Anda di halaman 1dari 11

PRAKTIKUM EKONOMI MAKRO

MODUL 1:
TEORI DAN MODEL EKONOMI MAKRO

Disusun oleh:
Nur Baladina, SP. MP.

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2016
MODUL 1
TEORI DAN MODEL EKONOMI MAKRO

A. DESKRIPSI MODUL
Ilmu ekonomi mikro maupun ekonomi makro pada hakikatnya juga
merupakan ilmu ekonomi, karena substansi pembahasan kedua cabang ilmu
ekonomi tersebut adalah masalah kelangkaan; yaitu bagaimana manusia sebagai
individu yang rasional dan juga sebagai makhluk sosial mencoba mengatasi
masalah kelangkaan. Perbedaan antara ilmu ekonomi mikro dan makro hanyalah
pada tekanan pembahasannya. Dalam ekonomi mikro, fokus analisisnya adalah
perilaku individu seperti perusahaan (produsen), tenaga kerja dan konsumen dalam
konteks yang lebih terbatas (industri). Sementara dalam ekonomi mako, fokus
pembahasannya adalah bagaimana perilaku para agen ekonomi dalam konteks
agregat (keseluruhan).
Dalam modul pertama ini, mahasiswa akan mempelajari mengenai teori dan
model dalam ekonomi makro. Substansi materi meliputi frame work teoritis tentang
ruang lingkup dan konsep dasar ekonomi makro, model dalam ekonomi makro,
komponen-komponen dalam model ekonomi makro, apa saja masalah, tujuan, dan
kebijakan ekonomi makro, serta siapa saja pelaku dan macam pasar dalam
ekonomi makro.

B. KEGIATAN BELAJAR
B. 1. Tujuan Kegiatan
Setelah mempelajari modul ini, mahasiswa diharapkan dapat:
1. Mengetahui dan memahami pengertian dan ruang lingkup dari ilmu ekonomi
makro.
2. Mampu memahami dan menjelaskan teori dan model dari ekonomi makro.
3. Mampu memahami dan menjelaskan komponen-komponen dalam model
ekonomi makro.
4. Mengetahui dan memahami masalah, tujuan dan kebijakan ekonomi makro.
5. Mampu menjelaskan pelaku dan macam pasar dalam ekonomi makro.

B. 2. Uraian Materi Belajar

Teori Ekonomi Makro


Pada dasarnya tidak terdapat perbedaan yang prinsip antara ekonomi
makro dan ekonomi mikro. Kedua cabang ekonomi ini sama-sama memusatkan
perhatian pada interaksi transaktor dalam pasar, yaitu sektor rumah tangga,
perusahaan, dan pemerintah. Dengan demikian alat yang digunakan untuk analisis
dalam kedua ekonomi tersebut adalah sama. Perbedaannya, ekonomi makro
berhubungan dengan variabel-variabel yang bersifat agregat (keseluruhan),
sedangkan ekonomi mikro berhubungan dengan variabel-variabel yang bersifat
individual. Jadi hanya berbeda dalam tingkat agregasinya.
Samuelson dan Nordhaus (1997 : 77) menyatakan bahwa ilmu ekonomi
makro adalah studi tentang perilaku perekonomian secara keseluruhan. Ilmu ini
mempelajari output nasional, kesempatan kerja, harga dan perdagangan

