Anda di halaman 1dari 11

Jurnal ACSY Politeknik Sekayu Vol VI, No I, Januari Juni 2017

ASAS-ASAS PENGELOLAAN KEUANGAN DESA DALAM


PENCAPAIAN AKUNTABILITAS PENGGUNAAN DANA DESA DI DESA
KARANG AGUNG KABUPATEN PALI
Rosy Armaini
Jurusan Akuntansi Politeknik Negeri Sriwijaya
rosyarmaini@yahoo.com

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauhmana pengelolaan dana desa dalam mencapai tata
kelola keuangan desa yang baik. Keuangan Desa dikelola berdasarkan praktik-praktik pemerintahan yang baik.
Asas-asas Pengelolaan Keuangan Desa menurut Permendagri Nomor 113 Tahun 2014 tentang Pengelolaan
Keuangan Desa yaitu transparan, akuntabel, partisipatif serta dilakukan dengan tertib dan disiplin anggaran.
Kendala umum lainnya yaitu desa belum memiliki prosedur serta dukungan sarana dan prasarana dalam
pengelolaan keuangannya serta belum kritisnya masyarakat atas pengelolaan anggaran pendapatan dan belanja
desa. Besarnya dana yang harus dikelola oleh pemerintah desa memiliki risiko yang cukup tinggi dalam
pengelolaannya, khususnya bagi aparatur pemerintah desa. Fenomena pejabat daerah yang tersangkut kasus
hukum jangan sampai terulang kembali dalam skala pemerintahan desa. Aparatur pemerintah desa dan
masyarakat desa yang direpresentasikan oleh BPD harus memiliki pemahaman atas peraturan perundang-
undangan dan ketentuan lainnya, serta memiliki kemampuan untuk melaksanakan pencatatan, pelaporan dan
pertanggungjawaban.
Kata Kunci: Transparan, Akuntabel, Partisipatif, Tertib dan Disiplin Anggaran.

A. PENDAHULUAN pengaturan Desa, telah ditetapkan beberapa


Desa atau yang disebut dengan nama lain pengaturan tentang Desa.
telah ada sebelum Negara Kesatuan Republik Undang-Undang Desa disusun dengan
Indonesia terbentuk. Sebagai bukti keberadaannya, semangat penerapan amanat konstitusi, berupa
Penjelasan Pasal 18 Undang-Undang Dasar Negara pengakuan terhadap kesatuan masyarakat hukum
Republik Indonesia Tahun 1945 (sebelum adat sebagaimana tertuang dalam Pasal 18B ayat

Negara Indonesia terdapat lebih kurang 250 menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum
Zelfbesturende landschappen adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang
Volksgemeenschappen masih hidup dan sesuai dengan perkembangan
Bali, Nagari di Minangkabau, Dusun dan Marga di masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik
Palembang, dan sebagainya. Indonesia, yang diatur dalam undang-
Daerah-daerah itu mempunyai susunan ketentuan Pasal 18 ayat (7) yang menegaskan
asli dan oleh karenanya dapat dianggap sebagai
daerah yang bersifat istimewa. Negara Republik Pemerintahan Daerah diatur dalam undang-
Indonesia menghormati kedudukan daerah-daerah unda
istimewa tersebut dan segala peraturan negara yang Dengan konstruksi menggabungkan fungsi
mengenai daerah-daerah itu akan mengingati hak- self-governing community dengan local self
hak asal usul daerah tersebut. Oleh sebab itu, government, diharapkan kesatuan masyarakat
keberadaannya wajib tetap diakui dan diberikan hukum adat yang selama ini merupakan bagian dari
jaminan keberlangsungan hidupnya dalam Negara wilayah desa, ditata sedemikian rupa menjadi Desa
Kesatuan Republik Indonesia. Dalam sejarah dan Desa Adat. Desa dan desa adat memiliki fungsi
pemerintahan, keuangan desa, pembangunan desa,

