Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH PATOFISIOLOGI

PROSES DEGENERATIF

DISUSUN OLEH: KELOMPOK 4

1. TRISNA AFDI PUTRI Y


2. NISRINA NUR HANIFAH
3. NILAM AZIZ
4. NISA ALDILA
5. WENDI DERMAWAN
6. SHALY AKBAR
7. YESI CHANIA
8. SRI AGUS UTAMI
9. HAFSATUL HUSNA

PEMBIMBING: YULASTRI S.Pd M.Biomed

POLTEKKES KEMENKES RI PADANG


PRODI KEPERAWATAN SOLOK

2017/2018

1
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang maha pengasih lagi maha penyayang, kami
ucapkan puji dan syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-
Nya kepada kami, sehingga kami bisa menyelesaikan makalah ini, mengenai PROSES
DEGENERATIF.

Makalah ini sudah selesai kami susun dengan maksimal dengan bantuan dari berbagai
pihak sehingga memperlancar pembuatan makalah ini .

Terlepas dari semua itu, kami menyadari seutuh nya bahwa masih jauh dari kata
sempurna baik dari segi sususnan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu , kami
terbuka untuk menerima segala masukan dan kritik yang bersifat membangun dari pembaca
sehingga kami bisa melakukan perbaikan makalah sehingga menjadi makalah yang baik dan
benar.

Akhir kata kami meminta semoga makalah ini bisa bemanfaat ataupun inspirasi bagi
pembaca.

Solok, Maret 2018

Penyusun

2
DAFTAR ISI

Kata Pengantar .................................................................................................................................................... 2


Daftar Isi ................................................................................................................................................................ 3

BAB I . PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ........................................................................................................................................ 4
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................................................................. 5
1.3 Tujuan Penulisan ..................................................................................................................................... 5
1.4 Manfaat ...................................................................................................................................................... 5

BAB II . PEMBAHASAN
2.1 Pengertian proses degenaratif .................................................................................................. 6
2.2 Faktor predisposisi proses degeneratif .............................................................................. 9
2.3 Proses terjadinya degeneratif.................................................................................................... 11
2.4 Bentuk degeneratif ........................................................................................................................... 14
2.5 Jenis penyakit degeneraatif ........................................................................................................ 17

BAB III. PENUTUP


3.1 Kesimpulan .............................................................................................................................................. 21
3.2 Saran ........................................................................................................................................................... 21

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................................. 22

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Jika kita amati secara sekilas, antara makhluk satu dengan yang lain akan terlihat
perbedaan besar. Namun, jika diteliti lebih mendalam, ternyata semua makhluk mempunyai
banyak persamaan. Satu diantara persamaan tersebut adalah setiap makhluk tersusun atas
satuan atau unit terkecil yang disebut sel. Sel adalah satuan kehidupan yang paling mendasar.
Sel merupakan unit terkecil yang masih dapat menjalankan proses yang berhubungan dengan
kehidupan. Tubuh manusia bersifat dinamis, dalam arti selalu berubah setiap saat. Sel ± sel
yang menyusun tubuh memiliki usia tertentu yang kemudian akan diganti lagi dengan yang
baru, namun pada akhirnya semua sel ± sel akan mengalami kematian secara total. Sepanjang
usia kehidupan akan terjadi efek proses penuaan pada tubuh yang berlangsung terus sampai
batas ± batas tertentu, dan akhirnya akan muncul proses degenerasi (penuaan) dari semua
organ dalam tubuh. Menjadi tua adalah alamiah, namun percepatan atau perburukan proses
degenerasi adalah kesalahan manusia.
Degenerasi sel atau kemunduran sel adalah kelainan sel yang terjadi akibat cedera
ringan. Cedera ringan yang mengenai struktur dalam sel seperti mitokondria dan sitoplasma
akan mengganggu proses metabolisme sel. Kerusakan ini sifatnya reversibel artinya bisa
diperbaiki apabila penyebabnya segera dihilangkan. Apabila tidak dihilangkan, atau
bertambah berat, maka kerusakan menjadi ireversibel, dan sel akan mati. Kelainan sel pada
cedera ringan yang bersifat reversible inilah yang dinamakan kelainan degenerasi.
Degenerasi ini akan menimbulkan tertimbunnya berbagai macam bahan di dalam maupun di
luar sel.
Degenerasi sel atau penuaan sel ditandai dengan menurunnya fungsi berbagai organ
tubuh. Gejala menua tampak secara fisik dan psikis. Tanda fisik misalnya, masa otot
berkurang, lemak meningkat, fungsi seksual terganggu, sakit tulang dan kemampuan kerja
menurun. Sedangkan tanda psikis berupa sulit tidur, mudah cemas, mudah tersinggung,
gairah hidup menurun dan merasa sudah tidak berarti lagi. Faktor pemicu degenerasi sel
antara lain adalah faktor genetis, defisiensi nutrisi dan cedera pada sel.