2
internasional. Sebaliknya ilmu ekonomi mikro mempelajari tentang harga, kuantitas,
dan pasar secara sendiri-sendiri ( individu).
Menurut Rahardja (2008), cabang ilmu ekonomi makro dan ekonomi mikro,
keduanya mempunyai tujuan yang sama, yaitu melihat apakah sudah terjadi alokasi
sumber daya ekonomi yang efisien atau belum. Jika belum, apa penyebabnya dan
bagaimana mengatasinya? Jika sudah, apakah efisiensi tersebut dapat ditingkatkan
lagi atau tidak? Sinergi yang dihasilkan dari kedua cabang ilmu ekonomi ini akan
terasa jika kita menerapkannya dalam analisis ilmu-ilmu ekonomi terapan (applied
economics). Misalnya dalam Ilmu Ekonomi Pembangunan dapat dijelaskan bahwa
masalah-masalah agregat yang dihadapi negara-negara yang sedang membangun
(NSB), seperti tingkat produksi (PDB) yang rendah, biasanya akan mempunyai
keterkaitan dengan masalah-masalah di tingkat mikro, seperti rendahnya
produktivitas pekerja dan ketidakefisienan pengelolaan perusahaan.

Model dalam Ekonomi Makro


Dalam mempelajari ekonomi makro, kita sering menggunakan hubungan
antara teori dan model. Teori menggunakan model untuk melaksanakan fungsinya,
sedangkan model menggambarkan hubungan antar variabel. Model digunakan dan
berfungsi sebagai alat untuk menjelaskan perilaku-perilaku dan fenomena-
fenomena yang dihadapi maupun yang belum diketahui. Oleh karena itu, model
dapat didefinisikan sebagai penyederhanaan dari masalah ekonomi dunia nyata
yang lebih kompleks dan rumit (Diulio, 1993).
Seperti halnya teori, model selalu bersifat abstrak, karena itu setiap model
selalu dilandasi oleh asumsi-asumsi tertentu. Semakin sedikit asumsi yang
digunakan, semakin rumit pula modelnya karena harus menampung semakin
banyak variabel-variabel maupun hubungan antar variabel-variabel tersebut yang
dipandang relevan (Soelistyo dan Insukindro, 2001).
Bagi sebagian besar ahli-ahli ekonomi, atribut terpenting dari seluruh model
adalah kemampuan model untuk memberikan penjelasan mengenai situasi atau
masalah yang dihadapi dan membuat prediksi tentang segala sesuatu yang belum
diketahui. Jika tujuan pembuatan model adalah untuk menjelaskan masalah atau
situasi yang dihadapi, maka asumsi-asumsi yang digunakan sebaiknya mendekati
realitas. Sebaliknya apabila tujuan pembuatan model adalah untuk membuat
prediksi, maka syarat bahwa asumsi harus mendekati realitas menjadi tidak relevan,
bahkan akan dapat menyesatkan (Soelistyo dan Insukindro, 2001). Sedangkan
menurut Koutsoyiannis (1985), validitas model dapat dinilai dari beberapa kriteria,
antara lain: kekuatan prediksinya, konsistensi dan realisme asumsinya, tingkat
informasi yang diberikan, generalisasi, dan simplisitinya.
Variabel-variabel yang digunakan dalam suatu model, dapat dikelompokkan
menjadi dua golongan, yaitu:
1. Golongan pertama adalah variabel-variabel yang nilainya ditentukan oleh faktor-
faktor di luar model yang dibuat, disebut variabel eksogen. Jadi bagi suatu
model, nilai variabel eksogen merupakan nilai-nilai yang sudah tertentu.
2. Golongan kedua adalah varabel-variabel yang nilainya ditentukan secara
bersama-sama / akan dijelaskan dalam model yang dibuat, disebut variabel
endogen.
3
Dengan kata lain, variabel eksogen berasal dari luar model dan bertindak
sebagai input model, sedangkan variabel endogen ditentukan di dalam model dan
merupakan output model. Sehingga sebuah model akan menunjukkan bagaimana
perubahan dalam variabel eksogen mempengaruhi variabel endogen (Mankiw,
2003). Adapun pengelompokan variabel-variabel ke dalam dua golongan, hanya
berlaku dalam model tersebut saja. Artinya jika modelnya lain/berubah, maka
kedudukan variabel-variabel tersebut juga dapat berubah.

