Anda di halaman 1dari 9

BAB VI

PEMBAHASAN

Bab ini merupakan pembahasan dari hasil penelitian Hubungan perilaku

caring perawat dan dukungan keluarga dengan stres hospitalisasi pada anak usia

prasekolah di Ruang Anak RSUD Besuki Kabupaten Situbondo yang dikaitkan

dengan tujuan penelitian dan teori yang telah dipaparkan pada bab sebelumnya.

Pada bab ini akan diuraikan menjadi tiga bagian, yaitu interpretasi hasil dan diskusi

hasil, keterbatasan peneliti, dan implikasi terhadap keperawatan.

A. Interpretasi Hasil dan Diskusi Hasil

1. Perilaku Caring Perawat

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti tentang

perilaku caring perawat pada anak usia prasekolah di RSUD Besuki

Kabupaten Situbondo. Hasil instrument penelitian perilaku caring perawat

menunjukkan paling banyak responden mendapatkan perilaku caring

perawat baik sebanyak 74.1% (43 responden) perilaku caring baik. Dan

responden mendapat perlaku caring perawat kurang sebanyak 25.9 % (15

responden). Hampir seluruh aspek perilaku caring sudah dilaksanakan

perawat diruang Anak RSUD Besuki.

Perilaku caring yang baik sangat penting dalam memberikan asuhan

keperawatan karena meningkatkan mutu asuhan keperawatan dan

pelayanan yang optimal. Perilaku caring merupakan suatu tanggung jawab

perawat terhadap klien yang dimana perawat harus mengerti situasi dan

kondisi klien. Hasil penelitian ini memberikan gambaran bahwa sebagian

45
46

besar keluarga pasien diruang anak RSUD Besuki mempersepsikan

perilaku perawat caring baik. Dan sebagian kecil pula masih ada yang tidak

caring. Hal tersebut dapat saja terjadi karena mengingat perilaku perawat

yang banyak melayani pasien di ruangan. Sebab lainnya bisa jadi karena

persepsi keluarga yang ingin mendahulukan kepentingan pribadinya.

Perilaku caring merupakan manifestasi perhatian kepada orang lain,

berpusat pada orang, menghormati harga diri dan kemanusiaan. Caring

mempunyai komitmen untuk mencegah terjadinya sesuatu yang buruk,

memberi perhatian dan konsen, menghormati kepada orang lain dan

kehidupan manusia (Zees & Ui, 2011). Hasil penelitian ini didukung oleh

Abdul Muhit dan Sulusih hasanah 2015 dengan judul Perilaku Caring

Perawat Dengan Kecemasan Pada Pasien Anak Prasekolah Di Rumah Sakit

Anak Dan Bersalin (Rsab) Muhammadiyah Kota Probolinggo.

Menunjukkan bahwa 33 responden menyatakan perawat berperilaku caring

terdapat 27 anak usia prasekolah (81,1%) mempunyai kecemasan tinggi dan

6 anak mempunyai kecemasan normal (18,2%). Dan dari 28 responden yang

menyatakan perawat berperilaku tidak caring terdapat 12 anak (42,9%)

mempunyai kecemasan tinggi dan 16 anak (57,1%) mempunyai kecemasan

normal. Berdasarkan teori dan fakta tersebut peneliti berasumsi bahwa

perilaku caring perawat berperan penting dalam perkembangan pasien yang

lebih baik.

2. Dukungan Keluarga

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti tentang

dukungan keluarga pada pasien anak usia prasekolah di Ruang Anak RSUD
47

Besuki. Hasil instrumen dukungan keluarga didapatkan dukungan baik

sebanyak sebanyak 44 responden (75.9%). Dan 14 responden (24.1%)

mendapatkan dukungan keluarga kurang. Persepsi responden tersebut

menunjukkan bahwa keluarga telah memberikan dukungan yang baik

kepada pasien dengan selalu berada di samping pasien dalam keadaan

apapun. Keluarga juga berfungsi sebagai sistem anggotanya dan anggota

keluarga memandang bahwa orang yang bersifat mendukung, selalu siap

memberi pertolongan dengan bantuan jika diperlukan (Friedman, 2010).

