Anda di halaman 1dari 6

EBD o Jika untuk prognosis: longitudinal study, case control,

cohort, survival analysis


1. Langkah2:
- Identifikasi dan formulasi masalah  pertanyaan dikembangkan o Menentukan besar sample : Semakin besar sample,
menjadi 2 semakin representative
Background : pertanyaan mengenai riwayatnya penyakit pasien o Hasil : Dilihat dari nilai p dari uji statistic
(anamnesis)
(Kajian Kritis Makalah Ilmiah Kedokteran Klinik, Dr. Hananto Wiryo)
foreground : untuk pertanyaan yang akan datang mengenai
perawatan yang akandilakukan atau intervensi yang akan 2. manfaat EBD ?
dilakukan dalam upaya penyembuhan. ( mengembangkan
tatalaksana pasien melalui PICO) - Memperbaiki derajat kesehatan dan perawatan

P (Patient and problem): pasien mana yag terlibat dan apa - Meningkatkan kemampuan kita untuk mendiagnosis dan
masalahnya, I : Intervensi apa yag dilakukan ; Comparator : memberikan terapi pada pasien
pembanding dari intervensi ; Outcome : keluaran yang
dikehendaki - Mencari kebenaran dari suatu karya ilmiah

- Mencari/Menelusuri BuktiAda 2 sumber penting: EMBASE - Memudahkan akses dalam menemukan dan menilai bukti
dan MEDLINE (relevan/tidak)

- Kajian kritis bukti dari makalah ilmiah - Membantu menurunkan morbiditas dan mortalitas

Yang harus dimiliki adalah pengetahuan tentang metodologi dan - Untuk memperoleh informasi mutakhir dan sah tentang
biostatistik yang baik dan pengtahuan tentang tata cara kajian kemajuan ilmu pengetahuan
kritis makalah ilmiah
- Untuk memecahkan masalah dalam penanganan pasien
Yang dikaji adalah
- Dapat mengetahui secara tepat hasil karya imiah
o Desain metodologi
- Mencari nila guna dan ketepatan hasil karya ilmiah
Menentukan kevalilidan :
- Untuk memperbaiki tata laksana pasien
o Jika untuk diagnosis: cross sectional atau diagnostic test - Untuk mengobati pasien, serta agar tidak terjadi kesalahan
o Jika untuk terapi: metaanalisis dan RCT persepsi dalam berbagai aspek
3. tujuan EBD ?

- Mengembangkan kemampuan berpikir kritis


- Menghasilkan pemikiran yang akurat 5. Kendala apa saja saat melakukan EBD ?

