Anda di halaman 1dari 69

ISSN: 2085-546X

CAKRADONYA DENTAL JOURNAL

Alamat Redaksi:
Fakultas Kedokteran Gigi Unsyiah
Darussalam Banda Aceh 23111. Tel. 0651-7555183
Website: cdj.pskg.fk.unsyiah.ac.id
email: cakradonyadentaljournal@gmail.com

Pelindung:
Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Unsyiah

Penanggung Jawab:
Pembantu Dekan I FKG Unsyiah

Ketua Penyunting:
Sunnati, drg, Sp.Perio

Wakil Ketua Penyunting:


Rafinus Arifin, drg, Sp.Ort

Penyunting Ahli:
Prof. drg. Bambang Irawan, PhD (FKG UI)
Prof. Dr. drg. Narlan Sumawinata, Sp.KG (FKG UI)
Prof. Dr. drg. Elza Ibrahim Auekari, M. Biomed (FKG UI)
Prof. Dr. drg. Eki S. Soemantri, Sp. Ortho (FKG UNPAD)
Prof. drg. Ismet Danial Nasution, Sp. Prostho, Ph.D (FKG USU)
Prof. Dr. drg. Benny S Latief, Sp.BM (K) (UI)
Prof. Dr. drg. Dewi Nurul, MS, Sp. Perio (FKG UI)
drg. Gus Permana Subita, PhD, Sp.PM (FGK UI)
Prof. Dr. drg. Hanna B. Iskandar, Sp.RKG (FKG UI)
Prof. Dr. drg. Retno Hayati, Sp.KGA (K) (FKG UI)
Dr. Syahrul, Sp.S (FK Unsyiah)
drg. Zaki Mubarak, MS (FKG Unsyiah)

Penyunting Pelaksana:
Liana Rahmayani, drg, Sp.Pros
Abdillah Imron Nasution, drh, M.Si
Viona Dian Sari, S.si, M.Si
Diana Setya Ningsih, drg, M.Si

Pelaksana Tata Usaha:


Nurmalawati, ST
Aulia Azmi, SE
ISSN: 2085-546X

EDITORIAL

Cakradonya Dental Journal (CDJ) yang diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Syiah Kuala merupakan media komunikasi ilmiah antar intelektual yang akan
menjadi referensi bagi mahasiswa dan praktisi Kedokteran Gigi. Sebagaimana volume
sebelumnya, volume ini masih mengangkat isu seputar teknologi pengembangan ilmu
kedokteran gigi, aplikasi, dan korelasi ilmu kesehatan terintegrasi. Pada volume 7 nomor 2
ini mencakup penelitian, laporan kasus, dan tinjauan pustaka yang di dalamnya mencukup
bidang Biologi Oral, Ortodonsia, Prostodonsia, Bedah Mulut, Penyakit Mulut, dan Dental
Material.
Tulisan yang tersaji dari berbagai artikel tersebut secara keilmiahan telah
dilakukan pengeditan oleh tim ahli sesuai dengan disiplin ilmu masing-masing, namun jika
pada artikel tersebut masih terjadi kesalahan, maka akan dijadikan referensi kami untuk
perbaikan edisi selanjutnya. Secara keseluruhan informasi yang tersampaikan dalam jurnal
CDJ volume 7 nomor 2 telah mewakili pengembangan ilmu kedokteran gigi.
Ucapan terima kasih kepada penulis atas kepercayaan memilih CDJ sebagai wadah
publikasi ilmiah. Kepercayaan anda ini akan menjadi tantangan bagi kami untuk selalu
memperbaharui dan memperbaiki sistem dan manajemen pengelolaan jurnal CDJ menjadi
lebih baik.

Banda Aceh, Desember 2015


Ketua Penyunting

Sunnati, drg, Sp.Perio


ISSN 2085-546X

DAFTAR ISI

Hubungan Waktu Kehadiran Fasilitator Dengan Learning Objectives Terhadap


Nilai Akhir Mahasiswa Blok 2 PSKG FK Unsyiah................................................................807
Ridha Andayani, Abdillah Imron Nst, Mauliza Hanim

Gigi Tiruan Sebagian Overlay: Laporan Kasus .....................................................................813


Pocut Aya Sofia

Overdenture Dengan Koping Dome-Shaped Untuk Menambah Dukungan Gigi Tiruan


dan Mencegah Resorpsi Linggir Alveolar: Laporan Kasus..................................................819
Nidya Prettysia Sembiring, Syafrinani

Multiple Supernumerary Teeth Yang Langka: Sebuah Laporan Kasus...............................825


Teuku Ahmad Arbi

Koreksi Gigi Insisivus Sentral Rahang Atas yang Mengalami Rotasi Berat
Menggunakan Alat Whip: Laporan Kasus .............................................................................830
Komalawati

Hidroksiapatit dan Aplikasinya di Bidang Kedokteran Gigi ...............................................835


Martha Mozartha

Immuno-Biokompatibilitas Pada Material Implan: Review Artikel ...................................842


Basri A. Gani

Sitologi Tumor Odontogenik: Ameloblastoma.......................................................................848


Vera Dewi Mulia

Pengaruh Durasi Perendaman Resin Akrilik Heat Cured Dalam Minuman Teh Rosella
(Hibiscus Sabdariffa) Terhadap Perubahan Dimensi ............................................................854
Viona Diansari, Sri Fitriyani, Aldita Dwy Gustya

Kandidiasis Orofaring Pada HIV/AIDS .................................................................................863


Masra Lena Siregar
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

HUBUNGAN WAKTU KEHADIRAN FASILITATOR DENGAN LEARNING OBJECTIVES


TERHADAP NILAI AKHIR MAHASISWA BLOK 2 FKG UNSYIAH

Ridha Andayani, Abdillah Imron Nasution, Mauliza Hanim

Departemen Oral Biologi


Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Syiah Kuala

ABSTRAK
Metode Problem-Based Learning (PBL) merupakan suatu metode baru yang diterapkan dalam
pendidikan medis. Penerapan metode tersebut mengandalkan mahasiswa bekerjasama dalam beberapa
kelompok kecil, diberi kasus dalam bentuk skenario, mereka berdiskusi secara aktif untuk mencapai
sasaran belajar (learning objectives) dan dipandu oleh seorang dosen yang bertugas sebagai fasilitator.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan waktu kehadiran fasilitator dengan learning
objectives dan terhadap nilai akhir (DPNA) mahasiswa. Tempat penelitian di Fakultas Kedokteran
Gigi Universitas Syiah Kuala pada bulan Desember 2013 bertepatan dengan dilaksanakannya Blok 2
pada Semester 1. Subjek penelitian terdiri dari 6 kelompok tutorial dengan 7 skenario. Alat yang
digunakan berupa kuisioner dan Borang B, Panduan BPF, dan hasil DPNA. Data dianalisis dengan
analisis Korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan waktu kehadiran fasilitator dan learning
objectives menunjukkan hubungan yang lemah dan negatif (R= -0,246), fasilitator dan Nilai DPNA
menunjukkan hubungan yang lemah dan positif (R= 0,357) (p>0,01). Kesimpulan adalah dari
penelitian ini waktu kehadiran fasilitator dan learning objectives dalam pelaksanaan Blok 2 Tahun
Ajaran 2013/2014 belum berperan dengan baik dalam menciptakan kecenderungan berpikir kritis
yang dicita-citakan oleh penerapan Metode Problem-Based Learning (PBL).

Kata kunci: Problem-Based Learning, waktu kehadiran fasilitator, learning objectives, DPNA

ABSTRACT
Problem-Based Learning (PBL) is a new method that applied in medical education. Application of
these methods rely on students to work in small groups and given a case in the form of scenarios, then
asked to conduct active discussions to achieve expected learning objectives that guided by a lecturer
who served as facilitator. The aim of this research is to determine relationship between attendance
time of facilitator, learning objectives, and final score of students of Faculty of Dentistry, Syiah Kuala
University. Research conducted in the Faculty of Dentistry, Syiah Kuala University on December
2013 which coincides to the implementation of General Health Science (Blok 2) in Semester 1. The
subject of this study consisted of 6 groups that distributed in 7 tutorials. Collecting data used by
questionnaires and Form B, Guidance Book for Facilitator (BPF), and DPNA list. Data were analyzed
using Spearman's analysis. The results indicate the attendance time of facilitator and Learning
Objectives showed a weak and negative correlation (R=-0.246) while the attendance time of
facilitator and Final Score of students (DPNA) showed a weak positive correlation (R = 0.357) and
both correlation showed no significant relationship (p>0.01). This suggests Learning Objectives
during the learning process, attendance time of facilitators, and final score (DPNA) of students
influenced by non-facilitators factor. The concept of PBL is still far from collaborative, contextual,
integrated, and reflective ways. It can be concluded that the attendance time of facilitator in the
implementation of General Health Science (Blok 2) Academic Year 2013/2014 has not act well to
creating a critical tendency think which aspired by the application of Problem-Based Learning (PBL).

Keywords: Problem-Based Learning, attendance time of facilitator, learning objectives, Final Score
of students

807
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

PENDAHULUAN PBL ini berkaitan dengan output yang akan


Pemilihan metode belajar di perguruan dihasilkan oleh mahasiswa.
tinggi merupakan salah satu faktor yang Berdasarkan latar belakang di atas maka
mempengaruhi keberhasilan pencapaian target perlu dilakukan penelitian tentang hubungan
dalam belajar. Metode belajar yang baik perlu waktu kehadiran fasilitator dengan learning
memperhatikan jenis materi yang akan objectives terhadap nilai akhir mahasiswa di
diajarkan dan hal-hal lain yang terlibat dalam FKG Unsyiah.
kegiatan belajar, seperti gaya pengajar dalam
melakukan tugas mengajar yang sebaiknya BAHAN DAN METODE
selaras dengan hal-hal tersebut.1 Penelitian yang dilakukan merupakan
Metode belajar aktif yang mulai banyak penelitian korelatif dengan menggunakan
digunakan dalam dunia pendidikan terutama metode cross check. Tempat penelitian
pendidikan medis adalah metode Problem dilaksanakan di Fakultas Kedokteran Gigi
Based Learning (PBL). Metode ini pertama Universitas Syiah Kuala pada bulan Desember
kali diimplementasikan di Fakultas 2013 bertepatan dengan dilaksanakannya Blok
Kedokteran Universitas McMaster, Kanada 2 pada Semester 1.
pada tahun 1969. Metode PBL merupakan Subjek pada penelitian ini adalah
sebuah cara belajar baru yang radikal dan kelompok tutorial pada Blok 2 Fakultas
inovatif dalam pendidikan dokter, untuk Kedokteran Gigi Universitas Syiah Kuala
merestrukturisasi pendidikan kedokteran sudah Banda Aceh yang terdiri dari 6 kelompok
dimulai di Universitas McMaster sejak tahun tutorial dengan 7 skenario. Berdasarkan hal
1950-an.2,3 Sejak itu PBL telah menjadi trend tersebut, jumlah total subjek penelitian adalah
baru pendidikan kedokteran. 42 orang.
Metode PBL memadukan sejumlah teori Alat yang digunakan berupa kuisioner
dan prinsip pendidikan yang saling dan borang B sebagai evaluasi kelompok pada
melengkapi ke dalam suatu desain sistem setiap akhir skenario, panduan Buku Panduan
pembelajaran. Metode ini mengandalkan Fasilitator (BPF), dan hasil yang tertera pada
strategi belajar yang berpusat kepada pelajar DPNA.
(student-centered), kolaboratif, kontekstual, Langkah pertama peserta tutorial Blok 2
terpadu, diarahkan sendiri, dan reflektif.2 akan dibagikan kuisioner (evaluasi fasilitator
Dalam hal ini, mahasiswa bekerja sama dalam oleh mahasiswa) dan borang B (borang
beberapa kelompok kecil dan diberi sebuah evaluasi kelompok tutorial pada setiap akhir
kasus dalam bentuk skenario, kemudian skenario) pada akhir pertemuan DK-1. Borang
diminta untuk melakukan diskusi secara aktif B selanjutnya dikonfirmasi dengan borang
untuk mencapai sasaran belajar atau learning BPF. Untuk tutorial yang telah dilaksanakan,
objectives yang diharapkan. Dalam diskusi data yang dibutuhkan akan diperoleh dari
tersebut mahasiswa dipandu oleh seorang database yang telah tersimpan pada admin
dosen yang hanya bertugas sebagai fasilitator Blok 2. Hasil pengumpulan data dari kedua
yang membantu memudahkan mahasiswa jenis borang selama berlangsungnya Blok 2
dalam belajar.4 selanjutnya dianalisis secara statistik untuk
Fasilitator bertugas mendorong siswa mengetahui bagaimana hubungan kinerja
untuk mengawali diskusi, mengajukan fasilitator terhadap pencapaian learning
pertanyaan, mempertanyakan suatu pernyataan objectives oleh peserta tutorial. Masing-
dan menanyakan untuk klarifikasi learning masing variabel akan dianalisis hubungannya
objectives yang akan dicapai. Hal ini dengan nilai yang didapatkan oleh mahasiswa
dilakukan untuk menimbulkan rasa ingin tahu. yang tertera pada Daftar Peserta Ujian dan
Fasilitator bertugas mengatur kelompok tanpa Nilai Akhir (DPNA). Data dianalisis dengan
memperlihatkan dominasi dan bahkan menggunakan analisis Spearman.
kelompok harus dapat berfungsi secara efektif HASIL PENELITIAN
walaupun tanpa kehadiran fasilitator dengan Penelitian ini dilakukan untuk melihat
penambahan kemampuan yang signifikan. hubungan kehadiran fasilitator dengan
Prinsip ini sesuai dengan teori belajar aliran learning objective (tujuan pembelajaran)
kognitif yang lebih mementingkan proses terhadap nilai akhir mahasiswa yang
belajar dari pada hasil belajar itu sendiri. 4 Oleh mengikuti Blok 2 Tahun Ajaran 2013/2014
karena itu, kinerja fasilitator dalam metode Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Syiah

808
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

Tabel 1. Analisis hubungan kehadiran fasilitator dengan learning objectives terhadap nilai akhir

Hubungan R R2 Nilai p
Waktu kehadiran fasilitator
-0,246 -0,061 0,647**
Learning Objektives (LO)

Waktu kehadiran fasilitator


0,357 0,128 0,337
Nilai DPNA

Learning Objektives (LO)


0,433 0,188 0,157
Nilai DPNA
*
Signifikan (p<0,001)
**
Tidak signifikasi (p>0,01)

Kuala Banda Aceh. Subjek penelitian adalah memegang peranan penting pada saat
seluruh mahasiswa yang mengikuti Blok 2 pembelajaran berlangsung dengan peran
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Syiah fasilitator yang minim.
Kuala Banda Aceh, berjumlah enam kelompok Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan
tutorial. pendapat Secondira dkk (2009) yang
Analisis hubungan antara fasilitator, menyebutkan bahwa proses pembelajaran PBL
nilai mahasiswa dan Learning Objective (LO) merupakan proses transfer informasi
dapat dilihat pada tabel di atas. fasilitator-mahasiswa ke dalam proses
Hasil uji statistik antara fasilitator dan konstruksi pengetahuan yang sifatnya sosial
Learning Objektives (LO) menunjukkan nilai dan individual.18 Dimana, pada pelaksanaan
hubungan yang lemah dan negatif (R= -0,246). PBL untuk mencapai Learning Objectives ini,
Hubungan determinasi menunjukkan (R2= - fasilitator seharusnya berperan aktif sebagai
0,061) bahwa faktor hubungan antara penanggung jawab, merancang skenario
fasilitator terhadap Learning Objektives (LO) pembelajaran, dan mendorong para mahasiswa
sebesar 6,1%. Hubungan dan faktor yang ada untuk dapat mengeksplorasi pengetahuan yang
tidak menunjukkan hubungan yang bermakna telah mereka miliki dan menentukan
(p>0,01). pengetahuan yang diperlukan selanjutnya.
Hasil uji statistik antara fasilitator dan Fasilitator dituntut dapat mengobservasi
Nilai DPNA menunjukkan nilai hubungan mahasiswa yang pasif untuk dapat lebih aktif
yang lemah dan positif (R= 0,357). Hubungan baik dalam komunikasi maupun dalam tugas
determinasi (R2= 0,128) juga menunjukkan kelompok.16,17
bahwa faktor hubungan antara fasilitator Dalam hubungannya dengan nilai
terhadap Nilai DPNA adalah 12,8%. DPNA mahasiswa Blok 2 Tahun Ajaran
Hubungan dan faktor yang terjadi adalah 2013/2014 menunjukkan bahwa fasilitator
hubungan yang tidak bermakna (p>0,01). tidak mempengaruhi nilai yang didapat
Hasil uji statistik antara Learning mahasiswa. Hal ini sesuai dengan penelitian
Objectives (LO) dan Nilai DPNA Secondira dkk (2009) yang menyebutkan
menunjukkan nilai koefesien hubungan yang 28,41% dari hasil akhir mahasiswa program
sedang dan positif (R= 0,433). Hubungan PBL adalah karena faktor mahasiswa itu
determinasi yang ditunjukkan (R2= 0,188) sendiri.18 Ini menunjukkan bahwa DPNA lebih
menginformasikan bahwa faktor hubungan dipengaruhi oleh faktor nonfasilitator. Ini tidak
hanya 18,8%. Analisis menunjukkan tidak sesuai dengan pernyataan Puspita (2010) yang
terdapat hubungan yang bermakna (p>0,01). menyebutkan bahwa keberhasilan pelaksanaan
pembelajaran dalam PBL tidak hanya
PEMBAHASAN dipengaruhi oleh faktor mahasiswa saja,
Analisis hubungan antara fasilitator dan namun terdapat faktor lainnya seperti: fasilitas,
Learning Objectives (LO) menunjukkan proses belajar, isi pembelajaran dan jadwal
hubungan yang tidak bermakna, Learning pembelajaran.16 Hasil ini tidak jauh berbeda
Objectives tidak memiliki hubungan dengan dengan besar persentase pelaksanaan PBL
fasilitator karena pembelajaran yang ada hanya Blok 2 Tahun Ajaran 2013/2014 yang
terpusat pada mahasiswa, dimana mahasiswa menunjukkan bahwa sebesar 36% nilai yang

809
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

didapat oleh mahasiswa karena faktor pernyataan, klarifikasi, atau aplikasi


mahasiswa itu sendiri dan sebesar 64% dari pengetahuan.15 Hal ini menjadi penyebab
faktor lain. Penelitian lain menyebutkan mengapa hubungan antara fasilitator dan nilai
bahwa pendekatan pembelajaran yang DPNA menunjukkan nilai hubungan yang
diterapkan dalam PBL adalah pembelajaran lemah.
yang berpusat pada mahasiswa (student- Hubungan Learning Objectives dengan
centered learning) sehingga mahasiswa nilai DPNA menunjukkan hubungan yang
memegang peran utama pelaksanaan tidak bermakna. Ini menunjukkan bahwa
pembelajaran PBL.19,20 sebenarnya Learning Objectives yang didapat
Namun demikian, peran mahasiswa melalui proses PBL dalam pelaksanaan Blok 2
dalam PBL Blok 2 Tahun Ajaran 2013/2014 Tahun Ajaran 2013/2014 belum
FKG Unsyiah telah menunjukkan tingkat mempengaruhi kecenderungan berpikir kritis
partisipasi secara aktif dan mandiri dalam yang dicita-citakan oleh penerapan PBL. Hal
belajar. Ini sesuai dengan riset terdahulu yang ini sesuai dengan penelitian Pratama (2012)
menyebutkan bahwa seharusnya penerapan pada mahasiswa Fakultas Kedokteran
PBL menunjukkan tingkat partisipasi Universitas Diponegoro yang menunjukkan
mahasiswa dalam menggali permasalahan, IPK tidak selalu dapat menggambarkan
menginvestigasi, dan berpikir kritis dalam kecenderungan berpikir kritis pada mahasiswa.
menghadapi permasalahan secara efektif.21,22 Kecenderungan berpikir kritis tidak selalu
Davis dan Harden juga menyebutkan bahwa meningkat seiring meningkatnya tingkat
salah satu peran mahasiswa dalam perkuliahan akademik.18 Namun demikian
karakteristik PBL adalah proses belajar dengan hasil ini tidak sejalan dengan tujuan mengapa
mahasiswa berpartisipasi secara aktif dan pendekatan Problem Based learning (PBL)
mampu belajar secara mandiri.19 Dari digunakan untuk mencapai mahasiswa yang
pelaksanaan Blok 2 Tahun Ajaran 2013/2014 dapat berpikir kritis dan memiliki
tersebut juga ditemukan bahwa mahasiswa keterampilan memecahkan suatu masalah.16,17
telah memiliki tanggung jawab dalam Learning Objectives dengan DPNA
menginisiasi dan mengatur kebutuhan tidak berpengaruh juga dapat disebabkan
belajarnya serta menjadi motivator belajar bagi karena kecenderungan kepuasaan sebagian
diri sendiri dan orang lain, ini terbukti dari besar mahasiswa diukur dari kelulusan pada
hasil yang didapatkan (R2 =0,36) yang berarti mata kuliah saja. Sehingga mahasiswa tidak
peran fasilitator sangat minim dalam memedulikan kecenderungan dalam
pelaksanaan PBL. peningkatan cara berpikirnya. Hal ini
Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan mengakibatkan, setelah selesai menempuh
penelitian Dolmans dan Levin, fasilitator suatu mata kuliah, mahasiswa akan cenderung
memainkan peranan yang penting dalam lupa.
keberhasilan mahasiswa dalam pelaksanaan Learning Objectives tidak memiliki
sistem PBL. Fasilitator dalam PBL tidak lagi hubungan dengan DPNA juga dapat terjadi
hanya sebagai seorang pengajar namun karena salah satu faktor yang memberi
seharusnya berperan sebagai tutor dalam pengaruh terbesar dalam hasil DPNA
diskusi tutorial.21,23 mahasiswa itu sendiri adalah kuantitas belajar
Terdapat beberapa fungsi utama mahasiswa. Semakin lama waktu belajar
fasilitator yaitu menjaga agar proses belajar mahasiswa, semakin bagus hasil ujian
tetap berjalan, memancing mahasiswa belajar mahasiswa itu sendiri. Hal ini sesuai dengan
secara mendalam, memastikan semua penelitian Triswianti27 yang menyebutkan
mahasiswa terlibat dalam proses belajar, bahwa lama waktu belajar mempunyai
memantau kemajuan belajar dari tiap-tiap pengaruh positif langsung terhadap nilai
anggota kelompok, dan memberi tahu hal-hal akademik. Ini berarti untuk meningkatkan nilai
yang mampu mendorong mahasiswa dalam akademik, mahasiswa yang difasilitasi oleh
menggali kasus atas skenario yang ada.14 manajemen PBL sebaiknya menambah lama
Dalam pernyataan lain juga disebutkan bahwa waktu belajar mereka. Hal ini juga dapat
fasilitator juga berfungsi untuk menstimulasi dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti
elaborasi, menstimulasi integrasi pengetahuan kesesuaian studi dengan cita-cita, motivasi
mahasiswa, menstimulasi interaksi antara untuk mendapatkan nilai akhir yang tinggi,
mahasiswa dengan menanyakan beberapa

810
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

namun kuantitas jam belajar tetap merupakan learning: a review of the evidence.
faktor yang paling berpengaruh. Academic Medicine 1992; 67(9):557–565.
Menurut Canfield (1998), setiap 6. Sulistiyana CS. Faktor-faktor yang
mahasiswa sebagai individu memiliki gaya mempengaruhi tercapainya Learning
belajar masing-masing.26 Philbin (1995) yang Objective pada diskusi tutorial di Fakultas
disitasi oleh Frang juga menyebutkan bahwa Kedokteran Unswagati Cirebon.
individu dalam belajar memiliki berbagai Yogyakarta: Program Studi Ilmu
macam cara belajar, ada yang belajar dengan Pendidikan Kedokteran Fakultas
cara mendengarkan, ada yang belajar dengan Kedokteran Universitas Gadjah Mada.
membaca, serta belajar dengan cara Tesis 2011.
menemukan. Cara belajar peserta didik yang 7. Sanjaya W. Strategi Pembelajaran
beraneka ragam tersebut dikenal sebagai gaya Berorientasi Standar Proses Pendidikan.
belajar (learning style) yang dipengaruhi oleh Jakarta: Kencana. 2010.
pengalaman, jenis kelamin, dan etnis. Untuk 8. Supratiknya A. Problem-Based Learning:
mengidentifikasi kecendurungan gaya belajar Aplikasinya Dalam Program Pendidikan
ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut Profesi Psikologi. Dalam: Bunga Rampai
diantaranya model pengukuran Kolb’s Psikologi 2 (Widiyanto C, dkk, eds).
Learning Style Inventory (Kolb’s LSI).24,25,26 Yogyakarta: Penerbitan Universitas
Sanata Dharma. 2008.
KESIMPULAN 9. Boud D, Feletti G. The Challenge of
1. Tidak terdapat hubungan antara fasilitator Problem Based Learning. St. Martin’s
dengan learning objective dalam Press: New York. 1991.
pelaksaan PBL Blok 2 Tahun Ajaran 10. Bouhuijs PA, Graaf ED. Implementation
2013/2014 FKG Unsyiah. of Problem-Based Learning in Higher
2. Pelaksanaan PBL Blok 2 Tahun Ajaran Education. 1993.
2013/2014 FKG Unsyiah belum sesuai 11. Barrows HS, Tamblyn RM. Problem-
dengan konsep pembelajaran Student Based Learning: An Approach to Medical
Center Learning. Education. New York: Springer.1980.
3. Fasilitator Blok 2 FKG Unsyiah kurang 12. Sudarman. Problem-Based Learning:
mendalami dengan baik pelaksanaan Suatu Model Pembelajaran untuk
pembelajaran dengan metode PBL. Mengembangkan dan Meningkatkan
Kemampuan Memecahkan Masalah.
DAFTAR PUSTAKA 2010.
1. Kristiyani T. Efektivitas metode problem- 13. Departemen Pendidikan Nasional.
based learning pada mata kuliah Praktek Baik dalam Penjaminan Mutu
psikologi kepribadian I (Replikasi). Pendidikan Tinggi: Kurikulum Program
Cakrawala Pendidikan 2008; Th. XXVII: Studi. Jakarta: Direktorat Jenderal
No. 3. Pendidikan Tinggi. 2005.
2. Gwee M. Problem-based learning: A 14. Hansberger JT, Holt RW. The effects of
strategic learning system design for the prior knowledge on goal variability &
education of healthcare professionals in learning: the more goals the merrier.
the 21st Century. The Kaohsiung Journal Proceedings of the 46th Annual meeting
of Medical Sciences 2009; 25(5):231– of the Human Factors & Ergonomics
239. Society, Baltimore. 2002.
3. Halonen D. Problem based learning: a 15. Bruning R, Schraw G, Ronning R.
case study. university of manitoba. Cognitive Psychology and Instruction. 2nd
auspace. athabascau.ca/Problem-Based- ed. New Jersey. 1995.
Learning.ppt. 2010. 16. Puspita E. Pengaruh model Problem
4. Kushartanti BM. Pendekatan problem- Based Learning (PBL) terhadap motivasi
based learning dalam pembelajaran dan prestasi belajar pada mata kuliah
praktek kerja lapangan terapi fisik. kebutuhan 2010:41–48.
Fakultas Ilmu Keguruan Universitas 17. Hidayati T. Pendidikan dokter berbasis
Negeri Yogyakarta. 2008. kompetensi dan moralitas dengan metode
5. Norman GR, Schmidt HG. The problem based learning pada FK UMY.
psychological basis of problem-based Journal Mutiara Medika 2004; 2:77–9.

811
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

18. Secondira V, Retno G, SuhoyoY. Faktor-


faktor yang mempengaruhi mahasiswa
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah
Mada untuk melaksanakan pembelajaran
yang konstruktif, mandiri, kolaborasi dan
konstekstual dalam problem-based
learning. Jurnal Pendidikan kedokteran
Profesi Kesehatan Indonesia 2009;
4(1):36–39.
19. Davis MH, Harden RM. AMEE Medical
Education Guide No. 15: Problem-based
Learning: a Practical Guide. Medical
Teacher 1999; 21:130–140.
20. Amin Z. Basic in Medical Education.
Singapore: Stallion Press. 2000.
21. Dolmans D, Grave W, Wolhagen I,
Vluten C. Problem based learning: future
challenges for educational pratice and
research. Medical Education 2005;
39:732–741.
22. Savin-Baden M, Major CH. Foundations
of Problem Based Learning. New York:
Society for Research into Higher
Education & Open University Press.
2004.
23. Levin BB. Energizing Teacher Education
and Profesional Development with
Problem-Based Learning. Virginia:
Assocation for Supervision and
Curriculum Development. 2001.
24. Frang, Legaspi C, Perez R, Remigio A,
Sengsourya J. Factor affecting GPA.
Available at: http://public.csusm.edu/fang
fang/Teaching/BUS304/TeamPresentatio
nSpr08/Report_Group3.pdf. Accessed
August 28, 2014.
25. Myers BE, Dyer JE. The influence of
student learning style on critial thingking
skill. Journal of Agricultural Education
2006; 47(1):43–47.
26. Robert TG. A Philosophical Examination
Of Experiential Learning Theory
For Agricultural Educators.. Journal of
Agricultural Education 2006; 47(1):17-
29.

812
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

GIGI TIRUAN SEBAGIAN OVERLAY: LAPORAN KASUS

Pocut Aya Sofia

Departemen Prostodonsia
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Syiah Kuala

ABSTRAK
Gigi tiruan sebagian overlay merupakan protesa lepasan yang menutupi permukaan oklusal dan
mendapat dukungan dari gigi penyangga. Gigi tiruan sebagian overlay memiliki keuntungan bersifat
reversibel, pembuatannya lebih mudah, lebih murah, dapat meningkatkan estetik sehingga sistem
mastikasi dapat berfungsi dengan baik dan dapat meningkatkan bicara. Gigi tiruan sebagian overlay
dapat digunakan sebagai protesa interim dan definitif, biasanya digunakan untuk pasien dengan
penurunan dimensi vertikal oklusal dan mengalami keausan gigi yang berat, maloklusi dental dan
skeletal yang berat, dan pasien dengan keterbatasan finansial. Gigi tiruan sebagian overlay dapat
dibuat dari metal maupun akrilik atau kombinasi keduanya. Pada laporan kasus ini akan membahas
mengenai pengembalian dimensi vertikal oklusal secara bertahap dengan pembuatan gigi tiruan
sebagian overlay rahang atas dan rahang bawah pada pasien yang mengalami kehilangan banyak gigi.

