Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS POPULASI RENTAN: PENYAKIT

MENTAL, KECACATAN, dan POPULASI TERLANTAR

Disusun Oleh :

Nila Ranggani 2016-0303-006

Wayan Rindang Sulistiawati 2016-0303-015

FAKULTAS ILMU-ULMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ESA UNGGUL

JAKARTA

2019

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatan kepada Tuhan yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia,
serta taufik dan hidayah-Nya kelompok kami dapat menyelesaikan tugas Makalah ini dengan
sebaik-baiknya dan tepat waktu. Kelompok kami juga mengucapkan terimakasih banyak kepada
setiap dukungan yang telah mendorong kelompok untuk menyelesaikan tugas askep mental ini.

Kelompok kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam menambah wawasan
serta pengetahuan pembaca mengenai “ penyakit mental, kecacatan, dan gelandangan atau
terlantar” kelompok kami juga menyadari sepenuhnya bahwa didalam tugas ini terdapat
kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kelompok kami berharap adanya
kritikan, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah penulis buat, mengingat tidak
adanya sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun

Jakarta, 13 maret 2019

Kelompok

ii
DAFTAR ISI

Cover...............................................................................................................................................i

Kata pengantar ...............................................................................................................................ii

Daftar isi.........................................................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang.....................................................................................................................1
B. Rumusan masalah................................................................................................................1
C. Tujuan..................................................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN

A. Konsep teori........................................................................................................................3
a. Populasi rentang......................................................................................................3
b. Gangguan mental (mental disorder)........................................................................4
c. Penyakit cacat/disabilitas.......................................................................................11
d. Tunawisma/glandangan.........................................................................................14
e. Asuhan keperawatan pada agregat populasi mental..............................................17

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan........................................................................................................................20
B. Saran..................................................................................................................................20

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................................21

iii
iv
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Populasi rentan atau populasi beresiko adalah kondisi yang mempengaruhi kondisi
seseorang atau populasi untuk menjadi sakit atau sehat (Kaakinen, Hanson, Birenbaum dalam
Stanhope & Lancaster, 2004). Pandera mengkategorikan faktor resiko kesehatan antara lain
genetik, usia, karakteristik biologi, kesehatan individu, gaya hidup dan lingkungan. Jika
seseorang dikatakan rawan apabila mereka berhadapan dengan penyakit, bahaya, atau outcome
negatif. Faktor pencetusnya berupa genetik, biologi atau psikososial. Populasi rawan atau
rentan merupakan kelompok-kelompok sosial yang memiliki peningkatan risiko yang relatif
atau rawan untuk menerima pelayanan kesehatan. Kenyataan menunjukan bahwa Indonesia
memiliki banyak peraturan perundangundangan yang mengatur tentang Kelompok Rentan,
tetapi tingkat implementasinya sangat beragam. Sebagian undang-undang sangat lemah
pelaksanaannya, sehingga keberadaannya tidak memberi manfaat bagi masyarakat. Disamping
itu, terdapat peraturan perundang-undangan yang belum sepenuhnya mengakomodasi berbagai
hal yang berhubungan dengan kebutuhan bagi perlindungan kelompok rentan. Keberadaan
masyarakat kelompok rentan yang merupakan mayoritas di negeri ini memerlukan tindakan
aktif untuk melindungi hak-hak dan kepentingan-kepentingan mereka melalui penegakan
hukum dan tindakan legislasi lainnya. Hak asasi orang-orang yang diposisikan sebagai
masyarakat kelompok rentan belum terpenuhi secara maksimal, sehingga membawa
konsekuensi bagi kehidupan diri dan keluarganya, serta secara tidak langsung juga mempunyai
dampak bagi masyarakat.

B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan populasi rentan?

2. Apa yang dimaksud dengan populasi rentan penyakit mental ?

3. Apa yang dimaksud dengan populasi rentan kecacatan ?

4. Apa yang dimaksud populasi rentan terlantar ?

1
5. Bagaimana Asuhan keperawatan untuk agregat penyakit mental ?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui tentang agregat populasi rentan

2. Untuk mengatahui tentang populasi rentan penyakit mental

3. Untuk mengetahui populasi rentan kecacatan

4. Untuk mengtahui populasi rentan terlantar

5. Untuk mengetahui bagaiaman asuhan keperawatan untuk agregat penyakit mental.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. KONSEP TEORI

a. Populasi Rentan

Pengertian Kelompok Rentan tidak dirumuskan secara eksplisit dalam peraturan


perundang-undangan, seperti tercantum dalam Pasal 5 ayat (3) Undang-Undang No.39 Tahun 1999
yang menyatakan bahwa setiap orang yang termasuk kelompok masyarakat yang rentan berhak
memperoleh perlakuan dan perlindungan lebih berkenaan dengan kekhususannya. Dalam
penjelasan pasal tersebut disebutkan bahwa yang dimaksud dengan kelompok masyarakat yang
rentan, antara lain, adalah orang lanjut usia, anakanak, fakir miskin, wanita hamil dan penyandang
cacat.

