Anda di halaman 1dari 499

www.facebook.

com/indonesiapustaka
www.facebook.com/indonesiapustaka

dan Baja
Kota Sutra
www.facebook.com/indonesiapustaka
Kota Sutra dan Baja

Kota
Sutra
vvBaja
Mike, Linda, dan Louise Carey
www.facebook.com/indonesiapustaka

iii
Mike, Linda, dan Louise Carey

Diterjemahkan dari

he City of Silk and Steel


Hak cipta © Mike, Linda, dan Louise Carey, 2013

Hak terjemahan Indonesia pada penerbit


All rights reserved

Penerjemah: Ida Rosdalina


Editor: Muhammad Husnil
Penyelia: Chaerul Arif
Profreader: Arif Syarwani
Desain sampul: Ujang Prayana
Tata letak: Alesya E. Susanti

Cetakan 1, Februari 2014

Diterbitkan oleh PT Pustaka Alvabet


Anggota IKAPI

Ciputat Mas Plaza Blok B/AD


Jl. Ir. H. Juanda No. 5A, Ciputat
Tangerang Selatan 15412 - Indonesia
Telp. +62 21 7494032, Faks. +62 21 74704875
Email: redaksi@alvabet.co.id
www.alvabet.co.id

Perpustakaan Nasional RI. Data Katalog dalam Terbitan (KDT)


www.facebook.com/indonesiapustaka

Carey, Mike, Linda, dan Louise


Kota Sutra dan Baja/ Mike, Linda, dan Louise Carey;
Penerjemah: Ida Rosdalina; Editor: Muhammad Husnil
Cet. 1 — Jakarta: PT Pustaka Alvabet, Februari 2014
500 hlm. 15 x 23 cm
ISBN 978-602-9193-44-2
1. Novel I. Judul.

iv
Kota Sutra dan Baja

Prolog

Pernah ada sebuah kota para perempuan.


Kini yang tersisa hanyalah namanya; sedikit cerita yang masih beredar
tidak lengkap dan saling bertentangan. Kebanyakan menyatakan
bahwa kota itu tidak dapat dimasuki, ada di kawasan gurun yang jauh,
atau bahkan di luar jangkauan para pengelana biasa. Namun semua
cerita berawal dengan ”Pernah .....” : keterpencilan kota itu, mungkin,
lebih pada masalah waktu ketimbang jarak. Bahkan seandainya yang
dikatakan benar, dalam cerita-cerita yang sampai kepada kita sedikit
narator yang bisa mengatakan lokasi keberadaan kota tersebut; lebih
sedikit lagi jumlahnya yang mengaku telah menyaksikannya dengan
mata kepala sendiri. Ini kisah pria yang membuat pengakuan itu.

Sang petualang muda telah mendengar cerita, sejak kecil, tentang legenda
tanah-tanah yang jauh dan harta karun emas dan pengetahuan yang
bisa diperoleh di sana. Di antaranya ia mendengar Kota Perempuan,
yang digambarkan kepadanya dalam suara-suara lirih sebagai sebuah
keajaiban alam. Penguasa-penguasanya para perempuan, ia yakin, juga
para hakim dan para penasihatnya. Para perempuan arsitek merancang
www.facebook.com/indonesiapustaka

jalan-jalan dan rumah-rumah, dan para perempuan tukang batu yang


membangunnya. Tentaranya memiliki perlengkapan yang bagus dan
terlatih dengan baik, untuk kota yang memiliki banyak musuh—
meskipun para pencerita tua berbeda tentang siapa kemungkinan
para musuh mereka, atau penyebab permusuhan mereka. Namun

1
Mike, Linda, dan Louise Carey

mereka sepakat bahwa seni dan ilmu pengetahuannya berkembang—


dan mungkin masih begitu. Karena pada puncak kejayaan kota itu,
muncul perhiasan-perhiasan, gerabah, dan permadani yang aneh dan
sangat elok, sekumpulan puisi dan lukisan-lukisan sutra, yang beredar
di antara orang-orang dan memberikan harga-harga selangit bagi para
pedagang yang cukup beruntung mendapatkan salah satu di antaranya;
dan dari mana lagi mereka bisa berasal? Kata-kata dan lukisan-lukisan
setara dengan kata-kata dan lukisan-lukisan para empu, tapi tak ada
empu yang mengakuinya, dan di tempat seharusnya jejak sang empu
ada, muncul nama seorang perempuan: Maysoon, Noor, Farhat; atau
sebuah simbol tak lazim dari bulu, daun, atau bunga. Dan, cerita-cerita
dipertahankan, seperti harta karun masih akan muncul di pasar dari
waktu ke waktu, jika seseorang tahu di mana mencarinya.
Setelah seteguk-dua minuman, masih saja pengakuan-pengakuan
yang lebih liar dilontarkan. Konon, ada perempuan-perempuan dokter
di sana dengan keahlian menyembuhkan semua penyakit, bahkan
(meskipun beberapa menyebutnya dengan makna menghujat) para
perempuan ilsuf, ilmuwan dan peramal. Dan lebih jauh lagi—di
kota itu, mereka bilang, ada sumber kebijaksanaan sendiri: sebuah
buku yang mengandung semua ilmu pengetahuan.
Rumor inilah yang mendorong para petualang kita untuk pergi,
tanpa peta apa pun atau lebih banyak petunjuk ketimbang yang bisa
ditemukan dalam kisah-kisah pelancong mabuk, untuk mencari
Kota Para Perempuan. Sebuah buku dari semua ilmu pengetahuan!
Pertanyaan-pertanyaan sepanjang dan semenyiksa apa pun bisa
dijawab, harta karun paling tersembunyi pun bisa ditemukan! Dan, ia
menyimpulkan, jika buku ilmu pengetahuan ini bisa menganugerahkan
manfaat-manfaat semacam itu pada sekumpulan perempuan, sederet
kesempatan apa yang mungkin terbuka bagi seorang pahlawan?
Ia hanya membawa dua unta dan berjalan beberapa bulan,
awalnya dengan sangat percaya diri, mengikuti petunjuk-petunjuk
www.facebook.com/indonesiapustaka

dan arah-arah cerita-cerita orang-orang tua ke gurun pasir yang jauh.


Ketika batas-batas penanda rusak dan matahari mulai membakar
matanya, ia tidur di siang hari, dan menemukan jalannya dengan
bintang-bintang. Satu unta roboh dalam tali kekang, dan mati, lalu
yang lain menyusul. Dan kemudian tiba satu hari ketika kantong
kulit air terakhirnya kosong, dan mengembara di atas daratan pasir

2
Kota Sutra dan Baja

dan bebatuan tanpa ujung yang hanya ditandai sebuah tumbuhan


berduri, ia akhirnya kembali pada jejak-jejaknya sendiri. Cakrawala
adalah lingkaran luas yang mengelilinginya: jingga dan cokelat
keabu-abuan di semua sisinya, biru yang bengis di atasnya. Panas
merobohkannya. Ia jatuh berlutut dan kemudian wajahnya tenggelam
di bawah matahari yang tak berkedip sedikit pun.
Ia bangun karena gerakan ayunan dengan halus dan cahaya yang
menyilaukan matanya. Ia sedang dibawa di atas tandu oleh empat
sosok berpakaian hitam, sementara yang kelima berjalan di sisinya.
Ketika ia berkedip ke atas, sosok kelima tersebut menyodorkan botol
kecil ke bibirnya, membungkuk ke arahnya dengan sopan ketika ia
meneguk isi botol itu. Di atas cadar, kedua matanya berkilau sehitam
zaitun. Minumannya manis dan sangat membakar, dan pengembara
itu menyembur dan berusaha bangkit, tapi temannya itu meletakkan
tangan di lengannya dan mengatakan kepadanya untuk tenang. Kami
telah membawamu dua hari, katanya. Jika kau tidak memberi kami
banyak masalah, kita bisa mencapai kota ketika senja.
Suaranya, meskipun lembut, penuh perintah, dan tangannya kuat.
Sang pengembara mematuhinya, dan ketika berbaring dan mendengar
pembicaraan lirih para pengusungnya, ia pun tahu bahwa kelimanya
perempuan, meskipun mereka membawanya tanpa masalah atau
upacara tak lebih dari seorang anak yang sakit. Ia tidak memahami
pembicaraan, atau demam membuatnya tak bisa memahami mereka. Ia
berbaring dengan tenang, menutupi wajahnya dari silau matahari dan
mengamati sosok-sosok ramping para perempuan tersebut dari sudut-
sudut matanya. Sering kali ia tertidur dan kemudian bangun lagi; para
pengusungnya hanya membangunkan ketika memberinya minum.
Sore mulai gelap ketika para perempuan akhirnya memperlambat
langkah, dan cakrawala di seluruh sisi terbakar matahari yang
tenggelam. Ia menggeliat untuk melihat posisi matahari, tapi matahari
ada di belakangnya, atau tertutup bangunan-bangunan yang berdiri
www.facebook.com/indonesiapustaka

seperti fatamorgana untuk menghalangi cakrawala di ujung kakinya.


Mereka memasuki kota ketika malam turun, dan dinding-
dindingnya berkilau seperti emas di bawah sinar matahari yang mulai
tenggelam dan dalam terang seribu obor. Dua perempuan menutup
pintu-pintu gerbang berat di belakang mereka; pengembara melihat
dengan terheran-heran keduanya tidak menutup seluruh tubuh: kepala

3
Mike, Linda, dan Louise Carey

dan lengan tak tertutup. Dan para pengiringnya, setelah meletakkan


tandu ke tengah dan membantunya bangun, membuka cadar-cadar
mereka. Pada awalnya, rasa malu menguasainya dan ia tak mampu
menatap mereka—tapi bukankah ia seorang pahlawan? Tidakkah ia
telah menghadapi kematiannya sendiri untuk mencapai tempat ini?
Mengumpulkan keberaniannya, ia mengangkat matanya ke perempuan
yang terdekat dengannya, yang membalas tatapannya dengan sungguh-
sungguh. Wajahnya sangat indah, meskipun rambutnya beruban.
Apakah ini . . . ia bertanya kepadanya, dan suaranya lebih mirip
kicauan kering seekor jangkrik, Apakah ini kota para perempuan cantik
yang pernah saya dengar dalam legenda-legenda?Ini Bessa, ia menjawab.
Seperti apa yang telah kau dengar dalam legenda, aku tak bisa bilang.
Bessa adalah salah satu nama yang didengar sang pengembara dari
para para informan mabuk. Di kepalanya, buku ilmu pengetahuan
telah membuka halaman demi halaman untuknya, tapi ia berusaha
untuk menjaga lidahnya dan bertanya hanya ketika ia melihat sesuatu
di kota itu. Suaranya masih terdengar parau tak terdengar serta
pujian-pujian dan basa-basinya terdengar tegang di telinganya sendiri.
Namun, para nyonya rumah tampaknya tidak peduli, dan salah satu
maju dan menawarkan untuk memandunya. Mulut perempuan itu
mengingatkan sang pengembara akan kelopak-kelopak mawar, dan
untuk beberapa kali ia kesulitan membuang pandangan dari wajahnya
di tengah banyak keajaiban yang mengelilingi mereka. Tapi, keajaiban-
keajaiban itulah yang perempuan muda itu tunjukkan kepadanya.
Ia melihat kubah-kubah dan menara-menara di sana, ia kemudian
bersumpah; air mancur-air mancur yang menyembur, rumah-rumah
digantungi tumbuhan merambat dan kebun buah permata. Jalan-
jalan yang diterangi obor dipenuhi keriuhan suara yang ceria, seperti
pasar-pasar di kota yang ia tahu di kampung halaman, dengan para
pedagang, warga, orang-orang yang luntang-lantung masing-masing
menanti cahaya terakhir hari itu, untuk menghirup minuman dari
www.facebook.com/indonesiapustaka

satu cangkir terakhir, membuat tawaran penghabisan sebelum pulang.


Tapi di sini semua suaranya perempuan. Ia melihat mereka memadati
kios-kios, membawa unta-unta, menjual anggur, dan meminumnya
di kedai-kedai luar ruangan: perempuan dari segala jenis dan usia.
Beberapa berdada bulat dan langsing; beberapa terlihat angkuh,
setinggi dirinya. Semuanya tak tertutup; semua, menurut mata

4
Kota Sutra dan Baja

demam sang pengembara, secantik bintang-bintang. Namun, mereka


berbusana sederhana, beberapa mengenakan baju gurun, yang lain
memakai sesuatu seperti baju kerja laki-laki. Ada nyonya-nyonya
beruban, para ibu dengan bayi-bayi, anak-anak kecil yang cekikikan
dan menunjuk kepada orang asing itu.
Bagaimana Anda memiliki anak-anak, di sebuah kota para perem-
puan? ia bertanya kepada pemandunya. (Seperti banyak pahlawan, ia
laki-laki dengan sedikit kebijaksanaan.) Perempuan muda itu tertawa,
tapi tidak memberinya jawaban.
Perempuan muda itu membawanya lebih jauh ke dalam kota
itu, dan rasa penasarannya kian besar ketika ia terus berjalan. Ia
hanya menerangkan sedikit tentang ini dan itu: Inilah lapangan kami
untuk menari atau berdebat, di sana bangunan sekolah. Taman ini
diperuntukkan bagi orang-orang yang perlu mengistirahatkan jiwa
mereka.
Namun tak ada penjelasan tentang apa yang ingin dia temukan
sehingga menempuh jarak sejauh ini. Pada akhirnya, ia tak bisa me-
nahan ketidakpastian ini lebih lama, dan ia berhenti dan bertanya
kepada pemandunya secara terus terang. Tapi buku itu, katanya, buku
tentang semua pengetahuan. Di mana kalian menyimpannya?
Ia berhenti juga, tak terlihat marah pada kelancangannya, tapi
malah bijaksana, dan mungkin juga terhibur. Dengan sikap yang sopan,
menapak kembali jejak mereka, dan membawanya ke pinggiran kota, ke
sebuah rumah batu rendah yang terpisah dari lainnya. Mengisyaratkan
kepadanya untuk menunggu, ia masuk, dan ia mendengar suara-suara
lirih. Inilah yang kau cari, kata pemandu kepadanya ketika muncul
kembali.
Ia harus menunduk di bawah lengkungan pintu. Pemandunya
menarik tirai di belakangnya dan meninggalkannya di sana. Ruangan
itu lebih dingin ketimbang malam yang hangat, lebih gelap ketimbang
malam yang diterangi obor di luar. Sebuah lampu memancarkan
www.facebook.com/indonesiapustaka

lingkaran cahaya kecil, dan dalam terang duduk seorang perempuan


kurus dengan sebuah buku dalam genggamannya. Jantungnya
berdegup kencang melihatnya. Buku itu bervolume kecil, tapi tebal
dan dijilid dengan indah: ketika perempuan itu membuka satu
halaman, sampulnya berkilau dengan warna-warni batu permata.
Sebuah dorongan menguasainya untuk mengambil buku itu sekarang,

5
Mike, Linda, dan Louise Carey

merampasnya dan lari dalam gelap malam. Ia mengambil satu lang-


kah ke depan ketika pembacanya, yang hingga kini tampaknya tidak
memperhatikan kehadirannya, mengangkat tangannya dengan gerakan
menyambut.
Duduklah jika kau berkenan, katanya, tanpa mengangkat matanya
dari buku itu.
Ada bangku kedua di sampingnya: ia duduk dan mengambil
risiko dengan melihat sekilas melewati bahu perempuan itu. Buku
itu tidak dalam bahasa apa pun yang ia pernah lihat: bahkan huruf-
hurufnya asing baginya. Ia tidak bisa mengerti satu kata pun. Ia duduk
diam tak bergerak, di ujung perjalanannya, ketika perempuan itu
membacanya dengan tenang di sampingnya. Setelah menarik napas
sejenak, ia menutup buku dan melihat padanya. Matanya segelap
tinta, dan sama tak terbacanya dengan huruf-huruf di buku itu.
Kau telah menempuh perjalanan panjang, akhirnya ia berkata.
Pada saat itu, seluruh rasa frustrasinya meledak. Dan semua untuk
kesia-siaan! ia berteriak, melompat bangkit. Nyonya, bagaimana . . . ?
Perempuan tersebut tersenyum dan meletakkan buku itu di sam-
pingnya, dan petualang muda melihat pada meja rendah di hadapannya
tumpukan volume-volume lain. Ia menunjuk di dalam kegelapan
sekitar mereka, dan untuk pertama kalinya petualang muda melihat
ruangan itu dipenuhi lemari-lemari, masing-masing terisi dengan
gulungan-gulungan naskah, buku-buku catatan, buku-buku berjilid
kulit.
Bukan untuk kesia-siaan, mungkin. Aku seorang pustakawan dari
Bessa, katanya. Dan aku juga buku yang kau cari; tak ada yang lain.

Sebelum fajar menyingsing, para perempuan yang menemukannya


menghampirinya lagi. Mereka memberi kurma-kurma kering dan air
yang bisa ia bawa, dan dua dari mereka mengiringinya ke luar kota
itu. Angin menutup jejak mereka. Saat fajar, mereka berdiri di atas
www.facebook.com/indonesiapustaka

daratan tanpa bentuk; para perempuan itu menunjuk ke selatan di


mana ia bisa melihat, banyak yang di luar rerimbunan, semak-semak
yang menandai sebuah sumur, dan mereka mengawasinya ketika ia
melangkah ke sana.
Ia tidak pernah menoleh kembali, katanya. Ketika berjalan ia
tahu bahwa ia tak pernah bisa kembali ke Kota Para Perempuan, dan

6
Kota Sutra dan Baja

tak ada bujukan yang bisa membuatnya menceritakan kepada siapa


pun cara mencapainya. Kadang-kadang, ketika sangat mabuk, ia bisa
memberi isyarat: melewati banyak pegunungan; ke barat selama tiga
hari, atau mungkin lima hari. . . tapi tak lebih. Ia pun tak pernah
mengatakan apa yang ia tanyakan kepada buku hidup itu, atau apa
yang buku hidup itu katakan kepadanya selama mereka menghabiskan
waktu bersama. Beberapa kebijaksanaan terlalu berharga untuk ia
ungkapkan, katanya. Tapi selama sisa hidupnya, ketika ia mengembara
dari kota ke kota, ia dijamu minum dan tempat penginapan ke mana
pun ia pergi, hanya untuk cerita itu.
www.facebook.com/indonesiapustaka

7
Mike, Linda, dan Louise Carey

Rem Berbicara tentang


Masalah-masalah Ini

Kebenaran terbuka secara perlahan, seperti sekuntum bunga. Jika


tidak, kebenaran akan jatuh sekaligus di atas Anda, seperti sekantong
kunci pas.
Kota Para Perempuan lebih besar sekaligus lebih kecil dari yang
Anda bayangkan.
Aku adalah sebuah buku yang di dalamnya masa depan tertulis.
Aku seorang perempuan yang mungkin Anda lewati di jalan tanpa
Anda perhatikan sedikit pun, dan tak pernah lagi bisa muncul dalam
ingatan.
Namaku Rem, dan aku bisa melihat masa depan. Ini bakatku.
Sang Pencipta meninggalkan cadar-cadar untukku dan menawar
wajahku, yang memang sudah kulakukan. Sedang kulakukan. Akan
kulakukan. Keterangan waktu sedikit membingungkan pada titik ini,
karena saya yakin Anda akan mengerti, dan menguraikannya lagi
bisa menjengkelkan.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Aku bisa juga menjadi seorang jalang: aku diajarkan oleh sang
ahli. Tak seperti penglihatanku, ini bakat yang kian aku hargai
seiring berlanjutnya kehidupan. Penglihatan ini punya kelebihan
dan kekurangan. Di satu sisi, penglihatan ini memberi Anda sejenis
pemahaman sempurna tentang tempat Anda sendiri. Anda tak pernah
bisa kehilangan diri Anda di dalam rimba yang selalu bercabang

8
Kota Sutra dan Baja

sebab dan akibat, karena Anda bisa melihat benang-benang yang tak
tampak yang menghubungkan setiap akibat kembali ke penyebabnya,
pada satu penghilangan dan dua dan tiga dan empat, dan begitu
seterusnya kembali pada akibat yang tidak punya penyebab dan
menyebabkan semua hal. Di sisi lain, kepastian itu seperti di mana
pun Anda berdiri bisa melumpuhkan. Gerakan apa pun yang Anda
buat, tingkat kebebasan apa pun yang Anda punya, adalah—dari
sudut pandang keabadian—kecil sekali, sehingga mungkin Anda
tidak bergerak sama sekali.
Aku hanya pernah tahu seorang manusia yang tak pernah
nyata, yang tampaknya bergerak dengan kebebasan sempurna, dan
di seputar tindakan-tindakannya semua berputar seperti jejak-jejak
yang ditambatkan sebuah astrolab. Namun, aku akan berbicara tentang
hal-hal itu di tempat mereka.
Sementara itu, dan demi konteks, bayangkan aku dengan latar
belakang pasir kering dan terbakar. Sumur-sumur dangkal, sejenis
yang disebut jilatan-jilatan unta, berjarak ratusan mil terpisah
dalam gurun pasir yang tampak tak berujung: mata sebiru langit
yang menatap pada Sang Pencipta dalam pemujaan tanpa berkedip.
Ketika mata-mata itu terpejam di musim panas, gurun pasir tak
dapat dilalui. Ada sumur-sumur yang lebih dalam juga, tentunya, tapi
ini tak bisa dilihat karena di mana pun sebuah sumur ditemukan,
sebuah penginapan tumbuh, dan kemudian sebuah kota kecil, dan
kemudian dalam beberapa kasus sebuah kota besar. Air, meskipun ia
menggenang dan mengalir dan tak memiliki bentuk sendiri, adalah
roda tempat kita dibentuk. Di Bessa, tempat aku menjadi penjaga
buku-buku, ada sebuah hari ibadat ketika kita menunjukkan rasa
terima kasih kepada Surga untuk karunia cairannya itu dengan tidak
minum dari matahari terbit hingga terbenam. Bibir-bibir kami yang
kering bergerak dalam doa, tapi kata-kata yang bisa kami ucapkan
hanya ”Terima kasih.”
www.facebook.com/indonesiapustaka

Tidak harus seperti ini: gurun-gurun pasir, kota-kota yang tersebar,


model sebuah peradaban membentang seperti untaian mutiara di
sepanjang luasnya kebisuan As-Sahra, kehampaan yang hebat. Satu
hari kita akan pergi, dan pasir-pasir akan menutupi kita. Satu hari
matahari akan terbenam di timur dan terbit di barat. Tidak secara
haraiah, kau tahu: Ini hanyalah sebuah cara puitis untuk mengatakan

9
Mike, Linda, dan Louise Carey

cepat atau lambat Sang Pencipta akan memutuskan untuk memarkirkan


mobilnya di jalan orang lain. Kekuasaan Persia dan Arabia akan me-
mudar, kerajaan-kerajaan kair akan memperoleh kejayaan mereka.
Oh, jangan khawatir. Ini terjadi berabad-abad dari sekarang, dan
meskipun Bumi yang miring tak beraturan pada poros geopolitiknya,
tak akan ada yang berubah banyak. Oh, kecuali sihir. Sihir mungkin
berhenti bekerja di satu tempat di sepanjang jalan, kurang lebih se-
malaman. Fisika kuantum melangkah masuk jurang, berjalan pongah
seperti seekor ayam jago.
Apa lagi? Dalam lima belas tahun seseorang akan menemukan
cara untuk memeras jus hitam keluar dari pasir yang kuning, dan
akan membuat semua orang sangat bahagia. Orang-orang yang telah
kaya akan menjadi lebih kaya, dan orang-orang miskin akan dikatakan
mereka lebih kaya tapi akan sangat yakin bahwa mereka tidak kaya.
Satu abad atau lebih setelah itu, gurun akan menjadi semacam
peramal atas dirinya sendiri, menceramahi negara-negara dunia dan
mengatakan kepada mereka bahwa menjadi tandus adalah takdir
mereka yang tak bisa dicabut. Ke setiap lahan, panas akan berbaris
seperti pasukan tentara, membangun benteng udara yang membakar,
menantang manusia yang datang melawannya.
Aku sedang mengarahkan perhatian pada hal-hal penting, kau
paham, kehilangan banyak hal yang sebagian besar dalam nada yang
sama. Dan aku ingin memperjelasnya sejak awal bahwa meskipun
kata ganti laki-laki lolos dari editor batinku sebelumnya, aku tak
pernah benar-benar berpikir mahkluk tertinggi itu sebagai seorang
pria. Ini hanyalah sebuah kebiasaan, sebuah kesalahan linguistik
yang terbangun dalam diriku selama bertahun-tahun masa kecilku,
dan meskipun aku tinggal di sebuah tempat yang kemudian disebut
Kota Para Perempuan cara berpikirku masih seperti itu ketika aku
tergelincir dalam kemalasan dan membiarkannya meluncur. Aku
ingin sekali mematahkan kebiasaan itu, tapi aku seorang realis: Aku
www.facebook.com/indonesiapustaka

tahu bahwa jika aku memulai dengan mengacu Sang Pencipta sebagai
seorang perempuan aku tak akan bisa menepatinya, dan rasa sakit di
dasar tulang belakang ketika menghapus tinta (terutama tinta yang
tak bisa terhapus yang kugunakan untuk menulis) dari kulit sapi
yang mengapur dan tersiksa.

10
Kota Sutra dan Baja

Namun, mungkin (dan aku bisa menulis sebuah risalah dari


dalih dan kompromi), seks—seks dalam segala maknanya—ada di
inti cerita ini. Seks ada di pusat apa pun, bukan? Anggaplah kau
sedang berada di usia pasca-pubertas dalam waktu dan tempatmu
sendiri, kau mungkin memiliki beberapa pendapat sendiri tentang
persoalan itu, dan apakah pendapat-pendapat itu mendukung atau
menentang, aku akan bertaruh dengan uang halal bahwa pendapat-
pendapat itu hebat. Kehebatan adalah bagian dari paket tersebut.
Cepat atau lambat jiwa-jiwa kita menemukan pusat gravitasi dalam
sebuah ciuman yang terasa asin dan panas, dan sebuah sentuhan yang
gemetar. Gemetar adalah pertanda bagus: itu artinya kau terbuka
pada dunia yang tahu kau datang.

Aku mengambil pisau cukur di sana, bermaksud menghilangkan


kalimat terakhir dari kulit sapi karena terdengar lebih mirip seperti
permainan sodokan di rusuk yang membosankan tentang kata-
kata. Tapi biarlah tetap begitu. Begitu banyak istilah yang mengacu
pada orgasme juga berarti kedatangan, dan itu menjadi sebuah
kecenderungan yang akan terus berlanjut melewati semua generasi
laki-laki (dan perempuan). Ich komme. J’arrive. Vengo. Hanya orang-
orang di utara jauh, di sebuah tanah yang akan disebut Hongaria,
akan memilih untuk menyatakan klimaks seksual dalam sebuah kata
yang berarti, ”Aku baru saja pergi.”
Bagiku itu adalah datang, bukan pergi. Tiba, bukan meninggalkan.
Aku di sini sekarang, bukan? Aku tidak ke mana-mana. Dan meskipun
aku telah kehilangan, semua teman yang aku ucapkan selamat berpisah
ketika aku baru saja mengetahui perubahan bentuk nama-nama
mereka, aku tak bisa menerawang, dan tak bisa menahan, orgasme
orang Hongaria. Berikan aku kelimpahan cinta, apa pun ongkosnya.
Kami membayar dengan jiwa kami, dan jika kami mati dengan jiwa
kami yang utuh kami tahu kami belum cukup mencintai.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Namun beginilah aku, berbicara tentang diriku dan urusanku


seolah aku inti dari cerita ini, alih-alih berada di luar tepinya. Aku
berjanji tak melakukannya terlalu sering. Selanjutnya ketika aku
berjalan di atas panggung, aku akan melakukannya dengan begitu
tenang dan malu-malu. Aku takkan berusaha menarik lebih banyak

11
Mike, Linda, dan Louise Carey

perhatian terhadap diriku dibanding yang pantas aku dapatkan,


yang—jika aku sangat jujur—memang tidak banyak.
Ini bukan kisahku. Ini kisah Zulaika dan Gursoon, Hakkim
Mehdad, En-Sadim sang utusan, Imad-Basur, Anwar Das, Bethi,
Imtisar, Singa Padang Pasir dan tujuh jin. Ini kisah tentang Kota
Para Perempuan: tentang bagaimana terjadinya, bagaimana kota ini
berkembang, dan bagaimana kota ini hancur karena tindakan belas
kasihan yang sembrono dan tak bisa dicabut lagi.
Sebuah keanehan: namaku, Rem, satu hari akan berarti barisan
teks dalam sebuah bahasa yang hanya diucapkan mesin-mesin.
Terutama, akan berarti barisan yang bisa diabaikan mesin dengan
aman—barisan teks yang hanya ada sebagai sebuah pengingat, sebuah
tempat pengisi data, untuk orang-orang yang memberi perintah-
perintah mereka kepada mesin-mesin tersebut. Sebuah baris REM
mungkin mengatakan sesuatu seperti ”unit dasar ini adalah sebuah
sublingkaran yang mandiri” atau ”Steve Perlman dalam Marketing
adalah sebuah pergeseran.” Program tersebut secara keseluruhan
bergulir melewati dan di sekitar baris-baris REM, benar-benar
mengabaikannya ketika mulai terbentuk, bergerak melalui urutan-
urutan yang telah ditetapkan, membentangkan keajaiban-keajaibannya.
Ibuku memberiku nama dengan bagus.
www.facebook.com/indonesiapustaka

12
Kota Sutra dan Baja

Buku Pertama
Bukhari al-Bukhari dan Tiga
Ratus Enam Puluh Lima
Selirnya

Pada zaman dulu kala, dulu sekali, sesungguhnya, catatan-catatan


bersejarah tentang keakuratan itu hampir tak mungkin singgah—di
tanah gurun tanpa akhir, di mana air lebih jarang dibanding emas
dan kebenaran bahkan lebih jarang dari air, ada sebuah kota.
Nama kota itu adalah Bessa, dan penguasanya, sultan Bukhari
al-Bukhari, adalah seorang lelaki tak berguna. Al-Bukhari lemah da-
lam kebaikan maupun dalam keburukan: ia menggunakan posisinya
terutama untuk memuaskan selera-selera sensualnya, dan menyerahkan
jalannya pemerintahan kota kepada para perdana menterinya dan
www.facebook.com/indonesiapustaka

pejabat-pejabat pengadilan lain.


Orang-orang terakhir ini adalah sebuah kantong campuran, seperti
kecenderungan orang-orang. Beberapa memperkaya diri dengan upeti-
upeti rakyat, tumbuh subur dalam ketiadaan perhatian sang sultan
seperti bunga-bunga yang tumbuh paling subur di sudut-sudut yang
teduh. Yang lain bermalas-malasan dan membiarkan uang membawa

13
Mike, Linda, dan Louise Carey

mereka ke kehidupan yang mudah dan menjalankan kehidupan yang


mudah dan tanpa berpikir. Hanya sedikit yang melakukan tugas mereka
dengan kemampuan terbaik mereka, membangun oasis keadilan dan
pemerintahan yang baik dalam kondisi penuh kekacauan.
Omong-omong, tak harus diasumsikan keadaan ini diratapi
rakyat. Bessa memiliki andil bagi para tiraninya, dan kebanyakan
orang yang memiliki opini tentang hal-hal semacam itu merasa
bahwa seorang hedonis yang malas adalah beban yang relatif ringan
untuk ditanggung. Risiko dicambuk atau dipenggal untuk kesalahan-
kesalahan kecil sangat jauh berkurang: penyimpangan-penyimpangan
dalam hal iman dan pluralisme dalam seni ditoleransi, jika tidak
benar-benar dirayakan. Bahkan ada gerakan yang dibangun untuk
mengizinkan para perempuan memimpin di dalam kuil-kuil Sang
Pencipta, tapi gerakan ini tidak mungkin berhasil. Siapa yang akan
mengikuti seorang perempuan dalam berdoa? Anjing-anjing? Unta-
unta? Para perempuan lain?
Jadi, Bessa menikmati perkembangan yang kecil, sementara sang
sultan menikmati hak-hak dan hak istimewa dari posisinya yang
dimuliakan. Yang utama dari semua ini adalah seraglionya—tempat
tinggal para selir. Seraglio tersebut menampung tiga-ratus-dan-enam-
puluh-lima selir, kebanyakan dari mereka muda dan cantik. Mereka
semua muda dan cantik ketika pertama kali tiba, tapi waktu meminta
korban, dan sultan yang ramah tidak kesulitan menyingkirkan dari
kerumunan selirnya para perempuan yang telah memudar seiring
waktu. Ia hanya tidak begitu eisien—dan lagi pula ia tahu bahwa dalam
permainan cinta yang hebat, kemudaan tidak selalu mengalahkan yang
lain. Beberapa selir yang lebih tua masih kerap dikunjungi al-Bukhari,
sementara sang Ratu Gursoon seperti seorang perdana menteri tak
resmi, yang secara rutin dijadikan tempat berkonsultasi oleh sultan
tentang berbagai masalah kenegaraan dan termasuk perjanjian-
perjanjian dan negosiasi-negosiasi perdagangan.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Oh, tentu saja ia punya beberapa istri. Hanya sepuluh dari


mereka, tapi karena mereka para istri, dengan kontrak dan sumpah
perkawinan untuk kehormatan mereka, mereka memiliki pangkat dan
hak istimewa jauh di atas para selir. Anak-anak mereka sah, dan berada
di jalur takhta. Mereka berada dalam barisan untuk banyak hal lain,
juga, karena ada puluhan dari mereka, dan istana—meskipun tentu

14
Kota Sutra dan Baja

saja sangat luas—nyaris tak cukup luas untuk menampung berbagai


macam kemegahan mereka.
Seraglio tersebut adalah bangunan terpisah di dalam tembok
yang sama, dan pada umumnya adalah sebuah bangunan yang cukup
menyenangkan. Para selir diizinkan tetap bersama anak-anak mereka,
dan mereka tinggal dalam kemewahan, dengan para pendongeng dan
musisi yang mengajari mereka. Satu-satunya tanggung jawab mereka
adalah menemani sang sultan di kamarnya dari waktu ke waktu, dan
bagi kebanyakan dari mereka tugas itu tidak datang lebih dari satu
kali dalam lima atau enam tahun.
Anak-anak para selir, tentu saja, tidak sah dan tidak ada dalam
barisan apa pun. Namun, para anak perempuan dijamin mas kawin
ketika mereka mencapai usia dewasa, dan anak-anak laki-laki dijamin
awal yang bagus dalam karier apa pun yang mereka pilih selama
mereka pergi dari Bessa begitu tinggi mereka melewati empat kaki.
Bukhari al-Bukhari tak ingin argumentasi tentang suksesi, dan anak-
anak haram ini kadang-kadang bisa memperumit masalah bahkan
tanpa bermaksud untuk itu.
Masih banyak lagi yang bisa diceritakan tentang sultan yang
mungkin beberapa adalah bunga-bunga yang sepele, tapi aku menahan
diri untuk tidak menceritakannya karena kematiannya terjadi di awal
cerita kita, dan setelah itu ia bukan lagi urusan kita.
Di Bessa, seperti tadi disebutkan, ada tingkat toleransi keimanan
yang cukup. Jidur, taman suara-suara, adalah sebuah lembaga yang
membanggakan di dalam kota itu, dan semua orang diizinkan berdoa
di sana. Ini bukan penemuan Bukhari al-Bukhari—ia mewarisinya
dari ayahnya—tapi ini justru keruntuhannya.
Di antara orang-orang suci di Jidur, berkembanglah seorang
Hakkim Mehdad, petapa serius dan pemaksa, yang memandang ke-
hidupan cabul dan santai sang sultan sebagai penghinaan langsung
kepada Sang Pencipta. Hakkim Mehdad berkhotbah penuh dengan
www.facebook.com/indonesiapustaka

tuduhan-tuduhan yang menyerang dan terang-terangan. Setiap hari ia


bangun di Jidur, pengikutnya kian bertambah, hingga satu hari mereka
menyerbu istana dan sebuah pengabdian pembunuhan mengakibatkan
perubahan rezim.
Sang sultan sendiri dipenggal, dan kepalanya dipancang di
tengah-tengah Jidur. Hakkim berceramah di depannya, tak mampu

15
Mike, Linda, dan Louise Carey

menahan gambaran yang kuat tentang sifat kesenangan duniawi


yang hampa dan sesaat. Setelah itu, terinspirasi oleh kepandaiannya
sendiri dalam berpidato, ia memerintahkan para istri dan anak-anak
sultan dibantai, dan jasad mereka dibakar di atas onggokan kayu.
Laki-laki yang bertanggung jawab melaksanakan perintah ini
adalah Ashraf, pengikut Hakim yang sangat taat, yang kini tiba-tiba
naik pangkat menjadi kapten pasukan. Tak ada celah dalam baju zirah
kebajikan Ashraf, dan kekejaman menyebabkan ia tak lagi punya
kepedihan atas hati nurani. Lagi pula, ia menjadi seorang pembenci
perempuan, dan merasa bahwa dunia mungkin akan menjadi tempat
yang lebih baik jika Sang Pencipta tidak meletakkan para perempuan
di dalamnya sejak awal.
Namun selain semua kesalahannya, ia cermat dan patuh, dan
juga logis serta memiliki metode dalam pemikirannya. Ia tidak
memperlebar arahannya menjadi pembantaian besar-besaran terhadap
rumah tangga kerajaan. Para istri harus mati, dan anak-anak sah:
sekadar masuk akal. Para istri berbagi nasib suaminya, sebagai para
budak yang seluruhnya bergantung padanya dan hanya tunduk pada
kehendaknya. Anak-anak harus mati karena para pewaris kehidupan
satu hari kelak mungkin akan menantang untuk mendapatkan takhta.
Namun, para selir, bersama anak-anak haram mereka, berada dalam
pengampunan Kapten Ashraf, dan ia memerintahkan anak buahnya
untuk membiarkan mereka.
Karena pengampunan ini, sesuatu terjadi yang—meskipun tam-
paknya kecil—akan memiliki dampak besar dalam kehidupan para
pelaku dalam kisah ini. Kerikil yang berkembang menjadi longsor;
bulu yang memiringkan timbangan; kepakan sayap kupu-kupu yang
melahirkan ibu prahara.
Tak seperti para selir, para istri kebanyakan seumur dengan sang
sultan sendiri: mereka telah melakukan tugas keistrian jauh sebelumnya,
dan anak-anak yang mereka lahirkan dari sultan, kini tumbuh menjadi
www.facebook.com/indonesiapustaka

dewasa, memiliki kamar-kamar mereka sendiri yang tersebar di seluruh


istana. Tapi ada satu, Oosa, yang lebih muda dari yang lain, dan ia telah
melahirkan Jamal, putra yang lahir pada usia senja sang sultan. Jamal
berusia dua belas tahun, dan karena ia tidak diberi ruangan-ruangan
sendiri, ia tinggal secara bergantian di dalam kamar-kamar ibunya,
dan di seraglio bersama para saudara dan saudara tiri haramnya.

16
Kota Sutra dan Baja

Pada hari kudeta, ketika sultan ditarik dari tempat tidurnya dan
dipenggal, dan pasukan bersenjata ditempatkan di semua tangga dan
gerbang-gerbang ke luar istana untuk mencegah semua orang masuk
atau pergi, Oosa melihat dari arah mana angin bertiup. Ia memanggil
pembantunya, Sharissia, dan kepadanya, dengan air mata yang hangat
di matanya, ia berkata begini.
”Aku mati, Shari. Kami semua mati, dan tak bisa diselamatkan.
Tapi jika aku telah baik kepadamu, dan jika kau menganggapku sebagai
seorang teman juga seorang majikan, ambillah permata-permata ini
sebagai hadiah, dan bantulah aku untuk terakhir kalinya!”
Sharissia meledak dalam tangis. Dengan menahan napas, ia me-
yakinkan sang ratu (dan mungkin dirinya sendiri) bahwa tak seorang
pun akan mati. Tentu saja penguasa baru membutuhkan para ratu!
Dan para pelayan! Mengapa harus bersusah-susah ketika Anda bisa
mewarisi seluruh rumah tangga?
Pada saat itu, para pengikut Hakkim telah bergerak melewati
tempat tinggal keluarga kerajaan, menebas penghuninya dengan pedang
dan pisau. Secara ironis teriakan-teriakan memotong kalimat-kalimat
Sharissia. Ia menekankan tinjunya ke mulutnya dan merintih. ”Oh,
Sang Pencipta lindungi Anda!”
”Dan ia akan melakukannya, jika kau melakukan apa yang aku
katakan,” Oosa berkata lembut. ”Putraku, Jamal—bawa dia ke seraglio,
dan serahkan dia kepada Ratu Gursoon. Ia seorang bijaksana, dan
tahu bagaimana menjaga rencananya sendiri. Biarkan putraku ber-
sembunyi di antara anak-anak haram itu. Tak seorang pun akan
mencarinya di sana, dan aku berharap tak seorang pun mau bersusah-
payah menghitung mayat-mayat ketika hari buruk ini berakhir. Bantu
aku, Shari, anak-anakmu sendiri akan hidup panjang, dan aku akan
melihatmu dari Surga dan menghimpun restu lebih banyak untukmu!
Sementara itu, rubi ini bernilai dua ratus emas, dan kalung ini juga.
Aku rasa batu-batu putih ini adalah berlian...”
www.facebook.com/indonesiapustaka

Oosa menyorongkan Jamal kepada pelayannya ketika berbicara.


Butuh empat tangan untuk membantunya, boleh dikatakan, dan
ia menumpukkan sejumlah perhiasan ke dalam genggaman baik
Sharissia maupun putra tercintanya ketika mereka maju melewati
kamar yang berantakan. Akhirnya, ia mendorong mereka turun
tangga yang pintu masuknya ditutupi sebuah karpet (adegan-adegan

17
Mike, Linda, dan Louise Carey

erotis dari Mufaddaliyat—favorit abadi mantan sultan). Teriakan


Jamal “Ibu!” bergema di telinganya ketika ia membanting pintu.
Begitu permadani itu tertarik kembali ke tempatnya, sang ratu
berbalik, melihat laki-laki berpedang melangkah ke arahnya, dengan
wajah menyeringai dan baju hitam. Dialah Kapten Ashraf yang telah
disebutkan sebelumnya: ia membunuh Oosa dengan satu sabetan
horizontal pedangnya di tenggorokan ketika Oosa membuka mulutnya
untuk berbicara. Sang ratu jatuh di atas karpet, menindihnya dengan
tubuhnya—namun bagaimana pun, Ashraf memberikan pandangan
jijik sekilas pada tubuh-tubuh yang terjalin di atas kain emas itu
sebelum berbalik dan melangkah menjauh untuk mencari korban-
korban baru.
Sulit untuk berdoa dengan tenggorokan yang tergorok, tapi dalam
hatinya Oosa berterima kasih kepada Yang Maha Pengampun bahwa
ia siap menyelamatkan anaknya dengan cara ini.
Sharissia berlari masuk ke seraglio, menemui Lady Gursoon dan
menyerahkan anak itu kepadanya dan memberikan penjelasan yang
kacau menyangkut anak itu. Gursoon menenangkan perempuan
muda itu dan menentramkan hatinya, bertanya dengan lembut dan
sabar tentang pembantaian para istri serta para pangeran dan putri
sah, dan mempertimbangkan apa yang akan ia dan para selir lainnya
lakukan selanjutnya.
Beberapa mengusulkan kabur, ketika melarikan diri masih menjadi
pilihan—sebelum Hakkim yang penuh kebencian memerintahkan
kematian mereka juga. Gursoon menganjurkan menentang ini.
Lagi pula Seraglio berada di dalam tembok-tembok istana, dan tak
ada jalan masuk atau keluar yang aman melalui gerbang-gerbang
utama, yang telah dijaga. Mereka berada dalam pengampunan para
perampas, dan hanya bisa berharap bahwa kehausannya akan darah
bisa dikenyangkan dengan kekejian yang telah dilakukan.
Tak mengetahui banyak tentang cara pikiran para pria ini bekerja,
www.facebook.com/indonesiapustaka

Gursoon memerintahkan para kasim untuk membiarkan semua pintu


tak tergerendel dan mundur ke ruangan-ruangan di dalam seraglio.
Sementara itu, ia meminta beberapa di antara para selir yang bisa
memainkan alat-alat musik untuk mengambilnya sekarang, dan
bermain dengan lembut dalam ruangan komunal besar tempat para
perempuan ini biasa bertemu. Dalam kebijaksanaan, ia membakar

18
Kota Sutra dan Baja

batang-batang kayu cendana dan minyak mur, dan menempatkan


sekat-sekat dari kaca berwarna-warni di seluruh jendela untuk me-
nyebarkan dan memberi warna cahaya matahari yang masuk.
Sharissia terpesona dengan cara kerja ini: ia tidak bisa paham
bagaimana aroma yang enak ini bisa menahan sebuah pedang.
Tugasnya selesai, ia memberikan Jamal ciuman terakhir penuh air
mata, dan pergi.
Ketika para pria dengan pedang-pedang yang meneteskan darah
dan berbau busuk masuk berlompatan melewati ambang-ambang
pintu seraglio sekitar empat atau lima menit kemudian, mereka
memperlambat langkah dan kemudian berhenti, dihadapkan dan
dihalangi keindahan dan harmoni yang mereka temukan di sana.
Udara penuh dengan aroma wangi dan suara yang tak mungkin
digambarkan—sebuah jejaring laba-laba sinestesia yang mungkin
rusak dengan satu gerakan, namun masih menangkap mereka dengan
cepat. Para perempuan dengan kecantikan yang tak terbayangkan
menawarkan mereka air dingin dari piala perak dan timah putih. Para
lelaki itu minum, dan terlalu terlambat menyadari betapa sulitnya
mengecewakan seseorang yang telah menawarkan kau sopan santun.
Gelombang itu mereda sekarang, dan para pembunuh mundur,
ditaklukkan beberapa dialog antara hati mereka dan ruangan ini
bahwa mereka dengan sadar tidak pernah berpesta.
Hakkim Mehdad mengambil kepemilikan formal istana dan
seluruh isinya beberapa jam kemudian, dan secara terbuka dipro-
klamirkan sebagai Sultan Bessa di pagi berikutnya. Kapten Ashraf
bertanya kepadanya, pada sore hari kedua, apa yang harus dilakukan
dengan para selir Bukhari al-Bukhari.
Hakkim berpikir. Para perempuan ini tak ada harganya, dan
tentu saja mereka tidak bisa tinggal di dalam istana: pemikiran itu
sangat menjijikkan baginya. Membunuh mereka adalah penyelesaian
yang praktis dan ekonomis. Namun . . .
www.facebook.com/indonesiapustaka

Hakkim Mehdad bukan seorang pria bodoh. Ia tahu bahwa


kudeta berdarah di Bessa akan menarik perhatian tingkat tertentu
dari kota-kota yang bertetangga dan para penguasanya. Mereka akan
bertanya-tanya apakah satu kota adalah puncak sasaran Hakkim—dan
terlebih-lebih karena ia adalah seorang fanatik religius ketimbang
seorang laki-laki yang didorong urusan keserakahan dan ambisi belaka.

19
Mike, Linda, dan Louise Carey

Karena itu, ia memutuskan untuk mengosongkan seraglio dan


mengirim para perempuan itu sebagai hadiah sebagian besar ke-
pada Kephiz Bin Ezvahoun Yang Tenang dan Dimuliakan, Kalifah
Perdondaris. Perdondaris adalah yang paling kuat di antara kota-kota
di daratan itu, dan hadiah semacam itu tidak membahayakan sama
sekali. Bin Ezvahoun mungkin tidak membutuhkan tiga-ratus-dan-
enam-puluh-lima perempuan muda yang cantik, tapi ia selalu bisa
memberikan hadiah itu kepada para teman dan keluarganya, dan
tanpa diragukan ia akan dihargai karena tindakan itu.
Pada saat yang sama, ia akan membaca makna lebih dalam yang
tercakup di dalamnya. Menghormatiku, Hakkim berkata: Aku tak bisa
disuap, dan aku asing terhadap kelemahan ragawi yang dinikmati se-
bagian besar lelaki. Hasut aku, dan kau mungkin mendapati bahwa
kau lebih baik membiarkanku sendiri.
Sultan yang baru diangkat memberi perintah-perintah, dan
Kapten Ashraf sendiri yang mengurusnya. Ia mengatur unta-unta dan
para penuntun unta dikumpulkan dan memilih tiga puluh tentara yang
bisa diandalkan untuk mengiringi konvoi tersebut. Yang dibutuhkan
kemudian adalah seorang diplomat untuk mempersembahkan
hadiah itu dan melaksanakan basa-basi seremonial apa pun yang
mengiringinya. Kapten tidak memberi tahu kepada para perempuan
ini tentang nasib mereka: mereka baru mengetahuinya ketika para
tentara datang menjemput mereka.
Begitupun, menemukan seorang diplomat ternyata menjadi
masalah yang paling problematik dalam upaya itu. Telah terjadi pen-
jarahan dan kerusuhan besar-besaran di hari kudeta, dan tentu saja,
beberapa dari warga Bessa yang telah menikmati kehidupan yang
mewah dan kaya menjadi sasaran utama penyelesaian balas dendam
sang Pertapa yang kejam. Para diplomat sebagai kelas yang rusak
parah.
Meski begitu, ada seorang laki-laki, yang berkat keterpencilan
www.facebook.com/indonesiapustaka

rumahnya, ketinggian pagar temboknya, dan kegigihan para penjaga


rumahnya selamat dari pemusnahan. Namanya En-Sadim, dan ia
beberapa kali bekerja untuk mendiang sultan Bukhari al-Bukhari
sebagai seorang utusan. Atas tawaran Ashraf kepadanya, En-Sadim
menyatakan bahwa ia merasa lebih dari bahagia untuk mengabdi pada
rezim baru dalam kapasitas yang sama. Meskipun ia sendiri bukan

20
Kota Sutra dan Baja

seorang Pertapa, sama sukanya pada segelas anggur dan seorang


perempuan cantik seperti pria mana pun, ia yakin bahwa dengan
sejumlah kecil niat baik selalu mungkin menemukan kesamaan.
Kapten Ashraf menjelaskan tentang tugas resmi pertamanya
adalah membawa kiriman berisi para selir kepada Kalifah Perdondaris.
En-Sadim mengatakan bahwa ia akan sangat senang melakukannya,
dan hanya menaikkan satu alis ketika mendengar jumlah selir yang
akan dikirim. “Itu pasti hampir seluruh seraglio!” ia berseru.
”Semua selir,” Ashraf menjawab. ”Yang Paling Suci tidak meng-
gunakan tubuh perempuan.”
Untuk sesaat, En-Sadim salah paham. ”Ah!” ia memulai. ”Ya,
kadang-kadang, sesungguhnya, orang lebih suka sebuah perubahan,
sebuah.... yang bagus, keras....” Kata-kata itu lenyap dari mulutnya
begitu ia bertemu dengan pandangan sang kapten.
Kebungkaman bertahan selama sedetik atau lebih.
”Yang Paling Suci dihormati karena kebajikannya yang besar,”
kata En-Sadim menyimpulkan.
”Ya,” kata Ashraf dengan dingin. ”Memang begitu. Kau berangkat
ke Perdondaris besok. Bersiaplah.”
Kau mungkin membayangkan tanpa penjelasan panjang lebarku
tentang penderitaan para selir, dipaksa pergi dengan tergesa-gesa
dari kota kelahiran mereka, tanpa bisa mengucapkan selamat tinggal
kepada keluarga mereka, atau bahkan di banyak kasus memastikan
apakah mereka masih hidup; dilempar kepada angin dan bergantung
kepada belas kasihan seorang asing di tempat yang begitu jauh
sehingga bagi mereka itu hanyalah sebuah kata—sebuah kata yang
berarti keasingan dan kekuasaan dan marmer putih.
Anak-anak menangis, dan ibu mereka, juga menangis, sia-sia
berusaha menenangkan mereka. ”Baiklah, baiklah,” kata Ratu Gursoon,
ketika ia membuai kepala seorang perempuan kurang dari separuh
usianya dan berusaha keras untuk menahan air matanya, ”dari subuh
www.facebook.com/indonesiapustaka

hingga sekarang, jutaan cangkir telah jatuh, dan anggur ditumpahkan


di sejuta lantai.”
“Jadi?” yang lain terisak, sama sekali tak terhibur. ”Apa itu?”
”Cepat atau lambat, sayangku,” Gursoon bergumam, ”satu cangkir
pasti akhirnya mendarat dengan tegak.”

21
Mike, Linda, dan Louise Carey

Cerita di Pinggir Api Unggun

Bagi sebagian besar dari mereka, hal terburuk adalah padang pasir itu
sendiri. Di harem tak mungkin kau bisa menatapnya tanpa melihat
dinding, bahkan di dalam taman-taman. Kini, mereka melintasi
kekosongan yang luas tanpa perlindungan sama sekali, tanpa tempat
untuk berpegang. Beberapa anak yang lebih kecil, yang tak pernah
melihat cakrawala, menangis dan berpegangan kepada para ibu atau
kakak perempuan, takut mereka tertiup angin atau terisap kekosongan
langit.
Bahkan bagi mereka yang pernah tinggal di luar, seperti Zeinab,
yang orang tuanya adalah para pedagang, ada sesuatu yang menyesakkan
dada tentang perjalanan ini: matahari yang keji, dan badai pasir kecil
menyengat yang tak bisa dielakkan. Dan di atas segalanya tangan-
tangan dan suara-suara berat para tentara Hakkim Mehdad, yang
menggembala mereka seperti ternak sepanjang hari.
Hari masih malam ketika mereka terbangun dan menemukan
kamar-kamar tidur mereka dipenuhi laki-laki berjubah hitam, yang
berteriak kepada mereka untuk bangun. Dalam kehidupan mereka
yang dulu, itu saja bisa menjadi sebuah kemarahan: pelanggaran
www.facebook.com/indonesiapustaka

ruangan mereka oleh laki-laki selain sultan sendiri dan para kasim
bersuara lembut. Para tentara melempar kantong-kantong ke lantai
putih, sementara kapten mereka menghardikkan perintah: bungkus
baju-baju dan sekaligus bersiap meninggalkan Bessa. ”Ambil apa pun
yang kalian butuhkan,” katanya memberi perintah. ”Kalian tidak akan

22
Kota Sutra dan Baja

kembali.”
Di lapangan sekitar empat ratus unta menanti, napas hewan-hewan
ini beruap di udara yang dingin. Di sini sang komandan memberikan
lebih banyak perintah. Para selir, seperti komoditas berharga, akan
naik unta, sementara para pelayan dan anak-anak, semua kecuali yang
paling kecil, harus berjalan.
Ada protes-protes dari beberapa ibu, tapi mereka dibungkam. Para
tentara bergerak di antara mereka, memaksakan perintah-perintah
lain dengan tendangan dan hardikan-hardikan—tapi setiap laki-laki
memiliki pedang di sabuk mereka, dan para perempuan telah melihat
selama beberapa hari terakhir bahwa mereka dipersiapkan untuk
menggunakannya. Ketika salah satu dari tentara itu menyeret Efridah
tua dan ompong keluar dari sadel, dan menampar wajah selir yang
memberikan tempatnya kepada pelayan tua itu, para perempuan di
sekitar mereka takut. Soraya, putri Zeinab, yang telah bertengger
di atas pelana depan ibunya dan bersembunyi di balik jubahnya,
meluncur turun dengan cepat ke tanah sebelum tentara itu mencapai
mereka.
Bulan masih tinggi ketika mereka digiring ke luar pintu-pintu
gerbang istana, melewati pasar dan memasuki gurun. Ada banyak air
mata dan banyak pandangan ke belakang, tapi isakan ditahan, dan
pandangan terakhir ke rumah mereka segera lenyap di kegelapan.
Soraya berjalan di samping unta ibunya hingga gerakan derap
unta menenangkan rasa paniknya yang terburuk. Semua yang berada
di sekitarnya berjalan dengan susah payah, anak-anak lain, teman-
temannya, dan musuh-musuhnya, sebagian besar kini menunduk
dan diam. Dip Kecil, putra sang koki, yang diadopsi seraglio setelah
kematian ibunya, diam-diam menangis ketika berjalan, kepalanya
tertunduk begitu rendah sehingga air matanya jatuh di atas lutut.
Udara cukup dingin sehingga membuat mereka menggigil, hingga
matahari terbit; kemudian hampir seketika menjadi panas. Itulah
www.facebook.com/indonesiapustaka

saat ketika segalanya menjadi buruk. Para tentara tidak mengizinkan


istirahat sebelum sumur pertama, bahkan ketika beberapa anak kecil
mulai tersandung. Hayat tersandung dan tangannya tergores batu;
kakaknya, Huma, teman Soraya, mengangkatnya dengan cepat dan
menghapus air matanya sebelum para tentara itu memperhatikan.
Namun, ketika matahari hampir tepat berada di atas kepala, salah

23
Mike, Linda, dan Louise Carey

satu anak laki-laki, Zuir, jatuh tersungkur dan terbaring seolah-


olah bingung. Salah satu tentara itu datang dan berdiri di samping
anak laki-laki itu, mendorongnya dengan kaki. “Bangun,” katanya
memerintah. Zuir mengerang tapi tidak bergerak, dan laki-laki itu
menarik kakinya ke belakang bersiap-siap untuk menendang. Tapi
tendangan itu tak pernah mendarat. Pangeran Jamal, yang berjalan
bersama Zuir, menempatkan dirinya di tengah lelaki itu dan anak
laki-laki tersebut.
Sejak kematian sultan, anak-anak diberi perintah ketat untuk
memperlakukan Jamal seperti salah satu dari mereka. Demi kese-
lamatannya sendiri, ia tidak lagi menjadi pangeran. Namun Soraya
melihatnya dengan keheranan, dan kemudian dengan ketakutan yang
membuncah, bahwa Jamal telah lupa: ia hampir memberikan pria
itu perintah.
“Kau, orang jelata—“ ia memulai, ketika seseorang menerobos ke
arahnya. Bibi Gursoon, tampak lebih lebar daripada biasanya dalam
pakaian perjalanannya, telah turun dari untanya dan menyentuh mereka
dengan cepat. Ia mendorong Jamal ke samping, hampir membuatnya
terjerembab, ketika ia membungkuk kepada Zuir, tampak jengkel dan
memarahinya.
“Anak bodoh ini berjalan dengan kepala yang tak terlindungi
dan terbakar matahari,” katanya kepada tentara itu. “Ia sudah pulih
sekarang, lihat.”
Ia mengangkat anak laki-laki itu ketika berbicara, kemudian
menyerahkannya kepada ibunya yang lari menghampiri mereka.
Ketika Umayma membantu anaknya berdiri, Gursoon berbicara lagi
kepada tentara itu, berbicara dengan rasa hormat yang besar, dan tidak
memandang wajahnya. “Kami akan pastikan ia tidak lagi memberimu
masalah, Tuan. Jika ia mungkin bisa mendapatkan sesesap air, ia tidak
akan menahanmu lebih lama. Ia hanya tak terbiasa dengan matahari
ini.”
www.facebook.com/indonesiapustaka

Lelaki itu merengut. “Hentikan kecerewetanmu, Perempuan tua,”


katanya. “Tak akan ada air hingga kita mencapai tempat singgah.
Suruh dia tetap berjalan.”
Ia berbalik dan meninggalkan mereka. Hanya kemudian Soraya
melihat Jamal berdiri di samping Gursoon, wajahnya putih. Gursoon
mencengkeram lengannya kuat-kuat sehingga pasti menyakitkannya,

24
Kota Sutra dan Baja

dan dia tidak melepasnya hingga tentara itu tidak lagi mendengar
mereka.
“Tak sepatah kata pun,” ia berkata padanya kemudian, ketika
Jamal menggosok-gosok lengannya dan menatap Gursoon. “Kau tak
boleh berbicara satu patah kata pun—kepada mereka. Ingat harapan
ibumu.”
Jamal, masih menatap marah, menjauh dalam diam.
Hanya sedikit pembicaraan setelah itu, bahkan di antara anak-
anak. Mulut-mulut mereka kering dan kaki-kaki mereka luka, tapi
tak ada keluhan. Ketika pepohonan di sekitar sumur akhirnya mulai
terlihat, mereka terlalu lelah untuk merasakan lebih dari rasa lega.
Efridah tua merebahkan diri di tanah, dan dua perempuan yang
lebih muda membawanya ke tempat teduh, sementara yang lain
berusaha mengisi botol-botol air, dan mereka yang tahu bagaimana
mendirikan tenda menunjukkan cara melakukannya kepada yang lain.
Para tentara tak sedikit pun menunjukkan niat membantu mereka.
Para penuntun unta menerima isyarat dari para tentara yang
pendiam dan merawat unta-unta mereka dalam diam—meskipun
Huma melaporkan kepada Soraya bahwa ia telah mencuri dengar
dua dari mereka mengatakan bahwa mereka menuju Perdondaris.
Dua gadis itu saling berbagi kegembiraan sebentar tentang pikiran
akan melihat kota besar dengan menara-menara putih, hingga suara
perintah yang diteriakkan mengingatkan situasi mereka.
Begitu matahari tenggelam, gurun tak lagi tak terbatas. Dunia
mengecil menjadi kerucut-kerucut yang menyala di sekitar api
unggun kecil mereka, dan para perempuan tidak merasa perlu lagi
untuk berimpit-impitan di ruang yang sangat luas. Di atas tanah
yang paling datar para tentara yang mengiringi mereka duduk
melingkari api unggun yang jauh lebih besar. Sang utusan, begitu
tenda rumitnya didirikan para pelayannya, memerintahkan mereka
untuk membawakannya kantong anggur besar dan beristirahat di
www.facebook.com/indonesiapustaka

dalam. Ia melihat sejenak di antara para perempuan itu untuk minta


ditemani, tapi melihat kebanyakan perempuan yang lebih muda masih
dirusak air mata, atau berbicara dengan anak-anak yang ketakutan,
ia berkecil hati dan bersembunyi untuk minum dalam kesendirian,
setidaknya untuk malam itu.
Para tentara tidak minum, atau bahkan melonggarkan selempang

25
Mike, Linda, dan Louise Carey

mereka yang berat. Mereka duduk tegak, berbicara dengan suara-suara


argumentatif yang kuat, dengan sekali atau dua kali ledakan tawa.
Namun, untuk pertama kalinya mereka mengabaikan tawanan mereka.
Jauh dari mata para tentara yang mengawasi, ada sedikit pengen-
duran ketegangan. Para perempuan berderet-deret mendekati ke-
hangatan dan berbicara tentang hal-hal tak penting: syal yang bagus,
luka irisan di tangan, berapa lama kismis akan bertahan. Anak-anak
paling kecil telah tertidur, jauh sebelum isak tangis mereka habis.
Masing-masing kini terbaring berselimut di atas karpet dengan kaki
mereka dekat api, meringkuk di antara kaki-kaki para bibi mereka
yang menenangkan. Dip Kecil masih sedikit berdengus, mengisap
ibu jarinya untuk menenangkan diri.
“Dasar bayi,” kata Jamal, melihat kepadanya dengan cemooh.
“Ia separuh usiamu, dan merindukan ayahnya,” kata Gursoon,
yang duduk di sampingnya. “Biarkan dia.”
“Aku juga kehilangan ayah,” Jamal menjawab ketus. “Dan ibu dan
abang-abangku. Tapi aku tak akan menangis; Aku akan kembali dan
membunuh mereka semua.”
Anak-anak lain bergabung dalam pembicaraan itu. “Sultan adalah
ayah semua orang,” kata Zuir. “Kita semua kehilangan dia. Saya tidak
menangis juga.”
“Itu karena ia tidak peduli kau!” Jamal berkata dengan panas.
Ibu Zuir menyentuh putranya dengan kaki dan mendesah. “Jangan
bertengkar, anak-anak.”
“Eh, bagaimana kalau sebuah dongeng?” kata Gursoon.
Soraya dan beberapa gadis lain mendongak. Bibi Gursoon dikenal
karena cerita-ceritanya: bahkan Soraya telah meninggalkan tempat
di sisi ibunya dekat api unggun dengan harapan bisa mendengarkan
cerita. “Si Rubah dan Nelayan?” katanya bersemangat.
“Kita baru saja mendengar cerita itu,” Huma keberatan. “Ayo kita
dengar Pencuri yang Mencuri Bulan.”
www.facebook.com/indonesiapustaka

Terdengar serangkaian protes dan usulan. Gursoon menaikkan


kedua tangannya untuk menolak mereka. “Aku akan ceritakan sebuah
kisah baru,” katanya, dan menunggu perhatian mereka sebelum ia
memulai.

26
Kota Sutra dan Baja

Kisah Gadis Penari

“Dulu ada seorang gadis yang keluarganya menjual ikan untuk hidup.
Ayahnya menebar jaring di sungai, dan ia serta ibunya mengeringkan
tangkapan dan menjual dua atau tiga ikan untuk harga satu dirham di
pasar desa. Sungai itu sempit, dan desa itu kecil, dan keluarga mereka
sangat miskin. Di semua bagian negeri itu, semua orang kurus. Namun,
orang tua gadis itu mencintai dia dan memberinya segala yang terbaik
yang mereka miliki, sehingga ia tumbuh cantik dan kuat, dengan
payudara seperti delima, pinggang yang ramping dan pinggul yang
lebar dan bergoyang. Tapi ia masih perawan, dan tak memiliki kekasih.”
“Kau tak boleh menggunakan kata-kata itu di depanku jika ibuku
ada di sini!” Jamal protes.
“Jadi, haruskah aku berhenti?” Gursoon bertanya, dan para gadis
terdekat mencubit Jamal hingga ia berteriak dan menggelengkan
kepalanya.
“Gadis itu terus membawa ikan ayahnya ke desa, kini sendiri
seperti biasa, karena kaki-kaki ibunya telah kaku. Satu hari seorang
perempuan tua mendatanginya di pasar.
“Aku telah mengamatimu, Nona,” katanya. “Kau terlalu cantik
www.facebook.com/indonesiapustaka

untuk menghabiskan waktumu di sini, bau ikan. Jika kau mau belajar
apa yang aku ajarkan, kau akan menjadi seorang perempuan kaya.
“Gadis itu polos: ia langsung mengatakan ya dan mengikuti
perempuan tua itu ke rumahnya.”
“Apa itu seorang yang polos?” bisik adik Huma, Hayat.

27
Mike, Linda, dan Louise Carey

“Ssh!” kata Huma.