Kata kunci: gigi tiruan sebagian, overlay, kehilangan banyak gigi

ABSTRACT
Overlay removable partial dentures are removable prothesis that cover occlusal surface and gain its
support from abutment teeth. Overlay removable partial denture have several advantages, such as
reversible, easier to fabricate, cost effective and improve the aesthetic and therefore enhance the
masticatory system to function properly as well as speech improvement. Overlay removable partial
denture can be used as both interim and definitive prothesis, usually used for patients with reduced
occlusal vertical dimension and severe attrition, severe dental and skeletal malocclusion and patients
with limited budget. Overlay removable partial dentures can be made from metal or acrylic, or a
combination of both. This case report presents a case of multiple loss of teeth and gradual
rehabilitation of occlusal vertical dimension by using maxillary and mandibular overlay removable
partial dentures.

Key words: removable partial dentures, overlay, multiple loss of teeth

813
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

PENDAHULUAN oklusal. Alternatif perawatan ini sebagai


Overlay adalah gigi tiruan lepasan yang pengganti oklusal splint untuk
didukung oleh jaringan lunak dan satu atau mengevaluasi dimensi vertikal oklusal
lebih dari gigi asli. Gigi tiruan sebagian dengan bertahap dan teliti. Sama dengan
overlay dikenal sebagai gigi tiruan sebagian oklusal splint, gigi tiruan sebagian overlay
yang meliputi permukaan oklusal gigi dapat digunakan setiap waktu bahkan
abutment untuk restorasi dalam oklusi selama berfungsi seperti berbicara atau
fungsional. Bentuk dari gigi asli dipreparasi makan. Gigi tiruan sebagian overlay
minimal untuk dukungan basis gigi tiruan agar interim memberikan perawatan yang
stabil dan cekat. Sama dengan overdenture reversible dalam memperbaiki dimensi
konvensional struktur mahkota gigi yang vertikal oklusal dan oklusi fungsional.
digunakan sebagai abutment hanya tinggal Selama perawatan harus tetap diakukan
beberapa milimeter dari supragingiva, antara kontrol karies, jaringan periodontal dan
sepertiga atau seperdua yang tersisa dari surgical. Hasil dimensi vertikal dan oklusi
srtuktur gigi. Gigi yang dirubah tidak yang tepat dengan gigi tiruan sebagian
disiapkan menerima coping sebagai alat overlay dapat ditransfer ke protesa definitif
penghubung dengan gigi tiruan ini berbeda atau protesa tetap.1,5
dengan overdenture dimana gigi yang tersisa 2. Gigi tiruan sebagian overlay interim dan
dapat dilakukan perawatan endodontik dan definitif dengan maloklusi dental dan
cast gold coping. Gigi tiruan sebagian overlay skeletal yang berat. Maloklusi dapat
lebih sering digunakan untuk menaikkan dihasilkan dari pasien cleft palate klas II
dimensi vertikal oklusal dapat sebagai protesa atau III maloklusi skeletal atau openbite
interim, tetapi dapat juga digunakan sebagai atau hubungan open oklusal, kelainan
gigi tiruan definitif.1,2 kongenital seperti oligodonsia, ektodermal
Gigi tiruan sebagian overlay merupakan dysplasia, dan cleidocranial dysplasia,
pilihan perawatan yang relatif murah, efisien, sehingga mengalami penurunan dimensi
konservatif dan hasilnya dapat diterima oleh vertikal oklusal. Dari beberapa contoh
pasien. Keuntungan dari gigi tiruan overlay kasus gigi tiruan sebagian overlay dapat
antara lain dapat meningkatkan estetik dan menjadi restorasi oklusi fungsional dengan
sistem mastikasi sehingga dapat berfungsi sedikit atau tanpa pembedahan. Del Castilo
dengan baik dan juga dapat meningkatkan dkk melakukan kesuksesan terapi dengan
bicara. Tulang alveolar juga dapat terpelihara gigi tiruan sebagian overlay pada rahang
atau tidak resorbsi sehingga dapat atas dan rahang bawah pada pasien anomali
meningkatkan retensi. Dengan dan kelainan kongenital seperti open
mempertahankan gigi dan ligamen periodontal oklusal posterior. Telah dilakukan beberapa
dapat meningkatkan rangsang proprioseptif, uji klinis terhadap keberhasilan perawatan
overlay dapat digunakan untuk koreksi oklusal dengan gigi tiruan sebagian overlay
plane dan bersifat reversibel, waktu perawatan diantaranya, Gitt menggunakan gigi tiruan
yang diperlukan lebih sedikit dan tidak sebagian overlay pada pasien cleft palate
memerlukan preparasi gigi secara khusus. ketika premaksila tidak berkembang dan
Apabila gigi tiruan overlay dapat dibuatkan gigi tidak erupsi. Murray menggunakan
dengan tahapan yang benar akan diperoleh gigi tiruan sebagian overlay untuk restorasi
retensi dan stabilisasi yang sempurna.3,4 oklusi fungsional pada pasien dengan klas
III maloklusi skeletal. Atobe dkk
Indikasi Gigi Tiruan Sebagian Overlay menggunakan gigi tiruan sebagian overlay
1. Sebagai protesa interim yaitu protesa yang untuk koreksi kelainan openbite yang
digunakan dalam waktu yang singkat, didapat dari multipel gigi ankylosis.1,5,6
biasanya selama 2 sampai 6 bulan 3. Gigi tiruan sebagian overlay dapat menjadi
tujuannya untuk memberikan penyesuaian alternatif untuk pasien dengan keterbatasan
neuromuskular selama perubahan dimensi medis dan finansial dibanding melakukan
vertikal oklusal sehingga pasien dapat perawatan dengan gigi tiruan cekat.
beradaptasi dalam fungsi dan estetik. Perawatan yang ideal pada beberapa pasien
biasanya digunakan untuk pasien yang adalah dengan perawatan gigi tiruan cekat
mengalami keausan gigi yang berat dilanjutkan dengan perawatan orthodonti,
sehingga terjadi penurunan dimensi vertikal periodontal dan surgical. Bagaimanapun

814
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

keadaan finansial dan medis masalah yang anterior, posterior kiri kanan sedang, rahang
harus dipertimbangkan dalam suatu bawah anterior, posterior kiri kanan sedang,
perawatan, salah satu keuntungan utama relasi rahang normal, labialis superior, labialis
pada gigi tiruan sebagian overlay adalah inferior, bukalis rahang atas kiri-kanan,
lebih sederhana dan murah.1,5,6 bukalis rahang bawah kiri-kanan dan lingualis:
sedang, ruang protesa: anterior kecil, posterior
LAPORAN KASUS sedang.
Seorang pasien wanita, 60 tahun datang
ke RSGM Unsyiah dengan keluhan ingin
dibuatkan gigi tiruan lepas rahang atas dan
rahang bawah karena pasien merasa tidak
percaya diri dengan hilangnya gigi anterior
bawah. Kesehatan umum pasien baik dan
pasien belum pernah menggunakan gigi tiruan
sebagian lepas. Pemeriksaan rontgen
panoramik memperlihatkan tidak ada sisa
akar, tidak ada gigi impaksi, ketebalan tulang
mandibula normal, densitas tulang masih baik.

Gambar 2. Foto profil pasien dan tersenyum

Penatalaksanaan Perawatan
Melakukan anamnesa dan pemeriksaan
klinis kemudian pencetakan awal dengan
menggunakan alginet untuk pembuatan model
studi dan dilanjutkan dengan pembuatan foto
dental dan panoramik. Rencana Perawatan
Gambar 1. Rontgen panoramik
bagi pasien tersebut adalah sebelumnya
dilakukan perawatan pra-prosthodonti yaitu
Pemeriksaaan
DHE dan skeling dan pasien dikonsul ke
Pasien wanita, 60 tahun, mengalami
bagian konservasi untuk perawatan saluran
kehilangan gigi 12, 13, 17, 18, 22, 24, 27, 28,
akar gigi 44. Setelah perawatan saluran akar
31, 32, 34, 36, 38, 41, 42, 45, 46, 48. Pulpitis
selesai dilakukan pencetakan rahang atas dan
reversible gigi 44. Tambalan amalgam gigi 26,
rahang bawah dengan alginet dan diisi dengan
35, 37, 47. Metal full crown gigi 15 pada
dental stone. Model dibasis untuk membuat
pemeriksaan dimensi vertikal ditemukan free
desain GTS akrilik.
way space sebesar 6 mm. Keadaan umum
Protesa interim GTS akrilik dibuat
baik.
dengan peninggian DVO sebesar 2 mm, untuk
Ekstraoral: bentuk muka lonjong, profil
mengevaluasi apakah pasien merasa nyaman.
lurus, pupil dan tragus sama tinggi, rima oris
Dan diikuti dengan pengecekan oklusi dan
normal, bibir atas normal tipis simetris, bibir
artikulasi. Dilakukan observasi dengan kontrol
bawah normal, tebal simetris.
24 jam, 1 minggu serta 2 minggu setelah
Intraoral: kebersihan mulut sedang,
pemasangan.
kalkulus dan stain tidak ada, saliva normal,
gigitan ada tidak stabil, vestibulum rahang atas

Gambar 3. Gigi tiruan sebagian lepasan akrilik sebagai protesa sementara

815
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

Kontrol 1 minggu hanya diperlukan Berikutnya dilakukan try in gigi tiruan


sedikit penyesuaian pasien sudah merasa malam setelah pasien setuju dengan susunan
nyaman dengan DVO. Hanya pasien sering dan warna gigi, gigi tiruan sebagian overlay
tertusuk cengkram pada bagian anterior kiri. di-packin. Kunjungan berikutnya gigi tiruan
Kontrol selanjutnya pasien tidak ada keluhan sebagian overlay dipasang.
dan sudah dapat beradaptasi dengan GTS
akrilik interimnya. Dilanjutkan pembuatan gigi
tiruan sebagian overlay pada rahang atas dan
rahang bawah. Dengan desain, preparasi gigi
44 untuk dibuatkan fully veneered metal
porcelain crown, sampai dilakukan insersi.

Gambar 4. Dowel crown pada gigi 44

Setelah 2 bulan pasien datang kembali


untuk dilakukan pencentakan rahang atas dan Gambar 6. Gigi tiruan sebagian overlay sebelum
rahang bawah untuk mendapatkan model dan setelah pemasangan
kerja. Dilakukan survey untuk pembuatan gigi
tiruan sebagian overlay dan model dipasang Kontrol pertama pasien sudah dapat
pada articulator rata-rata dengan DVO yang menggunakan gigi tiruan overlay-nya, hanya
ditinggikan 2 mm sesuai dengan protesa ada sedikit basis akrilik yang masih kasar
sementara. Setelah wax-up selesai, kerangka sehingga pasien merasa tertusuk dan setelah
logam selanjutnya di-casting. Kerangka logam itu basis yang kasar dihaluskan. Selanjutnya
dicobakan dalam mulut untuk evaluasi dicek oklusi dengan artikulating paper.
adaptasi, oklusi, retensi dan stabilitas. Kontrol kedua pasien sudah dapat beradaptasi
Kunjungan berikutnya kerangka logam dengan gigi tiruan sebagian overlay-nya, gigi
dipasang galangan gigit dan dilakukan tiruan juga sudah dapat digunakan untuk
pencatatan relasi sentrik. Selanjutnya makan dan tidak ada keluhan yang berarti.
dilakukan face bow transfer dan model Kontrol ketiga pasien sudah sangat nyaman
tersebut dipasang pada artikulator dan puas dengan gigi tiruan sebagian overlay
semiadjustable pada relasi sentriknya. yang digunakan.

Gambar 7. Pasien sebelum (kiri) dan sesudah


menggunakan gigi tiruan sebagian
overlay (kanan), DVO dikembalikan
Gambar 5. Dipasang di artikulator semiadjustable dan free way space menjadi 4 mm

816
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

PEMBAHASAN Sebelum menggunakan gigi tiruan


Kehilangan gigi-gigi posterior dengan sebagian overlay sebagai protesa tetap, untuk
oklusi yang tidak stabil dapat menyebabkan memberikan penyesuaian neuromuskular,
penurunan DVO dan menyebabkan pasien menggunakan gigi tiruan sebagian
berkurangnya efisiensi pengunyahan serta akrilik sebagai protesa sementara selama 2
menganggu estetik. Penurunan DVO ini dapat bulan. Dalam tahapan protesa sementara
dievaluasi dari beberapa aspek seperti jarak oklusi dapat diperkirakan dan disesuaikan
interoklusal, fonetik dan penampilan fasial. pada setiap kunjungan untuk mendapatkan
Penatalaksanaan dalam pengembalian dimensi keharmonisan oklusi, meningkatkan sistem
vertikal oklusal harus dilakukan secara mastikasi, bicara dan estetik sehingga pasien
bertahap untuk memberikan penyesuaian akan terbiasa dengan dimensi vertikal oklusal
neuromuskular sehingga pasien dapat yang baru sebelum menggunakan protesa
beradaptasi selama perubahan dimensi vertikal tetap. Dengan dasar pada observasi protesa
oklusal.7,8 Kondisi klinis yang dapat sementara terbukti bahwa adaptasi pasien lebih
ditemukan setelah perubahan dimensi vertikal meningkat, pasien lebih nyaman dan dimensi
antara lain: vertikal oklusal yang diperolah lebih stabil.5,8
1. Sakit pada otot. Pada kondisi gigi miring overlay dapat
Mengubah dimensi vertikal biasanya berfungsi untuk mengevaluasi bidang oklusal,
menyebabkan rasa sakit tidak lebih dari 1– pada gigi 47 overlay diletakkan pada gigi asli
2 minggu. Rasa sakit yang terjadi biasanya dan bidang oklusal di bevel terlebih dahulu.
diakibatkan peningkatan sementara Apabila diperlukan gigi yang akan dijadikan
ketegangan otot. sebagai abutment dapat dipreparasi minimal
2. Stabilitas. sehingga lebih konservatif dibandingkan
Ketika membuka dan menutup rahang, dengan overdenture dimana gigi yang tersisa
dapat terjadi relaps sampai 1 mm dalam dilakukan perawatan endodontik dan cast gold
tahun pertama dan setelah itu akan stabil. coping.
Namun nilainya sangat kecil, sehingga Keterbatasan finansial atau keterbatasan
sering tidak tampak oleh dokter gigi lain dapat menjadi kendala bagi pasien dalam
ataupun pasien. memilih perawatan, dengan gigi tiruan
3. Aktivitas otot. sebagian overlay biaya yang dikeluarkan lebih
Dimensi vertikal akan meningkatkan sedikit dan hasilnya dapat diterima oleh
aktivitas elektromyografik dari otot pasien. Perawatan dengan gigi tiruan sebagian
elevator ketika clenching, namun setelah 2– overlay bersifat reversibel dan juga dapat
3 bulan akan kembali ke nilai normalnya. meningkatkan fungsi pengunyahan dan
Tonus otot postural akan berkurang ketika mengembalikan estetik secara signifikan tanpa
Dimensi vertikal ditinggikan, namun juga membahayakan gigi yang masih tersisa.
akan kembali normal dalam durasi 3 bulan. Telah dilakukan beberapa uji klinik
4. Fonetik. terhadap keberhasilan perawatan dengan gigi
Masalah bunyi lafal “S” akan terganggu. tiruan sebagian overlay. Del Castilo dkk
Biasanya kita tunggu sampai 1 bulan untuk melakukan terapi dengan gigi tiruan sebagian
mengevaluasi adaptasi pasien. Jika pasien overlay pada pasien anomali dan kelainan
tidak dapat beradaptasi, perlu kita koreksi kongenital seperti open oklusal posterior,
dengan memendekkan insisivus bawah. Murray melakukan terapi dengan gigi tiruan
Dalam kasus ini di samping mengalami sebagian overlay untuk restorasi oklusi
penurunan dimensi vertikal oklusal pasien juga fungsional pada pasien dengan klas III
mengalami gangguan estetik karena maloklusi skeletal.9,10
banyaknya gigi anterior yang hilang. Kekurangan dari gigi tiruan sebagian
Ditemukan free way space 6 mm dan gigi overlay adalah dapat terjadinya karies dan
karies mencapai pulpa. Perawatan yang dipilih penyakit periodontal apabila pasien tidak
adalah gigi tiruan sebagian overlay untuk menjaga kebersihan mulutnya dengan baik.
mengembalikan dimensi vertikal oklusal Jangan lupa instruksikan pada pasien untuk
dengan pertimbangan sebagai koreksi bidang menjaga kebersihan mulut dengan baik dan
oklusal, untuk kenyamanan protesa sehingga untuk melepas gigi tiruan sebagian overlay
tersedia ruangan untuk restorasi, estetik dapat pada malam hari.5,8
diperoleh dan lebih ekonomis.

817
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

KESIMPULAN 8. Turrell AJW. Clinical Assessment of Vertical


Gigi tiruan sebagian overlay dapat Dimension. Journal of Prosthetic
digunakan untuk mengembalikan DVO. Dentistry.2006;96(2): 79-82.
Dalam kasus ini ditemukan free way space 6 9. Ganddini MR, Mardini MA. maxillary and
mm dan dikembalikan menjadi 4 mm. mandibular overlay removable partial denture
Sebelum menggunakan gigi tiruan sebagian for the restoration of worn teeth. Journal
overlay sebagai protesa tetap pasien Prosthet Dent 2004;91:210-4
menggunakan gigi tiruan sebagian sementara 10. Lee H, Oster C. A technique to fabricate
yang terbuat dari akrilik dan pasien merasa metal occlusal surfaces for the overlay
sangat puas dengan hasil perawatan yang removable partial denture. J Prsthet Dent
dilakukan. Keuntungan utama dari protesa ini 2006; 96:456–457.
adalah pembuatannya yang mudah, harganya
yang ekonomis dan bersifat reversible
sehingga pasien merasa nyaman dengan
peningkatan dimensi vertikal yang bertahap.
Walaupun memiliki kekurangan estetik, pasien
biasanya dapat menerima perawatan dengan
gigi tiruan sebagian overlay ini. Yang perlu
diingat dalam perawatan ini, instruksi pada
pasien agar dapat menjaga kebersihan
mulutnya sehingga tidak terjadi karies dan
kelainan jaringan periodontal pada gigi
abutment dan kontrol secara berkala.

DAFTAR PUSTAKA
1. Schneidman E. Complete overlay denture
for the pediatric patient. Pediatric
Dentstry 1988; 10:222–225.
2. Patel MB, Becharit S. A treatment
protocol for restoring occlusal vertical
dimension using an overlay removable
partial denture as an alternative to
extensive fixed restoration. The Open
Dentistry Journal 2009; 3:213–218.
3. Chu FCS, Siu ACS. Restorative
management of the worn dentition: 4
generalized tooth wear. Dent Update
2002; 29:318–324.
4. Sato S, Hotta TH. Removable occlusal
overlay splint in the management of tooth
wear. The Journal of Prosthet Dent 2000;
83:392–395.
5. Ghadiali B. The removable occlusal
overlay splint in the management of tooth
wear. The Journal of Indian
Prosthodontic Society 2007; 7:153–157.
6. Castillo RD, Lamar F. Maxillary and
mandibular overlay removabel partial
denture for the treatment of posterior
open-occlusal relationship. J Prosthet
Dent 2002; 87:587–592.
7. Geerts GA. A Comparison of the Accuracy of
Two Methods used by Pre-doctoral Students
to measure Vertical Dimension. Journal of
Prosthetic Dentistry. 2004; 91(1): 59-66

818
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

OVERDENTURE DENGAN KOPING DOME-SHAPED UNTUK MENAMBAH


DUKUNGAN GIGI TIRUAN DAN MENCEGAH RESORPSI
LINGGIR ALVEOLAR: LAPORAN KASUS

Nidya Prettysia Sembiring*, Syafrinani**


*
Residen PPDGS Prostodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara
**
Departemen Prostodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Prinsip perawatan prostodonsia adalah menggantikan apa yang telah hilang serta melestarikan gigi
dan struktur rongga mulut yang masih ada. Mempertahankan gigi yang tersisa akan mencegah
resorpsi linggir alveolar. Resorpsi menyebabkan luas jaringan pendukung gigi tiruan berkurang.
Overdenture merupakan alternatif perawatan yang dapat menambah dukungan terhadap gigi tiruan.
Tujuan penulisan laporan kasus ini untuk menjelaskan pengelolaan pasien dengan kondisi hanya
beberapa gigi tersisa di anterior rahang bawah, menggunakan overdenture dengan koping dome-
shaped. Pasien laki-laki usia 56 tahun, datang ke RSGMP FKG USU ingin dibuatkan gigi tiruan pada
rahang atas dan rahang bawah karena kesulitan saat mengunyah. Pada pemeriksaan intraoral terlihat
gigi yang tersisa kaninus kiri dan kanan rahang bawah, dengan kondisi kaninus kiri mobiliti derajat 1
dan kaninus kanan mobiliti derajat 3. Pilihan perawatan terhadap kasus ini adalah overdenture dengan
koping dome-shaped pada gigi kaninus kiri rahang bawah serta pembuatan kerangka logam sebagai
penguat basis gigi tiruan rahang bawah. Gigi kaninus kanan diekstraksi karena mengalami mobiliti
parah dan tidak dapat dipertahankan. Penggunaan overdenture dengan koping dome-shaped pada gigi
yang tersisa di rahang bawah dapat menambah dukungan gigi tiruan dan mencegah resorpsi linggir
alveolar.

Kata kunci: Overdenture, koping dome-shaped, dukungan, resorpsi linggir alveolar

ABSTRACT
The principle of prosthodontic treatment is replacing what is lost and preserving teeth and oral
structures that remains. Preservation of remaining teeth will prevent alveolar ridge resorption.
Resorption can cause decrease of denture supporting area width. Overdenture is an alternative
treatment that can improve denture support. The purpose of this case report is to describe
management of a patient with condition of few teeth remaining on anterior mandible using
overdenture with dome-shaped coping. A 56 years old male patient came to RSGMP FKG USU and
wanted to have upper and lower denture because the patient has difficulty to chew. Intraoral
examination reveals the remaining teeth are mandible left and right canine with condition the
mandible left canine has 1° mobility and mandible right canine has 3° mobility. The treatment of
choice for this case is overdenture with dome-shaped coping on mandible left canine and metal frame
reinforcement on lower denture base. Mandible right canine was extracted because of severe mobility
and can not be preserved. The application of overdenture with dome-shaped coping for the remaining
teeth in mandible can improve denture support and prevent alveolar ridge resorption.

Key words: Overdenture, dome-shaped coping, support, alveolar ridge resorption

819
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

PENDAHULUAN dalam konstruksi overdenture, peneliti banyak


Kehilangan gigi umumnya dikaitkan menganjurkan penggunaan koping logam yang
dengan masalah estetis, fungsional, psikologis menyesuaikan dengan tinggi, kontur, dan
dan kehidupan sosial seseorang yang juga angulasi yang tepat dari gigi yang tersisa.
memiliki pengaruh terhadap kepercayaan diri Koping logam berguna untuk mengontrol
dan kesehatan pasien. Penyakit periodontal tekanan oklusal dan gaya rotasi yang
dan karies dianggap sebagai penyebab utama merugikan, juga untuk memberikan
kehilangan gigi.1 Sebagai seorang dokter gigi, perlindungan terhadap karies.9 Ukuran tinggi
tujuan utama kita tidak hanya melakukan koping bervariasi dari yang pendek 2–3 mm
pencegahan pada karies dan penyakit hingga panjang 5–8 mm. Koping dome-shaped
periodontal tetapi juga kehilangan tulang yang pendek menurut peneliti lebih ideal
alveolar akibat pencabutan gigi.2–6 Pencabutan karena memberikan rasio mahkota-akar yang
seluruh gigi dan menggantikan dengan gigi baik, memungkinkan penyebaran beban
tiruan lengkap konvensional bukan perawatan oklusal ke sepanjang poros gigi dan membantu
yang diharapkan. Kehilangan tulang yang mengurangi tekanan lateral. Pengurangan rasio
parah, kurangnya dukungan terhadap gigi mahkota-akar dan konfigurasi dome-shaped
tiruan, rendahnya kemampuan pengunyahan dapat mengurangi mobilitas gigi dan
dan hilangnya kemampuan proprioseptif memberikan dukungan yang maksimal.9–12
jaringan periodonsium merupakan masalah Koping dome-shaped yang pendek
yang umum didapati pada penggunaan gigi diindikasikan untuk gigi yang telah dirawat
tiruan lengkap.4,7,8 Overdenture merupakan endodontik, dukungan tulang terbatas dan
salah satu alternatif perawatan sederhana yang jarak interoklusal sedikit.11
membantu mengatasi beberapa masalah yang Masalah yang umum dikaitkan dengan
dihadapi pada penggunaan gigi tiruan lengkap overdenture rahang bawah adalah fraktur pada
dan merupakan upaya paling akhir agar pasien area midline gigi tiruan, sehingga untuk
tidak kehilangan gigi, dengan demikian meningkatkan kekuatan basis gigi tiruan
mempertahankan fungsi kunyah dan mencegah dibuatkan penguat kerangka logam.1
resorpsi tulang alveolar.5,9 Hatim dkk (2011) Laporan kasus ini akan membahas
melaporkan bahwa kepuasan dan penerimaan tentang penatalaksanaan overdenture dengan
pasien yang dirawat overdenture, lebih baik koping dome-shaped pada gigi yang tersisa di
daripada pasien yang dirawat dengan gigi rahang bawah untuk menambah dukungan
tiruan lengkap konvensional.4 terhadap gigi tiruan dan mencegah resorpsi
Overdenture adalah gigi tiruan sebagian linggir alveolar, serta pembuatan kerangka
atau lengkap lepasan yang menutupi dan logam sebagai penguat basis gigi tiruan rahang
bersandar pada satu atau lebih gigi natural, bawah.
akar gigi, dan/atau dental implants.
Mempertahankan elemen gigi natural dan/atau LAPORAN KASUS
akarnya, akan memberikan keuntungan antara Seorang laki-laki, usia 56 tahun, datang
lain: menambah dukungan terhadap gigi ke RSGMP FKG USU dengan keluhan ingin
tiruan, serta mempertahankan rangsang dibuatkan gigi tiruan pada rahang atas dan
sensoris dan dimensi vertikal. bawah karena kesulitan saat mengunyah
Mempertahankan beberapa gigi natural juga makanan.
dapat meningkatkan nilai psikologis bagi Pemeriksaan ekstraoral terlihat profil
pasien. Indikasi overdenture adalah pada gigi wajah pasien dari samping cekung dan dari
dengan mobilitas minimal, gingiva cekat depan lancip (Gambar 1), tidak ada riwayat
melekat dengan baik, tersisa paling sedikit satu penyakit sistemik, sendi rahang normal dan
gigi yang masih dapat dipertahankan, pasien sikap mental pasien filosofis.
dengan prognosis yang buruk untuk dibuatkan
gigi tiruan lengkap. Kontraindikasi
overdenture adalah pada kondisi oral hygiene
buruk, indeks karies tinggi sehingga prognosis
gigi untuk dipertahankan buruk, pasien dengan
keterbatasan ekonomi, fisik dan mental.5–10
Untuk menambah dukungan dan
stabilitas, terdapat berbagai bentuk dan alat Gambar 1. Profil wajah pasien

820
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

Pemeriksaan intraoral terlihat edentulus dengan linggir datar pada posterior rahang
pada rahang atas dan gigi yang tersisa di bawah disertai relasi rahang klas III.
rahang bawah 33 dan 43, dengan kondisi gigi Perawatan yang dilakukan pada pasien adalah
33 ekstrusi sebesar 3 mm dan mobiliti derajat pembuatan gigi tiruan lengkap resin akrilik
1, gigi 43 ekstrusi sebesar 5 mm dan mobiliti pada rahang atas dan gigi tiruan lengkap
derajat 3. Linggir posterior rahang bawah datar overdenture dengan koping dome-shaped pada
dan vestibulum dangkal. Hubungan linggir rahang bawah serta pembuatan kerangka
alveolar adalah klas III, rahang bawah lebih logam sebagai penguat untuk mencegah
panjang dan lebar dari rahang atas. Kuantitas fraktur basis gigi tiruan rahang bawah.
dan kualitas saliva normal, bibir dan mukosa
mulut normal (Gambar 2). Prosedur Klinik Dan Laboratorium
1. Perawatan pendahuluan dengan pencabutan
gigi 43, dan perawatan saluran akar gigi 33
yang akan dibuatkan koping dome-shaped.
2. Mahkota gigi 33 dipreparasi bentuk convex
dengan ketinggian 2 mm di atas margin
gingiva. Akhiran servikal berbentuk
chamfer pada tepi gingiva. Preparasi
dinding saluran akar sampai 1/3 panjang
Gambar 2. Gambaran intraoral akar dengan gates glidden drill dan
endodontic pluger, kemudian saluran akar
Pemeriksaan radiografi panoramik dibesarkan dengan peeso reamer untuk
terlihat tidak ada gigi yang terpendam. Rasio menghilangkan undercut dan
mahkota akar gigi 33 (1,5:1), rasio mahkota mempersiapkan ruangan untuk pasak.
akar gigi 43 (5:1) dan terdapat kehilangan Membuat key lock pada daerah servikal
tulang yang parah di regio gigi 43, sehingga yang berbentuk bulat dengan kedalaman ±
gigi 43 mempunyai prognosis buruk jika 2 mm (Gambar 5).
dipertahankan (Gambar 3).

Gambar 5. Preparasi gigi kaninus kiri mandibula

Gambar 3. Radiografi panoramik 3. Evaluasi saluran akar yang dipreparasi


dengan menggunakan green kerr
Pencetakan anatomis dilakukan dengan compound yang dipanaskan dan
menggunakan bahan cetak alginat. Pengisian diaplikasikan pada kawat, kemudian
cetakan dengan gips keras tipe III untuk dimasukkan ke dalam saluran akar.
mendapatkan model anatomis (Gambar 4).