57
Jurnal ACSY Politeknik Sekayu Vol VI, No I, Januari Juni 2017

serta mendapat fasilitasi dan pembinaan dari pemerintah desa wajib menyusun Laporan
pemerintah kabupaten/kota. Dalam posisi seperti Realisasi Pelaksanaan APB Desa dan Laporan
ini, Desa dan Desa Adat mendapat perlakuan yang Pertanggungjawaban Realisasi PelaksanaanAPB
sama dari Pemerintah Pusat dan Pemerintah Desa. Laporan ini dihasilkan dari suatu siklus
Daerah. pengelolaan keuangan desa,yang dimulai dari
Dengan disahkannya UU Nomor 6 Tahun tahapan perencanaan dan penganggaran;
2014 tentang Desa, diharapkan segala kepentingan pelaksanaan dan penatausahaan; hingga pelaporan
dan kebutuhan masyarakat desa dapat diakomodir dan pertanggungjawaban pengelolaan keuangan
dengan lebih baik. Pemberian kesempatan yang desa.
lebih besar bagi desa untuk mengurus tata Dalam tahap perencanaan dan
pemerintahannya sendiri serta pemerataan penganggaran, pemerintah desa harus melibatkan
pelaksanaan pembangunan diharapkan dapat masyarakat desa yang direpresentasikan oleh
meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup Badan Permusyawaratan Desa (BPD), sehingga
masyarakat desa, sehingga permasalahan seperti program kerja dan kegiatan yang disusun dapat
kesenjangan antar wilayah, kemiskinan, dan mengakomodir kepentingan dan kebutuhan
masalah social budaya lainnya dapat diminimalisir. masyarakat desa serta sesuai dengan kemampuan
UU Nomor 6 Tahun 2014 beserta peraturan yang dimiliki oleh desa tersebut. Selain itu
pelaksanaanya telah mengamanatkan pemerintah pemerintah desa harus bisa menyelenggarakan
desa untuk lebih mandiri dalam mengelola pencatatan, atau minimal melakukan pembukuan
pemerintahan dan berbagai sumber daya alam yang atas transaksi keuangannya sebagai wujud
dimiliki, termasuk di dalamnya pengelolaan pertanggungjawaban keuangan yang dilakukannya.
keuangan dan kekayaan milik desa. Dalam APBN- Pengelolaan Keuangan Desa mengatur bahwa
P 2015 telah dialokasikan Dana Desa sebesar ±Rp pendapatan yang direncanakan merupakan
20,776 triliun kepada seluruh desa yang tersebar di perkiraan yang terukur secara rasional yang dapat
Indonesia. Jumlah desa yang ada saat ini sesuai dicapai untuk setiap sumber pendapatan, sedangkan
Permendagri 39 Tahun 2015 sebanyak 74.093 desa. belanja yang dianggarkan merupakan batas
Selain Dana Desa, sesuai UU Desa pasal 72, Desa tertinggi pengeluaran belanja serta Pengeluaran
memiliki Pendapatan Asli Desa dan Pendapatan harus didukung dengan adanya kepastian
Transfer berupa Alokasi Dana Desa; Bagiandari tersedianya penerimaan dalam jumlah yang cukup
Hasil Pajak dan Retribusi Kabupaten/Kota; dan dan tidak dibenarkan melaksanakan kegiatan yang
Bantuan Keuangan dari APBD belum tersedia atau tidak mencukupi kredit
Provinsi/Kabupaten/Kota. anggarannya dalam APB Desa/Perubahan APB
Peran besar yang diterima oleh desa, tentunya Desa.
disertai dengan tanggung jawab yang besar pula.
Oleh karena itu pemerintah desa harus bisa B. LANDASAN TEORI
menerapkan prinsip akuntabilitas dalam tata Keuangan Desa adalah semua hak dan
pemerintahannya, dimana semua akhir kegiatan kewajiban desa yang dapat dinilai dengan uang
penyelenggaraan pemerintahan desa harus dapat serta segala sesuatu berupa uang dan barang yang
dipertanggungjawabkan kepada masyarakat desa berhubungan dengan pelaksanaan hak dan
sesuai dengan ketentuan. Dalam hal keuangan desa, kewajiban Desa (UU Nomor 6 Tahun 2015 tentang

