Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN DASAR BUDIDAYA TANAMAN

PENGARUH PEMBERIAN MULSA TERHADAP


PERTUMBUHAN DAN HASIL DUA VARIETAS UBI JALAR
(Ipomoea batatas L.)

Oleh:
Kelompok Z3

Asisten:
Afdal Hafiz Mukhanin

UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS PERTANIAN
MALANG
2019

i
LAPORAN DASAR BUDIDAYA TANAMAN
PENGARUH PEMBERIAN MULSA TERHADAP
PERTUMBUHAN DAN HASIL DUA VARIETAS UBI JALAR
(Ipomoea batatas L.)

Oleh:
Kelompok Z3

Asisten:
Afdal Hafiz Mukhanin

UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS PERTANIAN
MALANG
2019

ii
LEMBAR DATA ANGGOTA

PRAKTIKUM DASAR BUDIDAYA TANAMAN

Kelompok : Z3
Asisten : Afdal Hafiz Mukhanin

No Nama NIM
1 Otniel Frederik 155040100111041
2 Dinda Aisya Dzulfaida 185040100111010
3 I Desak Made Dewi Purwanisari 185040101111017
4 Mohammad Ilyas Shaleh 185040101111067
5 Ery Wina Andriani 185040101111075
6 Diah Anggita Putri 185040101111092

iii
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM


DASAR BUDIDAYA TANAMAN 2019

Kelompok : Z3
Kelas : Z

Disetujui Oleh :

Asisten Kelas, Koordinator Asisten


Dasar Budidaya Tanaman,

Afdal Hafiz Mukhanin Bella Nurdiyanti


NIM. 175040101111082 NIM. 165040200111164

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2019

iv
LEMBAR KRITIK DAN SARAN

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM


DASAR BUDIDAYA PERTANIAN

Asisten Penguji :

Kritik dan Saran :

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2019

v
KATA PENGANTAR
Puji syukur dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat-Nya sehingga laporan besar praktikum Dasar Budidaya
Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya dapat diselesaikan. Laporan
besar ini membahas tentang “Pengaruh Pemberian Mulsa Terhadap
Pertumbuhan dan Hasil Dua Varietas Ubi Jalar (Ipomoea Batatas L.)” yang
bertujuan untuk memenuhi tugas akhir praktikum mata kuliah Dasar Budidaya
Tanaman.
Terimakasih diucapkan kepada Afdal Hafiz Mukhanin selaku asisten
pengampu praktikum matakuliah Dasar Budidaya Tanaman yang telah
membantu dalam penulisan laporan. Kesempurnaan adalah hanya milik Allah
SWT semata, oleh karena itu dengan segala kerendahan hati penyusun meminta
kritik dan saran yang membangun untuk penulisan laporan selanjutnya supaya
lebih baik. Semoga laporan akhir praktikum ini dapat bermanfaat bagi pembaca,
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pertanian.

Malang, 25 Maret 2019

Penyusun

vi
DAFTAR ISI
COVER LUAR ...................................................................................................... i
COVER DALAM .................................................................................................. ii
LEMBAR DATA ANGGOTA .............................................................................. iii
LEMBAR PENGESAHAN .................................................................................. iv
LEMBAR KRITIK DAN SARAN .......................................................................... v
KATA PENGANTAR .......................................................................................... vi
DAFTAR ISI ...................................................................................................... vii
DAFTAR TABEL .............................................................................................. viii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ ix
DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................................... x
1. PENDAHULUAN ............................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ........................................................................................... 1
1.2 Tujuan ........................................................................................................ 2
2. TINJAUAN PUSTAKA .................................................................................... 3
2.1 Tanaman Ubi Jalar ..................................................................................... 3
2.2 Syarat Tumbuh Tanaman Ubi Jalar ............................................................ 3
2.3 Fase Pertumbuhan Tanaman Ubi Jalar ...................................................... 4
2.4 Pengaruh Varietas Terhadap Tanaman Ubi Jalar ....................................... 5
2.5 Pengaruh Mulsa Terhadap Tanaman Ubi Jalar ........................................... 5
3. BAHAN DAN METODE ................................................................................... 7
3.1 Waktu dan Tempat ..................................................................................... 7
3.2 Alat dan Bahan ........................................................................................... 7
3.3 Metode Pelaksanaan .................................................................................. 7
3.3.1 Persiapan Lahan ................................................................................ 7
3.3.3 Pemupukan ........................................................................................ 8
3.3.4 Perawatan .......................................................................................... 8
3.3.5 Pengamatan ....................................................................................... 9
3.3.6 Panen................................................................................................. 9
3.4 Parameter Pengamatan .............................................................................. 9
3.4.1 Panjang Tanaman .............................................................................. 9
3.4.2 Jumlah Daun ...................................................................................... 9
3.4.3 Suhu Tanah ..................................................................................... 10
3.4.4 Jumlah Gulma .................................................................................. 10
3.5 Analisis Data............................................................................................. 10
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 11
LAMPIRAN........................................................................................................ 13