Rumah perempuan itu tidak lebih dari pondok satu ruangan,
seperti kebanyakan rumah di desa itu, tapi di dinding tergantung
sebuah benda yang tak pernah gadis itu lihat sebelumnya: terbuat dari
kayu yang dipernis dan berbentuk seperti kura-kura sungai berleher
panjang, dengan dawai-dawai tipis yang mengalir di punggungnya.
‘Tanburku,’ kata perempuan tua itu. ‘Jangan menyentuhnya.’ Ia
menyuruh gadis itu berdiri di tengah ruangan dan berjalan ke sana
dan kemari. Ia memerintahkan gadis itu untuk melangkah ke sini,
melangkah ke sana, mengangkat tangan seperti ini. Kemudian ia
menurunkan tanbur dan memainkan tangan di atasnya. Musik yang
mengalun keluar dari sana, lebih tinggi dan lebih lembut daripada
lagu-lagu yang mereka mainkan di lapangan utama pada hari-hari
festival.
‘Ulangi gerakan-gerakan yang aku tunjukkan kepadamu,’ kata
perempuan tua itu. ‘Dan sekarang tinggal menunggu waktu.’
“Jadi, gadis itu menemukan tari. Ia datang lebih sering ke rumah
perempuan tua itu pada bulan-bulan selanjutnya, mengunjunginya
setelah ia menjual ikannya, dan bergoyang dan membungkuk meng-
ikuti musik nyaring dari tanbur itu. Ia belajar sepuluh cara memegang
pinggul dan perutnya, enam puluh enam gerakan tangan, lengan
dan bahu, bagaimana menempatkan kaki dan sudut kepala. Dan ia
mencintai pekerjaan itu, yang ia rasakan kian lama kian seperti ke-
bebasan, seperti terbang. Ia hanya mengatakan kepada orang tuanya
bahwa ia berteman dengan seorang perempuan di desa itu. Perempuan
tua itu tidak mengambil bayaran untuk pelajaran-pelajaran itu selain
beberapa dendeng ikan, tapi alih-alih ia hanya mengatakan bahwa
gadis itu harus melakukan persis seperti yang ia perintahkan. Ia
melatihnya dengan tepat dalam gerakan, menyaksikannya dengan
mata yang sungguh-sungguh dan berbinar dan memainkan musik
sedikit lebih cepat setiap hari. Dan ketika angin musim panas datang
www.facebook.com/indonesiapustaka

dan pergi, dan debu-debu menebal, ia menyatakan bahwa gadis itu


telah siap.
‘Aku akan membawamu kepada seseorang yang akan menyaksikan
kau menari,’ katanya kepada gadis itu. ‘Jika kau melakukan dengan
baik, kau tak akan kelaparan lagi.’ Ia tak menjawab lagi pertanyaan-
pertanyaan gadis itu, tapi memerintahkannya untuk mengatakan

28
Kota Sutra dan Baja

kepada orang tuanya ia akan menginap di rumah temannya di desa


selama dua hari.
‘Aku akan mengunjungi putriku sementara suaminya pergi,’ kata
perempuan tua. ‘Kau bisa katakan kepada mereka aku memerlukan
bantuan untuk menyiapkan perjalanan tersebut.’
“Orang tua gadis itu ragu-ragu—putri mereka tak pernah menginap
jauh dari mereka—tapi mereka telah tua, dan gadis itu keras kepala.
Mereka memohon kepadanya untuk tidak berbicara dengan orang
asing, dan mengizinkannya pergi. Ia meninggalkan rumah sebelum
fajar keesokan hari, dan mendapati guru tuanya telah menunggunya.
“Di luar desa mereka berdiri di jalan hingga seorang pedagang
datang dengan gerobaknya; ia tampak mengenal perempuan tua itu
dan setuju untuk mengizinkan mereka menumpang dengan ongkos
setengah dirham. Gadis itu tak pernah pergi sejauh ini dari rumah
sebelumnya. Mereka berjalan sepanjang hari, dan ketika bayangan-
bayangan telah panjang perempuan tua mengatakan kepada sang kusir
untuk berhenti di sebuah pertigaan jalan dan turun, mengisyaratkan
gadis itu untuk mengikutinya. Dan sebelum matahari tenggelam lebih
jauh mereka mendaki dan melihat bentuk-bentuk jauh di depan
mereka, yang ketika mereka mendekat menjadi dinding-dinding yang
tinggi, rumah-rumah, dan pepohonan.
“Begitu mereka tiba di tembok kota, gadis itu terlalu bersemangat
untuk mengingat kelelahannya. Ia tidak pernah melihat rumah-rumah
dengan lantai di atas sebelumnya, tidak juga hiasan-hiasan dengan
warna-warni yang terang seperti yang tergantung di pintu-pintu
mereka, tidak juga sebuah pohon yang lebih tinggi dari manusia. Di
bawah salah satu pohon ini mereka berhenti, jauh dari pandangan
dinding-dinding itu, dan mengisi kantong air mereka di sebuah
mata air. Gurunya menyuruh membersihkan kaki dan wajahnya,
dan memberinya kurma-kurma dan roti keras untuk dimakan.
Kemudian ia mengambil dari bungkusannya baju bersih berwarna
www.facebook.com/indonesiapustaka

cerah yang ditenun begitu tipis sehingga satu embusan napas saja
bisa menerbangkannya. Ia mengibaskan seuntai jejaring, memasang
di wajahnya seperti setengah cadar.
‘Ini semua untuk kau pakai,’ katanya.
“Gadis itu tahu bahwa gurunya tak bisa dipertanyakan, tapi ketika
ia mengambil barang-barang halus dengan pinggiran yang berkilau,

29
Mike, Linda, dan Louise Carey

ia tak bisa menyembunyikan keheranan dan keraguannya. Tapi


perempuan tua hanya memandangnya.” Gursoon memberikan sorotan
mata kepada Soraya dan Huma untuk menunjukkan bagaimana
perempuan tua itu melihat. “Dan ia patuh. Merasa setengah telanjang,
ia berdiri depan gurunya, yang menarik dan mendorongnya hingga ia
puas. Mereka menanti matahari terbenam, dan kemudian perempuan
tua itu menggandeng tangannya dan membawanya melewati gerbang
unta kota itu. Meskipun malam penuh, kota tersebut sama sekali tidak
gelap: tembok-tembok rumah-rumah itu dicacah dengan lubang-
lubang, yang menyorotkan lebih banyak lampu dan lilin daripada
yang pernah dilihat gadis itu dalam satu tempat sebelumya. Mereka
berhenti di rumah yang paling tinggi dan paling terang, di mana
perempuan tua itu menarik untaian sutra yang bergantung di pintu.
Kemudian ia berbalik ke gadis itu.
‘Aku harus meninggalkanmu sendiri,’ katanya. ‘Patuhi tuan rumah:
kerjakan apa yang ia perintahkan kepadamu. Aku akan menjemputmu
pagi hari.’
“Seorang pria muncul dari balik tirai yang berat. Ia mengenakan
baju abu-abu, dengan ikat pinggang merah. Gadis itu sedikit mengkerut
ketika melihatnya, tapi ia hanya melirik padanya dan mengangguk.
Ia menarik tas kulit kecil dari ikat pinggangnya dan menyerahkannya
kepada perempuan tua, yang berbalik dan pergi tanpa sepatah kata.
Pria itu menggerakkan kepalanya mengisyaratkan sang gadis untuk
mengikutinya dan menghilang dengan cepat di balik tirai, mening-
galkannya sendiri di kegelapan. Gurunya telah lenyap. Tak ada tempat
lain untuk dituju, jadi ia menarik napas sekali dan masuk.”
“Perempuan tua itu licik, meninggalkannya begitu saja!” kata Jamal.
“Dan anak gadis itu juga buruk, pergi sendirian ke dalam rumah yang
asing. Ia seharusnya lari.”
Soraya mengira Gursoon akan melotot kepada Jamal, atau mem-
bentaknya karena memutus cerita, tapi ia tidak melakukannya. Ia
www.facebook.com/indonesiapustaka

memandangi api unggun, seolah-olah untuk sejenak ia telah melupakan


mereka semua.
“Tidak,” katanya, pada akhirnya. “Tak ada pikiran buruk dalam
kepalanya sama sekali, bahkan hanya harapan untuk memamerkan
kemampuannya kepada seseorang yang mungkin mengakuinya. Ia
bodoh; tak ada keraguan tentang hal itu. Namun beberapa kebaikan

30
Kota Sutra dan Baja

datang bahkan untuk kebodohannya, seperti yang akan kau dengar.


“Di dalam ruangan, begitu terang sehingga pada awalnya gadis
itu tak bisa melihat apa pun. Ia mendengar suara-suara dan tawa
para lelaki. Ada lampu-lampu yang bergantung di dinding, lampu-
lampu di atas meja yang dikelilingi tulang daging, cangkir-cangkir
dan mangkuk-mangkuk. Para lelaki itu duduk di antara meja-meja,
mengisap pipa-pipa air; semua tua, dan tak ada dari mereka tampak
memperhatikan ketika ia berdiri di pintu.
“Pelayan rumah dengan ikat pinggang merah berbicara kepada
salah satu dari mereka, seorang pria gemuk dan botak di atas sebuah
kursi empuk, dan laki-laki itu kini mengangkat kepalanya untuk
melihat gadis itu. Ia mengangguk persis seperti yang telah dilakukan
pelayan itu dan bertepuk tangan. Selanjutnya, seorang pelayan kedua
muncul dan mulai meminggirkan meja-meja kecil, sementara yang
pertama mengeluarkan sebuah tanbur. Dan kini, semua lelaki menatap
gadis itu.
“Untuk sesaat, ia takut dan tidak bisa bergerak. Tapi begitu musik
dimulai, ia mendapati lengan-lengannya mengikuti, dan gerakan-
gerakan yang ia kenal mengalir begitu baik melalui tubuhnya. Pria
pelayan itu seorang musikus yang lebih baik dari guru tuanya: Ia ber-
main dengan nyaring sekarang, kini lembut, dan sebagai tanggapannya
tubuh gadis itu menukik, turun dan naik. Setelah tarian pertama, ia
membawanya ke tarian kedua dan ketiga, memainkan jari-jarinya
lebih cepat di atas dawai-dawai itu seolah-olah menantangnya untuk
terus mengikutinya. Ia mengikutinya langkah demi langkah, not demi
not, dan berdiri di akhir pertunjukan dengan penuh kemenangan,
bersemangat dan tertawa.
“Para lelaki tua meletakkan pipa-pipa mereka. Mereka bertepuk
tangan bersama-sama dan melihat satu sama lain, berbicara lebih keras
dan lebih bahagia. Mereka memuji gadis itu karena kecantikannya,
keanggunannya dan kemudaannya, dan memuji pria gemuk itu karena
www.facebook.com/indonesiapustaka

menyajikannya sebagai hiburan. Kemudian, satu demi satu, mereka


berdiri, berterima kasih kepada tuan rumah mereka dan pergi. Sang
musikus juga pergi. Tirai tertutup di belakang orang terakhir dari
mereka, dan ia sendirian bersama lelaki gemuk itu.
“Ia berbicara kepadanya kemudian untuk pertama kalinya.”

31
Mike, Linda, dan Louise Carey

Suara Gursoon menjadi rendah dan licik hanya untuk menun-


jukkan cara pria gemuk itu berbicara. Soraya dan Huma menggigil
dan mendekat satu sama lain. ‘Sangat bagus, Merpati kecil,’ katanya.
‘Dan sekarang kau akan menari hanya untukku, eh?’
“Untuk sesaat gadis itu menatapnya dengan tolol, Kemudian ia
mundur dan mengangkat tangannya sebagai protes. Sehingga ketika
pria itu menjangkaunya untuk merangkul pinggang dan merobek
cadarnya, tangannya telah siap menangkis. Buku-buku tangannya
memukul mulut pria itu. Ia melepaskan diri dari cengkeraman satu
tangan, meninggalkan robekan kain tipis di tangannya, dan lari
melalui tirai pintu menuju kegelapan.
“Ia mendengarnya melolong memanggil para pelayannya, ke-
mudian mengejarnya. Tapi ia sudah tua dan sangat gemuk: sebelum
ia melewati tirai berat itu, gadis tersebut telah mengelilingi samping
rumahnya. Tak ada apa pun di sana kecuali sebuah pondok yang
rendah dan panjang yang dibangun dari tanah liat dan tanpa jendela.
Aroma kuat kotoran hewan keluar dari dalamnya, tapi ia melesat
melewati celah yang terbuka dan mendapati dirinya meringkuk di
dalam jerami. Ia menarik jerami di atasnya dan berbaring sementara
para lelaki memukul jalan yang mereka lewati. Seseorang melihat ke
dalam: gadis itu mendengar napas lelaki itu yang berat dan ia me-
nahan napasnya sendiri hingga langkah-langkah kakinya menjauh.
Ia berbaring tanpa bergerak untuk waktu yang lama.
“Ketika langkah kaki yang berat telah benar-benar pergi, ia
menyingkirkan jerami itu dan mengintai ke luar, bertanya-tanya
bagaimana ia bisa menemukan jalan pulangnya. Ia telah melihat
darah di mulut pria gemuk itu sebelum lari: ia tak bisa berharap belas
kasihan jika tertangkap. Namun ketika ia bergerak, ia mendengar
suara baru: derap kaki kuda, dan kemudian suara seorang laki-laki. Ia
mengendarai hewan itu langsung ke dalam pondok; ia harus menjauh
dari kaki-kakinya. Itu bukan unta. Kulitnya halus dan sehitam malam,
www.facebook.com/indonesiapustaka

wajahnya panjang dan lembut.”


“Itu cuma seekor kuda, kan?” kata Hayat.
“Memang, tapi gadis itu belum pernah melihatnya,” kata Gursoon
kepadanya. Keheranannya terhadap pemandangan itu membuatnya
melambat, dan pria itu melihatnya ketika ia masuk. Ia mengisi jalan

32
Kota Sutra dan Baja

masuk sehingga ia tidak bisa lari, seorang pria tinggi dan tegap.
Namun tak ada ancaman di wajahnya, hanya kebingungan.
‘Siapa kau?’ ia bertanya. Suaranya beraksen mirip para pedagang
nomaden yang datang ke pasar kadang-kadang dengan kurma atau
anggur palem. ‘Apa yang kau lakukan di sini?’
“Karena tak ada jalan untuk lari, ia menjawabnya dengan berani.
‘Aku seorang penari. Tapi pria di dalam berpikir aku sesuatu yang
lain jadi aku kabur.’
“Pria muda itu berpikir sejenak. ‘Aku pikir kau harus mening-
galkan rumahnya kalau begitu,’ katanya. ‘Di mana kau tinggal?’
“Ia mendudukkannya di depannya di atas kuda. Ia tak pernah
mengendarai hewan apa pun sebelumnya dan gerakannya begitu aneh
dan tak nyaman, tapi angin di wajahnya adalah sebuah kegembiraan
ketika mereka kabur dari rumah lelaki tua itu. Lelaki muda itu pernah
mengunjungi desanya sebelum ini dan tahu jalannya, katanya, bahkan
pada malam hari. Namanya adalah Fouad. Ia berasal dari sebuah
suku nomaden yang menangkap dan melatih kuda-kuda, tapi ia
bertengkar dengan abangnya dan pergi untuk mencari pekerjaan di
kota. Kuda yang mereka tunggangi adalah harta berharga pria gemuk
itu dan Fouad telah dipekerjakan untuk merawat dan mengurusnya.
Ia menggambarkan majikannya sebagai orang yang kikir, rakus dan
penunggang kuda yang buruk. ‘Jauh lebih buruk ketimbang kau,’
katanya. Ia membuat gadis itu tertawa.
“Mereka tiba di desa pada fajar dan Fouad membantunya turun.
Ia harus kembali saat itu juga katanya: majikannya akan memukulinya
karena membawa Belshazar ke luar pada malam hari. Kulit lelaki itu
sangat gelap, dan rambutnya yang sangat keriting seperti setangkai
anggur. Matanya panjang, melengkung dan berwarna hijau. Gadis
itu tak pernah melihat mata seperti itu, sepucat cahaya yang miring
sepanjang cakrawala.
‘Aku ingin bertemu denganmu lagi,’ kata lelaki muda itu, dan
www.facebook.com/indonesiapustaka

gadis itu berkata, ‘Aku juga.’


“Orang tuanya menjerit dan menangis ketika melihat apa yang
ia kenakan tapi mereka tidak memukulinya, tidak juga mengajukan
banyak pertanyaan: mereka takut akan jawaban yang mungkin ia
berikan. Mereka melarangnya bertemu dengan gurunya lagi, yang

33
Mike, Linda, dan Louise Carey

dengan senang hati dipatuhi gadis itu. Saat berikutnya perempuan


tua itu melihatnya di pasar, ia mengacungkan tinjunya kepada gadis
itu, dan menyumpah-nyumpahinya ketika ia berlalu.
“Ketika Fouad muncul untuk meminangnya, orang tuanya berpikir
mereka tahu apa yang ia lakukan pada malam itu, dan memarahinya
lagi. Tapi mereka senang peminangnya adalah pria muda yang kuat,
yang tampak mampu mendukungnya. Mereka merestui.
“Kuat dan tampan memang, meskipun Fouad tak punya uang,
dan gadis itu tak punya mahar selain dendeng ikan. Namun keduanya
memiliki keterampilan, dan mereka yakin akan kekuatan dan
keberuntungan mereka untuk mendapatkan peruntungan mereka.
Fouad meninggalkan tuannya yang kikir dan kembali ke sukunya,
bekerja untuk mendapatkan bagian pada kuda selanjutnya yang
mereka jual. Dan satu hari, ia datang kepada gadis itu dengan sangat
gembira. Festival musim panas segera datang, dan sultan kota Bessa
telah mengumumkan pameran-pameran dan pesta-pesta di lapangan
kota. Mereka akan membayar tinggi para penari yang cakap, baik
laki-laki maupun perempuan, untuk memimpin perayaan-perayaan.
“Ayah gadis itu terkejut: menari di depan umum! Tapi Fouad
telah melihat pertunjukan-pertunjukan seperti itu sebelumnya,
dan meyakinkannya bahwa tak ada ketidaksopanan di sana: para
perempuan dan anak-anak bisa menonton mereka, ia berjanji. Ia
sendiri akan menemani gadis itu sebagai abangnya, dan ia bersumpah
dengan jiwanya bahwa tak akan ada bahaya atau penghinaan kepada-
nya. Dan uangnya akan cukup untuk memungkinkan mereka menikah.
Ia meminjam seekor kuda betina dari sukunya, memberi mereka se-
luruh tabungan sebagai jaminannya, dan mereka berdua menempuh
perjalanan seminggu penuh ke Bessa.
“Ada banyak orang berdesakan di luar rumah pembawa acara,
tapi kuda Fouad membuat jalan yang mudah bagi mereka. Gadis itu
mendapati dirinya di antara kerumunan perempuan dan para gadis,
www.facebook.com/indonesiapustaka

sedang digiring ke halaman gedung yang berdebu di mana seorang


wanita yang galak mirip guru tuanya menyuruh mereka berdiri dalam
barisan dan mengikuti gerakan-gerakannya. Gadis itu yang termuda
di sana, dan beberapa dari mereka melemparkan pandangan mencela,
tapi nyonya tua mengangguk ke arahnya. Ia terpilih sebagai salah
satu dari tiga puluh perempuan penari, dan Fouad, sebagai abangnya,

34
Kota Sutra dan Baja

diberikan seratus dirham sebaga pembayaran. Jumlah itu lebih dari


cukup untuk sebuah mahar.
“Pekan itu adalah yang terindah dalam hidup gadis itu. Fouad
harus meninggalkannya dalam perlindungan nyonya tua hingga
hari festival tiba, tapi ia tahu mereka akan segera bersama lagi, dan
untuk selamanya. Kegembiraan membuat kakinya ringan. Ia tertawa
sepanjang sesi latihan yang panjang, sementara para perempuan lain
mengeluh tentang kaki mereka yang luka. Ia tidur di sudut halaman,
bermimpi tentang Fouad, dan bangun untuk menari lagi. Hari itu pun
datang, dan ia berputar-putar ke luar bersama yang lain, dikelilingi
bangunan-bangunan hebat di Bessa dan merasa dirinya pusat
dunia—karena di sana di pinggir lapangan, Fouad menyaksikannya
dari punggung kuda betina, wajahnya penuh kebanggaan.’
Gursoon berhenti sejenak, mendesah.
“Ia tak pernah berpikir bahwa orang lain mungkin menyaksikannya
juga.
“Ketika festival berakhir, keduanya kembali ke desa gadis itu
untuk merayakan pertunangan mereka. Orang tuanya begitu gembira:
mereka mulai merencanakan pernikahan terbesar yang bisa disediakan
desa nelayan miskin itu. Lalu, tiga hari kemudian, seorang kurir
datang ke desa itu dari Bessa.
“Ia tiba dengan para pelayannya sendiri di atas empat unta, dan
orang-orang segera berkumpul di sekitarnya, berpikir ia seorang
pedagang yang kaya raya. Ketika ia menyebut nama nelayan miskin
di pinggiran desa itu mereka tercengang, tapi mereka membawanya
ke sana. Dan begitulah di hadapan separuh penduduk desa, gadis
itu tahu ia dipanggil untuk bergabung ke harem sang sultan, dipilih
oleh sultan sendiri, yang menyaksikannya menari di lapangan dan
jatuh cinta.
“Kata pertamanya, ketika ia bisa berbicara adalah ‘Tidak.’ Namun
sang kurir menganggapnya hanya sebagai tanda ketidakpercayaan,
www.facebook.com/indonesiapustaka

dan meyakinkan dia bahwa sebenarnya, memang itulah yang terjadi.


Tuannya tak akan bisa ditolak. Orang tuanya akan diberi kekayaan
selama sisa hidup mereka—dan ia menunjukkan tas penuh perak
yang ia bawa untuk membayarnya. Melihat itu, ibunya pucat, dan
ayahnya, yang punggungnya menjadi kaku akhir-akhir ini sehingga
ia sulit membungkuk untuk menebar jaring, berteriak kegirangan.

35
Mike, Linda, dan Louise Carey

Dan Fouad, yang tiba-tiba tidak lebih dari sekadar abangnya, berdiri
diam, wajahnya seabu-abu bumi yang kering.”
Suara Guurson menjadi lebih pelan dan lebih berat. Ia berhenti
sekarang, dan menutup matanya seolah-olah cerita itu telah selesai.
“Teruskan!” teriak Soraya. “Apakah ia pergi ke Bessa? Apa yang
Fouad lakukan?”
“Apa mau dikata?” Gursoon menghela napas. “Sultan menghen-
dakinya. Keesokan harinya sang kurir menempatkan gadis itu di atas
salah satu untanya, dan ia mengucapkan selamat tinggal kepada orang
tuanya, yang masih terpana dengan kehilangan dan nasib baik mereka.
Ia tidak bisa menemui Fouad. Mungkin ia sedang menyaksikan dari
kejauhan.”
“Dan ia tak pernah melihatnya lagi!” desah Huma, matanya
berkabut.
Gursoon menaikkan alis. “Apakah aku mengatakan itu?”
Soraya menyodok Huma dengan keras, dan mereka menutup
mulut mereka.
“Kalian tahu istana itu. Bagi seorang gadis dari sungai, istana itu
menakutkan. Ukurannya sangat besar baginya. Ada begitu banyak
ruangan! Ia tidak bisa membayangkan di dalamnya dari luar. Namun
para perempuan lain paham: mereka menjelaskan kepadanya ketika ia
bertanya dan meninggalkannya sendiri ketika ia menangis. Salah satu
dari mereka menyampaikan kabar kepada sang sultan bahwa gadis
baru masih bersedih untuk keluarganya, dan ia memberinya waktu
dua minggu sebelum memanggilnya. Dan ketika ia melakukannya .
. . ia tidak begitu tua, tidak juga gendut. Tidak pada saat itu. Dan
ia tidak brutal... ia memiliki perilaku yang sempurna, selalu.
“Jadi gadis itu sekarang anggota harem. Selalu ada cukup makanan,
dan tempat tidur empuk dan taman-taman yang indah, kemewahan
yang tidak pernah ia bayangkan. Pada saat itu, ia belajar untuk hidup,
tidak dengan bahagia tapi dengan damai. Para perempuan di sekitarnya
www.facebook.com/indonesiapustaka

kadang-kadang bergosip dan bertengkar, tapi kebanyakan baik, dan


mereka membantunya menyampaikan pesan kepada ayah dan ibunya,
membayar salah satu ahli tulis sultan dengan sebuah gelang. Kabar
datang dari orang tuanya yang kini menjadi orang terhormat. Mereka
tinggal di rumah terbesar di kota itu, dengan dua pelayan. Mereka
tidak mengatakan apa pun tentang Fouad.

36
Kota Sutra dan Baja

“Pada awalnya, sultan memanggilnya hampir tiap malam, tapi


kemudian menjadi tidak terlalu sering. Ia masih menjadi salah satu
kesayangannya, tapi ada seratus gadis dan perempuan di dalam
harem. Dan ia memiliki masalah lain yang menyulitkannya: ada
perselisihan tanah dengan sultan tetangga dan persiapan untuk
sebuah perang. Dari balik jendela, gadis-gadis yang lebih muda di
seraglio akan melihat ke luar pada laki-laki yang baru direkrut yang
sedang berlatih di lapangan. Satu hari gadis itu melihat Fouad di
antara mereka. “Fouad tidak melihatnya. Ia sedang memasang anak
panah pada busurnya, merengut memusatkan perhatian pada kantong
jerami. Ia tahu pandangan itu dengan baik: kerutan konsentrasinya
ketika sebuah tugas menyerapnya.
“Namun ia datang ke sana hanya untuk menemuinya. Ketika
gadis itu diambil darinya, ia menunggang kuda masuk ke gurun,
ingin melupakan hidupnya. Namun setelah beberapa hari atau minggu
mengembara, kuda betinanya digigit ular dan lumpuh, dan ia tahu ia
mesti kembali ke sukunya. Kuda itu pulih, tapi Fouad tidak bisa lagi
menetap dengan cara lamanya. Ketika sukunya datang ke tanah-tanah
di sekitar Bessa, ia tahu bahwa sultan membayar laki-laki muda untuk
berperang demi dia, dan ia menjadi sukarelawan, membuat abang
dan pamannya marah. Ia telah berada di sana selama hampir satu
bulan ketika gadis itu melihatnya, berlatih sebagai tentara jalan kaki.
Sukunya tak akan membiarkan dia membawa salah satu dari kuda-
kudanya karena tindakan keras kepala itu, dan para kapten sultan
tak mempercayai rekrut baru untuk menunggang kuda, seberapa
pun ahlinya dia.”
“Tapi, Bibi,” Soraya protes, “bagaimana gadis itu tahu semua
tentang bagaimana perasaan Fouad, dan apa yang dipikirkan paman-
pamannya? Apakah dia menceritakan kepadanya?”
“Apakah ini ceritamu?” Gursoon berkata. “Tunggu dan dengar!
“Dari pagi itu dan selanjutnya, gadis itu menemukan cara untuk
www.facebook.com/indonesiapustaka

menonton lapangan latihan setiap hari, dari menara di atas tempat


tinggal para perempuan, atau melalui cabang-cabang pohon di kebun.
Pada salah satu dari hari-hari itu, Fouad mendongak, dan matanya
bertemu mata laki-laki itu. Namun ia tak pernah bisa berbicara
kepadanya. Dan terlalu cepat semua lelaki itu berbaris ke gurun
pasir. Ia melihat Fouad berbalik sekali dan mendongak ke menara di

37
Mike, Linda, dan Louise Carey

mana para perempuan disembunyikan. Kemudian ia pergi bersama


yang lain.
“Nah, itu adalah saat yang buruk. Tapi ia segera melihat bahwa
dirinya tak sendiri. Gadis-gadis lain di dalam harem juga resah, untuk
para saudara atau sepupu mereka. Dan satu atau dua, seperti dia,
tak pernah membicarakan sebuah nama, tapi menyelinap kapan pun
mereka bisa ke jendela menara untuk melihat ke luar ke seberang
gurun. Bersama mereka, ia berteman dalam kepedihan dan ketika
mereka bicara, kebencian muncul dalam diri gadis itu terhadap
urusan perang.
“Setelah berbulan-bulan para lelaki itu mulai kembali. Hampir
setahun sebelum Fouad pulang. Ia berjalan pincang, dan ia memiliki
luka besar di lengannya, tapi jantung gadis itu melompat melihatnya. Ia
tahu dengan cukup baik sekarang cara-cara harem agar bisa berbicara
dengannya. Ia tidak lagi berguna untuk peperangan, katanya, tapi
karena pengabdiannya yang setia ia diberi pekerjaan di kandang
kuda sultan. Dan ia tinggal di sana. Ia memiliki keahlian yang jarang
dengan para binatang itu, dan kepala istal menghargainya begitu
besar sehingga ia diberi rumah bersama para pelayan istana.
“Jadi masa kesedihan gadis kita telah berlalu, tapi ia belum bisa
gembira. Ia memiliki banyak teman sekarang, dan beberapa dari
mereka bersedih. Tak seorang pun seberuntung dia, bisa melihat
orang yang ia cintai dari dekat dan tahu ia baik-baik saja. Dan sultan
mereka adalah orang yang menjaga kehormatannya dengan sengit,
sesensitif kobra: ia selalu memperebutkan tanah, dan embusan napas
penghinaan sedikit saja bisa memancingnya untuk perang.”
Soraya menancapkan pandangan tajam kepada Jamal. Tapi ia
dan Zuir telah pergi menjauh dan sedang melempar batu-batu ke
dalam api unggun.
“Itulah saat sebuah tujuan baru menghampiri kehidupan gadis
itu,” Gursoon melanjutkan. “Ia berbicara dengan gadis-gadis lain, dan
www.facebook.com/indonesiapustaka

mengetahui kesenangan apa dan makanan apa yang disukai sultan;


apa yang membuatnya marah dan apa yang menenangkannya. Dan
pada saat ia dikunjungi utusan sultan tetangga, dan mengusir laki-laki
itu ke luar ruangan dan masuk ke ruang kerjanya sambil mengutuk,
para perempuan itu siap. Mereka menangkap utusan itu sebelum ia
bisa pergi, memberinya makanan yang enak dan keramahan lain dan

38
Kota Sutra dan Baja

memulangkannya kembali ke majikannya dengan jawaban yang lebih


manis.
“Gadis itu sendiri, sementara itu, mengunjungi sultan dengan
anggur manis dan pandangan yang lembut. Pada hari-hari selanjutnya
ia membekali diri dengan apa pun yang membuat sultan senang: ia
menari untuknya, dan belajar bermain catur. Ia mendengarkan ketika
sultan mengutuk para tetangganya yang perebut dan tanggung jawab-
nya yang berat, dan memberinya jawaban-jawaban yang lembut. Dan
pada saatnya, selama berbulan-bulan, sultan percaya kepadanya, dan
memanggilnya kapan pun ia bermasalah, mengetahui bahwa ia akan
mendengarkannya.
“Seisi rumah tangga tahu apa yang harus dilakukan. Kapan
pun tuan mereka marah, ia ditawari makanan-makanan terbaik dan
musik-musik termerdu, dan semua orang memberi jalan di depannya
hingga ia melunak, merasakan bahwa di sini setidaknya, ia memiliki
kehormatan yang menjadi haknya. Kemudian para perempuan itu
menyatakan bahwa tuan mereka mungkin menunjukkan kebesarannya
kepada para tetangganya dengan mengundang mereka ke pesta-
pesta ketimbang ke peperangan. Dan ketika sultan-sultan lain di
sekitarnya datang ke istana, mereka mendapati sambutan begitu
rupa sehingga mereka juga merasa sejuk. Sultan menjadi terkenal
karena keramahannya yang luar biasa, dan selama bertahun-tahun
kemudian perdamaian terjalin di antara kerajaan.
“Begitulah ceritanya. Itulah bagaimana seorang gadis desa yang
miskin bangkit menjadi salah satu yang menguasai sultan.”
Anak-anak merenungkan kisah ini sejenak. Ini bukan jenis akhir
cerita yang biasa mereka dengar.
“Terima kasih, Bibi,” kata Soraya pada akhirnya. “Itu cerita yang
bagus.”
“Namun belum selesai!” Huma keberatan. “Apa yang terjadi de-
ngan Fouad?”
www.facebook.com/indonesiapustaka

“Fouad? Ia hidup, menjadi tua. Ia naik pangkat menjadi kepala


istal, dan tak pernah berperang lagi.”
“Dan mereka benar-benar menghentikan perang untuk selamanya?
Hanya dengan menjadi baik kepada sultan?”
“Apakah aku mengatakan itu? Tidak, perang selalu kembali.
Mereka menjaga perdamaian untuk sementara, itu saja. Cukup lama
untuk Fouad, tidak untuk anak-anaknya.”
39
Mike, Linda, dan Louise Carey

“Fouad punya anak?” Soraya terkejut. “Lalu, apakah ia menikahi


orang lain?”
“Tidak,” jawab Gursoon pendek. “Ia setia pada cinta pertamanya.”
“Tapi dalam hal ini,” Huma protes, “di mana anak-anak ….’”
Gursoon adalah kesayangan Soraya di antara para bibi, tentu saja.
Namun kadang-kadang ia mempunyai cara memandang kalian yang
mengerikan, seperti elang sultan ketika kau terlalu dekat dengannya.
Ia menggunakan pandangan itu sekarang pada gadis-gadis itu.
“Sang Pencipta memberinya,” katanya.
Soraya dan Huma bertukar pandang dan terdiam.
Ada keributan kecil di seberang api. Ibu Zuir menyeret putranya
dan Jamal kembali ke tempat mereka, memarahi mereka dalam
bisikan yang mengerikan. Mereka terlalu jauh melempar batu-batu.
Salah satu laki-laki di api besar itu berdiri, melihat di sekitarnya dan
berteriak dengan marah. Soraya berpegang pada paha Gursoon yang
lembut; semua orang tiba-tiba sangat hening. Kemudian penjaga yang
lain mengatakan sesuatu dalam nada yang mencemooh, dan mereka
semua tertawa. Laki-laki yang berdiri mengangkat bahu dan duduk
lagi.
Tak seorang pun merasa ingin bicara lagi. Mereka melihat bentuk-
bentuk besar para lelaki itu melalui cahaya, tak menghendaki mereka
berbalik lagi. Akhirnya Zuir memecahkan kesunyian dengan suara
yang sekasar jangkrik.
“Apa yang dilakukan para laki-laki itu terhadap kita, Bibi?”
“Tak ada yang buruk,” kata Gursoon yakin. “Mereka terlalu takut
untuk tidak mematuhi tuan mereka. Mereka akan membawa kita ke
Perdondaris seperti yang diperintahkan kepada mereka, dan kita akan
bergabung dengan rumah tangga baru. Ada aturan-aturan untuk hal
seperti itu. Khalifah akan menghormati aturan-aturan itu: ia akan
memberi kita sebuah tempat.”
“Ia akan melakukan lebih dari itu!” Jamal menyela. “Ketika ia
www.facebook.com/indonesiapustaka

mendengar siapa aku, ia akan memberi penghargaan kepada kalian


semua karena menyelamatkanku. Dan ia akan membantuku membalas
dendam.”
Jika Soraya duduk lebih dekat dengan Jamal, ia akan menendang-
nya. Gursoon memasang pandangan elangnya pada Jamal, tapi anak
bodoh itu tampaknya tidak memperhatikan. “Kalian menyelamatkan

40
Kota Sutra dan Baja

seorang pangeran dari garis keturunan Al-Bokhari,” katanya. “Kalian


bisa meminta apa pun yang kalian ingin, aku berani bilang.”
Ketika Gursoon berbicara, suaranya lebih kasar daripada yang
Soraya pernah dengar. “Kami menyelamatkan seorang anak,” katanya.
“Tidak lebih.” Jamal melongo dan Halima, salah satu bibi baru yang
biasanya terlalu malu berbicara di dekat Gursoon, berani memprotes.
“Oh tidak, Kakak.”
“Ya!”kata Gursoon. “Hakkim Mehdad baru saja membunuh
seorang sultan, di sebuah kota yang pertahanannya bagus. Dan para
istrinya, dan para putranya, dan para pengawalnya. Ia mengirim
kita sebagai hadiah, tapi juga untuk menunjukkan apa yang bisa ia
lakukan terhadap para musuhnya. Dan Khalifah Kephiz Bin Ezvahoun
tak memiliki alasan untuk melibatkan diri dalam perang-perang
kota lain. Apakah kau pikir ia bahkan akan menerima kita jika kita
datang membawa masalah seperti ini?”ia melotot penuh pada Jamal.
“Kau tak akan berkata apa-apa di Perdondaris, Nak—kecuali kau
lebih bodoh dari yang pernah kukira tentangmu.” Kepada Halima ia
menambahkan, dalam nada yang lebih lembut, “Kehidupan itu telah
usai, Sayang. Keluarkan itu dari pikiranmu.”
Mata bibi tua itu mengilat: Soraya tak bisa mengatakan apakah
itu karena marah atau air mata. Di api besar, beberapa tentara
bangkit, dan melihat sekilas ke arah mereka. Gursoon juga bangkit,
dan memberikan tanda ke arah barisan tenda-tenda darurat, yang
didirikan sejauh mungkin dari tenda-tenda para tentara.
“Anak-anak, kini saatnya kalian tidur,” katanya. “Ambil tenda
yang terdekat dengan api; Aku akan mengambil selimut-selimut buat
kalian. Besok akan menjadi hari yang sulit.”
Tak bijaksana untuk tidak mematuhi Gursoon ketika ia berbicara
seperti itu. Para gadis mengucapkan selamat malam yang singkat dan
berlari ke tenda-tenda.
Dan begitu percakapan api unggun padam, satu demi satu, malam
www.facebook.com/indonesiapustaka

gurun membungkus mereka dalam keheningannya.

41
Mike, Linda, dan Louise Carey

Cangkir yang
Mendarat Tegak,
Bagian Pertama

Ketika Bessa surut di belakang mereka, dan gurun pasir yang luas mem-
buka tangannya untuk merengkuh mereka, ketakutan dan penderitaan
para perempuan dan anak-anak itu sedikit mereda. Mereka belum bisa
berdamai dengan kehilangan mereka, atau dengan kehidupan baru yang
kini menunggu mereka, tapi setidaknya mereka bisa merenungkan
keduanya tanpa keputusasaan mutlak. Yang terbijaksana di antara
permpuan itu memikirkan nasib para istri dan pewaris sultan, dan
merenungkan bahwa segalnya bisa jauh lebih buruk. Kapan pun
seseorang berpikir ”segalanya bisa jauh lebih buruk,” tampaknya Sang
Pencipta melihatnya sebagai sebuah tantangan pribadi.
Di Bessa, istana sultan masih bergejolak akibat dari sebagian besar
kegiatan yang tak selaras. Datar mereka yang dihukum mati sebagai
musuh-musuh rezim baru dibuat dalam hitungan jam, dan kemudian
www.facebook.com/indonesiapustaka

diralat dalam hitungan menit. Banyak eksekusi sesungguhnya terjadi,


sebagian besar di antaranya ad hoc dan berdasarkan jawaban cepat
untuk pertanyaan-pertanyaan ya/tidak. Apakah kau melayani sultan
lama? Apakah kau tinggal di sini di dalam istana? Apakah kau setia
pada rezim baru? Apakah kau mabuk atau berzina?

42
Kota Sutra dan Baja

Sang pengasuh anak, Sharissia, menundukkan kepalanya, seperti


yang diperintahkan kepadanya, dan di mana pun ia melihat laki-laki
dengan datar-datar itu dan ekspresi-ekspresi sungguh-sungguh
berjalan ke arah lain. Posisinya secara efektif berakhir dengan pem-
bantaian para istri dan anak-anak Bukhari al-Bukhari. Ingatan tentang
kengerian itu masih segar dalam pikirannya, dan ia ingin sekali keluar
dari gerbang istana itu dan tak pernah menoleh kembali. Namun
gerbang-gerbang istana dijaga laki-laki berwajah seram dengan baju
hitam dan pedang-pedang tanpa sarung: Sharissia tak ingin harus
melewati mereka dan berpotensi menjawab pertanyaan-pertanyaan
aneh tentang tugas-tugasnya yang dulu.
Jadi dia tetap diam, melakukan penyamaran-penyamaran seperti
yang dilakukan burung-burung unta.
Pada hari ketiga setelah kudeta, seorang pelayan penggoda
meneriakkan perintah kepadanya sambil berlari-lari ke pintu sebuah
ruang penyimpanan di mana ia sedang berpura-pura menghitung
toples-toples minyak zaitun. “Bawakan Yang Mulia sekendi air!
Sekarang!”
Dengan berat hati, Sharissia mematuhi. Ia mengisi sebuah kendi
di dapur, meletakkannya di atas sebuah nampan dengan cawan
timah, dan membawanya ke ruangan singgasana. Para penjaga me-
lirik kepadanya sekali dan menyingkir tanpa menanyainya. Dalam
hitungan detik, jauh sebelum ia secara mental menyiapkan diri, ia
telah berada di hadapan sultan baru.
Dalam beberapa hal, sang sultan tak semenakutkan yang ia
bayangkan. Ia jauh dari sosok seorang monster, tentu saja: bertubuh
langsing dan tidak terlalu tinggi. Namun wajahnya yang seram mem-
buatnya takut, pada saat yang bersamaan. Atau mungkin hanya karena
ia mengenakan jubah hitam, ia lebih mirip seorang algojo. Apa pun,
tangan-tangannya gemetar ketika ia menaruh kendi itu di depannya.
Hakkim Mehdad mengangguk kaku, mengisyaratkan gadis itu
www.facebook.com/indonesiapustaka

harus menuangkan air untuknya. Ia mengangkat kendi, tapi tangan-


tangannya mengkhianatinya. Tak mampu menahan getaran tangan-
tangan itu, ia menyipratkan air di bagian depan jubah sang sultan.
Hakkim Mehdad mendecakkan lidahnya dengan tak sabar,
dan mengibaskan tangannya menyuruh gadis itu meninggalkannya.
Terpaku di tempat karena ketakutan, ia tidak melakukan apa pun.
Seorang penjaga maju untuk membawanya pergi.
43
Mike, Linda, dan Louise Carey

Ketika tangan penjaga itu mencengkeram bahunya, Sharissia


meronta dan nyaris jatuh pingsan. Yakin ia akan dibunuh, Sharissia
memohon dan menawar demi nyawanya dengan semburan kata-kata,
yang keluar tanpa terkontrol seperti air yang dia tuang. “Saya tak
melakukan kesalahan! Saya akan melakukannya lebih baik! Saya dilatih
untuk ruang pengasuhan anak, bukan untuk ruang singgasana! Saya
memiliki ibu yang sudah tua, dan ia tak bisa bertahan tanpa saya!”
Sang penjaga telah menyeretnya ke arah pintu, dan seperti yang ia
pikir, ke eksekusi. “Saya tahu di mana putra mahkota Jamal berada!”
Sharissia memekik.
Hakkim Mehdad melihat pada gadis itu untuk pertama kalinya.
“Berhenti,” ia memerintahkan penjaga.
Penjaga itu melepas gadis tersebut, yang jatuh berlutut di depan
sultan dan melakukan serangkaian sembah hina. Bahkan tanpa di-
tanya, Sharissia menceritakan kisahnya tanpa pikir panjang: tentang
bagaimana Oosa datang kepadanya dan menyerahkan putranya
kepadanya dan memerintahkan lari bersama putranya ke seraglio;
tentang bagaimana Nyonya Gursoon telah menerimanya dan berjanji
untuk menyembunyikannya; tentang Hakkim yang paling pengampun,
berkati dia, oh berkati dia, telah menjadi yang paling dikhianati. Oleh
para selir dan pelacur!
Hakkim mendengarkan tumpahan kata-kata ini dengan tenang
dan diam, alisnya berkerut serius. Tak perlu menyuruh gadis ini
disiksa—ceritanya hanya terlalu masuk akal, dan di luar akal sehatnya
untuk mengarangnya. Ia memerintahkan para penjaga untuk mem-
bawanya pergi dan memenjarakannya; mungkin saja, meskipun
kecil kemungkinan, bahwa ia akan perlu menanyainya lagi nanti.
Yang dilakukan, ia memanggil seorang juru tulis dan seorang kurir.
Juru tulis tiba pertama, Hakkim mendiktekan sebuah surat yang
memerintahkan eksekusi segera semua selir, anak-anak mereka, dan
semua pelayan yang masih bersama mereka. Tak ada waktu untuk
www.facebook.com/indonesiapustaka

tindakan setengah-setengah.
Kurir tersebut segera tiba setelah itu. Ia seorang pria yang angkuh
dan sok penting, yang sangat menyukai tunjangan-tunjangan yang
mengikuti pekerjaannya dan suaranya sendiri. Ia salah satu dari
banyak orang yang bergabung dengan gerakan sang Pertapa ketika
menjadi jelas ke mana arah angin bertiup, tapi tidak memiliki sim-

44
Kota Sutra dan Baja

pati naluriah terhadap tujuan-tujuannya. Ia memulai pidatonya


yang merangkum harapan-harapan baiknya untuk rezim baru dan
keinginannya untuk melayani dengan kemampuan terbaiknya hingga
napas terakhir di tenggorokannya. Sebelum ia sampai separuh jalan
kalimat pertamanya, Hakkim Mehdad menyodorkan surat tersegel
ke dalam tangannya. “Berkudalah dengan kecepatan penuh ke arah
Perdondaris,” ia memerintahkan utusan yang ciut.
“Cari konvoi yang berangkat dua hari lalu, dan berikan ini ke
sang utusan, En-Sadim.”
“Sesuai harapan Yang Mulia,” sang kurir bergumam, membungkuk
rendah.
Ketika ia mundur ke arah pintu, sambil terus membungkuk,
Hakkim melemparkan perintah-perintah lanjutan padanya. “Tetap di
sana untuk melihat eksekusi itu selesai. Dan kemudian bawa kabar
padaku, di sini. Segera. Tak peduli siang atau malam.”
Pentingnya tugas ini menyanjung perkiraan sang kurir tentang
nilai dirinya, yang memang sudah tinggi. Ia benar-benar bangga
ketika keluar dari ruang Sultan, memunggungi pintu sehingga ia
bisa terus membungkuk hingga saat terakhir.
Kemudian ia pergi ke istal dan meminta, dengan cerewet, kuda
yang paling cepat yang bisa membawanya dengan segera.
Di gurun yang luas, sementara itu, terjadi peristiwa lain yang
kelak terbukti sarat dengan konsekuensi.
Utusan En-Sadim, penuh nafsu dan terdorong godaan-godaan
yang selalu hadir, memutuskan menyerah pada hal yang tak ter-
hindarkan.
Ia, tentu saja, tidak merencanakan situasi ini dengan terang-
terangan. Ia dikelilingi perempuan-perempuan cantik, jauh dari istri-
nya sendiri dan kediamannya, dan tampak baginya—melihat segala hal
dalam jangka panjang dengan sepenuhnya objektif—bahwa ini adalah
kejahatan tanpa korban. Di Bessa, para selir milik sultan Hakkim. Di
www.facebook.com/indonesiapustaka

Perdondaris, mereka milik khalifah Bin Ezvahoun. Namun di sini di


gurun pasir, mereka beban dan tanggung jawabnya seorang. Siapa
yang bisa menyalahkannya jika ia mencicipi barang dagangan itu?
Tentu, hal itu berada dalam batasan-batasan deskripsi pekerjaannya?
Perempuan yang dibawa En-Sadim ke dalam krisis mental ini
bernama Zulaika. En-Sadim mengamatinya sejak hari pertama, dan

45
Mike, Linda, dan Louise Carey

tak pernah gagal memperhatikannya sesering yang ia bisa setelah


itu.
Zulaika bertubuh ramping—nyaris terlalu ramping, tapi tulangnya
yang kokoh dan liat menyiratkan kemungkinan-kemungkinan atletis
dalam bercinta. Payudaranya kecil, tapi kencang. Matanya besar dan
gelap, dan rambutnya ikal dan hitam sepanjang bahu. Di wajahnya
ada ketenangan kontemplatif yang lebih menggairahkan ketimbang
cebikan paling panas. Perempuan ini akan menarik engkau ke dalam
ketenangannya dan menunjukkan engkau badai-badainya.
Sang utusan membayangkan bila ia mengambil Zulaika di antara
para selir dan menjadikannya sebagai pelayannya: tapi sayang, itu
hanya tinggal bayangan. Istri En-Sadim akan membunuh keduanya
atas bukti penampilan Zulaika saja, dan Khalifah Perdondaris hampir
pasti memiliki juru-juru tulis yang bisa menghitung. Tidak, itu tidak
akan terjadi.
Namun gurun yang luas seperti sebuah kekhalifahan sendiri,
dengan hukum-hukum dan adat-adatnya sendiri. Dalam perjalanan
ini, setidaknya, En-Sadim bisa menikmati ditemani Zulaika tanpa
teguran.
Dan begitulah, ketika mereka menghentikan perjalanan mereka
di hari ketiga dan berhenti untuk bermalam di oasis Khuzaymah,
En-Sadim memanggil kapten penjaga, seorang laki-laki pendiam dan
sabar bernama Numair, dan memerintahkannya untuk membawa
gadis itu kepadanya.
Numair mengenal dengan baik para wakil penguasa, dan ini
bukan yang pertama ia dipanggil untuk berperan sebagai mucikari.
Tanpa banyak tanya, tapi juga tanpa protes dan keraguan, ia memberi
hormat dan pergi mencari perempuan cantik yang diminta, dibekali
dengan namanya dan deskripsi yang agak menyeramkan.
Semenit kemudian, sosok yang langsing dan pendiam sedang
berdiri di jalan masuk tenda sang utusan. Zulaika membungkuk
www.facebook.com/indonesiapustaka

kepada En-Sadim, bukan rendah tapi sopan. “Anda memanggil saya,


Yang Mulia,” bisiknya. Suaranya dalam, tidak merdu tapi dengan
keparauan yang sangat merangsang. En-Sadim mengangguk. “Tutup
daun pintu tenda itu,” katanya. “Dan kemarilah.”
Gadis itu mematuhinya.
“Kau Zulaika,” kata En-Sadim kepadanya.

46
Kota Sutra dan Baja

“Ya, Yang Mulia.”


“Apakah kau bermain buzuq, atau simsimiyya?”
“Yang Mulia, tidak.”
“Beberapa alat musik lain, mungkin?”
“Saya tidak mempunyai alat musik, Yang Mulia.”
“Apakah kau bernyanyi? Mendongeng?”
“Tidak juga.”
“Tapi pasti ada hal yang bisa kau lakukan?”
Zulaika menegakkan kepalanya dan memandang matanya—secara
provokatif, En-Sadim berpikir, tapi kemudian ia menganggapnya
provokatif jika Zulaika bersin.
“Banyak hal,” kata Zulaika.
En-Sadim menyentuh pipinya. “Lakukan yang pertama dari
banyak hal itu,” katanya. “Dan teruskan datarnya hingga aku menga-
takan berhenti.”
“Anda punya minyak-minyak aromatik?” Zulaika bertanya.
Minyak-minyak sepatutnya dibawa, dan ia mulai serius.
Sementara utusan En-Sadim sedang dibawa ke kaki bukit
kesenangan, Kapten Numair melihat sebuah kolom tipis debu be-
berapa mil jauhnya di belakang konvoi. Bagi matanya yang terlatih,
gumpalan itu menyiratkan seorang pengendara kuda yang bergerak
cepat. Matahari masih satu jam lagi terbenam, dan seorang pengendara
kuda lebih mungkin seorang kurir ketimbang ancaman, tapi ia
mengerahkan penjaga dan mengirim dua orang untuk bertemu
dengan tamu tak diundang mereka.
Mereka kembali, sesaat kemudian, dengan mengapit kurir berkuda
Mehdad.
Sang kurir turun dan memperkenalkan diri kepada Kapten
Numair. Ia melakukannya dengan sedikit kesombongan, karena ia
mengenakan warna-warna sultan pada ikat pinggangnya, dan segel
sultan sangat jelas tertera pada surat yang ia bawa. Semua orang bisa
www.facebook.com/indonesiapustaka

melihat bahkan dengan pandangan sekilas bahwa ia seorang pria yang


serius untuk tugas yang serius.
“Di mana utusan En-Sadim?”ia menuntut. “Aku membawa perin-
tah dari yang tercerahkan.”
“Yang patut dihormati En-Sadim tidur di tendanya,” Numair
mengulur waktu. Ia tahu bahwa bukan itu yang terjadi: ia membawa

47
Mike, Linda, dan Louise Carey

selir muda yang cantik ke dalam tenda sang utusan setengah jam
kurang, dan ia memperkirakan, setidaknya, akan sejam atau lebih se-
belum urusan di antara mereka selesai. Namun, ia tak ingin menyebut
hal-hal ini. Meskipun kesenangan utusan dengan perempuan cantik
tidak dilarang secara jelas, tampaknya tak mungkin sultan baru akan
menyetujuinya. Setidaknya, ini adalah situasi yang aneh.
Sang kurir mengesampingkan keberatan itu, menunjukkan ke-
tidaksabaran.
“Jadi, bangunkan dia,” ia membentak. “Urusanku tak bisa me-
nunggu.”
Numair mengangguk dengan enggan. “Baiklah,” katanya. “Tunggu
di sini, dan saya akan membawanya.”
“Tunggu?” sang kurir mengulang. “Aku dikirim ke sini bukan
untuk menunggu! Yang mana tenda sang utusan? Beri tahu aku!”
Sang kapten tahu lebih baik tidak menunjuk, tapi secara tidak
sadar matanya malah menjawab pertanyaan itu. Sang kurir mengikuti
arah pandangan ke yang terbesar dari paviliun sutra, dan melangkah
cepat ke arah itu. Dengan malu, Numair mengiringinya.
“Aku akan bilang kepada yang dimuliakan En-Sadim bahwa kau
ada di sini,” katanya, melangkah sedikit di depannya.
“Aku akan mengumumkannya sendiri,” sang kurir membalas
dengan cepat.
Numair condong ke depan dengan cepat. Sang kurir, yang
menolak dikalahkan, jadi berlari-lari. Mereka melesat bersama me-
lewati para pengawal yang terkejut, mereka sedang beristirahat di
tempat yang jauh dari pintu masuk paviliun itu, dan menerobos ke
dalam tenda dengan teriakan panik dari tata krama yang kasar.
“Kurir yang tercerahkan Hakkim Mehdad!” Numair berkata
tanpa berpikir.
“Maakan atas gangguanku yang tak sopan!” teriak kurir.
Tiba-tiba keduanya berhenti pada titik itu, memandang adegan
www.facebook.com/indonesiapustaka

di depan mereka. Zulaika sedang berlutut di hadapan sang utusan,


setengah telanjang hingga pinggang, memanjakannya dengan tangan-
tangannya. Berbagai guci dan botol-botol minyak beraroma wangi
berderet, dan jari-jarinya yang berkilau-kilau telah diminyaki. Asap
wangi dari sebuah anglo kecil mengepul dengan lembut di sekitar
mereka, membuat tirai godaan yang tidak menyembunyikan satu

48
Kota Sutra dan Baja

detail pun dari tindakan yang terungkap. Kapten Numair pucat. Sang
kurir menggelepar, baru kali ini dalam hidupnya berhadapan dengan
sebuah situasi yang tampaknya tak bisa ditutupi protokol apa pun.
Zulaika tidak tampak malu mendapati dirinya tampil di depan
penonton. Ia benar-benar mengabaikan para pendatang baru seolah
mereka tidak berada di sana. En-Sadim tidak demikian. Ia menger-
nyitkan dahi secara mengerikan, dan setelah sejenak-dia meminta
Zulaika menghentikan pekerjaannya dengan menyentuh lembut
bahunya. Dia membungkukkan kepala, tenggelam dalam keheningan
yang sopan.
“Apa-apaan ini?” En-Sadim mendesak dengan nada angkuh.
Pada titik itu, sang kurir menyadari bahwa ia telah melewati
batas-batas kedudukannya. “Aku mengemban sebuah pesan,” katanya,
suaranya bimbang, “dari Hakkim Mehdad sendiri. Ia memintaku
untuk tidak menunggu tapi menyampaikannya padamu segera, secara
langsung.”
Yang terakhir ini murni karangan, tapi sang kurir berpikir itu
mungkin bisa menghilangkan kemarahan yang ia baca di wajah En-
Sadim. Dengan terlambat, ia memberi anggukan kepatuhan, yang
paling buruk dan paling tidak meyakinkan yang pernah ia lakukan.
“Sebuah pesan?” En-Sadim menggeram. “Kau masuk ke tendaku
seperti seorang bajingan dan memberikan sebuah pesan?”
“Sebuah pesan paling penting,” sang kurir melemah, berusaha
untuk berpegang pada sedikit cabikan martabatnya.
Mata En-Sadim menyipit. “Dan apa yang dimaksud dengan pesan
mendesak ini?”ia bertanya.
Sang kurir melihat pada gulungan kertas, kemudian menyerah-
kannya untuk diperiksa En-Sadim.
“Ini tersegel,” ia menunjuk.
“Jadi, bukalah.”
Sang kurir melakukannya, dengan jari-jari yang agak gemetar.
www.facebook.com/indonesiapustaka

“Kini bacakan itu untukku. Dan jika kepentingannya sesuai


dengan besarnya penghinaanmu, aku akan menyelamatkanmu dari
cambukan yang pantas kau dapat.”
Sang kurir tersentak mendengar kata cambuk. Ia melihat ke
arah penutup tenda, dan untuk sesaat sepertinya ia mungkin akan
berbalik dan lari, tapi Kapten Numair berdiri kokoh dengan caranya,

49
Mike, Linda, dan Louise Carey

lengan terlipat, dan bagaimanapun ia tahu bahwa ketika berada di


tenda En-Sadim, ia berada dalam kekuasaan En-Sadim. Tak ada jalan
keluar.
“Kepada utusan En-Sadim,” ia membaca, dengan malang, “dari
Yang Mulia, yang tercerahkan Hakkim Mehdad. Ada dalam tanggung
jawabmu, di antara anak-anak seraglio, seorang pangeran sah dari
garis darah Bukhari al-Bukhari, mantan penguasa Bessa, kini dibenci
dan tak boleh disebut namanya...’”
Sang kurir memelan, terperangkap dalam kontradiksi. Bukankah
ia baru saja membaca nama mantan sultan? Dan apakah itu sebuah
dosa? Tentu tidak, karena ia sedang membacakan kata-kata Sang
Tercerahkan, ini pembelaan yang tak bisa disangsikan.
Utusan itu tampaknya tidak memperhatikan kesalahan tata
bahasa. Di belakangnya, dan dilupakan oleh ketiga laki-laki itu,
Zulaika mengangkat kepalanya dan mendengarkan dengan saksama,
ketika ia mengelap tangannya yang licin dengan hati-hati pada lipatan
roknya.
“Lanjutkan,” En-Sadim membentak.
Sang kurir butuh waktu sesaat untuk kembali ke posisinya lagi.
“Pangeran.... pangeran ini,” bacanya, “tak boleh dibiarkan hidup.
Tidak juga mereka yang telah melindunginya, dalam pembangkangan
terhadap maklumatku. Bunuh perempuan-perempuan harem itu
segera, bersama anak-anak mereka dan para pelayan. Jangan biarkan
seorang pun hidup. Mayat-mayat mereka biarkan ditelan gurun, dan
nama-nama mereka disantap kebungkaman.”
Ini adalah kata-kata terakhir dalam gulungan surat perkamen itu,
tapi sang kurir terus menatapnya seolah akan muncul lebih banyak
kata lagi. Sultan Hakkim tidak menandatanganinya seperti tata cara
yang dituntut protokol, yang tak memberinya penutup yang anggun
dari kalimat mengerikan yang baru saja ia ucapkan.
Seharusnya ia tak perlu risau. Utusan En-Sadim telah mengalihkan
www.facebook.com/indonesiapustaka

perhatiannya ke tempat lain. Ia berpaling pada Kapten Numair, yang


segera bersiaga dan maju, berjalan tegap melewati kurir yang menggigil.
“Kumpulkan pasukanmu,” kata En-Sadim. Wajah dan suaranya
menggeram, tapi ia tidak ciut dari tugas itu: ia seorang diplomat
karier, dan telah melihat dan melakukan yang lebih buruk dari ini.
“Beri mereka perintah secara keseluruhan, dan secara sendiri-sendiri,

50
Kota Sutra dan Baja

kemudian perintahkan mereka membagi dua para perempuan dan


anak-anak menjadi kelompok-kelompok kecil untuk menjamin
bahwa—”
Ia berhenti di tengah-tengah kalimat, terganggu oleh sebuah ke-
jadian yang tak terduga. Zulaika, membuat semua yang hadir terpana,
saat itu memilih untuk bangkit. En-Sadim berpaling untuk melihat
padanya, bingung.
“Kembali ke tempatmu,” katanya, dengan sedikit kelembutan
dalam suaranya. “Kau setidaknya tak akan mati hingga menyelesaikan
tugas-tugas yang membuatku memanggilmu ke sini.”
“Tuan yang agung,” kata Zulaika dengan suara rendah, “izinkan
saya memohon pengampunan untuk saudari-saudariku dan untuk
anak-anak. Jika engkau membiarkan kami pergi bebas ke gurun, kami
tak akan kembali, dan sultan tak akan pernah tahu bahwa perintahnya
dalam surat itu tidak ditaati.”
En-Sadim tampak seperti kena tulah, kemudian marah. “Kau
tak boleh bicara sebelum giliranmu,” katanya. “Berlutut. Aku akan
segera kembali padamu.”
“Tuan yang agung,” Zulaika berusaha lagi, “Aku memohon
engkau tidak melakukannya. Itu kejahatan yang mengerikan, dan
akan menodai jiwamu dalam keabadian.”
Wajah sang utusan memerah. Ia maju dua langkah yang mem-
bawanya langsung di hadapan sang selir, dan mengangkat tangan
untuk menampar wajahnya. Tindakan itu tidak ditakdirkan selesai.
Zulaika mengelak ke samping dari pukulan itu, kakinya tidak
bergerak tapi tubuh bagian atasnya melentur seperti seekor kobra
melilit. Ia menangkap tangan sang utusan dengan kedua tangannya
sendiri, dan membekuknya di belakang punggung sang utusan,
mematahkan sikunya dengan cepat dan efektif. En-Sadim terempas
berlutut, hilang keberanian karena kesakitan.
Menjangkau di belakangnya, Zulaika mencabut anglo dari pe-
www.facebook.com/indonesiapustaka

nahannya, memegangnya dengan tangan telanjang tanpa meme-


dulikan panas yang hebat. Mulut sang utusan terbuka pada saat itu
untuk apa yang mungkin akan menjadi sebuah teriakan. Sang selir
mengosongkan batu bara panas dan abu-abu yang membara tepat
di antara bibirnya yang menganga dan ia kejang dalam keheningan
yang mencekik, kepalanya menghantam tanah sementara tulang
belakangnya melipat ke depan.
51
Mike, Linda, dan Louise Carey

Dua laki-laki merespons peristiwa mengejutkan ini dengan cara


yang sangat berbeda.
Setelah dilanda ketakjubkan sejenak, Kapten Numair maju
untuk menyelamatkan majikannya; sang kurir, takluk pada dorongan
sama yang hampir menguasainya sebelumnya, berbalik untuk kabur
dari tenda dan berteriak minta tolong. Pertolongan mungkin tidak
diperlukan, karena kapten itu pasti bisa menangani perempuan gila
itu, tapi setidaknya ia sendiri bisa berada di luar jangkauan bahaya
ini.
Zulaika menunduk, menarik belati dari ikat pinggang En-Sadim,
dan melemparnya secepat cambukan cemeti. Itu sebuah belati sere-
monial, dan sangat tidak seimbang. Belati itu menghantam bagian
kepala sang kurir, gagangnya terlebih dulu, merobohkannya hingga
pingsan sebelum ia bisa mencapai daun pintu paviliun itu.
Ini memberikan Kapten Numair waktu untuk meraih sang selir,
tapi saat itu ia tidak berpikir untuk menarik pedangnya. Alih-alih ia
meninjunya, sebuah tonjokan keras tepat di rahang yang ia pikir akan
menjatuhkannya. Namun, tampaknya Zulaika tidak merasakannya.
Ia menikamkan jari-jarinya, seluruh garis, ke tenggerokan sang
kapten, dan kesakitan yang mendadak menusuk dan pecah di dalam
tenggorokannya, seolah menelan sejumlah paku besi.
Ia membuka mulutnya untuk sebuah teriakan yang mungkin
membawa pasukan berlari, tapi tak ada suara yang keluar. Pukulan
pertama itu menjamin bahwa pertempuran akan berjalan tanpa suara.
Sang selir muda berada di atasnya dengan kecepatan yang begitu
memusingkan sehingga ia tampak menjadi tiga atau empat perempuan
yang menempati ruang yang sama, dan hanya baju besi sang kapten
yang menyelamatkannya dari kekalahan kilat dan memalukan. Baiklah,
itu dan sebuah perkiraan untung-untungan yang menyebabkan
ia menaikkan lengannya berjaga-jaga tepat pada waktunya untuk
menangkal hujan pukulan yang melukai yang disasarkan sang selir
www.facebook.com/indonesiapustaka

pada kedua matanya yang tak terlindungi.


