarnya Bg adalah :


Z r Tr
Bg  0.00504 bbl / scf
Pr ………………………..(1-30)

3. Kompresibilitas Gas
Kompresibilitas gas didefinisikan sebagai perubahan volume gas yang
disebabkan oleh adanya perubahan tekanan yang mempengaruhinya.
Kompresibilitas gas didapat dengan persamaan :
C pr
Cg 
Ppc
………………………………………..(1-31)
Keterangan :
Cg = kompresibilitas gas, psia-1
Cpr = pseudo reduced kompresibilitas, psia-1 ,
Cpc = pseudocritical pressure, psia

25
26

4. Viskositas Gas
Viskositas merupakan ukuran tahanan gas terhadap aliran. Viskositas gas
hidrokarbon umumnya lebih rendah daripada viskositas gas non hidrokarbon.
Viskositas gas akan berbanding lurus dengan temperatur dan berbanding terbalik
dengan berat molekulnya. Jadi bila berat molekulnya bertambah besar, maka
viskositasnya akan mengecil, sedangkan bila temperaturnya naik, maka
viskositasnya akan semakin besar.
Dalam viskositas sifat-sifat gas akan berlawanan dengan cairan. Untuk gas
sempurna, viskositasnya tidak tergantung pada tekanan. Bila tekanannya dinaikkan,
maka gas sempurna akan berubah menjadi gas tidak sempurna dan sifat-sifatnya
akan mendekati sifat-sifat cairan. Bila komposisi campuran gas alam diketahui,
maka viskositasnya dapat diketahui dengan menggunakan persamaan :

g 
 YM gi i i
0, 5

Y M i i
0,5
………………………………..(1-32)
Keterangan :
g = viskositas gas campuran pada tekanan atmosfer
gi = viskositas gas murni
Yi = fraksi mpl gas murni
Mi = berat molekul gas murni

Grafik 1.10. Viskositas Gas pada Tekanan Atmosfir

26
27

5. Faktor Deviasi Gas


Penyelesaian masalah aliran gas, baik di reservoir, tubing, dan pipa produksi
membutuhkan hubungan yang menerangkan tekanan, volume, dan temperatur.
Untuk gas yang ideal hubungan tersebut dinyatakan oleh persamaan keadaan :
P.V=n.R.T ………………………………………..(1-33)
dimana :
P = tekanan, psia
V = volume, scf
n = jumlah mol, lb-mol
T = temperatur, oR
R = konstanta gas = 10.73 , cuft/lb-mol

Gas yang bersifat sebagai gas nyata / real gas tidak memenuhi persamaan
diatas, tetapi memberi penyimpangan sebesar z (faktor deviasi), sehingga persamaan
diatas menjadi :
P.V=z.n.R.T ………………………………………..(1-34)

Grafik 1.11. Faktor Kompressibilitas untuk Natural Gas

27
28

Penentuan harga z dari suatu gas alam dapat dilakukan melalui pengukuran
langsung, menggunakan korelasi Standing dan Katz, dan menggunakan “equation of
state”. Dengan diketahuinya harga Ppc dan Tpc, maka harga Pr dan Tr dapat dihitung.
Untuk menentukan harga z (deviation faktor), Katz dan Standing telah membuat
korelasi berupa grafik : z = f (Pr,Tr) dapat dilihat pada gambar 2.33. Grafik tersebut
memberikan hasil yang memuaskan bila gas tidak mengandung CO2 dan H2S.
Untuk gas yang mengandung kedua unsur tersebut perlu dilakukan korelasi untuk
harga Ppc dan Tpc dahulu sebelum menghitung Pr dan Tr.

28
29

1.2.2.3.Sifat Fisik Air Formasi


Sifat fisik air formasi yang akan dibahas adalah densitas, viskositas, kelarutan gas
dalam air formasi, kompressibilitas air formasi dan faktor volume air formasi.
1. Densitas Air Formasi
Densitas air formasi dinyatakan dalam massa per volume, specific volume
yang dinyatakan dalam volume per satuan massa dan specific gravity, yaitu densitas
air formasi pada suatu kondisi tertentu yaitu pada tekanan 14,7 psi dan temperatur
60 F. Beberapa satuan yang umum digunakan untuk menyatakan sifat-sifat air
murni pada kondisi standard adalah sebagai berikut : 0,999010 gr/cc ; 8,334 lb/gal;
62,34 lb/cuft; 350 lb/bbl (US); 0,01604 cuft/lb. Dari besaran-besaran satuan tersebut
dapat dibuat suatu hubungan sebagai berikut :
w 1 0,01604
w = = = 0,01604  w =
62,34 62,34 v w vw ..(1-35)
Keterangan :
w = specific gravity air formasi
w = density, lb/cuft
vw = specific volume, cuft/lb
62,3 = densitas air murni pada kondisi standart

2. Faktor Volume Formasi Air Formasi


Faktor volume air formasi (Bw) menunjukkan perubahan volume air formasi
dari kondisi reservoir ke kondisi permukaan. Faktor volume formasi air formasi ini
dipengaruhi oleh tekanan dan temperatur, yang berkaitan dengan pembebasan gas
dan air dengan turunnya tekanan, pengembangan air dengan turunnya tekanan dan
penyusutan air dengan turunnya temperatur. Harga faktor volume formasi air-
formasi dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan sebagai berikut:
Bw = (1 + Vwp)(1 + Vwt) ………………………..(1-36)
Keterangan :
Bw = faktor volume air formasi, bbl/bbl

29
30

Vwt = penurunan volume sebagai akibat penurunan suhu, oF


Vwp = penurunan volume selama penurunan tekanan, psi

3. Kelarutan Gas dalam Air Formasi


Standingdan Dodson telah menentukan kelarutan gas dalam air formasi
sebagai fungsi dari tekanan dan temperatur. Mereka menggunakan gas dengan berat
jenis 0,655 dan mengukur kelarutan gas ini dalam air murni serta dua contoh air
asin.

4. Kompressibilitas Air Formasi


Kompresibilitas air formasi didefinisikan sebagai perubahan volume yang
disebabkan oleh adanya perubahan tekanan yang mempengaruhinya. Besarnya
kompressibilitas air murni (Cpw) tergantung pada tekanan, temperatur dan kadar gas
terlarut dalam air murni. Secara matematik, besarnya kompressibilitas air murni
dapat ditulis sebagai berikut :
1  V 
C wp    
V  P  T ………………………………..(1-37)
Keterangan :
Cwp = kompressibilitas air murni, psi –1
V = volume air murni, bbl
V; P = perubahan volume (bbl) dan tekanan (psi) air murni

5. Viskositas Air Formasi


Besarnya viskositas air formasi (w) tergantung pada tekanan, temperatur
dan salinitas yang dikandung air formasi tersebut. Viskositas air murni pada tekanan
atmosfir dan pada tekanan 7100 psia serta viskositas air pada kadar garam 6% pada
tekanan atmosfir.

30
31

1.3. Kondisi Reservoir


Kondisi reservoir meliputi tekanan reservoir dan temperatur reservoir, yang ternyata
sangat berpengaruh terhadap sifat fisik batuan maupun fluida reservoir. Kondisi reservoir
berhubungan dengan kedalamaan reservoir. Sehingga untuk reservoir yang berbeda,
kondisinya juga akan berbeda tergantung kedalamannya, pada umumnya bersifat linier
walaupun sering terjadi penyimpangan.

1.3.l. Tekanan Reservoir


Adanya tekanan reservoir yang disebabkan oleh gradien kedalaman, maka akan
menyebabkan terjadinya aliran fluida di dalam formasi ke dalam lubang sumur yang
mempunyai tekanan relatif rendah. Besarnya tekanan reservoir ini akan berkurang dengan
adanya kegiatan produksi. Tekanan reservoir pada prinsipnya berasal dari
1. Pendesakan oleh ekspansi gas (tudung gas) pada gas cap drive reservoir, tenaga ini
disebut dengan body force. Adanya pengaruh gravitasi karena adanya perbedaan
densitas antara minyak dan gas, maka gas dapat terpisah dengan minyak sedangkan
gas yang terpisah dengan minyak ini akan berakumulasi pada tudung reservoir dan
karena pengembangan ini maka gas akan mendorong minyak kedalam sumur
produksi
2. Pendesakan oleh air formasi yang diakibatkan adanya beban formasi diatasnya
(overburden).
3. Pengembangan gas berupa gas bebas pada reservoir solution gas drive dimana
perbedaannya dengan reservoir gas cap drive dimana gas yang terjadi tidak
terperangkap tetapi merata sepanjang pori - pori reservoir.
4. Timbulnya tekanan akibat adanya gaya kapiler yang besarnya dipengaruhi oleh
tegangan permukaan dan sifat kebasahan batuan.

