Anda di halaman 1dari 45

 PENAWARAN TEKNIS

A. PENDAHULUAN
B. PENGALAMAN PERUSAHAAN
C. PEMAHAMAN K A K
D. TANGGAPAN TERHADAP K A K
E. APRESIASI INOVASI
F. PENDEKATAN DAN METODOLOGI
G. RENCANA KERJA
H. JADWAL PELAKSANAAN PEKERJAAN
I. TENAGA AHLI DAN TANGGUNGJAWABNYA
J. JADWAL PENUGASAN TENAGA AHLI
K. ORGANISASI PELAKSANAAN PEKERJAAN
L. LAPORAN
M. STAF PENDUKUNG
N. FASILITAS PENDUKUNG
O. PENUTUP

LAMPIRAN-LAMPIRAN
1. DOKUMEN PENDUKUNG
2. DAFTAR RIWAYAT HIDUP DAN KELENGKAPANNYA
3. LAIN-LAIN
A. PENDAHULUAN

A.1 LATAR BELAKANG


KLHS pada dasarnya disusun untuk memastikan bahwa pertimbangan lingkungan dan
prinsip berkelanjutan menjadi dasar dan terintegrasi dalam perencanaan tata ruang
wilayah, Hal ini dimaksudkan agar produk RTR yang dikeluarkan telah memadukan
aspek lingkungan hidup, sosial, dan ekonomi.
Kawasan Perkotaan Bojonegara dan Puloampel yang merupakan kawasan andalan
potensi industri di Kabupaten Serang menjadi salah satu prioritas utama dalam upaya
pengembangan kawasan di kabupaten Serang.
Mengacu pada perda RTRW Kabupaten Serang No. 10 tahun 2011 tentang RTRW
Kabupaten Serang 2011-2031, kawasan perkotaan Bojonegara dan Puloampel
direncanakan fungsinya sebagai pusat pelayanan pemerintahan, permukiman, industry,
pelabuhan serta perdagangan.
Pada tahun 2017 kegiatan Penyusunan RDTR kawasan perkotaan Bojonegara dan
Puloampel telah diselenggarakan, untuk itu pada tahun 2018 akan disusun dokumen
KLHS dan NA untuk RDTR Kawasan Perkotaan Bojonegara dan Puloampel untuk
memastikan produk revisi RDTR telah sesuai dengan aspek lingkungan, sosial dan
ekonomi.

A.2 MAKSUD & TUJUAN


a. Maksud
1) menyusunan dokumen Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) seperti yang
diamanatkan dalam Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan
dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, terhadap RDTR Kawasan Perkotaan
Bojonegara dan Puloampel.
2) Pemerintah Kabupaten Serang memiliki landasan ilmiah bagi penyusunan
rancangan peraturan perundang-undangan, yang memberikan arah, dan
menetapkan peraturan perundang-undangan.

b. Tujuan
Tujuan dari penyusunan KLHS adalah sebagai berikut :

Penyusunan Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR Bojonegara dan Puloampel 1
1) Memberikan rekomendasi pengarusutamaan prinsip pembangunan
berkelanjutan ke dalam penyusunan KRP;
2) Meningkatkan kapasitaspemerintah dan pemangku kepentingan lain dalam
penyelenggaraan KLHS dan membina penerapan KLHS di seluruh wilayah
Kabupaten.
Tujuan dari kegiatan ini adalah bertujuan memberikan landasan, argumen yang
kokoh untuk menjawab pertanyaan mengapa perlu diterbitkan suatu peraturan
perundang-undangan dalam hal ini tentang Peraturan Daerah tentang RDTR
Kawasan Perkotaan Bojonegara dan Puloampel.

A.3 RUANG LINGKUP

Lingkup kajian Pencapaian Ruang Terbuka Hijau meliputi :

a. Ruang Lingkup Wilayah


Lokasi pekerjaan yaitu Kecamatan Bojonegara dan Puloampel Kabupaten Serang
b. Ruang Lingkup Substansi
Penyusunan KLHS, berdasarkan Pasal 16 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009
tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, KLHS memuat kajian
antara lain :
1. Kapasitas daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup untuk
pembangunan.
2. Perkiraan mengenai dampak dan risiko lingkungan hidup.
3. Kinerja layanan/jasa ekosistem
4. Efisiensi pemanfaatan sumber daya alam
5. Tingkat kerentanan dan kapasitas adaptasi terhadap perubahan iklim.
6. Tingkat ketahanan dan potensi keanekaragaman hayati.

Tahapan Penyusunan KLHS :


Pelaksanaan KLHS dalam penyusunan RTR dibagi menjadi beberapa tahap yang
meliputi:
1. Tahap Persiapan
2. Tahap Pra-Pelingkupan
3. Tahap Pelingkupan

Penyusunan Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR Bojonegara dan Puloampel 2
4. Tahap Kajian Pengaruh
5. Tahap Perumusan Alternatif dan Rekomendasi

Penyusunan Naskah Akademik Rencana Detil Tata Ruang Kawasan Perkotaan


Bojonegara dan Puloampel ini mencakup beberapa hal di bawah ini :

1. Melakukan kajian tentang peraturan-peraturan terkait Rencana Detil Tata Ruang.


2. Melakukan Kajian terhadap RTRW Kabupaten Serang 2011-2031
3. Melakukan analisis-analis
4. Menyusun draft Raperda.

A.4 JANGKA WAKTU PELAKSANAAN


Jangka waktu pelaksanaan kegiatan ini diperkirakan 90 (sembilan puluh) hari kalender,
terhitung sejak tanggal diterbitkannya Surat Perintah Mulai Kerja.

A.5 FORMAT PENULISAN USULAN TEKNIS


Dokumen Usulan Teknis ini terdiri dari beberapa bagian diantaranya sebagai berikut :
A. Pendahuluan
Menguraikan tentang maksud dan tujuan dilaksanakannya kegiatan ini, sebagai
pengantar dari Konsultan.
B. Pengalaman Perusahaan
Menguraikan tentang latar belakang Perusahaan, Pengalaman Perusahaan, Ketersediaan
Tenaga Ahli untuk menangani pekerjaan ini, fasilitas yang ada untuk menunjang
kegiatan.
C. Pemahaman Kerangka Acuan Kerja
Menguraikan tentang latar belakang pekerjaan, deskripsi pekerjaan, lokasi, organisasi
dan manajemen proyek serta monitoring dan koordinasi proyek.
D. Tanggapan Terhadap Kerangka Acuan Kerja
Menguraikan tentang komentar Konsultan dalam memahami Kerangka Acuan Kerja dan
aplikasi yang akan dilakukan oleh Konsultan berkaitan dengan langkah-langkah yang
harus dilakukan terhadap isi KAK. Tanggapan ini juga menggambarkan kemampuan
team penyusun proposal dalam pemahaman pekerjaan yang sejenis.

Penyusunan Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR Bojonegara dan Puloampel 3
E. Apresiasi Inovasi
Menguraikan tentang konsep pendekatan yang akan dilakukan oleh konsultan dalam
pelaksanaan pekerjaan yang berkaitan dengan metodologi pelaksanaan, Pada Bab ini
menggambarkan kemampuan Konsultan untuk memahami dan menindak-lanjuti isi KAK
dengan penjabaran dalam metodologi dan pendekatan umum/teknis.
F. Pendekatan dan Metodologi
Menguraikan tentang konsep pendekatan yang akan dilakukan oleh konsultan dalam
pelaksanaan pekerjaan yang berkaitan dengan metodologi pelaksanaan, Pada Bab ini
menggambarkan kemampuan Konsultan untuk memahami dan menindak-lanjuti isi KAK
dengan penjabaran dalam metodologi dan pendekatan umum/teknis.
G. Rencana Kerja
Menguraikan tentang tahapan kegiatan teknis dan analisis man Month secara rinci yang
dilakukan oleh Konsultan pada kegiatan ini.
H. Jadual Pelaksanaan Pekerjaan
Menguraikan tentang Jadual Pelaksanaan Pekerjaan Konsultan, hubungan kerja dengan
Direksi Pekerjaan, Sistem pembagian kerja, Waktu Pelaksanaan, dengan dilengkapi
schedule pelaksanaan.
I. Tenaga Ahli dan Tanggung Jawabnya
Menguraikan tentang Tugas dan Tanggung Jawab Tenaga Ahli dan Tenaga Teknis serta
hubungan interaksi antar Tenaga Ahli.
J. Jadual Penugasan Tenaga Ahli
Menguraikan tentang pelaksanaan kegiatan lapangan dan kantor dengan didukung
jadual penugasan Tenaga Ahli yang akan melaksanakan pekerjaan yang efektif.
K. Organisasi Pelaksanaan Pekerjaan
Berisikan Struktur Organisasi Konsultan dengan Tenaga Ahli yang diusulkan untuk
pekerjaan ini, serta Struktur Organisasi Pelaksanaan Pekerjaan.
L. Laporan-Laporan
Menguraikan tentang produk hasil akhir laporan pelaksanaan pekerjaan, jumlah buku
baik asli maupun copy.
M. Staff Pendukung
Berisi tentang uraian tugas dan kualifikasi staf pendukung pekerjaan.

Penyusunan Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR Bojonegara dan Puloampel 4
N. Fasilitas Pendukung
Menguraikan tentang fasilitas yang ada dan kebutuhan pendukung yang dibutuhkan baik
personil pendukung maupun peralatan, transportasi, dan komunikasi yang diperlukan.
O. Penutup
Pengantar akhir dari Usulan Teknis.

Lampiran-lampiran
Merupakan data-data perusahaan yang berkaitan dengan pengalaman perusahaan dalam
melaksanakan pekerjaan sejenis selama tujuh tahun terakhir.
Menguraikan tentang daftar riwayat hidup dan kemampuan personil untuk menangani
pekerjaan, yang meliputi posisi, Jumlah MM, Jenis Pekerjaan, pengalaman Tenaga Ahli dan
lain-lain yang berkaitan dengan kebutuhan dokumen lelang.