4
1.2 Rumusan masalah
1. Apa pengertian proses degenaratif?
2. Apa faktor predisposisi proses degeneratif?
3. Bagaimana proses terjadinya degeneratif?
4. Apa bentuk degeneratif?
5. Apa jenis penyakit degeneraatif?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Mengetahui pengertian degeneratif.
2. Mengetahui faktor predisposisi proses degeneratif.
3. Mengetahui proses terjadinya degeneratif.
4. Mengetahui bentuk degeneratif.
5. Mengetahui jenis penyakit degeneratif.

1.4 Manfaat

Dari hasil makalah ini diharapkan dapat bermanfaat bagi penulis, pembaca dan
khususnya Mahasiswa POLTEKKES KEMENKES PADANG PRODI DIII
KEPERAWATAN SOLOK.

5
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Proses Degeneratif

Degenerasi/degeneratif merupakan suatu perubahan keadaan secara fisika dan kimia


dalam sel, jaringan atau organ yang bersifat menurunkan efisiensinya.
Degenerasi sel atau kemunduran sel adalah kelainan sel yang terjadi akibat cedera ringan.
Cedera ringan yang mengenai struktur dalam sel seperti mitokondria dan sitoplasma akan
mengganggu proses metabolisme sel. Kerusakan ini sifatnya reversible artinya bisa
diperbaiki apabila penyebabnya segera dihilangkan. Apabila tidak dihilangkan, atau
bertambah berat, maka kerusakan menjadi ireversibel, dan sel akan mati.
Kelainan sel pada cedera ringan yang bersifat reversible inilah yang dinamakan kelainan
degenerasi. Degenerasi ini akan menimbulkan tertimbunnya berbagai macam bahan di dalam
maupun di luar sel.
Degenerasi dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu pembengkakan sel dan perubahan
perlemakan. Pembengkakan sel timbul jika sel tidak dapat mengatur keseimbangan ion dan
cairan yang menyebabkan hidrasi sel. Sedangkan perubahan perlemakan bermanifestasi
sebagai vakuola-vakuola lemak di dalam sitoplasma dan terjadi karena hipoksia atau bahan
toksik. Perubahan perlemakan dijumpai pada sel yang tergantung pada metabolism lemak
seperti sel hepatosit dan sel miokard. (Sudiono dkk, 2003)
Apabila sebuah stimulus menyebabkan cedera sel, maka perubahan yang pertama kali terjadi
adalah terjadinya kerusakan biokimiawi yang mengganggu proses metabolisme. Sel bisa tetap
normal atau menunjukkan kelainan fungsi yang diikuti dengan perubahan morfologis.

6
Banyak teori tentang terjadinya degeneratif sel yang memicu terjadinya penyakit
degeneratif antara lain teori biologis, teori kejiwaan sosial, teori psikologis, teori kesalahan
genetik, dan teori penuaan akibat metabolisme (Santoso, 2009).

1. Teori biologis
Teori biologis tentang penuaan dapat dibagi menjadi teori intrinsik dan ekstrinsik.
Intrinsik berarti perubahan yang timbul akibat penyebab di dalam sel sendiri, sedang teori
ekstrinsik menjelaskan bahwa penuaan yang terjadi diakibatkan pengaruh lingkungan.
a. Teori Genetik Clock
Menurut teori ini menua telah terprogram secara genetik untuk spesies
tertentu. Tiap spesies di dalam inti selnya mempunyai suatu jam genetik yang
telah diputar menurut suatu replikasi tertentu dan akan menghitung mitosis.
Jika jam ini berhenti, maka spesies akan meninggal dunia.
b. Teori Mutasi Somatik (Error Catastrophe Theory)
Penuaan disebabkan oleh kesalahan yang beruntun dalam jangka waktu yang
lama melalui transkripsi dan translasi. Kesalahan tersebut menyebabkan
terbentuknya enzim yang salah dan berakibat pada metabolisme yang salah,
sehingga mengurangi fungsional sel.
c. Teori Autoimun (Auto Immune Theory)
Menurut teori ini proses metabolisme tubuh suatu saat akan memproduksi zat
khusus. Ada jaringan tubuh tertentu yang tidak tahan terhadap suatu zat,
sehingga jaringan tubuh menjadi lemah dan sakit.
d. Teori Radikal Bebas
Radikal bebas merupakan senyawa/molekul yang mengandung electron bebas
lebih dari satu. Hal ini menyebabkan radikal bebas tersebut bersifat sangat
reaktif. Radikal bebas merupakan rective oxigenes species (ROS). Semua
molekul yamg mengandung oksigen dengan sifat reaktivitas yang tinggi
dikelompokan dalam ROS. Beberapa tipe ROS antara lain hydroxyl radical,
the superoxide anion radical, hydrogen peroxide, singlet oxygen, nitric oxide
radical,hypochlorite radical, dan lipid peroxides. (Percival, 1998; Valco et al.,
2007). Dalam kondisi normal radikal bebas tersebut sebenarnya dapat
menguntungkan antara lain: melawan inflamasi & bakteri dan berperan dalam
mengatur tonus otot polos pada organ tubuh. Paparan radikal bebas yang
berlebihan dapat terjadi dari: sinar ultraviolet, asap rokok, polusi urdara,