Ada dua hal yang berlawanan yang perlu diperhatikan, yaitu pada suatu interval
tertentu tekanan akan naik hingga stabil, tetapi dengan bertambahnya waktu maka tekanan
akan turun kembali. Hal ini disebabkan karena adanya gangguan atau karena pengaruh

31
32

interferensi sumur disekitarnya yang sedang berproduksi, sehingga tekanan tersebut tidak
stabil. Dengan alasan tersebut maka tekanan dasar sumur biasanya diukur dalam interval
waktu tertentu, kemudian tekanan yang didapat dari hasil pengukuran diplot dan
diekstrapolasikan untuk mendapatkan tekanan static dari sumur tersebut.
Setelah akumulasi hidrokarbon didapat, maka salah satu tes yang harus dilakukan
adalah tes untuk menentukan tekanan reservoir, yaitu tekanan awal formasi, tekanan statik
sumur, tekanan alir dasar sumur, dan gradien tekanan formasi. Data tekanan tersebut akan
berguna didalam menentukan produktivitas formasi produktif serta metode produksi yang
akan digunakan, sehingga dapat diperoleh recovery hidrokarbon yang optimum tanpa
mengakibatkan kerusakan fonnasi.
Tekanan awal reservoir adalah tekanan reservoir pada saat pertama kali ditemukan.
Tekanan dasar sumur pada sumur yang sedang berproduksi disebut tekanan aliran (flowing)
sumur. Kemudian jika sumur tersebut ditutup maka selang waktu tertentu akan didapat
tekanan statik sumur.

1.3.2.1.Tekanan Hidrostatis
Tekanan Hidrostatis adalah suatu gejala alam yang terjadi pada setiap benda
dipermukaan bumi yang merupakan besarnya gaya yang bekerja tiap satu satuan luas.
Tekanan Hidrostatis juga merupakan suatu tekanan yang timbul akibat adanya fluida yang
mengisi pori-pori batuan, desakan oleh ekspansi gas, dan desakan oleh gas yang
membebaskan diri dari larutan akibat penurunan tekanan selama proses produksi
berlangsung. Secara empiris dapat dituliskan sebagai berikut :
F
Ph 
A ………………………………………………..(1-38)
Ph  0.052  D ………………………………………………..(1-39)
Keterangan :
Ph = tekanan, psi
F = gaya bekerja pada daerah satuan luas yang bersangkutan, lb
A = luas permukaan yang menerima gaya, inch2

32
33

γ = densitas fluida rata-rata, lb/gallon


D = tinggi kolam fluida, ft

1.3.1.2.Tekanan Overburden
Tekanan overburden adalah tekanan yang diderita oleh formasi akibat berat batuan
diatasnya. Persamaan yang dapat digunakan untuk menentukan besarnya tekanan
overburden adalah :
P0 = G0 x D ………………………………………………..(1-40)

Gmb  Gfl
P0 =  D1   ma   fl
A ………………………..(1-41)
Keterangan :
Po = Tekanan overburden, psi
Go = Gradien tekaanan overburden, psi/ft (umumnya sebesar 1 psi/ft)
D = Kedalaman vertikal formasi, ft
Gmb = Berat matrik batuan formasi, lb
Gfl = Berat fluida yang terkandung dalam pori-pori batuan, lb
A = Luas lapisan, in2
 = Porositas, fraksi
ma = Densitas matriks batuan, lb/cuft
fl = Densitas fluida, lb/cuft

Besarnya gradien tekanan overburden yang normal biasanya dianggap sebesar 1


psi/ft, yaitu diambil dengan menganggap berat jenis batuan rata-rata 2,3 dari berat jenis air.
Sedangkan besarnya gradien tekanan air adalah 0,433 psi/ft maka gradien tekanan
overburden sebesar 2,3 x 0,433 psi/ft = 1 psi/ft. Pertambahan tekanan tiap feet kedalaman
disebut gradien tekanan. Data-data tekanan reservoir, umumnya digunakan dalam hal-hal
sebagai berikut :

33
34

1. Menentukan karakteristik reservoir, terutama yang menyangkut hubungan antara


jumlah produksi dengan penurunan tekanan reservoir.
2. Bila digabungkan dengan data produksi, sifat-sifat fisik batuan dan fluida reservoir,
akan bermanfaat dalam penaksiran gas atau oil in place dan recovery untuk berbagai
jenis mekanisme pendorongan.
3. Memperkirakan hubungan antar sumur-sumur yang letaknya berdekatan dan
bagaimana sistemnya.

1.3.1.3.Tekanan Rekah
Tekanan rekah adalah tekanan hidrostatis maksimum yang dapat ditahan oleh
formasi tanpa menyebabkan terjadinya pecah formasi tersebut. Besarnya gadien tekanan
rekah dipengaruhi oleh tekanan overburden, tekanan formasi, dan kondisi kekuatan batuan.
Selain hasil log gradien tekanan rekah dapat ditentukan dengan memakai prinsip “leak of
test” yaitu memberikan tekanan sedikit-sedikit sedemikian rupa sampai terlihat tanda-tanda
formasi akan pecah, dengan ditunjukkan kenaikan tekanan terus-menerus dan tiba-tiba
menurun drastis.
Penentuan tekanan rekah dapat digunakan perhitungan diantaranya :
Pf 1  Pob 2 P 
   
D 3  D D ………………………………………..(1-42)
Keterangan :
Pf = tekanan rekah, psi
Pob = tekanan overburden, psi
P = tekanan formasi, psi
D = kedalaman, ft

34
35

1.3.1.4.Tekanan Normal
Tekanan formasi normal adalah suatu tekanan formasi dimana tekanan hidrostatik
fluida formasi dalam keadaan normal sama dengan tekanan kolom cairan yang ada dalam
dasar formasi sampai permukaan. Bila isi dari kolom yang terisi berbeda cairannya maka
besarnya tekanan hidrostatis akan berbeda.
Gradien tekanan berhubungan dengan lingkungan pengendapan geologi. Karena
pada umumnya sedimen diendapakan pada lingkungan air garam, maka banyak tempat di
dunia ini mempunyai gradien tekanan antara 0,433 psi/ft sampai 0,465 psi/ft. Jadi formasi
yang mempunyai gradien tekanan formasi antara 0,433 psi/ft samapi 0,465 psi/ft
merupakan tekanan normal.

1.3.1.5.Tekanan Subnormal
Tekanan formasi subnormal adalah formasi yang mempunyai gradien tekanan
dibawah 0,433 psi/ft. Tekanan subnormal diakibatkan adanya rekahan-rekahan batuan, atau
adanya gaya diatrophisma (penekanan batuan dan isinya oleh gaya pada kerak bumi).

1.3.1.6.Tekanan Abnormal
Tekanan abnormal adalah tekanan formasi yang mempunyai gradien tekanan lebih
besar dari harga 0,465 psi/ft. Tekanan abnormal tidak mempunyai komunikasi tekanan
secara bebas sehingga tekanannya tidak akan cepat terdistribusi dan kembali menuju
tekanan normalnya. Tekanan abnormal berkaitan dengan sekat (seal) terbentuk dalam suatu
periode sedimentasi, kompaksi atau tersekatnya fluida didalam suatu lapisan yang dibatasi
oleh lapisan yang permeabilitasnya sangat rendah.
Pada proses kompaksi normal, mengecilnya volume pori akibat dari pertambahan
berat beban diatasnya dapat mengakibatkan fluida yang ada didalam pori terdorong keluar
dan mengalir ke segala arah menuju formasi di sekitarnya. Berat batuan diatasnya akan
ditahan oleh partikel-partikel sedimen. Kompaksi normal umumnya menghasilkan suatu
gradient tekanan formasi yang normal.

35
36

Kompaksi abnormal akan terjadi jika pertambahan berat beban diatasnya tidak
menyebabkan berkurangnya ruang pori. Ruang pori tidak mengecil karena fluida
didalamnya tidak bisa terdorong keluar. Tersumbatnya fluida didalam ruang pori
disebabkan karena formasi itu terperangkap didalam formasi lain yang menyebabkan
permeabilitas sangat kecil.

1.3.2. Temperatur Reservoir


Berdasarkan anggapan bahwa inti bumi berisi magma yang sangat panas, maka
dengan bertambahnya kedalaman temperaturnya akan naik. Besar kecilnya kenaikan
temperatur ini akan tergantung pada gradient temperaturnya yang biasa disebut sebagai
gradient geothermis. Besaran gradient geothermis ini bervariasi dari satu tempat ke tempat
lain, dimana harga rata-ratanya adalah 2°F/100 ft. Gradient geothermis yang tertinggi
adalah 4°F/100 ft, sedangkan yang terendah adalah 0.5 °F/100 ft. Variasi yang kecil dari
gradient geothermis ini disebabkan oleh sifat konduktivitas thermal beberapa jenis batuan.
Besarnya gradien geotermal dari suatu daerah dapat dicari dengan menggunakan
persamaan:
Tformasi - Tstandard
Gradien geothermal =
Kedalalama n Formasi ………………..(1-43)

Harga gradien geotermal berkisar antara 1.11° sampai 2"F/100 ft. Seperti diketahui
temperatur sangat berpengaruh terhadap sifat-sifat fisik fluida reservoir Hubungan
temperatur terhadap kedalaman dapat dinyatakan sebagai berikut :
Td= Ta + Gt x D ………………………………………..(1-44)
Keterangan :
Td = Temperatur reservoir pada kedalaman D ft, °F
Ta = Temperatur pada permukaan, °F
Gt = Gradien temperatur, °F
D = Kedalaman, ratusan ft.

36
37

Pengukuran temperatur formasi dilakukan setelah completion dan temperatur


formasi ini dapat dianggap konstan selama kehidupan reservoir, kecuali bila dilakukan
proses stimulasi.