Penyusunan Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR Bojonegara dan Puloampel 5
B. PENGALAMAN PERUSAHAAN

B.1 UMUM
Konsultan adalah sebagai pihak penyedia jasa bagi pengguna jasa ( owner). Sebagai
penyedia jasa sebuah konsultan harus dapat memenuhi syarat kelayakan agar bisa dipercaya
untuk melakukan proses pengawasan atau memanajemeni proyek. Pertimbangan kelayakan
suatu perusahaan untuk melakukan manajemen proyek dinilai dari pengalaman perusahaan
tersebut, tenaga ahli, dan kemampuan melakukan inovasi pada setiap pelaksanaan
pekerjaan. Dalam upaya ikut berperan serta membantu suksesnya kelancaran pelaksanaan
pembangunan Indonesia secara keseluruhan baik fisik, ekonomi dan sosial, maka kami
bermaksud menyumbangkan kemampuan kami dalam bidang jasa konsultansi.
PT. MULTI GUNA KARYA sebagai subyek pembangunan yang didukung oleh tenaga ahli dari
berbagai disiplin ilmu dan berpengalaman, bekerja secara professional, mencoba
mewujudkan cita dan tanggung jawab melalui partisipasi aktif dalam bentuk pemberian
pelayanan Konsultasi Teknik dan Manajemen Proyek. Sejak berdirinya, cita dan citra kerja
yang ditampilkan adalah mengutamakan keberhasilan pelayanan kerja profesi yang bersifat
tepat guna serta tanggung jawab.
Manajemen perusahaan terdiri dari tenaga-tenaga muda professional dalam penanganan
proyek-proyek konsultansi. Sesuai dengan sifat dan skala perusahaan, manajemen dapat
mengerahkan tenaga-tenaga ahli dalam bentuk tim kerja atau secara matriks.
Untuk tenaga ahli, perusahaan memiliki tenaga ahli terdiri dari berbagai disiplin ilmu teknik
dan tingkat keahlian. Dalam pengalaman proyek konsultansi yang telah dikerjakan,
kemampuan dan kontribusi tiap individu ini dalam gugus proyek sudah terbukti efektifitasnya
dalam mencapai target proyek.
Perusahaan memiliki beberapa keunggulan dalam pelayanan bantuan teknis dan konsultansi
engineering sebagai berikut ini:
Tenaga inti yang berpengalaman terdiri dari para ilmuwan, profesor, doktor, master,
insinyur, dan spesialis profesional lainnya yang qualified sehingga dapat menjamin
terlaksananya suatu pekerjaan dengan mutu terbaik.
Suatu database dan jaringan tenaga ahli berpengalaman, yang dapat menghasilkan
kualitas kerja yang baik pada berbagai macam proyek.
Perpustakaan yang lengkap untuk membantu pengembangan wawasan.

Penyusunan Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR Bojonegara dan Puloampel 6
Pengalaman yang cukup dalam manjemen bisnis untuk menjamin terlaksananya proyek
secara ekonomis dan efisien, serta ketepatan waktu dalam pelaporan kemajuan
pekerjaan.
Kemauan menggabungkan tenaga ahli Indonesia dan asing untuk menghasilkan tim
terbaik dalam melaksanakan penugasan proyek-proyek.
Kemauan menyiapkan laporan dan hasil studi berkualitas tinggi sesuai dengan tingkat
profesionalisme staf dan tenaga penunjang yang terlibat.
Tenaga profesional muda yang siap bekerja dalam segala medan.

B.2 DATA PERUSAHAAN


Peran Konsultan dalam menangani sebuah proyek dapat diibaratkan sebagai seorang dalang
dalam sebuah pertunjukan tradisional wayang kulit Jawa.
Dengan keterampilan kedua tangannya, Dalang memainkan wayang-wayangnya yang pada
suatu waktu mempertunjukkan beberapa karakter secara bersamaan disetiap tangannya. Dia
mengisahkan hal-hal dari setiap karakter, mengatur irama jalannya cerita, kadang-kadang
memberikan isyarat kepada penabuh gamelan, pesinden dan bagian rombongan lainnya
untuk memberikan dukungan yang dramatis serta tekanan-tekanan sebagai plot dari suatu
kisah. Dia tampak memiliki hasrat dan kekuatan yang begitu kuat untuk meyelesaikan
pekerjaannya dan secara cermat mengendalikan setiap detail pertunjukan yang biasanya
dimulai sejak awal malam hari dan berlangsung hingga menjelang matahari terbit. Menarik
untuk dicatat bahwa dia sebagai pemain utama dalam pertunjukan itu yang sepanjang waktu
dia bersikap rendah hati dibelakang layar. Hanya gerakan dramatis yang berbentuk
bayangan dari wayang kulitnya terlihat sebagai bukti yang selalu dapat diingat dari hasil
karyanya yang sungguh sangat menakjubkan.
Serupa dengan gambaran diatas, sekali memperoleh penugasan konsultan bertanggung
jawab untuk mengelola dan secara sukses menyelesaikan proyek-proyek yang diberikan oleh
para klien hingga dapat memenuhi anggaran biaya serta jangka waktu yang telah
ditetapkan. Menyusun daftar berbagai hal yang secara detail dan rinci serta menjadikan
seluruh komponen dalam suatu kegiatan yang harus terus menerus dimonitor dan diawasi.
PT. MULTI GUNA KARYA merupakan Konsultan yang turut berperan dalam pengembangan
Daerah dan Nasional melalui pelayanan konsultansi yang bergerak di berbagai aspek bidang,
baik Konstruksi maupun Non Konstruksi seperti Studi Kelayakan, Perencanaan, Detail
Desain, Pemetaan, Pengawasan teknik, serta manajemen dan Konsultansi Ekonomi.

Penyusunan Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR Bojonegara dan Puloampel 7
B.3 BIDANG LAYANAN
Bidang Layanan PT. MULTI GUNA KARYA secara garis besar dapat dilihat di bawah ini,
dengan rincian layanan konsultasi yang ditawarkan oleh PT. MULTI GUNA KARYA adalah
sebagai berikut :

BIDANG SUB-BIDANG KETERANGAN

Arsitek 11001 Perencanaan


Jasa Nasihat/Pra-Disain, Disain & Administrasi Kontrak
Arsitektural
11002
Jasa Arsitektural Lansekap
11003
Jasa Desain Interior
11004
Jasa Arsitektur Lainnya
Sipil 18001 Perencanaan
Jasa Nasihat/Pra-Disain dan Disain Enjiniring Bangunan
18002
Jasa Nasehat/Pra-Disain dan Disain Enjiniring Pekerjaan
Teknik Sipil Keairan

18003
Jasa Nasehat/Pra-Disain dan Disain Enjiniring Pekerjaan
Teknik Sipil Transportasi
18004
Jasa Nasehat/Pra-Disain dan Disain Enjiniring Pekerjaan
Teknik Sipil Lainnya
Tata 15001 Perencanaan
Lingkungan Jasa Konsultansi Lingkungan
15002
Jasa Perencanaan Urban
Jasa Survey 16001 Perencanaan
Jasa Survey Permukaan
16002
Jasa Pembuatan Peta
16003
Jasa Survey Bawah Tanah
16004
Jasa Geologi, Geofisik dan Prospek Lainnya
Jasa Analisis 17001 Perencanaan
& Enjiniring Jasa Komposisi, Kemurnian dan Analisis
Lainnya 17002
Jasa Enjiniring Lainnya
Jasa Inspeksi 31001 Pengawasan
Teknik Jasa Enjiniring Fase Konstruksi dan Instalasi Bangunan
31002
Jasa Enjiniring Fase Konstruksi dan Instalasi Pekerjaan Teknik
Sipil Transportasi
31003
Jasa Enjiniring Fase Konstruksi dan Instalasi Pekerjaan Teknik

Penyusunan Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR Bojonegara dan Puloampel 8
BIDANG SUB-BIDANG KETERANGAN

Sipil Keairan

31004
Jasa Enjiniring Fase Konstruksi dan Instalasi Pekerjaan Teknik
Sipil Lainnya
31006
Jasa Enjiniring Fase Konstruksi dan Instalasi Sistem Kontrol
Lalulintas

B.4 PENGALAMAN PERUSAHAAN


PT. MULTI GUNA KARYA telah memiliki pengalaman pekerjaan di berbagai jenis pekerjaan.
Seperti pekerjaan-pekerjaan dibidang Bina Marga, Kecipta-karyaan dan juga dalam bidang
pengairan.

Penyusunan Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR Bojonegara dan Puloampel 9
C. PEMAHAMAN K A K

C.1 Pengertian KLHS


Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) adalah rangkaian analisis yang sistematis,
menyeluruh dan partisipatif untuk memastikan bahwa prinsip pembangunan
berkelanjutan telah menjadi dasar dan terintegrasi dalam pembangunan suatu wilayah
dan/atau kebijakan, rencana dan/atau program (UU No.32 tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup).
Makna strategis mengandung arti perbuatan atau aktivitas sejak awal proses
pengambilan keputusan yang berakibat signifikan terhadap hasil akhir yang akan diraih.
Dalam konteks KLHS perbuatan dimaksud adalah suatu proses kajian yang dapat
menjamin dipertimbangkannya hal-hal yang prioritas dari aspek pembangunan
berkelanjutan dalam proses pengambilan keputusan pada kebijakan, rencana dan/atau
program sejak dini.
Pendekatan strategis dalam kebijakan, rencana dan/atau program bukanlah sekedar
untuk memperkirakan apa yang akan terjadi di masa depan, melainkan juga untuk
merencanakan dan mengendalikan langkah-langkah yang diperlukan sehingga menjamin
keutuhan lingkungan hidup serta keselamatan, kemampuan, kesejahteraan, dan mutu
hidup generasi masa kini dan masa depan.

C.2 Tujuan dan Manfaat KLHS


Tujuan utama KLHS adalah untuk memastikan prinsip pembangunan berkelanjutan telah
menjadi dasar dan terintegrasi dalam pembangunan. Selama ini, proses pembangunan
yang terformulasikan dalam kebijakan, rencana dan/atau program dipandang kurang
mempertimbangkan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan secara optimal. Upaya-
upaya pengelolaan lingkungan pada tataran kegiatan atau proyek melalui berbagai
instrumen seperti antara lain AMDAL, dipandang belum menyelesaikan berbagai
persoalan lingkungan hidup secara optimal, mengingat berbagai persoalan lingkungan
hidup berada pada tataran kebijakan, rencana dan/atau program.
KLHS merupakan upaya untuk mencari terobosan dan memastikan bahwa pada tahap
awal penyusunan kebijakan, rencana dan/atau program prinsip-prinsip pembangunan
berkelanjutan sudah dipertimbangkan. KLHS bermanfaat untuk menjamin bahwa setiap

Penyusunan Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR Bojonegara dan Puloampel 10
kebijakan, rencana dan/atau program “lebih hijau‟ dalam artian dapat menghindarkan
atau mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan hidup. Dalam hal ini, KLHS berarti
juga menerapkan prinsip precautionary principles, dimana kebijakan, rencana dan/atau
program menjadi garda depan dalam menyaring kegiatan pembangunan yang berpotensi
mengakibatkan dampak negatif terhadap lingkungan hidup.
KLHS bermanfaat untuk memfasilitasi dan menjadi media proses belajar bersama antar
pelaku pembangunan, dimana seluruh pihak yang terkait penyusunan dan evaluasi
kebijakan, rencana dan/atau program dapat secara aktif mendiskusikan seberapa jauh
substansi kebijakan, rencana dan/atau program yang dirumuskan telah
mempertimbangkan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan. Melalui proses KLHS,
diharapkan pihak-pihak yang terlibat dalam penyusunan dan evaluasi kebijakan, rencana
dan/atau program dapat mengetahui dan memahami pentingnya menerapkan prinsip-
prinsip pembangunan berkelanjutan dalam setiap penyusunan dan evaluasi kebijakan,
rencana dan/atau program Di Indonesia, sesuai dengan amanat Undang-undang Nomor
32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (selanjutnya
disingkat UUPPLH), KLHS digunakan untuk merencanakan dan mengevaluasi kebijakan,
rencana dan/atau program yang akan atau sudah ditetapkan. Dalam penyusunan
kebijakan, rencana dan/atau program, KLHS digunakan untuk menyiapkan alternatif
penyempurnaan kebijakan, rencana dan/atau program agar dampak dan/atau risiko
lingkungan yang tidak diharapkan dapat diminimalkan, sedangkan dalam evaluasi
kebijakan, rencana dan/atau program, KLHS digunakan untuk mengidentifikasi dan
memberikan alternatif penyempurnaan kebijakan, rencana dan/atau program yang
menimbulkan dampak dan/atau risiko negatif terhadap lingkungan.

