Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada revolusi industry 4.0 saat ini, pendidikan bukanlah suatu hal yang naif lagi bagi
masyarakat dunia (world society). Sebuah zaman yang telah penuh dengan tekhnologi-
tekhnologi super canggih, menjadikan segala informasi yang penting menjadi mudah didapat.
Manusia tidak perlu lama menunggu informasi atau berita tertentu yang diinginkannya.
Hanya memerlukan beberapa menit bahkan detik sekalipun. Hadirnya tekhnologi tersebut
juga menciptakan sebuah kondisi tanpa batas didunia ini, karena manusia bisa berinteraksi,
mengetahui dan merasakan apa yang terjadi pada orang atau saudaranya yang berada di
Negara nun jauh seberang sana. Semakin praktis dan dinamisnya kehidupan masyarakat pada
saat ini, melatarbelakangi perkembangan pengetahuan yang berakibat pada kemajuan
tekhnologi yang terus menerus diperbaharukan oleh kalangan pelajar, peneliti, dan khalayak
umum. Salah satu media yang paling baik dalam mengakomodasi perkembangan
pengetahuan dan berpikir kritis adalah pendidikan. Sebagaimana dilandasi oleh statemen Siti
Murtiningsih bahwa “karena pendidikan masyarakat maju, begitupula pendidikan yang maju
hanya dapat ditemui dalam masyarakat yang maju”.1
Oleh karena itu, pendidikan sudah menjadi kebutuhan tersendiri bagi masyarakat dalam
merubah dunia dan meningkatkan kualitas dirinya. Sehingga pendidikan menurut plato
menjadi kewajiban tersendiri bagi Negara untuk menyelenggarakannya.2 Dengan tujuan
Negara tersebut bisa menjadi sebuah Negara yang maju, dengan memiliki masyarakat yang
makmur dan sejahtera dalam segala aspek kehidupannya. Sehingga terbentuklah tatanan
masyarakat yang intelek dan cerdas dalam membangun negaranya.
Dalam rangka membentuk manusia yang intelek dan cerdas, pendidikan harus mampu
mengembangkan kesadaran akan berpikrir kritis pada pribadi peserta didik. Kritis dalam
artian mampu melihat persoalan pokok dalam masyarakatnya dan kreatif dalam arti sanggup

1
Siti Murtiningsih, Pendidikan Sebagai Alat Perlawanan: Teori Pendidikan Radikal Paulo Freire, (Yogyakarta: Resist
Book, 2004). Hal. 11.
2
Jalaluddin dan Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan: Manusia, Filsafat dan Pendidikan, (Depok: Raja Grafindo Persada,
2016). Cet. Ke-V, hal. 72.

Bimbingan Terhadap Disabilitas| 1


menciptakan terobosan penting dalam menjawab pelbagai persoalan masyarakatnya.3 Hal ini
dapat dicapai dengan system pendidikan yang tidak mengobjektifikasi peserta didik, pendidik
sebagai subyek yang memiliki pengetahuan dan menuangkan pengetahuan. Peserta didik
hanyalah sebagai katalog pengetahuan. Seharusnya, peserta didik diposisikan sama sebagai
subyek, dalam artian sama-sama berfikir dan menjawab permasalahan mengenai realitas
dunia yang telah dihadapinya dengan pendidik. Jadi, pendidik tidak lagi dikatakan sebagai
orang yang maha tahu, tetapi merangsang dan membimbing peserta didik dalam mencapai
kesadaran kritis (conscientizacao).
Sehingga pada nantinya dapat tercipta pula pribadi yang tanggap mengubah dunianya.
Tidak hanya sekedar menjadi pribadi yang “ada” di dunia, melainkan dapat bersama dunia.4
Sebagaimana yang telah dikatakan oleh Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan harus mampu
memajukan budi pekerti (batin dan karakter), pikiran dan tumbuh anak.5
Upaya dalam menumbuhkan dan memajukan budi pekerti, pikiran dan tumbuh anak
tersebut dapat tercapai dengan adanya sinergitas yang kokoh dalam praktik tripusat
pendidikan atau yang disebut juga trisentra pendidikan yang dikemukakan oleh Ki Hajar
Dewantara pada tahun 1935. Adapun mengenai tripusat pendidikan yaitu keluarga, sekolah
dan gerakan kepemudaan. Menurutnya masing-masing pusat pendidikan tersebut mempunyai
tujuan yang khas, namun tetap berhubungan satu dengan yang lain. 6 Artinya, meskipun
mempunyai diferensiasi mediasi tetapi memiliki hubungan yang mengarah pada satu titik
pusat tertentu. Proses belajar dan hasil yang akan dicapai oleh peserta didik tetap
berkesinambungan antara satu dan yang lain.
Titik pusat tersebut adalah menjadikan peserta didik yang susila dan warga Negara
yang demokratis serta bertanggung jawab atas kesejahteraan masyarakat dan tanah air. Hal
ini sesuai dengan apa yang telah diamanatkan oleh Undang-Undang No 4 Tahun 1950 dalam

3
Siti Murtiningsih, Pendidikan Sebagai Alat Perlawanan: Teori Pendidikan Radikal Paulo Freire, (Yogyakarta: Resist
Book, 2004). Hal. 10.
4
Ibid, hal. 12.
5
Ki Hajar Dewantara, Bagian Pertama Pendidikan, (Yogyakarta: Yayasan Persatuan Taman Siswa, 2011) Cet. Ke-4,
hal. 14.
6
H.A.R. Tilaar, Pedagogik Teoritis Untuk Indonesia, (Jakarta: Kompas, 2015), hal. 15.

Bimbingan Terhadap Disabilitas| 2


pasal 4 tentang tujuan pendidikan.7 Jika demikian pendidikan juga memiliki tujuan dalam
kehidupan dan penghidupan rakyat.8 Dalam rangka mencapai kesejahteraan yang hakiki.
Eksistensi pendidikan dalam menyiapkan kader-kader yang siap mengawal
kesejahteraan bangsanya dan negaranya tersebut, perlu ada bimbingan khusus terhadap murid
yang diberikan oleh guru dalam lingkungan sekolah, masyarakat dalam lingkungan social
dan orang tua dalam lingkungan keluarga. Sesuai dengan arti pendidikan (paedagogik) yang
berasal dari bahasa Yunani, yaitu Paedos berarti anak dan Ago berarti memimpin atau
membimbing. Jadi, pedagogic secara etimologis berarti membimbing anak.9 Selain dari itu,
pendidikan juga bertugas dalam menuntun proses perkembangan anak.10
Dalam proses membimbing dan menuntun perkembangan anak, maka perlu adanya
pengetahuan khusus mengenai anak. Semisal perkembangan anak, kondisi fisiologis dan
psikisnya, serta usaha-usaha atau upaya-upaya dalam membimbingnya. Karena setiap anak
memiliki perbedaan mendasar yang tak dapat dipungkiri keberadaannya. Dalam artian, hal
tersebut sudah menjadi suatu kealamian (natural) yang terdapat pada pribadi anak. Dalam
perkembangannya ada anak yang sehat dan adapula anak yang kurang sehat. Ada anak yang
mempunyai kelebihan cepat tanggap dalam memahami materi, ada pula anak yang susah atau
lamban dalam memahami materi yang menjadi topic bahasan. Ada anak yang mampu
melihat dan mendengar dengan sempurna, ada pula anak yang memiliki keterbatasan dalam
melihat dan mendengar atau cacat. Hal ini merupakan masalah yang penting dalam ranah
pendidikan yang harus diketahui bersama oleh pendidik atau calon pendidik.
Oleh karena itu, makalah ini hadir dalam menjawab dan mengulas secara eksplisit
mengenai keterbatasan anak atau yang sering disebut juga disabilities, Children Special
Needs. Juga yang ada kaitannya dengan bimbingan dalam pendidikan.

