Anda di halaman 1dari 37

Matakuliah : Metodologi Penelitian Pendidikan Fisika

PENGEMBANGAN DAN VALIDASI ANGKET

Oleh:

AYU SRI MENDA BR SITEPU (8186175009

PENDIDIKAN FISIKA REG A 2018

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat
kesehatan dan rahmat–Nya lah penulis mampu menyelesaikan tugas makalah “Metodologi
Penelitian Pendidikan Fisika’’.

Dalam penyusunan makalah ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr.
Ridwan Abdullah Sani, M.Si selaku dosen pengampu mata kuliah Metodologi Penelitian
Pendidikan Fisika yang nanti dapat kiranya membimbing penulis dalam pembuatan makalah
ini agar sesuai dengan harapan dan keinginan. Penulis juga mengucapkan terima kasih
kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini.

Penulis menyadari masih terdapat banyak kekurangan dan keterbatasan dalam


penyusunannya. Oleh sebab itu penulis sangat mengharap kritik dan saran yang bersifat
membangun dari pembaca untuk perbaikan diakhir nanti kiraya. Akhir kata, Semoga
makalah ini dapat bermanfaaat bagi penulis khususnya dan juga pembaca.

Medan, April 2019

Penulis,

Ayu Sri Menda Br Sitepu


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ilmu pengetahuan selalu berkembang dan mengalami kemajuan yang sangat pesat,
sesuai dengan perkembangan zaman dan perkembangan cara berpikir manusia. Bangsa
Indonesia sebagai salah satu negara berkembang tidak akan bisa maju selama belum
memperbaiki kualitas sumber daya manusia bangsa kita. Kualitas hidup bangsa dapat
meningkat jika ditunjang dengan sistem peningkatan mutu pendidikan. yang bertujuan
menghasilkan siswa yang berpikir kritis, kreatif, dan produktif.
Ada banyak upaya yang dapat dilakukan oleh setiap insan pendidikan untuk
meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Salah satu upaya adalah dengan melakukan
kegiatan penelitian, Penelitian adalah suatu proses mencari tahu sesuatu secara sistematis
dalam waktu tertentu dengan menggunakan metode ilmiah.
Penelitian pendidikan dan pengembangan yang lebih dikenal dengan istilah reseach
and development (R & D). Strategi untuk mengembangkan sebuah produk pendidikan,
oleh Borg & Gall (1983) disebut sebagai penelitian reseach) dan pengembangan
(development).
Penelitian dan pengembangan kadang pula sering disebut juga suatu pengembangan
berbasis pada penelitian atau disebut juga suatu Research-based development. Dalam
dunia pendidikan, penelitian dan pengembangan hadir belakangan dan merupakan jenis
penelitian yang relatif baru.
Pengertian penelitian dan pengembangan menurut Borg & Gall (1983) adalah suatu
proses yang dipakai unntuk mengembangkan dan memfalidasi produk pendidikan.
Penelitian ini mengikuti langkah-langkah secara siklus. Langkah-langkah penelitian atau
proses pengembangan ini terdiri atas kajian tentang temuan penelitian produk yang akan
dikembangkan, mengembangkan produk berdasarkan temuan-temuan tersebut,
melakukan uji coba lapangan sesuai dengan latar belakang dimana produk itu akan
dipakai, dan melakukan revisi terhadap hasil uji lapangan.
Penelitian dan pengembangan pendidikan itu sendiri dilakukan berdasarkan suatu
mode pengembangan berbasis industry, yang temuan-temuannya dipakai untuk
mendesain produk dan produser yang kemudian secara sistematis dilakukan uji lapangan,
dievaluasi disempurnakan untuk memenuhi kriteria keefektifan kualitas, dan standar
tertentu (Gall & Borg, 2003).
Penelitian pengembangan menurut (Seels & Richey, 1994), didefinisikan sebagai
berikut : “ Penelitian pengembangan sebagaimana dibedakan dengan pengembangan
pembelajaran yang sederhana, didefinisikan sebagai kajian secara sistematik untuk
merancang, mengembangkan, dan mengevaluasi program-program, proses dan hasil-hasil
pembelajaran yang harus memenuhi kriteria konsistensi dan keefektifan secara internal.
Dari sini, penulis akan mencoba mangkaji tentang penelitian pengembangan (R&D)
dalam dunia pendidikan dan diharapkan dari pengkajian dan pengembangan akan
memberikan kontribusi dalam upaya pencapaian tujuan penelitian dan pengembangan
bagi seorang peneliti, yaitu untuk mendapatkan suatu reformasi atau perubahan yang
terjadi dalam kurun waktu tertentu. Sebagai dasar yang melatarbelakangi ,maka dibuatlah
makalah ini dengan tema “Penelitian dan Pengembangan/Research and Development’’.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Apa defenisi dari penelitian pengembangan ?
2. Apa saja karakteristik dari penelitian pengembangan?
3. Apa saja fase pada penelitian pengembangan?
4. Apa saja model-model penelitian dan pengembangan?
5. Jelaskan tentang validasi angket dan contohnya?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini sebagai berikut :
1. Dapat mengetahui defenisi dari penelitian pengembangan.
2. Dapat memahami karakteristik dari penelitian pengembangan.
3. Dapat memahami fase pada penelitian pengembangan.
4. Dapat memahami model-model penelitian dan pengembangan.
5. Dapat mengetahui validasi angket dan contohnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Penelitian dan Pengembangan