Penyusunan Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR Bojonegara dan Puloampel 11
D. TANGGAPAN DAN SARAN TERHADAP K A K

D.1 Umum
Konsultan telah mempelajari dengan seksama kerangka acuan kerja (KAK) yang
tercantum dalam Dokumen Seleksi Umum Kegiatan Penyusunan Dokumen KLHS dan
Naskah Akademis RDTR Bojonegoro dan Puloampel yang dikeluarkan oleh Dinas
Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Serang. maka Kami sebagai penyedia
jasa telah memahami dan benarbenar mengerti.

D.2 Tanggapan Terhadap KAK


D.2.1 Tanggapan Umum
Secara garis besar Kerangka Acuan Kerja (KAK) untuk Kegiatan Kegiatan Penyusunan
Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR Bojonegoro dan Puloampel yang ada sudah
memenuhi alur kerja yang sistematis dan pada hakikatnya merupakan patokan dasar
dalam pelaksanaan pekerjaan yang di dalamnya telah dijelaskan secara rinci. Oleh
karena itu, pihak Konsultan akan mengikuti semua ketentuan yang tercantum dalam KAK
dan syarat – syarat tersebut mulai dari tahapan mengikuti seleksi umum ini sampai
dengan tahapan pelaksanaan pekerjaan apabila pihak kami mendapat kepercayaan untuk
memenangkan seleksi ini.
Untuk mendapatkan hasil yang optimal diperlukan kejelasan / kesepahaman dari setiap
aspek yang tertuang dalam KAK tersebut diantara kedua belah pihak dalam hal ini pihak
Dinas PUPR Kabupaten Serang dan Konsultan, sehingga diharapkan tidak ada lagi
pertanyaan – pertanyaan yang menyebabkan hambatan pada pelaksanaan pekerjaan.
Disamping itu dengan maksud untuk dapat memberikan masukan atau pertimbangan
bagi pihak panitia / direksi sehingga akan lebih menyempurnakan

Kerangka Acuan Kerja yang ada, diperlukan beberapa tanggapan terhadap


Kerangka Acuan Kerja.
D.2.2. TANGGAPAN KHUSUS
1. Tanggapan Terhadap Latar Belakang
Setelah konsultan mempelajari dengan seksama bagian pendahuluan dan latar
belakang yang terdapat pada Kerangka Acuan Kerja (KAK) untuk Kegiatan Kegiatan
Penyusunan Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR Bojonegoro dan Puloampel,

Penyusunan Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR Bojonegara dan Puloampel 12
pada prinsipnya kerangka acuan untuk pelaksanaan pekerjaan secara keseluruhan
sudah jelas dan dapat memberikan gambaran mengenai bentuk pelaksanaan
pekerjaan yang akan dilaksanakan.
2. Tanggapan Terhadap Kegiatan Yang Dilaksanakan dan Cara
Pelaksanaan Kegiatan Konsultan menyadari bahwa keberhasilan pelaksanaan
pekerjaan akan tercapai jika memahami dengan seksama terhadap apa yang
dimaksud di dalam Kerangka Acuan Kerja. Dengan demikian keseluruhan lingkup
pekerjaan yang masuk didalamnya bisa terlaksana sepenuhnya dengan baik, dan
sasaran dari pekerjaan yang diharapkan bisa tercapai dengan tepat waktu. Dan
konsultan cukup memahami apa yang disajikan dalam KAK, maupun penjelasan-
penjelasan yang disampaikan dalam rapat penjelasan yang telah dilakukan.
Lingkup kegiatan seperti yang termuat di dalam kerangka acuan kerja yang harus
dilaksanakan oleh konsultan mencakup beberapa bagian pekerjaan yang sudah dirinci
tahapan pelaksanaannya, dan setelah dipelajari dan diamati dengan sebaik - baiknya
maka konsultan berpendapat bahwa lingkup pekerjaan sudah sangat jelas dan
mudah dipahami oleh Konsultan. Hal yang perlu dipertanyakan hanya bersifat teknis
pelaksanaan pekerjaan di lapangan.
3. Tanggapan Terhadap Maksud dan Tujuan
Dengan memperhatikan penjelasan mengenai maksud, tujuan dan sasaran pekerjaan
di atas masih perlu diperjelas dengan kondisi saat ini terhadap kegiatan perencanaan
RIS yang sedang berlangsung maupun akan berlangsung. Hal ini untuk memperjelas
sasaran yang ingin dicapai untuk Kegiatan Kegiatan Penyusunan Dokumen KLHS dan
Naskah Akademis RDTR Bojonegoro dan Puloampel secara detail.
Terlepas dari hal ini konsultan berpendapat bahwa maksud, tujuan dan sasaran dari
pekerjaan sudah cukup jelas dan konsultan berkeyakinan dapat menyelesaikannya
dengan sebaik - baiknya.
4. Tanggapan Terhadap Keluaran
Secara jelas keluaran yang harus diperoleh adalah tersedianya dokumen Kegiatan
Kegiatan Penyusunan Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR Bojonegoro dan
Puloampel
5. Tanggapan Terhadap Tempat Pelaksanaan Kegiatan
Konsultan menyadari pelaksanaan Kegiatan Kegiatan Penyusunan Dokumen KLHS
dan Naskah Akademis RDTR Bojonegoro dan Puloampel ini akan dapat berjalan
dengan baik pada tempat atau Kabupaten / Kota yang memenuhi persyaratan kriteria

Penyusunan Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR Bojonegara dan Puloampel 13
yang bisa difasilitasi, sebab semua perencanaan dan kegiatan yang akan dilakukan
selalu berdasarkan atas ketersediaan sumber daya yang terdapat dilokasi pekerjaan.
Dengan adanya sumber daya yang memadai maka kegiatan akan dapat berjalan
dengan baik.
6. Tanggapan Terhadap Personil
Personil yang disyaratkan dalam Kerangka Acuan Kerja untuk Kegiatan
Kegiatan Penyusunan Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR Bojonegoro dan
Puloampel dirasa sudah mencukupi dari segi kuantitas maupun kualitas apabila
sesuai dengan kriteria yang sudah ditetapkan.
Jadi semua tenaga ahli yang disyaratkan dalam Kerangka Acuan Kerja ini telah sesuai
dengan lingkup pekerjaan yang harus dilaksanakan seperti yang tercantum dalam
Kerangka Acuan Kerja.
7. Tanggapan Terhadap Jadwal Tahapan Pelaksanaan Kegiatan Konsultan berpendapat
bahwa jangka waktu pelaksanaan pekerjaan yang disediakan selama 3 (tiga) bulan
kalender atau 90 (Sembilan puluh) hari kalender, mencukupi untuk menyelesaikan
Kegiatan Kegiatan Penyusunan Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR
Bojonegoro dan Puloampel dengan sebaik - baiknya. Konsultan sanggup
menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan jangka waktu yang telah ditentukan tersebut
dengan bantuan dari Direksi Pekerjaan dan Instansi terkait lainnya.
Untuk mengantisipasi padatnya kegiatan yang harus dilakukan oleh konsultan, maka
dalam penyusunan Bagan Alir dan Jadwal Pelaksanaan, Jadwal Personil dan Jadwal
Penggunaan Alat harus sangat hati-hati dan harus konsekuen dengan Jadwal masing-
masing, agar tidak terdapat kegiatan yang mundur. Apabila ada kegiatan yang
mundur maka semua kegiatan yang telah disusun tidak akan berjalan sesuai dengan
kehendak.

Penyusunan Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR Bojonegara dan Puloampel 14
E. APRESIASI INOVASI

E.2 Pendahuluan
E.2.1 Latar Belakang KLHS
Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, tujuan
dari penataan ruang adalah untuk mewujudkan ruang wilayah nasional yang aman,
nyaman, produktif, dan berkelanjutan berlandaskan wawasan nusantara dan ketahanan
nasional dengan:
a. terwujudnya keharmonisan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan;
b. terwujudnya keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya
buatan dengan memperhatikan sumber daya manusia; dan
c. terwujudnya pelindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif terhadap
lingkungan akibat pemanfaatan ruang.

Untuk memastikan bahwa pertimbangan lingkungan dan prinsip berkelanjutan menjadi


dasar dan terintegrasi dalam perencanaan tata ruang wilayah, maka Pemerintah dan
pemerintah daerah sebagai penanggungjawab penyusunan rencana tata ruang (RTR)
perlu melaksanakan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS). Hal ini dimaksudkan agar
produk RTR yang dikeluarkan telah memadukan aspek lingkungan hidup, sosial, dan
ekonomi.
Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut, perlu adanya pedoman pelaksanaan KLHS
dalam perencanaan tata ruang, baik rencana umum tata ruang maupun rencana rinci
tata ruang. Pedoman tersebut diharapkan dapat memberikan petunjuk bagi pihak-pihak
yang akan melaksanakan KLHS di dalam penyusunan RTR.

E.2.2 Kedudukan KLHS dalam Penyusunan RTR


Sesuai dengan tujuan pelaksanaan KLHS untuk mencapai kinerja pembangunan
berkelanjutan, maka kedudukan pelaksanaan KLHS adalah:
a. bagian dari tahapan pengolahan dan analisis dalam penyusunan RTR;
b. masukan untuk perumusan kebijakan dan strategi RTR; dan
c. pemberi rekomendasi alternatif rencana dan indikasi program, dan/atau upaya
pencegahan atau mitigasi dari rencana dan indikasi program setelah kebijakan dan
strategi penataan ruang, rencana jaringan infrastruktur dan arahan pola ruang
dirumuskan.