- Untuk menentukan suatu penelitian sudah benar/belum - Dalam mencari bukti butuh waktu yang lama
- Mengikuti perkembangan penelitian terbaru - Dalam mencari sumber dan penilaian kritis disertai rasa takut
- Menemukan bukti yang terbaik untuk penelitian itu sendiri - Kurangnya rasa ingin tahu, pengalaman, prior knowledge
- Untuk menilai validitas suatu artikel penelitian - Kurangnya akses terhadap bukti ilmiah
4. Level of evidence
- Menurut kategori rekomendasi (US) , ini dilakukan sebelum kita - Kesalahpahaman dalam info
menerapkan ke pasien.
Level a : suatu penelitian yang memberikan manfaat klinik lebih - Kurangnya kemampuan untuk melakukan kajian teori kritis
baik dengan resiko sedikit terhadap suatu masalah
Level b : suatu penelitian yang memberikan manfaat klinik
sedikit lebih baik dengan resiko sedikit - kurangnya pengetahuan dalam telaah kritis dan metodologi
Level c : suatu penelitian yang memberikan manfaat klinik penilitan
sedikit, dimana perbandingan antara manfaat dan resiko sama
- dalam mencari bukti dalam wakti yang singkat tetapi dengan
Level d : suatu penelitian yang memberikan resiko lebih berat
kualitas bukti tidak memenuhi kebenaran
Level e : suatu penelitian yang tidak memberikan bukti cukup,
kualitas jelek atau banyak pertentangan
- Menurut UK National Health Service (LOE). Berdasar 6. Mengapa harus dilakukan EBD ?
pendekatan prev, diag, prog, tx
- Karena dokter dituntut untuk melakukan praktik dengan
Level A : Consistent Randomized Controlled Clinical Trial, baik,tepat,dapat dipertanggungjawabkan dan sesuai dengan
Cohort study, keputusan klinik berdasarkan validitas pada tuntutan pasien
populasi yang berbeda - Karena makin berkembangnya penelitian di bidang kedokteran
yang berlangsung secara terus menerus
Level B : Consistent Retrospective Cohort, Explanatory Cohort,
Ecological study, Case-Controlstudy atau extrapolasi studi level - Untuk mengimbangi ilmu pengetahuan dan tekhnologi
A
- Sebagai dasar pengambilan keputusan klinik bagi calon klinisi
Level C : case-series study atau extrapolasi studi level B
- Karena jumlah publikasi medis tumbuh dengan cepat sehingga
para peneliti kewalahan untuk mengidentifikasi bukti yang
Level D : Opini tanpa critical appraisal atau berdasarkan relevan, berguna dan dapat di percaya karena itu dilakukan EBD
patofisiologi
- Melunturnya kepercayaan terhadap integritas pelayanan ( untuk makalah aspek terapi) adalah : JDD (makalah)/nilai f,
kesehatan dan praktisi yang memberikan pelayanan medis sehingga kita melihat bahwa selain diperlukan pengetahuan tentang
ketentuan-ketentuan EBM, juga sangat diperlukan penguasaan
- Life Long Study suatu pembelajaran seumur hidup yang substansi dalam mengkaji setiap makalah ilmiah. Sumber : Kajian
berorientasi memecahkan masalah Kritis.
- Adanya kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi kedokteran a. Validity
gigi, praktek kedokteran gigi semakin komplek sehingga banyak
terjadi perubahan di dental material dan peralatan baru Setiap artikel laporan hasil riset perlu dinilai kritis tentang apakah
kesimpulan yang ditarik benar (valid), tidak mengandung bias. Bias adalah
CA kesalahan sistematis(systematic error) yang menyebabkan kesimpulan hasil
riset yang salah tentangakurasi tes diagnosis, efektivitas intervensi, akurasi
1. Cara menilai valid, penting, dan bisa diterapkan : prognosis, maupun kerugian/ etiologi penyakit.Validitas (kebenaran) bukti
yang diperoleh dari sebuah riset tergantung dari cara peneliti memilih subjek/
bagaimana menilai pentingnya suatu makalah penelitian? sampel pasien penelitian, cara mengukur variabel, dan
Kalau kita mempelajari suatu makalah ilmiah, setelah mengkaji pada mengendalikanpengaruh faktor ketiga yang disebut faktor perancu
bagian metode untuk menentukan validitasnya, kita kemudian (confounding factor). Untuk memperoleh hasi riset yang benar (valid), maka
menilai apakah makalah tersebut penting. Dari aspek terapi, sebuah riset perlu menggunakan desainstudi yang tepat.
pentingnya suatu makalah dilihat dari besarnya nilai JDD (jumlah
yang dibutuhkan untuk diobati), sedangkan pada aspek diagnosis b. Importance
siambil selisih antara nilai PrTP (Pre Test Probabilitas) dan PoTP
Bukti yang disampaikan oleh suatu artikel tentang intervensi medis perlu
(Post Test Probabilitas). Kita dapat menghitung nilai JDD, PrTP, dan
dinilai tidak hanya validitas (kebenaran)nya tetapi juga apakah intervensi
PoTP pada bab hasil penelitian dalam makalah tersebut.
tersebut memberikaninformasi diagnostik ataupun terapetik yang substansial,
yang cukup penting(important), sehingga berguna untuk menegakkan
bagaimana menilai agar makalah dapat diterapkan pada pasien?
diagnosis ataupun memilih terapiyang efektif.Suatu tes diagnostik dipandang
Untuk menilai makalah agar dapat diterapkan pada pasien kita
penting jika mampu mendiskriminasi(membedakan) pasien yang sakit dan
tergantung dari tingkat penguasaan substansi makalah tersebut.
orang yang tidak sakit dengan cukup substansial,sebagaimana ditunjukkan
Menilai apakah makalah dapat diterapkan pada pasien, tidak
oleh ukuran akurasi tes diagnostik. Suatu intervensi medisyang mampu
sesederhana dengan hanya memakai kriteria inklusi dan eksklusi,
secara substantif dan konsisten mengurangi risiko terjadinya hasil buruk (bad
tetapi juga perbedaan secara kuantitatif dan kualitatif termasuk juga
outcome), atau meningkatkan probabilitas terjadinya hasil baik (good
adanya biologic sense. Seseorang yang sudah mendalami substansi,
outcome), merupakan intervensi yang penting dan berguna untuk diberikan
akan dengan segera mengetahui bahwa kondisi yang tertulis di dalam
kepada pasien. Suatuintervensi disebut penting hanya jika mampu
makalah tersebut sama atau berbeda dan kita dapat memprediksikan
memberikan perubahan yang secaraklinis maupun statistik signifikan, tidak
besaran perbedaan tersebut. Sehingga apabila kita mengandaikan
bisa hanya secara klinis signifikan atau hanyasecara statistik
suatu besaran dengan nilai f, dimana nilai f (dalam prosentase)
signifikan.Ukuran efek yang lazim digunakan untuk menunjukkan manfaat
menunjukkan perbedaan kondisi pasien kita dengan pasien yang
terapi dalammencegah risiko terjadinya hasil buruk adalah absolute risk
tertulis di dalam makalah. Jadi besarnya nilai JDD pasien kita
reduction (ARR), relativerisk reduction (RRR), dan number needed to treat
(NNT). Ukuran efek yang lazimdigunakan untuk menunjukkan manfaat penerapan intervensi dipengaruhi oleh banyak faktor, misalnya
terapi dalam meningkatkan kemungkinan terjadinyahasil baik adalah kesesuaianantara karakteristik populasi pasien dalam riset dan pasien di
absolute benefit increase (ABI), relative benefit increase (RBI), dannumber tempat praktik, kesesuaianantara variabel hasil yang diteliti dalam riset dan
needed to treat (NNT).Setiap intervensi medis di samping berpotensi hasil yang diinginkan pada pasien(perbaikan klinis), akseptabilitas dan
memberikan manfaat juga kerugian(harm). Ukuran efek yang digunakan kepatuhan pasien, keamanan (jangka pendek maupun jangka panjang), biaya,
untuk menunjukkan meningkatnya risiko terjadikerugian oleh suatu cost-effectiveness, fisibilitas (kelayakan), perbandingan denganalternatif
intervensi medis adalah rasio risiko (RR), odds ratio (OR),absolute risk intervensi lainnya, preferensi pasien, akseptabilitas sosial, dan sebagainya.
increase (ARI), relative risk increase (RRI), dan number needed to Pertimbangan semua faktor tersebut diperlukan untuk menentukan
harm(NNH). kemampuanpenerapan intervensi.