Richey (1994) mendefenisikan penelitian dan pengembangan sebagai studi sistematik
yang mancakup proses mendesain, mengembangkan, dan mengevaluasi program, proses, atau
produk yang harus memenuhi kriteria efektivitas dan konsistensi intenal. Tentu saja,
penelitian ini berbeda dengan proses pengembangan proses atau produk yang dilakukan tanpa
adanya perumusan masalah dan analisis data. Penelitian ini diperkenalkan untuk
menjembatani antara penelitian dasar (basic research) dengan penelitian terapan (applied
research). Hal tersebut disebabkan karena pada umumnya penelitian dasar tidak dapat
diterapkan dengan segera untuk keperluan praktis. Penelitian dan pengembangan bukanlah
pengganti penelitian dasar dan penelitian terapan, namun ketiga penelitian ini diperlukan
untuk mengadakan perubahan dalam ilmu pengetahuan yang berguna bagi masyarakat.

Penelitian Penelitian dan Penelitian


Dasar Pengembangan Terapan

(Penemuan) (Pengembangan dan (Penerapan ilmu)

validasi produk)

(Gambar : Penelitian dan pengembangan menghubungkan antara penelitian


dasar dan penelitian terapan)

Hasil-hasil penelitian dasar pada umumnya bersifat teoritis dan membutuhkan upaya untuk
dapat digunakan dalam penelitian terapan yang bersifat praktis. Kesenjangan tersebut dapat
dihilangkan atau disambungkan dengan suatu strategi atau produk (perangkat keras atau
perangkat lunak) yang memiliki karateristik sesuai dengan konsep, prinsip, asumsi,hipotesis,
prosedur yang telah ditemukan atau dihasilkan dari penelitian dasar. Pada kasus tersebut,
strategi atau produk yang akan diterapkan dalam penelitian terapan (misalnya penelitian
tindakan) tidak dapat diperoleh tanpa melakukan penelitian pengembangan terlebih dahulu.
Jadi, ketiga jenis penelitian tersebut saling terkait satu sama lain.
Penelitian dan pengembangan (Research and Development atau R&D) juga disebut sebagai
penelitian pengembangan, namun berbeda dengan penelitian perkembangan. Penelitian
pengembangan (R&D) merupakan sebuah metode penelitian yang cukup handal dalam
memperbaiki praktik. Penelitian ini berperan besar dalam mengembangkan dunia industri
karena bidang industri mengalokasi dana yang cukup besar untuk kebutuhan penelitian
pengembangan (4% - 5%). Sedangkan kemajuan dalam bidang pendidikan sangat tertinggal
jauh oleh bidang indutri karena perhatian dan alokasi dana untuk R&D sangat kecil.