7
makanan, insektisida dan stress. Radikal bebas yang berlebihan merupakan
faktor yang menimbulkan terjadinya degenerasi seluler. Hal ini akan
mempermudah terjadinya penyakit-penyakit degenerasi antara lain: diabetes
mellitus, penyakit jantung otoner, katarak senilism kanker, stroke, demensia
dan lain-lain.
e. Teori Pemakaian dan Rusak
elebihan usaha dan stres menyebabkan sel-sel tubuh lelah (rusak).
f. Teori Virus
Perlahan-Lahan Menyerang Sistem Sistem Kekebalan Tubuh (Immunology
Slow Virus Theory). Menurut teori ini penuaan terjadi sebagai akibat dari
sistem imun yang kurang efektif seiring dengan bertambahnya usia.
g. Teori Rantai Silang
Menurut teori ini penuaan terjadi sebagai akibat adanya reaksi kimia sel-sel
yang tua atau yang telah usang menghasilkan ikatan yang kuat, khususnya
jaringan kolagen.

2. Teori Kejiwaan Sosial


a. Aktivitas atau Kegiatan (Activity Theory)
Menurut Havigusrst dan Albrecht (1953) berpendapat bahwa sangat penting bagi
lansia untuk tetap beraktifitas dan mencapai kepuasan.
b. Teori Kepribadian Berlanjut (Continuity Theory)
Perubahan yang terjadi pada lansia sangat dipengaruhi oleh tipe kepribadian yang
dimiliki.
c. Teori Pembebasan (Disengagement Theory)
Teori ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia, seseorang berangsur-angsur
mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya.

3. Teori Psikologis

4. Teori Kesalahan Genetik


Proses menjadi tua ditentukan oleh kesalahan sel genetik DNA di mana sel genetik
memperbanyak diri. Tak jarang jetika proses memperbanyak diri ii sering terjadi kesalahan-
kesalahan sehingga mengakibatkan kesalahan-kesalahan yang berakibat pula pada

8
terhambatnya pembentukan sel berikutnya, sehingga mengakibatkan kematian sel. Pada saat
sel mengalami kematian orang akan tampak menjadi tua.

5. Teori penuaan akibat metabolism

2.2 Faktor Predisposisi Proses Degeneratif

Proses degenerative disebabkan oleh perilaku hidup tidak sehat, diantaranya:

1. Stress Berlebihan

Sejak dulu, kita tahu bahwa stres yang berlebihan dapat menurunkan daya
tahan tubuh seseorang dan memacu resiko penyakit jantung, serta membuat kita tidak
nyaman. Stres yang berlebihan juga memacu penuaan dini. Ibu-ibu yang memiliki
anak-anak dengan penyakit kronis merupakan orang-orang yang mengalami stres, dan
mengalami penuaan dini yang paling ekstrim.

Cara cepat untuk mengurangi stres adalah dengan menarik nafas dalam-dalam
yang disebut dengan pernafasan difragmatik. Untuk jangka panjangnya, luangkan
waktu untuk melakukan hal-hal yang dapat mengurangi stres Anda.

2. Minum Alkohol

Bukan merupakan suatu kebetulan bila alkohol merupakan kabar buruk


mengenai stres. Para wanita sebaiknya membatasi diri meminum minuman
beralkohol. Berbagai gangguan kesehatan juga bisa timbul dari kebiasaan minum
alkohol yang berlebihan. Termasuk serangan jantung, kangker hati, kanker
tenggorokan, dan kanker payudara.

3. Kurang Bergerak

Dengan sedikit menggerakkan tubuh, kita dapat memperpanjang hidup serta


mengurangi kelebihan berat, mengurangi stres, dan bahkan mencegah penyakit
Alzheimer. Langkah pertama yang perlu dilakukan yaitu hanya dengan berjanji pada
diri sendiri bahwa kita akan lebih aktif. Parkirlah mobil dari jauh pintu masuk,
menggunakan tangga dan tidak menggunakan lift, melakukan olahraga/senam, jalan

9
kaki selama 30 menit atau lebih banyak selama lima kali atau lebih dalam satu
minggu.

4. Mengkonsumsi Makanan Berlemak

Lemak yang dikonsumsi secara berlebihan dapat memacu kolesterol tinggi dan
merangsang penyakit jantung. Biasakan diri Anda untuk mengkonsumsi makanan
yang non-kolesterol dan berkadar lemak rendah.

Tips: Takar asupan lemak, jangan lebih dari 10 persen (atau kurang) dari seluruh
kalori.

5. Merokok

Untuk mengurangi bahaya kanker dan kerutan dini, Anda dapat mengganti
rokok dengan permen karet rasa nikotin. Berdasarkan penelitian di tahun 2004,
permen karet rasa nikotin memberikan hasil dua kali lipat dimana perokok berhenti
merokok dibandingkan dengan keinginan/janji si perokok untuk berhenti merokok.

6. Menghirup Udara Polusi

Polusi udara dapat menyebabkan batuk dan sakit mata/mata perih dan hal ini
berhubungan dengan serangan pada penyakit asma dan saluran pernafasan. Usahakan
untuk berada di dalam ruangan sebanyak yang Anda bisa bila kadar udara sedang
tinggi.

