Anda di halaman 1dari 15

Laporan Praktikum

Dasar-Dasar Ekologi/103G0103

INTERAKSI KOMPETISI DAN BIOMASSA

Nama : Afradillah

NIM : G011181386

Kelas : Dasar-Dasar Ekologi B

Kelompok :1

Asisten : Andi Armin Asywal Prawira M

Reski Anugraeni Rahman

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI

DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR
2018
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Setiap makhluk hidup yang ada di bumi ini saling membutuhkan dan
menggantungkan kelangsungan hidupnya pada makhluk hidup yang lain. Hal itu
merupakan sifat dasar yang dianugerahkan oleh Tuhan dan melekat pada setiap
makhluk hidup. Sifat yang saling membutuhkan antarmakhluk hidup memepengaruhi
masing-masing makhluk hidup lainnya. Inilah yang disebut interaksi, di mana
terjadinya hubungan antara dua atau lebih organisme yang saling mempengaruhi.

Faktor kebutuhan untuk bertahan hidup masing-masing menjadikan setiap


makhluk hidup melakukan interaksi. Interaksi tersebut dapat berupa interaksi positif
yang saling menguntungkan dapat juga interaksi negatif seperti kompetisi. Kompetisi
tumbuhan dalam suatu spesies mampu di liat pada jarak antar tumbuhan, di mana
sebenarnya persaingan yang paling keras terjadi antara tumbuhan yang sama
spesiesnya, sehingga tegakan besar dari sepesies tunggal sangat jarang di temukan di
alam. Persaingan antar tumbuhan yang sejenis ini mempengaruhi pertumbuhannya
karena pada umumnya bersifat merugikan

Di alam ini organisme tidak hidup sendirian, tetapi berdampingan dan saling
berinteraksi dengan organisme yang lainnya. Begitupun yang terjadi terhadap
tumbuhan, interaksi ini bisa terjadi antara tumbuhan yang sejenis ataupun tidak
sejenis. Interaksi yang terjadi antara organisme-organisme tersebut dapat bersifat
menguntungkan dan merugikan. Interakasi tersebut dapat berupa kompetisi di mana
terjadi perebutan sumber daya yang terbatas (resource competition) atau saling
menyakiti antarindifidu yang sejenis dengan kekuatan fisik (interference
competition). Kompetisi yang terjadi antara individu sejenis disebut dengan
kompetisi intraspesifik, sedangkan interaksi antara individu yang tidak sejenis
disebut interaksi interspesifik

Interaksi kompetisi merupakan persaingan yang terjadi antarmakhluk hidup.


Persaingan tersebut akan dapat menghasilkan pemenang, dan pemenang itupun akan
dapat meneruskan kelangsungan hidupnya. Kompetisi yang sering terjadi pada
tumbuhan adalah persaingan dalam memperebutkan sumber daya yang terbatas.

Berdasarkan uraian di atas, maka dianggap melakukan praktikum tentang


“Interaksi Kompetisi dan Biomassa” agar dapat mengetahui pengaruh kompetisi
intraspesifik dan interspesifik serta boimassa terhadap pertumbuhan tanaman.

1.2 Tujuan dan Kegunaan

Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terjadinya kompetisi secara


intraspesifik dan interspesifik terhadap pertumbuhan tanaman dan menghitung
besarnya biomassa yang dihasilkan oleh tanaman pada luasan tertentu dari jenis
tanaman tertentu.

Adapun kegunaan dari praktikum ini yaitu dapat menjadi sumber infomasi dan
pengetahuan tentang interaksi tanaman pada tahap kompetisi dan memberikan
pemahaman tentang konsep produktivitas (biomassa) tanaman yang dihasilkan dalam
suatu periode tumbuh.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Interaksi, Biomassa

Interaksi adalah hubungan antara makhluk hidup yang satu dengan yang lainnya.
Ada dua macam interaksi berdasarkan jenis organisme yaitu intraspesies dan
interspesies (Elfidasari, 2007)

Menurut Dwidjoseputro dalam Elfidasari (2007), secara garis besar interaksi


dapat dikelompokkan menjadi beberapa bentuk dasar hubungan, yaitu :

1. Netralisme yaitu hubungan antara makhluk hidup yang tidak saling


menguntungkan dan tidak saling
merugikan satu sama lain.

