Anda di halaman 1dari 19

IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN SAINS DALAM MENINGKATKAN

KEMAMPUAN KOGNITIF ANAK USIA DINI


DI TK ABA KAMPUNG BARU NGANJUK
TAHUN PELAJARAN 2018/2019

A. Latar Belakang masalah


Pendidikan anak usia dini merupakan pendidikan yang paling fundamental
karena perkembangan anak dimasa selanjutnya sangat ditentukan oleh berbagai
stimulasi bermakna yang diberikan sejak usia dini. Pendidikan anak usia dini
harus dipersiapkan secara terencana dan bersifat holistik agar dimasa yang emas
ini. Perkembangan anak mendapatkan stimulasi yang utuh sehingga dapat
mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki anak. Perkembangan anak usia
dini mencakup beberapa aspek yaitu nilai agama dan moral, fisik motorik,
kognitif, bahasa, sosial dan emosional serta seni.
Pengembangan kemampuan dasar di TK salah satunya ialah kemampuan
kognitif. Kemampuan kognitif diperlukan oleh anak untuk mengembangkan
pengetahuannya tentang apa yang dilihat, didengar, dirasa, diraba ataupun dicium
melalui panca indera yang dimilikinya. Kognitif adalah suatu proses berpikir
yaitu kemampuan individu untuk menghubungkan, menilai dan
mempertimbangkan suatu kejadian atau peristiwa1.
Ada beberapa jenis keterampilan sains yang dapat dilatihkan kepada anak
usia dini. Pertama, mengamati yaitu anak diajak untuk mengamati suatu
fenomena atau peristiwa alam yang terjadi di lingkungan sekitar anak itu sendiri
dimulai dari hal-hal yang paling sederhana. Kedua, mengelompokkan yaitu anak
diminta untuk menggolongkan benda sesuai dengan kategorinya. Ketiga,
memperkirakan yaitu anak diminta untuk memperkirakan apa yang akan terjadi.
Keempat, menghitung yaitu anak didorong untuk menghitung benda-benda yang
ada di sekeliling kemudian mengenalkan bentuk-bentuk benda kepada anak2.

1
Yus, Anita. Model Pendidikan Anak Usia Dini. ( Jakarta : Kencana, 2011) 30
2
Ibid, 44
Berdasarkan hal tersebut, maka ada beberapa konsep sains yang dapat
dipelajari anak antara lain mengenali benda di sekitarnya menurut ukuran
(pengukuran), benda-benda dimasukkan ke dalam air (terapung atau tenggelam),
mencoba dan membedakan bermacam-macam rasa, bau dan suara, pencampuran
warna, proses pertumbuhan tanaman dan lain-lainnya.
Kemampuan mengenal warna merupakan salah satu aspek dari kemampuan
kognitif. Kemampuan mengenal warna pada anak usia dini merupakan hal yang
sangat penting bagi perkembangan otaknya, sebab pengenalan warna pada anak
usia dini dapat merangsang indera penglihatan otak. Warna juga dapat
memancing kepekaan terhadap penglihatan yang terjadi karena warna yang ada
pada benda terkena sinar matahari baik secara langsung atau tidak langsung yang
kemudian dapat dilihat oleh mata3
Berdasarkan observasi di TK ABA Kampung Baru Nganjuk kemampuan
anak mengenal warna khususnya warna primer seperti merah, kuning, biru sangat
bagus dengan menggunakan metode pembelajaran Sains4.
Sains merupakan bagian dari kehidupan kita dan kehidupan kita merupakan
bagian dari pembelajaran sains. Interaksi anta anak dengan lingkungan
merupakan ciri pokok dalam pembelajaran sains. Pendidikan sains sama seperti
pendidikan yang pada umumnya yaitu memiliki peranan penting di dalam
pembentukan kepribadian dan perkembangan intelektual anak
Melalui pembelajaran sains anak dapat melatih kemampuan berpikir. Jika
kemampuan berpikir anak berkembang, maka akan dapat mengolah perolehan
belajarnya, menemukan bermacam-macam alternatif pemecahan suatu masalah,
mengembangkan kemampuan logika matematikanya. Selain itu, anak juga akan
mempunyai kemampuan untuk memilahmilah, mengelompokkan serta
mempersiapkan pengembangan kemampuan berpikir5
Anak memiliki sifat ingin tahu yang tinggi. Salah satu cara untuk
memuaskan keingintahuannya ialah dengan melakukan suatu percobaan atau
3
Suyanto, Selamet. Pembelajaran Untuk Anak. ( Jakarta : Depdiknas, 2010), 44
4
Hasil wawancara dengan guru Kelas
5
Suwarno dkk. Pendidikan Sains yang Humanistis. (Yogyakarta : Kanisius. 2000), 88
eksperimen. eksperimen merupakan suatu percobaan atau mencobakan sesuatu
serta mengamati secara proses. Eksperimen yang dimaksud dalam hal ini
bukanlah suatu proses rumit yang harus dikuasai anak sebagai suatu cara untuk
memahami konsep tentang sesuatu hal ataupun penguasaan anak tentang konsep
dasar eksperimen, melainkan bagaimana mereka dapat mengetahui cara atau
proses terjadinya sesuatu dan mengapa sesuatu itu dapat terjadi. Melalui
eksperimen sederhana anak akan menemukan hal ajaib dan menakjubkan serta
dapat menemukan ide baru ataupun karya baru yang belum pernah mereka lihat
sebelumnya.
Berdasarkan uraian di atas maka peneliti mengambil judul penelitian
Implementasi pembelajaran Sains Dalam meningkatkan Kemampuan
Kemampuan kognitif anak Usia Dini di TK ABA Kampung Baru Nganjuk Tahun
Pelajaran 2018/2019.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pelaksanaan pembelajaran Sains di TK ABA Kampung Baru
Nganjuk Tahun Pelajaran 2018/2019 ?
2. Bagaimana Kemampuan kognitif anak Usia Dini di TK ABA Kampung Baru
Nganjuk Tahun Pelajaran 2018/2019 ?
3. Bagaimana dampak pelaksanaan pembelajaran sains dalam meningkatkan
kemampuan kemampuan kognitif anak Usia Dini di TK ABA Kampung Baru
Nganjuk Tahun Pelajaran 2018/2019 ?