Pada umumnya, penelitian dalam bidang pendidikan tidak diarahkan pada pengembangan
suatu produk, tetapi lebih ditujukan untuk menemukan pengetahuan baru berkenaan dengan
fenomena-fenomena yang bersifat fundamental serta praktik pendidikan. Penelitian tentang
fenomena fundamental pendidikan dilakukan melalui penelitian dasar (basic research),
misalnya penelitian eksperimen, penelitian korelasional, penelitian kusal komparatif, studi
kasus, penelitian historis. Sedangkan penelitian tentang praktik pendidikan dilakukan melalui
penelitian terapan (applied research), misalnya pendidikan tindakan (action research).
Penelitian dan pengembangan (R&D) dalam bidang pendidikan dilakukan untuk
mengembangkan dan memvalidasi strategi atau produk pendidikan. Penelitian dan
pengembangan ini juga disebut pengembangan berbasis penelitian.

Penerapan hasil-hasil penelitian dari ketiga jenis penelitian tersebut akan mendukung
kemajuan dalam pendidikan. Penelitian dasar mengembangkan konsep, prinsip, dan teori
yang dibutuhkan untuk ilmu pendidikan. Selanjutnya hasil dari penelitian dasar tersebut
digunakan dalam penelitian dan pengembangan untuk mengembangkan strategi/model
pembelajaran, manajemen pendidikan, strategi pembinaan guru, dokumen kurikulum
(kurikulum tingkat satuan pendidikan, silabus, bahan ajar, dan sebagainya), serta sarana-
fasilitas pendidikan. Sedangkan penelitian terapan dilakukan berbasis hasil penelitian
pengembangan untuk meningkatkan mutu praktik pelaksanaan pendidikan dan kurikulum.

Pada umunya penelitian dasar berupa penelitian eksperimen dan penelitian asosiatif
(korelasional dan kausal-komparatif) bersifat prediktif,artinya hasil penelitian dapat
digunakan untuk memprediksi fenomena yang mungkin terjadi. Penelitian tersebut,
didasarkan atas rumusan hipotesis yang dibangun berdasarkan kajian teori, observasi, dan
kerangka berpikir. Sedangkan penelitian dan pengembangan didasarkan atas analisis
permasalahan dan kebutuhan (need analysis). Perbedaan pendekatan pada penelitian
eksperimen dengan penelitian pengembangan diilustrasikan dalam gambar berikut :
Penelitian Prediktif

Hipotesis Desain Perbaikan teori


Aplikasi teori
berdasar eksperimen berdasar hasil
oleh praktik
observasi dan untuk menguji pengujian
teori hipotesis

Penelitian Pengembangan

Analisis Pengembangan Siklus berulang Refleksi untuk


permasalahan solusi perdasa untuk menguji menghasilkan
praktis oleh prinsip desain dan prinsip desain
peneliti dan yang ada dan memperbaiki dan
praktisi inovasi solusi praktis memperbaiki
solusi (produk)

2.2 Pengertian Penelitian dan Pengembangan

Menurut Sugiyono (2009) metode penelitian dan pengembangan atau dalam bahasa
Inggrisnya Research and Development adalah metode penelitian yang digunakan untuk
menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan produk tersebut.

Pendapat Sujadi (2003) menjelaskan bahwa penelitian dan pengembangan merupakan


proses atau langkah untuk mengembangkan suatu produk baru, untuk menyempurnakan
produk yang sudah ada, yang bisa dipertanggungjawabkan.
Sedangkan menurut Soenarto (2008) penelitian dan pengembangan merupakan
penelitian yang memiliki tujuan menghasilkan dan mengembangkan prototipe, desain, materi
pembelajaran, media, strategi, pembelajaran, alat evaluasi pendidikan dan sebagainya.
Penelitian untuk memecahkan masalah praktis dalam dunia pendidikan, maasalah di kelas,
yang dihadapi oleh guru/dosen alam pembelajaran. Penelitian bukan untuk menguji teori,
menguji hipotesis, namun menguji dan menyempurnakan produk.

Sementara dalam bidang pendidikan Borg and Gall (1985) dalam Sugiyono (2009)
menyatakan bahwa, penelitian dan pengembangan (Research and development/R&D),
merupakan metode penelitian yang digunakan untuk mengembangkan atau memvalidasi
produk-produk yang digunakan dalam pendidikan dan pembelajaran.