58
Jurnal ACSY Politeknik Sekayu Vol VI, No I, Januari Juni 2017

Desa). Hak dan kewajiban tersebut menimbulkan tidak diskriminatif tentang penyelenggaraan
pemerintahan desa dengan tetap
pendapatan, belanja, pembiayaan yang perlu diatur
memperhatikan ketentuan peraturan
dalam pengelolaan keuangan desa yang baik. perundang-undangan;
2. Akuntabel yaitu perwujudan kewajiban untuk
Sedangkan Dana Desa adalah dana yang
mempertanggungjawabkan pengelolaan dan
bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja pengendalian sumber daya dan pelaksanaan
kebijakan yang dipercayakan dalam rangka
negara yang diperuntukkan bagi Desa yang
pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Asas
ditransfer melalui anggaran pendapatan dan belanja akuntabel yang menentukan bahwa setiap
kegiatan dan hasil akhir kegiatan
daerah kabupaten/kota dan digunakan untuk
penyelenggaraan pemerintahan desa harus
membiayai penyelenggaraan pemerintahan, dapat dipertanggungjawabkan kepada
masyarakat desa sesuai dengan ketentuan
pelaksanaan pembangunan, pembinaan
peraturan perundang undangan;
kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat 3. Partisipatif yaitu penyelenggaraan
pemerintahan desa yang mengikutsertakan
(PP Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan
kelembagaan desa dan unsur masyarakat desa;
Pelaksanaan UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang 4. Tertib dan disiplin anggaran yaitu pengelolaan
keuangan desa harus mengacu pada aturan atau
Desa).
pedoman yang melandasinya.
Siklus pengelolaan keuangan desa B.2. Akuntabilitas Pengelolaan Dana Desa
meliputi perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, Akuntabilitas adalah bentuk kewajiban
pelaporan, dan pertanggungjawaban, dengan mempertanggungjawabkan keberhasilan atau
periodisasi 1 (satu) tahun anggaran, terhitung mulai kegagalan pelaksanaan misi organisasi dalam
tanggal 1 Januari sampai dengan 31 Desember. mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan
Gambaran rincian proses Siklus sebelumnya, melalui suatu media
Pengelolaan Keuangan Desa menurut Permendagri pertanggungjawaban yang dilaksanakan secara
Nomor 113 Tahun 2014 adalah sebagai berikut: periodik (Mardiasmo,2006), Sehingga pengertian
Akuntabilitas Pengelolaan Dana Desa adalah
bentuk pertanggungjawaban yang diamanatkan
oleh peraturan perundang-undangan tentang
pengelolaan Dana Desa yang harus dilaksanakan
dan dipenuhi oleh setiap kegioatan pengelolaan
Keuangan Desa.

B.1. Asas Pengelolaan Keuangan Desa B.3. Struktur Organisasi Keuangan Pemerintah

Keuangan Desa dikelola berdasarkan praktik- Desa

praktik pemerintahan yang baik. Asas-asas Kekuasaan Pengelolaan Keuangan Desa

Pengelolaan Keuangan Desa yaitu transparan, dipegang oleh Kepala Desa. Namun demikian

akuntabel, partisipatif serta dilakukan dengan tertib dalam pelaksanaannya, kekuasaan tersebut

dan disiplin anggaran ( Permendagri Nomor 113 sebagian dikuasakan kepada perangkat desa

Tahun 2014 tentang Pengelolaan Keuangan Desa), sehingga pelaksanaan pengelolaan keuangan

dengan uraian sebagai berikut: dilaksanakan secara bersama-sama oleh Kepala

1. Transparan yaitu prinsip keterbukaan yang Desa dan Pelaksana Teknis Pengelolaan Keuangan
memungkinkan masyarakat untuk mengetahui Desa (PTPKD). Ilustrasi Struktur Organisasi
dan mendapat akses informasi seluas-luasnya
tentang keuangan desa. Asas yang membuka Pengelolaan Keuangan pada pemerintah desa dapat
diri terhadap hak masyarakat untuk digambarkan sebagai berikut:
memperoleh informasi yang benar, jujur, dan

59
Jurnal ACSY Politeknik Sekayu Vol VI, No I, Januari Juni 2017

Sumber: diolah dari PP 43/2014 Pasal 62 dan 64 serta Permendagri Nomor 113 Tahun 2014 pasal
13, Penamaan Seksi bersifat tidak mengikat, disesuaikan dengan ketentuan SOTK Desa
yang diatur lebih lanjut dengan Peraturan Kepala Daerah.

Dalam siklus pengelolaan keuangan desa, pemerintah desa dalam kepemilikan kekayaan
tanggung jawab dan tugas dari Kepala Desa dan milik desa yang dipisahkan. Dalam hal ini,
Pelaksana Teknis Pengelolaan Keuangan Desa. Kepala Desa memiliki kewenangan:
PTPKD terdiri dari Sekretaris Desa, Kepala Seksi a. Menetapkan kebijakan tentang pelaksanaan
dan Bendahara Desa, lebih lanjut tugas dan fungsi APB Desa;
masing-masing jabatan tersebut dapat diuraikan b. Menetapkan Pelaksana Teknis Pengelolaan
sebagai berikut: Keuangan Desa (PTPKD);
1. Kepala Desa c. Menetapkan petugas yang melakukan
Kepala Desa adalah Pemegang Kekuasaan pemungutan penerimaan desa;
Pengelolaan Keuangan Desa dan mewakili