Penyusunan Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR Bojonegara dan Puloampel 15
Kedudukan KLHS dalam Penyusunan Rencana Tata Ruang

Tahapan Proses Penyususnan RTR

a. Persiapan penyusunan, meliputi:


1. Penyusunan KAK
2. Penetapan metodologi yang digunakan
3. Pengganggaran kegiatan penyusunan RTR

b. Pengumpulan data, meliputi:


1. Data wilayah adinistrasi
2. Data fisiografis
3. Data kependudukan
4. Data ekonomi dan keuangan
5. Data ketersediaan prasarana dan sarana dasar
6. Data penggunaan lahan
7. Data peruntukan ruang
8. Data daerah rawan bencana; dan
9. Peta dasar rupa bumi dan peta tematik yang
dibutuhkan termasuk peta penggunaan lahan,
peruntukan lahan dan daerah rawan bencana

c. Pengolahan data dan analisis, meliputi: KLHS


1. Teknik analisis permasalahan regional dan
global;
2. Teknik penentuan daya dukung dan daya 1. Sebagai bagian dari tahapan
tampung lingkungan melalui Kajian Lingkungan pengolahan dan analisis data
Hidup Strategis (KLHS) dan
3. Teknik analisis keterkaitan antarwilayah

d. Perumusan konsepsi rencana, dengan


memperhatikan:
1. Wawasan nusantara dan ketahanan nasional
2. Perkembangan permasalahan regional dan
global serta hasil pengkajian implikasi penataan 2. Sebagai masukan untuk perumusan
ruang; kebijakan dan strategi
3. Upaya pemerataan pembangunan dan
pertumbuhan serta statbilitas ekonomi;
4. Keselarasan aspirasi pembangunan
5. Daya dukung dan daya tampung lingkungan
hidup;
6. Rencana pembangunan jangka panjang;
7. Rencana pembangunan jangka menengah;
8. Rencana umum tata ruang dan rencana rinci
tata ruang baik di level naisonal, provinsi, 3. Sebagai pemberi rekomendasi
alternative rencana dan indikasi
kabupaten atau kota.
program dan/atau upaya pencegahan
atau mitigasi dari rencana dan
indikasi program setelah kebijakan
dan strategi penataan ruang, rencana
e. Penyusunan rancangan peraturan tentang RTR
jaringan prasarana, dan arahan pola
yang dilaksanakan sesuai dengan ketentuan
ruang dirumuskan
peraturan perudang-undangan

Penyusunan Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR Bojonegara dan Puloampel 16
E.2.3 Muatan KLHS dalam Penyusunan RTR
luas. Pelaksanaan KLHS pada penyusunan RTR harus dimulai dengan menetapkan
sasaran keberlanjutan lingkungan yang akan mengarahkan keseluruhan proses dan
muatannya. Untuk efektivitas dan efisiensi KLHS terhadap proses perencanaan tata
ruang, perlu memfokuskan pada isu-isu keberlanjutan aktual yang terkait langsung
terhadap RTR yang dikaji.
Berdasarkan Pasal 16 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup, KLHS memuat kajian antara lain:
a. Kapasitas daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup untuk pembangunan
Daya Dukung Lingkungan Hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk
mendukung perikehidupan manusia, makhluk hidup lain, dan keseimbangan
antarkeduanya. Daya dukung lingkungan hidup dikaji untuk mengetahui kapasitas
lingkungan alam dan sumber daya untuk mendukung kegiatan manusia sebagai
pengguna ruang. Daya tampung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan
hidup untuk menyerap zat, energi, dan/atau komponen lain yang masuk atau
dimasukkan ke dalamnya.
b. Perkiraan mengenai dampak dan risiko lingkungan hidup
Perkiraan dampak dan risiko lingkungan hidup yang perlu dikaji dapat berupa
dampak dan risiko lingkungan hidup yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif.
Dampak dan risiko lingkungan bersifat kuantitaif adalah dampak dan risiko terkait
dengan pengaruh fisik atau kimiawi seperti tingkat pencemaran udara, tingkat
pencemaran air, dan sebagainya. Sementara itu, dampak dan risiko lingkungan
bersifat kualitatif adalah dampak yang berkaitan dengan aspek sosial budaya, seperti
respon masyarakat, dampak pembangunan terhadap kondisi sosial ekonomi
masyarakat, dan sebagainya. Melalui perkiraan mengenai dampak dan risiko
lingkungan hidup ini dapat diketahui apakah implementasi rencana tata ruang
menimbulkan dampak positif atau negatif terhadap ekosistem pada suatu wilayah
atau kawasan. Sedangkan dalam skala yang lebih rinci, di dalam penyelenggaraan
suatu usaha maupun kegiatan harus selalu mempertimbangkan dampak dan resiko
yang ditimbulkan. Hal ini perlu dikaji lebih mendalam khususnya bagi RTR yang
berskala detail sehingga KLHS dapat menjadi pertimbangan dalam proses
pengambilan keputusan.
c. Kinerja layanan/jasa ekosistem
Ekosistem mampu menyediakan manfaat baik secara fisik yang dapat langsung

Penyusunan Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR Bojonegara dan Puloampel 17
dirasakan oleh manusia, seperti bahan pangan, air, dan sebagainya, maupun tidak
langsung misalnya untuk mengatur iklim global. Penyusunan kebijakan dan program
pembangunan seharusnya tidak mengganggu lingkungan yang mengakibatkan jasa
ekosistem berkurang. Tingginya permintaan terhadap layanan/jasa ekosistem akan
berlangsung sejalan dengan peningkatan degradasi lingkungan dan munculnya
pertukaran antarjasa lingkungan. Untuk itu, dalam menelaah kinerja layanan/jasa
ekosistem perlu memperhatikan perkiraan permintaan dan konsumsi sumber daya
alam, jumlah populasi manusia yang menggunakan ekosistem, dan dampak
pemanfaatan suatu ekosistem terhadap ekosistem lainnya.
d. Efisiensi pemanfaatan sumber daya alam
Sumber daya alam sebagai salah satu modal dasar pembangunan harus
dimanfaatkan sepenuhnya dengan cara yang tidak merusak. Oleh karena itu,
pemanfaatan sumber daya alam harus dilakukan secara efisien. Apalagi di negara
berkembang, terdapat cukup banyak hambatan dalam proses pengelolaan dan
pemanfaatan sumber daya alam tersebut.
Dengan demikian, diperlukan suatu kajian untuk merencanakan bagaimana
pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam tersebut agar berkelanjutan.
Melalui perhitungan efisiensi pemanfaatan sumber daya alam, dapat diperkirakan
pula apakah implementasi suatu rencana tata ruang dapat memanfaatkan sumber
daya alam secara efisien atau tidak.
e. Tingkat kerentanan dan kapasitas adaptasi terhadap perubahan iklim
Kerentanan dampak perubahan iklim dapat dilihat melalui pemetaan kerentanan yang
dilihat dari kondisi geografis wilayah atau kawasan, kondisi topografi, interaksi lautan
atmosfer-daratan, analisis iklim historis, dan analisis pola atau tren curah hujan.
Kapasitas adaptasi terhadap perubahan iklim ini dapat dilihat dari daya dukung
lingkungan, ketersediaan relugasi, adanya kelembagaan yang kuat, dan ketersediaan
sumber daya manusia. Dalam perencanaan tata ruang, kajian resiko sebagai salah
satu masukan dalam proses perencanaan adaptasi perubahan iklim seharusnya sudah
dilaksanakan. KLHS dapat menjadi pelengkap kajian tersebut dengan melaksanakan
kajian mendalam yang mengarusutamakan perubahan iklim untuk diintegrasikan
dalam proses perumusan kebijakan, rencana, maupun program-program dalam RTR.
f. Tingkat ketahanan dan potensi keanekaragaman hayati
Pembangunan ekonomi daerah dan infrastruktur memerlukan perencanaan yang
matang sebab bukan tidak mungkin akan mengakibatkan dampak buruk bagi

Penyusunan Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR Bojonegara dan Puloampel 18
kelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati pada jangka panjang. Terlebih
untuk kawasan yang dilindungi, sejumlah ketentuan khusus harus ditetapkan dan
ketentuan tersebut muncul dari hasil kajian terhadap perkiraan dampak dari
pembangunan di sekitar kawasan tersebut.

Muatan KLHS ini berbeda dengan muatan analisis aspek fisik dan lingkungan dalam
penyusunan RTR. Berdasarkan Permen PU No. 20/PRT/M/2007 tentang Pedoman
Teknik Analisis Fisik dan Lingkungan, Ekonomi, serta Sosial Budaya dalam
Penyusunan Rencana Tata Ruang, menyebutkan bahwa analisis aspek fisik dan
lingkungan adalah analisis untuk mengenali karakteristik sumber daya alam dengan
menelaah kemampuan dan kesesuaian lahan agar pemanfaatan lahan dapat
dilakukan secara optimal dengan tetap memperhatikan keseimbangan ekosistem.
Sementara KLHS dalam penyusunan RTR lebih memfokuskan pada kajian pengaruh
kebijakan, rencana, dan/atau program terhadap keberlangsungan lingkungan hidup
yang tidak hanya menyangkut ketersediaan sumber daya lahan. KLHS juga meliputi
kajian pengaruh terhadap kinerja ekosistem dan keanekaragaman hayati.

E.2.4 Mekanisme Pelaksanaan KLHS


Pelaksanaan KLHS dalam penyusunan RTR dibagi menjadi beberapa tahap yang
meliputi:
a. Tahap Persiapan;
b. Tahap Pra-Pelingkupan;
c. Tahap Pelingkupan;
d. Tahap Kajian Pengaruh; dan
e. Tahap Perumusan Alternatif dan Rekomendasi.

A. Tahap Persiapan
Kegiatan yang dilakukan pada tahap persiapan meliputi:
a. pengumpulan dokumen RTR yang sedang dalam proses penyusunan dan telah
memiliki deliniasi wilayah yang tetap atau dokumen RTR yang akan direvisi;
b. penyusunan format data dan informasi yang akan dikumpulkan, berupa daftar
informasi dasar;
c. penyiapan peta dasar guna lahan dengan skala sesuai dengan RTR; dan

Penyusunan Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR Bojonegara dan Puloampel 19
d. penyusunan jadwal pelaksanaan KLHS.
Contoh daftar informasi dasar KLHS termuat pada Tabel III.1. sebagai berikut:

Tabel
Informasi Dasar KLHS

Aspek Jenis Data Bentuk Data Keterangan

Fisika- Geologi Peta


Kimia
Iklim Deskripsi
Topografi Peta
Hidrologi Peta
Kualias Air Tabel/grafik Parameter
Kualitas Udara Tabel/grafik Parameter
Daerah rawan bencana peta
Dst….
Ekologi Fitur ekologi kritis/penting Deskripsi
Habitat penting Deskripsi
Spesies penting Deskripsi IUCN
Kawasan/konservasi Peta, deskripsi
Dst….
Sosial - Penggunaan lahan Peta, deskripsi Eksisting
ekonomi
Demografi Tabel, deskripsi
Budaya dan tradisi Deskripsi
Ekonomi Deskripsi Time series
Kegiatan ekonomi utama/khusus Peta, deskripsi Time series
(pertambangan/perkebunan/pariwisata)
Sarana dan prasarana Peta deskripsi Eksisting
Dst…

Penyusunan Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR Bojonegara dan Puloampel 20
B. Tahap Pra-Pelingkupan
Pra pelingkupan adalah rangkaian persiapan sebelum dilakukan proses pelingkupan,
antara lain dilakukan dengan mempersiapkan daftar isu strategis lingkungan, isu sosial
budaya, dan isu ekonomi.
Tahap pra-pelingkupan (pre-scoping) bertujuan untuk menyusun informasi dasar
(baseline), melakukan kajian terhadap RTR, dan perumusan isu strategis lingkungan
hidup awal.
Persyaratan untuk melakukan tahap ini adalah:
a. deliniasi wilayah kajian sudah ditentukan;
b. konsep pengembangan sudah ditentukan; dan
c. informasi dasar lingkungan yang meliputi aspek fisik lingkungan, keanekaragaman
hayati, sosial, dan ekonomi sudah tersusun.