Gambar 4. Model anatomis Gambar 6. Hasil evaluasi saluran akar

Berdasarkan pemeriksaan diperoleh 4. Gigi dan saluran akar yang telah


diagnosa pada rahang atas edentulus dan pada dipreparasi dicetak untuk pembuatan
rahang bawah klas I Kennedy modifikasi 1, koping dome-shaped dengan bahan cetak

821
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

kombinasi elastomer monophase dan light 7. Pembuatan basis gigi tiruan resin akrilik
body, kemudian cetakan diisi dengan gips rahang atas dan basis gigi tiruan rahang
keras tipe IV (Gambar 7). bawah yang diperkuat dengan kerangka
logam, serta pembuatan oklusal rim
a. b. (Gambar 11).

a. b.

Gambar 7. a. Pencetakan fisiologis untuk


pembuatan koping, b. Model fisiologis
Gambar 11. a. Kerangka logam, b. Basis gigi
5. Prosedur laboratorium pembuatan koping tiruan dan oklusal rim
dome-shaped. Setelah selesai, maka
dilakukan pasang percobaan dan 8. Basis gigi tiruan beserta oklusal rim dengan
penyemenan tetap koping dome-shaped dimensi vertikal dan relasi sentrik yang
pada gigi 33 dengan semen glass ionomer sudah ditentukan difiksasi, kemudian
(Gambar 8). ditanam ke dalam artikulator semi
adjustable. Penyusunan gigi tiruan artifisial
a. b. dilakukan menggunakan bentuk gigi
anatomis (33°) dengan lebar buko lingual
yang lebih kecil untuk mengurangi beban
yang diterima. Penyusunan gigi tiruan
artifisial dengan konsep oklusi seimbang
dan gigi posterior disusun dengan
hubungan crossbite bilateral (Gambar 12).
Gambar 8. a. Hasil casting koping, b. Pemasangan
koping dome-shaped

6. Pencetakan fisiologis dengan sendok cetak


fisiologis, menggunakan bahan cetak
elastomer monophase (Gambar 9),
kemudian hasil cetakan diisi dengan gips
keras tipe IV untuk mendapatkan model
fisiologis (Gambar 10). Gambar 12. Penyusunan gigi tiruan artifisial

9. Setelah uji coba ke dalam mulut pasien,


dilakukan proses akrilik polimerisasi panas,
polishing kemudian dilakukan pemasangan
gigi tiruan rahang atas dan rahang bawah
ke dalam mulut pasien (Gambar 13).

Gambar 9. Pencetakan fisiologis untuk pembuatan


gigi tiruan

Gambar 13. Pemasangan gigi tiruan

PEMBAHASAN
Keberhasilan perawatan overdenture,
Gambar 10. Model fisiologis dapat dicapai dengan pemilihan kasus,
822
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

diagnosa dan rencana perawatan yang tepat. (1978), menyatakan bahwa mempertahankan
Ada beberapa alternatif perawatan terhadap kaninus rahang bawah untuk overdenture
kasus di atas, antara lain gigi tiruan lengkap dapat membantu melestarikan tulang
overdenture, gigi tiruan lengkap dukungan alveolar.8,16 Brewer dan Morrow (1980)
implan dan gigi tiruan lengkap konvensional menyatakan bahwa kaninus memiliki reseptor
dengan pencabutan gigi natural yang tersisa. neuron yang lebih banyak dibandingkan gigi
Gigi tiruan lengkap dukungan implan dapat yang lain. Penelitian terhadap respons kaninus
memberikan dukungan tambahan, retensi dan mengindikasikan bahwa kaninus memiliki
mempertahankan tulang alveolar, namun tidak kemampuan signifikan untuk memberikan
dapat mempertahankan kemampuan dukungan terhadap overdenture.17 Gigi
proprioseptif jaringan periodonsium.6 posterior yang disusun dengan konsep oklusi
Keberhasilan penggunaan gigi tiruan lengkap seimbang, dapat menambah stabilitas karena
konvensional sulit dicapai karena linggir tekanan terhadap gigi tiruan dapat disalurkan
posterior rahang bawah datar, sehingga gigi merata ke seluruh lengkung gigi.5
tiruan menjadi kurang stabil. Faktor-faktor Masalah yang umum dikaitkan dengan
yang menyebabkan kesulitan dalam overdenture rahang bawah adalah fraktur pada
penggunaan gigi tiruan lengkap konvensional area midline gigi tiruan. Pada kasus ini
pada rahang bawah, yaitu: kurangnya daerah dilakukan penambahan kerangka logam pada
pendukung gigi tiruan, mukosa linggir alveolar rahang bawah dengan bahan cobalt-chromium
yang tipis, mobilitas dasar mulut serta sebagai penguat untuk mencegah fraktur basis
pergerakan dari mandibula.13 Pembuatan gigi gigi tiruan.1,15 Overdenture rahang bawah
tiruan lengkap overdenture merupakan upaya dengan bahan resin akrilik lebih rentan fraktur
efektif agar pasien tidak kehilangan gigi, karena kurangnya luas pendukung gigi tiruan
sehingga resorpsi linggir alveolar dapat dibandingkan dengan rahang atas. Ohtani dkk
dicegah, kemampuan proprioseptif jaringan (1991) melaporkan bahwa fraktur overdenture
periodonsium dapat dipertahankan dan terjadi di regio dimana terdapat koping,
dukungan terhadap gigi tiruan bertambah.3–9 sehingga penguat basis gigi tiruan dengan
Pada kasus ini dilakukan pembuatan kerangka logam dapat mencegah fraktur basis
overdenture dengan koping dome-shaped pada gigi tiruan.15
gigi kaninus kiri mandibula. Pengurangan Salah satu persyaratan penting untuk
tinggi gigi 33 hingga 2 mm di atas margin keberhasilan overdenture adalah kesadaran
gingiva menyebabkan rasio mahkota-akar gigi pasien akan pentingnya meningkatkan oral
menjadi lebih baik, mengurangi tekanan hygiene dari gigi yang dipertahankan dan
terhadap gigi, memberikan ruang untuk memelihara gigi tiruannya. Pasien
overdenture dan keadaan mobiliti derajat 1 diinstruksikan untuk melakukan program oral
menjadi tidak ada lagi, sehingga pasien dapat hygiene, termasuk penggunaan pasta gigi yang
menggunakan gigi tiruan dengan baik untuk mengandung fluoride dan kunjungan berkala
pengunyahan dan bicara. Koping dome-shaped yang teratur ke dokter gigi setiap 6 bulan
pada kasus di atas dapat memberikan sekali.1,5,6,10,12
dukungan tambahan, namun tidak untuk
menambah retensi. Desain ini juga KESIMPULAN
memungkinkan distribusi beban yang baik di Overdenture dengan koping dome-
sepanjang linggir dan mengurangi torsi dalam shaped merupakan alternatif perawatan terbaik
arah horizontal.12 Preparasi akhiran servikal karena dapat menambah dukungan terhadap
berbentuk chamfer bertujuan memberikan gigi tiruan, mencegah resorpsi tulang alveolar
ketebalan logam yang cukup untuk dan mempertahankan kemampuan
mendukung struktur gigi. Pembuatan key lock proprioseptif jaringan periodonsium. Pasien
berbentuk bulat pada daerah servikal, perlu memiliki kesadaran akan oral hygiene
bertujuan untuk mencegah koping berputar.10 yang baik dan kemampuan untuk memelihara
Gigi kaninus paling sesuai untuk gigi tiruan, sehingga tercapai keberhasilan
menahan overdenture karena paling sensitif di perawatan overdenture dengan koping dome-
antara semua gigi. Mempertahankan satu atau shaped.
lebih akar gigi kaninus memberikan
keuntungan fungsional dan biologis pada
pasien.7,14 Penelitian Crum dan Rooney

823
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

DAFTAR PUSTAKA 13. Chee W, Jivraj S. Treatment planning of


1. Chakravarthy AK, Sharif KY, the edentulous mandible. British dental
Mallikarjun M, Babu KM, Gautham P. Journal 2006; 201(6):337–347.
Tooth supported overdenture with 14. Ronald LE. Do root supported
stainless steel mesh reinforced. SRM overdentures have a good prognosis in
Journal of Research in Dental Sciences general dental practice?. Available at:
2015; 6(2):129–133. http://www.oralhealthgroup.com.
2. Tulika SK, Sandeep VG, Sabita MR, Accessed March 1, 2014.
Nandeeshwar DB. Immediate 15. Shikha J, Roma G, Singh SP. Metal
overdenture. Journal of Contemporary reinforced mandibular overdenture with
Dentistry 2012; 2(3):101–105. bar attachment. E-Journal of Dentistry
3. Saba N, Bharathi SS, Gupta P. 2013; 3(3): 447–450.
Overdenture: Preventive prosthodontics. J 16. Crum RJ, Rooney GE Jr. Alveolar bone
Dent Sci Oral Rehab 2014; 5(1):48–51. loss in overdentures: A 5-years study. J
4. Hatim NA, Mohammed ST. Solving Prosthet Dent 1978; 40:610–613.
complete denture problems by the use of 17. Brewer AA, Morrow RM. Overdenture.
overdenture: Clinical case report. Al– 2nd ed. St Louis: The CV Mosby Co.
Rafidain Dent J 2011; 11(2):238–243. 1980: 3–11.
5. Soesetijo FXA. Overdenture: Perawatan
dengan pendekatan preventif dan
konservatif. CDK-190 2012; 39(2):102–
105.
6. Verma P, Kalra NM, Kalra S, Garg S.
Conventional tooth supported
overdentures-Case report: Solutions for
challenging situations. Indian Journal of
Dental Sciences 2014; 5(6):61–63.
7. Dipti SS, Kalpesh V, Harish PM, Pankaj
P. Overdenture: conventional to
contemporary: A review. Journal of
Research and Advancement in Dentistry
2013; 2(1):24–30.
8. Dhir RC. Clinical assessment of the
overdenture therapy. The Journal of
Indian Prosthodontic Society 2005;
5(4):187–192.
9. Magdy EMES, Rami MG, Emiel AMH.
Electromyographic and clinical
assessment of different abutment tooth
designs of tooth supported mandibular
overdentures. Cairo Dental Journal 2008;
24(2):223–231.
10. Preiskel HW. Overdentures made easy: A
clinical guide to implant and root
supported prostheses. London:
Quintessence publishing Co Ltd 1996;
13:45–53.
11. Asopa SJ, Narendra PU, Bhayana R.
Mandibular overdentures revisited: Case
reports. Journal of Dentofacial Sciences
2014; 3(1):35–40.
12. Rahul S, Vaibhav A, Rajeev S. Simple
overdenture technique, lasting results – A
case report. NJDSR 2012; 1:37–41.

824
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

MULTIPLE SUPERNUMERARY TEETH YANG LANGKA:


SEBUAH LAPORAN KASUS

Teuku Ahmad Arbi

Departermen Bedah Mulut


Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Syiah Kuala

ABSTRAK
Supernumerary teeth adalah gigi yang tumbuh lebih dari jumlah normal gigi pada umumnya.
Supernumerary teeth bisa berupa gigi tunggal, multiple, tumbuhnya unilateral, bilateral, pada satu
atau kedua rahang. Namun kebanyakan tumbuh di regio anterior rahang atas dan regio molar. Amat
jarang mengenai kedua rahang. Supernumerary teeth sering dikaitkan dengan Gardner sindrom, fasial
cleft ataupun cleidocranial dysplasia. Akibat supernumerary teeth bisa menimbulkan gangguan erupsi
gigi, pergeseran gigi, gigi berjejal, resorbsi akar dan pembentukan kista dentigerous. Pada kasus kami,
perempuan Indonesia usia 15 tahun dikonsultasikan dari orthodonsia dengan 10 supernumerary teeth,
persistensi gigi susu, impaksi kaninus. Lima supernumerary teeth berada di regio premolar kanan
rahang atas dan regio molar rahang atas bilateral. Lima gigi lainnya di regio premolar rahang bawah
bilateral. Tidak ada riwayat serupa dalam keluarga dan pasien tidak terkait sindroma tertentu.
Diputuskan untuk dilakukan ekstraksi supernumerary teeth rahang atas, ekstraksi gigi susu dan
odontektomi kaninus impaksi dalam narkose. Sementara lima supernumerary teeth di rahang bawah
diobservasi oleh orthodontis mengingat susunan gigi rahang bawah sudah baik. Kesimpulan dari
laporan kasus ini adalah supernumerary teeth yang asimptomatik dan tidak mengganggu perawatan
orthodonsia tidak harus selalu diekstraksi. Observasi berkala perlu dilakukan untuk memonitor
supernumerary teeth yang tidak diekstraksi.

Kata kunci: Supernumerary teeth, multiple extraction, observasi

ABSTRACT
Supernumerary teeth are the teeth present in additional to the normal set of teeth. They may be single,
multiple, unilateral or bilateral, erupted or unerupted and in one or both jaws. Supernumerary teeth is
often associated with Gardner syndrome, facial fissures or cleidocranial dysplasia. Multiple
supernumerary teeth are rare in individuals with no other associated diseases or syndromes.
Supernumerary teeth are most frequently seen in the maxillary anterior and molar regions. The
supernumerary teeth can cause problems for the eruption and alignment of normal dentition.
Associated problem can range from failure of eruption, displacement, crowding, root resorbtion, or
formation of dentigerous cyst. Our case presents a 15 years old Indonesian female with 10
supernumerary teeth in mix dentition of which all of them were unerupted. Five teeth in the upper
jaw, and five more in the lower premolar region. There was no history of supernumerary teeth in
family and no syndromes involved. It was decided to surgically remove supernumerary teeth in the
upper jaw. Five supernumerary teeth on the lower premolar region were decided to be observed
followed by orthodontic alignment of remaining teeth. The conclusion from this case report is The
asymptomatic supernumerary teeth which not disturb orthodontic treatment do not need to be
extracted. Periodically observation should be perform in order to monitor the remaining
supernumerary teeth.

Key words: Supernumerary teeth, multiple extraction, observation

825
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

PENDAHULUAN
Gigi geligi memiliki peran penting
dalam pengunyahan, bicara dan pembentukan
profil wajah. Adanya jumlah gigi yang
berlebihan dalam satu set gigi baik gigi sulung
maupun permanen disebut supernumerary
teeth. Sebagian besar ahli berpendapat bahwa
adanya gigi ini akibat proliferasi horizontal
atau hiperaktivitas dental lamina. Bentuk dan
ukuran supernumerary teeth bermacam ragam,
ada yang normal, lebih kecil atau lebih besar Gambar 1. Radiografi panoramik
dari gigi sekitarnya dan ada yang berupa
sekumpulan material pembentuk gigi Pada foto oklusal maksila, tampak
berbentuk kista (odontoma). supernumerary teeth dengan impaksi kaninus
Supernumerary teeth didefinisikan yang posisinya lebih ke arah palatal.
sebagai kelebihan jumlah gigi pada satu set
gigi, baik gigi sulung maupun permanen.
Supernumerary teeth dapat berupa gigi
tunggal, multiple, unilateral atau bilateral dan
pada maksila, mandibula atau keduanya.1
Kasus yang melibatkan satu atau dua
supernumerary teeth biasanya paling sering
terjadi di anterior maksila. Sedangkan yang
melibatkan supernumerary multiple biasanya
berada di regio premolar mandibula.2 Sangat
jarang supernumerary teeth terjadi pada
rahang atas maupun rahang bawah.3
Prevalensinya dilaporkan antara 0,3–0,8% Gambar 2. Foto oklusal maksila
pada gigi sulung dan 0,1–3,8% pada gigi
permanen.4 Predileksi pada laki-laki dua kali Pada foto oklusal mandibula tampak
lebih banyak daripada perempuan.5 lima buah supernumerary teeth yang posisinya
di apikal premolar kanan maupun kiri
LAPORAN KASUS mandibula.
Perempuan Indonesia usia 15 tahun
dikonsultasikan dari orthodonsia dengan
supernumerary teeth, persistensi gigi susu,
impaksi caninus. Tidak ada riwayat serupa
dalam keluarga dan pasien tidak terkait
sindroma tertentu. Tidak ditemukan adanya
kelainan sistemik pada pasien yang berkaitan
dengan masalah ini. Dokter yang melakukan
perawatan orthodonsia memperkirakan adanya
kesulitan pergerakan gigi-geligi bila
supernumerary teeth tersebut tidak dicabut.
Dari permeriksaaan radiologis
menggunakan foto panoramik menunjukkan
adanya dua buah supernumerary teeth di regio Gambar 3. Foto oklusal mandibula
premolar kanan maksila, satu supernumerary
teeth di regio distal molar dua, persistensi dm2 Diputuskan untuk dilakukan ekstraksi
dan impaksi kaninus kanan maksila. Terdapat supernumerary teeth rahang atas, ekstraksi
juga dua buah supernumerary teeth di regio gigi susu dan odontektomi caninus impaksi
molar dua kiri maksila. Pada mandibula, dalam narkose. Sementara lima
terdapat empat buah supernumerary teeth di supernumerary teeth di rahang bawah
regio premolar sisi kanan maupun kiri diobservasi oleh orthodontis mengingat
mandibula. susunan gigi rahang bawah sudah baik.

826
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

Gambar 4. Proses ekstraksi supernumerary teeth

PEMBAHASAN yang biasanya erupsi sedangkan


Supernumerary teeth dapat erupsi secara supernumerary teeth gigi sulung erupsi
normal, impaksi ataupun inverted. sebanyak 73%. Supernumerary teeth biasanya
Supernumerary teeth yang orientasi normal ditemukan pada pemeriksaan radiografis rutin
biasanya erupsi sempurna. Hanya 13–34% dari dan umumnya asimptomatik. Namun terdapat
semua supernumerary teeth gigi permanen komplikasi yang bisa timbul akibat adanya

827
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

supernumerary teeth sangat bervariasi, antara 4. Odontoma: tidak berbentuk gigi, biasanya
lain: hanya massa jaringan gigi.
1. Mengganggu erupsi gigi tetap sehingga
terjadi delay eruption.7 Tata Laksana
2. Pergeseran atau rotasi gigi permanen. Langkah pertama untuk tata laksana
3. Crowding. supernumerary teeth adalah menentukan
4. Space yang tidak tertutup sempurna lokasi dan mengidentifikasi komplikasi yang
selama perawatan orthodontik.6 terjadi akibat adanya supernumerary teeth
5. Dilaserasi atau pembentukan akar gigi tersebut. Posisi gigi dapat ditentukan dengan
yang abnormal pada gigi tetangga menggunakan foto periapikal, panoramik dan
6. Resorbsi akar gigi tetangga.8 foto proyeksi oklusal. Semakin jelas
penentuan lokasi gigi, memudahkan kita
Etiologi dalam menilai apakah gigi tersebut
Terdapat beberapa teori yang membahayakan gigi tetangganya, mengganggu
menjelaskan timbulnya supernumerary teeth pergeseran gigi pada perawatan orthodonsia
yaitu: atau tidak, sehingga kita dapat menentukan
• Teori hiperaktivitas dental lamina tindakan apa yang paling tepat untuk
Bentuk gigi tambahan akan berkembang supernumerary teeth tersebut.11
dari ekstensi lingual dari benih gigi (tooth Jika gigi tidak menyebabkan komplikasi
bud). Bentuk rudimenter ini akan terbentuk dan tidak mengganggu pergerakan gigi dalam
dari sisa epitel dental lamina. Meskipun teori perawatan orthodontik, gigi tersebut dapat
ini masih sebatas hipotesis karena kita tidak hanya diobservasi tahunan dengan radiografis.
mampu menunjukkan gambaran material Pasien harus diberi tahu komplikasi termasuk
secara embriologis, kebanyakan literatur perubahan kista dan migrasi gigi dengan
mendukung teori ini.9 kerusakan akar gigi tetangganya. Jika pasien
• Faktor genetik tidak berharap terjadinya risiko komplikasi,
Faktor genetik dipertimbangkan sebagai dapat dipertimbangkan untuk mengoperasi
suatu hal yang penting pada adanya supernumerary teeth tersebut. Jika
supernumerary teeth. Berbagai kasus telah supernumerary teeth berkaitan dengan akar
dilaporkan adanya rekurensi dalam satu gigi permanen, dipertimbangkan untuk
keluarga. Gen yang berkaitan dengan jenis menunggu selesainya pembentukan akar gigi
kelamin (sex-linked) diperkirakan memiliki yang terkait sebelum dilakukan ekstraksi
kaitan dengan supernumerary teeth, dimana supernumerary teeth untuk meminimalisasi
laki-laki dua kali lebih sering memiliki kerusakan akar gigi permanen.
supernumerary teeth dibandingkan wanita.10 Pada kasus di atas, dari foto panoramik
dan oklusal rahang bawah tampak kelima gigi
Klasifikasi supernumerary di regio premolar rahang
Klasifikasi supernumerary teeth bawah bilateral posisinya di bawah apikal gigi
berdasarkan posisi dan bentuk. Berdasarkan permanen. Secara klinis tidak ada bulging di
posisinya: bukal maupun palatal. Tidak ada keluhan pada
1. Mesiodens terletak di resio insisif. pasien dan setelah dilakukan perawatan
2. Paramolar, terletak di belakang sebuah orthodonsia, gigi geligi rahang bawah dapat
molar. digerakkan secara aktif. Tidak dilaporkan
3. Distomolar terletak di distal molar adanya kesulitan pergerakan gigi akibat
terakhir. tahanan yang diberikan oleh supernumerary
4. Parapremolar terletak di belakang teeth rahang bawah. Mengingat kondisi ini
premolar. maka diputuskan untuk melakukan observasi
Berdasarkan bentuknya: berkala 6 bulan dan tidak dilakukan
1. Conical: gigi berbentuk peg shape. pembedahan untuk ekstraksi supernumerary
2. Tuberculate: terbentuk dari lebih dari satu teeth rahang bawah.12
cusp atau tuberkel. Bentuknya seperti
barrel. KESIMPULAN
3. Suplemental: berbentuk gigi yang normal, Supernumerary teeth umum terjadi dan
biasanya insisif, premolar atau molar. dapat menyebabkan beberapa komplikasi.
Dokter harus dapat mengetahui adanya

828
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

supernumerary teeth terutama pada pasien 10. Batra P, Duggal R, Parkash H. Non-
yang mengalami gangguan erupsi gigi. Pada syndromic multiple supernumerary teeth
diagnosis, setiap kasus supernumerary teeth transmitted as anautosomal dominant
harus ditata laksana dengan baik untuk trait. J Oral Pathol Med 2005;34:621-
meminimalisasi timbulnya komplikasi. Untuk 625.
gigi yang dipandang tidak mengganggu 11. Neville BW, Damm DD, Allen CM,
perkembangan gigi tetap dan tidak Bouquot JE. Oral and Maxillofacial
mengganggu perawatan orthodontik, tidak Pathology. 2nd ed. Philladelphia: WB
perlu dilakukan ekstraksi gigi. Dilakukan Saunders. 2002: 69–73.
observasi berkala dengan tetap memberi 12. Kokich VG, Mathews DP. Surgical and
informasi yang jelas kepada pasien risiko orthodontic management of impacted
komplikasi yang bisa timbul. teeth. Dent Clin North Am 1993;
37(2):181–204.
DAFTAR PUSTAKA
1. Gorlin RJ, Goldman HM. Thoma’s Oral
Pathology. 6th ed. St Louis: CV Mosby.
1970.
2. Mitchell L. Supernumerary teeth. Dent
Update 1989; 16:65–69.
3. Ramsaran AS, Barclay S, Scipio E,
Ogunsalu C. Non-syndromal multiple
buried supernumerary teeth: Report of
two cases from the English speaking
Caribbean and a review of the literature.
West Indian Med J 2005; 54(5):334–336.
4. Gorlin RJ, Cohen MM, Hennekam RCM.
Dental anomalies and their frequency. In:
Syndromes of The Head and Neck (Gorlin
RJ, Cohen MM, Hennekam RCM, eds).
4th ed. Oxford University Press. 2001:
1224–1226.
5. Mason C, Azam N, Holt RD, Rule DC. A
retrospective study of unerupted
maxillary incisors associated with
supernumerary teeth. Br J Oral
Maxillofac Surg 2000; 38:62–65.
6. Hansen L, Kjaer I. A premaxilla with a
supernumerary tooth indicating a
developmental region with a variety of
dental abnormalities: A report of nine
cases. Acta Odontol Scand 2004;
62:30−36.
7. Garvey TM, Barry HJ, Blake M.
Supernumerary teeth-an overview of
classification, diagnosis and management.
Journal Canada Dental Association
1999;65:611-616.
8. Sian JS. Root resorption of first
permanent molar by a supernumerary
premolar. Dent Update 1999;
26:210−211.
9. Rajab LD, Hamdan MAM.
Supernumerary teeth: Review of the
literature and a survey of 152 cases. Int J
Paediatr Dent 2002; 12:244−254.

829
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

KOREKSI GIGI INSISIVUS SENTRAL RAHANG ATAS YANG MENGALAMI ROTASI


BERAT MENGGUNAKAN ALAT WHIP

Komalawati

Departemen Orthodonti
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Syiah Kuala

ABSTRAK
Artikel ini untuk memperkenalkan suatu alat yang dapat digunakan untuk memperbaiki rotasi berat
gigi anterior pada anak remaja. Desain alat dan uji coba ini adalah laporan kasus seorang anak laki-
laki berusia 11 tahun dengan gigi geligi campuran maloklusi kelas I yang mengalami rotasi berat pada
gigi insisivus sentral kiri rahang atas dan terdapat mesiodens di antara gigi insisivus sentral. Hal yang
pertama kali dilakukan adalah mencabut gigi supernumerary, dan kemudian dilakukan pemasangan
alat lepasan yang terdiri dari whip, spring cantilever dan bonded tube pada gigi yang mengalami
rotasi. Setelah 8 bulan, insisivus sentral kiri atas berada pada arah yang tepat secara ortodonti.
Dilakukan fibrotomi suprakrestal melingkar di samping koreksi berlebihan pada gigi dan satu minggu
setelah pembedahan, alat tersebut dilepas dan dimulai untuk penggunaan retensi. Kesimpulan dari
laporan kasus ini adalah alat whip, merupakan suatu alat lepasan yang sangat efektif untuk
memperbaiki rotasi berat gigi anterior.

Kata kunci: Gigi rotasi, alat whip, rotasi gigi anterior

ABSTRACT
This article was to introduce an appliance that can be used for correcting severe rotation of anterior
teeth in pre-adolescent children. Appliance design and testing this is a case report of an 11-years-old
boy with a mixed dentition class I malocclusion defined by a severe rotation of upper left central
incisor and a mesiodens between the centrals. The supernumerary tooth was first extracted, and then a
whip device including removable appliances, a cantilever spring and bonded tube on rotated tooth was
inserted into his mouth. After 8 months, the upper left central incisor was orthodontically brought into
proper alignment. Circumferential supracrestal fibrotomy was done next to overcorrection of the tooth
and one week after surgery, the device was removed and the retention was started. Conclusion from
this case report is the whip device, a removable appliances can be very effective for correcting severe
rotation of anterior teeth.

Key words: Rotation teeth, whip device, rotation of anterior teeth

830
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

PENDAHULUAN Tujuan laporan kasus ini adalah untuk


Gigi supernumerary adalah gigi memperkenalkan suatu alat ortodonti cekat-
berlebih yang berkembang sebagai tambahan lepasan yang dilakukan pada pasien dengan
dari jumlah gigi geligi normal. Hal ini terjadi rotasi berat gigi anterior maksila.
dari suatu gangguan perkembangan selama
masa odontogenesis.1,2 Terdapat bukti Desain Alat
keterlibatan faktor-faktor herediter dan Alat yang digunakan terdiri dari alat
lingkungan yang menyebabkan kondisi ini.3 ortodonti lepasan, suatu spring cantilever
Mesiodens adalah gigi supernumerary (whip) dan bonded tube. Alat lepasan dibuat
yang paling sering terjadi dengan adanya dari plat basis akrilik, posterior bite plane,
malformasi, gigi yang menyerupai baji dan clasp sirkumferensial pada kaninus sulung
terdapat di antara insisivus sentral maksila.3,4 rahang atas dan molar pertama permanen
Mesiodens lebih sering terjadi pada gigi maksila, serta clasp Adam pada molar kedua
permanen dibandingkan gigi sulung dan sulung rahang atas (Gambar 1).
insidensinya mencapai 0–1.9% untuk gigi
sulung dan antara 0.15–3.8% untuk gigi
permanen. Mesiodens sangat sering
mengakibatkan retensi insisivus permanen
yang dapat erupsi secara spontan setelah
ekstraksi gigi supernumerary, jika terdapat
ruang yang cukup pada lengkung gigi dan
menghemat tekanan erupsi.5
Selain itu, mesiodens dapat menunda
atau mencegah erupsi insisivus sentral pada
26–52% kasus, menyebabkan erupsi ektopik,
displacement atau rotasi insisivus sentral pada Gambar 1. Desain alat ortodonti lepasan dalam
28–63% kasus, kesalahan posisi insisivus ke whip device
arah labial pada 82% kasus.6,7 Komplikasi
yang tidak begitu sering terjadi pada gigi Semua clasp dibuat dari stainless steel
insisivus sentral adalah dilaserasi akar yang wire 28 mil (0.7 mm) (Dentaurum, Germany),
sedang mengalami perkembangan, resorpsi kecuali clasp untuk kaninus menggunakan
akar dan hilangnya vitalitas gigi. Hal lain yang wire 24 mil (0.6 mm).
dapat terjadi adalah kehilangan ruang dan Pada pembuatan desain alat lepasan,
pergeseran midline dari insisivus sentral, kami tidak meletakkan clasp Adam pada
akibat insisivus lateral yang akan erupsi dan molar pertama permanen dikarenakan
bergeser ke arah mesial ke dalam ruang kekuatan melentingnya yang berlebihan dan
sentral.8 Jadi, penundaan perawatan secara kekuatan yang tidak adekuat dari spring whip
signifikan akan membutuhkan pembedahan disebabkan oleh meningkatnya panjang wire.
dan penanganan ortodonti yang lebih Dilain pihak, bonded tube molar
kompleks. pertama mandibula (standar edge wise, 18 mil
Rotasi gigi, adalah salah satu dari efek tube slot, Dentaurum, Germany) diikatkan
samping yang paling sering terjadi akibat secara langsung pada permukaan labial gigi
mesiodens, yang didefinisikan sebagai yang mengalami rotasi menggunakan resin
pergerakan intraalveolar mesiolingual atau komposit self-cured (Master Dent, UK).
distolingual gigi pada sumbu longitudinal.9
Insisivus sentral maksila yang
mengalami rotasi dapat diperbaiki dengan
suatu alat ortodonti lepasan dan tekanan yang
minimal, tetapi rotasi yang berat, rotasi gigi
geligi lain dan rotasi multipel dapat diperbaiki
menggunakan alat ortodonti cekat.
Kebanyakan rotasi terkait dengan suatu
elemen displacement apikal dan akan sulit
untuk memperbaiki dengan suatu alat
lepasan.10 Gambar 2. Desain spring whip

831
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

Spring whip difabrikasi dengan tekukan alginat. Alat lepasan didesain dan
loop vertikal menghadap ke atas dan direkonstruksi. Bonded tube diletakkan pada
selanjutnya loop vertikal langsung menghadap permukaan labial gigi yang mengalami rotasi.
ke bawah ke dalam stainless steel wire 14 mil Spring whip direkonstruksi dan diligasi atau
pada satu ujung (Gambar 2). diikat. Ujung mesial wire ditolak dengan cara
Ujung mesial spring dimasukkan ke konvensional untuk mencegah terlepasnya
dalam slot tube dan ditekuk ke arah gingiva, kawat (Gambar 4). Untuk melindungi mukosa
dan hook diletakkan pada ujung distal dari bukal dari iritasi akibat span panjang dari wire
wire yang diikatkan pada badan bridge dari unbracketed (ruang dari tube insisivus sentral
clasp Adam molar kedua sulung rahang atas. rahang atas ke molar kedua sulung), pasien
diinstruksikan untuk menggunakan alat
LAPORAN KASUS tersebut sepanjang waktu dan tidak boleh
Seorang anak laki-laki berusia 11 tahun melepasnya walaupun ketika makan.
dirujuk ke Klinik Gigi Dental Smile dengan
keluhan utama gigi depan rahang atas
mengalami rotasi berat. Tidak ditemukan
kontribusi riwayat medis apapun dari pasien.
Profil wajah pasien sedikit cembung.
Pemeriksaan klinis menunjukkan wajah yang
simetris dan bibir yang kompeten saat posisi
instirahat. Pemeriksaan intraoral menunjukkan
maloklusi kelas I dengan rotasi berat pada
insisivus sentral kiri atas akibat gigi
supernumerary yang terletak di antara
insisivus sentral rahang atas (Gambar 3).
Gambar 4. Whip device terdiri dari whip spring,
bonded tube dan alat lepasan

Pasien diinstruksikan untuk melakukan


pemeriksaan rutin setiap empat minggu.
Setelah 8 bulan, insisivus sentral kiri atas telah
berada dalam posisi normal. (Gambar 5).