60
Jurnal ACSY Politeknik Sekayu Vol VI, No I, Januari Juni 2017

d. Menyetujui pengeluaran atas kegiatan yang 64 PP Nomor 43 Tahun 2014 dinyatakan bahwa
ditetapkan dalam APB Desa; desa paling banyak terdiri dari 3 (tiga) seksi.
e. Melakukan tindakan yang mengakibatkan Kepala Seksi mempunyai tugas:
pengeluaran atas beban APB Desa. a. Menyusun RAB kegiatan yang menjadi
Kepala Desa memegang jabatan selama 6 tanggungjawabnya;
(enam) tahun terhitung tanggal pelantikan dan b. Melaksanakan kegiatan dan/atau bersama
dapat menjabat paling lama 3 (tiga) kali masa Lembaga Kemasyarakatan Desa yang
jabatan secara berturut-turut atau tidak secara telah ditetapkan di dalam APB Desa;
berturut-turut. Dalam melaksanakan kekuasaan c. Melakukan tindakan pengeluaran yang
Pengelolaan Keuangan Desa, Kepala Desa menyebabkan atas beban anggaran belanja
menguasakan sebagian kekuasaannya kepada kegiatan;
perangkat desa. d. Mengendalikan pelaksanaan dengan
2. Sekretaris Desa melakukan pencatatan dalam Buku
Sekretaris Desa selaku Koordinator PTPKD Pembantu Kas Kegiatan;
membantu Kepala Desa dalam melaksanakan e. Melaporkan perkembangan pelaksanaan
Pengelolaan Keuangan Desa, dengan tugas: kegiatan kepada Kepala Desa;
a. Menyusun dan melaksanakan kebijakan f. Mengajukan SPP dan melengkapinya
pengelolaan APB Desa; dengan bukti-bukti pendukung atas beban
b. Menyusun rancangan peraturan desa pengeluaran pelaksanaan kegiatan.
mengenai APB Desa, perubahan APB 4. Bendahara Desa
Desa dan pertanggungjawaban Bendahara Desa merupakan salah satu unsur
pelaksanaan APB Desa; dari PTPKD yang dijabat oleh kepala/staf
c. Melakukan pengendalian terhadap urusan keuangan dan memiliki tugas untuk
pelaksanaan kegiatan yang telah membantu Sekretaris Desa. Bendahara Desa
ditetapkan dalam APB Desa; mengelola keuangan desa yang meliputi
d. Menyusun pelaporan dan penerimaan pendapatan desa dan
pertanggungjawaban pelaksanaan APB pengeluaran/pembiayaan dalam rangka
Desa; pelaksanaan APB Desa. Penatausahaan
e. Melakukan verifikasi terhadap Rencana dilakukan dengan menggunakan Buku Kas
Anggaran Belanja (RAB), bukti bukti Umum, Buku Kas Pembantu Pajak, dan Buku
penerimaan dan pengeluaran APB Desa Bank. Penatausahaan yang dilakukan antara lain
(SPP). meliputi yaitu:
Sekretaris Desa mendapatkan pelimpahan a. Menerima, menyimpan, menyetorkan /
kewenangan dari Kepala Desa dalam membayar;
melaksanakan Pengelolaan Keuangan Desa, dan b. Memungut dan menyetorkan PPh dan
bertanggungjawab kepada Kepala Desa. pajak lainnya;
3. Kepala Seksi c. Melakukan pencatatan setiap penerimaan
Kepala Seksi merupakan salah satu unsur dari dan pengeluaran serta melakukan tutup
PTPKD yang bertindak sebagai pelaksana buku setiap akhir bulan secara tertib;
kegiatan sesuai dengan bidangnya. Sesuai pasal

