Anda di halaman 1dari 6

BBA

ABB II
P
PEEN
NDDA
AHHU
ULLU
UAAN
N

1.1 Latar Belakang

Sebagaimana dijelaskan dalam Undang-undang No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan


Ruang, penyelenggaraan penataan ruang, yang terdiri dari perencanaan, pemanfaatan,
dan pengendalian pemanfaatan ruang, dilakukan oleh Pemerintah dengan peran serta
masyarakat. Perintah undang-undang tersebut dapat dimaknakan secara tersirat bahwa
masyarakat hendaklah dijadikan mitra yang setara, bukan menjadi obyek pembangunan
atau ditinggalkan perannya tanpa diajak berembug. Hal tersebut sangatlah rasional
mengingat bahwa pada akhirnya untuk rakyat. Meninggalkan aspirasi rakyat atau
meniadakan peran serta masyarakat dalam penataan ruang berarti menafikan perintah
undang-undang.

Dari berbagai penelitian atau kajian yang dilakukan, menunjukkan bahwa hingga saat ini
kesetaraan peran serta masyarakat dalam membangun wilayah yang berbasis tata ruang
sangatlah jauh dari harapan. Banyaknya kasus pelanggaran tata ruang oleh masyarakat
seperti yang terjadi di kawasan Puncak, kawasan Gunung Leuser, tingginya erosi dan
luasnya lahan kritis di Pulau Jawa serta tingginya angka penyimpangan pemanfaatan
lahan di beberapa daerah di pinggiran kota (sub-urban) mengindikasikan jauhnya harapan
peran masyarakat dalam penataan ruang.

Belum berjalannya penataan ruang secara benar tersebut bukan hanya disebabkan oleh
faktor peran serta masyarakat saja, namun juga oleh faktor-faktor lain seperti lemahnya
sistem penyelenggaraan dan produk perencanaan tata ruang, lemahnya perangkat teknis
dan kelembagaan serta lemahnya perangkat hukum pendukung. Namun perlu disadari,
peran serta masyarakat menjadi faktor kondusif dan menjadi simultan dalam
terbangunnya proses positif dalam penyelenggaraan penataan ruang yang benar
sehingga harus diupayakan dan menjadi bagian tidak terpisah dengan upaya perencanaan
tata ruang secara keseluruhan.

Peningkatan peran positif masyarakat dalam proses penataan ruang harus dibentuk oleh
prakondisi tertentu yaitu dengan terciptanya kepedulian yang kemudian akan membentuk
perilaku positif dalam mendukung penyelengaraan penataan ruang sehingga kepedulian
masyarakat dalam penataan ruang seyogyanya perlu dibentuk dan diarahkan melalui
Laporan Pendahuluan

pendekatan dalam satu rumusan rencana tersendiri yang menjadi pelengkap


komplementer terhadap implementasi produk rencana tata ruang dan penyelenggaraan
pembangunan tata ruang pada umumnya.

Berkaitan dengan hal tersebut pada tahun 2004 telah disusun Grand Scenario Gerakan
Peningkatan Kepedulian Publik dalam Penataan Ruang yang diharapkan dapat menjadi
salah satu simpul dalam proses meningkatkan kepedulian masyarakat dalam penataan
ruang. Buku tersebut secara garis besar terdiri dari ketentuan dasar, kebijakan umum,
strategi pembinaan masyarakat, strategi komunikasi masyarakat, dan strategi sistem dan
kelembagaan pendukungnya.