7
Ibid, hal 105.
8
Ki Hajar Dewantara, Bagian Pertama Pendidikan, (Yogyakarta: Yayasan Persatuan Taman Siswa, 2011) Cet. Ke-4,
hal. 14.
9
H.A.R. Tilaar, Pedagogik Teoritis Untuk Indonesia, (Jakarta: Kompas, 2015), hal. 10.
10
Moh. Nawafil, Cornerstone Of Education: Landasan-Landasan Pendidikan, (Yogyakarta: Absolut Media, 2018).
hal. 9-10.

Bimbingan Terhadap Disabilitas| 3


B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan disabilities
2. Apa saja tipologi disabilities
3. Apa yang dimakud dengan bimbingan dan konseling dissabilities
4. Apa dasar pemikiran terhadap bimbingan dan konseling disabilities
5. Apa tujuan bimbingan konseling terhadap disabilities
6. Apa saja jenis layanan bimbingan dan konseling terhadap disabilities

Bimbingan Terhadap Disabilitas| 4


BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Disabilities
Disabilities berasal dari kata bahasa inggris yang berarti disability. Kata ini juga bisa
disebut juga sebagai kata serapan yang direduksi kedalam bahasa indonesia. Secara khusus
kata disability mempunyai pengertian 1. Cacat, 2. Ketidakmampuan.11 Cacat dapat
dikategorikan sebagai cacat physical maupun cacat psychological. Sama halnya dengan
cacat, ketidakmampuan juga dikategorikan secara physical ataupun psychological. Cacat dan
ketidakmampuan menunjukkan adanya keterbatasan manusia yang menyandang disabilitas
dalam melakukan suatu tindakan atau pekerjaannya dan partisipasinya. Adapun kata
disabilities adalah bentuk jamak dari kata disability.12 Kedudukan disability adalah sebagai
noun (kata benda)13, bukan verb (kata kerja). Artinya yang cacat atau ketidakmampuannya
itu bukan pada suatu pekerjaan, melainkan pada anggota physic ataupun psycis nya.
Sedangkan keterbatasan dalam melakukan suatu aktivitas itu merupakan implikasi dari
kecacatan physic maupun psycis yang diderita oleh penyandang disabilities.
Tidak jauh berbeda dengan arti kata dasarnya, dalam kamus ilmiah kata disabilitas
memiliki arti 1. Ketidakmampuan, 2. Kecacatan, 3. Ketidakcakapan. 14 Sedangkan dalam
KBBI kata disabilitas memiliki arti 1. Keadaan (seperti sakit atau cidera) yang merusak atau
membatasi kemampuan mental dan fisik seseorang. 2. Keadaan tidak mampu melakukan hal-
hal dengan cara yang biasa. Kedudukan kata disabilitas yang ada di KBBI ini mempunyai
kesamaan dengan yang ada di an English-Indonesian Dictionary, yaitu sama-sama sebagai
noun. Jadi, tidak ada perbedaan yang esensial mengenai interpretasi yang telah diuraikan
diatas.
Dalam Wikipedia, Difabel atau disabilitas adalah istilah yang meliputi gangguan,
keterbatasan aktivitas dan keterbatasan partisipasi. Gangguan adalah sebuah masalah pada
fungsi tubuh atau strukturnya; suatu pembatasan atau keterbatasan aktivitas adalah kesulitan

11
John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia : An English-Indonesian Dictionary, (Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama, 2005), Cet. Ke-XXVI, hal. 184.
12
Ibid, hal. 184.
13
Ibid, hal. 184.
14
Pius Partanto dan M. Dahlan Albarry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya: Arkola, 2001) hal. 113.

Bimbingan Terhadap Disabilitas| 5


yang dihadapi oleh individu dalam melaksanakan tugas atau tindakan, sedangkan pembatasan
partisipasi merupakan masalah yang dialami oleh individu dalam keterlibatan dalam situasi
kehidupan. Jadi disabilitas adalah sebuah fenomena kompleks, yang mencerminkan interaksi
antara ciri dari tubuh seseorang dan ciri dari masyarakat tempat dia tinggal.15
Penyandang disabilities bagi anak-anak ini juga disebut sebagai Children Special
Needs. Dimana anak-anak yang memiliki keterbatasan atau mempunyau kebutuhan khusus.
Sebagaimana yang telah dikutip oleh Dina Dwinita dalam jurnalnya dari apa yang telah
dilansir oleh National Information Center for Children and Youth with Disabilities
(NICHCY) menyatakan bahwa “Children with special needs or special needs refer to
children who have disabilities or who are at risk or developing disabilities”.16
Ruang lingkup para penyandang difabel ini selalu dihadiri dengan rasa keterbatasan.
Baik itu berupa aktivitasnya dalam melakukan kegiatan-kegiatan sehari-hari ataupun
keterbatasannya dalam menyampaikan aspirasi dan partisispasinya terhadap lingkungan
sekitar ataupun sekelompok masyarakat tertentu. Oleh karena itu, kaum difabel ini perlu
adanya perhatian khusus dari pihak yang berwajib. Supaya kaum difabel ini memiliki
kesamaan derajat dengan manusia lainnya yang sehat jasmani maupun rohani.
Disisi lain sebagai mitra pemerintah, sekolah harus mampu menciptakan sistem yang
khusus bagi Children Special Needs. Bimbingan dan konseling sangalah dibutuhkan dalam
mengawal perkembangan anak berkebutuhan khusus. Karena bimbingan dan konseling
menangani masalah-masalah atau hal-hal diluar bidang garapan pengajaran, akan tetapi
secara tidak langsung menunjang tercapainya tujuan pendidikan dan pengajaran disekolah.17
Tidak hanya itu, masyarakat setempat yang berada dekat dengan kehidupan kaum difabel
haruslah membantu dalam megakomodasi segala sesuatu yang diperlukan kaum difabel ini.
Sehingga pada nantinya kaum difabel tidak merasa dikucilkan atau direndahkan dalam
keberadaannya didunia dan bersama dunia. Terdapat relasi mutualisme yang baik antara
manusia yang sehat jasmani maupun rohaninya dengan manusia penyandang disabilitas.

15
Wikipedia, Pengertian Disabiitas, (https://id.m.wikipedia.org>wiki>difabel.) Diakses pada 24 September 2018,
21.42 WIB.
16
Dina Dwinita, Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling Anak Berkebutuhan Khusus, dalam Jurnal Ilmiah Pendidikan
Khusus Vol. 1 No.3 Sept. 2018. (Padang: UNP, 2012) hal. 142.
17
Wardati dan Mohammad Johar, Implementasi Bimbingan dan Konseling di Sekolah, (Jakarta: Prestasi Pustakarya,
2011), hal. 54.

