Anda di halaman 1dari 23

SOAL FORENSIK XXVIII-A

1. Seorang anak berumur 11 tahun ditemukan tidak sadarkan diri setelah bermain

dengan temannya, diketahui bahwa orang tua anak tersebut saat hal itu terjadi

sedang berada di luar negeri dan saat itu tidak dapat dihubungi. Anak tersebut

dibawa oleh tetangganya yang anaknya berteman dengan anak tersebut yang

kebetulan saat itu sedang lewat ke IGD rumah sakit, setelah dilakukan pemeriksaan,

didapatkan anak tersebut harus segera dilakukan operasi. Siapakah yang dapat

diminta persetujuan untuk dilakukannya anak tersebut? Apakah tetangga anak

tersebut dapat memberikan persetujuan? Tetangga pasien tersebut telah menikah

dan memiliki 1 anak.

Jawaban:

Menurut Beuchamp dan Childress, persetujuan tindakan kedokteran (Informed consent)

memiliki 3 elemen, yaitu:

(A) Threshold elements (precondition)

1. Competence (to understand & decide)

2. Voluntariness (in deciding)

(B) Information elements

1. Disclosure (of material information)

2. Recommendation (of a plan)

3. Understanding (of 3 & 4)

(C) Consent elements

1. Decision (in favor of a plan)

2. Authorization (of the chosen plan)


Urutan elemen di atas merupakan suatu hierarkisitas, dengan kata lain harus

dipenuhi berdasarkan urutan yang telah ditentukan.

Pasien yang kompeten menurut Permenkes adalah pasien dewasa atau bukan anak

menurut peraturan perundang-undangan atau telah/pernah menikah, tidak terganggu

kesadaran fisiknya, mampu berkomunikasi secara wajar, tidak mengalami kemunduran

perkembangan (retardasi) mental dan tidak mengalami penyakit mental sehingga

mampu membuat keputusan secara bebas.

Batas umur pasien dikategorikan kompeten menurut peraturan perundang-

undangan yang berlaku di Indonesia adalah berusia 18 tahun atau lebih. Tiga kata

kunci untuk kriteria pasien kompeten yaitu: dewasa, sadar, dan sehat secara mental.

Ketiga hal ini harus terpenuhi, apabila salah satu tidak terpenuhi maka informasi dan

persetujuan, diberikan dan dimintakan kepada keluarga terdekat. Selain syarat

kompeten, maka sebelum diberikan informasi, pasien juga harus berada dalam keadaan

bebas atau sukarela untuk menerima informasi dan memberi persetujuan. Sehingga

tetangga pasien tersebut dapat memberikan persetujuan untuk dilakukan operasi terhadap

anak tersebut.

2. Seorang dokter bedah onkologi melakukan pembedahan pada seorang pasien,

didapatkan hasil dari pemeriksaan pada pasien, bahwa terdapat dua benjolan pada

pasien yang berdekatan pada pipi sebelah kiri pasien. Lalu pasien direncanakan

untuk dilakukan operasi. Saat selesai operasi, dokter bedah tersebut mengatakan

hanya mengangkat satu benjolan saja. Pasien merasa tidak terima dan ingin

menuntut dokter tersebut. Apakah jenis kelalaian dokter tersebut?

Jawaban: Negligence.
3. Apakah dokter tersebut dapat dituntut oleh pasien atas kelalaiannya ?

Jawaban:

Terkait dengan malpraktik, menurut Wakil Ketua Majelis Kehormatan Disiplin

Kedokteran Indonesia (MKDKI) dalam artikel Kelalaian Tenaga Kesehatan Tidak Dapat

Dipidana, sebenarnya kelalaian tenaga kesehatan dan dokter dalam memberikan pelayanan

kesehatan kepada masyarakat/pasien tidak dapat dipidana. Sebab, dalam tiga paket

undang-undang di bidang kesehatan (UU No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran,

UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, dan UU No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah

Sakit) tak ada satu pasal pun yang menyebutkan bahwa karena kelalaian seorang tenaga

kesehatan termasuk dokter bisa dipidana.

Pada dasarnya, dalam hukum pidana ada ajaran kesalahan (schuld) dalam hukum pidana

terdiri dari unsur kesengajaan (dolus) atau kealpaan/kelalaian (culpa). Namun, dalam

ketiga undang-undang tersebut di atas yang aturannya bersifat khusus (lex specialis)

semua ketentuan pidananya menyebut harus dengan unsur kesengajaan. Namun, dalam

artikel yang sama, Ketua Masyarakat Hukum Kesehatan Indonesia (MHKI), tidak sepakat

jika kelalaian tidak bisa dipidana sama sekali. Sebab, sesuai UU Praktik Kedokteran

(lPasal 66 ayat [3] UU Praktik Kedokteran), masyarakat yang merasa dirugikan atas

tindakan dokter/dokter gigi dapat melaporkan kepada MKDKI dan laporannya itu tak

menghilangkan hak masyarakat untuk melapor secara pidana atau menggugat perdata di

pengadilan.

4. Seorang mayat ditemukan dengan keadaan memar di seluruh tubuh, mayat tersebut

langsung diantar oleh pihak penyidik ke RS di tempat dokter S bekerja, hanya

dokter S tersebut yang ada di RS pada saat itu, lalu dokter S diminta untuk

melakukan pemeriksaan pada mayat tersebut, namun dokter S tersebut menolak


untuk melakukan pemeriksaan tersebut karena merasa lelah, apakah dokter S

tersebut dapat dihukum?