Variabel Eksogen MODEL Variabel Endogen

Gambar 1.2. Bagaimana Model Bekerja


(Sumber: Mankiw, 2003)

Variabel eksogen juga banyak yang mengistilahkan sebagai variabel bebas


atau tidak terikat atau independent. Sedangkan variabel endogen, seringkali
diistilahkan sebagai variabel tidak bebas atau terikat atau dependent.

Sebagai contoh, untuk menganalisis dan memprediksi hubungan antara tingkat


konsumsi dan pendapatan, dapat disusun model ekonometrika :

C =  + Yd

dimana, C = tingkat konsumsi,


Yd = tingkat pendapatan disposibel
 = parameter yang ikut menentukan tingkat konsumsi, dan besarnya
tidak dipengaruhi pendapatan disposibel
 = koefisien perilaku (parameter), mengukur besarnya pengaruh
pendapatan disposibel terhadap tingkat konsumsi agregat.
Persamaan C =  + Yd, mempunyai arti bahwa konsumsi agregat tergantung pada
besar kecilnya jumlah pendapatan disposibel yang diterima.

Masalah dan Tujuan dari Ekonomi Makro


Hasil analisis dan prediksi berdasarkan teori ekonomi berguna sebagai
pedoman pembuatan kebijakan untuk memecahkan masalah-masalah
perekonomian tertentu. Menurut Boediono (1994), permasalahan pokok dalam
ekonomi makro dapat digolongkan ke dalam dua macam:
a) Masalah jangka pendek atau masalah stabilisasi. Masalah ini berkaitan dengan
bagaimana “menyetir” perekonomian nasional dari bulan ke bulan, dari triwulan
ke triwulan atau dari tahun ke tahun, agar terhindar dari tiga penyakit makro,
yaitu, (1) inflasi, (2) pengangguran, dan (3) ketimpangan dalam neraca
pembayaran.
b) Masalah jangka panjang atau masalah pertumbuhan. Masalah ini adalah
bagaimana kita menyetir perekonomian agar ada keserasian antara
pertumbuhan penduduk, pertambahan kapasitas produksi, dan tersedianya
4
dana untuk investasi. Pada dasarnya masalahnya juga berkisar pada
bagaimana menghindari ketiga penyakit makro di atas, tetapi perspektif
waktunya lebih panjang (lima tahun, sepuluh tahun, atau bahkan dua puluh lima
tahun).
Sehubungan dengan masalah-masalah tersebut, apabila kita ingin
memecahkan masalah jangka pendek maka harus disusun dan diterapkan
kebijakan-kebijakan jangka pendek, misalnya dengan menambah jumlah uang yang
beredar, menurunkan tingkat bunga, mengenakan pajak impor, menurunkan pajak
pendapatan atau pajak penjualan, menambah pengeluaran pemerintah,
mengeluarkan obligasi pemerintah dan sebagainya. Sedangkan jika ingin
memecahkan masalah jangka panjang, tentu juga harus menerapkan kebijakan
yang berkaitan dengan masalah jangka panjang, seperti kebijakan yang berkaitan
dengan kapasitas total perekonomian, jumlah penduduk dan angkatan kerja, serta
lembaga-lembaga sosial-politik-ekonomi yang ada. Kebijakan-kebijakan yang
berkaitan dengan pengeluaran pemerintah dan perpajakan dikenal sebagai
kebijakan fiskal. Kebijakan yang berkaitan dengan penawaran dan permintaan uang
dikenal dengan kebijakan moneter.
Menurut Samuelson dan Nordhaus (1997 : 78-88), untuk mengevaluasi
keberhasilan suatu perekonomian secara keseluruhan, para ekonom
memandangnya dari empat bidang yaitu : output, kesempatan kerja, stabilitas
harga, dan perdagangan internasional. Dengan demikian tujuan utama ekonomi
makro suatu negara adalah :
1. Mencapai output yang tinggi dengan laju pertumbuhan cepat. Tujuan akhir
kegiatan ekonomi adalah menghasilkan barang dan jasa yang dibutuhkan
oleh masyarakat (pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan, rekreasi,
dsb). Ukuran besarnya output perekonomian yang paling komprehensif adalah
Produk Nasional Bruto (Gross National Product = GNP), yaitu nilai pasar atas
semua produk akhir barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara selama satu
tahun. Jadi, yang dihitung dalam GNP adalah barang-barang dan jasa-jasa
yang dihasilkan oleh warga negara dan milik warga negara. Barang-barang dan
jasa-jasa yang dihasilkan oleh WNA yang perusahaannya beroperasi di
Indonesia tidak termasuk GNP Indonesia. Sebaliknya barang-barang dan jasa-
jasa yang dihasilkan oleh WNI di luar negeri harus dimasukkan ke dalam GNP
Indonesia.
2. Kesempatan kerja tinggi, Pengangguran rendah. Tujuan kebijakan ekonomi
makro berikutnya adalah kesempatan kerja setinggi mungkin dan pengangguran
serendah mungkin. Setiap penduduk pasti menginginkan pekerjaan yang baik
dan diberi upah yang cukup besar, tanpa harus menunggunya terlalu lama.
3. Kestabilan harga. Tujuan selanjutnya adalah mempertahankan kestabilan harga
di pasar bebas. Dalam pasar bebas, harga-harga sepenuhnya ditentukan oleh
penawaran dan permintaan, pemerintah tidak campur tangan mengawasi harga
barang tertentu. Cara yang paling umum untuk mengukur tingkat harga
keseluruhan adalah indek harga konsumen (IHK) atau consumer price index
(CPI). Perubahan tingkat harga dinyatakan sebagai laju inflasi. Laju inflasi dari
IHK dapat dirumuskan sebagai berikut :