1.4. Jenis-Jenis Reservoir


Jenis-jenis reservoir dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu : berdasarkan
perangkap reservoir, fasa fluida, dan mekanisme pendorong.

1.4.1. Berdasarkan Perangkap Reservoir


Jenis reservoir berdasarkan perangkap reservoir dapat dibagi menjadi tiga, yaitu
perangkap struktur, perangkap stratigrafi, dan perangkap kombinasi struktur dan stratigrafi.
 Perangkap Struktur
Unsur perangkap yang membentuk lapisan penyekat dalam lapisan reservoir
sehingga dapat menangkap minyak, disebabkan gejala tektonik atau struktur,
misalnya pelipatan dan patahan. Sebetulnya kedua unsur ini merupakan unsur utama
dalam pembentukan perangkap. Perangkap struktur sendiri terbagi menjadi dua,
yaitu perangkap lipatan dan juga perangkap patahan.
1. Perangkap Lipatan
Perangkap yang disebabkan perlipatan merupakan perangkap utama.
Perangkap lipatan disebabkan oleh struktur perlipatan (folding) dan biasanya
berbentuk antiklin. Dalam menilai suatu perangkap lipatan, yang perlu
diperhatikan adalah volume tutupan (closure) pada perangkap bersangkutan.
Volume tutupan suatu perangkap adalah volume maksimum tempat atau
wadah yang bisa diisi oleh fluida hidrokarbon.

2. Perangkap Patahan
Perangkap patahan adalah perangkap yang terbentuk oleh peristiwa patahan
pada batuan porous dan permeabel yang berada di bawah lapisan tidak
permeabel. Suatu patahan (faulting) dapat berfungsi sebagai unsur penyekat

37
38

akumulasi hidrokarban agar tidak bermigrasi ke mana-mana dan dapat juga


sebagai media bagi minyak untuk bermigrasi.

 Perangkap Stratigrafi
Prinsip perangkap stratigrafi ialah minyak dan gas terjebak dalam
perjalanannya ke atas, terhalang dari segala arah terutama dari bagian atas dan
pinggir, karena batuan reservoir menghilang atau berubah fasies menjadi batuan lain
atau batuan yang karakteristik reservoir menghilang sehingga merupakan
penghalang permeabilitasnya.

 Perangkap Kombinasi
Perangkap reservoir kebanyakan merupakan kombinasi perangkap struktur
dan perangkap stratigrafi dimana setiap unsur struktur merupakan faktor bersama
dalam membatasi bergeraknya minyak dan gas.

1.4.2. Berdasarkan Fasa Fluida Hidrokarbon


Fasa merupakan bagian dari zat yang mempunyai sifat yang nyata, yang memiliki
sifat-sifat fisika dan kimia secara seragam dalam keseluruhan. Fasa yang penting yang
terdapat dalam produksi hidrokarbon adalah fasa cair (minyak atau kondensat) dan fasa gas
(gas alam). Diagram fasa adalah diagram tekanan dan temperatur yang merupakan fungsi
komposisi akumulasi hidrokarbon pada suatu reservoir. Grafik 1.12. memperlihatkan
diagram fasa untuk suatu fluida reservoir.

38
39

Grafik 1.12. Diagram Fasa P&T Suatu Fluida Reservoir

Daerah di dalam lengkungan garis bubble point (Pb) dan garis dew point (titik
embun) adalah merupakan daerah dua fasa dan grafik-grafik lengkung di dalamnya
menunjukkan volume total cairan hidrokarbon. Daerah di luar lengkungan garis titik embun
(pada temperatur di atas temperatur embun) sistem berada dalam keadaan satu fasa (fasa
gas), sedangkan daerah di atas lengkungan garis titik gelembung (pada tekanan di atas Pb)
sistem terdiri dari satu fasa yaitu fasa cair (minyak).
Diagram P – T tersebut dapat menunjukkan suatu perubahan fasa, apabila tekanan
dan temperatur berubah / salah satunya yang berubah. Pada awalnya setiap akumulasi
hidrokarbon mempunyai diagram fasa sendiri-sendiri sesuai dengan komposisi dan
akumulasi hidrokarbonnya. Bila kondisi P dan T reservoir ditunjukkan oleh titik A,
menunjukkan bahwa reservoir dalam keadaan satu fasa yaitu gas. Temperatur reservoir
lebih besar dari cricondentherm, sehingga jika reservoir ini diproduksikan, maka akan
terjadi penurunan tekanan disepanjang garis A-A1 dan tidak terjadi perubahan fasa. Hal ini
berlaku bagi semua akumulasi dengan komposisi sama. Dengan demikian hanya gas saja
yang terproduksi dan disebut dry gas.

39
40

Bila selama proses produksi terjadi perubahan temperatur, seperti ditunjukkan oleh
garis lintasan A-A2 maka fluida yang terproduksi di permukaan merupakan fasa cair dan
gas meskipun mempunyai komposisi sama, dimana fasa cair yang terproduksi di
permukaan berasal dari gas di reservoir, dan fluida produksinya di sebut dengan gas basah
atau wet gas.
Bila temperatur reservoir terletak diantara temperatur kritik dan cricondentherm
serta tekanan terletak diatas tekanan titik embun (dew point) seperti ditunjukkan oleh titik
B pada Grafik 1.12.. di atas, reservoirnya disebut reservoir condensate. Pada kondisi ini,
penurunan tekanan dengan temperatur tetap, sejumlah gas akan mengembun pada titik B1
dan jumlah cairan akan bertambah sampai batas 10% total cairan hidrokarbon, yaitu titik
B2. Selanjutnya penurunan berikutnya tidak akan menambah jumlah cairan, akan tetapi
sebaliknya justru terjadi penguapan dari cairan yang ada sampai pada tekanan B3, yang
mengakibatkan GOR di permukaan menurun.
Bila kondisi tekanan dan temperatur reservoir ditunjukkan oleh titik C pada Gambar
2.51., reservoirnya hanya terisi fluida satu fasa yaitu fasa cair, karena semua gas yang telah
ada telah terlarut dalam fasa cair (minyak) sehingga tidak ada gas bebas yang kontak
dengan minyak. Tipe ini disebut reservoir titik gelembung, dengan turunnya tekanan akibat
produksi, tekanan titik gelembung akan dicapai yaitu titik C1. Pada titik ini mulai timbul
gas untuk pertama kalinya dan penurunan tekanan selanjutnya akan menambah jumlah dari
gas bebas, sehingga permeabilitas efektif minyak akan berkurang dan gas yang terproduksi
semakin besar.
Bila kondisi tekanan dan temperatur reservoir di dalam garis lengkung titik
gelembung dan titik embun, yaitu dalam daerah dua fasa seperti yang dinyatakan oleh titik
D (Gambar 2.51.), fasa-fasa dalam reservoir terdiri dari fasa cair (minyak) yang berada di
bawah fasa gas yang umumnya disebut tudung gas atau gas cap.
Berdasarkan gambar tersebut di atas kondisi awal, reservoir dapat berupa:
 Reservoir minyak
 Reservoir gas
 Reservoir condensate

40
41

Reservoir gas mempunyai temperatur awal di atas cricondentherm. Pada kondisi


awal ini reservoir hanya terdiri dari satu fasa. Apabila gas tersebut diproduksikan dari
reservoir ke permukaan pada tekanan dan temperatur yang semakin berkurang sepanjang
A-A1, maka fluidanya tetap satu fasa yaitu fasa gas, baik di reservoir maupun di
permukaan. Gas ini biasanya disebut gas kering atau dry gas.

1.4.2.1.Reservoir Minyak
Reservoir minyak dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu reservoir minyak jenuh
dan resevoir minyak tak jenuh.
1. Reservoir Minyak Jenuh
Reservoir minyak jenuh adalah reservoir dimana cairan (minyak) dan gas
terdapat bersama-sama dalam keseimbangan. Keadaan ini bisa terjadi pada P dan T
reservoir terdapat dibawah garis gelembung (lihat titik B pada Grafik 1.12.). Titik
awal dari tekanan reservoir berada dibawah titik Pbnya, sehingga fluida reservoir
ada dua fasa yaitu fasa gas dan minyak (sebagai fasa cair). Penurunan P res akan
merubah harga GOR produksi sebagai akibat terbebaskannya gas dari larutan.
Dari beberapa ciri-ciri reservoir minyak yang dapat disebutkan sebagai ciri-
ciri dari reservoir minyak jenuh, adalah sebagai berikut:
a. Tekanan awal reservoir lebih kecil dari tekanan gelembung dan temperatur
reservoir lebih rendah dari temperatur kritisnya.
b. Fluida reservoir berupa dua fasa, zona gas berada diatas zona minyak, zona
gas tersebut biasanya disebut gas cap.
c. Specific gravity minyak bervariasi antara 0,75 sampai dengan 1,01.
d. Reservoir jenis ini tidak mempunyai energi pengembangan cairan tetapi
energinya terkumpul pada gas yang terlarut ditambah energi gas capnya
sendiri.