Gambar 3. Pemeriksaan fasial dan intraoral


sebelum perawatan

Pola skeletal kelas I tanpa displasia


vertikal yang dibuktikan dengan analisis
sefalometri rutin dan tidak ditemukan adanya
masalah transversal yang tercatat selama
pemeriksaan intraoral. Kebersihan rongga
mulut pasien cukup buruk yang dibuktikan
dengan adanya gingivitis ringan. Radiografi
mengonfirmasi adanya mesiodens dan rotasi
berat pada insisivus lateral kiri atas. Gambar 5. Foto fasial dan intraoral setelah 8
Hal yang pertama dilakukan adalah bulan perawatan
ekstraksi gigi mesiodens dengan menggunakan
anestesi lokal, dan setelah 10 hari berikutnya Setelah gigi mengalami perbaikan,
dilakukan pencetakan rahang atas dengan maka dilakukan fibrotomi suprakrestal

832
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

sirkumferensial untuk mencegah terjadinya situasi ini, ujung distal dari spring whip
relaps yang dilakukan oleh spesialis dimasukkan ke dalam mukosa bukal.
periodonsia. Rotasi kembali gigi cukup mampu
Satu minggu setelah fibrotomi, alat untuk terjadinya relaps, karena alasan ini maka
tersebut dilepas dan dibuat suatu retensi dibutuhkan koreksi berlebihan jika
dengan retainer Hawley yang dimodifikasi memungkinkan dan penggunaan retainer
dengan suatu bar akrilik pada labial bow-nya. setiap saat paling kurang selama 6 bulan. Alat
Pada saat alat dilepas, gambaran radiografi dan whip adalah suatu alat cekat-lepasan yang
intraoral sesuai dengan kondisi normal yang dapat memperbaiki secara efisien gigi anterior
ditemukan pada anak-anak dengan usia yang mengalami rotasi berat, seperti gigi
tersebut. insisivus sentral dalam durasi singkat.

PEMBAHASAN KESIMPULAN
Gigi supernumerary adalah gangguan Alat whip merupakan suatu alat lepasan yang
odontogenesis yang relatif sering terjadi pada sangat efektif untuk memperbaiki rotasi berat
rongga mulut yang dikrakteristikkan dengan gigi anterior.
jumlah gigi berlebih. Istilah mesiodens
digunakan untuk menunjukkan gigi DAFTAR PUSTAKA
supernumerary pada regio sentral premaksila 1. Gündüz K, Mug¢lali M. Non-syndrome
antara kedua insisivus sentral. Komplikasi multiple supernumerary teeth: A case
terkait dengan mesiodens meliputi: report. J Contemp Dent Pract 2007; 8:81–
berkurangnya erupsi gigi permanen, deviasi 87.
jalur erupsi, rotasi, absorpsi akar, nekrosis 2. Srivatsan P, Aravindha BA. Mesiodens
pulpa dengan hilangnya vitalitas dan diastema. with an unusual morphology and multiple
Terdapat banyak perawatan klinis yang impacted supernumerary teeth in a
dijelaskan dalam literatur untuk memperbaiki nonsyndromic patient. Indian J Dent Res
malposisi gigi yang diakibatkan oleh 2007; 18:138–140.
mesiodens.11,12 3. Primosch RE. Anterior teeth-assessment
Alat cekat yang khas digunakan untuk and surgical intervention in children.
perawatan gigi bercampur adalah susunan Pediatr Dent 1981; 3:204–215.
’2*4’ (2 molar band, 4 bonded insisivus). 4. Giancotti A, Grazzini F, De Dominicis F,
Ketika alat cekat hanya mencakup beberapa Romanini G, Arcuri C. Multidisciplinary
gigi, span lengkung kawat lebih panjang, evaluation and clinical management of
momen besar yang mudah untuk dibuat, dan mesiodens. J Clin Pediatr Dent 2002;
wire yang lebih springy dan kurang kuat. 26:233–238.
Karena gigi permanen yang ada 5. Fernández-Montenegro P, Valmaseda-
dikelompokkan ke dalam segmen anterior Castellón E, Berini-Aytés L, Gay-Escoda
(insisivus) dan posterior (molar), alat cekat C. Retrospective study of 145
yang terlihat sederhana digunakan pada gigi supernumerary teeth. Med Oral Pathol
bercampur bisa sangat kompleks untuk Oral Cir Buccal 2006; 11:339–344.
digunakan secara tepat. Selain itu, hanya 6. Gardiner J. Supernumerary teeth. Dent
tersedia molar pertama sebagai penjangkaran Pract Dent Rec 1961; 12:63–73.
pada segmen posterior lengkung, kontrol 7. Hattab FN, Yassin OM, Rawashdeh MA.
penjangkaran cukup sulit.13 Supernumerary teeth: Report of three
Untuk gigi bercampur dengan insisivus cases and review of the literature. ASDC J
sentral yang mengalami rotasi berat. Alat whip Dent Child 1994; 61:382–393.
memiliki beberapa keuntungan sebagai 8. Baccetti T. Tooth rotation associated with
berikut: aplasia of nonadjacent teeth. Angle
1. Memperbaiki masalah pada gigi Orthod 1998; 68:471–474.
bercampur. 9. Ersin NK, Candan U, Alpoz AR, Akay C.
2. Kontrol penjangkaran tidak sulit. Mesiodens in primary, mixed and
3. Penanganan kebersihan mulut lebih mudah. permanent dentitions: A clinical and
4. Kooperatif pasien tidak sulit. radiographic study. J Clin Pediatr Dent
Selanjutnya ketidaknyamanan pasien 2004; 28:295–298.
ketika melepaskan alat dari mulut, karena

833
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

10. Isaacson KG, Muir JD, Reed RT.


Removable Orthodontic Appliances. 2nd
ed. London: Wright. 2003: 30–34.
11. Burton-Douglass J. Management of
unerupted central and lateral incisors
complicated by a mesiodens: Report of a
case. Saudi Dent J 1993; 5:73–76.
12. Ochoa GJF, Kuster CG. Supernumerary
teeth removal and orthodontic tooth
repositioning: A case report. J Clin
Pediatr Dent 1993; 17:95–98.
13. Proffit WR, Fields JR. Contemporary
Orthodontics. 3rd ed. St. Louis: Mosby
Co. 2000: 124–127.

834
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

HIDROKSIAPATIT DAN APLIKASINYA DI BIDANG KEDOKTERAN GIGI

Martha Mozartha

Departemen Dental Material


Program Studi Kedokteran Gigi-Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

ABSTRAK
Hidroksiapatit merupakan biokeramik yang digunakan secara luas di bidang biomedis, karena
kemiripannya dengan mineral utama penyusun tulang dan gigi. Berbagai penelitian membuktikan
biokompatibilitas hidroksiapatit dan memiliki kemampuan osteokonduktif. Peneliti juga telah
melakukan eksperimen dengan menambahkan material ini ke berbagai bahan restorasi dan bahan
yang digunakan dalam perawatan endodontik. Makalah ini bertujuan untuk membahas literatur yang
melakukan penelitian mengenai hidroksiapatit dan aplikasinya secara klinis di bidang kedokteran
gigi.

Kata kunci: hidroksiapatit, biokeramik, osteokonduktif.

ABSTRACT

Hydroxyapatite is a bioceramic material that is widely used in biomedical field because of its
resemblance to the primary mineral constituent of bone and teeth. Various studies haveproven the
biocompatibility of the hydroxyapatite and its osteoconductive ability. Researchers have also been
experimenting by adding this material to various restorative materials and materials used in
endodontic treatment. This paper aims to discuss literature which conducted research on
hydroxyapatite and clinical applications in the field of dentistry.

Key words: hydroxyapatite, biocompatibility, osteoconductive

835
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

PENDAHULUAN tinggi dan struktur sangat halus yang serupa


Garam kalsium fosfat (CaP) merupakan dengan mineral yang ditemukan pada jaringan
mineral utama yang menyusun tulang dan gigi. keras tubuh.2 Metode sintesis hidroksiapatit
Di antara jenis garam CaP, hidroksiapatit akan sangat menentukan morfologi,
merupakan yang paling mirip dengan bagian kristalografi, dan kemurnian fase partikel
mineral pada tulang. Memiliki rumus kimia hidroksiapatit yang dihasilkan, yang pada
Ca10(PO4)6(OH)2, hidroksiapatit merupakan gilirannya akan menentukan sifat mekanis
fase kristal dari CaP yang paling stabil secara material ini.2
termodinamik.1 Tujuan penulisan makalah ini adalah
Struktur kristal hidroksiapatit dapat untuk membahas literatur yang melakukan
berupa monoklinik atau heksagonal. Struktur penelitian mengenai hidroksiapatit dan
hidroksiapatit monoklinik diperoleh hanya aplikasinya secara klinis di bidang kedokteran
pada kondisi murni dengan komposisi gigi.
stoikiometrik, dengan rasio Ca/P adalah 1.67.2
Struktur heksagonal umumnya diperoleh dari TINJAUAN PUSTAKA
sintesis hidroksiapatit yang tidak stoikometrik. Penggunaan Hidroksiapatit di Bidang
Semakin rendah nilai rasio molar Ca/P maka Kedokteran Gigi
semakin bersifat asam dan makin mudah larut Penggunaan hidroksiapatit di bidang
senyawa kalsium ortofosfat tersebut. kedokteran gigi masih terus dikembangkan
Hidroksiapatit sintetik telah lama melalui berbagai penelitian. Adapun
menarik minat peneliti untuk terus menerus penggunaan tersebut antara lain:
dikembangkan, karena material ini memiliki
biokompatibilitas yang sangat baik serta • Regenerasi jaringan tulang
memiliki afinitas tinggi dengan biopolimer.2 Prosedur transplantasi tulang untuk
Hidroksiapatit terbukti biokompatibel dan memperbaiki kerusakan tulang telah dilakukan
ditoleransi dengan sangat baik oleh jaringan sejak lama. Autograft merupakan standar emas
rongga mulut manusia, memiliki kemampuan dalam prosedur transplantasi tulang dengan
osteokonduktif dan terbukti mampu kemampuan osteinduksi, osteokonduksi, dan
merangsang diferensiasi osteoblas dan osteogeniknya. Namun prosedur ini berisiko
pembentukan tulang.3 Karakteristik yang baik untuk menimbulkan morbiditas pada jaringan
dari biomaterial ini menyebabkan donor. Alternatifnya adalah allograft dari
penggunaannya di bidang kedokteran gigi manusia atau xenograft dari koral atau tulang
cukup luas, seperti rekonstruksi jaringan sapi, namun memiliki kelemahan salah
tulang, rekayasa jaringan lunak dan perawatan satunya yaitu memerlukan teknik pemrosesan
defek periodontal,4 pelapis implan dental,5 yang cukup rumit untuk mengeliminasi potensi
filler material restorasi seperti resin komposit imunogenik.7
dan glass ionomer cement, dll. Adanya keterbatasan dalam penyediaan
Biomaterial ini dapat berasal dari sumber autograft dan allograft telah membuat
berbagai sumber, baik alami maupun sintetis. peneliti mencari alternatif lain, yang
Sumber alami hidroksiapatit di antaranya memenuhi kriteria dasar utama sebagai bahan
tulang mamalia, kulit kerang, batu karang, transplantasi tulang yaitu osteokonduksi,
maupun cangkang telur. Hidroksiapatit juga osteoinduksi dan osteogenesis. Hidroksiapatit
dapat dibuat di laboratorium melalui memenuhi kriteria tersebut, seperti yang
serangkaian proses kimia. Terdapat beberapa dilaporkan Ghanaati et al (2014) dalam
metode pembuatan kristal hidroksiapatit, penelitiannya yang melakukan augmentasi
meliputi metode presipitasi, deposisi sinus dengan bahan substitusi tulang yang
biomimetis, metode sol-gel, dan metode terbuat dari nano hidroksiapatit 3 dan 6 bulan
elektrodeposisi.6 Hasil akhirnya dapat berupa sebelum peletakan implan gigi. Volume dan
keramik padat, bubuk, pelapisan keramik, atau ketinggian tulang yang adekuat merupakan hal
keramik yang porus. Namun beberapa tahun yang sangat penting bagi keberhasilan implan
ini partikel hidroksiapatit berskala nano telah dental jangka panjang. Pemeriksaan follow-up
berhasil disintesis dan dikembangkan. Nano secara klinis dan radiografis 3 tahun pasca
hidroksiapatit berukuran nano dengan ukuran insersi implan dalam penelitian tersebut
partikel <100 nm setidaknya dalam satu arah menunjukkan bahwa kedua kelompok baik 3
diyakini memiliki aktivitas permukaan yang

836
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

maupun 6 bulan menunjukkan keberhasilan dilakukan pemeriksaan secara histologis, maka


dan stabilitas implan yang sama baiknya.7 belum dapat diketahui apakah hidroksiapatit
Kattimani et al (2014) dalam yang dicangkokkan bertindak sebagai bahan
penelitiannya menggunakan hidroksiapatit pengisi tulang atau memicu pertumbuhan
yang berasal dari limbah cangkang telur tulang.9
sebagai bahan transplantasi tulang. Hasil dari
penelitian tersebut memperlihatkan bahwa • Pelapis implan dental
hidroksiapatit yang diproses dari cangkang Penatalaksanaan kondisi patologis pada
telur memiliki sifat yang sangat baik sebagai tulang dapat melibatkan pemasangan implan.
pengganti tulang, karena ia biokompatibel, Hingga saat ini, titanium murni ataupun logam
bersifat hidrofilik, dapat mengabsorbsi cairan paduannya masih menjadi material pilihan
dan tulang sehingga memudahkan untuk pembuatan implan dental. Kriteria ideal
penanganan. Delapan bulan pasca dari implan dental meliputi biokompatibilitas
transplantasi, defek tulang yang dicangkok dan sifat mekanik yang baik, serta dapat
menggunakan hidroksiapatit dalam penelitian memfasilitasi terjadinya osteogenesis pada
tersebut menunjukkan pembentukan tulang antar muka tulang alveolar dan implan.10
yang sempurna, dengan densitas tulang yang Terdapat dua teori mengenai mekanisme
sama atau lebih jika dibandingkan dengan integrasi jaringan antara implan dental dengan
tulang normal di sekitarnya.3 tulang alveolar, yaitu teori Branemark dan
Perkembangan terbaru dalam bidang teori Weiss. Dalam teori Branemark, implan
nanoteknologi telah memungkinkan aplikasi harus dapat berintegrasi langsung dengan
material berukuran nano dalam perawatan tulang sedemikian rupa tanpa disertai
defek periodontal, seperti pasta nanokristalin pembentukan jaringan ikat, dan ini dikenal
hidroksiapatit yang mengandung 65% air dan sebagai osseointegrasi. Sementara pada teori
35% partikel nanoapatit berukuran <100 nm Weiss, di antara implan dan tulang harus
yang telah digunakan secara luas dalam terbentuk ligamen fibro-osseus yang berperan
prosedur augmentasi dalam penyakit sebagai ligamen periodontal, dan dikenal
periodontal. Keberhasilan penggunaan pasta sebagai integrasi fibro-osseus. Untuk
nano hidroksiapatit ini telah dilaporkan, yang mencapai osseointegrasi, faktor utama yang
diindikasikan dengan penurunan probing perlu dicapai adalah modifikasi topografi
pocket depth yang signifikan dibandingkan implan, sedangkan modifikasi kimia dan fisik
kelompok kontrol 6 bulan pasca operasi.8 dari permukaan implan berfungsi untuk
Bansal et al (2014) menggunakan bubuk mempercepat penyembuhan tulang di sekitar
nano hidroksiapatit yang disintesis dengan implan.11
menggunakan kalsium nitrat tetrahidrat dan Kekasaran permukaan implan
ammonium fosfat sebagai prekursor. Hasil memainkan peranan penting dalam kejadian
sintesis dikarakterisasi menggunakan EDAX biologis setelah peletakan implan. Material
dan didapati bahwa rasio stokiometri Ca/P implan dengan topografi permukaan yang
mendekati nilai teoretis yaitu 1.67, serta dari kasar lebih baik dibanding permukaan halus
uji XRD diketahui partikel kristal berukuran dalam hal menginduksi pertumbuhan sel,
20 nm dan tidak ada fasa kristalin lain selain mendukung adhesi dan diferensiasi osteoblas,
hidroksiapatit. Bubuk nano hidroksiapatit dan berpengaruh secara signifikan terhadap
tersebut digunakan untuk mengisi defek proliferasi dan diferensiasi sel
periodontal pada pasien dengan kronik osteprogenitor.10 Semakin meningkat derajat
moderat hingga lanjut dengan defek intraboni kekasaran permukaan implan, maka semakin
angular. Pada kunjungan kontrol 6 bulan pasca banyak tulang alveolar yang teraposisi.11
terapi, probing depth menunjukkan penurunan Modifikasi topografi berskala mikron
yang signifikan. Namun perbedaan ini tidak pada permukaan titanium murni telah diterima
signifikan jika dibandingkan dengan kelompok di pasaran implan endosseous karena
kontrol yang dirawat dengan hidroksiapatit kemampuannya untuk memfasilitasi
konvensional dengan partikel berukuran 150– osteogenesis pada antarmuka tulang dan
250 µm.9 Evaluasi radiograf menunjukkan implan. Namun pada tahun-tahun terakhir
peningkatan radiodensitas pada defek, yang penelitian di bidang ini lebih menyoroti pada
berarti ukuran defek secara klinis pun perlakuan permukaan dengan menggunakan
berkurang. Namun pada penelitian ini tidak nanoteknologi, yang melibatkan material

837
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

berukuran nano dengan rentang antara 1–100 • Filler pada material restorasi GIC
nm. Belum lama ini telah dikembangkan Glass Ionomer Cement (GIC)
metode pelapisan baru dengan pendekatan merupakan material restoratif pilihan karena
biomimetik, dengan mengendapkan kristal penggunaannya yang mudah, melekat secara
apatit kalsium fosfat dalam Simulated Body kimia ke jaringan keras gigi, dan
Fluids (SBF) pada suhu kamar.10 biokompatibel dibandingkan material restoratif
De Wilde et al (2015) dalam direk lainnya. Namun GIC memiliki sifat
penelitiannya mengamati respons imun brittle dan hal ini membatasinya untuk
jaringan lunak setelah peletakan implan digunakan di daerah posterior yang menerima
titanium mini dengan sistem terbuka tekanan kunyah yang besar. Selain itu,
(transmucosal), dengan dan tanpa pelapisan ketahanan terhadap abrasi dan sifat mekanis
nano hidroksiapatit. Observasi histologis yang rendah juga merupakan keterbatasan dari
menunjukkan lokalisasi sel inflamasi di sekitar GIC.
daerah transgingiva implan pada kelompok Choudhary dan Nandlal (2015)
kontrol maupun perlakuan, sementara evaluasi mengevaluasi kekuatan ikat geser GIC
histomorfometri yang dilakukan menunjukkan konvensional (Fuji IX GC) yang ditambahkan
tidak adanya perbedaan yang bermakna dalam nano hidroksiapatit. Dalam penelitian ini,
jumlah sel inflamasi pada pasien di kedua delapan persen berat (8 wt%) bubuk GIC
kelompok tersebut.12 Dikatakan bahwa (konvensional digantikan oleh nano
pelapisan implan menggunakan hidroksiapatit hidroksiapatit berukuran 10–20 nm. Hasilnya
berstruktur nano ini tidak menyebabkan menunjukkan GIC dengan penambahan 8 wt%
inflamasi seperti yang terjadi pada pelapisan nano hidroksiapatit memiliki penurunan
hidroksiapatit dengan cara plasma spray. kekuatan rekat geser yang signifikan
dibandingkan GIC konvensional.14 Di samping
• Filler pada semen pengisi saluran akar itu, mereka mengamati bahwa setting time
Semen saluran akar (root canal sealer) bahan tersebut lebih lama dibandingkan GIC
harus memiliki sifat inert secara biologis dan konvensional. Hasil ini bertentangan dengan
bioaktif dengan jaringan tubuh, dan penelitian Moshaverinia et al (2008) yang
menunjukkan radiopasitas dan pembasahan mensintesis hidroksiapatit dari etanol dengan
yang baik. Selain itu, sitotoksisitas bahan ini metode sol-gel dan menambahkannya ke
menjadi pertimbangan penting karena ia akan dalam bubuk GIC (Fuji II GC) sebanyak 5%.
berkontak langsung dengan dentin dan Penambahan granul hidroksiapatit berukuran
jaringan periapikal. 100–200 nm tersebut mampu meningkatkan
Sealer berbasis metakrilat akan sifat mekanik GIC yaitu kekuatan tekan,
mengalami degradasi seiring waktu di dalam kekuatan tarik diametral dan kekuatan
lingkungan mulut. Degradasi ini tidak fleksural. Selain itu, juga kekuatan ikat
diharapkan, karena dapat mengarah kepada terhadap dentin setelah 7 hari dan 30 hari pada
pembentukan celah, infiltrasi jaringan, dan kelompok spesimen dengan penambahan
kebocoran monomer yang dapat memicu hidroksiapatit juga mengalami peningkatan.15
reaksi jaringan. Suatu penelitian telah Perbedaan ini dapat dikaitkan dengan
melaporkan penambahan filler yaitu nano perbedaan jenis GIC dan bahan yang
hidroksiapatit dan calcium tungstate yang digunakan dalam penelitian.
lazim digunakan sebagai radiopacifier pada Hidroksiapatit diduga berperan serta
sealer berbasis metakrilat. Nano hidroksiapatit dalam perubahan kimia yang terjadi selama
dalam penelitian tersebut diduga menjadi pengerasan awal semen. Hidroksiapatit dapat
bahan pengisi yang dapat mengarah kepada larut dalam larutan asam, kelarutannya
pertumbuhan kristal dan mineralisasi meningkat dengan cepat pada pH di bawah
biomimetik pada jaringan di sekitarnya, karena 2.05 ketika berkontak dengan asam poliakrilat.
apatit sintetik memiliki komposisi dan Pada kondisi itu, ion Ca dapat terlepas dari
konfigurasi biologis yang menyerupai gigi. permukaan hidroksiapatit, yang bertindak
Konsentrasi nano hidroksiapatit yang sebagai kalsium tambahan yang lebih dulu
digunakan dalam penelitian bervariasi dari 10 tersedia untuk terjadinya reaksi pengerasan
hingga 40%, dan didapati bahwa penambahan GIC. Hal tersebut menyebabkan peningkatan
ini tidak mempengaruhi radiopasitas dan film derajat reaksi asam basa dalam struktur GIC
thickness.13 dan membentuk semen yang lebih kuat. Selain

838
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

itu, HA menambah kepadatan GIC karena HA metode tersebut, metode presipitasi kimia
mengisi jarak antar partikel kaca di dalam GIC yang termasuk bagian dari metode kimia basah
yang kosong.16 merupakan metode yang paling populer untuk
pembuatan hidroksiapatit.
• Bahan aktif pasta gigi sensitif
Hipersensivitas dentin didefinisikan • Metode presipitasi
sebagai rasa ngilu yang disebabkan oleh Metode ini merupakan bagian dari
tereksposnya dentin sebagai respons terhadap metode kimia basah yang paling terkenal dan
stimulus kimia, termal, taktil, atau osmotik teknik yang paling banyak dipergunakan untuk
yang tidak dapat dijelaskan atau berkaitan sintesis hidroksiapatit.1 Hal ini karena dengan
dengan penyakit jaringan keras gigi lainnya. teknik tersebut dapat mensintesis HA dalam
Kondisi ini cukup umum terjadi pada jumlah besar tanpa menggunakan pelarut-
kelompok usia dewasa, dengan prevalensi pelarut organik dan dengan biaya yang tidak
bervariasi bergantung pada tempat dan cara begitu mahal. Untuk menghasilkan HA
pengumpulan data namun berkisar antara 1– melalui metode presipitasi dapat menggunakan
74%.17 berbagai prekursor yang mengandung kalsium
Terdapat dua pendekatan dasar dalam dan fosfat, misalnya kalsium hidroksida
perawatan hipersensivitas dentin. Pertama (Ca(OH)2) dan asam fosfat (H3PO4). Hasil
adalah penutupan dan penyumbatan tubuli sampingan yang dihasilkan oleh reaksi
dentin sehingga memblokade mekanisme Ca(OH)2 dan H3PO4 dalam sintesis HA
hidrodinamika; yang kedua adalah blokade hanyalah air dan reaksi tidak melibatkan
transmisi syaraf pada pulpa sehingga elemen-elemen asing.19
mengurangi sensitivitas. Pasta gigi yang Hidroksiapatit dengan struktur
mengandung bahan aktif tertentu diketahui nanoporus telah berhasil dibuat dengan teknik
dapat mengurangi hipersensitivitas dentin. ko-presipitasi sederhana yang menggunakan
Bahan aktif tersebut di antaranya potassium kalsium hidroksida dan asam ortofosforik
nitrat 5%, yang bekerja dengan cara sebagai prekursor dan hidroksiapatit-chitosan
memblokade potensial aksi yang dibangkitkan sebagai template.20 Komposit hidroksiapatit-
pada saraf intradental.18 chitosan dikalsinasi pada suhu 800 C, dan
Oklusi tubuli dentin yang terekspos oleh komponen chitosan mulai mengalami
nano hidroksiapatit diketahui mampu dekomposisi di sekitar suhu 280–300 C.
mengurangi hipersensitivitas dan telah Hasilnya adalah partikel hidroksiapatit yang
dipelajari dalam tahun-tahun terakhir. Hasil mengandung pori berukuran nano yang tidak
dari penelitian Gopinath et al menunjukkan beraturan namun saling berhubungan.20
bahwa penggunaan pasta gigi yang Hidroksiapatit dengan struktur nanoporus
mengandung nano hidroksiapatit berhubungan terbukti dapat meningkatkan adhesi,
dengan penurunan sensitivitas gigi yang proliferasi, dan diferensiasi sel yang
bermakna secara statistik. Nano hidroksiapatit dibutuhkan untuk fungsi jaringan.21
diduga efektif dalam menutup tubuli dentin,
karena material ini terdiri dari kalsium dan • Metode sol-gel
fosfat, dan saliva dalam rongga mulut telah Beberapa keuntungan membuat
tersupersaturasi oleh hidroksiapatit. Dengan hidroksiapatit dengan metode ini yaitu
demikian kemungkinan larutnya senyawa kemudahan untuk mengatur komposisi dan
tersebut oleh saliva relatif kecil. Di akhir sintesis yang dapat dilakukan pada temperatur
minggu keempat dalam percobaan klinis ini, rendah, dapat menghasilkan lapisan yang
keluhan hipersensitivitas dentin berkurang homogen, murni, dan stoikiometris yang
secara signifikan.19 dihasilkan dari pencampuran dengan skala
modern. Ukuran partikel kecil dan luas
Metode Sintesis Hidroksiapatit permukaan besar sehingga temperatur
Berbagai metode untuk membuat pembakaran rendah dan memungkinkan
hidroksiapatit telah dilaporkan dalam berbagai diperolehnya partikel berukuran nano yang
penelitian, yang dapat diklasifikasikan menjadi homogen, menggunakan peralatan yang relatif
metode kering, metode basah, proses sederhana.22
bertemperatur tinggi, sintesis dari sumber Metode sol-gel terdiri dari beberapa
biogenik, dan kombinasinya.1 Dari seluruh tahapan. Pertama, menyiapkan larutan

839
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

prekursor yang dapat berupa senyawa improve bone nanomechanical properties.


anorganik atau metal organik. Setelah larutan J Dent Res 2012; 91(12):1172–1177.
prekursor direaksikan, akan terjadi hidrolisis 6. Ferraz MP, Monteiro FJ, Manuel CM.
yaitu proses reaksi antara senyawa prekursor Hydroxyapatite nanoparticles: A review
dengan air, hidrolisis untuk proses gelasi, of preparation methodologies. Journal of
aging, dan pengeringan atau sintering.22 Applied Biomaterials & Biomechanics
2004; 2:74–80.
KESIMPULAN 7. Ghanaati S, Lorenz J, Obreja K,
Hidroksiapatit berukuran nano Choukroun J, Landes C, Sader R.
merupakan material dengan aplikasi yang Nanocrystalline hydroxyapatite-based
sangat luas di bidang kedokteran gigi. material already contributes to implant
Meskipun berbagai penelitian telah stability after 3 months: A clinical and
membuktikan penambahan hidroksiapatit radiologic 3-year follow up investigation.
berdampak signifikan terhadap material yang Journal of Oral Implantology 2014;
diperkuatnya, penelitian lebih lanjut tetap 40(1):103–109.
dibutuhkan untuk menguji efektivitas ini di 8. Heinz B, Kasaj A, Teich M, Jepsen S.
bawah kondisi klinis dalam jangka panjang. Clinical effects of nanocrystalline
Selain itu, sifat biologis dan mekanis hydroxyapatite paste in the treatment of
hidroksiapatit sangat dipengaruhi oleh intrabony periodontal defects: A
karakteristik strukturalnya. Oleh karena itu randomized controlled clinical study. Clin
perlu dilakukan penelitian mengenai berbagai Oral Invest 2010; 14: 525–531.
metode sintesis hidroksiapatit berukuran nano 9. Bansal M, Kaushik M, Khattak BB,
yang akan menghasilkan sifat-sifat yang Sharma A. Comparison of nanocrystalline
optimal untuk aplikasi biomedis. hydroxyapatite and synthetic resorbable
hydroxyapatite graft in the treatment of
DAFTAR PUSTAKA intrabony defects: A clinical and
1. Sadat-Shojai M, Khorasani MT, radiographic study. J Indian Soc
Dinpanah-Khoshdargi E, Jamsidi A. Periodontol 2014; 18:213–219.
Synthesis methods for nanosized 10. Singhatanadgit W. Biological responses
hydroxyapatite with diverse structures. to new advanced surface modifications of
Acta Biometer 2013;9(8):7591-621 endosseous medical implants. Bone and
2. Kantharia N, Naik S, Apte S, Kheur M, Tissue Regeneration Insights 2009; 2:1–
Kheur S, Kale B. Nano-hydroxyapatite 11.
and its contemporary applications. 11. Poedjiastoeti W, Gunardi I. Dental
Journal of Dental Research and Scientific implant: Systematic review on
Development 2014; 1:15–19. biocompatibility properties. KPPIKG
3. Kattimani VS, Chakravarthi PS, Proceeding 2013; 239–248.
Kanumuru NR, Subbarao VV, Sidharthan 12. De Wilde EAWJ, Jimbo R, Wennerberg
A, Kumar TSS. Eggshell derived A, Naito Y, Couke P, Bryington MS. The
hydroxyapatite as bone graft substitute in soft tissue immunologic response to
the healing of maxillary cystic bone hydroxyapatite-coated transmucosal
defects: a preliminary report. Journal of implant surfaces: A study in humans.
International Oral Health 2014; 6(3):15– Clinical Implant Dentistry and Related
19. Research 2015; 17(1): 65–74.
4. Kasaj A, Willershausen B, Junker R, 13. Collares FM, Leitune VC, Rostirolla FV,
Stratul Sl, Schmidt M. Human Trommer RM, Bergmann CP, Samuel
periodontal ligament fibroblasts SM. Nanostructured hydroxyapatite as
stimulated by nanocrystalline filler for methacrylate-based root canal
hydroxyapatite paste or enamel matrix sealers. International Endodontic Journal
derivative: An in vitro assessment of PDL 2012; 45:63–67.
attachment, migration, and proliferation. 14. Choundhary K, Nandlal B. Comparative
Clin Oral Invest 2012; 16:745–754. evaluation of shear bond strength of nano-
5. Jimbo R, Coelho PG, Bryington M, hydroxyapatite incorporated glass
Baldassarri M, Tovar M, Currie F, et al. ionomer cement and conventional glass
Nano hydroxyapatite-coated implants ionomer cement on dense synthetic

840
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

hydroxyapatite disk: An in vitro study.