c. Applicability Dokter bekerja di dunia nyata, bukan dunia maya atau ―dunia lain. Karena
itu keputusan untuk menggunakan/ tidak menggunakan intervensi
Bukti yang valid dan penting dari sebuah riset hanya berguna jika bisa perlumempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas
diterapkan padapasien di tempat praktik klinis. (effectiveness)intervensi. Suatu riset yang menemukan efektivitas intervensi,
dengan kata lainintervensi yang efektif ketika diterapkan pada populasi
‗Bukti terbaik„ dari sebuah setting riset belum tentu bisalangsung umum (populasi eksternal),maka temuan riset itu dikatakan memiliki
diekstrapolasi (diperluas) kepada setting praktik klinis dokter. Untuk validitas eksternal (external validity).Berdasarkan fakta tersebut maka dalam
memahami pernyataan itu perlu dipahami perbedaan antara konsep efikasi praktik EBM, “bukti efektivitas”(“evidenceof effectiveness”) lebih bernilai
(efficacy) danefektivitas (effectiveness). Efikasi (efficacy) adalah bukti daripada“bukti efikasi”(“evidence of efficacy”)(Mathew, 2010).
tentang kemaknaan efek yang dihasilkan oleh suatu intervensi, baik secara
klinis maupun statistik, seperti yangditunjukkan pada situasi riset yang Prof. Bhisma Murti, dr, MPH, MSc, PhD. Makalah “Pengantar Evidence -Based”. Ilmu Kesehatan
sangat terkontrol. Situasi yang sangat terkontrolsering kali tidak sama dengan Masyarakat:Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret.