Bimbingan Terhadap Disabilitas| 6


Interaksi yang komunikatif juga dapat tercipta bila manusia saling menghargai terhadap
sesamanya dan tanggap dalam merespon dari lingkungannya. Manusia memliki enam indera
sebagai saluran penerima data kasar dari lingkungannya, yaitu penglihatan (visual),
pendengaran (audiotry), peradaban (tactile), kinestetik (knesthetic), penciuman (alfactory),
dan pengecap (gustatory).18
B. Tipologi Disabilities
Adapun spesifikasi dari tipologi disabiltas pada sub bab ini ialah pada anak
berkebutuhan khusus. Esensinya, seluruh anak akan tumbuh dan berkembang secara aktif
dalam sebuah kepribadiannya yang utuh. Secara singkat, perkembangan (development)
adalah proses atau tahapan pertumbuhan kearah lebih maju. Sedangkan pertumbuhan
(growth) tahapan peningkatan sesuatu dalam hal jumlah ukuran dan arti pentingnya
pertumbuhan juga bisa berarti sebuah tahapan perkembangan (a stage of development).19
Namun disisi lain, terdapat anak yang memiliki gangguan dalam pertumbuhan dan
perkembangan kepribadiannya yang utuh. Anak tersebut tak lain dan tak bukan adalah anak
yang berkebutuhan khusus atau Children Special Needs. Sebagaimana yang sedikit banyak
telah dipaparkan pada sub bab sebelumnya. Perbedaan perkembangan yang lain daripada
yang lain atau diluar batas normal manusia pada umumnya merupakan sebuah gangguan
yang harus mendapat perhatian lebih dari berbagai pihak. Guna dapat membantunya secara
maksimal, akan sesuatu yang dibutuhkan oleh penyandang disabilitas.
Agar dapat membantu secara maksimal terhadap Children Special Needs, tentu
dibutuhkan informasi-informasi atau segala keterangan menganai problem yang menjadi
kebutuhannya. Termasuk juga mengenai tipologi Children Special Needs. Karena Children
Special Needs ini mengalami permasalah khusus dalam belajar. Oleh karena itu, perlu
penanganan khusus mengatasi kesulitan belajarnya. Beberapa kesulitan belajar diantaranya
bersifat perkembangan (developmental learning disabilities) dan akademik (academic
learning disabilities).20 Kesulitan belajar yang bersigat motorik tersebut mencakup
keterampilan motorik, perseptual, bahasa, kognitif dan sosial. Berbagai kesulitan belajar ini

18
Mulyono Abdurrahman, Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, (Jakarta: Asdi Mahasatya, 2003) Cet. Ke-III,
hal. 144.
19
Kandiri Masyrif, Psikologi Perkembangan, (Situbondo, Ibrahimy Press, 2016). Cet. Ke-II, hal. 74.
20
Mulyono Abdurrahman, Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, (Jakarta: Asdi Mahasatya, 2003) Cet. Ke-III,
hal. 143.

Bimbingan Terhadap Disabilitas| 7


telah dikuasai oleh anak yang tidak berkesulitan belajar sebelum masuk sekolah, tetapi bagi
anak yang berkesulitan belajar memerlukan pengajaran secara sistematis.21 Orang tua dan
guru perlu perlu bekerja sama dan membangun hubungan yang efektif antara keduanya.
Orang tua dan guru yang bekerja bersama-sama bisa lebih efektif memilih hasrat untuk
belajar didalam diri sebagian besar murid.22
Gangguan perkembangan motorik anak sering terjadi sebab adanya gerakan melimpah
atau overflow movements. Contoh ketika anak ingin menggerakkan tangan kanan keatas,
tangan kiri tanpa sengaja juga ikut bergerak ke atas. Anak yang tergolong disini sering
mengganggu kelas, karena tanpa sengaja menabrak kelas, jatuh dari kursi, pensil atau
bukunya jatuh seketika dan memperlihatkan kecanggungan (clumsy).23
Terdapat strategi mengatasi anak yang tergolong dalam gangguan perkembangan
motorik ini, diantaranya 1. Melempar, dapat dilakukan dengan bola berbagai ukuran yang
diarahkan kepada guru atau anak-nak lain, 2. menangkap, dalam kegiatan ini tergolong lebih
sulit dari pada melempar, 3. Menjiplak, 4. Menggunting, dengan dimulai dari menggunting
benda-benda atau sesuatu yang berpola lurus, 5. Menempel, 6. Melipat, dengan memulai
melipat kertas menjadi seperti perahu, pesawat terbang dan lain sebagainya.24
Children Special Needs ini memiliki klasifikasi secara permanen dan secara temporer.
Children Special Needs atau anak berkebutuhan khusus permanen merupakan kasus dimana
kelainan pada anak merupakan sesuatu yang bersifat tetap. Sesuai dengan makna katanya
yaitu tetap; tahan; kekal; utuh; senantiasa.25 dan kemungkinan untuk berubahnya kecil. CSN
permanen dapat dilihat pada anak yang menderita Tunagrahita, Tunanetra, Tunawicara,
Tunalaras, Tunaganda dan Autis.26
Tunagrahita adalah dimana anak mengalami keterbelakangan mental, keadaan ini
dikenal juga retardasi mental (mental retardation). Anak tunagrahita memiliki IQ di bawah
rata-rata anak normal pada umumnya, sehingga menyebabkan fungsi kecerdasan dan

21
Ibid, hal. 143.
22
Raymond J. Wlodkowski dan Judith H Jaynes, Eager To Learn, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004). Hal 40.
23
Mulyono Abdurrahman, Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, (Jakarta: Asdi Mahasatya, 2003) Cet. Ke-III,
hal, hal. 144.
24
Ibid, hal. 160.
25
Pius Partanto dan M. Dahlan Albarry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya: Arkola, 2001) hal. 589.
26
Dina Dwinita, Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling Anak Berkebutuhan Khusus, dalam Jurnal Ilmiah Pendidikan
Khusus Vol. 1 No.3 Sept. 2018. (Padang: UNP, 2012) hal. 142.

Bimbingan Terhadap Disabilitas| 8


intelektual mereka terganggu yang menyebabkan permasalahan-permasalahan lainnya yang
muncul pada masa perkembangannya.
Tunanetra adalah istilah umum yang digunakan untuk kondisi seseorang yang
mengalami gangguan atau hambatan dalam indra penglihatannya. Berdasarkan tingkat
gangguannya Tunanetra dibagi dua yaitu buta total (total blind) dan yang masih mempunyai
sisa penglihatan (Low Visioan). Alat bantu untuk mobilitasnya bagi tuna netra dengan
menggunakan tongkat khusus, yaitu berwarna putih dengan ada garis merah horisontal.
Akibat hilang/berkurangnya fungsi indra penglihatannya maka tunanetra berusaha
memaksimalkan fungsi indra-indra yang lainnya seperti, perabaan, penciuman, pendengaran,
dan lain sebagainya sehingga tidak sedikit penyandang tunanetra yang memiliki kemampuan
luar biasa misalnya di bidang musik atau ilmu pengetahuan.
Adapun Bisu atau yang disebut pula dengan tunawicara dan gangguan bicara adalah
ketidakmampuan seseorang untuk berbicara. Bisu disebabkan oleh gangguan pada organ-
organ seperti tenggorokan, pita suara, paru-paru, mulut, lidah, dan lain sebagainya. Bisu
umumnya dikaitkan dengan tuli. Bayi terlahir tuli dan bisu dapat disebabkan oleh berbagai
faktor. Bisa terjadi akibat faktor genetika (keturunan, perkawinan antar kerabat yang terlalu
dekat, seperti antara sepupu kandung, sehingga terjadi mutasi gen yang tidak wajar. Dalam
mendapat lain juga disebut karena adanya infeksi pada ibu seperti cacar air selama
kehamilan.27
Anak yang mengalami bisu ini harus medapatkan pendekatan lebih. Karena jika tidak,
akan berakibat pada penyimpangan bahasa. Terdapat empat tipe penyimpangan bahasa,
anatara lain sebagai berikut28 :
1. Ketiadaan bahasa verbal, mungkin dikarenakan kegagalan saat kelahiran, kerusakan otak,
atau masalah emosional yang parah.
2. Bahasa yang berbeda secara kualitatif, seperti hanya penggemaan yang ia katakan, yang
disebabkan oleh kehilangan pendengaran, ketidak mampuan belajar, keterbelakangan
mental atau masalah emosional.
3. Komunikasi verbal yang lambat, mungkin karena kehilangan pendengaran, model bahasa
yang tidak memadahi, pengajaran orang tua yang buruk, kerusakan otak.