61
Jurnal ACSY Politeknik Sekayu Vol VI, No I, Januari Juni 2017

d. Mempertanggungjawabkan uang melalui Buku Bank, Bendahara Desa juga mencatat


laporan pertanggungjawaban. kewajiban perpajakan yang dipotong/dipungut atas
Penatausahaan Keuangan Desa transaksi belanja yang dilakukan. Atas
Penatausahaan Keuangan Desa adalah kegiatan pemotongan/pungutan pajak yang dilakukan,
pencatatan yang khususnya dilakukan oleh Bendahara Desa mencatat dalam Buku Pajak pada
Bendahara Desa. Bendahara Desa wajib melakukan kolom penerimaan. Nilai Potongan/pungutan pajak
pencatatan terhadap seluruh transaksi yang ada didasarkan pada bukti kuitansi sebagaimana telah
berupa penerimaan dan pengeluaran. Bendahara dibahas sebelumnya.
Desa melakukan pencatatan secara sistematis dan Ketika Bendahara Desa melakukan
kronologis atas transaksi-transaksi keuangan yang penyetoran ke Kas Negara dengan batasan waktu
terjadi ( Permendagri Nomor 113 Tahun 2014 yang diatur dalam ketentuan perpajakan melalui
tentang Pengelolaan Keuangan Desa) . form Surat Setoran Pajak (SSP) maka Bendahara
Penatausahaan keuangan desa yang dilakukan Desa mencatat dalam Buku Pembantu Pajak pada
oleh Bendahara Desa dilakukan dengan cara kolom Pengeluaran. Khusus untuk pungutan pajak
sederhana, yaitu berupa PEMBUKUAN belum daerah disesuaikan dengan kondisi daerah
menggunakan jurnal akuntansi. Penatausahaan baik masingmasing, dan jika memang diberlakukan
penerimaan kas maupun pengeluaran kas, kepada desa maka dalam peraturan kepala daerah
Bendahara Desa menggunakan: tersebut harus terdapat pemberian kewenangan
Buku Kas Umum; pemungutan pajak daerah kepada Bendahara Desa.
Buku Kas Pembantu Pajak; dan Jika hal tersebut tidak disebutkan maka Bendahara
Buku Bank. Desa tidak boleh melakukan pemungutan karena
Penatausahaan Belanja Desa tidak ada kewenangan.
Belanja Kegiatan yang bersifat tunai yang Laporan Bendahara Desa
dikeluarkan oleh Bendahara Desa dibuatkan bukti Bendahara Desa wajib
kuitansi pengeluaran dan dicatat oleh Bendahara mempertanggungjawabkan uang melalui laporan
Desa pada Buku Kas Umum. Sedangkan untuk pertanggungjawaban. Laporan
Belanja yang bersifat transfer langsung ke pihak Pertanggungjawaban ini disampaikan setiap bulan
ketiga, Bendahara Desa melakukan pencatatan ke kepada Kepala Desa paling lambat tanggal 10
dalam Buku Bank (tidak dicatat di BKU, karena bulan berikutnya. Sebelumnya, Bendahara Desa
BKU untuk transaksi tunai). (Permendagri Nomor melakukan tutup buku setiap akhir bulan secara
113 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Keuangan tertib, meliputi Buku Kas Umum, Buku Bank,
Desa) Buku Pajak dan Buku Rincian Pendapatan.
Pencatatan penerimaan baik kas maupun Penutupan buku ini dilakukan bersama dengan
transfer harus disertai dengan bukti yang lengkap Kepala Desa (Permendagri 113 Tahun 2014
dan sah serta dicatat secara benar dan tertib. Selain Tentang Pengelolaan Keuangan Desa).
pencatatan transaski pada Buku Kas Umum atau

62
Jurnal ACSY Politeknik Sekayu Vol VI, No I, Januari Juni 2017

BESARAN DANA DESA

Roadmap Alokasi Dana Desa TA 2015 - 2019


2015 2016 2017 2018 2019
URAIAN
APBN APBN-P APBN APBN APBN APBN
Transfer ke Daerah 637.975,1 643.834,6 723.191,2 811.843,7 1.037.911,6 1.118.401,7

% Dana Desa 1,42% 3,23% 6,40% 10,00% 10,00% 10,00%

Dana Desa (miliar) 9.066,2 20.766,2 46.982.1 81.184,3 103.791,1 111.840,2

Rata-rata per desa (juta) 122,4 280,3 628,5 1.095,7 1.400,8 1.509,5

Alokasi Dana Desa- ADD


(miliar) 33.430,8 32.666,4 36.723,9 42.285,9 55.939,8 60.278,0
Bagi Hasil PDRD (miliar)
2.091,1 2.091,0 2.650,4 2.733,8 3.055,3 3.376,7

Total (DD+ADD+BH PDRD) 126.204,2 175.494,9


44.589,0 55.523,6 86.356,4 162.786,3

Rata-rata per desa (juta) 601,8 749,4 1.115,2 1.703,3 2.197,1 2.368,6

Keterangan:
1. Alokasi Transfer ke Daerah TA 2017-2019 berdasarkan Medium-Term Budget Framework
2. Dari 508 kab/kota, yang mempunyai Desa sebanyak 434 kab/kota.
3. Alokasi Dana Desa (ADD) sebesar 10% dari DAU dan DBH dan bagian hasil PDRD sebesar 10% dihitung berdasarkan jumlah
kab/kota yang memiliki Desa.
4. Jumlah Desa pada tahun 2015 sebanyak 74.093 dan berdasarkan data dari Kemendagri (Permendagri No. 56/2015) naik
sebanyak 661 desa sehingga pada tahun 2016 sebanyak 74.754 Desa, dan diasumsikan s.d. tahun 2019 tidak bertambah.

Penggunaan Dana Desa Di Desa Karang Karang Agung sebesar Rp153.857.414,00.


