Anda di halaman 1dari 2

THEORY OF JUSTICE

Teori keadilan ini berkaitan dengan seorang filsuf yaitu John Rawls. Dimana dalam bukunya
bukunya, A Theory of Justice,ia berpendapat bahwa Rawls berpendapat perlu ada keseimbangan
antara kepentingan pribadi dan kepentingan bersama. Bagaimana ukuran dari keseimbangan
itu harus diberikan, itulah yang disebut dengan keadilan. Keadilan merupakan nilai yang tidak
dapat ditawar–tawar karena hanya dengan keadilanlah ada jaminan stabilitas hidup manusia.
Agar tidak terjadi benturan kepentingan pribadi dan kepentingan bersama itu, perlu ada aturan–
aturan. Disinilah diperlukan hukum sebagai wasitnya. Pada masyarakat yang telah maju, hukum
akan ditaati apabila ia mampu meletakkan prinsip–prinsip keadilan.[1] Jadi, ia menegaskan
bahwa lebih baik masyarakat memiliki hukum meskipun tidak adil, daripada sama sekali tidak
ada hukum.[2] Teori Rawls berangkat dari pemikiran utilitarianisme, banyak dipengaruhi oleh,
salah satunya, Jeremy Bentham.
Teori keadilan Rawls dapat disimpulkan memiliki inti sebagai berikut:

 Memaksimalkan kemerdekaan;
 Kesetaraan bagi semua orang, baik kesetaraan dalam kehidupan sosial maupun
kesetaraan dalam bentuk pemanfaatan kekayaan alam (“social goods”);
 Kesetaraan kesempatan untuk kejujuran, dan penghapusan terhadap ketidaksetaraan
berdasarkan kelahiran dan kekayaan.
Terdapat 2 prinsip keadilan Rows, yakni equal liberty principle dan inequality principle.
Inequality if principle melahirkan dua prinsip keadilan lainnya, yaitu difference principle dan
equal opportunity principle. Dengan demikian tiga prinsip keadilan Rawls adalah:

 Prinsip Kebebasan yang sama (equal liberty of principle)


Setiap orang memiliki hak yang sama atas kebebasan-kebebasan dasar yang paling luas
dan kompatibel dengan kebebasan-kebebasan sejenis bagi orang lain.

 Prinsip perbedaan (differences principle)


Ketidaksamaan sosial dan ekonomi diatur sedemikian rupa, sehingga diperoleh manfaat
sebesar-besarnya bagi anggota masyarakat yang paling tidak diuntungkan.

 Prinsip persamaan kesempatan (equal opportunity principle)


Jabatan-jabatan dan posisi-posisi harus dibuka bagi semua orang dalam keadaan dimana
adanya persamaan kesempatan yang adil.
Dalam hal terjadi konflik, maka urutan prioritas dari ketiga prinsip tersebut adalah equal liberty
principle, equal opportunity principle, dan differences principle.
Teori ini di dalam kehidupan bangsa Indonesia, tercermin dalam konsepsi keadilan sosial
yang terdapat dalam Pancasila. Dimana keadilan sosial menuntut supaya manusia hidup dengan
layak dalam masyarakat. Masing–masing harus diberi kesempatan menurut menselijke
waardigheid (kepatutan kemanusiaan). Pembangunan dan pelaksanaan pembangunan, tidak
hanya perlu mengandaikan dan mewujudkan keadilan, melainkan juga kepatutan.[3]
Konsep keadilan sosial ini berlaku dalam setiap aspek kehidupan berbangsan dan
bernegara di Indonesia. Adapun berbagai aspek tersebut diantaranya adalah ideologi, politik,
ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan.

Anda mungkin juga menyukai