Anda di halaman 1dari 11

PENGARUH LINGKUNGAN TERHADAP DENYUT JANTUNG

LARVA IKAN GURAMI

NAMA : Arga Pratama Sonni


NIM : B0A018021
ROMBONGAN :I
KELOMPOK :5
ASISTEN : Klausa Media Rani

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI ORGANISME AKUATIK

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2019
I. PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Ikan gurami (Osphronemus gouramy) adalah salah satu komoditas budidaya


air tawar yang tergolong dalam famili ikan Labirin (Anabantidae). Ikan ini tersebar
dikawasan tropis mulai dari India dan sampai Semenanjung Malaya dan Indonesia. Ikan
gurami memiliki nilai ekonomis dan lagi harganya di pasar cukup tinggi. Produksi ikan
gurami mengalami peningkatan setiap tahunnya, namun belum dapat memenuhi permint
aan pasar. Banyak ditemukan kendala dalam usaha budidaya ikan gurami salah satu
kendalanya adalah pertumbuhannya yang relatif lambat dibandingkan dengan ikan air
tawar lainnya. Ikan gurami dapat mencapai ukuran konsumsi dengan berat badan
minimal 500 gram dari benih yang berukuran 1 gram memerlukan waktu pemeliharaan
lebih dari satu tahun (Sarwono & Sitanggang, 2007).

Menghadapi suhu lingkungannya, hewan homeotermik melakukan regulasi suhu


(termoregulasi), suhu tubuhnya konstan walaupun suhu lingkungannya berfluktuasi.Kehi
langan panas lebih sedikit dibandingkan dengan laju produksi panas internalnya,
sehingga suhu tubuhnya lebih ditentukan oleh suhu internalnya. Perubahan suhu yaitu
memiliki pengaruh besar terhadap berbagai proses fisiologis. Pengaruh itu sendiri seperti
misalnya pengaruh suhu terhadap konsumsi oksigen. Konsumsi oksigen pada organisme
dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal
antara lain spesies, stadium, bobot, aktifitas, jenis kelamin, dan reproduksi.
Faktor eksternal yang berpengaruh adalah salinitas, konsentrasi oksigen terlarut, suhu,
cahaya, status makan, dan karbondioksida (Karim, 2007).

Faktor penting dalam ekosistem perairan. Kenaikan suhu air dapat menimbulkan
kehidupan ikan dan hewan air lainnya terganggu. Air memiliki beberapa sifat termal
yang unik sehingga perubahan suhu dalam air berjalan lebih lambat daripada udara.
Suhu kurang mudah berubah walaupun di dalam air daripada di udara, namun suhu
merupakan faktor pembatas utama, oleh karena itu organisme akuatik sering memiliki
toleransi yang sempit. Pengukuran frekuensi denyut jantung dan lamanya kontraksi
jantung dapat dijadikan acuan seberapa jauh organisme mengalami adaptasi dalam
menghadapi kondisi yang tidak menguntungkan pada lingkungannya (Radiopoetra,
1977).

B. Tujuan

Tujuan dari praktikum pengaruh lingkungan terhadap denyut jantung larva ikan
gurami adalah untuk mempelajari pengaruh temperatur lingkungan.dan zat kimia
terhadap jantung larva ikan gurami (Osphronemus gouramy).
II. MATERI DAN METODE

A. Materi

Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah mikroskop, pipet tetes,
cavity slide, Handcounter, beaker glass, baskom, dan termometer.

Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah air es batu, air panas,
alkohol 70%, tisu dan larva ikan gurami (Osphronemus gouramy).