27
E. Woolfolk dan Lorrance McCune, Educational Psychology for Teacher : Terj. Mendidik Anak-Anak Bermasalah,
(Depok: Inisias, 2004). hal. 607.
28
Ibid, hal. 609.

Bimbingan Terhadap Disabilitas| 9


4. Bahasa yang diselingi, seringkali karena kehilangan pendengaran atau luka pada masa
kanak-kanak akhir.
Kebalikan permanen yakni temporer. Temporer memiliki makna yaitu untuk sementara
(waktu); waktu.29 Nah, adapun Children Special Needs atau anak berkebutuhan khusus
temporer terjadi karena suatu persoalan yang bersifat sementara, seperti masalah Kesulitan
Belajar, Anak Berbakat, Hiperaktif, Indigo dan masalah lain dalam diri individu. Masalah
tersebut dikatakan bersifat sementara karena, terdapat kemungkinan jika masalah tersebut
dapat teratasi dengan langkah-langkah tapeutik yang tepat.30
C. Bimbingan dan Konseling Terhadap Disabilities
Pendidikan pada saat ini menghadapi segala aspek dimensi kehidupan. Oleh karena itu,
pendidikan bertujuan untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi perubahan global
yang sekarang telah dimulai.31 Dalam mempersiapkan hal tersebut, tentunya butuh sistem
atau prinsip yang strategis dalam proses belajar siswa. Terdapat enam pilar yang
direkomendasaikan oleh UNESCO sebagai prinsip pembelajaran yang bisa diterapkan dalam
pendidikan secara global, yaitu learning to know, learning to do, learning to be, learning to
live together, learning how to learn, learning troughout live.32
Dalam proses belajar tentu tidak selamanya berjalan dengan lancar tanpa hambatan
apapun. Melainkan terdapat rintangan yang bertubi-tubi dalam prosesnya. Sehingga dalam
mengatasi rintangan tersebut dibutuhkanlah kehadiran seseorang guna membimbing,
mengarahkan dan memberikan petunjuk terhadap jalan yang benar. Sesuai dengan kegiatan
pendidikan yang bisa berupa bimbingan, pengajaran, atau latihan pendidikan selalu
merupakan usaha yang direncanakan.33 Hal ini diperkuat atas statement tentang tugas
pendidik yang bukan hanya sekedar transfer of knowledge tapi dapat membimbing peserta
didik dalam segala realitas yang dihadapinya dan menemukan ilmu pengetahuan secara
mandiri. Sebagaimana yang telah dikatakan oleh Kandiri Masyrif dalam bukunya Psikologi

29
Pius Partanto dan M. Dahlan Albarry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya: Arkola, 2001) hal. 744.
30
Dina Dwinita, Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling Anak Berkebutuhan Khusus, dalam Jurnal Ilmiah Pendidikan
Khusus Vol. 1 No.3 Sept. 2018. (Padang: UNP, 2012) hal. 146.
31
H.A.R. Tilaar, Pedagogik Teoritis Untuk Indonesia, (Jakarta: Kompas, 2015), hal. 30.
32
Moh. Nawafil, Cornerstone Of Education: Landasan-Landasan Pendidikan, (Yogyakarta: Absolut Media, 2018).
hal. 56.
33
Abdul Kadir dkk, Dasar-Dasar Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2012). Hal. 61.

Bimbingan Terhadap Disabilitas| 10


Belajar, bahwa ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara
sistematis yang mempunyai metode-metode tertentu.34
Istilah bimbingan dan penyuluhan berasal dari kata bahasa Inggris “Guidance and
Counseling”.35 kata guidance memiliki arti 1. Bimbingan, 2. Pedoman atau petunjuk.36
Dengan kedudukan katanya yaitu sebagai noun. Adapun verbnya adalah guide yang berarti 1.
Membimbing, 2. Menuntun, 3. Mempedomani.37 Counseling berasal dari kata dasar counsel
yang berarti nasihat.38 Sedangkan Counseling memiliki makna pemberi nasihat,
penyuluhan.39
Sedangkan dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, bimbingan berasal dari kata
bimbing, yang memiliki arti tuntun, asuh, pimpin.40 Jadi, bimbingan secara sederhana dapat
diartikan sebagai upaya membina atau membimbing sesuatu kearah yang lebih baik.
Bimbingan dan konseling adalah petunjuk atau penjelasan yang diberikan oleh yang ahli
kepada seseorang dengan metode psikologis sehingga seseorang semakin memahami dirinya
agar dapat menghadapi suatu masalah dengan baik.41
Bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang diberikan seseorang atau
sekelompok orang secara terus menerus dan sistematis oleh pembimbing agar individu atau
sekelompok individu menjadi mandiri. Sedangkan “Konseling” dipandang sebagai bagian
dari kegiatan Bimbingan yang bermakna kontak antara dua orang (konselor dan konseling)
untuk menangani masalah konseling, dalam suasana keahlian yang laras dan terintegrasi,
berdasarkan norma-norma yang berlaku, untuk tujuan-tujuan yang berguna bagi konseling.42
Menurut James F Adams, Counseling adalah suatu pertalian timbal balik antar dua
orang yaitu (counselor yang membantu) dan (counselee yang dibantu) supaya dapat lebih
baik memahami dirinya dalam hubungannya dengan masalah-masalah hidup yang

34
Kandiri Masyrif, Psikologi Belajar Pendidikan Agama Islam, (Situbondo: Ibrahimy Press, 2018). hal. 1.
35
Kandiri Masyrif, Bimbingan Penyuluhan di Sekolah, (Situbondo: Ibrahimy Press, 2018). hal. 1.
36
John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia : An English-Indonesian Dictionary, (Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama, 2005), Cet. Ke-XXVI, hal. 283.
37
Ibid, hal. 283.
38
Ibid, hal 150.
39
Ibid, hal 150.
40
Moh. Kusnadi, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, (Surabaya: Cahaya Agency, tth). hal. 92.
41
Kandiri Masyrif, Bimbingan Penyuluhan di Sekolah, (Situbondo: Ibrahimy Press, 2018). hal. 1-2.
42
Dewa Ketut Sukardi dan Desak P.E Nila Kesuma Wati, Proses Bimbingan dan Konseling Disekolah, (Jakarta:
Rineka Cipta, 2008). Hal. 6.