2.3 Tujuan Penelitian dan Pengembangan

Pada tujuan penelitian pengembangan biasanya berisi dua informasi, yaitu (1)
masalah yang akan dipecahkan dan (2) spesifikasi pembelajaran, model, soal, atau perangkat
yang akan dihasilkan untuk memecahkan masalah tersebut. Selama dua aspek ini terkandung
dalam sebuah rumusan masalah penelitian pengembangan, maka rumusan masalah tersebut
sudah benar. Dapat dikatakan bahwa tujuan Penelitian Pengembangan adalah
menginformasikan proses pengambilan keputusan sepanjang pengembangan dari suatu
produk menjadi berkembang dan kemampuan pengembang untuk menciptakan berbagai hal
dari jenis ini pada situasi kedepan.

Menurut Akker (1999) tujuan penelitian pengembangan khusus dalam bidang


pendidikan dibedakan berdasarkan aspek pengembangan, yakni bagian kurikulum, teknologi
dan media, pelajaran dan instuksi, dan pendidikan guru didaktis. Berikut ini penjelasannya :

1) Pada bagian kurikulum


Tujuannya adalah menginformasikan proses pengambilan keputusan sepanjang
pengembangan suatu produk/program

2) Pada bagian teknologi dan media


Tujuannya adalah untuk menigkatkan proses rancangan instruksional,
pengembangan, dan evaluasi.
3) Pada bagian pelajaran dan instruksi
Tujuannya adalah untuk pengembangan dalam dalam perancangan lingkungan
pembelajaran, perumusan kurikulum, dan penaksiran keberhasilan dari pengamatan
dan pembelajaran, serta secara serempak mengusahakan untuk berperan untuk
pemahaman fundamental ilmiah.

4) Pada bagian pendidikan guru dan didaktis


Tujuannya adalah untuk memberikan kontribusi pembelajaran keprofesionalan para
guru dan atau menyempurnakan perubahan dalam suatu pengaturan spesifik bidang
pendidikan.

2.4 Proses Penelitian Pengembangan

Penelitian Pengembangan biasanya dimulai dengan identifikasi masalah pembelajaran


yang ditemui di kelas oleh guru yang akan melakukan penelitian. Yang dimaksud
masalah pembelajaran. Dalam penelitian pengembangan adalah masalah yang terkait dengan
perangkat pembelajaran, seperti silabus, bahan ajar, lembar kerja siswa, media pembelajaran,
tes untuk mengukur hasil belajar, dsb. Perangkat pembelajaran dianggap menjadi masalah
karena belum ada, atau ada tetapi tidak memenuhi kebutuhan pembelajaran, atau ada tetapi
perlu diperbaiki, dsb. Tentunya tidak semua masalah perangkat pembelajaran akan
diselesaikan sekaligus, satu masalah perangkat pembelajaran saja yang dipilih sebagai
prioritas untuk diselesaikan lebih dulu.

Tahap berikutnya adalah mengkaji teori tentang pengembangan perangkat


pembelajaran yang relevan dengan yang akan dikembangkan. Setelah menguasai teori terkait
dengan pengembangan perangkat pembelajaran, peneliti kemudian bekerja
mengembangkan draft perangkat pembelajaran berdasarkan teori yang relevan yang telah
dipelajari. Setelah selesai dikembangkan, draft harus berulangkali direview sendiri oleh
peneliti atau dibantu oleh teman sejawat (peer review).

Setelah diyakini bagus sesuai dengan yang diharapkan, draft tersebut dimintakan
masukan kepada para ahli yang relevan (expert validation). Masukan dari para ahli dijadikan
dasar untuk perbaikan terhadap draft. Setelah draft direvisi berdasar masukan dari para ahli,
langkah berikutnya adalah menguji-coba draft tersebut. Uji-cobadisesuaikan dengan
penggunaan perangkat. Bila yang dikembangkan adalah bahan ajar, maka uji-cobanya adalah
digunakan untuk mengajar kepada siswa yang akan membutuhkan perangkat tersebut. Uji-
coba bisa dilakukan pada beberapa bagian saja terhadap sekelompok kecil siswa, atau satu
kelas. Bila yang diuji-coba adalah silabus, maka uji-cobanya adalah terhadap guru yang akan
menggunakan silabus tersebut. Kegiatan uji-cobanya adalah meminta guru menggunakan
silabus untuk menyusun Rencana Program Pembelajaran (RPP).