Jawaban:

Pasal 222 KUHP

“Barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi, atau menggagalkan

pemeriksaan mayat forensik diancam dengan pidana penjara paling lama Sembilan bulan

atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah”. Mayat apabila dibiarkan

bukan hanya membusuk, akan tetapi sudah merupakan keharusan bahwa mayat harus

selekasnya dikubur. Seseorang yang mati karena menjadi korban kejahatan atau setidak-

tidaknya patut diduga sebagai akibat kejahatan, maka keberadaan mayat yang menjadi

barang bukti yang akan dijadikan dasar diperolehnya alat bukti. Peristiwa pidana yang

menyebabkan matinya orang sementara alat bukti yang lain yaitu seseorang yang melihat

sendiri, mendengar sendiri atau dialami sendiri maka saksi diam (physical evidence)

diharapkan mampu mengungkapkan semua misteri yang ada di dalamnya. Seseorang yang

sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan pemeriksaan mayat untuk

peradilan.

5. Dokter A merupakan dokter yang bekerja sebagai ahli forensik di rumah sakit

JAYA , seminggu sebelumnya dokter A melakukan pemeriksaan pada mayat yang di

temukan di gedung hotel dengan keadaan terdapat luka tusuk pada bagian perut, 3

hari kemudian dokter A mendapat panggilan untuk menjadi saksi pada sidang

peradilan tersebut, namun sehari sebelum sidang pengadilan dokter A didatangi oleh

keluarga pelaku dan di iming-imingi uang oleh keluarga pelaku agar dokter A

tersebut tidak memberikan kesaksian, pada saat hari sidang tersebut dokter A

dengan sengaja tidak menghadiri sidang tersebut, dan Dokter A ketahuan dengan
sengaja tidak menghadiri sidang tersebut dokter A, hukuman apa yang diberikan

pada dokter A tersebut?

Jawaban:

Pasal 224 KUHP

“Barangsiapa dipanggil sebagai saksi, ahli atau juru bahasa menurut undang-undang

dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban berdasarkan undang-undang yang harus

dipenuhinya, diancam dalam perkara pidana dengan penjara paling lama Sembilan Bulan”.

Peraturan perundang-undangan tidak menegaskan dengan tegas bahwa dokter wajib

memberikan bantuan dalam kaitannya dengan proses keadilan, apabila diminta. Pasal 224

KUHP pidana menegaskan bahwa apabila saksi, ahli, atau juru bahasa dengan sengaja

tidak hadir, maka dapat dipidana, dengan kata lain, kesan tidak wajib tersebut akan

menjadi wajib.

6. Di sebuah rumah sakit tipe A mendapatkan suatu rujukan. Seorang ibu yang

berusia 40 tahun yang ingin melahirkan, sebelumnya si ibu selalu rutin

memeriksakan kandungannya ke bidan di dekat rumahnya dan sesekali

melakukan USG di dokter kandungan. Untuk menjaga kandungan nya. Setibanya

di rumah sakit dokter kandungan meminta residen untuk mengoperasi sesar pasien

tersebut, karena dokter sedang ada pekerjaan di luar rumah sakit. Berselang

beberapa saat si ibu di bawa ke kamar operasi untuk di lakukan operasi sesar.

Setelah operasi selesai ternyata bayi yang di kandung ibu tersebut meninggal.

Apakah dokter tersebut bisa di tuntut secara hukum?

Jawaban:

Menurut undang undang hukum pidana pasal 395 KUHP (kelalaian yang menyebabkan

kematian). Barang siapa karena kesalahan( kealpaanya) menyebabkan orang lain mati. Di

ancam pidanakan penjara paling lama 5 tahun atau pidana kurungam paling lama 1 tahun.
7. Seorang dokter residen bedah yang berjaga di IGD rumah sakit, mendapatkan suatu

kabar dari rumah sakit tipe c yang ingin merujuk seorang pasien laki-laki umur 41

thn dengan cidera kepala berat GCS 5. Sudah di lakukan pemeriksaan penunjang

didapatkan hasil di bagian kepala pasien terdapat pendarahan otak yang cukup luas

dan harus segara di operasi. Setiba di rumah sakit tersebut pasien didampingi

saudara kandung (adik pasien) . Setelah saudara pasien mengurus semua

administrasi, dokter Residen Bedah ingin meminta persetujuan tindakan operasi

terhadap saudara pasien. Apakah boleh yang menyetujui informed consent tersebut

saudara pasien?

Jawaban:

Boleh. Yang berhak memberikan informed consent adalah Pasien yang kompeten, suami

atau istri, ayah atau ibu kandung, anak-anak kandung, saudara kandung pasien.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1575/Menkes/Per/Xl/2005 tentang

Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan sebagaimana telah diubah dengan

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1295/Menkes/Per/Xll/2007 tentang Perubahan

Pertama Atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1575/Menkes/Per/XI/2005 tentang

Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan.

BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan

1. Persetujuan tindakan kedokteran adalah persetujuan yang diberikan oleh pasien atau

keluarga terdekat setelah mendapat penjelasan secara lengkap mengenai tindakan

kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan terhadap pasien.


2. Keluarga terdekat adalah suami atau istri, ayah atau ibu kandung, anak-anak kandung,

saudara-saudara kandung atau pengampunya.

3. Tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang selanjutnya disebut tindakan

kedokteran adalah suatu tindakan medis berupa preventifi diagnostiK, terapeutik atau

rehabilitatif yang dilakukan oleh dokter atau dokter gigi terhadap pasien.

4. Tindakan Invasif adalah suatu tindakan medis yang langsung dapat mempengaruhi

keutuhan jaringan tubuh pasien.

5. Tindakan kedokteran yang mengandung risiko tinggi adalah tindakan medis yang

berdasarkan tingkat probabilitas tertentu, dapat mengakibatkan kematian atau

kecacatan.

6. Dokter dan dokter gigi adalah dokter, dokter spesialis, dokter gigi dan dokter gigi

spesialis Iulusan pendidikan kedokteran atau kedokteran gigi baik di dalam maupun di

Iuar negeri yang diakui oleh pemerintah Republik Indonesia sesuai dengan peraturan

perundang-undangan.

7. Pasien yang kompeten adalah pasien dewasa atau bukan anak menurut peraturan

perundang-undangan atau telah/pernah menikah, tidak terganggu kesadaran fisiknya,

mampu berkomunikasi secara wajar, tidak mengalami kemunduran perkembangan

(retardasi) mental dan tidak mengalami penyakit mental sehingga mampu membuat

keputusan secara bebas.

8. Seorang pasien hamil cukup bulan datang ke kamar bersalin dengan keluhan

pandangan kabur dan nyeri kepala. Kemudian dokter penanggung jawab kamar

bersalin memutuskan untuk melakukan tindakan sectio cesaria. Saat ditengah

operasi, operator tidak sengaja mengenai usus saat menjahit luka operasi. Lalu

operator menghubungi dokter spesialis bedah digestif untuk konsultasi tentang

permasalahan tersebut namun dokter spesialis bedah digestif tersebut hanya


menjawab lewat telpon dan menolak datang untuk melihat pasien karena alasan ada

urusan pribadi yang tidak bisa ditinggalkan. Apakah perlakukan dokter spesialis

bedah digestif tersebut dibolehkan?

Jawaban :

Pasal 7a Kode Etik Kedokteran Indonesia mengatakan bahwa “Seorang dokter harus,

dalam setiap praktik medisnya, memberikan pelayanan medis yang kompeten dengan

kebebasan teknis dan moral sepenuhnya, disertai rasa kasih sayang (compassion) dan

penghormatan atas martabat manusia.”

9. Seorang siswa SMA mempunyai seorang kakak kandung yang berprofesi dokter,

kemudian siswa tersebut meminta surat keterangan sakit kepada sang kakak dengan

alasan pasien sedang tidak enak badan namun sebenarnya sang mengetahui bahwa

adiknya tersebut tidak mau berangkat sekolah karena sedang terlalu asik main game

online dan tidak bisa di tinggalkan, tapi kakak siswa tersebut memaklumi dan

berpikir bahwa adiknya perlu mengistirahatkan pikiran sejenak akhirnya surat

keterangan sakit tersebut diberikan. Apakah perlakuan sang dokter merupakan

tindakan yang benar?

Jawaban :

Melanggar KODEKI pasal 7 dan 9

Pasal 7 Kodeki 2012 seorang dokter hanya memberi surat keterangan dan pendapat yang

telah diperiksa sendiri kebenarannya, sehingga surat keterangan hanya dapat dibuat jika

memeriksa pasien tersebut secara langsung

Pasal 9 Kodeki 2012, mengharuskan dokter bersikap jujur. Dalam membuat surat

keterangan cuti sakit dan keterangan tentang tingkat cacat, dimana dokter harus waspada

terhadap sandiwara ("simulasi") melebih-lebihkan ("aggravi") mengenai sakit atau


kecelakaan kerja. Dokter harus memberikan pendapat yang objektif dan legis serta dapat

diuji kebenarannya.

10. Pasien A datang ke praktek dokter spesialis saraf dengan keluhan nyeri kepala dan

berputar selama 5 hari, sudah mengantri selama 3 jam untuk mendapatkan

pelayanan medis, dokter tersebut praktek dari pukul 15.00 - 00.00 WITA, di 4

tempat RS Swasta, dokter tersebut juga bekerja di RS Negeri dari pukul 08.00-

14.00 WITA dan pasien A sudah masuk ke dalam ruang praktik dokter, setelah itu

datang pasien B dengan kejang-kejang selama 5 menit, pasien lalu dibawa oleh

petugas administrasi masuk ke ruang dokter, dan dokter lebih mendahului pasien

yang kejang tersebut, namun karena pasien A merasa lebih dahulu dan telah

menunggu lama di praktik dokter, pasien A merasa di rugikan.

a. Bagaimanakah aspek medikolegal dokter tersebut ?

b. Apakah dokter spesialis tersebut salah ?

c. Bagaimanakah seharusnya dokter tersebut bertindak?

Jawaban:

a. Dokter telah menjalankan aspek medikolegal yaitu prinsip justice yang berarti

keadilan dengan mendahulukan pasien yang lebih gawat terlebih dahulu.

b. Dokter tersebut melakukan pelanggaran norma etika yang tercantum dalam KODEKI

pasal 20 tentang prinsip tentang memelihara kesehatan diri sendri, yang berarti dokter

juga harus menjaga kesehatan diri sendiri dengan cara mengatur waktu praktek agar

dokter tidak terlalu lelah sehingga dapat mengobati pasien secara benar.

c. Dokter tersebut harus dapat mengatur waktu dalam berpraktik sesuai dengan Undang-

Undang No 29 tahun 2004 tentang penyelenggaraan praktik kedokteran yang hanya

memperbolehkan 3 tempat praktik kedokteran.


