Anda di halaman 1dari 4

Laporan Praktikum “Fisika II”

Modul L1 – Hantaran Listrik dalam Kawat


Dirga Putra Wijaya/17524051
Asisten: Vitro Rahmat
Tanggalpraktikum: 21 Mei 2018
17524051@students.uii.ac.id
Teknik Elektro– FakultasTeknologiIndustri
Universitas Islam Indonesia

C. Penggunaan persamaan, gambar, dan tabel


Abstrak –Praktikum tentang hantaran listrik dalam kawat ini
dilaksanakan pada tanggal 21 Mei 2018 dengan tujuan agar
praktikan dapat memahami hukum Ohm, praktikan dapat Persamaan persamaan yang digunakan pada praktikum ini
memperagakan untaian bagan listrik dalam pngukuran arus dan adalah,
tegangan serta praktikan dapat membuat interpretasi grarfik - Menentukan nilai rerata arus
antara V-I dan V-P.
𝐼𝑎 + 𝐼𝑏 + ⋯ + 𝐿𝑛
Kata kunci – Arus, Tegangan, Hambatan, Hukum Ohm.
̅̅̅ =
𝐼𝑛
𝑛
I. PENDAHULUAN
Pada praktikum ini mempelajari tentanghantaran listrik - Menentukan nilai rerata arus
dalam kawat. Hukum Ohm digunakan pada praktikum ini,
hukum ohm ditemukan oleh ilmuwan dari jerman dengan nama
George Simon Ohm, yang berkonsep pada arus, tegangan dan ∑|𝐼 − 𝐼 |̅ 2
∆𝐼 ̅ = √
hambatan sebuah listrik pada rangkaian. Hukum Ohm berbunyi 𝑛−1
bahwa, besar tegangan V pada sebuah rangkaian listrik
berbanding lurus dengan kuat arus saat besar suhu konstan.
Arus listrik adalah gejala pada rangkaian listrik yang
muncul akibat adanya aliran berupa muatan listrik. Arus listrik - Menentukan nilai hambatan dan nilai ralat
hanya dapat mengalir melalui sebuah rangkaian yang tidak ketidakpastiannya
memiliki ujungnya atau biasa disebut rangkaian tertutup. Arus
listrik memiliki besaran berupa I atau ampere. 𝑉
𝑅=
𝐼
Dalam kehidupan sehari hariHantaran listrik dalam kawat
sangat dibutuhkan untuk membantu pekerjaan kehidupan
manusia. Fungsinya bisa dijumpai dalam kehidupan sehari 𝑉 2
∆𝑅̅ = √(− ) 𝑥 ∆𝐼 2
hari seperti radio, televisi, dan masih banyak lagi. 𝐼2
.
II. TINJAUAN PUSTAKA - Menentukan nilai P dan nilai ralat ketidakpastiannya
A. Arus Listrik
𝑃=𝑉𝑥𝐼
Arus listrik adalah gejala pada rangkaian listrik yang
muncul akibat adanya aliran berupa muatan listrik. Arus listrik
∆𝑃̅ = √𝑉 2 𝑥 ∆𝐼 2
hanya dapat mengalir melalui sebuah rangkaian yang tidak
memiliki ujungnya atau biasa disebut rangkaian tertutup. Arus
listrik memiliki besaran berupa I atau ampere. III. METODE PRAKTIKUM
B. Ohm Meter Praktikum resonansi memerlukan alat dan bahan :
Ditemukan oleh ilmuwan dari jerman dengan nama George voltmeter, amperemeter, kabel jumper, lampu pijar, regulator
Simon Ohm, yang berkonsep pada arus, tegangan dan dan tabel sementara.
hambatan sebuah listrik pada rangkaian. Hukum Ohm berbunyi Prosedur kerja cara praktikum bandul matematis yang
bahwa, besar tegangan V pada sebuah rangkaian listrik pertama kali dilakukan adalah mempersiapkan alat sedemikian
berbanding lurus dengan kuat arus saat besar suhu konstan. rupa sesuai dengan prosedur yang ada, buat rangkaian bagan 1,
nyalakan saklar, atur tegangan sampai 50 V dan catat arus yang
terukur pada amperemeter. Setelah selesai dengan bagan 1,
ubah rangkaian ke bagan 2, sebelum mengganti ke bagan 2 345 + 360
terlebih dahulu matikan tegangan, nyalakan saklar catat 𝐼2 = = 352.5
2
tegangan dan arus yang terukur pada voltmeter dan
amperemeter. Hitung nilai a dan A, ambil nilai yang lebih 360 + 370
kecil, gunakan bagan dengan nilai yag lebih kecil untuk 𝐼3 = = 365
2
mendapatkan data yang lainnya. Rapikan alat dan bahan
setelah percobaan selesai. 380 + 380
𝐼4 = = 380
IV. HASIL DAN ANALISIS 2
Pada praktikum hantaran listrik dalam kawat 390 + 390
menghasilkan beberapa data yang dibutuhkan agar bisa 𝐼5 = = 390
2
mendapatkan nilai yang menjadi tujuan, data data tersebut
adalah 400 + 400
𝐼6 = = 400
2
- Menetukan besar persen a terbesar menggunakan
rangkaian 1 420 + 410
𝐼7 = = 415
2
No Tegangan Arus (I) A
(V’) 1 2 3 430 + 420
𝐼8 = = 425
1 50 290 295 295 3.5% 2
mA mA mA
440 + 430
𝐼9 = = 435
- Menetukan besar persen a terbesar menggunakan 2
rangkaian 2 440 + 440
𝐼10 = = 440
2
Tegangan (V) Arus (I’) A
1 2 3 1 2 3 - Menentukan ralat I
50 50 45 300 300 300 2.28% 1. Volt = 60 V
mA mA mA
𝐼 ̅ ± ∆𝐼 ̅ = 335 ± 7.07 𝑚𝐴
Dikarenakan besarnya persen A pada rangkaian 2 lebih 2. Volt = 65 V
rangkaian maka percobaan menggunakan rangkaian 2.
Sebenarnya, pada percobaan ini menggunakan rangkaian 1, 𝐼 ̅ ± ∆𝐼 ̅ = 352.5 ± 10.6 𝑚𝐴
tetapi dikarenakan ada human error saat pembacaan nilai maka
3. Volt = 70 V
nilai persen lebih kecil pada rangkaian 2.

