Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH

TRAUMA DAN PENATALAKSANAAN NYA

OLEH:

RAHMAT JULI SETIADI


130610053

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MALIKUSSALEH
ACEH UTARA
2017
1. Konsep Umum trauma

Trauma adalah luka atau cedera pada jaringan. Trauma atau yang disebut injury atau
wound, dapat juga diartikan sebagai kerusakan atau luka yang disebabkan oleh tindakan-
tindakan fisik dengan terputusnya kontinuitas normal suatu struktur.
Trauma juga diartikan sebagai kejadian yang tidak terduga karena kontak yang keras
dengan suatu benda. Menurut etiologinya trauma terbagi dua, yaitu trauma yang disengaja
(intentional injury) dan trauma yang tidak disengaja (unintentional injury).
Di Indonesia kematian akibat kecelakaan lalu lintas lebih kurang 12 ribu orang per
tahun sehingga dapat disimpulkan bahwa trauma dapat menyebabkan :

1. Angka kematian yang tinggi.


2. Hilangnya waktu kerja yang banyak sehingga biaya perawatan yang besar.
3. Kecacatan sementara dan permanen.

Banyak dari korban trauma tersebut mengalami cedera musculoskeletal berupa fraktur,
dislokasi, dan cedera jaringan lunak. Cedera sistem musculoskeletal cenderung meningkat dan
terus meningkat dan akan mengancam kehidupan kita (Rasjad C,2003).
Walaupun cedera musculoskeletal umumnya jarang menyebabkan kematian, tapi dapat
menimbulkan penderitaan fisik, stress mental dan kehilangan banyak waktu. Jadi dalam hal ini,
cedera muskuloskeletal akan meningkatkan angka morbiditas dibanding angka mortalitas
(Salter, R. B. , 1999).

Klasifikasi etiologis:

1. FRAKTUR TRAUMATIK. Akibat trauma tiba-tiba


2. FRAKTUR PATOLOGIS. Terjadi karena kelemahan tulang akibat adanya kelainan
patologi pada tulang
3. FRAKTUR STRESS. Akibat trauma yang terus menerus pada suatu daerah tertentu.

2. Masalah dan penanganan trauma

Bagian tubuh yang mengalami cedera dikatagorikan menjadi 4 bagian yaitu kepala, badan,
tangan dan kaki. Proporsi bagian tubuh yang mengalami cedera akibat kecelakaan lalu lintas.
Orang yang mengalami kecelakaan lalu lintas kebanyakan mengalami cedera di bagian kaki
yaitu (63,8%) dan bagian tangan (47,8%). Pola ini menunjukkan bahwa bagian ekstremitas
atau anggota gerak (kaki dan tangan) masih mendominasi cedera sebagai akibat dari
kecelakaan lalu lintas. Cedera di bagian ekstremitas/anggota gerak bawah (kaki) juga masih
menduduki peringkat yang paling atas untuk cedera akibat kecelakaan lalu lintas.

Cedera kepala merupakan salah satu penyebab utama kematian pada pengguna kendaraan
bermotor karena tingginya tingkat mobilitas dan kurangnya kesadaran untuk menjaga
keselamatan di jalan raya (Baheram, 2007).Lebih dari 50% kematian disebabkan oleh cedera
kepala dan kecelakaan kendaraan bermotor. Setiap tahun, lebih dari 2 juta orang mengalami
cedera kepala, 75.000 diantaranya meninggal dunia dan lebih dari 100.000 orang yang selamat
akan mengalami disabilitas permanen (Widiyanto, 2007)

Kasus trauma terbanyak disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas, disamping kecelakaan
industri, kecelakaan olahraga, jatuh dari ketinggian maupun akibat kekerasan.Trauma kepala
didefinisikan sebagai trauma non degeneratif – non konginetal yang terjadi akibat ruda paksa
mekanis eksteral yang menyebabkan kepala mengalami gangguan kognitif, fisik dan
psikososial baik sementara atau permanen. Trauma kepala dapat menyebabkan kematian /
kelumpuhan pada usia dini (Osborn, 2003).