Kemudian sang selir menari menjauh sebelum kapten bisa mem-
balasnya, begitu ringan di atas kakinya yang mungkin terbuat dari
balon anak kecil, tak tertambat gravitasi. Numair tidak berpikir untuk
mundur: perempuan ini telah menyerang majikannya, dan tugasnya
untuk menghadapi perempuan ini. Ia tidak membuang pikiran lebih

52
Kota Sutra dan Baja

jauh untuk kemungkinan meminta bantuan—ia tidak punya suara


lagi untuk berteriak, dan ia telah melihat apa yang terjadi dengan
utusan nahas itu ketika berani membalikkan punggungnya pada ke-
kurangajaran itu.
Jadi ia menarik pedangnya dan maju, memutar senjatanya di
depannya dengan teknik-teknik mematikan seperti yang diajarkan
kepadanya. Zulaika mundur, bergerak ke kiri dan ke kanan seolah
berharap menemukan cara melewati pedang yang mengejek. Dengan
berani, Numair menekannya keras-keras, matanya hanya tertuju pada
sosok yang ramping. Ia berada di sudut tenda sekarang, tanpa ruang
untuk mundur.
Kapten mencondongkan diri maju untuk mengirim tusukan
yang mematikan. Zulaika menunduk di bawah pedangnya dan segera
berlutut di depannya. Kemudian ia bangun berdiri. Telapak tangannya
yang terbuka mencekat dagu Kapten Numair dan seluruh kekuatan
dari tubuhnya yang bangkit, lengannya yang lurus, bahunya yang
lentur bagaimanapun diterjemahkan menjadi kekuatan yang hanya
ditumpukan pada pergelangannya. Leher Numair tersentak dengan
bunyi patahan yang terdengar, dan ia tumbang, bingung dan tak
percaya saat ia mati.
Zulaika mengambil pedang kapten dari udara, seolah udara
menawarkannya kepadanya, dan melemparkan pandangan kepada
En-Sadim. Ia tercekik sampai mati karena batubara-batubara panas,
tubuhnya didera kejang yang mengerikan. Zulaika menusukkan
belati ke punggung sang utusan dan menyelipkan di sela-sela tulang
iga keempat untuk membelah dua jantungnya. Sang malaikat maut
adalah juga malaikat pengampun.
Sang kurir pulih dari pingsannya hanya untuk menemukan sang
perempuan muda berlutut di atasnya, dengan pedang berdarah masih
berasap di tangannya. “Aku hanya mengirim surat itu!”ia merengek.
“Sesuai dengan yang diperintahkan kepadaku! Saya tidak salah!”
www.facebook.com/indonesiapustaka

“Aku tak menawarkanmu apa pun,” Zulaika meyakinkannya,


dan ketika sang kurir sedang memperhatikan pisau ia tidak melihat
bahwa tangan kanan sang perempuan muda itu mengambil belati
sang utusan. Sebuah tusukan dingin di dada sang kurir membuatnya
megap-megap: menunduk ia melihat gagang belati kini menunjuk
dari dagingnya, di mana pisau tertanam dalam. Sang selir menunduk

53
Mike, Linda, dan Louise Carey

seolah akan memeluknya, dan menutup mulut dengan tangannya


ketika ia mengembuskan napas terakhir.
Namun, para pengawal di luar telah mendengar suara-suara
berisik En-Sadim ketika ia tercekik. Langkah-langkah kaki mereka
mendekati pintu paviliun, ketidakyakinan tertulis dalam derap kaki
mereka yang terhenti.
Zulaika terengah-engah, seperti dalam pergolakan gairah yang
hebat. “Ah! Ah! Ah! Ayo! Ya! Di sana!”Langkah-langkah kaki mundur
lagi dengan terburu-buru.
Zulaika memandangi pembantaian itu, alisnya berkerut tenang
tapi pikirannya serius. Ini adalah kejadian di mana kita meninggalkan
dia di sana, untuk sejenak atau dua jenak, berbicara tentang hal-hal
yang berbeda tapi terkait.
www.facebook.com/indonesiapustaka

54
Kota Sutra dan Baja

Kisah Sang Gadis,


Ayahnya, Dua Peminang,
dan Raja Para Pembunuh

Jadi. Di sinilah kita. Dan bukankah ini hari yang menyenangkan? Dan,
tapi aku merasakan beberapa derajat kecanggungan di antara kita.
Kau sedang bertanya-tanya—dengan beberapa alasan, aku akui—
bagaimana seorang selir bisa mahir dalam urusan berperang dan
membunuh. Kau sedang bertanya-tanya, dalam jantung hatimu,
kebenaran kisah kita, dan bahkan mungkin mencurigai naratormu,
dengan siapa kau berjalan sejauh ini dan dalam keadaan yang
menyenangkan, wacana yang ramah-tamah, menjadi putri seorang
pelacur yang sedang berbaring dengan moral-moral seorang penjudi
profesional atau seorang politikus.
Sabar, seperti sabda nabi, dan tetap buka pikiranmu, bahwa
anugerah mungkin jatuh di sini. Bagian cerita ini mendekati hal-
hal yang dekat kepadaku, dan jika aku mengitarinya seperti seorang
www.facebook.com/indonesiapustaka

penjebak yang waspada dan bukan bergerak tepat menujunya seperti


seorang prajurit yang berani, jadi, begitulah caraku. Kau selalu bisa
berlanjut dan membaca cerita lain dengan gaya yang lebih lurus.
Perempuan bernama Zulaika itu lahir di kota Ibu Kim, dan
tinggal di sana hingga tahun kelima belasnya. Ibu Kim berada di

55
Mike, Linda, dan Louise Carey

selatan Bessa, tepatnya sejauh Perdondaris yang terletak di utara;


dan jika Perdondaris, dengan istana-istana marmernya dan atap-
atap yang dicat emas, mungkin diambil untuk Surga, Bessa untuk
lipatan tengah Bumi yang lazim, kemudiah Ibu Kim bisa dipastikan
untuk Neraka. Kota tersebut, pada saat-saat itu, dalam penurunan
yang lambat tapi terakhir kejayaan yang biasa-biasa saja menjadi
kemiskinan abadi. Kota ini pada akhirnya dikuasai tanpa perlawanan
oleh tentara dari tujuh suku, yang pemimpin visionernya, Buthur,
sedang dalam perjalanan ke arah utara untuk menorehkan tempatnya
dalam sejarah, berkuda melalui jalan-jalan tanpa memperlambat
tunggangannya sebelum mengirimkan keputusannya dalam enam
kata. “Kosongkan ini. Bakar ini. Garami ini.”
Bahkan jika yang dikatakan itu benar, pada masa itu Ibu Kim
adalah kota para perampok, anjing hutan, dan para algojo. Dengan
hanya sedikit tanah pertanian yang tak berarti, kota ini mengandalkan
perdagangan untuk kemakmurannya, tapi bahkan para perajinnya pun
malas dan enggan bekerja, lebih bahagia mencuri daripada mencipta,
lebih bahagia menadah daripada mencuri. Yang membutuhkan paling
sedikit usaha adalah kidung-kidung paling suci di Ibu Kim.
Di jalan-jalan kota itu, kejahatan pemerkosaan tidak pernah ada.
Merampas istri atau putri seorang warga yang kaya, tentu, mencari
masalah, karena orang-orang kaya menjaga dengan hati-hati semua
kekayaan mereka. Namun seorang perempuan miskin, tanpa teman-
teman, harus menjauhi jalan-jalan di malam hari atau jatuh menjadi
korban laki-laki pertama yang ia lewati yang punya pikiran untuk
menguasainya. Ia juga tidak bisa berteriak meminta bantuan dalam
keekstreman semacam itu: kota ini entah akan mengabaikan jeritannya,
atau jika saat itu malam yang lambat, berjalan dan menanti giliran
mereka.
Zulaika, seperti yang telah aku katakan, bertahan hingga usia
empat belas tahun dalam masyarakat yang mengerikan ini. Ia cerdas
www.facebook.com/indonesiapustaka

dan tangkas, dan ia tidak memedulikan risiko-risiko, namun, pada


saat itu, ia kerap bisa meloloskan diri.
Ayahnya, Kishnothophur, terkenal sebagai (bagi orang yang
perlu menyebutnya) Kish, adalah seorang pengurus hotel di bawah
papan nama Roda Biru, dan dalam usaha kecil-kecilannya sendiri,
juga seorang mucikari. Keuntungan yang ia hasilkan dari dua belas

56
Kota Sutra dan Baja

perempuan yang ia pekerjakan jauh lebih banyak daripada keuntungan


yang ia peroleh daripada menyewakan kamar-kamar. Tapi di Ibu Kim,
dengan sebuah ironi yang sangat bagus, bagi seorang perempuan
menjual layanan seksualnya dianggap sebuah kejahatan—sementara
bagi seorang pria memaksa mereka melayaninya adalah menjadi
bagian dari kehidupan kasar sehari-hari. Jadi secara resmi Roda
Biru adalah sebuah penginapan, dan uang suap rutin berisi koin-
koin perak yang berkilau mencegah pengawas kota itu menyelidiki
apapun yang terjadi di sana.
Kish memiliki seorang istri yang muda dan menjadi ayah satu
anak darinya sebelum sang istri meninggal dunia karena demam
akibat meminum air yang buruk (sumur-sumur Ibu Kim digunakan
para perampok sebagai tempat yang tepat untuk membuang mayat-
mayat, sehingga air-air di sana kerap tak aman diminum). Kemudian,
gadis itu tak lagi dia pikirkan. Zulaika dibesarkan para pelacur, dan
sangat dicintai dan dimanja mereka. Mereka melindunginya dari
banyak sekali bahaya di tempat yang sangat berbahaya. Artinya, di
antaranya mereka menjaganya baik dari pandangan ayahnya maupun
kaki-kaki para hidung belang.
Beberapa pelacur datang dan kemudian pergi, tanpa ribut-
ribut atau pemberitahuan; beberapa yang lain, demi alasan Zulaika
masih terlalu muda untuk memahami, memiliki daya tahan lebih.
Seandainya anak ini memiliki seorang yang dia sayangi, itu adalah
Ehara, seorang perempuan bertubuh seram namun baik hati. Ehara
lebih tampak seperti sebuah bangunan umum ketimbang seorang
pelacur, tapi masih membangkitkan kesetiaan para pelanggannya.
Tugas Zulaika pada saat itu sangat banyak: membeli makanan di
pasar mingguan, menimba air, mengepel lantai penginapan, mencuci
cangkir-cangkir anggur dan toples-toples di ujung malam dan seprei
tempat tidur dua kali sebulan, melapisi dinding-dinding dengan kapur
putih saat kotor, dan membawakan uang suap mingguan kepada sersan
www.facebook.com/indonesiapustaka

penjaga. Kapanpun ia tidak sibuk dengan tugas-tugasnya ini, Zulaika


akan duduk dengan perempuan yang lebih tua itu dan membantunya
berdandan—menyisir rambutnya yang panjang, mengecat kuku-kuku
kakinya, atau kalau tidak, mempercantik kaki dan tangannya.
Hanya pada malam-malam ketika bulan tak hadir di langit Zulaika
dilarang dekat-dekat dengan Ehara. Itu adalah ketika penginapan

57
Mike, Linda, dan Louise Carey

ini menerima seorang tamu gelap yang paling dihargai: Vurdik sang
Pemberani, kepala bandit dari Yashiia. Vurdik adalah legenda di
Ibu Kim. Anak buahnya merampok konvoi di setiap kota tetangga
dari matahari terbit hingga matahari terbenam, dan meskipun kerja
kerasnya begitu dikagumi, ia masih seorang penjahat buronan dengan
sebuah harga (bervariasi sesuai dengan musim dan kebijakan aneh
pemerintah) untuk kepalanya.
Namun di Roda Biru, Vurdik adalah seorang pelanggan yang
membayar. Ia datang dengan nama samaran yang berbeda setiap bulan,
hidup bermewah-mewah, dan diganjar dengan setiap kemewahan
yang bisa ditawarkan rumah itu. Salah satu dari kemewahan itu
adalah akses eksklusif, kapan pun ia tinggal, terhadap tubuh Ehara.
Setelah tiap-tiap kunjungan Vurdik, Ehara tak bisa bekerja selama
tiga hari karena pukulan yang diberikan kepala bandit itu kepadanya
ketika ia mabuk. Zulaika merawat luka-luka temannya itu selama
hari-hari itu. Ayahnya memutuskan untuk tidak memanggil dokter,
baik karena alasan mahal maupun karena pertanyaan-pertanyaan
aneh yang mungkin diajukan tentang identitas penyerang Ehara.
Sebagai seorang anak, yang tidak terdidik dalam cara-cara
dunia seperti itu, tetap saja Zulaika dipenuhi kemarahan dan air
mata terhadap bagaimana Ehara terluka—dan kemudian takut pada
reaksi Ehara sendiri. “Oh, Vurdik tidak begitu buruk, Sayangku,” kata
perempuan itu kepada gadis tersebut, dengan bibir-bibirnya yang
bengkak. “Aku bisa melakukannya tanpa pemukulan-pemukulan, tapi
pukulan-pukulan itu tidak sebanding dengan apa yang akan ia lakukan
kepadaku jika aku pernah berusaha pergi. Dan dengan seorang laki-
laki yang sekadar seorang penjahat, jika kau cepat, kau selalu bisa
menghindari yang terburuk darinya. Ini cara pintar yang ingin kau
lihat. Mereka punya cara-cara lebih buruk untuk menyakitimu, dan
kau tidak selalu melihat mereka datang.”
Aku mengungkapkan anekdot ini karena kebijaksanaannya dan
www.facebook.com/indonesiapustaka

karena bisa diterapkan secara luas—dan karena kata-kata itu melekat


dalam pikiran Zulaika dan pada akhirnya membentuk dasar-dasar
sebuah teori sosial yang lebih maju. Orang-orang yang berbeda
mengancammu dengan cara yang berbeda, tampaknya, dan kau perlu
mempunyai sebuah jawaban yang cocok untuk mereka semua. Ini
proyek jangka panjang untuk Zulaika, tapi dimulai sejak hari itu.

58
Kota Sutra dan Baja

Sementara itu, ada hal-hal lain yang terjadi dalam kehidupan gadis
itu, dan beberapa dari kejadian itu hadir dengan urgensi yang jauh
lebih besar. Ia kini memasuki masa pubertasnya, dan para pria mulai
memperhatikannya. Salah satu dari mereka adalah ayahnya, yang dia
pergoki menyaksikannya dengan ekspresi termangu-mangu dalam
beberapa kesempatan. Ia mengenal Kish dengan cukup baik untuk
memperhitungkan kemungkinan bahwa laki-laki itu ingin menidurinya
sendiri—laki-laki itu sangat tidak tertarik pada seks, kecuali sebagai
bagian dari komersialisasi. Namun, ia tahu apa harganya keperawanan,
dan bagaimana cara terbaik untuk mengemasnya dan memasarkannya.
Pria lain yang menunjukkan minat nyatanya adalah sang pembuat
pelana kuda (seandainya ia memiliki nama, ia menyimpannya untuk
dirinya sendiri) yang tinggal dan bekerja persis di seberang penginapan
di Kompleks Niaga. Pria ini menyaksikan langkah-langkah terhuyung-
huyung Zulaika menuju pubertas, dan ia menaruh nafsu padanya. Di
Ibu Kim, pendarahan pertama seorang perempuan dianggap sebagai
pengingat dari sang Pencipta bahwa ia sekarang seharusnya sudah
dinikahkan atau dijual. Sang pembuat pelana melihat momen itu
datang, dari jarak yang cukup jauh, dan (kebetulan) memutuskan
untuk mempertaruhkan klaim lebih dulu.
Pada ulang tahun keempat belas Zulaika, ia membuatkan pelana
bertatahkan perak, dengan sebuah tanduk pelana perak, dan memuji-
mujinya karena kecantikan sang putri.
“Ia akan menjadi seorang istri yang menyenangkan,” ia memberi
isyarat, di atas botol anggur (barang murah) yang dibuka Kish untuk
pertemuan itu.
Kish setuju bahwa Zulaika sangat menjanjikan.
“Seorang perempuan seperti unta,” sang pembuat pelana ber-
pendapat. “Jika seorang laki-laki memperhatikannya, ia akan mem-
berikan pria itu kenyamanan melalui perjalanan terpanjang.”
Kish mengakui kebenaran hal itu. Lebih lanjut, ia berargumentasi,
www.facebook.com/indonesiapustaka

itu benar bahkan untuk unta yang telah ditunggangi orang lain.
Pembuat pelana mendongak dari minumannya, dan sebuah
wacana rumit yang menaikkan dan menurunkan alis terjadi.
“Dua kasus itu tidak bisa dibandingkan,” kata sang pembuat
pelana. “Seekor unta yang sudah jinak menjadi lebih berharga berkali
lipat. Seorang perempuan, sebaliknya, berkurang.”

59
Mike, Linda, dan Louise Carey

“Namun, jika ada sebuah pilihan,” Kish berpikir, “antara seorang


istri yang perawan dan tanpa mahar sama sekali, dan seorang istri
yang sudah tidak perawan dengan perak yang mengikutinya, harapan-
harapan paling masuk akal seorang pria mungkin dilunakkan dengan
pragmatisme tertentu yang bijaksana.”
“Dipakai sekali?” pembuat pelana kuda itu bertanya blak-blakan.
“Atau dipakai berkali-kali?”
“Sekali,” kata Kish.
“Dan berapa banyak perak?”
“Dua puluh keping.”
“Ah.”
“Setidaknya dua puluh.”
“Ah, baiklah.”
“Mungkin tiga puluh.” ’
“Ah, begitu, sekarang.”
Zulaika menyaksikan semua dagang-unta ini dalam keheningan
yang takzim, bahkan ketika sang pembuat pelana tersenyum dan
mengedip kepadanya—seolah penawarannya yang blak-blakan untuk
tubuhnya adalah semacam pujian atau penghargaan terhadap kecan-
tikannya. Ia seorang laki-laki besar, sebesar dan selurus tumpukan
karung-karung tepung, dan memancarkan bau keringat yang begitu
kuat dan membakar sehingga bahkan di udara terbuka, membuat
mata orang yang lewat kabur karena air mata yang tiba-tiba. Bahan
pencelup yang ia gunakan untuk mengubah kulit menjadi pelana
tertinggal pada kulitnya di titik yang sama, memberinya penampilan
merah dan setengah matang.
Zulaika tidak menyukainya. Ini bukan persoalan ukuran atau
aroma atau pigmen yang belang-belang: ini sebuah misteri, seperti
yang harus disepakati semua. Ia tidak bisa menyerahkan bagian
dari jiwanya kepadanya, sesuatu yang relevan terhadap masalah itu.
Adapun untuk tubuhnya, ia tahu ia percaya bahwa kedua laki-laki
www.facebook.com/indonesiapustaka

itu mencapai pengaturan yang sama-sama disepakati.


Pada akhirnya, diputuskan bahwa Zulaika harus tinggal di rumah
ayahnya hingga ia berusia lima belas tahun. Pada saat itu, ia akan
dilantik sebagai pelacur dan kemudian dipecat langsung pada malam
yang sama: ia hanya akan menghibur satu klien, yang dipilih dan
diperiksa Kish sendiri, dan pada hari berikutnya ia akan dinikahkan

60
Kota Sutra dan Baja

dengan pembuat pelana itu. “Siapa pun yang tidur dengannya harus
bersih!” kata sang pembuat pelana mendesak berkali-kali. Namun
tentu saja ia akan bersih; bagaimanapun ia seorang kaya, dan orang
yang mensyaratkan orang lain.
Jadi, Zulaika punya satu tahun untuk menunggu sebelum ia di-
serahkan kepada takdir yang tidak menyenangkan ini: satu tahun tepat,
dan ia tidak punya rencana. Hanya ada sedikit pilihan, di kota tersebut
dan pada saat itu, untuk seorang gadis yang berharap menjadi lebih
dari sekadar hewan pembawa beban. Di Bessa, kabarnya, perempuan
boleh menjual barang-barang di pasar, mengelola penginapan dan
rumah bordil, bekerja di halaman-halaman kandang kuda dan
pabrik-pabrik. Bessa berjarak tiga hari perjalanan dengan seekor
unta, sembilan atau sepuluh jika kau harus mengandalkan kakimu
sendiri.
Pada musim semi tahun kelima belasnya, Zulaika mengemas
beberapa pakaian ke dalam sebuah tas, menyimpan tas itu di bawah
tempat tidurnya yang siap dibawa, dan menunggu malam yang sangat
mendung.
Akhirnya, malam itu datang juga. Zulaika menuruni anak-anak
tangga bertelanjang kaki, membawa sandal-sandalnya di satu tangan,
memegang sisa hartanya di tangan yang lain.
Ayahnya sudah menanti di halaman. Ia menariknya kembali masuk
ke rumah dengan menjambak rambut dan memukulinya hingga babak
belur.
Terlepas dari sikap pendiamnya, Kish bukan orang bodoh. Ia
telah memperhatikan tekad yang tumbuh dalam diri putrinya dan
telah memutuskan bahwa cara terbaik untuk memangkasnya adalah
membiarkannya tumbuh hingga berbuah dan kemudian meng-
hukumnya dengan keras. Ia tidak melihat hal ini sebagai kekejaman,
hanya sebagai pengasuhan yang baik, sama dengan memukuli anjing
untuk melatihnya tidak mengotori lantai.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Ehara menangis untuk gadis itu, dan membersihkan luka-lukanya


dengan cuka anggur. Zulaika sendiri tidak menangis. Ia merenungkan
kesalahannya, dan berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan
pernah keliru mengklasiikasikan seorang pria lagi—kau tak bisa
mendasarkan keputusan-keputusan yang bagus atau taksonomi yang
buruk.

61
Mike, Linda, dan Louise Carey

Namun ia masih anak-anak, dan ia masih melihat dunia—setidak-


nya bagian dari dunia—dengan cara yang romantis dan sederhana.
Ada seorang anak laki-laki yang usianya empat tahun lebih tua
darinya, Sasim, yang membuatnya jatuh ke dalam orbitnya, dengan
perlahan dan menawan hati, dalam pekan-pekan setelah ia pulih
dari pemukulan itu.
Ia bertemu dengan anak itu untuk pertama kalinya ketika ia
sedang berjalan-jalan ke pasar dengan sebuah keranjang di masing-
masing tangannya dan sebuah karung terikat di punggungnya penuh
sayuran. Ia bertemu lagi dengannya, saat ia membawa uang suap
mingguan kepada Rhuk, sersan penjaga—dan kemudian untuk ke-
tiga kalinya, ketika ia pergi ke sumur untuk mengambil air. Pada
akhirnya, terpikir olehnya bahwa pemuda bertubuh tinggi bermata
gelap yang berkeliaran di sudut jalan dekat halaman penginapan dan
menyapanya dengan begitu sopan ketika ia lewat di sana ada di sana
bukan secara kebetulan. Ia mulai memperlambat langkahnya ketika
melewatinya, dan saling menyapa dengan beberapa kata: obrolan
tentang cuaca; candaan tentang berapa banyak kantong dan keranjang
yang bisa dibawa seorang gadis; akhirnya, dengan sebuah duri dari
kesenangan terlarang, memberikan nama.
Masa pacaran mereka adalah sebuah hal yang menakjubkan
bagi Zulaika: ia telah telanjur menyamakan laki-laki dengan bahaya,
dan kini di sini ada seseorang yang pertemanannya, suaranya,
pandangannya membuat kenikmatan yang memabukkan. Ia hati-hati;
ia telah belajar banyak, setidaknya. Namun ketika Sasim mengatakan
kepadanya bahwa ia mencintainya, dan menawarkan diri sebagai
jalan keluar untuk semua masalahnya, ia tidak tahu cara menolaknya.
Mereka bisa kabur bersama. Ia bisa melindunginya dari musuh-
musuhnya, membawanya jauh dari jangkauan mereka, menikahinya
sehingga pengakuan ayahnya atas dirinya hilang.
Zulaika tidak melihat kontradiksi-kontradiksi atau kekosongan-
www.facebook.com/indonesiapustaka

kekosongan logika dalam janji-janji itu; ia menerimanya begitu saja,


seperti seorang yang kelaparan menerima batu besar jika kau menge-
catnya sedemikian rupa sehingga mirip roti. Ia memberi tahu Sasim
kamar mana, dalam gedung besar berlantai tiga Roda Biru, miliknya,
dan ia menunjukkan kepadanya retakan-retakan di bangunan batu
itu yang bisa membantu pemanjat yang tangkas mencapai jendelanya

62
Kota Sutra dan Baja

yang kecil. Ia mengatakan kepadanya bahwa jendelanya tidak akan


dikunci. Ia menjatuhkan dirinya dalam pelukan anak laki-laki itu.
Ia mendatanginya malam itu, dan mereka bercinta dalam ke-
heningan dan ketakziman. Derit tempat tidur di dalam kamar-kamar
para pelacur menjadi penyamaran yang lebih dari cukup, sehingga
Zulaika bisa bersuara keras dan tanpa harus berhati-hati dan tanpa
risiko, tapi kamar ayahnya dekat dan ia takut. Di samping itu,
segalanya berakhir begitu cepat sehingga mereka tampaknya telah
bergerak secara langsung dari antisipasi menjadi akibat.
“Kapan kita akan pergi?” Zulaika bertanya kepada Sasim, ketika
mereka tidur di lengan satu sama lain.
Pertanyaan itu tampak mengentaknya. “Kapan kita apa?”
“Kapan kita akan pergi, Sasim? Kapan kau akan membawaku
pergi, dan menikahiku?”
Anak lagi-laki itu diam untuk beberapa denyutan jantung.
“Bukan ide yang bagus untuk terburu-buru melakukan hal
semacam itu,” katanya kepada Zulaika, pada akhirnya. “Aku akan
membuat rencana lebih dulu. Menemukan sebuah rumah untuk kita
tinggali, dan menjelaskan kepada ayahku. Dan baju-baju. Kau perlu
baju-baju.”
“Aku punya banyak baju.”
“Maksudku, baju-baju yang pantas. Yang cocok bagi seorang istri.
Yang kau kenakan membuatmu tampak seperti seorang pelacur.”
Zulaika merasakan getaran intuisi. Para sahabatnya adalah pelacur,
dan ia tidak melihat aib dalam apa yang mereka lakukan. Menurut
pendapatnya, yang dibentuk dari pengalaman hidup sehari-hari di
rumah bordil, hanya pria yang pertama kali menggunakan kata
pelacur, dan kemudian mengucapkan kata itu dengan berapi-api untuk
meremehkan. Namun bagaimana kau mengatakan itu kepada seorang
kekasih, dengan darah keperawananmu sendiri yang mengering di
pahamu?
www.facebook.com/indonesiapustaka

Zulaika tahu ia telah mengambil langkah yang tak bisa ditarik


kembali. Ia telah memberikan secara cuma-cuma sesuatu yang dihitung
sangat besar dalam perkiraan keuntungan jangka pendek ayahnya
dan ketika ia mengetahuinya, akibatnya terlalu mengerikan untuk
dipikirkan. Ia harus berhasil kabur sebelum itu terjadi, dan Sasim
adalah satu-satunya harapannya. Ia menciumnya dan memeluknya

63
Mike, Linda, dan Louise Carey

dan menyambutnya ke dalam dirinya untuk kedua kalinya. Kemudian,


dengan banyak pernyataan cinta, ia keluar lewat jendela.
Ia sering datang kepadanya dalam minggu-minggu selanjutnya, me-
manjat masuk melalui jendela yang terbuka dengan keanggunan tanpa
sadar, meluncur ke tempat tidurnya dan ke dalam tubuhnya sehalus
seekor berang-berang meluncur ke dalam sungai. Semangat mereka
tak padam, percintaan mereka sangat sibuk dan menyenangkan, tapi
pembicaraan kecil setelah itu menjadi giliran yang mengancam. Apa
itu benar, Sasim bertanya, bahwa ayah Zulaika menyimpan kekayaan?
Di mana ia menyembunyikannya? Apakah pintu penginapan itu bisa
dibuka hanya dengan sebuah kunci, atau diamankan dari dalam dengan
gerendel atau rantai?
Zulaika sebenarnya tahu jawaban-jawaban dari semua pertanyaan
ini. Jawaban-jawaban itu, secara berurutan: sebuah harta yang cukup
banyak, di bawah batu yang longgar di lantai dapur yang terlalu
berat untuk dia angkat, dan dua gerendel dan satu palang. Namun
tak terkesima dengan keterpesonaan Sasim akan perampokan, ia
berpura-pura tak tahu. Sasim mengganti arah. Mungkin, katanya,
Zulaika bisa membuatkannya sebuah peta tentang interior penginapan
tersebut, yang menunjukkan lokasi kamar ayahnya dan ruang-ruang
penyimpanan mana pun yang ia ketahui. Mungkin, juga, ia bisa ber-
tanya kepada para pelacur itu. Kish pasti sedang menikmati barang-
barangnya sendiri, bagaimanapun, dan dalam mabuknya ia mungkin
telah menjatuhkan sesuatu.
Zulaika mendengarkan pemikiran-pemikiran itu dengan hati yang
berat. Ketika gerhana bulan berikutnya datang, dan bersama itu pula
datang siksaan Vurdik sang Pemberani dan Ehara yang dijadwalkan
secara rutin, ia mengakui bisikan hatinya; bahwa laki-laki kebanyakan
tak bisa dipercaya, dan bahwa harapan yang ia labuhkan pada Sasim
adalah alang-alang yang telah patah. Lebih buruk lagi, ia tahu bahwa
jika mereka terus bersetubuh seperti kelinci-kelinci di musim semi,
www.facebook.com/indonesiapustaka

cepat atau lambat ia akan terlibat dalam kesulitan. Jika hamil, ia


benar-benar akan mati.
Mulai dari sekarang, ia memutuskan dengan muram, ia akan
menggerendel daun jendelanya dan mengambil jalan lain menuju
pasar.

64
Kota Sutra dan Baja

Pada saat itu, dua hal terjadi. Pertama adalah Zulaika sadar bahwa
ia harus menyelamatkan diri dengan usahanya sendiri. Kedua adalah
bahwa sebuah keajaiban muncul tepat dari dalam pertahanannya
sendiri.
Keajaiban itu, secara cukup memalukan, adalah laki-laki lain—
seolah sudah kekurangan laki-laki dalam hidupnya. Tapi ini bukan
peminang, calon ataupun yang sesungguhnya—ia datang untuk
menginap di Roda Biru sebagai seorang tamu yang membayar—dan
Zulaika, yang sedang melayani tamu-tamu di restoran ketika ia masuk
ke ruangan, tahu dari kesunyian yang tiba-tiba bahwa ini seorang
pria penting.
Ia belum pernah tahu banyak tentang bentuk tubuh atau sifat
laki-laki ini, atau apa pun tentang dirinya. Tingginya biasa saja,
wajahnya lembut dan mudah terlupakan yang tampak seolah-olah
telah diamplas halus, dan mengenakan tan djelaba dari kain belacu
yang pernah populer berpuluh-puluh tahun lalu.
Namun, rasa hormat ayahnya kepada pria ini sangat kentara.
Ia disuguhi minum tanpa memesannya, dan anggur tersebut adalah
anggur yang bagus dari salah satu botol dengan garis hitam terlukis
di dasarnya. Ketika ia meminta sebuah kamar, ia diberikan kamar
langit, yang menghadap timur di lantai atas penginapan ini dan
kamar terbaik dan terbesar yang bisa disombongkan Roda Biru.
Mengumpulkan keberaniannya, Zulaika bertanya kepada salah
satu pelanggan siapa orang asing itu.
Laki-laki itu melihatnya dengan terkejut, seolah ia bertanya hari
apa saat itu, atau nama kota yang ia tinggali.
“Itu Imad-Basur.”
Nama itu sudah cukup, tanpa kualiikasi atau deskripsi apa pun.
Imad-Basur, Khalifah Para Pembunuh, guru berpakaian hitam, yang
terkenal di mana-mana, dan melalui ketakutan, menikmati tingkat
kehormatan sebesar yang dinikmati khalifah sesungguhnya.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Bahkan, banyak khalifah menjadi korbannya. Ia ditakuti kaum


kaya dan kaum berpengaruh, tapi juga secara luas dipekerjakan oleh
mereka, kekebalannya dari gangguan yang dijamin oleh rahasia-
rahasia yang ia pegang dan oleh luasnya sumber daya-sumber daya
organisasi bayangan yang ia kuasai.
Tak seorang pun tahu berapa banyak pembunuh yang telah

65
Mike, Linda, dan Louise Carey

belajar kepadanya, atau ke mana mereka pergi begitu lulus dari


pendidikannya; tak seorang pun ingin cari tahu dengan cara yang
melibatkan pisau-pisau, racun atau tali-tali pencekik.
Pikiran Zulaika, ketika mendengar nama itu, mulai bekerja
dengan cepat. Jelas, Imad-Basur datang ke Ibu Kim untuk membunuh
seseorang, dan itu pasti tugas yang bergengsi, atau kalau tidak ia
sedang mengirim seorang anak buahnya. Sang Pencipta menjatuhkan
sebuah kesempatan yang sangat berharga di pangkuannya, dan di
luar bahaya-bahaya yang terlibat, gila jika ia mengabaikannya.
Ketika semua orang di dalam penginapan telah masuk ke kamar
untuk beristirahat—bahkan para pelacur akhirnya selesai bekerja
ketika bulan tinggi—Zulaika mengetuk pintu di kamar tertinggi, dan
suara orang asing itu, dari sisi lain pintu, menyuruhnya masuk.
Ia masuk, membawakan sebuah nampan yang berisi sebuah botol
anggur dan semangkuk manisan buah. “Hadiah dari rumah ini,”
katanya.
Imad-Basur sedang duduk di bangku jendela membaca sebuah
gulungan surat perkamen yang tipis. Ia menilai gadis itu untuk be-
berapa saat dengan matanya yang dingin dan netral, sebelum akhir-
nya menunjuk sebuah meja di samping tempat tidur. “Terima kasih,”
katanya. “Taruh di sana.”
Zulaika mematuhinya, kemudian ia berdiri dan menunggu, kedua
lengannya sedikit gemetar.
Imad-Basur melihat pada setumpuk kecil koin yang ditaruh gadis
itu di sebelah nampan, dan kemudian pada gadis itu sendiri.
“Apa ini?” ia bertanya kepadanya, sedikit kejengkelan atau mungkin
ada peringatan dalam suaranya. “Aku ingin menyewamu!”kata Zulaika
tanpa pikir. Itu yang bisa dia lakukan untuk keluar dari sana.
Sang raja pembunuh berdiri. Gerakan-gerakannya pelan dan ter-
ukur, seolah dalam semua tindakannya ia sedang menjalani sebuah
ritual yang pernah ada. Ia berjalan menyeberangi kamar itu, memungut
www.facebook.com/indonesiapustaka

koin-koin dan menghitungnya. Ia menimbang-nimbang koin tersebut


di tangannya. Sangat sedikit, koin-koin itu adalah jumlah total yang
bisa Zulaika kumpulkan selama setahun terakhir.
“Tujuh belas tembaga,” kata Imad-Basur, suaranya seperti sebuah
pisau dalam sarung. Ia memandang gadis itu lagi. “Kau pikir nyawa
seorang laki-laki bisa dibeli dengan jumlah segini?”

66
Kota Sutra dan Baja

“Dua laki-laki,” kata Zulaika. “Aku perlu membunuh dua laki-


laki.”
Sejenak ada keheningan yang menegangkan, tapi kemudian Imad-
Basur tertawa—alunan tawa yang nyaris tak terdengar mengguncang-
guncang tubuhnya dan terus dan terus hingga Zulaika nyaris berteriak.
Ini bukan sebuah jawaban! Ini bukan apa-apa!
“Dua laki-laki,” Imad-Basur setuju. “Tentu saja. Selama sasaran-
sasaran yang dimaksud tinggal berdekatan, memangkas biaya biasanya
bisa dilakukan. Siapa mereka, jika aku diizinkan untuk bertanya?”
“Ayahku,” kata Zulaika, lega bahwa mereka telah mengarah pada
hal-hal spesiik sekarang.
“Ia pengurus hotel di sini. Dan pembuat pelana yang tinggal di
seberang halaman.”
“Dan apa yang telah mereka lakukan sehingga pantas mati?”
Imad-Basur mengejar.
“Ayahku ingin menjualku, dan pembuat pelana kuda itu ingin
menikahiku.”
“Tujuan-tujuan yang bertentangan,” kata sang pembunuh.
“Tidak. Mereka sudah sepakat dalam tawar-menawar.”
Imad-Basur berjalan ke arah gadis itu, mengambil tangannya dan
menekan koin-koin itu di atasnya. “Pergilah tidur, Nak,” katanya. “Ini
akan menjadi rahasia kita. Aku rasa akan sulit bagimu jika ayahmu
tahu kau berbicara denganku seperti ini. Tapi ia tidak akan tahu.
Pergilah ke kamar. Tidur. Besok adalah hari yang baru.”
Zulaika tetap berdiri di tempatnya. Ini sebuah pukulan, tapi ia
tidak siap mengaku kalah.
“Jadi, kau tidak menerima tugas ini?”ia bertanya kepada sang
pembunuh.
Imad-Basur terkekeh lagi, wajahnya tidak lagi kosong dan lunak
tapi berkerut terhibur. “Tidak. Aku tidak akan menerima tugas ini.”
“Tapi kau melatih para pembunuh juga, bukan?”
www.facebook.com/indonesiapustaka

“Aku melatih banyak.”


“Jadi, apakah uang ini cukup untuk membeli sebuah pelajaran?”
Senyuman itu perlahan lenyap dari wajah Imad-Basur: ia menatap
gadis muda itu dengan sedikit kebingungan. “Tidak,” katanya. “Bahkan
jika memang begitu, aku tidak datang ke sini untuk mengajar. Dan
pelajaran pertama tidak akan membantumu. Yang kedua juga tidak.”

67
Mike, Linda, dan Louise Carey

“Maka berikan aku pelajaran ketiga,” Zulaika mengusulkan.


Imad-Basur menggeleng dengan pelan. “Tidak.”
Zulaika membuka mulut untuk berbicara lagi, tapi sang raja
pembunuh mengangkat tangannya dengan gaya melarang. “Jangan
bicara lagi,” katanya. “Aku harus bermeditasi, dan kemudian aku harus
bekerja—dan setelah itu, aku ingin tidur. Tak ada yang bisa aku lakukan
untukmu malam ini.”
Kalah, tertunduk, malu, Zulaika berjuang untuk setidaknya men-
jaga sedikit martabatnya. Ia mengangguk, membungkuk, dan berbalik
ke pintu.
Ketika tangannya memegang gerendel, Imad-Basur memanggilnya.
“Tunggu.”
Zulaika menunggu, pandangannya masih ke lantai.
“Bunuh sendiri mereka,” kata Imad-Basur. “Dua-duanya. Dengan
cara berbeda.”
“Dan kemudian?” Zulaika bertanya, gugup.
“Kemudian datanglah kepadaku, di sekolahku di pengunungan
utara Perdondaris, dan katakan kepadaku bagaimana kau menyelesai-
kannya. Jika cerita itu menyenangkanku...”
“Ya?”
“Maka aku mungkin akan mengajarimu beberapa dasar keahlian
itu, meskipun sebagai seorang gadis, kau tidak bisa secara resmi
mendatar sebagai seorang murid.”
Zulaika mendongak, dan bertemu pandang dengan sang pem-
bunuh untuk terakhir kali. “Terima kasih,” katanya.
“Sama-sama.”
Pijakan hubungan mereka tampaknya telah berubah, dengan
cara yang menantang deinisi. Zulaika berjuang untuk menemukan
berbagai cara mengucapkan selamat berpisah.
“Semoga sang Pencipta tersenyum untuk urusanmu di sini,”
katanya pada akhirnya.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Imad-Basur membungkuk padanya. “Dan pada urusanmu,” kata-


nya dengan sungguh-sungguh.
Kembali ke kamarnya, Zulaika segera memikirkan tugas di ha-
dapannya itu. Ia tidak membuang waktu sedikit pun untuk merasa
kasihan dan ragu kepada ayahnya. Bertahun-tahun perbudakan tanpa

68
Kota Sutra dan Baja

upah telah membayar utang apa pun yang ia pinjam kepadanya untuk
kelahirannya, dan perdagangan berdarah dingin yang ia lakukan atas
tubuhnya, seolah tubuh itu tak memiliki jiwa, menyegel takdirnya.
Bagi pembuat pelana, ia memiliki sedikit penyesalan, tapi segera
lenyap ketika ia ingat lirikannya. Biarkan setan mengambilnya, dan
anjing yang menjadi bapaknya—ini soal bertahan hidup.
Meskipun, ini juga tentang banyak hal lain, dan semakin Zulaika
mencermati masalah itu, semakin sulit kelihatannya. Ia yakin ia bisa
menggorok leher, jika ia dihadapkan kepadanya, tapi melaksanakan
dua pembunuhan dengan dua metode yang berbeda adalah satu
masalah dari satu perintah yang berbeda. Ia tahu, tentu saja, mengapa
Imad-Basur membuat syarat itu: akan menjadi bukti bahwa ia bisa
mendekati tugas pembunuhan dengan sikap profesional yang wajar.
Setiap orang bisa membunuh dengan darah panas, tanpa akal sehat.
Tapi akal sehat adalah yang diminta sang raja pembunuh.
Akal sehat mengatakan kepada Zulaika bahwa ia tidak mungkin
berhasil dalam dua serangan melawan laki-laki yang jauh lebih besar
dan lebih kuat daripadanya.
Jadi ia memperpanjang peluang, dan memutuskan menjadi empat.
Ia mulai dengan Sasim. Malam berikutnya, untuk pertama kalinya
dalam satu minggu, ia membiarkan daun jendela tak terkunci. Ia
berpikir mungkin dibutuhkan lebih dari itu, tapi itu seperti meletakkan
semangkuk selai untuk menarik lebah-lebah madu: Sasim memanjat ke
atas jendelanya setelah tengah malam dan berdiri melihat kepadanya
dengan campuran kehati-hatian dan kesombongan.
Zulaika memberi isyarat padanya untuk menghampirinya, dan
memberinya apa yang menjadi tujuannya datang. Kemudian, ketika
mereka tiduran di lengan-lengan satu sama lain, ia mengatakan
kepadanya tentang pembuat pelana di seberang halaman. “Ia ingin
menikahiku, dan ia menyombongkan diri bahwa ia tidak perlu mahar
karena ia sudah memiliki begitu banyak harta. Sasim, ia menunjukkan
www.facebook.com/indonesiapustaka

kepadaku tas yang lebih besar dari perutnya—terlalu berat bagiku


untuk mengangkatnya, meskipun seorang pria kuat sepertimu mungkin
bisa mengangkatnya. Ia katakan tas itu penuh emas!”
Sasim sangat gembira dengan kabar ini, dan meminta Zulaika
mengatakan kepadanya di bagian mana dalam rumah pembuat pelana
tersebut tas itu disembunyikan. “Ia tidak membiarkanku melihat dari

69
Mike, Linda, dan Louise Carey

mana ia mengambilnya,” katanya kepada Sasim. “Tapi aku rasa aku


akan pergi kepadanya dan meminta melihat tasnya sekali lagi—dan
kali ini aku akan memata-matainya ketika ia pergi mengambilnya.
Dan aku akan memastikan dengan benar tas itu penuh emas. Apakah
itu bagus untuk dilakukan?”
“Luar biasa!” Sasim menenangkannya, dan ia memeluknya dengan
hangat.
Kena kau, kau tikus kecil yang rakus, pikir Zulaika—tapi ia di-
liputi rasa kehilangan dan kerinduan ketika ia berpikir bagaimana ia
mencintai dan mempercayainya. Dari keempatnya, kematiannyalah
yang paling sedih baginya untuk direnungkan.
Semua yang tersisa kini adalah menunggu. Pada hari sebelum
gelap bulan, ayah Zulaika memberinya suap mingguan untuk sersan
Rhuk. Ia menaruh uang itu di kantongnya dan pergi menemui, bukan
sang sersan, tapi sang pembuat pelana. Ia sedang bekerja keras di
bengkelnya, menyamak kulit dalam sebuah tong sebesar dan sebulat
sebuah kincir penggilingan. Ia terheran-heran melihatnya, dan bahkan
lebh terheran-heran ketika ia mengaku kepadanya dengan malu
dan dengan wajah bersemu merah nan cantik, bahwa ia tidak bisa
menunggu setahun berakhir. Ia harus bersamanya.
Sang pembuat pelana tersanjung dan bahagia—sekaligus melihat
kerugian atas usulan ini. “Tapi, bagaimana dengan ayahmu?” ia
menggerutu. “Ia pasti akan marah jika kau kehilangan keperawanan,
dan tak akan ada mahar.”
Zulaika mengingatkannya bahwa seorang perempuan dan seorang
laki-laki, jika mereka begitu siap, bisa menyenangkan mereka dengan
banyak cara yang tidak mengancam selaput dara. Pikiran pembuat
pelana segera dipenuhi gambaran-gambaran persetubuhan yang
memijar.
Zulaika mengatakan ia akan menyelinap—aduh, tidak malam
ini, karena banyak pekerjaan yang harus dia lakukan di Roda Biru.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Tapi, pasti malam berikutnya. Ia mengatakan kepadanya untuk


tidakmengunci pintu di tengah malam, dan menyambutnya segera
setelah itu—dan sebelum ia pergi, ia memintanya menunjukkan cara
untuk menemukan jalannya, dalam kegelapan, dari pintu ke kamar
tidurnya. Sang pembuat pelana berpikiran untuk menggunakan tempat
tidur saat itu juga, tapi Zulaika melepaskan diri dari genggamannya.

70
Kota Sutra dan Baja

“Aku masih perawan,” katanya mengingatkan, dengan malu-malu


tapi tegas. “Aku malu membuka bajuku dan berdiri telanjang dalam
terang. Nyalakan sebuah lilin di pintu jalan besok malam, Sayang,
tapi pastikan tak ada lampu di kamarmu!”Kemudian ia bergegas
pergi.
Dari sang pembuat pelana Zulaika pergi lagi menemui Sasim,
yang ia dapati tengah berkeliaran di salah satu tempat yang biasa
dikunjunginya. Ia memasang wajah sedih dan kecewa, dan mem-
biarkannya melihat bahwa ia sedang patah hati. Ketika Sasim ber-
tanya apa yang membuatnya sakit, ia menggelengkan kepala dan
mengerjapkan air mata palsu.
“Aku bodoh, Sasim,” katanya. “Aku menemui pembuat pelana,
dan mengatakan kepadanya aku tidak percaya bualannya. Dan ia
pergi ke bengkelnya dan mengambil sesuatu di dalam tong terbesar
dari tiga yang ada di sana. Di situ tempat tas itu diletakkan. Tapi
tidak penuh dengan emas.”
Ia menunggu reaksinya, tiba-tiba harapan memudar dari wajah
Sasim. Kemudian ia mengambil tangannya dan menaruh lima dari
sepuluh dinar milik ayahnya di sana. “Hanya perak,” katanya.
Wajah Sasim menjadi sebuah keajaiban untuk dilihat: ia me-
mandangi dinar-dinar itu dengan kegembiraan yang tak masuk akal.
“Sebuah tas penuh perak!” jeritnya, suaranya bergetar. “Kau
melakukannya dengan baik, Zulaika. Kau melakukannya dengan
baik. Itu bukan emas, tapi tetap saja . . . sebuah tas penuh dengan
perak! Seorang pria bisa hidup seperti seorang raja!”
Kegembiraan Sasim sedikit mereda ketika Zulaika mengatakan
kepadanya tata letak rumah pembuat pelana itu sangat rumit. Tapi
kemudian ia menawarkan diri untuk ikut dalam penjarahan itu, dan
membawanya ke tempat yang benar, keragu-raguannya menghilang
dan ia memeluknya dengan penuh semangat sama seperti yang ia
lakukan di tempat tidurnya yang sempit.
www.facebook.com/indonesiapustaka

“Tapi besok malam adalah waktu yang terbaik,” katanya kepada


Sasim. “Malam akan menjadi gelap dari bulan, dan kita tidak akan
bisa dilihat.”
Butuh sedikit bujukan—ketidaksabaran Sasim sulit dibendung—
tapi akhirnya ia menerima argumen Zulaika sebagai akal sehat dan
setuju menunggu satu hari. “Bawa sebilah pisau,” katanya kepada

71
Mike, Linda, dan Louise Carey

Sasim ketika mereka berpisah. “Jika pembuat pelana bangun, kita


harus membunuhnya.” Sasim meyakinkannya bahwa ia akan datang
dengan bersenjata dan siap.
Kini, akhirnya, Zulaika pergi ke pos penjaga untuk pertemuan
mingguan dengan Rhuk. Biasanya ini pertemuan singkat dan
tanpa basa-basi: ia menyerahkan perak itu, Rhuk menghitungnya,
memberinya anggukan pendek, dan ia pergi.
Kali ini ia menyerahkan kantong kosong. Rhuk memegangnya
terbalik dan mengguncangnya, seolah dinar-dinar yang hilang
mungkin menyangkut di dalam lapisannya. “Apa ini?” ia berkata
dengan marah.
“Ayahku telah memutuskan ia bisa mendapatkan perlindungan
yang lebih baik dari pos pengawas di Gerbang Timur,” katanya. “Ia
tidak akan membayarmu lagi.”
Rhuk memberinya ekspresi kegarangan yang murung. “Apakah ia
gila?” tanyanya. “Aku tahu betul ia mengelola sekumpulan pelacur di
lubang kutu busuk itu. Aku bisa memenjarakannya sebelum matahari
terbit jika berusaha menipuku!”
Zulaika mengangkat bahu. “Untuk menjadi mucikari, ia didenda
lima dinar. Ia pikir itu lebih baik daripada membayarmu sepuluh
dinar seminggu.”
Rhuk menghela napas, berdiri, dan mengambil sabuk pedangnya,
yang menghabiskan waktu lebih banyak dengan tergantung di paku
sebelah pintu daripada terpasang di pinggangnya. Jelas menyakitkan
baginya harus bersusah payah untuk menegakkan keadilan.
“Jika kau membunuh kerbau,” kata Zulaika dengan cepat, “kau
tidak bisa memerah susunya setelah itu.Aku tahu sebuah cara agar
kau bisa mengubah ini menjadi keuntungan yang jauh lebih baik,
dan menguntungkan kita berdua.”
Rhuk duduk lagi dengan desahan yang lebih keras. “Aku men-
dengarkan,” katanya.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Zulaika berbicara dengan sersan itu selama beberapa menit,


dan menyenangkannya dengan informasi intelijen yang ia berikan.
Kembali ke penginapan, ia menemui Ehara—pelabuhan kunjungannya
yang terakhir—dan meminta bantuannya. Ia bahkan menceritakan
sedikit tentang apa yang sedang ia rencanakan, tapi menghilangkan
beberapa detail penting. Ehara mencemaskan gadis muda itu, tapi

72
Kota Sutra dan Baja

setuju untuk ikut dalam rencananya demi persahabatan yang telah


lama terjalin di antara mereka. “Tapi kau harus hati-hati, Manis,”
Ehara memperingatkannya. “Jika ini berjalan buruk bagimu, kau
tidak punya tempat untuk lari.”
Jika berjalan buruk, Zulaika berpikir, aku tidak akan melihat pagi
berikutnya. Semua atau tidak, dan ia merasa bahwa ia bisa menerima
apa pun hasil ekstrem dari keduanya. Justru spektrum yang lebih
luas di antaranya yang menakutkannya.
Malam itu ia tidak bisa tidur sama sekali. Ia memikirkan segala cara
di mana ia bisa gagal: tentang betapa rapuh rencananya, pada akhirnya,
dan berapa banyak rencana itu bergantung kepada pemahamannya
tentang laki-laki yang kematiannya sedang ia rencanakan. Bagaimana
jika ia salah tentang salah satu atau lebih dari mereka? Bagaimana
jika sistem klasiikasinya masih memiliki gundukan atau lubang di
dalamnya?
Tapi ia telah berada di tangan Sang Pencipta sekarang—sudah
terlalu terlambat untuk ragu atau pertimbangan kedua. Ia menjalani
malam itu dan hari selanjutnya, dengan segala ketabahan yang bisa
dikumpulkan seorang anak berusia empat-belas-tahun. Matahari terbit
dan terbenam lagi; bulan tidak muncul. Malam itu selimut setebal
wol.
Sasim adalah kaitan pertama dalam rantai itu, dan Zulaika
setidaknya mengenalnya, bahkan dengan baik. Begitu baik sehingga
ketika ia tiba di pintu belakang penginapan segera setelah tengah
malam dan mengaku padanya bahwa ia lupa membawa sebuah
pisau, Zulaika memberinya pisau, tanpa sepatah kata, sebuah pisau
daging tujuh inci dari dapur ayahnya yang telah ia asah sehingga bisa
memisahkan kaki kutu rambut. Ia juga memiliki sebuah palu kayu
dengan balutan besi di seputar kepala sebagai pemberat—sebuah
senjata yang disimpan ayahnya di belakang bar untuk digunakan bagi
para pemabuk yang gaduh. Yang ini ia simpan untuk dirinya sendiri.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Mereka bersama-sama pergi ke rumah pembuat pelana. Sasim


siap untuk mencongkel kunci, tapi Zulaika mencoba gerendel dan
pintu terbuka segera. “Lihat,” katanya. “Si bodoh itu tak mengunci
pintunya!”Ia berdiri di samping dengan jelas untuk membiarkan
Sasim masuk lebih dulu, seolah benar dan wajar, kemudian begitu
sampai di dalam, ia menunjuk jalan, bukan ke bengkel pembuat

73
Mike, Linda, dan Louise Carey

pelana, melainkan ke kamar tidurnya. Pintu terbuka lebar: sekali


lagi Zulaika membukanya lebar dan berdiri di samping dengan sabar
untuk membiarkan Sasim mendahuluinya.
Ia berhenti di dalam, dan menemukan dirinya dalam kegelapan.
Ia tersandung pada sebuah sandal yang tergeletak di lantai, dan
pembuat pelana, yang berbaring terbangun dalam demam erotis,
duduk tegak mendengar suara itu.
“Bunga tercantik!”teriaknya. “Datanglah padaku!”
Sasim, ketika sesuatu berukuran besar bangun di depannya dalam
kegelapan, nyaris mati ketakutan. Tapi ia punya pisau di tangannya,
dan nalurinya menguasainya. Ia berlari ke arah pembuat pelana dan
menikamnya di jantung. Sang pengelana kuda jatuh di atas tempat
tidur dengan suara seperti kipas angin rusak.
Sasim belum pernah membunuh orang sebelumnya, dan setelah
kejadian itu ia terpana, sesaat, di tempat. Pada saat itu Zulaika
menyerang, memukulnya dengan satu pukulan yang menulikan di
kepala dengan palu terbalut besi. Sasim roboh di atas lantai yang
licin karena darah.
Zulaika berlari ke bengkel pembuat pelana dan melemparkan lima
dinar yang masih ia simpan (sisa dari suap Rhuk yang dialihkan)
ke lantai di samping tong besar. Ini hanya menahannya sedetik, tapi
ia bisa mendengar Sasim tersandung-sandung dan mengutuk di
belakangnya; Ia hanya memusingkannya dengan pukulan itu, tidak
membuatnya pingsan. Ia melempar pasak jendela dan menyelinap
ke luar dalam kegelapan malam.
Sasim mempunyai kecurigaan yang tajam bahwa ia telah dikhia-
nati, tapi ia masih terbeli dengan ide soal kantong perak di bengkel
pembuat pelana. Menyalakan lampu dengan jari-jarinya yang gemetar,
ia menemukan tong paling besar itu kosong, tapi sebaran dinar perak
tergeletak di tanah di sampingnya.
Koin-koin yang sedikit ini memperjelas cerita. Zulaika berada
www.facebook.com/indonesiapustaka

di sana sebelum ia, dan telah mencuri tas berisi perak itu!
Marah tanpa berpikir lagi atas tipu muslihat ini, Sasim mene-
mukan jalannya kembali ke pintu, terhuyung-huyung melintasi
halaman itu dan mengitari belakang penginapan hingga ia berdiri
di bawah kamar Zulaika. Daun pintunya terbuka lebar, dan sebuah
lampu menyala di dalamnya. Jadi pelacur itu berpikir ia aman, bukan?

74
Kota Sutra dan Baja

Ia akan mengetahui betapa salahnya dia!


Sasim memanjat dinding ini dalam kegelapan beberapa kali. Meski
masih pusing karena pukulan di kepala, ia berhasil lagi sekarang,
memanjat batu-batu kasar dengan pisau dapur dicengkeram di antara
gigi seperti bandit pada sebuah cerita lama.
Ia mendobrak penutup jendela lebar-lebar dan melompati ambang-
nya, memindahkan pisau itu ke tangan sehingga bisa menyemburkan
kata-kata yang mendidih di dadanya. “Aku akan mengirismu lebih
tipis dari kertas, kau pengkhianat kecil cabul!”
Vurdik sang Pemberani tidak suka diganggu ketika sedang ber-
cinta. Ia telah turun dari tubuh Ehara yang menggiurkan dan meng-
ambil pedang yang ia tinggalkan di bawah tempat tidur sebelum
Sasim mengambil tiga langkah masuk ke kamar.
Pada langkah keempat, ketika Sasim melambat ketika ia menyadari
bahwa tidak sedang berbicara kepada Zulaika, pedang melengkung
penjahat itu datang dan menjatuhkan pisau itu dari tangannya dengan
benturan baja yang berdenting.
Tak ada langkah kelima. Pedang bandit itu menebas tenggorokan
Sasim pada sabetan berikutnya, dan begitu tajam mata pisaunya
sehingga memenggal kepalanya. Anak laki-laki itu jatuh berlutut,
mulutnya komat-kamit dengan protes-protes dan makian-makian tanpa
suara dan kemudian jatuh dengan wajah menghadap lantai.
“Mengapa ia menyebutku seorang pengkhianat?”Vurdik bertanya-
tanya, terlambat. “Aku bahkan tidak mengenalnya.”
Jauh di bawah, di dapur penginapan, yang sepi pada jam seperti
ini, Zulaika menyalakan sebuah lampu dan melambaikannya tiga kali
ke luar jendela—kiri ke kanan, kanan ke kiri, kiri ke kanan. Melihat
tanda darinya, Sersan Rhuk memerintahkan pasukannya untuk keluar
dari persembunyian dan mengepung penginapan itu. Pintu Roda Biru
dijebol dengan kayu penggempur, dan para petugas menyerbu masuk
bangunan itu.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Sia-sia, Kishnothophur sang pengurus penginapan memprotes dan


membantah, memohon-mohon bahwa ia tidak bersalah dan bahwa ia
akan memperbarui suapnya. Rhuk memerintahkan penyisiran kamar-
kamar penginapannya, dan meskipun tidak mendapatkan satu pelacur
pun (para pelacur telah diperingatkan Zulaika untuk diam-diam
pergi pada tengah malam, kecuali Ehara, yang diakui Zulaika kepada

75
Mike, Linda, dan Louise Carey

para petugas adalah ibunya), penyerbuan itu mendapati satu kepala


bandit, persis seperti yang dijanjikan kepada Rhuk. Vurdik melukai
tiga petugas sebelum ditundukkan, tapi akhirnya sebuah pukulan
pentungan merobohkannya. Ia ditahan untuk banyak perampokan dan
pembunuhan dan Kish ditahan karena melindungi seorang buronan
terkenal.
Eksekusi ganda itu diselenggarakan pada satu hari pasar dan karena
itu dihadiri banyak saksi. Melihat putrinya berada di antara kerumunan
orang, Kish memaki-makinya dengan terisak-isak untuk hati
pengkhianatnya dan kebohongan gaya pelacurnya. Zulaika mengambil
sebuah apel dan memakannya dengan pelan, di hadapannya, hingga
pintu jebakan terbuka dan napas terakhir keluar dari tenggorokannya.
Batu di bawah lantai dapur yang terlalu berat diangkat Zulaika
tampaknya tidak jadi masalah bagi dua belas perempuan yang
punya tekad. Ehara menghitung uang Kish dengan hati-hati, dengan
pandangan para pelacur lain dan kemudian membaginya sama rata
menjadi dua belas bagian. Ia ingin memberi Zulaika bagian juga, lebih
banyak karena Zulaika telah menyerahkan penginapan ayahnya untuk
dimiliki Ehara selamanya. Namun Sersan Rhuk menepati janjinya,
dan menyerahkan seperempat penuh hadiah yang ia peroleh untuk
penangkapan Vurdik. Zulaika telah memiliki semua uang yang ia
butuhkan, dan malah sedikit berlebih.
Waktu pun tiba. Ehara meminta Zulaika, bukan untuk pertama
kalinya, tinggal bersamanya dan menjadi putrinya. Zulaika memeluk
perempuan yang lebih tua itu dengan erat, dan berterima kasih ke-
padanya untuk semua perbuatan baiknya, tapi ia tidak punya niat
tinggal di Ibu Kim. Dengan air mata berlinang di kedua pihak, ia
berjanji untuk sering kembali dan berkunjung.
Pagi berikutnya, di atas sebuah unta bagus yang ia beli dengan
bagian uang hadiahnya, ia meninggalkan kota itu sendiri dan menuju
Perdondaris yang jauh. Banyak hal yang bisa menimpa seorang
www.facebook.com/indonesiapustaka

perempuan di padang pasir yang luas: tak satu pun membuat Zulaika
takut sebanyak ketakutannya mati di kota tempat ia dilahirkan.
Imad-Basur terkejut melihatnya, tapi mendengarkan ceritanya
dengan penuh perhatian. Ia mengakui, ketika cerita selesai, bahwa
Zulaika jelas berhasil dalam tantangan yang ia buat untuknya. Dua

76
Kota Sutra dan Baja

laki-laki digantung, dan dua lainnya mati dengan pisau: jumlah yang
cuma bisa dikerjakan sangat sedikit muridnya untuk pekerjaan satu
malam.
“Jadi, apakah kau akan mengajariku?”tanya Zulaika kepadanya
terus terang.
Khalifah para pembunuh berpikir panjang sebelum menjawab.
Melatih seorang perempuan dalam seni kematian! Hal seperti ini
menantang semua konvensi, semua kepatutan. Namun jelas ini perem-
puan yang paling tidak biasa—dan Imad-Basur tidak pernah berpikir
tentang kepatutan sedikit pun.
“Aku akan mengajari kau,” katanya kepada perempuan itu. “Dan
aku yakin kau akan membuatku bangga.”
www.facebook.com/indonesiapustaka

77
Mike, Linda, dan Louise Carey

Cangkir yang
Mendarat Tegak,
Bagian Kedua

Zulaika mengamati pembantaian di tenda sang utusan dengan dahi


berkerut. Seorang saksi mungkin berpikir—seandainya ia bisa hidup
cukup lama untuk memikirkan sesuatu—bahwa ia sedang berduka
dengan kematian itu. Tidak, ia tidak berduka; ia hanya memikirkan
apa yang harus dia lakukan selanjutnya, dan bagaimana cara terbaik
melakukannya.
Jika jasad sang utusan ditemukan, situasinya segera menjadi tak
mungkin. Bukan hanya ia yang akan dibunuh untuk apa yang telah
ia perbuat, tapi para selir dan anak-anak mereka pun segera menjadi
korban dekrit Sultan Hakkim. Orang-orang lain, selain kapten penjaga
itu, pasti telah melihat sang kurir tiba; mereka akan kembali ke Bessa
www.facebook.com/indonesiapustaka

atau mengirim seorang penunggang kuda ke sana untuk menyenangkan


sultan. Itu tak boleh terjadi. Dan jika itu harus dicegah, Zulaika harus
melakukan banyak pembunuhan dalam waktu yang sangat singkat.
Melakukan hal itu akan memberikan tantangan logistik yang serius.
Ada sekitar tiga puluh penjaga dalam konvoi itu, dan mereka
tersebar di mana-mana. Beberapa ditempatkan sebagai petugas ronda,

78
Kota Sutra dan Baja

cara yang baik untuk keluar dari perkemahan. Mereka semua harus
diatasi, dan dengan cara tertentu sehingga tak seorang pun dari mereka
diperingatkan dengan melihat atau mendengar kematian-kematian
yang lain. Zulaika hebat, tapi ia tak sehebat itu. Tak seorang pun sehebat
itu. Namun perbuatan itu harus diselesaikan, ia memerlukan bantuan,
dan ia tahu di bagian mana bantuan itu bisa ditemukan.
Setelah memikirkan betul hal tersebut hingga titik ini, Zulaika
melupakan semua keraguan dan dalih dan langsung ke urusannya.
Ia menarik mayat kapten penjaga dan sang kurir ke sebuah sudut di
tenda, di luar garis pandang mana pun dari pintu masuk. Mayat sang
utusan ia dudukkan di sebuah kursi, dengan punggung menghadap
jalan masuk.
Selanjutnya, ia memperbaiki penampilannya sendiri. Ia meng-
gunakan sisa-sisa minyak pijat untuk menghilangkan darah jantung
En-Sadim dari tangan-tangan dan wajahnya, payudaranya dan perutnya
yang telanjang, sangat bersyukur ia membuka bajunya sebelum mulai
bekerja untuknya. Mengelap tangannya hingga kering dengan jubah
sang kurir, dengan cepat ia berpakaian. Meskipun ada beberapa noda
merah gelap di atas sandal-sandal kulitnya yang tidak bisa ia hilangkan,
ia yakin bahwa ia bisa melewati inspeksi sambil lalu.
Ia mengambil surat sultan dari tempat jatuhnya. Zulaika tak pernah
belajar membaca dan pentingnya hal ini membebaninya sekarang. Jika
En-Sadim tidak memaksa mendengar surat itu dibaca keras-keras,
semua ini akan berlangsung dengan sangat berbeda.
Ia memasukkan surat perkamen itu ke korset dan melangkah
dengan berani ke luar tenda. Membiarkan daun penutup pintu jatuh di
belakangnya, ia berdiri di sana, terbingkai dalam putih bahan bajunya,
ketika para penjaga di luar menoleh padanya.
Zulaika bernapas dengan berat, dan wajahnya mengilat karena
keringat. Ia mungkin bisa menyamarkan hal-hal ini, tapi ia malah
membuatnya berlebihan. Dalam situasi seperti ini, mereka melihatnya
www.facebook.com/indonesiapustaka

sebagai tanda-tanda kegairahan daripada petunjuk untuk pembunuhan.


Ia kelihatan seperti seorang perempuan yang baru saja muncul dari
gairah cinta yang paling ekstrem dan ditinggalkan. Ia bertemu pandang
dengan setiap pengawal bergantian, tanpa rasa malu, sebelum akhirnya
dan terlambat menundukkan kepalanya—kecabulan, yang menerima

79
Mike, Linda, dan Louise Carey

kembali pandangan malu-malu seorang perempuan terhormat, ia


mengangkat bahu seolah udara sore yang dingin, mengembus tubuhnya
yang super-panas, menyebabkan reaksi berantai yang tak disengaja.
“Mereka sedang berbicara,” kata Zulaika, suaranya tebal, “sesuatu.
Sesuatu yang penting. Mereka tidak ingin diganggu.”
Ia tetap dalam posisi itu sesaat lebih lama. Tangannya membereskan
kain bajunya, seakan tidak menyadari bahwa dengan melakukan itu,
mereka fokus pada lekukan pinggang dan pahanya.
Ia berjalan menjauh, menggoyangkan pinggulnya dalam provokasi
kuno dan jelas sekali. Setiap mata menatapnya, dan setiap pikiran adalah
satu kecemburuan yang tak masuk akal. Terlalu berlebihan untuk sebuah
pertunjukan. Ini akan menahan untuk sementara, tapi tidak terlalu lama.
Cepat atau lambat, beberapa situasi akan muncul yang memaksa satu
atau lebih penjaga mencari persetujuan kaptennya untuk sesuatu, atau
menerima perintah dari sang utusan, atau merundingkan permintaan-
permintaannya yang sepele. Zulaika harus selesai sebelum salah satu
dari hal itu terjadi.
Ia menemui Gursoon, yang sedang berbicara dengan anak-anak
di api unggun—mungkin sedang menuturkan kisah lain. Benar-benar
tak ada pilihan lain. Mungkin ada perempuan lain di harem yang sama
cerdasnya dengan Gursoon, tapi tak ada yang memiliki otoritas begitu
besar. Hanya Gursoon yang bisa membuat perempuan lain bertindak
dalam kesempatan kecil yang mereka punya. Perempuan yang lebih tua
itu melihat Zulaika mendekat, dan bergerak sedikit untuk memberinya
ruang di perapian, tapi Zulaika tidak duduk. Ia menyerahkan surat itu
kepada Gursoon. “Aku pikir kau harus membacanya,” katanya.
Gursoon membuka gulungan surat perkamen itu dan membacanya
tanpa bersuara. Zulaika menunggu.
Sulit untuk mengatakan, dari wajah perempuan itu, apa yang dia
rasakan tentang isi surat itu. Ia tetap tenang; ekspresi dan napasnya
tidak berubah. Ketika ia sampai di baris bawah, ia membacanya lagi,
www.facebook.com/indonesiapustaka

kali kedua ini lebih cepat dengan matanya berkedip-kedip dari baris ke
baris.
Akhirnya ia menggulung kembali surat itu dan mengetuknya di
lututnya.
“Ya,” katanya. “Terima kasih karena menunjukkan ini kepadaku,

80
Kota Sutra dan Baja

Zulaika. Ini benar-benar berita menarik. Soraya, saatnya tidur sekarang.


Bawa anak-anak yang lebih muda ke tenda-tenda mereka dan temani
mereka istirahat.”
Zulaika tidak pernah bisa membedakan nama anak-anak itu, tapi
gadis muda yang disebut namanya oleh Gursoon menjadi yang pertama
protes. “Tapi kau belum menyelesaikan cerita, Bibi! Dan matahari masih
tinggi!”
“Matahari akan segera turun,” kata Gursoon dengan muram.
“Lakukan seperti yang diperintahkan kepadamu, Sayang. Sekarang, dan
besok... ya, besok kita akan melihat matahari terbit lagi.”
Anak-anak dikumpulkan dan dibawa pergi. Semua kecuali satu
—seorang anak laki-laki yang kurus tapi atletis dengan wajah yang
memiliki kecantikan feminin, yang memandang kedua perempuan itu
dengan mata curiga.
“Apa yang terjadi?” ia bertanya.
“Tak ada,” kata Zulaika. “Pergilah, Nak.”
Brandal itu bergeming.
“Jamal,” kata Gursoon, sedikit lebih lembut, “pergi dan susullah
anak-anak kecil itu. Mereka masih takut, dan melihatmu mengawasi
akan menenangkan mereka.”
Anak laki-laki itu ragu-ragu untuk sesaat, pandangannya ber-
kedip dari satu perempuan ke perempuan lainnya, dan Zulaika mem-
pertimbangkan untuk membuatnya lari dengan pukulan di kepala.
Tapi akhirnya ia pergi dengan keinginannya sendiri, dan Zulaika
mengembalikan perhatiannya kepada Gursoon.
“Dari mana kau mendapatkan ini?” Gursoon bertanya kepadanya,
mengangkat surat itu.
“Dari En-Sadim,” kata Zulaika, “yang baru saja menerimanya dari
kurir sultan. Aku membunuh keduanya—bersama dengan kapten
penjaga. Karena situasinya seperti ini sekarang, tak seorang pun kecuali
kau dan aku yang tahu apa isi surat itu.”
www.facebook.com/indonesiapustaka

Alis Gursoon berkerut. “Membunuh mereka?” ia mengulangi,


seolah yakin bahwa ia pasti salah dengar.
“Ya. Membunuh mereka.”
“Tapi kemudian, jika mayat-mayat itu ditemukan—”
“—kita semua mati. Ya. Kita tidak bisa terus, dan tidak bisa kembali.

81
Mike, Linda, dan Louise Carey

Hanya kematian yang menunggu di arah mana pun. Para penjaga harus
mati, dan kita harus pergi. Pergi ke suatu tempat di mana mereka tak
bisa menemukan kita.”
Gursoon diam untuk sesaat lagi. Zulaika juga tidak mengatakan apa
pun, memberi waktu perempuan yang lebih tua itu untuk memeriksa
pikirannya.
“Kau benar,” kata Gursoon pada akhirnya. Ia memberikan Zulaika
pandangan tajam. “Satu pertanyaan, Sayang, sebelum kita mulai.
Bagaimana seorang perempuan muda membunuh tiga laki-laki ber-
senjata?”
‘Hidup bersih dan latihan teratur, Bibi. Juga, lima tahun latihan
seni membunuh.”
Gursoon tersenyum tipis, merenungkan celah-celah dalam jawaban
ini. “Dan bisakah kau membunuh sisanya?” ia bertanya pada akhirnya.
Zulaika tidak bermaksud menyombongkan diri atau menutup-
nutupi. “Hanya jika mereka tidak tahu apa yang terjadi. Ini para tentara
terlatih, dan beberapa dari mereka memiliki panah dan ketapel juga
pedang. Yang terakhir harus jatuh sebelum yang pertama tahu apa yang
terjadi. Cuma itu satu-satunya cara.”
Gursoon segera mengoceh beberapa nama. “Nafisah. Rihan.
Firdoos. Dalal. Umayma. Zeinab. Para perempuan ini akan menjadi
paling berguna bagimu. Tapi aku tidak tahu apakah mereka mampu
melakukan pembunuhan itu sendiri. Yang kita perlukan, aku rasa,
adalah sebuah siasat yang memungkinkan kau membunuh satu
orang pada satu waktu, sementara membuat yang lain tidak peduli
akan nasibnya.” Sebuah ide terpikirkan olehnya, dan ia melihat pada
matahari yang sedang terbenam. “Tak mungkin ini bisa diselesaikan
sebelum gelap turun,” katanya. “Ini memberi kita setengah jam. Ayo,
kita sebarkan berita dan membangun jebakan kita.”
Tiap-tiap perempuan yang namanya disebut, dan tiga lainnya,
didekati dan direkrut. Semuanya bingung dan takut ketika mendengar
www.facebook.com/indonesiapustaka

berita itu—Rihan pucat, dan Umayma memuntahkan keterkejutan dan


ketakutan—tapi semua menyatakan keinginan mereka untuk membantu.
Gursoon bukan perempuan bodoh, dan telah memperhitungkan
pilihannya atas fakta bahwa semua perempuan ini memiliki anak-anak
dalam konvoi itu. Ia tahu mereka akan berjuang hingga mati, jika perlu.
Duduk sedikit menjauh dari api unggun, dengan tenda En-Sadim

82
Kota Sutra dan Baja

tepat dalam pandangan mereka, mereka membicarakan berbagai


rencana sebelum memutuskan yang paling mudah. Matahari terbenam
secara perlahan di belakang cakrawala ketika mereka berbicara, dan
Zulaika menatap tanpa mata berkedip ke arah pintu masuk paviliun
sang utusan, mengetahui dengan baik seandainya ada orang yang
masuk, semua pertaruhan gagal. Jika itu terjadi, ia akan melompat
membunuh penjaga terdekat dan mengambil pedangnya. Apa yang
terjadi setelah itu adalah apa pun yang telah dikehendaki sang Pencipta,
tapi pasti akan melibatkan pembantaian besar-besaran.
Setelah diberi arahan dan dipersiapkan, para perempuan itu pergi
ke tempat mereka. Para penjaga yang sebenarnya sedang bertugas, dan
oleh karena itu berdiri sendiri di pos mereka adalah target pertama.
Masing-masing didekati oleh salah satu perempuan itu dan diceritakan
kisah yang menyedihkan tentang seekor ular dalam salah satu tenda
yang mungkin atau mungkin tidak berbisa. Senang mengambil peran
sebagai penolong, dan menunjukkan di depan para perempuan
cantik tapi tak bisa disentuh ini, laki-laki tersebut biasanya tidak
membutuhkan banyak bujukan untuk meninggalkan posnya sesaat
dan melangkah ke tenda di dekatnya—di mana Zulaika, yang berdiri di
balik pintu dengan mata yang telah menyesuaikan dengan kegelapan,
menyabetkan pedang di lehernya. Dua atau tiga perempuan kemudian
membantunya memegang laki-laki yang tak bergerak dan diam saat ia
menjelang maut, dan tua atau tiga lagi ditambahkan ke atas mayat itu
menjadi tumpukan yang kian menjulang di belakang tenda. Beberapa
perempuan menangis setelah pembunuhan pertama dan kedua, tapi
setelah ketiga kalinya mereka terbiasa dan mengeluarkan tenaga mereka
dengan tenang dan eisien hingga semuanya selesai.
Kini tinggal dua kelompok musuh yang harus dipikirkan: se-
kelompok yang terdiri atas dua belas atau lebih tentara yang tak bertugas
sedang berbincang-bincang dan bermain dadu di seputar api unggun
mereka, dan para petugas patroli yang sebelumnya ditempatkan Kapten
www.facebook.com/indonesiapustaka

Numair untuk mengitari tempat-tempat yang jauh dari perimeter tenda.