11. Pasien di bawa ke RS pada pukul 03.00 pagi dengan keluhan Hamil 38 minggu

dengan kejang-kejang, setelah di ukur tekanan darahnya di dapatkan 200/120

mmHg, lalu pasien direncakan tindakan SC cito, dan dilakukan SC cito pada pukul

03.30 pagi, setelah hampir selesai dokter diberitahu oleh petugas instrumen bahwa

jumlah alat-alat dan kapas lengkap, 2 hari kemudian pasien datang kembali ke

praktik dokter tersebut dengan keluhan nyeri perut sekitar pusat, dan dilakukan

pemeriksaan USG dan didapatkan ada gunting yang tertinggal di rahim pasien,

lalu dokter merencanakan operasi laparatomi untuk mengambil gunting tersebut.

Apakah dokter melakukan tindakan kesalahan pada pasien tersebut ?

Jawaban :

Dokter tersebut telah melakukan prinsip hubungan dokter dengan pasien dengan benar

pada pasien yaitu prinsip non-malefeceance yaitu tidak merugikan orang lain karena

dokter melakukan tindakan SC dengan indikasi yang benar, tetapi disisi yang lain dokter

melakukan tindakan malpraktik yaitu misfeceance karena dokter tidak melakukan

pengecekan ulang ketika diberitahu oleh petugas instrumen.

12. Seorang wanita datang ke sebuah salon kecantikan untuk mengencangkan kulit

wajahnya, salon kecantikan tersebut tidak memiliki dokter yang praktik di sana,

kemudian pegawai salon kecantikan menyuntikkan suatu cairan pada wajah

wanita tersebut dan meyakinkan wanita tersebut bahwa dalam beberapa hari kulit

wajahnya akan kencang. Keesokan harinya, wajah wanita tersebut membengkak

dan memerah. Dalam tiga hari, wajah wanita tersebut semakin bengkan bahkan

wanita tersebut kesulitan membuka mata, kemudia wanita tersebut meminta

pertanggung jawaban pada salon kecantikan yang sebelumnya ia datangi. Pasal

apa yang dapat diberlakukan dalam kasus ini?


Jawaban:

Undang-undang No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran. Pasal 78: Tindak

pidana dengan menggunakan alat, metode pelayanan kesehatan yang menimbulkan kesan

seolah-olah dokter yang mempunyai STR dan SIP, diatur dalam pasal 78, yang

menyebutkan: “Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan alat, metode atau cara

lain dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat yang menimbulkan kesan seolah-

olah yang bersangkutan adalah dokter atau dokter gigi yang telah memiliki surat tanda

registrasi dokter atau tanda registrasi dokter gigi atau surat izin praktik sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 73 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama (5) lima

tahun atau denda paling banyak Rp150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah)”

13. Jika dalam kasus diatas (No 12) dilakukan oleh seorang dokter dan dokter tersebut

menjanjikan setelah tindakan penyuntikan akan didapatkan hasil yang

memuaskan pada wanita tersebut, ikatan apa yang terbentuk antara dokter dan

pasien tersebut?

Jawaban:

Resultaats verbintenis, adalah perikatan yang didasarkan pada hasil kerja (outcome)

ternetu. Dalam pertikatan semacam ini, dokter dianggap telah memenuhi perikatan

apabila hadil kerja (outcome) yang dijanjikan kepada si pasien telah dipenuhi. Apabila

perikatan tersebut mengalami kegagalan disebut dengan istilah wan-prestasi.

14. Bagaimana langkah hukum jika ada seorang dokter salah dalam mendiagnosis

suatu penyakit pasien?

Jabawan:

Diagnosis suatu penyakit merupakan salah satu bentuk praktik kedokteran. Hal ini

sesuai dengan yang disebut dalam Pasal 35 ayat (1) Undang-Undang Nomor 29 Tahun
2004 tentang Praktik Kedokteran (UU Praktik Kedokteran) yang mengatakan bahwa

dokter atau dokter gigi mempunyai wewenang melakukan praktik kedokteran sesuai

dengan pendidikan dan kompetensi yang dimiliki. Salah satu praktik kedokteran yang

dimaksud adalah menegakkan diagnosis sebagaimana yang disebut dalam Pasal 35 ayat

(1) huruf d.

Adapun dokter yang berwenang untuk melakukan praktik kedokteran itu sendiri menurut

Pasal 29 ayat (1) UU Praktik Kedokteran adalah setiap dokter dan dokter gigi yang

memiliki surat tanda registrasi dokter dan surat tanda registrasi dokter gigi.

Kesalahan diagnosis jika ditinjau dari praktiknya. Menurut M.Y.P. Ardianingtyas,

S.H., LL.M dan Dr. Charles M. Tampubolon dalam artikel Kesalahan Diagnosis Dokter:

Tergolong Malpraktek atau Kelalaian Medik-kah?, kesalahan diagnosis yang dilakukan

oleh seorang dokter termasuk malpraktek medik/kelalaian medik atau bukan, sepanjang

seorang dokter dalam melakukan tindakan medik terhadap pasiennya memenuhi UU

Kesehatan, Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI) dan Standar Profesi Kedokteran,

maka sekalipun dokter tersebut melakukan kesalahan diagnosis, tindakan dokter tersebut

tidak dapat dikategorikan sebagai tindakan malpraktek medik/kelalaian medik.