vii
DAFTAR TABEL
No Halaman

Teks

viii
DAFTAR GAMBAR
No Halaman

Teks
1. Tanaman Ubi Jalar .......................................................................................... 3

ix
DAFTAR LAMPIRAN
No Halaman

Teks
1. Perhitungan Pupuk ........................................................................................ 13

x
1

1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ubi jalar (Ipomoea batatas L.) merupakan kelompok tanaman umbi-
umbian yang tumbuh subur di Indonesia. Tanaman ini mempunyai potensi cukup
penting sebagai pengganti bahan makanan pokok (beras). Kandungan nutrisi ubi
jalar tidak kalah dengan jagung, beras dan jenis umbi-umbian lain (Apriliani et al.
2016). Berdasarkan data dari FAO (2016), Indonesia merupakan negara
penghasil ubi jalar terbesar kelima di dunia. Pada tahun 2014, di Indonesia
produksi ubi jalar mencapai 2.382.658 ton (BPS, 2016). Ubi jalar di Indonesia
89% dimanfaatkan sebagai bahan pangan. Rata-rata tingkat konsumsinya yaitu
7,9 kg/kapita/tahun. Hal tersebut menjadikan ubi jalar sangat penting untuk
dikembangkan guna dalam keberhasilan usaha pengembangan program
diversifikasi pangan di Indonesia. Produksi ubi jalar (Ipomoea batatas L.) di
Indonesia memang cukup tinggi jika dibandingkan negara lain namun belum
optimal. Pada tahun 2014, rata-rata produktivitas ubi jalar di Indonesia mencapai
15,19 ton per hektar, masih jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan potensi
hasil produktivitas beberapa varietas unggul yang mencapai 35 ton per hektar.
Tanaman ubi jalar (Ipomoea batatas L.), Di Indonesia menjadi salah satu
tanaman yang populer dibudidayakan di kalangan masyarakat untuk
dimanfaatkan umbinya sebagai sumber karbohidrat dan hidangan pelengkap
serta diambil daunnya yang masih muda untuk dijadikan sayuran. Ubi jalar
(Ipomoea batatas L.) juga bisa dijadikan makanan pokok alternatif sebagai
pengganti nasi. Bahkan di beberapa daerah tertentu, ubi jalar (Ipomoea batatas
L.) menjadi salah satu komoditi bahan makanan pokok pada daerah tersebut.
Menurut Kurnia et al (2000), tingkat kesuburan tanah dapat mempengaruhi
produktivitas tanaman ubi jalar karena tanah didalam guludan akan mengalami
pengikisan dan penghanyutan oleh aliran permukaan pada saat hujan.
Untuk menjaga kestabilan suhu tanah di dalam guludan, melindungi
struktur tanah dan erosi dari tekanan aliran hujan perlu dilakukan pemulsaan.
Pemulsaan merupakan penutup permukaan tanah dengan bahan tertentu yang
pada dasarnya bertujuan mencegah kehilangan air tanah melalui proses
penguapan dari permukaan tanah. Pemulsaan juga dapat mencegah
pertumbuhan gulma serta mengurangi risiko terserang hama. Pemulsaan dapat
dibagi menjadi dua macam yaitu mulsa organik dan mulsa anorganik. Mulsa
organik berasal dari sisa-sisa tanaman sedangkan mulsa anorganik berasal dari
2

bahan-bahan sintetis yang sulit terurai. Salah satu contoh mulsa anorganik yaitu
MPHP (mulsa plastik hitam perak).
Permasalahan yang ada pada tanaman ubi jalar (Ipomoea batatas L.)
dapat disimpulkan bahwa pengaruh sistem budidaya dan kondisi lahan yang
kurang baik dalam proses kelancaran pertukaran udara dalam tanah yang dapat
menyebabkan hasil tanaman ubi jalar semakin menurun. Maka dari itu
pentingnya dilakukan praktikum tentang pengaruh pemulsaan terhadap
pertumbuhan dan hasil dua varietas tanaman ubi jalar adalah untuk mengetahui
perlakuan yang lebih optimal dalam proses pertumbuhan dan hasil tanaman ubi
jalar.

1.2 Tujuan
Tujuan dari kegiatan penanaman ubi jalar pada praktikum dasar
budidaya tanaman ini adalah untuk mempelajari cara atau teknik budidaya
tanaman ubi jalar yang baik dan juga untuk mengetahui pengaruh pemulsaan
terhadap pertumbuhan dan hasil dua varietas tanaman ubi jalar (Ipomoea
batatas L.).
3

2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tanaman Ubi Jalar

Gambar 1. Tanaman Ubi Jalar (Juanda dan Bambang, 2000)