Menurut penelitian nasional Amerika Guerrero et al (2000) di bagian kegawatdaruratan


menunjukkan bahwa penyebab primer cedera kepala karena trauma pada anak-anak adalah
karena jatuh, dan penyebab sekunder adalah terbentur oleh benda keras.Penyebab cedera
kepala pada remaja dan dewasa muda adalah kecelakaan kendaraan bermotor dan terbentur,
selain karena kekerasan. Insidensi cedera kepala karena trauma kemudian menurun pada usia
dewasa; kecelakaan kendaraan bermotor dan kekerasan yang sebelumnya merupakan etiologi
cedera utama, digantikan oleh jatuh pada usia >45 tahun.

Cedera kepala akan memberikan gangguan yang sifatnya lebih kompleks bila
dibandingkan dengan trauma pada organ tubuh lainnya. Hal ini disebabkan karena struktur
anatomic dan fisiologik dari isi ruang tengkorak yang majemuk, dengan konsistensi cair, lunak
dan padat yaitu cairan otak, selaput otak, jaringan syaraf, pembuluh darah dan tulang
(Retnaningsih, 2008).

Cedera kepala sedang dan berat memerlukan pemeriksaan CT scan untuk membantu
mengambil keputusan. Cedera kepala sedang adalah jenis cedera kepala yang dikelompokan
berdasarkan beratnya melalui pemeriksaan Glasgow Coma Scale (GCS) bernilai 9-12.
Sedangkan cedera kepala berat memiliki nilai GCS kurang atau sama dengan 8. Kerusakan
otak pada cedera kepala dapat disebabkan karena cedera kepala primer (akibat langsung) dan
sekunder yang terjadi akibat berbagai proses patologis yang timbul sebagai tahap lanjutan dari
kerusakan otak primer, berupa perdarahan, edema otak, kerusakan neuron berkelanjutan,
iskemia, peningkatan tekanan intrakranial dan perubahan neurokimiawi.

Trauma abdomen adalah terjadinya cedera atau kerusakan pada organ abdomen yang
menyebabkan perubahan fisiologi sehingga terjadi gangguan metabolisme , kelainan imunologi
dan gangguan faal berbagai organ.

Manifestasi klinis trauma abdomen dapat meliputi : nyeri (khususnya karena


gerakan),nyeri tekan dan lepas(mungkin menandakan iritasi peritonium karena cairan
gastrointestinal atau darah)distensi abdomen ,demam, anoreksia, mual da muntah ,tatikardi
,peningkatan suhu tubuh ( Smeltzer,2001)

Penyebab Kecelakaan Lalu Lintas

1. Faktor pemakai jalan


Pemakai jalan merupakan unsur yang terpenting dalam lalu lintas, karena manusia
sebagai pemakai jalan adalah unsur yang utama terjadinya pergerakan lalu lintas (seosantiyo,
1985). Disebutkan bahwa faktor manusia sebagai pengguna jalan dapat dipilah menjadi dua
golongan, yaitu :
A. Pengemudi, termasuk pengemudi kendaraan tak bermotor
B. Pejalan kaki, termasuk para pedagang asongan, pedagang kaki lima, dan lain-lain.

2. Faktor pengemudi
Tingkah laku pribadi pengemudi di dalam arus lalu lintas adalah faktor yang
menentukan karakteristik lalu lintas yang terjadi.
3. Faktor pejalan kaki
Pejalan kaki sangat mudah mengalami cidera serius atau kematian jika ditabrak oleh
kendaraan bermotor.

4. Faktor kendaraan
Sebab-sebab kecelakaan yang disebabkan faktor kendaraan yaitu kecelakaan lalu lintas
karena perlengkapan, penerangan, pengamanan, dan mesin kendaraan.
5. Faktor jalan
Jalan sebagai landasan bergeraknya kendaraan harus direncanakan sedemikian rupa
agar memenuhi syarat keamanan dan kenyamanan bagi pemakainya.