Bimbingan Terhadap Disabilitas| 11


dihadapinya pada waktu itu dan yang akan datang.43 Jadi konseling berperan bukan hanya
pada masa saat ini saja, ketika dibutuhkan. Melainkan juga bisa bermanfaat pada masa yang
akan datang. Saling bantu membantu dalam prosesnya, sudah nampak mengindikasikan
tentang hakikat manusia sesungguhnya sebagai makhluk sosial. Adapun makhluk sosial yang
dimaksud adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Bukan malah
sebagai makhluq yang individualistis.
Bimbingan konseling terhadap disabilitas atau anak berkebutuhan khusus (Children
Special Needs) adalah upaya yang berupa petunjuk dari seseorang ahli atau yang membantu
(counselor) terhadap seseorang yang dibantu (counselee) dalam memahami kondisi dirinya
dengan tujuan dapat menghadapi masalah dengan baik. Seseorang yang dibantu dalam
konteks ini adalah anak yang berkebutuhan khusus atau penyandang disabilitas.
Dari beberapa penjelasan diatas, dapat kita ketahui bersama bahwa eksistensi
bimbingan dan konseling sangatlah diperlukan dalam dunia pendidikan khususnya diranah
sekolah terhadap anak yang berkebutuhan khusus. Sebagai salah satu komponen penunjang
pendidikan, bimbingan dan konseling mempunyai posisi kunci dalam kemajuan atau
kemunduran pendidikan. Mutu pendidikan ikut ditentukan oleh bagaimana bimbingan dan
konseling itu dimanfaatkan dan dioptimalkan fungsinya dalam pendidikan khususnya
institusi sekolah.44
Sekolah haruslah bersifat welcome pada anak berkebutuhan khusus. Segenap perhatian
haruslah dicurahkan pada anak ABK tersebut. Karena dengan hal itu, Children Special Needs
tidak akan dipandang sebelah mata oleh siapapun. Mereka sama-sama mempunyai hak dan
kewajiban dalam hidup berbangsa dan bernegara di bumi pertiwi ini. sesuai dengan apa yang
diamanatkan oleh sila ke lima yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia. Seluruh
rakyat indonesia itu memiliki pengertian rakyat indonesia secara universal. Tanpa ada unsur-
unsur tertentu, baik berupa golongan, adat, budaya, ras, suku, miskin, kaya, agama,
keturunan dan lain sebagainya.
Peran pemerintah dalam menyelenggarakan program pendidikan khusus juga sangat
diperlukan dan diupayakan semaksimal mungkin. Karena pemerintah adalah pihak yang akan
menjamin dan melindungi dalam proses kegiatannya. Dalam maknanya, pemerintah adalah

43
Ibid, hal. 5-6.
44
Wardati dan Mohammad Johar, Implementasi Bimbingan dan Konseling di Sekolah, (Jakarta: Prestasi Pustakarya,
2011), hal. 53.

Bimbingan Terhadap Disabilitas| 12


kekuasaan memerintah sebuah negara, daerah, dan wilayah.45 Pada agenda reformasi sistem
pendidikan nasional pemerintah telah memberikan perhatian khusus bagi anak bangsa yang
disebabkan oleh cacat atau kecerdasan luar biasa peserta didik.46 Hal tersebut
mengindakasikan pemerintah tidak main-main dalam mengatasi dan membimbing secara
khusus Children Special Needs dalam rangka sama-sama bisa mencapai keselamatan dan
kebahagiaan setinggi-tingginya seperti halnya anak yang lain.
Hal diatas sesuai dengan definisi pendidikan yang diutarakan oleh bapak pendidikan
indonesia, yakni Ki Hajar Dewantara tentang pencapaian keselamatan dan kebahagiaan
pendidikan yang setinggi-tingginya. Ia memberi definisi pendidikan sebagai tuntunan dalam
hidup tumbuhnya anak-anak. Maksudnya, pendidikan menuntun segala kekuatan anak-anak
itu agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan
dan kebahagiaan setinggi-tingginya.47
Bagaimanapun bentuk bimbingan pendidikan yang dilakukan disekolah oleh yang ahli
atau counselor tetap berpijak pada nilai-nilai pancasila sebagai dasar negara indonesia. Selain
itu, pancasila juga dijadikan senagai dasar dalam pendidikan nasional.
D. Dasar Pemikiran Bimbingan Dan Konseling Terhadap Disabilities
Sebenarnya, setiap ilmu bersumber dari filsafat. Namun dalam pendidikan indonesia
khususnya, yang menjadi dasar utamanya adalah Pancasila. Pancasila digali oleh Bung Karno
dari kebudayaan nusantara yang multikultural.48 Sehingga dapat diterima oleh beberapa
kalangan sebagai dasar negara republik Indonesia. Termasuk pendidikan, yang telah diawali
oleh Sekolah Taman Siswa dalam merumuskan ketujuh misinya pada kongres tahun 1984
dengan berdasar pada asas-asas pancasila. Adapun ketujuh misi tersebut ialah sebagai berikut
:49
1. Mengembangkan kepribadian dari peserta didik dalam kepercayaannya terhadap tuhan
yang maha esa.
2. Mengembangkan individu yang memiliki fisik dan jiwa yang merdeka.
3. Merangkul dan mengembangkan budi pekerti yang baik serta watak yang baik.

45
Moh. Kusnadi, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, (Surabaya: Cahaya Agency, tth). hal. 363.
46
Hasan Basri, Kapita Selekta Pendidikan, (Bandung: Pustaka Setia, 2012). hal. 86
47
Abdul Kadir dkk, Dasar-Dasar Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2012). Hal. 61.
48
H.A.R. Tilaar, Pedagogik Teoritis Untuk Indonesia, (Jakarta: Kompas, 2015), hal. 30.
49
Ibid, hal. 91.

Bimbingan Terhadap Disabilitas| 13


4. Mengembangkan individu yang intelegen dan terampil
5. Mempertahankan kesehatan jasmani dan rohani yang sehat
6. Mengembangkan percaya diri dalam masyarakat
7. Mengembangkan individu yang bertanggung jawab terhadap kesejahteraan bangsa, tanah
air dan kemanusiaan.
Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang mempunyai cara berfikir radikal, sampai ke
akar-akarnya.50 Selain itu, filsafat diartikan oleh Hassan Shadily sebagai cintak akan
kebenaran, hikmah dan ilmu pengetahuan.51 Secara Filosofis “semua anak adalah spesial”.
Bersikap dan memandang mereka sesuai dengan filosofi bahwa tidak ada indivdu yang sama,
dimana semua individu adalah unik dan mereka memiliki kemampuan untuk tumbuh
mengembangkan potensi mereka. Kemudian, pendidikan (Bimbingan dan Konseling)
mengaktualisasikan perannya dalam proses “memanusiakan manusia”, khususnya bagi
mereka yang termasuk dalam kategori ABK atau Anak Berkebutuhan Khusus.
Anak berkebutuhan Khusus bebeda dengan Anak Luar Biasa, cacat dan berkelainan.
Hal ini didasari bahwa spektrum ABK lebih luas karena cakupannya ialah bahwa ABK tidak
hanya mencakup anak berkebutuhan khusus yang bersifat permanen akibat dari kecacatan
tertentu, tetapi juga bahwa ABK mencakup persoalan yang bersifat temporer. Temporer
disini mencakup PSTD (Post Traumatic Syndrome Disorder) akibat Bencana Alam, Korban
Kekerasan, Korban Perang. Kemudian anak dengan Gizi Buruk, Kelahiran Prematur, Lahir
dari Keluarga Miskin, anak berpenyakit kronis, kesulitan belajar.
Dengan adanya dasar secara filosofis, bimbingan di lembaga pendidikan bisa menjadi
lebih terarah. Karena bimbingan ini diarahkan kepada tercapainya pribadi yang kuat dan
efektif melalui pemahaman-hubungan diri dengan lingkungan, nilai diri dengan sosial (proses
layanan komprehensif) berlangsung disekolah ataupun dimasyarakat dengan melibatkan:
kepala, guru, konselor, siswa, wali siswa, dan masyarakat umum.52
E. Tujuan Bimbingan Dan Konseling Terhadap Disabilities
Dalam setiap kegiatan atau aktivitas tertentu, pastilah manusia mempunyai tujuan.
Karena tanpa memiliki tujuan, besar kemungkinan manusia tersebut mengalami gangguan