Ubi Jalar (Ipomoea batatas L.) merupakan salah satu komoditas yang
dibudidayakan di Indonesia, untuk dimanfaatkan akarnya yang membentuk umbi.
Ubi jalar merupakan tanaman ubi-ubian dan tergolong tanaman semusim atau
berumur pendek. Menurut Hambali, et al., (2014), ubi jalar termasuk kedalam
ordo Solanales, Famili Convolvulaceae (suku kangkung-kangkungan), dengan
genus Ipomoea dan spesies Ipomoea batatas poir. Ubi jalar adalah tanaman
yang berbentuk lunak namun batang ubi jalar tidak berkayu dan batang ubi jalar
tersebut memiliki panjang yang bervariasi setiap batang utama, panjang batang
tersebut berkisar 2-3m. Daun ubi jalar berbentuk hati, lonjong dan bulat runcing,
bergantung pada varietasnya. Daun varietas ubi jalar yang lebih lebar memiliki
produktivitas yang lebih tinggi karena daun yang lebar dapat berfotosintetis lebih
baik dan efektif daripada daun yang kecil. Selain itu umbi tanaman ubi jalar
memiliki ukuran, bentuk, warna kulit dan warna daging yang beragam, sesuai
dengan varietas masing-masing. Umbi ubi jalar dapat dipanen pada umur 4-5
bulan setelah tanam atau pada umur 100-120 hari setelah terbentuknya umbi
(Juanda dan Bambang, 2000). Ubi jalar dapat digunakan sebagai sumber bahan
pangan substitusi. Hal ini dikarenakan umbi ubi jalar terkandung sejumlah
mineral dan nutrisi yang tidak kalah pentingnya dengan kandungan nutrisi pada
beras, jagung maupun kelompok umbi-umbian yang lain (Susanto et al., 2014).

2.2 Syarat Tumbuh Tanaman Ubi Jalar


Faktor lingkungan sekitar mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya
tanaman ubi jalar. Adapun syarat tumbuh tanaman ubi jalar menurut Juanda dan
Bambang (2000) meliputi temperatur dan kelembapan udara, curah hujan,
penyinaran matahari, dan letak geografi tanah. Temperatur dan kelembapan
udara yang cocok untuk tanaman ubi jalar adalah antara 21⁰ C – 27⁰ C, namun
4

ubi jalar masih toleran pada temperatur minimum 16⁰ C dan temperatur
maksimum 40⁰ C, tetapi hasilnya kurang baik. Sedangkan kelembapan udara
yang cocok adalah 50% - 60%. Tanaman ubi jalar juga tidak menghendaki iklim
yang basah atau curah hujan yang tinggi. Curah hujan yang cocok untuk
tanaman ubi jalar adalah 750 mm – 1500 mm. Oleh karena itu, tanaman ubi jalar
menghendaki penyinaran matahari penuh sepanjang hari, di lokasi penanaman
yang terbuka. Lama penyinaran matahari yang dibutuhkan tanaman ubi jalar
adalah 11 – 12 jam perhari. Selain itu, tanaman ubi jalar yang ditanam di dataran
rendah hingga ketinggian 500 mdpl dapat memberikan hasil yang lebih baik
daripada tanaman ubi jalar yang ditanam di dataran tinggi hingga ketinggian
1000 mdpl. Hal ini karena dataran tinggi memiliki iklim dingin yang kurang cocok
untuk tanaman ubi jalar ini. Menurut Wargiono dalam Neltriana (2015), tanaman
ubi jalar dapat tumbuh diberbagai jenis tanah yaitu tanah yang banyak
mengadung unsur hara, BO memiliki dranase dan aierase yang baik, gembur
dengan pH tanah berkisar antara 5,5 – 7,5.

2.3 Fase Pertumbuhan Tanaman Ubi Jalar


Proses tumbuh dan berkembangnya tanaman merupakan salah satu hal
penting untuk diketahui dalam membudidayakan tanaman. Menurut Sari (2008),
kurun waktu pembentukan umbi dapat dibedakan atas tiga fase tumbuh, yaitu
fase awal pertumbuhan, fase pembentukan umbi, dan fase pengisian umbi yang
dijelaskan sebagai berikut :
1. Fase awal pertumbuhan
Berlangsungnya fase ini pada saat bibit setek ditanam pada umur sekitar
4 minggu. Dapat diketahui juga bahwa ciri dari fase awal pertumbuhan ini seperti
setalah bibit tertanam, berlangsung dengan cepat pertumbuhan akar muda,
namun masih lambat pertumbuhan daun dan batang.
2. Fase pembentukan umbi
Dapat diketahui bahwa fase pembentukan umbi berlangsung sekitar
tanaman berumur 4-8 minggu. Rata-rata fase tersebut berlangsung antara 4-6
minggu setelah tanam, tergantung varietas ubi jalar dan keadaan lingkungan
tumbuh. Pertumbuhan umbi paling tidak telah terbentuk 80% pada saat umbi
berumur 7 minggu. Dapat diketahui ciri pembentukan umbi secara langsung yaitu
dengan berlangsung secara cepat pertumbuhan batang dan daun. Saat ini
batang tanaman tampak paling lebat, hal tersebut dapat disebut ciri
pembentukan umbi secara langsung.
5

3. Fase pengisian umbi


Fase pengisihan umbi ini berlangsung sejak tanaman berumur 8-17
minggu. Tanaman berhenti membentuk umbi baru karena mulai membesarkan
umbi yang sudah ada hal tersebut terjadi diantara 8-12 minggu.. Dapat dikatakan
pembentukan dan pengisian umbi berlangsung cepat apabila terdapat
pertumbuhan batang dan daun yang berkurang. Pada saat tanaman berumur 13
minggu terjadi pengisian zat makanan dari daun ke umbi yang berhenti.
Sementara mulai umur 14 minggu daun tanaman mulai menguning dan rontok.
Tanaman dapat dipanen umbinya saat berumur 17 minggu (Sarwono, dalam Sari
2008).