5
IHK tahun ini - IHKtahun lalu
Laju Inflasi dari IHK  x 100%
IHK tahun lalu
Kebalikan dari inflasi adalah deflasi yaitu terjadi ketika harga turun (laju inflasi
negatif).
4. Perdangangan internasional. Tujuan terakhir kebijakan ekonomi makro sebagian
besar negara adalah mencapai keseimbangan impor dan ekspornya. Selisih
antara nilai ekspor dan nilai impor disebut ekspor bersih atau ekspor neto. Bila
nilai ekspor neto positif disebut surplus perdagangan. Sebaliknya jika nilai
ekspor negatif disebut defisit perdagangan. Disamping itu juga diupayakan agar
nilai tukar uang (kurs) berlangsung stabil.

Pelaku-Pelaku Aktivitas Ekonomi


Pelaku-pelaku aktivitas ekonomi secara umum terdiri dari tiga sektor, yaitu
rumah tangga (households sector), perusahaan (firms sector), dan pemerintah
(government sector). Jika suatu negara menerapkan sistem perekonomian terbuka
(ada aktivitas ekspor-impor), maka akan ada tambahan 1 sektor lagi yaitu sektor
luar negeri (foreign sector). Berikut ini diuraikan peranan mereka dalam aktivitas
ekonomi.
1. Sektor Rumah Tangga
Terdiri atas sekumpulan individu yang dianggap homogen dan identik.
Rumah tangga adalah pemilik dari berbagai faktor produksiyang diperlukan untuk
proses produksi barang dan jasa privat (sektor perusahaan) maupun barang dan
jasa publik (sektor pemerintah), seperti: tenaga kerja (fisik dan otak); modal (tanah,
bangunan, peralatan modal, uang, atau kesediaan menanggung resiko dengan
membeli saham). Sebagai balas jasa dari faktor-faktor produksi yang ditawarkan,
perusahaan memberikan berbagai jenis “pendapatan” kepada sektor rumah-tangga
(garis 1). Tenaga kerja menerima gaji atau upah, pemberi pinjaman uang menerima
pendapatan bunga, pemilik tanah dan bangunan menerima uang sewa, pemilik
saham menerima pembagian keuntungan (deviden).
Dari pemerintah, sektor rumah tangga juga memperoleh pendapatan upah
jika individu bekerja, misal sebagai PNS. Sedangkan pendapatan bunga diperoleh
jika individu bersedia meminjamkan uangnya kepada pemerintah dengan membeli
obligasi pemerintah. Sedangkan pendapatan sektor rumah tangga berupa
pendapatan non balas jasa (PNJB) atau transfer payment, diberikan oleh
pemerintah negara maju dalam bentuk tunjangan-tunjangan sosial (social securities)
bagi kelompok masyarakat kurang mampu atau yang sedang menganggur (garis 2).
Jika bagi masyarakat kurang mampu pemerintah memberikan tunjangan-
