Anda di halaman 1dari 5

Jakarta, 9 April 2019

No. 1435/AMPM.III/2019

Kepada Yth.
Ketua Mahkamah Konstitusi RI
Jl. Merdeka Barat No. 6
Jakarta Pusat

Perihal : Permohonan Untuk Memutus Sengketa Kewenangan antar Lembaga Negara

Dengan Hormat,

Kami, Advokat-Advokat yang berkantor di AMPM Lawyers, beralamat di The Indonesia


Stock Exchange Building, Tower II, Lt. 21, SCBD, Jl. Jendral Sudirman Kav. 52-53,
Kebayoran Baru, yaitu sebagai berikut:
1. Muhammad Alfio Tofano, S.H., M.H.
2. Muhammad Mirza Arroyyan, S.H., S.E., LL.M.
3. Maulidina Amanda, S.H., LL.M.
4. Noel Joshua Makarios Simbolon, S.H., M.H.
5. Bryan Edward, S.H., M.H.
6. Teldibertu Dipatupa Halomoan, S.H., M.H.
7. Abdul Rayhan Hanggara, S.H., M.H.

berdasarkan Surat Kuasa Khusus No. 123/SK.XI/2019 tertanggal 8 April 2019, dengan ini
bertindak untuk dan atas nama:
● Presiden Republik Indonesia, Joko Prabowo yang beralamat di Jl. Medan Merdeka
Utara No. 3, Gambir, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, selanjutnya
disebut sebagai PEMOHON.

Dengan ini mengajukan permohonan untuk Memutus Sengketa Kewenangan Konstitusional