2.4 Pengaruh Varietas Terhadap Tanaman Ubi Jalar


Ubi jalar merupakan komoditas pangan yang memegang peran penting
karena memiliki banyak manfaat dan nilai tambah. Setiap individu tanaman ubi
jalar menunjukkan pertumbuhan dan hasil yang beragam sebagai akibat dari
pengaruh genetik, di mana pengaruh genetik merupakan pengaruh keturunan
yang dimiliki oleh setiap varietas (Supriyatin, 2001). Dalam praktikum budidaya
tanaman ubi jalar ini menggunakan 2 varietas yakni varietas antin 3 dan varietas
beta 2. Pengaruh varietas antin 3 terhadap tanaman ubi jalar yakni varietas antin
3 mengandung zat antosianin, distribusi warna ungunya sangat pekat, memiliki
bentuk dan warna umbinya sangat bagus, rasa umbi enak, manis, dan agak pahit
(Sabuluntika dan Fitriyono, 2013).
Sedangkan pengaruh varietas Beta-2 untuk tanaman ubi jalar yaitu
varietas ini memiliki kandungan beta karoten tinggi, tetapi kandungannya lebih
rendah dibandingkan beta-2, selain itu potensi produksi Beta-2 juga lebih tinggi
dibandingkan Beta-1 (Saleh, 2011). Varietas ini banyak dikembangkan di sekitar
Malang dan Lumajang. Varietas ubi jalar yang memilik kandungan beta karoten
yang tinggi ini potensial dikembangkan secara komersial oleh agroindustri
pangan dalam meningkatkan asupan pro-vitamin A bagi masyarakat (Jusuf, et
al,.2007).

2.5 Pengaruh Mulsa Terhadap Tanaman Ubi Jalar


Tanaman ubi jalar merupakan salah satu tanaman yang tumbuh menjalar
dengan sulurnya. Menurut Rahmiana, et al,. (2015) dikatakan bahwa, semakin
panjang sulur kemungkinan kontak antara akar adventif dengan tanah akan
semakin banyak, karena akar adventif tumbuh pada setiap buku pada batang.
Selain itu dengan semakin panjang sulur yang terbentuk, maka semakin banyak
6

pula daun yang akan dihasilkan, sementara tanaman ubi jalar merupakan salah
satu jenis tanaman yang mempunyai susunan daun horizontal dan berjumlah
banyak. Selain pertumbuhan daun yang banyak, sulur yang panjang akan
menghambat perkembangan tanaman ubi jalar, karena akan menghasilkan ubi
yang banyak, namun berukuran kecil. Oleh karena itu, pemberian mulsa
merupakan solusi yang efektif untuk diterapkan pada budidaya tanaman ubi jalar
ini. Widodo dan Rahayuningsih (2009) memaparkan bahwa penggunaan mulsa
dapat menekan gulma dan sekaligus untuk mencegah akar adventif tumbuh
karena menyentuh tanah.
Menurut Tinambunan (2014), mulsa berfungsi untuk menekan
pertumbuhan gulma sehingga tanaman ubi jalar akan tumbuh lebih baik,
pemberian atau pemasangan mulsa pada saat musim hujan dapat mencegah
erosi permukaan tanah atau bedengan ubi jalar. Sedangkan pemberian atau
pemasangan mulsa pada saat musim kemarau akan menahan panas matahari
langsung sehingga permukaan tanah permukaan tanah bagian atas suhunya
rendah dan lembab, hal ini di sebabkan penekanan penguapan sehingga air
dalam tanah atau bedengan lebih efisien pemanfaatnya bagi tumbuhan ubi jalar
(Sudjianto, 2009).
7

3. BAHAN DAN METODE


3.1 Waktu dan Tempat
Kegiatan praktikum Dasar Budidaya Tanaman dilaksanakan di Lahan
Praktikum Jatimulyo Universitas Brawijaya yang terletak di Jalan Kembang
Kertas, Kelurahan Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru, Malang. Secara geografis,
Kota Malang terletak pada koordinat 112°-112° BT dan 7°-8° LS dengan
ketinggian 460 meter diatas permukaan air laut (dpl). Daerah ini memiliki suhu
minimum 18,4°C dan maksimum 32,7°C dengan curah hujan rata-rata 2,71 mm
(Pemerintah Kota Malang, 2008). Kegiatan praktikum pengamatan ini
dilaksanakan mulai dari bulan Februari sampai April yang dilakukan setiap
seminggu sekali.