tunjangan, maka bagi yang mampu pemerintah akan menarik pajak (garis 3).
Adanya pajak akan mengurangi pendapatan total sektor rumah tangga, dimana
pendapatan (garis 1 + garis 2) dikurangi pajak (garis 3) merupakan pendapatan
yang dapat dibelanjakan (disposible income). Pendapatan inilah yang selanjutnya
digunakan untuk konsumsi barang dan jasa yang diproduksi sektor perusahaan
(garis 4) maupun yang diimpor dari luar negeri (garis 8).

6
Pembelian Barang dan Jasa

(4)

Pembelian Barang dan Jasa Pajak

(5) (3)

Perusahaan Pemerintah Rumah Tangga

(6) (2)

Pajak Gaji, Pembayaran Bunga,


Penghasilan Non Balas
Jasa (Transfer Payment)

(1)

Gaji, Upah, Bunga, Deviden, Sewa

(7) (8)
Dunia Internasional
Impor Ekspor

Gambar 1.1. Hubungan Pelaku Ekonomi dalam Perekonomian


(Sumber: Rahardja, 2008)

2. Sektor Perusahaan
Sektor perusahaan terdiri atas sekumpulan perusahaan yang memproduksi
barang dan jasa. Berdasarkan Gambar 1, aliran pengeluaran sektor rumah tangga
(garis 4) merupakan aliran pendapatan sektor perusahaan. Selain dari sektor rumah
tangga, perusahaan juga memperoleh pendapatan dari sektor pemerintah atas
aktivitas konsumsi pemerintah (garis 5), dan dari permintaan sektor luar negeri yang
merupakan aktivitas ekspor sektor perusahaan (garis 7). Selain melakukan
pembayaran untuk sektor rumah tangga (garis 1), perusahaan juga membayar pajak
kepada pemerintah (garis 6).

3. Sektor Pemerintah
Fungsi utama pemerintah adalah menyediakan barang publik (public goods
provision). Untuk menjalankan fungsi tersebut, pemerintah melakukan pengeluaran
berupa pembelian barang dan jasa dari sektor perusahaan (garis 5) dan
pengeluaran-pengeluaran untuk sektor rumah tangga (garis 2). Karena barang
7
publik tidak dapat disediakan sepenuhnya melalui mekanisme pasar, maka
pemerintah harus menarik pajak dari sektor rumah tangga (garis 3) dan sektor
perusahaan (garis 6).

4. Sektor Luar Negeri


Sektor rumah tangga, perusahaan dan pemerintah merupakan
perekonomian domestik. Perekonomian dikatakan tertutup (closed economy), jika
tidak melakukan interaksi dengan sektor luar negeri. Dalam perekonomian terbuka
(open economy), interaksi dengan sektor luar negeri disederhanakan dengan
mekanisme ekspor (garis 7) dan impor (garis 8). Ekspor merupakan aliran
pendapatan dari sektor luar negeri ke perekonomian domestik, sedangkan impor
merupakan aliran pengeluaran dari perekonomian domestik ke sektor luar negeri.