Para petugas patroli harus diatasi lebih dulu, Zulaika memutuskan.
Mereka tentu akan melihat dan mendengar setiap gangguan di tenda,
dan akan memiliki pilihan yang jauh lebih banyak untuk bereaksi.
Zulaika terhambat karena tak mengetahui berapa banyak petugas
patroli yang ada, tapi ia memiliki ingatan yang sangat baik dan membuat

83
Mike, Linda, dan Louise Carey

perkiraan kasar atas wajah-wajah yang hilang dari lingkaran api unggun.
Ia mempersenjatai para pembantunya dengan pedang dan belati, tapi
memerintahkan mereka untuk tetap menyembunyikan senjata-senjata
itu. Senjata-senjata itu hanya boleh digunakan jika para penjaga yang
sedang beristirahat masuk ke tenda En-Sadim, menemukan isinya yang
mengerikan dan membawa senjata untuk melawan mereka. Ia berharap
ia bisa kembali sebelum itu terjadi.
Berjalan dengan cepat melewati kegelapan yang dalam, Zulaika
keluar dari perkemahan itu dan kemudian mengelilinginya dengan
jarak setengah mil. Ia telah berusaha, ketika matahari masih ada, untuk
mencari lokasi tempat terbaik para petugas tersebut ditempatkan,
dan ia lebih dulu menuju tempat-tempat ini. Ia beruntung tiga kali,
menemukan targetnya tepat sebelum ia menemukannya, dan mem-
bunuhnya dengan cepat. Pencarian yang panjang gagal menemukan
yang keempat. Ia kembali ke perkemahan, membawa tiga busur dan
tiga kantong anak panah.
Pertempuran diam-diam kini memasuki tahapan terakhir. Ia
menyerahkan dua busur kepada dua letnannya. Sisanya telah ber-
senjatakan busur yang diambil dari para penjaga yang telah terbunuh
di tenda. Panah terakhir dipegang Zulaika untuk dirinya sendiri.
Para perempuan menyebar dan mengambil posisi mereka di
kegelapan mengelilingi api perkemahan para penjaga, lima puluh
yard atau lebih jaraknya dari semua arah. Zulaika menghitung jumlah
penjaga yang masih duduk mengelilingi api: ada empat belas, yang
duduk rapat. Ia menarik tali busurnya, dengan hati-hati membidik,
dan menembak.
Panah pertamanya menembus tenggorokan seorang prajurit yang
tak beruntung. Ia segera menarik yang kedua dan menembakkannya
lagi, tapi kematian pertama menjadi pertanda dan kini panah-panah
berdesing kearah para prajurit itu dari semua arah. Kebanyakan
melebar, tapi tidak masalah—yang penting adalah membiarkan para
www.facebook.com/indonesiapustaka

penjaga tahu bahwa mereka dikepung, sehingga mereka mulai keluar


dari lingkaran api unggun dan mengambil posisi bertahan. Ini tindakan
mutlak yang harus mereka lakukan jika benar-benar menghadapi
musuh yang duduk di kegelapan padang pasir, tapi Zulaika, yang
menembak tepat di ambang pintu, membunuh tiga lagi ketika mereka

84
Kota Sutra dan Baja

melakukannya.
Padamnya api menjadi pertanda kedua. Para perempuan yang
menanti membuat suara mengerikan, mengisi udara dengan jeritan-
jeritan pertempuran yang melengking. Para tentara, yang diserang
dan ketakutan, membalas serangan dengan panah dan ketapel, meski
mereka tidak bisa melihat satu musuh pun. Sementara itu, Zulaika
menghunus pedang dan belati dan berjalan di antara mereka.
Kegelapan hampir penuh. Api para perempuan, yang sedikit
mengecil, masih menyala, tapi tak seorang pun berusaha menjaga
nyalanya dan kemudian padam menjadi cahaya merah. Malam padang
pasir tanpa bulan, dan bintang-bintang menyimpan kilau untuk diri
sendiri. Pisau-pisau Zulaika menjentik tenggorokan-tenggorokan dan
menusuk jantung-jantung: satu demi satu laki-laki roboh, melihat
Zulaika hanya ketika itu sudah terlalu terlambat.
Tiga perkelahian terakhir paling sulit. Mata-mata para lelaki itu
telah menyesuaikan dengan gelap pada saat itu, dan mereka sadar
bahwa mereka menghadapi hanya satu musuh sedekat tangan dan
bukan sepasukan tentara yang menembak dari jauh. Tiga laki-laki
menghamburkan diri pada Zulaika, dan ia sibuk begitu mempertahan-
kan diri melawan pedang-pedang mereka yang cepat sehingga ia tak
mampu membuat kemajuan melawan mereka. Ia melihat celah, me-
lompat masuk dan menusuk salah satu dari tiga orang itu dan menem-
bus kerongkongannya, tapi gagang sebuah pedang memukulnya di
bagian kepala dan ia jatuh. Tubuh laki-laki yang baru saja ia hantam
jatuh menindihnya, menjepitnya.
Ia melihat pedang terbalik di tangan pemiliknya dan terhunus di
atasnya, siap untuk ditancapkan ke dadanya.
Sesuatu melesat di malam itu, seperti garis lebih gelap yang di-
gambar melintas kegelapan: tentara itu jatuh, dengan dengusan kecil
karena terkejut.
Satu-satunya penjaga yang hidup mungkin masih bisa menekannya
www.facebook.com/indonesiapustaka

dan membunuhnya, tapi tahu ia tinggal sendirian ia berbalik dan


berlari. Belati Zulaika menancap di punggungnya.
Berusaha berdiri, masih sedikit pusing karena pukulan di pelipis-
nya, ia memeriksa mayat laki-laki yang hampir membunuhnya. Pada
sebuah luka yang dalam di keningnya ia menemukan batu ketapel,

85
Mike, Linda, dan Louise Carey

masih tertanam di lubang dalam tengkoraknya.


Bocah laki-laki Jamal keluar dari kegelapan, ketapelnya masih di
tangan, dan melihat hasil kerja tangannya. Kemenangan bertempur
dengan kengerian yang memualkan.
“Kau mendapatkan rasa terima kasihku,” kata Zulaika dengan
pelan.
“Kau seharusnya mengatakan kepadaku,” kata anak laki-laki itu,
nadanya dingin. “Mereka semua pengkhianat dan bajingan. Aku ber-
harap bisa membunuh lebih banyak.”
Kemudian tangisnya meledak.
Ketika akhirnya para perempuan lain berusaha mendekat dan
melihat hasil perkelahian itu, mereka mendapati Zulaika sedang mem-
buai anak laki-laki yang menangis keras itu di dadanya, wajahnya—
untuk pertama kali setelah semua kejadian ini—mengkhianati sesuatu
seperti kegelisahan.
www.facebook.com/indonesiapustaka

86
Kota Sutra dan Baja

Kisah Pustakawan
dari Bessa

Pernah ada seorang perempuan muda yang—memiliki ketertarikan yang


kuat dan dalam terhadap kata-kata tertulis—menyamar sebagai anak
laki-laki dan mengajukan permohonan kepada kepala perpustakaan
di kota Bessa untuk pekerjaan yang diberi upah. Bagi kebanyakan
orang, perbuatan menipu ini mustahil berhasil bahkan untuk jangka
pendek, apalagi dalam periode tahunan di saat perempuan itu bekerja
di perpustakaan. Tapi ia terbantu oleh bentuk tubuhnya yang langsing,
dan begitu ia mengenakan pakaian laki-laki yang ia perlukan hanyalah
memotong pendek rambutnya agar menyempurnakan penyamarannya.
Pekerjaan yang tersedia hanyalah pekerjaan kasar, termasuk ter-
utama menyapu lantai dan mengisi ulang bak tinta di ruang penyalinan
naskah, tapi perempuan itu merasa lebih dari puas dengan pekerjaan
ini. Ia seorang penyendiri, dan kerap tidak nyaman atau malu berada di
www.facebook.com/indonesiapustaka

sekitar orang lain. Sifat pendiamnya ini diperparah dengan kenyataan


bahwa ia dikaruniai bakat meramal, penerawangan. Ia tidak bisa tinggal
lama ditemani orang lain tanpa inderanya diserbu jejaring kusut masa
lalu, dan jalan-jalan yang bercabang banyak dari kemungkinan masa
depannya.
Sebaliknya, ditemani banyak buku, ia merasakan ketenangan yang

87
Mike, Linda, dan Louise Carey

sulit ia lukiskan: seolah semua kekuatan kontradiktif yang ia alami


ketika terpaksa berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya men-
capai keseimbangan yang sempurna dan abadi.
Dulu ia datang ke kota Bessa bersama ibunya, yang kini telah
lama mati, meninggalkan perempuan muda itu tidak terlalu miskin
tapi dengan harta yang sedikit dan serbakurang. Jadi bekerja di per-
pustakaan itu dalam banyak hal,

Tidak, ini tidak berhasil sama sekali. Rasanya tidak benar. Jauh lebih
sulit menceritakan kisah ini dibandingkan kisah-kisah lain. Ini konyol,
aku tahu itu, tapi makna kekuatan, tujuan dan arah yang aku temukan
dalam kehidupan orang lain lenyap seketika saat aku merenungkan
kehidupanku sendiri. Rasanya seperti aku sedang melukiskan pola-pola
cahaya di air, yang berubah ratusan kali dalam sekejap. Tapi izinkan
aku menarik napas, untuk sesaat, dan mencoba lagi.
www.facebook.com/indonesiapustaka

88
Kota Sutra dan Baja

Kisah Pustakawan
dari Bessa

Perpustakaan itu kadang mengingatkan Rem akan bawah tanah yang


sangat dalam di sebuah kota. Tempat itu dingin, hening, diterangi
cahaya langit yang jaraknya sangat jauh: sebuah kota dari jalan-jalan
labirin yang ia lewati menuju keheningan yang takzim, satu-satunya
warga kota manusiawi, sebuah kota dari rak-rak buku yang menjulang
dipadati gulungan-gulungan naskah yang membungkuk padanya ketika
ia berjalan, menyaksikan kemajuannya dengan kesabaran tanpa batas
dan menua.
Kini, ia melangkah dengan cepat di bawah pandangan mereka
yang menenangkan. Caranya berjalan, caranya membawa diri, telah
berubah sejak ia pertama kali datang ke perpustakaan ini. Ketika tiba, ia
canggung dan berjalan dengan kaki diseret, mengenakan pakaian abu-
abu yang lusuh seorang anak laki-laki penyapu. Sudah sepuluh tahun
www.facebook.com/indonesiapustaka

sejak hari itu; kini Rem mengenakan sabuk merah dan topi Pustakawan
Ketiga, dan berjalan dengan sebuah kebanggaan sederhana.
Ia mencapai akhir dari lorong rak-rak yang panjang, berbelok ke
kanan, dan dengan segera menemui sesosok yang tengkurap di lantai
itu. Ia mulai terbiasa menemukan Pustakawan Kedua, Warid, berbaring
dan semi-koma setelah satu malam mabuk-mabukan, di tempat-tempat

89
Mike, Linda, dan Louise Carey

yang aneh di koridor-koridor perpustakaan dan ruang-ruang baca. Pada


hari-hari pertama ia biasanya menginjaknya, mendapatkan pukulan
yang mudah dihindari dan serentetan makian karena kecerobohannya.
Namun, ia segera belajar untuk memeriksa jalan di depannya untuk
melihat keberadaan laki-laki itu. Kini ia melangkah dengan hati-hati
menghindarinya, memberikan keleluasaan sebisa mungkin. Laki-laki
itu mengeluarkan erangan halus ketika ia melewatinya, dan berguling.
Ia sebenarnya seorang laki-laki yang sopan, di luar kebiasaannya
berjudi dan mabuk, dan meskipun ia tidak cukup bagus bagi per-
pustakaan yang seolah berada di bawah pengurusannya, setidaknya
ia bisa dikatakan tidak membahayakan. Secara keseluruhan, Rem
mulai lebih menyukainya—ia seorang teman manusia yang langka di
dalam dunia perkamen dan batu, dan yang lebih penting lagi, sebuah
dunia yang sangat tenang, yang hanya menuntut sedikit kemampuan
percakapannya.
Dan ketidakcakapan Warid adalah berkah baginya. Setiap tugas
yang gagal Warid lakukan adalah tugas di mana ia bisa berhasil sebagai
penggantinya, setiap tugas yang Warid abaikan adalah tugas yang
bisa ia penuhi. Kekurangannya akan kebanggaan profesional yang
lengkap telah memberikan seluruh perpustakaan pada asuhannya.
Ialah pemeliharanya. Kadang-kadang, bahkan kini, kegembiraan akan
pemikiran itu muncul dalam dirinya begitu kuat, sehingga ia harus
berjuang untuk menahan tawa. Rem adalah seorang pustakawan, dan
gelar itu cocok betul dengannya, pengetahuan tentang perpustakaan
seintim namanya sendiri, kulitnya sendiri.
Ia berjalan terus melewati Pustakawan Kedua, berjalan hingga
tiba di sebuah pintu kayu kecil, berukir hiasan. Di sini ia memberikan
ketukan yang penuh hormat, kemudian masuk tanpa menunggu
jawaban—selalu membutuhkan waktu lama. Pustakawan Pertama
bahkan tidak memperhatikan ia telah masuk. Laki-laki itu membungkuk
di atas gulungan-gulungan naskah langkanya seperti biasa, berusaha
www.facebook.com/indonesiapustaka

menaklukkan tangan-tangannya yang gemetar cukup lama untuk mem-


perbaiki perkamen-perkamen mereka yang robek. Rem batuk dengan
sopan ketika mendekat, dan ia mendongak kepadanya dengan mata
yang berair terlipat di kulitnya yang keriput. “Ah, Rem.” Ia jeda seolah
mengumpulkan pikirannya, tapi kemudian menundukkan kepalanya
kembali bekerja, tampaknya benar-benar melupakan kehadirannya.

90
Kota Sutra dan Baja

Rem batuk lagi, dengan lembut. “Tuan,” katanya, “Aku lihat kau
selesai memperbaiki gulungan-gulungan naskah yang timbul dan
bercahaya yang tiba bulan lalu dari Ard-al-Raqib. Aku datang untuk
mengambil kunci ke Ruang Naskah Langka, untuk mengganti naskah-
naskah itu di sana.”
Pustakawan Pertama tampak mempertimbangkan pernyataan itu.
“Mmmmm . . . Kau tahu, Rem, Pustakawan Ketiga seharusnya tidak
punya akses ke Ruang Naskah Langka. Tanggung jawab semacam itu
sedikit di atas posisinya, tapi, aku pikir.... inisiatif yang bagus, Nak,
sangat bagus, tapi aku pikir tugas ini jatuh ke tangan putraku, ketimbang
kepadamu. Tapi, tapi . . . aku senang kau mengingatkanku. Kau hanya
perlu berlari dan memintanya untuk menyortirnya sekarang, ya?”
“Tuan,” Rem segera menjawab, “putramulah yang mengirim aku
kepadamu dengan pesan bahwa aku harus meminta kunci itu dan
memberikannya kepadanya. Ia sekarang berada di pasar, sedang me-
mikirkan pembelian beberapa tinta baru terkenal yang luar biasa sulit
memudar, tapi ia lebih suka mulai memindahkan gulungan-gulungan
naskah itu segera setelah ia kembali. Anda tahu,” ia menambahkan
setelah keraguan singkat, bertanya-tanya apakah ini akan keterlaluan,
“betapa berbaktinya Pustakawan Kedua dalam pekerjaannya dan
kesulitan-kesulitan yang ia terima untuk menyelesaikan segalanya tepat
waktu.”
“Ah! Baiklah, baiklah. Itu patut dipuji. . . hebat.. Ini kuncinya . . .”
Lelaki tua itu dengan ragu-ragu menggapai laci di depan mejanya,
dan menarik sebuah kunci tembaga tipis ke luar dengan jari-jari yang
bergetar. Rem mengambilnya dengan mulus dari tangan lelaki tua itu
dan, menunduk lurus, berbalik dan berjalan ke luar.
Tipu daya itu kini dia lakukan secara alamiah; tak ada yang pernah
bisa dikerjakan tanpa cara itu. Sama ketika ia bepergian ke Perdondaris
dan Gharia dalam pencarian teks-teks baru, misi-misi kegigihan yang
seharusnya dilakukan Pustakawan Kedua sendiri.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Dalam hal-hal lain ia berbohong karena kelalaian—para Pustakawan


lain tidak tahu ia secara pelan-pelan meletakkan gulungan-gulungan
naskah itu dalam urutan abjad sesuai bagian. Mereka juga tidak tahu
berapa banyak cerita dan puisi karyanya yang kini memiliki tempat di
perpustakaan itu, perkamen baru mereka yang berkilau di antara petak-
petak gulungan-gulungan tua yang menguning.

91
Mike, Linda, dan Louise Carey

Mereka tentu saja tidak tahu bahwa Rem tidur di perpustakaan itu
setiap malam. Ia telah melakukan ini untuk pertama kalinya pada satu
malam beberapa bulan setelah ibunya meninggal dunia. Ia menempatkan
kasur gulungnya di ujung sebuah jalan buntu rak-rak yang dikhususkan
untuk naskah-naskah suci. Rak-rak ini mengelilinginya ketika ia tidur,
sebuah sensasi yang anehnya ia rasakan menyamankan.
Setelah itu terpikir olehnya bahwa perpustakaan adalah sebuah
kota, dan ia merasa dirinya sendiri untuk pertama kalinya sebagai salah
satu penghuni sejatinya. Para ilmuwan datang dan pergi. Pustakawan
Pertama dan Kedua tiba pada pagi hari dan pergi pada malam hari ke
rumah kecil yang mereka tinggali bersama di pinggir Bessa. Hanya
Rem yang berkeliling di lorong-lorong perpustakaan pada malam
hari, ketika kesunyian hidup dengan bisikan-bisikan perkamen ketika
mereka mendesirkan pesan lembut dari satu ke yang lainnya dalam
gelap.
Ia berhenti membayar sewa untuk kamar yang ia biasa tinggali
bersama ibunya. Ia tak pernah tidur di sana lagi. Kian lama, ia mem-
perhatikan bahwa setelah perjalanan ke pasar atau ke Jidur, di mana
ia kadang-kadang pergi untuk mendengarkan perdebatan, sebuah
perubahan halus terjadi pada dirinya ketika pulang ke perpustakaan.
Bahu-bahunya santai, hampir tak kentara. Ia menghela napas yang
secara tak sadar dia tahan, atau merasa ringan dalam langkahnya. Ia
tidak menyadari perubahan ini pada awalnya; ia tidak pernah meng-
alaminya sejak sangat belia. Lalu, beberapa saat kemudian, terjadi
padanya bahwa kepulanganlah yang ia rasakan, ketika ia mendorong
pintu-pintu besar dan masuk ke perpustakaan yang dingin dan tenang
sekali lagi. Tak pelak, ia merasa seolah kembali ke tempat di mana ia
benar-benar berasal.
Namun, akhir-akhir ini, kepulangan-kepulangannya memiliki
arti, masing-masing menjanjikan kelegaan yang menyenangkan dan
mendebarkan. Pulang ke perpustakaan sekarang, Rem merasakan
www.facebook.com/indonesiapustaka

tempat itu adalah sebuah perlindungan sebaik sebuah rumah, tiba-


tiba sangat hebat bukan karena tempat itu sendiri, melainkan untuk
perlindungan yang tampaknya ditawarkan dari dunia di luarnya. Dunia
itu berubah dengan cara yang cepat dan menakutkan.
Semua dimulai beberapa bulan sebelumnya dengan kemunculan
seorang pembicara baru di Jidur. Namanya Hakkim Mehdad. Doktrin

92
Kota Sutra dan Baja

Pertapaan yang ia ceramahkan tidak pernah secara khusus disambut


di Bessa sebelumnya, penduduknya terlalu mencintai rumah bordil
mereka dan rumah-rumah minum untuk menganut ilsafat penahan
nafsu. Para penceramah Bessa cenderung memfokuskan perhatian
mereka pada agama-agama yang lebih menarik, ceramah-ceramah yang
mungkin menarik pengikut yang besar. Namun, para pendengar di
Taman Suara, tidak pernah menganut sebuah kredo karena manfaatnya
saja, menilai sebuah penampilan di atas semua argumen moral dan
sungguh-sungguh. Pengajaran-pengajarannya yang dikecam di Jidur
membubung tinggi dan jatuh pada suara-suara para pembicara mereka.
Dan, meskipun tak pernah terjadi sebelumnya, doktrin Pertapaan yang
menimbulkan kebencian kini ada di mulut salah satu pemilik suara
yang bisa menghidupkannya menjadi keindahan.
Malam pertama melihat Hakim secara langsung, Rem sedang
berjalan untuk kembali ke perpustakaan ketika melewati kerumunan
orang yang berkumpul di lapangan. Ia memperhatikan saat melewati
sekelompok laki-laki mengenakan jubah-jubah panjang, sebuah
pemandangan aneh di Bessa pada saat itu, dan terutama di panas
yang menyengat di musim panas. Mereka berkumpul mengelilingi
seorang laki-laki kurus tinggi, juga berpakaian hitam, yang baru saja
naik podium. Tampaknya mereka para pengikutnya, dan sedang
mengamatinya dengan penuh perhatian. Orang-orang yang berdiri
dekat mereka memandang sosok-sosok gelap ini dengan agak gelisah.
Awalnya, Rem nyaris tidak memperhatikan hal ini, menganggap
Hakkim hanyalah aktor lain di teater perdebatan jalanan. Kemudian
ia mulai bicara.
“Pikirkan nihareem padang pasir,” katanya. “Bidadari-bidadari
iblis ini membingungkan pelancong yang letih, membelokkannya
dari jalannya dengan lampu-lampu terang mereka pada malam hari.
Tertipu, mengira dia telah menemukan sebuah kota atau penginapan,
ia langsung menuju lampu-lampu ini, hanya untuk tersesat di padang
www.facebook.com/indonesiapustaka

pasir yang luas, mati kehausan atau tenggelam dalam pasir hisap.”
Suara laki-laki itu menggema di seluruh lapangan. Meskipun ia
tidak berteriak, kata-katanya memotong kebisingan Jidur, membuat
suara-suara baik kerumunan maupun para pendebat seperti meng-
hilang menjadi cuma gumaman membosankan. Orang-orang mulai

93
Mike, Linda, dan Louise Carey

berkumpul di sekitar dia, menjauh dari pembicara-pembicara lain


menuju penampilan baru yang menarik perhatian itu.
Para penceramah yang tak beruntung itu memelototi Hakkim
karena merampas pendengar mereka, namun, bahkan mereka pun
menyimak dia. Mereka tenggelam oleh keyakinan totalnya, bengkok di
seputar baja tumpul dari kepastiannya, meskipun itu bukan keinginan
mereka. Kata-kata pembuktian kesalahan atau serangan mati di bibir
mereka. Rem, juga, tertahan oleh kualitas yang tak dapat dijelaskan
dalam suaranya. Semangat dalam kata-katanya seperti minyak dalam
sumbu, memenuhinya dengan api yang tak menyala.
“Cahaya-cahaya ini indah. Mereka penuh iming-iming. Namun
kecantikan merekalah yang mengungkapkan penipuan mereka.
Janji-janji mereka itulah yang memperingatkan kaum bijak untuk
menghindar dan takut kepada mereka. Begitu juga dengan kesenangan-
kesenangan dunia ini. Anggur, perjudian, tubuh-tubuh telanjang, ini
adalah keinginan-keinginan dasar, cahaya-cahaya kecil yang mem-
butakan kita dari jalur kita yang semestinya. Mereka adalah jerat! Hanya
dengan memadamkan kilau beracun mereka kita mungkin bisa melihat
jalan bebas hambatan yang aman dan tidak korup!”
Suaranya berubah menjadi bisikan. Kepalanya menjulur ke depan-
nya ketika ia meneruskan kalimatnya: “Karena ada cahaya lain, Teman-
temanku. Sebuah cahaya yang lebih besar, lebih terang, lebih murni,
ratusan kali lebih indah daripada cahaya-cahaya kecil yang menjebak
kita. Ini adalah cahaya dari Satu Kebenaran. Ini, dan hanya ini, cahaya
yang akan menuntun kita menuju keselamatan melalui padang pasir,
cahaya yang menerangi jalan kita yang semestinya. Jadi mengapa, kalian
mungkin bertanya padaku, kalian tidak melihat cahaya ini? Mengapa
kalian tidak pernah melihat keindahannya? Mengapa kalian tidak
bersenang-senang dalam cahayanya yang berlimpah-limpah?”
Kini kedua matanya memancarkan percikan api, dan bernyala.
Kobaran api yang tertidur dalam suaranya bangkit menjadi raungan.
www.facebook.com/indonesiapustaka

“Karena kalian tersesat di gurun! Karena kalian tertipu nihareem!


Tinggalkan kebiasaan minum-minum kalian, tinggalkan rumah-rumah
perjudian kalian, taklukkan kecabulan dan syahwat kalian! Kalian baru
menghindar dari kematian. Kalian baru meremehkan godaan iblis! Dan
ketika kalian telah meninggalkan semua itu, pikir, hanya pikirkan, apa
yang akan kalian dapatkan sebagai balasannya...”

94
Kota Sutra dan Baja

Suara Hakkim tenggelam menjadi gumaman kegembiraan yang


luar biasa ketika ia melukiskan kenikmatan-kenikmatan dari Satu
Kebenarannya, dan Rem memandangi wajah-wajah di sekitarnya.
Tak semua di antara penonton itu, yang terpaku di tempat mereka,
bereaksi dengan baik terhadap kata-katanya. Ia bisa melihat beberapa
orang berkomat-kamit tak jelas satu sama lain, dan tidak sedikit yang
menyeringai dan meringis pada gagasan menaklukkan kecabulan dan
syahwat. Hampir tengah hari, saat hidup di kota yang panas merangkak
pelan, dan lapangan berkilau-kilau dalam panas musim panas. Matahari
membara di langit. Hari itu adalah salah satu dari hari-hari ketika
panas membengkak dan mengental di udara, memohon untuk dibelah
oleh badai. Mengeringkan semangat orang, membuat mereka lemah
dan lelah dan marah. Di kanan Rem, seorang laki-laki berwajah polos
dengan sebidang keringat di bawah ketiaknya berteriak, “Mengapa tidak
meninggalkan makan dan minum juga, dan mengakhirinya? Tidak
akan ada masa depan bagi kemanusiaan, karena kita dilarang menjadi
ayah.”
Penonton telah membengkak sedemikian besar jumlahnya se-
hingga ketika itu terjadi, orang-orang yang berdiri di depan tidak tahu
apa-apa. Terisolasi oleh jumlah penonton yang meningkat, mereka tidak
menyadari apa-apa lebih daripada keributan kecil di tengah penonton,
suara latar yang bising yang selalu mengisi Jidur.
Suara Hakkim berlari, berliku dan mulus, kini sebuah bisikan yang
nikmat, kini sebuah seruan yang jelas dan keras, ketika murid-muridnya
mengalir seperti aspal melewati kerumunan orang, membeku di sekitar
lelaki di samping Rem—tidak cukup cepat untuk mengejutkannya—
dan kemudian mengurungnya. Segalanya tampak meleleh oleh panas
dan menjadi sebuah mimpi yang melengkung: gerakan mereka, sebuah
cairan yang mengental, wajah laki-laki itu terjaga dalam keterkejutan
yang pelan, erangan-erangan dari lukanya.
Rem menyaksikan mereka memukulinya, terlalu takut untuk ber-
www.facebook.com/indonesiapustaka

teriak. Rasa tak berdaya yang memuakkan meliputi dirinya. Ia berdiri


terbelenggu di tempat itu hingga sosok-sosok gelap berbalik dan
berjalan, meninggalkan laki-laki yang berdarah itu meringkuk seperti
bola rusak di atas tanah. Orang-orang di sekitarnya mulai berteriak
dan menunjuk-nunjuk; beberapa laki-laki mempertimbangkan untuk
mengejar, tapi mengukur diri sendiri dan mundur ketakutan, atau

95
Mike, Linda, dan Louise Carey

alih-alih pergi memanggil seorang dokter untuk laki-laki itu, yang


mulai merintih dan bergerak. Para Pertapa itu meninggalkan Jidur
tanpa rintangan, dalam kebisuan yang sama ketika mereka melakukan
serangan. Dan di atas semua itu, seperti musik, suara Hakkim mengalun.
Nadanya kini dalam dan penuh belas kasihan yang mengerikan, seolah
ia akan merangkul para pendengarnya.
“Oh, saudara-saudaraku! Oh, teman-temanku! Betapa aku berharap
kalian bisa lihat cahaya Kebenaran seperti aku telah melihatnya! Itu
akan mengubah kalian!” Rem lari meninggalkan lapangan itu dengan
rasa jijik.
Ia ingin melupakannya, mengabaikan seluruh kejadian itu dari
pikirannya sebagai sebuah penyimpangan, yang tak pernah ter-
ulang lagi. Tapi hari itu sesuatu telah pecah di Jidur. Bukan angin
badai yang diharapkan datang untuk membelah bisul musim panas,
melainkan beberapa kesalahan, hal-hal busuk, lemak yang tumbuh
dalam kegelapan dan kerahasiaan. Perutnya telah dibelah, dan kini
penularannya telah menyebar.
Pertama ia melihat sosok-sosok berbaju hitam hanya dengan
mata batin penerawang, tapi dengan segera mereka merembes melalui
jalan-jalan Bessa seperti tinta yang tumpah di atas perkamen. Mereka
kebanyakan orang-orang muda, para putra penjagal dan penenun
yang selalu merasa ditakdirkan untuk hal-hal lebih besar daripada
karier di toko ayah-ayah mereka. Mereka mereguk kata-kata Hakkim,
menyelinap ke Jidur menentang keingingan orang tua mereka, dan
mulai menolak anggur pada makan malam, bangun jauh sebelum
anggota keluarga lain untuk duduk dalam meditasi bisu.
Sebuah keanehan kecil dalam diri seorang anak yang sedang
tumbuh memang diharapkan. Anak-anak muda datang dengan
kebingungan dan frustrasi—hal-hal seperti itu alamiah dan akan
menemukan saluran keluarnya, kadang-kadang dalam pertengkaran
akibat mabuk, kadang-kadang dalam sedikit keeksentrikan agama.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Namun Hakkim adalah seorang nabi. Ia melihat seribu sumur mata


air ketidakpastian dan kemarahan dan melihat sebuah sungai yang
potensial. Yang kurang adalah sebuah arah untuk diikuti. Pertapaan
tak punya tuhan, tapi dalam namanya Hakkim menampilkan mukjizat,
melahirkan sebuah bangsa baru di tengah bangsa lain: sebuah bangsa
muda, berpakaian hitam, disatukan tujuan tunggal.

96
Kota Sutra dan Baja

Tujuan itu adalah darah. Para Pertapa itu menjauhkan diri dari
kenikmatan dunia, tapi memburu mereka yang hidup dengan hal
itu. Gedung-gedung perjudian dibakar dan penginapan-penginapan
diserang, pelanggan mereka dilempari batu. Para gadis penari diikuti
dalam perjalanan pulang ke rumah dari tempat bekerja. Segera, tak
seorang perempuan pun berani berjalan sendirian setelah malam tiba
dengan lengan dan kepala tak tertutup. Dikabarkan bahwa Bukhari
al-Bukhari telah meningkatkan keamanan di sekitar haremnya sendiri.
Seorang pemilik bar ditemukan tergantung di papan nama di luar
bangunannya. Laki-laki dan perempuan yang bercinta dengan sesama
jenis juga menjadi sasaran. Para Pertapa mempraktikkan pantangan
yang ketat, dan menganggap semua praktik seksual di luar dari yang
dilakukan antara suami dan istri adalah dosa dan menjijikkan.
Ketika serangan-serangan itu dimulai, sekelompok perempuan
akan berkumpul dalam perjalanan mereka menuju pasar, bergosip
dalam nada berbisik dan penuh ketakutan tentang kekejaman terbaru.
Kemudian Para Pertapa mulai berpatroli keliling kota di siang hari,
berjalan dalam kelompok tiga atau empat dan berhenti untuk men-
dengarkan percakapan-percakapan. Tiba-tiba, tak seorang pun ber-
bicara di jalan-jalan lagi.
Mereka bukannya canggung; kekerasan oleh Para Pertapa dilakukan
tanpa suara dan secepat bisikan, dimulai dengan suara langkah kaki
yang lembut di atas jalan-jalan sempit, dan berakhir dengan desiran
cermat pisau yang diusap bersih di sebuah lipatan kain berwarna gelap.
Keheningan ini, keheningan tanpa bisa diganggu ini, yang dirasakan
Rem paling menakutkan tentang mereka. Ia hidup dalam keheningan
selama sebagian besar usianya, tapi ini berbeda. Keheningannya,
keheningan yang ia cintai, bersenandung dengan suara-suara bisu;
keheningan pada akhir sebuah lagu, keheningan para kekasih persis
pada saat sebelum dan sesudah bercinta. Para Pertapa diam dengan
cara yang menakutkan, dan Rem merasakan ini dan mundur darinya
www.facebook.com/indonesiapustaka

dalam ketakutan.
Ketakutan yang mengisi Bessa bahkan telah menembus dinding-
dinding batu yang tebal dari perpustakaannya, yang biasanya terputus
dengan meyakinkan dari kota dan masalah-masalahnya. Pustakawan
Pertama keluar lebih sering dan lebih sering lagi dari kantornya dan
berjalan terhuyung-huyung dengan cemas pada saat-saat yang aneh,

97
Mike, Linda, dan Louise Carey

mencari putranya. Beberapa kali kini, Rem terpaksa menarik Pustakawan


Kedua masuk ke Ruang Naskah Langka untuk menyembunyikannya
dari ayahnya, bertemu Pustakawan Pertama dengan alasan belanja
di pasar, atau pertemuan yang tak diduga dengan salah satu utusan
sultan. Pustakawan Pertama memang dijejali dengan khayalan dan
angan-angan, tapi ia bahkan tidak lupa dengan keadaan sekitar bahwa
ia tidak punya prasangka tentang alasan-alasan sesungguhnya di
balik ketidakhadiran Warid yang cukup lama dari perpustakaan, dan
kenyataan bahwa Rem mengerjakan sebagian besar tugasnya.
Jauh di dalam ruang yang gelap dan sedikit memalukan di pikiran-
nya seperti yang disediakan para suami yang istrinya tidak setia untuk
pengetahuan tentang eksploitasi para istri mereka, ia tahu bahwa
Warid memiliki reputasi khusus. Ia berusaha mengabaikannya hingga
sekarang, tapi tiba-tiba reputasi khusus itu adalah hal yang berbahaya
dimiliki di Bessa, dan kesadaran akan ancaman yang mengganggu
telah membangunkannya menjadi hal yang membuat panik. Sekarang
setiap minggu membawa beberapa kisah tentang seorang penjudi berat
dipukuli dan ditinggalkan berdarah-darah di jalanan, atau seorang
pemabuk yang roboh mati dalam tidurnya dengan tenggorokan
menganga lebar seolah dalam ketakutan akan mimpi-mimpi yang tak
pernah membangunkannya. Jadi Pustakawan Pertama akan mencari
putranya, menerima kebohongan Rem tanpa protes dan pada ketika ia
menemukan Warid cukup sadar untuk berjalan, mendekapnya dalam
lengan-lengan yang gemetar, air mata mengalir dari kerutan kulit di
sekitar matanya, dan gemetar secara tersamar, “Kau akan berhati-hati,
kan, Anakku? Ini saat-saat berbahaya, kau tahu... saat-saat berbahaya...”
Pustakawan Kedua akan menolaknya dengan cara malu-malu,
melepaskan pelukannya dengan batuk dan gumaman, “Ya, ya, tentu
saja, Ayah. Jangan cerewet begitu.”
Perilakunya tidak berubah sama sekali. Ia tetap seperti itu, sem-
brono dan tak mau bertobat, meskipun Pustakawan Pertama cemas.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Rem menyaksikan adegan-adegan berulang ini antara ayah dan anak


dengan penolakan dan keprihatinan. Ketika kekerasan oleh Para Pertapa
meningkat, jumlah orang yang biasa berkunjung ke rumah-rumah
minum dan gedung-gedung perjudian menurun secara cepat, dan
orang-orang seperti Warid mulai menonjol. Peringatan-peringatannya
yang lebih tajam bertemu dengan bantahan serupa.
“Oh tenang saja,” ia akan berkata. “Tak bisa menghentikan semua-
98
Kota Sutra dan Baja

nya karena beberapa pengacau. Berhenti mengomel. Aku tidak takut


terhadap mereka.”
Pustakawan Kedua tidak takut, tapi ia punya alasan untuk takut. Ia
juga bukan satu-satunya yang berisiko. Rem kini memaksanya masuk ke
perpustakaan lewat pintu samping dan bukan pintu-pintu utama, dan
menyembunyikannya lebih hati-hati ketika ia pingsan karena mabuk,
jauh dari pandangan para ilmuwan yang mungkin kebetulan lewat.
Perpustakaan itu menjadi mata dari badai yang tak bisa dilihat, dan ia
berpegangan padanya bahkan lebih erat daripada sebelumnya, berjalan
di koridor-koridornya dan menjaga keseimbangan perdamaiannya yang
rentan dengan intensitas yang buas.
Dan kemudian satu malam badai itu mengubah dasarnya, seperti
yang selalu ia tahu akan terjadi. Rem sedang duduk di luar tangga
marmer yang mengagumkan seperti seorang petugas patroli yang
sedang siaga, menyerap sisa-sisa terakhir panas dari batu tersebut. Di
dalam, Pustakawan Pertama dan Kedua sedang tertidur. Sudah lama
perpustakaan tutup, dan ia seharusnya membangunkan mereka beberapa
jam lalu sehingga mereka bisa pulang. Namun, alih-alih ia meninggalkan
Pustakawan Kedua di tempat ia terbaring, dan membiarkan ayahnya
tertidur di depan mejanya, secangkir teh kembang sepatu sorenya tidak
tersentuh di sisinya.
Ia duduk memandangi bintang-bintang dengan ekspresi konsentrasi
yang intens seperti sering tampak pada orang-orang yang kehilangan
pikiran, sehingga kemudian seorang pengamat, siapa pun yang berada
di sekitarnya melihat, akan berkata bahwa ia tampaknya sedang meng-
amati gumpalan asap redup yang menggulung dalam kemiringan yang
elegan menuju mangkuk langit yang hitam. Sesungguhnya, satu-satunya
tanda yang ia berikan sedang memperhatikan kebakaran itu adalah ke-
tegangan dalam posturnya, mungkin hanya sebuah reaksi untuk udara
yang kian dingin.
Setelah beberapa menit, ia bangun dari tempatnya duduk dan
www.facebook.com/indonesiapustaka

berjalan dengan hati-hati ke arah sumur di halaman depannya, ketika


beberapa perempuan berkumpul untuk menimba air untuk malam.
“Lihat asap itu,” katanya ketika ia mendekati mereka, menunjuk
ke arah bubungan asap. Para perempuan itu melihat ke atas dengan
wajah-wajah cemas. “Pasti serangan lagi,” kata satu orang dengan pelan.
“Ini yang kelima dalam minggu ini!”

99
Mike, Linda, dan Louise Carey

“Mudah sekali menyebar, terutama di cuaca yang kering ini,” kata


Rem. “Aku akan melihat apa yang bisa kulakukan untuk membantu.”
Dua perempuan pergi bersamanya, sementara yang lain berlari me-
manggil para suami dan tetangga. Ketika mereka bergegas melalui kota,
mereka diikuti banyak dan lebih banyak orang, berkerumun menuju
sumber asap. Beberapa membawa ember-ember air, berlari dengan
hati-hati agar tidak menumpahkan air.
Rem mulai melihat kebingungan wajah-wajah di sekitarnya:
asap itu berasal dari pinggiran Bessa, bukan distrik pelesir. Pinggiran
sebelah barat kota itu adalah area permukiman yang terhormat, se-
buah lingkungan pejabat kelas bawah dan kelas pedagang yang kaya.
Gumaman ketakutan dari kerumunan orang meninggi.
“Mereka menargetkan rumah-rumah orang sekarang?”
“Tapi ini kawasan baik-baik. Apa yang mereka inginkan dengan
orang di sini?”
“Oh, kita semua tahu itu,” seorang perempuan berpakaian oranye
memotong dengan keras. “Kita semua tahu apa yang sedang mereka
lakukan di sini.” Ia melihat sekelilingnya untuk memastikan ia mendapat
perhatian orang-orang, tapi tidak meneruskan, hanya menaikkan
alisnya memberi tanda.
Jalan itu semakin pekat dengan asap, memaksa banyak orang
berbalik, batuk dan tercekat. Dengan kebakaran yang sudah sedekat
ini, tak akan banyak yang tersisa untuk diselamatkan.
Rem merangsek maju, mengikuti sulur-sulur putih yang terjalin
dengan ancaman yang berputar-putar di sekitar kakinya, seolah
menuntunnya. Spekulasi berkembang di dalam kerumunan orang.
Rumah siapakah itu? Apakah mereka berada di rumah ketika api mulai
membakar? Apakah mereka masih hidup?
Bagi dirinya sendiri, Rem tahu jawaban-jawaban atas pertanyaan-
pertanyaan ini. Ia telah melihat api ini dalam mata batinnya jauh sebelum
ia memperhatikan asap di langit. Rumah-rumah di sekelilingnya telah
www.facebook.com/indonesiapustaka

mulai terlihat akrab, berubah menjadi bentuk-bentuk yang cukup


sering ia lewati sehingga selimut asap baru membuat mereka menjadi
aneh, seperti wajah-wajah teman-teman terlihat di bawah air.
Ia berbelok di tikungan terakhir untuk melihat rumah Pustakawan
Pertama terbakar, api menjilat dari jendela-jendelanya. Lingkaran
orang telah berkumpul dalam jarak aman, melindungi mata mereka

100
Kota Sutra dan Baja

dan mengawasi majunya api. Tak seorang pun ingin rumah mereka
sendiri terbakar. Rem bisa mendengar nama Warid digumamkan,
dalam nada-nada yang beragam dari kasihan hingga kepuasan yang
dengki. Perempuan oranye itu menyentuh lengannya.
“Aku hanya kasihan kepada ayahnya yang malang,” katanya.
“Putranya yang bajingan itu tahu ia terlibat apa, tapi apakah ayahnya
pantas menerima ini? Laki-laki malang itu tidak tahu. Ke mana ia akan
pergi sekarang? Syukurlah mereka tidak ada di rumah—tak diragukan
lagi tempat putranya berada, bandot pemabuk itu. Sekarang aku
bukannya bilang ia pantas menerimanya, tapi . . .”
Perempuan itu terus berbicara, tapi Rem tak lagi mendengarnya. Ia
menatap rumah yang terbakar itu, liukan lidah api yang menghipnotis,
tapi pandangannya menerobos semuanya, masuk ke dinding-dinding
yang runtuh untuk meneliti masa lalu mereka, serta hati dan pikiran
orang-orang yang membakarnya. Ia menggerenyet ketika kengerian
yang hebat tentang apa yang sedang dia lihat menjadi jelas baginya.
“Mereka tidak datang untuk Warid,” ia berbisik. Kemudian, lebih
keras, memotong perempuan di sampingnya yang sedang mengoceh.
“Kau salah. Kalian semua salah. Mereka tidak datang untuk Warid.
Mereka datang untuk ayahnya. Mereka datang untuk Pustakawan
Pertama.”
Orang-orang di sekitar Rem melihat padanya seolah ia gila, tapi ia
tidak memperhatikannya. Ia membaca semua yang ia ketahui tentang
Para Pertapa dalam kepalanya, sangat berharap ia salah. Mereka men-
cemoohkan kesenangan dunia. Mereka memuja kebenaran tunggal,
menentang semua kebenaran yang dianggap kebohongan, dan apa
yang dianggap kebohongan, mereka membakarnya. Tidak, ia tidak
salah. Bahkan, ia telah menjadi seorang yang bodoh tidak melihat ini
sebelumnya.
Pada titik ini ia berbalik menjauhi rumah yang terbakar, membelah
kerumunan orang, berlari ke arah ia datang. Ia mengira Para Pertapa
www.facebook.com/indonesiapustaka

akan menargetkan Warid, bahkan mereka melakukannya, tapi ia


keliru. Mereka datang untuk ayahnya. Ayahnya, kepala perpustakaan,
pengarsip sepuluh ribu kebenaran yang berbeda, semuanya berteriak
sekaligus. Perpustakaan di Bessa adalah sebuah surga: memiliki lebih
banyak suara di dalam dinding-dindingnya ketimbang Jidur. Namun

101
Mike, Linda, dan Louise Carey

ketika ia berlari pulang, Rem bisa melihat untuk pertama kali apa yang
dilihat Hakkim: padang pasir perkamen kering, diisi nihareem.
Prioritas utamanya, tentu saja, adalah menyelamatkan gulungan-
gulungan naskah itu. Bagaimana tepatnya itu dilakukan adalah sebuah
pertanyaan sulit. Kembali ke perpustakaan, Rem berusaha menahan
air mata ketika ia menatap rak-rak yang penuh, mengetahui di luar
kepastian bahwa ia harus mengosongkannya, dan secepat mungkin.
Tak ada gunanya menghadapi sultan untuk perlindungan. Al-
Bukhari juga secemas orang lain dengan kekerasan Para Pertapa, tapi
kekuatan pasukan bersenjatanya difokuskan untuk menjaga jalan-jalan
dan mempertahankan keamanan istananya. Di samping itu, ia terlalu
mengkhawatirkan posisinya sendiri untuk memikirkan kesehatan
lembaga-lembaga sipil. Di Jidur, pidato-pidato Hakkim menggelisahkan
para pejabat di Bessa. Kutukan secara umum tentang foya-foya dan
kesenangan menjadi semakin tajam dan personal dengan sengaja,
mengandung acuan-acuan gelap terhadap kesukaan orang besar
tertentu terhadap alkohol, pesta liar, pesta poranya yang berlangsung
berhari-hari. Baru-baru ini ia menyampaikan serangan tentang iblis-
iblis rumah-rumah bordil Bessa di mana ia secara khusus menyebutkan
seraglio Al-Bukhari sendiri, dengan kelompok tiga ratus enam puluh
lima selir yang amoral.
Semua itu sudah mencapai batasan-batasan pengkhinatan, tapi
makian-makian Hakkim populer di kalangan para penjaga toko dan
seniman miskin. Al-Bukhari mempunyai banyak kesalahan, paling
tidak untuk aturan-aturan bebas yang ia berikan untuk selera-seleranya,
tapi ia bukan orang dungu, dan ia tahu betul bahwa hal terakhir yang
dibutuhkan gerakan Para Pertapa adalah para martir. Segera sesudahnya,
Hakkim dan para pengikutnya pergi, untuk sementara, melanjutkan
kegiatan-kegiatan mereka yang sebagian besar tak terhalang.
Dan begitu juga Rem.
Ia telah memutuskan sejak awal bahwa lebih baik tidak mencerita-
www.facebook.com/indonesiapustaka

kan keputusannya kepada Pustakawan Pertama dan Kedua. Meskipun


mereka tidak mungkin menentangnya, kemungkinan bahwa mereka
memberikan dukungan yang berguna untuk usaha-usahanya masih
sangat jauh.
Lagi pula, peluang mereka menemukan tindakan-tindakannya
yang tanpa bantuan nyaris tidak mungkin. Pustakawan Pertama me-

102
Kota Sutra dan Baja

nanggung kehilangan rumahnya dengan sangat buruk. Kebanyakan


milik mendiang istrinya ada di dalam ketika rumah itu terbakar habis,
menjadi debu bersama baju-baju dan sebagian besar tabungannya. Rem
telah menyiapkan sebuah tempat tidur untuknya di ruang kerjanya,
dan kini ia jarang berjalan-jalan ke luar. Pustakawan Kedua bermalas-
malasan seperti yang selalu ia lakukan, tapi kebiasaan minumnya jauh
berkurang dan dengan kerahasiaan yang lebih besar. Dengan rasa
bersalah, ia menghindari kehadiran ayahnya dan, Rem memperhatikan,
membuat upaya sadar untuk tetap tidak mabuk ketika bertanya-tanya
tentang menyewa sebuah rumah baru. Rem menyelimutinya ketika ia
menemukan Warid tertidur di antara rak-rak, merasa benci tapi sekali-
gus sayang terhadap para penghuni baru kota yang pernah tersedia
hanya untuk dirinya sendiri. Pustakawan Pertama dan Kedua sama
sekali bukan keluarga, tapi Rem merasa protektif terhadap mereka.
Perpustakaan itu berubah menjadi sejenis pusat krisis, terisi pera-
saan terampas dan takut, dan semua di bawah perlindungannya. Pada
malam-malam yang tenang, mendengar dengkuran Pustakawan lain
dari kejauhan dan merasa kehadiran gulungan-gulungan naskah di
sekelilingnya yang menyamankan, bersarang seperti burung-burung
purba dalam kegelapan, mudah bagi Rem untuk menyelinap kembali
pada kedamaian yang ia rasakan di hari-hari sebelumnya, melupakan
peringatan yang mengerikan bahwa pandangan rumah terbakar yang
bangkit dalam pikirannya. Namun penglihatan-penglihatannya terisi
dengan gulungan-gulungan naskah yang terbakar dan batu-batu yang
runtuh: ia tahu tanpa keraguan bahwa perpustakaan ini bukan lagi
tempat perlindungan seperti tampaknya, dan tak satu pun dari mereka
yang berlindung di dalamnya bisa lagi melakuka untuk waktu yang tak
lama.
Tidak sulit bagi Rem untuk meminjam lagi kunci Ruang Naskah
Langka dari Pustakawan Pertama, dan bahkan lebih mudah men-
dapatkan duplikatnya di pasar untuk penggunaan pribadi. Meski-
www.facebook.com/indonesiapustaka

pun kehadiran mereka tidak dicemaskan secara luas di Bessa, untuk


ketakutan akan perhatian yang tidak menyenangkan, beberapa
gulungan naskah di ruangan ini memiliki nilai tinggi, jika seseorang
tahu ke mana menjualnya. Setelah satu dekade pengabdian, Rem tahu.
Ia juga tahu bahwa naskah-naskah ini adalah yang paling mudah di-
pindahkan, naskah-naskah yang didambakan seluruh dunia karena

103
Mike, Linda, dan Louise Carey

ilustrasi-ilustrasi yang elok dan karakter-karakter yang bersinar secara


indah, penggulung kayunya bertatahkan permata dan daun emas. Justru
yang lainlah, ratusan ribu gulungan naskah sederhana yang ditulis di
atas perkamen murah, yang akan memberikan tantangan. Mereka tak
punya pasar. Tak seorang pun, kecuali dirinya dan ilmuwan-ilmuwan
miskin, yang memiliki minat terhadap mereka.
Inilah saat Rem bergerak ke fase yang ia sebut sebagai rencana
evakuasinya. Menjual isi Ruang Naskah Langka hanya mengumpulkan
lebih sedikit uang dibanding yang dia harapkan, tapi masih cukup
untuk membeli toko roti yang tidak digunakan lagi di distrik niaga
Bessa. Pemilik terdahulunya yang tak punya keraguan bahwa ia telah
menipunya, tidak percaya akan keberuntungannya ketika pembeli
eksentriknya tampak tidak peduli dengan pemandangan pintu rusak
menggantung di engselnya, memilih jalannya melewati tumpukan
sampah dan bangkai tikus di dalamnya tanpa komentar, dan tersenyum
puas ketika ia menyatakan tempat yang sempurna.
Ia telah menemukan apa yang ia inginkan segera setelah ia masuk
ruangan itu, bercahaya remang-remang jauh di sudutnya: cincin logam
berat dari sebuah pintu tingkap. Para pembuat roti di kota-kota gurun
seperti Bessa memiliki sebuah metode sederhana untuk mencegah
kegagalan produksi mereka. Mereka membangun ruang-ruang pe-
nyimpanan di bawah tanah, tempat yang udaranya lebih dingin.
Secara kebetulan, hal ini juga yang membuat ruangan itu ideal untuk
menyimpan gulungan-gulungan naskah, suhu rendah yang melindungi
perkamen-perkamen itu dari kerusakan karena panas, degenerasi, dan
risiko kebakaran.
Rem membersihkan bekas-bekas roti berjamur dan tepung dari
ruangan mirip gua itu, dan memindahkan sejumlah gulungan naskah
ke dalamnya selama bulan berikutnya. Jika salah satu Pustakawan lain
memperhatikan rak-rak yang secara perlahan kosong di perpustakaan
itu, mereka tidak berpikir cukup penting untuk mereka komentari.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Ketika ia telah mengisi ruang penyimpanan itu hampir ke langit-


langit, ia memulai peminjaman jangka panjang. Ini bukan keputusan
yang mudah dibuat; menyembunyikan naskah-naskah itu satu hal, tapi
mengirimnya ke pengasingan, ke rumah-rumah orang lain, di mana
ia kemungkinan besar tak akan melihat mereka lagi, sangat melukai
Rem. Namun Hakkim mulai membakar naskah-naskah suci dari

104
Kota Sutra dan Baja

para penceramah lain di Jidur, dan itu adalah sebuah tanda ketakutan
yang ia percaya tak seorang pun berusaha menghentikannya, atau
bahkan memprotesnya. Jika sebelumnya ancaman yang ia buat untuk
perpustakaan itu tampak dari kejauhan dan tidak nyata bagi Rem, maka
kini ancaman itu bahkan telah hadir di depan mata.
Jadi ia menguatkan dirinya, dan memutuskan untuk bekerja bagian
per bagian, dimulai dengan risalah-risalah ilmiah dan pengobatan. Area
ini selalu memiliki jumlah pengunjung tetap yang sedikit, kebanyakan
para mahasiswa magang yang bekerja untuk para dokter, ahli bedah dan
apoteker Bessa. Namun, perpustakaan itu besar, dan tak pernah sulit
menemukan seorang pembaca yang berdiri sendirian, atau setidaknya
cukup jauh dari orang berikutnya sehingga tak ada risiko percakapan
mereka akan dicuri dengar. Begitu ia melihat seorang calon potensial,
Rem akan berjalan di sisi mereka dan batuk dengan sopan, menunggu
hingga mereka mengangkat pandangan dari naskah di tangan mereka.
”Apakah kau merasa naskah itu menarik?”ia akan bertanya dengan
pelan, ”Apakah ide-idenya menyenangkanmu? Maka bawalah pulang
bersamamu. Bacalah, bagilah bersama teman-temanmu. Aku hanya
minta kau menyimpannya dengan aman.”
Satu keuntungan besar dalam menghadapi para ilmuwan adalah
mereka tidak bodoh. Mereka semua pernah berada di Jidur, pernah
mendengar semua yang diucapkan Hakkim, dan mereka paham apa
yang ia inginkan. Sebagian besar menerima sebuah naskah tanpa
pertanyaan. Sejumlah ilmuwan bahkan menawarkan membawa
beberapa naskah lagi. Tak seorang pun bertanya mengapa: satu-satunya
hal yang benar-benar mengejutkan bagi mereka yang terdiam sejenak
untuk memikirkannya adalah bahwa Para Pertapa belum menyerang
perpustakaan. Banyak yang bingung ketika Rem menolak tawaran
mereka mengembalikan naskah-naskah itu setelah masalah berakhir.
Tampaknya masuk akal bagi mereka bahwa masalah itu akan berakhir,
bahwa cengkeraman Hakkim di Bessa akan patah dalam beberapa hari
www.facebook.com/indonesiapustaka

dari sekarang, bahwa Al-Bukhari akan bergerak melawannya, dan Para


Pertapa ini akan menghilang seolah mereka tak pernah ada. Lagi pula,
kekerasan telah meningkat selama beberapa bulan: pasti ada seseorang
yang akan melakukan sesuatu untuk mengakhirinya segera?
Bahwa setiap hari yang berlalu tanpa perubahan memberi pertanda
yang lebih jelas daripada yang terakhir bahwa tak seorang pun akan

105
Mike, Linda, dan Louise Carey

berbuat sesuatu yang tampaknya terpikirkan oleh mereka. Namun,


orang-orang di Bessa tak akan menyalahkan mereka karena tak punya
kemampuan untuk melihat masa depan. Kota itu menutup matanya
di balik tangannya seperti seorang anak kecil, menunggu diberitahu
bahwa semuanya akan baik-baik saja sekarang, bahwa sudah aman
untuk melihat, bahwa yang terburuk sudah berlalu. Satu intipan dan
kota itu akan lenyap dalam ketakutan yang hina; kurangnya sebuah
visi yang jelas adalah satu-satunya yang membuat semua itu terjadi.
Dengan karunianya, Rem tidak memiliki kemewahan itu.
Ini proses yang lambat, tapi secara perlahan perpustakan itu kosong.
Bagian-bagian rak yang banyak kini kosong, seperti tambalan-tambalan
di atas karpet berornamen yang telah robek dengan tenunan-tenunan
yang jarang. Namun masih ada ribuan naskah tersisa: perpustakaan
itu luas, dan Rem tahu bahwa butuh lebih banyak usaha ketimbang
upaya-upaya menyebar pada beberapa ilmuwan yang bermaksud baik
untuk menyelamatkannya.
Namun demikian, ia meningkatkan usaha-usahanya, menjaring di
koridor dengan tanpa hati-hati untuk mencari calon yang mungkin. Ia
berbicara kepada semua orang yang ia temukan, bahkan jika mereka
tampaknya tidak tertarik atau bodoh. Ia meninggalkan usaha-usahanya
dengan naskah-naskah medis ketika hanya beberapa mahasiswa yang
datang untuk membacanya, dan pindah ke naskah-naskah puisi.
Di sinilah ia bertemu Nabeeb. Ia bertemu dengannya secara ke-
betulan satu hari ketika ia berpatroli sepanjang jalan-jalan di antara
rak. Ia seorang pria kurus, berpakaian hitam, meskipun berbeda gaya
dengan Para Pertapa; mereka mengenakan jubah tebal, pakaiannnya
kurang tebal: sebuah kemeja hitam sederhana dan celana panjang.
Mengamatinya dengan hati-hati, Rem menyadari bahwa ia seorang
pengunjung rutin perpustakan. Ia sering melihatnya, berjalan-jalan di
antara barisan-barisan naskah dengan langkah terukur dan raut muka
serius. Ia mendekatinya dan melihat naskah yang sedang ia baca. Ia
www.facebook.com/indonesiapustaka

menatapnya dengan mata abu-abu yang lembut.


”Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya.
”Kau cukup sering datang ke sini,” jawabnya Rem. ”Kau pasti mene-
mukan banyak hal yang kau suka. Aku Rem, Pustakawan Ketiga di sini,
dan aku merasa sangat terhormat jika kau mau membawa beberapa
naskah ini bersamamu, bahwa kau mungkin mau membacanya di saat-

106
Kota Sutra dan Baja

saat senggangmu. Hanya satu yang kuminta, jagalah mereka dengan


aman.”
Pria itu memiringkan kepalanya, tampak sedang berpikir. “Aku
Nabeeb,” katanya. “Aku tahu apa yang kau minta. Aku telah melihatmu
berbicara dengan yang lain sebelumnya. Itu tidak akan berhasil, kau
tahu.”
“Apa?” Rem mendadak terkejut, dan ada kegugupan dalam suara-
nya.
“Aku hanya bermaksud,” ia menjawab, mengangkat satu tangannya
untuk menenangkan, “bahwa cara itu membutuhkan waktu yang sangat
panjang. Seorang-seorang, beberapa naskah satu saat. Tak mungkin
membersihkan perpustakaan sebesar ini.”
Rem mencondongkan badan ke arahnya, matanya bersinar dengan
ketertarikan. “Apakah kau punya ide yang lebih baik?”
“Mayat-mayat,” ia segera menjawab, dan kemudian, dengan malu-
malu buru-buru berkata, “Aku seorang pengurus bisnis. Semua mayat
harus dimakamkan di luar dinding kota. Jadi, aku menyiapkan mereka
untuk dimakamkan, kemudian membawa mereka ke luar gerbang-
gerbang Bessa. Pemakaman mereka sendiri berlangsung dalam batas-
batas kota: ketika aku menguburkan mayat-mayat ini, aku sendirian.
Aku tidak pernah mendapat masalah, dari para penjaga istana maupun
Para Pertapa. Orang-orang akan menolak ide menggeledah sebuah
kereta jenazah—Bagaimana pun itu kelihatan tidak menghormati.
Jadi jika aku membawa beberapa naskah bersamaku pada perjalanan
pemakamanku berikutnya, aku bisa membawa mereka keluar dari kota
ini dengan sangat aman. Kita bisa membungkusnya dalam kain kafan,
dan tak seorang pun akan pernah berpikir untuk memeriksanya.”
“Apa yang terjadi kemudian?”kata Rem. “Mereka nyaris tidak lebih
aman di gurun pasir ketimbang di sini.”
“Aku mempunyai beberapa teman di Perdondaris yang memiliki
minat yang sama denganku. Aku bisa menulis surat buat mereka
www.facebook.com/indonesiapustaka

sekarang, bertanya kepada mereka apakah mereka akan membawa


kembali naskah-naskah itu ke kota mereka. Aku tahu ini cara yang
panjang,” katanya dengan cemas, memperhatikan bagaimana wajah
Rem kecewa, “tapi setidaknya mereka akan berada di tangan-tangan
yang baik, di antara orang-orang yang akan menghargai mereka.”
Dengan kemungkinan keberhasilan yang tiba-tiba begitu dekat,

107
Mike, Linda, dan Louise Carey

pikiran bahwa ia mungkin benar-benar bisa menyelamatkan seluruh


perpustakaan dari kehancuran, Rem tiba-tiba ditelan perasaan tandus.
Pikiran tentang jalan-jalan tanpa akhir di kotanya kehilangan naskah-
naskah, kekosongan menggema yang akan menggantikan kebisuan
hidup yang ia cintai, menyakitkan seperti sebuah tonjokan di bagian
perut. Ia memeluk Nabeeb sedikit lebih keras dari yang ia maksudkan,
berterima kasih sedalam-dalamnya kepadanya untuk kebaikannya.
Ia bersemu merah, mengatakan tak perlu berterima kasih. “Aku
melakukan ini karena cinta, seperti kau,” ia berguman, tiba-tiba malu.
Mengingat layanan pos antara Bessa dan Perdondaris yang ter-
diri atas satu unta bandel, jawaban dari teman-teman Nabeeb sangat
lama datangnya. Ia mengunjungi perpustakaan setiap hari, dan setiap
hari ia bertemu mata Rem dengan sedikit gelengan kepala, kecewa
tampak pada sikap bahunya. Sementara itu, Rem meneruskan pemin-
jaman jangka panjangnya, meskipun atas desakan Nabeeb ia mem-
buat penyelidikan-penyelidikannya lebih tersamar. “Mencuri dari
perpustakaan sultan masih merupakan serangan pengkhianatan, Rem,
apa pun situasinya,” katanya mengingatk. “Kau perlu melangkah dengan
hati-hati.”
“Oh, tak ada alasan untuk cemas tentang Al-Bokhari,” Rem men-
cemooh. “Ia tidak akan memperhatikan seandainya mengikatkan
seluruh perpustakaan ini pada satu tim gajah, mengendarainya mele-
wati alun-alun dan menabrakkan ke istana. Pikirannya ada pada hal-hal
lain.”
Gambaran itu membuat Nabeeb tertawa karena ada banyak ke-
benaran. Bukhari al-Bukhari tidak pernah menjadi penguasa yang
paling tajam penglihatannya, tapi kini semua perhatiannya dituntut
Para Pertapa, dan sekelompok anak jalanan yang bisa mengencingi
dinding-dinding istana tanpa takut akan akibatnya.
Kian lama, seluruh penjaga istana dikirim untuk berpatroli di
jalan-jalan, untuk menjaga distrik kesenangan Bessa yang sebagian
www.facebook.com/indonesiapustaka

besar telah kosong dan untuk mengawasi Jidur. Ini bukan langkah
bagus: Para Pertapa memilih pertempuran mereka, dan kelompok-
kelompok para penjaga yang besar pergi untuk tugas mereka yang tanpa
tantangan dengan panasnya hari. Tapi pada malam hari, ketika para
petugas berpatroli sendiri, itulah saatnya ketika bayangan hitam akan
menempel pada bayangan-bayangan yang lebih terang di sekitarnya,

108
Kota Sutra dan Baja

dan mulai mengikuti mereka. Kilatan pedang, jeritan-jeritan teredam,


bunyi kejatuhan yang lamban—itu selesai hanya dalam beberapa detik,
dan ketika petugas patroli berikutnya datang, yang tersisa hanyalah
mayat.
Hal terburuk tentang itu semua adalah tidak ada saksi. Secara
menjengkelkan Hakkim sendiri tampak sebagai seorang yang damai,
hanya muncul dari kamarnya yang sederhana untuk berceramah
di Jidur. Setiap Pertapa lain hanyalah sesosok dalam jubah hitam,
setiap saat bisa pergi ke sudut, mengganti penyamaran mereka, dan
berpakaian lagi seperti warga biasa.
Racun yang menyebar dengan kehadiran mereka tampak sulit
diobati. Para penasihat Al-Bukhari berusaha menyuap Hakkim,
yang bahkan tidak berbicara untuk menerima atau menolak tawaran
itu. Mata-matanya mencari beberapa potongan informasi yang bisa
digunakan untuk memeras Hakkim, tapi tak satu pun bisa ditemukan.
Sejauh agen rahasia kesultanan bisa memastikan, Para Pertapa tidak
memiliki letnan, tidak memiliki markas, tidak memiliki hierarki.
Bunuh satu, dan yang lain akan menggantikan. Mereka seperti sungai
hitam, dan sebuah sungai tidak memiliki malaikat, tidak ada tempat-
tempat yang lemah, tidak bisa diraba dan tidak bisa diserang. Mereka
digerakkan oleh kata-kata dan argumen-argumen yang licik, tapi Al-
Bokhari tak punya senjata seperti itu. Pasukan militer adalah alat yang
tanpa basa-basi pada masa-masa terbaiknya, dan dalam menghadapi
Para Pertapa mereka tampaknya lebih buruk daripada tak berguna.
Jadi sultan menunggu dalam keraguan, perintah-perintah keluar dari
bibirnya. Dan kota itu menahan napasnya.
Pada hari Al-Bokhari memutuskan untuk bertindak adalah hari
Nabeeb menerima jawaban dari Perdondaris. Ada kerumunan orang di
depan perpustakaan pagi itu ketika Nabeeb tiba, menggenggam surat
yang lama dinanti. Ia mendorong mereka tanpa melihat, ingin sekali
menyampaikan kabar baik ini kepada Rem, ketika ia merasa sebuah
www.facebook.com/indonesiapustaka

tangan ada di lengannya dan melihatnya berdiri di sampingnya, sebuah


ekspresi suram ada di wajahnya, “Ayo dan lihat ini,” katanya, sambil
menarik Nabeeb.
Kerumunan orang tidak sedang menghadap pada perpustakaan
sama sekali, tapi ke istana di seberang alun-alun, memandang sesuatu
yang digantung dari gerbang-gerbang istana. Ketika mereka bergerak

109
Mike, Linda, dan Louise Carey

mendekat, Nabeeb bisa melihat bahwa itu adalah seorang laki-laki.