Dukungan keluarga adalah sikap, tindakan dan penerimaan keluarga

terhadap penderita yang sakit. Keluarga memiliki 5 fungsi dasar yaitu

fungsi afektif, fungsi sosialisasi, fungsi reproduksi, fungsi ekonomi dan

fungsi perawatan kesehatan (Friedman, 2010). Keluarga memiliki empat

bentuk dukungan keluarga yaitu dukungan penilaian, instrumental,

informasional dan emosional.

Mayoritas keluarga didapatkan dukungan baik sebanyak 44

responden (75.9%). Dukungan keluarga sangat penting untuk proses

kesembuhan pasien terutama dalam membangun perilaku positif pasien

anak saat sakit. Hal ini sesuai dengan Ratna (2010) bahwa pemberian

dukungan social lebih efektif dari orang – orang terdekat yang terpenting

dalam hidup individu. Orang terdekat anak antara lain orang tua, kakek,

nenek, ataupun kakak tergantung kedekatannya. 14 responden mengatakan

dukungan keluarga kurang. Hal ini bias saja terjadi karena kurangnya

informasi keluarga tentang pentingnya dukungan keluarga terhadap

keluarga yang sakit. Berdasarkan hasil karakteristik pekerjaan jika keluarga


48

tidak memiliki pekerjaan akan kurang memberikan dukungan dalam hal

keungan. Anak yang dihospitalisasi akan membutuhkan biaya perawatan di

Rumah Sakit. Sesuai dengan teory menurut Litay elt Handayani (2008)

faktor ekonomi akan berpengaruh baik pada ngka kejadian sakit maupun

pada angka kesembuhan.

Keluarga slalu memberikan semangat pada anak saat dilakukan

tindakan medis, menenangkan anak saat menangis dan membujuk anak

untuk menerima tindakan medis. Jenis dukungan keluarga ini adalah

dukungan penilaian yang sesuai dengan teori Friedman 2010 yang

menyatakan bahwa dukungan penilaian ini meliputi pertolongan pada

individu untuk memahami kejadian depresi dengan baik dan juga sumber

depresi dan strategi koping yang dapat digunakan dalam menghadapi

stressor. Dukungan keluarga dapat membantu meningkatkan strategi

koping individu dengan strategi-strategi alternatif berdasarkan pengalaman

yang berfokus pada aspek-aspek yang positif.

Keluarga slalu menjaga anak anak dan menyediakan dana kebutuhan

anak selama dirawat di rumah sakit. Jenis dukungan keluarga ini adalah

dukungan instrumental. Sesuai dengan teori friedman (2010) menyatakan

bahwa dukungan instrumental meliput penyediaan dukungan jasmaniah

seperti pelayanan, bantuan finansial dan material berupa bantuan nyata

(instrumental support material support), suatu kondisi dimana benda atau

jasa akan membantu memecahkan masalah praktis, termasuk di dalamnya

bantuan langsung, seperti saat seseorang memberi atau meminjamkan

uang, membantu pekerjaan sehari-hari, menyampaikan pesan,


49

menyediakan transportasi, menjaga dan merawat saat sakit ataupun

mengalami depresi yang dapat membantu memecahkan masalah.

Keluarga selalu memberitahu anak semua tindakan medis yang

dilakukan untuk kesembuhannya, menyarankan anak tidak takut tindakan

medis dan mengatasi ketakutan anak. Jenis dukungan keluarga ini adalah

dukungan informasional. Sesuai dengan teori friedman (2010) ini meliputi

jaringan komunikasi dan tanggung jawab bersama, termasuk di dalamnya

memberikan solusi dari masalah, memberikan nasehat, pengarahan, saran,

atau umpan balik tentang apa yang dilakukan oleh seseorang.