6. Faktor lingkungan
Berbagai faktor lingkungan jalan berpengaruh dalam kegiatan lalu lintas. Hal ini
mempengaruhi pengemudi dalam mengatur kecepatan (mempercepat, konstan, memperlambat
atau berhenti)1

Pengelolaan trauma ganda yang berat memerlukan kejelasan dalam menetapkan prioritas.
Tujuannya adalah segera mengenali cedera yang mengancam jiwa dengan Survey.
Primer, seperti :

• Obstruksi jalan nafas


• Cedera dada dengan kesukaran bernafas
• Perdarahan berat eksternal dan internal
• Cedera abdomen

Jika ditemukan lebih dari satu orang korban maka pengelolaan dilakukan berdasar
prioritas (triage) Hal ini tergantung pada pengalaman penolong dan fasilitas yang ada.
Survei ABCDE (Airway, Breathing, Circulation, Disability, Exposure) ini disebut
survei primer yang harus selesai dilakukan dalam 2 - 5 menit.
Terapi dikerjakan serentak jika korban mengalami ancaman jiwa akibat banyak sistim
yang cedera :

Airway
Menilai jalan nafas bebas. Apakah pasien dapat bicara dan bernafas dengan bebas ?
Jika ada obstruksi maka lakukan :
• Chin lift / jaw thrust (lidah itu bertaut pada rahang bawah)
• Suction / hisap (jika alat tersedia)
• Guedel airway / nasopharyngeal airway
• Intubasi trakhea dengan leher di tahan (imobilisasi) pada posisi netral

Breathing
Menilai pernafasan cukup. Sementara itu nilai ulang apakah jalan nafas bebas.
Jika pernafasan tidak memadai maka lakukan :
• Dekompresi rongga pleura (pneumotoraks)
• Tutuplah jika ada luka robek pada dinding dada
• Pernafasan buatan
Sirkulasi
Menilai sirkulasi / peredaran darah. Sementara itu nilai ulang apakah jalan nafas bebas
dan pernafasan cukup. Jika sirkulasi tidak memadai maka lakukan :
• Hentikan perdarahan eksternal
• Segera pasang dua jalur infus dengan jarum besar (14 - 16 G)
• Berikan infus cairan

Disability
Menilai kesadaran dengan cepat, apakah pasien sadar, hanya respons terhadap nyeri
atau sama sekali tidak sadar. Tidak dianjurkan mengukur Glasgow Coma Scale
AWAKE = A
RESPONS BICARA (verbal) = V
RESPONS NYERI = P
TAK ADA RESPONS = U
Cara ini cukup jelas dan cepat.

Eksposure
Lepaskan baju dan penutup tubuh pasien agar dapat dicari semua cedera yang mungkin
ada. Jika ada kecurigaan cedera leher atau tulang belakang, maka imobilisasi in-line harus
dikerjakan.2

3. Proses penyembuhan dan faktor yang mempengaruhi

Penyembuhan luka
Respon organisme terhadap kerusakan jaringan/organ serta usaha pengembalian
kondisi homeostasis sehingga dicapai kestabilan fisiologis jaringan atau organ yang pada kulit
terjadi penyusunan kembali jaringan kulit ditandai dengan terbentuknya epitel fungsional yang
menutupi luka (Regauer,Compton; 1990, Stricklin dkk,1994).

Tahapan penyembuhan luka


Tanpa memandang penyebab, tahapan penyembuhan luka terbagi atas :

Fase koagulasi : setelah luka terjadi, terjadi perdarahan pada daerah luka yang diikuti dengan
aktifasi kaskade pembekuan darah sehingga terbentuk klot hematoma. Proses ini diikuti oleh
proses selanjutnya yaitu fase inflamasi.

Fase inflamasi : Fase inflamasi mempunyai prioritas fungsional yaitu menggalakkan


hemostasis, menyingkirkan jaringan mati, dan mencegah infeksi oleh bakteri patogen
terutama bakteria. Pada fase ini platelet yang membentuk klot hematom mengalami
degranulasi, melepaskan faktor pertumbuhan seperti platelet derived growth factor (PDGF)
dan transforming growth factor ß(βTGF), granulocyte colony stimulating factor (G-CSF),
C5a, TNFα, IL-1 dan IL-8. Leukosit bermigrasi menuju daerah luka. Terjadi deposit matriks
fibrin yang mengawali proses penutupan luka. Proses ini terjadi pada hari 2-4.