Sedangkan menurut Human Rights Reference disebutkan, bahwa yang tergolong ke dalam
Kelompok Rentan adalah:

a) Refugees (pengungsi)
b) Internally Displaced Persons (IDPs) (orang orang yang terlantar)
c) National Minoritie (kelompok minoritas)
d) Migrant Workers (pekerja migran )
e) Indigenous Peoples (orang pribumi/penduduk asli dari tempat pemukimannya)
f) Children (anak)
g) Women (wanita)

Menurut Departeman Hukum dan Hak Asasi Manusia, kelompok rentan adalah semua
orang yang menghadapi hambatan atau keterbatasan dalam menikmati standar kehidupan yang
layak bagi kemanusiaan dan berlaku umum bagi suatu masyarakat yang berperadaban. Jadi
kelompok rentan dapat didefinisikan sebagai kelompok yang harus mendapatkan perlindungan
dari pemerintah karena kondisi sosial yang sedang mereka hadapi.

Menurut Undang-undang No.4 tahun 1997 yang dimaksud dengan penyandang cacat
adalah setiap orang yang mempunyai kelainan fisik dan atau mental, yang dapat mengganggu atau

3
merupakan rintangan dan hambatan baginya untuk melakukan kegiatan secara selayaknya. Dari
sisi pengelompokkannya, maka penyandang cacat dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) hal :
Penyandang cacat fisik, Penyandang cacat mental, Penyandang cacat fisik dan mental.

b. Gangguan Mental (Mental Disorder)


1. Definisi Gangguan Mental (Mental Disorder)

Istilah gangguan mental (mental disorder) atau gangguan jiwa merupakan istilah resmi yang
digunakan dalam PPDGJ (Pedoman Penggolongan Diagnostik Gangguan Jiwa). Definisi
gangguan mental (mental disorder) dalam PPDGJ II yang merujuk pada DSM-III adalah:
“Gangguan mental (mental disorder) atau gangguan jiwa adalah sindrom atau pola perilaku, atau
psikologi seseorang, yang secara klinik cukup bermakna, dan secara khas berkaitan dengan suatu
gejala penderitaan (distress) atau hendaya (impairment/disability) di adalm satu atau lebih fungsi
yang penting dari manusia. Sebagai tambahan, disimpulkan bahwa disfungsi itu adalah disfungsi
dalam segi perilaku, psikologik, atau biologik, dan gangguan itu tidak semata-mata terletak di
dalam hubungan orang dengan masyarakat”. (Maslim, tth:7). Dari penjelasan di atas, kemudian
dirumuskan bahwa di dalam konsep gangguan mental (mental disorder) terdapat butir-butir
sebagai berikut:

1) Adanya gejala klinis yang bermakna, berupa: Sindrom atau pola perilaku Sindrom atau
pola psikologik

2) Gejala klinis tersebut menimbulkan “penderitaan” (distress), antara lain berupa: rasa
nyeri, tidak nyaman, tidak tentram, terganggu, disfungsi organ tubuh, dll.

3) Gejala klinis tersebut menimbulkan “disabilitas” (disability) dalam aktivitas kehidupan


sehari-hari yang biasa dan diperlukan untuk perawatan diri dan kelangsungan hidup
(mandi, berpakaian, makan, kebersihan diri, dll).

(Maslim, tth:7). Secara lebih luas gangguan mental (mental disorder) juga dapat didefinisikan
sebagai bentuk penyakit, gangguan, dan kekacauan fungsi mental atau kesehatan mental,
disebabkan oleh kegagalan mekanisme adaptasi dari fungsifungsi kejiwaan/mental terhadap
stimuli ekstern dan ketegangan-ketegangan; sehingga muncul gangguan fungsional atau struktural
dari satu bagian, satu orang, atau sistem kejiwaan/mental (Kartono, 2000:80). Pendapat yang

4
sejalan juga dikemukakan Chaplin (1981) (dalam Kartono, 2000:80), yaitu: “Gangguan mental
(mental disorder) ialah sebarang bentuk ketidakmampuan menyesuaikan diri yang serius sifatnya
terhadap tuntutan dan kondisi lingkungan yang mengakibatkan ketidakmampuan tertentu. Sumber
gangguan/kekacauannya bisa bersifat psikogenis atau organis, mencakup kasuskasus reaksi
psikopatis dan reaksi-reaksi neurotis yang gawat”.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa gangguan mental (mental disorder) adalah
ketidakmampuan seseorang atau tidak berfungsinya segala potensi baik secara fisik maupun
phsikis yang menyebabkan terjadinya gangguan dalam jiwanya.

1. Macam-Macam Gangguan Mental (Mental Disorder).

Dalam menjelaskan macam-macam gangguan mental (mental disorder), penulis merujuk


pada PPDGJ III (dalam Rusdi Maslim, tth:10), yang digolongkan sebagai berikut:

1. Gangguan mental organik dan simtomatik;Gangguan mental organik adalah gangguan


mental yang berkaitan dengan penyakit atau gangguan sistematik atau otak yang dapat
di diagnosis secara tersendiri. Sedangkan gangguan simtomatik adalah gangguan yang
diakibatkan oleh pengaruh otak akibat sekunder dari penyakit atau gangguan sistematik
di luar otak (extracerebral). (Maslim, tth:22).
2. Gangguan mental dan perilaku akibat zat psikoaktif.
Gangguan yang disebabkan karena penggunaan satu atau lebih zat psikoaktif (dengan
atau tidak menggunakan resep dokter). (Maslim, tth:36).
3. Gangguan skizofrenia dan gangguan waham.
Gangguan skizofrenia adalah gangguan yang pada umumnya ditandai oleh
penyimpangan yang fundamental dan karakteristik dari pikiran dan persepsi, serta oleh
afek yang tidak wajar (inappropriate) atau tumpul (blunted).” (Maslim, tth:46).
Sedangkan gangguan waham adalah gejala ganguan jiwa di mana jalan pikirannya tidak
benar dan penderita itu tidak mau di koreksi bahwa hal itu tidak betul; suatu jalan pikiran
yang tidak beralasan. (Sudarsono, 1993:272).