41
42

2. Reservoir Minyak Tak Jenuh


Reservoir minyak dikatakan tak jenuh apabila dalam reservoir hanya
mengandung satu macam fasa saja yaitu cairan (minyak). Keadaan ini dapat terjadi
bila tekanan reservoirnya lebih tinggi dari tekanan gelembungnya, seperti terlihat
pada Gambar 2.52. yaitu titik D. Pada reservoir tak jenuh cenderung mengandung
komponen berat yang relatif lebih banyak dibandingkan dengan reservoir minyak
jenuh sehingga hasil yang diperoleh di permukaan berlainan. Ciri-ciri khas reservoir
minyak tak jenuh adalah:
 Pada kondisi mula-mula tidak ada kontak langsung antara zona minyak
dengan fasa gas bebas, dengan kata lain gas cap tidak terbentuk.
 Selama penurunan tekanan awal sampai tekanan saturasi (Pb) faktor volume
formasi minyak akan naik sedang kekentalannya akan turun.
 Umumnya temperatur reservoir kurang dari 150 °F, specific gravity kurang
dari 35° API.

Beberapa istilah yang sering digunakan adalah sebagai berikut:


a. Low shrinkage oil dan high shrinkage oil.
Merupakan suatu istilah yang dipakai untuk minyak hasil produksi, dimana
pada low shrinkage oil akan mempunyai kandungan komposisi hidrokarbon
ringan lebih sedikit di bandingkan dengan pada high shrinkage oil.
b. Black oil
Black Oil terdiri dari variasi rantai hidrokarbon termasuk molekul-molekul
yang besar, berat dan tidak mudah menguap (nonvolatile). Diagram fasa-nya
mencakup rentang temperatur yang luas. Diagram fasa dari black oil secara
umum ditunjukkan pada grafik 1.13. Garis pada lengkungan fasa mewakili
volume cairan yang konstan, diukur sebagai persentase dari volume total.
Garis-garis ini disebut iso-vol atau garis kualitas. Garis vertikal 1-2-3
menandakan penurunan tekanan pada temperatur konstan yang terjadi di
reservoir selama produksi. Tekanan dan temperatur separator yang terletak

42
43

di permukaan juga ditandai. Ketika tekanan reservoir berada pada garis 1-2,
minyak dikatakan dalam keadaan tak jenuh (undersaturated) karena minyak
dapat melarutkan banyak gas pada kondisi ini. Jika tekanan reservoir berada
pada titik - 2, minyak berada pada titik gelembungnya dan dikatakan dalam
keadaan jenuh (saturated).
Minyak mengandung sebanyak mungkin larutan gas yang dapat
dikandungnya. Penurunan tekanan akan membebaskan sebagian gas terlarut
untuk membentuk fasa gas bebas dalam reservoir. Saat tekanan reservoir
menurun mengikuti garis 2-3, gas tambahan mengembang di dalam
reservoir. Volume gas dalam persentase adalah seratus dikurangi persentase
cairan. Sebenarnya minyak dalam keadaan jenuh di sepanjang garis 2-3.
Titik gelembung (titik - 2) merupakan kasus istimewa dari saturasi dimana
muncul gelembung gas untuk pertama kali.

43
44

Grafik 1.13. Diagram Fasa dari Black Oil

Gas tambahan yang mengembang dari minyak bergerak dari reservoir ke


permukaan. Hal ini menyebabkan penyusutan pada minyak. Walaupun
demikian, kondisi separator yang berada pada lengkungan fasa menunjukkan
bahwa jumlah cairan yang relatif cukup besar sampai di permukaan. Apabila
diproduksikan maka minyak berat ini biasanya menghasilkan gas oil ratio
permukaan sebesar 500 scf/stb dengan gravity 30oAPI atau lebih. Cairan
produksi biasanya berwarna hitam dan lebih pekat lagi.

c. Volatil oil
Volatile oil mengandung relatif lebih sedikit molekul-molekul berat dan
lebih banyak intermediates (yaitu etana sampai heksana) dibanding black oil.
Diagram fasa dari volatile oil secara umum ditunjukkan pada grafik 1.14..

44
45

Grafik 1.14. Diagram Fasa dari Volatile Oil

Rentang harga temperatur yang tercakup lebih kecil daripada black oil.
Temperatur kritik-nya jauh lebih kecil daripada black oil, bahkan mendekati
temperatur reservoir. Iso-vol-nya juga tidak seragam jaraknya, tetapi
cenderung melengkung ke atas di depan garis titik gelembung. Garis vertikal
menunjukkan jalur penurunan tekanan pada temperatur konstan selama
produksi. Harap diperhatikan bahwa penurunan yang kecil pada tekanan di
bawah titik gelembung, titik-2, menyebabkan bebasnya sejumlah besar gas
di reservoir. Suatu volatile oil dapat menjadi gas sebesar 50% di reservoir
pada tekanan hanya beberapa ratus psi di bawah tekanan gelembung. Iso-vol
dengan persentase cairan jauh lebih kecil melintasi kondisi separator. Oleh
karena itu disebut volatile oil (minyak yang mudah menguap). Apabila
diproduksikan maka minyak ringan ini biasanya menghasilkan gas oil ratio
permukaan sebesar kurang lebih 8000 scf/stb dengan gravity sekitar 50oAPI.
Cairan produksi biasanya berwarna gelap.

45
46

1.4.2.2. Reservoir Kondensat


Reservoir kondesat ini sekitar 25 % fluida produksi tetap sebagai cairan di
permukaan. Cairan yang diproduksikan dari campuran hidrokarbon ini disebut gas
kondensat. Gas kondensat mengandung senyawa-senyawa hidrokarbon berat lebih sedikit
daripada senyawa-senyawa ringannya, dan mengandung senyawa-senyawa hidrokarbon
ringan relatif lebih banyak daripada minyak ringan, sehingga temperatur kritik fluidanya
lebih kecil dari temperatur kritik minyak ringan.
Ciri-ciri reservoir gas kondensat, antara lain :
1. Temperatur reservoir lebih besar dari temperatur kritik, tetapi lebih kecil dari
temperatur krikondenterm fluida hidrokarbonnya.
2. Fluida hidrokarbon yang keluar dari separator terdiri atas ± 25 % mol cairan dan ±
75 % mol gas.
3. Cairan hidrokarbon dari separator mempunyai gravity ± 60 0API.
4. GOR produksi dapat mencapai ± 70,000 scf/stb.
5. Warna cairan yang terproduksi adalah terang atau jernih seperti air.

Grafik 1.15. Diagram Fasa dari Gas Kondensat

Berdasarkan Grafik 1.15. di atas dapat dijelaskan bahwa pada titik A’, reservoir
hanya terdiri dari satu fasa dan dengan turunnya tekanan reservoir selama produksi

46
47

berlangsung, terjadi kondensasi retrograde dalam reservoir. Pada titik A (titik embun),
cairan mulai terbentuk dan dengan turunnya tekanan dari titik B ke titik C, jumlah cairan
dalam reservoir bertambah. Pada titik C ini masih terdapat cairan yang bisa terjadi.
Penurunan selanjutnya menyebabkan cairan menguap.

1.4.2.3.Reservoir Gas
Berdasarkan fasa fluidanya, reservoir gas terbagi menjadi reservoir gas kering (dry
gas), reservoir gas basah (wet gas) dan retrograde gas.
1. Reservoir Gas Kering (Dry Gas)
Suatu reservoir gas kering akan mengandung fraksi ringan seperti methana
dan ethana dalam jumlah banyak serta sedikit fraksi yang lebih berat. Jenis diagram
fasa dari reservoir gas kering serta kondisi operasinya dapat ditunjukkan dalam
gambar Gambar 2.56. Pada Gambar 2.56. ditunjukkan bahwa baik kondisi separator
maupun kondisi reservoirnya akan tetap pada daerah fasa tunggal. Untuk reservoir
gas kering ini tidak akan dijumpai adanya hidrokarbon cair akibat adanya proses
penurunan tekanan dan temperatur, baik pada kondisi di permukaan maupun di
reservoir. Istilah kering disini diartikan bebas dari hidrokarbon cair kecuali air for-
masi. Ciri-ciri khas reservoir gas kering adalah :
 Pada kondisi reservoir awal, temperaturnya selalu berada di atas
cricondenterm.
 Gas deviation factor (z) bervariasi antara 0,7 sampai 1,20; harga 1,0
menyatakan gas ideal.
 Sifat-sifat gas kering yang terpenting adalah faktor volume formasi gas,
gravity gas, kekentalan gas dan kompresibilitas gas.
 Gas kering ini berbeda dengan gas basah ataupun gas kondensat, terutama
dalam kandungan komponen cairnya.

47
48

Grafik 1.16. Diagram Fasa Dari Dry Gas

2. Reservoir Gas Basah (Wet Gas)


Secara Normal reservoir gas basah akan mengandung komponen (fraksi)
berat lebih besar dibandingkan reservoir gas kering sehingga akan menghasilkan
diagram fasa yang lebih besar dan menggeser titik kritis pada temperatur yang lebih
tinggi, seperti ditunjukkan pada Gambar 2.57. Dari gambar tersebut terlihat bahwa
fluida yang mengisi reservoir gas basah pada setiap saat akan berbentuk fasa
tunggal. Pada kondisi separator, reservoir gas basah ini akan ditunjukkan oleh
adanya daerah dua fasa dimana cairan yang dihasilkan merupakan hasil kondensasi
yang terjadi di separator.
Perlu diperhatikan bahwa didalam reservoir gas basah tidak akan terjadi
kondensasi retrograde isothermal selama proses penurunan tekanan, cairan yang
terbentuk dalam separator dalam jumlah yang sedikit dan komponen berat yang
terdapat dalam campuran relatif kecil. Dalam reservoir gas basah biasanya
ditunjukkan oleh GOR antara 6000 sampai 10000 cuft/bbl dengan derajat gravity
lebih besar dari 600 API.