C. Tujuan
1. Mengetahui pelaksanaan pembelajaran Sains di TK ABA Kampung Baru
Nganjuk Tahun Pelajaran 2018/2019.
2. Mengetahui Kemampuan kognitif anak Usia Dini di TK ABA Kampung Baru
Nganjuk Tahun Pelajaran 2018/2019.
3. Mengetahui dampak pelaksanaan pembelajaran sains dalam meningkatkan
kemampuan kemampuan kognitif anak Usia Dini di TK ABA Kampung Baru
Nganjuk Tahun Pelajaran 2018/2019.

D. Manfaat Penelitian
Manfaat Penelitian Adapun manfaat dari penelitian tindakan kelas ini
adalah sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
a) Mengembangkan konsep dan literatur dibidang pendidikan khususnya
upaya peningkatan kemampuan kognitif anak.
b) Sebagai sarana pengembangan ilmu pendidikan terutama dibidang
bermain sains
c) Memperdalam keterampilan yang aplikatif yang berguna dalam dunia
kerja
2. Manfaat Praktis
a) Bagi Guru
1) Mendapat pengalaman berupa praktek peningkatan kemampuan
kognitif anak melalui bermain sains yang berguna untuk dunia
kerja.
2) Dapat menambah pengetahuan kepada guru tentang penerapan
permainan sains dalam pembelajaran di PAUD
b) Bagi Sekolah
Kegiatan pembelajaran bermain sains dapat digunakan sebagai bahan
penambah referensi pembelajaran pada PAUD
E. Jadwal Penelitian

Bulan
No Kegiatan April Mei Juni
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Proposal X
BAB I X
BAB II X X
BAB III X X
BAB IV X X
BAB V X X
Ujian X

F. Kajian Teori
1. Pembelajaran Sains
a. Pengertian Pembelajaran Sains
Pembelajaran sains dalam pendidikan anak usia dini merupakan
serangkaian kegitan belajar yang menyenangkan untuk menstimulus
anak mengeksplorasi lingkungan mereka dan merefleksikan hasil
pengamatan dan penemuan mereka6. Cara ini juga merupakan
pendekatan terpadu di mana anak-anak pada saat itu sedang berpikir dan
membangun pemahaman dasar tentang dunia
Pembelajaran sains dalam pendidikan anak usia dini merupakan
serangkaian kegitan
b. Beberapa ketrampilan dalam pembelajaran sains
Beberapa keterampilan, yang berlaku untuk program ilmu anak
usia dini, yaitu7:

6
Suwarno dkk. Pendidikan Sains yang Humanistis. (Yogyakarta : Kanisius, 2008), 89
7
Ibid, 100
1. Mengamati
Melihat dan mengamati hal yang tidak sama. Guru perlu
memberikan bimbingan dalam teknik observasi. Anak-anak dapat
didorong untuk memperhatikan dalam tindakan spesifik atau
informasi. Misalnya, anak dapat memberanikan diri untuk
mengamati perilaku burung di tanah – apakah itu berjalan atau
naik? Pengamatan ini tentu tidak terbatas pada visual, melainkan
harus melibatkan semua indera – melihat, mendengar, mencium,
mencicipi, dan perasaan.
2. Ketrampilan Klasifikasi Anak
Klasifikasi adalah keterampilan proses dasar yang digunakan
dalam mengorganisir informasi. Dalam rangka untuk
mengklasifikasikan benda-benda atau informasi, anak-anak harus
dapat membandingkan dan seimbang dengan sifat benda atau
informasi.
Anak-anak mulai mengklasifikasikan berdasarkan fungsi,
warna, dan bentuk. Anak-anak dapat mengklasifikasikan
berdasarkan karakteristik atau sifat-sifat tertentu, tetapi klasifikasi
perkalian, di mana objek yang diterima ke dalam beberapa kategori,
sulit bagi anak-anak di usia dini.
Proses Pembelajaran Sains Bagi Anak Usia Dini (PAUD)
permainan sains anak usia dini artikel sains anak usia dini
pengembangan pembelajaran sains pada anak usia dini ali nugraha
sains air untuk anak usia dini artikel sains untuk anak usia dini
artikel pengertian sains untuk anak usia dini analisis pembelajaran
sains bagi anak usia dini ape sains anak usia dini belajar sains untuk
anak usia dini buku sains untuk anak usia dini konsep sains bagi
anak usia dini
Anak-anak harus mampu untuk berpikir dalam hal operasional
konkret sebelum mereka bisa memikirkan benda sebagai termasuk
untuk beberapa kategori sekaligus, dan sebagian besar anak-anak
tidak pemikir konkret di tahun-tahun anak usia dini.
Guru dapat mendorong anak untuk mengklasifikasikan benda-
benda dan untuk menjelaskan bagaimana benda telah
dikelompokkan. Anak-anak dapat mengklasifikasikan blok dengan
bentuk, kelompok bahan-bahan yang disimpan di area seni, atau
tombol semacam daun, kerang, atau koleksi lainnya.
3. Ketrampilan Membandingkan
Membandingkan adalah proses pemeriksaan objek dan
peristiwa dalam hal kesamaan dan perbedaan. Ini biasanya
melibatkan mengukur, menghitung, mengukur, dan mengamati
dengan seksama. Membandingkan penting karena anak-anak
mengamati, misalnya, perilaku tikus dan marmut dan kemudian
menentukan apa yang sama dan berbeda tentang mereka. Contoh
lain anak membandingkan kelopak pada mahkota dengan mawar.
4. Ketrampilan Mengukur Anak
Pengukuran adalah keterampilan proses dasar yang diperlukan
untuk mengumpulkan data. Pengukuran tidak hanya mengacu pada
menggunakan ukuran standar. Anak-anak dapat mengukur makanan
hamster oleh sendok, memotong seutas tali tinggi tanaman kacang
mereka, membandingkan ukuran benih atau batu, atau
menggunakan gelas atau mengumpulkan salju dan mengamati
jumlah air yang dihasilkan saat salju mencair.
5. Ketrampilan Komunikasi Anak
Berkomunikasi adalah keterampilan proses dasar yang lain.
Anak-anak dapat didorong untuk berbagi pengamatan dan koleksi
data mereka melalui berbagai cara. Mereka dapat berbicara tentang
temuan mereka, membuat catatan bergambar, menghasilkan
diagram dan grafik, atau narasi dalam rangka untuk berbagi
informasi, data, dan kesimpulan. Proses komunikasi adalah penting,
karena anak-anak mulai memahami bagaimana pengetahuan dibuat
dalam bidang ilmu pengetahuan.
6. Ketrampilan Eksperimen Anak
Bereksperimen bukanlah proses baru untuk anak-anak. Mereka
telah melakukan percobaan sejak mereka pertama kali mengambil
mainan atau melemparkan semangkuk sereal. Dalam proses ilmiah,
bereksperimen berarti mengendalikan satu atau lebih variabel dan
kondisi memanipulasi.
Guru dapat membantu anak-anak memikirkan kegiatan bermain
mereka sebagai percobaan dengan terampil mempertanyakan dan
mendorong anak-anak untuk merefleksikan tindakan mereka dan
hasil dari tindakan mereka. Ketika anak-anak mencoba untuk
