Anda di halaman 1dari 43
Upaya Hukum Notaris terhadap Keputusan MPN dan MKNW yang Menurut Notaris Merugikan Dirinya A. Objek Pemeriksaan di MPN dan MKNW Menempatkan akta sebagai objek, maka batasan MPN dan MKNW dalam melakukan pemeriksaan harusnya berkisar pada : 1. Kekuatan pembuktian lahiriah akta Notaris Dalam memeriksa aspek lahiriah dari akta Notaris, maka MPN dan MKNW harus dapat membuktikan otensitas akta Notaris tersebut. MPN dan MKNW harus melakukan pembuktian terbalik untuk menyangkal aspek lahiriah dari akta Notaris. Jika MPN dan MKNW tidak mampu untuk membuktikannya, maka akta tersebut harus dilihat “apa adanya”, bukan difihat “ada apanya”. Kekuatan pembuktian formal akta Notaris Dalam hal ini MPN dan MKNW harus dapat mem- buktikan ketidakbenaran apa yang dilihat, disaksikan dan didengar oleh Notaris, juga harus dapat membuktikan ketidakbenaran pernyataan atau keterangan para pihak yang diberikan/disampaikan di hadapan Notaris. Dengan kata lain, MPN dan MKNW tetap harus melakukan pembuktian terbalik untuk menyangkal aspek formal dari akta Notaris. Jika MPN dan MKNW tidak mampu untuk membuktikannya, maka akta tersebut harus diterima oleh siapapun termasuk oleh MPN dan MKNW sendiri. 3. Kekuatan pembuktian materi akta Notaris Dalam kaitan ini, MPN dan MKNW harus dapat membuktikan, bahwa Notaris tidak menerangkan atau menyatakan yang sebenarnya dalam akta (akta pejabat), atau para pihak yang telah benar berkata (di hadapan Notaris) menjadi tidak berkata benar. MPN dan MKNW harus melakukan pembuktian terbalik untuk menyangkal aspek materi! dari akta Notaris. Jika MPN dan MKNW tidak mampu untuk membuktikannya, maka tersebut akta tersebut benar adanya. Dengan demikian, aspek mana yang akan dibuktikan secara terbalik oleh MPN dan MKNW ketika memeriksa Notaris ? Maka MPN dan MKNW dibebani pembuktian sebagaimana diatur dalam Pasal 138 HIR (Pasal 464 Rbg, 148 Rv), sebelum memutuskan apakah Notaris yang diperiksa tersebut telah melanggar salah satu atau ketiga aspek tersebut. Ketiga aspek tersebut merupakan kesempurnaan akta Notaris sebagai alat bukti®, sehingga siapapun (hakim, jaksa, kepolisian, bahkan Notaris dan MPN dan MKNW sendiri) terikat untuk menerima akta Notaris “apa adanya”, dan siapapun tidak dapat menafsirkan fain atau menambahkan/ meminta alat bukti lain untuk menunjang akta Notaris, sebab jika akta Notaris tidak dinilai sebagai alat bukti yang sempurna, akan menjadi 86 Putusan’ Mahkamah Agung Nomor 762 K/Sip/1973, tanggal 5 September 1973: judex foctie dalam amar putusannya membatalkan akta Notaris, hal ini adalah tidak dapat dibenarkan, karena Notaris fungsinya hanya mencatatkan/menuliskan apa-apa yang dikehendaki dan dikemukakan oleh para pihak yang menghadap Notaris tersebut. Tidak ada kewajiban bagi Notaris untuk menyelidiki secara materil apa-apa (hal-hal) yang dikemukakan oleh penghadap di hadapan Notaris tersebut. Putusan Mahkamah Agung nomor ; 3199 K/Pdt/1992, tanggal 27 oktober 1994: akta otentik, menurut ketentuan ex Pasal 165 HIR jo Pasal 265 Rog jo Pasal 1868 BW merupakan bukti yang sempurna bagi kedua belah pihak, para ahli warisnya, dan orang yang mendapat hak darinya. Akta otentik ini masih dapat dilumpuhkan oleh bukti lawan. Di samping adanya bukti otentik, hakim seharusnya memperhatikan dan meneliti pula bukti lawan, berupa surat di bawah tangan dan tidak begitu saja mengenyampingkan dan tidak memberikan penilaiannya tentang dapat tidaknya melumpuhkan bukti otentik yang ada. Adanya bukti akta otertik bukanlah satu-satunya keharusan untuk suatu fakta hukum. tidak ada gunanya undang-undang menunjuk Notaris sebagai Pejabat Umum untuk membuat akta otentik sebagai alat bukti yang sempurna, jika ternyata siapapun saja dengan semaunya dan seenaknya atau tanpa dasar hukum yang jelas mengenyampingkan akta Notaris sebagai alat bukti yang sempurna. Oleh karena itu, jika ada sesama Notaris saling menyalahkan atau menjelekkan akta yang dibuat oleh Notaris lainnya, hal ini menujukkan bahwa Notaris yang bersangkutan tidak mengerti makna akta Notaris sebagai alat bukti yang sempurna. Jika anggota MPN dan MKNW yang berasal dari Notaris memahami dengan benar pelaksanaan tugas jabatan Notaris sesuai UUJN, maka akan mengerti untuk menempatkan fokus pemeriksaan Notaris dengan objek pada akta Notaris. Jika anggota MPN dan MKNW yang berasal dari Notaris memahami dengan benar lembaga kenotariatan sudah pasti akan tetap menjaga jabatan Notaris sebagai jabatan kepercayaan. Untuk mengerti dan memahami dunia Notaris, para Notaris sebelumnya harus menimba ilmu kenotariatan kurang lebih selama 2 (dua) tahun, sehingga anggota MPN dan MKNW yang bukan dari Notaris untuk dapat memahami dunia Notaris, juga terlebih dahulu untuk menimba ilmu dunia Notaris secara komprensip. Jika ini dapat dilakukan maka akan ada persepsi yang sama ketika memeriksa Notaris. Upaya hukum yang disebutkan di atas mempunyai batasan-batasan tertentu, yaitu hanya berlaku ketika Notaris menjalankan tugas jabatannya sesuai dengan wewenang Notaris dan tidak berlaku jika tindakan Notaris tidak dalam menjalankan tugas jabatannya atau tidak sesuai dengan wewenang Notaris, contohnya seorang Notaris dalam kapasitas sebagai pribadi atau sebagai pengusaha (terlepas dari tugas jabatannya sebagai Notaris} bertindak selaku agen Tenaga Kerja Indonesia yang melakukan penipuan dan penggelapan®, yang dalam melakukan usahanya tersebut mempergunakan atribut Notarisnya®, Tindakan Notaris seperti itu dapat dikategorikan sebagai melakukan perbuatan yang merendahkan kehor- matan dan martabat jabatan Notaris (Pasal 12 huruf c UUJN). Jika ternyata yang bersangkutan berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukum pidana 87 Jawa Pos, tanggal 6 dan 7 Oktober 2096, hal. 33. Surya, tanggal 15 Desember 2006, hal. 20, 88 Jika tindakan Notaris yang dilakukan bukan dalam rangka menjalankan tugas jabatan Notaris, dijadikan tersangka atau terpidana, seharusnya atribut sebagai Notaris tidak perlu dibawa-bawa.