situasi praktik klinis sehari-hari. Suatu intervensimenunjukkan efikasi jika


2. Manfaat melakukan critical appraisal :
efek intervensi itu valid secara internal (internal validity),dengan kata lain
intervensi itu memberikan efektif ketika diterapkan pada populasisasaran
- Untuk meningkatkan daya analisis kritis
(target population).
- Sebagai alat bantu untuk memerikasa setiap proses dan untuk
Agar intervensi efektif ketika diterapkan pada populasi yang lebih luas, yang
memikirkan proses
tidak hanyameliputi populasi sasaran tetapi juga populasi eksternal (external
population), makaintervensi tersebut harus menunjukkan efektivitas. - Dapat mengembangkan system pemikiran dan dapat memperoleh
Efektivitas (effectiveness) adalah buktitentang kemaknaan efek yang kebenaran
dihasilkan oleh suatu intervensi, baik secara klinismaupun statistik,
sebagaimana ditunjukkan/ diterapkan pada dunia yang nyata (“the - Memperoleh kebenaran dari suatu informasi
realworld”).Efektivitas menunjukkan manfaat praktis-pragmatis dari sebuah
intervensi ketikaditerapkan pada lingkungan pelayanan dokter yang - Informasi yang diperoleh lebih detail dan lebih mudah dipahami
sesungguhnya, di mana banyak terdapatketidakteraturan (irregularity) dan
ketidakpastian (uncertainty), meskipun pada lingkunganyang sangat - Jalan untuk mengurangi jurang antara riset dan praktis
terkontrol alias terkendali intervensi itu mungkin efektif.Kemampuan
- Mendorong penilaian subyektif tentang kegunaan sebuah CA sangat dibutuhkan untuk mengkaji secara lanjut suatu
informasi ilmiah informasi/artikel sebelum digunakan sebagai EBD dan diaplikasikan
dalam penanganan pasien. CA Sebagai sarana memperoleh informasi
- Menentukan informative yang lebih baik dalam EBD

3. Tujuan critical appraisal


6. Bagian yang paling penting dalam makalah ilmiah dan alasannya :
- Agar mampu mengevaluasi dan menganilisi sumber informasi
yang diperoleh « Abstrak : karena merupakan rangkuman dari suatu makalah ilmiah (nadia)
- Untuk menilai validitas dan kegunaan suatu artikel/jurnal ilmiah
« Metode penelitian karena bagian tersebut menerangkan tentang desain
- Mampu mengikuti perubahan informasi yang ada penelitian,subjek penelitian (populasi dan sample), cara pengambilan sampel,
group control,inform consent cara pemeriksaan dan analisis data bagian ini
- Untuk mendapat kajian yang akurat yang menentukan apakah sample diambil secara acak, dan bagiamana proses
randomisasi tersebut dilakukan. Jadi penelitian yang tepat semuanya di atas
- Agar mampu memberikan komentar dan mengevaluasi baik harus tepat (sumber: buku skill lab). Karena pada bagian metode
terhadap permasalahan yang dihadapi maupun pemecahan menerangkan tentang subjek penelitian, cara pengambilan sampel, cara
maslaah tersebut pemeriksaan, dan analisis data. Bagian ini yang menentukan apakah sampel
diambil secara acak, dan bagaimana secara rinci proses randomisasi tersebut
- Agar mampu memilih criteria informasi yang tepat untuk dilakukan. Jadi, penelitian yang valid adalah penelitian yang terbukti
dianalisa melakukan pengambilan sampel secara acak. Sumber : Kajian Kritis.

4. Mengapa dilakukan critical appraisal dalam EBD ? 7. perbedaan CA pada aspek diagnosis, prognosis, terapi, dan harm :

- salah satu step dari EBD untuk menilai validitas dari artikel Diagnosis
- menyaring dan menilai kualitas informasi dalam makalah yang - apakah terdapat independent blind bila dibandingkan dengan standar
di publikasi sebagai dasar untuk melakukan EBDMemunculkan baku ?
banyak pertanyaan yang baru - apakah jumlah pasien termasuk spektrum yang layak dari perjalanan
penyakit pasien dimana tes diagnosis akan diterapkan secara klinis.
5. Hubungan EBD dengan critical appraisal ?
Prognosis
critical appraisal bagian dari EBD. Menurut Dr David Sackett
mempublikasikan strategi pemanfaatan bukti research untuk bukti - Apakah terdapat sampel yang representatif pada suatu titik waktu
kedokteran. Salah satu strategi itu CA yang merupakan salah satu dalam perjalanan penyakit yang diidentifikasi dengan jelas
langkah yang penting digunakan dalam praktik EBD. - Apakah pengamatan cukup lama dan lengkap?
Terapi

- apakah dilakukan randomisasi pada pasien ?


- apakah semua pasien dianalisis dan mendukung kesimpulan ?

Merugikan

- apakah secara jelas teridentifikasi perbandingan kelompok yang


sama dengan determinan penting dari kesudahan?
Apakah pengukuran kesudahan dan paparan sama pada tiap
kelompok yang dibandingkan?