48
49

Grafik 1.17. Diagram Fasa Dari Wet Gas

2. Reservoir Retrograde Gas


Diagram fasa untuk retrograde gas lebih kecil daripada untuk minyak dan
titik kritik-nya berada jauh di arah bawah dari lengkungan. Perubahan tersebut
merupakan akibat dari kandungan retrograde gas yang terdiri dari lebih sedikit
hidrokarbon berat daripada minyak. Diagram fasa dari retrograde gas memiliki
temperatur kritik lebih kecil dari temperatur reservoir dan cricondentherm lebih
besar daripada temperatur reservoir.

Grafik 1.18. Diagram Fasa dari Retrograde Gas

49
50

Seperti terlihat pada Grafik 1.18., awalnya retrograde gas merupakan fasa gas di
reservoir, titik - 1. Bersamaan dengan menurunnya tekanan reservoir, retrograde gas
memberikan titik embun, titik-2. Dengan menurunnya tekanan, cairan mengembun
dari gas untuk membentuk cairan bebas di reservoir. Cairan ini sebagian tidak
mengalir dan tidak dapat diproduksi. Jalur tekanan reservoir pada diagram fasa
(Grafik 1.18.) menunjukkan bahwa pada beberapa tekanan yang rendah cairan mulai
mengembun. Hal ini terjadi di laboratorium; walaupun demikian, ada kemungkinan
hal ini tidak terjadi secara luas di reservoir karena selama produksi keseluruhan
komposisi dari fluida reservoir berubah.

1.4.3. Berdasarkan Mekanisme Pendorong


Mekanisme pendorong adalah tenaga yang dimiliki oleh reservoir secara alamiah
yang digunakan untuk mendorong minyak selama produksi ke permukaan. Proses
pendorongan akan terjadi bila energi produksinya lebih besar dari seluruh energi yang
hilang selama aliran fluida reservoir menuju lubang bor.
Sumber energi alamiah yang digunakan untuk memindahkan minyak dan gas dari
reservoir ke lubang sumur meliputi energi gravitasi minyak yang bekerja jarak vertikal dari
kolom produktifnya, energi penekanan akibat dari pembebasan gas yang terlarut dalam
minyak atau air, energi sebagai akibat kompresi dari minyak dan air dalam daerah produksi

50
51

dari reservoirnya, energi kompresi air yang berada di sekeliling zona produksi, energi yang
berasal dari pengaruh tekanan kapiler serta energi yang berasal dari kompresi batuannya
sendiri. Berdasarkan pengaruh yang paling dominan dari setiap sumber energi diatas, maka
mekanisme pendorong reservoir yang utama adalah water drive, gas cap drive, solution gas
drive, segregation drive, dan combination drive.

1.4.3.1.Water Drive Reservoir


Untuk reservoir jenis water drive ini, energi pendesakan yang mendorong minyak
untuk mengalir adalah berasal dari air yang terperangkap bersama-sama dengan minyak
pada batuan reservoirnya.
Apabila dilihat dari terbentuknya batuan reservoir water drive, maka air merupakan
fluida pertama yang menempati pori-pori reservoir. Tetapi dengan adanya migrasi minyak
bumi maka air yang berada disana tersingkir dan digantikan oleh minyak. Dengan demikian
karena volume minyak ini terbatas, maka bila dibandingkan dengan volume air yang
merupakan fluida pendesaknya akan jauh lebih kecil (Gambar 1.6.).
Gas oil ratio untuk reservoir jenis ini relatif lebih konstan jika dibandingkan dengan
reservoir jenis lainnya. Hal ini disebabkan karena tekanan reservoir relatif akan konstan
karena dikontrol terus oleh pendesakan air yang hampir tidak mengalami penurunan.
Ditinjau dari cara pendesakannya Water Drive ini dibedakan menjadi 3 macam,
yaitu :
 Edge Water Drive, dimana pendesakan air sejajar dengan bidang perlapisan.
 Bottom Water Drive, dimana arah gerakan bidang batas dari air-minyak memotong
arah bidang perlapisannya, dan tebal lapisan yang mengandung minyak relatif lebih
kecil dibandingkan dengan aquifernya. Untuk jenis bottom water drive
pendesakannya oleh air dari bawah zona minyak.
 Kombinasi Edge Water Drive dengan Bottom Drive

51
52

Gambar 1.6. Water Drive Reservoir

Produksi air pada awal produksi sedikit, tetapi apabila permukaan air telah
mencapai lubang bor maka mulai mengalami kenaikan produksi yang semakin lama
semakin besar secara kontinyu sampai sumur tersebut di tinggalkan karena produksi
minyaknya tidak ekonomis lagi (Grafik 1.19.).
Untuk reservoir dengan jenis pendesakan water drive maka bagian minyak yang
terproduksi akan lebih besar jika dibandingkan dengan jenis pendesakan lainnya, yaitu
antara 35 - 75% dari volume minyak yang ada. Sehingga minyak sisa (residual oil) yang
masih tertinggal didalam reservoir akan lebih sedikit.
Dapat disimpulkan suatu reservoir dengan tenaga pendorong air ini mempunyai
kelakuan seperti dibawah ini :
 Penurunan tekanan reservoir terlihat agak lambat.
 GOR rendah dan relatif konstan
 WOR naik dengan cepat dan kontinyu
 Recovery-nya cukup tinggi yaitu sekitar 35 - 75%

52
53

Grafik1.19. Karakteristik Tekanan, PI, dan GOR


Pada Water Drive Reservoir

1.4.3.2.Gas Cap Drive Reservoir


Dalam beberapa tempat dimana terakumulasinya minyak bumi, kadang-kadang pada
kondisi reservoirnya komponen-komponen ringan dan menengah dari minyak bumi
tersebut membentuk suatu fasa gas. Gas bebas ini kemudian melepaskan diri dari
minyaknya dan menempati bagian atas dari reservoir itu membentuk suatu tudung. Hal ini
bisa merupakan suatu energi pendesak untuk mendorong minyak bumi dari reservoir ke
lubang sumur dan mengangkatnya ke permukaan. Bila reservoir ini dikelilingi suatu batuan
yang merupakan perangkap, maka energi ilmiah yang menggerakkan minyak ini berasal
dari dua sumber, yaitu ekspansi gas cap dan ekspansi gas yang terlarut lalu melepaskan diri.
Mekanisme yang terjadi pada gas cap reservoir ini adalah minyak pertama kali
diproduksikan, permukaan antara minyak dan gas akan turun, gas cap akan berkembang ke
bawah selama produksi berlangsung. Untuk jenis reservoir ini, umumnya tekanan reservoir
akan lebih konstan jika dibandingkan dengan solution gas drive. Hal ini disebabkan bila
volume gas cap drive telah demikian besar, maka tekanan minyak akan jadi berkurang dan
gas yang terlarut dalam minyak akan melepaskan diri menuju ke gas cap, dengan demikian
minyak akan bertambah ringan, encer, dan mudah untuk mengalir menuju lubang bor
(Gambar1.7.).

53
54

Kenaikan gas oil ratio juga sejalan dengan pergerakan permukaan ke bawah, air
hampir-hampir tidak diproduksikan sama sekali. Karena tekanan reservoir relatip kecil
penurunannya, juga minyak berada di dalam reservoirnya akan terus semakin ringan dan
mengalir dengan baik, maka untuk reservoir jenis ini akan mempunyai umur dan recovery
sekitar 20 - 40 %, yang lebih besar jika dibandingkan dengan jenis solution gas drive.
Sehingga residu oil yang masih tertinggal di dalam reservoir ketika lapangan ini ditutup
adalah lebih kecil jika dibandingkan dengan jenis solution gas drive (Grafik 1.20.).
Dapat disimpulkan suatu reservoir dengan tenaga pendorong gas ini mempunyai
kelakuan seperti dibawah ini :
 Tekanan reservoir akan turun dengan lambat dan berlangsung secara kontinyu
 GOR akan meningkat terus
 Produksi air diabaikan
 Perolehan minyak dapat mencapai 20 - 40 % dari total cadangan awal dalam
reservoir (initial oil in place).