3.2 Alat dan Bahan


Alat yang digunakan pada kegiatan praktikum ini antara lain yaitu cangkil
atau cetok, ember, gayung, tali rafia, meteran, sumpit, penggaris, kamera, form
pengamatan dan alat tulis. Pada praktikum ini juga dilakukan penanaman dengan
perlakuan pemberian mulsa, maka diperlukan alat yaitu mulsa plastik hitam perak
(MPHP). Selain itu, diperlukan juga beberapa bahan, antara lain bibit ubi jalar
varietas antin, PGPR, pupuk kandang, pupuk urea, pupuk SP-36 dan pupuk KCL.
Pada praktikum ini juga dilakukan penanaman ubi jalar varietas beta, maka dari
itu diperlukan bahan berupa bibit ubi jalar varietas beta.

3.3 Metode Pelaksanaan


3.3.1 Persiapan Lahan
Hal pertama yang harus dilakukan adalah menyiapkan alat dan bahan.
Kemudian mengolah lahan dengan menggunakan cara manual yaitu dengan
cangkul agar tanah memiliki tekstur yang gembur, sehingga mempermudah
proses penanaman. Ukuran lahan yang perlu diolah yaitu 2,6 x 3 m. Setelah
selesai mengolah lahan, langkah selanjutnya yaitu membuat guludan pada petak
lahan, dalam satu petak lahan dibuat empat guludan. Guludan yang dibuat
memiliki ukuran dengan lebar dasar 50, dengan tinggi berkisar 20-30 cm.
Kemudian tiap-tiap guludan diberikan pupuk dasar yaitu pupuk kandang yang
merata. Tiap guludan terdapat enam lubang tanam. Kemudian, melakukan
penanaman refugia pada tepi lahan yang berjumlah lima tanaman dengan jarak
tanam 50 cm. Setelah itu dipasangkan papan untuk menandai lahan budidaya.
Untuk persiapan lahan dengan perlakuan pemberian mulsa, setelah pengolahan
lahan dan pemberian pupuk kandang maka dapat dilakukan pemasangan mulsa.
8

3.3.2 Penanaman
Selanjutnya yaitu penanaman bibit ubi jalar yang dilakukan seminggu
setelah pengolahan lahan. Untuk menentukan berapa banyak ubi jalar yang akan
ditanam maka dilakukan pengukuran jarak tanam terlebih dahulu. Jarak tanam
yang digunakan yaitu 50 x 50 cm, setelah itu membuat petakan lahan dari tali
rafia. Selanjutnya, membuat lubang tanam disetiap guludan sejumlah enam
lubang sesuai dengan petakan lahan menggunakan cetok. Kemudian, ubi jalar
ditanam pada lubang tanam tersebut, dimana setiap lubang tanam berisi satu
bibit ubi jalar. Bibit ubi jalar yang digunakan adalah varietas antin. Panjang setek
yang ditanam umumnya memiliki panjang berukuran ±20 cm. Metode yang
digunakan saat penanaman bibit adalah metode huruf V. Fungsi penanaman
dengan huruf V yaitu agar akar tanaman tumbuh dengan sempurna. Kemudian
tutup lubang yang telah terisi bibit ubi jalar dengan tanah. Metode penanaman ini
digunakan untuk penanaman bibit ubi jalar varietas antin maupun bibit ubi jalar
varietas beta.
3.3.3 Pemupukan
Pada saat pemupukan, pupuk dasar yang digunakan sebelum
penanaman yaitu pupuk kandang dengan pengaplikasian pupuk secara merata
pada tiap guludan. Ketika awal penanaman menggunakan pupuk SP36 dengan
dosis 3,75 gram/tanaman. Kemudian dilakukan pemupukan pada 14 hst
menggunakan pupuk Urea dengan dosis 1,56 gram/tanaman dan pupuk KCL
dengan dosis 1,25 gram/tanaman. Kemudian dilakukan pemupukan kembali
pada 28 hst menggunakan pupuk Urea dengan dosis 2,7 gram/tanaman dan
pupuk KCL dengan dosis 1,25 gram/tanaman.
3.3.4 Perawatan
Kemudian melakukan kegiatan perawatan. Kegiatan pada saat perawatan
antara lain penyulaman, penyiraman, penyiangan gulma, pembalikan tanaman
serta pengendalian hama dan penyakit tanaman budidaya. Penyulaman
dilakukan pada 7 hst dan sebaiknya disulam sebelum empat minggu.
Penyulaman lebih dari empat minggu akan menghasilkan umbi yang rendah
karena tidak mampu bersaing dengan tanaman disekitarnya. Setelah itu
penyiraman dilakukan pada saat pagi atau sore hari secara teratur setiap
harinya. Penyiraman dilakukan secukupnya namun tidak sampai tergenang.
Adapun penyiangan gulma dilakukan dengan cara mencabut langsung gulma
atau tumbuhan yang mengganggu pertumbuhan tanaman dalam petak lahan.
9