menyeimbangkan satu balok pada sebuah menara balok, penurunan
pewarna makanan ke dalam gelas air, atau tumbuhan beberapa
benih di tanah yang berbeda, mereka dapat dibimbing untuk
berpikir kegiatan ini sebagai percobaan.
7. Ketrampilan Berkaitan, Menyimpulkan, Menerapkan
Anak-anak akan menggunakan keterampilan proses yang
berkaitan, menyimpulkan, dan menerapkan hanya dengan cara
sangat informal:
Terkait adalah proses menggambar abstrak dari bukti konkret.
Misalnya, anak yang mengamati beku air mungkin tidak mampu
berhubungan pengamatan bahwa dengan ide abstrak yang diberi
cairan menjadi padatan pada suhu tertentu.
Menyimpulkan adalah kemampuan untuk menentukan
hubungan sebab dan akibat atau penjelasan untuk fenomena ketika
proses tidak langsung diamati. Contoh fenomena teramati tersebut
termasuk listrik dan magnet.
2. Kemampuan Kognitif
Kemampuan kognitif adalah kemampuan yang mencakup kegiatan
mental (otak). itu artinya Kemampuan yang mengandung Segala upaya yang
menyangkut aktivitas otak untuk mengembangkan kemampuan rasional (akal)
Ranah ini memiliki enam aspek, yakni8:
a. Pengetahuan/hafalan/ingatan (knowledge)
b. Pemahaman (comprehension)
c. Penerapan (application)
d. Analisis (analysis)
e. Sintesis (syntesis)
f. Penilaian/penghargaan/evaluasi (evaluation)
Aspek ini berorientasi pada kemampuan berfikir yang mencakup
kemampuan intelektual dari mengingat, sampai pada kemampuan
memecahkan masalah. Untuk memecahkan masalah, tentu saja siswa dituntut
untuk bisa dan mahir menghubungkan dan menggabungkan beberapa metode,
gagasan, ide, atau prosedur yang telahdipelajari untuk memecahkan masalah
tersebut. Dengan demikian aspek kognitif ini adalah bisa disebut sebagai
subtaksonomi yang mengungkapkan tentang kegiatan mental yang sering
berawal dari tingkat pengetahuan sampai ke tingkat yang paling tinggi yaitu
evaluasi.
3. Kemampuan Mengenal Warna
a. Pengertian
Kemampuan Mengenal Warna merupakan kemampuan
mengenali warna dan bentuk tentu tidak didapat secara instan. Sebuah
proses yang tidak sebentar bagi anak untuk mengenali berbagai macam
warna dan bentuk yang ada9.
Mengenalkan anak pada bentuk dan warna bisa mengembangkan
kecerdasan, bukan hanya mengasah kemampuan mengingat, tapi juga
8
Ibid, 102
9
Trianto. Pengantar Penelitian Pendidikan Bagi Pengembangan dan Profesi Pendidikan Tenaga
Pendidikan. (Jakarta :Kencana.2010), 98
imajinatif dan artistik, pemahaman ruang, keterampilan kognitif, serta
pola berpikir kreatif. Di usia batita, anak memang harus dikenalkan
pada bentuk dan warna yang menekankan pada auditory, visual dan
memory, pengenalan ketiga hal tersebut sangat berpengaruh pada
perkembangan intelektual anak10.
Pengenalan warna erat kaitannya dengan pengasahan
kemampuan imajinatif dan artistik anak. Dalam bahasa lain, lebih
mengasah bakat dan kemampuan di bidang seni. Dan salah satu faktor
pembangun imajinasi dan kreativitas adalah aspek warna. Anak yang
memperoleh stimulasi mengenai tata 7 warna, tentu akan dengan cepat
memadukan warna yang serasi antara benda yang satu dengan benda
lainnya hingga betul-betul enak dilihat.
Selain mengasah bakat dan kemampuan di bidang seni,
pengenalan warna juga berkaitan erat dengan pola berpikir alternative.
Berdasarkan dari pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan
bahwa kemampuan mengenal warna pada anak merupakan lingkup
perkembangan kognitif yang harus dikuasai anak untuk mengenali
warna yang berkaitan dengan pengasahan kemampuan imajinatif yang
dapat mengembangkan kecerdasan pada anak
b. Strategi Mengenalkan Warna Pada Anak Usia Dini 11
Pengenalan warna bermanfaat untuk meningkatkan daya pikir
serta kreativitas anak. Untuk membentuk anak yang terampil dan
cerdas harus dimulai dari usia dini.
Meletakkan, menanamkan dasar-dasar pengetahuan yang lebih
mudah kepada anak, agar anak bisa lebih gampang menerimanya.
Salah satunya dengan mengenalkan warna. Aktvitas mengenalkan
warna juga mampu mendorong anak membuat suatu inovasi besar,