7. Terlalu Sering Kena Sinar Matahari

Batasi diri Anda dari sengatan sinar matahari dan gunakan tabir matahari,
paling tidak yang mengandung SPF 15 untuk mencegah resiko kanker kulit dan juga
kerutan.

8. Kurang Tidur

Kurang tidur berhubungan dengan obesitas, diabetes, tekanan darah tinggi dan
masalah ingatan. Singkirkan segera televisi dan benda-benda elektronik lain yang
mengganggu ketenangan dari kamar tidur Anda. Tata ulang kamar tidur Anda dan

10
ciptakan suasana kamar tidur yang nyaman dengan lampu yang temaram yang
membuat Anda tidur dengan nyenyak.

9. Kelebihan Berat Badan

Kelebihan berat badan dapat memicu kemungkinan penyakit serangan jantung,


diabetes, bahkan kanker. Penelitian mutakhir menyatakan jenis diet yang dilakukan
kurang penting dibandingkan dengan komitmen Anda untuk melakukan diet tersebut
dengan disiplin.

10. Mengonsumsi Gula Berlebih

Gula yang berlebihan dapat menaikkan berat badan dan kemungkinan


terserang penyakit jantung. Ahli nutrisi menyarankan untuk menjaga tambahan gula
pada makanan kecil/cemilan dan kue-kue kering sampai 12 sendok teh per hari pada
diet berkalori 2200. Selain itu ganti makanan yang manis-manis dengan buah-buahan
dan sayuran segar

2.3 Proses Terjadi Degeneratif

Terdapat beberapa teori yang menunjukkan proses awal terjadinya penyakit degeneratif
di dalam tubuh manusia, yaitu:
1. Adanya hubungan antara transisi demografi, epidemiologi, dan kesehatan.
Pada tahap awal kematian, penyakit infeksi dan parasitik yang berkaitan dengan
depriviasi kondisi lingkungan dan sosial mengawali penurunan. Pada tahap ini terjadi
seleksi terhadap umur dalam bertahan hidup. Tahap selanjutnya adalah saat di mana
fertilitas mulai menurun. Di sini struktur umur mulai berubah dengan meningkatnya
umur lansia. Pada tahap ini penyakit degeneratif mulai muncul dan penyakit kronis
mulai mewarnai profil kesehatan penduduk. Tahap ketiga adalah saat di mana
kematian dan kelahiran rendah, pada tahap ini penyakit degeneratif menjadi dominan
dalam profil kesehatan penduduk.
Dari uraian tersebut, tampak bahwa gambaran pola penyakit penyebab utama
kematian di Indonesia telah menunjukkan adanya transisi epidemiologi yang diikuti

11
dengan transisi demografi, yakni bergesernya penyebab kematian utama dari penyakit
infeksi ke penyakit non-infeksi (degeneratif). Hal ini tampak pada periode 1986–
2001, di mana terjadi penurunan persentase kematian dari kelompok umur muda (bayi
dan 1–4 tahun) dan peningkatan persentase kematian pada kelompok umur tua (≥ 55
tahun). Dalam kurun waktu 20 tahun (SKRT 1980–2001), proporsi kematian penyakit
infeksi menurun secara signifikan, namun proporsi kematian karena penyakit
degeneratif (jantung dan pembuluh darah, neoplasma, endokrin) meningkat 2–3 kali
lipat. Penyakit stroke dan hipertensi di sebagian besar rumah sakit cenderung
meningkat dari tahun ke tahun dan selalu menempati urutan teratas. Dalam jangka
panjang, prevalensi penyakit jantung dan pembuluh darah diperkirakan akan semakin
bertambah.

2. Perubahan metabolisme tubuh yang ditandai penurunan produksi hormon


testosteron untuk laki-laki dan estrogen untuk perempuan biasanya mulai tampak pada
usia 65 tahun ke atas. Kedua hormon ini tidak hanya berperan dalam pengaturan seks,
tetapi juga dalam proses metabolisme tubuh. Salah satu fungsi dua hormon itu
mendistribusikan lemak ke seluruh tubuh. Akibatnya, lemak menumpuk di perut,
sehingga pada usia lanjut lingkar pinggang selalu terlihat besar. Batasan lingkar
pinggang normal untuk perempuan < 80 cm dan laki-laki < 90 cm. Membesarnya
lingkar pinggang yang diikuti dengan kolesterol dan atau gula darah yang tinggi akan
mengakibatkan sindroma metabolik, yakni terganggunya metabolisme tubuh akibat
pola hidup yang tidak sehat. Dari sinilah mulai terjadi. awal timbulnya penyakit
degeneratif. Besarnya lingkar pinggang dapat disebabkan karena lemak jenuh,
kolesterol, maupun tingginya kadar gula darah. Lemak dalam tubuh seorang lanjut
usia sangat berbahaya.
Selain obesitas, gumpalan lemak dapat mempersempit pembuluh darah.
Lemak tersebut akan menempel pada dinding pembuluh darah sehingga dapat
meningkatkan tekanan darah dan terganggunya metabolisme tubuh (misal:
penyumbatan pembuluh darah otak mengakibatkan stroke, penyumbatan pembuluh
darah jantung mengakibatkan penyakit jantung koroner, dan lain-lain). Pola hidup saat
muda sangat memengaruhi terjadinya penyakit degeneratif. Pola hidup terdiri atas
dua, yakni makan dan gerak. Pola makan kurang sehat terlihat apabila mengonsumsi
lemak, kalori, kolesterol, serta kadar gula makanan dalam jumlah berlebih. Selain
pola makan, pola gerak juga memengaruhi munculnya penyakit degeneratif.