Dalam Grand Scenario gerakan peningkatan kepedulian publik disusun dalam strategi
perencanaan jangka panjang selama 20 tahun. Rencana tersebut di break down dalam
program 5 tahunan berdasarkan tahapan perubahan sosial sebagai capaian perubahan
atau target pencapaian kepedulian pada masyarakat umum. Selanjutnya sebagai
implementasi kebijaksanaan dan strategi program 5 tahunan tersebut, telah djabarkan
pula menjadi indikasi program tahunan. Adapun kegiatan penyiapan bahan kampanye
publik dalam penyelenggaraan penataan ruang ini merupakan bagian dari pelaksanaan
Grand Scenario tersebut untuk tahun pertama, tahun anggaran 2005. Dalam kegiatan ini,
dengan mempertimbangkan kegiatan yang telah dilakukan pada tahun sebelumnya, maka
Ditjen Penataan Ruang mempunyai program meningkatkan kepedulian publik dalam
bidang penataan ruang dengan menyiapkan bahan berupa Film Layanan Masyarakat
(FLM) dan desain iklan untuk media cetak. Dalam bahan-bahan tayangan ini akan
diperlihatkan berbagai informasi tentang penataan ruang baik dari proses perencanaan,
pemanfaatan ruang sampai dengan pengendalian pemanfaatan ruang kepada masyarakat
sebagai bentuk implementasi dari strategi komunikasi masyarakat akan penataan ruang.

Melalui kegiatan inilah, pelaksana pekerjaan diharapkan mengkaji bahan-bahan terkait


seperti grand secenario gerakan kepedulian publik dalam penataan ruang, berbagai
laporan serta produk perundangan, dan referensi dari berbagai sumber termasuk lesson
learned dan best practices dari praktek-praktek penyelenggaraan penataan ruang di
berbagai daerah. Dari kajian tersebut, pelaksana pekerjaan diharapkan mampu menjawab
pertanyaan-pertanyaan dasar seperti apa yang dimaksud dengan kampanye publik dalam
penataan ruang, bagaimana segmentasi atau tipologi masyarakat yang akan menjdai
sasaran kampanye, siapa yang akan terlibat dalam berkampanye publik tersebut,
bagaimana bentuk kampanye yang paling efektif, media dan teknologi seperti apa yang
cocok, dan juga pertanyaan-pertanyaan dasar lainnya. Selain itu pertanyaan sepeti
bagaimana mapping position kampanye publik dan bahan yang kaitannya terhadap
produk-produk rencana tata ruang, produk perundangan dan pertanyaan-pertanyaan

I-2
Penyiapan Bahan Kampanye Publik dalam Penyelenggaraan Penataan Ruang melalui Media Cetak dan Elektronik
Laporan Pendahuluan

lanjutan lainnya. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut akan didiskusikan dengan


para nara sumber dan menjadi bagian dari skenario untuk menyusun TOR sebuah film
layanan masyarakat bidang penataan ruang.

Dengan data dan hasil kajian tersebut didukung sumberdaya yang ada, pelaksana
pekerjaan harus mampu menyusun beberapa materi (term of reference) untuk membuat
paket-paket film layanan masyarakat bidang penataan ruang. Materi untuk menyusun
paket-paket film tersebut hendaknya mampu menggambarkan representasi detail proses
penataan ruang, termasuk mampu mengungkapkan nilai-nilai lokalitas suatu wilayah yang
terkait dengan penataan ruang, sehingga benar-benar menjadikan local culture sebagai
tatanan atau nilai yang harus dilindungi dengan operasionalisasi penataan ruang, bukan
malahan disingkirkan atau dihilangkan dari daerah tersebut. Untuk itu harus dilakukan
kajian atas tipologi wilayah untuk membedakan karakteristik atau lokalitas wilayah,
seperti kawasan yang sudah berkembang, kawasan yang sedang berkembang, dan
kawasan pengembangan baru.

1.2 Maksud dan Tujuan

Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengkaji berbagai reference (bahan) guna menyiapkan
materi untuk menyusun paket-paket Film Layanan Masyarakat (FLM) dengan durasi
minimal 30 menit yang menggambarkan proses penyusunan rencana tata ruang, proses
pemanfaatan ruang, dan proses pengendalian pemanfaatan ruang. Materi tersebut
nantinya akan menjadi acuan dalam membuat FLM yang akan dilakukan oleh tim
profesional dalam perfilman. Namun mengingat pendeknya waktu yang tersedia,
disarankan untuk melakukan penyusunan materi film dan pembuatan film secara semi
paralel.