Agung Kabupaten PALI Sedangkan jumlah Dana Desa Tahap II yang belum
Penggunaan Dana Desa Tahun Anggaran ditransfer ke Desa Karang Agung sebesar
2016 di Desa Karang Agung Kecamatan Abab Rp287.011.642,80 atau 40% dari alokasi.
direalisasikan dalam sepuluh kegiatan dengan nilai
Rp357.444.200,00 Alokasi Dana Desa yang C. METODOLOGI PENELITIN
diterima oleh Desa Karang Agung berdasarkan C.1 Jenis Penelitian
Peraturan Bupati Penukal Abab Lematang Ilir Penelitian ini termasuk jenis penelitian
Nomor 819 Tahun 2016 Tanggal 23 Mei 2016 studi literatur dengan mencari referensi teori yang
Tentang Tata Cara Pembagian Dan Penetapan relefan dengan kasus atau permasalahan yang
Rincian Dana Desa Kabupaten Penukal Abab ditemukan.
Lematang Ilir Tahun Anggaran 2016 dan sesuai C.2 Metode Pengumpulan Data
yang tercantum di dalam APBDes Desa Karang Jenis data yang digunakan penulis dalam
Agung Tahun 2016 adalah sebesar penelitian ini adalah data primer dengan melakukan
Rp717.528.776,00. Dana tersebut telah diterima obervasi dan data sekunder yaitu data yang
oleh Desa Karang Agung pada tahap I pencairan diperoleh dari jurnal, buku dokumentasi, dan
tanggal 16 Mei 2016 sebesar Rp430.517.464,20 internet.
dan telah direalisasikan ke dalam sepuluh kegiatan C.2.1 Dokumentasi
dengan nilai realisasi sebesar Rp276.660.050,00 Dokumentasi merupakan metode untuk
sehingga masih terdapat sisa dana desa tahap I yang mencari dokumen atau data-data yang dianggap
belum direalisasikan ke dalam kegiatan oleh Desa penting melalui artikel koran/majalah, jurnal,

63
Jurnal ACSY Politeknik Sekayu Vol VI, No I, Januari Juni 2017

pustaka, brosur, buku dokumentasi serta melalui Metode analisis deskriptif dilakukan dengan cara
media elektronik yaitu internet, yang ada kaitannya mendepenelitiankan fakta-fakta yang kemudian
dengan diterapkannya penelitian ini. disusul dengan analisis, tidak semata-mata
C.2.2 Studi Literatur menguraikan, melainkan juga memberikan
Studi literatur adalah cara yang dipakai pemahaman dan penjelasan secukupnya.
untuk menghimpun data-data atau sumber-sumber
yang berhubungan dengan topik yang diangkat D. PEMBAHASAN
dalam suatu penelitian. Studi literatur bisa didapat Mekanisme dan Tahap Penyaluran Dana
dari berbagai sumber, jurnal, buku dokumentasi, Desa (PMK Nomor 49/PMK.7/ Tahun 2016
internet dan pustaka. Tentang Tata Cara Pengalokasian, Penyaluran,
C.3 Metode Analisis Data Penggunaan, Pemantauan dan Evaluasi Dana Desa)
Data-data yang sudah diperoleh kemudian adalah sebagai berikut:
dianalisis dengan metode analisis deskriptif.

MEKANISME DAN
JADUAL PENYALURAN DANA DESA
TAHAPAN PENYALURAN DD KETERANGAN/
URAIAN
TAHAP I TAHAP 2 TAHAP 3 PERSYARATAN

Proporsi 40% 40% 20% Dasar: Perpres Alokasi DD

Persyaratan:
Penyaluran Dana Desa Perda APBD thn berjalan;
dari Minggu II Minggu II Perkada ttg tata cara pembagian dan
Minggu II Bulan April
PUSAT KE Bulan Agustus Bulan Oktober penetapan DD setiap desa ; dan
KAB./KOTA Laporan realisasi penggunaan tahun
sebelumnya.
Persyaratan:
Tahap I: Penyampaian APB Desa;
Penyaluran Dana Desa
7 hari kerja setelah 7 hari kerja setelah diterima 7 hari kerja setelah diterima Tahap II: Laporan penggunaan tahap I
dari KAB / KOTA KE
diterima di Kas Daerah di Kas Daerah di Kas Daerah (realisasi tahap I<50%).
DESA
Tahap III: Laporan penggunaan tahap
II (realisasi tahap I dan II<50%)

Menteri Keuangan selaku BUN akan menyalurkan Dana Desa dari Rekening Kas Umum Negara (RKUN) ke Rekening
Kas Umum Daerah (RKUD) untuk alokasi per Kab/Kota;
Mekanisme penyaluran dari RKUN ke RKUD sesuai mekanisme APBN untuk Transfer ke Daerah;
Selanjutnya Bupati/Walikota selaku BUD akan menyalurkan alokasi Dana Desa setiap Desa dari RKUD ke Rekening
Kas Desa.
Mekanisme penyaluran dari RKUD ke Rekening Desa sesuai mekanisme Transfer dalam APBD.