2. Mutualisme yaitu hubungan antara dua jenis makhluk hidup yang saling
menguntungkan, bila keduanya berada pada satu tempat akan hidup layak tapi
bila keduanya berpisah masing-masing jenis tidak dapat hidup layak.

3. Parasitisme yaitu hubungan yang hanya menguntungkan satu jenis makhluk


hidup saja, sedangkan jenis lainnya dirugikan.

4. Predatorisme yaitu hubungan pemangsaan antara satu jenis makhluk hidup


terhadap makhluk hidup yang lain.

5. Kooperasi adalah hubungan antara dua makluk hidup yang bersifat saling
membantu antara keduanya.

6. Kompetisi adalah bentuk hubungan yang terjadi akibat adanya keterbatasan


sumber daya alam pada suatu tempat.

7. Komensalisme adalah hubungan antara dua makhluk hidup, makhluk hidup yang
satu mendapat keuntungan sedang yang lainnya tidak dirugikan.

8. Antagonis adalah hubungan dua makhluk hidup yang bersifat permusuhan


Biomassa adalah bahan bakar yang dapat diperbaharui dan secara umum berasal
dari makhluk hidup (non-fosil) yang didalamnya tersimpan energi atau dalam
definisi lain, biomassa merupakan keseluruhan materi yang berasal dari makhluk
hidup, termasuk bahan organik yang hidup maupun yang mati, baik di atas
permukaan tanah maupun yang ada di bawah permukaan tanah. Biomassa merupakan
produk fotosintesa dimana energi yang diserap digunakan untuk mengkonversi
karbon dioksida dengan air menjadi senyawa karbon, hidrogen, dan oksigen.
Biomasa bersifat mudah didapatkan, ramah lingkungan dan terbarukan. Secara
umum potensi energi biomassa berasal dari limbah tujuh komoditif yang berasal dari
sektor kehutanan, perkebunan dan pertanian (Tajalli, 2015).

Biomassa adalah bahan organik yang dihasilkan melalui suatu proses fotosintetik,
baik berupa hasil produk maupun hasil buangan. Secara umum biomassa merupakan
bahan yang dapat diperoleh dari tanaman baik secara langsung maupun tidak
langsung dan dimanfaatkan sebagai energi dalam jumlah yang sangat besar.
Biomassa juga disebut sebagai “fitomassa” dan seringkali diterjemahkan
sebagai bioresource atau sumber daya yang diperoleh dari hayati. Selain digunakan
untuk tujuan primer yaitu serat, bahan pangan, pakan ternak, minyak nabati, dan
bahan bangunan, biomassa juga dapat digunakan sebagai sumber energi (bahan
bakar). Basis sumber daya ini meliputi ratusan bahkan ribuan spesies tanaman
daratan dan lautan, berbagai sumber pertanian, perhutanan dan limbah residu dari
proses industri serta kotoran hewan (Yokoyama, dkk, 2008).

2.2 Kompetisi Secara Interspesifik dan Intraspesifik

Kompetisi antara individu yang tidak sejenis disebut kompetisi


interspesifik. Kompetisi Interspesifik (Interspecific competition) atau kompetisi
antarspesies, merupakan kompetisi antara dua atau lebih spesies yang berbeda
terhadap suatu sumber daya terbatas yang dipakai bersama. Sedangkan kompetisi
yang terjadi antara individu sejenis disebut sebagai kompetisi intraspesifik. Dalam
kompetisis Intraspesifik, ketika ukuran populasi meningkat, kompetisi menjadi lebih
sering dan laju pertumbuhan menurun sebanding dengan intensitas kompetisi, laju
pertumbuhan populasi bergantung pada kepadatan (Cahyani,2015).
Menurut Sardianto (2013), ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap
kompetisi secara interspesifik dan intraspesifik pada tumbuhan, yaitu:

1. Jenis Tanaman.

Faktor ini meliputi sifat biologi tumbuhan, sistem perakaran, dan bentuk
pertumbuhan secara fisiologis.