12
Banyaknya kemudahan fasilitas membuat aktivitas fisik jauh berkurang. Kondisi ini
akan semakin buruk bila tidak diimbangi dengan olahraga (Tjokroprawiro, A).

3. Pergeseran pola penyakit dari penyakit infeksi ke penyakit non-infeksi


(degeneratif) adalah akibat adanya pergeseran pola makan dan pola hidup. Di sini
terjadi pergeseran dari pola makan tradisional yang tinggi karbohidrat, tinggi serat,
dan rendah lemak ke pola makan modern yang tinggi lemak, tapi rendah serat dan
karbohidrat. Kurangnya mengonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran membuat
tubuh kekurangan serat dan dapat berisiko meningkatkan kadar kolesterol tubuh. Bila
kondisi ini tidak segera diperbaiki dengan pola makan yang benar dan baik, maka
dapat berakibat timbulnya berbagai penyakit, terutama penyakit degeneratif (jantung,
diabetes, bahkan kanker colon).

4. Kelebihan gizi yang mengakibatkan tingginya prevalensi penyakit degeneratif


sudah dirasakan negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Belum lagi akibat
yang ditimbulkan oleh lingkungan. tercemar, kesalahan pola makan dan gaya hidup
yang justru merangsang tumbuhnya radikal bebas (free radical) yang merusak tubuh
kita. Penelitian di bidang gizi ortomolekuler pada tingkat sel membuktikan,
antioksidan dapat melindungi jaringan tubuh dari efek negatif radikal bebas. Ternyata,
gangguan atau ketidakmampuan sistem antioksidan tubuh inilah yang menyebabkan
berbagai macam penyakit degeneratif.

Radikal bebas merupakan atom atau molekul yang sifatnya sangat tidak stabil
(mempunyai 1 elektron atau lebih tanpa pasangan), sehingga untuk memperoleh
pasangan elektron senyawa ini sangat reaktif dan merusak jaringan. Senyawa radikal
bebas timbul akibat berbagai proses kimia kompleks dalam tubuh, berupa hasil
sampingan dari proses oksidasi atau pembakaran sel yang berlangsung pada waktu
bernapas, metabolisme sel, olahraga yang berlebihan, peradangan atau ketika tubuh
terpapar polusi lingkungan seperti asap kendaraan bermotor, asap rokok, bahan
pencemar, dan radiasi matahari atau radiasi kosmis. Karena secara kimia molekulnya
tidak lengkap, radikal bebas cenderung “mencuri” partikel dari molekul lain, yang
kemudian menimbulkan senyawa tidak normal dan memulai reaksi berantai yang
dapat merusak sel-sel penting dalam tubuh. Radikal bebas inilah penyebab berbagai
keadaan patologis seperti penyakit lever, jantung koroner, katarak, penyakit hati dan

13
dicurigai pula pada proses penuaan dini. Sebenarnya reaksi pembentukan radikal
bebas merupakan mekanisme biokimia tubuh normal. Radikal bebas lazimnya hanya
bersifat perantara yang bisa dengan cepat diubah menjadi substansi yang tak lagi
membahayakan tubuh. Namun, bila radikal bebas sempat bertemu dengan enzim atau
asam lemak tak jenuh ganda, maka ini merupakan awal dari kerusakan sel. Salah satu
di antaranya adalah kerusakan lipid peroksida. Ini terjadi bila asam lemak tak jenuh
terserang radikal bebas. Dalam tubuh kita, reaksi antar zat gizi dengan radikal bebas
akan menghasilkan peroksidasi yang selanjutnya dapat menyebabkan kerusakan sel,
yang dianggap salah satu penyebab terjadinya berbagai penyakit degeneratif
(kemunduran fungsi tubuh).

2.4 Bentuk – Bentuk Proses Degeneratif


Berbagai jenis degenerasi sel yang sering dijumpai antara lain :

A. Degenerasi Albuminosa
Pembengkakan sel adalah manifestasi awal sel terhadap semua jejas sel.
Perubahan morfolofi yang terjadi sulit dilihat dengan mikroskop cahaya. Bila
pembengkakan sel sudah mengenai seluruh sel dalam organ, jaringan akan tampak
pucat, terjadi peningkatan turgor, dan berat organ.
Gambaran mikroskopis menunjukkan sel membengkak menyebabkan desakan
pada kapiler-kapiler organ. Bila penimbunan air dalam sel berlanjut karena jejas sel
semakin berat, akan timbul vakuola-vakuola kecil dan nampak cerah dalam
sitoplasma. Vakuola yang terjadi disebabkan oleh pembengkakan reticulum
endoplasmik.
Awalnya terjadi akibat terkumpulnya butir-butir protein di dalam sitoplasma,
sehingga sel menjadi bengkak dan sitoplasma menjadi keruh (cloudy swelling:
bengkak keruh). Contohnya adalah pada penderita pielonefritis atau pada beberapa
jam setelah orang meninggal. Banyak ditemukan pada tubulus ginjal. (Halim, 2010)

B. Degenerasi Hidrofik (Degenerasi Vakuolar)


Degenerasi hidrofik merupakan jejas sel yang reversible dengan penimbunan
intraselular yang lebih parah jika dengan degenerasi albumin. Merupakan suatu
cedera sel yang menyebabkan sel itu tampak bengkak. Hal itu dikarenakan
meningkatnya akumulasi air dalam sitoplasma.