Kemudian apa sanksi hukum bila dokter salah mendiagnosis penyakit pasiennya? Dari

artikel tersebut dikatakan bahwa setiap kasus kesalahan diagnosis dokter yang

mencelakakan pasiennya yang selama ini terjadi di Indonesia selalu dibawa ke Majelis

Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) di bawah naungan Ikatan Dokter Indonesia (IDI),

baik di tingkat pusat maupun di tingkat cabang. MKEK adalah lembaga penegak

KODEKI di samping MKDKI (Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia).

Berdasarkan Pasal 1 angka 14 UU Praktik Kedokteran, Majelis Kehormatan Disiplin

Kedokteran Indonesia adalah lembaga yang berwenang untuk menentukan ada tidaknya

kesalahan yang dilakukan dokter dan dokter gigi dalam penerapan disiplin ilmu
kedokteran dan kedokteran gigi, dan menetapkan sanksi. Jadi, yang menentukan ada

tidaknya kesalahan yang dilakukan oleh dokter adalah lembaga khusus bernama MKDKI

tersebut, termasuk menentukan apakah kesalahan diagnosis terhadap penyakit pasien

merupakan tindakan malpraktik atau bukan. Penentuan ada tidaknya kesalahan yang

dilakukan dokter dan dokter gigi ini dituangkan dalam bentuk keputusan yang dibuat

oleh MKDKI. Keputusan ini dapat berupa dinyatakan tidak bersalah atau pemberian

sanksi disiplin. Berdasarkan Pasal 69 ayat (3) UU Praktik Kedokteran, sanksi disiplin

yang dimaksud dapat berupa:

a. pemberian peringatan tertulis;

b. rekomendasi pencabutan surat tanda registrasi atau surat izin praktik; dan/atau

c. kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan di institusi pendidikan kedokteran atau

kedokteran gigi.

Namun, jika keluarga sebagai pihak dari pasien merasa dirugikan atas tindakan dokter

tersebut, berdasarkan Pasal 66 ayat (1) UU Praktik Kedokteran pasien dapat mengadukan

secara tertulis kepada Ketua Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia

(MKDKI) dan pengaduannya itu tidak menghilangkan hak setiap orang untuk

melaporkan adanya dugaan tindak pidana kepada pihak yang berwenang dan/atau

menggugat kerugian perdata ke pengadilan.

15. Apakah boleh seorang pasien setelah mengetahui jenis sakit dan pengobatan yang

akan dilakukan kepadanya meminta second opinion kepada dokter lain?

Jawaban:

Tindakan mencari atau meminta second opinion dilindungi berdasarkan peraturan

perundang-undangan yang terdiri dari:

a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 dalam BAB XA

tentang Hak Asasi Manusia Pasal 28H ayat (1) yang berbunyi “Setiap orang berhak
hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan

hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan”.

b. Undang-Undang Nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran pada Paragraf 7

tentang Hak dan Kewajiban Pasien pada Pasal 52 yang berbunyi “Pasien dalam

menerima pelayanan pada praktik kedokteran mempunyai hak: 1. Mendapatkan

penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis sebagaimana dimaksud pasal 45

ayat (3); 2. Meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain; 3. Mendapat pelayanan

sesuai dengan kebutuhan medis; 4. Menolak tindakan medis; dan 5.Mendapatkan isi

rekam medis.

c. Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan pada Paragraf Kedua Pasal

56 ayat (1) yang berbunyi “Setiap orang berhak menerima atau menolak sebagian

atau seluruh tindakan pertolongan yang akan diberikan kepadanya setelah menerima

dan memahami informasi mengenai tindakan tersebut secara lengkap”.

d. Undang-Undang Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit pada Pasal 32 poin g

yang berbunyi “Memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan keinginannya dan

peraturan yang berlaku di rumah sakit.” Lalu pada poin h disebutkan “meminta

konsultasi tentang penyakit yang dideritanya kepada dokter lain yang mempunyai

Surat Izin Praktik (SIP) baik di dalam maupun di luar rumah sakit”.

Berdasarkan elemen penilaian akreditasi rumah sakit, pada bagian HPK.2 disebutkan

setiap rumah sakit harus membuat kebijakan/ panduan/SPO cara memperoleh second

opinion di dalam atau di luar rumah sakit. Kebijakan dan prosedur tentang hak pasien

bertujuan agar tidak menimbulkan rasa takut untuk mencari second opinion dan

kompromi dalam pelayanan mereka baik di dalam maupun di luar rumah sakit.

Berikut ini salah satu contoh prosedur pelaksanaan second opinion:


1. Pasien dan atau keluarga pasien menyampaikan permohonan baik secara lisan

maupun tertulis kepada dokter penanggung jawab pasien (DPJP) yang merawat pasien

untuk meminta surat pengantar second opinion ke dokter lain baik di dalam maupun

di luar rumah sakit.

2. DPJP yang merawat pasien memberikan surat pengantar second opinion kepada

pasien dan keluarga untuk disampaikan kepada dokter yang dituju.

3. Pasien dan keluarga mendapat hasil second opinion.

4. Pasien dan keluarga menyerahkan hasil second opinion kepada DPJP yang merawat

pasien.

