Anda di halaman 1dari 5

HAKEKAT EKONOMI ISLAM

KAJIAN MENDALAM TENTANG ONTOLOGI


EKONOMI ISLAM

Ditulis oleh :

Nama : Ikhsan Faridh Perdana


NIM : 09140085

Filsafat Ilmu
Islamic Banking School – STEI Yogyakarta
2010
I. PENDAHULUAN

Pembicaraan tentang ekonomi Islam merupakan suatu hal yang menarik dalam
dekade terakhir ini. Kemunculan ekonomi Islam dipandang sebagai sebuah gerakan baru
yang disertai dengan misi dekonstruktif atas kegagalan sistem ekonomi dunia yang
selama ini dalam menyelesaikan berbagai persoalan ekonomi dunia yang semakin rumit.
Sebenarnya ekonomi Islam bukanlah gerakan baru sebagaimana sering diperbincangkan
oleh orang-orang awam. Ekonomi Islam sejatinya telah dipraktekan berabad-abad lalu
oleh Rasulullah SAW sendiri serta pada zaman kekhalifahan Islam. Kemudian pada tahun
1930an dimana masa-masa terakhir kekhalifahan Turki Utsmani berjaya, nilai-nilai
sistem barat mulai menghegemoni. Tak terkecuali sistem ekonomi warisan barat.
Sementara pada hakikatnya ekonomi Islam adalah metamorfosa nilai-nilai Islam
dalam ekonomi dan dimaksudkan untuk menepis anggapan bahwa Islam adalah agama
yang mengatur persoalan komunikasi vertikal antara manusia dengan Tuhan (Allah). Al-
Qur’an sendiri tidak hanya berisi nasihat-nasihat spiritual saja tetapi juga mencakup
hokum-hukum islam, tata cara hidup, sains, dan sebagainya. Hukum-hukum Islam yang
terdapat dalam Al-Qur’an kemudian dikorelasikan dengan Sunnah Rasul menjadi tolak
ukur dalam Ekonomi Islam atau panduan berkenomi secara Islam.
Dengan kata lain, kemunculan ekonomi Islam merupakan suatu bentuk artikulasi
sosiologis dan praktis dari nilai-nilai Islam yang sesame ini dipandang doktriner dan
normatif. Dengan demikianIslam adalah suatu dien (the way of life) yang praktis dan
ajarannya tidak hanya merupakan aturan hidup yang menyangkut aspek ibadah dan
muamalah sekaligus mengatur hubungan manusia dengan Tuhan (hablun minLlah) dan
hubungan antara manusia dengan manusia (hablu min annas).
Ilmu ekonomi Islam dapat didefinisikan sebagai suatu cabang pengetahuan yang
membantu merealisasikan kesejahteraan manusia melalui alokasi dan distribusi sumber-
sumber daya langka yang seirama dengan maqasid asy syari’ah yaitu menjaga agama (li
hifdz al din), jiwa manusia (li hifdz an nafs), akal (li hifdz al ‘akl), keturunan (li hifdz al
nasl), dan menjaga harta (li hifdz al mal) tanpa mengekang kebebasan individu. Di sini
berarti ada unsur keikhlasan dan beribadah sekaligus.
Beda halnya dengan konsep ekonomi konvensional dimana salah satunya dalam
mencapai optimalisasi bisnis adalah dengan prinsip “modal sekecil-kecilnya dan untung
sebesar-sebesarnya”. Tapi bagaimana bila itu dibalik dan merujuk kembali kepada al
Islam? Tentunya bukan “modal sekecil-kecilnya dan untung sebesar-sebesarnya”
melainkan “menggunakan modal seefisien dan seefektif mungkin guna mencapai
keberhasilan bisnis yang berkah”. Efisien tentunya telah tertuang dalam Q.S. Al Israa’
ayat 27. Dimana ayat tersebut menjelaskana bahwa sifat boros bertentangan dengan
ajaran islam karena sifat boros itu merupakan teman syetan sedangkan syetan ingkar
terhadap Allah. Efisien merupakan penggunaan segala sumber daya yang tidak
berlebihan dan tepat guna. Efisien dan efektif tentunya sesuai dengan prinsip “The
Economic Value of Time” bukan prinsip “The Time Value of Money” yang dimana