5
4. Gangguan suasana perasaan (mood/afektif).
Gangguan suasana perasaan (mood/afektif) adalah perubahan suasana perasaan (mood)
atau afek, biasanya kearah depresi (dengan atau tanpa anxietas yang menyertainya), atau
kearah elasi (suasana perasaan yang meningkat). (Maslim, tth:60).
5. Gangguan neurotik, somatoform dan gangguan stres.
Gangguan neurotik, somatoform dan gangguan stes merupakan satu kesatuan dari
gangguan jiwa yang disebabkan oleh faktor psikologis. (Maslim, tth:72).
6. Sindrom perilaku yang berhubungan dengan gangguan fisiologis dan faktor fisik.
Gangguan mental yang biasanya ditandai dengan mengurangi berat badan dengan
segaja, dipacu dan atau dipertahankan oleh penderita (Maslim, tth:90).
7. Gangguan kepribadian dan perilaku masa dewasa Suatu kondisi klinis yang bermakna
dan pola perilaku yang cenderung menetap, dan merupakan ekspresi dari pola hidup
yang khas dari seseorang dan cara-cara berhubungan dengan diri-sendiri maupun orang
lain (Maslim, tth:102).
8. Retardasi mental
Retardasi mental adalah keadaan perkembangan jiwa yang terhenti atau tidak lengkap,
terutama ditandai oleh terjadinya hendaya keterampilan selama masa perkembangan
sehingga berpengaruh pada tingkat keceradsan secara menyeluruh (Maslim, tth:119).
9. Gangguan perkembangan psikologis.
Gangguan yang disebabkan kelambatan perkembangan fungsifungsi yang berhubungan
erat dengan kematangan biologis dari susunan saraf pusat, dan berlangsung secara terus
menerus tanpa adanya remisi dan kekambuhan yang khas. Yang dimaksud “yang khas”
ialah hendayanya berkurang secara progresif dengan bertambahnya usia anak (walaupun
defisit yang lebih ringan sering menetap sampai masa dewasa) (Maslim, tth:122).
10. Gangguan perilaku dan emosional dengan onset masa kanakkanak.
Gangguan yang dicirikan dengan berkurangnya perhatian dan aktivitas berlebihan.
Berkurangnya perhatian ialah dihentikannya terlalu dini tugas atau suatu kegiatan
sebelum tuntas/selesai. Aktivitas berlebihan (hiperaktifitas) ialah bentuk kegelisahan
yang berlebihan, khususnya dalam situasi yang menuntut keadaan yang relatif tenang
(Maslim, tth:136). Berkaitan dengan pemaparan di atas, Sutardjo A. Wiramihardja
(2004:15-16), mengungkapkan bahwa gangguan mental (mental disorder) memiliki

6
rentang yang lebar, dari yang ringan sampai yang berat. Secara ringkas dapat
diklasifikasikan sebagai berikut:

a) Gangguan emosional (emotional distubance) merupakan integrasi kepribadian yang


tidak adekuat (memenuhi syarat) dan distress personal. Istilah ini lebih sering
digunakan untuk perilaku maladaptive pada anak-anak.

b) Psikopatologi (psychopathology), diartikan sama atau sebagai kata lain dari


perilaku abnormal, psikologi abnormal atau gangguan mental.

c) Sakit mental (mental illenes), digunakan sebagai kata lain dari gangguan mental,
namun penggunaannya saat ini terbatas pada gangguan yang berhubungan dengan
patologi otak atau disorganisasi kepribadian yang berat.

d) Gangguan mental (mental disorder) semula digunakan untuk nama gangguan


gangguan yang berhubungan dengan patologi otak, tetapi saat ini jarang
digunakan. Nama inipun sering digunakan sebagai istilah yang umum untuk setiap
gangguan dan kelainan.

e) Ganguan prilaku (behavior disorder), digunakan secara khusus untuk gangguan


yang berasal dari kegagalan belajar, baik gagal mempelajari kompetensi yang
dibutuhkan ataupun gagal dalam mempelajari pola penanggulangan masalah yang
maladaptif.

f) Gila (insanity), merupakan istilah hukum yang mengidentifikasikan bahwa individu


secara mental tidak mampu untuk mengelolah masalahmasalahnya atau melihat
konsekuensikonsekuensi dari tindakannya. Istilah ini menunjuk pada gangguan
mental yang serius terutama penggunaan istilah yang bersangkutan dengan pantas
tidaknya seseorang yang melakukan tindak pidana di hukum atau tidak.

2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Timbulnya Gangguan Mental (Mental Disorder)

Untuk mendapatkan jawaban mengenai faktor faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya


gangguan mental (mental disorder), maka yang perlu ditelusuri pertama kali adalah faktor dominan
yang dapat mempengaruhi kepribadian seseorang. Dalam hal ini, penulis merujuk pada pendapat

7
Kartini Kartono (1982:81), yang membagi faktor dominan yang mempengaruhi timbulnya
gangguan mental (mental disorder) ke dalam dua faktor, yaitu:

1) Faktor Organis (somatic), misalnya terdapat kerusakan pada otak dan proses dementia.