Dari hasil Penelitian yang dilakukan menyebabkan masyarakat desa sulit


terhadap Pengelolaan Dana Desa Di Desa Karang mengakses informasi mengenai Dana Desa
Agung Kabupaten PALI dapat diuraikan sebagai yang telah diterima dan realisasi pemanfaatan
berikut: dana desa bagi kepentingan masyarakat
1. Azaz Transparan setempat.
Pengelolaan Dana Desa di Desa Karang 2. Azaz Akuntabilitas
Agung Kabupaten PALI belum dilakukan a. Pencairan Dana Desa dari Rekening Kas
secara transparan, ini terlihat dari minimnya Umum Negara (RKUN) ke Rekening Kas
media informasi yang disediakan oleh Umum Daerah (RKUD) telah dilakukan
Pemerintah Desa. Keterbatasan ini sesuai ketentuan, sedangkan penyaluran

64
Jurnal ACSY Politeknik Sekayu Vol VI, No I, Januari Juni 2017

Dana Desa dari RKUD ke Rekening Kas Buku Bank. Buku Kas Pembantu Pajak
Desa (RKD) dilakukan belum sesuai digunakan oleh Bendahara Desa untuk
dengan Peraturan Menteri Keuangan mencatat penerimaan uang yang berasal
Nomor 49/PMK.07/2016 Pasal 14 ayat (3) dari pungutan pajak dan mencatat
seharusnya waktu penyaluran dana desa pengeluaran berupa penyetoran pajak ke
ke RKD paling lambat 7 (tujuh) hari dana kas Negara. Khusus untuk pendapatan dan
desa diterima di RKUD. pembiayaan, terdapat buku pembantu
Permasalahan tersebut disebabkan hal-hal berupa Buku Rincian Pendapatan dan
sebagai berikut: Buku Rincian Pembiayaan.
- Desa terlambat menyampaikan Berdasarkan buku yang dikelola,
Perdes APBDes; maka seharusnya Laporan
- Desa terlambat menyampaian laporan Pertanggungjawaban Bendahara Desa
realisasi penggunaan Dana Desa menggambarkan arus uang masuk yang
periode sebelumnya, dan diterima dari pendapatan dan arus uang
- Surat Keputusan penetapan yang keluar untuk belanja, panjar dan
pengalokasian dana desa per desa lain-lain. Arus uang tersebut tercatat dari
terlambat ditetapkan. Buku kas Umum dan Buku Bank.
Akibatnya pelaksanaan kegiatan yang c. Pelaporan Kegiatan Dana Desa belum
bersumber dari dana desa terlambat sesuai dengan aturan yang telah
dilaksanakan. ditetapkan
b. Pertanggungjawaban dana tidak sesuai Pelaporan pelaksanaan kegiatan yang
dengan realisasi Output Kegiatan,yaitu bersumber dari Dana Desa secara
nilai pertanggungjawaban lebih kecil berjenjang kepada Camat/Bupati dijumpai
dibandingkan dengan hasil pekerjaan kondisi sebagai berikut:
fisiknya. Hal tersebut disebabkan a. Laporan tahunan penggunaan Dana
kelemahan pengelola dana desa dalam Desa disampaikan tidak tepat waktu.
membuat pertanggungjawaban keuangan b. Laporan Realisasi Penggunaan Dana
Dana Desa sesuai dengan Permendagri Desa belum disusun/dibuat sesuai
Nomor 113 Tahun 2014 tentang ketentuan.
pengelolaan keuangan desa Pasal 26 Seharusnya pelaporan pelaksanaan
bahwa pengeluaran desa harus kegiatan Dana Desa Tahun 2015
berdasarkan APBDesa. Seharusnya tidak dilaksanakan sesuai ketentuan
boleh mengadakan kegiatan melebihi dari berdasarkan:
anggaran yang tersedia a. Peraturan Menteri Keuangan Nomor
Bendahara Desa melakukan 49/PMK.07/2016 tentang Tata Cara
pencatatan atas seluruh penerimaan dan Pengalokasian, Penyaluran,
pengeluaran dalam Buku Kas Umum Penggunaan, Pemantauan dan
untuk yang bersifat TUNAI. Sedangkan Evaluasi Dana Desa pada pasal 25
transaksi penerimaan dan pengeluaran ayat (1), (2), (3) dan (4) yang
yang melalui bank/transfer dicatat dalam menyebutkan pelaporan Dana Desa,