Indian J Dent Res 2015; 26:170–175.
15. Moshaverinia A, Ansari S, Moshaverinia
M, Roohpoor N, Darr JA, Rehman I.
Effects of incorporation of hydroxyapatite
and fluoroapatite nanobioceramics into
conventional glass ionomer cements
(GIC). Acta biomaterialia. 2008;
4(2):432–440.
16. Lucas ME, Arita K, Nishino M.
Toughness, bonding and fluoride-release
properties of hydroxyapatite-added glass
ionomer cement. Biomaterials 2003;
24(21):3787–3794.
17. Gillam D. Management of dentine
hypersensitivity: An update. Dental
Nursing 2015; 11(1):20–23.
18. Sharma S, Shetty NJ, Uppoor A.
Evaluation of the clinical efficacy of
potassium nitrate desensitizing
mouthwash and a toothpaste in the
treatment of dentinal hypersensitivity. J
Clin Exp Dent 2012; 4(1):28–33.
19. Gopinath NM, Joseph J, Nagappan N,
Prabhu S, Kumar ES. Evaluation of
Dentifrice Containing Nano-
hydroxyapatite for Dentinal
Hypersensitivity: A Randomized
Controlled Trial. J Int Oral Health 2015;
7(8):118-122.
20. Nayak AK. Hydroxyapatite synthesis
methodologies: An overview.
International Journal of ChemTech
Research. 2010; 2(2):903–907.
21. Ramli RA, Adnan R, Abu Bakar M,
Masudi SM. Synthesis and
characterisation of pure nanoporous
hydroxyapatite. Journal of Physical
Science 2011; 22(1):25–37.
22. Sidiga AN, Djustiana N, Sunendar B,
Febrida R. Surface modification of
multilayer coatings Ti-Al-Cr and
hydroxyapatite on calcium phosphate
cement with sol-gel method. Journal of
Dentistry Indonesia 2012; 19(2):43–46.

841
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

IMMUNO-BIOKOMPATIBILITAS PADA MATERIAL IMPLAN: REVIEW ARTICLE

Basri A. Gani

Departemen Oral Biologi


Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Syiah Kuala

ABSTRAK
Imuno-biokompatibilitas merupakan pengetahuan yang secara khusus mempelajari respons imun
terhadap biomaterial, prosthesa, alat kedokteran memiliki hubungan yang erat dengan kemampuan
material implan beradaptasi dengan perubahan fisiologi tubuh seperti interaksi komponen darah,
akumulasi partikel, dan respons terhadap organ. Tulisan ini menjelaskan beberapa variabel yang
berhubungan dengan biokompatibilitas seperti komponen biokompatibilitas, biokompatibilitas pada
dental material, imunokompatibilitas, serta pertimbangan uji biokompatibilitas yang direferensikan
oleh badan standar internasional seperti FDA, NAMSA dan standar ISO 10993. Aspek yang menjadi
penilaian penting dari biokompatibilitas adalah kesesuaian antara perubahan sistem imun dengan
adaptasi material implan yang tidak merugikan host seperti kerusakan sel dan jaringan sebagai akibat
dari toksisitas, imunogenesitas, genetoksisitas, dan mutagenitas.

Kata kunci: Material implan, biokompatibilitas, imunokompatibilitas

ABSTRACT
The Immune-biocompatibility is knowledge that specifically to learn the immune response towards
biomaterial, prostheses, medical devices which linked with the abilities of material implant adapt with
body physiology as blood components interactions, particles accumulation and response immune of
sites application. This review article will be explaining the variables of biocompatibilities,
biocompatibility on material dental, immune-compatibility as well as biocompatibility assays that
referenced by FDA, NAMSA, and ISO 10993. These standards were used by researches for expansion
of biomaterial sciences. The main assessment of biocompatibility is the concord between immune
system changes with assimilate of material implant that not yet of host like cell damage and tissues as
of results toxicity, immunogenicity and genetoxicity as well as mutagenecity specifically on the sites
of implant application.

Key words: Implant material, biocompatibility, immune-compatibility

842
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

PENDAHULUAN dan tanpa menginduksi perubahan seluler dan


Menurut IUPAC (International Union kerusakan sel plasma.8 (3) biocompatibility of
of Pure and Applied Chemistry) tissue-engineering products, biokompatibilitas
biokompatibilitas (biomedical therapy) untuk menghasilkan produk matrik jaringan
disebutkan sebagai kemampuan respons host yang berhubungan dengan substrat untuk
terhadap sebuah aplikasi yang spesifik atau mendukung aktivitas seluler, termasuk
kemampuan kontak dengan jaringan host tanpa memfasilitasi aktivitas molekuler dan sistem
menimbulkan efek samping. Kata sinyal secara mekanik untuk membantu
biokompatibilitas pertama kali dipopulerkan regenerasi jaringan tanpa merusak sel atau
dalam pertemuan peer review journals pada menginduksi respons sistemik.9
tahun 1970 oleh RJ Hegyeli. Saat ini, Williams Berdasarkan pemahaman
kembali mencoba melakukan evaluasi kembali pengklasifikasian tentang biokompatibilitas
pengetahuan tentang biokompatibilitas yang pada material implan, maka tulisan ini
diaplikasikan secara klinis seperti penggunan menjelaskan hubungan adaptasi material
material implan.1–3 implan terhadap jaringan host serta efek yang
Terdapat lima pengklasifikasian ditimbulkan terkait dengan komponen
pemahaman tentang biokompatibilitas, yaitu: biokompatibilitas, imunokompatibilitas pada
(1) kondisi yang tidak mengalami toksik atau implan, biokompatibel pada dental material,
injury sebagai efek dari sistem biologi host (2) dan metode pengujian biokompatibilitas.
kemampuan material beradaptasi dengan
respons imun dalam sebuah aplikasi spesifik TINJAUAN PUSTAKA
(3) membandingkan hasil respons material Komponen Biokompatibilitas
implan dengan efek samping respons jaringan Pertimbangan mendasar
host (4) berhubungan dengan kemampuan biokompatibilitas material selalu berkaitan
biomaterial melakukan fungsinya tanpa dengan respons terhadap jaringan dan sel host
menimbulkan kerusakan lokal dan efek serta pertimbangan efek diantaranya:
sistemik terhadap host (5) kapasitas adaptasi sitotoksisitas, genotoksisitas, mutagenesitas,
implan prostesa dalam badan yang memiliki karsinogenisitas dan imunogenesitas.
korelasi dengan pengaruh terhadap hormon, Toksisitas material menjelaskan
sel, dan jaringan tanpa menimbulkan kemampuannya untuk merusak secara sistem
perubahan.4,5 biologi dan kimia. Pada organisme yang lebih
Klasifikasi tersebut di atas dapat besar (hewan, manusia), toksisitas lokal dapat
diusulkan sebagai subdefinisi yang menimbulkan reaksi alergi pada areal aplikasi
memberikan arti sesuai dengan aplikasi yang berhubungan dengan kerusakan sel
terhadap material implan. William6 mencoba individu seperti nekrosis atau apoptosis.10
menemukan subgroup yang sesuai dengan Sementara itu, Imunogenesitas berhubungan
aplikasi yang dibutuhkan agar dapat dengan kemampuan substans material memicu
mempersempit definisi, dalam artikel MDT respons imun. Pada reaksi alergi, substans
tahun 2013 memilih subgroup dan definisinya tersebut menjadi pemicu interaksi respons
masing-masing, sebagai berikut: (1) imun dengan kehadiran mikroorganisme pada
biocompatibility of long-term implanted lokasi aplikasi, dan setiap subjek dapat
devices, biokompatibilitas yang bersifat long- berbeda kepekaannya. Konsentrasi dari
term terhadap alat implan kedokteran, substansi material selain dapat menyebabkan
berhubungan dengan kemampuan alat reaksi alergi juga menyebabkan toksisitas pada
melakukan fungsinya yang baik sesuai tingkat sel dan jaringan.11
penggabungan dengan jaringan host tanpa Selain toksisitas dan imunogenesitas,
menimbulkan efek sistemik dari host itu genotoksisitas merupakan perubahan yang
sendiri.7 (2) biocompatibility of short-term terjadi pada sintesis protein dalam rangkaian
implantable devices, biokompatibilitas dari perubahan pasangan sekuen basa pada sintesis
material implan yang ditempatkan pada sistem DNA. Terapi gen merupakan salah satu
kardiovaskular untuk diagnostik sementara alternatif untuk memperbaiki kerusakan akibat
atau tujuan terapi yang berhubungan dengan dari genotoksin, untuk menghindari kerusakan
kemampuan alat tersebut beradaptasi dengan sel atau apoptosis secara berlanjut. Sementata
aliran darah, interaksi minimal antara alat itu, mutagenisitas merupakan perubahan
dengan darah yang mengurangi tampilan efek sekuen kodon dan antikodon dalam sintesis

843
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

DNA sebagai akibat dari pertumbuhan sel asing yang dapat menyebabkan terjadinya
dengan pembelahan yang tidak sesuai dan respons imun disebut imunostimulasi.
tumor maligna dilaporkan sebagai salah satu Imunostimulasi selalu berkaitan dengan
pemicunya, sedangkan karsinogenesitas komplek imunoregulator yang dapat
merupakan hasil dari beberapa mutasi. Penting meningkatkan sistem imun dengan efek klinis
untuk dipahami bahwa, tidak semua mutagen seperti flu sebagai gejala hipersensitivitas.14
dapat menyebabkan karsinogenesis. Imunostimulasi dari nanopartikel dapat
Bagaimanapun, mutagenisitas dapat dinilai bersifat sebagai adjuvan yang dapat
sebagai sebuah indikator karsignonesitas yang meningkatkan respons imun tubuh. Partikel
dipicu dari substans material, yang secara material dilaporkan dapat mengakomodasikan
langsung dapat mempengaruhi sintesis RNA interaksi sistem imun dari protein asing
dan DNA.12 terutama akibat interaksi ionik, hal ini
memberikan kesan bahwa nanopartikel dengan
Imunokompatibilitas Pada Implan sifat adjuvannya dapat meningkatkan
Secara umum imunokompatibilitas atau opsonisasi antigen untuk diperkenalkan
yang mempelajari respons imun terhadap kepada APC (Antigen-Presenting Cells) untuk
biomaterial, prosthesa, alat kedokteran difagositosis atau dieliminasi oleh sel T dan
memiliki hubungan yang erat dengan sel plasma (sel B).15
kemampuan material implan beradaptasi Efek dari imunostimulasi terjadinya
dengan perubahan fisiologi tubuh seperti inflamasi dengan melibatkan reaksi imun
interaksi komponen darah, akumulasi partikel, nonspesifik, dimana molekul sinyal seperti
dan respons terhadap organ, sehingga sitokin yang disekresi dari sel imun pada
perubahan sistem imun tidak merugikan host lokasi aplikasi material akan memperkenalkan
atau kerusakan sel dan jaringan pada lokasi pada sel imun melalui interaksi pada bagian
aplikasi implan. Substans material implan permukaan material, sehingga menyebabkan
seperti nanopartikel memiliki potensial perubahan komposisi pada lubang permukaan
stimulasi untuk menekan sistem imun, efek dari partikel tersebut, sehingga secara khusus
dari imunokompatibilitas tersebut bagian permukaan menjadi penentu terjadi
menyebabkan terjadinya imunostimulasi dan imunostimulasi dan secara umum nanopartikel
imunosupresor.13 merupakan penyebab terjadinya reaksi
Berbagai bahan atau material yang inflamasi.16 Penggunaan senyawa mannosa
diperkenalkan kepada tubuh sebagai unsur pada permukaan material implan merupakan

Gambar 1. Ketika nanopartikel berinteraksi dengan tubuh, berbagai respons akan terjadi termasuk perubahan sistem imun
atau interaksi dengan komponen darah. Reaksi ini sangat signifikan dengan komposit nanopartikel, contoh
nanostructure emas yang berinteraksi berbeda dalam tubuh dibandingkan dengan partikel polymeric. Adapted
by permission from Macmillan Publishers Ltd: Nature Nanotechnology Copyright (2007)

844
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

salah bentuk modifikasi, dimana reseptor kegagalan material implan dapat menyebabkan
mannosa dapat menghambat interaksi partikel iritasi, sensitisasi dan toksik. Selain itu,
material dengan sistem imun, sehingga terdapat tiga perbedaan tingkat
patogen asing dapat dieliminasi.17,18 biokompatibilitas yang menjadi pertimbangan
Imunosupresor digambarkan sebagai terhadap respons pada dental material.
down-regulation untuk mencegah Pertama, biokompatibilitas umum,
terbentuknya respons sistem imun.19 berhubungan dengan reaksi material terhadap
Kekurangan dari imunosupresi seperti jaringan host, termasuk tingkat toksik material
meningkatnya kelemahan infeksi yang pada seluler cenderung menjadi sifat bawaan
disebabkan oleh bakteri, virus, fungi, dan dari material. Penggunaan toksik material
jamur juga perkembangan neoplasma (kanker seperti merkuri atau nikel dapat
kulit dan lymphoma).20–23 Kriteria dari mempengaruhi respons imun.28 Kedua,
imunosupresi di samping memiliki peran biokompatibilitas secara imunologi, pada
untuk mencegah penyakit autoimun, juga tingkat ini melihat bagaimana individu
memfasilitasi interaksi dengan jaringan luar bereaksi dengan material dan ketiga,
pada pasien yang mengalami transplantasi biokompatibilitas secara bio-energetik, dimana
sebagai akibat dari imunostimulasi, seperti respons material berdasarkan energi yang
efek farmakodinamik dan farmakokinetik obat, dihasilkan tubuh seperti penggunaan
mekanisme aksi dari aplikasi material yang akupuntur, dengan menggunakan alat (uji AK
dapat menimbulkan respons tubuh atau Muscle) dapat menentukan bagaimana
(imunosupresan).24,25 material bereaksi dengan badan berdasarkan
Penggunaan material implan pada host tingkat energitik.29–31
dapat menimbulkan respons imun yang
merupakan faktor penting dari aspek Uji Biokompatibilitas
biokompatibilitas. Respons imun terhadap Uji biokompatilitas pada material
material terjadi dalam beberapa aspek yaitu: implan selalu dihubungkan dengan efek
(1) mengaktifkan jalur komplemen melalui samping dari sisa produk material ketika
jalur klasik, sensitivitas terhadap implan metal, diaplikasikan pada host. Tujuan uji keamanan
karena ion metal berperan sebagai hapten yang produk adalah untuk memastikan bahwa
dapat mengikat pada molekul protein. produk material tersebut aman bagi pengguna
Komplek ikatan hapten-molekul protein yang secara umum dilakukan melalui
dilaporkan sebagai pemicu perantara pendekatan in vitro dan in vivo.32 Penilaian
terjadinya repons imun. (2) permukaan biokompatibilitas pada biomaterial alat
polimer dapat menjadi agen stimulan untuk kedokteran dilakukan dengan berbagai variasi,
menstimulasi pelepasan IL-l dari monosit. IL-l terutama efek yang berkaitan dengan toksin
penting untuk aktivasi sel T dan diferensiasi atau faktor risiko lainnya. Uji
sel B. (3) respons imun pada tempat inflamasi biokompatibilitas yang utama sering dilakukan
implan tulang dan (4) imune imaging profiles untuk menentukan efek biologi termasuk:
pada jaringan tergantung dari kuantitas implan sitotoksisitas, sensitisasi, iritasi intrakutanius,
polimer [poly(lactic acid), poly(glycolic acid)], toksisitas sistemik akut, toksisitas subkronik,
(50% PLAl50W PGA copolymer, biomer) toksisitas kronik, karsinogenisitas, reproduktif
yang memperlihatkan bahwa makrofag dan atau perkembangan, dan biodegradasi.33
neutrofil memiliki perbedaan respons terhadap Uji biokompatibilitas dimulai dengan
implan.26,27 pemeriksaan lengkap terhadap material baru,
analisis secara periodik dan nonklinik
Biokompatibilitas Pada Dental Material dilakukan berdasarkan standar FDA (Food and
Biokompatibilitas dental material Drug Administration) dan standar
penting untuk dianalisis, karena berhubungan internasional lainnya seperti NAMSA yang
dengan tempat aplikasi pada host dan efek melakukan pengujian aspek biokompatibilitas
biologi. Biokompatibilitas material implan dengan tujuan untuk mengevaluasi komponen
memiliki unsur penting untuk menjaga agar material sampai produk terakhir ketika
sistem imun dapat bersifat toleran terhadap diaplikasikan. Tantangan dari uji
material implan, untuk itu harus memiliki sifat biokompatibilitas ini adalah kesesuaian secara
biokompatibilitas baik secara fisik maupun biologi terhadap jaringan sel host. Panduan
kimia, karena secara umum efek dari

845
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

pengujian lainnya secara spesifik 8. Chu MK, Gordijo CR, Li J, Abbasi Az,
menggunakan standar ISO 10993.34 Giacca A, Plettenburg O, et al. In vivo
performance and biocompatibility of a
KESIMPULAN subcutaneous implant for real-time
Setiap produk material implan atau glucose-responsive insulin delivery.
berbagai alat kedokteran yang diaplikasikan Diabetes Technol Ther 2015; 17(4):255–
pada host harus bersifat Imuno- 267.
biokompatibilitas, agar tidak menimbulkan 9. Evans BA, Ronecker JC, Han DT. High-
efek toksisitas, imunogenitas, dan permeability functionalized silicone
genotoksisitas juga bersifat imunosupresor. magnetic microspheres with low
Beberapa strategi unutk menghindari efek autofluorescence for biomedical
toksik dari adaptasi material seperti pelapisan applications. Mater Sci Eng C Mater Biol
protein mannosa pada permukaan material, Appl 2016; 62:860–869.
juga dimungkinkan modifikasi protein host 10. Häfeli UO, Aue J, Damani J. The
yang sesuai dengan lokasi aplikasi, sehingga biocompatibility and toxicity of magnetic
dapat mencehah terjadinya respons imun yang particles. Laboratory Techniques in
berlebihan pada jaringan dan sel. Biochemistry and Molecular Biology:
Elsevier 2007; 163–223.
DAFTAR PUSTAKA 11. Song G, Wu Y, Wang F, Shao Y, Jiang J,
1. Williams DF. On the mechanisms of Fan C. Development and preparation of a
biocompatibility. Biomaterials 2008; low-immunogenicity porcine dermal
29(20):2941–2953. scaffold and its biocompatibility
2. Johnson AD. An extended IUPAC assessment. J Mater Sci Mater Med 2015;
nomenclature code for polymorphic 26(4):170.
nucleic acids. Bioinformatics 2010; 12. Angelieri F, Joias RP, Bresciani E,
26(10):1386–1389. Noguti J, Ribeiro DA. Orthodontic
3. IUPAC-IUB Commission on Biochemical cements induce genotoxicity and
Nomenclature (CBN). Abbreviations and cytotoxicity in mammalian cells in vitro.
symbols for nucleic acids, Dental Research Journal 2012; 9(4):393–
polynucleotides and their constituents. 398.
Recommendations 1970. Eur J Biochem 13. Zolnik BS, González-Fernández Á,
1970; 15(2):203–208. Sadrieh N, Dobrovolskaia MA.
4. Guelcher SA, Srinivasan A, Dumas JE, Nanoparticles and the immune system.
Didier JE, McBride S, Hollinger JO. Endocrinology 2010; 151(2):458–465.
Synthesis, mechanical properties, 14. Chaturvedi TP. Allergy related to dental
biocompatibility, and biodegradation of implant and its clinical significance.
polyurethane networks from lysine Clinical, Cosmetic and Investigational
polyisocyanates. Biomaterials 2008; Dentistry 2013; 5:57–61.
29(12):1762–1775. 15. Franz S, Rammelt S, Scharnweber D,
5. Pieroni L, Levi Mortera S, Greco V, Simon JC. Immune responses to implants
Sirolli V, Ronci M, Felaco P. - A review of the implications for the
Biocompatibility assessment of design of immunomodulatory
haemodialysis membrane materials by biomaterials. Biomaterials 2011;
proteomic investigations. Mol Biosyst 32(28):6692–6709.
2015; 11(6):1633–1643. 16. Anderson JM, Rodriguez A, Chang DT.
6. Williams DF. Biomaterials and Foreign body reaction to biomaterials.
biocompatibility. Med Prog Technol Seminars in immunology 2008; 20(2):86–
1976; 4(1–2):31–42. 100.
7. Ramot Y, Nyska A, Markovitz E, Dekel 17. Stanford CM. Surface modification of
A, Klaiman G, Zada MH. Long-term biomedical and dental implants and the
local and systemic safety of poly(l- processes of inflammation, wound
lactide-co-epsilon-caprolactone) after healing and bone formation. International
subcutaneous and intra-articular Journal of Molecular Sciences 2010;
implantation in rats. Toxicol Pathol 2015; 11(1):354–369.
43(8):1127–1140.

846
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

18. Shankar SP, Chen II, Keselowsky BG, an oral stable isotope. The American
García AJ, Babensee JE. Profiles of Journal of Clinical Nutrition 1997;
carbohydrate ligands associated with 66(3):616–621.
adsorbed proteins on self-assembled 29. Lewith GT, Kenyon JN, Broomfield J,
monolayers of defined chemistries. Prescott P, Goddard J, Holgate ST. Is
Journal of Biomedical Materials electrodermal testing as effective as skin
Research 2010; 92(4):1329–1342. prick tests for diagnosing allergies? A
19. Higgins DM, Basaraba RJ, Hohnbaum double blind, randomised block design
AC, Lee EJ, Grainger DW, Gonzales- study. BMJ: British Medical Journal
Juarrero M. Localized 2001; 322(7279):131–134.
immunosuppressive environment in the 30. Biazar E, Khorasani MT, Montazeri N,
foreign body response to implanted Roviemiab Z. Types of neural guides and
biomaterials. The American Journal of using nanotechnology for peripheral
Pathology 2009; 175(1):161–170. nerve reconstruction. International
20. Ribeiro M, Monteiro FJ, Ferraz MP. Journal of Nanomedicine 2010; 5:839–
Infection of orthopedic implants with 852.
emphasis on bacterial adhesion process 31. Lee MS, Lee YH, Shin BC, Jeong DM,
and techniques used in studying bacterial- Kim MK, Eo YG, et al. Is there any
material interactions. Biomatter 2012; energy transfer during acupuncture?. Am
2(4):176–194. J Chin Med 2005; 33(3):507–512.
21. Penn I, Starzl TE. Immunosuppression 32. Morrison C, Macnair R, MacDonald C,
and cancer. Transplantation Proceedings Wykman A, Goldie I, Grant MH. In vitro
1973; 5(1):943–947. biocompatibility testing of polymers for
22. Rangwala S, Tsai KY. Roles of the orthopaedic implants using cultured
immune system in skin cancer. The fibroblasts and osteoblasts. Biomaterials
British Journal of Dermatology 2011; 1995; 16(13):987–992.
165(5):953–965. 33. Haider W, Munroe N, Pulletikurthi C,
23. Siegfried EC, Jaworski JC, Hebert AA. Singh Gill PK, Amruthaluri S. A
Topical calcineurin inhibitors and comparative biocompatibility analysis of
lymphoma risk: Evidence update with ternary nitinol alloys. Journal of
implications for daily practice. American Materials Engineering and Performance
Journal of Clinical Dermatology 2013; 2009; 18(5-6):760–764.
14(3):163–178. 34. Williams DF. Regulatory
24. Suzuki J, Ricordi C, Chen Z. Immune biocompatibility requirements for
tolerance induction by integrating innate biomaterials used in regenerative
and adaptive immune regulators. Cell medicine. J Mater Sci Mater Med 2015;
Transplantation 2010; 19(3):253–268. 26(2):89.
25. Grossman SA, Ye X, Lesser G, Sloan A,
Carraway H, Desideri S.
Immunosuppression in patients with high
grade gliomas treated with radiation and
temozolomide. Clinical Cancer Research:
An Official Journal of The American
Association for Cancer Research 2011;
17(16):5473–5480.
26. Sidambe TA. Biocompatibility of
advanced manufactured titanium implants
- A review. materials 2014; 7(12).
27. Gardner AB, Lee SKC, Woods EC,
Acharya AP. Biomaterials-based
modulation of the immune system. Bio
Med Research International 2013;
2013:7.
28. Patriarca M, Lyon TD, Fell GS. Nickel
metabolism in humans investigated with

847
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

SITOLOGI TUMOR ODONTOGENIK: AMELOBLASTOMA

Vera Dewi Mulia

Departemen Patologi Anatomi


Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala

ABSTRAK
Ameloblastoma adalah tumor odontogenik jinak dan bersifat agresif secara lokal. Angka kejadian
tumor ini sekitar 1% dari seluruh tumor pada tulang rahang. Biasanya terjadi pada regio mandibula,
dan hanya sedikit kasus di maksila. Ameloblastoma mempunyai kecendrungan untuk rekurensi,
karena itu sangat diperlukan diagnosis yang akurat sebelum menentukan teknik pembedahan. Gejala
klinis dan radiologis ameloblastoma dapat menunjukkan gambaran yang tidak spesifik, gambarannya
bisa menyerupai odontogenic cyst dan tumor lain. Fine Needle Aspiration Cytology (FNAB)
merupakan suatu teknik yang mudah dan tidak invasif dalam menegakkan diagnosis sebelum tindakan
pembedahan dilakukan pada ameloblastoma. Teknik ini juga merupakan suatu tindakan yang dapat
dilakukan dengan cepat dan menghasilkan diagnosis yang akurat, serta dapat membedakan antara
tumor jinak dan ganas. Sitologi dari ameloblastoma terdiri atas kelompok-kelompok sel basaloid
dengan single spindle and stellate shaped cells. Bahan pemeriksaan bisa tidak memadai bila diperoleh
dari tumor dengan area kista yang luas, dan dapat menyebabkan diagnosis menjadi tidak akurat,
sehingga bisa keliru dalam menentukan keganasan yang bisa terdiagnosis sebagai suatu
ameloblastoma konvensional.