10
Ibid, 100
11
Sanjaya, Wina. Pembelajaran Dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. ( Jakarta :
Kencana, 2005), 88
kepekaan anak akan meningkat terhadap suatu objek yang dilihatnya,
sehingga anak juga akan mampu membedakan dan menganalisa.
Cara mengenalkan warna dengan strategi bermain adalah :
1) Alat dan bahan:
a) Gelas aqua (9 buah),
b) Air,
c) Pewarna makanan merah, kuning, biru
2) Cara kerja:
a) Isi 3 gelas aqua dengan air bening (tidak berwarna).
b) Teteskan pewarna merah ke dalam gelas pertama, kuning ke
dalam gelas kedua dan biru ke dalam gelas ke tiga. Apa yang
terjadi?.
c) Bagilah cairan berwarna merah, kuning dan biru tadi masing-
masing menjadi tiga.
d) Campurkan cairan merah dengan kuning, akan menjadi
orange.
e) Campurkan cairan merah dengan biru, akan menjadi ungu.
f) Campurkan cairan kuning dengan biru, akan menjadi hijau.

G. Penelitian Terdahulu
1. Penelitian yang dilakukan Haniatun Khosiah, yang berjudul Peningkatan
Kemampuan Kognitif Melalui Sains Dengan Media Air Di Tk Muslimat 3
Kemiri Blora, mahasiswa Universitas Muhammadyah Surakarta, hasil
penelitian menunjukkan pembelajaran Sains dengan media air dapat
meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok B TK Muslimat 3 Kemiri
Blora12.

12
Haniatun Khosiah, Peningkatan Kemampuan Kognitif Melalui Sains Dengan Media Air Di TK
Muslimat 3 Kemiri Blora, (Skripsi Universitas Muhammadyah Surakarta), 2016
2. Hasil Penelitian dari Desni Yuniarni, Peningkatan Kemampuan Kognitif Pada
Pembelajaran Sains Dengan Media Apotek Hidup Pada Anak Usia 5-6 Tahun,
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tanjungpura Pontianak13

Hasil penelitian yang telah dilakukan dan melalui hasil yang diperoleh setelah
diadakan analisis data secara umum dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa
pada siklus ke 1 kemampuan kognitif anak belum meningkat dengan
persentase 13 % sampai 19% baru pada siklus ke 2 kemampuan kognitif anak
sudah meningkat menjadi 87,5 % sampai 100 %

3. Penelitian dari Tri Widyakto, yang berjudul Pengaruh Permainan Sains


Terhadap Perkembangan Kognitif Anak Di Tk Aisyisah 20 Pajang Tahun
2013, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah
Surakarta 2014, hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh Permainan Sains
Ber Pengaruh Terhadap Perkembangan Kognitif Anak Di Tk Aisyisah 20
Pajang14

Perbedaan dengan penelitian kami adalah metode yang digunakan pada


penelitian terdahulu dengan jenis penelitian kuantitatif, pada penelitian kami
menggunakan jenis penelitian kualitatif

H. Metode Penelitian
1. Pendekatan Penelitian dan Jenis penelitian
Ditinjau dari jenis datanya pendekatan penelitian yang digunakan
dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif.
Adapun jenis pendekatan penelitian ini adalah deskriptif. Penelitian
deskriptif yaitu penelitian yang berusaha untuk menuturkan pemecahan