50
Jalaluddin dan Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan: Manusia, Filsafat dan Pendidikan, (Depok: Raja Grafindo
Persada, 2016). Cet. Ke-V, hal. 72.
51
Ibid, hal 1.
52
Kandiri Masyrif, Bimbingan Penyuluhan di Sekolah, (Situbondo: Ibrahimy Press, 2018). Hal. 25.

Bimbingan Terhadap Disabilitas| 14


dalam kejiwaannya. Dan yang membedakan antara manusia dan hewan adalah tujuan dalam
aktivitas atau tindakannya. Oleh karena itu, Dalam setiap kegiatan yang disadari
pelaksanaannya, memerlukan tujuan yang diharapkan.53
Tujuan bimbingan yang paling utama menurut Carl Rogers merupakan dari profesi
membantu ialah termasuk pertumbuhan dan perkembangan psikologis terhadap kematangan
sosial kliennya sendiri.54 Tujuan yang ada dalam bimbingan dan konseling ABK tidak
ubahnya tujuan yang ada secara umum, namun demikian terdapat spesifikasi yang harus
dijadikan acuan dalam pemberian layanan, serta adanya tujuan yang dapat dijadikan patokan
dari penyelenggaraan program layanan bimbingan dan konseling ABK atau Anak
Berkebutuhan Khusus. Kegiatan layanan bimbingan dan konseling ABK seyogyanya dapat
membatu anak untuk dapat membantu Anak Berkebutuhan Khusus keluar dari persoalan
dalam lingkup pemahman diri, kemampuan belajar, perencanaan karir, beradaptasi di
masyarakat dan mengatasi berbagai hambatan dalam dinamika kehidupannya secara
mandiri.55
Kemadirian yang menjadi poin penting disini mengingat paradigma ketidakberdayaan
yang disematkan kepada ABK oleh segelintir orang merupakan sebuah kekeliruan, karena
pada hakikatnya manusia memiliki potensi, bakat dan kesempatan yang sama dalam
kapistasnya masing-masing.
F. Jenis Layanan Bimbigan Dan Konseling Terhadap Disabilities
Layanan bimbingan dan konseling terhadap disabiltas diataranya adalah layanan
individu, layanan bimbingan dan konseling kelompok, bimbingan belajar dan bimbingan
karir.
1. Layanan Individu
Layanan individu pada ABK meliputi layanan pribadi sosial yang berfungsi sebagai
sarana ABK untuk dapat memiliki penerimaan diri, konsep diri yang baik dan adaptasi
terhadap lingkugannya.
2. Layanan Bimbingan Dan Konseling Kelompok

53
Moh. Nawafil, Cornerstone Of Education: Landasan-Landasan Pendidikan, (Yogyakarta: Absolut Media, 2018).
hal. 93.
54
Kandiri Masyrif, Bimbingan Penyuluhan di Sekolah, (Situbondo: Ibrahimy Press, 2018). Hal. 8.
55
Juntika Nurihsan, Landasan Bimbingan dan Konseling, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010). Hal. 13.

Bimbingan Terhadap Disabilitas| 15


Layanan bimbingan kelompok dimaksudkan untuk memberikan bantuan kepada
individu melalui kegiatan kelompok.56 Didalam kegiatan tersebut terjadi beberapa
dinamika yang menyeluruh bagi seluruh peserta layanan, sehingga pesan atau massage
utama dari setiap materi layanan dapat ditangkap dengan baik oleh anak.
3. Bimbingan Belajar
Adalah kegiatan bimbingan yang diberikan kepada anak agar dapat mencapai
keberhasilan belajar secara optimal. Dimana bimbingan belajar secara kebih spesifik
diperuntukan bagi ABK yang mengalami masalah kesulitan belajar.57 Kesulitan belajar
disni dapat mencakup beberapa dimensi yang diderita oleh ABK sebagaimana termaktub
dalam ketoriasi ABK di awal. Diamana gangguan seperti disleksia, diskalkulia, dan
disgrafika merupakan suatu hambatan yang harus dapat dipecahkan bersama oleh
konselor dan konseling.58
4. Bimbingan Karir
Bimbingan karir bagi ABK tetap merupakan suatu keharusan yang harus diberikan,
hal ini sesuai dengan prinsip bimbingan yang melihat individu secara utuh dalam hal
bakat dan potensi yang harus dikembangkan mulai dari awal fase sampai akhir. Adapun
beberapa fase perkembangan manusia terjadi sejak 1. Sebelum lahir (prenatal) selama
280 hari, 2. Fase bayi baru lahir (New Born) 0-2 Minggu, 3. Fase bayi (Babyhood) 2
minggu - 2 tahun, 4. Fase kanak-kanak awal (Early Childhood) 2-6 Tahun, 5. Fase kanak-
kanak akhir (Later Childhood) 6-12 tahun, 6. Fase remaja, 7. Fase adolsen, 8. Fase
dewasa awal – usia lanjut (21-60).59
Bimbingan karir dapat dimaknai sebagai sebuah usaha untuk mengarahkan ABK
untuk dapat memahami potensi dirinya, mengetahui jenis-jenis karir yang tepat dan
memahami konteks ruang lingkup dunia karir yang akan dijalani, hal ini berkaitan dengan
proses adaptasi serta penyikapan terhadap hambatan-hambatan dalam berkarir.60

56
Tohirin, Bimbingan dan Konseling Disekolah Madrasah: Berbasis Integrasi, (Jakarta: Rajawali Pers, 2009). Hal.
170.
57
Saring Marsudi, Layanan Bimbingan Konseling Disekolah, (Surakarta: UMP Press, 2010). Hal 110.
58
Mulyono Abdurrahman, Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, (Jakarta: Asdi Mahasatya, 2003) Cet. Ke-III,
hal, hal. 2.
59
Kandiri Masyrif, Psikologi Perkembangan, (Situbondo, Ibrahimy Press, 2016). Cet. Ke-II, hal. 155.
60
Bimo Walgito, Bimbingan dan Konseling: Studi dan Karir, (Yogyakarta: Penerbit Andi, 2010). Hal. 201.