Kata kunci: Ameloblastoma, FNAB, diagnosis

ABSTRACT
Ameloblastoma is a benign but locally aggressive epithelial odontogenic tumor. It represents 1% of
all tumors of the jaw bone. It is more common localized in the mandible, only a smaller number of
casses in maxilla. Ameloblastoma is a tumor with a propensity for recurrence. Therefore, an accurate
preoperative diagnosis is important to determaining surgical technique. The clinical and radiographic
appearance is not spesific, it can simulate several odontogenic cysts and tumors. Fine Needle
Aspiration Cytology (FNAB) is a simple and non invasive technique for preoperative diagnosis of the
lessions. It can offer a rapid and accurate diagnosis, differentiating between benign and malignant
ameloblastomas. The cytological features of ameloblastoma are small basaloid cells in clusters, and
single spindle and stellate shaped cells. Inaccuracy diagnosis of ameloblastoma from FNAB technique
usually caused by inadequate sampling due to extensive cystic degeneration, that may lead to
missclassification of malignant as conventional ameloblastoma.

Key words: Ameloblastoma, FNAB, diagnosis

848
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

PENDAHULUAN invasif, dan merupakan salah satu alternatif


Tumor odontogenik terdiri dari berbagai biopsi yang dilakukan untuk menegakkan
macam tipe, baik tumor jinak maupun tumor diagnosis sebelum tindakan bedah dilakukan.7
ganas yang tumbuh dari sisa odontogenik.1 Tindakan FNAB preoperasi merupakan suatu
Ameloblastoma adalah tumor jinak alat yang berharga untuk menegakkan
odontogenik yang biasanya tumbuh pada diagnosis dan penatalaksanaan pada
tulang rahang. Tumor ini diperkirakan berasal ameloblastoma, sehingga tindakan biopsi
dari residual epitel germinal gigi, epitel kista jaringan dengan cara operasi dapat dihindari,
odontogenik, epitel squamous bertatah, dan mengingat regio kepala dan leher merupakan
epitel dari organ enamel. Ameloblastoma area dengan banyak pembuluh darah dan dekat
merupakan tumor odontogenik tersering dengan pembuluh darah utama.3,8
dengan angka kejadian sekitar 1% dari angka
kejadian tumor rongga mulut, 80 % pada area TINJAUAN PUSTAKA
mandibula dan 20 % lagi pada rahang atas.2 Ameloblastoma
Ameloblastoma merupakan suatu tumor Pembengkakan pada mandibula dapat
jinak, tumbuh lambat namun bersifat agresif disebabkan oleh beberapa lesi yang bersifat
lokal dengan manifestasi klinis berupa jinak dari odontogenik dan non-odontogenik.
pembengkakan pada area rahang dan tidak Tumor tersering yang berasal dari odontogenik
menimbulkan rasa nyeri, dapat ekspansi ke adalah ameloblastoma.3 Ameloblastoma
tulang kortikal, menyebabkan perforasi pada (adamantinoma) merupakan tumor
buccal plates dan menginfiltrasi jaringan odontogenik yang berasal dari epitel
lunak.3 Lokasi tumor tersering adalah pada odontogenik/ameloblas. Dapat juga berasal
area mandibula, jarang ditemukan pada dari epitel pembatas kista dentigerous, dari
maksila, dan apabila tumbuh pada lokasi ini, sisa lamina gigi (epitel yang akan membentuk
maka akan memberikan gambaran prognosis crown gigi) dan enamel, atau dari lapisan basal
yang lebih buruk akibat dari infiltrasi yang mukosa mulut.9
luas pada tulang trabekula.4 Etiologi dari ameloblastoma belum
Ameloblastoma terdiri atas 6 gambaran sepenuhnya ditelusuri, kemungkinan
subtipe histologi: folicular, plexiform, berhubungan dengan abnormalitas pada
acantomatous, granulose cell, basal cell dan kontrol gen yang berperan pada perkembangan
desmoplasic. Tipe-tipe ini dapat tersusun gigi. Berbagai literatur menyebut trauma atau
secara gabungan dan tidak ada hubungannya lesi sistik, karena ameloblastoma berkembang
dengan prognosis tumor. Secara makroskopis pada basis dari folikular atau kista
ameloblastoma terdiri atas 3 tipe: solid atau odontogenik lainnya, dimana epitel dari
multikistik, unikistik dan periferal.4 Bentuk dinding kista mengalami transformasi menjadi
multikistik atau intra-osseus merupakan tipe ameloblastik.6
yang tersering dan mempunyai aspek klinis Angka kejadian Ameloblastoma sekitar
yang bermakna pada ameloblastoma 1% dari seluruh tumor pada regio kepala dan
dikarenakan gambaran invasi fokal serta dapat leher, 11% dari seluruh tumor odontogenik.
mengarah pada terjadinya rekurensi dan Ameloblastoma terutama terjadi pada rentang
metastasis.5 usia antara 30 dan 60 tahun, tanpa ada
Terapi ameloblastoma adalah eksisi perbedaan antara laki-laki dan wanita.10
komplit dengan batas-batas yang adekuat Ameloblastoma merupakan tumor
sehingga dapat meminimalisasi terjadinya odontogenik yang bersifat agresif, sering
rekurensi, oleh karena itu perlu perencanaan tumbuh lambat, asimtomatis dan tidak ada
penatalaksanaan yang tepat. Gejala klinis dan pembengkakan, meskipun kadangkala tumor
radiologis ameloblastoma dapat menunjukkan ini memberikan gambaran klinis berupa
gambaran yang tidak spesifik, padahal bengkak, maloklusi dental serta rasa nyeri.2
diagnosis yang tepat dan cepat sangat penting Selain tumbuh agresif, tumor ini juga
sebelum melakukan prosedur tindakan bedah.6 mempunyai kecenderungan untuk rekuren.
Akhir-akhir ini para ahli bedah menginginkan Oleh karena itu sebagian besar literatur
tindakan biopsi untuk dapat menegakkan menempatkan ameloblastoma pada tumor
diagnosis dengan cepat. Biopsi Aspirasi Jarum yang borderline (low grade malignant)
Halus (Fine Needle Aspiration Biopsy/FNAB) dibandingkan tumor jinak. Hal tersebut
merupakan tindakan yang cepat, kurang berlawanan dengan klasifikasi World Health

849
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

Organization (WHO).9 Rekurensi dapat muncul pada satu tumor dan sedikit
ameloblastoma biasanya terjadi beberapa fakta yang menyatakan satu tipe lebih agresif
dekade setelah dilakukannya tindakan dibanding tipe yang lain.9,10
pembedahan, namun apabila Pola follicular dan plexiform ditemukan
penatalaksanaannya tidak adekuat, maka sekitar 32,5% dan 28,2%, tipe achatomatous
kemungkinan bisa mengarah pada suatu 12,1% dan tipe desmoplastic hanya sekitar 3–
keganasan.2 13%. Tipe histopatologi yang jarang
Gambaran radiologi ameloblastoma ditemukan yaitu granular cell 3–5% dan basal
menunjukkan berbagai variasi. Biasanya cell sekitar 2%. Secara umum diperkirakan
didapatkan lesi litik yang luas. Ada tipe hanya sekitar 20% dari ameloblastoma terjadi
destruksi tulang yang multilokuler dan bisa di maksila, namun ameloblastoma pada
juga muncul yang unilokuler. Kadang-kadang maksila merupakan suatu tumor yang lebih
tampak pula gigi yang tertanam.11 agresif dikarenakan struktur dari tulang
Berdasarkan klinik radiologi, maksila yang lebih tipis dan mudah pecah,
ameloblastoma dibagi menjadi 3 grup: solid sehingga tumor mudah menyebar ke struktur
atau multikistik, unikistik dan periferal. Solid jaringan sekitar, termasuk sinus maksilaris,
ameloblastoma merupakan lesi yang tersering cavum nasi, dan mata.10
dan mempunyai kecendrungan lebih agresif Pembagian ameloblastoma secara
11
dengan kejadian rekurensi lebih tinggi. histologi sebagai berikut:
Ameloblastoma unikistik menunjukkan • Intraosseous:
gambaran kista besar dengan lumen, - Follicular
intraluminal atau proliferasi mural dari sel - Plexiform
ameloblastik, bersifat kurang agresif dan - Acanthomatous
rendah tingkat rekurensinya, kecuali lesi - Multicystic
dengan gambaran mural invasi harus diterapi - Unicystic:
secara agresif.2 ▪ Granular cell
Sebelum tindakan bedah, biasanya ▪ Basal cell
diagnosis ameloblastoma ditegakkan ▪ Desmoplastic
berdasarkan gambaran klinis dan radiologis, • Extraosseous:
namun gambaran klinis dan radiologis tersebut - Follicular
bisa memberikan gambaran yang menyerupai - Plexiform
odontogenic cyst dan tumor lain.5,12 Gambaran - Basal cell
radiologi menunjukkan lesi yang ekspansil Granular cell ameloblastoma
dengan penipisan kortek pada buccal-lingual merupakan suatu tipe yang jarang dari
plane. Lesi berupa kista multilokular dengan ameloblastoma, dengan karakteristik
gambaran soap bubble atau honey comb. ditemukannya sel granular eosinofilik yang
Dengan penggunaan foto rontgen yang luas.10
konvensional, gambaran ameloblastoma Dua tipe ameloblastoma yang sering
unilokular terlihat mirip dengan gambaran ditemukan adalah follicular dan plexiform.
dentigerous cysts atau odontogenic Karakteristik dari tipe follicular adalah
keratocysts.2 bentukan pulau-pulau yang tersusun dari
Secara mikroskopis ameloblastoma stellate-like cells dengan bagian kista di
tersusun atas proliferasi dari sel epitel tengahnya. Tipe plexiform tersusun atas 2–3
odontogenik, terdiri atas 2 tipe sel tumor, lapis stellate-like cells pada bagian perifer,
yaitu: oval, spindle, dan stellate-shaped cells, membentuk sarang-sarang yang saling
dan ameloblast-like columnar cell, dengan inti beranastomosis.6
hiperkromatik di basal, tersusun palisading Tingkat rekurensi dari follicular
pada bagian tepi.6 ameloblastoma lebih tinggi (29,5%)
Ameloblastoma terbagi menjadi 2 tipe, dibandingkan dengan plexiform
tipe solid dan kistik, tersusun dalam beberapa ameloblastoma (16,7%) dan acanthomatous
pola, yaitu: follicular, plexiform, ameloblastoma (4,5%).13
acanthomatous, papilliferous-keratotic, Ameloblastoma jarang menunjukkan
granular cell, desmoplastic vascular dan sifat malignansi dan metastasis, hanya sekitar
dengan induksi dentin (dentino- 1% dari kasus ameloblastoma, metastasis lokal
ameloblastoma). Dua atau lebih gambaran

850
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

rawat inap di rumah sakit, serta tindakan


biopsi operasi dan komplikasi dari anastesi
dapat dihindari.1,16 Prosedur FNAB juga
merupakan suatu teknik invasif minimal, tidak
memerlukan persiapan khusus dari pasien dan
aman dilakukan pada ibu hamil, anak-anak dan
pasien dengan risiko tinggi. Teknik ini juga
tidak menyebabkan adanya perdarahan dan
rasa nyeri yang berarti dikarenakan
penggunaan jarum berukuran halus.5,12
Tindakan FNAB biasanya bukan
prosedur utama dalam penegakkan diagnosis
Gambar 1. Histopatologi ameloblastoma ameloblastoma, kemungkinan karena langsung
dilakukan biopsi insisi. Walaupun demikian,
ditemukan pada kelenjar getah bening di regio prosedur ini dapat sangat berguna dalam hal
leher, dan metastasis jauh ditemukan di penentuan metastasis dan evaluasi suatu
paru.1,5,6 Ameloblastoma berbeda dengan rekurensi serta merupakan prosedur sitologi
metastasis ameloblastoma. Berdasarkan yang utama dalam penentuan batas sayatan
klasifikasi WHO, ameloblastoma merupakan eksisi yang adekuat sehingga rekurensi dapat
suatu tumor lokal dan bersifat jinak, dicegah.3 Rekurensi dapat terjadi dalam 5
sedangkan malignant ameloblastoma adalah tahun pertama setelah operasi yang bisa
suatu metastasis tumor ameloblastoma dengan dikarenakan oleh operasi sebelumnya yang
gambaran histologi jinak. Ameloblastic tidak adekuat.
carcinoma adalah suatu tumor primer dan Untuk memperoleh sampel yang
metastasis dengan gambaran malignansi.14,15 adekuat, lokasi aspirasi memegang peranan
yang penting. Karena lokasi tumor
Sitologi Ameloblastoma ameloblastoma terletak pada tulang maka
Terdapat dua jalur dalam menegakkan aspirasi harus dapat menembus tulang agar
diagnosis ameloblastoma sebelum operasi, dapat mengenai tumor. Penentuan lokasi
yaitu dengan penilaian secara histologi dan FNAB pada daerah dengan penipisian atau
sitologi yang dirangkaikan bersama hasil dari destruksi cortex tulang memberikan pengaruh
pemeriksaan klinis dan radiologis.5,12 yang besar pula pada tegaknya diagnosis
Pemeriksaan sitologi ameloblastoma FNAB preoperasi ameloblastoma. Aspirasi
dengan cara FNAB preoperasi masih jarang pada daerah solid akan mendapatkan bahan
dilakukan. Walaupun demikian, diagnosis yang lebih representatif.7,17 Gambaran
ameloblastoma dapat ditegakkan melalui radiologi dapat memberikan informasi adanya
sitologi sebelum operasi dilakukan.7 Salah satu window dan daerah yang solid, sehingga
komponen penting dalam menegakkan aspirasi mendapatkan bahan yang adekuat.17
diagnosis adalah pemilihan teknik biopsi, Pengambilan sampel dengan teknik
pilihannya harus suatu teknik yang mudah, FNAB pada ameloblastoma dapat dilakukan
cepat, noninvasif dan aman.12 dengan mudah, dan menunjukkan gambaran
Fine Needle Aspiration Biopsy (FNAB) sitologi yang jelas.1 Sitologi dari
adalah suatu teknik pemeriksaan untuk ameloblastoma terdiri dari dua karakteristik
menegakkan diagnosis dengan aspirasi jarum tipe sel, yaitu: kelompok sel epitel basaloid
halus pada suatu jaringan. Hasil dari dan single spindle atau stellate shaped cells,
pemeriksaan ini dapat menunjukkan gambaran bisa didapatkan pula epitel skuamus, sel
suatu lesi yang reaktif dan inflamasi, serta limfatik matur, dan fragmen stroma. Basal sel
menentukan sifat jinak dan ganas dari suatu menunjukkan inti hiperkromatik dengan
tumor. FNAB telah banyak digunakan dan sitoplasma tipis, spindle shape atau stellate
sudah menjadi jalur pertama dalam rangkaian shape cells berinti spindle atau oval dengan
penentuan diagnosis pada massa di regio kromatin halus dan anak inti kecil di tepi.
kepala dan leher. FNAB merupakan suatu Kumpulan dari dua tipe sel ini tersusun dalam
teknik pemeriksaan yang akurat dan aman dua formasi, yaitu kelompok-kelompok sel
dilakukan, tidak membutuhkan banyak spindle dan stellate dengan bagian tepi
peralatan, biaya murah, dan mengurangi waktu gambaran sel basaloid yang tersusun

851
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

palisading, formasi yang lain adalah susunan juga menentukan diagnosis banding dari
sel tumor dalam bentuk lajur-lajur. Bisa juga gambaran morfologi ameloblastoma, yaitu:
ditemukan adanya makrofag dari bahan small cell carcinoma, lymphoma, adenoid
aspirasi yang mengandung cairan.3,6 Pada cystic carcinoma, poorly differentiated
beberapa kasus dapat ditemukan pula squamous carcinoma dan ameloblastic
diferensiasi skuamus, yaitu sel yang terlihat fibroma.5,6
besar dengan inti di tengah dan sitoplasma luas Kemampuan ahli patologi untuk
yang mengandung keratohyalin.1 melakukan interpretasi juga mempunyai
Gambaran sitologi dari ameloblastic peranan yang sangat penting. Dengan
carcinoma menunjukkan hiperselularitas yang kemampuan yang baik maka ahli patologi
padat, bertumpuk, dengan inti pleiomorfik, dapat membedakan bahan dan jenis sel-sel
anak inti prominen, terdapat abnormal mitosis yang didapatkan dari bahan aspirasi. Sehingga
dan ditemukannya area nekrosis.8 diagnosis ameloblastoma dapat ditegakkan
sebelum operasi dilakukan.8,17

KESIMPULAN
Ameloblastoma merupakan tumor jinak
odontogenik yang bersifat agresif lokal dan
rekuren, serta berpotensi untuk metastasis.
Untuk meminimalisasi kondisi ini, maka harus
dilakukan penatalaksanaan yang tepat.
Penegakkan diagnosis yang akurat adalah hal
yang sangat penting. FNAB adalah suatu
modalitas yang sangat berguna dalam
menegakkan diagnosis ameloblastoma, selain
mudah dan tidak mahal, FNAB juga aman
Gambar 2. Sitologi ameloblastoma (sel basaloid bagi pasien, dan yang terpenting tindakan ini
dan palisading) dapat dilakukan dengan cepat serta
menghasilkan diagnosis yang akurat, tentunya
Keterbatasan dari FNAB pada tumor dengan bahan/sampel aspirasi yang memadai.
rahang dapat dikarenakan oleh sampel yang Diagnosis yang akurat dapat membantu para
tidak memadai, hal ini bisa ditemukan pada dokter ahli bedah dalam menentukan
tumor-tumor dengan bentukan kista yang luas penatalaksanaan secara ekstensif dan dengan
dan mengalami infeksi sekunder. Untuk itu tindakan operasi yang optimal dapat mencegah
harus dilakukan pengambilan sampel yang rekurensi.
multipel dari beberapa lokasi suatu tumor agar
dapat diperoleh hasil aspirasi yang DAFTAR PUSTAKA
mengandung material sel untuk penegakkan 1. Chandavarkar V, Mishra M, Bhargava D,
diagnosis.8,12 Apabila hasil aspirasi pada suatu Gupta R, Sharma R. An insight into
lesi yang luas adalah cairan, maka dapat cytopathology of adontogenic tumors: A
dilakukan sentrifus pada cairan tersebut review. Gjmedph 2014; 3:3.
sehingga dapat diperoleh sejumlah sel yang 2. Gumgum S, Hosgoren B. Clinical and
dibutuhkan.12 radiologic behavior of ameloblastoma in
Sampel yang memadai sangat penting 4 cases. J Can Den Assoc 2005;
dalam menegakkan diagnosis yang akurat, 71(7):481–484
seperti dalam membedakan antara suatu 3. Rather GR, Goeswami KC, Khajuria R,
ameloblastoma dengan ameloblastic Singh K, Mahajan D, Dev G. Fine needle
carcinoma, dan antara ameloblastic carcinoma aspiration cytology of ameloblastoma. JK
dengan carcinoma pada rahang akibat science 2013; 15(2).
metastasis tumor dari paru, payudara, dan 4. Bueno JM, Bueno SM, Romero JP, Atin
gastrointestinal.5 Kegagalan dalam SB, Redecilla PH, Martin GR.
mengidentifikasi sel tumor yang malignant Mandibular ameloblastoma reconstruction
dapat mengakibatkan suatu ameloblastic with iliac crest graft and implants. Med
carcinoma didiagnosis sebagai suatu Oral Patol Oral Cir Bucal 2007; 12:73–
konvensional ameloblastoma.8 Kualitas sampel 75.

852
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

5. Nai GA, Grosso RN. Fine-needle cytology in various body lesion.


aspiration biopsy of ameloblastic American Journal of Advances in Medical
carcinoma of the mandible: A case report. Science 2014; 2(2):9–14.
Braz Dent 2011; 22(3):254–257. 17. Rahaju AS, Fauziah D, Kusumastuti EH.
6. Peric M, Milicic V, Pajtler M, Marjanovic Diagnostic accuracy of pre-operative fine
K, Zubcic V. Potential value and needle aspiration biopsy in
disadvantages of fine needle aspiration ameloblastoma. Folia Medika
cytology in diagnosis of ameloblastoma. Indonesiana 2010; 46(1):41–44.
Coll Antropol 2012; 36(2):147–150.
7. Artes-Martinez MJ. Ameloblastoma.
diagnosis by means of FNAB: Report of
two cases. Med Oral Patol Oral 2005;
10:205–209.
8. Anchinmane VT, Rupani AB, Shedge RT,
Kavishwar VS. Diagnosis of
ameloblastoma of mandible by fine-
needle aspiration cytology. Bombay
Hospital Journal 2011; 53.
9. Rosai J. Maxilla and Mandible:
Ameloblastoma. In: Rosai and
Ackerman’s Surgical Pathology. 9th ed.
USA: Mosby. 2004: 291–293.
10. Afroz N, Qadri S, Shamim N. Granular
cell ameloblastoma of maxilla:
Masquerading as pyogenic granuloma.
Oral and Maxilofacial Pathology Journal
2015; 6(1);568–571.
11. Mills. The Jaw and Oral Cavity;
Ameloblastoma. In: Sternberg’s
Diagnostic Surgical Pathology. 4th ed.
LWW. 2004: 922–924.
12. Ucok O, Dogan N, Ucok C, Gunhan O.
Role of fine needle aspiration cytology in
the preoperative presumptive diagnosis of
ameloblastoma. Acta Cytol 2005;
49(1):38–42.
13. Kishore M, Panat SM, Kishore A, Joshi
A. Follicular ameloblastoma: A case
report. IJSS Case Reports and Reviews
2014; 1(1):1–3.
14. Klee C, Lindskog S, Hirsch JM, Thor A.
Recurrent ameloblastoma of the
mandible: Surgical seeding or metastasis
of malignant ameloblastoma. Case
Reports in Clinical Medicine 2013;
2(2):154–158.
15. Amzerin M, Fadoukhair Z, Belbaraka R,
Iraqui M, Boutayeb S, M’rabti H, et al.
Metastatic ameloblastoma responding to
combination chemotherapy: Case report
and review of the literature. Journal of
Medical Case Reports 2011; 5:41.
16. Tailor HJ, Bhagat VM, Saini PK,
Pimpaldara RP. Study of diagnostic
importance of fine needle aspiration

853
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

PENGARUH DURASI PERENDAMAN RESIN AKRILIK HEAT CURED DALAM


MINUMAN TEH ROSELLA (Hibiscus sabdariffa) TERHADAP PERUBAHAN DIMENSI

Viona Diansari, Sri Fitriyani, Aldita Dwy Gustya

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Syiah Kuala

ABSTRAK
Resin akrilik heat cured dapat mengalami perubahan dimensi ketika direndam dalam cairan. Resin
akrilik yang bersifat menyerap air dapat dipengaruhi oleh komposisi, durasi perendaman dan jenis
larutan yang digunakan. Jenis larutan yang bersifat asam seperti teh rosella diduga dapat
menyebabkan erosi dan menurunkan tegangan permukaan material resin akrilik sehingga
memudahkan penetrasi molekul cairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh durasi
perendaman resin akrilik heat cured dalam minuman teh rosella selama 1, 3, 5 dan 7 hari terhadap
perubahan dimensi. Spesimen pada penelitian ini berbentuk silinder dengan diameter 50 ± 1 mm dan
ketebalan 0.5 ± 0.1 mm. Dua puluh spesimen awalnya direndam dalam aquades selama 24 jam untuk
mengurangi monomer sisa kemudian dikeringkan dengan desikator dan diukur berat awalnya sebelum
perlakuan (W1). Seluruh spesimen dibagi ke dalam dua kelompok yaitu 10 spesimen direndam dalam
larutan teh rosella dan 10 spesimen direndam dalam aquades (kontrol) selama 1, 3, 5 dan 7 hari.
Kemudian diukur berat akhir pada setiap perendaman (W2) dengan menggunakan neraca analitik.
Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan repeated ANOVA dan diuji lanjut pairwise
comparison. Hasil analisis menunjukkan terdapat perbedaan bermakna perubahan dimensi setelah
direndam dalam minuman teh rosella selama 1, 3, 5 dan 7 hari (p<0.05), namun hasil uji lanjut
menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna (p>0.05) antara perubahan dimensi 1 dan 7 hari.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah adanya pengaruh durasi perendaman resin akrilik heat cured
dalam minuman teh rosella terhadap perubahan dimensi.

Kata kunci: Resin akrilik heat cured, teh rosella, perubahan dimensi

ABSTRACT
Heat cured acrylic resin has dimensional changes when immersed into the liquid. One of several
characters of acrylic resin is absorbing the water which could influenced by composition, immersed
duration and kinds of the soluble. The kinds of sour soluble such as rosella tea could made the erosion
and decrease the superficial strain of acrylic resin material which easier the penetration of liquid
molecules. This study was aimed to analyze the effect of immersed duration of heat cured acrylic
resin into the rosella tea drinks for 1, 3, 5 and 7 days on the dimensional changes. The specimens of
this study was cylinder shape with 50 ± 1 mm diameter and 0.5 ± 0.1 mm thickness. Twenty
specimens was immersed into distilled water for 24 hours to minimize the residual monomer then was
dried using desiccator and the weight was measured before treatment (W1). All specimens were
divided into 2 groups which 10 specimens was immersed in rosella tea and 10 specimens was
immersed in distilled water (control) for 1, 3, 5 and 7 days. Then the final weight of each application
was measured using analytic balance. The data was analyzed using repeated ANOVA and continued
with pairwise comparison. Based on analysis shown that there was significant different of
dimensional changes after immersed in the rosella tea for 1, 3, 5 and 7 days (p<0.05) but the post hoc
pairwise comparison analysis shown there was no significant different of dimensional changes
between 1 to 7 days. It can be concluded that there was the effect of immersed duration heat cured
acrylic resin into the rosella tea on the dimensional changes.

Key words: Heat cured resin acrylic, rosella tea, dimensional changes

854
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

PENDAHULUAN polimer resin akrilik menyebabkan ekspansi


Resin akrilik telah digunakan dalam dan mengganggu rantai polimer, sehingga
bidang kedokteran gigi sebagai bahan basis mempengaruhi sifat fisik resin akrilik. Salah
gigi tiruan lebih dari enam dekade.1,2 Resin satu sifat fisik yang dipengaruhi oleh ekspansi
akrilik merupakan polimer yang digunakan air yaitu perubahan dimensi.7,9
dalam pembuatan gigi tiruan, baik gigi tiruan Perubahan dimensi pada resin akrilik
lepasan sebagian maupun gigi tiruan penuh.3,4 terjadi karena molekul air bergabung dalam
Saat ini resin akrilik yang paling umum struktur makromolekul resin akrilik yang
digunakan sebagai gigi tiruan adalah poli metil memperpanjang rantai ikatan gugus poli metil
metakrilat atau resin akrilik heat cured.5,6 metakrilat.9,10 Skinner dan Cooper menyatakan
Resin akrilik heat cured digunakan sebagai bahwa penyusutan dan ekspansi merupakan
basis gigi tiruan karena bahan ini memiliki dua perubahan dimensi yang tidak dapat
sifat tidak toksik, tidak iritasi, tidak larut dihindari dalam setiap gigi tiruan resin akrilik
dalam cairan mulut, estetis, mudah (cit. Khalaf BS et al, 2008).13 Tingkat
dimanipulasi dan perubahan dimensinya perubahan dimensi juga dapat terjadi setelah
kecil.4,7,8 Namun, resin akrilik heat cured juga direndam dalam larutan yang mempunyai
memiliki kekurangan yaitu mudah fraktur keasaman yang tinggi.14 Penyerapan bahan
apabila jatuh pada permukaan yang keras serta minuman yang mengandung asam akan
akibat kelelahan bahan menerima tekanan bereaksi secara kimia dengan resin akrilik dan
pengunyahan di dalam mulut dan menyerap air menetap dalam pori-pori.15
baik cairan atau bahan kimia sehingga Salah satu minuman yang bersifat asam
mengganggu stabilitas dimensi.6,7,9 adalah teh. Teh rosella (Hibiscus sabdariffa)
Beberapa studi menunjukkan bahwa merupakan minuman kesehatan yang
resin akrilik mempunyai sifat menyerap air dikonsumsi oleh masyarakat. Kelopak rosella
ketika direndam dalam cairan yang yang berwarna merah sering dijadikan sebagai
mengakibatkan perubahan dimensi pada resin teh. Menurut penelitian Nurfaridah (2005)
akrilik.10 Berdasarkan spesifikasi ADA menyatakan bahwa makin pekat warna merah
(American Dental Assosiation) nomor 12, pada kelopak rosella maka makin asam dan
merekomendasikan bahwa peningkatan berat makin tinggi kandungan antosianin
dari polimer tidak boleh melebihi 0.8 mg/cm2 (antioksidan). Rasa asam dari kelopak rosella
dari permukaan setelah direndam dalam air itu dikarenakan adanya kandungan vitamin C,
selama 7 hari pada 37 ± 1 °C.10 Faktor asam sitrat dan asam glikolik.16-19 Asam
penyerapan larutan yang terjadi secara difusi suksinat dan asam oksalat yang dihitung
pada resin akrilik dipengaruhi oleh durasi sebagai dua asam organik di teh rosella.
dalam jangka waktu tertentu.8,11 Cury Delapan belas asam amino terkandung dalam
mengamati bahwa rata-rata penyerapan air teh rosella.20,21 Antioksidan yang dimilikinya
yang terjadi pada resin akrilik yang disimpan berupa vitamin C yang mencapai 244.4 mg
selama 7 hari adalah 0.010 mg/cm2.10 Poli dalam 100 gram kelopak rosella kering.
metil metakrilat menyerap air dalam jumlah Antioksidan lain pada rosella yaitu betakaroten
relatif kecil (0.69 mg/cm2) ketika ditempatkan dan antosianin.16
di lingkungan berair seperti di mulut.1,7 Teh rosella memiliki khasiat dan
Penelitian Al Nori et al. menunjukkan bahwa manfaat karena perannya sebagai anti-
perendaman resin akrilik dalam aquades inflamasi, antikanker, antibakteri dan
selama 7 hari menghasilkan peningkatan berat meningkatkan stamina sehingga teh rosella
sebesar 1.0168 gr dan perendaman resin sering dikonsumsi oleh masyarakat.16,17
akrilik dalam aquades selama 1 bulan Namun hal ini perlu diperhatikan jika ada
menghasilkan peningkatan berat sebesar pengguna gigi tiruan yang sering
1.8221 gr.11 Ghanzabardeh et al. juga mengkonsumsi teh rosella. Kebiasaan tersebut
melakukan penelitian dengan perendaman akan menyebabkan perubahan dimensi pada
pasak yang terbuat dari resin akrilik dalam basis gigi tiruan yang mengakibatkan pasien
aquades selama 24 jam pada suhu 25 °C tidak nyaman pada saat pemakaian. Hal ini
menghasilkan peningkatan diameter sebesar disebabkan oleh sifat resin akrilik yang
0.873 mm dan perendaman selama 48 jam mempunyai porus dan menyerap cairan.10,22
menghasilkan peningkatan diameter sebesar Selain itu keasaman dan durasi perendaman
1.070 mm.12 Penyerapan molekul air dalam resin akrilik dalam larutan juga dapat