Fase proliperatif : Fase proliperatif terjadi dari hari ke 4-21 setelah trauma. Keratinosit
disekitar luka mengalami perubahan fenotif. Regresi hubungan desmosomal antara keratinosit
pada membran basal menyebabkan sel keratin bermigrasi kearah lateral. Keratinosit bergerak
melalui interaksi dengan matriks protein ekstraselular (fibronectin,vitronectin dan kolagen tipe
I). Faktor proangiogenik dilepaskan oleh makrofag, vascular endothelial growth factor
(VEGF) sehingga terjadi neovaskularisasi dan pembentukan jaringan granulasi.
Fase remodeling : Remodeling merupakan fase yang paling lama pada proses penyembuhan
luka,terjadi pada hari ke 21-hingga 1 tahun. Terjadi kontraksi luka, akibat pembentukan aktin
myofibroblas dengan aktin mikrofilamen yang memberikan kekuatan kontraksi pada
penyembuhan luka. Pada fase ini terjadi juga remodeling kolagen. Kolagen tipe III digantikan
kolagen tipe I yang dimediasi matriks metalloproteinase yang disekresi makrofag, fibroblas,
dan sel endotel. Pada masa 3 minggu penyembuhan, luka telah mendapatkan kembali 20%
kekuatan jaringan normal (Hunt,2003; Mann ,dkk;2001, Ting,dkk;2008).3

Proses Penyembuhan Fraktur


Proses penyembuhan suatu fraktur dimulai sejak terjadi fraktur sebagai usaha tubuh
untuk memperbaiki kerusakan – kerusakan yang dialaminya. Penyembuhan dari fraktur
dipengaruhi oleh beberapa faktor lokal dan faktor sistemik, adapun faktor lokal:
a. Lokasi fraktur
b. Jenis tulang yang mengalami fraktur.
c. Reposisi anatomis dan immobilasi yang stabil.
d. Adanya kontak antar fragmen.
e. Ada tidaknya infeksi.
f. Tingkatan dari fraktur.

Adapun faktor sistemik adalah :


a. Keadaan umum pasien
b. Umur
c. Malnutrisi
d. Penyakit sistemik.

Proses penyembuhan Fraktur Primer

Penyembuhan cara ini terjadi internal remodelling yang meliputi upaya langsung oleh
korteks untuk membangun kembali dirinya ketika kontinuitas terganggu. Agar fraktur menjadi
menyatu, tulang pada salah satu sisi korteks harus menyatu dengan tulang pada sisi lainnya
(kontak langsung) untuk membangun kontinuitas mekanis.

Tidak ada hubungan dengan pembentukan kalus. Terjadi internal remodelling dari haversian
system dan penyatuan tepi fragmen fraktur dari tulang yang patah.

Ada 3 persyaratan untuk remodeling Haversian pada tempat fraktur adalah:

1. Pelaksanaan reduksi yang tepat


2. Fiksasi yang stabil
3. Eksistensi suplay darah yang cukup

Penggunaan plate kompresi dinamis dalam model osteotomi telah diperlihatkan menyebabkan
penyembuhan tulang primer. Remodeling haversian aktif terlihat pada sekitar minggu ke empat
fiksasi.

Proses Penyembuhan Fraktur Sekunder.

Penyembuhan sekunder meliputi respon dalam periostium dan jaringan-jaringan lunak


eksternal. Proses penyembuhan fraktur ini secara garis besar dibedakan atas 5 fase, yakni fase
hematom (inflamasi), fase proliferasi, fase kalus, osifikasi dan remodelling. (Buckley, R.,
2004, Buckwater J. A., et al,2000).

1. Fase Inflamasi:
Tahap inflamasi berlangsung beberapa hari dan hilang dengan berkurangnya pembengkakan
dan nyeri. Terjadi perdarahan dalam jaringan yang cidera dan pembentukan hematoma di
tempat patah tulang. Ujung fragmen tulang mengalami devitalisasi karena terputusnya pasokan
darah terjadi hipoksia dan inflamasi yang menginduksi ekpresi gen dan mempromosikan
pembelahan sel dan migrasi menuju tempat fraktur untuk memulai penyembuhan. Produksi
atau pelepasan dari faktor pertumbuhan spesifik, Sitokin, dapat membuat kondisi mikro yang
sesuai untuk :

(1) Menstimulasi pembentukan periosteal osteoblast dan osifikasi intra membran pada tempat
fraktur,
(2) Menstimulasi pembelahan sel dan migrasi menuju tempat fraktur, dan
(3) Menstimulasi kondrosit untuk berdiferensiasi pada kalus lunak dengan osifikasi
endokondral yang mengiringinya. (Kaiser 1996).