2) Faktor-faktor psikis dan struktur kepribadiannya, reaksi neuritis dan reaksi psikotis
pribadi yang terbelah, pribadi psikopatis, dan lain-lain. Kecemasan, kesedihan,
kesakitan hati, depresi, dan rendah diri bisa menyebabkan orang sakit secara psikis,
yaitu yang mengakibatkan ketidakseimbangan mental dan desintegrasi kepribadiannya.
Maka sruktur kepribadian dan pemasakan dari pengalaman-pengalaman dengan cara
yang keliru bisa membuat orang terganggu psikisnya. Terutama sekali apabila beban
psikis ternyata jauh lebih berat dan melampaui kesanggupan memikul beban tersebut.

3) Faktor-faktor lingkungan (milieu) atau faktor-faktor sosial. Usaha pembangunan dan


modernisasi, arus urbanisasi dan industialisasi menyebabkan problem yang dihadapi
masyarakat modern menjadi sangat kompleks. Sehingga usaha penyesuaian diri
terhadap perubahan-perubahan sosial dan arus moderenisasi menjadi sangat sulit.
Banyak orang mengalami frustasi, konflik bathin dan konflik terbuka dengan orang
lain, serta menderita macam-macam gangguan psikis.

3. Pencegahan Gangguan Mental

Tujuan utama pencegahan gangguan mental adalah membimbing mental yangsakit agar
menjadi sehat mental danmenjaga mental yang sehat agar tetap sehat. Namun sebelumnya akan
penulis paparkan terlebih dahulu tentang pengertian pencegahan gangguan mental.

1) Pengertian Pencegahan Gangguan Mental

Dalam dunia kesehatan mental pencegahan didefinisikan sebagai upaya mempengaruhi


dengan cara yang positif dan bijaksana dari lingkungan yang dapat menimbulkan kesulitan atau
kerugian. (Prayitno, 1994:205). Sementara AF. Jaelani (2000:87), berpendapat bahwa pencegahan
mempunyai pengertian sebagai metode yang digunakan manusia untuk menghadapi diri sendiri
dan orang lain guna meniadakan atau mengurangi terjadinya gangguan kejiwaan. Dengan
demikian pencegahan gangguan mental didasarkan pada upaya individu terhadap diri dan orang

8
lain untuk menekan serendah mungkin agar tidak terjadi gangguan mental sesuai dengan
kemampuannya.

2) Upaya pencegahan

Banyak para ahli yang memberikan metode upaya pencegahan mulai dari faktor yang
mempengaruhi sampai akibat yang ditimbulkan. Pada dasarnya upaya pencegahan ialah
didasarkan pada prinsip-prinsip kesehatan mental. Prinsipprinsip yang dimaksud adalah:

a) Gambaran dan sikap baik terhadap diri-sendiri


Orang yang memiliki kemampuan mnyesuaikan diri, baik dengan diri
sendiri maupun hubungan dengan orang lain, hubungan dengan alam lingkungan,
serta hubungan dengan Tuhan. Hal ini dapat diperoleh dengan cara penerimaan diri,
keyakinan diri dan kepercayaan kepada diri-sendiri (Yahya, 1993:83).

b) Keterpaduan atau integrasi diri

Berarti adanya keseimbangan antara kekuatan-kekuatan jiwa dalam diri,


kesatuan pandangan (falsafah dalam hidup) dan kesanggupan mengatasi
ketegangan emosi (stres) (Yahya, 1993:84).

c) Pewujudan diri (aktualisasi diri)

Merupakan sebuah proses pematangan diri dapat berarti sebagai


kemampuan mempengaruhi potensi jiwa dan memiliki gambaran dan sikap yang
baik terhadap diri-sendiri serta meningkatkan motivasi dan semangat hidup. Oleh
karena itu, agar terhindar dari gangguan mental, maka sedapat mungkin
mengaktualisasikan diri dan memenuhi kebutuhan dengan baik dan memuaskan
(Kartono, 1986:231). Dengan demikian upaya pencegahan dapat berhasil apabila
manusia dapat berpotensi untuk menjadikan dirinya sebagai yang terbaik dan tidak
hanya pasrah pada kemampuan dasar manusia seperti menggembangkan bakat dan
sebagainya.

d) Kemampuan menerima orang lain

9
Melakukan aktivitas sosial dan menyesuaikan diri dengan lingkunagn
tempat tinggal. Lingkungan di samping sebagai faktor penyebab timbulnya
gangguan mental, juga memiliki peran penting dalam usaha mencegah timbulnya
gangguan mental. Sebab bagi individu yang tidak mampu menyesuaikan diri
dengan lingkungannya, dapat menyebabkan timbulnya kecemasan dan kesulitan
dalam mengahadapi tuntutan dan persoalan yang dapat terjadi setiap hari. (Syukur,
2000:13). Dalam ungkapan kata lain disebtkan bahwa mereka yang tidak
mempunyai ikatan status di masyarakat dan mereka yang tidak mempunyai fungsi
atau peran dalam masyarakat lebih mudah mengalami gangguan kejiwaan.
(Hawari, 1999:11). Sebagai upaya pencegahannya manusia sedapat mungkin
menghindarinya, yaitu dengan melakukan aktivitas sosial dalam masyarakat, dan
lain sebagainya.

e) Agama dan falsafah hidup.