2. Kepadatan Tumbuhan

Jarak yang sempit antartanaman pada suatu lahan dapat menyebabkan persaingan
dalam memperoleh zat-zat makanan. Hal ini karena zat hara yang tersedia tidak
mencukupi bagi pertumbuhan tanaman.

3. Penyebaran Tanaman

Penyebaran tanaman dilakukan dengan menyebar biji atau melalui rimpang (akar
tunas). Tanaman yang penyebarannya dengan biji mempunyai kemampuan
bersaing yang lebih tinggi daripada tanaman yang menyebar melalui rimpang.

Kompetisi interspesifik dapat terjadi pada tanaman jagung dengan kacang hijau
yang ditanam di suatu lahan atau media yang sama. Sedangkan kompetisi
intraspesifik dapat kita jumpai antarspesises tanaman jagung atau antara kacang hijau
itu sendiri yang tumbuh pada lahan atau media yang sama (Sardianto, 2013).

2.3 Keuntungan dan Kerugian Interspesifik

Persaingan antarjenis yang sama dapat berakibat dalam penyesuaian


keseimbangan dua jenis, atau dapat berakibat dalam penggantian populasi jenis satu
dengan jenis yang lainnya atau memaksa salah satunya dari dua jenis yang bersaing
itu untuk menempati tempat lain atau menggunakan pakar lain, tidak peduli apapun
yang menjadi dasar persaingan itu. Organisme-organisme yang dekat hubungannya
mempunyai kebiasaan atau bentuk-bentuk hidup yang serupa sering kali tidak
terdapat didalam tempat-tempat yang sama. Apabila mereka tinggal di tempat yang
sama, mereka menggunakan pakan yang berbeda, mereka aktif yang berbeda, atau
kalau tidak mereka menempati relung-relung ekologi yang berbeda (Leksono, 2007).

Pengaruh persaingan terhadap pertumbuhan tumbuhan yang menempati ruang


tumbuh sama dan letaknya saling berdampingan menunjukkan bahwa terjadi
persaingan untuk mendapatkan cahaya matahari dan ruang tumbuh bagi pertumbuhan
organ-organ di daerah tajuk. Spesies tumbuhan yang tajuknya ternaungi
oleh tumbuhan spesies lainnya akan mengalami hambatan dalam menjalankan
proses fotosintesis. Begitu juga di daerah perakaran, berkurangnya unsur hara
mineral, air, dan oksigen yang dapat diabsorbsi setiap tumbuhan yang mengalami
persaingan, sehingga pertumbuhan akan terhambat (Indriyanto,2006).

2.4 Keuntungan dan Kerugian Intraspesifik

Kompetisi intraspesifik dapat menyebabkan spesialisasi yang lebih besar.


Spesialisasi terjadi ketika spesies yang berkompetisi berevolusi adaptasi yang
berbeda. Kompetisi membentuk interaksi antarorganisme yang menyebabkan tidak
adanya komponen dalam suatu ekosistem yang mandiri memenuhi kebutuhan
hidupnya melainkan dengan cara berkelompok baik antara komponen biotik dengan
sesamanya maupun komponen biotik dengan komponen abiotik (Trianto,2015).

Kompetisi intraspesifik antara dua spesies dapat mengakibatkan kepunahan salah


satu atau kedua kompetitor di habitatnya. Dalam kompetisi, akan mengakibatkan
migrasi spesies, salah satu spesies kompetitor itu unggul dan mendesak spesies yang
lemah. Bila spesies yang lemah tidak mengubah nichenya sehingga tingkat
keberimpitan nichenya berkurang maka akan terjadilah kepunahan populasi pada
habitat tersebut. Jika spesies yang lemah dapat menyesuaikan diri dengan spesies
unggul maka keduanya dapat berkoeksistensi di habitat tersebut (Trianto,2015).