Kegiatan yang dilakukan pada tahap pra-pelingkupan adalah:


a. Kegiatan Penyusunan dan Penyajian Informasi Dasar
Pemahaman kondisi lingkungan serta kecenderungannya dibutuhkan baik bagi
perencanaan tata ruang dan pelaksanaan KLHS. Pada umumnya KLHS bergantung
pada ketersediaan data sekunder, namun dapat dilakukan pengumpulan data primer
untuk isu yang sensitif dan/atau informasi yang jumlahnya sedikit.
Kegiatan yang dilakukan pada tahap penyusunan informasi dasar meliputi:
1) menguraikan tentang informasi dasar meliputi aspek fisik lingkungan (eksisting)
dan lingkungan hidup, ekologis dan sosial ekonomi, yang disesuaikan dengan
kondisi dan karakteristik masing-masing wilayah.
a) informasi fisik lingkungan pada wilayah yang terpengaruh perencanaan tata
ruang, antara lain:
 iklim;
 topografi;
 geologi;
 kualitas udara; dan
 kualitas air.
b) informasi ekologis, antara lain:
 permasalahan kualitas lingkungan;

Penyusunan Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR Bojonegara dan Puloampel 21
 kawasan alami ataupun buatan yang berisiko dari pencemaran kegiatan
industri eksisting, bencana alam antara lain tsunami, gempa bumi, letusan
gunung berapi, banjir, tanah longsor, dan/atau angin topan;
 habitat darat atau laut sensitif seperti mangrove, koral, rawa, sungai,
danau, hutan lindung; dan
 kawasan konservasi atau perlindungan.
c) informasi sosial ekonomi, antara lain:
 kegiatan ekonomi utama (industri/pertanian/pariwisata/dll);
 budaya;
 permasalahan sosial-ekonomi eksisting; dan
 infrastruktur dan guna lahan eksisting.
2) memetakan kelompok informasi tersebut menggunakan pemetaan sistem
informasi geografis (peta SIG). Data yang dibutuhkan antara lain:
a) informasi spasial dari lembaga pemerintah terkait (misal: pemerintah
provinsi/kabupaten/kota, kementerian/lembaga, dan lainnya);
b) database spasial dari LSM, perguruan tinggi, atau asosiasi lokal;
c) informasi sekunder yang diterjemahkan kepada peta; dan
d) peta hasil survey lokasi.

Peta SIG harus cukup jelas, sederhana, dan fokus untuk memastikan bahwa data yang
relevan tersajikan dengan baik. Sebagai contoh, simbol yang menunjukkan lokasi dari
spesies atau habitat sensitif, kawasan konflik guna lahan, atau melingkari kawasan
terjadinya penurunan kualitas udara.

b. Kajian konsep pengembangan


Kegiatan yang dilakukan pada tahap kajian konsep pengembangan
meliputi:
1) mengidentifikasi tujuan dan sasaran dari RTR yang disusun; dan
2) mengidentifikasi arahan rencana struktur ruang dan rencana pola ruang.

c. Perumusan Isu Lingkungan Hidup Awal


Keluaran dari kegiatan ini adalah data dan informasi dasar pada wilayah yang
direncanakan serta daftar panjang potensi konflik dan masalah yang akan menjadi
kendala terkait dengan RTR kawasan tersebut.

Penyusunan Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR Bojonegara dan Puloampel 22
Tabel
Contoh Isu-isu Lingkungan Hidup Awal
Isu Deskripsi
Contoh KSN berbasis Pendayagunaan Sumber Daya Alam
Kualitas dn Sumber Air Disepanjang jalan lembah Danau Towuti, yang meliputi
Danau Motano, populasi penduduk berkembangn dengan
cepat. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Jenkis
dkk, 2009, dibuktikan bahwa klasifikasi terancam punah dari
ikan moncong hitam, danau ini tercemar oleh tambah nikel
di dekatnya dan stasiun pembangkit listrik tenaga ahir.
Penggunaan Lahan  Konflik penggunaan lahan, misalnya untuk kehutanan
dengan pertambangan, dan perkebunan dengan
pertambangan serta kehutanan dan perkebunan
 Masih banyak sengketa kepemilikan lahan dan izin
penggunaan lahan. Di Kabupaten morowali dan konawe,
terdapat perselisihan kepemilikan hak pertambangan
antara beberapa KK dari perusahaan pertambangan dari
pemerintah pusat, dan otoritas pertambangan dari
pemerintah daerah, baik untuk eksplorasi maupun
eksploitasi.
 Di daerah pengunungan, hutan mulai diekspos dan
memburuk.
 Pergeresaran fungsi lahan dari hutan menjadi
perkebunan/ladang akan berpotensi menciptakan
perubahan fungsi dalam cagar alam.
 Potensi lahan untuk perkebunan tidak digunakan secara
optimal
 Pola permukiman masih terkonsentrasi di kompleks
perkebunan kota, pertambangan, dan area transmigrasi.
 Banyak konsesi pertambangan yang terletak di kawasan
hutan produksi, beberapa bahkan berada dalam hutan
lindung

Penyusunan Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR Bojonegara dan Puloampel 23
C. Tahap Pelingkupan
Pelingkupan adalah rangkaian langkah untuk menetapkan nilai penting KLHS, tujuan
KLHS, isu pokok, ruang lingkup KLHS, kedalaman kajian dan kerincian penulisan
dokumen, pengenalan kondisi awal, dan telaah awal kapasitas kelembagaan. Kegiatan ini
dilakukan melalui pendekatan sistematis dan metodologis yang memenuhi kaidah ilmiah
dan disertai konsultasi publik.
Tahap pelingkupan (scoping) bertujuan untuk memantapkan isu-isu strategis lingkungan
hidup dengan melakukan penilaian terhadap isu-isu lingkungan hidup awal dan
menetapkan isu strategis yang disepakati oleh semua pemangku kepentingan
(stakeholders).
Persyaratan untuk melakukan tahap ini adalah:
a. tahap pra-pelingkupan telah selesai dilakukan;
b. isu lingkungan hidup awal telah dirumuskan; dan
c. melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders).

Persiapan untuk melakukan pelingkupan meliputi:


a. persiapan peta-peta overlay antara peta rencana dengan kondisi eksisting;
b. pengkajian hasil pra-pelingkupan dan peta-peta overlay oleh tim KLHS; dan
c. persiapan material untuk sesi pelingkupan oleh kelompok keahlian (misal: matriks
pelingkupan).

Pada tahap perumusan isu strategis ini kegiatan yang dilakukan adalah menetapkan isu-
isu strategis yang potensial sebagai akibat dari dampak perencanaan tata ruang yang
disusun serta konflik lingkungan yang diperkirakan muncul.
Kegiatan yang dilakukan pada tahap pelingkupan adalah:
a. Penilaian dan Penetapan Isu Strategis
1) Penilaian isu strategis dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:
a) penilaian dengan merujuk pada pandangan para pakar sesuai dengan bidang
keahlian yang difokuskan pada kajian isu strategisvlingkungan pada kawasan
yang direncanakan; dan
b) konsultasi publik yang dilakukan dengan melibatkan para pemangku
kepentingan dalam menetapkan isu-isu strategis.
2) Penetapan isu strategis didasarkan pada kriteria:

Penyusunan Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR Bojonegara dan Puloampel 24
a) menjadi fokus perhatian utama di wilayah perencanaan dan memiliki relevansi
tinggi terhadap kepentingan wilayah perencanaan.
b) skala dampak dari rencana tata ruang, yaitu dampak yang berpotensi berskala
regional, nasional, atau bahkan internasional;
c) interaksi antar dampak, yaitu ketika terjadi konflik antar unsur-unsur RTR;
d) dampak yang dapat ditimbulkan akibat gabungan beberapa aspek dari RTR jika
tidak ditangani; dan
e) berpotensi mengganggu pelaksanaan pembangunan berkelanjutan.

Penyusunan Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR Bojonegara dan Puloampel 25
F. PENDEKATAN DAN METODOLOGI

F.1 Pendekatan Studi


Defenisi
Ada dua definisi KLHS yang lazim diterapkan, yaitu definisi yang menekankan pada
pendekatan telaah dampak lingkungan (EIA-driven) dan pendekatan keberlanjutan
(sustainability-driven). Pada definisi pertama, KLHS berfungsi untuk menelaah efek dan/atau
dampak lingkungan dari suatu kebijakan, rencana atau program pembangunan. Sedangkan
definisi kedua, menekankan pada keberlanjutan pembangunan dan pengelolaan
sumberdaya.
Definisi KLHS untuk Indonesia kemudian dirumuskan sebagai proses sistematis untuk
mengevaluasi pengaruh lingkungan hidup dari, dan menjamin diintegrasikannya prinsip-
prinsip keberlanjutan dalam, pengambilan keputusan yang bersifat strategis [SEA is a
systematic process for evaluating the environmental effect of, and for ensuring the
integration of sustainability principles into, strategic decision-making].

