Anda di halaman 1dari 4

A.

Pemasangan Alat Bantu Nafas


Penyebab utama terjadinya gangguan nafas napas pada pasien tidak sadar adalah
hilangnya tonus otot tenggorokan sehingga pangkal lidah yang jatuh akan menyumbat faring
dan epiglotis menutup laring. Sumbatan partial pada pasien menyebabkan bunyi napas atau
stridor saat inspirasi bertambah, munculnya sianosis yaitu kebiruan pada kulit, kuku dan
mukosa, dan retraksi otot napas tambahan. Tanda ini akan hilang apabila jalan nafas pasien
terbuka (Perry dan Potter, 2014). Cara membuka jalan nafas menurut Walls dan Murphy
(2012), yaitu:
1. Tahap dasar membuka jalan napas tanpa alat
Membuka jalan nafas tanpa alat pada pasien tanpa trauma leher dapat dilakukan
dengan cara head tilt chin lift atau menekan dahi pasien disertai dengan mengangkat
rahang bawah ke depan sedangkan pada pasien dengan dugaan cedera pada leher
lakukan jaw thrust yaitu, pengangkatan rahang bawah ke depan disertai dengan
membuka rahang bawah.
2. Tahap dasar membuka jalan napas dengan alat
Apabila manipulasi posisi kepala tidak dapat membebaskan jalan napas akibat
sumbatan oleh pangkal lidah atau epiglotis maka lakukan pemasangan alat bantu
jalan napas oral/nasal. Sumbatan oleh benda asing diatasi dengan perasat Heimlich
atau laringoskopi disertai dengan pengisapan atau menjepit dan menarik keluar
benda asing yang terlihat.
Pemasangan alat bantu nafas dapat dilakukan unuk membantu pemberian oksigen.
Berikut adalah alat bantu nafas dan cara pemasangan alat bantu nafas:

1. Oropharyngeal Airway(OPA)
Oropharyngeal Airway (OPA) adalah suatu alat yang terbuat dari plastik yang
dirancang untuk dimasukkan ke dalam rongga faring posterior di sepanjang lidah.
Pemasangan alat ini bertujuan untuk membebaskan jalan napas, ketika teknik head
tilt chin lift dan jaw thrust belum mampu membuka jalan napas secara adekuat dan
alat ini juga dapat mencegah lidah jatuh kebelakang atau tertelan. Indikasi
pemasangan alat ini yaitu pada pasien yang tidak sadar dan kontraindikasi
pemasangan alat ini adalah pada pasien yang terstimulus reflek muntah karena
dapat menyebabkan aspirasi (Clark,2009). Cara pemasangan OPA adalah sebagai
berikut:
a. Bersihkan mulut dan faring dari segala kotoran.
b. Masukan alat dengan ujung mengarah ke chefalad.
c. Saat didorong masuk mendekati dinding belakang faring alat diputar 1800.
d. Ukuran alat dan penempatan yang tepat menghasilkan bunyi napas yang
nyaring pada auskultasi paru saat dilakukan ventilasi.
e. Pertahankan posisi kepala yang tepat setelah alat terpasang.
2. Nasopharyngeal Airway (NPA )
Nasopharyngeal airway (NPA) ini berbentuk pipa polos terbuat dari karet atau
plastik lunak dengan berbagai ukuran. NPA biasanya digunakan pada pasien yang
tidak dapat menggunakan OPA misalnya pada kondisi trismus, rahang mengatup
kuat dan cedera berat daerah mulut (Datusanantyo, 2013). Cara pemasangan NPA
adalah sebagai berikut:
a. Inseksi lubang hidung untuk melihat adanya polip atau perdarahan.
b. Pilih alat dengan ukurang yang tepat, lumasi dan masukkan menyusuri
bagian tengah dan dasar rongga hidung hingga mencapai daerah belakang
lidah.
c. Apabila ada tahanan dengan dorongan ringan alat diputar sedikit.
d. Lanjutkan dengan pemasangan bag mask ventilator.
3. Oxygen Mask
Oxygen mask digunakan untuk memberikan aliran oksigen 5-8lt/menit dengan
konsentrasi 40-60% (Aryani, 2009). Cara pemasangan oxygen mask adalah sebagai
berikut :
a. Atur posisi yang nyaman pada klien.
b. Hubungkan selang oksigen pada sungkup muka sederhana dengan
humidiflier.
c. Tepatkan sungkup muka sederhana, sehingga menutupi hidung dan mulut
klien.
d. Lingkarkan karet sungkunp kepada kepala klien agar tidak lepas.
e. Alirkan oksigen sesuai kebutuhan.