Sedangkan tujuan dari kegiatan ini antara lain :


1. Membuat materi (term of reference) untuk menyusun paket-paket Film Layanan
Masyarakat (FLM) yang dapat menggambarkan proses penyelenggaraan penataan
ruang,
2. Membuat film layanan masyarakat yang mengacu pada materi (term of reference)
diatas.

I-3
Penyiapan Bahan Kampanye Publik dalam Penyelenggaraan Penataan Ruang melalui Media Cetak dan Elektronik
Laporan Pendahuluan

1.3 Sasaran

Adapun sasaran yang ingin dicapai dalam kegiatan ini yaitu :


1. Tersiapkannya materi untuk membuat paket-paket FLM bidang penataan ruang,
yang mampu mewakili lokalitas kawasan. Materi tersebut tidak hanya
menggambarkan macam paket film yang perlu disusun dan cakupan isinya, tetapi
juga melalui media apa film tersebut nantinya dikomunikasikan,
2. Terbuatnya film layanan masyarakat yang menggambarkan proses penyelenggaraan
penataan ruang dan mewakili nilai-nilai lokalitas kawasan.

1.4 Manfaat

Sedangkan manfaat dari kegiatan ini yaitu :


1. Mendorong publik untuk lebih aware (peduli) terhadap proses penataan ruang,
terutama dalam aspek pemanfaatan dan pengendalian, sehingga publik dapat
mengerti dan memahami proses pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan
ruang yang seharusnya.
2. Menjadi titik awal yang positif bagi hubungan sinerjik pemerintah-masyarakat dalam
upaya mengimplementasikan pemanfaatan ruang dan pengendalian yang sesuai
dengan rencana tata ruang.
3. Menjadi bagian awal dalam merintis dan mendorong pemberdayaan masyarakat
dalam pentaan ruang, khususnya aspek pemanfaatan dan pengendalian
pemanfaatan ruang.

1.5 Ruang Lingkup

Ruang lingkup kegiatan sebagai berikut :


a. Melakukan kajian dan evaluasi tentang isu atau kondisi, potensi dan kendala serta
tantangan dalam melakukan kampanye (pendidikan) publik di bidang penataan
ruang. Kajian dan evaluasi tidak hanya mencakup aspek sosial dan budaya, tetapi
juga mencakup hukum dan kelembagaan serta pengaruh perkembangan teknologi
komunikasi dan informasi serta aspek-aspek lain yang terkait.

b. Kajian tersebut melibatkan perwakilan stakeholder dan para ahli terkait secara
interdisiplin, baik lokal maupun ahli tingkat nasional, dengan memanfaatkan lesson
learned selama ini dalam bidang penataan ruang, sehingga diperoleh masukan yang
komprehensif untuk menyusun strategi yang dimaksud.

I-4
Penyiapan Bahan Kampanye Publik dalam Penyelenggaraan Penataan Ruang melalui Media Cetak dan Elektronik
Laporan Pendahuluan

c. Hasil kajian tersebut akan merupakan bahan untuk menyusun jenis dan substansi
materi penyusunan FLM dalam bidang penataan ruang untuk didiskusikan dengan
pemberi pekerjaan. Pada tahapan ini dianjurkan sudah dimulai proses pembuatan
film yang dilakukan secara resmi paralel dengan penyusunan materinya, mengingat
terbatasnya waktu.

d. Finalisasi konsep materi untuk menyusun paket-paket FLM dilakukan dengan


appraisal dari pemberi kerja. Mengingat materi ini sangat menentukan langkah
berikutnya, yaitu pembuatan film oleh tim profesional, maka jadwal pelaksanaan
yang ketat sangat diperlukan, Konsultan disarankan untuk sudah mendapat
sebagian bahan-bahan untuk pembuatan film sebelum konsep materi selesai.

e. Membuat film layanan masyarakat, yang mencakup editing dan penyempurnaan


serta finalisasi film yang menggambarkan proses penyelenggaraan penataan ruang
mengacu pada materi (term of reference) diatas.