Gambar 1.7.Gas Cap Drive Reservoir

Grafik1.20. Karakteristik Tekanan, PI, dan GOR

54
55

Pada Gas Cap Drive Reservoir

1.4.3.3.Solution Gas Drive Reservoir


Reservoir jenis ini disebut solution gas drive, depletion gas drive, atau internal gas
drive, disebabkan oleh karena energi pendesak minyaknya adalah terutama dari perubahan
fasa pada hidrokarbon-hidrokarbon ringannya yang semula merupakan fasa cair menjadi
gas. Kemudian gas yang terbentuk ini ikut mendesak minyak ke sumur produksinya pada
saat penurunan tekanan reservoir karena produksi tersebut (Gambar 1.8.).
Setelah sumur selesai dibor menembus reservoir dan produksi minyak dimulai,
maka akan terjadi suatu penurunan tekanan di sekitar lubang bor. Penurunan tekanan ini
akan menyebabkan fluida mengalir dari reservoir menuju lubang bor melalui pori-pori
batuan. Penurunan tekanan disekitar sumur bor akan menimbulkan terjadinya fasa gas.
Pada saat awal, karena saturasi gas tersebut masih kecil (belum membentuk fasa yang
kontinyu), maka gas tersebut terperangkap pada ruang antar butiran reservoirnya, tetapi
setelah tekanan reservoir tersebut cukup kecil dan gas sudah terbentuk banyak atau dapat
bergerak maka gas tersebut turut serta terproduksi ke permukaan (Gambar 1.8.).
Gas akan mengalir lebih cepat dibandingkan dengan minyak karena gas mempunyai
viskositas yang lebih kecil, lebih ringan darn umumnya tidak mempunyai kebasahan gas
pada batuarn reservoirnya. Bila gas mulai mengalir, maka penurunan tekanan akan cepat
dan gas yang terbentuk juga akan semakin banyak. Hal ini mengakibatkan gas oil ratio

55
56

(GOR) naik sampai pada suatu tekanan tertentu dimana minyak dan gas sudah tidak
mengalir lagi.

Gambar 1.8. Solution Gas Drive Reservoir

56
57

Grafik 1.21. Karakteristik Tekanan, PI, dan GOR Pada Solution Gas Drive Reservoir

Pada awal produksi, karena gas yang dibebaskan dari minyak masih terperangkap
pada sela-sela pori batuan, maka gas oil ratio produksi akan lebih kecil jika dibandingkan
dengan gas oil ratio reservoir. Gas oil ratio produksi akan bertambah besar bila gas pada
saluran pori-pori tersebut mulai bisa mengalir, hal ini terus-menerus berlangsung hingga
tekanan reservoir menjadi rendah. Bila tekanan telah cukup rendah maka gas oil ratio akan
menjadi berkurang sebab volume gas di dalam reservoir tinggal sedikit. Dalam hal ini gas
oil produksi dan gas oil ratio reservoir harganya hampir sama. Pada Grafik 1.21.
memperlihatkan karakteristik tekanan dan GOP pada reservoir depletion drive.
Air yang diproduksikan dari reservoir ini sangat sedikit bahkan hampir-hampir tidak
ada. Hal ini karena reservoir jenis ini sifatnya terisolir, sehingga meskipun terdapat connate
water tetapi hampir-hampir tidak dapat diproduksi atau ikut terproduksi bersama minyak.
Recovery yang mungkin diperoleh sekitar 5 - 30 %. Dengan demikian untuk
reservoir jenis ini pada tahap teknik produksi primernya akan meninggalkan residual oil
yang cukup besar. Sehingga bila sisa minyak ini akan diproduksikan juga, maka perlu
dipergunakan suatu energi tertentu ke dalam suatu reservoir untuk mempengaruhi tekanan
atau sifat fisik sistem fluida reservoirnya, sehingga dengan demikian diharapkan sisa
minyak yang tertinggi dapat diperkecil.
Dapat disimpulkan suatu reservoir solution gas drive mempunyai kelakuan seperti
dibawah ini :
 Tekanan reservoir turun dengan cepat dan berlangsung secara kontinyu.

57
58

 Perbandingan gas-minyak (GOR) mula-mula cukup rendah, kemudian naik sampai


maksimum dan turun dengan tajam.
 Efisiensi perolehan minyak berkisar 5 - 30 %
 Produksi air dianggap tidak ada.

1.4.3.4.Segregation Drive Reservoir


Segregation drive reservoir atau gravity drainage merupakan energi pendorong
minyak bumi yang berasal dari kecenderungan gas, minyak, dan air membuat suatu
keadaan yang sesuai dengan massa jenisnya (karena gaya gravitasi).
Gravity drainage mempunyai peranan yang penting dalam memproduksi minyak
dari suatu reservoir. Sebagai contoh bila kondisinya cocok, maka recovery dari solution gas
drive reservoir bisa ditingkatkan dengan adanya gravity drainage ini. Demikian pula dengan
reservoir-reservoir yang mempunyai energi pendorong lainnya.
Seandainya dalam reservoir itu terdapat tudung gas primer (primary gas cap) maka
tudung gas ini akan mengembang sebagai proses gravity drainage tersebut. Reservoir yang
tidak mempunyai tudung gas primer segera akan mengadakan penentuan tudung gas
sekunder (secondary gas cap).
Pada awal dari reservoir ini, gas oil ratio dari sumur-sumur yang terletak pada
struktur yang lebih tinggi akan cepat meningkat sehingga diperlukan suatu program
penutupan sumur-sumur tersebut. Diharapkan dengan adanya program ini perolehannya
minyaknya dapat mencapai maksimum.
Besarnya gravity drainage dipengaruhi oleh gravity minyak, permeabilitas zona
produktif, dan juga dari kemiringan dari formasinya. Faktor-faktor kombinasi seperti
misalnya, viskositas rendah, specific gravity rendah, mengalir pada atau sepanjang zona
dengan permeabilitas tinggi dengan kemiringan lapisan cukup curam, ini semuanya akan
menyebabkan perbesaran dalam pergerakan minyak dalam struktur lapisannya (Gambar
1.9.).

58
59

Gambar 1.9.Gravitational Segregation Drive Reservoir

Dalam reservoir gravity drainage perembesan airnya kecil atau hampir tidak ada
produksi air. Laju penurunan tekanan tergantung pada jumlah gas yang ada. Jika produksi
semata-mata hanya karena gas gravitasi, maka penurunan tekanan dengan berjalannya
produksi akan cepat. Hal ini disebabkan karena gas yang terbebaskan dari larutannya
terproduksi pada sumur struktur sehingga tekanan cepat akan habis.
Recovery yang mungkin diperoleh dari jenis reservoir gravity drainage ini sangat
bervariasi. Bila gravity drainage baik, atau bila laju produksi dibatasi untuk mendapatkan
keuntungan maksimal dari gaya gravity drainage ini maka recovery yang didapat akan
tinggi. Pernah tercatat bahwa recovery dari gravity drainage ini melebihi 80% dari
cadangan awal (IOIP). Pada reservoir dimana bekerja juga solution gas drive ternyata
recovery-nya menjadi lebih kecil (Grafik 1.22.).
Dapat disimpulkan suatu reservoir jenis ini mempunyai kelakuan :
 Penurunan tekanan relatif cepat
 GOR naik dengan cepat hingga maksimum kemudian turun secara kontinyu
 Produksi air sangat kecil bahkan diabaikan
 Recovery sekitar 20 - 60 %

59
60

Grafik 1.22. Karakteristik Tekanan, PI, dan GOR PadaGravitational Segregation Drive
Reservoir

1.4.3.5.Combination Drive Reservoir


Sebelumnya telah dijelaskan bahwa reservoir minyak dapat dibagi dalam beberapa
jenis sesuai dengan jenis energi pendorongnya. Tidak jarang dalam keadaan sebenarnya
energi-energi pendorong ini bekerja bersamaan dan simultan. Bila demikian, maka energi
pendorong yang bekerja pada reservoir itu merupakan kombinasi beberapa energi
pendorong, sehingga dikenal dengan nama combination drive reservoir.
Kombinasi yang umum dijumpai adalah antara gas cap drive dengan water drive.
Sehingga sifat-sifat reservoirnya jadi lebih kompleks jika dibandingkan dengan energi
pendorong tunggal (Gambar 1.10.).
Untuk reservoir minyak jenis ini, maka gas yang terdapat pada gas cap akan
mendesak kedalam formasi minyak, demikian pula dengan air yang berada pada bagian
bawah dari reservoir tersebut. Pada saat produksi minyak tidak sempat berubah fasa
menjadi gas sebab tekanan reservoir masih cukup tinggi karena dikontrol oleh tekanan gas
dari atas dan air dari bawah. Dengan demikian peristiwa depletion untuk reservoir jenis ini
dikatakan tidak ada, sehingga minyak yang masih tersisa di dalam reservoir semakin kecil
karena recovery minyaknya tinggi dan efesiensi produksinya lebih tinggi.
Gambar 1.23. merupakan salah satu contoh kelakuan dari combination drive dengan
water drive yang lemah dan tidak ada tudung gas pada reservoirnya. Gas oil ratio yang

60
61

konstan pada awal produksi dimungkinkan bahwa tekanan reservoir masih di atas tekanan
jenuh. Di bawah tekanan jenuh, gas akan bebas sehingga gas oil ratio akan naik.
Dapat disimpulkan suatu reservoir jenis ini mempunyai kelakuan seperti dibawah
ini :
 Penurunan tekanan relatif cukup cepat
 WOR akan naik secara perlahan
 Jika ada gas cap maka sumur-sumur yang terletak di struktur atas dari reservoir
tersebut akan mengalami peningkatan GOR dengan cepat.
 Faktor perolehan dari combination drive adalah lebih besar dibandingkan dengan
solution gas drive tetapi lebih kecil jika dibandingkan dengan gas cap dan water
drive.