Peran KLHS dalam Perencanaan Tata Ruang


KLHS adalah sebuah bentuk tindakan stratejik dalam menuntun, mengarahkan, dan
menjamin tidak terjadinya efek negatif terhadap lingkungan dan keberlanjutan
dipertimbangkan secara inheren dalam kebijakan, rencana dan program [KRP]. Posisinya
berada pada relung pengambilan keputusan. Oleh karena tidak ada mekanisme baku dalam
siklus dan bentuk pengambilan keputusan dalam perencanaan tata ruang, maka manfaat
KLHS bersifat khusus bagi masing-masing hirarki rencana tata ruang wilayah [RTRW]. KLHS
bisa menentukan substansi RTRW, bisa memperkaya proses penyusunan dan evaluasi
keputusan, bisa dimanfaatkan sebagai instrument metodologis pelengkap (komplementer)
atau tambahan (suplementer) dari penjabaran RTRW, atau kombinasi dari beberapa atau
semua fungsi-fungsi diatas.
Penerapan KLHS dalam penataan ruang juga bermanfaat untuk meningkatkan efektivitas
pelaksanaan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) dan atau instrumen
pengelolaan lingkungan lainnya, strategis dan partisipatif, kerjasama lintas batas wilayah
administrasi, serta memperkuat pendekatan kesatuan ekosistem dalam satuan wilayah
(kerap juga disebut “bio-region” dan/atau “bio-geo-region”). Sifat pengaruh KLHS dapat
dibedakan dalam tiga kategori, yaitu KLHS yang bersifat instrumental, transformatif, dan

Penyusunan Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR Bojonegara dan Puloampel 26
substantif. Tipologi ini membantu membedakan pengaruh yang diharapkan dari tiap jenis
KLHS terhadap berbagai ragam RTRW, termasuk bentuk aplikasinya, baik dari sudut
langkah-langkah prosedural maupun teknik dan metodologinya.

Penerapan KLHS pada Kebijakan Tata Ruang di Daerah


Penerapan Kajian Lingkungan Hidup Strategi dan penyusunan Rencana Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup adalah upaya untuk mencapai tujuan-tujuan diatas yang
didasarkan atas kondisi dan kebutuhan masing-masing. Oleh karena itu, implementasi
perangkat-perangkat ini tidak akan berangkat sebagai sebuah beban tambahan.
Seluruh tata laksana yang diharapkan ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah akan
diupayakan untuk mengakomodasikan berbagai keterbatasan, fleksibel, dan tetap
mengedepankan efisiensi dan efektivitas kerja. Pada intinya, perangkat-perangkat ini tidak
dimaksudkan untuk mengulang pekerjaan yang serupa, menghambat proses perencanaan
yang sudah berjalan, dan memperpanjang birokrasi.
Kondisi-kondisi yang dibutuhkan di daerah, seperti penyiapan organisasi dan kelembagaan,
jaringan kerja, peningkatan kapasitas, sampai dengan kemungkinan-kemungkinan
pemecahan masalah pendanaan akan selalu kami pertimbangkan, bahkan disiapkan untuk
dapat dibuat keputusankeputusannya.
Adalah tugas kami untuk selalu memberikan pedoman bagi para hadirin sekalian. Hasil yang
akan dicapai pasti berdampak langsung pada penentuan arah kebijakan lingkungan hidup,
sumberdaya alam, dan pemanfaatan ruang di tingkat Pemerintah. Diharapkan pula inspirasi
akan terbentuk dan kemudian mewarnai arah kebijakan pembangunan di tingkat daerah.
Dengan bersama-sama merumuskan langkah dan strategi yang pragmatic untuk dapat
secara langsung menyempurnakan persepsi dan sistem bekerja kita dalam melaksanakan
pembangunan berkelanjutan, diharapkan akan tersebar semangat pencapaian target
kesejahteraan masyarakat yang tidak mengorbankan lingkungan hidup di kalangan para
talon legislatif yang sedang bersiap menghadapi pemilihan umum maupun kalangan
masyarakat secara umum.

Pendekatan KLHS
Pendekatan KLHS dalam penataan ruang didasarkan pada kerangka bekerja dan metodologi
berpikirnya. Berdasarkan literatur terkait, sampai saat ini ada 4 (empat) model pendekatan
KLHS untuk penataan ruang, yaitu :
1) KLHS dengan Kerangka Dasar Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup/AMDAL

Penyusunan Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR Bojonegara dan Puloampel 27
(EIA-Mainframe) KLHS dilaksanakan menyerupai AMDAL yaitu mendasarkan telaah pada
efek dan dampak yang ditimbulkan RTRW terhadap lingkungan hidup. Perbedaannya
adalah pada ruang lingkup dan tekanan analisis telaahannya pada tiap hirarhi KRP
RTRW.
2) KLHS sebagai Kajian Penilaian Keberlanjutan Lingkungan Hidup (Environmental
Appraisal) KLHS ditempatkan sebagai environmental appraisal untuk memastikan KRP
RTRW menjamin pelestarian fungsi lingkungan hidup, sehingga bisa diterapkan sebagai
sebuah telaah khusus yang berpijak dari sudut pandang aspek lingkungan hidup.
3) KLHS sebagai Kajian Terpadu/Penilaian Keberlanjutan (Integrated Assessment
Sustainability Appraisal) KLHS diterapkan sebagai bagian dari uji KRP untuk menjamin
keberlanjutan secara holistik, sehingga sudut pandangnya merupakan paduan
kepentingan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan hidup. Dalam prakteknya, KLHS
kemudian lebih ditempatkan sebagai bagian dari kajian yang lebih luas yang menilai atau
menganalisis dampak sosial, ekonomi dan lingkungan hidup secara terpadu.
4) KLHS sebagai pendekatan Pengelolaan Berkelanjutan Sumberdaya Alam (Sustainable
Natural Resource Management) atau Pengelolaan Berkelanjutan Sumberdaya
(Sustainable Resource Management) KLHS diaplikasikan dalam kerangka pembangunan
berkelanjutan, dan a) dilaksanakan sebagai bagian yang tidak terlepas dari hirarki sistem
perencanaan penggunaan lahan dan sumberdaya alam, atau b) sebagai bagian dari
strategi spesifik pengelolaan sumberdaya alam. Model a) menekankan pertimbangan –
pertimbangan kondisi sumberdaya alam sebagai dasar dari substansi RTRW, sementara
model b) menekankan penegasan fungsi RTRW sebagai acuan aturan pemanfaatan dan
perlindungan cadangan sumberdaya alam.

Aplikasi-aplikasi pendekatan di atas dapat diterapkan dalam bentuk kombinasi, sesuai


dengan : hirarki dan jenis RTRW yang akan dihasilkan/ditelaah, lingkup isu mengenai
sumberdaya alam dan lingkungan hidup yang menjadi fokus, konteks kerangka hukum
RTRW yang dihasilkan/ditelaah, kapasitas institusi dan sumberdaya manusia aparatur
pemerintah selaku pelaksana dan pengguna KLHS, serta tingkat kemauan politis atas
manfaat KLHS terhadap RTRW.

Penyusunan Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR Bojonegara dan Puloampel 28
F.2 Metodologi Kegiatan
Kerangka kerja KLHS
Integrasi pertimbangan-pertimbangan lingkungan dalam proses penyusunan dan
pengambilan keputusan (pembangunan) secara luas dikenal sebagai cara efektif untuk
mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Dalam pengelolaan lingkungan, KLHS merupakan
alat/instrumen yang digunakan untuk mengintegrasikan secara terstruktur aspek-aspek LH
ke dalam proses pengambilan keputusan-keputusan stratejik (KRP). Perlu dikemukakan
kembali mengapa KLHS dianggap strategis? Pertama, karena sasaran kajian KLHS adalah
KRP yang akan memberikan implikasi luas terhadap berbagai aspek kehidupan manusia.
Selain itu, studi KLHS fokus pada KRP yang merupakan komponen-komponen stratejik dalam
suatu proses pengambilan keputusan.

Perlu dikemukakan di sini bahwa tidak ada standar baku prosedur/metodologi pelaksanaan
KLHS. Masing-masing negara/pelaksana melakukan KLHS dengan menggunakan metodologi
yang dikehendaki. Namun demikian, KLHS adalah kajian lingkungan yang diimplementasikan
pada tingkat KRP. Dengan demikian, kerangka kerja pelaksanaan KLHS dapat bervariasi,
Meskipun KLHS dapat diimplementasikan untuk berbagai macam KRP (antara lain,
pembangunan sektoral, regional, dan daerah aliran sungai), dalam panduan ini implementasi
KLHS adalah untuk perencanaan tata ruang.

Tantangan Bagi Pemerintah Daerah


Namun demikian, tidak dapat disangkal bahwa tantangan diatas dapat memberikan tekanan
bagi pemerintah daerah jika dihadapkan pada berbagai bentuk keterbatasan sumberdaya
masing-masing. Banyaknya sorotan yang menyatakan ketentuan dalam Undang-undang
dirasakan memberatkan merupakan dasar dari pelaksanaan membangun upaya bersama
yang produktif dan didasari prinsip berbagi tanggung jawab secara adil.
Hasil Kajian Lingkungan Hidup Strategic terhadap rencana penataan ruang pulau Sumatera,
Jawa, dan Sulawesi serta kajian singkat terhadap pulau Kalimantan yang dilakukan oleh
Kementerian Lingkungan Hidup menyimpulkan bahwa daya dukung lingkungan hidup
keempat pulau besar tersebut telah mengalami tekanan berat.
Jawa telah mencapai tingkat kritis, Sumatera dan Kalimantan akan segera memasuki kondisi
kritis bila kegiatan tetap berjalan dengan pola business as usual, dan Sulawesi sudah
dipastikan menjadi jauh lebih rentan daripada masa-masa sebelumnya. Secara umum,
margin biaya sosial dan lingkungan yang timbul akibat pembangunan fisik dan ekonomi pada

Penyusunan Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR Bojonegara dan Puloampel 29
masa mendatang akan jauh lebih tinggi daripada sebelumnya.
Untuk mengakomodasikan pertumbuhan ekonomi, perkembangan penduduk, ekspansi
wilayah perkotaan, dan pemanfaatan sumber daya alam, langkah-langkah inovatif harus
segera dilakukan. Pengembangan infrastruktur perkotaan dan ekonomi harus diikuti dengan
pengembangan infrastruktur lingkungan hidup (green infrastructure); kemampuan daya
dukung dan daya tampung lingkungan ditingkatkan melalui inovasi IPTEK dan pendekatan
social budaya; pola produksi dan konsumsi diubah untuk memenuhi standar keberlanjutan;
dan atmosfir demokrasi yang menjadi aset bangsa dioptimalkan sepenuh-penuhnya untuk
membangun kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam pelestarian lingkungan hidup.
Kesemua aspek diatas harus diawali dengan perencanaan yang komprehensif dan didasarkan
pada prinsip-prinsip keberlanjutan, dimana dalam Undang-undang telah secara spesifik
diatur pets jalannya. Untuk membantu pemenuhan mandat Undang-undang, maka berbagai
bentuk strategi yang bisa dilakukan dalam kurun waktu transisi satu tahun, kurun waktu
jangka menengah lima tahun, dan kurun waktu jangka panjang yang minimal mencakup
masa dua puluh tahun. Strategi-strategi ini perlu dikritisi sebelum disepakati untuk dapat
dilaksanakan.
Kesamaan keterbatasan yang disikapi dengan berbagai inovasi menarik dari beberapa
daerah diharapkan akan menjadi sumber inspirasi mengenai bagaimana menyiapkan dan
menindaklanjuti tantangan yang harus dihadapi dalam menerapkan pembangunan
berkelanjutan secara umum dan penerapan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 secara
khusus.