Keluarga slalu menemani anak saat tindakan dilakukan, memuji

ketenangan anak saat dilakukan tindakan medis, menanyakan perasaan

anak. Jenis dukungan keluarga ini adalah dukungan emosional. Sesuai

dengan teori friedman (2010) Dukungan emosional memberikan individu

perasaan nyaman, merasa dicintai saat mengalami depresi, bantuan dalam

bentuk semangat, empati, rasa percaya, perhatian sehingga individu yang

menerimanya merasa berharga.

Berdasarkan teori dan fakta tersebut peneliti berasumsi bahwa

dukungan keluarga dapat menurunkan tingkat stres pada anak karena

memberikan semangat, bantuan materi, nasehat dan perhatian kepada anak

saat mengalami sakit.

3. Stres Hospitalisasi

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti tentang

stres hospitalisasi pada anak usia prasekolah di RSUD Besuki Kabupaten

Situbondo. Hasil instrument stres hospitalisasi didapatkan sebagian besar


50

anak mengalami stres hospitalisasi ringan 44 responden (75.9%). Dan 14

responden (24.1%) mengalami stres hospitalisasi berat. Stres hospitalisasi

dapat di artikan sebagai keadaan atau respon tubuh yang terjadi ketika

seseorang menjalani perawatan di rumah sakit (Wong, 2002) dalam (Aizah

& Wati, 2014). Anak usia prasekolah yang menjalani perawatan dirumah

sakit akan mudah mengalami stres karena menurut Wong 2008

perkembangan psikosialnya adalah perasaan bersalah, ansietas, dan takut

juga bisa diakibatkan oleh pikiran yang berada dengan perilaku yang

diharapkan.

Berdasarkan sebagian besar 37.9% (22 responden) pasien dirawat 3

hari dan paling sedikit 27.6% (16 responden) pasien dirawat kurang dari 3

hari. Factor yang mempengaruhi terjadinya stres hospitalisasi adalah factor

pengalaman. Menurut peneliti semakin lama anak dirawat dirumah sakit

rumah sakit, maka semakin ringan stres yang dialami atau malah

sebaliknya.

Berdasarkan tingkat pendidikan responden sebagai ibu dari anak di

ruang Anak RSUD Besuki didapatkan hasil sebagian besar 36.2% (21

responden) berpendidikan SMA. Menurut peneliti tingkat pendidikan

berpengaruh terhadap penerimaan informasi dan pengetahuan tentang

penyakitnya. Menurut Notoadmojo (2010), bahwa semakin tinggi

pendidikan individu semakin mudah penerimaan informasi, tetapi semakin

rendah pendidikan semakin sulit untuk menerima informasi jadi pendidikan

mempengaruhi diri individu. Hal ini sesuai dengan fackor yang


51

mempengaruhi stres hospitalisasi yaitu faktor kurangnya informasi yang

didapat anak dan orang tuanya ketika akan menjalani hospitalisasi.

4. Hubungan Perilaku Caring Perawat Dan Dukungan Keluarga Dengan Stres

Hospitalisasi Pada Anak Usia Prasekolah Di Ruang Anak RSUD Besuki

Kabupaten Situbondo.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan kepada 58 responden

diketahui bahwa hasil uji Chi Square didapatkan hubungan perilaku caring

perawat dengan stress hospitalisasi pada anak usia prasekolah dengan nilai

Fisher Exact Test 0.004 nilai tersebut <0.05. Dan didapatkan hubungan

dukungan keluarga dengan stress hospitalisasi pada anak usia prasekolah

dengan nilai Fisher Exact Test 0.000 nilai tersebut <0.05. Menurut peneliti

ada hubungan antara perilaku caring perawat dan dukungan keluarga

dengan stres hospitalisasi pada anak usia prasekolah karena keluarga dan

perwat adalah orang yang terdekat dengan pasien yang setiap harinya

melakukan interaksi dengan pasien. Sesuai dengan teori faktor yang

mempengaruhi stres hospitalisasi yaitu faktor berpisah dengan orang yang

sangat berarti dan faktor perilaku atau interaksi dengan petugas rumah sakit

(Utami, Tinggi, & Binawan, 2014).