5. DPJP yang merawat pasien berhak menerima atau menolak untuk menggunakan

pendapat dari dokter yang memberikan second opinion dalam proses pengobatan yang

diberikan kepada pasien.

6. Apabila DPJP menolak hasil second opinion, maka pasien berhak untuk melanjutkan

atau tidak proses perawatan dan pengobatan dengan DPJP bersangkutan.

7. Apabila DPJP menerima hasil second opinion dan menggunakan dalam pengobatan

pasien, maka segala risiko yang timbul atas proses pengobatan menjadi tanggung

jawab DPJP.

8. Hasil second opinion baik diterima maupun ditolak, salinannya harus disimpan dalam

rekam medik pasien.

16. Seorang perempuan 28 tahun dating kedokter dengan pemeriksaan (+) hamil.

Pasien tersebut tidak menginginkan anak tersebut. Dan meminta dokter

menggugurkan kandunganya. Dokter tersebut menolak melakukan aborsi, tetapi

memberitahu tempat melakukan aborsi. Suatu ketika kasus tersebut di selidiki oleh

polisi. Apakah hukum yang dilangar oleh dokter tersebut?

Jawaban:
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Pasal 349. Jika seorang dokter, bidan

atau juru obat membantu melakukan kejahatan yang tersebut pasal 346, ataupun

melakukan atau membantu melakukan salah satu kejahatan yang diterangkan dalam

pasal 347 dan 348, maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah dengan

sepertiga dan dapat dicabut hak untuk menjalankan pencarian dalam mana kejahatan

dilakukan.Berdasarkan pasal-pasal tersebut di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa

pihak-pihak yang dapat mewujudkan adanya pengguguran kandungan adalah:

1. Seseorang yang melakukan pengobatan atau menyuruh supaya berobat terhadap

wanita tersebut, sehingga dapat gugur kandungannya.

2. Wanita itu sendiri yang melakukan upaya atau menyuruh orang lain, sehingga dapat

gugur kandungannya.

3. Seseorang yang tanpa izin menyebabkan gugurnya kandungan seseorang.

4. Seseorang yang dengan izin meyebabkan gugurnya kandungan seseorang wanita.

5. Seseorang yang dimaksud dalam angka 1, 2, 3, dan 4 termasuk di dalamnya dokter,

bidan, juru obat, serta pihak lain yang berhubungan dengan medis.

17. Seorang wanita yang menderita kanker serviks direncanakan untuk kemoterapi

karena keadaannya memburuk. Keluarga memutuskan untuk membawa pulang,

tapi dari pihak dokter tidak memperbolehkan, karena jika pulang sama saja

dengan euthanasia. Kaidah bioetik apa yang ada dalam kasus ini?

Jawaban: Non-maleficence dan autonomy

18. Suatu hari di tempat praktik milik seorang dokter spesialis terdapat antrian

panjang pasien yang ingin memeriksakan diri dengan dokter tersebut. Suatu ketika

dating seorang pejabat yang juga ingin memeriksakan diri ke dokter spesialis

tersebut. Tiba-tiba pejabat tersebut dipanggil untuk masuk ke kamar pemeriksaan


dokter tanpa mengikuti antrian pasien masuk. Apakah dokter melakukan tindakan

kesalahan pada kasus tersebut ?

Jawaban :

Dokter tersebut telah melakukan pelanggaran sumpah Kedokteran Indonesia no. 8 yang

berbunyi: “Saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak terpengaruh

oleh pertimbangan keagamaan, kesukuan, perbedaan kelamin, politick epartaian, atau

kedudukan social dalam menunaikan kewajiban terhadap penderita.

19. Berdasarkan kasus diatas (No 18) dokter tersebut juga tidak menjalankan

hubungan dokter dengan masyarakat dengan baik sesuai prinsip Prima Facie

yaitu?

Jawaban :

Justice yang memiliki pengertian tindakan yang memegang prinsip sama rata, tidak

membeda-bedakan pasien dalam status apa pun. Pasien dalam keadaan yang sama,

seharusnya mendapat perlakuan yang sama.

20. Seorang wanita berusia 24 tahun menjalani operasi section caesaria cito pada pukul

01.00 malam di sebuah rumah sakit negeri dengan fasilitas dan tim medis yang

memadai atas indikasi arrest of descent ec CPD setelah sebelumnya pasien pergi

melahirkan ke dukun beranak. Wanita tersebut baru saja hamil anaknya yang

pertama. Dalam proses operasi terjadi pendarahan masif karena atonia uteri.

Dokter spesialis kandungan yang melakukan SC memutuskan untuk melakukan

histerektomi untuk mengatasi hal tersebut karena perdasarahan tidak mau berhenti

meskipun jahitan sudah semuanya dilakukan dan uterotonika sudah disuntikkan

secara lokal. Karena merasa terlalu genting, dokter lalu melakukan histerektomi

tanpa KIE dan persetujuan dari keluarga. Perdarahan lalu dapat diatasi dan
operasi berakhir dengan lancar. Sepulihnya pasien, pasien marah-marah dengan

dokter setelah diberitahukan bahwa rahimnya diangkat dan tidak bisa memiliki

anak lagi. Meskipun dalam keadaan gawat darurat, pasien merasa bahwa

seharusnya dokter melakukan KIE kepadanya atau keluarga terlebih dahulu,

sedangkan keluarga pasien (suami dan ibu pasien) selalu menunggu tidak jauh dari

ruang operasi dan siap dipanggil jika terjadi apa-apa. Pasien akhirnya mengancam

untuk melayangkan tuntutan kepada dokter spesialis kandungan tersebut. Apakah

dokter tersebut memang bisa dituntut secara hukum?