Berkumpulnya darah pada fase hematom awalnya diduga akibat robekan pembuluh darah lokal
yang terfokus pada suatu tempat tertentu. Namun pada perkembangan selanjutnya hematom
bukan hanya disebabkan oleh robekan pembuluh darah tetapi juga berperan factor faktor
inflamasi yang menimbulkan kondisi pembengkakan lokal. Waktu terjadinya proses ini
dimulai saat fraktur terjadi sampai 2 – 3 minggu.

2. Fase proliferasi

Kira-kira 5 hari hematom akan mengalami organisasi, terbentuk benang-benang fibrin


dalam jendalan darah, membentuk jaringan untuk revaskularisasi, dan invasi fibroblast dan
osteoblast. Fibroblast dan osteoblast (berkembang dari osteosit, sel endotel, dan sel
periosteum) akan menghasilkan kolagen dan proteoglikan sebagai matriks kolagen pada
patahan tulang. Terbentuk jaringan ikat fibrous dan tulang rawan (osteoid). Dari periosteum,
tampak pertumbuhan melingkar. Kalus tulang rawan tersebut dirangsang oleh gerakan mikro
minimal pada tempat patah tulang. Tetapi gerakan yang berlebihan akan merusak struktur
kalus. Tulang yang sedang aktif tumbuh menunjukkan potensial elektronegatif. Pada fase ini
dimulai pada minggu ke 2 – 3 setelah terjadinya fraktur dan berakhir pada minggu ke 4 – 8.

3. Fase Pembentukan Kalus

Merupakan fase lanjutan dari fase hematom dan proliferasi mulai terbentuk jaringan tulang
akni jaringan tulang kondrosit yang mulai tumbuh atau umumnya disebut sebagai jaringan
tulang rawan. Sebenarnya tulang rawan ini masih dibagi lagi menjadi tulang lamellar dan
wovenbone. Pertumbuhan jaringan berlanjut dan lingkaran tulang rawan tumbuh mencapai sisi
lain sampai celah sudah terhubungkan. Fragmen patahan tulang digabungkan dengan jaringan
fibrous, tulang rawan, dan tulang serat matur. Bentuk kalus dan volume dibutuhkanuntuk
menghubungkan efek secara langsung berhubungan dengan jumlah kerusakan dan pergeseran
tulang. Perlu waktu tiga sampai empat minggu agar fragmen tulang tergabung dalam tulang
rawan atau jaringan fibrous. Secara klinis fragmen tulang tidak bisa lagi digerakkan. Regulasi
dari pembentukan kalus selama masa perbaikan fraktur dimediasi oleh ekspresi dari faktor-
faktor pertumbuhan. Salah satu faktor yang paling dominan dari sekian banyak faktor
pertumbuhan adalah Transforming Growth Factor-Beta 1 (TGF-B1) yang menunjukkan
keterlibatannya dalam pengaturan differensiasi dari osteoblast dan produksi matriks ekstra
seluler. Faktor lain yaitu: Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF) yang berperan
penting pada proses angiogenesis selama penyembuhan fraktur. (chen,et,al,2004).

4. Stadium Konsolidasi

Dengan aktifitas osteoklast dan osteoblast yang terus menerus, tulang yang immature (woven
bone) diubah menjadi mature (lamellar bone). Keadaan tulang ini menjadi lebih kuat sehingga
osteoklast dapat menembus jaringan debris pada daerah fraktur dan diikuti osteoblast yang
akan mengisi celah di antara fragmen dengan tulang yang baru. Proses ini berjalan perlahan-
lahan selama beberapa bulan sebelum tulang cukup kuat untuk menerima beban yang normal.

5. Stadium Remodelling.

Fraktur telah dihubungkan dengan selubung tulang yang kuat dengan bentuk yang berbeda
dengan tulang normal. Dalam waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun terjadi proses
pembentukan dan penyerapan tulang yang terus menerus lamella yang tebal akan terbentuk
pada sisi dengan tekanan yang tinggi. Rongga medulla akan terbentuk kembali dan diameter
tulang kembali pada ukuran semula. Akhirnya tulang akan kembali mendekati bentuk
semulanya, terutama pada anak-anak.4
Referensi
1. download.portalgaruda.org/article.php?article=82602&val=970
2. www.primarytraumacare.org/wp-content/uploads/2011/09/PTC_INDO.pdf
3. repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31719/4/Chapter%20II.pdf
4. repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/33107/4/Chapter%20II.pdf