Data data yang didapat pada percobaan ini adalah, 𝐼 ̅ ± ∆𝐼 ̅ = 365 ± 7.07 𝑚𝐴
4. Volt = 75 V
No V I (mA) I (mA) R P (W)
(Volt) (ohm) 𝐼 ̅ ± ∆𝐼 ̅ = 380 ± 0 𝑚𝐴
1 60 330 340 179.10 20.1
5. Volt = 80 V
2 65 345 360 184.65 22.8
3 70 360 370 191.78 25.5 𝐼 ̅ ± ∆𝐼 ̅ = 390 ± 0 𝑚𝐴
4 75 380 380 197.36 28.5
5 80 390 390 205.12 31.2 6. Volt = 85 V
6 85 400 400 212.5 34
7 90 420 410 216.8 37.35 𝐼 ̅ ± ∆𝐼 ̅ = 400 ± 0 𝑚𝐴
8 95 430 420 223.5 40.3 7. Volt = 90 V
9 100 440 430 229.8 43.5
10 105 440 440 238.6 46.2 𝐼 ̅ ± ∆𝐼 ̅ = 415 ± 7.07 𝑚𝐴

- Menentukan rerata arus 8. Volt = 95 V

330 + 340 𝐼 ̅ ± ∆𝐼 ̅ = 425 ± 7.07 𝑚𝐴


𝐼1 = = 335
2 9. Volt = 100 V

𝐼 ̅ ± ∆𝐼 ̅ = 435 ± 7.07 𝑚𝐴
10. Volt = 105 V 𝑉 60
𝑅= = = 223.5 𝛺
𝐼 0.335
𝐼 ̅ ± ∆𝐼 ̅ = 440 ± 7.07 𝑚𝐴
𝑅 ± ∆𝑅 = 223.5 ± 3.71 𝛺
- Menentukan nilai R dan ralat ketidakpastiannya
9. Volt = 100 V
1. Volt = 60 V 𝑉 60
𝑅= = = 229.8 𝛺
𝑉 60 𝐼 0.335
𝑅= = = 179.10 𝛺
𝐼 0.335 𝑅 ± ∆𝑅 = 229.8 ± 3.73 𝛺
𝑅 ± ∆𝑅 = 179.10 ± 3.77 𝛺
10. Volt = 105 V
2. Volt = 65 V 𝑉 60
𝑅= = = 238.6 𝛺
𝑉 60 𝐼 0.335
𝑅= = = 184.65 𝛺
𝐼 0.335 𝑅 ± ∆𝑅 = 238.6 ± 0 𝛺
𝑅 ± ∆𝑅 = 184.65 ± 5.56 𝛺
- Menentukan nilai P dan ralat ketidakpastiannya
3. Volt = 70 V
1. Volt = 60 V
𝑉 60
𝑅= = = 191.76 𝛺 𝑃 = 𝑉 𝑥 𝐼 = 60 𝑥 0.335 = 20.1 𝑊
𝐼 0.335
𝑃 ± ∆𝑃 = 20.1 ± 0.42 𝑊
𝑅 ± ∆𝑅 = 191.76 ± 3.71 𝛺
2. Volt = 65 V
4. Volt = 75 V