Penyusunan Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR Bojonegara dan Puloampel 30
G. RENCANA KERJA

Rencana kerja merupakan gambaran menyeluruh dan komprehensif usulan dari konsultan
dalam melaksanakan pekerjaan yang akan ditangani sesuai dengan Kerangka Acuan Kerja
(KAK) yang telah diberikan. Dalam rencana kerja ini akan diuraikan urutan – urutan
pekerjaan, konsep penanganan masalah, tanggung jawab dan personil yang terlibat,
pengerahan sarana maupun personil pendukung, schedule pelaksanaan pekerjaan serta
schedule personil. Untuk memudahkan dalam pelaksanaan pekerjaan, maka harus disusun
Bagan Alir Pelaksanaan Pekerjaan. Bagan Alir ini berisikan tahapan-tahapan pekerjaan yang
akan dikerjakan, sehingga dalam penyusunan jadwal pelaksanaan pekerjaan harus
berpatokkan pada Bagan Alir Pelaksanaan Pekerjaan tersebut.

Program Kerja diatas dapat dirinci kedalam tahap – tahap pekerjaan berikut :
1. Tahap Penyusunan
a. Tahap Persiapan
 Mobilisasi Personil dan Peralatan
 Administrasi dan Koordinasi
 Pemahaman Metodelogi dan peraturan atau kebijakan terkait
b. Penyusunan KLHS
1. Penapisan
Apakah diperlukan Studi KLHS ; menentukan konteks dan data dasar; konteks
kelembagaan; isu-isu permasalahan lingkungan; keterkaitan KRP dengan
persoalan LH; tujuan dan fokus KLHS.
2. Pelingkupan
Ruang lingkup KLHS; Studi dan Data Dasar; isu –isu keberlanjutan pembangunan;
sasaran KLHS dan sasaran KRP.
3. Alternatif KRP
Tujuan/sasaran KRP, Identifikasi dan Perbandingan alternative KRP; Analisis KRP
dan alternatifnya; KRP lain yang relevan; analisis system.
4. Analisis Lingkungan (Evaluasi dan Valuasi)
Interprestasi data; Evaluasi dan perkiraan dampak; Fokus dampak : tidak

Penyusunan Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR Bojonegara dan Puloampel 31
langsung, kumulatif, dan sinergistik; Analisis: multi-kriteria, ketidakpastian, dan
pembobotan; mitigasi dampak
5. Alternatid KRP dan Pengambilan Keputusan
Hasil, proses dan mekanisme pengambilan keputusan; keterlibatan public dan
stakeholder lain; Argumentasi pengambilan keputusan
6. Rencana Pemantauan dan Pengelolaan KRP
Implementasi mitigasi dampak; monev untuk perbaikan KRP; tindak lanjut
pengelolaan dampak KRP melalui pembentukan system pengelolaan LH Adaptif

Penyusunan Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR Bojonegara dan Puloampel 32
H. JADUAL PELAKSANAAN PEKERJAAN

1. UMUM
Pekerjaan penyusunan Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR Bojonengara dan
Puloampel secara umum dilakukan untuk memberikan acuan didalam pelaksanaan kegiatan.
Setelah kami mempelajari Dokumen Seleksi Umum Pengadaan Jasa Konsultansi serta
menghadiri Rapat penjelasan Pekerjaan (Aanwijzing) Apa yang tercantum dalam Kerangka
Acuan Kerja meskipun terbatas, pada dasarnya point-point pokok pekerjaan yang akan
dilaksanakan telah ada dan tercantum dengan jelas.
Kami/konsultan untuk memenuhi persyaratan yang tercantum dalam Kerangka Acuan Kerja
tersebut diatas akan/telah menyusun suatu Struktur Organisasi Pelaksanaan Pekerjaan yang
meliputi Jadual Pelaksanaan Pekerjaan yang sistematis dan terorganisir.

2. JADWAL WAKTU PELAKSANAAN PEKERJAAN


Sebagaimana pengalaman kami terdahulu dalam melaksanakan pekerjaan sejenis, dalam
melaksanakan Pekerjaan penyusunan Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR
Bojonengara dan Puloampel kami menekankan pada kekompakan tim, keakuratan, ketelitian
dan kerapihan dalam melaksanakan pekerjaan tersebut. Jadwal Pelaksanaan pekerjaan ini
disusun berdasarkan persyaratan dan ketentuan dalam Kerangka Acuan Kerja, sehingga
tahapan-tahapan pelaksanaan sesuai dengan yang disyaratkan. Pekerjaan ini akan
diusahakan dapat diselesaikan dalam jangka waktu 90 (sembilan puluh) hari kalender sesuai
dari uraian yang terdapat dalam KAK.
Untuk mencapai suatu hasil pekerjaan selesai tepat pada waktunya Tim Konsultan yang
terlibat baik dalam pelaksanaan pekerjaan ditekankan harus berpegang teguh kepada time
schedul/manning schedule yang telah di sepakati bersama.
Jadwal ini disusun berdasarkan pemahaman konsultan terhadap keseluruhan pekerjaan yang
dituangkan dalam Rencana Kerja. Konsultan mempertimbangkan optimalitas waktu dan
tingkat keterkaitan antar pekerjaan untuk mendapatkan pekerjaan kritis dan gratis pada
network diagram. Untuk menggambarkan proses kegiatan Pekerjaan penyusunan Kajian
Pencapaian Ruang Terbuka Hijau ditunjukan dalam Jadwal Rencana Pelaksanaan Pekerjaan
dari awal sampai selesainya pekerjaan.

Penyusunan Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR Bojonegara dan Puloampel 33
I. TENAGA AHLI DAN TANGGUNGJAWABNYA

1. KUALIFIKASI TENAGA AHLI


Sesuai dengan maksud dan tujuan, serta lingkup pekerjaan yang komplek, dalam
pelaksanaan pekerjaan ini diperlukan tenaga ahli dan tenaga pendukung yang ahli dalam
bidangnya. Pengalaman dan penguasaan pada bidang studi terkait, akan menjadi penilaian
utama menyangkut spesifikasi tenaga ahli yang dibutuhkan.
Personil yang dibutuhkan terdiri dari :

a. Team Leader (merangkap Tenaga Ahli Lingkungan) : 1 orang


b. Tenaga Ahli Perencanaan Wilayah dan Kota: 1 (satu) orang
c. Tenaga Ahli Hukum: 1 (satu) orang

Sedangkan tenaga ahli pendukung untuk menunjang kegiatan ini adalah:


a. Surveyor : 1 (satu) orang
b. Staff Administrasi: 1 (satu) orang

Penyusunan Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR Bojonegara dan Puloampel 34
H. JADUAL PENUGASAN TENAGA AHLI

Penugasan tenaga ahli disesuaikan dengan lingkup pelaksanaan tugas berdasarkan uraian
tugas dan tanggungjawab pelaksanaan Pekerjaan Kajian Pencapaian Ruang Terbuka Hijau.
Agar pelaksanaan pekerjaan lebih terarah, maka diperlukan jadual mengenai tanggung
jawab masing-masing personil selama jangka waktu pelaksanaan pekerjaan. Jadwal
penugasan masing-masing tenaga ahli (professional staff) dan asistennya serta tenaga
pendukung (supporting staff) disesuaikan dengan kebutuhan materi/substansi kegiatan serta
alokasi waktu pelaksanaan kegiatan.
Berdasarkan Kerangka Acuan Kerja, waktu yang tersedia untuk melaksanakan pekerjaan ini
adalah 90 (Sembilan puluh) hari kalender terhitung sejak penandatanganan kontrak
dilakukan. Waktu pelaksanaan tersebut sudah termasuk masa persiapan/mobilisasi (jadwal
penugasan Tenaga Ahli Terlampir).

Penyusunan Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR Bojonegara dan Puloampel 35
I. ORGANISASI PELAKSANAAN PEKERJAAN

Mengorganisir adalah mengtur unsur-unsur sumber daya perusahaan yang terdiri dari
tenaga kerja, material, dan dana dalam suatu gerak langkah yang sinkron untuk mencapai
tujuan organisasi yang efektif dan efisien. Untuk maksud tersebut diperlukan sarana yaitu
organisasi. Dalam organisasi disusun dan diletakkan dasar-dasar pedoman dan petunjuk
kegiatan, jalur pelaporan, pembagian tugas dan tanggung jawab masing-masing kelompok
dan pimpinan. Karena tujuan suatu perusahaan berbeda maka susunan organisasipun
demikian juga, artinya tidak ada satupun struktur organisasi yang dapat digunakan untuk
segala macam kegiatan dan situasi dengan hasil yang sama.
Proses mengorganisir proyek mengikuti prosedur sebagai berikut :
a. Mengelompokkan pekerjaan
Setelah melakukan identifikasi dan klarifikasi, dilanjutkan dengan mengelompokkan
pekerjaan tersebut ke dalam unit atau paket yang masing-masing telah diidentifikasi
biaya, jadwal dan mutu. Selanjutnya diserahkan kepada kelompok yang diberi tugas
untuk mengerjakannya.
b. Menyiapkan pihak yang akan menangani
Persiapan pihak-pihak yang akan menerima tugas, seperti memilih keterampilan dan
keahlian kelompok yang sesuai dengan kebutuhan pekerjaan dan memberitahukan
sasaran yang akan dicapai berkaitan dengan unit atau paket yang akan menjadi
tanggung jawabnya.
c. Mengetahui wewenang, tanggung jawab dan melakukan pekerjaan
Agar hasil pekerjaan sesuai dengan harapan, maka kelompok yang menerima pekerjaan
harus mengetahui batas wewenang dan tanggung jawabnya, hal ini sangat penting
untuk menghindari tumpang tindih dan duplikasi. Setelah jelas wewenang dan tanggung
jawab masing-masing kelompok, pekerjaan proyek segera dimulai.
d. Menyusun mekanisme koordinasi
Mengingat banyak peserta yagn ikut menangani proyek, sedangkan jadwal pelaksanaan
pekerjaan satu sama lain saling terkait maka perlu adanya mekanisme koordinasi agar
semua bagian pekerjaan proyek yang ditangai oleh para peserta dapat bergerak menuju
sasaran secara sinkron.

Penyusunan Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR Bojonegara dan Puloampel 36
Hubungan antar pihak-pihak yang terlibat dalam suatu proyek umumnya dibedakan atas
hubungan fungsional, yaitu pola hubungan yang berkaitan dengan fungsi pihak-pihak
tersebut dan hubungan kerja (formal), yaitu pola hubungan yang berkaitan dengan kerja
antara pihak-pihak yang terlibat dalam proyek yang dikukuhkan dalam suatu dokumen
kontrak.