Jenis-Jenis Pasar dalam Ekonomi Makro


Hubungan antar pelaku dalam perekonomian yang telah diuraikan di atas,
didasarkan asumsi bahwa tingkat harga ditentukan melalui mekanisme pasar. Untuk
analisis ekonomi makro, pasar-pasar yang begitu banyak dikelompokkan menjadi
empat jenis pasar, yaitu:
1. Pasar Barang dan Jasa
 Tidak seperti ekonomi mikro yang memfokuskan pada pasar untuk satu
macam barang, seperti pasar beras, pasar radio, atau pasar kain; pada pasar
ini, yang menjadi perhatian adalah pasar komoditi secara keseluruhan,
 Merupakan pertemuan antara permintaan dan penawaran barang dan jasa.
 Dalam perekonomian tertutup, permintaan berasal dari sektor rumah tangga
dan pemerintah berupa barang dan jasa akhir, sedangkan penawaran dari
sektor perusahaan.
 Namun dalam perekonomian modern, terutama dengan makin tingginya
spesialisasi, perusahaan juga sebagai peminta barang dan jasa hasil produksi
perusahaan lain, yang akan digunakan sebagai input antara (intermediate
input) produksinya. Hal ini dikarenakan tidak semua perusahaan memproduksi
sendiri bahan baku yang dipakai untuk memproduksi barang dan jasa, misal
perusahaan mobil tidak menambang sendiri bijih besi yang diperlukan, tidak
mmproduksi sendiri mesin-mesin yang digunakan untuk mencetak rangka
mobil.

2. Pasar Tenaga Kerja


 Fokusnya adalah pasar tenaga kerja secara keseluruhan, bukan pasar untuk
dokter, pasar untuk akuntan, pasar untuk pekerja swasta, pasar untuk ahli
teknik, dsb.
 Merupakan interaksi antara permintaan dan penawaran tenaga kerja.
 Dalam perekonomian tertutup, penawaran berasal dari sektor rumah tangga,
sedangkan permintaan berasal dari sektor perusahaan dan pemerintah.
 Dalam perekonomian terbuka, penawaran dan permintaan tenaga kerja juga
bisa berasal dari luar negeri. Misalnya penawaran tenaga kerja untuk buruh-
buruh perkebunan sawit di Malaysia berasal dari Indonesia, sebaliknya
8
pengiriman Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri (Arab Saudi, Korea
Selatan, Malaysia) dilakukan karena adanya permintaan dari negara-negara
yang bersangkutan.

3. Pasar Uang
 Merupakan interaksi antara permintaan uang dengan penawaran uang.
 Yang diperjualbelikan bukan fisiknya uang, tapi hak penggunaan uang.
 Penawaran uang berasal dari pihak-pihak yang bersedia menunda hak
penggunaan uangnya, baik dalam jangka pendek atau jangka panjang.
 Permintaan uang berasal dari pihak-pihak yang membutuhkan uang dengan
berbagai alasan.
 Contoh: individu yang bersedia memberikan hak penggunaan uangnya
kepada pihak lain selama tiga bulan, dapat menaruh uangnya dalam bentuk
deposito berjangka tiga bulanan. Sebagai balas jasa ia mendapat pendapatan
bunga, sedang si peminjam/peminta uang harus bersedia membayar bunga.
 Lembaga perantara keuangan berfungsi mempertemukan permintaan dan
penawaran uang, contoh lembaga perbankan dan non perbankan.