Hefam Shaiq seorang wazir dengan bakat-bakat yang tidak istimewa,
terkenal di istana, jika ia tahu sekalipun, untuk nasihat-nasihat bodoh-
nya. Ia seorang laki-laki gemuk dengan opini-opini yang konkret,
sebuah taruhan untuk karier sepanjang hidup sebagai penasihat
kerajaan. Kehidupannya benar-benar banal. Namun, kematiannya
adalah sebuah deklarasi perang.
Rem dan Nabeeb memandang pada sosok yang menyedihkan,
wajahnya pucat dan mengerikan di atas tanda yang tergantung di
lehernya: Aku pelayan korupsi. Tanpa berkata-kata, mereka saling me-
mandang, berbalik dan berjalan menuju perpustakaan.
“Kita harus memindahkan naskah-naskah itu malam ini,” kata
Rem, begitu mereka berada di dalam.
“Apa, semuanya?” Nabeeb memprotes. “Tentu itu tidak perlu? Akan
lebih aman jika kita melakukannya tahap demi tahap.”
“Waktu untuk itu telah berlalu,” Rem menembak balik, “Al-
Bokhari akan mulai menahan Para Pertapa segera. Mereka memaksa
tangannya, tapi ia tidak cukup kuat untuk menunjukkan kekuatannya,
dan kelemahan pembalasannya akan menjadi buktinya. Segalanya akan
makin sulit. Kita harus memindahkan naskah-naskah itu malam ini!”
“Aku akan pergi dan mengambil kereta jenazah,” kata Nabeeb.
Seandainya pun ia bingung akan keputusan Rem, ia tidak menun-
jukkannya.
Mereka menghabiskan hari itu dengan membungkus naskah-naskah
pakai kain kafan dan menumpuknya di pintu samping, menunggu
malam untuk memindahkannya ke kereta jenazah yang diparkir Nabeeb
di lorong di pinggir perpustakaan, jauh dari alun-alun utama. Rem telah
memalang pintu-pintu kayu besar itu untuk mencegah pengunjung, tapi
tidak akan ada sarjana yang datang hari itu. Begitu pengawal istana mulai
turun ke jalan-jalan, mereka mengosongkannya, sebagian besar orang
lari ke rumah mereka, mengunci pintu-pintu dan menutup jendela-
www.facebook.com/indonesiapustaka

jendela bersiap-siap menanti badai apa pun yang akan datang.


Sementara itu, suara-suara yang terdengar di kota itu hanyalah
derap kaki dan teriakan-teriakan perintah ketika pasukan pengawal
berlari cepat. Di sore hari, mereka mendengar pertempuran dimulai.
Pertempuran itu kian meningkat ketika malam turun, dan raungan
suara yang hebat mulai terdengar di alun-alun di luar.

110
Kota Sutra dan Baja

Nabeeb keluar untuk menyelidik, kembali dengan kabar bahwa


Para Pertapa yang tersisa telah berkumpul di luar istana.
“Rumor-rumor liar beredar di luar sana,” katanya kepada Rem.
“Mereka bilang para penjaga Al-Bokhari mengepung sebagian besar
Pertapa dan menangkap mereka, tapi mereka kemudian lolos. Orang-
orang bilang mereka melemparkan diri ke pintu, terus dan terus.
Memukuli diri mereka sendiri hingga berdarah. Dan berhasil! Para
pengawal kalah lagi!”
“Maka kita perlu cepat,” Rem menjawab.
Dalam tekanan yang surealis dan senyap dari turunnya malam,
Rem dan Nabeeb membuat serangkaian perjalanan yang saat itu
tampaknya seperti perjalanan tanpa akhir: dari perpustakaan ke kereta
jenazah yang menunggu dan ke perpustakaan lagi, menggotong lembar-
lembar kain kafan yang diisi naskah-naskah di tangan-tangan mereka
seperti tubuh-tubuh mayat.
Waktu seperti jilatan api dalam angin yang kencang, kadang-
kadang menyala dengan kehidupan yang tiba-tiba, kadang meredup
seperti cahaya yang merangkak. Awalnya, Rem merasa mudah mem-
bawa naskah-naskah itu. Dalam ribuan waktu dan ruang yang di-
habiskan untuk berlari antara kereta jenazah dan perpustakaan, mereka
mulai merasa seperti membawa batu besar.
Ia dan Nabeeb bergantian berlari ke mulut gang dan mengintip ke
alun-alun utama, untuk melihat bagaimana situasi berjalan. Ketika Rem
melihat bahwa panji sang sultan terbakar, ia tahu waktu mereka telah
habis. “Mereka telah masuk ke istana,” katanya, mengeliling sudut dan
membantu Nabeeb memuat buntelannya ke kereta jenazah. “Kita tidak
punya waktu lagi untuk mengambil lebih banyak, tapi aku sungguh
menghargainya jika kau melakukan satu hal lagi yang terakhir untukku.”
Meyakinkan Pustakawan Pertama dan Kedua bahwa kehidupan
mereka dalam bahaya cukup mudah. Ketakutan telah menjalar di Bessa,
dan pemandangan gerombolan orang berjubah hitam yang menyerbu
www.facebook.com/indonesiapustaka

gerbang istana membuat bibir Warid pucat, dan ayahnya gemetar.


“Nabeeb di sini akan membawa beberapa naskah kita ke luar kota
menuju Perdondaris,” kata Rem kepada dua lelaki itu. “Aku sangat
menganjurkan kalian pergi bersamanya.” Ia berbalik kepada Nabeeb,
suaranya turun menjadi gumaman yang lembut. “Jika kau pergi
sekarang, kau pasti bisa melaluinya sebelum Para Pertapa itu mengambil

111
Mike, Linda, dan Louise Carey

alih gerbang kota. Orang-orang sultan telah kabur, jadi tidak ada yang
menjaganya pada saat ini. Cepat dan pergilah dengan aman.”
Nabeeb memandangnya. “Tidakkah kau ikut juga?”
“Aku tak bisa. Perpustakaan ini belum kosong.” Ia membuka
mulut untuk bicara, tapi Rem sudah melihat niatnya, dan menggeleng
kepalanya dengan kuat. “Tidak. Kau perlu mengendarai kereta jenazah
itu. Mereka—” menyentak kepalanya ke arah Pustakawan Pertama dan
Kedua “—tidak tahu jalan menuju Perdondaris. Mereka bahkan tidak
pernah ke luar ke kota ini. Kau harus pergi sekarang.”
“Tapi mereka akan menangkapmu jika kau tinggal! Mengapa kau
tidak pergi bersamaku?”mata Nabeeb berkaca-kaca. Rem tahu, dengan
pengetahuan yang menjadi bakatnya, apa yang ada di pikirannya. Ia
bisa mengecap semua rasa dari kata-katanya terhadapnya: bingung,
sedih, dan di bawah semuanya rasa pahit yang tajam dari kasih sayang
yang ditolak. Nabeeb benar-benar berpikir bahwa Rem adalah seorang
lelaki muda, dan berharap bisa pergi bersamanya ke sebuah tempat di
mana mereka berdua bisa membaca dan mencintai tanpa ketakutan
akan penindasan.
“Nabeeb,” katanya, selembut mungkin, “Aku harus tinggal bersama
teman-teman yang tidak bisa kuselamatkan.”
Nabeeb melihat tekadnya dan mengangguk, mulai berbalik. Rem
menangkap tangannya dan menciumnya, hanya sekali, di pipi. Biarkan
dia memahami apa yang ia inginkan; ia tidak bisa memberi lebih dari
itu.

Ia menunggu hingga ia yakin mereka telah pergi sebelum ia mem-


biarkan air matanya jatuh. Ketika air mata itu akhirnya mengalir,
mereka meninggalkan jejak-jejak hitam di wajahnya seperti tercoreng
celak, menodai seragam murninya dengan noktah-noktah gelap. Air
mata tinta hitam. Bakat keduanya yang sulit dipercaya, dan itulah alasan
mengapa ia tak pernah menangis di depan umum. Ketika ia belia, Rem
www.facebook.com/indonesiapustaka

kadang-kadang membayangkan dirinya sebagai sebuah naskah, dengan


semua kata-katanya aman terbungkus dalam dirinya. Mereka pastilah
kata-kata yang sangat suram, jika hanya bisa keluar ketika ia menangis.
Di belakangnya, pintu-pintu kayu yang berat perpustakaan itu
bergetar dalam kerangkanya, digoyang oleh efek benda-benda berat.
Para Pertapa menyerbu mereka dengan alat pelantak, tapi mereka

112
Kota Sutra dan Baja

kokoh, dan bisa bertahan untuk sementara. Rem cepat-cepat meng-


hapus air matanya dengan lengan kemejanya: hal berbeda lain tentang
air mata itu adalah bahwa, sekali mengering, air mata itu tidak meng-
hilang. Ia memiliki sekitar satu jam, menurutnya, dan sepertiga
perpustakaan masih penuh. Ia membuat perlawanan yang baik, tapi
benar-benar tak ada lagi yang bisa dia lakukan. Baik, masih ada satu
hal. Rem menuju kantor Pustakawan Pertama, untuk mempersiapkan
pertahanan terakhirnya.
Ketika pintu-pintu besar itu akhirnya hancur, dan Para Pertapa
menyerbu masuk, orang pertama yang melangkah melintasi ambang
pintu disambut dengan pena perak di dadanya. Ia terhuyung-huyung
ke belakang, laki-laki di sisi-sisinya mulai terkejut. Mereka dihadapkan
dengan pandangan seorang perempuan telanjang, tubuhnya tertutup
tulisan keriting dan miring, dengan tinta yang sangat hitam. Beberapa
kata mereka tidak paham—kata-kata itu tampaknya ditulis dalam
bahasa yang tidak bisa mereka baca dan artikan, meskipun huruf-
hurufnya berasal dari bahasa mereka sendiri. Jarak ruang dan waktu
adalah satu dan angsa-angsa yang jauh adalah angsa-angsa yang akan
datang melata di sepanjang lengan kirinya, tapi tak seorang pun Para
Pertapa pernah melihat seekor angsa, atau bahkan tahu apa itu.
“Aku sebuah perkamen,” kata perempuan itu, mata galaknya me-
nyala menatap mereka, sebuah pena tajam di tiap-tiap tangan. “Bakar
aku!”
Bahkan ketika mereka menaklukkannya, mengikat tangannya di
belakang punggungnya dan menarik ke tangga depan; bahkan ketika
mereka menyeret ke istana, sementara masih banyak lagi dari mereka
menyerbu masuk ke perpustakaan, Rem tertawa. Apa lagi yang bisa
dilakukan para bajingan ini?
Hakkim menunggu hingga pagi hari berikutnya untuk menjatuhkan
hukuman. Malam itu telah diambil alih dengan hal-hal lain. Bukan
hanya Rem di Bessa yang membuatnya murka, dan segera setelah
www.facebook.com/indonesiapustaka

kudeta ada orang-orang yang hukumannya perlu lebih mendesak. Kini


ia berdiri di tangga perpustakaan, memandangi kerumunan orang yang
berkumpul di alun-alun utama, dan berbicara dengan nada peringatan
yang mengerikan. “Cahaya dari Satu Kebenaran membakar dengan api
yang amat buruk. Di mana kemarahannya turun? Kemarahannya turun
pada orang-orang yang tidak menyambut cahayanya. Kemarahannya

113
Mike, Linda, dan Louise Carey

jatuh pada mereka yang mengikuti cahaya-cahaya yang lebih kecil, yang
mengenyangkan diri mereka dengan penipuan!”
Ia memegang sebuah naskah. Di belakangnya, Rem, dijaga dua
pengawal yang kuat di tangga, tangan dan kakinya terikat, tegang dan
berontak. Hakkim sedang berdiri dekat gunungan naskah, menumpuk
di depannya. Ada yang aneh dengan naskah-naskah itu. Mereka ber-
kaca-kaca seolah basah, meskipun tidak ada hujan.
“Ya, penipuan, penipuan seperti itu ada dalam naskah-naskah
ini,” ia memuntahkan kata-kata, “yang aku pegang di depan kalian
sekarang. Gulungan naskah kebohongan ini mengklaim bahwa ke-
senangan dunia tidak akan dibenci. Naskah ini memuat cinta seorang
perempuan menjadi sebuah cinta yang disucikan, ia meneriakkan nafsu
untuk makanan dan anggur adalah kesenangan yang menyehatkan. Ini
benda yang tercemar. Kalian lihat di depan kalian seorang perempuan
yang berusaha melindungi kebohongan ini, dan yang lain menyukainya.
Ia menggunakannya untuk merusak kita semua. Namun ia tidak akan
berhasil!”
Rem merasa pusing dengan teriakannya dan kedekatan orang-
orang yang berkerumun, dan hal-hal lain, bau busuk di udara, tajam
dan seperti logam. Tiba-tiba, ia merasa berada di luar dirinya, melihat
pada pemandangan itu dengan ketidakberdayaan yang memuakkan
ketika Hakkim melempar gulungan naskah itu ke tumpukan di bawah
kakinya.
“Ia tidak akan berhasil,” Hakkim meraung lagi, dan kini ia sedang
mengambil sesuatu dari jubahnya, sebuah kotak abu-abu kusam, dan
sepotong batu api.
“Semua yang menentang api dari Kebenaran Tunggal akan dilahap
olehnya!”Ia mengangkat kotak itu sekarang, dan Rem tahu apa yang akan
ia lakukan dan berusaha untuk mulai maju. Tapi ia terlalu jauh dan para
penjaga terlalu kuat, dan teriakan-teriakan menggila dari kerumunan
orang terlalu keras, dan semua menyatu menjadi dinding suara dan
www.facebook.com/indonesiapustaka

makian dan kebencian yang kuat ketika Hakkim memukulkan batu api
ke kotak rabuk. Percikan api melompat dan gulungan naskah terbakar,
perkamen yang terendam minyak segera menangkap api, yang tak bisa
dipadamkan.
Rem dikuasai gelombang pusing. Ia muntah, lagi dan lagi. Api
di depan matanya berubah menjadi hitam. Ia kehilangan kesadaran,

114
Kota Sutra dan Baja

bau yang mengerikan mengisap setiap energinya. Hal terakhir yang ia


rasakan sebelum jatuh pingsan adalah para penjaga mengangkatnya ke
atas bahu mereka, baja dingin dari suara Hakkim ketika ia menjatuhkan
hukumannya. “Ia hidup untuk keriuhan kebohongan ini. Sekarang ia
mati untuknya.”
www.facebook.com/indonesiapustaka

115
Mike, Linda, dan Louise Carey

Cara Hakkim
Menemukan Musuhnya

Di kerajaan Bessa, tiga puluh tahun setelah kematian nabi Al-Mutassin,


hiduplah seorang pintar bernama Hakkim Mehdad.
Hakkim bukan pintar karena pilihannya sendiri, tapi ia tampaknya
ditakdirkan oleh alam untuk mengejar panggilan itu—ia membuat
bingung dan cemas orang tuanya, seorang pria tua pembuat sepatu
dan istrinya yang lebih muda, dengan menolak berbicara hingga ulang
tahunnya ke lima belas, dan bahkan setelah itu jarang terbujuk untuk
mengutarakan lebih dari dua atau tiga kata sekaligus; tapi jelas bahkan
bagi pengamat sambil lalu bahwa kebisuan Hakkim bukanlah kebisuan
hampa. Sebaliknya, ia akan menghabiskan berjam-jam dalam angan-
angan bisu, atau menggambar bentuk-bentuk abstrak dari debu di
ambang pintu dengan ujung tongkat.
Sikap bijaksana ini diiringi dengan keengganan tunggal untuk
www.facebook.com/indonesiapustaka

bertindak. Ketika abang-abangnya menindasnya atau mencaci-maki-


nya, yang sangat sering, Hakkim akan berdiri dengan kepala menunduk
dan wajah yang dipasang muram, seolah berharap dengan keheningan
yang ekstrem untuk menyatu dalam lingkungannya dan dilupakan.
Pembalasan-pembalasannya akan datang kemudian, ketika mainan

116
Kota Sutra dan Baja

kesayangan milik salah satu penyiksanya ditemukan terkoyak dan


rusak, sasaran beberapa serangan yang halus.
Ayah Hakkim hanya seorang tukang sepatu sederhana, dan jadi
tidak pernah punya kesempatan untuk mengejar pelajarannya demi
kepentingan dirinya sendiri. Ia melihat tanda-tanda ini apa adanya,
bukti bahwa putranya hidup lebih jauh dalam kecepatan berpikirnya
daripada dalam dua ruang sangat padat di atas sebuah toko sempit di
gang paling sempit dan sesak di Bessa. Harus dikatakan juga bahwa
Hakkim muda tidak menunjukkan kemampuan dalam bisnis ayahnya,
dan tidak bisa digunakan di bengkel kerja bahkan dalam tugas-tugas
yang relatif mudah seperti menyemir kulit atau memukul lubang
tali. Setiap pasang sepatu yang ia sentuh tak mungkin selamat dari
pengetahuannya yang sedikit, tak peduli dalam proses pembuatan
mana pun jalur sepatu-sepatu itu bertemu.
Dengan protes-protes berurai air mata istrinya, ayah Hakkim
kemudian memutuskan untuk menempatkan putra bungsunya dalam
pelayanan untuk orang suci setempat. Tawarannya adalah bahwa
Hakkim akan mengurus rumah, memasak dan membersihkan, me-
layani dan sebagai imbalannya akan diberikan kebijaksanaan yang luar
biasa dan makanan harian yang terdiri atas roti dan kacang.
Seorang suci yang cocok ditemukan. Namanya Asroul, dan ia
seorang Utusan, yang juga dikatakan sebagai seorang kriptoteis:
keyakinannya adalah bahwa Yang Paling Suci mengaburkan jalan-
Nya sehingga manusia tidak mungkin menodai kebesaran-Nya men-
dekatinya dengan pemahaman yang rendah. Sendirian di antara banyak
sekte, para Utusan tidak berdoa untuk pencerahan; mereka berdoa
untuk meyakinkan Tuhan bahwa mereka tidak akan melewati sampah-
Nya (untuk menyebutkan kosmos yang diciptakan) untuk menemukan
apa yang Ia siapkan.
Jiwa Hakkim membara, hanya memikirkan keyakinan. Ia ber-
kembang dengan cepat dalam pelajarannya, dan membuat gurunya
www.facebook.com/indonesiapustaka

heran dengan kekuatan ingatannya. Ketika berusia sepuluh tahun,


ia bisa mengucapkan seluruh tiga ratus tiga puluh tiga doa Utusan
(kebanyakan dari doa itu adalah variasi-variasi tentang “kami tidak
mengintip”) tanpa jeda ataupun gagap, menyertai tiap-tiap doa dengan
repertoar gerakan tangan dan perubahan gerak tubuh yang telah
ditentukan.

117
Mike, Linda, dan Louise Carey

Selama sebagian besar usia kesebelasnya, juga, Hakkim muda terus


mencari kesenangan dan kebanggaan atas prestasi ini. Prestasi dalam
kehendak dan ingatan ini adalah taman bermain bagi intelektualnya,
yang hingga kini (seperti tubuhnya yang kurus dan liat) telah hidup
dalam ikatan-ikatan yang kuat. Kemudian, secara perlahan dan tak
bisa dihindari dan yang sangat mengejutkan dirinya sendiri, awalnya
kesenangan itu mulai menghilang dan lalu dibumbui kemarahan.
Menggali tempat yang rapuh, anak muda cerdas ini menemukan bahwa
ada beberapa ayat dalam kitab suci sang Utusan yang dalam pikirannya
tersendat, meskipun tidak pada lidahnya yang lancar.
Secara khusus, ia mempertanyakan sikap Utusan terhadap ke-
beradaan Yang Paling Tinggi. Mengapa menunjukkan penghormatan
berlebihan terhadap Tuhan, Hakkim bertanya-tanya dalam hatinya,
ketika begitu banyak program dan motif-Nya yang harus diterima
untuk diyakini? Tampak baginya berterima kasih kepada dewa untuk
manfaat-manfaat yang tak diragukan lagi—perasaan yang halus
dan akal—yang penggunaannya kemudian begitu dipagari dengan
larangan-larangan sehingga pada awalnya keduanya mungkin juga
tidak dianugerahkan, yaitu sikap penakut dan penjilat. Seolah yang
mahakuasa telah memberinya sebilah pedang, dengan keseimbangan
sempurna dan ketajaman yang penuh gairah, dan memintanya sebagai
balasan untuk tetap menyimpannya dalam sarungnya sepanjang waktu.
Ketika Hakkim membebani gurunya dengan pikiran-pikiran
bermasalah seperti ini, orang tua yang saleh siap dengan argumen
meyakinkan dan tak terjawab: ia memukuli muridnya yang bandel itu
dengan sebuah ranting kayu cemara yang lentur, hingga anak itu nyaris
tak bisa berjalan.
“Pertanyaan-pertanyaanmu sesat, Hakkim,” ia menunjuk dengan
lembut, ketika otot-ototnya yang sakit akhirnya memaksanya untuk
menurunkan tongkat itu. “Kau harus membersihkan diri dari semua-
nya. Mari, dan aku tunjukkan padamu caranya.”
www.facebook.com/indonesiapustaka

Ia pergi ke halaman di belakang rumahnya, dengan Hakkim


ter pincang-pincang dengan penuh rasa hormat tiga langkah di
belakangnya. Ada sebuah sumur di luar sana, dengan sebuah tembok
batu, dan gundukan kecil batu-batu lepas yang tersisa dari pembuatan
sumur itu. Sebagian besar batu berukuran kecil, tapi satu adalah batu

118
Kota Sutra dan Baja

ber warna abu-abu suram berukuran besar dan lebar seperti sebuah
roti festival.
“Ini,” kata Asroul, yang menunjuk pada batu abu-abu, “adalah
beban dari pikiran negatif. Bawa ini melewati halaman, dan taruh di
samping gerbang itu.”
Hakkim patuh, dengan kesulitan yang sangat besar. Luka-luka
dari pukulan belum lagi mulai berkeropeng, darahnya membuat batu
berat itu licin, sehingga sulit dipegang ketika ia mengangkat bobotnya
yang berat dan berjalan terhuyung-huyung menyebarangi halaman
berdebu ke ujung yang lebih jauh. “Sekarang bawa lagi ke sumur,”
Asroul memberi perintah.
Lagi, anak laki-laki itu melakukan apa yang gurunya perintahkan,
meskipun otot-ototnya retak dan jantungnya berdebar-debar seperti
sebuah umbul-umbul dalam badai.
“Seratus kali kau harus membawa beban itu kesana,” kata orang
suci itu kepada muridnya, “dan seratus kau bawa itu ke sini lagi. Dan
ketika kau selesai, beban ini akan lepas darimu. Lakukan, anakku.”
Sesungguhnya, ini adalah sebuah siksaan. Ini akan menjadi
pertanyaan besar bahkan seandainya anak laki-laki itu sehat; kaku dan
sakitnya dia karena pemukulan, ini adalah labirin siksaan tanpa akhir.
Ia bisa berjalan menjauhinya, mungkin, jika ia anak laki-laki yang
berbeda. Tapi begitulah ia, jadi ia patuh.
Meskipun saksinya hanya malam, ia menanggung batu itu ke sana
dan kemari. Sepuluh perjalanan pertama ia masih bisa menghitung,
dan sepuluh setelahnya masih merasakan kehidupan yang terpisah dan
dapat diuraikan. Setelah itu, dengan kesekonyong-konyongan yang
mengejutkan, mereka berubah menjadi totalitas yang mengerikan.
Mungkin pukulan yang ia terima membuatnya terburu-buru—
mungkin Tuhan yang bersembunyi mengecamnya karena tertutup,
picik dan kepala batu. Ia selalu membawa batu itu, dan akan selalu.
Ia tidak lagi ingat memungutnya, dan tidak bisa membayangkan
www.facebook.com/indonesiapustaka

meletakkannya.
Tampak sebagian dari dirinya: jangkar yang ia lemparkan mem-
buatnya tetap tegak, planet yang berputar di mana di tanahnya kakinya
telah berakar. Ketika menyadari salah hitung, ia mulai lagi dari satu.
Beberapa saat sebelum pagi, demam datang lagi; atau Tuhan iba dan
menarik diri. Hakkim secara perlahan kembali pada dirinya, melorot

119
Mike, Linda, dan Louise Carey

di atas batu itu, napas yang terdengar di dalam dadanya seperti tikus
yang meronta-ronta sekarat di dalam lentera kertas, kulitnya yang
dingin dan pucat dialiri keringat seperti keju yang setengah mendidih
meleleh bersama air dadih.
Sebuah ironi yang mengerikan bahwa hukuman Hakkim seharus-
nya menjadi visinya, dan oleh karena itu menjadi dasar kehidupan
spiritualnya. Ia melekat pada batu itu, dan batu itu membalas pelukan-
nya.
Ini beban pikiran negatif, Asroul pernah berkata. Tampaknya
ini bukan sebuah beban lagi. Ketika ayam jantan pertama berkokok
di halaman-halaman tetangga, Hakkim membawa batu itu ke dalam
kamar tuannya dan membawanya ke tempat tidur tuannya. Ia berdiri
di sana dalam cahaya subuh, beban pikiran negatif berayun di tangan-
tangannya seperti seorang bayi. Ia memanggil nama tuannya, dengan
tenang dan nada memerintah.
Asroul membuka matanya yang muram, setengah melihat, setengah
bangkit dari sumur mimpi dangkal bersusu yang datang setelah subuh.
“Tenang,” katanya bergumam. “Burung-burung—”
Hakkim melepas batu itu, yang jatuh menghancurkan kepala
Asroul menjadi bubur tanpa tulang berwarna merah jambu. Kemudian
ia pergi melewati rumah itu ke kamarnya sendiri, mengemas barang-
barangnya yang sedikit, kantong kulit air dan beberapa roti. Ia pergi
ketika muazin masih menyanyikan seribu kesetiaan pada umat seribu
gereja. Ia tak memeluk satu pun dari kekudusan itu dalam hatinya, dan
ia melihat, dengan kejelasan masa muda dan kemuakan, betapa kuat
ia jadinya.
Guru kedua Hakkim, Drihud Ben Din, adalah seorang Pertapa,
seorang penolak kesenangan. Anak laki-laki itu mencarinya karena
reputasi, dan mengujinya dengan teliti meski tampak menyerahkan
dirinya pada interogasi sang guru. Pertanyaan-pertanyaan Ben Din
yang diajukan kepadanya tentang kebiasaannya baik kebiasaan berpikir
www.facebook.com/indonesiapustaka

maupun kebiasaan hidup menyenangkannya—mereka mengaitkan gaya


hidup yang ketat dan menolak diri sendiri, di mana pikiran negatif,
sejauh ini, daripada dihindari dan dihukum, diangkat ke kedudukannya
yang sebenarnya. Melalui pikiran-pikiran negatif, melalui penolakan-
penolakan, kita pada akhirnya tiba pada kebenaran: tanpa mereka kita
selamanya menderita dalam qu’aha sul jidani, labirin topeng-topeng.

120
Kota Sutra dan Baja

Di rumah Pertapa itu, Hakkim berkembang—meskipun ia tidak


akan menggunakan kata itu, dengan nada tambahan sia-sia. Ia tumbuh
lurus dan tegak, menuju cahaya itu, tidak pernah menyimpang ke arah
mana pun yang mungkin ditandai pada sebuah kompas, tidak pernah
jatuh dalam jebakan-jebakan yang dibuat dunia dalam jalan orang-
orang yang benar.
Ascetic: sebuah kata barbar yang berasal dari barat. Kata itu berasal
dari askesis, pengosongan selera, intelek, kebiasaan baik pikiran atau
tindakan. Hakkim kini mengalami konsekuensi yang sulit dipahami
dari pengosongan itu: jiwanya diisi dirinya sendiri, menyeimbangkan
tekanan dunia dan menahannya dalam keseimbangan dinamis yang
sempurna.
Drihud Ben Din paling terkesan dengan muridnya. Ia tidak pernah
bertemu sebelumnya dengan kehendak menyangkal diri yang begitu
kuat dan kehendak yang kokoh, dalam diri seorang anak laki-laki
yang begitu muda. Ia mengajari Hakkim dengan baik dalam prinsip-
prinsip keimanan barunya, hingga hari itu datang ketika Hakkim
mulai menambahkan prinsip-prinsip itu sendiri dan menjelaskan
kebijaksanaan mereka kepada tuannya lebih lancar ketimbang pria tua
itu menjelaskannya sendiri. “Kau telah siap sekarang,” kata Ben Din
memberi persetujuan, “untuk menguji dirimu sendiri di Jidur.”
Jidur, Taman Suara, adalah sebuah tempat unik di Bessa. Ini
lapangan publik yang besar, dengan jalan-jalan setapak dari batu-
batu merah jambu, di mana setiap marbut berhak menawar dengan
orang-orang suci dan visioner lain untuk jiwa-jiwa orang yang lewat,
menggunakan kefasihan dan kesuciannya sebagai mata uang. Menuju
Jidur, kemudian, Hakkim berangkat, cukup pagi pada hari saat langit
berwarna sama dengan batu-batu di kakinya. Ia yang pertama tiba,
dan memilih tempat paling terpilih, di tengah lapangan di mana
empat bangku kayu diatur di bawah pohon jeruk tua yang sangat
rimbun, untuk membiarkan beberapa musair yang lelah istirahat
www.facebook.com/indonesiapustaka

sejenak dari kepanasan. Seorang pakar yang gemuk dan berminyak


dari sekolah Tsevre, yang tiba beberapa menit kemudian, berargumen
tanpa keyakinan yang besar bahwa tempat yang sangat diinginkan
itu adalah haknya. Tapi Hakkim tidak bisa dibujuk atau diintimidasi.
Ia mempertahankan tanahnya, di saat tempat-tempat lain di sekitar

121
Mike, Linda, dan Louise Carey

lapangan telah terisi, dan Tsevretis itu mundur pada akhirnya dengan
terpaksa untuk berdiri di teriknya hari itu.
Ketika matahari setinggi ranting-ranting di atas pohon jeruk, jiwa-
jiwa penasaran pertama mulai berkeliaran dari jalan-jalan penghubung
untuk melihat jenis pencerahan apa yang ditawarkan hari ini. Hakkim
bersiap menerima mereka. Atau setidaknya ia pikir ia telah siap, hingga
saat ketika ia membuka mulut.
“Mengejar kesenangan itu sekosong dan sesia-sia mengejar perem-
puan cantik,” ia membuka. Suaranya terdengar sedikit lemah dan
bergetar bahkan bagi dirinya sendiri, tapi ini dalil pertama yang ia
tawarkan kepada publik, dan ia yakin penyampaiannya akan membaik.
Sayangnya, pada saat keraguan bahwa pikiran-pikiran ini muncul, se-
orang marbut Durukhar yang berposisi di kiri dan yang belum memulai
ceramahnya sendiri, berbicara keras.
“Itu simile yang patut disayangkan,” katanya. “Mereka mungkin
satu dan hal yang serupa. Ketika seorang laki-laki mengejar perempuan
cantik, tentu saja kesenangannya adalah apa yang ia janjikan kepadanya
sendiri.”
“Dan bahwa janji itu,” Hakkim sepakat, hanya sedikit merasa diper-
malukan oleh keberatan itu, “adalah tipuan, karena kesenangan yang
dibawa perempuan cepat berlalu, seperti semua—”
“Pernahkah kau mengalami kesenangan yang dibawa seorang
perempuan?”tanya seorang peragu yang duduk nyaman dengan pung-
gungnya bersandar di pohon jeruk. “Kau kelihatan muda.”
“Semua kesenangan,” kata Hakkim dengan singkat dan tegas,
“adalah sama dalam hal mereka menyelewengkan tubuh dengan me-
ngorbankan pikiran dan jiwa. Karena di mana pun dalam kehidupan,
kita menemukan—”
“Tunggu, tunggu, tunggu,” kata Durukhar, yang jelas memiliki
pikiran bertele-tele. “Semua kesenangan menyelewengkan tubuh?
Bagaimana dengan memecahkan sebuah teka-teki? Ini kesenangan
www.facebook.com/indonesiapustaka

yang menyelewengkan pikiran.”


Hakkim bingung sesaat, tapi segera memulai perlawanan membabi
buta sebaik yang ia bisa. “Pikiran bagian dari tubuh,” ia menyatakan,
sedikit bergetar sekarang. “Otak adalah kursi intelek, dan otak adalah
sebuah organ tubuh. Karena itu, semua kesenangan intelek adalah
kesenangan tubuh.”

122
Kota Sutra dan Baja

“Itu menggelikan,” orang ketiga angkat bicara. Ia menimang-


nimang sebuah jeruk, tapi tidak jelas ia bermaksud memakannya atau
melemparnya—keduanya diizinkan di Jidur. “Jadi tak ada perbedaan
antara bercinta dengan memiliki sebuah argumen?”
“Tentu saja istriku bisa melakukan keduanya sekaligus,” kata
laki-laki yang duduk di bawah pohon mengamati, dan kelakar itu di-
sambut tawa terbahak-bahak yang sangat keras dari segala penjuru.
Durukhar yang menjijikkan itu kini melihat bahwa ia berada dalam
kondisi mengarahkan oposisi. “Dan itu sama seperti makanan untuk
berpikir tentang memakan sebuah serbat seperti memakannya—karena
kesenangan dalam tiap-tiap kasus sebanding.”
“Sebanding dalam jenis,” Hakkim membetulkan pesaingnya dengan
marah. “Bukan dalam tingkatan. Maksud saya adalah—”
“Jadi apa itu, guru yang bijaksana, nilai tukar?” tanya sang Durukhar
dengan sopan santun yang pura-pura. “Berapa banyak orang harus
berpikir tentang serbat sebelum ia memperoleh jumlah kesenangan yang
sama yang mungkin bisa dimilikinya dengan mencicipinya?”Penonton
tertawa, mendorong sang Durukhar untuk berupaya lebih jauh.
“Dan apakah kau akan menganjurkan pendekatan yang sama dengan
perempuan cantikmu? Kau bisa berpikir berkali-kali tentang menik-
matinya, alih-alih mencobanya sekali saja.”
“Ia mulai memikirkan perempuan sekarang,” lelaki dengan jeruk
mengejek, melihat wajah Hakkim memerah karena marah. Terdengar
tawa yang lebih riuh dan sejumlah peringatan yang lebih vulgar.
Bahkan kemudian, ada sedikit kemungkinan untuk memperoleh
kembali perhatian dari penonton dan bangun argumentasi lagi
dari beberapa dasar yang lebih tepat. Namun sang Durukhar, yang
terinspirasi dengan sambutan terhadap olok-oloknya sebelumnya, kini
mulai berpantomim di mana Hakkim mendekati seorang perempuan
khayalan, mencium dan membelai tubuhnya yang tak tampak dengan
antusiasme yang besar, dan kemudian dipukuli oleh tinju perempuan
www.facebook.com/indonesiapustaka

khayalan. Penonton bersuka cita, teriakan kegirangan dan ejekan-


ejekan kasar cukup menenggelamkan usaha Hakkim untuk berbicara
kepada mereka lagi. Ketika ia menaikkan suaranya agar terdengar
meningkahi keriuhan, lelaki dengan jeruk melemparkan jeruknya.
Buah itu menghantam keras sisi wajah Hakkim, meninggalkan bilur
merah.

123
Mike, Linda, dan Louise Carey

Sang Durukhar berpendapat bahwa perempuan misterius Hakkim


telah meninggalkan gincunya di pipi Hakkim ketika ia menciumnya
sebagai perpisahan.
Dengan amat terpukul, Hakkim menyelinap pergi. Ia menghabiskan
sisa harinya dengan bersembunyi di dalam sebuah hutan kecil zaitun,
memainkan kembali perdebatan itu dalam pikirannya dengan berbagai
hasil, semua yang berpihak padanya. Petang hari ia pulang ke rumah
gurunya dan mengatakan kepadanya bahwa hari itu berjalan dengan
baik.
Malam itu, Hakkim dikunjungi sebuah mimpi yang mengganggunya;
atau sebetulnya oleh ketiadaan sebuah mimpi, karena saat bangun, ia
hampir tidak ingat apa yang telah menyulitkan tidurnya. Ia hanya tahu
bahwa ia sedang melarikan diri dari sesuatu yang mengerikan, sehitam
aspal, tanpa bentuk atau zat, yang membencinya dan mengejarnya
dengan maksud buas yang mematikan. Sesuatu itu tampaknya berasal
dari bawah, naik mengitarinya seperti sebuah kerongkongan, yang
terbuka untuk menelannya bulat-bulat, hingga ia merenggut dirinya
sendiri dalam keterjagaan di saat-saat terakhir sebelum ditelan habis.
Berbaring di pelbet jeraminya dalam gelap subuh, ia menekan dua
tangannya di atas dadanya yang sempit untuk menahan jantungnya
agar tidak melompat. Ketakutan yang mencengkeramnya jauh lebih
buruk dari apa pun yang pernah ia rasakan.
Jika hari pertama dalam karier Hakkim sebagai marbut tidak ber-
hasil, hari kedua adalah sebuah bencana total. Sang Durukhar kembali
di tempat yang sama, dan senang melihat Hakkim tiba. Hakkim
berusaha menghindarinya, tapi sang Durukhar berganti tempat agar
berada di sebelahnya lagi ketika ia berbicara. Jelas sekali ia melihat
Hakkim dalam peran seorang lelaki polos. Bahkan lebih menyedihkan,
Hakkim menyadari bahwa sangat mudah untuk menjadikannya
bulan-bulanan. Pernyataan-pernyataan sungguh-sungguhnya bisa
disalahartikan dengan berbagai cara, dan metaforanya yang terlalu
www.facebook.com/indonesiapustaka

rumit bisa dibuat jatuh hanya dengan satu sentuhan.


Hakkim melawan dengan segala senjata yang dia miliki: akal dan
kebenaran, ajaran dan teladan, perumpamaan dan nasihat. Semua sia-
sia. Kata-kata sang Durukhar mengalir melindas dan menentangnya
seperti tikus-tikus, menghindari genggamannya, mundur di depannya
kemudian mengigit dan mencakar secara diam-diam. Bahkan kebung-

124
Kota Sutra dan Baja

kaman tidak bisa membantunya—seandainya dia tidak mengatakan


apa-apa, sang Durukhar memberikan separuh dari dialognya juga,
untuk efek lucu dan menyenangkan penonton. Sekali lagi, Hakkim
pulang tanpa perubahan satu gaya pun, sementara Durukhar berubah-
ubah gaya dari komedi menjadi didaktik tanpa begitu banyak jeda.
Setiap hari, selama empat belas hari, Hakkim pergi ke Jidur. Empat
belas kali ia hancur melawan batu yang sama. Setiap malam selama
empat belas malam ia bangun dengan jeritan-jeritan yang muncul dari
tenggorokannya ketika gelombang hitam malam penuh kebencian dari
mimpinya naik untuk menelannya bulat-bulat.
Persis sebelum subuh pada hari kelima belas, setelah siksaan-
siksaan malam terakhir, Hakkim berdoa di tempat keramat aneh yang
ia simpan di sudut kamarnya. Tempat keramat itu adalah sebuah batu
abu-abu pendek: batu dari pikiran negatif, yang ia bawa bersamanya
dari rumah mantan gurunya. Permukaannya kini dikotori sidik-sidik
jari berdarah dan bercak-bercak di sana-sini dengan beberapa potongan
bagian dari otak, tapi batu itu tidak berubah. Kesolidannya, beratnya,
kasarnya, bentuknya yang asimetris: hal-hal ini meyakinkan bagi anak
laki-laki itu. Dan pada waktunya pikiran negatif membawa pencerahan,
sepertinya ia tahu itu akan terjadi.
Pada hari kelima belas, ia tidak berceramah, tapi menunggu di
sebuah sudut Jidur yang gelap dan menyaksikan sang Durukhar tampil
tanpa orang lurus. Ia masih bagus, harus dikatakan: kefasihan lidah,
ekspresi wajah, dan kewaspadaan terhadap tanggapan penontonnya. Ia
menjadikan empat kebaikan dari kepercayaan Durukhar puisi empat
baris, yang ia nyanyikan pada saat jeda reguler sebagai pengingat. Pada
saat matahari terbenam di bawah dinding-dinding kota, suaranya parau
dan mangkuk amalnya telah penuh.
Hakkim mengikuti sang Durukhar ke penginapannya, sebuah
kamar lantai atas di atas Fountain Court. Ia menunggu beberapa menit
setelah lelaki itu masuk dan kemudian mengikutinya ke dalam. Sang
www.facebook.com/indonesiapustaka

Durukhar terkejut melihat sang cendekia muda, tapi hanya untuk


sesaat. Setelah itu, perhatiannya seluruhnya terserap kepada pisau yang
ditancapkan Hakkim di dadanya.
Pembunuhan kedua ini melegakan Hakkim, tidak seperti pem-
bunuhan pertama. Dulu, ia mengigau dan liar; kini, pikirannya jernih
dan penuh ketenangan. Karena itu, ia bisa melihat betapa baiknya

125
Mike, Linda, dan Louise Carey

tindakan pembunuhan bertautan dengan prinsip-prinsip yang ia pilih


dan ia akui. Menipiskan kekacauan dunia, menghentikan suara yang
mengganggu; suara itu, lagi pula, milik seorang kair, yang berdiri di
antara orang-orang lain dan cahaya kebenaran. Dalam segala hal, ini
adalah tindakan yang berbakti dan sesuatu yang indah.
Mayat sang Durukhar, sebaliknya, hina dan tidak menyenangkan
untuk dipikirkan: Hakkim membersihkan pisaunya di lengan baju lelaki
itu dan pergi.
Pembunuhan ini terbukti menjadi sebuah titik balik bagi cendekia
muda itu. Bertahun-tahun setelah itu, Hakkim menemukan kepercayaan
diri sebagai pembicara publik yang sebelumnya menghindari darinya.
Ia berceramah dengan penuh gairah di Jidur dan menarik penonton
yang besar. Jika beberapa dari pendengarnya ingat anak laki-laki kikuk
yang telah menjadi bahan olok-olok sang Durukhar, mereka tidak
mengenalinya lagi dalam marbut bermata nyala yang menggertak
mereka sekarang.
Hakkim berceramah tentang kekosongan, askesis, kenikmatan dari
kebisuan dan ketidakhadiran dan penahanan diri dari hasrat. Dalam
pikiran dan tubuh yang menolak, pengalihan yang mereka dambakan,
ia berjanji, semua orang bisa menemukan dalam diri sendiri wajah
Tuhan, membuka semua topeng; damai yang bersembunyi di jantung
qu’aha sul jidani.
Ia percaya pada kedamaian itu meskipun dinding kebencian yang
gelap dan buta di dalam mimpi-mimpinya masih menenggalamkannya
di lebih banyak malam. Orang-orang lain juga percaya, dan Para
Pertapa Bessa menjadi aliran pemujaan dengan Hakkim Mehdad
sebagai pendeta dan nabi mereka.
Pesan keras Hakkim membawanya berkonflik dengan banyak
orang; ia tidak mundur. Bahkan, ia kini bersukacita dalam benturan
ganas tentang kebenaran di atas kebohongan, dan terlibat dalam
ratusan perdebatan yang berlangsung sejak matahari terbit hingga
www.facebook.com/indonesiapustaka

terbenam dan mengubah Jidur menjadi sebuah arena. Kebanyakan


ia memenangkan duel-duel ini, dan memperkecil jumlah lawannya.
Kadang-kadang, ia kalah, kembali setelah gelap dan meninggalkan
mereka mati.
Pada tahun ketiga belasnya, ia menderita luka serius pada satu
dari pertemuan-pertemuan malam hari ini, ketika seorang pendeta

126
Kota Sutra dan Baja

Re’Ibam berlidah licin melawan agak lebih keras dari yang lain dan
menusukkan pisau Hakkim ke dada sendiri. Inilah yang membuatnya
memutuskan untuk mencari, kebetulan, pelatihan lanjutan dari cabang
teologi khusus yang dia ciptakan sendiri. Ia mengambil semua uang
yang ia tabung, dan uang yang ia warisi ketika gurunya Drihud Ben
Din mati (karena kesalehan yang tidak cukup), dan ia mendatar ke
sekolah para pembunuh.
Sekolah pembunuh itu tidak berada di dalam Bessa sendiri, karena
khalifah Bessa, Bukhari al-Bukhari, tidak setuju akan para pembunuh
bayaran (meskipun sepenuhnya nyaman dengan ide para pembunuh
yang ia pekerjakan sendiri). Bahkan, sekolah itu adalah sebuah wilayah
kekuasaan sendiri di luar kota Perdondaris. Sekolah itu dimiliki dan
dikelola oleh yang disebut Khalifah Para Pembunuh, Imad-Basur yang
legendaris, yang secara personal mengawasi semua siswa potensial.
Peserta dikenakan biaya (tidak bisa dikembalikan) dan audisi (kerap
kali mematikan).
Ketika ia menanti gilirannya untuk diwawancara dan diuji guru
besar, Hakkim diizinkan berkeliaran di dalam halaman sekolah
dan memahami atmosfernya. Sebagian besar yang ia lihat di sana
menyenangkannya: para siswa sangat dan terus-menerus fokus pada
pelajaran mereka, dan menjalani hidup hemat yang cocok dengan cita-
cita serius seperti itu.
Namun satu hal yang mengganggu dirinya. Di halaman ke arah
belakang bangunan, seorang perempuan muda langsing, berambut dan
bermata hitam, sedang mengasah pisau dengan batu gerinda. Lima atau
enam pisau lainnya dengan ukuran bervariasi tergeletak di kakinya,
tersusun rapi, siap untuk diasah pada gilirannya.
Semua siswa yang Hakkim lihat adalah—tentu saja—para pria.
Ia menduga bahwa para pelayannya pun juga. Yang seperti itu adalah
norma di sekolah-sekolah, kepada seorang pembantu yang lewat
Hakkim bertanya, siapa dia.
www.facebook.com/indonesiapustaka

“Sepupu Imad-Basur,” katanya. “Zulaika. Ia tinggal di sini.”


“Tapi ia tidak berbicara dengan para siswa?”
Pembantu tersebut sedikit tersinggung. “Tentu saja tidak!”
Hakkim berterima kasih kepada pria itu, yang bergegas berjalan. Ia
memperhatikan perempuan itu lebih lama lagi, agak terkesan dengan
ketekunan perempuan itu dalam mengasah pisau, dua puluh sapuan ke

127
Mike, Linda, dan Louise Carey

depan, dua puluh sapuan ke belakang, ke depan lagi. Meskipun ia tidak


menyukai tubuh, pikiran, dan ucapan perempuan, ia merasa dedikasi
perempuan itu pada tugas tersebut menyenangkan.
Hakkim lulus dalam audisinya dengan mudah dan baik sekali dan
diterima sebagai seorang murid. Ia tinggal dengan para pembunuh
hanya untuk dua tahun, yang berarti bahwa ia tidak menyelesaikan
pelajarannya dan namanya tidak pernah tercatat dalam tinta hitam di
atas gulungan surat hitam. Tapi ia mengambil dari mereka apa yang ia
butuhkan, dan ia berpisah dengan cara-cara terbaik—untuk tingkatan
tertentu, bahkan, sebelum ia pergi, ia dipanggil menghadap Imad-Basur
sendiri.
Khalifah Pembunuh bertanya kepada Hakkim mengapa ia tidak
ingin lulus dan kemudian tinggal di sekolah itu sebagai seorang wakil
pembunuh, menjalani tugas yang dipilihkan para guru tua untuknya
dan berbagi kekayaan yang dibawa pembunuhan-pembunuhan bayaran
itu.
Hakkim menjelaskan bahwa ia memiliki keahlian di bidang agama,
yang baginya pembunuhan hanyalah sekadar pelengkap. Imad-Basur
menunjukkan minat yang menyanjung. Kedua laki-laki itu berbicara
panjang lebar tentang Pertapaan; ini sebuah disiplin yang memiliki daya
tarik tertentu bagi raja pembunuh, dan ia terkesan dengan semangat
dan keyakinan murid mudanya.
Untuk alasan apa pun, ia merasa tergerak untuk memberi hadiah
pada Hakkim. Ia bertanya kepada anak muda itu apakah—di luar ke-
benciannya terhadap kesenangan duniawi—ada hal khusus yang begitu
ia inginkan.
Hakkim memikirkan mimpi yang menyulitkannya di masa kecil
dan masih terjadi bahkan hingga kini, tentang ombak hitam yang
membencinya dan naik menelannya ketika ia tidur.
“Aku ingin melihat wajah dari musuh terburukku,” katanya. “Aku
yakin ada seseorang yang membenciku, dan akan memperdaya dan
www.facebook.com/indonesiapustaka

merintangiku di mana pun ia bisa—meskipun mungkin kami belum


harus bertemu.”
Imad-Basur mengangguk dengan bijaksana mendengar ucapan
pendek dan blak-blakan ini. Ia tahu bahwa ada banyak cara, baik dan
buruk, di mana jiwa-jiwa bisa berhubungan. Ia juga tahu ada obat

128
Kota Sutra dan Baja

dan sihir yang bisa membantu mengenali jalinan yang tak terlihat ini
jauh sebelum menjadi nyata. Namun, ia ingin memastikan bahwa ia
memahami betul muridnya.
“Dalam kehidupan mana pun,” kata raja pembunuh, memilih
kata-katanya dengan hati-hati, “ada sebuah perjuangan menuju akhir
yang diinginkan atau ditakdirkan. Perjuangan itu memancing lawannya
atau sebaliknya, dipancing oleh lawannya. Apakah harapanmu untuk
melihat bentuk dari lawanmu? Bentuk dari lelaki atau kekuatan atau
pemikiran terhadap apa yang kau harus perjuangkan dan atas apa yang
harus kau menangkan, jika hidupmu memiliki makna?”
Hakkim mengangguk dengan kuat. “Itulah yang benar-benar aku
inginkan!”katanya setuju.
Imad-Basur berjalan ke sebuah peti dari kayu oak yang dihiasi besi,
membukanya dengan cara yang tak bisa dilihat Hakkim dan mengambil
sebuah kantong yang terbuat dari kulit lembut dari dalamnya. Ia mem-
bawanya kembali ke Hakkim dan menyerahkan kepadanya. Hakkim
membuka kantong itu dan melihat di dalamnya sejumlah bubuk
berwarna dan bertekstur abu yang halus.
“Itu disebut siket arilar,” kata Imad-Basur kepadanya. Pada lidah
Heshomet, yang samar-samar dikenal Hakkim, frase itu berarti “cahaya
yang bersinar dari bilah pisau.”
“Ambillah pada tengah malam,” Imad-Basur memberi instruksi
kepada siswanya, “dalam ruangan yang benar-benar gelap. Visi-visi
yang datang kepadamu kemudian akan menunjukkan lawan-lawanmu,
musuh-musuhmu, meskipun kemungkinan ada selubung ilusi dan
metafora yang harus kau tembus lebih dulu.”
Hakkim berterima kasih kepada sang pembunuh besar, untuk
hadiah ini dan juga hadiah-hadiah yang nyata yang ia terima di sekolah,
dan lalu berangkat. Namun ia mengalami sebuah ambivalensi tentang
bubuk tersebut, dan untuk waktu yang lama setelah ia kembali ke Bessa,
ia tidak menyentuhnya. Ia mengenal para marbut yang menggunakan
www.facebook.com/indonesiapustaka

bubuk kimia untuk mencapai visi-visi, dan ia memiliki penghinaan


terbaik untuk mereka. Tampak baginya bahwa dalam banyak kasus
kelebihan mereka hanyalah ilusi, dan pencarian mereka untuk hal itu
mengungkapkan kelaparan yang lebih dasar dan lebih materi.
Di sisi lain, mengetahui wajah seorang musuh adalah sebuah
kebaikan yang besar. Hakkim berpikir tentang ombak hitam yang

129
Mike, Linda, dan Louise Carey

menyiksanya dalam mimpi-mimpinya. Ia mempertimbangkan kekuatan


kehendaknya sendiri, dan kemungkinan bahwa—obat terbukti bisa
menjadi candu—ia bisa menaklukkan kecanduan tubuhnya.
Perkumpulan rahasia yang ia pimpin adalah kekuatan besar di
Bessa sekarang, berjumlah lebih dari dua ribu pengikut. Hakkim
memilih emat yang terkuat dan paling bersemangat dari mereka dan
memerintahkan untuk menjaga pintu kamarnya, tak boleh mengizinkan
seorang pun masuk. Kemudian ia masuk dan mengunci pintu.
Imad-Basur telah memerintahkan untuk mengambil jumlah sekecil
mungkin di ujung jari dan menyentuhkan ke ujung lidah. Ia melakukan
seperti itu sekarang, dan untuk sesaat ia yakin bahwa tak ada dampak
pada dirinya; kemudian, mendongak ke atas, ia melihat dinding dan
langit-langit di kamarnya meleleh. Ia berdiri di sebuah tanah lapang
di hutan, di bawah sinar bulan sabit.
Ini sesuatu yang melegakan. Hakkim yakin dalam hatinya bahwa
mimpi kegelapan akan datang lagi, naik seperti air bah di sekeliling
dia dan berusaha untuk menelannya dalam satu gelombang peristaltik.
Namun, pada saat yang sama, ia merasakan kerugian: jika musuhnya
menyaksikan, dengan berdiri di sana dalam keterbukaan di tengah
tanah lapang ia menjadi target yang sangat mudah. Merundukkan
badannnya dengan rendah, dan hati-hati untuk tidak membuat suara,
ia bergerak dengan cepat melewati rerumputan panjang dan menyatu
dengan bayangan-bayangan di bawah pohon. Di sana ia menunggu
untuk beberapa waktu dalam ketenangan dan kebisuan sempurna, tapi
tak seorang pun muncul.
Dengan berani, Hakkim memeriksa sekelilingnya. Jika ada
makhluk hidup dalam hutan itu, ia yakin ia akan menemukannya—para
pembunuh telah mengajarkannya cara untuk bergerak dengan begitu
diam-diam dan cepat sehingga jalannya tidak mengganggu satu daun
pun di atas pohon, bahkan tidak juga merobek kain angin.
Tak ada seorang pun di tanah lapang itu, bahkan di pohon-pohon
www.facebook.com/indonesiapustaka

yang mengelilinginya. Hakkim berjalan lebih jauh dan melihat, kini,


sebuah sumur air di dekatnya. Ia mengitarinya dengan hati-hati dari
jarak yang agak jauh, mendekatinya dengan cara yang anggun, dan
mendapati ditinggalkan.
Namun dari lubang sumur, ia melihat sebuah tebing dengan banyak
gua yang ada di wajahnya. Ia menemukan jalan yang membawanya

130
Kota Sutra dan Baja

ke sana, dan memeriksa gua-gua itu satu demi satu. Sejuta kelelawar
membuat gua sebagai rumah mereka tapi tak seorang pun tinggal di
sana.
Apa itu waktu dalam sebuah mimpi? Hakkim Mehdad berjalan
jauh dan lebar, untuk apa yang kelihatannya seperti berbulan-bulan dan
bertahun-thun, melintasi dataran tanpa jejak, naik dan turun gunung,
menyusuri pinggir-pinggir sungai yang kering dan melalui padang
rumput subur dengan rerumputan yang basah karena embun. Tak satu
pun tempat di mana ia berjalan, ia melihat sekilas, bahkan bayangan
musuhnya, apalagi melihat wajahnya.
Lelah karena pencarian, karena kesepian dan karena rasa sebuah
misteri yang ia tak bisa pecahkan, akhirnya ia duduk di atas sebuah
batu di samping pantai lautan yang hitam dan sunyi. Ia merenung di
sana, dalam tempat terlarang ini, bertanya-tanya mengapa bubuk itu
kelihatan tidak cocok untuk memberi kebijaksanaan pada dirinya.
Mungkin bubuk ini memang tidak pernah memiliki wahyu untuk
diberikan kepadanya.
Meski begitu, secara perlahan, ketika air dari laut hitam menggulung
di kakinya, sebuah keyakinan menguasai Hakkim. Ia mengenal tempat
ini. Ia mempelajari kontur-kontur pantai, bukit pasir, tebing-tebing yang
bergantungan di seluruh sisi. Tak satu pun yang akrab dengannya: tak
satu pun dari mereka menjelaskan perasaan pulang kampung yang ia
rasakan.
Hanya ketika ia melihat ke bawahnya ia menyadari di atas apa ia
sedang duduk: meskipun jauh lebih besar, bentuknya tak salah lagi.
Itu adalah batu besar dari pikiran negatif, yang ia bawa bersama dari
rumah guru pertamanya, Asroul, dan yang masih ia simpan di sebuah
lemari bertirai di dalam kamar-kamar pribadinya.
Dengan kesadaran itu, dan dari sudut keuntungan itu, pemandangan
di depan menunjukkan sebuah aspek berbeda. Wahyu datang
kepadanya, dan pencerahan membuka mata batin yang murah hati
www.facebook.com/indonesiapustaka

di dalam dirinya. Ia tahu sekarang bahwa ia tidak perlu mencari lebih


jauh lagi—bahwa visi itu benar-benar telah menunjukkan kepadanya
apa yang telah dijanjikan sejak lama.
Musuhnya tak perlu ditemukan di mana pun di dunia, karena
musuhnya adalah dunia itu sendiri: qu’aha sul jidani, labirin topeng-
topeng, postur-postur di depan mata manusia seperti para pelacur

131
Mike, Linda, dan Louise Carey

paling mencolok dan paling berjiwa kosong, dan mengkhianatinya dari


jalan kebenaran dengan pertunjukan menghujat Tuhan. Misi Hakkim
adalah mengubah pandangan manusia untuk melihat kebenaran: untuk
membuat mereka menghindari keindahan-keindahan dan kesenangan-
kesenangan hidup sebagai jerat yang sangat berbahaya.
Skala tugas itu memusingkan sekaligus membesarkan hatinya.
Untuk berhasil dalam tugasnya ini, ia perlu menjadi marbut dari
segala marbut, khalifah dari segala khalifah: ia perlu memperluas ke-
kuasaannya bukan hanya di seluruh Bessa, tapi di seluruh timur—dan
kemudian, setelah itu, di seluruh bangsa barat yang barbar, di mana
orang-orang makan kotoran dan berbicara seperti menyalak dan
menggonggong seperti anjing-anjing.
Hakkim bangkit berdiri, lengannya merentang seolah menerima
pelukan. “Aku siap,” ia berbisik.
Pemandangan itu menghilang dari sekitarnya ketika kemujaraban
bubuk itu memudar. Siang hari dan kesadaran memulai kewajiban
duniawi mereka, dan Hakkim Mehdad, sejak saat itu dan selamanya
sarjana dengan tali yang menggantung, pergi ke luar dari kamar untuk
menyanyikan doa subuh. Di dalam hatinya, ada sebuah nyanyian
yang lebih keras, dan dalam pikirannya ada awal dari sebuah rencana
yang begitu gila dalam ambisinya sehingga para dewa entah mesti
memberkatinya atau membungkuk untuknya.
Para murid heran, tidak saja pada kegarangan guru mereka yang
tak biasa ketika berdoa, tapi juga pada kakinya. Karena meskipun ia
telah mencuci kaki-kaki itu sebelum beristirahat malam sebelumnya,
seperti yang sewajarnya, kaki-kaki itu kotor dan basah sekarang—tidak
dengan lumpur, tapi dengan tinta yang paling hitam.
Hakkim Mehdad telah menemukan musuhnya. Namun kedua
matanya melihat pada hal-hal yang lebih mahamulia, dan ia tidak
melihat.
www.facebook.com/indonesiapustaka

132
Kota Sutra dan Baja

Pemuda yang Mengintai


di Gurun

Issi, kepala penuntun unta, terbangun dari tidurnya yang gelisah dan
mendapati seseorang menindihnya. Ini belum pernah terjadi: para
pembantunya berimpit-impitan di malam-malam dingin ketika api
padam dan satu-satunya kehangatan adalah tubuh yang terdekat. Tapi,
ini terlalu berlebihan—ia dikepung dari dua sisi. Marah dan setengah
terbangun, ia berusaha memukul-mukul para pengganggunya agar
pergi.
“Turun dariku, kau anak keledai. . .” ia mulai—dan menyadari
bahwa ia tidak bisa bergerak. Lengannya dijepit ke tanah. Tidak, kedua
lengannya. Dan kaki-kakinya. Sebuah tangan menutup mulutnya.
“Jangan bergerak. Jangan coba untuk berteriak,” kata seorang
perempuan.
Mata Issi melotot. Masih tengah malam, tapi ia mengenali perem-
www.facebook.com/indonesiapustaka

puan yang membungkuk di atasnya sebagai salah satu selir, seorang


berparas galak yang diambil sang utusan. Ada wanita-wanita lain yang
berlutut di sekitar dia, satu memegang lengan kirinya, dan seorang lain
menjepit kakinya.
“Kami perlu disiapkan beberapa unta,” kata perempuan tinggi itu.

133
Mike, Linda, dan Louise Carey

“Juga tandu-tandu. Jika aku membuka mulutmu, apakah kau akan


menjawab dengan pelan? Anak buahmu tak perlu melihatmu seperti
ini.”
Ia—dengan menakjubkan—lebih kuat daripada dirinya. Issi be-
rontak tapi tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya. Perempuan
itu menunggu dengan tenang hingga ia mengangguk, kemudian meng-
angkat tangannya.
“Lepaskan aku!”Issi minta dengan bisikan marah. Ia tahu En-
Sadim seorang laki-laki berselera payah, tidak seperti kebanyakan
para pengikut sultan yang baru—tapi perbuatan aneh apa yang mem-
butuhkan sebuah tandu, dan pengekangan paksa oleh para perempuan?
“Apa yang diinginkan sang utusan denganku? Aku seorang pekerja yang
jujur.”
“Sang utusan mati,” kata perempuan tinggi itu. “Aku membunuhnya,
dan semua pasukannya. Mungkin aku tidak harus membunuhmu.
Apakah kau akan membantu kami atau haruskah aku berpikir ulang?”
Sesuatu yang dingin menekan tenggorokannya. Ini jelas seorang
perempuan gila. Issi berusaha menyembunyikan ketakutannya. “Aku
akan membantumu,” ia menggaok.
“Bagus,” kata perempuan itu. Dalam kegelapan ia tidak bisa
membaca ekspresi perempuan itu, tapi perempuan itu menjauhkan
pisaunya dari lehernya dan memberi isyarat pada yang lain untuk
membantu berdiri. Kaki-kaki Issi lemah, dan penyerangnya serta
perempuan lain setengah menggotongnya ke lahan berpagar darurat
di mana unta-unta ditambatkan.
Kelompok lain para perempuan menunggu di sana, dan dengan
kelegaan yang tak bisa diekspresikan, Issi mengenali salah satunya:
Ratu Gursoon, seorang selir senior yang kerap ia temui di istal. Ia
selalu memperlakukannya dengan sopan, dan pernah membawakan
air dengan tangannya sendiri. Seorang perempuan seperti dia pasti
bisa dipercaya tetap menjaga ketenangannya. Ia melepaskan diri dari
www.facebook.com/indonesiapustaka

dua penjaganya dan berlari ke arah perempuan itu. Mereka tidak


mengejarnya tapi ia masih merendahkan suaranya, tidak ingin mem-
buat marah perempuan gila itu.
“Nyonya, kau harus pergi dan membangunkan sang utusan segera!
Nyonya di sana—”ia memberi isyarat dengan matanya, takut meng-
gerakkan kepalanya“—adalah serangan matahari. Ia telah melihat
pembunuhan-pembunuhan, dan ia memiliki sebuah pisau.”
134
Kota Sutra dan Baja

Lady Gursoon bergeming. Ia berusaha lagi: “Nyonya, kita harus


mendapatkan bantuan sekarang!” Tapi ia melihat dengan ketidak-
percayaan, perempuan itu menggelengkan kepalanya.
“Zulaika mengatakan kebenaran kepadamu,” kata nyonya tua
itu. “Ia memang membunuh sang utusan, dan kami membantunya
membunuh yang lain. Itu untuk menyelamatkan nyawa kami sendiri.
Tapi kau dan anak buahmu aman.”
Ia menjauh dari Issi, duduk di atas salah satu batu-batu besar
yang membatasi lahan itu dan menepuk-nepuk tempat di sampingnya.
“Kemarilah. Duduk, dan aku akan menceritakan kepadamu apa yang
terjadi.”

Mereka harus menggunakan tujuh unta, dan semua tandu yang disimpan
Issi untuk para musair yang roboh karena matahari. Ia membantu para
perempuan itu memuat empat atau lima mayat laki-laki ke atas sebuah
tandu, berusaha untuk tidak melihat luka-luka yang menganga dan
mata-mata yang melotot. Kemudian ia dan enam dari perempuan
itu—mereka tidak akan membiarkan membangunkan satu pun dari
para pembantunya—membawa unta-unta itu keluar ke arah bukit pasir
di timur, sementara perempuan-perempuan lain berjalan di samping
tandu untuk memastikan tapak-tapaknya tidak tersandung batu, dan
untuk mencegah beban-beban mereka yang mengerikan merosot.
Tak ada cahaya kecuali bintang-bintang dan kemajuan mereka sangat
pelan. Ketika mereka mencapai bukit-bukit pasir mereka menggali
parit dangkal di tanah dan membaringkan para lelaki itu di dalamnya,
berdampingan, menutup mereka dengan pasir. Issi tahu mereka akan
terbuka lagi dalam satu hari atau lebih, untuk dicabik-cabik oleh burung-
burung dan anjing hutan, tapi pada saat itu para perempuan dan anak-
anak mereka telah jauh pergi.
Pada saat mereka kembali, langit mulai terang. Mereka memperbesar
satu dari api unggun itu dengan batu bara dan membakar semua baju
www.facebook.com/indonesiapustaka

yang telah ternoda darah. Kemudian kebanyakan dari mereka melorot


duduk di tanah memandangi kobaran api, tak ingin berbicara dan
berusaha untuk tidak berpikir. Tadi malam Issi akan menolak bahkan
duduk dengan cara ini, satu-satunya pria di antara wanita. Kini, pikiran-
nya ditumpulkan oleh kengerian dan kelelahan, hal itu nyaris tak jadi
masalah. Ia mengalihkan matanya ketika beberapa perempuan muda

135
Mike, Linda, dan Louise Carey

menarik bajunya dan menjulurkan kaki-kaki telanjang ke arah api.


Alih-alih ia melihat pada Lady Gursoon, mengagumi aura ketenangan
meskipun ia meregangkan tangan-tangannya dan beberapa uban
menjuntai di wajahnya. Ia mengiringi pesta pemakaman, membawa
sebuah unta dan menutup mata para lelaki mati ketika dibaringkan di
tanah. Kini ia duduk dan memandangi api, wajahnya penuh pikiran.
“Ke mana kau akan pergi sekarang?”tanya Issi kepadanya.
Ia tiba-tiba memperhatikan betapa tenangnya ia duduk, dan terpikir
olehnya bahwa ia sedang menantikan pertanyaan itu. “Tergantung,”
katanya perlahan. “Apakah kau akan ikut bersama kami?”
Issi terkejut. “Ikut bersamamu! Bagaimana kami bisa? Hakkim
Mehdad akan menginginkan unta-untanya kembali.”
“Ya, pasti. Dan jika kau kembali pada mereka ia mungkin memaaf-
kanmu karena telah membiarkan kami lari, dan karena gagal mencegah
kematian para tentaranya . . . Tapi jika kau dan unta-untamu kembali
ke Bessa, tidak ada harapan bagi kami. Anak-anak tidak akan bisa
berjalan lebih jauh lagi. Perdondaris terlalu jauh dicapai bahkan jika
kami ingin pergi ke sana. Kami mungkin pergi ke Agorath, tapi kota
itu terlalu kecil untuk kami menghilang. Dan Sultan Mahmoud tidak
akan melindungi kami dari Hakkim; kini ia telah melihat apa yang
bisa dilakukan laki-laki itu, ia tak akan berusaha mencari peperangan
dengannya.”
“Tapi kau bersama anak-anak!”Issi protes. “Anak-anak dari teman
lama sang sultan. Ada kewajiban.”
“Teman lama sudah mati,” katanya. “Dan pembunuhnya sangat
kuat. Aku bertemu Mahmoud beberapa kali, Issi, dan ia tidak pernah
mengesankan saya sebagai laki-laki berpendirian. Hati-hati, lebih
mungkin.”
Jika tak ada hal penting yang terjadi, Gursoon meremehkan kasus
itu. Mahmoud yang ia bicarakan ini terkenal di seluruh daratan karena
moral pengecutnya, dan pernah bersumpah palsu tujuh kali dalam
www.facebook.com/indonesiapustaka

sebuah pertemuan. Beberapa tahun setelah kejadian-kejadian ini, ia


mengingkari perjanjian pertahanan bersama dengan kota Raza, dan
tak lama setelah itu ditemukan mati di tamannya yang berdinding
tinggi—seperti tertelan biji persik, tapi diyakini secara luas bahwa
penyebab sebenarnya kematian itu adalah politik.
Issi bimbang selama mungkin sebelum menjawab. Gursoon me-

136
Kota Sutra dan Baja

nunggunya dengan tenang, tangannya terlipat di pangkuannya. Ia


menyadari, ia tak punya pilihan.
“Aku akan ikut bersamamu,” kata penuntun unta itu dengan berat.
“Dan anak buahku juga. Aku akan menjelaskan kepada mereka. Jadi,
Nyonya, sekarang kau mendapatkan bantuanku. Ke mana kau akan
pergi?”
Ia tidak punya waktu untuk berterima kasih.
“Utara,” katanya segera. “Kecil kemungkinan Hakkim mengikuti
kita ke sana. Saudara kami Zeinab biasa mengikuti perjalanan dagang
ke gunung-gunung itu bersama ayahnya, dan tahu di mana oasis-oasis
berada. Tapi, kita perlu menemukan tempat di mana para unta bisa
makan ketika kita tiba. Kau tahu tempatnya?”
“Persis di seberang pegunungan! Ada lapangan rumput bagus di
bawah lereng utara, tapi jalannya terlalu kecil untuk dilakukan sejumlah
ini. Kita bisa membawa sekitar dua puluh unta, tidak lebih.”
“Maka, kita harus melakukannya dua puluh lima kali,” kata Lady
Gursoon. “Aku rasa kau harus istirahat sekarang.”
Ia memberi isyarat kepada seseorang di belakangnya, dan seorang
perempuan datang ke sisinya: seorang yang tinggi dan mengerikan yang
menyerangnya pertama kali.
Issi telah berdiri pada saat itu. “Aku telah memberimu janjiku,”
katanya dengan martabat yang bisa ia kumpulkan. “Tapi aku tak akan
pergi ke mana-mana bersamanya!”
Perempuan tinggi itu hanya memberinya pendangan tak peduli,
seolah seekor anjing kecil menggonggongnya. Gursoon kemudian
berdiri, menghindari diskusi lebih lanjut.
“Awasi api itu untukku, Zulaika,” katanya. “Teman kita harus me-
nyegarkan kekuatannya sekitar satu jam, jika ia harus membantu kita
besok. Aku akan mencarikan tempat tidurnya.”
Issi gembira mengikutinya—ia tiba-tiba diliputi kebutuhan untuk
tidur—tapi ketika Gursoon menunjukkan kepadanya sebuah tenda
www.facebook.com/indonesiapustaka

kosong ia berbalik. Pertanyaan itu tak membiarkan ia istirahat.