B. Cara Kerja

1. Suhu air diukur (normal, panas, dingin)


2. Larva ikan diambil
3. Larva diletakkan pada cavality slide
4. Ditetesi air panas/ air dingin/ alcohol 70%
5. Diamati di mikroskop dan dihitung denyut jantung selama 1 menit(15’x4)
III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel 3.1 Pengamatan denyut jantung larva ikan gurami


Air dingin Air panas Alkohol Kontrol
Kelelompok
Suhu dJ/menit Suhu dJ/menit % dJ/menit Suhu dJ/menit

1 6 144 54 176 70 - 26 152

2 9 84 49 76 70 40 26 56

3 9 180 54 216 70 136 27 208

4 9 64 82 28 70 96 27 84

Perhitungan:

1. Noraml = dJ Per menit = dJ × 4


= 38 × 4
= 152
2. Air dingin = dJ Per menit = dJ × 4
= 36 × 4
= 144
3. Air Panas = dJ Per menit = dJ × 4
= 44 × 4
= 176
4. Alkohol = dJ Per menit = dJ × 4

=0×4
=0
1

Gambar 3.1. Larva ikan Gurami (Osphronemus gouramy).


Keterangan Gambar:
1. Jantung
B. Pembahasan

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan didapat hasil bahwa larva ikan
gurami (Osphronemus gouramy) memiliki jantung yang akan berdenyut lebih cepat
ketika diberi perlakuan air dingin, air panas dan alkohol 5%, denyut jantung larva ikan
gurami akan meningkat dibandingkan keadaan normal pada saat kondisi temperatur atau
suhu yang tinggi serta adanya zat kimia. Hasil sesuai dengan pustaka, menurut Affandi
(2002), mahluk hidup memerlukan suatu sistem transportasi untuk melakukan
pengangkutan dan penyebaran enzim, alat nutrisi, oksigen, karbondioksida, garam-
garam, antibodi (kekebalan) dan senyawa N dari tempat asal ke seluruh bagian tubuh.
Ikan mempunyai organ sirkulasi darah dalam tubuh yang disebut jantung. Menurut Fekri
(2018) menyatakan bahwa suhu air adalah faktor penting dalam proses metabolisme,
maka itu mempengaruhi kelangsungan hidup dan pertumbuhan ikan dan ikan reproduksi.
Perubahan suhu air tiba-tiba atau terjadi suhu ekstrim akan berdampak negatif terhadap
kelangsungan hidup ikan, bahkan selanjutnya menyebabkan kematian massal.

Jantung merupakan pembesaran otot yang spesifik di pembuluh darah atau suatu
struktur maskular berongga yang bentuknya menyerupai kerucut dan diselimuti oleh
kantung perikardial (perikardium). Pada ikan jantung terletak di perikardial disebelah
posterior insang. Kontraksi otot jantung ikan yang ditimbulkan sebagai sarana
mengkonversi energi kimiawi menjadi energi mekanik dalam bentuk dan aliran darah.
Berdasarkan strukturnya, jantung pada organisme akuatik (ikan, ampibia, reptil)
mempunyai tiga kamar utama yang terdiri dari dua atrium dan satu ventrikel. Jantung
ikan terdiri dari dua ruang yaitu atrium (auricle) dan yang berdinding tipis, venrtikel
yang berdinding tebal dan serta terdapat ruang tambahan yang disebut sinus venosus
(Affandi, 2002).

Menurut Affandi (2002), menyatakan bahwa bagian-bagian pada jantung, yaitu :

1. Sinus Venosus

Sinus venosus adalah ruang tambahan yang berdinding tipis, hampir tidak
mengandung jaringan otot dinding. Dinding kaudalnya bersatu dengan bagian depan dari
septum transversum, yang memisahkan rongga pericardial dari rongga pleuroperitoneal.
Darah venus dari seluruh tubuh, masuk ke sinus venous melalui sepasang doctus cuvieri
yang masuk di bagian lateral, dan sepasang sinus hepaticus yang masuk pada dinding
posterior dari sinus venosus. Vena coronaria yang datang dari dinding otot jantung, juga
masuk dari sinus veriosus selanjutnya darah melalui lubang sinus atrial masuk ke dalam
atrium.

2. Atrium

Atrium adalah ruang tunggal yang dindingnya relatif tipis, terletak anterior dari
sinus venosus. Darah melalui lubang atrioventikular diteruskan ke rongga ventrikel.
Lubang ini dijaga oleh klep atau katup atrioventrikular, supaya aliran darah tidak
kembali ke rongga atrium.