4. Pasar Bursa/Saham
 Fokusnya pada pasar bursa sebagai satu keseluruhan. Jadi tidak hanya
membicarakan pasar saham semen Cibinong, pasar saham obligasi, pasar
saham barang, dsb.
 Merupakan interaksi antara permintaan dan penawaran bursa/saham/surat
berharga (obligasi).
 Penawaran bursa/saham /surat berharga (obligasi) dikeluarkan oleh sektor
perusahaan dan sektor pemerintah, terutama untuk tujuan memperluas
usaha. Sehingga besarnya penawaran saham/obligasi yang dikeluarkan
tergantung pada besarnya perluasan pabrik/usaha dan tambahan peralatan
pabrik/usaha yang akan dibeli, atau dengan kata lain tergantung pada
besarnya investasi.
 Permintaan terhadap bursa/saham /surat berharga (obligasi) berasal dari
sektor rumah tangga, sehingga besarnya permintaan terhadap saham/obligasi
tergantung pada tingkat suku bunga dan sikap/keberanian seseorang dalam
menanggung resiko. Hal ini disebabkan karena harga saham/obligasi tidak
pernah konstan, berubah-ubah seiring dengan perubahan suku bunga,
sehingga bisa untung juga bisa rugi. Sedangkan jika harga-harga relatif
konstan, memegang uang kas tidak menanggung risiko perubahan nilai.

Masing-masing pasar dalam ekonomi makro juga merupakan pertemuan


antara permintaan (demand) dan penawaran (supply). Masing-masing pasar
tersebut juga akan mempelajari dua aspek utama pasar, apa yang terjadi dengan
harga (P) dan kuantitas yang ditransaksikan (Q)

9
C. TUGAS BELAJAR MODUL 1

1. Jelaskan arti dari fungsi berikut dan tunjukkan mana yang tergolong variabel tidak
bebas dan variabel bebas untuk:
a. I = f(i)
b. I = f(Yt+1 –Yt)

2. Untuk persamaan-persamaan berikut, nyatakanlah mana yang termasuk


a) variabel tidak bebas, b) variabel bebas, c) parameter, d) koefisien perilaku.
(i) z = a + by
(ii) m = an – by
(iii) d = aj + by

3. Tentukan apakah variabel-variabel dalam soal no. 2 (i), (ii), dan (iii) berhubungan
secara positif atau negatif?

4. Jelaskan secara singkat dan jelas pernyataan berikut: Konsumsi agregat


ditentukan oleh besarnya penerimaan pendapatan disposible, ceteris paribus.

5. Jelaskan sejauh mana pentingnya asumsi ceteris paribus dalam teori ekonomi?

6. Tunjukkan mana variabel eksogen dan variabel endogen dari fungsi permintaan
terhadap jagung berikut ini:
Qd = 60 – 10 P + 2 Y

7. Jelaskan arti dari masing-masing komponen (baik variabel maupun parameter)


persamaan C = $20 + 0,90 Yd.

8. Ringkaslah bagaimana hubungan antar transaktor (pelaku ekonomi) dan pasar


pada negara dengan sistem perekonomian tertutup (closed economy), dengan
cara mengisi titik-titik pada tabel berikut ini

Pasar Pasar Pasar Tenaga Pasar Pasar Bursa


Transaktor Komoditi Kerja Uang
Sektor Rumah Tangga ................... ................... ................... ...................
Sektor Perusahaan ................... ................... ................... ...................
Sektor Pemerintah ................... ................... ................... ...................

10
DAFTAR PUSTAKA

Diulio, Eugene A. 1993. Teori Makroekonomi. Alih bahasa: Rudy Sitompul, cetakan
ke-4. Penerbit Erlangga. Jakarta.

Mankiw, Gregory N. 2003. Teori Makroekonomi. Alih bahasa: Imam Nurmawan,


edisi ke-5. Penerbit Erlangga. Jakarta.

Rahardja, P. dan M. Manurung. 2004. Teori Ekonomi Makro: Suatu Pengantar.


Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Samuelson, P. A. dan W.D. Nordhaus. 1997. Makroekonomi, edisi ke-14. Penerbit


Erlangga, Jakarta.

Soelistyo dan Insukindro, 2001. Teori Ekonomi Makro I. Pusat Penerbitan


Universitas Terbuka. Jakarta

oo0O0oo

11