“Saudarimu . . . di sana. Ia akan membunuh kami semua, kan?
Semua laki-laki.”
Gursoon melihat padanya sejenak, kemudian cenderung meng-
angguk halus. “Ia pernah punya pikiran itu.”
“Dan kau bilang tidak?”

137
Mike, Linda, dan Louise Carey

Ia mengangguk lagi.
“Tapi jika aku tidak setuju membantu kalian, apakah kau akan
membunuh kami?”Kali ini Gursoon tidak membuat gerakan apa pun,
dan Issi tiba-tiba marah. “Apa yang membuatmu yakin aku setuju?”
“Seandainya kau menolak, aku akan membiarkan kau pergi,” kata
Gursoon. “Kau tidak punya senjata, dan kau tidak ingin membahayakan
kami. Tapi kami membutuhkan unta-unta itu. Dan aku rasa kami punya
peluang selamat lebih baik dengan bantuanmu. Ingatkah kau dengan
istal-istal, di Bessa? Kadang-kadang kau bekerja di sana dengan kepala
pengurusan kuda.”
Issi bingung. “Ya, Fouad,” ia setuju. “Seorang pria baik. Ada apa
dengannya?”
“Oh, tidak apa-apa. Hanya saja ia pernah mengatakan hal serupa
tentang dirimu.”
Perkemahan itu bangun dalam keadaan bersiap-siap dan memulai
pagi berikutnya. Imtisar, selir senior, pada awalnya berpikir ini pasti
karena ineisiensi para lelaki yang menjaga mereka ketika Zeinab datang
membangunkannya ketika fajar, menarik dirinya melewati tenda-tenda
di mana anak-anak masih tidur.
Dari salah satu mereka ia bersumpah bisa mendengar dengkuran-
dengkuran yang hanya berasal dari laki-laki yang sudah dewasa!
“Tiga hari kita pergi,” ia bergumam pada dirinya sendiri, “dan sudah
tidak ada aturan-aturan.”
Zeinab membawanya ke pinggiran perkemahan, di mana sebagian
besar perempuan yang lebih tua sudah berkumpul. Gursoonlah yang
menggelar pertemuan itu. Imtisar melihatnya dengan kebencian.
Tentu saja ia yang tertua dari mereka sekarang—beberapa tahun lebih
tua daripada Imtisar—dan juga berhak mendapatkan penghormatan,
tapi tidak bisa dibantah bahwa perempuan kecil pendek dan gemuk
itu memiliki sosok yang tidak mengesankan. Namun ia masih bisa
bertahan dalam menjalankan banyak hal. Dan ia memanggil sejumlah
www.facebook.com/indonesiapustaka

perempuan dengan kombinasi yang aneh, kini Imtisar memperhatikan


mereka: ada sepasang pelayan, dan gadis baru berwajah berani itu,
Zulaika, dengan beberapa orang lain yang tak punya tingkat kesenioran.
Namun pikiran-pikiran itu hilang ketika Gursoon mulai berbicara.
Imtisar terkejut luar biasa mendengar kejadian-kejadian malam itu.
Ia masih sangat ketakutan ketika mereka kembali pada masa depan

138
Kota Sutra dan Baja

mereka sekarang. Tentu saja, mereka tidak bisa pergi ke Perdondaris.


Imtisar tidak membayangkan Kephiz Bin Ezvahoun yang kuat akan
mengambil empat ratus perempuan dan anak-anak yang pernah
menjadi milik orang lain, jika tak ada guna baginya selain masalah. Di
samping itu, jaraknya terlalu jauh, tanpa perlindungan apa pun kecuali
beberapa penuntun unta. Namun, ada kota-kota lain yang lebih dekat di
mana mereka mungkin punya keberuntungan yang lebih besar. Sultan
Mahmoud dari Agorath, contohnya, tegas—dan kerap kali dengan
sentuhan-sentuhan—dalam pujian-pujiannya kepada harem dalam
kunjungan-kunjunganya ke Bessa. Mahmoud memang seorang yang
vulgar dan berkelakuan buruk. Tapi jika pilihannya adalah tinggal di
perbukitan, memakan kambing panggang dan tidur di batu-batu . . .
“Itu absurd,” kata Imtisar. “Kita seharusnya pergi ke Agorath, dan
meminta perlindungan Mahmoud. Atau ke Ishar, di mana aku memiliki
seorang sepupu. Banyak dari kami memiliki keluarga di kota-kota yang
lebih dekat.”
“Zeinab,” kata Gursoon. “Berapa lama perjalanan dari sini ke
Agorath?”
“Enam hari paling cepat, Bibi,” gadis itu menjawab dengan penuh
hormat. “Dengan kecepatan yang kita punya, aku bisa katakan sekitar
delapan atau sembilan hari.”
“Dan kita punya masalah,” kata Gursoon. “Agorath adalah kota
terdekat, jadi ke sanalah pasti Hakkim Mehdad pertama mencari kita.
Dan tanpa kesalahan, ia akan melihat. Pada saat ini ia yakin anak
buahnya sedang mengubur kita di bukit pasir. Dalam sehari, mungkin
dua hari paling lama, ia akan berharap mereka kembali, dan kemudian
ia akan mengirim lebih banyak orang untuk mencari mereka. Ketika
jasad-jasad mereka ditemukan, aku bayangkan ia akan mencari kita
dengan sangat bernafsu. Ia memiliki kuda-kuda dalam pasukannya, dan
para pemanah yang berkemampuan tinggi. Seberapa sulit menurutmu
kita akan ditemukan, empat ratus dari kita dalam perjalanan ke sebuah
www.facebook.com/indonesiapustaka

kota?”
“Tapi pegunungan!”Imtisar protes. “Tak ada apa-apa di sana! Be-
batuan, dan ular-ular, dan para penjahat! Tak ada apa-apa!”
“Tak ada jalan-jalan yang mengarah ke sana, kan,” kata Gursoon
dengan puas. “Dan kebutuhan kita paling mendesak adalah menghilang.
Di mana yang lebih baik?”

139
Mike, Linda, dan Louise Carey

Mereka punya cerita untuk anak-anak dan para pengurus unta. Pada
malam itu, seorang kurir datang dikirim Hakkim Mehdad yang me-
manggil sang utusan dan seluruh pasukannya kembali ke Bessa.
Mereka segera pergi, meninggalkan beban mereka pada takdirnya di
tengah gurun. Satu atau dua pengemudi ingin mengikuti para penjaga,
melawan perintah Issi, tapi dihadapkan dengan tangisan pilu beberapa
gadis belia. Mereka sepakat membantu orang-orang malang ini untuk
menemukan tempat aman mereka lebih dulu. Fernoush dan Halima
mengusap mata mereka dan berterima kasih kepada anak-anak muda
itu dengan anggun, sementara Zeinab, yang sedang membantu memberi
minum unta-unta itu, menyaksikannya dengan ketakjuban. Meskipun
dengan jaminan Fernoush, ia tidak mengira pemuda-pemuda itu
dengan begitu mudah berubah.
Sepakat mengambil peran sebagai penyelamat, para laki-laki ter-
sebut cukup siap untuk segera pergi, meskipun sedikit bingung dengan
keperluan para perempuan itu. Mereka lebih dari bingung ketika tahu
tujuan yang dimaksud para perempuan tersebut.
“Pegunungan! Bagaimana kau bisa sampai di sana?” seorang laki-
laki kurus berkumis bertanya pada Zeinab. Mereka telah selesai mem-
beri minum dan kini sedang mengencangkan sadel-sadel. “Mengapa
tidak ke salah satu kota?”
Para perempuan telah sepakat di awal seberapa banyak kebenaran
yang boleh diungkap. “Itu karena mereka meninggalkan kami begitu
tiba-tiba, tanpa instruksi apa pun,” katanya kepada pria tersebut, dengan
mata yang dilembutkan.
“Kami berpikir Hakkim pasti menginginkan kami mati di gurun.
Jadi para bibi memutuskan yang terbaik bagi kami adalah menghilang,
setidaknya untuk sementara.”
“Tapi tak ada apa-apa di pegungunan!”laki-laki itu secara tak ter-
duga tampak peduli. “Bagaimana kalian hidup?”
“Ada kambing-kambing dan binatang lain,” kata Zeinab. Ia men-
www.facebook.com/indonesiapustaka

dongak ke arahnya. “Dan kau dan saudara-saudaramu pasti para


pemburu yang hebat.”
“Itu betul”katanya, giginya berkilau di antara kumisnya. Tiba-tiba
bersemangat, ia mulai bercerita kepadanya tentang kijang besar yang
ia bunuh bulan lalu. Fernoush benar, ia berpikir. Mereka bisa diubah.
Mungkin pada akhirnya kami bisa berhasil.

140
Kota Sutra dan Baja

Mereka berkemas dan bersiap pergi sebelum matahari benar-benar


di atas bukit pasir, anak-anak berjalan terhuyung-huyung pada menit
terakhir ke atas punggung-punggung unta. Tak seorang pun yang
berjalan hari ini, kecuali para penuntun unta. Anak-anak yang lebih
kecil berdua atau bertiga, dengan ibu atau kakak mereka. Seandainya
para penuntun unta memperhatikan bahwa tiba-tiba ada lebih banyak
hewan yang pergi, tak seorang pun menyebutkannya dalam kesibukan
pemberangkatan. Setiap kantong air diisi, dan tiga puluh perempuan
masing-masing menyimpan satu cadangan di antara bawaan mereka.
Tidak Zeinab ataupun Issi tahu tentang oasis yang lebih dekat daripada
perjalanan dua hari ke utara. Mereka harus terburu-buru karena lebih
dari satu alasan.
Mereka meninggalkan jalan itu ke arah selatan meninggalkan
ribuan jejak kaki di tanah yang lembut dekat sumur air agar diikuti
prajurit Hakkim. Ketika tanah mengeras dan pasir yang bergeser mulai
mengaburkan jejak, mereka meninggalkan jalan dan berbelok ke barat
laut. Zulaika tetap berada di belakang bersama enam perempuan lain
untuk menutupi jejak-jejak, menyapu tanah dengan bundelan karung
yang diikat pada galah-galah. Zeinab termasuk dari kelompok ini. Ia
tidak tidur sepanjang malam, tapi sekarang ia merasa seolah tidak
pernah bisa tenang lagi. Ia bekerja bersisi-sisian dengan Umayma;
keduanya tidak bicara, tapi kini dan kemudian saling bertukar lirikan
keterlibatan. Para perempuan lain yang mengambil bagian dalam
pekerjaan suram malam itu sedang berkendara dengan anak-anak
mereka, memeluk mereka erat-erat dan mengingatkan diri pada
setiap langkah yang dilakukan pembunuhan itu. Namun, putrinya
Soraya sudah cukup umur untuk menunggang unta bersama salah
satu temannya, dan putra Umayma dipilih untuk menemani Pangeran
Jamal.
Ketika tugas itu selesai dan memuaskan Zulaika, mereka menung-
gang unta-unta mereka dan berpacu melewati iring-iringan. Zeinab
www.facebook.com/indonesiapustaka

akan dibutuhkan kemudian dalam perjalanan ini sebagai pemandu,


tapi untuk saat ini ia senang berada di belakang, di luar pandangan.
Ia melihat pada Umayma, yang berkendara di sampingnya, dan
melihat bahwa ia sedang tersenyum, seolah pada kenangan yang me-
nyenangkan. Pemandangan itu membuat Zainab gelisah. “Kau baik-
baik saja, Umi?”ia bertanya dengan hati-hati.

141
Mike, Linda, dan Louise Carey

Umayma tampak memikirkan pertanyaan ini.


“Ya. Ya, aku baik-baik saja,” katanya. “Putraku masih hidup, dan
begitu juga aku.” Sejenak mereka berkendara dalam diam. Kemudian
Umayma tiba-tiba berkata, “Apakah aku pernah cerita padamu, ayahku
menjualku?”
“Tidak,” kata Zeinab. Bahkan, ia mengira ia telah mendengar ini,
tapi itu pengalaman beberapa selir. Dan Umayma tampaknya ingin
berbicara.
“Ia menjualku kepada seorang pedagang yang berbisnis dengannya.
Aku bahagia meninggalkan rumah itu pada awalnya, meskipun bahkan
ia seorang pria yang sangat buruk. Tapi ia tidak menginginkan aku
untuk menjadi seorang istri—ia membawaku dalam kereta barangnya,
sebagai hiburan di perjalanan-perjalanan panjang. Ia mengatakan
kepada orang-orang aku putrinya. Ketika ia datang ke Bessa, sultan
memintaku untuk dirinya. Aku pikir ia mendapat beberapa perjanjian
dagang sebagai gantinya. Ia mengatakan menyesal berpisah denganku.
Aku lega. Aku benci padang pasir, atau itulah yang kupikirkan dulu.
Tentu saja, yang benar-benar kubenci adalah pedagang itu. Padang pasir
kini begitu berbeda, melihatnya dari sudut pandang seorang perempuan
bebas.”
Zeinab tidak memandang situasi mereka dalam segi positif se-
belumnya. Kebebasan?
“Kau mungkin benar,” ia menyesuaikan diri. “Namun sebelum
kita hidup bebas, jangan lupa bahwa kita harus menemukan sumur
berikutnya. . .”
“Kita akan menemukannya,” kata Umayma dengan keyakinan pasti.
“Dan kemudian kita harus melewati pegunungan. Kita bahkan tidak
tahu bagaimana kita menemukan makanan dan tempat perlindungan.
Ini tidak akan mudah.”
“Kita punya Zulaika,” kata Umayma. “Ia bisa berburu, dan kita
akan belajar darinya. Tak satu pun bisa bertahan di jalannya.”
www.facebook.com/indonesiapustaka

Keyakinannya mengesankannya sekaligus mengecilkan hati


Zeinab. Ia juga telah melihat Zulaika beraksi: sebuah pemandangan
yang memancing rasa kagum, dan sesuatu yang Zaenab ingin lupakan
jika mampu. Tapi wajah Umayma berseri-seri dengan energi perubahan
itu. “Ia akan mengajarkan kita bagaimana hidup di sini,” katanya.

142
Kota Sutra dan Baja

Keberuntungan mereka bertahan, setidaknya untuk sementara.


Dataran itu tidak seluruhnya rata; sebelum matahari mencapai ke-
tinggiannya Issi mengenali sebuah batu tinggi tertentu yang memiliki
lekuk di bagian dasarnya yang cukup lebar untuk menaungi anak-anak
melalui panas terburuk hari itu. Sisa dari mereka bisa mendirikan
tenda yang paling besar untuk berteduh. Mereka punya cukup waktu,
Issi menghitung, dan Gursoon mengizinkan untuk beristirahat selama
dua kali putaran jam pasir. Zeinab memanggil putrinya, Soraya, ke
dalam tenda dengannya dan memeluknya dengan erat, hingga putrinya
terkejut. Berbaring di samping putrinya, ia segera tertidur begitu dalam
sehingga ia hanya terbangun ketika penjahit baju Farhat datang untuk
membangunkan orang-orang yang tertinggal.
Pelayan tua itu membawakan secangkir air, yang ia hirup dengan
rasa terima kasih. Mulutnya kering penuh rasa sakit, tapi ia tahu, tak
ada yang lebih baik, betapa terbatasnya air harus dijatah sekarang. Ia
memberi separuh cangkir pada Soraya, dan melihat betapa hati-hatinya
putrinya minum, tidak meneguk, menghabiskannya. Mungkin kami bisa
belajar hidup di perbukitan, ia berpikir. Jika aku bisa membawa kami ke
air berikutnya. Ia berusaha mengingat lagi setiap detail dua perjalanan
itu, hampir delapan belas tahun lalu, dan kerongkongannya mengeras.

Farhat muncul dengan cangkir itu, dan mengangguk pada Gursoon.


“Ia telah bangun,” katanya. “Putrinya bersamanya.”
‘Bagus,’ kata Gursoon. “Itu akan membantu menenangkannya. Ia
perempuan baik, tapi tadi malam begitu sulit baginya. Dan kita perlu dia
untuk membawa kita ke air itu. Issi mengatakan ia tahu tempat itu, tapi
ia seorang pria tua. Aku tidak benar-benar percaya pada ingatannya.”
Farhat tidak mengatakan bahwa penuntun unta itu kira-kira
seumur dengan Gursoon. Kedua perempuan itu telah berteman ber-
tahun-tahun; persahabatan inilah yang terutama membawa Farhat ikut
bersama seraglio ke padang pasir, meskipun ia bisa saja tinggal bersama
www.facebook.com/indonesiapustaka

keluarga suaminya yang telah meninggal dunia di Bessa. “Siapa lagi


yang perlu dibangunkan?”alih-alih ia berkata.
“Hanya Adiya dan Imtisar, aku rasa. Anak-anak semua telah siap.”
Gursoon mengubah air mukanya. “Aku yang akan bangunkan Imtisar,
boleh? Ia pemarah ketika baru bangun.”

143
Mike, Linda, dan Louise Carey

Farhat juga meringis. “Maksudmu ketika ia sadar,” katanya, dan


kedua perempuan itu tertawa.

Para penuntun unta mengganti waktu yang hilang dengan menuntun


unta-unta itu untuk berlari lamban kapan pun mereka yakin akan
landasan mereka, memelan hanya ketika padang pasir terbentang
kosong di sekitar mereka dan Issi mencari-cari penanda-penanda baru.
Sebelum malam turun mereka menemukan lingkaran batu-batu yang
mereka cari, yang dibuat musair terdahulu untuk menandai rute. Oasis
akan berjarak satu hari perjalanan lagi ke arah utara.
“Meskipun aku ingat, butuh waktu lebih lama,” kata Zeinab. “Kita
harus berjalan sepanjang malam.”
“Aku tidak akan mengambil risiko itu,” kata Issi. “Kita harus ber-
kemah di sini; kita tidak bisa mengambil risiko tersesat sekarang.”
Keberuntungan mereka berubah hari berikutnya. Menemukan
batu-batu menumbuhkan semangat siapa pun, tapi tampaknya tidak
ada lagi penanda yang ditinggalkan. Mereka berjalan dengan susah
payah menyeberangi pasir yang kosong dengan hanya matahari dan
garis jejak kaki mereka yang menghilang di belakang untuk memberi
arah mereka. Panas semakin membara; beberapa kantong air telah
kosong, dan belum ada perbukitan yang tampak, tapi tak seorang pun
berani berpikir untuk berhenti beristirahat.
Sesaat setelah sore, perdebatan pecah di antara Zeinab dan Issi
ketika mereka melihat sesuatu di pasir agak jauh ke timur, sebuah
corengan gelap rendah di tanah.
“Itu pasti bukan sebuah penanda,” Issi bersikeras. “Itu akan mem-
bawa kita ke luar rute. Aku katakan kepadamu, jalan kita lurus ke utara.”
“Tapi berapa waktu lalu tak satu pun dari kita berada di sini?”“Apa
pun itu, tampaknya tidak alamiah. Seseorang meninggalkannya di sana,
dan itu bisa membantu memandu kita.”
“Jika itu bukan sumur, aku tak peduli apa itu,” Issi menggeram. Tapi
www.facebook.com/indonesiapustaka

tak ada gunanya bertengkar. Mereka tidak pernah melewati penanda apa
pun selama satu jam atau lebih; bahkan Issi tidak yakin akan jalannya
selain ia ingin pamer. Di samping itu, anak-anak mulai menangis karena
kehausan dan kelelahan. Mereka sepakat mendirikan tenda, selama tak
lebih dari satu jam, sementara itu sekelompok kecil pergi menyelidiki.
Itu bukan penanda. Zeinab menunggang untanya di depan ke-

144
Kota Sutra dan Baja

lompok itu, memandang tajam menembus kabut panas dan hujan pasir
kering yang diaduk-aduk angin. Mereka hampir mendekati benda itu
ketika ia berhenti, memandangi. Ia tidak berkata apa-apa ketika yang
lain mengejarnya.
“Jadi?”Gursoon bertanya, terengah-engah di belakang. “Apa itu—
Oh.”
Di waktu-waktu lalu beberapa sultan yang lebih tradisional me-
lakukan ini, sebagai hukuman untuk pengkhianatan, mungkin, atau
untuk beberapa penghinaan yang tidak termaakan. Kini, Gursoon
akan mengatakan hal itu terlalu barbar untuk siapa pun selain para
penjahat yang paling keji.
“Tapi ia hanya seorang anak laki-laki!”seseorang berkomat-kamit.
“Lihat dia!”
Seorang pria muda—sangat muda, tampaknya, dari badannya yang
ramping—terbaring di atas pasir, tangan dan kakinya yang terentang
diikat dengan tali-tali yang dihubungkan ke empat pancang kayu yang
kuat. Bajunya koyak-koyak; wajahnya yang telanjang telah terbakar
matahari hingga menjadi semacam topeng hitam dan merah. Matanya
tertutup, tapi ia menggerakkan kepalanya sedikit ketika mereka
mendekat, dan mengeluarkan suara lemah yang lebih mirip sebuah
erangan.
“Apa yang kita lakukan?”bisik Fernoush.
“Lakukan?”kata Gursoon. “Lepaskan dia! Dia masih hidup!”
“Tidak.” Zulaika memegang lengan Gursoon. “Pikir dulu, Bibi. Kita
tidak tahu mata air berikutnya dan perjalanan ini lebih daripada tidak
pasti. Kita tidak bisa menunda. Dan anak laki-laki ini juga akan mati.”
“Maka ia mati dalam kenyamanan yang kita berikan kepadanya,”
kata Gursoon. Nada suaranya tidak mengizinkan argumentasi. Zulaika
memandangnya sesaat, kemudian mengangguk sekali dan berjalan ke
arah sosok yang tengkurap.
“Ini bukan seorang anak laki-laki,” katanya. “Ini seorang perem-
www.facebook.com/indonesiapustaka

puan.”
Zeinab dan Gursoon memotong tali-tali yang menahan kaki dan
tangannya. Perempuan muda itu mengeluarkan satu jeritan serak ketika
tangan-tangannya bebas, kemudian terdiam. Kedua matanya terbuka,
hitam di atas hitam dalam wajahnya yang terbakar, tapi tampaknya ia
tidak lagi punya suara.

145
Mike, Linda, dan Louise Carey

Zulaika mengangkat bahu perempuan itu dan Fernoush dan Zeinab


masing-masing memegang kakinya. Mereka membawanya selembut
yang mereka bisa, tapi wajahnya masih terbelit kesakitan dari waktu ke
waktu, dan napasnya menyentak menjadi megap-megap akibat tanah
yang bergelombang.
“Apakah itu sebuah penanda?”tanya Issi segera setelah mereka tiba
di perkemahan. Wajahnya redup ketika ia melihat apa yang mereka
bawa. Tapi ia tidak memberikan kritik apa pun, dan menyiapkan
satu tandu untuk perempuan yang sakit itu ketika mereka berangkat.
Mereka membaringkan dan memberinya sedikit air yang berharga,
mengucurkan setetes demi setetes ke mulutnya.
“Kita seharusnya menunggu satu jam lagi,” kata Gursoon, melihat
pada wajah perempuan itu yang rusak. “Napasnya sudah sedikit lega.
Aku rasa ia mungkin bisa tetap hidup, jika ia bisa beristirahat di ke-
teduhan sebentar.”
Baik Issi dan Zulaika mulai akan memprotes. Tapi perempuan
yang sakit itu sendiri yang menjawab. Ia menggeliat di tempat tidur
daruratnya dan menggumamkan sesuatu.
“Apa itu, Nak?”Gursoon membungkuk lebih dekat. Suara itu lebih
lemah dari bisikan.
“Tidak . . . Kalian pergi sekarang.”
“Apa itu?”kata Gursoon, kaget. Pandangan hitam perempuan muda
itu menancap padanya.
“Kalian berangkat sekarang,” ia menggaok, suaranya sebuah bisikan
parau seperti bisikan debu terhadap batu-batu. “Segera. Dan ketika
pegunungan itu mulai terlihat kalian berbelok ke arah barat, seperti
yang diingat Issi. Teruslah berjalan. Kalian akan menemukan air itu
satu jam setelah matahari terbenam.”
Gursoon tercengang dan menatapnya. Sejenak kemudian ia ber-
kata, “Bagaimana kau bisa tahu itu?”
Mulut perempuan muda itu berkedut dalam sebuah ringisan sekilas.
www.facebook.com/indonesiapustaka

“Aku tahu. Percayalah kepadaku.”


“Siapa kau, Nona?”Gursoon bertanya.
Matanya tertutup seolah ia membuat dirinya lelah, tapi perempuan
tua itu menangkap satu kata dalam jawabannya.
“Rem.”

146
Kota Sutra dan Baja

Takdir Mereka Yang Mencari


Kebenaran

Dalam banyak hal, kehidupanku jauh lebih lama dari rentang ke-
hidupan nyata. Penglihatan-penglihatan yang mengepungku baik dari
sebelum maupun setelah masaku, dan apa yang aku lihat tidak selalu
kehidupanku sendiri. Inilah yang membuatku sering gelisah pada
masa lalu. Kerap aku tidak bisa mengatakan nasib siapa yang sedang
aku lihat, atau bahkan apakah itu nasib di masa lalu atau yang akan
datang. Hanya dengan memfokuskan seluruh perhatianku pada satu
situasi atau satu orang aku bisa mendapatkan apa yang mungkin disebut
ramalan—dan itu sebagian, bersyarat dan biasanya tidak diterima.
Untuk alasan-alasan yang mungkin terlihat jelas, aku cenderung tidak
berusaha mencari mereka.
Jadi, meskipun aku sadar ini telah membuatku berbeda, pandangan-
pandanganku tidak lebih baik daripada sebuah panduan kehidupan
www.facebook.com/indonesiapustaka

sehari-hari daripada pengalaman harian setiap orang, dan paling


masuk akal dengan melihat ke belakang. Meskipun ada janji yang
dibuat untukku, aku tidak bisa melihat apa pun, atau tidak dengan
cara yang berguna bagiku. Dua kejadian itu yang membentuk sebagian
besar kehidupanku, keduanya tak terduga—atau hampir tak terduga

147
Mike, Linda, dan Louise Carey

seperti tak ada perbedaan—dan keduanya di luar kuasaku untuk


mengendalikannya. Ketika aku mengingat salah satu dari mereka, seperti
yang sering aku lakukan, ada dalam sebuah karunia abadi. Mereka
tidak pernah meninggalkanku, tidak pernah berkurang ketajamannya
di dalam pikiranku.

Yang pertama dimulai adalah sebagai sebuah cerita. Beberapa bagian


darinya hanya kuingat sebagai sebuah dongeng, yang diceritakan
kepada seorang anak sebelum ia tidur. Diceritakan dengan air mata,
karena cocok dengan kisah rasa bersalah dan kepedihan. Meski begitu,
cerita itulah yang paling sering aku minta, dan aku tidak mengizinkan
satu kata pun diganti. Ketika aku mengulanginya sekarang, suara
ibuku ada di kepalaku, berganti-ganti sengit dengan sedih dan gemetar
dengan heran.
Ada seorang perempuan bernama Rahdi, yang menjadi tak percaya
kepada suaminya. Ia menikahinya karena cinta, membangkang orang
tuanya demi mengikutinya. Tapi begitu ia tidak punya rumah selain
milik suaminya, ia merasakan hati lelaki itu berapi-api itu menjadi
dingin, dan pikiran-pikiran suaminya menjauhinya. Ia menjadi seperti
suami siapa saja, melirik perempuan lain di pasar dan bersungut-
sungut ketika makan malamnya terlambat. Bahkan putri kecil mereka
gagal membangkitkan minatnya, begitu ia mengetahui bahwa anak
itu bukan seorang laki-laki. Dan ketika waktu berlalu, Rahdi menjadi
yakin suaminya memiliki seorang kekasih.
Ia tidak bisa membuktikan apa pun. Banyak suami pulang ke
rumah terlambat; banyak yang meninggalkan rumah dalam pakaian-
pakaian terbaik mereka dan ke luar rumah untuk minum-minum
bersama teman-teman mereka. Sendiri bersama anaknya yang sedang
tidur, Rahdi memandangi dinding-dinding dan mengingat kata-kata
pahit ayahnya ketika ia meninggalkan rumah, empat tahun sebelumnya:
Kau pikir kau tahu apa yang sedang kau lakukan, Nona! Tapi tak seorang
www.facebook.com/indonesiapustaka

pun tahu apa yang akan datang. Tak seorang pun! Ia merenungkan
hal ini, dan ketika suaminya pulang ke rumah tanpa kata-kata dan
merengut, dan memunggunginya pada saat malam, ia memutuskan
bahwa ia tahu, setidaknya tahu satu hal ini.
Pada hari itu, putrinya berusia empat tahun, Rahdi menunggu
suaminya pergi dari rumah. Ia membawa kantong kulit air yang besar

148
Kota Sutra dan Baja

di punggungnya dan menggendong anaknya, dan pergi bersamanya


ke luar kota, ke tengah gurun. Bertahun-tahun sebelumnya, ketika ia
sendiri masih seorang anak-anak, neneknya menceritakan kepadanya
tentang sebuah gua di dalam bukit-bukit gurun sekitar dua hari berjalan
ke timur. Dalam gua itu, kata neneknya, tinggal para jin, yang bisa
menganugerahkan hadiah kepada mereka yang cukup nekat mencari
mereka. Seorang yang disukai mereka akan dihadiahi pengetahuan
tentang hal-hal gaib, atau yang akan datang. Tentu saja, perempuan tua
itu menambahkan, mereka akan mengutuk kepongahanmu, bahkan
membunuhmu. Siapa yang tahu cara-cara para jin?
Kaki-kaki gadis kecil itu pendek, dan perjalanan tersebut memakan
waktu tiga hari penuh. Anak itu tidak pernah mengeluh: ia belum lagi
belajar berbicara di usia empat tahun, dan ia tidak mengatakan apa
pun sekarang. Namun Rahdi meniupkan doa sunyi rasa syukur ketika
perbukitan tampak di atas mereka di bawah teriknya hari ketiga, dan ia
melihat batu besar itu dengan batu-batu berdirinya seperti yang telah
digambarkan neneknya, dan mendengar suara air. Ia memberi makan
dirinya dan putrinya dan mengisi kantong air mereka di mata air kecil
itu. Kemudian ia mengikuti arahan-arahan perempuan tua itu ke gua
para jin.
Para jin ada di sana. Mereka keluar di sebuah mulut yang gelap
untuk bertemu dengannya: tiga dari mereka, atau empat, atau mungkin
lebih: bentuk-bentuk mereka berkelip-kelip sehingga sulit digambarkan.
Satu dari mereka seperti seorang perempuan tinggi dengan lampu di
belakang cadarnya, bukan sebuah wajah, yang lain seperti seorang pria
telanjang dengan kepala seekor banteng. Yang lain memiliki paruh,
dengan bulu-bulu putih di seluruh kepalanya, dan yang lain—atau
mungkin itu salah satu dari ketiganya—memiliki mata-mata yang terlalu
besar dimiliki sebuah wajah manusia atau hewan, sedatar dan sebulat
batu-batu memasak. Padangan mereka membuat Rahdi ketakutan; ia
mendorong anaknya di belakangnya dan menundukkan wajahnya. Tapi
www.facebook.com/indonesiapustaka

tak ada api yang jatuh dari langit untuk membakarnya; tak ada suara
sama sekali, dan setelah sesaat, ia mengangkat wajahnya untuk melihat
para makhluk yang masih berkelap-kelip di depannya, sementara
putrinya memandangi mereka dengan mata-mata yang gelap dan tak
berkedip.
Mengumpulkan keberaniannya, ia berbicara kepada mereka, suara-

149
Mike, Linda, dan Louise Carey

nya terdengar tipis dan tergagap-gagap di telinganya sendiri.


“Semoga aku mendapatkan kasih karunia di mata kalian, Para yang
mulia. Aku datang ke sini untuk memohon ilmu pengetahuan.”
Tak ada yang berubah di wajah-wajah berkilau itu, tapi salah satu
dari para jin kini berdiri di depan yang lain dan berkata kepada Rahdi.
Bentuknya berubah begitu ia berbicara, sehingga sang pembicara kini
seorang perempuan, kini pria banteng, kini makhluk burung, kini
bentuk-bentuk lain, bahkan tak mungkin untuk digambarkan, ketika
sosok-sosok di belakangnya beralih rupa makhluk lain.
“Ilmu pengetahuan yang kau cari tidak akan berguna bagi.” Itu
suara yang banyak, kasar dan manis bergelegar bersama.
Rahdi melihat wajah makhluk itu kemudian, menatap mata-mata
yang membatu. “Namun, aku memintanya,” katanya, dan mendengar
suaranya menjadi lebih kuat. “Aku tidak tahan hidup seperti yang aku
jalani sekarang.”
Sebuah suara seperti jeritan burung-burung datang dari para jin:
Rahdi mengira itu tawa. Juru bicara itu membuka paruhnya yang me-
lengkung besar.
“Tahu?”ia mengulang. “Tahu apa?”
“Segalanya,” kata Rahdi.
Juru bicara dari para jin menolehkan kepalanya—kini bertanduk
dan berbulu hitam—ke tempat anak itu berdiri menyaksikan dengan
diam. “Siapa namanya?”katanya.
Rahdi terkejut. Ia mengulurkan tangannya menarik anak itu lebih
dekat kepadanya; tapi dia tidak menolak seorang jin. “Rem,” ia men-
jawab.
Juru bicara itu mengangguk sekali, dan sosok-sosok bayangan di
belakangnya mengangguk. “Bagus,” katanya.
Dan mata hitam anak itu bertambah lebar. Untuk sesaat, wajahnya
menggeliat seperti wajah-wajah makhluk di depannya. Kemudian ke-
palanya kembali seperti semula dan melolong.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Sejak saat itu, tak ada lagi sebuah cerita: inilah di mana ingatan itu
dimulai.
Bagaimana aku bisa menggambarkannya? Aku bisa mengatakan
semua kata di dunia menyerbu masuk ke diriku sekaligus. Itu yang
terjadi, tapi lebih dari itu. Ada suara-suara juga, hiruk-pikuk yang

150
Kota Sutra dan Baja

gila dari mereka, dan gambar-gambar. Aku melihat sepasukan tentara


yang besar berbaris di gurun, dan pasir di kaki-kaki mereka merah
dengan darah. Aku melihat istana sultan, para pelayan dengan cangkir
dan nampan-nampan bertumpuk, selir paling baru yang menangis di
sebuah sudut. Dan aku melihat rumah-rumah yang lebih tinggi dari
rumah mana pun yang mungkin, istana-istana seperti tablet-tablet batu
yang besar. Sebuah ruangan yang dinding-dindingnya diisi dengan
buku-buku . . . Seorang perempuan pengemis berteriak dan melambai-
lambaikan tongkat dengan marah . . . Seorang pria berjanggut yang
disebut Hakkim Mehdad, merencanakan perang. Anak-anak yang
menatap dengan terpesona pada sebuah kotak, yang melukis wajah
mereka dengan cahaya berkelap-kelip. Ayahku, yang memeluk seorang
perempuan asing . . . Pasar dekat rumah kami, dengan kios-kiosnya
terbakar dan para pedagang berlari ketakutan. Semua ini dalam sekejap,
dan pada saat yang bersamaan kata-kata yang diucapkan dengan cepat,
mengatakan, menjelaskan. Semua kata. Aku tidak tahu sebagian besar
dari mereka bahkan pernah ada.
Ada begitu banyak, dan aku tidak bisa menyingkirkannya. Pada
mulanya aku melolong karena aku tidak mengerti. Kemudian aku
melolong karena aku mengerti.
Aku hampir tak merasakan lengan ibuku memelukku. Ia berlutut
dengan wajahnya menekan wajahku, yang mengguncang-guncang
dengan tangisan-tangisan yang tak bisa aku dengar. Setelah beberapa
saat, ia menyentuh pundakku dan menatap ngeri pada mataku yang
menangis. Hitam. Air mata hitam. Wajahnya sendiri tercoreng air mata
itu.
“Apa yang telah kau lakukan?” ia menjerit kepada para jin.
“Kami telah mengabulkan harapan,” kata sang juru bicara. “Namun
kami tidak memberikan hadiah itu kepadamu.”
Rahdi melontarkan kutukan pada sosok-sosok bayangan itu,
melupakan semua ketakjuban dan ketakutannya. Sang juru bicara
www.facebook.com/indonesiapustaka

tampaknya mengabaikan semua itu.


“Ia akan melihat,” katanya, dan kini bentuk dan suaranya adalah
bentuk dan suara perempuan bercadar itu, tenang dan pelan. “Ia akan
mengerti, dan ingat, dan merekam.”
Ia menoleh kepadaku, cahaya putih itu berkilau sekilas melalui
cadar dan masuk ke mataku. Adakah nada kasihan dalam suaranya,

151
Mike, Linda, dan Louise Carey

untuk sesaat saja?


“Semua hal akan membuka diri kepadanya,” katanya. ‘Kecuali
orang-orang yang paling menyentuhnya.”
Dan ia pun menghilang; mereka semua menghilang. Ibuku dan aku
menghadap sebuah dinding batu yang kosong. Kami saling berpelukan
dalam diam ketika gemetarnya hilang dan air mata hitam mengering
di wajah kami.
Dan kemudian? Aku telah ditandai, tak ada takdir besar yang
mengambil alih; dunia berjalan seperti sebelumnya. Hanya ibuku dan
aku yang berubah. Ia berbicara kepadaku ketika kami berjalan pulang,
dan aku menjawab. Beberapa malam kemudian kami meninggalkan
ayahku yang tak setia, membawa kotak uangnya dan semua pakaianku,
dan berjalan kembali ke kota tempat ibuku dilahirkan. Ibunya sendiri
sudah meninggal dunia, tapi kami tinggal sementara bersama kakek-
nya—cukup lama bagiku untuk memahami bahwa karunia baruku
ini paling bagus dilihat sebagai penderitaan, dan belajar beberapa
kemampuan bersembunyi. Ketika kakeknya meninggal dunia, kami
pergi ke Bessa, di mana ibuku mendapat pekerjaan di sebuah toko kue,
dan aku menghabiskan hari-hariku di pasar dan menemukan kata yang
tertulis. Dan dimulailah jalan yang akan membawaku ke sini, ke gurun
pasir ini.
Apakah itu semua ditakdirkan? Aku tak percaya itu. Aku melihat
akhir ini, tentu saja, tapi hanya sebagai satu dari ratusan hasil. Tak
semua bisa terjadi padaku; beberapa, aku rasa, tidak akan terjadi karena
yang lain mengambil tempat mereka. Dalam kasus apa pun, begitu aku
belajar beberapa cara untuk mengendalikan penglihatanku, aku tidak
pernah memikirkan penglihatan-penglihatan yang lebih buruk, seperti
sebagian besar orang, lebih suka ditenangkan daripada diganggu. Dan
bagaimana aku bisa mengenali sosok yang meregang dan binasa di pasir
sebagai diriku sendiri?
Di akhir pengadilanku Hakkim Mehdad memberiku sebuah
www.facebook.com/indonesiapustaka

pandangan di mana penghinaan bercampur dengan ketakutan, sebelum


ia berbalik. “Biarkan dia mati dengan perlahan,” katanya, punggungnya
berbalik. Dan mereka pun membawaku ke padang pasir. Kami berjalan
selama dua hari, jauh dari jalur-jalur yang telah ditaklukkan, Kapten
Ashraf dari sekte Pertapa dan dua anak buahnya. Aku pergi bersama
mereka tanpa berkata-kata—apa lagi yang bisa dilakukan? Tiga pria

152
Kota Sutra dan Baja

menunggang unta, dan aku berjalan di belakang Ashraf, diikat pada


untanya. Adalah aturan dari sekte itu untuk tidak mengakui segala
halangan yang hanya isik di alam, jadi kami berjalan melewati terik hari
itu, berhenti hanya sebentar ketika matahari tepat di ubun-ubun. Untuk
memberi penghargaan kepada Ashraf, ia menunggang cukup pelan
untuk menyelamatkanku agar tidak tersandung, dan mengizinkanku
minum dan tidak membiarkan anak buahnya memperkosaku ketika
kami berhenti di malam hari.
Tak satu pun dari mereka berbicara denganku, tapi aku bisa meng-
ganggu diriku sendiri ketika berjalan dengan memori-memori dan
bayangan-bayangan. Buku-buku yang aku sembunyikan aman, dan
dalam beberapa hari akan diselamatkan. Sejauh yang kuketahui, aku
rasa aku sangat yakin aku tidak akan mati saat itu. Ada begitu banyak
hal lain yang telah kulihat: penglihatanku tentang masa depan masih
kuat. Tapi itu berubah ketika para pria itu berhenti di ujung hari kedua,
di tengah-tengah dataran yang tak berujung ke arah mana pun.
“Di sini,” kata Ashraf, dan anak buahnya turun dan mengambil
pancang-pancang kayu dan palu dari punggung dua unta mereka.
Melihat pemandangan itu, ketakutan yang aku tahan membanjiriku
seperti jebolnya sebuah bendungan. Aku rasa wajahku pucat pasi, dan
aku mulai gemetar. Kedua laki-laki itu melihat dan tertawa, tapi wajah
Ashraf tak pernah berubah. Ia memerintahkan anak buahnya memalu
pancang-pancang itu ke dalam pasir. Ketika mereka melemparkanku
aku terlalu lemah dengan ketakutan untuk melawan, dan hanya
berusaha bergulung di tanah seperti seorang anak kecil. Mereka
mengikat tangan dan kakiku, aku ingat wajah tidak suka Ashraf ketika
ia menangkap kakiku untuk menariknya agar lurus. Satu dari para
lelaki itu merobek selendangku. Yang lain mengoyak bajuku dengan
pedangnya dan menelanjangiku, tapi sang kapten menghentikannya
dengan sebuah gerakan.
“Tinggalkan dia!”katanya. Ia memandang kepadaku dengan cam-
www.facebook.com/indonesiapustaka

puran penghinaan dan ketakutan yang sama yang aku lihat di wajah
Hakkim Mehdad; kemudian seperti tuannya, ia berbalik.
Aku tak bisa melihat mereka ketika mereka naik unta dan pergi.
Aku tidak tahu apakah ada di antara mereka yang melihat ke belakang.

Rasa sakit awalnya hanya dari tali-tali, yang mengikat pergelangan

153
Mike, Linda, dan Louise Carey

tangan dan kakiku. Aku menggeliat, berusaha melonggarkannya,


tapi mereka mengikatku dengan kencang. Kemudian matahari secara
langsung ke mataku dan aku harus menutupnya, melihat kemerahan
yang menggetarkan melalui kelopak mataku. Kekakuan mulai kemudian,
pertama gatal, kemudian menderita. Tak akan lebih buruk dari ini,
aku tetap berpikir, tapi menjadi lebih buruk. Pada saat-saat tertentu
aku tahu bahwa aku berteriak. Hari sudah gelap sekarang, kegelapan
menekanku, dan tak ada yang bisa didengar. Suara-suara di kepalaku
diam untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun; Aku bahkan tidak
bisa memanggil mereka. Kemudian rasa sakit itu menjalar ke tempat
lain; kaki-kaki dan bahu-bahuku mati rasa, dan pikiranku juga. Sekarang
dingin, aku mulai gemetar, dan kemudian bergetar begitu hebat sehingga
aku rasa aku akan mencabut pancang-pancang itu dari tanah, tapi
mereka tetap diam. Ketika getaran itu berhenti, untuk sementara aku
tidak merasakan apa pun sama sekali.
Aku bangun untuk melihat cahaya abu-abu, dan merasa sesuatu
mengusap wajahku. Sesaat kemudian, ada luka yang menikam di
pipiku—seekor burung hitam, matanya yang seperti manik-manik
menatap mataku. Jeritanku membuatnya takut, dan aku tahu bahwa
embun malam telah sedikit melonggarkan tali-tali: Aku bisa me-
mukulkan lenganku untuk mengusirnya. Aku melakukan ini untuk
waktu yang lama ketika ia dan teman-temannya mengelilingiku,
membuat tusukan-tusukan penjelajahan hingga aku bisa memukul
salah satunya tepat di paruh dan mereka semua pergi dengan teriakan-
teriakan keras. Aku merasakan momen kemenangan yang konyol
sebelum aku ingat tempatku berada. Dan kemudian matahari terbit,
dan udara mulai membakar.
Mungkin ingatan menjadi kurang tajam sekarang, atau setidaknya
kurang tegas. Ada siksaan rasa haus, dan kulit yang terbakar dan
melepuh di wajahku dan lengan dan kaki yang terpapar. Tali-tali me-
ngencang lagi, menarik tubuhku, dan aku menjerit hingga aku tak
www.facebook.com/indonesiapustaka

lagi punya suara. Aku tak bisa menangis. Kelopak mataku terpejam
rapat, dan aku punya ketakutan bahwa mereka akan mengisut dalam
kepanasan, berubah menjadi abu dan meninggalkan mataku terpapar
cahaya yang keji. Aku mendengar lagi teriakan-teriakan keras di atas
kepalaku, dan bukan berpikir tentang burung-burung bangkai tapi
tentang para jin dan tawa mereka yang mirip burung. Dan melihat

154
Kota Sutra dan Baja

mereka lagi, sejelas aku melihatnya pada masa kecil, kemudian mereka
memberiku karunia yang mengutukku. Untuk pertama kali aku
bertanya-tanya: untuk apa karunia itu? Aku menyelamatkan buku-
buku, apakah untuk itu? Apakah mereka mengambil dan membentuk
kehidupan seorang perempuan sehingga ia bisa melindungi kata-kata
dari orang lain, tidak membuat ceritanya sendiri? Dan aku ingat kata-
kata ibuku: siapa yang bisa memahami cara-cara para jin? Kesia-siaan
itu mengisiku, tidak dengan kemarahan, tapi dengan kesedihan yang
besar dan kosong.
Ketika tanah di bawahku mulai bergetar, aku menganggapnya
sebagai sebuah ilusi. Aku telah menanggung cukup serangan matahari
untuk membuatku gila dua belas kali. Getaran itu kian membesar, kian
dekat, dan kini aku mendengar suara-suara, di luar kepalaku. Mereka
adalah para perempuan, dan mereka tampaknya sedang berdebat.
Ini begitu tidak mungkin sehingga mungkin matahari menyerangku
lebih berat pada saat itu. Namun aku sangat ingin tahu. Aku tetap
memejamkan mata. Aku mendengarkan suara-suara itu.
Sebagian dari karuniaku adalah memahami kata-kata, semua kata,
dalam bahasa apa pun. Tapi berusaha sebisaku, aku tidak bisa mengingat
satu kata pun dari yang mereka katakan. Aku mendengar suara-suara:
kasihan, ketakjuban, peringatan. Dan kemudian sebuah bayangan
datang di antara kelopak mataku dan matahari yang menghukum, dan
aku merasakan tangan-tangan di atas tanganku, memotong tali yang
mengikatku. Dan aku membuka mataku, dan melihat dia.
www.facebook.com/indonesiapustaka

155
Mike, Linda, dan Louise Carey

Di Pegunungan Utara

Butuh delapan hari lagi perjalanan bagi mereka untuk mencapai kaki
bukit pegunungan. Mereka tidak berusaha menegosiasikan jalan
itu, yang seperti dikatakan Issi, hanya cukup lebar untuk membawa
dua unta. Alih-alih, Zeinab membawa mereka ke sebuah mata air
yang berjarak beberapa jam, tidak besar tapi tersembunyi dengan
baik, di antara begitu banyak bebatuan yang sulit untuk menemukan
pepohonan. Ini jarak terjauh orang tuanya pernah membawanya.
“Bahkan datang sejauh ini adalah sebuah risiko, dua puluh tahun
lalu,” kata Issi. “Perbukitan ini penuh penjahat pada masa itu. Aku
dengar lebih aman setelah Vurdik sang Pemberani ditangkap, tapi pada
saat itu, sebagian besar dari kami telah menemukan rute-rute yang
berbeda.”
“Dan seberapa aman sekarang?” tanya Imtisar. “Apakah kita datang
sejauh ini untuk dibantai dalam tidur kita? Kita tak bisa menyebutnya
tempat tidur.”
“Jauh lebih sedikit lalu lintas melalui jalan ini sekarang, dan tidak
sejauh ini di barat,” Issi menenangkannya. “Kita akan cukup aman
sekarang.”
www.facebook.com/indonesiapustaka

Bebatuan itu memberikan bayangan yang lebih banyak daripada


yang mereka lihat selama berhari-hari. Unta-unta dengan tidak puas
meringkuk di atas pasir, sementara anak-anak, dan kemudian para
perempuan dan laki-laki, berebutan ke atas batu untuk minum. Matahari
mendekati cakrawala sebelum semuanya minum sepuasnya, tapi bahkan

156
Kota Sutra dan Baja

setelah para unta minum, mata air kecil itu masih meluap dengan jernih.
Gursoon melihatnya dengan puas.
“Ini tempat bagus,” katanya kepada Farhat. “Zeinab dan Issi bertugas
dengan sangat baik. Kita akan tinggal di sini selama beberapa hari
sementara kita memutuskan apa yang akan kita lakukan berikutnya.”
Mereka membawa air kepada perempuan sakit, Rem, yang diadopsi
Farhat sebagai tanggung jawab pribadinya. Gadis itu membaik dari
hari ke hari, meskipun wajahnya masih begitu terbakar dan melepuh
sehingga sulit melihat wajahnya. Untuk dua hari pertama, ia terlalu
lemah untuk makan, dan bahkan sekarang ketika ia memperoleh
kekuatan ia bergerak dengan pelan dan penuh kesakitan, dan bicara
sedikit. Tapi ia bergerak ketika melihat Farhat, menegakkan dirinya
sedikit dan mengambil cangkir minum dengan tangan-tangannya
sendiri, hanya menggerinyit sedikit. Ia menggumamkan terima kasih,
dan tenggelam kembali seolah upaya itu melelahkan dirinya.
“Ia seorang yang aneh,” kata Gursoon ketika kedua perempuan itu
menarik diri. “Apakah aku telah mengatakan kepadamu, Farhat, bahwa
ia tahu kita akan menemukan air, di hari pertama kita menemukannya?
Ia mengatakan kepadaku kita harus segera berangkat, dan berjalan terus
setelah berangkat.”
“Ia memiliki penerawangan,” kata Farhat. “Aku mendengar bakat
itu sebelumnya, tapi tak pernah melihatnya. Tapi ya, aku percaya gadis
itu tahu banyak hal.” Ia berhenti melihat sekeliling untuk mengecek
bahwa tak seorang pun yang mencuri dengar. “Nyonya Gursoon . . .
ada sesuatu yang ia katakan padaku yang telah membebaniku. Tapi aku
tak ingin mengganggumu.”
Gursoon terkejut. “Berapa lama kita saling mengenal, Farhat?
Apakah aku begitu mudah terganggu?Ayolah, kita kan teman.”
“Aku berharap begitu.” Wajah penjahit itu masih gelisah. “Kemarin,
ketika aku menyuapinya, ia berbicara kepadaku, memanggilku dengan
nama, meskipun aku belum pernah mengatakan namaku kepadanya.”
www.facebook.com/indonesiapustaka

“Itu memang aneh,” Gursoon sepakat. “Tapi tentu saja tidak cukup
mengkhawatirkan.”
“Aku tak tahu. Beberapa yang ia katakan hanya percakapan ngalor-
ngidul; ia belum pulih dari sengatan matahari. Ia berbicara seolah ia
mengenalku, dan mengatakan ia mengagumi pekerjaanku, seolah aku
seniman. Aku mengatakan kepadanya bahwa satu-satunya pekerjaan

157
Mike, Linda, dan Louise Carey

yang bisa kulakukan adalah dengan jarum, dan ia hanya mengangguk.”


Farhat tertawa. “Ia mengatakan bahwa aku seorang pakar kerajinan.
Jadi aku katakan kepadanya lagi bahwa ia keliru, aku hanyalah seorang
pelayan. Kemudian ia tampaknya menyadari apa yang telah ia katakan:
ia tampak bingung dan meminta maaf padaku. Tapi ketika aku pergi, ia
mengatakan hal lain, sesuatu yang tetap aku ingat. Aku tidak yakin aku
mendengarnya dengan benar, ia berbicara begitu lembut. Tapi aku rasa
ia berkata, “Kalian kini bukan pelayan-pelayan lagi.’’
Farhat memberikan pandangan tajam kepada nyonyanya. Gursoon
menjatuhkan tangannya ke pangkuannya, sebuah tanda perhatian, tapi
ia tidak tampak terkejut. “Ia mengatakan itu padamu?”
“Mungkin kepada kita semua. Dan aku rasa ia benar. Lihat di mana
kita sekarang, bagaimana kita semua harus hidup dari sekarang. Aku
bukan seorang pelayan di sini. Tak satu pun dari kita.”
Ada keheningan di antara kedua perempuan itu. Di sekitar mereka,
para perempuan dari seraglio membuat perkemahan untuk malam itu.
Kebanyakan gadis pelayan sedang membantu mengencangkan tenda
atau mengejar anak-anak. Imtisar membentak salah satu dari mereka
karena lamban. Di dekatnya, Najla dan Jumanah tertawa bersama,
sementara dua pelayan menyikat rambut mereka, dalam segala hal
seperti mereka sedang duduk di atas sofa di istana ketimbang di
atas sebuah batu yang nyaris tak terbayangkan. Untuk sesaat mereka
semua tampak seperti anak-anak bagi Gursoon: para gadis kecil yang
memainkan sebuah permainan seakan mereka bisa memunculkan
istana sultan di padang pasir dengan berpura-pura mereka masih
berada di sana.
“Kau benar,” kata perempuan tua itu pada akhirnya. “Ya—kita
semua harus berubah sekarang. Akan ada bantahan-bantahan, tentu
saja. Mungkin jeritan.” Ia melihat lagi pada perkemahan yang sibuk.
Mungkin ini hanya sebuah permainan, tapi setidaknya ini permainan
yang tenang dan teratur. Mulai sekarang tiap-tiap perempuan me-
www.facebook.com/indonesiapustaka

mainkan satu peran, dan mereka tampak puas memainkannya.


“Farhat,” katanya, “Apakah kau pikir kita bisa menyimpan ini dari
yang lain selama satu atau dua hari? Hanya sampai kita bisa menemukan
jalan ke mana kita akan pergi.”

158
Kota Sutra dan Baja

Gursoon menghabiskan satu jam bercakap-cakap dengan Zeinab


dan Issi, menanyai masing-masing dengan saksama apa yang mereka
ketahui tentang pegunungan dan tanah di baliknya. Issi kadang-kadang
berdagang di tanah-tanah utara, dan mengetahui tempat itu berbatu
dan tak ramah dengan beberapa permukiman dan musim dingin yang
sangat dingin. Zeinab hanya tahu bahwa ketakutan akan para penjahat
mencegah ayahnya dari berjalan ke utara di sini.
“Baiklah,” kata Gursoon, “bahkan para perampok pasti memerlukan
makanan dan tempat berteduh. Jika mereka pergi sekarang, mungkin
kita bisa menemukan tempat mereka tinggal.”
“Bagaimana jika mereka masih di sini,” kata Zeinab.
“Dalam hal itu,” Gursoon menyerah, “kita harus merencanakan
dengan lebih hati-hati lagi.”
Ia pergi menemui Zulaika, dan mengatakan beberapa hal yang ada
dalam pikirannya.
“Tampak bagiku,” katanya saat selesai, “bahwa seorang perempuan
dengan kemampuan sepertimu bisa berguna bagi kita dalam situasi ini.
Tapi ada satu atau dua hal yang aku perlu tahu lebih dulu.”
“Kau perlu tahu apakah para perampok itu masih tinggal di sini,”
kata Zulaika, “serta jumlah dan kekuatan mereka. Adalah hal lain?”
“Ya. Itu menyangkut dirimu.”
Wajah Zulaika tenang. Ia memiringkan kepalanya, mengundang
Gursoon melanjutkan.
“Dalam beberapa hari ke depan kita harus memutuskan nasib kita
sendiri. Apa pun yang kita lakukan, hidup akan penuh risiko. Dan
jika aku harus mempercayaimu dalam tugas ini, aku perlu tahu siapa
dirimu—apa dirimu.”
“Beberapa hari lalu aku menyelamatkan nyawa semua orang di
sini,” kata Zulaika dengan tenang. “Tidakkah itu membuatmu percaya
padaku?”
“Tidak. Satu hari, jika kami hidup, kami akan menghormatimu
www.facebook.com/indonesiapustaka

atas apa yang telah kamu lakukan pada saat itu. Tapi tidak, itu tidak
membuatku percaya padamu. Berapa lama kau hidup bersama kami,
Zulaika: tiga tahun? Sepanjang waktu itu kau tak pernah tampak ada.
Kau berjalan masuk ke ruangan seolah ada seorang musuh di sana. Kau
bisa duduk selama satu jam, diam, seperti sedang menunggu sesuatu.
Dan kapan pun kau berbicara pada salah satu penjaga, kau menatap

159
Mike, Linda, dan Louise Carey

mata mereka. Tak ada perempuan lain yang melakukan itu, bahkan aku
pun tidak. Aku kadang-kadang bertanya-tanya tentang hal itu. Kini
tampaknya aku tahu alasannya.”
“Benar, aku tidak dibesarkan seperti hidupmu,” kata Zulaika.
‘Memang kenapa? Apakah aku tidak melakukan sesuatu yang di-
butuhkan dariku?”
“Bukan itu yang kumaksud, dan kau tahu itu,” kata Gursoon dengan
tenang. “Lima tahun mempelajari seni membunuh, Zulaika? Apakah
kau sedang mengatakan padaku bahwa kau sejenis pembunuh?”
“Ya. Itulah aku.”
“Maka, atas nama Sang Pencipta, apa yang sedang kau lakukan di
sebuah seraglio?”
“Kau tidak mempercayaiku kecuali kau mengetahui hal ini?”
“Tidak.”
Zulaika menghela napas.
“Jika aku katakan kepadamu, aku akan melanggar sumpahku. Tapi
aku anggap sumpah itu sudah batal. Baiklah, pada saat itu, aku datang
ke seraglio untuk membunuh seseorang. Dan aku tinggal di sana karena
aku berubah pikiran.”
Ia menunggu sebuah jawaban, tapi Gursoon tiba-tiba diam, me-
natapnya seolah sesuatu yang telah lama ia takutkan datang berlalu.
Zulaika menghela napas lagi.
“Duduklah di sini,” katanya. “Aku ceritakan padamu semua yang
terjadi.”
www.facebook.com/indonesiapustaka

160
Kota Sutra dan Baja

Kisah Pembunuh yang


Menjadi Seorang Selir

Dulu ada seorang perempuan yang dilatih sebagai seorang pembunuh.


Ia tinggal dengan tenang dan sendirian, di dalam sebuah rumah kecil
di pinggir kota itu, dan dikenal oleh pemilik rumah dan para tetangga
sebagai janda seorang pedagang kaya raya. Ini sebuah kebohongan,
tapi para tetangga tampaknya percaya karena dua alasan. Pertama, ia
tak pernah meminta pekerjaan ataupun amal dari para perempuan di
kota itu, dan oleh karena itu pasti ia mempunyai warisan. Dan kedua,
meskipun ia masih muda dan cantik, ia menjaga dirinya dengan cadar
yang ketat seperti para janda tua, dan mengecilkan hati para calon
peminangnya dengan begitu efektif sehingga tak seorang pun datang
ke pintu rumahnya lebih dari sekali.
Begitulah cara perempuan itu hidup.
Di dalam kota itu, pada jarak tertentu dari rumahnya, adalah
sebuah sekolah di mana para pembunuh dilatih dan dari sana mereka
mungkin disewa. Itu sebuah bangunan luar biasa, yang diciptakan
www.facebook.com/indonesiapustaka

dan dikuasai seorang lelaki luar biasa, yang disebut Khalifah Para
Pembunuh, Imad-Basur.
Sedikit tapi tetap jumlah lelaki yang datang ke pintu sekolah itu
pada malam hari, berusaha menghilangkan penghinaan, halangan
bisnis atau kalau tidak masalah yang sulit. Imad-Basur menawarkan
layanan yang hati-hati dan efisien, dan lebih jauh lagi menjamin

161
Mike, Linda, dan Louise Carey

mitranya bahwa tak ada penugasan yang terlalu besar bagi para stafnya
yang berkemampuan tinggi. (Dengan skala bayaran mereka, pertanyaan
tentang pekerjaan menjadi terlalu kecil untuk dimunculkan; para
pembunuh mengambil nyawa, tapi tidak dengan mudah.)
Namun kadang-kadang, sebuah tugas mungkin muncul yang
membutuhkan kehati-hatian khusus: di mana target sulit didekati,
katakanlah, atau biasanya sudah curiga. Pada tugas-tugas semacam
itu, seorang kurir akan dikirim dari sekolah itu ke rumah perempuan
tersebut di pinggiran kota. Selama beberapa tahun, ia telah membangun
reputasi kepercayaan, dan dengan pengakuan ini dan statusnya di
luar tanda-tanda resmi sekolah, ia diizinkan mendapat tiga perempat
bayaran untuk pekerjaannya.
Pada saat itu kerajaan-kerajaan di gurun pasir biasanya berperang
di antara mereka sendiri untuk kekuasaan dan gengsi. Setiap tahun atau
sekitar itu, sebuah pasukan yang terdiri dari pemuda berdarah panas
akan dikirim melawan beberapa kota, untuk membalas dendam atau
memberi penghinaan. Mereka akan kembali compang-camping, atau
merobek-robek tentara kota itu dan kembali dengan harta rampasan.
Tahun berikutnya, kota yang kalah akan membalas dendam. Dengan
cara ini, harta berbagai kota tetap beredar dan populasi para pemuda
berdarah panas tetap berada dalam batas-batas yang bisa dikelola.
Namun, seorang sultan telah bertahun-tahun menghindari pe-
perangan, untuk menjaga hartanya untuk dirinya sendiri dan tentaranya
yang relatif kuat. Lagi pula, orang ini, Bukhari al-Bukhari dari Bessa,
memperluas pengaruhnya atas kota-kota tetangga melalui penggunaan
suap yang bijaksana, dan dengan jamuan rutin yang mewah. Kekuasaan
yang telah ia peroleh di wilayah itu, tentu saja, memunculkan beberapa
musuh, yang tahu hingga membuat mereka kesal bahwa ia tidak bisa
dihasut untuk perang. Dengan cara penaklukan tradisional yang ditolak,
hanya masalah waktu sebelum seorang musuh mendekati Persaudaraan
Para Pembunuh.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Di sinilah masalah segera muncul. Sultan tersebut tua dan waspada:


ia mengelilingi dirinya dengan para pengawal sepanjang waktu, dan
hanya lepas dari penjagaan ketika ditemani keluarga, atau di antara
para selir. Oleh karena itu, guru para pembunuh mengirim seorang
kurir kepada perempuan di pinggir kota, yang setuju bertemu mitranya.

162
Kota Sutra dan Baja

Usulannya untuk perempuan itu adalah masuk ke seraglio sultan, dari


sana ia bisa memenuhi tugasnya tanpa campur tangan.
Perempuan itu tidak segera menerima penugasan tersebut. Keragu-
raguan tidak ada hubungannya dengan kebesaran calon korbannya—
para pembunuh tidak membeda-bedakan jabatan, kecuali dalam skala
bayaran—bukan juga khawatir akan kesulitannya. Hanya saja ia telah
lama tidak berada di antara kaum perempuan, dan lupa bagaimana
bertindak di antara mereka. Juga, kliennya bersikap terhadapnya
dengan lebih daripada kesombongan yang biasa, tidak memedulikan
pertanyaan-pertanyaannya tentang istana dengan perintah singkat
untuk diam dan mengikuti perintah-perintah. Tapi ia menyatakan
bahwa tugasnya memerlukan leksibilitas, dan di samping itu, seorang
gadis harus hidup. Ia menuntut bayaran besar, menghitungnya hingga
dirham terakhir, dan setuju dibawa ke istana oleh seorang perajin
perak atas bayaran mitranya, mengaku sebagai sepupunya dari Yrtsus.
Ia mahir berurusan dengan laki-laki—sultan tersebut terpesona, dan
segera terlibat negosiasi untuk mendapatkannya.
Jadi, masuklah sang pembunuh ke seraglio.
Ia tidak terpesona dengan ruangan-ruangan wangi, hiasan-hiasan
sutra, taman-taman pohon ara dan aprikot, dan kecantikan luar biasa
para penghuninya, yang mana pun akan membingungkan sebagian
besar penyusup. Namun, ia tidak disiapkan untuk kehidupan perempuan
istana, ataupun untuk perlakuannya di sana. Ia menemukan keriuhan
yang abadi: para perempuan bertengkar, bergosip, bertukar sisir, peniti
dan cerita, sementara anak-anak bermain dengan bebas di sekitar kaki
mereka. Dan ia segera diterima sebagai salah satu dari mereka.
Sejak usia lima belas tahun, sang pembunuh tinggal di antara para
pria dan, sejak ia memasuki pelatihan, dengan sedikit jenis hubungan
apa pun dengan manusia. Menyenangkan baginya sekarang dianggap
sebagai setara dan merasa dirinya sendiri, untuk sementara, bagian dari
sebuah komunitas. Dan karena ia tidak merasakan pentingnya tugas
www.facebook.com/indonesiapustaka

yang diberikan kepadanya, ia memutuskan untuk menunda tugasnya


selama satu atau dua hari.
Malam itu sultan memintanya untuk mengunjungi kamarnya.
Rencananya adalah mematahkan leher sultan begitu ia di puncak
kenikmatan atau mencekiknya ketika ia tertidur setelah itu, dan lari

163
Mike, Linda, dan Louise Carey

pada malam yang sama. Ia tidak melakukan keduanya. Alih-alih, ia


menikmati perhatian pria itu dengan sabar, dan kembali keesokan
harinya ke tempat tinggal para perempuan.
Selama berhari-hari berikutnya sang pembunuh menjadi ter-
biasa dengan kehidupan di dalam harem. Ia berbicara dengan para
perempuan lain, bertanya kepada mereka tentang bagaimana masing-
masing datang ke tempat ini. Semua dari mereka dijual kepada sultan
oleh keluarga dan para wali mereka, dan beberapa menangis ketika
mereka bercerita tentang pertunangan yang terpaksa dibatalkan, atau
teman-teman dan adik-adik tercinta yang tak pernah ditemui lagi.
Namun, sebagian besar dari mereka tampaknya cukup puas dengan
nasib mereka. Ini membuat sang pembunuh bertanya-tanya.
“Kau dibeli dan dijual seperti para budak,” katanya. “Menyerahkan
hidup untuk seorang laki-laki yang tak bisa memberimu kesenangan.”
“Benar,” kata perempuan yang ia ajak bicara. Ia salah satu anggota
tertua di harem tersebut, dan yang paling dihormati yang lain; ia
menarik perhatian sang pendatang baru dan menghabiskan setiap
bagian setiap hari dengan pertemanannya, mengajarinya aturan-aturan
kehidupan baru. “Itulah kemalangan kami,” katanya, “dan kau juga,
sekarang. Tapi kami membangun kehidupan kami sendiri di sini. Kami
bebas menginginkan apa pun, dan anak-anak kami tumbuh dengan
aman. Dan kami memiliki sedikit kekuasaan.” Ia tersenyum melihat
ekspresi ketidakpercayaan lawan bicaranya. “Kami tahu suasana hati
sultan dan kelemahan-kelemahannya,” ia menjelaskan, “menggunakan
cara-cara yang membuatnya bisa dibimbing. Ia seorang laki-laki yang
penuh hasrat, cepat tersinggung. Pada masa-masa mudanya, ia akan
memulai perang untuk sebuah penghinaan yang bisa dibayangkan.
Tapi, jika diperlakukan dengan kasih sayang, ia bisa ditenangkan dan
dialihkan. Selama dua puluh tahun kini kami membuatnya damai, dan
pada saat itu kota ini berkembang.”
Ini pasti benar: bahkan inilah alasan kehadiran sang pembunuh
www.facebook.com/indonesiapustaka

di sana. Tapi ia tidak bisa membicarakannya.