855
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

mempengaruhi perubahan dimensinya. Seperti tipe II (perbandingan bubuk dan air 100 gr : 45
pada penelitian yang dilakukan oleh Sarah ml), kemudian diaduk selama 30 detik.
Soraya bahwa perendaman resin akrilik dalam Pengisian gips diawali pada kuvet bawah
larutan sari jeruk selama 7 hari menyebabkan hingga penuh dan divibrasi. Model malam
meningkatnya berat sebesar 0.4408% wt.14 ditanam ke dalam kuvet bawah dengan
Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk permukaan rata dengan adonan gips. Kuvet
mendapatkan informasi mengenai ”Pengaruh atas diletakkan di atas kuvet bawah sehingga
Durasi Perendaman Resin Akrilik Heat Cured berkontak rapat sebelum adonan gips
Dalam Minuman Teh Rosella (Hibiscus mengeras. Setelah adonan gips kuvet bawah
sabdariffa) Terhadap Perubahan Dimensi”. mengeras, kuvet atas dilepaskan dan
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk permukaan gips diolesi dengan vaseline.
mengetahui pengaruh durasi perendaman resin Kemudian kuvet atas dipasang kembali dan
akrilik heat cured dalam minuman teh rosella diisi dengan adonan gips hingga penuh dan
selama 1, 3, 5 dan 7 hari terhadap perubahan rata. Tutup kuvet dipasang dengan sekrup lalu
dimensi. ditekan hingga rapat (metal to metal) dengan
menggunakan alat tekan (press) lalu dikunci
BAHAN DAN METODE kuvet beserta sekrup dengan menggunakan
Penelitian ini bersifat eksperimental kunci pas no.10 dan didiamkan kurang lebih
laboratories yang dilakukan di Laboratorium selama 45 menit.9 (2) Pembuangan model
Program Studi Pendidikan Dokter Gigi malam dengan cara kuvet yang telah diikat
Fakultas Kedokteran Gigi dan Biologi FMIPA dengan tali dimasukkan ke dalam panci yang
Universitas Syiah Kuala. Spesimen yang berisi air mendidih dengan suhu air 100 °C
digunakan adalah resin akrilik heat cured selama 5 menit. Kuvet dikeluarkan dari panci
(merek QC 20) dengan ukuran diameter 50 ± 1 kemudian dibuka dan cairan malam
mm dan tebal 0.5 ± 0.1 mm serta komposisi dikeluarkan. Mould space dibersihkan dengan
terdapat pada Tabel 1. Kriteria spesimen cara menyiramkan air panas yang telah
memiliki ukuran, bentuk, ketebalan dan warna dicampur dengan deterjen.4,9 (3) Pengolahan
yang sama serta permukaan yang halus, rata resin akrilik heat cured diawali dengan
dan tidak porus di permukaan. Jumlah total pengolesan CMS (Cold Mold Seal)
spesimen yang dipersiapkan sebanyak 20 menggunakan kuas kecil pada seluruh
buah. Sebanyak 10 spesimen direndam dalam permukaan gips yang diperkirakan akan
akuades selama 1, 3, 5 dan 7 hari dan 10 terkena resin akrilik heat cured (merk QC 20)
spesimen direndam dalam teh rosella selama 1, yang berlebih. Kemudian bubuk dan cairan
3, 5 dan 7 hari. dicampur dengan perbandingan 23 gr : 10 ml
Pembuatan spesimen dilakukan dalam dalam cawan porselen lalu ditutup dan
beberapa tahapan yaitu: (1) Pembuatan model dibiarkan sampai adonan mencapai fase dough
malam dengan cara cetakan spesimen stage, kemudian adonan dimasukkan ke dalam
disiapkan dari potongan base plate wax. cetakan. Permukaan adonan dilapisi plastik
Spesimen dibuat berbentuk silinder dengan selopan, kuvet atas dipasang beserta tutupnya
ukuran diameter 51 ± 1 mm dan tebal 1 ± 0,5 dan dilakukan pengepresan ringan (jarak
mm. Ukuran dibuat sedikit lebih besar antara kuvet 2 mm) bila terdapat kelebihan
bertujuan agar spesimen resin akrilik yang resin akrilik dipotong dengan menggunakan
diperoleh dapat dirapikan dan dihaluskan lekron sampai kuvet metal to metal. Bila tidak
hingga mencapai ukuran diameter 50 ± 1 mm ada lagi kelebihan resin akrilik dan porus,
dan tebal 0.5 ± 0.1 mm. Kuvet diolesi vaseline plastik selopan dilepaskan dari permukaan
pada permukaan dalam dan diisi dengan gips gips, sekrup dipasang dan dilakukan

Tabel 1. Komposisi resin akrilik heat cured


Komposisi
Jenis Resin Akrilik
Bubuk Cairan
PMMA MMA
Resin Akrilik Heat Cured (poly methyl metacrylate) (methyl metacrylate)
Merek QC 20 EDGMA (ethylene glycol
BPO (benzoil peroxide)
dimetacrylate)

856
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

pengepresan akhir dengan alat press lalu ruang 25 °C. Kemudian dirata-ratakan.
dikunci kuvet beserta sekrup dengan Perendaman spesimen diawali dengan
menggunakan kunci pas no.10.4 (4) menyiapkan gelas yang telah berisi larutan
Pemasakan resin akrilik heat cured (curing) perendaman yaitu 10 gelas berisi larutan teh
dengan cara mengaplikasikan panas. Kuvet rosella dan 10 gelas berisi aquades dengan
dimasukkan ke dalam air mendidih dan jumlah volume yang sama (20 ml). Kemudian
diteruskan hingga mencapai titik didih 10 spesimen direndam dalam larutan teh
selanjutnya lalu dibiarkan selama 20 menit. rosella dan 10 spesimen direndam dalam
Kuvet diangkat dan dibiarkan selama 10 aquades, masing-masing spesimen berada
menit.4,7 (5) Mengeluarkan model resin akrilik dalam wadah yang berbeda. Media
heat cured dari kuvet (deflasking) dengan perendaman diganti setiap hari selama 7 hari
membuka semua sekrup dan tutup kuvet dan perubahan dimensi diukur pada hari ke 1,
menggunakan kunci pas no.10, dilepaskan 3, 5 dan 7. Durasi perendaman ditentukan atau
dengan mengetuk perlahan bagian dasar kuvet dikonversikan berdasarkan rata-rata seseorang
dan dibuka secara perlahan dengan meminum teh rosella selama 5 menit tiga kali
menggunakan pisau gips. Spesimen resin sehari maka total waktu untuk mengkonsumsi
akrilik heat cured diambil dan dikeringkan teh rosella adalah 15 menit perhari.
dengan tisu. Resin akrilik yang berlebih pada Perendaman resin akrilik heat cured dalam
tepi spesimen diasah atau dibuang dengan minuman teh rosella selama 1 hari (24 jam)
menggunakan acrylic trimmer/stone bur sama dengan 1440 menit maka ekuivalen
dengan handpiece. Selanjutnya dihaluskan dengan seseorang minum teh rosella selama
dengan kertas pasir no.400, 800 dan 1200 tiga bulan (1440 menit/15 menit x 1 hari = 96
hingga mencapai ukuran material yang telah hari = 3 bulan). Perendaman selama 3 hari
ditentukan dengan diameter 50 ± 1 mm dan (ekuivalen 9.5 bulan). Perendaman selama 5
tebal 0.5 ± 0.1 mm yang diukur dengan jangka hari (ekuivalen 16 bulan). Perendaman selama
sorong digital. Kemudian semua spesimen 7 hari (ekuivalen 22 bulan).23
dicuci dengan air dan dikeringkan dengan Pengukuran dimensi dilakukan sebelum
tisu.7,11 dan setelah perendaman. Pengukuran dimensi
Spesimen resin akrilik lalu direndam sebelum perendaman berupa berat awal (W1)
dalam gelas yang berisi 20 ml aquades selama dan luas permukaan spesimen (L). Setelah
24 jam untuk mengurangi monomer sisa. dilakukan perendaman, seluruh spesimen
Spesimen kemudian dikeringkan dengan tisu diangkat dari larutan teh rosella dengan
dan diukur berat awalnya sebelum perlakuan. menggunakan pinset dan dikeringkan dengan
Kemudian semua spesimen dikeringkan dalam tisu. Setelah itu dikeringkan di udara selama 5
desikator pada suhu 37 °C selama 24 jam menit dan diukur perubahan dimensi spesimen
dalam inkubator. Spesimen dikeluarkan selama 1 menit. Pengukuran dimensi setelah
setelah 1, 2, 3 dan 24 jam penyimpanan dan perendaman berupa berat akhir (W2) dengan
diukur beratnya. Pengukuran tersebut menggunakan neraca analitik.10,23 Pengukuran
dilakukan hingga mencapai berat konstan perubahan dimensi akibat penyerapan air dapat
(W1) dan memastikan tidak terjadi kehilangan ditentukan dengan persamaan: W0 = (W2 –
berat lebih dari 0.5 mg tiap spesimen sebelum W1)/L, dimana: W0 = perubahan dimensi; W1
dilakukan perendaman.11 = berat awal sebelum perendaman; W2 = berat
Larutan perendaman yang digunakan akhir setelah perendaman; L = luas
adalah teh rosella yang berasal dari 1.5 gram permukaan.
kelopak rosella kering berwarna merah Hasil pengukuran dikumpulkan dan
diseduh dengan air 200 ml bersuhu 90 °C dan ditabulasi menurut masing-masing kelompok.
didiamkan selama 6 menit.16 Pengukuran pH Kemudian dianalisis dengan Statistical
teh rosella dan aquades diukur dengan Package for the Social Sciences (SPSS)
menggunakan pH meter yang telah dikalibrasi menggunakan uji repeated ANOVA untuk
dengan cara mencelupkan elektroda ke dalam melihat pengaruh durasi perendaman resin
aquades sehingga mendapatkan pH netral (pH akrilik heat cured dalam minuman teh rosella
7). Kemudian elektroda dicelupkan ke dalam dan dilanjutkan uji post hoc pairwise
larutan teh rosella sehingga mendapatkan nilai comparison untuk menentukan perbedaan
pH-nya. Perlakuan pengukuran pH dilakukan bermakna antar kelompok durasi perendaman
sebanyak tiga kali pengulangan pada suhu (p<0.05).

857
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

Tabel 2. Rerata perubahan dimensi spesimen resin akrilik heat cured setelah perendaman dalam teh rosella dan
aquades (kontrol) selama 1, 3, 5 dan 7 hari
Rerata Perubahan Dimensi (X ± SD (mg/cm2)
Durasi Perendaman
Aquades (Kontrol) Teh Rosella
1 Hari 0.606 ± 0.074 0.785 ± 0.048
3 Hari 0.843 ± 0.071 0.936 ± 0.061
5 Hari 0.828 ± 0.049 0.869 ± 0.098
7 Hari 0.671 ± 0.089 0.765 ± 0.092

Tabel 3. Hasil analisis statistik pengaruh durasi perendaman resin akrilik heat cured dalam minuman teh rosella
selama 1, 3, 5 dan 7 hari terhadap perubahan dimensi

Durasi Perendaman Rerata Perubahan Dimensi Resin


p
Minuman Teh Rosella Akrilik Heat cured X ± SD (mg/cm2)
1 Hari 0.785 ± 0.048 0.000*
3 Hari 0.936 ± 0.061
5 Hari 0.869 ± 0.098
7 Hari 0.765 ± 0.092
*
Ada perbedaan bermakna (Uji repeated ANOVA p<0.05)

HASIL PENELITIAN perubahan dimensi resin akrilik heat cured


Hasil penelitian menunjukkan rerata dan setelah perendaman dalam minuman teh
standar deviasi perubahan dimensi resin akrilik rosella selama 1, 3, 5 dan 7 hari pada setiap
heat cured setelah perendaman dalam teh kelompok perlakuan. Namun, nilai rerata
rosella dan aquades sebagai kontrol selama 1, perubahan dimensi resin akrilik heat cured
3, 5 dan 7 hari (Tabel 2). Berdasarkan hasil antara kelompok setelah perendaman 1 hari
penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa dan 7 hari menghasilkan perbedaan tidak
rerata perubahan dimensi resin akrilik heat bermakna dengan nilai p>0.05 (Tabel 4).
cured dalam larutan teh rosella lebih besar
dibandingkan setelah perendaman dalam Tabel 4. Hasil uji pairwise comparison antara
aquades (kontrol). durasi perendaman resin akrilik heat
Data rerata perubahan dimensi resin cured dalam minuman teh rosella selama
akrilik heat cured setelah perendaman dalam 1, 3, 5 dan 7 hari terhadap perubahan
dimensi
minuman teh rosella diuji normalitas
menggunakan Shapiro-Wilk. Hasil uji Durasi Perendaman p
normalitas menunjukkan rerata perubahan
3 Hari 0.000*
dimensi setelah direndam dalam larutan teh
rosella selama 1, 3, 5 dan 7 hari memiliki nilai 1 Hari 5 Hari 0.009*
p>0.05 yang berarti bahwa data rerata 7 Hari 0.489
perubahan dimensi normal. Perbedaan 1 Hari 0.000*
perubahan dimensi resin akrilik heat cured 3 Hari 5 Hari 0.033*
antara durasi perendaman dianalisis 7 Hari 0.000*
menggunakan uji statistik repeated ANOVA. 1 Hari 0.009*
Hasil analisis statistik menunjukkan terdapat
5 Hari 3 Hari 0.033*
perbedaan bermakna perubahan dimensi resin
akrilik heat cured setelah perendaman dalam 7 Hari 0.000*
larutan teh rosella selama 1, 3, 5 dan 7 hari 1 Hari 0.489
(p=0.000) (Tabel 3). 7 Hari 3 Hari 0.000*
Nilai rerata perubahan dimensi pada 5 Hari 0.000*
Tabel 3, dilakukan uji lanjut menggunakan *
Ada perbedaan bermakna (Uji pairwise comparison
post hoc pairwise comparison untuk p<0.05)
mengetahui perbedaan rerata perubahan
dimensi antar kelompok perlakuan. Dari nilai Hasil pengukuran pH larutan teh rosella
diketahui bahwa terdapat perbedaan bermakna menggunakan pH meter dengan tiga kali

858
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

pengulangan menunjukkan pengukuran Sifat penyerapan air ini mengakibatkan resin


pertama senilai 2.64, pengukuran kedua 2.62 akrilik heat cured dapat mengalami perubahan
dan pengukuran ketiga 2.62. Hasil uji pH yang dimensi.10
didapat kemudian dirata-ratakan dan Perubahan dimensi resin akrilik heat
didapatkan nilai pH teh rosella sebesar 2.62. cured akibat penyerapan larutan dapat
dipengaruhi oleh jenis larutan perendaman
PEMBAHASAN yang digunakan, misalnya larutan asam seperti
Resin akrilik heat cured dapat teh rosella dengan pH 2,62. Hasil penelitian
mengalami perubahan dimensi ketika menunjukkan terdapat perbedaan perubahan
direndam dalam cairan.10 Perubahan dimensi dimensi resin akrilik heat cured yang
adalah perubahan yang terjadi pada material direndam dalam teh rosella dan aquades
kedokteran gigi berupa ekspansi yang (kontrol) (Tabel 3. dan Gambar 1.) Dari grafik
disebabkan oleh pemanasan dan kontraksi terlihat bahwa perubahan dimensi resin akrilik
yang disebabkan oleh pendinginan.4 Biasanya heat cured dalam minuman teh rosella lebih
hal ini dapat mengakibatkan terganggunya tinggi dibandingkan dengan aquades (kontrol)
adaptasi gigi tiruan di rongga mulut. Dalam setelah direndam selama 1, 3, 5 dan 7 hari. Hal
penelitian ini hasil perubahan dimensi yang ini disebabkan karena terdapat beberapa
diperoleh terlihat pada Gambar 1. kandungan asam pada teh rosella seperti
vitamin C, asam sitrat, asam glikolik, asam
askorbat dan delapan belas asam amino.17,18
Senyawa asam mengandung banyak ion H+
yang dapat menurunkan tegangan permukaan
dari resin akrilik heat cured sehingga molekul-
molekul dalam larutan mudah untuk masuk di
antara molekul resin akrilik dan difusi yang
terjadi lebih cepat maka perubahan dimensi
yang terjadi lebih besar dibandingkan dengan
aquades yang bersifat netral (pH 7).23
Perubahan dimensi resin akrilik heat
cured akibat penyerapan larutan pada
penelitian ini juga dapat dipengaruhi oleh
durasi perendaman. Penyerapan larutan yang
dipengaruhi oleh durasi terjadi secara difusi
Gambar 1. Grafik perubahan dimensi resin akrilik pada resin akrilik heat cured sehingga dapat
heat cured setelah perendaman 1, 3, 5 menyebabkan molekul-molekul dalam larutan
dan 7 hari dalam minuman teh rosella dapat menembus kepadatan poli metil
dan aquades (kontrol) metakrilat yang akhirnya dapat membentuk
porus pada resin akrilik heat cured. Semakin
Berdasarkan grafik pada Gambar 1 di lama durasi perendaman resin akrilik heat
atas terlihat bahwa terjadinya perubahan cured diduga makin banyak waktu yang
dimensi setelah perendaman dalam aquades dibutuhkan molekul larutan untuk berpenetrasi
(kontrol) maupun teh rosella. Terjadinya ke dalam rantai polimer sehingga perubahan
perubahan dimensi pada penelitian ini diduga dimensi semakin besar. Hal ini diperkuat oleh
oleh karena beberapa faktor seperti komposisi penelitian Al Nori et al. menunjukkan bahwa
dari resin akrilik heat cured, jenis larutan perendaman resin akrilik dalam aquades
perendaman dan durasi perendaman. selama 7 hari menghasilkan peningkatan berat
Resin akrilik heat cured mengandung sebesar 1.0168 gr dan perendaman resin
poli metil metakrilat dan sejumlah kecil etilen akrilik dalam aquades selama 1 bulan
glikol dimetakrilat, keduanya akan membentuk menghasilkan peningkatan berat sebesar
gugus fungsional berupa gugus ester sehingga 1.8221 gr.10
mudah menyerap larutan. Sesuai dengan Akan tetapi pada penelitian ini terlihat
penelitian Ferracane disebutkan bahwa pola grafik yang terjadi pada perendaman
material yang mengandung gugus ester dan dalam aquades (kontrol) selama 1, 3, 5 dan 7
eter memiliki sifat hidrofilik sehingga mudah hari mengalami peningkatan perubahan
menyerap larutan yang ada disekitarnya.24 dimensi setelah perendaman 1 dan 3 hari,

859
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

kemudian mengalami penurunan setelah perendaman mengalami penurunan yang


perendaman 5 dan 7 hari. Pola grafik yang bermakna (p<0.05) dibandingkan dengan
sama juga terjadi pada perendaman dalam teh perendaman setelah 5 hari. Hal ini diduga
rosella selama 1, 3, 5 dan 7 hari. Perubahan karena pada perendaman setelah 7 hari resin
dimensi yang direndam setelah 1 dan 3 hari akrilik heat cured sudah mengalami degradasi.
mengalami peningkatan perubahan dimensi. Hal ini diperkuat oleh penelitian Huseyin yang
Berdasarkan hasil analisis menunjukkan menunjukkan bahwa perubahan dimensi
perbedaan yang bermakna (p<0.05) pada setelah perendaman resin akrilik heat cured
kelompok 1 hari. Hal ini diduga karena adanya dalam saliva sintetis selama 7 hari yaitu
perlakuan perendaman spesimen selama 24 sebesar 0.019 mg/cm2 sementara perendaman
jam dalam aquades untuk mengurangi selama 15 hari menunjukkan perubahan
monomer sisa sebelum perlakuan perendaman dimensi sebesar 0.015 mg/cm2.27 Hal ini
selama 1, 3, 5 dan 7 hari. Monomer yang diduga dapat terjadi akibat polimer matriks
terlepas diduga mengakibatkan banyaknya terurai (lisis). Terurainya matriks ini diduga
ruang kosong pada resin akrilik sehingga mengurangi jumlah matriks yang terkandung
terjadi peningkatan berat dan penyerapan di dalam spesimen sehingga menyebabkan
larutan yang lebih besar setelah 1 hari.1 penurunan kemampuan penyerapan larutan
Perubahan dimensi setelah 3 hari mengalami dan terjadinya penurunan dimensi resin akrilik
pola peningkatan bermakna (p<0.05). Hal ini heat cured.
diduga karena ruang kosong pada resin akrilik Namun hasil uji lanjut menunjukkan
mulai terisi penuh oleh molekul larutan yang perbedaan yang tidak bermakna (p>0.05)
diserap oleh resin akrilik dan monomer sisa antara perubahan dimensi 1 dan 7 hari. Hal ini
yang terlepas lebih kecil dari hari pertama diduga karena larutan asam yang digunakan
sehingga penyerapan larutan yang terjadi dapat mempengaruhi degradasi dari resin
semakin sedikit. Air terus berdifusi masuk di akrilik. Efek ini telah dibahas dalam jangka
antara rantai-rantai polimer yang waktu dekomposisi matriks. Dekomposisi
menyebabkan ekspansi sehingga matriks bisa terjadi karena hidrolisis dari
meningkatkan perubahan dimensi. matriks. Asam metakrilat telah diproduksi
Perubahan dimensi perendaman resin sebagai hasil dari proses degradasi akibat
akrilik heat cured setelah 5 dan 7 hari hidrolisis dari polimer matriks. Proses
mengalami penurunan. Berdasarkan hasil degradasi terkait penyerapan larutan dan
analisis terdapat perbedaan bermakna (p<0.05) pembengkakan dari matriks yang
pada perendaman setelah 5 hari. Hal ini diduga menyebabkan pelepasan zat organik dan
disebabkan teh rosella yang bersifat asam mengakibatkan kehilangan massa sehingga hal
bereaksi dengan resin akrilik yang ini dapat mengakibatkan penurunan perubahan
mengakibatkan kerusakan kimia pada dimensi resin akrilik.28
permukaan resin akrilik. Akibat pemaparan
larutan asam dapat menyebabkan terjadinya KESIMPULAN
pelepasan ion-ion yang terdapat pada resin Dapat disimpulkan bahwa terdapat
akrilik heat cured sehingga menyebabkan pengaruh durasi perendaman resin akrilik heat
ketidakteraturan permukaan.25 Larutan teh cured dalam minuman teh rosella selama 1, 3,
rosella yang bersifat asam dapat menyebabkan 5 dan 7 hari terhadap perubahan dimensi.
erosi pada permukaan resin akrilik heat cured. Perubahan dimensi resin akrilik heat cured
Hal ini sesuai penelitian Shakhashiri yang dapat dipengaruhi oleh larutan perendaman.
menyatakan bahwa daya erosif asam Perendaman spesimen dalam larutan teh
bergantung pada jenis asam yang terkandung rosella menghasilkan perubahan dimensi yang
dalam minuman. Adapun daya erosif tertinggi lebih tinggi karena bersifat asam dibandingkan
adalah asam sitrat, kemudian diikuti dengan dengan aquades. Peningkatan perubahan
asam malat dan asam fosfat. Oleh karena itu dimensi terjadi setelah perendaman 1 dan 3
diduga asam sitrat dapat mengerosi lebih hari, serta penurunan perubahan dimensi
cepat.26 Proses ini diduga dapat membentuk terjadi setelah perendaman 5 dan 7 hari.
porus dalam jumlah banyak sehingga terjadi Sebaiknya pengguna gigi tiruan menghindari
perubahan dimensi berupa penurunan berat kontak langsung dengan minuman yang asam
resin akrilik heat cured. Perubahan dimensi dalam jangka panjang agar stabilitas dimensi
resin akrilik heat cured setelah 7 hari gigi tiruan tetap terjaga.

860
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

DAFTAR PUSTAKA 12. Ghanbarzadeh J, Sabooni MR, Nejad RR.


1. Rao PS, Mahesh P, Kumar HC, Reddi The effect of storage conditions on
NRM, Vijaya SV. Comparison of residual dimensional changes of acrylic post-core
monomer and water absorption in acrylic patterns. Journal of Dentistry, Tehran
resin samples processed with microwave University of Medical Sciences 2007;
and conventional heat cure 4(1):27–31.
polymerization methods-invitro study. 13. Khalaf BS, Abass SM, Jassim TKh.
Annals and Essences Dentistry 2012; Dimensional stability of heat-activated
5:25–29. acrylic resin at different time intervals by
2. Kedjarune U, Charoenworaluk N, different flask cooling methods. MDJ
Koontongkaew S. Release of methyl 2008; 5(3):274–280.
methacrylate from heat-cured and 14. Soraya S. Analisa pengaruh imersi basis
autopolymerized resins: Cytoxicity gigi tiruan akrilik dalam variasi larutan
testing related to residual monomer. asam terhadap perubahan kekerasan dan
Australian Dental Journal 1999; struktur mikro. Surabaya: Institut
44(1):25–30. Teknologi Surabaya. Tesis 2007.
3. Rahal JS, Mesquita MF, Henriques GEP, 15. Endang Kusdarjanti. Kekuatan transversa
Nobilo MAA. Influence of chemical and resin akrilik heat cure yang direndam
mechanical polishing on water sorption dalam minuman tuak. Dental Journal
and solubility of denture base acrylic 2003; 36–40.
resin. Braz Dent J 2004; 15(4):225–230. 16. Ekanto B, Sugiarto. Kajian teh rosella
4. Hatrick, Eakle, Bird. Dental Material: (Hibiscus sabdariffa) dalam
Clinical Applications for Dental meningkatkan kemampuan fisik berenang
Assistants and Dental Hygienist. (penelitian eksperimen pada mencit jantan
Philadelphia: WB Saunders Company. remaja). Jurnal Media Ilmu
2003: 250–257. Keolahragaan Indonesia 2011; 2:171–
5. Consani RLX, Vieira EB, Mesquita MF, 180.
Mendes WB, Arioli-Filho JN. Effect of 17. Maryani H, Kristiana L. Khasiat dan
microwave disinfection on physical and Manfaat Rosella. Jakarta: PT Agromedia
mechanical properties of acrylic resin. Pustaka, 2008: 1–9, 23–34.
Braz Dent J 2008; 19(4):348–353. 18. Widyanto, Poppy S, Nelistya, Anne.
6. Tuna SH, Keyf F, Gumus HO, Uzun C. Rosella Aneka Olahan, Khasiat, dan
The evaluation of water Ramuan. Jakarta: Penebar Swadaya,
sorption/solubility on various acrylic 2008: 1–40.
resins. European Journal of Dentistry 19. Qi Y, Malekian F, Bandele O, Berhane
2008; 2: 191–197. M, Gager J. Food value of roselle,
7. Craig RG, Power JM, Wahata JC. Hibiscus sabdariffa, tea. Agricultural
Restorative Dental Material. 12th ed. St. Research and Extension Center 2006; 1.
Louis: Mosby. 2006: 515–518. 20. Wong P, Salmah YHM, Cheman YB.
8. Combe EC. Notes on Dental Material. 6th Physic-chemical characteristics of roselle
ed. Edinburg: Churchill Livingstone. (Hibiscus sabdariffa). Nutr and Food Sci
1993: 157–163. 2002; 32:68–73.
9. Annusavice KJ. Phillips Science of 21. Fasoyiro SB, Ashaye OA, Adeola A,
Dental Material. 11th ed. Philadelphia: Samuel FO. Chemical and storability of
WB Saunders Company. 2003: 722–757. four – flavoured (Hibiscus sabdariffa)
10. Barbosa CMR, Fraga MA, Goncalves drinks. World of Agricultural Sciences
TDM. Acrylic resin water sorption under 2005; 1(2):165–168.
different pressure, temperature and time 22. Wulandari F, Rostiny, Soekobagiono.
conditions. Material Research 2001; 4:1– Pengaruh lama perendaman resin akrilik
6. heat cured dalam eugenol minyak kayu
11. Al Nori AKh, Ali AA, Rejab LT. Water manis terhadap kekuatan transversa.
sorption of heat-cured acrylic resin. Al- Journal of Prosthodontics 2012; 3(1):1–5.
Rafidain Dental Journal 2007; 7(2):186– 23. Daulay AY. Pengaruh durasi perendaman
194. resin akrilik heat cure dalam minuman
kopi ulee kareng (coffea robusta)

861
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

terhadap perubahan dimensi. Banda


Aceh: Universitas Syiah Kuala Skripsi
2012.
24. Ferracane JL. Hygroscopic and hydrolytic
effect in dental polymer networks. Dental
Material 2006: 22;211–222.
25. Pribadi SB, Yogiartono M, Agustantina
TH. Perubahan kekuatan impak resin
akrilik polimerisasi panas dalam
perendaman cuka apel. Dentofasial
Jurnal Kedokteran Gigi. 2010; 9:13–20.
26. Shakhashiri. Phosphoric Acid, H3PO4.
Chemical of The Week 2008; 142:142–
144.
27. Kurtulmus H. Effect of saliva and nasal
secretion on some physical properties of
four different resin materials. Med Oral
Patol Oral Cir Bucal 2010; 15(6):969–
975.
28. Rejab TL. Effect of organic acid solution
on color change of acrylic resin facing for
fixed crowns and bridges. Al-Rafidain
Dent J 2008; 8(2):128–135.

862
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

KANDIDIASIS OROFARING PADA HIV/AIDS

Masra Lena Siregar

Departemen Ilmu Penyakit Dalam


Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala

ABSTRAK
Masalah HIV/AIDS adalah masalah besar yang mengancam Indonesia dan banyak negara di seluruh
dunia. Kandidiasis orofaring merupakan manifestasi klinis yang pertama kali muncul pada pasien
HIV/AIDS dan merupakan infeksi oportunistik yang tersering ditemukan yang disebabkan oleh jamur
spesies Candida. Prevalensi kandidiasis orofaring telah dilaporkan terjadi 50–95% pada pasien
HIV/AIDS. Gejala klinis kandidiasis kadang-kadang asimtomatik, gejala yang paling umum adalah
rasa tidak enak dan terbakar pada mulut, munculnya plak berwarna putih, perubahan rasa dan
kesukaran menelan makanan baik cair maupun padat. Diagnosis definitif dilakukan dengan cara
ditemukannya spesies Candida pada pemeriksaan kerokan dengan larutan KOH. Obat-obatan yang
sering digunakan dalam terapi kandidiasis adalah golongan azol, namun banyak yang mengalami
kegagalan terapi disebabkan karena pada pasien HIV/AIDS mengalami penurunan sistem kekebalan
tubuh akibat limfosit T CD4+ yang rendah, penggunaan preparat azol jangka lama, dan disebabkan
isolat Candida albicans, oleh karena itu terapi terbaik adalah meningkatkan kekebalan tubuh
penderita HIV/AIDS dengan terapi antiretroviral.