Tujuan uji-coba adalah untuk melihat apakah perangkat pembelajaran yang


dikembangkan dapat diterima atau tidak. Dari hasil uji-coba, beberapa bagian mungkin
memerlukan revisi. Kegiatan terakhir adalah revisi terhadap draft menjadi draft akhir
perangkat pembelajaran tersebut.

Menurut Akker (1999), ada 4 tahap dalam penelitian pengembangan yaitu :

1) Pemeriksaan pendahuluan (preliminary inverstigation).

Pemeriksaan pendahuluan yang sistematis dan intensif dari permasalahan mencakup:

 Tinjauan ulang literatur,


 Konsultasi tenaga ahli,
 Analisa tentang ketersediaan contoh untuk tujuan yang terkait, dan
 Studi kasus dari praktek yang umum untuk merincikan kebutuhan.

2) Penyesuaian teoritis (theoretical embedding)


Usaha yang lebih sistematis dibuat untuk menerapkan dasar pengetahuan dalam
mengutarakan dasar pemikiran yang teoritis untuk pilihan rancangan.

3) Uji empiris (empirical testing)


Bukti empiris yang jelas menunjukkan tentang kepraktisan dan efektivitas dari intervensi.

4) Proses dan hasil dokumentasi, analisa dan refleksi (documentation,analysis, and


reflection on process and outcome).
Implementasi dan hasilnya untuk berperan pada spesifikasi dan perluasan metodologi
rancangan dan pengembangan penelitian.
2.5 Metode Penelitian Pengembangan

Metode penelitian pengembangan tidaklah berbeda jauh dari penelitian pendekatan penelitian
lainya. Namun, pada penelitian pengembangan difokuskan pada 2 tahap yaitu
tahap preliminary dan tahap formative evaluation (Tessmer, 1993) yang meliputi self
evaluation, prototyping (expert reviews dan one-to-one, dan small group), serta field test.

1) Tahap Preliminary
Pada tahap ini, peneliti akan menentukan tempat dan subjek penelitian seperti dengan
cara menghubungi kepala sekolah dan guru mata pelajaran disekolah yang akan menjadi
lokasi penelitian. Selanjutnya peneliti akan mengadakan persiapan-persiapan lainnya,
seperti mengatur jadwal penelitian dan prosedur kerja sama dengan guru kelas yang
dijadikan tempat penelitian.

2) Tahap Formative Evaluation


a. Self Evaluation
 Analisis
Tahap ini merupakan langkah awal penelitian pengembangan. Peneliti dalam hal
inin akan melakukan analisis siswa, analisis kurikulum, dan analisis perangkat atau
bahan yang akan dikembangkan.
 Desain
Pada tahap ini peneliti akan mendesain perangkat yang akan dikembangkan yang
meliputi pendesainan kisi-kisi, tujuan, dan metode yang akan di kembangkan.
Kemudian hasil desain yang telah diperoleh dapat di validasi teknik validasi yang
telah ada seperti dengan teknik triangulasi data yakni desain tersebut divalidasi oleh
pakar (expert) dan teman sejawat. Hasil pendesainan ini disebut sebagai prototipe
pertama.
b. Prototyping
Hasil pendesainan pada prototipe pertama yang dikembangkan atas dasar self
evaluation diberikan pada pakar (expert review) dan siswa (one-to-one) secara paralel.
Dari hasil keduanya dijadikan bahan revisi. Hasil revisi pada prototipe pertama
dinamakan dengan prototipe kedua.
c. Expert Review
Pada tahap expert review, produk yang telah didesain dicermati, dinilai dan dievaluasi
oleh pakar. Pakar-pakar tadi menelaah konten, konstruk, dan bahasa dari masing-
masing prototipe. Saran–saran para pakar digunakan untuk merevisi perangkat yang
dikembangkan. Pada tahap ini, tanggapan dan saran dari para pakar (validator)
tentang desain yang telah dibuat ditulis pada lembar validasi sebagai bahan merevisi
dan menyatakan bahwa apakah desain ini telah valid atau tidak.
d. One-to-one
Pada tahap one-to-one, peneliti mengujicobakan desain yang telah
dikembangkan kepada siswa/guru yang menjadi tester. Hasil dari pelaksanaan ini
digunakan untuk merevisi desain yang telah dibuat.
e. Small group
Hasil revisi dari expert dan kesulitan yang dialami pada saat uji coba pada prototipe
pertama dijadikan dasar untuk merevisi prototipe tersebut dan dinamakan prototipe
kedua kemudian hasilnya diujicobakan pada small group. Hasil dari pelaksanaan ini
digunakan untuk revisi sebelum diujicobakan pada tahap field test. Hasil revisi soal
berdasarkan saran/komentar siswa pada small group dan hasil analisis butir soal ini
dinamakan prototipe ketiga.
3) Field Test
Saran-saran serta hasil ujicoba pada prototipe kedua dijadikan dasar untuk
merevisi desain prototipe kedua. Hasil revisi diujicobakan ke subjek penelitian dalam hal ini
sebagai uji lapangan atau field test.
Produk yang telah diujicobakan pada uji lapangan haruslah produk yang
telah memenuhi kriteria kualitas. Akker (1999) mengemukakan bahwa tiga kriteria
kualitas adalah: validitas, kepraktisan, dan efektivitas (memiliki efek potensial).