Untuk mencapai efektifitas dan efesiensi penyelenggaraan pekerjaan ini, maka organisasi
pelaksanaan proyek ini akan dilaksanakan oleh Konsultan yang dijalankan oleh Ketua Team
yang merupakan personil inti yang mengkoordinir seluruh staf ahli dan juga
mengkoordinasikan pelaksanaan pekerjaan secara keseluruhan dan memantau pekerjaan
secara kontinyu, yang dibantu oleh Tenaga Ahli Profesional dan saling membantu dalam
menyelesaikan pekerjaan serta dibantu pula oleh tenaga penunjang lainnya.

Penyusunan Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR Bojonegara dan Puloampel 37
DIINAS PEKERJAAN UMUM
DAN PENATAAN RUANG TIM PELAKSANA
TEKNIS

DIREKTUR
PT. MULTI GUNA KARYA INSTANSI
TERKAIT

TEAM LEADER

TENAGA AHLI : TENAGA PENDUKUNG :


PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA STAFF ADMINISTRASI
AHLI HUKUM SURVEYOR

KETARANGAN

Garis Koordinasi
Garis Perintah

Penyusunan Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR Bojonegara dan Puloampel 38
J. LAPORAN

Evaluasi terhadap prestasi pekerjaan atau kemajuan serta perkembangan hasil pekerjaan
yang dilakukan konsultan dapat diketahui dengan cara mendiskusikan laporan-laporan yang
diserahkan oleh konsultan dan dapat dievaluasi pada setiap akhir bulannya.
Pekerjaan telah dinyatakan selesai bila memenuhi persyaratan yang ditetapkan, baik kualitas
maupun kuantitas serta telah melakukan perbaikan-perbaikan yang terdapat sesuai dengan
adanya masukan pada waktu diskusi laporan akhir.
Produk yang disusun dan diserahkan sesuai dengan ketentuan, baik jumlah maupun
bentuknya disesuaikan dengan kebutuhan.
Jenis laporan yang harus diserahkan kepada pengguna jasa adalah :

1. Laporan Pendahuluan KLHS, diserahkan pada bulan pertama minggu ke 3 dari masa
pelaksanaan pekerjaan. Isi dari laporan ini adalah uraian ringkas mengenai kerangka pikir,
rencana kerja, juga dimasukkan metodologi serta pendekatan teknis pelaksanaan
pekerjaan, mobilisasi tenaga ahli dan jadwal penyelesaian pekerjaan.
Pada tahap laporan pendahuluan ini akan dilakukan diskusi pembahasan bersama tim
teknis dengan mengundang beberapa pihak lain yang terkait dan diharapkan dapat
diperoleh satu kesepakatan mengenai sasaran serta pola kerja yang akan dituju. Hasil
diskusi dituangkan dalam bentuk satu berita acara dan dijadikan pedoman dalam
penyusunan laporan berikutnya. Penyerahan finalisasi dokumen laporan pendahuluan
kepada Pemberi Tugas dilakukan segera setelah memasukkan hasil kesepakatan diskusi
pembahasan tersebut kedalam laporan.

2. Laporan Pendahuluan Naskah Akademis , diserahkan minggu ke 3 setelah


penerbitan SPMK. Laporan ini berisikan kemajuan pelaksanaan pekerjaan yang mencakup
hasil kompilasi data yang telah didapatkan dari pelaksanaan survei lapangan, hasil analisis
sesuai dengan tujuan dan sasaran pekerjaan.
Pada tahap laporan antara ini akan dilakukan diskusi pembahasan bersama tim teknis
dengan mengundang beberapa pihak lain yang terkait dan diharapkan dapat diperoleh
satu kesepakatan mengenai hasil kompilasi dan analisis data. Hasil diskusi dituangkan

Penyusunan Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR Bojonegara dan Puloampel 39
dalam bentuk satu berita acara dan dijadikan pedoman dalam penyusunan laporan
berikutnya.

3. Laporan Akhir Akhir KLHS, berisikan bentuk akhir dari keseluruhan rangkaian
pelaksanaan pekerjaan, aporan ini diserahkan pada akhir pelaksanaan pekerjaan.
Pada tahap laporan akhir ini akan dilakukan diskusi pembahasan bersama tim teknis
dengan mengundang beberapa pihak lain yang terkait untuk memperoleh masukan
lain/tambahan untuk penyempurnaan hasil akhir dari pelaksanaan pekerjaan ini, sehingga
dapat diperoleh satu kesimpulan yang mampu menampung banyak kepentingan terkait.
Penyerahan finalisasi dokumen laporan akhir kepada Pemberi Tugas dilakukan segera
setelah memasukkan hasil kesepakatan diskusi pembahasan tersebut ke dalam laporan.

4. Laporan Akhir Naskah Akademis, berisikan bentuk akhir dari keseluruhan rangkaian
pelaksanaan pekerjaan, aporan ini diserahkan pada akhir pelaksanaan pekerjaan.
Pada tahap laporan akhir ini akan dilakukan diskusi pembahasan bersama tim teknis
dengan mengundang beberapa pihak lain yang terkait untuk memperoleh masukan
lain/tambahan untuk penyempurnaan hasil akhir dari pelaksanaan pekerjaan ini, sehingga
dapat diperoleh satu kesimpulan yang mampu menampung banyak kepentingan terkait.
Penyerahan finalisasi dokumen laporan akhir kepada Pemberi Tugas dilakukan segera
setelah memasukkan hasil kesepakatan diskusi pembahasan tersebut ke dalam laporan.

5. Draft Raperda,

Data Digital semua hasil akhir pekerjaan dan semua laporan kegiatan disimpan dalam
media CD sebanyak 5 set.

Penyusunan Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR Bojonegara dan Puloampel 40
K. STAF PENDUKUNG

Untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan, maka para tenaga ahli dibantu oleh bebarapa
tenaga pendukung, yaitu :

1. Staff Administrasi
Mempunyai tugas pokok :
 Membantu administrasi pekerjaan;
 Membantu surat menyurat;

2. Surveyor
Mempunyai tugas pokok :
 Melakuan survey lapangan;
 Membantu pengumpulan data;

Penyusunan Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR Bojonegara dan Puloampel 41
L. FASILITAS PENDUKUNG

Fasilitas kantor dan lapangan disediakan oleh Konsultan selama periode kontrak yang
digunakan untuk kelancaran operasional pekerjaan. Selain itu beberapa peralatan untuk
pengambilan data juga akan disiapkan oleh Konsultan. Fasilitas itu antara lain :
Fasilitas Kantor
Peralatan Kantor
Peralatan Lapangan

1. FASILITAS KANTOR
Fasilitas kantor yang akan disiapkan oleh Konsultan adalah menyiapkan/sewa kantor
yang digunakan untuk pelaksanaan pekerjaan.
Untuk mendukung pelaksanaan pekerjaan ini diperlukan adanya fasilitas kantor yang
memadai dan peralatan yang digunakan untuk fasilitas survey, identifikasi, investigasi
dan bahan harus sesuai agar dicapai ketelitian dan standart yang mencukupi. Fasilitas
operasional kantor antara lain adalah :
 Komputer,
 Printer,
 Meja Gambar,
 Kalkulator,
 Kamera Digital,
 Meja dan Kursi Kerja,
 Filling Kabinet,
 Alat Gambar,
 Alat Tulis,
 Isi ulang toner laser jet,
 Isi ulang toner warna,
 Telepon,
 Listrik, dll.

Penyusunan Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR Bojonegara dan Puloampel 42
2. PERALATAN KANTOR
Peralatan kantor yang disiapkan antara lain :
Telepon, listrik, air;
Furniture;
Komputer;
Printer;
ATK.

2. PERALATAN LAPANGAN
Peralatan diperlukan untuk survei di lapangan. Peralatan ini antara lain adalah :
 Waterpas,
 GPS,
 Roll meter,
 Kendaraan roda empat.
 Kendaraan roda dua.

Penyusunan Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR Bojonegara dan Puloampel 43
M. PENUTUP

Kegiatan Penyusunan Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR Bojonegara dan
Puloampel ini merupakan suatu kegiatan yang kompleks, memerlukan keterlibatan beberapa
pihak terkait, antara lain Pihak Pemilik, Konsultan, Pemerintah Daerah maupun masyarakat.
Dalam pelaksanaan suatu proyek, harus dirumuskan, mulai dari tujuan, sasaran, keterlibatan
pihak yang berkompetensi, perencanaan dan perancangan dan lingkungannya, pelaksanaan
fisik bangunan maupun faktor biaya konstruksi, struktur konstruksi fisik, kesesuaian estetika
rancangan, rancangan lingkungan ruang luar, administrasi proyek maupun segala sesuatu
yang terkait pada kegiatan proyek, oleh karena itu perlu adanya suatu pengaturan dan
koordinasi yang baik dan profesional antar pihak yang terlibat, sehingga tidak terjadi
kerugian dari masing-masing pihak.
Konsultan didalam suatu proses pekerjaan proyek bertugas untuk membuat suatu sistem
dari masing-masing kegiatan proyek menjadi satu kesatuan yang utuh dan terkoordinir dari
awal proyek hingga selesainya proyek. Dokumen Usulan Teknis ini disusun untuk keperluan
ikut serta dalam pelaksanaan tender (pelelangan) Pekerjaan Penyusunan Dokumen KLHS
dan Naskah Akademis RDTR Bojonegara dan Puloampel, Kegiatan ini diselenggarakan Dinas
Pekerjaan Umum dan Tata Ruang.
Penyusunan dokumen Usulan Teknis ini didasarkan pada RKS (Rencana Kerja dan Syarat),
KAK (Kerangka Acuan Kerja), dan Berita Acara Penjelasan Pekerjaan, serta peraturan lain
yang berlaku. Konsultan telah mencermati dan memahami dengan seksama Kerangka
Acuan Kerja (KAK) yang mencakup latar belakang, maksud dan tujuan, sasaran, lingkup
pekerjaan, lokasi kegiatan, metodologi, jangka waktu pelaksanaan, kebutuhan tenaga ahli,
pelaporan, serta biaya yang dialokasikan untuk menyelesaikan Pekerjaan Penyusunan
Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR Bojonegara dan Puloampel. Berdasarkan pada
seluruh kemampuan Konsultan, baik ketersediaan personil yang handal dan profesional
maupun pengalaman yang memadai, terutama yang berkaitan dengan menyelesaikan
Pekerjaan Penyusunan Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR Bojonegara dan
Puloampel maka konsultan berkeyakinan mampu melaksanakan pekerjaan dengan sebaik-
baiknya sesuai dengan Kerangka Acuan Kerja.

Penyusunan Dokumen KLHS dan Naskah Akademis RDTR Bojonegara dan Puloampel 44