𝑉 60 𝑃 = 𝑉 𝑥 𝐼 = 65 𝑥 0.352 = 22.8 𝑊
𝑅= = = 197.36 𝛺
𝐼 0.335 𝑃 ± ∆𝑃 = 22.8 ± 0.689 𝑊
𝑅 ± ∆𝑅 = 197.36 ± 0 𝛺
3. Volt = 70 V
5. Volt = 80 V
𝑃 = 𝑉 𝑥 𝐼 = 70 𝑥 0.365 = 25.5 𝑊
𝑉 60
𝑅= = = 205.12 𝛺 𝑃 ± ∆𝑃 = 25.5 ± 0.49 𝑊
𝐼 0.335

𝑅 ± ∆𝑅 = 205.12 ± 0 𝛺 4. Volt = 75 V

6. Volt = 85 V 𝑃 = 𝑉 𝑥 𝐼 = 75 𝑥 0.38 = 28.5 𝑊

𝑉 60 𝑃 ± ∆𝑃 = 28.5 ± 0 𝑊
𝑅= = = 212.5 𝛺
𝐼 0.335
5. Volt = 80 V
𝑅 ± ∆𝑅 = 212.5 ± 0 𝛺
𝑃 = 𝑉 𝑥 𝐼 = 80 𝑥 0.39 = 31.2 𝑊
7. Volt = 90 V
𝑃 ± ∆𝑃 = 31.2 ± 0 𝑊
𝑉 60
𝑅= = = 216.8 𝛺 6. Volt = 85 V
𝐼 0.335

𝑅 ± ∆𝑅 = 216.8 ± 3.69 𝛺 𝑃 = 𝑉 𝑥 𝐼 = 85 𝑥 0.400 = 34 𝑊

8. Volt = 95 V 𝑃 ± ∆𝑃 = 34 ± 0 𝑊

7. Volt = 90 V
V. KESIMPULAN
𝑃 = 𝑉 𝑥 𝐼 = 90 𝑥 0.415 = 37.35 𝑊 Hukum Ohm digunakan pada praktikum ini, hukum ohm
ditemukan oleh ilmuwan dari jerman dengan nama George
𝑃 ± ∆𝑃 = 37.35 ± 0.63 𝑊 Simon Ohm, yang berkonsep pada arus, tegangan dan
hambatan sebuah listrik pada rangkaian. Hukum Ohm berbunyi
8. Volt = 95 V bahwa, besar tegangan V pada sebuah rangkaian listrik
berbanding lurus dengan kuat arus saat besar suhu konstan.
𝑃 = 𝑉 𝑥 𝐼 = 95 𝑥 0.425 = 40.3 𝑊
Arus listrik adalah gejala pada rangkaian listrik yang
muncul akibat adanya aliran berupa muatan listrik. Arus listrik
𝑃 ± ∆𝑃 = 40.3 ± 0.67 𝑊
hanya dapat mengalir melalui sebuah rangkaian yang tidak
memiliki ujungnya atau biasa disebut rangkaian tertutup. Arus
9. Volt = 100 V
listrik memiliki besaran berupa I atau ampere
𝑃 = 𝑉 𝑥 𝐼 = 100 𝑥 0.435 = 43.5 𝑊

𝑃 ± ∆𝑃 = 43.5 ± 0.707 𝑊 DAFTAR PUSTAKA

10. Volt = 105 V


[1] Tim Laboratorium Fisika Dasar Terpadu UII,MODUL
𝑃 = 𝑉 𝑥 𝐼 = 105 𝑥 0.44 = 46.2 𝑊
PRAKTIKUM FISIKA II. Yogyakrta:
LABORATORIUM FISIKA DASAR UII, 2018.
𝑃 ± ∆𝑃 = 46.2 ± 0𝑊
[2] Tri Widodo, FISIKA. Jakarta: Departemen Pendidikan
Nasional, 2009