Bimbingan Terhadap Disabilitas| 16


G. Metode Pembelajaran Bagi Anak Berkebutuhan Khusus
Dalam mengajar sesuatu pada anak berkebutuhan khusus, adalah penting untuk
memilih strategi pengajaran tertentu yang dianggap paling efektif untuk anak tertentu.
Pemilihan ini akan tergantung pada gaya belajar dan materi yang diajarkan. Berikut berbagai
metode pengajaran yang umum digunakan dalam pengajaran anak berkebutuhan khusus,
yaitu:
1. Communication
Siswa dalam belajar tidak akan lepas dari komunikasi baik siswa antar siswa, siswa
dengan fasilitas belajar, ataupun dengan guru. Kemampuan komunikasi setiap individu
akan mempengaruhi proses dan hasil belajar yang bersangkutan dan membentuk
kepribadiannya. Proses ini dapat mencakup keterampilan verbal dan non-verbal, serta
berbagai jenis simbol (katr, faco, gambar).
2. Task Analisis
Analisis tugas adalah prosedur dimana tugas-tugas dipecah kedalam rangkaian
komponen-komponen langkah atau bagian kecil satu tujuan akhir atau sasaran.Analisis
tugas dimaksudkan untuk mendeskripsikan tugas-tugas yang harus dilakukan ke dalam
indikator-indikator kompetensi. Analisis tugasuntuk menentukan daftar kompetensi.
Berdasarkan analisis tugas-tugas yang harus dilakukan oleh guru di sekolah sebagai
tenaga professional, yang pada giliranya ditentukan kompetensi-kompetensi apa yang
diperlukan, sehingga dapat pula diketahui apakah seorang siswa telah melakukan
tugasnya sesuai dengan kompetensi yang dituntut kepadanya. Kompetensi dasar
berfungsi untuk mengarahkan guru dan fasilitator mengenai target yang harus dicapai
dalam pembelajaran.
3. Direct Instruction
Intruksi langsung adalah metode pengajaran yang menggunakan pendekatan
selangkah-selangkah yang terstruktur dengan cermat, dalam instruksi atau perintah.
Metode ini memberikan pengalaman belajar yang positif dengan demikian dapat
meningkatkan kepercayaan diri dan motivasi untuk berprestasi. Pelajaran disampaikan
dalam bentuk yang mudah dipelajari sehingga anak mencapai keberhasilan pada setiap
tahap pembelajaran.Sintaknya adalah orientasi, Prsentasi, latihan terstruktur, latihan
terbimbing, refleksi, latihan mandiri, dan evaluasi.

Bimbingan Terhadap Disabilitas| 17


4. Prompts
Prompt adalah setiap bantuan yang diberikan pada anak untuk menghasilkan respon
yang benar. Prompts memberikan anak informasi tambahan atau bantuan untuk
menjalankan instruksi.
H. Strategi Pembelajaran Bagi Anak Berkebutuhan Khusus
Anak berkebutuhan khusus (ABK) ini ada dua kelompok, yaitu:
ABK temporer(sementara) dan permanen (tetap). Adapun yang termasuk kategori
ABK temporermeliputi: anak-anak yang berada di lapisan strata sosial ekonomi yang paling
bawah, anak-anak jalanan (anjal), anak-anak korban bencana alam, anak-anak di daerah
perbatasan dan di pulau terpencil, serta anak-anak yang menjadi korban HIV-AIDS.
Sedangkan yang termasuk kategori ABK permanen adalah anak-anak tunanetra, tunarungu,
tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, Autis, ADHD (Attention Deficiency and Hiperactivity
Disorders), Anak Berkesulitan Belajar, Anak berbakat dan sangat cerdas (Gifted), dan lain-
lain.
Di bawah ini beberapa strategi pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus:
1. Strategi Pembelajaran Bagi Anak Tunanetra
Strategi pembelajaran pada dasarnya adalah pendayagunaan secara tepat dan
optimal dari semua komponen yang terlibat dalam proses pembelajaran yang meliputi
tujuan, materi pelajaran, media, metode, siswa, guru, lingkungan belajar dan evaluasi
sehingga proses pembelajaran berjalan dengan efektif dan efesien. Beberapa hal yang
dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan strategi pembelajaran,
antara lain:
a. Berdasarkan pengolahan pesan terdapat dua strategi yaitu strategi pembelajaran
deduktif dan induktf.
b. Berdasarkan pihak pengolah pesan yaitu strategi pembelajaran ekspositorik dan
heuristik.
c. Berdasarkan pengaturan guru yaitu strategi pembelajaran dengan seorang guru dan
beregu.
d. Berdasarkan jumlah siswa yaitu strategi klasikal, kelompok kecil dan individual.
e. Berdasarkan interaksi guru dan siswa yaitu strategi tatap muka, dan melalui media

Bimbingan Terhadap Disabilitas| 18


Selain strategi yang telah disebutkan di atas, ada strategi lain yang dapat diterapkan
yaitu strategi individualisasi, kooperatif dan modifikasi perilaku.
2. Strategi Pembelajaran Bagi Anak Berbakat
Strategi pembelajaran yang sesuai denagan kebutuhan anak berbakat akan
mendorong anak tersebut untuk berprestasi. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam
menentukan strategi pembelajaran adalah :
a. Pembelajaran harus diwarnai dengan kecepatan dan tingkat kompleksitas.
b. Tidak hanya mengembangkan kecerdasan intelektual semata tetapi juga
mengembangkan kecerdasan emosional.
c. Berorientasi pada modifikasi proses, content dan produk.
Model-model layanan yang bias diberikan pada anak berbakat yaitu model layanan
perkembangan kognitif-afektif, nilai, moral, kreativitas dan bidang khusus.
3. Strategi Pembelajaran Bagi Anak Tunagrahita
Strategi pembelajaran anak tunagrahita ringan yang belajar di sekolah umum akan
berbeda dengan strategi anak tunagrahita yang belajar di sekolah luar biasa. Anak
tunagrahita secara nyata mengalami hambatan dan keterbelakangan perkembangan
mental intelektual jauh dibawah rata-rata sehingga mengalami kesulitan dalam tugas-
tugas akademik, komunikasi maupun sosial, sehingga memerlukan layanan pendidikan
kebutuhan khusus.
Adapun strategi pembelajaran yang dapat diberikan kepada anak tunagrahita yaitu:
a. Direct Introduction
Merupakan metode pengajaran yang menggunakan pendekatan selangkah-
selangkah yang terstruktur dengan cermat, dalam memberikan instruksi atau perintah.
Metode ini memberikan pengalaman belajar yang positif dan meningkatkan
kepercayaan diri dan motivasi untuk berprestasi. Kelebihan strategi ini adalah mudah
untuk direncanakan dan digunakan. Sedangkan kelemahan utamanya dalam
mengembangkan kemampuan-kemampuan, proses-proses, dan sikap yang diperlukan
untuk pemikiran kritis dan hubungan interpersonal serta belajar kelompok.
b. Cooperative Learning
Pembelajaran kooperatif merujuk pada berbagai macam metode pengajaran
dimana para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk membantu satu

Bimbingan Terhadap Disabilitas| 19


sama lainnya dalam memahami materi pelajaran. Kelompok belajar yang mencapai
hasil belajar yang maksimal diberikan penghargaan. Pemberian penghargaan ini
adalah untuk merangsang munculnya dan meningkatkan motivasi siswa dalam
belajar.
c. Peer Tutorial
Merupakan metode pembelajaran dimana seorang siswa dipasangkan dengan
temannya yang mengalami kesulitan/hambatan. Oleh karena itu lebih ditekankan pada
siswa yang mempunyai kemampuan di bawah kemampuannya.
4. Strategi Pembelajaran Bagi Anak Tunadaksa
Strategi yang bias diterapkan bagi anak tunadaksa yaitu melalui pengorganisasian
tempat pendidikan, sebagai berikut:
a. Pendidikan integrasi (terpadu)
b. Pendidikan segresi (terpisah)
c. Penataan lingkungan belajar
5. Strategi Pembelajaran Bagi Anak Tunalaras
Untuk memberikan layanan kepada anak tunalaras, Kauffman (1985)
mengemukakan model-model pendekatan sebagai berikut:
a. Model biogenetic
b. Model behavioral/tingkah laku
c. Model psikodinamika
d. Model ekologis
6. Strategi Pembelajaran Bagi Anak Dengan Kesulitan Belajar
a. Anak berkesulitan belajar membaca yaitu melalui program delivery dan remedial
teaching.
b. Anak berkesulitan belajar menulis yaitu melalui remedial sesuai dengan tingkat
kesalahan.
c. Anak berkesulitan belajar berhitung yaitu melalui program remidi yang sistematis
sesuai dengan urutan dari tingkat konkret, semi konkret dan tingkat abstrak.