Jawaban:

Dalam setiap tindakan kedokteran yang mengandung resiko tinggi harus mendapat

persetujuan dari pasien/keluarga pasien. Persetujuan tindakan tersebut dikenal dengan

Persetujuan Tindakan Kedokteran atau dalam dunia kedokteran sering disebut sebagai

(Informed Consent). Informed artinya telah diberitahukan, telah disampaikan atau telah

diinformasikan. Consent artinya persetujuan yang diberikan kepada seseorang untuk

berbuat sesuatu. Dengan demikian, Informed Consent adalah persetujuan yang diberikan

pasien kepada dokter setelah diberi penjelasan. Pengertian demikian tidak tepat tergambar

dalam Persetujuan Tindakan Medis. Namun setelah diterbitkannya Peraturan Menteri

Kesehatan Nomor 585/Menkes/Per/ IX/1989, istilah Persetujuan Tindakan Medis yang

resmi digunakan, kemudian dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Kesehatan Nomor

290/Menkes/Per/ III/2008 istilah Persetujuan Tindakan Medis diganti dengan istilah

Persetujuan Tindakan Kedokteran. Pasal 1 ayat (1) Permenkes

No.290/Menkes/Per/III/2008 tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran memberikan

definisi Persetujuan Tindakan Kedokteran adalah persetujuan yang diberikan oleh pasien

atau keluarga terdekat setelah mendapat penjelasan secara lengkap mengenai tindakan

kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan terhadap pasien.


Ada dua bentuk Consent (Persetujuan) yaitu :

1. Implied Consent (tersirat atau dianggap telah diberikan)

a. Implied Constructive Consent (Keadaan Normal/biasa)

b. Implied Emergency Consent (Keadaan Gawat Darurat)

2. Expressed Consent (dinyatakan)

a. Lisan

b. Tulisan

Pasal 2 Permenkes No.290/ Menkes/Per/III/2008 secara tegas menyatakan bahwa

semua tindakan kedokteran yang akan dilakukan terhadap pasien harus mendapat

persetujuan. Persetujuan tersebut dapat diberikan secara tertulis maupun lisan dari pasien

setelah pasien mendapatkan informasi dan penjelasan tentang perlunya tindakan

kedokteran dilakukan. Pelaksanaan Pasal tersebut diimplementasikan dengan

memberikan informasi dan mendapatkan persetujuan terhadap tindakan kedokteran yang

akan dilakukan oleh tenaga kesehatan terhadap pasien yang lazim disebut Informed

Consent. Dalam ketentuan Pasal 7 ayat (3) No.290/Menkes/Per/III/2008 juga memberikan

ketentuan bahwa dalam Penjelasan Tindakan Kedokteran sekurang-kurangnya

mencakup :

1. Diagnosis dan Tata Cara Tindakan Kedokteran;

2. Tujuan Tindakan Kedokteran Yang Dilakukan;

3. Alternatif Tindakan Lain dan Resikonya

4. Resiko dan Komplikasi Yang Mungkin Terjadi

5. Prognosis Terhadap Tindakan Yang Dilakukan;

6. Perkiraan Biaya.

Berdasarkan pada Peraturan Menteri Kesehatan RI No.290/MENKES/PER/III/2008

Tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran pasal 3, menyebutkan bahwa setiap tindakan


kedokteran yang mengandung risiko tinggi harus memperoleh persetujuan tertulis yang

ditandatangani oleh yang berhak memberikan persetujuan. Yang berhak menandatangani

persetujuan disini adalah pasien atau keluarga terdekat setelah mendapat penjelasan

secara lengkap mengenai tindakan yang akan dilakukanterhadap pasien. Tindakan

kedokteran yang mengandung risiko tinggi adalah tindakan medis yang berdasarkan

tingkat probabilitas tertentu, dapat mengakibatkan kematian atau kecacatan. Pada kondisi

kegawat daruratan dimana kondisi tersebut merupakan kondisi yang berisiko untuk

mengalami kematian atau kecacatan fisik, tidak diperlukan persetujuan dari pasien atau

keluarga terdekat. Hal ini sesuai dengan pasal 4 yang menyatakan bahwa dalam keadaan

gawatdarurat, untuk menyelamatkan jiwa pasien dan atau mencegah kecacatan tidak

diperlukan persetujuan tindakan kedokteran. Namun,setelah pasien sadar atau dalam

kondisi yang sudah memungkinkan, segera diberikan penjelasan dan dibuat persetujuan

(Pasal 45 UU RI No.29 tahun 2004). Persetujuan tindakan medic dalam kasus emergency

termasuk dalam Implied Emergency Consent, dimana bila pasien dalam kondisi gawat

darurat yang dapat mengancam jiwanya, tindakan menyelamatkan kehidupan. (life

saving) tidak memerlukan persetujuan tindakan medik. Dalam hal ini perlu dilakukan

tindakan segera untuk menyelamatkan jiwa pasien sementara pasien dan keluarganya

tidak bisa membuat persetujuan dengan segera.