14
Sel yang mengalami degenerasi hidropik secara mikroskopis tampak sebagai
berikut :
1. Sel tampak membesar atau bengkak karena akumulasi air dalam sitoplasmanya.
2. Sitoplasma tampak pucat.
3. Inti tetap berada di tengah.
4. Pada organ hati, akan tampak lumen sinusoid itu menyempit.
5. Pada organ ginjal, akan tampak lumen tubulus ginjal menyempit.
6. Pada keadaan ekstrim sitoplasma sel akan tampak jernih dan ukuran sel makin
membesar (Balloning Degeneration) sering ditemukan pada sel epidermal yang
terinfeksi epitheliotropic virus, seperti pada pox virus.
Sedangkan secara makroskopis, sel akan tampak normal sampai bengkak,
bidang sayatan tampak cembung, dan lisis dari sel epidermal.
Degenerasi Hidropik sering dijumpai pada sel endothel, alveoli, sel epitel
tubulus renalis, hepatosit, sel-sel neuron dan glia otak. Dari kesekian sel itu, yang
paling rentan adalah sel-sel otot jantung dan sel sel pada otak. Etiologinya sama
dengan pembengkakan sel hanya intensitas rangsangan patologik lebih berat dan
jangka waktu terpapar rangsangan patologik lebih lama.
Secara miokroskopik organ yang mengalami degenerasi hidrofik menjadi lebih
besar dan lebih berat daripada normal dsan juga nampak lebih pucat. Nampak juga
vakuola-vakuola kecil sampai besar dalam sitoplasma.
Degenerasi ini menunjukkan adanya edema intraseluler, yaitu adanya
peningkatan kandungan air pada rongga-rongga sel selain peningkatan kandungan air
pada mitokondria dan reticulum endoplasma. Pada mola hedatidosa telihat banyak
sekali. gross (gerombolan) mole yang berisi cairan. Mekanisme yang mendasari
terjadinya generasi ini yaitu kekurangan oksigen, karena adanya toksik, dan karena
pengaruh osmotik.
C. Degenerasi Lemak
Degenerasi lemak dan perubahan perlemakan (fatty change) menggambarkan
adanya penimbunan abnormal trigliserid dalam sel parenkim. Perubahan perlemakan
sering terjadi di hepar karena hepar merupakan organ utama dalam metabolisme
lemak selain organ jantung, otot dan ginjal.
Etiologi dari degenerasi lemak adalah toksin, malnutrisi protein, diabetes
mellitus, obesitas, dan anoksia. Jika terjadi gangguan dalam proses metabolisme
lemak, akan timbul penimbunan trigliserid yang berlebihan. Akibat perubahan

15
perlemakan tergantung dari banyaknya timbunan lemak. Jika tidak terlalu banyak
timbunan lemak, tidak menyebabkan gangguan fungsi sel, tetapi jika timbunan lemak
berlebihan, terjadi perubahan perlemakan yang menyebabkan nekrosis.

D. Degenerasi Hyalin (Perubahan Hyalin)


Istilah hyaline digunakan untuk istilah deskriprif histologik dan bukan sebagai
tanda adanya jejas sel. Umumnya perubahan hyalin merupakan perubahan dalam sel
atau rongga ekstraseluler yang memberikan gambaran homogeni, cerah dan berwarna
merah muda dengan pewarnaan Hematoksilin Eosin. Keadaan ini terbentuk akibat
berbagai perubahan dan tidak menunjukkan suatu bentuk penimbunan yang spesifik.
Contoh : degenerasi hialin pada otot ( penyakit Boutvuur).

E. Degenerasi Zenker
Dahulu dikenal sebagai degenerasi hialin pada otot sadar yang mengalami
nekrosis. Otot yang mengalami degenerasi zenker adalah otot rektus abdominis dan
diafragma.

F. Degenerasi Mukoid (Degenerasi Miksomatosa)


Degenerasi Mukoid mukus adalah substansi kompleks yang cerah, kental, dan
berlendir dengan komposisi yang bermacam-macam dan pada keadaan normal
disekresi oleh sel epitel serta dapat pula sebagai bagian dari matriks jaringan ikat
longgar tertentu.
Musin dapat dijumpai di dalam sel, dan mendesak inti ke tepi seperti pada
adenokarsinoma gaster yang memberikan gambaran difus terdiri atas sel-sel gaster
yang memiliki sifat ganas dan mengandung musin. Musin tersebut akan mendesak inti
ke tepi sehingga sel menyerupai cincin dinamakan Signet Ring Cell. Musin di jaringan
ikat, dahulu dinamakan degenerasi miksomatosa. Keadaan ini menunjukkan adanya
musin di daerah interselular dan memisahkan sel-sel Stelata (Stellate Cell/ Star Cell).
(Sudiono dkk, 2003)