Gambar 1.10. Combination Drive Reservoir

61
62

Grafik 1.23. Karakteristik Tekanan, PI, WOR, dan GOR Pada


Combination Drive Reservoir

1.5. Penentuan Cadangan


Cadangan adalah kuantitas (jumlah volume) minyak dan gas yang dapat diperoleh
atau diproduksikan secara komersial. Cadangan dapat ditindak lanjuti untuk dihitung
apabila telah memenuhi beberapa kriteria, antara lain adalah :
1. Telah diketemukan (discovered)
2. Dapat diambil (recoverable)
3. Memenuhi syarat komersialitas (commercial)
4. Adanya sejumlah volume yang tersisa (remaining).

Apabila telah terjadi produksi, maka cadangan terbukti sering disebut “estimed
remaining reserves” atau cadangan terbukti yang tertinggal. Jumlah produksi dan cadangan
terbukti yang tertinggal disebut “estimated ultimate recovery” atau cadangan ultimate,
sedangkan jumlah total minyak didalam reservoir disebut sebagai “Initial Oil In Place”
(IOIP), hanya sebagian IOIP yang bisa diproduksikan sehingga menjadi cadangan terbukti.

62
63

EUR = CUM + ERR


dimana :
EUR : Estimed Ultimate Recovery atau cadangan ultimate
CUM : Cummulatif Production
ERR : Estimated Remaining Reserves atau cadangan terbukti tertinggal
IOIP = N : Initial Oil In Place atau Jumlah minyak didalam reservoir dan bukan
jumlah yang dapat diproduksikan
RF : Recovery Factor adalah presentase dari IOIP yang dapat
diproduksikan (RF = Cadangan Terbukti/IOIP)

Sebelum memasuki pokok materi yang akan dibahas, untuk lebih memudahkan
dalam pemahamannya, maka perlu mengetahui beberapa istilah yang sering digunakan
dalam menentukan cadangan atau pada umumnya dipakai dalam Teknik Reservoir. Istilah
tersebut meliputi pengertian cadangan, remaining recoverable reserve, serta recovery factor.
 Cadangan atau reserve, merupakan jumlah hidrokarbon yangditemukan dalam
batuan reservoir dan hidrokarbon yang diproduksikan. Jumlah minyak yang dapat
diproduksi sampai batas ekonominya disebut Ultimate Recovery. Jumlah minyak
yang ada dalam reservoir pada keadaan awal sebelum reservoir tersebut diproduksi
disebut Original Oil In Place (OOIP).
 Remaining Recoverable Reserve, yaitu jumlah hidrokarbonyang tersisa, yang masih
memungkinkan untuk dapat diproduksikan sampai batas ekonominya.
 Recovery Factor, merupakan angka perbandingan antarahidrokarbon yang dapat
diproduksikan dengan jumlah minyak mula-mula dalam reservoir. Recovery factor
dipengaruhi oleh mekanisme pendorong, sifat fisik batuan dan fluida reservoir
tersebut.

Pada bagian ini akan dibahas dua hal pokok yang berhubungan dengan cadangan,
yaitu metode yang digunakan untuk memperkirakan besarnya cadangan. Berdasarkan pada

63
64

urutan proses eksplorasi reservoir dan untuk memudahkan pemahaman, metode yang dapat
digunakan dalam perhitungan cadangan reservoir adalah sebagai berikut:
 Metode Volumetrik
 Metode Material Balance
 Metode Decline Curve

1.5.1. Metode Volumetrik


Perkiraan cadangan hidrokarbon dengan menggunakan metoda volumetrik
merupakan salah satu metoda yang paling sederhana, dimana dilakukan sebelum tahap
pengembangan dan data-data yang dibutuhkan juga belum banyak, hanya data-data geologi
serta sebagian data-data batuan dan fluida reservoir.
Persamaan untuk menghitung initial oil in place adalah :

………………………………………..(1-45)
Sedangkan untuk initial gas in place adalah :

………………………….(1-46)

Dengan melihat persamaan di atas, maka data-data yang dibutuhkan untuk


melakukan perkiraan cadangan adalah Vb, ϕ, Swi, Boi, dan Bgi. Data sifat-sifat fisik batuan
dan fluida reservoir diperoleh dari hasil laboratorium, sedangkan untuk menentukan Vb
diperlukan data-data geologi yang representatif.
Untuk menghitung bulk volume, harus dibuat peta isopach terlebih dahulu. Peta
isopach yaitu suatu peta yang menggambarkan garis-garis yang menghubungkan titik-titik
yang mempunyai ketebalan yang sama dari lapisan produktif, seperti pada

64
65

Gambar 1.11.Peta Isopach Reservoir

Perhitungan volume batuan reservoir dengan menggunakan peta isopach dibedakan


menjadi dua persamaan, yaitu :
 Persamaan pyramidal.
 Persamaan trapezoidal.

a. Metoda Trapezoidal
Persyaratan utama dalam melakukan perhitungan dengan metoda ini adalah
perbandingan antara luas garis kontur yang berurutan harus lebih besar dari 0.5.
Secara matematik, persamaannya dapat ditulis sebagai berikut :
h
Vb = 2 (An + An+1) ………………………………..(1-47)

(Vb = volume batuan, acre-ft; An = luas yang dibatasi garis kontur isopach terendah,
acre; An+1 = luas yang dibatasi garis kontur isopach diatasnya, acre; h = interval
antara garis kontur isopach, ft).

65
66

b. Metoda Pyramidal
Persyaratan utama metoda ini adalah perbandingan antara luas garis kontur
yang berurutan harus kurang atau sama dengan 0.5. Persamaannya adalah :

Vb = 3 (An + An+1 + √𝐴𝑛 + 𝐴𝑛+1) ………………………..(1-48)

1.5.2. Metoda Material Balance


Metoda material balance dapat digunakan untuk memperkirakan besar cadangan
reservoir, dimana data-data produksi yang diperoleh sudah cukup banyak. Prinsip dari
metoda material balance ini didasarkan pada prinsip kesetimbangan volumetrik yang
menyatakan bahwa, apabila volume suatu reservoir konstan, maka jumlah aljabar dari
perubahan-perubahan volume minyak, gas bebas dan air dalam reservoir harus sama
dengan nol.
Persamaan umum material balance untuk menghitung cadangan adalah sebagai
berikut:
𝑁𝑝 +[𝐵𝑡 +(𝑅𝑝 − 𝑅𝑠𝑖 )]−(𝑊𝑒 − 𝑊𝑝 𝐵𝑤 )
N= 𝑚𝐵𝑡𝑖 ………………………..(1-49)
𝐵𝑡 − 𝐵𝑡𝑖 + (𝐵𝑔 − 𝐵𝑔𝑖 )
𝐵𝑔𝑖

(Np = kumulatif produksi; B = faktor volume formasi; Rp = gas oil ratio, SCF/STB; Rsi =
kelarutan gas dalam minyak pada tekanan awal, SCF/STB; We = water influx; WpBw =
produksi air; subscript: t = total, i = pada tekanan awal).
Persamaan umum material balance tersebut diatas, akan berubah tergantung dari
jenis mekanisme pendorong dari reservoirnya, dengan ketentuan sebagai berikut:
 Solution Gas Drive reservoir, m = 0, Wp = 0, We = 0.
 Water Drive reservoir, m = 0.
 Gas Cap Drive reservoir, We = 0.
 Combination Drive reservoir berlaku persamaan umum.

66
67

1.5.3. Metode Decline Curve


Secara alamiah, laju produksi akan mengalami penurunan sejalan dengan waktu.
Decline curve merupakan suatu metoda yang menggambarkan penurunan kondisi reservoir
dan produksinya terhadap waktu. Pada prinsipnya, metoda decline curve adalah membuat
grafik hubungan antara laju produksi terhadap waktu atau laju produksi terhadap produksi
kumulatif, seperti yang terlihat pada gmbar dibawah ini.

Grafik 1.24. Kurva Umum Decline Curve

Bentuk kurva penurunan laju produksi dapat dibagi menjadi tiga, yaitu :
 Exponential decline,
 Hyperbolic decline dan
 Harmonic decline.

a. Exponential Decline Curve


Bentuk decline curve ini mempunyai harga laju penurunan produksi per
satuan waktu sebanding dengan laju produksinya. Persamaan dasar dari exponential
decline curve adalah sebagai berikut:
𝑞
𝑑( )
𝑑𝑞/𝑑𝑡
-b = ………………………………………..(1-50)
𝑑𝑡

Integrasikan persamaan di atas, maka diperoleh:

𝑞
- (bt + a) = 𝑑𝑞/𝑑𝑡 ………………………………………..(1-51)

67
68

(a = decline rate; b = konstanta yang merupakan selisih antara decline rate pada
selang periode).
Untuk exponential decline, besarnya penurunan (decline rate) adalah konstan,
sehingga harga b = 0, dan persamaan diatas menjadi:
𝑞
- a = 𝑑𝑞/𝑑𝑡 ………………………………………..(1-52)

Dengan mengintegrasikan persamaan tersebut, dimana qi adalah laju produksi mula-


mula dan qt adalah laju produksi pada saat t, maka secara matematik dapat dibuat
hubungan sebagai berikut:
………………………………………………………….
qt = qie-t/a (1-53)

Harga Np (produksi kumulatif) diperoleh dengan menggunakan persamaan berikut:


𝑡
Np = ∫0 𝑞𝑡 𝑑𝑡 ………………………………………..(1-54)