Pada malam yang sama ia dipanggil sekali lagi ke kamar sultan, dan
sekali lagi menyelamatkan nyawanya. Keesokan harinya ia berbicara
lagi dengan perempuan yang telah berteman dengannya.
“Apa yang terjadi padamu,” ia bertanya, “jika sultan mati?”

164
Kota Sutra dan Baja

Perempuan yang lebih tua itu mengerutkan dahi. “Benar bahwa


kami takut kehilangan dia,” katanya. “Putra mahkota bertemperamen
panas seperti ayahnya dua puluh tahun lalu, dan jauh lebih membabi
buta. Ia akan mengusir kita semua perempuan yang lebih tua, tentu
saja, dan para istrinya adalah makhluk-makhluk berkepala kosong.
Beberapa dari kita yang pergi harus mulai bekerja lagi.”
Sang pembunuh berpikir untuk beberapa lama setelah percakapan
itu. Kematian sultan tentu menyulut sebuah penyerangan, dan bahkan
seandainya para putranya menang perang, kota ini akan kembali ke
siklus perang yang lama dan persiapan untuk pertempuran-pertempuran
yang berhasil dihindari para perempuan itu. Dan jalan mana pun, teman
barunya dan banyak yang lain bersamanya akan menjadi orang buangan.
Ia tahu apa artinya ini bagi mereka. Ia telah melihat sendiri nasib para
perempuan yang dimiliki dan digunakan para lelaki, ketika mereka tak
lagi diinginkan. Dan terpikir olehnya bahwa ini tidak adil, dan tidak
harus ditanggung. Selir tua itu lebih jujur dan lebih cerdas dari sultan
ataupun musuhnya; lagi pula, ia mengingatkan sang pembunuh terhadap
seseorang yang menunjukkan kebaikannya di masa mudanya. Ia berkata
pada dirinya sendiri bahwa para perempuan ini pantas mendapatkan
perlindungannya, bahkan jika harganya adalah melanggar kodenya
sendiri.
Jika seorang pembunuh menolak tugasnya setelah mengambil
bayaran, ia dikeluarkan dari Persaudaraan untuk selamanya. Karena
jenis kelaminnya, perempuan itu tak pernah diakui Persaudaraan itu
sejak pertama; begitupun, ia telah mengambil sumpah dan menerima
perlindungan dan langganan tetap dari gurunya. Kini semua itu ia
tinggalkan.
Ia membuat penyelidikan dan menemukan seorang kurir yang
kerap dipercaya para perempuan dari harem untuk menyampaikan
hadiah uang dan benda-benda berharga kepada keluarga mereka. Ia
puas dengan keandalan kurir tersebut, dan mengirimkan sebuah paket
www.facebook.com/indonesiapustaka

ke rumah pribadi di kota itu. Rumah itu milik Imad-Basur, dan paket
yang berisi sekantong perak yang ia ambil sebagai upahnya, bersama
gelang emas yang nilainya lebih dari penutup uang muka berapa pun
yang telah dibayarkan sang klien kepada gurunya sendiri. Perempuan
itu tidak pernah belajar menulis, dan tidak bisa mengirim pesan apa

165
Mike, Linda, dan Louise Carey

pun. Tapi gurunya seorang yang pintar: ia akan memahami dari hadiah
itu baik soal penolakan komisinya maupun pengakuannya tentang
beberapa kewajiban yang tersisa kepadanya.
Lalu sang pembunuh menjadi selir. Kewajiban-kewajibannya tidak
sulit: permainan cinta sang sultan menjemukan, tapi profesinya telah
membiasakannya dengan ketidaknyamanan seperlunya. Sebagian besar
energinya diberikan pada tugas yang ia tetapkan sendiri sekarang:
perlindungan orang yang akan ia bunuh dan, melalui dia, para perem-
puan dari komunitas barunya.
Seperti yang ia perkirakan, pesta sultan selanjutnya dihadiri oleh
mitra yang dia tolak, yang mempertaruhkan nyawanya sendiri dan
nyawa sang pembunuh dengan mengatur pertemuan pribadi dengannya.
Ia bisa meyakinkannya dengan cepat, dan tanpa meninggalkan bekas
apa pun di kulitnya, bahwa ia tidak bisa memaksanya melakukan
tawarannya. Namun, ia tidak bisa membujuknya untuk meninggalkan
rencananya terhadap sang sultan. Selama setahun atau dua tahun ia
benar-benar sibuk menemukan dan menggagalkan para pembunuh
baru yang ia kirim. Mereka menunjukkan berbagai tingkat kemampuan,
dan semuanya, ia duga, telah diperingatkan tentang dirinya. Tapi tak
seorang pun dari mereka menganggap serius peringatan itu hingga
akhirnya terlalu terlambat.
Dan begitulah ia hidup, melindungi seorang manusia tak ber-
harga untuk alasan-alasan yang berharga. Hingga akhirnya seorang
musuh muncul yang tidak bisa ia atasi, meskipun dengan seluruh
kewaspadaannya, dan dengan tentaranya, menghancurkan sultan dan
seluruh keluarganya. Pada hari ia menemani para perempuan—kini
saudari-saudarinya—ke pengasingan di gurun pasir, semua mereka
bukan lagi para selir. Dan menjadi apa ia selanjutnya, kisah ini tak akan
bisa bercerita.
Zulaika menyelesaikan ceritanya dan terdiam. Ia menggunakan
kata-kata yang jauh lebih sedikit daripada yang bisa diberikan di sini.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Tapi tetap saja Gursoon tidak pernah mendengarnya berbicara sebegitu


panjang. Dan ia jarang merasa kurang siap dengan sebuah jawaban.
Akhirnya ia berkata, “Jadi utusan dari Arakh—orang yang mati
karena ayan di pesta itu—itu kau?”
Zulaika mengangguk. “Aku menukar gelas-gelas mereka.”
“Dan para tamu dua musim panas lalu? Orang-orang yang saling

166
Kota Sutra dan Baja

membunuh dalam sebuah duel di halaman istana?”


“Itu bukan duel. Dia mengirim dua lelaki itu dengan harapan aku
akan kalah dari salah satu mereka. Itu lebih sulit diatur.”
“Tapi. . . adakah yang lainnya?”
“Lima usaha lainnya. Yang awal-awal datang sebagai pelayan atau
pedagang.”
Gursoon menatapnya dengan tajam. “Aku tak ingat lima kematian
lain.”
“Aku hanya harus membunuh lagi,” kata Zulaika. “Aku membuat
para pengawal sultan percaya bahwa seorang pangeran telah menikam
lelaki itu ketika mabuk; Sisanya aku bujuk untuk melarikan diri.
Tampaknya itu cara terbaik untuk menghindari penghitungan mayat
yang terlalu tinggi.”
“Tampaknya itu cara terbaik untuk menghindari . . .” Gursoon
memulai. Ia berhenti. Ia mulai tertawa melihat wajah tenang Zulaika,
kemudian bersandar ke batu dan tertawa panjang.
“Kau melakukannya dengan sangat baik, Zulaika,” katanya pada
akhirnya. “Kami semua berutang padamu, jauh lebih daripada yang
aku sadari. Dan ya, aku percaya padamu. Bersediakah kau melindungi
nyawa kami untuk ketiga kalinya?”

Sebelum fajar menyingsing hari berikutnya Zeinab dan Zulaika mem-


bungkukkan badannya di antara batu-batu di sebuah punggung bukit
di atas oasis, menyipitkan matanya ke bentuk-bentuk samar di sisi lain.
Masing-masing mengenakan jubah dan tutup kepala abu-abu samaran,
yang dijahit dengan terburu-buru dari karung-karung.
“Kapan kita bisa turun,” tanya Zeinab untuk kedua kalinya.
“Mungkin tidak sama sekali,” kata Zulaika. “Untuk saat ini kita
mengawasi. Jika ada seseorang di sana, mereka tidak akan mengacau
sebelum matahari terbit.”
Zeinab menatap dengan tidak senang ke bawah lembah, di mana
www.facebook.com/indonesiapustaka

gundukan-gundukan dan cekungan-cekungan baru muncul dalam


cahaya abu-abu pagi. Ia menghela napas dan menggeser lututnya pada
posisi baru di atas tanah berbatu, dan kemudian bergerak terkejut.
“Tenang, Nona; berapa kali?”Zulaika memulai. Tapi rekannya
sedang melihat pada satu titik jauh di bawah mereka, matanya tiba-tiba
melotot.
Sesosok ramping abu-abu bergerak, berjalan, dan mengungkapkan
167
Mike, Linda, dan Louise Carey

diri sebagai seorang manusia. Sosok itu berjalan menuju mereka


menyeberangi lembah, ke kaki bukit tempat mereka bersembunyi.
Kedua perempuan itu membeku.
Sosok itu berdiri di bawah mereka, dan tampak sedang mencari
sesuatu di dalam bajunya. Pada saat itu cahaya pertama matahari me-
nyorot melalui jurang di perbukitan di depan, hampir menyilaukan
mereka, dan, di bawah, memantulkan sinar kuning pancuran kencing.
“Setidaknya dua belas laki-laki,” Zulaika melaporkan pada Gursoon
malam itu. “Kami tak melihat lebih dari itu pada saat itu, tapi mereka
sedang memasak untuk banyak orang ketika kami pergi. Mungkin dua
puluh, meskipun aku bisa bilang kurang dari itu.”
Mereka tetap di sana sepanjang hari itu, bergerak dari satu per-
lindungan ke perlindungan lain dan mengawasi para pria itu ketika
mereka memasang jebakan-jebakan untuk kelinci-kelinci gunung dan
mengambil air dari sebuah kolam tersembunyi. Tampaknya, seperti
yang Issi katakan, hanya sedikit hasil bagi para bandit itu di hari-hari
ini: hanya satu musair yang melewati jalan itu sepanjang hari, seorang
lelaki tua yang bahkan tampak lebih kurus daripada keledainya yang
kurang makan. Tiga dari perampok itu mencegatnya, merampas
dompetnya dan membiarkannya pergi bahkan tanpa bersusah payah
mengecek ranselnya.
“Mereka sangat tidak teliti,” kata Zeinab. “Setiap pedagang yang
datang ke jalan ini memiliki dompet kedua yang disembunyikan di
satu tempat.”
“Mereka mungkin menjadi ceroboh,” kata Zulaika. “Tapi yakinlah,
jika mereka melihat sebuah hadiah yang berharga untuk diperjuangkan,
mereka akan berjuang. Kita tidak melihat senjata-senjata apa yang
mereka miliki. Dan kita sekelompok perempuan yang bepergian
sendiri, dan berpakaian mewah. Jika mereka melihat kita seperti ini,
pasti akan ada pembunuhan.”
“Maka kita harus memastikan mereka tidak melihat kita seperti
www.facebook.com/indonesiapustaka

ini,” kata Gursoon.

168
Kota Sutra dan Baja

Kisah-kisah yang
Penerapannya Paling Taktis:
Bethi

Para bandit tinggal di sebuah lembah kecil, yang seluruh sisinya di-
kelilingi tebing-tebing batu terjal, di seberang punggung bukit tempat
Zulaika dan Zeinab memata-matai mereka. Gua besar tempat mereka
tidur, terbuka ke arah pegunungan di bagian belakangnya, adalah
sebuah mulut yang lebar dengan atapnya yang menjorok ke pasir seperti
bibir bagian atas yang menjuntai.
Gua itu berbau busuk, dan kediaman para pencuri itu tidak mem-
perbaiki lembah tersebut. Namun, tempat itu sejuk, ada hutan kurma
liar kecil dan tanaman-tanaman berdaun asin yang memberi mereka
makanan bahkan ketika lalu lintas yang melewati puncak gunung itu
lamban, dan, bahkan lebih baik, air yang sama dengan air yang mengalir
ke mata air kecil tempat Zaenab membawa seraglio memancar di antara
bebatuan di dasar punggung gunung dan menjadi kolam yang jauh
www.facebook.com/indonesiapustaka

lebih besar.
Di sinilah dua belas bandit mandi dan minum. Di masa-masa
awal—ketika mereka bekerja di bawah kepemimpinan Vurdik sang
Pemberani yang inspiratif—mereka juga kencing di sana. Tapi setelah
kematian tragis Vurdik di tiang gantungan di Ibu Kim, satu di antara

169
Mike, Linda, dan Louise Carey

mereka, Anwar Das, mendidik mereka tentang pokok-pokok kesehatan


dasar yang lebih baik.
Anwar Das adalah seorang pria yang memiliki banyak bakat,
dan dalam banyak hal hampir secerdas yang ia pikir. Ia berusaha
mengajarkan para penjahat itu tentang banyak hal sejak pertama kali
bergabung dengan gerombolan mereka, dengan berbagai tingkat ke-
suksesan. Kini, ia berbicara kepada teman-temannya, ketika mereka
sedang tidur-tiduran di tanah atau melempar-lempar kerikil ke dinding
gua, dan dengan sabar menjelaskan untuk keempat kalinya ide yang ia
usulkan sejak pagi hari tadi.
”Tapi saudara-saudara, jika kita mengambil sebuah pangkalan yang
bisa mengawasi sebuah lembah, daripada duduk di dasarnya, kita akan
memiliki posisi yang jauh lebih baik. Siapa pun bisa menyergap kita di
sini! Mungkin seandainya kita mencoba tempat baru? Untuk satu atau
dua hari?”
”Diam, Das.” Yusuf Razim, kepala para bandit, menjentikkan se-
buah kerikil ke arahnya. Das menghindarinya dengan tangkas.
”Aku sendiri yang akan pergi dan mencari titik yang cocok. Kau
bahkan tidak perlu beranjak dari tempatmu! Aku yakin jika kita—”
“Diam, Das. Aku telah memotong jalan tiga puluh tahun di sini,
dan kau datang, anak ingusan, berusaha mengajari urusanku sendiri.”
Das, yang berusia dua puluh lima tahun, mengeluh dalam hati dan
memutuskan untuk mengubah taktik.
“Dikelilingi dinding-dinding seperti ini, seseorang bisa saja sedang
mengawasi kita saat ini, dan kita tidak pernah mengetahuinya hingga
para tentara datang menangkap kita semua,” katanya.
“Itulah maksud keseluruhannya, kau bajingan kecil! Dikelilingi
dinding-dinding seperti ini, tak seorang pun bisa langsung melihat
kita. Kau tak bisa mengawasi sesuatu yang tidak bisa kau lihat.”
Yusuf memutar matanya pada Das dengan nada melecehkan.
Pada saat ini, seolah menegaskan kata-kata Yusuf, perhatian para
www.facebook.com/indonesiapustaka

bandit tersita suara tangisan seorang perempuan yang jelas. Suara itu
menembus udara dari tebing yang curam di sebelah kiri mereka, begitu
dekat sehingga setiap lelaki merasakan kulit mereka berduri seakan
perempuan itu berdiri tepat di sampingnya. Memecah kesunyian gurun
pasir, suaranya adalah tangisan yang tinggi dan halus yang membuat
jantung mereka melompat dan bulu kuduk berdiri. Dalam sekejap,

170
Kota Sutra dan Baja

wajah kepala bandit itu berubah dari kemenangan yang angkuh menjadi
ketakutan.
“Hantu perawan,” ia menahan napas.
Das membayangkan kepala Yusuf membentur berulang-ulang ke
dinding gua itu, dengan harapan kosong, akal sehat bisa menetes lewat
sebuah retakan.
“Beruntung bagi kita jika memang itu,” ia bergumam dengan gigi
menggeretak. “Saat ini, saudara-saudaraku, kemungkinan yang paling
gawat adalah itu adalah benar-benar seorang perempuan, istri pedagang
yang tersesat dan rombongan bersenjatanya mungkin menemukan
keberadaan kita, seperti yang aku peringatkan. Jika itulah kasusnya, kita
harus memilih antara membunuh perempuan itu segera atau buru-buru
meninggalkan pangkalan kita dengan diam-diam.”
“Atau menahannya sebagai simpanan,” usul salah satu dari mereka.
Sebelas laki-laki membayangkan dengan gembira usulan itu. Anwar
Das menggeleng-gelengkan kepalanya dalam keputusasaan yang sunyi.
“Bolehkah aku usul kita pergi dan menyelidikinya?”ia bergumam.
“Dan kita membawa senjata-senjata kita?”
Mereka pun terburu-buru kembali ke gua, tempat pedang dan pisau
disimpan. Berikutnya ada beberapa menit komedi isik ketika mereka
mengambil peralatan favorit masing-masing, kemudian bertengkar dan
bergumul hingga mereka saling tukar kembali. Kadang-kadang, Das
heran selingan-selingan ini menghasilkan begitu sedikit korban.
Ternyata, perempuan itu bukan istri seorang pedagang, meskipun
juga tidak tampak seperti hantu perawan. Ia berlutut di pasir berjarak
satu setengah meter dari jalan masuk yang tertutup ke lembah itu, benar-
benar sendirian. Ia menolehkan wajahnya yang basah karena air mata
kepada para penjahat ketika mereka terburu-buru menghampirinya,
ekspresinya tiba-tiba panik.
“Jangan mendekat!”Ia menangis histeris karena ketakutan. “Tolong!
Demi cinta Sang Pencipta, menjauhlah dariku!”
www.facebook.com/indonesiapustaka

Para penjahat itu memandang satu sama lain dengan ragu-ragu.


Perempuan ini jelas bukan hantu, tapi bagaimana ia bisa berada di
sini, di tengah-tengah gurun, ketika mereka tidak melihat siapa pun di
dekatnya, ataupun unta yang bisa membawanya ke sini? Namun, mereka
tidak bisa mencurahkan banyak pikiran terhadap perempuan misterius
itu. Mereka begitu terpaku kepada tumpukan emas yang tergeletak di

171
Mike, Linda, dan Louise Carey

sampingnya. Gelang-gelang emas, kalung-kalung emas, anting-anting


emas, semua kusut dalam sebuah gundukan yang berkilauan. Yusuf
baru akan melangkah ke arah emas itu ketika Anwar Das membuat
gerakan menyikut dengan lengannya, membuatnya tiba-tiba berhenti.
“Kau idiot! Apa yang kau—” bandit itu membentaknya.
“Lihat.” Das mengangkat lengannya, mengalihkan pandangan
penjahat itu dari emas yang telah menjadi perhatian mereka seolah
mereka sekelompok burung gagak. Perempuan itu dikelilingi bangkai-
bangkai anjing gurun: lima bangkai besar dan berbulu lembut, gigi
ditarik kembali dari mulut-mulut mereka yang kaku dengan sebuah
geraman tanpa suara. Meskipun mereka melihat dan melihat lagi,
para pencuri tidak bisa mengidentiikasi luka pada binatang itu untuk
mengetahui bagaimana mereka mati. Mereka menyebar dari gadis itu
dalam sebuah lingkaran sempurna, dan di pinggir lingkaran itu para
bandit berhenti, mengawasinya dengan waspada dan mengacungkan
pedang mereka.
“Siapa kau, Nyonya? Apa yang kau inginkan di sini?”Yusuf meng-
geram, berusaha sebaik-baiknya agar terdengar mengintimidasi.
Perempuan itu menjawabnya dengan ledakan air mata yang gila-
gilaan. “Terlalu mengerikan! Terlalu mengerikan untuk diceritakan!”
Gerombolan itu terheran-heran. Perempuan ini sendirian, ia jelas-
jelas membawa lima bangkai itu sendirian, tapi ia menangis seperti
anak kecil. Mengumpulkan seluruh kemampuan persuasifnya, Yusuf
menyeringai padanya dalam sebuah taksiran senyum yang bersahabat.
“Cukup, cukup,” ia bersungut-sungut. “Kami tak akan menyakitimu.
Ceritakan saja mengapa kau di sini dan kami akan membiarkanmu
pergi.” Ia menghindari menyebut bahwa, ketika perempuan itu pergi, ia
dan saudara-saudaranya akan menguasai perhiasan emasnya. Pada saat
itu, para lelaki itu lebih ingin tahu ketimbang khawatir, dan menyiapkan
diri untuk mendengar cerita yang menarik.
“Baiklah,” perempuan itu menghirup napas, “Aku akan ceritakan
www.facebook.com/indonesiapustaka

pada kalian. Hanya saja jangan terlalu dekat!”Ia memberi isyarat tak
berdaya pada bangkai-bangkai anjing di kakinya, wajahnya mengisut
seolah akan menangis lagi. “Aku tidak tahu apa yang akan terjadi!”
Dengan kata-kata itu, ia mengangkat kepalanya dan memulai.

172
Kota Sutra dan Baja

Kisah tentang
Sentuhan Beracun

“Aku memanggil dari kota yang jauh Izz-ud-Din. Tak diragukan kau
pasti belum pernah mendengarnya; kota itu jauh, jauh dari sini. Bahkan,
aku telah mengembara bertahun-tahun untuk melepaskan diri darinya.
“Sultan Izz-ud-Din, pada masa-masa mudaku, adalah ayahku
sendiri, Ibtsaheem Ramid, dan ia gila. Kegilaannya seperti racun yang
ditumpahkan di mulut kota itu. Di bawah kekuasaannya, Izz-ud-Din,
yang pernah begitu indah, begitu makmur, membusuk dan jatuh dalam
kemiskinan dan kerusakan. Ayahku menerapkan pajak-pajak yang
tinggi atas rakyatnya yang dengan cepat tak lagi memiliki apa-apa untuk
mereka berikan kepadanya, bahkan tidak juga kain untuk membungkus
jenazah mereka. Apakah dia peduli tentang hal itu? Lelaki tua itu hanya
punya satu kepedulian dalam hidup ini, dan itu adalah emas.
“Ia mengagungkan emas di atas posisi dan kerajaannya. Tentu saja
ia menghargainya jauh di atas putrinya, dan ibu putrinya yang sakit-
sakitan, mati bertahun-tahun lalu karena kesedihan akan tempat tidur
www.facebook.com/indonesiapustaka

yang dingin dan suami yang dingin. Ia menimbun tumpukan emas,


lautan logam yang berkilau, di lubang-lubang besar di bawah istananya.
Tak ada yang lebih dia sukai ketimbang duduk memandanginya selama
berjam-jam atau bahkan berhari-hari tanpa henti, membolak-baliknya
di tangan-tangannya. Menimangnya, melimpahinya dengan ciuman-
ciuman yang terlalu berharga untuk diberikan kepada putrinya yang

173
Mike, Linda, dan Louise Carey

pucat, yang merindukan dalam bayang-bayang ibunya yang mati yang


lengan-lengannya terlalu singkat memeluknya dan ayah gila yang
lengan-lengannya tak pernah memeluk putrinya sama sekali.
“Kalian mungkin berpikir bahwa dengan alasan itu ia bisa di-
gulingkan, rakyat Izz-ud-Din bisa dengan mudah bangkit melawan
ayahku dan menyingkirkannya dari takhta. Sesungguhnya, bahkan
para pengawalnya sendiri membenci lelaki ini karena kekikirannya
dan sifatnya yang kejam (meskipun tak ada yang merasakan sengatan
tangan atau tongkatnya lebih daripada aku).
Namun ketika masih seorang pemuda, sultan melakukan perja-
lanan berani ke gua tujuh jin, dan mereka mengaruniai kekuatan
untuk menjatuhkan kutukan pada siapa pun yang ia mau. Karena
inilah kekuasaannya tak terukur dan rakyatnya tidak bisa, untuk segala
kemarahan mereka, mengangkat satu jari pun melawannya. Kokinya
pernah membawakan daging busuk, dan ia memunculkan anjing-anjing
gila untuk merobek lelaki itu dan memakannya hidup-hidup. Jika ia
membenci seorang menteri karena alasan apa pun, ia akan membuat
sang menteri terpaku di tempat dan mendatangkan kalajengking-
kalajengking merayapinya hingga ia disengat sampai mati. Jadi, ia
meneruskan aturan-aturan korup di kota itu, dan tak seorang pun
berani menanggung risiko kemarahannya.”
Sampai di sini, para pencuri benar-benar terpikat oleh kisah itu.
Selama cerita perempuan itu, sebagian besar dari mereka merendahkan
diri ke tanah dan duduk berkelompok di kakinya, meskipun mereka
masih menjaga jarak aman. Mereka ngeri mendengar deskripsinya
tentang kekuatan sang sultan yang menakutkan, ayahnya, dan bahkan
Anwar Das menyimaknya dengan perhatian yang penuh kewaspadaan.
“Dan jika rakyatnya hidup dalam ketakutan terhadapnya, maka
pikirkan betapa lebih buruknya bagiku! Putrinya, anak satu-satunya,
yang dalam kegilaannya ia benci dan ia anggap hina. Dalam ke-
marahannya, ia akan menendang dan memukulku. Meski begitu, yang
www.facebook.com/indonesiapustaka

terburuk dari semuanya adalah kata-katanya. Ia menyebutku pelacur


jelek. Ia mengatakan bahwa tak seorang lelaki pun yang akan pernah
menginginkanku, karena emasnya, mas kawinku, akan tetap selamanya
di istana, ditimbun dengan hati-hati.
“Seolah menggiling wajahku dalam luka ini, ia akan memerin-
tahkanku untuk menghabiskan waktu berhari-hari dalam lemari besi

174
Kota Sutra dan Baja

emasnya yang besar di bawah istananya, menggosok banyak hartanya


tanpa akhir. Ada lebih banyak emas dalam lemari-lemari besi itu
daripada yang pernah aku hitung. Yang kau lihat di sini hanyalah se-
perseribu bagiannya.
“Satu hari, ayahku memanggilku ke ruang singgasananya, sikapnya
bahkan lebih liar daripada biasanya. Ia telah memutuskan seluruh
emasnya harus dilelehkan dan akan dibuat menjadi patung raksasa
untuk kemuliaannya yang abadi. Pekerjaan itu akan dimulai segera.
Tak ada yang bisa menghalanginya. Meskipun rakyatnya sendiri tidak
punya roti, meskipun anak-anak mereka kelaparan di jalan-jalan, ia
akan memiliki patung emasnya, memamerkan kekayaannya di atas
kemiskinan yang menghancurkan kotanya.
“Ia memerintahkan api peleburan raksasa dinyalakan, dan siang
maupun malam ia memerintahkan para pekerja yang enggan untuk
membawa emasnya ke api itu dan melelehkannya. Ia mengawasi
sendiri kemajuan pekerjaan itu dari balkon istana, dan setiap orang
yang tertangkap basah olehnya sedang mencuri, atau bahkan bekerja
dengan langkah yang lebih pelan daripada yang ia suka, akan dihukum
dengan siksaan-siksaan yang paling memilukan.
“Ia juga memaksaku bekerja. Aku rasa ia melihatnya sebagai
penghinaan paling rendah, dan ia benar. Melihat mas kawinku dan
warisanku dibuang demi menyenangkan lelaki gila ini memualkan
perutku. Juga mengubah pikiranku. Dengan pelan, rasa malu dan
penderitaanku mengeras menjadi kemarahan. Pandangan ayahku
pernah mengecutkan dan menakutkanku. Kini aku meludah ketika
menyebut namanya. Keteguhan hati tumbuh di dalam diriku bahwa
tiraninya tidak akan bertahan lebih lama lagi. Ia telah menghancurkan
hidupku begitu lama. Dan hukuman apa yang lebih baik, aku berpikir,
daripada hukuman yang cocok dengan kejahatan itu? Akhir apa
yang lebih cocok daripada akhir yang ia tempa pada dirinya sendiri
bertahun-tahun lalu?
www.facebook.com/indonesiapustaka

“Tidak sulit untuk menyelipkan sedikit emas yang meleleh ke dalam


mangkuk batu ketika aku sedang bekerja. Aku berlari mendatanginya
di kamar tidurnya, menemukan ia sedang tidur, menuangkan cairan
kental ke tenggorokannya. Kalian akan mengira aku seorang putri yang
gila, dan memang begitulah aku, mungkin, tapi memang kenapa? Luka
yang aku derita memerlukan pembukaan.

175
Mike, Linda, dan Louise Carey

“Aku berencana kabur saat itu; aku berbalik dan melangkah ke


arah pintu. Tapi emas di dalam mulut ayahku membakarnya ketika
meluncur ke saluran udaranya. Ia terbangun, terbatuk-batuk logam
yang sudah mengental, tersedak emas dan darah ketika cairan yang
terbakar memakannya dari dalam ke luar. Sama keji dan ironis dengan
salah satu kutukannya sendiri: akhir yang pantas untuk seorang yang
kikir.
“Ketika bunyi ia terbangun aku berbalik, dan itulah kesalahanku.
Karena aku melihatnya mengutukku dengan matanya. Aku sempoyongan
ke depan, dan tangannya yang kuat memegang pergelangan tanganku.
Sentuhannya membakar kulitku, seolah emas yang mendidih menyebar
ke ujung-ujung jarinya. Dengan menjerit, aku melepaskan diri, tapi
tidak sebelum tangannya mengecapku di tempat ia mencengkeramku.
Lihat tanda yang aku tanggung masih ada!”
Perempuan itu mengangkat lengan bajunya dan menunjukkan
para bandit yang terkesima tanda tangan laki-laki itu, bertanda dalam
warna emas menyala di atas warna cokelat lengannya yang lebih kusam.
Seperti satu orang, mereka menarik napas.
“Aku lari dari kamar itu,” katanya, “dalam ketakutan akan apa
yang telah aku lakukan dan pada janji mengerikan yang aku lihat di
wajah sekarat ayahku. Aku mencapai gerbang-gerbang istana, dan dua
pengawal yang sedang bertugas di sana melangkah maju, bermaksud,
mungkin untuk menanyai urusanku di malam yang begitu larut itu.
Dalam keinginan liarku untuk kabur, aku mendorong mereka dengan
kasar dan terus berlari.
“Bunyi gedebuk yang ditimbulkan tubuh pertama ketika jatuh yang
membuatku membeku di jalanku.
“Aku berbalik, penuh dengan ketakutan yang merayap pelan, melihat
tentara pertama yang kau sentuh tergeletak di tangga-tangga istana,
hangus dalam kematian. Temannya sedang mengalami perubahan yang
menyakitkan. Di depan kedua mataku yang ketakutan, perisainya yang
www.facebook.com/indonesiapustaka

aku sentuh berubah menjadi emas, warna terang yang menyebar dengan
cepat melalui benda itu seperti demam. Mengalir pada baju zirahnya, ke
helm, turun ke ujung pedangnya hingga keseluruhan dirinya bersinar.
Pada saat yang sama, tubuhnya menjadi kaku, kulitnya sepucat mayat,
dan ia melihatku penuh kebencian, yang mengentalkan darah di urat
halusku dan membakar jantungku dengan kesedihan.

176
Kota Sutra dan Baja

“Aku meninggalkan dua lelaki di tempat mereka jatuh, dan berlari


menangis dari kota itu. Aku telah berkelana di padang pasir ini sejak
itu, menghindari pertemuan dengan manusia dalam tahun-tahun ini
karena takut kekuatanku yang aneh dan ketakutan akan kekuatan itu
bekerja.
“Dan itulah kisah bagaimana ayahku memberikan sebuah kutukan
untuk mas kawinku, yang aku rasa pantas aku dapatkan. Ia meng-
hukumku seperti aku menghukumnya, dengan siksaan yang cocok
dengan kelakuan burukku. Aku membunuhnya dengan emas, dan
sekarang aku tercemar sentuhan yang bisa membawaku pada kekayaan
yang luar biasa dan kematian yang tak bisa dihindari. Semua itu logam,
kontak paling langsung dengan kulitku akan berubah menjadi emas
murni—dan semua yang hidup, sentuhan yang sama akan membunuh
pada satu serangan.
“Tangan-tanganku berdarah dengan nyawa tiga manusia, dan
perasaan dosaku lebih luas daripada gurun pasir ini. Namun aku
mungkin mengubahnya menjadi lautan dengan tangisanku, dan tidak
mengembalikan gelas waktu. Semua berlalu, seperti kehendak Sang
Pencipta, baraha barahinei, dan aku tidak bisa membatalkan kejadian-
kejadian yang telah aku lakukan. Itu juga, adalah kutukan, satu yang
harus aku tanggung sendiri. Dan aku begitu, begitu kesepian!”
Perempuan itu mengakhiri kisahnya seperti ketika ia memulai,
dengan ledakan tangisan yang keras. Salah satu penjahat bergerak
untuk menepuk punggungnya, kemudian mundur ketika ia ingat akan
menjadi apa dirinya jika ia mencobanya. Mereka semua benar-benar
takjub. Siapa pun yang mungkin meragukan kisahnya akan diyakinkan
secara penuh dengan adanya lima bangkai anjing dan tumpukan emas.
Beberapa mulai menanggalkan pedang-pedang dan belati-
belati mereka sebelum perempuan itu bahkan selesai bicara, dan
meletakkannya di tumpukan kecil di sisinya. Kini, mereka memandangi
perempuan itu dengan campuran aneh belas kasihan dan hasrat ketika
www.facebook.com/indonesiapustaka

Yusuf Razim melangkah maju, membungkuk dengan hormat.


”Kisahmu benar-benar menggugah, Yang Mulia. Saudara-saudara-
ku dan aku bersimpati untuk semua yang telah kau derita.”
Perempuan itu mendengus dengan sedih. ”Terima kasih,” katanya.
Yusuf batuk sekali atau dua kali, terpesona dan kasihan kalah bertempur
dalam pikirannya melawan kerakusan dan nafsu berahi yang menyusun

177
Mike, Linda, dan Louise Carey

sebagian besar zona nyamannya. Ia meneruskan basa-basi sebanyak


yang ia mampu: bahkan para penjahat memiliki harga diri.
“Berarti tak ada serangan, Yang Mulia. Aku rasa kau tidak harus
mematuhi kami dengan memberikan keuntungan-keuntungan
kekuatanmu atas saudara-saudaraku dan diriku?”
“Tak ada yang memberiku kebahagiaan yang lebih besar. Kalian
begitu baik kepadaku!”
Anwar Das tampak gelisah, dan menahan lengan Yusuf dengan
tangannya.
“Kakak, aku tak yakin itu bagus—”
“Tutup mulut, Das.”
“Setidaknya biarkan salah satu dari kita tetap memegang pedang,
siapa tahu dia berbohong.”
“Betapa beraninya kau ragukan kejujurannya! Selain itu, apakah
kau gila? Dengan cara itu kita mendapatkan lebih sedikit emas!”Dengan
gerakan tidak sabar, Yusuf Razim menyentak pedang Anwar Das dari
genggamannya yang kuat dan melemparkannya ke kaki perempuan itu.
Dengan segera, ia mengangkat mukanya, semua jejak air matanya
menghilang.
“Berhasil, teman-teman!”katanya.
Sebelas penjahat itu tampak bingung. Das kelihatan takut. Ia me-
lompat mengambil pedangnya dan pada saat yang sama tampak seperti
pasukan perempuan berhamburan dari batu-batu di sekeliling dan
mengejar mereka dari segala penjuru.
“Itu sebuah jeba—”ia mulai berteriak. Kemudian sebuah tinju atau
sebuah pentungan menghantam bagian belakang kepalanya, dan untuk
sementara setidaknya ia tidak terganggu urusan-urusan duniawi.

Para perempuan membanjiri lembah para pencuri, bercakap-cakap


dengan gembira. Mereka sangat senang dengan keberhasilan mereka,
dan bersorak untuk Bethi, gadis pelayan yang menjalankan tipuan
www.facebook.com/indonesiapustaka

yang memesona itu. Ia tersenyum kepada mereka, menggunakan ujung


bajunya untuk menghapus tanda tangan yang digambar Farhat dari
lengannya dengan cat kehal.
Ketika Zulaika mengusulkan agar mereka membunuh beberapa
anjing untuk lebih meyakinkan cerita, para perempuan lain berpikir
hal itu tak mungkin. Tapi sang pembunuh memiliki sebuah botol kecil
yang berisi cairan jernih dalam sebuah kantong berenda di bawah
178
Kota Sutra dan Baja

tasnya, dan begitu mereka memberikan beberapa tetes ke lima daging


unta mentah, mereka segera dipersembahkan ke lima bangkai anjing
tanpa tanda di atasnya, korban-korban yang cukup masuk akal karena
sentuhan maut Bethi. Issi dan Zeinab sedikit memprotes kemungkinan
membunuh seekor unta, tapi dengan hampir empat ratus unta yang
mengikuti, mereka setuju mengorbankan satu.
Kini mereka mulai menguasai lembah itu, para perempuan dan
penuntun unta bergiliran mencuci di kolam itu, melepas jeritan kecil
kelegaan dan kesenangan. Kemudian mereka mengisi kantong-kantong
air kulit dari mata air ketika air mengalir di atas batu-batu bundar.
Setelah tanpa ragu-ragu mengendus udara lembap di dalam gua,
mereka memasang tenda-tenda sedekat mungkin dengan mulut gua
dan, meninggalkan sekelompok kecil untuk menjaga para pencuri,
mengambil risiko di dalam.
Setelah dijelajahi ternyata gua itu bukan cuma satu melainkan satu
jaringan besar, menembus pegunungan yang bisa bermil-mil jauhnya.
Anak-anak perempuan yang lebih berani berlari di dalam dengan
teriakan kegirangan, memanggil-manggil untuk mengetahui bagaimana
suara mereka bergema. Di mulut gua, Jamal dan teman-temannya mulai
bermain petak umpet, sementara perempuan-perempuan yang lebih tua
mengawasi dengan ketat untuk memastikan mereka tidak menyimpang
terlalu jauh.
Terpisah dari kelompok lelaki yang dijaga kelompok bersenjata
di sebuah ruangan kecil di gua utama, pemandangan tampak seolah
sebuah sore santai di rumah seraglio. Tawa dan percakapan, seperti tak
pernah terdengar sejak mereka pertama kali dikirim ke padang pasir,
lepas di udara.
“Kau tahu kita akan melakukan sesuatu terhadap mereka,” Zulaika
berkata kepada Gursoon ketika mereka mengumpulkan kayu untuk api
unggun. Ia menyentakkan kepalanya ke arah para bandit.
“Aku tahu,” Gursoon mendesah, “tapi lihat semua orang sekarang.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Akan sangat menyedihkan mereka ketika kita mengatakan kepada


mereka. Mereka perempuan-perempuan yang baik, Zulaika, dan berani
juga, tapi bukan sifat mereka untuk menjadi kejam. Biarkan mereka
malam ini setidaknya untuk merayakan—dan biarkan pembunuhan,
jika pembunuhan itu harus terjadi, hingga besok.”

179
Mike, Linda, dan Louise Carey

Kisah-kisah yang
Penerapannya Paling Taktis:
Anwar Das

Kini di antara para pencuri ada seorang Anwar Das yang memiliki
banyak kebaikan dalam dirinya: ia tidak pandai membunuh, dan kadang
membujuk teman-temannya untuk tidak melakukan pembunuhan sia-
sia dengan menggunakan argumen pragmatis bahwa hal itu menghalau
bisnis yang berulang.
Biasanya Anwar Das memenangkan perdebatan. Ia memiliki
pemikiran yang tajam dan lidah yang fasih—yang akhir terlatih di
Ibu Kim, di mana dalam perjalanan masa mudanya yang terbuang
secara menyedihkan ia menjalani cara hidup sebagai seorang penjudi
profesional. Berkat kefasihannya, sifat meyakinkannya dan daya tarik-
nya, ia bisa keluar hidup-hidup; di Ibu Kim, mari jangan kita lupakan,
para penjudi yang kecewa dan merasa ditipu kerap akan memotong
bagian tubuh tersangka penipu sehingga mereka akan mengenalinya
www.facebook.com/indonesiapustaka

ketika mereka bertemu dia selanjutnya.


Sepanjang hari setelah kekalahan dan penangkapan mereka oleh
para perempuan, Anwar Das merenungkan kemungkinan nasibnya—
dan, untuk kadar yang jauh lebih rendah, nasib para temannya. Ia
ingin hidup untuk melihat subuh baru, tapi jelas baginya bahwa

180
Kota Sutra dan Baja

para perempuan ini buronan dari sesuatu, berusaha menghindari


pengejaran. Dalam situasi seperti ini, ia harus mengakui sangat
masuk akal bagi mereka untuk membunuh para pria sekaligus, dan
dengan demikian menghindari setiap kemungkinan yang mungkin
membahayakan tempat perlindungan mereka yang sulit.
Ia berusaha memikirkan beberapa siasat yang mungkin menyela-
matkannya, tapi inspirasi tidak muncul. Sementara itu, ketika para
perampok lain bergumam satu sama lain dengan penuh amarah tentang
apa yang bakal mereka lakukan terhadap para pelacur ini jika mereka
punya kesempatan untuk menguasai, Anwar Das bercakap-cakap
dengan para pengawal mereka—yang sering berganti-ganti—tentang
asal mereka, petualangan mereka dan alasan mereka berada di benteng
pegununan yang terpencil.
Sebagian besar perempuan itu juga terlalu ingin bicara. Anwar
Das tampan dan juga penuh perasaan. Jika menempatkan diri, ia bisa
menggunakan pesonanya kepada siapa pun untuk melakukan apa yang
ia inginkan. Ia memiliki rambut pirang, sebuah kelangkaan di kawasan
tersebut pada masa itu dan juga kini, wajah yang bagus, dan mata seperti
sumur di mana seorang perempuan bisa melihat bayangan dirinya
sepuluh kali lebih cantik dibanding yang sebenarnya. Dalam beberapa
hal, pesona dan ketajaman otaknya menjadi modal dalam berbisnis.
Rasanya seperti kemunduran ketika ia akhirnya membuat Ibu Kim
terlalu panas untuk menahannya dan harus bergabung dengan para
penjahat, yang idenya tentang kecerdasan adalah mengatakan “lihat
di belakangmu”sebelum mereka memukul kepalamu dengan sebuah
pentungan.
Jadi para perempuan tersebut menuangkan isi hati mereka, atau
setidaknya sejarah mereka baru-baru ini, dan Anwar Das menyimak
dengan perhatian yang menyanjung, kadang-kadang melemparkan
sebuah kata seru dari variasi “bagaimana kau harus menderita”.Ia tidak
bangga pada dirinya karena melakukan ini: para perempuan itu masih
www.facebook.com/indonesiapustaka

bingung karena keruntuhan seluruh hidup mereka baru-baru ini, dan


penuh ketakutan untuk menendang. Penjagaan mereka lemah.
Hanya seorang yang bertubuh tinggi dan liat dengan mata yang
bengis menolak masuk dalam umpan Anwar Das, dan tak ada kata-kata
yang diberikan kepada Anwar. Bahkan tidak juga namanya, meskipun
ia tahu dari perempuan-perempuan lain bahwa ia Zulaika. Ia pastilah

181
Mike, Linda, dan Louise Carey

orangnya, pikir Anwar—orang yang akhirnya memberi perintah


untuk menggorok, atau lebih mungkin yang melakukan pekerjaan itu
sendiri. Bagaimanapun, ia memiliki penampilan itu: tatapannya yang
menghitung dengan dingin semua yang ia lihat, dan tidak menciut dari
penghitungan itu betapa pun hasilnya.
Jadi bagaimana memenangkan pengampunan dari para perempuan
itu, ketika keberadaan mereka bergantung, untuk saat itu, pada prag-
matisme yang kejam?
Ia mempertimbangkan rayuan verbal: salah satu penjaga mungkin
bisa dibujuk dengan kata-kata manis dan uluran cinta untuk memotong
ikatannya dan membebaskannya. Tapi ia masih harus keluar dari gua
itu, melalui banyak ruang yang pastinya sekarang ini dipenuhi para
perempuan. Pasti ada para penjaga lain yang bertugas di satu tempat
di terowongan-terowongan—karena Zulaika ini, setidaknya, tidak
bodoh—dan kemungkinan mereka akan menghabisinya dengan cepat.
Kabur massal, kalau begitu? Melepaskan ikatan tangannya sendiri,
kemudian membebaskan teman-temannya dan berusaha mencari
jalan keluar? Tapi jumlah mereka kalah jauh, dan tak peduli apa pun
yang terjadi, pertumpahan darah, begitu dimulai, akan memainkan
logikanya sendiri. Bahkan jika mereka bisa kabur, mereka akan pergi
dengan darah di tangan mereka, dan mereka mungkin akan diburu,
dibunuh, dibantai seperti anjing-anjing.
Tipuan-tipuan yang Anwar Das buat untuk mencari nakah, dulu
di Ibu Kim, sebagian besar bergantung pada membuat tanda melihat
sesuatu yang tidak benar-benar terjadi, atau membuat dia gagal melihat
sesuatu yang benar-benar ada. Ia harus melakukan hal yang sama di
sini, dalam satu cara, tapi tanpa dukungan properti. Ia harus melakukan
tipuan dengan kata-kata saja.
Saat matahari terbenam para penjaga datang dan membawa mereka
ke luar dari lubang pasokan ke ruang yang lebih besar di mana, pada
saat-saat yang lebih bahagia, mereka biasa menikmati makan malam
www.facebook.com/indonesiapustaka

mereka. Ruang itu dingin, bahkan di hari-hari yang sangat panas, dan
memiliki lubang asap besar dan jika orang berbaring di malam hari
bisa melihat roda bintang-bintang di langit.
Para penjahat disuruh berlutut, dan perempuan tinggi itu berjalan
bersama barisan mereka. Banyak perempuan lain berderet di dinding-
dinding ruangan itu, memperhatikan mereka dari seluruh sisi. Anwar

182
Kota Sutra dan Baja

Das bisa merasakan ketegangan mereka. Ia memperhatikan seseorang


secara khusus—lebih tua dari kebanyakan yang lain dan dengan
semacam otoritas dalam sikapnya. Ketika ia mengangkat tangan, semua
percakapan di ruangan itu berhenti.
“Apa pun yang kita putuskan,” kata Zulaika dalam keheningan itu,
“kita putuskan sekarang, tanpa perdebatan. Bukan belas kasihan untuk
membiarkan para lelaki ini tetap hidup dengan nasib mereka dalam
timbangan, disiksa harapan sebanyak keputusasaan. Pilih sekarang,
dan biarkan itu diselesaikan. Jika pilihan itu untuk kematian, aku akan
melakukannya sendiri—dan akan memberikan para pencuri ini belas
kasihan yang sama dengan yang aku tunjukkan kepada para raja dan
bangsawan. Aku akan membunuh masing-masing dari mereka dengan
cepat dan bersih, dengan sekali serangan. Ketika itu selesai, aku akan
membutuhkan dua puluh kelompok untuk membantu mengubur
mereka.
“Jika keputusannya untuk hidup, ingat-ingat bahwa bahkan jika
salah satu dari orang-orang malang ini lolos, ia akan langsung pergi
ke kota terdekat dan menceritakan apa yang terjadi di sini. Bisikan
berantai akan dimulai pada saat itu, dan dalam waktu beberapa hari
atau beberapa minggu, akan mencapai telinga Hakkim. Pada saat itu,
kita semua dibantai seperti kerbau, leher mereka sudah disembelih,
tapi masih berdiri dan percaya mereka masih hidup.”
Gambaran dingin itu menimbulkan kecemasan di seluruh ruangan,
dan Anwar Das melihat dalam wajah-wajah yang mengelilinginya
berpuluh-puluh pengampunan dengan cepat digagalkan.
Perempuan yang lebih tua mengerutkan dahi. “Aku tidak suka
membayar kebebasan kita dengan mata uang kekejaman,” katanya.
“Mengapa tidak?”tanya Zulaika dengan kasar. “Percaya padaku,
Gursoon, itu mata uang yang paling lazim digunakan.”
“Lalu mengapa kita bersusah payah mencabut nyawa orang-orang
ini?”
www.facebook.com/indonesiapustaka

“Untuk menghemat jumlah kita sendiri,” kata Zulaika. “Bukan


untuk alasan lain.”
Mereka saling memandang untuk beberapa saat.
“Jadi, pengambilan suara,” kata perempuan yang lebih tua akhirnya.
“Hidup atau mati. Tapi kau tidak akan menjalaninya sendirian, Zulaika.
Semua yang memilih harus siap untuk mengotori tangan mereka

183
Mike, Linda, dan Louise Carey

dengan darah, bukan tangan orang lain. Kita akan mengundi. Dua
puluh leher, dua puluh tangan untuk memotong mereka. Jadi masing-
masing kita memiliki peluang yang sama atas akibat dari pembunuhan
ini.”
Zulaika menyetujuinya dengan sebuah anggukan pendek. “Aku
pilih mati,” katanya. “Semua yang setuju denganku . . .”
“Aku ingin bicara!”Anwar Das berteriak dalam suara yang me-
lengking. Semua mata tertuju padanya, dan ia melanjutkan bicara
tanpa jeda. “Para nyonya terhormat, aku mohon pada kalian untuk
mengizinkanku berbicara. Aku menyimpan kata-kata di dalam dada
yang harus aku ungkapkan. Dan karena, jika aku dengan bijaksana
menunggu musyawarah kalian, aku mungkin sedikit terhalang dengan
leherku terpenggal, mungkin inilah kesempatannya.”
“Diam,” Zulaika membentaknya dengan keras.
“Tidak, biarkan ia bicara,” Gursoon menentang, dan ada gumaman
persetujuan dari seluruh ruangan. Anwar Das senang melihat rayuannya
hari itu berhasil. “Apa yang ingin kau katakan kepada kami?”
Anwar Das bangkit dan berdiri. Dengan tangan terikat di belakang
punggungnya, tidak mudah, tapi ia merasa ia membuat postur lebih
baik dengan berdiri daripada berlutut. Jelas dari pandangan-pandangan
muram yang ia lihat pada banyak wajah bahwa ia tidak sendirian
dalam pendapat itu. Tapi pandangan mereka layu, bukan pandangan
mengagumi; para perempuan itu berpikir ini buang-buang waktu, yang
berarti mereka pasrah dengan kematiannya.
“Ia hanya ingin memohon nyawanya diselamatkan,” kata Zulaika
tak sabar. “Setiap orang akan membuat janji-janji ketika takut akan
kematian, dan kemudian ia akan melanggarnya. Jangan dengarkan.”
“Sebuah pengakuan,” kata Anwar Das, kepada seluruh ruangan.
“Aku telah melakukan hal-hal yang buruk, dan kini, ketika aku me-
ninggalkan hidup ini, aku tak ingin membebani hati nuraniku. Izinkan
aku melakukannya, Nyonya-nyonya, dan aku akan mati dengan hati
www.facebook.com/indonesiapustaka

yang ringan. Aku tak akan memohon untuk hidup. Jauh dari situ! Aku
pantas mendapatkan kematian tidak lebih dari tiga kali, dan hanya
berharap bisa mengatakan caranya kepada kalian.”
Gursoon melihat ke seluruh ruangan. Kebanyakan perempuan
mengangguk atau menggumamkan persetujuan. Tampaknya ini per-
mintaan masuk akal, dari seorang lelaki muda yang berwajah tampan

184
Kota Sutra dan Baja

dan berpenampilan menarik, yang waktunya di atas bumi akan diper-


pendek dengan begitu tragis.
“Lanjutkan,” kata Gursoon kepadanya. “Tapi singkat saja.”
“Aku minta kedua tanganku dibebaskan,” kata Anwar Das. “Aku
memberimu janjiku, aku tidak akan kabur atau menyerang siapa pun
di sini.”
Ia berbicara kepada Gursoon, dan Gursoon mengangguk. Zulaika
memutar matanya, tapi pergi ke belakang Anwar Das dan memotong
tali yang mengikat kedua tangannya.
“Jika kau menyerang,” ia bergumam padanya, “kau akan membuat
ini lebih cepat dan lebih mudah. Kau akan mati sebelum dua tarikan
napas.”
“Terima kasih, Nyonya,” kata Anwar Das, mengurut-urut perge-
langan tangannya yang bengkak. “Ketulusanmu kuhormati.”
Dia berdiri tegak dan memulai ceritanya.
www.facebook.com/indonesiapustaka

185
Mike, Linda, dan Louise Carey

Kisah Lelaki yang


Pantas Mati Tidak Lebih dari
Tiga Kali

“Pernah ada seorang pemuda,” kata Anwar Das.” Ia lahir dari keluarga
bangsawan dan baik-baik, jujur dan tampan, namun sayangnya ditandai
nasib buruk karena kemalangan yang tak terduga dan keji.”
Ada pergeseran dan perubahan susunan di antara para selir. Be-
berapa duduk, menyilangkan kaki mereka dan bertopang dagu.
“Jangan melantur,” Zulaika berkata pendek dan cepat, tapi seruan
ini disambut pandangan mencela dari banyak tempat, dan Anwar Das
merasa cukup dukungan untuk melanjutkan cerita.
“Pemuda ini,” katanya, “adalah putra seorang pedagang besar
di kota Yrtsus. Dan ketika aku katakan seorang pedagang besar, aku
tidak bermaksud sekadar orang kaya. Isulmir Das memiliki hati yang
baik, dan selalu memikirkan orang-orang yang kurang beruntung di-
banding dirinya. Ia memegang pendapat ini: bahwa tugas suci zakaad,
www.facebook.com/indonesiapustaka

memberikan zakat, adalah yang paling penting dalam perintah-


perintah yang diberikan kepada kita oleh Sang Pencipta. Ia tidak
pernah melewatkan mangkuk pengemis tanpa memberkatinya dengan
perak. Tak pernah mencurangi seorang pedagang. Tidak pernah tawar-
menawar dengan berbohong atau menipu orang-orang yang berbisnis

186
Kota Sutra dan Baja

dengannya. Mengapa, aku pernah melihatnya mengembalikan satu


tong brandykepada seorang pedagang anggurkarena keliru dikirimkan
kepadanya ketika ia hanya memesan bir kecil. Kekeliruanmu, ia katakan
kepada laki-laki itu, tidak membahagiakanku, atau kerugianmu bukan
keuntunganku.”
Zeinab, yang ayahnya seorang pedagang anggur, mengangguk
penuh semangat setuju dengan penilaian ini.
“Namun sayang!”Anwar Das menarik napas panjang. “Kebajikan
akan dibalas di Surga, selama di Bumi kebajikan diinjak-injak setiap
hari oleh kebatilan yang berjaya. Ayahku—maaf, aku maksud pedagang
itu, tentu saja—dibunuh seorang bangsawan jahat, Yang Paling Di-
sanjung Nilaf Brozoud, yang membenci kebaikannya dan iri atas harta
miliknya. Lebih buruk lagi! Putranya yang tidak bersalah dituduh atas
pembunuhan ayahnya. Jadi bukan hanya kehilangan satu orang tua, ia
juga bersalah di mata dunia atas kejahatan paling busuk yang pernah
ada—pembunuhan ayah! Ia kabur ke padang pasir tanpa membawa
apa pun kecuali baju yang ia kenakan saat itu, hanya satu inci dari
gerombolan pemburu, yang mengejarnya dengan pedang-pedang
dan pentungan dan, jika mereka menangkapnya, akan dengan cepat
membunuhnya.”
Para selir antusias. Zulaika mengetuk-ngetuk dan meraba-raba
pisaunya. Gursoon tampak geli, tapi tidak ikut campur ketika pencuri
unta itu cukup masuk ke dalam langkahnya.
“Kasihan dia!”ia berteriak. “Pemuda terhormat ini, berani tapi
belum berpengalaman, hanya cukup dewasa untuk memakai janggut.
Terlempar pada belas kasihan dunia, begitulah dia. Tangan setiap orang
menolaknya, dan setiap pintu tertutup di mukanya. Ia berkelana lama
di padang pasir, di teriknya hari, lidahnya kering, air mata kesedihan
kanak-kanaknya menguap tanpa terjatuh dari matanya.”
Sampai di sini, Zulaika tidak bisa menahan makian kotornya, tapi
Anwar Das meneruskan ceritanya.Tatapannya bergantian dari satu
www.facebook.com/indonesiapustaka

perempuan ke perempuan lain, selalu menahan satu tatapan hingga


ia menerima beberapa isyarat respons. Kehilangan, sendirian, makin
dekat dan makin dekat pada kematian. Dan pada akhirnya jatuh di
antara para pencuri, yang berkeliaran ke sana kemari di gurun barat dan
menganggap semua yang datang adalah mangsa mereka yang menjadi
hak mereka.

187
Mike, Linda, dan Louise Carey

“Mereka telah membunuh pemuda itu. Ia tidak punya cara untuk


mempertahankan diri lagi, dan bajunya, meskipun compang-camping
dan kotor sekarang, terbuat dari bahan yang bagus. Itu sudah cukup
untuk mengutuknya di mata mereka, dan tentu saja—Vurdik sang
Pemberani yang keji—mengangkat pedangnya di atas kepala pemuda
itu dan akan memenggalnya.
“Tapi sang Pencipta menyaksikan semua kejadian, baraha barahinei,
dan pada saat itu Ia mengirim sorot cahaya ke jiwa gembong penjahat
itu, sehingga ia terhantam rasa kasih sayang yang tidak lazim. Alih-alih
memotong-motong pemuda itu menjadi empat, ia mengambil kantong
air kulitnya sendiri dari ikat pinggangnya dan menyuruhnya minum
dari situ.”
“Sebuah cara bagus untuk mendapatkan semua penyakit yang
menjijikkan,” Zulaika membelasut. Perempuan terjauh dari garis
pandangnya menyuruhnya diam dengan marah, tapi terdiam ketika
ia melihat ke arah mereka.
“Mereka menjadikannya salah satu dari kelompok,” kata Anwar
Das. “Dan meskipun pada dasarnya ia kecut dengan tindakan-tindakan
buruk yang dilakukan para bajingan ini untuk memperoleh nakah
sehari-hari, tetap saja ia berutang nyawa pada mereka, dan ia membayar
utang tersebut dengan ikut serta dalam pemangsaan mereka.”
“Mulai terdengar seperti permohonan untuk pembelaan,” kata
Gursoon dengan keras.
“Tidak sama sekali, Nyonya,” Anwar Das memprotes. “Ini, seperti
yang aku katakan, adalah pengakuanku—dan di sinilah kita telah sampai
pada dosa berat pertama. Pemuda itu dibangkitkan untuk menghargai
hidup dan menghormati harta kekayaan, dan kini ia menjadi seorang
penjahat, seorang yang busuk, seorang pencuri yang berakhlak rusak
dan sembrono, menggunakan barang-barang dan mata pencarian para
tetangganya dan berbahagia di atas kemalangan mereka. Tidakkah ini
buruk? Namun, pilihan apa yang kita punya, karena menentang para
www.facebook.com/indonesiapustaka

penjahat yang telah menemukannya berarti kematian yang pasti di


tangan mereka?
“Dan lagi pula, harapan tumbuh dalam dadanya bahwa jika ia bisa
selamat, ia bisa memperoleh keadilan—kembali ke kotanya yang me-
lahirkan dia dan mengejutkan lintah darat paling buruk, Nilaf Brozoud,
yang membunuh ayahnya yang tak berdosa.”

188
Kota Sutra dan Baja

“Kau bilang Nilaf Brozoud seorang bangsawan,” Zulaika ber-


komentar.
Anwar Das mengangguk. “Memang ia bangsawan. Tapi ia juga
meminjamkan uang dengan bunga. Itulah sumber kekayaannya. Juga
. . .” ia berusaha mengingat apa yang ia pelajari dari percakapannya
dengan para perempuan “. . . ia memincangkan kaki-kaki kuda agar
bisa meminta ganti rugi kepada para tukang kuda yang tak bersalah,
dan menaikkan pajak pada kain yang membangkrutkan tukang jahit di
Yrtsus dan menyebabkan penderitaan paling mengerikan bagi keluarga
mereka yang tak berdosa.”
Desahan kemarahan dan gumaman rasa benci dari para perempuan
yang berlatar belakang istal dan mesin jahit.
“Pemuda itu ingin sekali menghadapi lelaki ini—lebih mirip
monster hina ini—dan menyalahkannya atas segala kejahatannya. Dan
begitulah satu hari, ketika ia telah menghabiskan waktu setahun ber-
sama para penjahat, ia mengucapkan selamat tinggal kepada mereka
dan berangkat menyeberangi pegunungan ke Yrtsus, bertekad pada
akhirnya untuk membalas kematian ayahnya yang hebat. Para penjahat
itu menawarkan untuk menemani pemuda tersebut dan menjadikan
pertempurannya sebagai pertempuran mereka sendiri. Tapi ia berterima
kasih kepada mereka dan mengatakan ia tidak ingin teman-temannya
masuk dalam bahaya demi dia.
“Namun di pegununan, bahkan jika seseorang memiliki peta,
sangat mudah untuk tersesat. Pemuda itu menyimpang dari jalurnya,
dan segera dibingungkan oleh banyak puncak dan lembah, semua
sama, dengan banyak perbukitan. Ketika malam turun ia sendirian dan
tanpa perlindungan, dan sebuah badai pasir lebih besar daripada yang
pernah disaksikan siapa pun di Bumi pada saat itu datang dari utara,
mendorongnya—tanpa disadari sama sekali—bahkan lebih jauh dari
jalannya.
“Tersengat dan dibutakan pasir, nyaris mati karena kelelahan dan
www.facebook.com/indonesiapustaka

kehausan, pemuda itu akhirnya jatuh berlutut dan kemudian jatuh


tak berdaya. Pada saat itu, ia mengalah pada keputusasaan—dengan
demikian, Nyonya-nyonya yang manis, pantas mati untuk kedua
kalinya.Karena pada saat putus asa, kita memunggungi belas kasihan
Sang Pencipta dan menduga, tentunya selalu salah, bahwa Ia tidak

189
Mike, Linda, dan Louise Carey

punya rencana bagi kita. Pemuda itu mengutuk nasibnya, dan sehingga
membuktikan dirinya tak layak untuk penyelamatan atau penebusan.
“Tapi meskipun ia meninggalkan Sang Pencipta, Sang Pencipta
tidak meninggalkannya. Ujung-ujung jarinya, ketika ia terbaring
di sana dengan wajah tertelungkup ke pasir seperti seorang anak di
atas payudara ibunya, menyentuh sesuatu yang dingin dan keras.
Mengeluarkannya dari pasir, ia menemukan sebuah botol.
“Pemuda itu, seperti yang aku katakan sebelumnya, hampir mati
karena kehausan. Jadi ia menarik penutup botol, yang berpikir bahwa
mungkin botol itu berisi air, dan betapa herannya ia, yang keluar dari
kurungan kristal itu adalah—”
“Jin!”Zulaika menggerutu muak. “Ia sedang menceritakan kepada
kita kisah tentang jin di dalamnya. Makhluk yang hidup di dalam botol
dan mengabulkan permohonan-permohonan. Ayolah, biarkan aku
membunuhnya sekarang!”
“Itu bukan jin,” Anwar Das mengatakan dengan martabatnya,
meskipun itulah yang hampir ia katakan. “Tolonglah, Nyonya, jangan
ada lagi interupsi. Keluar dari kurungan kristal itu, sepasukan tentara
manusia yang sangat kecil. Manusia seukuran semut, yang suaranya
begitu kecil dan begitu melengking sehingga pemuda yang terheran-
heran tidak mengerti apa yang mereka katakan. Namun, dengan cerdas
mengatur diri mereka menjadi bentuk-bentuk huruf dan kata-kata,
mereka berusaha berbicara dengannya.”
Inilah usaha terbaik yang Anwar Das bisa lakukan tanpa berpikir
panjang, mengelak dari jinnya.Tapi para perempuan itu tampaknya
tertarik dengan perkembangan yang tidak masuk akal itu, setidaknya,
dan bersiap menggulirkannya untuk sementara.
“Para prajurit kecil itu mengatakan kepada pemuda tersebut bahwa
mereka adalah legiun yang hilang dari Jugul Inshah, yang dikirim
melawan para penyihir Treis di masa ketika dunia baru saja diciptakan
dan sentuhan Sang Pencipta masih segar, sehingga segalanya meneteskan
www.facebook.com/indonesiapustaka

keajaiban seperti pohon-pohon meneteskan air setelah badai.


“Mereka bertempur dan mereka kalah, dan para penyihir Treis
memasukkan mereka ke dalam sebuah botol, mengutuk mereka dengan
kutukan ganda ukuran yang sangat kecil dan kehidupan abadi. Satu-
satunya cara mereka mengembalikan postur tubuh mereka yang dulu
dan hidup sekali lagi sebagai manusia normal adalah mendapatkan

190
Kota Sutra dan Baja

restu dari raja Treis sendiri. Tapi Treis telah menghilang dari Bumi
sepuluh ribu tahun sebelumnya, dan tak seorang pun bahkan tahu di
mana kerajaan itu pernah berdiri. Jadi, penderitaan mereka adalah
nasib buruk yang mengerikan.
“Sebaliknya, pemuda itu menceritakan kisahnya sendiri kepada
pasukan tentara mini, dan mereka bersimpati kepadanya atas peng-
khianatan sang pedagang iblis—”
“Bangsawan,” Zulaika bergumam.
“—bangsawan, dengan kepentingan-kepentingan dagang, Nilaf
Brozoud. Sesungguhnya, mereka merasa kasihan dan senasib dengan
pemuda itu, yang penampilannya begitu bagus dan moralnya begitu
lurus, sehingga mereka bersumpah untuk mengabdi kepadanya dan
menawarkan pergi bersamanya ke Yrtsus.
“Pemuda itu enggan menerima bantuan mereka, karena tujuannya
begitu buruk dan risiko begitu besar. Tapi mereka mendesaknya hingga
ia setuju. Ia berjalan kembali dengan botol di tasnya, dan segera me-
nemukan jalan yang benar. Ia tiba di Yrtsus sebelum malam, dan me-
nemukan sebuah penginapan, Tujuh Bintang, di mana ia menginap
malam itu.”
“Penginapan ayahku di Saruqiy bernama Tujuh Bintang!”seorang
perempuan berteriak.
Anwar Das sudah tahu itu, dari percakapan sebelumnya, tapi
be reaksi dengan keterkejutan yang santun. “Mungkin,” katanya,
“penginapan ini dinamai mengikuti nama penginapan ayahmu. Bagi
yang belum pernah mendengar Tujuh Bintang di Saruqiy, keramahannya
melegenda, kemanisan anggurnya, dan harganya yang sangat masuk
akal?”
Perempuan itu mengangguk dengan bahagia, dan Anwar Das
secara mental menggerakkan satu suara dari tidak menjadi ya.
“Pemilik hotel,” ia berlanjut, “seorang pria tua yang dihormati,
menyampaikan berita yang menyedihkan hati pemuda itu. Perdana
www.facebook.com/indonesiapustaka

menteri Yrtsus meninggal baru sepekan sebelumnya, dan Nilaf Brozoud


telah ditunjuk menempati posisi yang paling terhormat dan tak
terkalahkan. Ia kini orang kedua dari sultan sendiri, yang memberikan
kepercayaan absolut padanya dan mencintainya seperti seorang adik.
Pesta dan perayaan tengah berlangsung di istana dan akan berlanjut
hingga hari pertama bulan berikutnya.

191
Mike, Linda, dan Louise Carey

“Hati pemuda itu gundah. Ia berharap menantang seorang warga


negara biasa—yang kaya dan berkuasa, tapi tak punya perlindungan
khusus di bawah hukum. Alih-alih, ia sedang memosisikan diri
melawan aturan sultan sendiri, sehingga bahkan jika ia berhasil dalam
usahanya itu ia mungkin masih diperlakukan sebagai musuh negara
dan akan dikurung atau digantung.”
“Bukankah kita menunggu dosa berat ketiga sekitar saat ini?”
Zulaika menuntut.
“Segera,” Anwar Das meyakinkannya. “Pemuda itu bisa masuk ke
istana kerajaan, dan—”
“Caranya?”
“Gerbang-gerbang tidak dikunci, dan tidak dijaga karena pesta.”
“Menggelikan!”Zulaika meledak. Dan Anwar Das harus mengakui
bahwa cerita itu terdengar lemah.
“Aku salah ingat,” katanya. “Gerbang-gerbang istana memang tidak
dijaga, karena para penjaga diberi izin untuk menghadiri perayaan. Tapi
gerbang-gerbang itu kokoh dan berat, terbuat dari kayu oak setebal tujuh
inci, dan dikunci dengan tujuh gembok. Lagipula, dinding-dindingnya
setinggi dua puluh manusia, dan selicin gelas. Ketika pemuda itu tiba
di depan gerbang, ia bisa melihat bahwa bukan tugas mudah untuk bisa
masuk.
“Namun dari tasnya ia mengambil botol berisi para tentara mini,
mencabut tutupnya dan meletakkannya di tanah. Para tentara mini itu
berhamburan sekali lagi dan berdiri menunggu perintah pemuda itu.
Ia mengatakan kepada mereka tentang gerbang-gerbang dengan tujuh
gembok mereka, yang kini berdiri di antara dia dan musuhnya.
“Sekali lagi legiun mini itu mengalir seperti pasir untuk mengeja
jawaban mereka dengan tubuh-tubuh mereka sendiri. ‘Dulu,’ kata
mereka, ‘kami akan merobohkan gerbang-gerbang ini dengan balok
pemukul, atau meratakannya dengan batu-batu yang dilontarkan dari
mesin-mesin yang hebat. Tapi, kini kami tak punya alat semacam itu.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Tapi kita lihat apa yang bisa kami lakukan.’