Dalam hal ini agama berfungsi sebagai therapy bagi jiwa yang gelisah dan
terganggu. Selain itu agama juga berperan sebagai alat pencegah (preventif)
terhadap kemungkinan gangguan mental dan merupakan faktor pembinaan
(konstruktif) bagi kesehatan mental. (Daradjat, 1975:80). Dengan keyakinan
beragama, berarti seseorang telah hidup dekat dengan Tuhan serta tekun
menjalankan agama. Pada akhirnya akan terwujud kesehatan mental secara utuh.
Sedangkan falsafah hidup merupakan wujud dari kumpulan prinsip atau nilai-nilai.
Sehingga setiap orang berusaha sesuai dengan ketentuannya. Dengan demikian
apabila seseorang memiliki falsafah hidup, maka akan dapat menghadapi
tantangannya dengan mudah (Fahmi, 1982:92).

f) Pengawasan diri

Agar dapat terhindar dari gangguan mental, maka sedapat mukin


melindungi diri dari dorongan dan keinginan atau berbuat maksiat dengan
mengawasi diri kita. Secara umum orang yang wajar adalah orang yang mampu
mengendalikan keinginannya dan mampu menunda sebagian dari pemenuhan
kebutuhannya, serta bersedia meninggalkan kelezatankelezatan dengan segera,

10
demi untuk mencapai keuntungan (pahala) yang lebih lama sifatnya serta lebih
kekal. (Fahmi, 1982:114). Manfaat lain dari pengawasan diri adalah
menghindarkan seseorang dari perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan
norma dan adat yang berlaku. Berdasarkan pada eksplorasi di atas, maka dapat
disimpulkan bahwa pencegahan gangguan mental dimaksudkan untuk mewujudkan
kesehatan mental yang didasarkan pada kemauan dan kemampuan setiap pribadi
untuk merubah dari masalah yang buruk agar menjadi baik.

c. Penyandang Cacat / Disabilitas

Pengertian Penyandang Disabilitas Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia1 penyandang


diartikan dengan orang yang menyandang (menderita) sesuatu. Sedangkan disabilitas merupakan
kata bahasa Indonesia yang berasal dari kata serapan bahasa Inggris disability (jamak: disabilities)
yang berarti cacat atau ketidakmampuan.

Menurut Peraturan Daerah Provinsi Lampung Nomor 10 Tahun 2013 tentang Pelayanan
dan Pemenuhan Hak-Hak Penyandang Disabilitas, penyandang disabilitas adalah setiap orang
yang mempunyai kelainan fisik dan/atau mental yang dapat mengganggu atau merupakan
rintangan dan hambatan baginya untuk melakukan kegiatan secara selayaknya, yang terdiri dari:
penyandang disabilitas fisik, penyandang disabilitas mental serta penyandang disabilitas fisik dan
mental. Orang berkebutuhan khusus (disabilitas) adalah orang yang hidup dengan karakteristik
khusus dan memiliki perbedaan dengan orang pada umumnya. Karena karakteristik yang berbeda
inilah memerlukan pelayanan khusus agar dia mendapatkan hak-haknya sebagai manusia yang
hidup di muka bumi ini.Orang berkebutuhan khusus memiliki defenisi yang sangat luas, mencakup
orang-orang yang memiliki cacat fisik, atau kemampuan IQ (Intelligence Quotient) rendah, serta
orang dengan permasalahan sangat kompleks, sehingga fungsi-fungsi kognitifnya mengalami
gangguan. Penyandang Cacat dalam pokok-pokok konvensi point 1 (pertama) pembukaan
memberikan pemahaman, yakni; Setiap orang yang mempunyai kelainan fisik dan/atau mental,
yang dapat menganggu atau merupakan rintangan dan hamabatan baginya untuk melakukan secara
selayaknya, yang terdiri dari, penyandang cacat fisik; penyandang cacat mental; penyandang cacat
fisik dan mental. Menurut Peraturan Daerah Provinsi Lampung Nomor 10 Tahun 2013 tentang
Pelayanan dan Pemenuhan Hak-Hak Penyandang Disabilitas, penyandang disabilitas adalah setiap
orang yang mempunyai kelainan fisik dan/atau mental yang dapat mengganggu atau merupakan

11
rintangan dan hambatan baginya untuk melakukan kegiatan secara selayaknya, yang terdiri dari:
penyandang disabilitas fisik, penyandang disabilitas mental serta penyandang disabilitas fisik dan
mental.

Orang berkebutuhan khusus (disabilitas) adalah orang yang hidup dengan karakteristik
khusus dan memiliki perbedaan dengan orang pada umumnya. Karena karakteristik yang berbeda
inilah memerlukan pelayanan khusus agar dia mendapatkan hak-haknya sebagai manusia yang
hidup di muka bumi ini.Orang berkebutuhan khusus memiliki defenisi yang sangat luas, mencakup
orang-orang yang memiliki cacat fisik, atau kemampuan IQ (Intelligence Quotient) rendah, serta
orang dengan permasalahan sangat kompleks, sehingga fungsi-fungsi kognitifnya mengalami
gangguan.

b. Jenis-jenis Disabilitas

Terdapat beberapa jenis orang dengan kebutuhan khusus/disabilitas. Ini berarti bahwa setiap
penyandang disabilitas memiliki defenisi masing-masing yang mana kesemuanya memerlukan
bantuan untuk tumbuh dan berkembang secara baik.

Jenis-jenis penyandang disabilitas 5 :

1. Disabilitas Mental. Kelainan mental ini terdiri dari:

a) Mental Tinggi.