2.6 Karakteristik Penelitian Pengembangan

Penelitian dan pengembangan digunakan untuk mengembangkan suatu produk baru


atau menyempurnakan prodk yang telah ada agar memenuhi kriteria yang ditetapkan. Produk
yang dikembangkan dapat berupa strategi, model pelatihan/pembelajaran, atau sarana
pembelajaran (alat, dokumen, dan sebagainya). Pada umumnya, peneliti menggunakan R&D
untuk mengembangkan model pembelajaran, strategi peningkatan mutu guru, buku/bahan
ajar/modul, alat laboratorium, program komputer (simulasi, pengolahan data, animasi),
evaluasi, kurikulum dan sebagainya.

Membuat
rancangan
produk

Mengemb Menguji
angkan Metode produk
produk R&D

Menciptaka
n produk
baru

(Gambar: Metode dan produk hasil R&D)

Metode penelitian dan pengemabangan banyak digunakan dalam upaya


mengembangkan teknologi/sistem instruksional. Fokus pada pengembangan sistem
pembelajaran, para peneliti menggunakan R&D untuk mengembangkan desain pembelajaran,
model-model pembelajaran, dan evaluasi pembelajaran. Penelitian dan pengembangan juga
banyak digunakan untuk mengembangkan kurikulum, bahan ajar, media pembelajaran, model
pembinaan guru, dan manajemen pembelajaran.

Produk utama yang dapat dihasilkan melalui pelaksanaan penelitian dan pengembangan
(R&D) adalah :

a. Pengembangan profesi
b. Produk kurikuler
c. Prinsip desain

Ketiga produk tersebut dapa dihasilkan melalui sebuah penelitian pengembangan, namun
mungkin saja seorang peneliti hanya dihasilkan satu produk saja setelah melakukan penelitian
pengembangan (R&D). Prinsip desain tidak dimaksudkan sebagai resep untuk sukses, namun
untuk menolong orang lain dalam memilih dan menerapkan substansi dan prosedur yang
paling sesuai dengan kebutuhan mereka.

Menurut Richey (1994), jika ditinjau dari generalisasi simpulannya, ada 3 jenis penelitian
pengembangan yakni :

1. Tipe 1 : studi khusus, yakni dengan mendeskripsikan ataau menganalisis produk atau
rancangan program, kemudian diikuti pengembangan dan evaluasi.
2. Tipe 2 : studi pengaruh produk atau program pada perkembangan siswa atau
perubahan organisasi, yakni dengan mendeskripsikan atau menganalisis produk atau
program, kemudian mengevaluasi dampaknya.
3. Tipe 3 : studi tentang rancangan, pengembangan, dan evaluasi prosedur
pengembangan model. Studi ini mencakup pengembangan rancangan, uji coba
produk, dan mengevaluasi keandalan produk.