prinsip riba tertuang di dalamnya serta kezhaliman. Jika prinsip dengan modal sekecil-
kecilnya dan untung sebesar-besarnya maka dalam contoh kasus adalah para buruh sepatu
nike Indonesia yang terkena imbasnya bukan para atasannya tetapi pada tingkat yang
lebih rendah.
John Perkins mengungangkapkan dalam bukunya “The Secret History of The
American Empire” dalam kasus tersebut mereka (buruh) hanya mendapat bayaran setara
dengan $2 per hari jika dengan kurs Rp 10.000 per $1 maka mereka mendapatkan Rp
20.000 per hari. Jika dalam sebulan tentunya hanya mendapat Rp 600.000 per bulan. Jika
lokasi mereka di Jakarta tentunya uang dengan jumlah tersebut tak cukup untuk
mencukupi kebutuhan sehari-hari serta pendidikan anak-anak. Mungkin untuk makan
serta biaya kesehatan saja masih kurang. Bagaimana mereka menjalankan maqashid asy
syariah dalam menjaga jiwa? tentu kasus tersebut bertentangan dengan nilai-nilai
keislaman. Untung yang diraih oleh perusahaan tersebut tentunya sangat besar tapi tak
sebanding dengan apa yang mereka (buruh) dapatkan. Itulah prinsip modal sekecil-
kecilnya, untung sebesar-besarmya. Di sinilah ekonomi Islam harus mengambil alih
dalam setiap aspek kehidupan berkenomi agar terciptanya keadilan, tercapainya
maslahah serta falah sebagai tujuan hidup. Karena selama ini ketiga hal belum tercapai di
dunia dalam segi kehidupan khususnya kehidupan berekonomi.
Kemudian yang sering menjadi pembahasan adalah mengenai riba. Islam
mengharamkan riba sebagaimana yang ditetapkan dalam Al-Qur’an. Salah satunya dalam
Q.S. Al-Baqarah ayat 273-274. Riba sendiri bagi kebanyakan orang awam adalah bunga
bank. Sementara riba sendiri memiliki arti bertambah atau penambahan. Tak hanya
meliputi bunga bank saja tetapi segala bentuk penambahan (dalam hal ini). Contoh kasus
kita meminjamkan sejumlah uang kepada seseorang. Kemudian pada saat pengembalian
kita meminta penmambahan uang. Dalm hal ini termasuk dalam kategori riba yang
sebagaimana telah diharamkan dalam Islam. Riba sendiri pada hakikatnya adalah
kezhaliman. Kita meminta sesuatu yang harus dibayarkan lebih bagaimanapun caranya
tanpa mengenal kondisi si peminjam.
Kemudian bagi orang awam tentunya bertanya-tanya apa itu konsep ekonomi
Islam? Bahkan ada juga yang beranggapan bahwa ekonomi Islam sama saja dengan ilmu
ekonomi pada umumnya (ekonomi konvensional warisan para pemikir barat). Jika
ekonomi konvensional hanya berlandaskan pada pencapaian materi semata saja maka lain
halnya dengan ekonomi Islam yang meletakkan pondasi syariat Islam sebagai acuan
dalam setiap kegiatan berekonomi. Bisa jadi secara kasar dapat disimpulkan bahwa
ekonomi konvensional hanya berorientasi untuk mencapai kesuksesan atau pencapaian
dunia saja sedangkan ekonomi Islam berorientasikan pada dua hal, yaitu pencapaian
dunia serta pencapaian akhirat. Inilah letak perbedaan yang mendasar diantara keduanya.
Dan apa kaitan antara Islam dan ekonomi? Bukankah Islam hanya ilmu untuk
ketenangan spiritual, ilmu agama dan ilmu untuk bekal kita di akhirat saja. Atau sebatas
hubungan hamba dengan Tuhannya. Untuk lebih jelasnya akan dibahas pada pembahasan
berikutnya.
II. ONTOLOGI EKONOMI ISLAM
III. PENUTUP
IV. DAFTAR PUSTAKA

• Baqir Ash Shadr, Muhammad. Buku Induk Ekonomi Islam Iqtishaduna. Jakarta:
Zahra. 2008
• Tim Penulis P3EI UII. Ekonomi Islam. Jakarta: Rajawali Pers. 2007
• Chapra, M. Umer. Islam dan Tantangan Ekonomi. Jakarta: Gema Insani. 2000