Bimbingan Terhadap Disabilitas| 20


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dalam menguraikan dan menjelaskan kesimpulan dari beberapa materi sebelumnya,
penulis berusaha dapat mengurai sesingkat mungkin. Agar pembaca dapat lebih mudah
memahami isi materi yang disajikan.
Difabel atau disabilitas adalah istilah yang meliputi gangguan, keterbatasan aktivitas
dan keterbatasan partisipasi. Arti sederhananya adalah mengalam kecacatan baik itu berupa
fisik ataupun psikis.
CSN memiliki beberapa klasifikasi diantaranya ada yang permanen dan yang temporer.
Yang permanen berupa Tunagrahita, Tunanetra, Tunawicara, Tunalaras, Tunaganda dan
Autis. Sedangkan yang temporer berupa Kesulitan Belajar, Anak Berbakat, Hiperaktif,
Indigo dan masalah lain dalam diri individu.
Bimbingan konseling terhadap disabilitas atau anak berkebutuhan khusus (Children
Special Needs) adalah upaya yang berupa petunjuk dari seseorang ahli atau yang membantu
(counselor) terhadap seseorang yang dibantu (counselee) dalam memahami kondisi dirinya
dengan tujuan dapat menghadapi masalah dengan baik.
Dasar bimbingan terhadap anak berkebutuhan ksusus atau bagi penyandang disabilitas
adalah pancasila dan falsafi. Pancasila digunakan sebagai dasar dari apa yang harusnya
selaras dengan prinsip-prinsip negara. Sedangkan falsafi atau filosofi digunakan dalam
memikirkan secara mendalam segala hal yang berkenaan dengan kebutuhan dan
perkembangan CSN.
Tujuan bimbingan dan konseling terhadap disabilitas adalah membantu keluar dari
persoalan dalam lingkup pemahman diri, kemampuan belajar, perencanaan karir, beradaptasi
di masyarakat dan mengatasi berbagai hambatan dalam dinamika kehidupannya secara
mandiri.
Layanan bimbingan dan konseling terhadap disabiltas atau anak berkebutuhan khusus
(CSN) diataranya adalah layanan individu, layanan bimbingan dan konseling kelompok,
bimbingan belajar dan bimbingan karir.

Bimbingan Terhadap Disabilitas| 21


B. Kritik dan Saran
Demikianlah makalah ini kami susun. Kami menyadari dalam penulisan makalah ini
masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan (Perfection). Karena sebagaimana
pepatah inggris mengatakan bahwa perfection is belong of god (kesempurnaan hanyalah
milik Allah SWT.). Dengan demikian, kritik dan saran yang konstruktif sangat kami
harapkan guna perbaikan makalah selanjutnya. Lebih-lebih kami sangat berharap atas
masukannya dari dosen pengampu mata kuliah Bimbingan Konseling ini, Drs. Kandiri
Masyrif, M.Pd.I.
Karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT dan Rasulnya SAW semata, tiada
kelebihan ilmu yang kami tuangkan dalam makalah ini. Semoga apa yang kami sampaikan
dalam makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya bagi kalangan Mahasiswa
Universitas Ibrahimy. Amin.

Bimbingan Terhadap Disabilitas| 22


DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, Mulyono. 2003. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, Jakarta: Asdi
Mahasatya.
Basri, Hasan. 2012. Kapita Selekta Pendidikan, Bandung: Pustaka Setia.
Dewa Ketut Sukardi dan Desak P.E Nila Kesuma Wati. 2008. Proses Bimbingan dan Konseling
Disekolah, Jakarta: Rineka Cipta.
Dewantara, Ki Hajar. 2011. Bagian Pertama Pendidikan, Yogyakarta: Yayasan Persatuan Taman
Siswa.
Dwinita, Dina. 2012. Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling Anak Berkebutuhan Khusus, dalam
Jurnal Ilmiah Pendidikan Khusus Vol. 1 No.3 Sept. 2018, Padang: UNP.
E. Woolfolk dan Lorrance McCune, 2004. Educational Psychology for Teacher : Terj. Mendidik
Anak-Anak Bermasalah, Depok: Inisias.
Jalaluddin dan Abdullah Idi. 2016. Filsafat Pendidikan: Manusia, Filsafat dan Pendidikan,
Depok: Raja Grafindo Persada.
John M. Echols dan Hassan Shadily. 2005. Kamus Inggris Indonesia : An English-Indonesian
Dictionary, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Kadir, Abdul. 2012. Dasar-Dasar Pendidikan, Jakarta: Kencana.
Kusnadi, Moh. Tth. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Surabaya: Cahaya Agency.
Marsudi, Saring. 2010. Layanan Bimbingan Konseling Disekolah, Surakarta: UMP Press.
Masyrif, Kandiri. 2018. Bimbingan Penyuluhan di Sekolah, Situbondo: Ibrahimy Press.
Masyrif, Kandiri. 2018. Psikologi Belajar Pendidikan Agama Islam, Situbondo: Ibrahimy Press.
Masyrif, Kandiri. 2016. Psikologi Perkembangan, Situbondo, Ibrahimy Press.
Murtiningsih, Siti. 2004. Pendidikan Sebagai Alat Perlawanan: Teori Pendidikan Radikal Paulo
Freire, Yogyakarta: Resist Book.
Nawafil, Moh. 2018. Cornerstone Of Education: Landasan-Landasan Pendidikan, Yogyakarta:
Absolut .
Nurihsan, Juntika. 2010. Landasan Bimbingan dan Konseling, Bandung: Remaja Rosdakarya.
Pius Partanto dan M. Dahlan Albarry. 2001. Kamus Ilmiah Populer, Surabaya: Arkola.

Bimbingan Terhadap Disabilitas| 23


Raymond J. Wlodkowski dan Judith H Jaynes. 2004. Eager To Learn, Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Tilaar, H.A.R. 2015. Pedagogik Teoritis Untuk Indonesia, Jakarta: Kompas.
Tohirin, 2009. Bimbingan dan Konseling Disekolah Madrasah: Berbasis Integrasi, Jakarta:
Rajawali Pers.
Walgito, Bimo. 2010. Bimbingan dan Konseling: Studi dan Karir, Yogyakarta: Penerbit Andi.
Wardati dan Mohammad Johar. 2011. Implementasi Bimbingan dan Konseling di Sekolah,
Jakarta: Prestasi Pustakarya.
Wikipedia, Pengertian Disabiitas, (https://id.m.wikipedia.org>wiki>difabel.) Diakses pada 24
September 2018, 21.42 WIB.

Bimbingan Terhadap Disabilitas| 24

Anda mungkin juga menyukai