13
Desni Yuniarni, Peningkatan Kemampuan Kognitif Pada Pembelajaran Sains Dengan Media
Apotek Hidup Pada Anak Usia 5-6 Tahun, (Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Tanjungpura Pontianak, 2016)
14
Tri Widyakto, Pengaruh Permainan Sains Terhadap Perkembangan Kognitif Anak Di Tk Aisyisah
20 Pajang Tahun 2013, (Skripsi Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas
Muhammadiyah Surakarta, 2014)
masalah yang ada sekarang berdasarkan data-data. Jenis penelitian deskriptif
kualitatif yang digunakan pada penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh
informasi15
2. Kehadiran Peneliti
Kehadiran peneliti di lapangan dalam penelitian kualitatif adalah suatu
yang mutlak, karena peneliti bertindak sebagai instrumen penelitian sekaligus
pengumpul data. Keuntungan yang didapat dari kehadiran peneliti sebagai
instrumen adalah subjek lebih tanggap akan kehadiran peneliti, peneliti dapat
menyesuaikan diri dengan setting penelitian, keputusan yang berhubungan
dengan penelitian dapat diambil dengan cara cepat dan terarah, demikian juga
dengan informasi dapat diperoleh melalui sikap dan cara informan dalam
memberikan informasi16.
3. Lokasi Penelitian
Penelitian dilaksanakan di TK ABA Kampung Baru Nganjuk
4. Sumber Data
Yang dimaksud sumber data dalam penelitian adalah subyek dari
mana data dapat diperoleh17. Dalam penelitian ini data diperoleh dari hasil
wawancara yang dilakukan pada peserta didik, guru kelas dan kepala TK,
sedangka sumber data dokumentasi dilakukan dengan meminjam dokumen
pembelajaran, perangkat pembelajaran serta gambar / foto kegiatan siswa.
a. Orang tua siswa
b. Guru (wali kelas)
c. Kepala Sekolah
5. Prosedur pengumpulan data
Prosedur pengumpulan data kualitatif merupakan serangkaian langkah-
langkah yang dilalui peneliti dalam memperoleh data kualitatif yang
dibutuhkan. Langkah-langkah pengumpulan data meliputi usaha membatasi

15
Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. (Bandung: Afabeta, 2012), 88
16
Ibid, 89
17
Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta,2013) , 66
penelitian, menentukan jenis pengumpulan data kualitatif, srta merancang
usaha perekaman data
a. Observasi
Observasi yaitu cara pengambilan data dengan mengadakan pengamatan
secara langsung terhadap masalah yang sedang diteliti, dengan maksud
untuk membandingkan keterangan-keterangan yang diperoleh dengan
kenyataan
Observasi pada siswa untuk mengetahui kemampuan mengenal warna
anak dengan pembelajaran sains.
b. Wawancara
Wawancara, yaitu cara pengumpulan data yang dilakukan langsung
melalui tanya jawab antara penulis dengan petugas yang berwenang yang
ada hubungannya dengan masalah yang diteliti
Wawancara dilakukan pada peserta didik, guru, kepala TK
c. Dokumentasi,
Dokumentasi atau pengumpulan data dilakukan dengan menelaah
dokumendokumen yang terdapat pada perusahaan/instansi.
Dokumentasi dilakukan dengan melihat dokumen perangkat pembelajaran
guru, dan foto kegiatan pembelajaran.
6. Teknik analisis data
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif, dengan lebih banyak bersifat
uraian dari hasil wawancara dan studi dokumentasi. Data yang telah diperoleh
akan dianalisis secara kualitatif serta diuraikan dalam bentuk deskriptif.
Adapun langkah-langkah 18
a. Pengumpulan Data (Data Collection)
Pengumpulan data merupakan bagian integral dari kegiatan analisis
data. Kegiatan pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan
menggunakan wawancara dan studi dokumentasi.