Perilaku caring yang dilakukan perawat berpengaruh pada

pdikologis anak lebih baik sehinggan dapat menurunkan stres pada anak

karena rasa empati dan ungkapan perhatian pada pasien anak. Perilaku

caring selalu menyatukan tindakan-tindakan keperawatan untuk mendapat

hubungan saling percaya dengan pasien, seorang perawat harus mempunyai

kemampuan berkomunikasi terapeutik yang baik terutama pada anak usia


52

prasekolah yang rasa ingin tahu dan kondisi emosionalnya yang labil.

Fokus utama keperawatan pada anak adalah memperkecil stresor yang

dilakukan pada anak dan membuat anak dapat menerima tindakan

keperawatan, disini peran dan dukungan psikologis dari perawat maupun

keluarga sangat diperlukan untuk mempercepat proses peneyembuhan

sehingga keluarga merupakan aspek penting dalam melakukan kerjasama

dalam melakukan keperawatan pada anak. Hal ini diperkuat oleh penelitian

Ismanto (2018 ) bahwa ada hubungan antara sikap perawat dengan stress

akibat hospitalisasi. Adanya dukungan keluarga juga akan menurunkan

stres yang dialami anak karena adanya perhatian dan dukungan dari kelurga

setiap menjalani tindakan medis di ruangan. Hal ini diperkuat oleh

penelitian Stella Engel Lumiu Josef S.B Tuda Tati Ponidjan (2013) bahwa

ada hubungan dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan akibat

hospitalisasi pada anak di usia prasekolah.

Walaupun dalam kategori perilaku caring baik namun stres

hospitalisasi berat sebanyak 6 orang dan juga sebaliknya. Dukungan

keluarga baik namun stres hospitalisasi berat sebanyak 4 orang dan juga

sebaliknya. Hal ini bisa saja terjadi karena stres hospialisasi bukan hanya

dipengaruhi oleh perilaku caring saja namun bisa disebabkan oleh beberapa

factor yaitu faktor lingkungan rumah sakit, faktor kurangnya informasi

yang didapat anak dan orang tuanya, faktor kehilangan kebebasan dan

kemandirian, faktor pengalaman yang berkaitan dengan pelayanan

kesehatan.
53

B. Keterbatasan Penelitian

Dalam penelitian ini peneliti masih menemukan keterbatasan dalam penelitian

diantaranya yaitu:

1. Variable Confounding: Lingkungan, Kehilangan kebebasan kemandirian

merupakan beberapa variable perancu yang tidak terlalu diperhatiakan

oleh peneliti

2. Keterbatasan dalam desain penelitian kuantitatif yang menggunakan

instrumen penelitian kuesioner terkadang jawaban yang diberikan oleh

responden tidak menunjukan keadaan sesungguhnya. Akan lebih baik jika

desain penelitian menggunakan kualitatif dengan instrument penelitian

deep interview. Dengan begitu, hasil yang akan didapatkan lebih baik dan

valid.

C. Implikasi Keperawatan

Hasil penelitian ini dapat diterapkan pada tingkat pelayanan baik di

Rumah Sakit maupun Puskesmas. Dari hasil penelitian didapatkan perilaku

caring perawat dan dukungan keluarga terbukti berhubungan dengan stres

hospitalisasi pada anak usia prasekolah. Hasil penelitian ini dapat digunakan

perawat sebagai penambah pengetahuan, sehingga diharapkan perawat

dapat menjalankan perilaku caring sebenarnya pada pasien terutama pada

pasien anak.