Pembalikan tanaman dilakukan setiap hari untuk mencegah akar adventif tumbuh
dari ruas-ruas sulur. Akar tersebut juga mampu berdiferensiasi menjadi umbi,
tetapi tidak optimal, sehingga dapat mengganggu pengisian dan perkembangan
umbi yang diutamakan. Oleh karena itu, perlu dilakukan pembalikan tanaman.
Pengendalian hama dan penyakit dapat dilakukan dengan mengambil hama
secara langsung dan menanam tanaman refugia serta pengaplikasian PGPR
sebanyak 10 ml/liter. Selain untuk mengendalikan penyakit tanaman PGPR juga
bertujuan untuk merangsang pertumbuhan akar dari tanaman ubi jalar.
3.3.5 Pengamatan
Parameter pengamatan untuk tanaman ubi jalar yang digunakan yaitu
panjang tanaman, jumlah daun, jumlah gulma dan pengukuran suhu tanah yang
dilakukan pada hari Senin-Jumat tanggal 18-22 Maret 2019. Pengamatan
tanaman ubi jalar dilakukan mulai 21 hst. Pengamatan dilakukan setiap
seminggu sekali dengan menentukan 5 sampel tanaman yang telah dipilih.
3.3.6 Panen
Tanaman ubi jalar dapat dipanen apabila daun-daun pada tajuk yang
telah menutupi sesamanya mulai menguning (secara alamiah). Pemanenan
dapat dilakukan dengan memotong pangkal batang kurang lebih 5 cm dari
permukaan guludan, mengangkat potongan tanaman keluar petakan,
membongkar sisi-sisi guludan, dan menggali umbi dengan cangkul.

3.4 Parameter Pengamatan


3.4.1 Panjang Tanaman
Pada tanaman ubi jalar, pengukuran panjang tanaman dilakukan dengan
mengukur panjang sulur. Hal ini dikarenakan batang tanaman ubi jalar yang
tumbuh menjalar. Untuk mengukur panjang sulur dilakukan dengan
menggunakan meteran jahit lalu mengukur dari permukaan tanah sampai ujung
pucuk sulur.
3.4.2 Jumlah Daun
Perhitungan jumlah daun dilakukan dengan cara manual yaitu
menghitung satu persatu daun yang terbuka sempurna. Jika daun sudah terbuka
sempurna, meskipun daun pada ubi jalar kecil atau besar, berlubang atau tidak
sudah termasuk dalam perhitungan jumlah daun. Seiring dengan pertumbuhan
tanaman maka jumlah daun setiap tanaman juga akan bertambah.
10

3.4.3 Suhu Tanah


Pengukuran suhu tanah dimulai dengan menyiapkan sumpit, penggaris,
dan thermometer sebagai alat yang digunakan untuk mengukur suhu.
Selanjutnya menentukan lahan dan guludan yang akan dijadikan sebagai tempat
pengamatan yaitu lahan non mulsa Z3 dan P3 serta lahan mulsa J4 dan B4.
Kemudian, membuat lubang sedalam 10 cm dan 20 cm menggunakan sumpit
dan penggaris lalu tancapkan thermometer kedalam lubang dan tunggu selama
satu menit. Lihatlah skala yang tertera pada thermometer, selanjutnya catat
hasilnya.
3.4.4 Jumlah Gulma
Pada pengamatan ubi jalar, jumlah gulma yang di cabut juga dihitung.
Adapun pengamatan jumlah gulma dilakukan dengan cara manual yaitu
mencabut setiap gulma yang terlihat pada guludan dan menghitung setiap gulma
yang dicabut serta dimasukkan kedalam kantung plastik untuk kemudian
dibuang. Jumlah gulma yang di hitung nantinya akan dimasukkan ke dalam
laporan pengamatan jumlah gulma.

3.5 Analisis Data


Analisis data dilakukan untuk mengetahui pertumbuhan yang terjadi pada
tanaman. Data didapatkan melalui pengamatan rutin terhadap tanaman ubi jalar
(Ipomoea batatas L.). Pengamatan difokuskan pada lima sampel tanaman. Data
tersebut diolah menggunakan Microsoft Excel untuk mempermudah dalam
memperoleh jumlah dan rata-rata tanaman ubi.
11