18
Moleong, Lexy J.. Metodologi Penelitian Kualitatif.( Bandung : PT Remaja. Rosdakarya, 2012), 113
b. Reduksi Data (Data Reduction)
Reduksi data, diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan
perhatian pada penyederhanaan dan transformasi data kasar yang muncul
dari catatancatatan tertulis di lapangan. Reduksi dilakukan sejak
pengumpulan data dimulai dengan membuat ringkasan, mengkode,
menelusur tema, membuat gugus-gugus, menulis memo dan sebagainya
dengan maksud menyisihkan data/informasi yang tidak relevan.
c. Display Data
Display data adalah pendeskripsian sekumpulan informasi tersusun
yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan
pengambilan tindakan. Penyajian data kualitatif disajikan dalam bentuk
teks naratif. Penyajiannya juga dapat berbentuk matrik, diagram, tabel
dan bagan
4. Verifikasi dan Penegasan Kesimpulan (Conclution Drawing and
Verification)
Merupakan kegiatan akhir dari analisis data. Penarikan kesimpulan
berupa kegiatan interpretasi, yaitu menemukan makna data yang telah
disajikan
7. Pengecekan kebasahan data
Penelitian kualitatif harus mengungkap kebenaran yang objektif. Karena
itu keabsahan data dalam sebuah penelitian kualitatif sangat penting. Melalui
keabsahan data kredibilitas (kepercayaan) penelitian kualitatif dapat tercapai.
Dalam penelitian ini untuk mendapatkan keabsahan data dilakukan dengan
triangulasi.
Adapun triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang
memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan
atau sebagai pembanding terhadap data itu
Dalam memenuhi keabsahan data penelitian ini dilakukan triangulasi
dengan sumber. Triangulasi dengan sumber yang dilaksanakan pada penelitian
ini yaitu membandingkan hasil wawancara dengan isi dokumen yang
berkaitan dengan obyek penelitian.
8. Tahap-tahap penelitian
Prosedur dan tahap-tahap yang harus dilalui apabila melakkukan
penelitian kualitatif adalah sebagai :
a Menetapkan fokus
b Menentukkan setting dan subjek penelitian
c Pengumpulan Data
d Penyajian data.
I. Sistematika Pembahasa
BAB I Membahas tentang Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan
Penelitian, manfaat penelitian, penelitian terdahulu, sistematika
pembahasan
BAB II Membahas tentang kajian teori yang meliputi
1. Pembelajaran Sain
2. Kemampuan kognitif
3. Kemampuan mengenal warna
4. Kerangka Berfikir
BAB III Metode Penelitian yang membahas tentang pendekatan dan jenis
penelitian, kehadiran peneliti, sumber data, prosedur pengumpulan data,,
pengecekan keabsahan data, tahap-tahap penelitian
BAB IV Membahas Hasil Penelitian dan analisa Data
BAB V Membahas penutup yang berisi kesimpulan dan saran
DAFTAR PUSTAKA

Arikunto,S, 2013. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka


Cipta

Desni Yuniarni, 2016. Peningkatan Kemampuan Kognitif Pada Pembelajaran Sains


Dengan Media Apotek Hidup Pada Anak Usia 5-6 Tahun, Skripsi Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tanjungpura Pontianak

Haniatun Khosiah,2016. Peningkatan Kemampuan Kognitif Melalui Sains Dengan


Media Air Di TK Muslimat 3 Kemiri Blora, Skripsi Universitas Muhammadyah
Surakarta

Moleong, Lexy J.. 2013. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT Remaja.


Rosdakarya.

Sanjaya, Wina. 2005. Pembelajaran Dalam Implementasi Kurikulum Berbasis


Kompetensi. Jakarta : Kencana

Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung:


Afabeta

Suwarno dkk. 2000. Pendidikan Sains yang Humanistis. Yogyakarta : Kanisius

Suwarno dkk. 2000. Pendidikan Sains yang Humanistis. Yogyakarta : Kanisius

Suyanto, Selamet. 2010. Pembelajaran Untuk Anak. Jakarta : Depdiknas

Tri Widyakto, 2014. Pengaruh Permainan Sains Terhadap Perkembangan Kognitif


Anak Di Tk Aisyisah 20 Pajang Tahun 2013, Skripsi Fakultas Keguruan Dan
Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta

Trianto. 2010. Pengantar Penelitian Pendidikan Bagi Pengembangan dan Profesi


Pendidikan Tenaga Pendidikan. Jakarta :Kencana

Yus, Anita. 2007. Model Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta : Kencana
IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN SAINS DALAM MENINGKATKAN
KEMAMPUAN KOGNITIF ANAK USIA DINI
DI TK ABA KAMPUNG BARU NGANJUK
TAHUN PELAJARAN 2018/2019
PROPOSAL

Disusun Oleh :
Nita Novitasari
NIM : 20150880270045
NIMKO : 2015.4.088.0027.1.000045

Telah Disetujui Oleh

No Pembimbing Tandan Tangan


1 Roni Harsoyo, M.Pd

2 Siti Mahmudah, MA