Penjarangan adalah proses perkembangan berdirinya tanaman dari semaian ke


individu dewasa memberi kesan adanya kompetisi pada sumber yang terbatas.
Penjarangan muncul sebagai hasil dari kompetisi intraspesifik pada sumber yang
terbatas. Persaingan atau kompetisi yang terjadi antarorganisme tersebut
mempengaruhi pertumbuhan dan hidupnya, dalam hal ini bersifat merugikan. Setiap
organisme yang berinteraksi akan di rugikan jika sumber daya alam menjadi terbatas
jumlahnya. Sebagai populasi lokal dari perkembangan pertumbuhan, tanaman
individu menaikkan kuantitas dari nutrisi, air, dan ruang untuk individu yang sukses
berkompetisi pada habitatnya (Kusumawati, 2018).

2.5 Faktor yang Mempengaruhi Besar Kecilnya Biomassa

Menurut Irwan (2007), faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perbedaan


ukuran pada biomassa dalam suatu lingkungan interaksi kompetitif dikarenakan
terjadinya sistem kalah-menang pada biomassa, yaitu :

1. Jenis Tanaman

Faktor ini meliputi sifat biologi tumbuhan, sistem perakaran, bentuk


pertumbuhan secara fisiologis.Misalnya adalah pada tanaman ilalang yang memiliki
sistem perakaran yang menyebar luas sehingga menyebabkan persaingan dalam
memperebutkan unsur hara.Bentuk daun yang lebar pada daun talas menyebabkan
laju transpirasi yang tinggi sehingga menimbulkan persaingan dalam memperebutkan
air.

2. Kepadatan Tumbuhan

Jarak yang sempit antar tanaman pada suatu lahan dapat menyebabkan
persaingan terhadap zat-zat makanan hal ini karena zat hara yang tersedia tidak
mencukupi bagi pertumbuhan tanaman.

3. Waktu

Lamanya periode tanaman sejenis hidup bersama dapat memberikan tanggapan


tertentu yang mempengaruhi kegiatan fisiologis tanaman.Periode 25-30 % pertama
dari daur tanaman merupakan periode yang paling peka terhadap kerugian yang
disebabkan oleh kompetisi.

4. Sisa Metabolisme Makhluk Hidup


Kotoran manusia dan kotoran hewan dapat di rubah menjadi biogas melalui
proses fermentasi bahan organik oleh mikroba secara anaerobik. Hasil yang di
peroleh dari proses fermentasi ini adalah karbon dioksida dan metana yang kemudian
dapat di manfaatkan untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar sehari-hari hingga
pembangkit listrik.

Selain itu, hal lain yang mempengaruhi besarnya biomassa yang dihasilkan
adalah umur dan kerapatan tegakan, komposisi dan struktur tegakan, kualitas tempat
tumbuh mempengaruhi besarnya biomassa. Hubungan yang lebih erat antara jumlah
biomassa tegakan dengan umur tegakan akan diperoleh bila tegakan-tegakan tersebut
tumbuh pada kondisi pertumbuhan yang sama. Biomassa tegakan hutan dipengaruhi
pula oleh kerapatan tegakan dan kualitas tempat tumbuh. Tegakan yang makin rapat
jarak tanamnya akan mempunyai jumlah biomassa yang semakin besar walaupun
belum tentu dapat menjamin kualitas produksi (Satoo, dkk dalam Anhar, 2006).
BAB III

METODOLOGI

3.1 Tempat dan Waktu

Praktikum ini dilaksanakan di Ex Farm Fakultas Pertanian, Universitas


Hasanuddin, Makassar pada Hari Minggu, 30 September 2018 Pukul 15.00 sampai
selesai.

3.2 Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada pelaksanaan praktikum interaksi kompetisi dan


biomassa adalah meteran, cangkul, sekop, ember, oven, timbangan, dan alat
tulis-menulis.

Bahan yang digunakan pada pelaksanaan praktikum ini yaitu pupuk kandang,
label, tanah, polybag yang berukuran 40 x 60 cm sebanyak 12 lembar, benih Bayam
(Spinacia oleracea L.), dan benih Kangkung (Ipomoea aquatica).