65
Jurnal ACSY Politeknik Sekayu Vol VI, No I, Januari Juni 2017

dengan ketentuan sebagai berikut: tertib, taat pada ketentuan peraturan


1) Kepala desa menyampaikan perundang-undangan, efisien, ekonomis,
laporan realisasi penggunaan efektif, transparan, dan bertanggung
Dana Desa setiap tahap kepada jawab dengan memperhatikan rasa
bupati/walikota. keadilan dan kepatutan serta
2) Laporan realisasi penggunaan mengutamakan kepentingan masyarakat
Dana Desa terdiri atas: setempat.
a) Laporan realisasi
Hal ini disebabkan kurangnya pemahaman
penggunaan Dana Desa
SDM pelaksana kegiatan Dana Desa terkait
Tahun anggaran
pelaporan penggunaan dan realisasi Dana Desa.
sebelumnya; dan
Peran dan tanggung jawab yang diterima
b) Laporan realisasi
oleh desa belum diimbangi dengan sumber daya
penggunaan Dana Desa
manusia (SDM) yang memadai baik dari segi
Tahap I.
kuantitas maupun kualitas. Kendala umum lainnya
3) Laporan realisasi penggunaan
yaitu desa belum memiliki prosedur serta
Dana Desa tahun anggaran
dukungan sarana dan prasarana dalam pengelolaan
sebelumnya disampaikan paling
keuangannya serta belum kritisnya masyarakat atas
lambat minggu kedua bulan
pengelolaan anggaran pendapatan dan belanja
februari tahun berjalan.
desa. Besarnya dana yang harus dikelola oleh
4) Laporan realisasi penggunaan
pemerintah desa memiliki risiko yang cukup tinggi
Dana Desa tahap I disampaikan
dalam pengelolaannya, khususnya bagi aparatur
paling lambat minggu kedua
pemerintah desa. Fenomena pejabat daerah yang
bulan Juli tahun anggaran
tersangkut kasus hukum jangan sampai terulang
berjalan.
kembali dalam skala pemerintahan desa. Aparatur
Permendagri Nomor 113
pemerintah desa dan masyarakat desa yang
Tahun 2014 tanggal 31 Desember
direpresentasikan oleh BPD harus memiliki
2014, bahwa laporan Semester I
pemahaman atas peraturan perundang-undangan
disampaikan paling lambat akhir
dan ketentuan lainnya, serta memiliki kemampuan
bulan Juli tahun berjalan.
untuk melaksanakan pencatatan, pelaporan dan
3. Partisipatif
pertanggungjawaban. Oleh karena itu,
Pengelolaan Dana Desa di Desa
sebagaimana diamanatkan dalam UU Desa,
Karang Agung Kabupaten PALI telah
pemerintah, pemerintah provinsi, dan pemerintah
mengikutsertakan Kelembagaan desa dan
kabupaten/kota turut membantu memberdayakan
unsur masyarakat desa dalam pengelolaan
masyarakat desa dengan pendampingan dalam
Dana Desa.
perencanaan, pelaksanaan, dan pemantauan
4. Tertib dan disiplin anggaran
pembangunan desa.
Permasalahan di atas
menunjukkan adanya penyimpangan
E. SIMPULAN
dalam pengelolaan keuangan Dana Desa.
Pengelolaan keuangan desa sebagaimana
Dana Desa seharusnya dikelola secara
diuraikan di atas memberikan gambaran bagaimana

66
Jurnal ACSY Politeknik Sekayu Vol VI, No I, Januari Juni 2017

implementasi pengelolaan keuangan desa yang DAFTAR PUSTAKA


terjadi di Desa Karang Agung Kabupaten PALI,
dimana Dana Desa yang dikucurkan Pemerintah
lewat APBN. Kualitas akuntabilitas keuangan Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014
tentang Peraturan Pelaksanaan UU Nomor 6
desanya tergambar dengan jelas bahwa masih
Tahun 2014 tentang Desa
rendahnya kualitas pengelolaan Keuangan Desa
Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014
yang disebabkan rendahnya kualitas Sumberdaya
tentang Dana Desa yang Bersumber dari
Manusia. APBN
Pelaksanaan APB Desa, yang dihasilkan
Peraturan Presiden Nomor 192 Tahun 2014 tentang
dari suatu siklus pengelolaan keuangan desa,yang Badan Pengawasan Keuangan dan
Pembangunan
dimulai dari tahapan perencanaan dan
penganggaran; pelaksanaan dan penatausahaan; Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113 Tahun
2014 tentang Pengelolaan Keuangan Desa
hingga pelaporan dan pertanggungjawaban
pengelolaan keuangan desa, dilaksanakan belum Peraturan Menteri Keuangan Nomor
49/PMK.07/2016 tentang Tata Cara
tertib, transparan dan akuntabel.
Pengalokasian, Penyaluran, Penggunaan,
Pemantauan dan Evaluasi Dana Desa.

Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang


Desa.

67