1.6 Keluaran

Adapun keluaran dari kegiatan ini adalah :


1. Rumusan materi (term of reference) guna menyusun paket-paket pembuatan dan
penayangan FLM bidang penataan ruang yang dapat mewakili lokalitas 3 kawasan
nasional.
2. Film Layanan Masyarakat yang menggambarkan proses penyelenggaraan penataan
ruang yang mengacu pada materi tersebut diatas.

1.7 Sistematika Pembahasan

Dalam melakukan kegiatan ini sistematika pembahasan yang akan dilakukan terdiri dari :
BAB I : PENDAHULUAN
Pada bab ini dijelaskan mengenai Latar Belakang, Maksud dan tujuan,
Sasaran, Manfaat, Ruang Lingkup, Keluaran dan Sistematika Pembahasan.

BAB II : PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PENATAAN RUANG


Pada bab ini dijelaskan mengenai Pengertian Penataan Ruang yang terdiri
dari Tahap-tahap Penataan Ruang, Aspek-aspek Penataan Ruang dan Isu-isu
yang Terkait dengan Penataan Ruang.

I-5
Penyiapan Bahan Kampanye Publik dalam Penyelenggaraan Penataan Ruang melalui Media Cetak dan Elektronik
Laporan Pendahuluan

Selain itu bab ini juga berisikan tentang Perubahan Paradigma dalam
Penataan Ruang, Peningkatan Orientasi Paradigma Penataan Ruang,
Realisasi Tujuan Peran serta Masyarakat serta Masyarakat dalam Proses
Penataan Ruang, Penyadaran akan Hak dan Kewajiban Masyarakat dalam
Proses Penataan Ruang, Peningkatan Peran Serta Masyarakat dalam Proses
Penataan Ruang, Realisasi Bentuk Peran Serta Masyarakat yang Dibutuhkan
dalam Penataan Ruang, dan Penajaman Terhadap Faktor-faktor yang Perlu
Diperhatikan dalam Mendorong Peningkatan Parisipasi Masyarakat

BAB III : GRAND SKENARIO GERAKAN PENINGKATAN KEPEDULIAN PUBLIK DALAM


PENATAAN RUANG
Pada bab ini dijelaskan mengenai Misi, Tujuan dan sasaran, Prinsip-prinsip
Dasar, Kebijakan dan Strategi Umum.

BAB IV : KAMPANYE PUBLIK DALAM PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG


Pada bab ini dijelaskan mengenai Pengertian Kampanye Publik dan Film
(Pengertian Kampanye Publik, Kampanye Publik dalam Penataan Ruang),
Tipe Kampanye Publik (Individual Behavior Change dan Public Will
Campaigns), Film Sebagai Media Kampanye Publik, Jenis Film Kampanye
Publik.

BAB V : GAMBARAN UMUM DAERAH STUDI


Pada bab ini dijelaskan tentang gambaran umum wilayah studi dan termasuk
juga permasalahan serta strategi dari masing-masing kota. Kota yang
dimaksud dalam kajian ini adalah: Kota Medan, Kota Bandar Lampung, Kota
Semarang, Kota Surabaya, Kota Balikpapan, Kota Pontianak, dan Kota
Manado.

BAB VI : METODELOGI PELAKSANAAN PEKERJAAN


Pada bab ini dijelaskan tentang Pendekatan, Strategi Penyiapan Bahan
Kampanye Publik dalam Penyelenggaraan Penataan Ruang (Muatan Dalam
Film, Jenis Film), Tahapan Pelaksanaan Pekerjaan.

BAB VII : ORGANISASI DAN RENCANA PELAKSANAAN PEKERJAAN


Pada bab ini dijelaskan tentang Organisasi Pelaksana Pekerjaan, Jadual
Pelaksanaan Pekerjaan, Tenaga Pelaksana, dan Sistem Pelaporan.

I-6
Penyiapan Bahan Kampanye Publik dalam Penyelenggaraan Penataan Ruang melalui Media Cetak dan Elektronik