3.3 Prosedur Kerja

Prosedur kerja pada praktikum ini, yaitu :

1. Menyiapkan alat yang akan digunakan.

2. Merendam benih bayam dan kangkung selama 40-50 menit sebelum di tanam.

3. Membersihkan lahan yang akan digunakan.

4. Campur tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 2:1

5. Masukkan campuran tersebut le dalam 12 polybag sebanyak kurang lebih ¾


bagian polybag kemudian jenuhkan air.

6. Masukkan benih kangkung ke dalam polybag A1 sebanyak 3 tanaman, polybag


A2 sebanyak 5 tanaman, dan polybag A3 sebanyak 7 tanaman.
7. Masukkan pula 2 benih kangkung dan 2 benih bayam pada polybag B1, 2 benih
kangkung dan 4 benih bayam pada polybag B2, dan 2 benih kangkung dan 6
benih bayam pada polybag B3.

8. Lakukan pengamatan setiap minggu untuk mengatami tinggi tanaman, jumlah


daun dan berat kering biomassanya.
DAFTAR PUSTAKA

Anhar, Sahrul. 2006. Kandungan Magnesium Pada Biomassa Tanaman Acacia


Mangium Willd Dan Pada Podsolik Merah Kuning Di Hphti Pt Musi Hutan
Persada, Sumatera Selatan. Bogor : Institut Pertanian Bogor

Cahyani, Guntario Sukma. 2015. Prediksi Skenario Kompetisi dalam Kompetisi


Interspesifik Dua Spesies Menggunakan Metode Euler. Bandung : Institut
Teknologi Bandung

Campbell, Neil A. 2004. Biologi. Edisi Kelima Jilid 3. Jakarta : Erlangga.

Elfidasari, Dewi. 2007. Jenis Interaksi Intraspesifik Dan Interspesifik Pada Tiga
Jenis Kuntul Saat Mencari Makan Di Sekitar Cagar Alam Pulau Dua Serang,
Propinsi Banten. Jurnal Biodiversitas. Vol.8 Hal. 266-29

Gaol Mangadas Lumban, dan Jed Fox. 2009. Pengaruh Variasi Ukuran Biji
Terhadap Perkecambahan Acacia Fauntleroyi (MAIDEN) MAIDEN AND
BLAKELY. Jurnal Penelitian Hayati. Volume 14 (153-160)

Indriyanto. 2006. Ekologi Hutan. Buku Ajar. Jakarta: Bumi Aksara

Irwan, ZD. 2007. Prinsip-prinsip Ekologi; Ekosistem, Lingkungan, dan


Pelestariannya. Jakarta : Bumi Aksara

Kusumawati, Dian Eka. 2018. Pengaruh Kompetisi Intraspesifik dan Interspesifik


Terhadap Pertumbuhan Tanaman Jagung (Zea mays) dan Kacang Hijau (Vigna
radiata). Jurnal Agroradix. Vol. 1 No.2

Leksono, A. 2007. Ekologi Pendekatan Deskriptif dan Kuantitatif. Malang:


Banyumedia

Naufaldi, Labib. 2014. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengomposan. Jakarta.

Sardianto. 2013. Persaingan Interspesifik dan Interspesifik. Fakultas Pertanian


Universitas Brawijaya : Malang

Tajalli, Arief. 2015. Panduan Penilaian Potensi Biomassa Sebagai Sumber Energi
Alteratif Di Indonesia. Bandung : Panabulu Alliance

Trianto, Agus. 2015. Studi Kompetisi Turf Algae dan Karang Genus Acropora Di
Pulau Menjangan Kecil, Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Jepara. Jurnal
Kelautan : Vol. V

Yokoyama, Yamamoto, Susumu dan Tonosaki Mario. 2008. Buku Panduan


Biomassa Asia. The Japan Institute Of Energy: Proyek Bantuan Untuk
Pembangunan Kerja Sama Asia
LAMPIRAN