3. Ventrikel

Ventrikel adalah ruang berdinding tebal berotot, menerima darah hanya dari
atrium saja dan memompakan darah melalui aorta ventral ke insang. Ruang ini dibentuk
oleh dua lapisan otot yaitu lapisan otot luar disebut kortikal dan lapisan otot dalam
disebut spongi. Bagian ini menerima darah dari atrium melalui atrioventricular. Ujung
anterior dari ventrikel tumbuh memanjang dan berdinding tebal, di dalamnya terdapat
suatu seri klep semilunar.

Menurut Affandi (2002), menyatakan bahwa denyut jantung dibagi menjadi dua
tipe yaitu neurogenik dan jantung miogenik. Jantung neuregonik adalah jantung pada
hewan tingkat rendah (invertebrata) yang aktivitasnya diatur oleh sistem saraf sehingga
jika hubungan saraf dan jantung diputuskan maka jantung akan berhenti berdenyut.
Jantung miogenik denyutnya akan selalu ritmis meskipun hubungan dengan saraf
diputuskan. Bahkan bila jantung tekak diambil selagi masih hidup dan ditaruh dalam
larutan fisiologis yang sesuai akan tetap berdenyut. Jantung miogenik terdapat pada
jaringan otot khusus yang membuat simpul (nodal tissue) yang merupakan penggerak
jantung. Letak simpul pada ikan dan ampibi pada simpul venosus. Pada vertebrata yang
lebih tinggi, simpul yang mengeluarkan implus yang ritmik itu letaknya pada atrium
yang letaknya dekat vena cava yang disebut simpul sinoatrial. Menurut Chao et al
(2017), menyatakan bahwa detak jantung larva dibawah co-exposure lebih lambat dari
paparan tunggal. Menurut Zahidah (2012), pada lingkungan dengan suhu tinggi akan
meningkatkan metabolisme dalam tubuh sehingga laju respirasi meningkat dan
berdampak pada peningkatan denyut jantung larva ikan gurami, rata-rata denyut
jantung larva ikan gurami pada suhu panas kurang lebih 240 denyut per menit.
Faktor faktor yang mempengaruhi detak jantung ikan diantaranya adalah ukuran
jantung, suhu, cairan isoosmotik dengan jantung. Fungsi larutan fisiologis diantaranya
untuk mengetahui daya tahan maksimal detak jantung diluar tubuh yang dimanipulasi
sehingga mirip dengan di dalam tubuh ikan diantaranya seperti zat nutrisi, natrium
oksigen dan lain-lain. Peranan jantung sangat penting dalam hubunganya dengan
pemompaan darah keseluruh tubuh melalui sistem sirkulasi darah, sirkulasi darah adalah
sistem yang berfungsi dalam pengangkutan dan penyebaran enzim, zat nutrisi, oksigen,
karbondioksida, garam-garam, antibodi dan senyawa N dari tempat asal keseluruh
bagian tubuh sehingga diperlukan tekanan yang cukup untuk menjamin aliran darah
sampai ke bagain-bagian jaringan tubuh (Affandi, 2002).
Menurut Bekker dan Krijgsman (1951), kecepatan denyut jantung larva ikan
gurami dipengaruhi oleh zat kimia diantaranya adalah acetylcholine (ACh),
tetrathylpyrophosphate (TEPP), pilocarpine, atropine, adrenaline, digitatin dan
rotenone. Pemberian acetylcholine (ACh), tetrathylpyrophosphate (TEPP), pilocarpine,
digitatin dan rotenoneakan menyebabkan kecepatan jantung larva ikan gurami menurun
bahkan berhenti berdenyut. Hal ini disebabkan karena zat kimia tersebut melakukan
inhibisi terhadap jantung Daphnia. Sedangkan zat kimia atropine akan mempercepat
denyut jantung larva ikan gurami. Pemberian adrenaline pada konsentrasi yang rendah
akan memperlambat denyut jantung. Sedangkan pada konsentrasi yang tinggi akan
mempercepat denyut jantung.
Faktor faktor yang mempengaruhi detak jantung ikan diantaranya adalah
ukuran jantung, suhu, cairan isoosmotik dengan jantung. Fungsi larutan fisiologis
diantaranya untuk mengetahui daya tahan maksimal detak jantung diluar tubuh yang
dimanipulasi sehingga mirip dengan di dalam tubuh ikan diantaranya seperti zat nutrisi,
natrium oksigen dan lain-lain. Peranan jantung sangat penting dalam hubunganya
dengan pemompaan darah keseluruh tubuh melalui sistem sirkulasi darah, sirkulasi
darah adalah sistem yang berfungsi dalam pengangkutan dan penyebaran enzim, zat
nutrisi, oksigen, karbondioksida, garam-garam, antibodi dan senyawa N dari tempat asal
keseluruh bagian tubuh sehingga diperlukan tekanan yang cukup untuk menjamin aliran
darah sampai ke bagain-bagian jaringan tubuh (Affandi, 2002).