Sering dikenal dengan orang berbakat intelektual, di mana selain memiliki


kemampuan intelektual di atas rata-rata dia juga memiliki kreativitas dan
tanggungjawab terhadap tugas.

b) Mental Rendah

Kemampuan mental rendah atau kapasitas intelektual/IQ (Intelligence


Quotient) di bawah rata-rata dapat dibagi menjadi 2 kelompok yaitu anak lamban
belajar (slow learnes) yaitu anak yang memiliki IQ (Intelligence Quotient) antara
70-90. Sedangkan anak yang memiliki IQ (Intelligence Quotient) di bawah 70
dikenal dengan anak berkebutuhan khusus.

12
c) Berkesulitan Belajar Spesifik

Berkesulitan belajar berkaitan dengan prestasi belajar (achievment) yang diperoleh

2. Disabilitas Fisik. Kelainan ini meliputi beberapa macam, yaitu7:

a. Kelainan Tubuh (Tuna Daksa)

Tunadaksa adalah individu yang memiliki gangguan gerak yang disebabkan


oleh kelainan neuro-muskular dan struktur tulang yang bersifat bawaan, sakit atau
akibat kecelakaan (kehilangan organ tubuh), polio dan lumpuh.

b. Kelainan Indera Penglihatan (Tuna Netra)

Tunanetra adalah individu yang memiliki hambatan dalam penglihatan.


Tunanetra dapat diklasifikasikan kedalam dua golongan yaitu: buta total (blind) dan
low vision.

c. Kelainan Pendengaran (Tunarungu)

Tunarungu adalah individu yang memiliki hambatan dalam pendengaran


baik permanen maupun tidak permanen. Karena memiliki hambatan dalam
pendengaran individu tunarungu memiliki hambatan dalam berbicara sehingga
mereka biasa disebut tunawicara.

d. Kelainan Bicara (Tunawicara)

Adalah seseorang yang mengalami kesulitan dalam mengungkapkan


pikiran melalui bahasa verbal, sehingga sulit bahkan tidak dapat dimengerti oleh
orang lain. Kelainan bicara ini dapat dimengerti oleh orang lain. Kelainan bicara
ini dapat bersifat fungsional di mana kemungkinan disebabkan karena
ketunarunguan, dan organik yang memang disebabkan adanya ketidaksempurnaan
organ bicara maupun adanya gangguan pada organ motorik yang berkaitan dengan
bicara.

4. Tunaganda (disabilitas ganda).Penderita cacat lebih dari satu kecacatan (yaitu cacat fisik
dan mental)

13
d. Tunawisma/ Gelandangan
a. Definisi

Homeless atau tunawisma menggambarkan seseorang yang tidak memiliki tempat tinggal
secara tetap maupun yang hanya sengaja dibuat untuk tidur. Tunawisma biasanya di golongkan ke
dalam golongan masyarakat rendah dan tidak memiliki keluarga. Masyarakat yang menjadi
tunawisma bisa dari semua lapisan masyarakat seperti orang miskin, anak-anak, masyarakat yang
tidak memiliki keterampilan, petani, ibu rumah tangga, pekerja sosial, tenaga kesehatan
profesional serta ilmuwan. Beberapa dari mereka menjadi tunawisma karena kemiskinan atau
kegagalan sistem pendukung keluarga mereka. Selain itu alasan lain menjadi tunawisma adalah
kehilangan pekerjaan, ditinggal oleh keluarga, kekerasan dalam rumah tangga, pecandu alkohol,
atau cacat. Walaupun begitu apapun penyebabnya, tunawisma lebih rentan terhadap masalah
kesehatan dan akses ke pelayanan perawatan kesehatan berkurang

a. Faktor Penyebab Munculnya Tunawisma


1) Kemiskinan

Kemiskinan merupakan faktor dominan yang menyebabkan banyaknya gelandangan,


pengemis dan anak jalanan. Kemiskinan dapat memaksa seseorang menjadi gelandangan karena
tidak memiliki tempat tinggal yang layak, serta menjadikan mengemis sebagai pekerjaan.
Ketidakmampuan seseorang untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan keluarga membuatnya
dalam garis kemiskinan. Penghasilan yang tidak menentu berbanding terbalik dengan pengeluaran
membuat seseorang rela menjadi tunawisma untuk tetap bertahan hidup.Selain itu anak dari
keluarga miskin menghadapi risiko yang lebih besar untuk menjadi anak jalanan karena kondisi
kemiskinan yang menyebabkan mereka kerap kali kurang terlindung.

2) Rendah tingginya pendidikan

Rendahnya pendidikan sangat berpengaruh terhadap kesejahteraan seseorang. Pendidikan


sangat berpengaruh terhadap persaingan didunia kerja. Seseorang dengan pendidikan rendah akan
sangat sulit mendapatkan sebuah pekerjaan yang layak. Sedangkan mereka juga memerlukan biaya
untuk mencukupi semua kebutuhan hidupnya. Pada umumnya tingkat pendidikan gelandangan dan
pengemis relatif rendah sehingga menjadi kendala bagi mereka untuk memperoleh pekerjaan yang
layak.

14
3) Keluarga

Keluarga adalah tempat seseorang mendapatkan kasih sayang dan perlindungan yang lebih
daripada lingkungan lain. Namun, hubungan keluarga yang tidak harmonis atau anak dengan
keluarga broken home membuat mereka merasa kurang perhatian,kemyamanan dan ketenangan
sehingga mereka cenderung mencari kebebasan, belas kasih dan ketenangan dari orang lain.