16
2.5 Jenis Penyakit Degeneratif

1. Kencing manis atau diabetes mellitus (DM) tipe 2


Kencing manis atau diabetes mellitus adalah penyakit yang ditandai dengan tingginya
kadar glukosa atau gula dalam darah yang disebabkan oleh tubuh tidak dapat menggunakan
glukosa atau gula dalam darah sebagai sumber energi. Penyakit ini terdiri dari beberapa tipe,
tipe tersering yang dapat ditemui adalah diabetes mellitus tipe 2. Gejala klasik :
1. Cepat merasa haus. Penderita akan cepat merasa haus dan sering minum. Sering kali
penderita tidak menyadari ini sebagai gejala karena merasa banyak minum baik untuk
fungsi ginjal.
2. Sering buang air kecil (BAK). Seringkali penderita mengira penyebab sering BAK
karena penderita sering minum air dan bukan akibat dari suatu penyakit. Selain itu,
gejala ini juga dapat mengganggu tidur di malam hari karena bolak balik terbangun
untuk BAK.
3. Cepat merasa lapar. Hal ini terjadi karena tubuh tidak dapat menggunakan gula di dalam
darah sebagai sumber energi, padahal kadar gula di dalam darah sudah tinggi. Karena
tidak adanya sumber energi maka tubuh merasa kelaparan sehingga selalu ingin makan.
4. Gejala akibat komplikasi dari penyakit ini muncul sebagai akibat dari kelaparan pada sel
- sel tubuh. Kelaparan dalam jangka panjang menyebabkan sel tersebut mati.
5. Kesemutan pada ujung - ujung jari tangan dan kaki. Apabila gejala ini muncul artinya
telah terjadi kerusakan pada ujung - ujung saraf. Keluhan lama - lama akan bertambah
berat sehingga merasa baal atau mati rasa. Apabila sudah baal penderita sering tidak
sadar apabila kakinya terluka.
6. Pengelihatan menjadi buram. Hal tersebut dapat diakibatkan oleh kelainan dari retina,
kornea, maupun lensa dari mata.
7. Luka yang sulit sembuh. Sel - sel pada tubuh sulit untuk memperbaiki diri untuk
menutup luka yang terjadi. Selain itu, kadar gula yang tinggi disukai oleh kuman -
kuman sehingga mudah terjadi infeksi dan mempersulit penutupan luka.

Faktor resiko yang dapat menyebabkan terjadinya penyakit ini antara lain:
1. Kebiasaan makan makanan manis
2. Kelebihan berat badan
3. Genetik
4. Jarang berolah raga

17
Penyebab glukosa tidak dapat digunakan di dalam tubuh pada diabetes tipe 2
adalah:
1. Resistensi insulin pada sel - sel.
Agar sel dapat menggunakan glukosa dari dalam darah diperlukan insulin.
Pada penderita dengan penyakit ini, ditemukan bahwa sel - sel tersebut menjadi
kurang sensitif terhadap insulin. Walaupun terdapat insulin di dalam tubuh, tetapi sel
tersebut tidak dapat menggunakannya. Hal tersebut menyebabkan kadar gula dalam
darah menjadi tinggi.
2. Produksi insulin yang rendah oleh pancreas
Insulin dihasikanl oleh sel beta pankreas. Produksi insulin yang tidak mencukupi
kebutuhan menyebabkan tubuh tidak dapat menggunakan glukosa di dalam darah.

2. Osteoartritis (OA)
OA merupakan penyakit degeneratif yang menyebabkan kerusakan jaringan tulang
rawan pada sendi yang ditandai dengan perubahan pada tulang. Faktor resiko terjadinya
penyakit ini adalah genetik, perempuan, riwayat benturan pada sendi, usia dan obesitas.
Gejala yang dapat ditemukan pada penyakit ini adalah:
1. Nyeri pada sendi terutama setelah beraktivitas dan membaik setelah beristirahat
2. Kadang dapat ditemukan kekakuan di pagi hari, durasi tidak lebih dari 30 menit.
Gejala tersebut menyebabkan kesulitan untuk melakukan aktivitas sehari - hari dan
bekerja. Umumnya sendi yang terkena adalah sendi - sendi yang menopang tubuh seperti
lutut, panggul, dan punggung.
Untuk mendiagnosis penyakit ini diperlukan pemeriksaan fisik terhadap sendi yang
terkena dan pemeriksaan penunjang untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit lain.
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan berupa rontgen pada sendi yang terkena dan
laboratorium. Pada roentgen dapat ditemukan perubahan bentuk dari sendi yang terkena.