DAFTAR PUSTAKA
Apriliani, I. N., Heddy, S. dan Suminarti, N. E. 2016. Pengaruh Kalium pada
Pertumbuhan dan Hasil Dua Varietas Tanaman Ubi Jalar (Ipomoea
batatas (L.) Lamb). J. Produksi Tanaman. 4 (4): 264–270.
Badan Pusat Statistika. 2016. Poduksi Ubi Jalar Menurut Provinsi (ton), 1993-
2015. Retrieved April 12. 2016. from https://www.bps.go.id/dynamictable
/2015/09/09/883/produksi-ubi-jalarmenurut-provinsi-ton-1993-2015.html.
FAO. 2016. Countries by Commodity. Retrieved January 17, 2016.
Hambali, Mulkan, Febrilia Mayasari, Fitriadi Noermansyah. 2014. Ekstraksi
Antosianin dari Ubi Jalar dengan Variasi Konsentrasi Solven, dan Lama
Waktu Ekstraksi. 2(20):25-35.
Juanda, Dede dan Bambang Cahyono. 2000. Ubi Jalar Budidaya dan Analisis
Usaha Tani. Yogyakarta: Kanisius.
Jusuf. Tinuk S.W, Joko Restuono, dan Gatot Santoso. 2007. Penelitian Tanaman
Kacang-kacangan dan Umbi-umbian. Balai Pengelolahan Alih Teknologi
Pertanian (BPATP) Bogor.
Kurnia. U.,Y. Sulaeman, dan A. Muti. K. 2000. Potensi dan Pengelolaan Lahan
Kering Dataran Tinggi. Hlm. 227-245 dalam Sumberdaya Lahan
Indonesia dan Pengelolaannya. Pusat Penelitian Tanah dan
Agroklimat. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Neltriana, Novia. 2015. Pengaruh Dosis Pupuk Kandang Kotoran Sapi Terhadap
Pertumbuhan dan Hasil Ubi Jalar.
Pemerintah Kota Malang. 2008. Keadaan Geografi Malang.
https://malangkota.go.id/sekilas-malang/geografis/. Diakses tanggal 23
Maret 2019.
Rahmiana, Elvira Ambarasti. et al. 2015. Pengaruh Pengurangan Panjang Sulur
dan Frekuensi Pembalikan Batang Pada Pertumbuhan dan Hasil
Tanaman Ubi Jalar (Ipomea batatas L.) Varietas Madu Oranye. 3(2): 126-
134
Sabuluntika, Novita, Fitriyono Ayustaningwarno. 2013. Kadar β-Karoten,
Antosianin, Isoflavon, dan Aktivitas Antioksidan pada Snack Bar Ubi Jalar
Kedelai Hitam sebagai Alternatif Makanan Selingan Penderita Diabetes
Melitus Tipe 2. 2(4): 689-695.
Saleh,2011. Peningkatan Produksi dan Kualtas Umbi-Umbian. Balitkabi. Malang.
Sari, Fefi Catur Wulan. 2008. Analisis Pertumbuhan Ubi Jalar (Ipomea batatas L.)
dan Tanaman Nanas (Ananas comosus (L.) Merr) Dalam Sistem
Tumpangsari.
Sudjianto,U. dan Veronica Kristiani, 2009. Studi Pemulsaan dan Dosis NPK.
Jurnal Sains dan Teknologi 2(2):1-7.
Supriyatin. 2001. Hama Boleng pada Ubi Jalar dan Cara Pengendaliannya.
Buletin Palawija (2):22−29.
Susanto, Eko, Ninuk Herlina, Nur Edy Suminarti. 2014. Respon Pertumbuhan
dan Hasil Tanaman Ubi Jalar (Ipomoea batatas L.) pada Beberapa
Macam dan Waktu Aplikasi Bahan Organik. 2(5): 412-418.
12

Tinambunan,E. 2014 Penggunaan Beberapa Jenis Mulsa Terhadap Produksi


Tanaman. Jurnal Produksi Tanaman 2(1):25-30.
13

LAMPIRAN
1. Perhitungan Pupuk
Diketahui : Luas lahan = 2,6 m x 3 m
Luas jalan = 0,6 m
Maka luas lahan = 2,6 m x (3m – 0,6m)
Luas lahan = 6 m2
Jarak tanam = 50 cm x 50 cm = 2500 cm = 0,25 m 2
Pupuk urea = 250 kg/ha
Pupuk SP36 = 150 kg/ha
Pupuk KCL = 100 kg/ha
Ditanya: Kebutuhan Pupuk per Tanaman
Jawab:
𝐿𝑢𝑎𝑠 𝐿𝑎ℎ𝑎𝑛
 Populasi Tanaman =
𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑇𝑎𝑛𝑎𝑚

6 𝑚2
=
0,25 𝑚2

= 24 tanaman
 Kebutuhan pupuk per hektar :
- Urea 2 mst = ¼ x 250 kg/ha = 62,5 kg/ha
- Urea 4 mst = ¾ x 250kg/ha = 187,5 kg/ha
- SP36 (awal tanam) = 1 x 150 kg/ha = 150 kg/ha
- KCL 2 mst = ½ x 100 kg/ha = 50 kg/ha
- KCL 4 mst = ½ x 100 kg/ha = 50 kg/ha
 Kebutuhan pupuk per tanaman :
- Pupuk SP36 150 kg/ha (awal penanaman)
𝐾𝑒𝑏𝑢𝑡𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑝𝑢𝑝𝑢𝑘 𝑆𝑃36 𝑝𝑒𝑟 𝑙𝑎ℎ𝑎𝑛
Kebutuhan pupuk/tanaman =
𝑃𝑜𝑝𝑢𝑙𝑎𝑠𝑖 𝑇𝑎𝑛𝑎𝑚𝑎𝑛
150 𝑘𝑔 𝑥
=
ℎ𝑎 𝐿𝑢𝑎𝑠 𝑙𝑎ℎ𝑎𝑛
150 𝑘𝑔 𝑥
=
10.000 𝑚2 6 𝑚2
𝑘𝑔
900 2
𝑚
=𝑥
10.000 𝑚2