4. Nasal kanula/Binasal kanula


Nasal kanula atau binasal kanula merupakan alat sederhana yang dapat memberikan
oksigen dengan aliran 1-6lt/menit dan konsentrasi oksigen sebesar 24%-44%
(Aryani, 2009). Cara pemasangan nasal kanula adalah sebagai berikut :
a. Atur posisi klien senyaman mungkin.
b. Atur peralatan oksigen dan humidiflier
c. Hubungkan kanula dengan selang oksigen ke humidiflier dengan aliran
oksigen yang rendah,beri pelican/jelly pada kedua ujung kanula.
d. Masukan ujung kanula ke lubang hidung
e. Fiksasi selang oksigen
f. Alirkan oksigen sesuai yang diingiinkan.
5. Endotracheal Tube (ETT) dan Ventilator
Endotracheal Tube (ETT) adalah memasukkan pipa jalan nafas buatan kedalam
trachea melalui mulut. ETT dapat dilakukan apabila cara lain untuk membebaskan
jalan nafas gagal, perlu memberikan nafas buatan dalam jangka panjang, ada resiko
besar terjadi aspirasi ke paru dan untuk pemberian pernafasan mekanis dengan
ventilator. Ventilator adalah suatu alat system bantuan nafas secara mekanik yang
di desain untuk menunjang fungsi pernafasan dan memberikan kekuatan mekanis
pada sistem paru untuk mempertahankan ventilasi yang fisiologis. Ventilator
diindikasikan pada pasien gagal nafas, insufisinsi jantung, disfungsi fisiologis dan
pada pasien yang mejalani operasi (Latief dkk., 2009). Cara memasang ETT dan
ventilator adalah:
a. Posisi pasien terlentang dengan kepala ekstensi
b. Petugas mencuci tangan kemudian memakai masker dan sarung tangan
c. Melakukan suction
d. Melakukan intubasi dan menyiapkan mesin Ventilator.
1) Buka blade pegang tangkai laryngoskop dengan tenang
2) Buka mulut pasien kemudian masukan blade pelan-pelan menyusuri
dasar lidah-ujung blade sudah sampai di pangkal lidah- geser lidah
pelan-pelan ke arah kiri
3) Angkat tangkai laryngoskop ke depan sehingga menyangkut ke seluruh
lidah ke depan sehingga rona glotis terlihat
4) Ambil pipa ETT sesuai ukuran yang sudah di tentukan sebelumnya
5) Masukkan dari sudut mulut kanan arahkan ujung ETT menyusur ke rima
glotis masuk ke cela pita suara
6) Dorong pelan sehingga seluruh balon ETT di bawah pita suara
7) Cabut stylet.
8) Tiup balon ETT sesuai volumenya.
9) Cek adakah suara keluar dari pipa ETT dengan Menghentak dada pasien
dengan ambu bag.
10) Cek ulang dengan stetoskop dan dengarkan aliran udara yang masuk
leawt ETT apakah sama antara paru kanan dan kiri.
11) fiksasi ETT dengan Plester kemudian hubungkan ETT dengan konektor
sumber oksigen.
e. Pernafasan yang adekuat dapat di monitor melalui cek BGA (Blood Gas
Analysis) ± ½ – 1jam setelah intubasi selesai.
f. Mencuci tangan sesudah melakukan intubasi
g. Catat respon pernafasan pasien pada mesin ventilator

B. Pemasangan Kateter
Pemasangan kateter urin dilakukan dengan memasukan selang plastik atau karet melalui
uretra ke dalam kandung kemih pada pasien yang tidak mampu mengontrol perkemihan atau
pasien yang mengalami obstruksi. Kateter juga menjadi alat untuk mengkaji jumlah
pengeluaran urin per jam pada klien yang status hemodinamiknya tidak stabil (Potter dan
Perry, 2002 ). Pemasangan kateter dengan dapat bersifat sementara atau menetap.
Pemasangan kateter sementara atau straight kateter dilakukan jika pengosongan kandung
kemih dilakukan secara rutin sesuai dengan jadwal, sedangkan pemasangan kateter menetap
atau folley kateter dilakukan apabila penggunaan kateter dilakukan secara terus menerus
(Hidayat, 2006). Cara pemasangan Kateter adalah sebagai berikut:
1. Pasang sampiran dan menutup pintu.
2. Perlak dan alasnya dipasang dibawah gluteus.
3. Letakkan 2 bengkok diantara kedua tungkai klien.
4. Cuci tangan dan gunakan alat pelindung diri
5. Pemasangan kateter pada pasien pria
a. Pasien terbaring dan operator berdiri di sebelah pasien
b. Meatus uretra dan glandula penis didesinfeksi dengan cairan antiseptic
c. Pasang doek bolong
d. Selang kateter diberi jelly secukupnya pada permukaan yang akan
dimasukkan kedalam uretra
e. Penis ditegakkan lurus keatas dan kateter dimasukkan perlahan-
lahan ke dalam uretra dan instruksikan pasien untuk menariknafas panjang.
6. Pada klien wanita
a. Labia mayor dibuka dengan ibu jari dan telunjuk tangan perawat dibungkus
dengan kapas savlon
b. Bersihkan vulva sekurang-kurangnya tiga kali
c. Desinfeksi labia mayor dan lipatan paha menggunakan kasa steril dan
bethadin 10 %
d. Pasang doek bolong steril
e. Kateter urin di beri jelly kemudian dimasukkan perlahan-lahan kedalam
uretra dan instruksikan pasien menarik nafas dalam.
7. Urin yang keluar ditampung dalam urin bag
8. Isi balon kateter urin dengan aquabidest / NaCl 0,9 % = 10 cc sesuai dengan petunjuk
yang tertera pada pembungkus kateter urin.
9. Fiksasi kateter urin didaerah pangkal paha.
10. Letakkan urin bag lebih rendah daripada kandung kemih atau gantung urin bag di
bed.
11. Desinfeksi sambungan urin bag dengan kateter urin
12. Memberi penjelasan kembali tentang prosedur tindakan pada klien

Aryani, R., 2009, Prosedur Klinik Keperawatan pada Mata Ajar Kebutuhan Dasar Manusia,
Trans Info Media, Jakarta.

Clark, D.Y., 2009, Emergency Nursing Procedure, Elseiver, Missouri.

Datusanantyo, R.A., 2013, Nasopharyngeal Airway (NPA): Banyak Manfaat Namun Kurang
Dikenal, RAD Journal, 2013:12:010

Hidayat, A.A, 2006, Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia: Aplikasi Konsep dan
Proses Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika

Latief, S.A., Suryadi, K.A. & Dachlan, 2009, Petunjuk Praktis Anestesiologi, edisi kedua, Bagian
Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI, Jakarta.

Potter, P. A & Perry, A. G., 2010, Buku Ajar Fundamental Keperawatan, Edisi ketujuh, volume
kedua. EGC, Jakarta.