“Mereka berkerumun di atas gerbang itu seperti rayap, para pah-
lawan kecil ini. Kayu-kayu itu yang tampak begitu mulus bagiku—
maksudku, tentu saja, bagi pemuda itu—memberikan tangan-tangan
kecil mereka sejumlah tebing dan lereng dan kerutan-kerutan yang
nyaman ditempati.

192
Kota Sutra dan Baja

“Mereka berbaris masuk ke kunci-kunci itu dan mengatur bahu-


bahu mereka ke bangsal, mendorongnya satu demi satu ke posisi netral.
Mereka menarik anak-anak kunci keluar dari ceruk-ceruk di dinding,
dan mendorong kembali ke dalam kerangka mereka di kunci-kunci itu
sendiri, hingga akhirnya pemuda itu hanya perlu mendorong gerbang,
dan terbuka sendiri pada engsel-engsel yang diminyaki.
“Dengan tentara dalam botol sekali lagi di tasnya, pemuda itu
berjalan masuk istana. Saat itu tiga jam setelah tengah malam, dan
meskipun beberapa dari mereka bersuka cita, karena sebagian besar
mereka tertidur di tempat mereka terjatuh, dilimpahi minuman dan
kesenangan-kesenangan hingga pada titik tubuh-tubuh mereka akhirnya
menyerah.
“Pemuda itu dulu tahu di mana mantan perdana menteri memiliki
kamar-kamar, yang dihubungkan dengan kamar-kamar sultan dan di
sebuah menara yang tingginya kurang seinci saja. Ia menuju ke sana
sekarang, berjalan melewati lorong-lorong para penjaga yang tidur
mirip babi untuk menghadirkan dirinya, tanpa pengumuman atau
gembar-gembor, di hadapan Nilaf Brozoud sendiri.
“Ia tidak mengatakan sepatah kata pun, dan bangsawan yang
jahat menatapnya untuk waktu yang lama. Awalnya bingung karena
kehadirannya di sana dan kemudian marah besar. ‘Enyah dari tempat
ini!’ia memberi perintah. ‘Atau aku akan mencambukmu hingga tidak
ada kulit yang mulus seinci pun pada tubuhmu.’
“Pemuda itu hanya tersenyum, dan berkata. ‘Bisakah kau mela-
kukan itu, Nilaf Brozoud? Dengan ayahku kau bisa melakukan itu,
karena ia tua dan tidak ada kekuatan yang tersisa pada tubuhnya. Tapi
aku bukan Isulmir Das. Mengangkat tanganmu begitu tinggi padaku,
dan kau akan menyesali hari di saat kau mencobanya.’
“Kemudian perdana menteri yang licik itu mengenali sang pemuda,
dan melihat pada matanya untuk urusan apa ia datang. Ia kemudian
jatuh berlutut, dan memohon dengan sungguh-sungguh menangis
www.facebook.com/indonesiapustaka

untuk diampuni.
‘Aku telah menjalani hidup dengan kebejatan moral!’ia meraung.
‘Dan tentu saja, jika aku mati sekarang, Sang Pencipta akan mengirim
jiwa-jiwa yang keji dan sakit untuk menyiksaku! Oh izinkan aku
hidup sehingga aku bisa bertobat. Tolong, Anwar Das! Hanya izinkan

193
Mike, Linda, dan Louise Carey

aku hidup, dan aku bersumpah akan bertobat!’ “Dan inilah, Nyonya-
nyonya, kita sampai pada dosa ketiga.’”
“Akhirnya!”Zulaika mengamati dengan masam.
“Anwar Das adalah seorang putra yang berbagi, dan ia telah
bersumpah untuk membalas dendam akan kematian ayahnya. Sang
Pencipta, yang tak menyetujui pembunuhan, meski demikian tersenyum
pada kealiman anak muda itu dan juga pada pemenuhan sumpah yang
terucap. Namun pemuda, yang mendengar tangisan dan rintihan dan
rengekan Brozoud yang celaka, jatuh kasihan dan menyimpang dari
tujuan mulianya. Seorang ayah dibunuh, tapi ia tak berbuat apa pun!
Jadi ia pantas menerima kematiannya yang ketiga kalinya.
“Dan kini ia berbalik, dan berjalan ke arah pintu yang terbuka. Tapi
Brozoud yang curang, yang air matanya palsu, memburunya dengan
sebuah belati dan menusuk punggungnya begitu dalam hingga ke
pangkal belati.”
Anwar Das menyentuh satu titik di jauh di bawah sisi bagian kiri,
dan Zulaika menggeleng kepalanya dengan ejekan yang menghina. “Jika
ia menusukmu di bagian ginjal,” katanya, “kau tak akan bisa berjalan
ke luar ruangan.”
Anwar Das membuka kancing di bagian leher kemejanya dan
membukanya hingga jatuh ke tanah. Ia berbalik sehingga semua bisa
melihat luka yang jelek di atas pinggulnya. Ada sebuah helaan napas
komunal, dan kemudian keheningan komunal. Yang sebenarnya,
luka yang ditunjukkan Anwar Das didapat dalam sebuah keberanian
yang sangat tidak terhormat, ketika suami seorang perempuan yang
bersamanya menikmati hubungan intim pulang ke rumah tanpa diduga,
tapi sangat berguna baginya sekarang sebagai bukti kejujuran.
“Pemuda itu,” ia melanjutkan dengan tenang, “merasakan luka yang
merobek dan mengerikan di pinggangnya. Namun ia tidak jatuh saat
itu juga; alih-alih, kemarahan yang ia rasakan saat menerima serangan
pengecut itu memberdayakannya, sehingga ia berbalik ke musuhnya,
www.facebook.com/indonesiapustaka

merebut belati dari tangannya dan menggorok tenggorokan haram


jadah itu dengan belati.”
“Baguslah kalau begitu!”teriak Farhat. Kemudian ia bersemu merah
dan terdiam lagi.
“Tapi tindakan itu menghabiskan kekuatan terakhirnya,” kata
Anwar Das menyimpulkan. “Ia jatuh pingsan, dan ditemukan di sana, di

194
Kota Sutra dan Baja

samping mayat sang perdana menteri yang terbunuh. Kemarahan sultan


sangat besar. Ia memberi perintah bahwa pemuda itu harus dihukum
mati besok pagi. Dan hingga saat itu tiba, ia harus dilempar ke dalam sel
yang paling lembap di penjara bawah tanah kota itu, yang apartemen-
apartemen paling bagusnya terkenal dengan kelembapannya.
“Malam itu adalah malam terpanjang yang pernah dijalani sang
pemuda. Ia menangisi nasibnya, tapi girang bahwa akhirnya ia melunasi
sumpah yang ia buat pada hantu sang ayah. Ia berduka bahwa hidup-
nya akan diperpendek, tapi puas karena ia telah mengakhiri karier
sebagai reptil berbisa yang menciptakan bahkan iblis yang lebih buruk
seandainya ia hidup. Dan dalam emosi-emosi yang secara ekstrem ber-
tentangan, tanpa tidur untuk melepaskannya, saat-saat gelap akhirnya
berlalu.
“Ketika subuh datang, pemuda itu dibawa ke lapangan kerajaan,
di mana sebuah panggung telah didirikan untuk eksekusinya.
Hukumannya dibacakan di depan penonton yang sangat besar, semua
datang untuk melihat orang yang membunuh perdana menteri. Sang
algojo meminta maaf kepada korbannya, sesuai tradisi, dan pemuda itu
memberikannya dengan ikhlas—kurang lebih begitu karena ia sendiri
telah mengambil sebuah nyawa beberapa jam sebelumnya. Ia akhirnya
berlutut dan meletakkan kepalanya di balok, dan algojo menimang-
nimang pisaunya.
“Namun pada saat-saat terakhir pemuda itu ingat pada tentara mini
di dalam botol, yang masih ia bawa dalam tasnya. Ia berutang banyak
pada mereka dan tak berharap mereka akan dikubur bersamanya, dan
terbaring dalam kegelapan selama zaman-zaman ke depan Bumi. Ia
memohon kepada algojo untuk memberinya satu menit kehidupan,
yang dikabulkan sang algojo, mengira pemuda itu ingin mengucapkan
doa terakhir untuk permintaan ampun.
“Pemuda itu mengambil botol dari tasnya dan meletakkannya di
pinggir panggung, membuka tutupnya sehingga para tentara itu bisa
www.facebook.com/indonesiapustaka

meninggalkannya jika mereka mau. Ia berterima kasih kepada mereka


untuk bantuan yang telah mereka berikan, memuji keberanian dan
kecerdasan mereka, dan memberkati mereka untuk semua kebaikan
yang pernah mereka tunjukkan kepadanya.
“Pada saat itu sebuah bunyi seperti kilat yang memenuhi udara,
dan cahaya seperti kilau seribu matahari bersinar di atas panggung

195
Mike, Linda, dan Louise Carey

itu. Ketika cahaya menghilang, seluruh lapangan kerajaan dipenuhi


pria bersenjata dan berperisai, yang dengan cepat mengalahkan para
pengawal sultan.
“Aku biarkan kalian membayangkan keheranan pemuda itu. Ia
tidak tahu hingga saat itu bahwa ia adalah keturunan kerajaan kuno
Treis, dan oleh karena itu restunya cukup manjur untuk mengakhiri
kutukan berumur sangat panjang pada tentara dalam botol. Kini,
setelah mereka membebaskannya dan mengangkatnya di atas bahu
mereka dalam kemenangan, ia menyadari bahwa ini pasti maksudnya,
dan ia berterima kasih kepada sang Pencipta dalam hatinya untuk
menciptakan keajaiban seperti itu.
“Tentara itu akan menjadikan pemuda itu sultan, tapi ia tidak
tertarik pada kekuasaan dan politik. Ia memeluk mereka semua—perlu
beberapa jam—dan mengucapkan perpisahan pada mereka dengan
menunjukkan kasih sayang yang menyentuh. Kemudian ia kembali
kepada para pencuri, yang menjadi penyelamatnya yang pertama ketika
ia berkelana dalam alam liar, dan kepada mereka ia masih merasakan
utang terima kasih yang besar. Mungkin, Nyonya-nyonya, itu adalah
dosa keempat—bahwa ia bertekad untuk setia kepada para penjahat,
meskipun ia tahu bahwa perbuatan mereka salah. Bahwa ia setia, bah-
kan pada para lelaki yang jahat dan melawan hukum.
“Tapi aku menyerahkan penghitungan terakhir, dan tentu saja
nasibku—nasib semua lelaki yang berlutut di sini—pada kalian. Baraha
barahinei. Dan mudah-mudahan hari-hari kalian di Bumi bertabur
dengan restu-restu setebal kuntum di musim semi.”
Sejumlah kecil tepuk tangan terdengar di kalangan para perempuan,
dan suara-suara bisa didengar membalas doa Anwar Das. Merasa tak
nyaman, Zulaika mundur untuk berunding dengan Gursoon.
“Aku akan kalah dalam pemungutan suara, kan?”ia bergumam.
“Aku pikir sangat mungkin,” kata Gursoon. “Dan kau bisa
berargumen bahwa ia membalas mata uang kita. Kita menangkap
www.facebook.com/indonesiapustaka

mereka dengan sebuah cerita—dan sekarang ia melakukan hal yang


sama persis terhadap kita.”
“Hanya karena ia tampan! Seharusnya aku mengizinkan orang
yang jelek untuk bicara.”
“Sebagian karena itu, tapi juga karena kefasihan bicaranya.”

196
Kota Sutra dan Baja

“Ya,” Zulaika setuju dengan muram. “Aku yakin banyak dari mereka
yang memikirkan kefasihan bicaranya.”
“Ia bisa menjadi aset buat kita,” kata Gursoon.
“Ia bisa juga sangat menjengkelkan,” Zulaika membalas.
Mereka berdua punya banyak masalah berat di pikiran mereka pada
saat itu, dan mungkin punya kesimpulan lain jika mereka memiliki
waktu luang untuk berpikir lebih panjang soal masalah itu. Tapi
keduanya benar.
www.facebook.com/indonesiapustaka

197
Mike, Linda, dan Louise Carey

Pelajaran-pelajaran Membaca,
Bagian Pertama

Pada malam di hari yang sama, penghuni seraglio mengadakan rapat


pertamanya. Sebuah batu datar yang ada di luar gua para penjahat
sebelumnya menjadi panggung alamiah.Ketika udara sejuk, para selir,
perempuan pelayan, dua belas bandit, dan Issi bersama semua timnya
berkumpul di depannya, duduk di pasir, masih terasa hangat karena
panas matahari.
Gursoon melangkah dengan berat ke atas panggung batu itu dan
berbicara kepada mereka semua dalam suara yang tetap keras dan
mendominasi, meskipun sudah berumur.
“Kita sudah melangkah jauh hari ini,” katanya. “Pagi ini, kita tidak
punya apa-apa kecuali rasa haus. Kini kita memiliki sebuah rumah,
atau setidaknya sesuatu yang akan berfungsi sebagai rumah untuk
sementara, dan—” dan ia memberikan pandangan penuh arti kepada
Anwar Das dan gerombolan penjahat “—beberapa sekutu baru, yang
telah berjanji memberikan bantuan mereka.”
www.facebook.com/indonesiapustaka

Beberapa gadis bersemu merah dan tertawa genit mendengar kata-


kata Gursoon. Para pencuri telah menarik perhatian yang besar, dan
Anwar Das, dengan senyum menawannya dan perilaku yang memikat,
terbukti sangat populer. Berdiri bersama-sama di belakang kelompok,
para penjahat mulai mempertimbangkan keengganan mereka semula
untuk menyerah kepada kelompok perempuan, dan sedikit bangga

198
Kota Sutra dan Baja

disebut dalam pidato nyonya tersebut. Beberapa dari mereka membalas


pandangan tertarik dari perempuan-perempuan di sekitar mereka
dengan apa yang secara optimistis mereka harap menjadi daya pikat
hewani yang menyala-nyala.
Gursoon, dari jauh, memperhatikan hal ini dengan sebuah senyum
yang miring. Kian dekat kelompok ini jadinya, akan lebih mudah untuk
mencegah friksi dan perpecahan ketika kesulitan-kesulitan kehidupan
baru mereka mulai menekan. Namun, ia melanjutkan dengan nada
yang keras. “Izinkan aku memperjelas situasi kita, dan apa artinya: kita
berada di tengah-tengah padang pasir. Desa yang paling dekat berjarak
berhari-hari perjalanan. Di sini, beberapa dari kami yang pernah berada
di seraglio sang sultan kini bukan lagi para selir. Istilah itu tidak ada
artinya lagi.
“Tapi itu bukan satu-satunya yang tak punya arti. Farhat, Bethi,
Thana.” Para perempuan pelayan merasa terkejut ketika mereka
mendengar beberapa nama dari mereka disebut. “Jika aku bukan
lagi seorang selir, maka kalian bukan lagi para pelayan. Kita semua
melayani majikan yang sama, dalam cara kita yang berbeda, tapi ia
telah mati, dan lelaki yang membunuhnya juga akan membunuh kita
semua. Aturan-aturannya tidak berlaku pada kita di sini, dan tidak
juga hierarki yang ia ciptakan untuk kita. Agar kita bisa selamat, kita
semua harus bekerja hingga jari-jari kuku kita berdarah. Jika ratusan
dari kita yang dulu adalah para selir yang menanti beberapa pelayan
mengerjakan semua tugas, merengek pada mereka untuk menyisir
rambut kita dan mendirikan tenda-tenda kita, maka kita kalah sebelum
kita mulai!”Suara Gursoon meninggi menjelang akhir pidatonya.
Beberapa gadis, ia perhatikan, menundukkan kepala mereka malu pada
ketajaman comelannya. “Mulai sekarang,” ia menyimpulkan, berbicara
lebih lembut, “kita semua sama. Kita harus memutuskan apa yang akan
kita lakukan berikutnya.”
“Dan aku rasa kaulah orang yang akan mengatakan kepada kami,
www.facebook.com/indonesiapustaka

bukan begitu?”suara Imtisar memotong dengan jahat melewati ke-


rumunan. Ia marah sepanjang pidato, pertama pada cara Gursoon
masuk dan mengambil kendali, kemudian pada penghinaan pribadi
yang ia rasakan tersirat pada komentar-komentarnya. Imtisar ingat
semuanya dengan terlalu jelas bagaimana ia membentak Bethi karena
membangunkannya dengan kasar pagi ini, dan kemudian berteriak

199
Mike, Linda, dan Louise Carey

kepada hana untuk meminta air minum dari mata air sebelum ia
sendiri mendapat gilirannya. Apa lagi, ia merasa memiliki semua hak
untuk bertindak seperti ini, dan dengan pahit tersinggung pada campur
tangan Gursoon. Apa yang diketahui seorang gadis penari tentang cara
yang benar memperlakukan para pelayan?
“Sebenarnya, aku akan mengusulkan bahwa Zulaika yang mem-
berikan nasihatnya,” Gursoon menjawab dengan lembut. “Tanpa kepala
dinginnya, kita pasti sudah ada di kuburan yang dangkal saat ini. Ia
telah melindungi kita selama ini, dan aku pikir ia akan memberikan
lebih banyak ide daripada aku tentang apa yang harus kita lakukan.”
Zulaika tak memerlukan lebih banyak dorongan. ‘Kita harus me-
nemukan sebuah kota baru,” katanya, berjalan ke depan dan naik ke
panggung ketika ia berbicara. “Sebuah kota yang akan membiarkan
kita masuk, dan cukup jauh dari Bessa sehingga kita tidak akan dicari
di sana.” Kata-kata ini bertemu gumaman membenarkan, meskipun
ada yang terlihat sedikit kecewa.
Wajah Umayma redup memikirkan bahwa ia begitu cepat melepas
kebebasan yang baru ia temukan, tapi ia tetap diam dalam menghormati
kebijaksanaan Zulaika. Zulaika melihat Zeinab berdiri dengan ragu-
ragu.
“Zeinab?”Ia menyebut nama perempuan itu untuk berbicara.
“Jika kita harus menemukan sebuah kota yang jauh dari Bessa,
maka peluang terbaik kita untuk berhasil adalah Yrtsus,” katanya
dengan malu. “Sebuah perjalanan enam bulan ke timur. Bahkan ayahku
hanya pergi ke sana satu kali.”
Pernyataannya menyebabkan ketakutan yang besar. Gumaman
setuju berubah menjadi kekhawatiran, beberapa orang berdiri sekaligus
untuk bicara. Imtisar yang pertama.
“Yrtsus? Apakah kau tersengat matahari? Itu jauhnya berliga-liga,
kau gadis bodoh!”
“Kita tidak mungkin mencapainya,” Layla melengking. “Kita bisa
www.facebook.com/indonesiapustaka

mati dalam perjalanan!”


“Jika kita tidak mencobanya, kita akan mati di sini!”Zulaika mem-
bungkam kelompok itu dengan sebuah gerakan tangannya. “Apa yang
kalian pikir akan terjadi jika kita pergi ke Perdondaris atau Agorath?
Apakah kalian benar-benar berpikir Hakkim akan berhenti mencari
kita? Kita membawa seorang pewaris takhta!”

200
Kota Sutra dan Baja

Jamal melihat dengan minat yang tiba-tiba dari tempat ia duduk


di mulut gua, dikelilingi lingkaran anak-anak kecil lain. Namun, rapat
sudah berlanjut, sehingga ia kembali mengesankan mereka dengan
kisah-kisah tentang kekuasaan ayahnya.
“Zulaika benar.” Gursoon berbicara dari tempat ia duduk, di tepi
panggung. “Agorath selalu memiliki hubungan diplomatik yang kuat
dengan kota kita, sementara Perdondaris tak akan memedulikan apa
pun kecuali keamanan mereka sendiri. Jika kita mencari perlindungan
di salah satu kota, mereka akan mengirim kita kembali ke Hakkim.
Tapi Yrtsus nyaris tak punya hubungan dengan Bessa. Sepanjang waktu
aku habiskan di sisi Al-Bokhari, mendengar semua laporan dari para
utusannya dan menyaksikan ia menerima tamu-tamu asing, aku tak
pernah bertemu siapa pun dari sana, atau bahkan mendengar tempat
itu disebut. Itu sebuah kota kecil, dilupakan kebanyakan orang.”
“Maka itu sempurna bagi tujuan-tujuan kita,” Zulaika melanjutkan.
“Tapi perjalanan sepanjang itu akan sangat berbahaya. Kita harus
mempersiapkannya dengan hati-hati. Kita perlu cukup makanan dan
air untuk memberikan kita jarak yang bagus dalam perjalanan kita.
Membeli persiapan-persiapan itu akan sangat mahal.”
Zeinab berdiri lagi. “Aku tahu bagaimana memenangkan tawar-
menawar. Ayahku seorang pedagang. Izinkan aku menjual beberapa
unta kita di pasar Agorath. Kita punya lebih banyak daripada yang
kita butuhkan sekarang,” katanya, meskipun ia sangat jijik ketika
membayangkan para laki-laki yang pernah menunggangi unta-unta
cadangan itu, dan nasib mereka yang suram. “Jika kita menjualnya kita
bisa menggunakan uang untuk—lk”
Issi buru-buru berdiri. “Zei, unta-unta itu bukan milikmu yang
bisa kau jual,” ia memotong. Ia telah mengakui kepada anak buahnya
apa yang telah terjadi pada malam para penjaga menghilang, dan yang
membuat ia terkejut reaksi mereka mengandung kemarahan yang
lebih besar kepada kekejaman sultan ketimbang padanya karena telah
www.facebook.com/indonesiapustaka

berbohong kepada mereka sebelumnya. Beberapa dari mereka telah


dipilih para perempuan seraglio sebagai teman mereka, dan hubungan
lain telah tumbuh di antara mereka selama beberapa minggu mereka
bepergian.
Issi sendiri, di luar antipatinya pada Zulaika, mendapatkan per-
temanan yang sangat baik dari banyak perempuan. Bethi gadis pelayan
itu membuatnya tertawa dengan lagu-lagunya yang kotor, dan ia sering
201
Mike, Linda, dan Louise Carey

bergosip dengannya tentang skandal dan rahasia para pelayan yang


mereka tinggalkan di Bessa. Bagi Zeinab, ia memiliki kasih sayang
seorang ayah. Zeinab memiliki ingatan yang luar biasa untuk rute-rute
yang dilalui bersama ayahnya dalam perjalanan-perjalanan dagang,
dan Issi mulai mengajarinya tanda-tanda dan letak-letak rute-rute
dagang lain yang sangat ia kuasai, juga jalur-jalur ke Galal-Amin dan
Jawahir yang biasa ia lewati ketika menuntun unta-untanya ketika
muda. Zeinab mendengarkan ingatan-ingatannya dengan minat yang
sungguh-sungguh, mengajukan banyak pertanyaan dan memintanya
menggambar jalur-jalur itu di pasir ketika mereka berhenti beristirahat.
Secara pribadi, Issi berpikir Zeinab jauh lebih berpotensi sebagai
penuntun unta daripada anak buahnya sendiri. Putri Zeinab, Soraya,
mulai mendatanginya dan mengemis untuk tabungan. Semua hal yang
diperhitungkan, kesetiaannya, dan kesetiaan anak buahnya, diletakkan
lebih banyak dengan orang-orang yang kini menjadi teman seperjalanan
mereka daripada penguasa baru yang mereka tinggalkan. Meski begitu,
ia merasa harus berbicara.
“Anak-anak buahku dan aku memiliki keluarga di Bessa,” katanya,
“dan unta-unta yang kalian bicarakan milik sultan. Jika kami pulang
dengan jumlah yang lebih sedikit daripada jumlah ketika kita berangkat,
apa yang akan kami katakan kepadanya ketika ia bertanya apa yang
terjadi dengan ternak-ternaknya?”
“Kau lupa, Issi, kau bepergian dengan para pembunuh dan buronan
sekarang.” Umayma, yang duduk di sebelah Issi, memberinya senyum
yang sangat mengerikan. “Kita membunuh para tentara Hakkim
Mehdad; aku ragu ia akan kesulitan mempercayai bahwa kami mencuri
beberapa untanya untuk dijual.”
Perkataan itu membungkam Issi, meskipun tetap membuatnya
bertanya-tanya sejak awal bahwa perilaku para perempuan yang
demikian cantik bisa begitu jahat dan tidak alamiah.
“Bahkan jika kita menjual semua unta,” kata Zulaika, “itu tidak
www.facebook.com/indonesiapustaka

akan cukup. Kita butuh hal lain.”


Hening, pada saat itu. Kemudian, seorang penjahat berdiri dan
melihat kelompok itu dengan kikuk, bersemu merah di bawah pan-
dangan aneh Zulaika. “Baiklah, mungkin tak pernah terpikir oleh para
perempuan dengan silsilah kalian, tapi aku dan para lelaki ini memiliki
beberapa—emm—kami memiliki beberapa cara yang kurang—umm—

202
Kota Sutra dan Baja

sah untuk menghasilkan uang.”


Usulan itu disambut teriakan kemarahan. Ia buru-buru duduk lagi.
“Kami menghargai tawaran itu,” Gursoon berkata padanya dengan
martabat yang dingin, “tapi kejahatan yang kami lakukan terpaksa
terjadi pada kami. Kami kini sedang menghadapi pilihan-pilihan,
dan aku ragu bahwa ada di antara kami yang akan memilih untuk
menyelamatkan diri dengan menyerah dan merampas orang lain.”
Duduk di samping bandit yang malu, Anwar Das meletakkan
kedua tangan di kepalanya. “Sang pencipta melindungi kita, Rahid,”
ia bergumam, “sekarang bukan waktunya untuk mengingatkan semua
orang mengapa kita tidak bisa dipercaya. Kita perlu mengarahkan
perhatian mereka ke tempat lain.”
Tiba-tiba matanya menyala. Ia berpikir sejenak, memiringkan
kepalanya dan tiba-tiba berdiri.
“Berapa banyak dari kalian yang tahu cara menenun?”ia bertanya.
Ada tampang-tampang yang bingung, kemudian semua pelayan dan
sebagian besar selir mengangkat tangan mereka.
“Bagus! Maka aku rasa aku melihat sesuatu yang bisa kalian
lakukan. Baik Zeinab dan Zulaika telah bicara dengan kebijaksanaan.
Menjual satu atau dua unta bisa mengumpulkan uang untuk kalian, tapi
tidak cukup untuk membeli semua perbekalan yang kalian butuhkan.
Satu hal tentang uang adalah ia malu-malu dan gugup seperti seekor
jerboa. Tidak akan muncul dengan sendirinya; harus dipancing dari
tempat persembunyiannya, dan jarang dengan cara mudah kecuali ia
dikelilingi lebih banyak binatang sejenisnya. Kalian tidak boleh menyia-
nyiakan sedikit uang yang bisa kalian dapatkan dari unta-unta untuk
perbekalan; kalian seharusnya menggunakannya untuk memancing
lebih banyak uang masuk. Jika kau membelanjakannya untuk beberapa
gulung benang, beberapa meja tenun dan alat tenun, maka kalian bisa
membuat permadani, sabuk-sabuk dan gelang tenun, dan menjualnya
di Agorath. Uang dari unta-unta akan hilang begitu dibelanjakan, tapi
www.facebook.com/indonesiapustaka

kalian bisa tetap menenun hingga kalian memiliki cukup uang untuk
membiayai sebuah perjalanan ke ujung dunia!”
Anwar Das mempunyai ide tentang sebuah rencana yang ideal,
dan kelompok itu bereaksi dengan gumaman setuju dan anggukan
ketika ia berbicara. Ketika ia selesai, ada keriuhan suara. Warudu, salah

203
Mike, Linda, dan Louise Carey

satu perempuan yang lebih tua di seraglio, berseru dengan gembira,


“Mengapa berhenti pada menenum? Aku bisa mengukir beberapa
hewan kayu kecil yang kadang-kadang aku buat untuk anak-anakku.
Mainan-mainan tidak mahal, aku tahu, tapi mungkin bisa menghasilkan
beberapa dirham.”
Maysoon yang selanjutnya bangun. “Ayahku seorang perajin
tembikar,” katanya dengan suara yang tenang dan ditekan. “Jika kita
membeli sedikit tanah liat, aku bisa membuat mangkuk-mangkuk dan
juga kendi, dan aku senang untuk mengajarkan yang lain kerajinan ini.”
Farhat mendengarkan koor dari suara-suara yang penuh hasrat
dengan gelisah. Ia memikirkan percakapan misterius dengan perempuan
yang sakit itu, Rem, ketika ia meracau akibat terik matahari. Rasa-
nya sombong menawarkan jasanya sebagai seorang penyulam, tapi ia
memang punya bakat tertentu—semua perempuan bilang begitu. Ia
bangkit dengan ragu-ragu, wajahnya memanas di bawah tatapan mata
yang melihat kepadanya.
“Entah apakah ini berguna, aku mengerjakan sedikit jahitan di
waktu luangku,” ia bergumam.
Gursoon tersenyum pada teman lamanya untuk membesarkan
hati.
“Aku bisa bilang lebih dari sedikit, Farhat. Kemampuanmu di-
kagumi kami semua, dan kemampuan itu akan menjadi tambahan yang
sangat disambut dengan baik untuk usaha-usaha kita.”
Dalam keriuhan, pada awalnya tak ada yang memperhatikan
sosok kurus yang mendekat dari mulut gua. Farhat meninggalkan Rem
agar tidur, menilai dirinya masih terlalu lemah untuk menggunakan
banyak tenaga. Namun, kebisingan kelompok itu membangunkannya,
dan ia sudah tahu topik pembicaraan mereka. Kini ia berjalan dengan
perlahan, masih pusing karena tidur, ke atas panggung.
“Rem!”Gursoon ragu-ragu, kemudian membantu gadis itu bangun.
“Kau ingin mengatakan sesuatu?”
www.facebook.com/indonesiapustaka

“Ya, Nyonya. Tak akan lama, aku janji.” Rem menghadap ke arah
kelompok itu yang telah diam menunggu kata-katanya.
“Sebagian besar dari kalian belum mengenalku, tapi percayalah
kepadaku ketika aku katakan bahwa aku mengenal kalian semua lebih
baik daripada aku kenal garis-garis di tanganku sendiri. Namaku

204
Kota Sutra dan Baja

Rem. Aku menghaturkan rasa terima kasihku kepada kalian karena


mengizinkanku bersama kalian. Tanpa kebaikan kalian, aku pasti
sudah mati. Tak banyak yang bisa aku tawarkan pada kalian sebagai
balasan. Tapi aku dengar kalian semua bicara tentang keahlian kalian
dan berpikir tentang satu hal yang mungkin aku bisa sumbangkan.
Aku khawatir itu tak akan bisa mendatangkan uang bagi kalian,
meski begitu aku rasa itu sangat berharga. Aku tak punya keahlian
dalam menenun atau menyulam, tapi dulu di Bessa aku bekerja di
perpustakaan menyamar sebagai seorang anak laki-laki, dan aku tahu
bagaimana membaca dan menulis. Aku akan senang mengajari siapa
pun dari kalian yang tertarik, agar membuatku berguna, jika kalian
mengizinkanku.”
Ada dengungan kegembiraan. Hanya sedikit perempuan di
Bessa yang tahu cara membaca, dan kebanyakan selir tidak pernah
memikirkan itu sebelumnya. Namun, dengan tawaran yang ada di
depan mereka, muncullah kenangan-kenangan tentang para abang
mereka yang mempelajari dengan teliti naskah-naskah atau dikirim
untuk belajar dengan seorang sarjana, para ayah yang membaca keras-
keras di malam-malam hari, sepupu yang lebih tua berbicara tanpa
sopan dan dengan arogan tentang kunjungan terakhir mereka ke
perpustakaan Bessa yang sangat bagus. Sebagian besar tidak memiliki
ide sedikit pun tentang bagaimana seseorang bahkan bisa membaca,
tapi tiba-tiba tawaran itu memiliki semua kenikmatan dari sebuah hal
yang dilarang.
Zulaika cemberut. Menurut dia, segala sesuatu yang tidak meng-
hasilkan uang hanya akan mengganggu mereka dari urusan yang
langsung dan mendesak. Tapi ide Rem telah memunculkan pemikiran
dalam benaknya sendiri. Ia ingat kurir yang tiba di tenda, gulungan
surat yang ia bacakan keras-keras, berita yang ada di dalamnya. Jika ia
tidak memutuskan untuk membaca surat itu dengan keras, segalanya
pasti akan terjadi dengan sangat berbeda. Hal itu mempermalukannya,
www.facebook.com/indonesiapustaka

bahkan menyerang rasa kemampuan profesionalnya sendiri, berpikir


betapa dekatnya mereka semua pada kematian. Jadi ia menjawab Rem
dengan anggukan pendek ketimbang penolakan meremehkan yang
awalnya ia niatkan. “Ya, dapat membaca ternyata bisa berguna,” katanya
sepakat.
“Maka mari kita laksanakan,” Gursoon berkata, memotong diskusi

205
Mike, Linda, dan Louise Carey

lebih lanjut. “Meski begitu, untuk sekarang, malam sudah larut, dan kita
harus istirahat. Issi, Zeinab, kalian berdua harus berangkat ke Agorath
besok ketika fajar untuk menjual unta-unta dan membeli segala sesuatu
yang kita butuhkan. Tegakkan kepala kalian, dan Zeinab, kenakan
cadar agar tak dikenali. Ini sebuah peluang kecil, aku tahu, tapi masih
mungkin. Setiap orang yang ingin dibelikan sesuatu, bicaralah pada
mereka berdua sebelum mereka berangkat besok!”
Dengan begitu, kelompok ini pun bubar.

Penjualan unta-unta berhasil tanpa drama atau insiden, tapi butuh


waktu seminggu penuh sebelum Issi dan Zeinab pulang, kepanasan dan
lelah tapi penuh kemenangan. Mereka menyisakan dua dari hewan-
hewan itu, yang dipenuhi beban barang-barang yang mereka beli.
Selama kepergian mereka, Warudu telah menebang satu dari
pohon-pohon akasia liar pendek yang tumbuh di sisi kolam sebelah gua,
dan sibuk mengajarkan teknik-teknik memahat kepada sekelompok
besar perempuan. Sepasang penjahat sedang berkeliaran dekat mereka,
berusaha mencuri dengar saran-sarannya sebanyak yang mereka bisa
tanpa terlihat terlalu tertarik. Di sisi lain di lembah kecil itu, Rem serius
dalam pelajaran membacanya. Anwar Das, Zulaika, dan sekelompok
yang lain duduk di depannya ketika ia mencoret-coret huruf-huruf di
pasir dengan tongkat yang tajam yang dipinjam dari pohon Warudu.
Anak buah Issi menebang beberapa akasia lagi dan sedang membuat
beberapa kerangka-kerangka pancang kayu yang kasar.
“Itu untuk mengeringkan dendeng daging,” kata kepala penuntun
unta menjelaskan kepada Zeinab ketika para pekerja itu mulai tampak.
“Mereka ingin keluar dan berburu kijang oryx besok. Rasa dagingnya
tidak terlalu buruk, dan tanduk-tanduk mereka bernilai seperti emas
putih di mata para pedagang gading.”
Suasana dengan konsentrasi penuh meliputi kelompok kecil itu
ketika mereka bekerja, berbicara dengan pelan di antara mereka sendiri.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Bagi Rem, seolah keheningan yang selalu memenuhi perpustakaannya


bangkit ke luar gedung yang dimusnahkan seperti roh yang keluar
dari sebuah jasad, melayang di padang pasir hingga roh tersebut
menemukannya, dan bersemayam di tempat ia berada.
Ketika melihat Issi dan Zeinab mendekat, ia memberi isyarat kepada

206
Kota Sutra dan Baja

murid-muridnya dan pergi bersama mereka menurunkan muatan unta-


unta itu. Suara-suara pergerakan muncul dari gua ketika para perempuan
yang sedang tertidur di dalam bangun dan datang membantu. Mereka
muncul meregangkan badan di udara sore yang meyenangkan, berlari
menyeberangi pasir dengan suara-suara penuh hasrat untuk menyambut
teman-teman mereka dan menanyakan keberhasilan apa yang mereka
dapatkan. Dengan perpaduan kelihaian tawar-menawar Zeinab dan
kekeraskepalaan Issi, keduanya berhasil kembali dengan enam gulung
benang, satu kantong tablet-tablet tenun, satu blok tanah liat, dan
beberapa bahan untuk sulaman, juga beras untuk dimakan. Gursoon
tersenyum lebar melihat muatan mereka bertumpuk di luar mulut gua.
“Mengesankan! Aku tahu unta-unta bisa dijual dengan harga tinggi,
tapi kalian berdua benar-benar telah menang. Tampaknya kalian pulang
membawa seluruh isi pasar!”
Diputuskan bahwa pekerjaan akan dimulai pagi-pagi betul hari
berikutnya. Warudu telah memiliki sekelompok pemahat, dan Issi ber-
sama pasukannya pergi berburu. Umayma menyatakan ia akan pergi
bersama mereka, yang membuat mereka menggerutu dan berjalan
dengan sedikit tak nyaman.
“Aku tak yakin perburuan adalah tempat aman bagi seorang
perempuan . . .” salah satu penuntun unta mulai berkata. Ia membalasnya
dengan pandangan galak dan pembicara tadi surut hingga bersungut-
sungut tak jelas. Kemudian Umayma mengacungkan tombak kayu
panjang di depan wajahnya, yang ujungnya sangat tajam.
“Ini aku buat,” kata Umayma kepadanya dengan puas, “dari pohon
yang ditebang Warudu.” Ia langsung dikelilingi kelompok kecil laki-
laki yang tertarik, memeriksa tombak dan mengangguk setuju, atau
menawarkan pendapat-pendapat tentang ketajaman dan kekuatannya.
Maysoon secara sukarela mengajar kelompok lain cara membentuk
tanah liat, sementara Farhat menawarkan untuk mengajar yang lain
dalam kemahiran menyulam. Orang-orang yang tak merasa kerajinan-
www.facebook.com/indonesiapustaka

kerajinan itu sesuai dengan kesukaan mereka diserahkan di bawah


tanggung jawab Rihan, penenun yang paling berpengalaman di seraglio,
yang setuju mengawasi pembuatan gelang-gelang, ikat pinggang
dan permadani tenun. Gursoon melihat kepada lima kelompok ber-
bagai perempuan dan para penuntun unta dengan puas, kemudian

207
Mike, Linda, dan Louise Carey

memandang para penjahat, yang masih berkeliaran dengan dongkol


di pinggir kerumunan.
“Kemarilah,” katanya dengan tajam. “Jika kalian tidak bisa me-
nenun, tidak akan berburu, menolak menjajal keahlian lain, maka aku
yakin kalian setidaknya bisa memasak.”
Anwar Das memberikan Gursoon senyuman miring. “Tak ada
yang lebih mudah, Nyonya. Aku rasa aku harus memperingatkanmu,
bagaimanapun, bahwa ketika kau mencicipi masakan kami, kau pasti
hanya bisa menyalahkan dirimu sendiri.”

Untuk sebagian besar selir, hari-hari berikutnya adalah hari-hari tersulit


dalam hidup mereka. Kulit mereka yang lembut terbakar, tak terbiasa
dengan sengatan panas. Tangan-tangan dan kaki mereka, yang halus
karena kehidupan yang nyaman dan mudah, melepuh karena siksaan
pekerjaan tanpa akhir: menebang pohon-pohon yang jarang di sekitar
oasis demi mendapatkan kayu-kayu untuk api unggun malam dan
pahatan Warudu, memindahkan kantong-kantong perbekalan yang
berat ke dalam gua, memotong kijang-kijang anak buah Issi yang
dibawa pulang pada malam-malam itu. Lengan-lengan para penenun
luka karena benang-benang yang teranyam, dan peraut melukai jari-jari
mereka ketika pisau-pisau mereka selip.
Makanan membosankan, nyaris tak tertahankan. Daging kijang
yang kenyal dan alot atau bubur jagung, kerap lebih sering hangus
daripada tidak, dan hanya dibumbui dengan beberapa kurma liar atau
daun-daun semak garam yang pahit dan berair yang membuat mereka
menggerinyit dengan ketajaman rasanya.
Hari-hari terasa panjang. Mereka bangun ketika hari masih gelap,
dan pekerjaan menyibukkan mereka hingga tidak ada lagi cahaya tersisa
di langit. Sengatan matahari begitu buruk pada siang hari, air dijatah
dengan ketat, dan malam hari semua kehangatan tampak menguap ke
udara, meninggalkan mereka dalam keadaan dingin yang membeku.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Ketika Farhat mengatakan bahwa tidak akan ada lagi pelayan


di padang pasir, Gursoon membayangkan argumen-argumen dan
jeritan. Bahkan, matahari yang memanggang menempa peran-peran
berkebalikan dengan sendirinya, dan tanpa perlu persuasi darinya.
Para pelayan harus selalu bekerja sepanjang hari di terik matahari;
kulit mereka gelap dan tangan-tangan mereka kokoh karenanya.

208
Kota Sutra dan Baja

Mereka terbiasa bekerja keras, sehingga mereka adalah orang-orang


yang bisa mengatasi pekerjaan tanpa henti itu dengan paling baik,
panas dan dingin ekstrem tanpa belas kasihan. Beberapa selir, ketika
mereka berjuang membawa kantong-kantong gandum atau mundur
saat harus memotong antelop mati, merasa malu ketika para pelayan
mereka sendiri mengambil pekerjaan itu tanpa mengeluh, dan menye-
lesaikannya dengan lebih cepat.
Jika sebelumnya mereka sabar dan penurut, kini giliran Bethi,
Farhat, hana dan lain-lain memberi perintah, mengarahkan, mem-
bentak dan menenangkan. Untuk beberapa hari pertama, banyak selir
muda yakin mereka akan mati. Fernoush mendapat serangan panas,
kemudian Halima, kemudian beberapa yang lain. Dimulai dengan sakit
kepala yang berdenyut di belakang mata mereka, sebuah penderitaan
yang tajam sekaligus kuyu, kemudian lemah, mati rasa, muntah-
muntah. Yang lain membaringkan mereka di tempat teduh di gua itu,
melihat dengan ketakutan sementara mereka mengerang dan meronta-
ronta, menangis secara mengiba.
Anwar Das dan Yusuf Razim menyaksikan semua ini untuk semen-
tara, saling berbicara pelan, kemudian berjalan menuju oasis. Mereka
kembali dengan segenggam penuh kurma liar, daun-daun semak garam,
dan kantong air kulit, dan mulai mencampurnya menjadi sebuah
ramuan yang rasanya begitu mengerikan sehingga banyak gadis yang
sakit sulit menelannya.
Namun, mereka semua menelannya. Kemudian Das menyuruh
mereka untuk beristirahat selama beberapa jam, menjanjikan mereka
akan merasa lebih baik.
Zulaika memberikan pandangan ragu pada Das ketika ia mele-
watinya untuk menyiapkan beberapa campuran yang menjijikkan. Ia
membalas pandangan itu dengan senyum lebar yang gembira. “Kami
tidak sesia-sia yang kau pikir, kan nyonya?”katanya kepada Zulaika.
“Kami mungkin tidak bagus dalam banyak hal, tapi satu hal yang
www.facebook.com/indonesiapustaka

diketahui setiap bandit padang pasir adalah cara bertahan dari serangan
panas. Jika tidak, kami tidak akan bertahan selama ini di sini.” Gadis-
gadis yang kelengar matahari telah pulih, dan Zulaika untuk pertama
kalinya senang bahwa ia telah menyelamatkan nyawa para penjahat
yang bermasalah itu, bahkan jika masakan Anwar Das tidak seenak
obatnya.

209
Mike, Linda, dan Louise Carey

Segalanya menjadi lebih baik secara perlahan, hampir tanpa mereka


sadari. Luka bakar matahari mengelupas, dan kulit para selir matang
menjadi cokelat tua. Kulit-kulit melepuh di tangan mereka telah sembuh,
menjadikannya kuat dan tebal.
Issi and Zeinab membawa banyak gelang, permadani, jambangan
dan patung-patung ke pasar Agorath dan tersenyum pulang, dengan
makanan untuk bulan itu dan dompet koin yang banyak untuk mena-
bung. Umayma membawa pulang kijang dewasa pertamanya. Para
pria membopongnya di bahu mereka ke perkemahan, bersorak dan
menepuk punggungnya seolah mereka tidak punya keraguan dengan
kehadirannya di pesta berburu.
Kehidupan di perkemahan menjadi sebuah ritme: Pagi yang
panjang untuk bekerja, istirahat di siang hari untuk menghindari panas
yang paling buruk, rapat-rapat di malam hari. Pertama kali Zeinab dan
Issi pergi ke Agorath sekali sebulan. Namun, segera seraglio meng-
hasilkan begitu banyak barang sehingga perjalanan-perjalanan ini
menjadi mingguan, dan pergantian orang ditetapkan untuk perjalanan-
perjalanan itu.
Tak pernah ada kekurangan sukarelawan. Setiap orang senang
pergi dari padang pasir yang hening menuju kesibukan dan kebisingan
kota besar, dan mereka selalu kembali dengan gosip-gosip, seputar
detail mode terakhir dan barang-barang obral lainnya di pasar kepada
kerumunan para pendengar yang terpesona. Bahkan Anwar Das ingin
berusaha ikut dalam tawar-menawar. Namun, ketika ia mengusulkan
ini, Zulaika berdengus mencemooh.
“Mempercayakan urusan bisnis kami pada seorang penjahat? Kau
terlalu menyalahgunakan sifat baik kami, pencuri unta,” ia menggeram.
Alasan lain yang membuat semua orang begitu ingin ke Agorath
adalah karena berita yang mereka dengar tentang Bessa. Tak satu pun
kabar baik. Zaenab dan Issi yang pertama kali mendengar bahwa Al-
Bokhari dan para istrinya telah dieksekusi, dari dua perempuan yang
www.facebook.com/indonesiapustaka

bergosip di kios di dekatnya. Semua perempuan itu telah menduganya,


tapi tetap saja menyakitkan saat mendengarnya. Berita lain bahkan
lebihmenggelisahkan. Para pria secara terang-terangan dicambuk
karena mencintai pria lain, para perempuan dilarang pergi ke luar tanpa
ditemani seorang pria. Dan eksekusi, puluhan dari mereka, di depan
istana kerajaan setiap minggu. Namun, Zulaika memperingatkan mereka

210
Kota Sutra dan Baja

semua agar berhati-hati dalam mendesak orang-orang yang mereka


dengar untuk terlalu banyak informasi tentang masalah di kota mereka.
“Kita tidak ingin menarik perhatian pada kita sendiri,” ia meng-
ingatkan mereka. “Di Agorath, tak seorang pun tahu dari mana kita
berasal. Kita hanya para pedagang; kita tidak punya cerita.”
Ia benar, dan mereka menahan lidah, tapi tak satu pun bisa men-
cegah mereka untuk mengkhawatirkan para orang tua, adik, abang dan
kakak yang mereka tinggalkan. Meskipun ada hari-hari ketika para
perempuan pergi ke pasar pulang dengan senang dan tawa, di waktu
lain mereka kembali dengan wajah diliputi kecemasan.
Zulaika diakui oleh semua orang sebagai pemimpin tak resmi
kelompok itu, dan yang lain berbicara dengannya dengan rasa hormat
dan takzim yang baru. Bukan hanya ketenangannya yang tak ter-
goyahkan; penilaian-penilaiannya masuk akal dan, seperti yang telah
dikatakan Gursoon, ia telah menyelamatkan nyawa mereka ketika para
tentara Hakkim pasti telah membantai mereka. Pada rapat-rapat malam,
pendapatnya pada setiap masalah selalu ditunggu-tunggu dengan penuh
hasrat, dan biasanya ia atau Gursoon yang memiliki kata-kata penutup.
Kehadiran lain yang dihormati di perkemahan itu adalah Rem,
meskipun ketika tidak mengajar ia jarang berbicara. Para perempuan di
seraglio terbiasa dengan diamnya yang panjang, yang mereka tahu itu
bagian dari sifatnya, dan bukan karena sifat dingin atau bermusuhan.
Ketika ia berbicara, orang akan memberi perhatian. Gosip-gosip
tentang penglihatan mistiknya telah menyebar di seluruh perkemahan;
ia membangkitkan kekaguman, dan mungkin menimbulkan sedikit
ketakutan, seandainya bukan karena fakta kebisuannya ia bersahabat
dan sikapnya ramah. Di luar bakatnya, ia membuat orang nyaman.
Kapan pun orang punya waktu luang, di saat istirahat dari pekerjaan
mereka, di penghujung hari sebelum malam, atau pagi dini hari se-
belum pekerjaan dimulai, mereka menghabiskannya dengan pelajaran
membaca Rem. Ini ia lakukan dengan tetap: selalu ada orang bebas yang
www.facebook.com/indonesiapustaka

ingin diajarkan. Bahkan beberapa bandit biasa hadir.


Kelompok-kelompok kerajinan kaum perempuan yang berbeda
mengatur jam istirahat, sehingga semua orang bisa memiliki waktu
bersama Rem tanpa membanjirinya dengan terlalu banyak peserta
sekaligus. Meski begitu, kehadiran saat-saat pelajaran itu begitu tinggi
sehingga ia harus merekrut murid-muridnya yang lebih maju sebagai

211
Mike, Linda, dan Louise Carey

asisten untuk membantunya mengajar yang lain. Orang-orang dewasa


terlalu sibuk untuk mengerjakan ini—betapapun bergunanya membaca,
menghasilkan uang untuk perjalanan ke Yrtsus masih harus menjadi
prioritas mereka—sehingga tugas itu jatuh ke tangan anak-anak, yang
merasakan kesenangan yang nikmat dalam mengajar orang-orang yang
lebih tua.
Pekerjaan di perkemahan berlangsung dengan baik, dan sedikit
demi sedikit seraglio mengumpulkan tabungan uang. Namun, dana ini
bertambah dengan lamban. Apa yang mereka hasilkan di pasar tidak
semua dibelanjakan untuk perbekalan mereka dalam perjalanan, dan
di samping biaya untuk membeli lebih banyak benang dan tanah liat,
kebutuhan harian seperti makanan juga menghabiskan bagian penting
dari keuntungan mereka. Pada saat mereka harus mengumpulkan
cukup uang untuk perbekalan satu bulan untuk eksodus yang diusulkan,
hampir semua orang di seraglio setidaknya memiliki kemahiran dasar
membaca dan sebagian besar juga bisa menulis.
Dua siswa yang menonjol dari yang lainnya. Salah satunya adalah
Anwar Das, yang menerima segalanya lebih cepat daripada Rem bisa
mengajarkannya. Yang lain adalah Zulaika, yang secara mengagumkan
cukup buruk, yang menguasai konsep paling sederhana dengan ke-
sulitan yang besar, dan dengan cepat merengut ketika tujuan sebuah
latihan tidak segera jelas baginya.
Ketika Zulaika memperhatikan lengkungan-lengkungan kata-
kata yang ia bentuk di pasir dengan kerutan dahi kebingungan, Rem
mengamati Zulaika. Sang pembunuh anggun sekaligus sangat kikuk
dalam gerakan-gerakan dengan pena itu, membungkukkan seluruh
tubuhnya yang meliuk-liuk dalam kemahiran baru, lengannya yang
ragu-ragu, jari-jarinya yang kaku seperti belum terbiasa dengan gerakan
yang ia tugaskan kepada mereka.
Rem melihat wajahnya, asyik dengan pekerjaannya, bulu matanya
turun ketika ia berkonsentrasi pada pasir di kakinya. Bahkan kemudian,
www.facebook.com/indonesiapustaka

ia berpikir, ketika Zulaika tampak begitu terpusat pada apa yang sedang
ia kerjakan, selalu ada kesiagaan yang tetap pada Zulaika. Tubuhnya
melengkung seperti busur, kencang dengan ketegangan yang nyaris
tak bisa ditangkap mata, tegang dalam kesiapan terus-menerus untuk
dirangkul atau diserang. Rem membayangkan, dengan keterpesonaan
yang aneh, pada kedua ekstrem itu. Bertemu Zulaika dalam kedalaman

212
Kota Sutra dan Baja

gairah yang paling besar, apakah membunuh atau berahi, adalah sebuah
kemungkinan yang menggairahkannya, dan setelah itu membuatnya
bingung dan malu.
Dengan keistimewaan Anwar Das, tak seorang pun dari para pen-
curi yang menunjukkan bakat khusus untuk membaca atau menulis.
Mereka duduk bersama para perempuan dengan malu-malu, masing-
masing mengunyah pena kayu dengan ekspresi ketakutan dan sedikit
was-was. Namun mereka masih menghadiri setiap sesi, seperti orang
lain, tak peduli dengan kemampuan mereka.
Harus dikatakan bahwa ini hanya sebagian untuk kepentingan
belajar. Mereka juga datang untuk cerita-cerita. Kisah-kisah Rem ber-
pijar. Ia memulainya satu hari sebagai cara memberi penghargaan anak-
anak seraglio ketika mereka bekerja keras dan mendengarkan dengan
penuh perhatian. Di samping itu, ia merasa bahwa mengalami sedikit
kesenangan yang ditemukan pada kata-kata tertulis akan mendorong
mereka dalam latihan dan antusiasme.
Namun cerita dari Rem membuka bendungan antara semua cerita,
sehingga cerita-cerita itu menderu-deru ke luar batas-batas, berbaur
dengan arus air bersama-sama. Kalimat-kalimatnya mengandung
musik dari banyak suara; ia merangkai cerita-ceritanya ke dalam sebuah
permadani dalam suasana hidup, sebuah cerita yang tampaknya bersinar
dalam pikiran orang-orang jauh setelah usai dituturkan, seperti sinar
setelah cahaya yang terang. Ia menceritakan kepada para perempuan,
anak-anak dan laki-laki tentang kota-kota yang terang, yang berisi
kumbang-kumbang raksasa dengan sisik-sisik logam. Ia menceritakan
kepada mereka tentang negeri-negeri yang jauh di mana padang pasirnya
terbuat dari es dan bahtera-bahtera yang melayari langit seperti yang
saat ini mereka lihat di laut. Kadang-kadang ceritanya memunculkan
pertanyaan-pertanyaan, dan ia nyaris tak bisa menyelesaikan kalimatnya
tanpa suara-suara berseru dari orang-orang yang berkumpul dekat
kakinya. Inilah cara ia membuka sebuah cerita yang sangat awal.
www.facebook.com/indonesiapustaka

“Apakah kalian ingin mendengar sebuah cerita?”Ia bertanya ke-


pada sekelompok anak-anak, meskipun ibu mereka segera mendekat,
menyukai kesempatan untuk hiburan.
Namun cerita itu membingungkan mereka.
“Apa itu seekor paus?”seorang anak laki-laki bertanya.
“Seperti sebuah ikan besar.”

213
Mike, Linda, dan Louise Carey

“Dan pria dengan satu kaki membenci ikan tersebut,” seorang ibu
memotong. “Mengapa?”
“Karena ikan itu mengambil kakinya.”
“Namun ikan itu kan hanya seekor binatang. Betapa bodohnya
membenci seekor binatang! Starbuck harus mengatakan kepadanya
bahwa itu hanyalah omong kosong.”
Di saat-saat lain, topiknya lebih mudah dipahami. Rem mencerita-
kan kepada perkemahan itu semua cerita kuno dari gulungan-gulungan
naskah di perpustakaan, dan banyak lagi di samping itu. Ia menyam-
paikan kepada mereka berita rakyat di masa kanak-kanak mereka,
dan bahkan Zulaika mendengarkannya separuh mengingat semuanya
dengan senyum separuh melengkung di bibirnya.
Segera, hiburan ini menjadi keistimewaan rutin di tiap-tiap malam
ketika pertemuan harian selesai. Rem bukan hanya satu-satunya pen-
cerita berbakat di antara para selir, meskipun cerita-ceritanya dipastikan
adalah yang teraneh. Bethi dan Anwar Das, tentu saja, memesona
semua orang dengan kisah-kisah yang berbelit-belit, disampaikan
dengan nada-nada dramatis dan kerap diiringi akting. Cerita tentang
bagaimana seraglio memperdaya para pencuri mereka tampilkan
sebagai drama dua aktor; kisah ini segera menjadi favorit di kalangan
anak-anak. Fernoush tahu beberapa balada, yang ia nyanyikan dengan
suaranya yang manis dan tinggi mendapat sambutan meriah dan
sesekali tangisan. Gursoon selalu menghibur para selir dan anak-anak
dengan kisah-kisahnya—cerita cinta untuk anak-anak dan cerita
cabul untuk orang tua mereka—dan tidak sulit membujuknya untuk
memberikan satu atau dua kisah ketika api unggun mengecil. Salah satu
bandit pernah mulai untuk menceritakan sebuah lelucon tentang seekor
unta tua dan ibu mertua seseorang. Beruntunglah Gursoon pernah
mendengar lelucon itu sebelumnya, dan mengingatkannya dengan
tajam bahwa masih ada anak-anak di sana. Orang lain menyampaikan
cerita-cerita tentang pertempuran besar atau pembunuhan berkomplot,
www.facebook.com/indonesiapustaka

cerita tentang petualangan-petualangan yang berani dan para penjahat


bodoh—meskipun Anwar Das memprotes yang terakhir, karena
merugikan ia dan teman-temannya.
Cerita-cerita ini tidak berakhir ketika api unggun mati. Mereka
menjalin cerita ini sendiri dalam perjalanan menuju perkemahan,
menyihir lagu-lagu pada bibir-bibir orang dan pikiran di kepala-kepala

214
Kota Sutra dan Baja

mereka. Warudu dan murid-muridnya memahat bentuk-bentuk


baru dan indah, dan segera Rem memiliki figur-figur kayu untuk
menemani kisah-kisahnya: satu pleton tentara kecil, sebuah kandang
yang berisi antelop-antelop yang melompat dan burung-burung yang
melayang tinggi. Adegan-adegan pertempuran besar dan pertunjukan-
pertunjukan hebat menjadi gambar-gambar di permadani Rihan. Farhat
menyulam sebuah dekorasi yang dicurahkan untuk kisah tentang
bagaimana seraglio diusir ke gurun pasir.
Satu hari, kisah yang dituturkan Rem tentang seorang lelaki dengan
baju yang diwarnai dengan indah membuat mata Taliyah menyala.
Gadis itu bersedih hati dan diam sejak beberapa waktu, dan semua
kecuali ibu dan kakak-adiknya menjaga jarak darinya, tahu bahwa ia
sedang berduka cita. Seorang putri dari seraglio, ia mencintai seorang
pencelup di Bessa dan berencana menikah dengannya. Anak muda itu
terhormat dan cukup kaya, dan semua orang berharap sultan menyetujui
perkawinan itu satu saat. Kemudian Para Pertapa mengambil alih
kota, dan Bukhari al-Bukhari tidak lagi dalam posisi menyetujui apa
pun. Taliyah dikirim ke gurun pasir bersama para selir. Ia nyaris tidak
berbicara kepada siapa pun sejak saat itu.
Namun malam itu Taliyah mulai memecah batu-batu dari sebuah
tonjolan dekat pengkalan dinding gua. Ia menumbuknya, memanaskan
bubuk itu dalam sebuah mangkuk batu yang dangkal di atas api hingga
berubah menjadi merah, kemudian mencampurkannya dengan getah
dari kotak kecil di lehernya. Dalam beberapa hari, setelah menggiling
banyak batu dan tanaman yang berbeda, Taliyah memiliki sekumpulan
kecil cat dan pencelup, dan seraglio memiliki gubuk dagang baru untuk
memperbesar pendapatan mereka.
Ketika Taliyah mengusulkan pada Maysoon dan Warudu bahwa ia
akan menghias hasil pekerjaan tangan mereka, keduanya segera setuju.
Ia seorang gadis cerdas dan telah belajar banyak dari kekasihnya tentang
keahlian meramu warna-warna. Hijau-hijaunya yang subur, merah yang
www.facebook.com/indonesiapustaka

berani dan kuning yang tenang dan sedap tidak hanya memperoleh
harga tinggi dipasar jika dijual sendiri—ketika ia melukis gerabah-
gerabah Maysoon dan patung-patung Warudu, hasil pekerjaan tangan
itu hampir bernilai dua kali lipat. Secara perlahan, ia mulai berbicara
lagi, mengobrol pelan dengan perempuan-perempuan lain ketika ia
bekerja.

215
Mike, Linda, dan Louise Carey

Ia kian dekat terutama dengan Warudu. Keduanya tidak pernah


mengenal satu sama lain ketika masih tinggal di seraglio.Tapi Taliyah
suka dengan sikap jujur perempuan yang lebih tua itu, dan menghargai
luka-luka karena patung-patungnya. Warudu sendiri mengenal ibu
Taliyah. Ia sedih melihat putri temannya, yang pernah menjadi seorang
gadis bahagia dan menyenangkan berubah menjadi pucat dan menarik
diri, dan ia gembira bahwa ia begitu banyak kemajuan.
Taliyah benar-benar merasa lebih baik. Ia menyukai kehidupan
tenang di perkemahan, dengan komunitas yang besar dan tetap, suara
senandung yang menenangkan. Seni memberinya kebahagiaan dan ia
senang memperoleh penghormatan karena kemahirannya. Namun, ia
masih terheran-heran dengan perempuan lain di perkemahan itu yang
begitu gembira. Tidakkah mereka telah meninggalkan orang-orang?
Namun Zeinab dan Issi berkelakar dan tertawa seolah mereka berada
di Bessa, dan Warudu bernyanyi ketika ia memahat, berhenti sekarang
dan kemudian melihat ke luar perkemahan dengan senyum lebar di
bibirnya.
Bahkan Jamal, yang dikirim kepada para perempuan itu sambil
menjerit dan menangis, memeluk baju-baju ibunya, tampak pada saat-
saat tertentu melupakan kehadiran sang ibu sama sekali. Ia seorang anak
yang agak bermasalah, tentu saja: ia sering duduk terpisah dari kelompok
itu, tenggelam dalam pikiran yang bermasalah, tapi kemudian, saat
melihat anak-anak laki-laki lain terlibat beberapa permainan, ia akan
lari untuk bermain dengan mereka, berguling-guling bersama mereka
dengan tawa dan teriakan. Taliyah tak bisa memahami bagaimana
semua orang, kecuali dirinya, bisa menyingkirkan kesedihan mereka
dengan begitu mudah; kesedihannya terasa seperti sebuah beban
yang tidak bisa ia geser, pikiran untuk menghindarinya adalah sebuah
pengkhianatan.
“Kau tampak bahagia di sini, Bibi,” katanya kepada Warudu satu
hari, ketika mereka duduk berdampingan.Warudu mengerat kayu,
www.facebook.com/indonesiapustaka

Taliyah melukis bentuk-bentuk yang sudah selesai.


“Ya, memang,” Warudu setuju. Ia melirik pada wajah merengut
gadis itu dan tertawa. “Ayolah, Tali! Aku punya alasan yang bagus untuk
gembira. Kau tidak benar-benar berpikir sultan akan mengajakku, jika
kita pergi ke Perdondaris seperti yang direncanakan? Tidak, usiaku
sudah lewat empat puluh, anakku, dan ia tidak berutang apa-apa padaku.

216
Kota Sutra dan Baja

Bin Ezvahoun akan membuangku ke jalan, dan dua putraku bersamaku,


untuk mengemis atau kelaparan. Sebagian besar perempuan yang lebih
tua memiliki ketakutan yang sama. Ketika Zulaika membunuh para
tentara, ia menghadiahi kita sebuah penangguhan hukum dalam banyak
hal bukan cuma satu.
“Dan kehidupan di sini tidak begitu buruk,” lanjutnya, memberikan
Taliyah sebuah rusa kayu kecil, kedua telinganya seperti tertusuk
dan kepala mendongak pada suara yang tak dikenal. “Tidak banyak
perempuan yang bisa memperoleh roti mereka sendiri, dan lebih sedikit
lagi yang bisa melakukannya melalui keahlian yang mereka cintai.
Di samping itu, perhatian tersebut menjadi sangat menyanjung, tak
bisakah kau melihat itu?”
Warudu ada benarnya: di pasar di Agorath, sebuah antrean mulai
terbentuk di depan lokasi para selir setiap minggu, dan ada wajah-wajah
kekecewaan di ujung hari ketika persediaan terakhir lenyap. Bersama
kerumunan orang yang biasa menjelajah kios-kios, para pelanggan yang
jauh lebih megah dalam sikap dan cara mereka berpakaian beberapa
kali kini menyemarakkan lapak tempat para perempuan seraglio
menata barang dagangan mereka. Pernah, ketika giliran Fernoush
dan Halima pergi ke pasar, salah satu utusan sultan mampir khusus
mencari gelang-gelang tenunan mereka untuk istrinya. Yang lain ber-
tanya apakah ia bisa memesan beberapa mainan kayu Warudu untuk
putranya. Perkemahan itu berseri-seri bangga pada tiap-tiap laporan
baru. Hanya Zulaika yang tampak masam.
“Aku takut akan perhatian yang sedang kita tarik pada diri kita
sendiri,” ia mengungkapkan hatinya pada Gursoon, malam ketika
mereka mendengar berita tentang sang utusan. “Meskipun keberhasilan
kita memuaskan, tujuan utama usaha ini adalah untuk menghilang, dan
dengan jumlah keuntungan ini setidaknya, aku bisa bilang kita gagal.”
“Setidaknya kita menghasilkan uang,” kata Gursoon. “Tak akan
lama dari sekarang sebelum kita memiliki cukup uang untuk membeli
www.facebook.com/indonesiapustaka

perbekalan dan berangkat.” Namun ketika ia mengatakan hal ini


wajahnya tidak tenang.
Beberapa pekan kemudian, Bethi dan Nasreen kembali dari pasar
dengan wajah pucat dan gemetar.
“Aku membuat kesalahan.” Nasreen menunduk menatap kakinya

217
Mike, Linda, dan Louise Carey

malu ketika ia menjelaskan kepada Zulaika apa yang terjadi. “Seorang


perempuan datang membeli syal, dan selagi ia mencari-cari yang cocok
dengannya, kami mulai berbicara. Ia mengatakan bahwa ia tidak me-
ngenali aksenku, dan bertanya dari kota mana aku berasal. Aku me-
ngatakan kepadanya yang sebenarnya sebelum aku berpikir ulang!”
Zulaika bisa melihat penderitaan gadis itu, dan berusaha melem-
butkan jawabannya. “Itu kesalahan yang konyol, Nasreen, tapi bukan
yang mendatangkan malapetaka. Banyak pedagang di pasar itu yang
berasal dari Bessa.”
“Kau belum dengar bagian terburuk,” Nasreen meratap. “Setelah
aku katakan padanya darimana aku berasal, ia melihat padaku dengan
begitu aneh, dan berkata bahwa aku pasti beruntung bisa lari. ‘Aku belum
pernah melihat seorang perempuan dari Bessa selama berminggu-
minggu,’ katanya kepadaku. ‘Aku dengar mereka tidak diizinkan keluar
lagi.’Keadaan semakin buruk di sana, Zulaika. Adik-adikku pasti begitu
takut!”
Nasreen mulai menangis, keras dan terisak-isak. Air mata yang
deras bergulir di wajahnya dan jatuh ke tanah, membuat kawah kecil
di pasir di kakinya.
Zulaika menenangkan perempuan itu, tapi dengan abai. Kata-kata
Nasreen berdenging di pikirannya. Seribu pedagang datang untuk
berniaga di Agorath. Bahwa beberapa pedagang berasal dari Bessa
hampir pasti, dua kota itu begitu dekat. Tapi jelas, mereka satu-satunya
perempuan. Itu sudah mempersempit segalanya.
Ada atmosfer, ketegangan dan kekhawatiran baru, ketika para selir
berkumpul untuk pertemuan harian mereka pada malam itu. Semua
orang sekarang tahu apa yang didengar Bethi dan Nasreen di pasar
itu, dan pikiran mereka kembali ke rumah bersama ibu, adik-adik dan
putri-putri mereka. Pertemuan-pertempuan biasanya dimulai dengan
Farhat, Maysoon, Warudu atau Rihan memberikan laporan tentang
kemajuan hari tersebut. Tapi hari ini Zulaika yang berdiri pertama.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Jelas sekali, dari sikap dan ekspresinya, bahwa apa yang ia akan katakan
sangat serius.
“Kita semua telah berhasil dengan baik di sini,” i