Dengan mensubstitusikan Persamaan (1-53) ke dalam Persamaan(1-54)diperoleh


persamaan berikut:
Np = a(qi – qt) ………………………………………..(1-55)

b. Hyperbolic Decline Curve


Besarnya laju penurunan (decline rate) pada hyperbolic decline tidak
konstan, melainkan selalu berubah, dimana besarnya laju penurunan akan
menunjukkan suatu deret hitung dan harga b akan berkisar antara 0 (nol) hingga 1
(satu). Dengan cara yang sama dengan eksponential decline curve, persamaan
produksi kumulatif adalah:
𝑞𝑏𝑎
𝑖
Np = 1−𝑏 (𝑞𝑖 1−𝑏 − 𝑞𝑡1−𝑏 ) ………………………………..(1-56)

68
69

c. Harmonic Decline Curve


Pada harmonic decline, penurunan laju produksi per satuan waktu
berbanding lurus terhadap laju produksinya. Bentuk kurva harmonic decline
merupakan bentuk khusus dari hyperbolic decline, yaitu untuk harga b = 1. Jadi
persamaan laju produksi kumulatifnya adalah sebagai berikut:
𝑞
Np = aqi ln 𝑞𝑖 ……………………………………….(1-57)
𝑡

1.5.4. Simulasi Reservoir


Pengertian kata simulasi adalah proses pemanfaatan model buatan yang dibuat
untuk mewakili karakteristik reservoir, dengan tujuan untuk mempelajari, mengetahui
ataupun memperkirakan kelakuan dan kinerja aliran fluida pada reservoir tersebut. Terdapat
beberapa macam metode yang dapat digunakan dalam pembuatan tiruan sistem tersebut,
yang biasa disebut sebagai model. Jenis model yang dapat digunakan pada simulasi adalah
model analog, model fisik, dan model matematik.
Secara umum simulasi reservoir digunakan sebagai acuan dalam perencanaan
manajemen reservoir, antara lain sebagai berikut:
 Memperkirakan kinerja reservoir pada berbagai tahapan dan metode produksi yang
diterapkan:
- Sembur alam
- Pressure maintenance
- Reservoir energy maintenance (secondary recovery)
- Enhanced oil recovery (EOR)
 Mempelajari pengaruh laju alir terhadap perolehan minyak dengan menentukan laju
alir maksimum (maximum efficient rate, MER).
 Menentukan jumlah dan lokasi sumur untuk mendapatkan perolehan minyak yang
optimum.
 Menentukan pola sumur injeksi dan produksi untuk mengoptimalkan pola
penyapuan.

69
70

 Memperhitungkan adanya indikasi coning dalam menentukan interval komplesi


yang optimum serta pemilihan jenis sumur, vertikal, atau horizontal.

- Jenis Simulasi
Jenis simulasi secara garis besar dibedakan menjadi 3, antara lain:
 Black Oil Simulation
Black oil simulation digunakan untuk kondisi isothermal, aliran simultan
dari minyak, gas, dan air yang berhubungan dengan viskositas, gaya gravitasi dan
gaya kapiler. Komposisi fasa dianggap konstan walau kelarutan gas dalam minyak
dan air ikut diperhitungkan. Hasil studi ini biasanya digunakan untuk studi injeksi
air dan juga untuk peramalan.
 Thermal Simulasi
Simulasi jenis ini digunakan untuk studi aliran fluida, perpindahan panas
maupun reaksi kimia. Biasanya digunakan untuk studi injeksi uap panas dan pada
proses perolehan minyak tahap lanjut (in situ combution).
 Compotional Simulasi
Simulasi reservoir ini digunakan untuk berbagai komposisi fasa hidrokarbon
yang berubah terhadap tekanan. Biasanya simulasi ini digunakan untuk studi
perilaku reservoir yang berisi volatile oil dan gas condensat.

- Tahapan Simulasi

 Persiapan Data
Persiapan data bertujuan untuk mendapatkan data yang valid dan sesuai kebutuhan
didasarkan pada tujuan dan prioritas simulasi. Data yang digunakan dalam proses simulasi
dapat dibedakan menjadi dua kategori pokok, yaitu:
1. Data Statis
Data jenis ini merupakan data yang sifatnya tetap, dimana data tersebut tidak
mengalami perubahan selama proses simulasi dijalankan.

70
71

2. Data Dinamis
Data jenis ini merupakan data yang akan mengalami perubahan pada setiap timestep
yang telah ditentukan, selama proses simulasi dijalankan. Untuk data jenis ini, yang
digunakan adalah data pada kondisi awal simulasi akan dijalankan. Selain itu juga
digunakan data penyeimbang untuk menjaga harga suatu data dinamis tetap pada range
yang telah ditentukan.

- Perencanaan Model Simulasi

Perencanaan suatu model reservoir dilakukan secara sistematik atau berurutan, yang
disertai dengan analisa terhadap parameter-parameter terkait. Sehingga didapatkan model
yang representatif untuk mensimulasikan reservoir sesuai dengan tujuan dan prioritas
simulasi.
Pemilihan model dipengaruhi oleh beberapa parameter teknis, antara lain adalah jenis
reservoir, geometri dan dimensi reservoir, data yang tersedia, serta tahapan proses recovery
yang akan dimodelkan. Selain itu, pemilihan model juga mempertimbangkan sumber daya
manusia, kemampuan teknologi (komputer) serta pertimbangan besarnya investasi biaya
yang digunakan.
1. Jenis Model
Berdasarkan pendekatan studinya, model yang digunakan pada simulasi dapat
dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu:
 Model Actual
Merupakan model yang merepresentasikan deskripsi geologi dan karakteristik
reservoir secara lengkap. Model jenis ini biasanya digunakan untuk penanganan suatu
lapangan, baik yang bersifat khusus, seperti halnya penanganan suatu masalah produksi,
maupun dalam cakupan yang lebih luas, seperti untuk memperkirakan recovery serta
parameter manajemen reservoir yang lain. Pada model actual, tersedianya data produksi
memungkinkan untuk memvalidasi model sehingga akan meningkatkan akurasi hasil
simulasi.
 Model Konseptual

71
72

Merupakan model sederhana, dengan karakteristik yang cenderung seragam. Data


yang digunakan pada model ini biasanya merupakan data hipotesis. Model jenis ini
digunakan untuk studi sederhana yang sifatnya umum, seperti halnya studi sensitivitas
perubahan berbagai parameter terhadap kinerja. Model konseptual tidak memerlukan suatu
validasi yang detail, karena model tersebut dibuat dengan asumsi-asumsi yang bersifat
umum dan disesuaikan dengan tujuan simulasi.

- Pertimbangan Pemilihan Model


Hal – hal yang dapat dipertimbangkan dalam pemilihan model jenis dan dimensi
model antara lain adalah sebagai berikut:
 Pemilihan model harus disesuai dengan tujuan simulasi, tingkat akurasi hasil yang
diharapkan, cakupan studi yang akan dilakukan, serta ketersediaan data.
 Dimensi model yang digunakan harus dapat mengakomodasi variasi karakteristik
reservoir yang akan dimodelkan.
o Untuk mensimulasikan pengaruh sekitar lubang sumur, maka model yang
digunakan adalah model 1-D atau 2-D radial.
o Pada reservoir yang tipis dan heterogenitas hanya terjadi pada arah horizontal,
model 2-D sudah dapat digunakan untuk mewakili.
 Pada reservoir tebal dan karakteristiknya heterogen secara vertical dan horizontal,
hanya model 3-D yang dapat digunakan untuk mendapatkan model yang
representatif.

- Validasi Data

Tingkat validitas model menggambarkan kemampuan model serta data data yang
dimasukkan mewakili kinerja dan kelakuan reservoir. Validasi model dimaksudkan untuk
menyamakan model dengan reservoir yang dimodelkan. Proses validasi Mode yaitu:
1. Inisialisasi Data
Merupakan proses analisa model untuk memastikan konstruksi model dan
pemasukan data – data sudah dilakukan secara benar. Validitas pemasukan data

72
73

dilakukan dengan memeriksa parameter reservoir pada kondisi mula – mula (initial
condition), yaitu kondisi sebelum simulasi dilakukan.
2. Ekuilibrasi Data
Merupakan proses pemeriksaan kesetimbangan dan kestabilan model. Hal ini
mengacu pada prinsip kesetimbangan massa, yang menyatakan bahwa kondisi sistem
akan selalu dalam keadaan setimbang tanpa adanya perpindahan atau perubahan
massa dalam sistem tersebut.
3. History Matching
Merupakan proses perubahan parameter model dan data reservoir yang
digunakan dalam konstruksi, agar tercipta kesesuaian antara model dengan kondisi
nyata, yang didasarkan pada data-data terukur selama periode waktu. tertentu. Proses
history matching akan menghasilkan model yang lebih valid, yang dapat
meminimalkan perbedaan antara performance reservoir yang sebenarnya.

- Analisis Data Keluaran

Tahapan terakhir dari keseluruhan proses simulasi adalah menganalisa data keluaran
simulasi. Tingkat keakuratan data keluaran simulasi sangat tergantung dari keseluruhan
tahapan yang telah dilakukan pada proses simulasi, terutama validitas model.

73
74

74