Detak jantung dari ikan di dalam daerah beriklim panas itu mungkin ditentukan
oleh beberapa faktor-faktor seperti temperatur, curah hujan, permukaan air, ketersediaan
oksigen, keterhantaran elektris, air pH, kadar alkali, ketersediaan bahan gizi dan
makanan. Faktor-faktor ini dapat mempercepat atau memperlambat proses reproduktif
dan dapat mempengaruhi proses pengeraman pada telur, perkembangan larva,
pertumbuhan dan kelangsungan hidup. Perkembangbiakkan dari beberapa jenis hewan
tropis tergantung pada pola iklim di lingkungan tersebut yang dapat menjamin kondisi-
kondisi yang baik untuk telur dan kelangsungan hidup larva (Baumgartner et al, 2008).

IV. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil praktikum yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa faktor yang
mempengaruhi denyut jantung larva ikan gurami (Osphronemus gouramy) yaitu suhu
atau temperatur yang tinggi maka denyut jantung akan meningkat serta pemberian zat
kimia seperti alkohol juga akan mengakibatkan denyut jantung larva ikan gurami akan
meningkat dari keadaan normal.
DAFTAR PUSTAKA

Affandi R., & Usman ,M.T., 2002. Fisioloogi Hewan Air. Pekanbaru: UNRI Press.
Baumgartner, G. 2008. Fish Larvae from the Upper Parana River: Do Abiotic Factors
Affect Larval Density. Journal of Neotropical Ichthyology, 6(4), pp. 551-558.
Bekker, J. M. , and Krijgsman, B. J. 1951. Physiological Investigations into the Heart
Function of Dhapnia. Journal of Physiology, vol 115, pp. 249-257.
Chao, Shu, ju., Chin, Pao, Huang., Pei, Chung, Chen., & Chihpin, Huang., 2017.
Teratogenic responses of zebrafish embryos to decabromodiphenyl ether (BDE-
209) in the presence of nano-SiO2 particles, Chemosphere, 178, pp: 449-457.
Fekri, Latifa., 2018. The effect of temperature on the physiological condition and
growth performance of freshwater eel elver Anguilla bicolor bicolor. Bogor:
Bogor Agricultural University
Karim, M.Y., 2007. Pengaruh Salinitas dan Bobot Terhadap Konsumsi Kepiting Bakau.
Jurnal Sains dan Teknologi, 7(2), pp: 85-92.
Sarwono., & Sitanggang., 2007. Zoologi Umum. Jakarta: Erlangga.
Radiopoetra., 1977. Zoologi Umum. Jakarta: Erlangga.
Zahidah, Gunawan, W. , dan Subhan, U. 2012. Pertumbuhan Populasi Daphnia sp.
yang Diberi Pupuk Limbah Budidaya Karamba Jaring Apung (KJA) di Waduk
Cirata yang Telah Difermentasi EM4. Jurnal Akuatika, Vol III(1), pp. 84-94.