Pengaturan kewenangan tenaga kesehatan dalam melakukan tindakan medic diatur

dalam pasal 50 Undang-Undang No.23/1992 tentang Kesehatan yang merumuskan

bahwa“tenaga kesehatan bertugas menyelenggarakan atau melakukan kegiatan kesehatan

sesuai dengan bidang keahlian dan atau kewenangan tenaga kesehatan yang

bersangkutan”.

Pengaturan tersebut menyangkut pelayanan gawat darurat pada fase di rumah sakit,

dimana pada dasarnya setiap dokter memiliki kewenangan untuk melakukan berbagai
tindakan medic termasuk tindakan spesifik dalam keadaangawat darurat. Dalam hal

pertolongan tersebut dilakukan oleh tenaga kesehatan maka yang bersangkutan harus

menerapkan standard profesi sesuai dengan situasi (gawat darurat) saat itu.

Katakanlah kasus terjadi di suatu tempat dengan tim medis yang memadai dan masih

ada personil di OK yang bisa dimintai tolong untuk memanggilkan keluarga dan

memintakan surat persetujuan tindakan, dan waktu untuk melakukannya dinilai cukup,

dokter bisa dituntut karena tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan.

Histerektomi dapat dianggap sebagai tindakan berisiko tinggi karena menyebabkan

kecacatan permanen pada tubuh seorang perempuan, sehingga dokter wajib memintakan

informed consent, terutama yang tertulis. Pada kasus di atas, dokter tidak bisa dituntut

atas tindakannya dengan tujuan untuk menyelamatkan nyawa sang ibu dalam situasi

gawat darurat, namun bisa dituntut dengan keharusannya memberikan informed consent

sesuai standar yang berlaku pada situasi yang serupa.

21. Seorang dokter umum sedang mengalami sinusitis. Karena sudah berupaya

mengobati diri sendiri namun tidak ada perbaikan, dokter tersebut lalu pergi

berkonsultasi ke praktek pribadi teman seangkatannya yang seorang dokter

spesialis THT. Dokter THT dan dokter umum tersebut lalu saling menanyakan

kabar masing masing saat proses pemeriksaan, dan diakhiri dengan dokter THT

memberikan resep antibiotik yang lebih kuat dari yang diminum oleh sang dokter

umum. Sang dokter umum pun keluar untuk menebus resep dan membayar,

akantetapi sang dokter umum terkejut karena ternyata selain harga obat, ia

dibebani pula dengan biaya konsultasi oleh temannya sejawatnya sendiri. Apakah

boleh dokter spesialis THT tersebut menarik bayaran dari sejawatnya tersebut?

Jawaban:
Dalam pelayanan, seorang dokter harus memegang teguh etika kedokteran yang

menjadi penentu keluhuran profesi ini. Jika etika kedokteran tidak lagi dipegang teguh

oleh dokter sebagai anggota IDI, maka profesi ini tidak lagi layak disebut sebagai profesi

yang luhur.Mengenai sesama sejawat yang menarik biaya jasa medis, hal tersebut tidak

ada diatur dalam undang-undang atau peraturan menteri. Tetapi di atur dalam Kode Etik

Kedokteran Indonesia (KODEKI) 2012 Pasal 18 KODEKI: Menjunjung Tinggi

Kesejawatan : Setiap dokter wajib memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana

ia sendiri ingin diperlakukan.

Dalam Penjelasan Pasal tersebut dijelaskan :

Sesama dokter sebagai sejawat sebenarnya ingin saling diperlakukan sama oleh teman

sejawatnya (golden rule). Konteks kesejawatan dalam hal ini adalah kesetaraan

hubungan antar sejawat, tidak ada salah satu yang diduga berperilaku menyimpang.

Makna berikutnya ialah agar setiap dokter menahan diri untuk tidak membuat sulit,

bingung, kecewa/marahsejawatnya sehingga terwujud organisasi profesi yang tangguh

dengan tradisi luhur pengabdi profesi sebagai model panutannya.

Penjelasan Pasal 18 cakupan Pasal butir (3) yang berbunyi: Setiap dokter wajib

menegakkan sewajarnya budaya menolong teman sejawatnya yang sakit, tertimpa

musibah, bencana dan kesulitan berat lainnya. Dijelaskan pada huruf (c), (d) dan (e)

halaman 54 yaitu:

(c) Perlakuan dokter terhadap sejawat yang menjadi pasiennya: sebaiknya

memperkenalkan diri secara jujur bahwa dia adalah dokter ketika berobat ke dokter yang

mengobati, dokter yang mengobati teman sejawat sebaiknya menyambut perkenalan diri

teman sejawat yang menjadi pasien

(d) Sebaiknya memperkenalkan dokter pribadi atau dokter keluarganya kepada dokter

yang mengobati, dan


(e) Dokter wajib membebaskan jasa medis bagi sejawat nya,, istri/suami , anak yang

masih menjadi tanggungan, serta orangtua sejawat yang dirawat inap maupun rawat

jalan (vertikal) kecuali ditanggung oleh asuransi.

Sesuai dengan Penjelasan KODEKI 2012 tersebut diatas, dokter sebagai sesama

sejawat wajib membebaskan jasa medis kecuali ditanggung oleh Asuransi, dan wajib

pula membebaskan jasa medis bagi istri/suami, anak yang masih menjadi tanggungan

dan orang tua sejawatnya jika menjadi pasiennya.