0,09 kg =𝑥
0,09 𝑘𝑔
=𝑥
𝑃𝑜𝑝𝑢𝑙𝑎𝑠𝑖 𝑇𝑎𝑛𝑎𝑚𝑎𝑛
90 𝑔𝑟𝑎𝑚
= 3,75 gram/tanaman
24 𝑡𝑎𝑛𝑎𝑚𝑎𝑛

- Pupuk Urea 62,5 kg/ha (2 mst)


𝐾𝑒𝑏𝑢𝑡𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑝𝑢𝑝𝑢𝑘 𝑈𝑟𝑒𝑎 𝑝𝑒𝑟 𝑙𝑎ℎ𝑎𝑛
Kebutuhan pupuk/tanaman =
𝑃𝑜𝑝𝑢𝑙𝑎𝑠𝑖 𝑇𝑎𝑛𝑎𝑚𝑎𝑛
14

62,5 𝑘𝑔 𝑥
=
ℎ𝑎 𝐿𝑢𝑎𝑠 𝑙𝑎ℎ𝑎𝑛
62,5 𝑘𝑔 𝑥
=
10.000 𝑚2 6 𝑚2
𝑘𝑔
375
𝑚2
=𝑥
10.000 𝑚2

0,0375 kg =𝑥
0,0375 𝑘𝑔
=𝑥
𝑃𝑜𝑝𝑢𝑙𝑎𝑠𝑖 𝑇𝑎𝑛𝑎𝑚𝑎𝑛
37,5 𝑔𝑟𝑎𝑚
= 1,56 gram/tanaman
24 𝑡𝑎𝑛𝑎𝑚𝑎𝑛
- Pupuk KCl 50 kg/ha
𝐾𝑒𝑏𝑢𝑡𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑝𝑢𝑝𝑢𝑘 𝐾𝐶𝑙 𝑝𝑒𝑟 𝑙𝑎ℎ𝑎𝑛
Kebutuhan pupuk/tanaman =
𝑃𝑜𝑝𝑢𝑙𝑎𝑠𝑖 𝑇𝑎𝑛𝑎𝑚𝑎𝑛
50 𝑘𝑔 𝑥
=
ℎ𝑎 𝐿𝑢𝑎𝑠 𝑙𝑎ℎ𝑎𝑛
50 𝑘𝑔 𝑥
=
10.000 𝑚2 6 𝑚2
𝑘𝑔
300
𝑚2
=𝑥
10.000 𝑚2

0,03 kg =𝑥
0,03 𝑘𝑔
=𝑥
𝑃𝑜𝑝𝑢𝑙𝑎𝑠𝑖 𝑇𝑎𝑛𝑎𝑚𝑎𝑛
30 𝑔𝑟𝑎𝑚
= 1,25 gram/tanaman
24 𝑡𝑎𝑛𝑎𝑚𝑎𝑛

- Pupuk Urea 187,5 kg/ha (4 mst)


𝐾𝑒𝑏𝑢𝑡𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑝𝑢𝑝𝑢𝑘 𝑈𝑟𝑒𝑎 𝑝𝑒𝑟 𝑙𝑎ℎ𝑎𝑛
Kebutuhan pupuk/tanaman =
𝑃𝑜𝑝𝑢𝑙𝑎𝑠𝑖 𝑇𝑎𝑛𝑎𝑚𝑎𝑛
187,5 𝑘𝑔 𝑥
=
ℎ𝑎 𝐿𝑢𝑎𝑠 𝑙𝑎ℎ𝑎𝑛
187,5 𝑘𝑔 𝑥
=
10.000 𝑚2 6 𝑚2
𝑘𝑔
1125
𝑚2
=𝑥
10.000 𝑚2

0,1125 kg =𝑥
0,1125 𝑘𝑔
=𝑥
𝑃𝑜𝑝𝑢𝑙𝑎𝑠𝑖 𝑇𝑎𝑛𝑎𝑚𝑎𝑛
112,5 𝑔𝑟𝑎𝑚
= 2,7 gram/tanaman
24 𝑡𝑎𝑛𝑎𝑚𝑎𝑛
- Pupuk KCl 50 kg/ha
𝐾𝑒𝑏𝑢𝑡𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑝𝑢𝑝𝑢𝑘 𝐾𝐶𝑙 𝑝𝑒𝑟 𝑙𝑎ℎ𝑎𝑛
Kebutuhan pupuk/tanaman =
𝑃𝑜𝑝𝑢𝑙𝑎𝑠𝑖 𝑇𝑎𝑛𝑎𝑚𝑎𝑛
50 𝑘𝑔 𝑥
=
ℎ𝑎 𝐿𝑢𝑎𝑠 𝑙𝑎ℎ𝑎𝑛
15

50 𝑘𝑔 𝑥
=
10.000 𝑚2 6 𝑚2
𝑘𝑔
300
𝑚2
=𝑥
10.000 𝑚2

0,03 kg =𝑥
0,03 𝑘𝑔
=𝑥
𝑃𝑜𝑝𝑢𝑙𝑎𝑠𝑖 𝑇𝑎𝑛𝑎𝑚𝑎𝑛
30 𝑔𝑟𝑎𝑚
= 1,25 gram/tanaman
24 𝑡𝑎𝑛𝑎𝑚𝑎𝑛