4) Umur

Umur yang semakin rentan serta kemampuan fisik yang menurun, membuat seseorang lebih
sulit mendapatkan pekerjaan. Hal ini menyebabkan mereka sulit untuk memenuhi kebutuhannya.
Menjadi tunawisma merupakan alternatif terakhir mereka untuk bertahan hidup.

5) Cacat Fisik

Kondisi fisik yang tidak sempurna membuat seseorang sulit mendapatkan pekerjaan.
Kebanyakan seserang yang memiliki cacat fisik memilih menjadi tunawisma untuk dapat bertahan
hidup. Menurut Kolle (Riskawati dan Syani ( 2012 ) kondisi kesejahteraan seseorang dapat diukur
melalui kondisi fisiknya seperti kesehatan.

6) Rendahnya ketrampilan

Ketrampilan sangatlah penting dalam kehidupan,dengan ketrampilan seseorang dapat memiliki


asset produksi. Namun, ketrampilan perlu digali salah satunya melalui pendidikan serta
membutuhkan modal pendukung untuk dikembangkan. Hal inilah yang menjadi penghambat
seseorang dalam mengembangkan ketrampilan yang dimilki. Ketidakberdayaan inilah yang
membuat seseorang memilih menjadi tunawisma untuk bertahan hidup. Pada umumnya
gelandangan dan pengemis tidak memiliki keterampilan yang sesuai dengan tuntutan pasar kerja.

7) Masalah sosial budaya

Ada beberapa faktor sosial budaya yang menagkibatkan seseorang menjadi gelandangan dan
pengemis. Antara lain:

15
a. Rendahnya harga diri.

Rendahnya harga diri kepada sekelompok orang, mengakibatkan mereka


tidak memiliki rasa malu untk meminta-minta. Dalam hal ini, harga diri bukanlah
sesuatu yang berharga bagi mereka. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya
tunawisma yang berusia produktif.

b. Sikap pasrah pada nasib.

Mereka manggap bahwa kemiskinan adalah kondisi mereka sebagai


gelandangan dan pengemis adalah nasib, sehingga tidak ada kemauan untuk
melakuan perubahan.

c. Kebebasan dan kesenangan hidup mengelandang.

8) Faktor Lingkungan

Menjadi gelandangan dan pengemis dapat disebabkan oleh faktor lingkungan yang
mendukungnya. Contohnya saja jika bulan ramadhan banyak sekali ibu-ibu rumah tangga yang
bekerja sebagai pengemis. Momen ini digunakan mereka mencari uang untuk membantu suaminya
mencari nafkah. Tentu hal ini akan mempengaruhinya untuk melakukan pekerjaan yang sama,
terlebih lagi melihat penghasilan yang didapatkan lumayan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

9) Letak Geografis

Kondisi wilayah yang tidak dapat diharapkan potensi alamnya membuat masyarakat yang
tinggal di daerah tersebut mengalami kemiskinan dan membuat masyarakat harus meninggalkan
tempat tersebut untuk mencari peruntungan lain. Akan tetapi, keputusannya untuk pindah ke kota
lebih memperburuk keadaan. Tidak adanya potensi yang alam sedia untuk diolah membuat
masyarakat tersebut semakin masuk dalam garis kemiskinan, dan membuatnya menjadi
gelandangan. Oleh karena itu ia lebih memilih menjadi pengemis sehingga kebutuhan hidupnya
sedikit terpeuhi dengan uang hasil meminta-minta

16
10) Lemahnya penangan masalah gelandangan dan pengemis

Penanganan masalah gelandangan dan pengemis yang dilakukan oleh pemerintah hanya
setengah hati. Selama ini penanganan yang telah nyata dilakukan adalah razia, rehabilitasi dalam
panti sosial, kemudian setelah itu dipulangkan ketempat asalnya. Pada kenyataannnnya,
penanganan ini tidak menimbulkan efek jera bagi mereka sehingga suatu saat mereka akan kembali
lagi menjadi gelandangan dan pengemis. pada proses penanganan hal yang dilakukan adalah
setelah dirazia mereka dibawa kepanti sosial untuk mendapat binaan, bagi yang sakit dan yang
berusia renta akan tetap tinggal di panti sosial sedangkan yang lainnya akan dipulangkan. Proses
ini dirasakan terlalu mudah dan enak bagi gelandangan dan pengemis sehingga ia tidak perlu takut
apabila terjaring razia lagi. hal inilah yang membuat mereka terus mengulang kegiatan yang sama
yakni menjadi gelandangan dan pengemis.

e. Asuhan keperawatan pada agregat populasi mental


1. kasus

seorang perempuan, usia 30 tahun,dengan dua orang anak pulang dari rumah sakit setelah
20 hari dirawat di rumah sakit, perempuan tersebut dirawat karena marah-marah, tertawa,
berbicara sendiri, merusak alat rumah tangga dan curiga dengan suaminya. Diagnosa medis
skizofrenia. Suami perempuan tersebut bekerja sebagai buruh di kota dan pulang seminggu
sekali. Perempuan tersebut sudah 2 kali dirawat di rumah sakit. Dirumah ia hanya tinggal dengan
kedua anaknya, 1 minggu setelah pulang kader melaporkan keperawat puskesmas bahwa
perempuan tersebut mulai marah-marah, bicara dan tertawa sediri lagi dan tidak mau minum obat

A. Pengkajian :

Satu minggu setelah pulang dari rumah sakit perempuan tersebut marah-marah, bicara sendiri,
tertawa sendiri, merusak alat rumah tangga, dan curiga dengan suaminya. Selama satu minggu
terakhir perempuan tersebut tidak minum obat.