Lembaga Negara terhadap :
● Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), beralamat di JL.
Jenderal Gatot Subroto No.10270, Gelora, Tanah Abang, Kota Jakarta Pusat, Daerah
Khusus Ibukota Jakarta, selanjutnya disebut sebagai TERMOHON.
I. KEWENANGAN MAHKAMAH
a. Bahwa berdasarkan ketentuan pasal 24 ayat (2) UUD 1945 “Kekuasaan kehakiman
dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada
dibawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama,
lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara , dan oleh
sebuah Mahkamah Konstitusi”;
b. Bahwa berdasarkan ketentuan pasal 24C ayat (1) UUD 1945 “Mahkamah Konstitusi
berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat
final untuk menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar, memutus
sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-
Undang Dasar, memutus pembubaran partai politik, dan memutus perselisihan tentang
hasil pemilihan umum”;
c. Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 10 ayat (1) Undang-Undang Nomor 24 Tahun
2003 tentang Mahkamah Konstitusi sebagaimana telah diubah dengan Undang-
Undang Nomor 8 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 24
Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi yang berbunyi: “Mahkamah Konstitusi
berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat
final untuk:
1. menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945;
2. memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya
diberikan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945;
3. memutus pembubaran partai politik; dan
4. memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum.
d. Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 29 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 48
Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, permohonan ini masuk dalam
kompetensi absolut Mahkamah Konstitusi. Maka Mahkamah Konstitusi berwenang
memeriksa dan memutus perkara ini;
e. Bahwa berdasarkan ketentuan Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 08/PMK/2006
tentang Pedoman Beracara dalam Sengketa Kewenangan Konstitusional Lembaga
Negara, Mahkamah Konstitusi berwenang memeriksa dan berkewajiban memutus
permohonan yang diajukan oleh penggugat.
II. LEGAL STANDING PEMOHON
a. Bahwa berdasarkan Pasal 28C ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945, maka dapat
dikatakan bahwa Pemohon memiliki kedudukan hukum (legal standing) untuk
memperjuangkan haknya secara kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa, dan
Negara. Pasal 28C ayat (2) UUD 1945 menyatakan sebagai berikut:
“Setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya
secara kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa, dan Negara.”
b. Bahwa berdasarkan Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945, Pemohon
merupakan Presiden Republik Indonesia, yaitu pemegang kekuasaan pemerintahan
menurut Undang-Undang Dasar. Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945
menyatakan sebagai berikut:
“Presiden Republik Indonesia memegang kekuasaan pemerintahan menurut Undang-
Undang Dasar.”
c. Bahwa berdasarkan Pasal 61 ayat (1) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang
Mahkamah Konstitusi, Pemohon yang dalam hal ini adalah Presiden Republik
Indonesia termasuk sebagai lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh
Undang-Undang Dasar 1945 yang mempunyai kepentingan langsung terhadap
kewenangan yang dipersengketakan. Pasal 61 ayat (1) Undang-Undang No. 24 Tahun
2003 tentang Mahkamah Konstitusi menyatakan sebagai berikut:
“Pemohon adalah lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang mempunyai kepentingan
langsung terhadap kewenangan yang dipersengketakan.”
d. Bahwa berdasarkan Pasal 2 ayat (1) dan (2) Peraturan Mahkamah Konstitusi No.
08/PMK/2006 tentang Pedoman Beracara dalam Sengketa Kewenangan
Konstitusional Lembaga Negara, Pemohon yang dalam hal ini adalah Presiden
Republik Indonesia dapat menjadi pemohon atau termohon dalam perkara sengketa
kewenangan konstitusional lembaga negara. Pasal 2 ayat (1) dan (2) Peraturan
Mahkamah Konstitusi No. 08/PMK/2006 tentang Pedoman Beracara dalam Sengketa
Kewenangan Konstitusional Lembaga Negara menyatakan sebagai berikut:
(1) Lembaga negara yang dapat menjadi pemohon atau termohon dalam perkara
sengketa kewenangan konstitusional lembaga negara adalah:
a. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR);
b. Dewan Perwakilan Daerah (DPD);
c. Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR);
d. Presiden;
e. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK);
f. Pemerintahan Daerah (Pemda); atau
g. Lembaga negara lain yang kewenangannya diberikan oleh UUD 1945.
(2) Kewenangan yang dipersengketakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
adalah kewenangan yang diberikan atau ditentukan oleh UUD 1945.
e. Bahwa berdasarkan Pasal 3 ayat (1) Peraturan Mahkamah Konstitusi No.
08/PMK/2006 tentang Pedoman Beracara dalam Sengketa Kewenangan
Konstitusional Lembaga Negara, Pemohon merupakan lembaga negara yang
menganggap kewenangan konstitusionalnya diambil, dikurangi, diabaikan, dan/atau
dirugikan oleh lembaga negara yang lain; dalam hal ini adalah Dewan Perwakilan
Rakyat. Pasal 3 ayat (1) Peraturan Mahkamah Konstitusi No. 08/PMK/2006 tentang
Pedoman Beracara dalam Sengketa Kewenangan Konstitusional Lembaga Negara
menyatakan sebagai berikut:
“Pemohon adalah lembaga negara yang menganggap kewenangan konstitusionalnya
diambil, dikurangi, dihalangi, diabaikan, dan/atau dirugikan oleh lembaga negara
yang lain.”
f. Bahwa berdasarkan Pasal 3 ayat (2) Peraturan Mahkamah Konstitusi No.
08/PMK/2006 tentang Pedoman Beracara dalam Sengketa Kewenangan
Konstitusional Lembaga Negara, Pemohon mempunyai kepentingan langsung
terhadap kewenangan yang dipersengketakan, mengacu pada Pasal 13 Undang-
Undang Dasar 1945. Pasal 3 ayat (2) Peraturan Mahkamah Konstitusi No.
08/PMK/2006 tentang Pedoman Beracara dalam Sengketa Kewenangan
Konstitusional Lembaga Negara menyatakan sebagai berikut:
“Pemohon harus mempunyai kepentingan langsung terhadap kewenangan yang
dipersengketakan.”
Lalu, Pasal 13 Undang-Undang Dasar 1945 menyatakan sebagai berikut:
(1) Presiden mengangkat duta dan konsul.
(2) Dalam hal mengangkat duta, Presiden memperhatikan pertimbangan Dewan
Perwakilan Rakyat.
(3) Presiden menerima penempatan duta negara lain dengan memperhatikan
pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat.
g. Bahwa berdasarkan Pasal 3 ayat (3) Peraturan Mahkamah Konstitusi No.
08/PMK/2006 tentang Pedoman Beracara dalam Sengketa Kewenangan
Konstitusional Lembaga Negara, Termohon yang dalam hal ini adalah Dewan
Perwakilan Rakyat dianggap telah mengambil, mengurangi, menghalangi,
mengabaikan, dan/atau merugikan Pemohon yang dalam hal ini adalah Presiden. Pasal
3 ayat (3) Peraturan Mahkamah Konstitusi No. 08/PMK/2006 tentang Pedoman
Beracara dalam Sengketa Kewenangan Konstitusional Lembaga Negara menyatakan
sebagai berikut:
“Termohon adalah lembaga negara yang dianggap telah mengambil, mengurangi,
menghalangi, mengabaikan, dan/atau merugikan pemohon.”