Kata kunci: Kandidiasis, orofaring, HIV/AIDS

ABSTRACT
Human Immunodeficiency Virus (HIV)/Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) is a big
problem that threatens Indonesia and many countries around the world. Oropharingeal candidiasis is
among the initial clinical manifestations HIV/AIDS patients and the most common opportunistic
infection was seen that caused by mycosis of Candida species. The prevalence of oropharingeal
candidiasis is occuring 50–95% in HIV/AIDS patients. Symptoms of candidiasis may be
asymptomatic, the most common symptom is mouth discomfort and burning, white plaques, altered
taste sensation, and difficulty swallowing liquids nor solids. A definitive diagnosis of oropharingeal
candidiasis is made by the presence of Candida species on examination of scraping from potassium
hydroxide (KOH) slide preparation. The most common drug prescribed to treat candidiasis is azole,
but many therapeutic failure because of HIV/AIDS patients has decreased immune system due to low
CD4+ cell count, long term use azoles and isolates caused of Candida albicans, hence the best
therapeutic is increase of imunity HIV/AIDS patients with antiretroviral treatment.

Key words: Candidiasis, oropharingeal, HIV/AIDS

863
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

PENDAHULUAN Kandidiasis orofaring telah dilaporkan


Penyakit infeksi Human terjadi 50–95% pada pasien HIV/AIDS.
Immunodeficiency Virus (HIV)/Acquired Menurut laporan Komisi Penanggulangan
Immune Deficiency Syndrome (AIDS) AIDS Nasional sampai dengan bulan Maret
merupakan tantangan paling besar dan 2008 dilaporkan berberapa infeksi oportunistik
masalah kesehatan di seluruh dunia.1 Sejak seperti tuberkulosis (41%), diare kronis
dilaporkan kasus pertama AIDS di Amerika (24,7%), kandidiasis orofaring (24,3%),
Serikat (AS) pada tahun 1981 hingga saat ini dermatitis generalisata, limfadenopati
penyakit ini selalu menarik perhatian dunia generalisata dan lainnya.7 Hasil penelitian lain
kedokteran maupun masyarakat luas karena menunjukkan bahwa infeksi oportunistik yang
menyebabkan angka kematian yang tinggi, tersering di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta
jumlah pasien yang meninggal dalam waktu adalah kandidiasis orofaring-esofagus
singkat, dan sampai sekarang belum dapat (80,8%), tuberkulosis (40,1%),
ditanggulangi dengan tuntas.2 sitomegalovirus (28,8%), lainnya antara lain
Masalah HIV/AIDS adalah masalah adalah ensefalitis toksoplasma, pneumonia P.
besar yang mengancam Indonesia dan banyak carinii, herpes simpleks, Mycobacterium
negara di seluruh dunia. Saat ini tidak ada Avium Complex (MAC).8
negara yang terbebas dari HIV/AIDS. Penelitian di India mengenai infeksi
HIV/AIDS menyebabkan berbagai krisis oportunistik pada pasien HIV-positif pengguna
secara bersamaan, menyebabkan krisis narkoba suntik memberikan hasil sebagai
kesehatan, krisis pembangunan negara, krisis berikut: hepatitis C 94,1%, kandidiasis oral
ekonomi, pendidikan dan juga krisis 43,2%, tuberkulosis paru 33,9%, infeksi
kemanusiaan. Dengan kata lain HIV/AIDS saluran nafas bawah 16,1% dan lainnya seperti
menyebabkan krisis multi dimensi meskipun hepatitis B, herpes zoster/simpleks.9
demikian banyak hal yang telah dipelajari, di Dari beberapa data di atas tampak
samping masih banyak yang belum jelas.2,3 bahwa infeksi kandidiasis merupakan kelainan
Infeksi HIV di Indonesia sudah infeksi oportunistik yang paling sering
merupakan masalah kesehatan yang menyerang sistem gastrointestinal.
memerlukan perhatian. Epidemi HIV/AIDS di
Indonesia dalam 4 tahun terakhir telah berubah TINJAUAN PUSTAKA
dari low level epidemic menjadi concentrated Kandidiasis Oral
level epidemic.4 Menurut Dirjen Kandidiasis oral (thrush) adalah infeksi
Pemberantasan Penyakit Menular dan pada mulut dan atau kerongkongan yang
Penyehatan Lingkungan Pemukiman umumnya disebabkan oleh jamur yaitu spesies
(P2MPLP) Departemen Kesehatan Republik Candida. Strain Candida yang menginfeksi
Indonesia jumlah pengidap infeksi HIV dan pasien HIV/AIDS tidak berbeda dengan pasien
kasus AIDS yang dilaporkan dari 1 Juli 1987 imunokompromais lainnya, yang tersering
sampai dengan Maret 2008 angka kumulatif adalah oleh Candida albicans, dan jarang
per 100000 penduduk nasional sebesar 5,23 karena spesies Candida lainnya. Strain lain
dengan jumlah keseluruhan 17998 orang, yang pernah dilaporkan adalah Candida
dimana 11868 pasien AIDS dan 6130 pasien kruseii, Candida tropicalis, Candida glabrata,
HIV.5 Candida parapsolisis, Candida dubliniesis.
Manifestasi klinis yang pertama kali Kandidiasis rekurens dapat disebabkan oleh
muncul pada pasien HIV/AIDS adalah strain yang sama atau strain yang berbeda.10,11
manisfestasi mukokutan seperti kandidiasis.
Kandidiasis mukokutan dapat muncul dalam Patogenesis
tiga bentuk, yaitu kandidiasis orofaring, Secara alamiah Candida ditemukan di
esofagus dan vulvovagina. Kandidiasis permukaan tubuh manusia (mukokutan), bila
mukokutan seringkali muncul berbulan-bulan terjadi suatu perubahan pada inang, jamur
sebelum munculnya infeksi oportunistik yang penyebab atau keduanya maka terjadi infeksi.
lebih berat dan merupakan salah satu indikator Pasien diabetes mellitus, keganasan
progresivitas penyakit. Infeksi ini belum hematologi, yang mendapat pengobatan
dikategorikan infeksi oportunistik kecuali jika kortikosteroid, mendapat pengobatan
sudah mengenai esofagus (kandidiasis antibiotika spektrum luas dan waktu lama
esofagus).6

864
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

sangat rentan terhadap kandidiasis. Demikian yaitu kandidiasis orofaring, esofagus dan
juga halnya pada penderita HIV.11,12 vulvovagina. Kandidiasis orofaring adalah
Untuk menginvasi lapisan mukosa hifa manifestasi yang pertama kali muncul dan
Candida albicans memiliki kemampuan untuk secara umum terdapat pada mayoritas pasien
menempel erat pada epitel manusia dengan HIV/AIDS yang tidak diobati.11,12
perantara protein dinding hifa (Hyphal wall Pada beberapa bulan sampai tahun
protein/Hwp1), hal ini dimungkinkan karena setelah terinfeksi virus HIV muncul infeksi
protein ini memiliki susunan asam amino oportunistik berupa kandidiasis orofaring yang
mirip dengan substrat transaminase keratinosit mungkin merupakan suatu tanda atau indikasi
mamalia sehingga diikat dan menempel pada dari kehadiran/munculnya virus HIV,
sel epithelial. Selain itu pada jamur ini walaupun pada umumnya tidak berhubungan
terdapat mannoprotein yang mirip integrin dengan keadaan umum pasien. Secara klinis
vertebrata sehingga jamur mampu menempel kandidiasis orofaring adalah penting untuk
ke matriks ekstraseluler seperti fibronektin, mencurigai adanya infeksi virus HIV.
kolagen, dan laminin. Hifa juga mengeluarkan Kandidiasis orofaring pada pasien AIDS tidak
proteinase dan fosfolipase yang mencerna sel berespons dengan pengobatan atau dengan
epitel inang sehingga invasi lebih mudah upaya peningkatan gizi (pemberian gizi yang
terjadi.11–13 adekuat) dan dapat menyebar ke
Beberapa faktor virulensi Candida esofagus.11,12,14
albicans antara lain kemampuan adhesi, Kandidiasis secara umum mudah dilihat
kemampuan mengubah diri secara cepat dari pada palatum mole. Pada awalnya dapat pula
ragi ke hifa, memproduksi enzim hidrolitik terlihat lesi pada sepanjang perbatasan
(proteinase asam dan fosfolipase), perubahan ginggival. Kandidiasis persisten berupa
fenotip dan ketidakstabilan kromosom, variasi eksudat berwarna putih yang sering disertai
antigenik, mimikri, dan produksi toksin.11 dengan eritematous pada mukosa.11,12
Terdapat hubungan yang jelas antara Gejala kandidiasis orofaring berupa rasa
kandidiasis oral dan pengaruh faktor sakit terbakar, sensasi rasa yang berubah atau
predisposisi lokal dan umum. Faktor gangguan mengecap, dan kesukaran untuk
predisposisi lokal yang mampu untuk menelan makanan cair atau padat. Pada
mempromosikan pertumbuhan kandida atau banyak pasien dapat asimptomatik.
mempengaruhi respons imun oral mukosa. Kebanyakan kandidiasis orofaring terdiri dari
Faktor predisposisi umum biasanya 3 bentuk, yaitu pseudomembran (berupa plak
berhubungan dengan status imun dan endokrin berwarna putih pada mukosa bukal, gusi atau
pasien.11,13 lidah), eritematosa dan cheilitis angularis atau
Faktor inang yang menyebabkan infeksi hiperplastik kronis kandidiasis (leukoplakia,
baik lokal maupun invasif oleh Candida cheilitis pada sudut mulut).11,14
albicans antara lain pemakaian antibiotika Kandidiasis pseudomembran (Gambar
karena menyebabkan proporsi jamur 1) merupakan infeksi kandida klasik yang
meningkat, kapasitas imun inang yang membentuk plak putih ukuran 1–2 cm atau
menurun akibat lekopenia dan pemberian lebih luas di mukosa mulut. Infeksi ini
kortikosteroid, atau pada AIDS karena fungsi biasanya menampilkan membran yang melekat
sel T yang terganggu. Faktor lain seperti longgar yang terdiri dari organisme jamur dan
pemakaian protesa gigi, gangguan fungsi debris sellular yang meninggalkan sebuah
kelenjar liur, steroid inhalasi, merokok, dan peradangan, terkadang area kemerahan atau
gangguan nutrisi juga dapat menjadi faktor perdarahan jika pseudomembran
risiko terjadinya kandidiasis.13,14 dihilangkan.11,14

Gejala Klinis
Kandidiasis oral kadang-kadang dapat
terjadi tanpa gejala, gejala yang paling umum
adalah rasa tidak enak dan terbakar pada mulut
serta perubahan rasa. Kandidiasis oral
tergolong dalam kandidiasis mukokutan.
Kandidiasis mukokutan pada pasien
HIV/AIDS terdiri atas tiga bentuk antara lain: Gambar 1. Kandidiasis pseudomembran11

865
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

Bentuk kandidiasis lain yang sering Diagnosis


ditemukan adalah kandidiasis eritematosa Diagnosis kandidiasis oral pada
(Gambar 2) berupa plak kemerahan halus yang umumnya dapat ditegakkan secara klinis,
biasanya ditemukan pada palatum, mukosa sedangkan diagnosis presumtif kandidiasis
bukal dan dorsum lidah. Permukaan eritema esofagus adalah didapatkannya keluhan nyeri
menunjukkan atrofi dan peningkatan retrosternum dan ditemukannya kandidiasis
vaskularisasi. Lesi ini memiliki tepi yang oral berdasarkan gambaran membran atau plak
difus, yang membantu membedakannya dari putih dengan dasar eritema pada mulut atau
erythroplakia, yang mempunyai demarkasi ditemukannya filamen jamur pada kerokan
yang lebih tajam. Kandidiasis ini dianggap jaringan.14,15
penerus kandidiasis pseudomembran namun Diagnosis definitif kandidiasis adalah
juga dapat muncul sendiri.11,14 ditemukannya spesies Candida pada
pemeriksaan dengan larutan kalium hidroksida
(KOH) 10% dengan mengambil kerokan di
atas lesi atau spesimen jaringan dan akan
ditemukan unsur-unsur pseudohifa atau ragi
yang berkembang, bukan dengan kultur.
Identifikasi spesies Candida dapat dilakukan
dengan uji morfologi dan kultur jamur. Kultur
merupakan alat bantu yang baik untuk
spesifikasi dan uji sensitivitas, namun tidak
Gambar 2. Kandidiasis eritematosa11 digunakan untuk diagnosis karena tingginya
kolonisasi di rongga mulut.14,15
Cheilitis angularis (Gambar 3)
merupakan fisura yang terinfeksi dari Tata Laksana
komisura mulut, sering dikelilingi oleh eritema Sekarang ini banyak tersedia obat
atau keretakan di sudut bibir. Lesi ini sering antifungal yang mampu mengatasi infeksi
terinfeksi oleh Candida dan Staphylococcus Candida, dan di antaranya, yang paling sering
aureus. Pada atopi juga sering dikaitkan dipakai adalah golongan azol. Obat antifungal
dengan cheilitis angularis. Kulit kering dapat azol tersedia untuk pemakaian topikal maupun
mempercepat perkembangan fisura di sistemik.6,12
komisura sehingga memungkinkan invasi Beberapa obat-obat antijamur yang
mikroorganisme.11,14 sering digunakan dalam terapi kandidiasis
mukokutan pada pasien HIV/AIDS antara lain
flukonazol, itrakonazol, klotrimazole, suspensi
nistatin, dan suspensi amphotericin B
(amphotericin B diberikan secara intravena
pada kasus yang berat).12,15
Efektivitas preparat topikal nistatin
untuk kandidiasis orofaring tergantung pada
lamanya kontak antara suspensi dan mukosa
yang terkena. Karena itu setelah pemberian
Gambar 3. Cheilitis angularis11 obat dianjurkan untuk tidak makan atau
minum selama 20 menit. Respons terapi
Kandidiasis esofagus biasanya muncul biasanya terlihat dalam 5 hari pertama. Jika
disertai dengan kandidiasis orofaring (80%), gagal dengan preparat topikal dapat digunakan
dengan gejala klinis berupa disfagia, flukonazol oral. Jika tetap tidak berespons
odinofagia atau nyeri retrosternum. Namun dengan flukonazol, gunakan flukonazol
pada 40% kasus tidak menunjukkan gejala. dengan dosis lebih tinggi yaitu 400–800
Untuk membedakannya dengan esofagitis, mg/hari atau terapi alternatif (Tabel 1), dan
pada kandidiasis esofagus biasanya lakukan tes sensitivitas terhadap antijamur.12,15
mengeluhkan nyeri seperti ada makanan Kebanyakan obat antijamur yang
terhambat di kerongkongan, sedangkan diberikan pada pasien kandidiasis orofaring
esofagitis lebih sering mengeluhkan nyeri dan esofagus dengan HIV/AIDS tidak
yang hebat ketika menelan.11,14 memberikan hasil yang memuaskan atau

866
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

Tabel 1. Terapi kandidiasis orofaring dan esofagus pada HIV/AIDS

Manifestasi
Terapi Pilihan Terapi Alternatif
Klinis
• Nistatin drop 4–5 x kumur 500.000 U • Itrakonazol suspensi 200 mg/hari saat
Kandidiasis sampai lesi hilang (10–14 hari) perut kosong
orofaring • Flukonazol oral 1x100 mg selama 10–14 • Amfoterisin B IV 0,3 mg/kgBB
hari
• Flukonazol oral 200 mg/hari sampai 800 • Amfoterisin B IV 0,3 mg/kgBB
Kandidiasis mg/hari selama 14–21 hari
esofagus • Itrakonazol suspensi 200 mg/hari selama
14–21 hari

mengalami kegagalan terapi dengan golongan • Sebaiknya gunakan sikat gigi yang lembut
azol, hal ini disebabkan karena pada pasien agar mencegah terjadinya trauma di mulut.
HIV/AIDS mengalami penurunan sistem • Menasehati pasien untuk berkumur-kumur
kekebalan tubuh akibat limfosit T CD4+ yang agar sisa makanan terangkat sebelum
rendah, penggunaan preparat azol jangka lama, menggunakan obat hisap atau cairan.
dan disebabkan isolat C. albicans. Kadar • Mengingatkan pasien agar menghindari
hambat minimal flukonazol terhadap C. makanan atau minuman yang sangat panas
glabrata 16–46 kali lebih tinggi dibandingkan atau sangat pedas.
terhadap C. albicans, sehingga dianjurkan • Pasien kandidiasis yang menggunakan
penggunaan flukonazol dengan dosis yang protesa sebaiknya melepaskan protesa
lebih tinggi. Sedangkan kadar hambat minimal sebelum menggunakan obat topikal seperti
flukonazol pada C. kruseii sangat tinggi klotrimazole atau nistatin. Apabila prostesis
sehingga flukonazol tidak dapat digunakan.12,15 dilepas gunakan cairan klorhexidin untuk
membersihkannya.
Profilaksis • Pada wanita hamil atau wanita yang akan
Tidak ada terapi profilaksis untuk hamil hindari penggunaan obat derivat azol
kandidiasis yang dianjurkan pada pasien (seperti flukonazol, itrakonazol,
HIV/AIDS, namun pada kasus yang berat atau vorikonazol) karena dapat menyebabkan
rekurens dapat dipertimbangkan pemberian gangguan skeletal dan abnormalitas
flukonazol oral 1x100–200 mg atau kraniofasial pada janin.
itrakonazol oral 1x200 mg. Terapi yang
• Setiap pasien sebaiknya menyimpan atau
terbaik adalah dengan meningkatkan
menyediakan cadangan obat solusion oral
kekebalan tubuh dengan terapi antiretroviral
(misalnya di lemari pendingin)
(ARV). Terapi rumatan diberikan pada pasien
dengan respon imun yang baik atau sudah
Prognosis
mendapatkan terapi ARV dan kadar CD4+ Prognosis dan beratnya kandidiasis
sudah mengalami peningkatan ≥200 sel/µL.
orofaring sangat bervariasi antara satu pasien
Pada pasien dengan kandidiasis orofaring
dengan pasien lainnya dan pada setiap pasien
refrakter yang tidak respons dengan terapi
juga bergantung pada kondisi klinis
ekinokandin intravena dapat
berikutnya. Prognosis penyakit ini juga
direkomendasikan posakonazol atau
bergantung pada beratnya penyakit infeksi
vorikonazol sampai imun membaik karena
yang menyertai. Umumnya prognosis baik
angka kekambuhan yang tinggi.15,16
pada pasien yang telah diberikan terapi baik
secara topikal atau sistemik, akan tetapi infeksi
Edukasi ini bisa mengalami kekambuhan. Ini
Selain terapi profilaksis, beberapa hal
bergantung pada kondisi dari pasien itu sendiri
yang perlu diedukasikan kepada pasien adalah
seperti berkurangnya produksi kelenjar ludah
sebagai berikut:15
atau pengaruh imunosupresi yang tidak
• Anjurkan pasien untuk menjaga kesehatan baik.12,14,15
mulut dengan menyikat gigi setiap hari
khususnya setelah makan.

867
Cakradonya Dent J 2015; 7(2):807-868

KESIMPULAN Dasar. Edisi 2. Jakarta: Fakultas


Kandidiasis merupakan salah satu Kedokteran Universitas Indonesia. 2003.
infeksi oportunistik yang banyak ditemukan 9. Solomon SS, Hawcroft CS, Narasimhan
pada pasien HIV/AIDS dengan penyebab P, Subbaraman R, Srikhrishnan AK,
kandidiasis tersering adalah Candida albicans. Cecelia AJ, et al. Comorbidities among
Kandidiasis orofaring adalah manifestasi yang HIV-infected injection drug users in
pertama kali muncul dan secara umum Chennai, India. Indian J Med Res 2008;
terdapat pada mayoritas pasien HIV/AIDS. 127:447–452.
Terapi kandidiasis pada pasien HIV/AIDS 10. Anil Ghom, Shubhangi Mhaske. Textbook
sering mengalami kegagalan oleh karena itu of Oral Pathology. New Delhi: Jaypee
terapi terbaik adalah meningkatkan kekebalan Brothers Medical Publishers. 2010: 508–
tubuh dengan terapi antiretroviral. 514.
11. Martin S. In: Burket’s Oral Medicine
DAFTAR PUSTAKA (Greenberg, Glick M, Ship JA, eds). 11th
1. Pohan HT. Opportunistic infection of ed. Ontario: BC Decker Inc. 2008: 79–82.
HIV infected/AIDS patients in Indonesia: 12. Williams D, Lewis M. Pathogenesis and
Problem and challenge. Indonesian J treatment of oral candidosis. J Oral
Intern Med 2006; 38:169–173. Microbiology 2011; 28:3.
2. Djoerban Z, Djauzi S. HIV/AIDS di 13. Ryan KJ. Candida, Aspergillus and Other
Indonesia. In: Buku Ajar Ilmu Penyakit Opportunistic Fungi. In: Sherris Medical
Dalam (Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi Microbiology (Ryan KJ, Ray CG, eds). 4th
I, Simadibrata M, Setiati S, eds). Jilid III. ed. New York: McGraw-Hill. 2004: 659–
4th ed. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 668.
2006: 1825–1829. 14. Li X, Lei L, Tan D, Jiang L, Zeng X, Dan
3. Fauci AS, Lane HC. Human H, et al. Oropharyngeal candida
Immunodeficiency Virus (HIV) Disease: colonization in human immunodeficiency
AIDS and Related Disorders. In: virus infected patients. APMIS: Acta
Harrison’s Principles of Internal pathologica, microbiologica, et
Medicine (Braunwald E, Fauci AS, eds). immunologica. Scandinavica 2013;
Vol II. 15th ed. New York: McGraw-Hill. 121(5): 375–402.
2001: 1852–1911. 15. Aberg JA, Gallant JE, Ghanem KG,
4. Depkes RI. Perencanaan dan Emmanuel P, Zingman BS, Horberg MA,
Penanggulangan HIV/AIDS Perlu et al. Primary care guidelines for the
Sinergisme 17 Maret 2008. Available at: management of persons infected with
http://www.depkes.go.id.index/php?optio HIV: 2013 Update by the HIV Medicine
n=news&task. Accessed October, 2015. Association of the Infectious Diseases
5. Ditjen PPM & PL Depkes RI. Statistik Society of America. Clin Infect Dis 2014;
Kasus HIV/AIDS di Indonesia dilapor s/d 58(1): 1–34.
Maret 2008. Available at: 16. Skiest DJ, Vazquez JA, Anstead GM,
http://www.aids-ina.org/files/datakasus/ Graybill JR, Reynes J, Ward D, et al.
jun2008.pdf. Accessed October, 2015. Posaconazole for the treatment of azole-
6. CDC. Guidelines for prevention and refractory oropharyngeal and esophageal
treatment of opportunistic infections in candidiasis in subjects with HIV
hiv-infected adults and adolescents. infection. Clin Infect Dis 2007;
Recommendations from CDC, the 44(4):607–614.
National Institutes of Health, and the HIV
Medicine Association of the Infectious
Diseases Society of America. MMWR
2009; 58(RR04):1–198.
7. Komisi Penanggulangan AIDS Nasional.
Statistik kasus s/d Maret 2008. Available
at: www.aidsindonesia.or.id/index.php.
Accessed November, 2015.
8. Djauzi S, Djoerban Z. Penatalaksanaan
Infeksi HIV di Pelayanan Kesehatan

868
ISSN: 2085-546X
Petunjuk Bagi Penulis

Cakradonya Dental Journal (CDJ) adalah jurnal ilmiah yang  Pendahuluan (tanpa subjudul)
terbit dua kali setahun, Juni dan Desember. Artikel yang  Subjudul-subjudul sesuai kebutuhan
diterima CDJ akan dibahas para pakar dalam bidang keilmuan  Penutup (kesimpulan dan saran)
yang sesuai (peer-review) bersama redaksi. Sekiranya peer-  Daftar pustaka
review menyarankan adanya perubahan, maka penulis diberi 3. Laporan Kasus. Berisi artikel tentang kasus di klinik yang
kesempatan untuk memperbaikinya. cukup menarik, dan baik untuk disebarluaskan dikalangan
sejawat lainnya. Format terdiri atas: Pendahuluan,
CDJ menerima artikel konseptual dari hasil penelitian original Laporan kasus, Pembahasan dan Daftar pustaka.
yang relevan dengan bidang kesehatan, kedokteran gigi dan 4. Gambar dan tabel. Kirimkan gambar yang dibutuhkan
kedokteran. CDJ juga menerima tinjauan pustaka, dan laporan bersama makalah. Tabel harus diketik 1 spasi.
kasus. 5. Metode statistik. Jelaskan tentang metode statistik secara
rinci pada bagian “metode”. Metode yang tidak lazim,
Artikel yang dikirim adalah artikel yang belum pernah ditulis secara rinci berikut rujukan metode tersebut.
dipublikasi, untuk menghindari duplikasi CDJ tidak menerima 6. Judul ditulis dengan huruf besar 11 point, baik judul
artikel yang juga dikirim pada jurnal lain pada waktu singkat dengan jumlah maksimal 40 karakter termasuk
bersamaan untuk publikasi. Penulis memastikan bahwa seluruh huruf dan spasi. Diletakkan di bagian tengah atas dari
penulis pembantu telah membaca dan menyetujui isi artikel. halaman pertama. Subjudul dengan huruf 11 point.
7. Nama dan alamat penulis. Nama penulis tanpa gelar dan
1. Artikel Penelitian alamat atau lembaga tempat bekerja ditulis lengkap dan
Tatacara penulisan: jelas. Alamat korespondensi, nomor telepon, nomor
 Judul dalam bahasa Indonesia facsimile, dan alamat e-mail.
 Abstrak dibuat dalam bahasa Indonesia & Inggris, 8. Ucapan terima kasih. Ucapan terima kasih hanya untuk
dalam bentuk tidak terstruktur dengan jumlah para profesional yang membantu penyusunan naskah,
maksimal 200 kata, harus mencerminkan isi artikel, termasuk pemberi dukungan teknis, dana dan dukungan
ringkas dan jelas, sehingga memungkinkan pembaca umum dari suatu institusi.
memahami tentang aspek baru atau penting tanpa 9. Daftar pustaka. Daftar pustaka ditulis sesuai dengan
harus membaca seluruh isi artikel. Diketik dengan aturan penulisan Vancouver, diberi nomor urut sesuai
spasi tunggal satu kolom. dengan pemunculan dalam keseluruhan teks ditulis secara
 Kata Kunci dicantumkan pada halaman yang sama super script. Jumlah daftar pustaka minimal 10 referensi.
dengan abstrak. Pilih 3-5 buah kata yang dapat Bila pengarang lebih dari 6 orang, maka disebutkan 6
membantu penyusunan indek. nama pengarang kemudian baru at al/dkk. Bila kurang
 Artikel utama ditulis dengan huruf jenis Times New dari 6 orang maka disebutkan semua nama pengarangnya.
Roman ukuran 11 point, spasi satu dan dibuat dalam - Jurnal: Hendarto H, Gray S. Surgical and non surgical
bentuk dua lajur (page layout) intervation for speech rehabilitation in Parkinson
 Artikel termasuk tabel, daftar pustaka dan gambar disease. Med J Indonesia 2000; 9 (3): 168-74.
harus diketik 1 spasi pada kertas dengan ukuran 21,5 - Buku: Lavelle CLB. Dental plaque. In: Applied Oral
x 28 cm (kertas A4) dengan jarak dari tepi 2,5 cm, Physiology, 2nd ed. London: Wright. 1988:93-5.
jumlah halaman maksimum 12. Laporan tentang - Book Section: Shklar G, Carranza FA. The Historical
penelitian pada manusia harus memperoleh Background of Periodontology. In: Carranza's Clinical
persetujuan tertulis (signed informed consent). Periodontology (Newman MG, Takei HH, Klokkevold
 Sistematika penulisan artikel hasil penelitian, adalah PR, Carranza FA, eds), 10th ed. St. Louis: Saunders
sebagai berikut: Elsevier, 2006: 1-32.
 Judul - Website : Almas K. The antimicrobial effects of seven
 Nama dan alamat penulis serta alamat email different types of Asian chewing sticks. Available in
 Abstrak dalam bahasa Indonesia dan Inggris http://www.santetropicale.com/resume/49604.pdf
 Kata kunci Accessed on April, 2004.
 Pendahuluan (tanpa subjudul, memuat latar 10. Artikel dikirim sebanyak 1 (satu) eksemplar, dalam
belakang masalah dan sedikit tinjauan pustaka, dan bentuk hard dan soft copy, tuliskan nama file dan program
masalah/tujuan penelitian). yang digunakan, kirimkan paling lambat 2 (dua) bulan
 Bahan dan Metode sebelum bulan penerbitan kepada:
 Hasil Ketua Dewan Penyunting
 Pembahasan Cakradonya Dental Journal (CDJ)
 Kesimpulan dan Saran Fakultas Kedokteran Gigi -Unsyiah
 Ucapan terima kasih Darussalam Banda Aceh 23211
 Daftar Pustaka. Telp/fax. 0651-7551843
2. Tinjauan pustaka/artikel konseptual (setara hasil 11. Kepastian pemuatan atau penolakan artikel akan
penelitian) merupakan artikel review dari jurnal dan atau diberitahukan melalui email. Penulis yang artikelnya
buku mengenai ilmu kedokteran gigi, kedokteran dan dimuat akan mendapat bukti pemuatan sebanyak 1 (satu)
kesehatan mutakhir memuat: eksemplar. Artikel yang tidak dimuat tidak akan
 Judul dikembalikan kecuali atas permintaan penulis.
 Nama penulis
 Abstrak dalam bahasa Indonesia dan Inggris