3. Osteoporosis
Osteoporosis adalah penyakit degeneratif pada tulang yang ditandai dengan rendahnya
massa tulang dan penipisan jaringan tulang. Hal tersebut dapat menyebabkan tulang menjadi
rapuh dan mudah patah.
Diagnosis dari penyakit ini berdasarkan massa tulang. Disebut osteoporosis apabila
massa tulang <-2,5 standar deviasi (SD) massa tulang normal, dan disebut osteopenia apabila

18
massa tulang antara -1 hingga -2,5 SD. Karena penyakit ini tidak memberikan gejala hingga
terjadi patah tulang, maka penting untuk dilakukan skrining untuk mencegah penyakit ini.
Selain itu, penderita juga harus menjadi diri dan melakukan penyesuaian agar tidak mudah
jatuh, misalnya kamar mandi menggunakan lantai yang kasar.

Osteoporosis dapat disebabkan oleh:


1. Penyerapan kalsium yang menurun pada wanita post monopause,
2. Usia lebih dari 70 tahun,
3. Penyakit kronis,
4. Defisiensi zat pembentu tulang seperi kalsium, viatamin D.

4. Penyakit jantung koroner (PJK)


Penyakit jantung koroner adalah penyakit jantung yang disebabkan oleh adanya
sumbatan pada pembuluh darah koroner. Pembuluh darah koroner adalah pembuluh darah
yang memperdarahi jantung. Sumbatan dari pembuluh darah tersebut diakibatkan oleh
adanya proses aterosklerosis atau penumpukan lemak/plak di pembuluh darah sehingga
diameter pembuluh darah makin kecil dan mengeras/kaku. Proses aterosklerosis terjadi
perlahan - lahan seiring dengan waktu, tetapi pada orang - orang dengan kadar kemak di
dalam darah yang tinggi, proses ini di pembuluh darah menjadi semakin cepat dan
banyak. Sumbatan dalam pembuluh darah dapat bersifat:
1. Parsial, di mana pembuluh darah masih dilalui oleh darah walaupun alirannya sudah
mengecil. Keluhan dapat dirasakan pada saat terjadi kebutuhan akan oksigen yang
meningkat. Contohnya pada saat emosi dan aktivitas berjalan jauh kebutuhan tubuh akan
oksigen meningkat tetapi jantung tidak dapat memenuhi kebutuhan tersebut sehingga
timbul nyeri pada dada.
2. Total, di mana pembuluh darah sudah tidak dapat dilalui oleh darah karena tertutup
total. Penutupan total tersebut dapat disebabkan oleh lepasnya tumpukan lemak
dipembuluh darah dan menyumbat di pembuluh darah yang ukurannya lebih kecil.
Sumbatan total menyebabkan keluhan nyeri dada yang dirasakan lebih berat dan tajam
seperti dada ditimpa benda berat.
Pembuluh darah jantung yang tersumbat dapat menyebabkan kematian dari sel
jantung karena tidak mendapatkan asupan nutrisi dan oksigen yang cukup. Sel jantung
yang sudah mati tidak dapat diperbaiki lagi. Gejala yang dapat ditemukan pada penyakit
ini :

19
1. Nyeri di dada, dengan ciri khas nyeri di dada kiri, nyeri menjalar ke tangan kiri dagu.
Pada beberapa kasus, nyeri dada dapat bersifat tidak khas seperti nyeri di ulu hati, nyeri
menjalar ke punggung, dan nyeri menjalar ke lengan kanan.
2. Sensasi berat di dada seperti ditimpa benda berat, nyeri yang tajam dan menusuk di
dada, dan seperti diremas - remas.
3. Jantung berdebar – debar.
4. Nyeri dan sesak napas timbul apabila beraktivitas berat dan mereda setelah
beristirahat.
Kadang, pada awalnya penderita tidak sadar mengalami PJK karena nyeri yang
dirasakan hanya sebentar

20
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Degenerasi merupakan suatu perubahan keadaan secara fisika dan kimia dalam sel,
jaringan atau organ yang bersifat menurunkan efisiensinya.
Gangguan fungsi bisa bersifat reversible ataupun ireversibel sel tergantung dari
mekanisme adaptasi sel. Cedera reversibel disebut juga cedera subletal dan cedera ireversibel
disebut juga cedera letal.
Jejas sel merupakan keadaan dimana sel beradaptasi secara berlebih atau sebaliknya,
sel tidak memungkinkan untuk beradaptasi secara normal.
Penyakit degeneratif adalah penyakit yang menyebabkan terjadinya kerusakan atau
penghacuran terhadap jaringan atau organ tubuh. Misalnya diabetes militus tipe 2,
osteoporosis, dan lain sebagainya.

3.2 Saran
Degenerasi merupakan suatu bentuk kerusakan sel sebagai akibat dari adanya
kerusakan sel akut atau trauma, di mana kerusakan sel tersebut terjadi secara tidak terkontrol.
Oleh karena itu kita perlu memperhatikan makanan yang akan kita konsumsi, menjaga
aktivitas fisik serta selalu mengutamakan prilaku sehat agar tidak menyebabkan timbulnya
gejala-gejala degenerasi yang dapat merusak sel dan berpotensi menimbulkan masalah
kesehatan yang serius.

21
DAFTAR PUSTAKA

Tapan, Erik. 2005. Penyakit Degeneratif. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

Janti S, Budi K, Andhy H, Bing D. 2003. Ilmu Patologi Buku Kedokteran. Jakarta : EGC.

http://www.kerjanya.net/faq/6648-penyakit-degeneratif.html

22