Anda di halaman 1dari 2

Sejarah Gas Mulia

Pada tahun 1898, Huge Erdmann mengambil nama Gas Mulia (Noble Gas) dari bahasa
Jerman Edelgas untuk menyatakan tingkat kereaktifan Gas Mulia yang sangat
rendah. Nama Noble dianalogikan dari Noble Metal (Logam Mulia), emas, yang
dihubungkan dengan kekayaan dan kemuliaan.

Gas Mulia pertama ditemukan pada tanggal 18 Agustus 1868 oleh Pierre Janssen dan
Joseph Horman Lockyer. Ketika sedang meneliti gerhana matahari total mereka
menemukan sebuah garis baru di spektrum sinar matahari. Mereka menyakini bahwa itu
adalah lapisan gas yang belum diketahui sebelummnya, lalu mereka menamainya
Helium.

Berikut ini adalah asal-usul mana unsur-unsur Gas Mulia, yaitu:

a. Helium (ílios or helios) = Matahari


b. Neon (néos) = Baru
c. Argon (argós) = Malas
d. Kripton (kryptós) = Tersembunyi
e. Xenon(xénos) = Asing
f. Radon (pengecualian) diambil dari Radium

Nama-nama di atas diambil dari bahasa Yunani. Pada awalnya, Gas Mulia dinyatakan
sebagai gas yang inert tetapi julukan ini disanggah ketika ditemukan senyawa Gas Mulia.

Definisi Golongan Gas Mulia

Gas Mulia adalah golongan yang paling stabil dalam sistem periodik unsur. Unsur-
unsurnya adalah He (Helium), Ne (Neon), Ar (Argon), Kr (Kripton), Xe (Xenon), dan Rn
(Radon) yang bersifat radioaktif. Elektron valensi kulit terluar unsur-unsur golongan Gas
Mulia dianggap “penuh” sehingga unsur-unsur Gas Mulia menjadi unsur yang
stabil. Karena sifat stabilnya, unsur-unsur Gas Mulia ditemukan di alam dalam bentuk
monoatomik. Konfigurasi elektron unsur-unsur Gas Mulia adalah ns2np6, kecuali He 1s2.
Dalam satu golongan, Jari-jari atom unsur-unsur Gas Mulia dari atas ke bawah semakin
besar karena bertambahnya kulit yang terisi elektron. Energi Ionisasi dari atas ke bawah
semakin kecil karena gaya tarik inti atom terhadap elektron terluar semakin lemah.
Afinitas Elektron unsur-unsur Gas Mulia sangat kecil sehingga hampir mendekati nol.

Titik didih unsur-unsur Gas Mulia berbanding lurus dengan kenaikan massa atom. Titik
lebur unsur-unsur Gas Mulia mengikuti sifat titik didih.

Sifat kereaktifan unsur-unsur Gas Mulia berurut Ne > He > Ar > Kr > Xe. Rn
radioaktif. Konfigurasi elektron Gas Mulia dijadikan sebagai acuan bagi unsur-unsur lain
dalam sistem periodik. Contoh,

11Na : [Ne] 3s1 untuk Ne : 1s2 2s2 2p6

35Br : [Ar] 4s2 3d10 4p5 untuk Ar : 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6

Elektron valensi Gas Mulia sangat stabil karena memenuhi kaidah duplet (untuk
Hidrogen dan Helium) dan oktet. Sehingga Gas Mulia dijadikan acuan bagi unsur-unsur
lain dalam sistem periodik untuk stabil. Contoh,

Na : 2 8 (1) elektron valensi Na = 1

Na harus memenuhi kaidah oktet. Jadi untuk stabil Na harus melepas 1 elektron menjadi
Na+

Cl : 2 8 (7) elektron valensi Cl = 7

Cl harus memenuhi kaidah oktet. Jadi untuk stabil Cl harus menerima 1 elektron menjadi
Cl-

Keberadaan di Alam

Unsur-unsur Gas Mulia, kecuali Radon, melimpah jumlahnya karena terdapat dalam
udara bebas. Argon terdapat di udara bebas dengan kadar 0,93%, Neon 1,8×10-3%,
Helium 5,2×10-4%, Kripton 1,1×10-4%, dan Xenon 8,7×10-6%. Helium adalah unsur
terbanyak jumlahnya di alam semesta karena Helium adalah salah satu unsur penyusun
bintang.