B. Diagnosa keperawatan

Individu :

Dx : Halusinasi

17
Resiko perilaku kekerasan

Penatalaksanaan regimen terapeutik inefektif

Keluarga :

Kurang pengetahuan

Perencanaan :

Tujuan jangka panjang

Individu

1. Halusinasi berkurang atau hilang


2. Perilaku mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan dapat di cegah
3. Patuh dalam penatalaksanaan regimen terapeutik

Keluarga

Merawat pasien dengan halusinasi, resiko perilakukekerasan dan penatalaksanaan regimen


terapeutik inefektif

Tujuan jangka pendek

Individu

1. Mengenal masalah dan mengontrol halusinasi dengan 4 cara : menghardik, bercakap-


cakap, kegiatan terjaduan dan patuh minum obat
2. Mengontrol prilaku kekerasan dengan cara : fisik, sosial, spiritual, deescalasi dan patuh
obat
3. Memahami manfaat 6 benar obat dan dampak bila putus obat

Keluarga

1. Mengenal masalah halusinasi, resiko perilaku kekerasan dan penatalaksanaan regimen


terapeutik
2. Memutuskan cara merawat perempuan tersebut
3. Memodivikasi lingkungan
4. Melakukan follow-up dan rujukan

18
Tindakan

Individu

1. Melatih mengontrol halusinasi dengan 4 cara : menghardik, bercakap-cakap, kegiatan


terjadual dan patuh minum obat
2. Melatih mengontrol prilaku kekerasan dengan cara: fisik, sosial, spiritual, deescalasi dan
patuh obat
3. Mendiskusikan tentang manfaat obat

Keluarga :

1. Melatih mengenal masalah


2. Melatih keluarga mengambil keputusan
3. Melatih keluarga cara memodivikasi lingkungan
4. Melatih keluarga cara merawat ODGJ dengan halusinasi, resiko perilaku kekerasan dan
ketidak efektifan penatalaksanaan regimen terapeutik

Evaluasi :

Individu :

1. Halusinasi terkontrol atau hilang


2. Tidak menciderai diri, orang lain dan lingkungsn
3. Patuh minum obat
4. Keluarga
5. Pengetahuan keluarga meningkat
6. Mampu merawat perempuan tersebut

Pencegahan :

Primer : pendidikan kesehatan dan melatih cara manajemen setres untuk suami dan anak-anak
pasien tersebut

Sekunder : monitor kepatuhan minum obat dan memberikan perawatan

Tersier : meningkatkan kemampuan koping dan mengembangkan sistem pendukung

19
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Populasi rentan atau populasi beresiko adalah kondisi yang mempengaruhi


kondisi seseorang atau populasi untuk menjadi sakit atau sehat (Kaakinen, Hanson,
Birenbaum dalam Stanhope & Lancaster, 2004). Pandera mengkategorikan faktor resiko
kesehatan antara lain genetik, usia, karakteristik biologi, kesehatan individu, gaya hidup
dan lingkungan. Jika seseorang dikatakan rawan apabila mereka berhadapan dengan
penyakit, bahaya, atau outcome negatif. Faktor pencetusnya berupa genetik, biologi atau
psikososial. Populasi rawan atau rentan merupakan kelompok-kelompok sosial yang
memiliki peningkatan risiko yang relatif atau rawan untuk menerima pelayanan
kesehatan. Kenyataan menunjukan bahwa Indonesia memiliki banyak peraturan
perundangundangan yang mengatur tentang Kelompok Rentan, tetapi tingkat
implementasinya sangat beragam. Sebagian undang-undang sangat lemah
pelaksanaannya, sehingga keberadaannya tidak memberi manfaat bagi masyarakat.
Disamping itu, terdapat peraturan perundang-undangan yang belum sepenuhnya
mengakomodasi berbagai hal yang berhubungan dengan kebutuhan bagi perlindungan
kelompok rentan. Keberadaan masyarakat kelompok rentan yang merupakan mayoritas di
negeri ini memerlukan tindakan aktif untuk melindungi hak-hak dan kepentingan-
kepentingan mereka melalui penegakan hukum dan tindakan legislasi lainnya. Hak asasi
orang-orang yang diposisikan sebagai masyarakat kelompok rentan belum terpenuhi
secara maksimal, sehingga membawa konsekuensi bagi kehidupan diri dan keluarganya,
serta secara tidak langsung juga mempunyai dampak bagi masyarakat.

B. Saran
Dengan adanya makalah ini maka diharapkan untuk dapat mengaplikasikan pada
kehidupan dengan tujuan untuk mencapai kesejahteraan hidup.

20
DAFTAR PUSTAKA

Anderson, E.T . 2006 . Buku Ajar Keperawatan Komunitas Teori dan Praktik , Jakarta : EGC

Mary A. Nies, Melaine McEwen.Keperawatan kesehatan komunitas dan


keluarga.2019.Elsevier.Singapore

Mubarak, Wahit Iqbal, dkk. (2009). Ilmu Keperawatan Komunitas; Konsep dan Aplikasi. Jakarta
: Salemba Medika

Riyadi. Sugeng (2007), Keperawatan Kesehatan Masyarakat, retieved may 12nd.

Smeltzer, & Bare, 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal. Bedah Brunner dan Suddarth. Jakarta
: EGC

R, Fallen. Catatan Kuliah Keperawatan Komunitas. (2010). Yogyakarta: Nuha Medika

Vaughan, 2000, General Oftamology, Jakarta.

21