Menurut Burkhardt (2006) berdasarkan pendapat dari tingkat penggunaannya, penelitian


pengembangan dapat dikelompokkan dalam 4 jenis yaitu :

1. Untuk pembelajaran
Fokus penelitian adalah konsep, keterampilan, dan metakognitif, sedangkan fokus
pengembangan pada situasi belajar.
2. Untuk guru tertentu
Fokus penelitian adalah strategi dan taktik pembelajaran, sedangkan fokus
pengembangan pada bahan ajar khusus.
3. Untuk guru secara umum
Fokus penelitian adalah kompetensi dan kinerja guru, sedangkan fokus
pengembangan pada bahan ajar umum.
4. Untuk perubahan sistem
Fokus penelitian adalah perubahan sistem, sedangkan fokus pengembangan pada
“sarana perubahan” (misalnya: bahan ajar, penilaian, pengembangan profesi,
hubungan komunitas, dan sebagainya).
Van den Akker dkk (2013) menyatakan bahwa pada umumnya penelitian pengembangan
mencakup studi atau penelitian sebagai berikut :

a. Studi desain
b. Penelitian pengembangan
c. Evaluasi formatif atau penelitian formatif
d. Penelitian rekayasa (engineering research)

Studi-studi tersebut mencakup studi pengembangan (development study). Studi validasi


(validation study) dan studi implementasi (implementation study). Jika ditinjau studi, maka
tujuan dan tahapan dari ketiga jenis studi tersebut adalah sebagai berikut :

Tabel 1: Tujuan dan tahapan dari studi pengembangan, studi validasi dan studi
implementasi

Jenis Studi Tujuan Penelitian Tahapan


Studi Pengembangan Pengembangan intevensi 1) Mengembangkan
intevensi berbasis
penelitian sebagai
solusi terhadap
permasalahan
2) Konstruksi prinsip
rancangan
Studi Validasi Pengembangan teori atau 1) Merancang
validasi lingkungan belajar
sesuai maksud
2) Mengembangkan dan
memvalidasikan teori
Studi Implementasi implementasi 1) Implementasi
program/produk
khusus
2) Strategi dan kondisi
implementasi
Menurut Nieveen dkk (1999) mendeskripsikan perbedaan antara studi validasi dan studi
pengembangan sebagai berikut :

Tabel 2 Perbedaan studi validasi dan studi pengembangan

Penelitian dan Pengembangan


Studi Validasi Studi Pengembangan
Tujuan Mengelaborasi dan Menyelesaikan permasalahan
memvalidasi teori pendidikan
Fokus Kualitas Desain Kualitas teoritis desain Kepraktisan intevensi
Output Ilmiah Teori pembelajaran tertentu Prinsip desain yang dapat
diaplikasikan secara luas
Penekanan Metodologi Desain berulang dengan Pengembangan berulang
pengujian skala kecil dengan evaluasi formatif
Kontribusi Praktis Penerapan untuk kelas Penerapan intervensi untuk
tertentu beberapa konteks/kelas

Menurut Richey dan Klein (2005) mendeskripsikan beberapa metode yang dapat digunakan
dalam melaksanakan fase-fase pada penelitian pengembangan untuk R&D tipe 1 dan R&D
tipe 2 adalah sebagai berikut :

Tabel 3 : Metode pada fase-fase penelitian pengembangan

Jenis Penelitian Fungsi/Fase Metodologi Penelitian yang


Pengembangan dapat ditetapkan
Tipe 1 Desain dan pengembangan Studi kasus, wawancara
produk mendalam, observasi
lapangan, analisis dokumen.
Evaluasi produk Evaluasi, studi kasus,
wawancara mendalam,
analisis dokumen.
Validasi alat atau teknik Evaluasi, eksperimen, reviu
pakar, wawancara mendalam,
survei.
Tipe 2 Pengembangan model Reviu literatur, studi kasus.
Survei, dll
Penggunaan model Survei, wawancara
mendalam, studi kasus,
observasi lapangan, analisis
dokumen.
Validasi model Eksperimen, wawancara
mendalam, reviu pakar,
replikasi

2.7 Fase pada Penelitian Pengembangan

Penelitian pengembangan menggunakan pendekatan pengjian berulang (siklus) untuk


memperbaiki produk yang dianalisis atau dikembangkan. Ilustrasi sistematika R&D dengan
siklus berulang tersebut ditampilkan pada gambar berikut :

Masalah Analisis

Desain dan
pengembangan
prototipe

Jika perlu revisi,


lanjutkan siklus

Jika produk sudah Evaluasi


memenuhi standar,
hentikan siklus

(Gambar : Siklus berulang dalam penelitan pengembangan)


Siklus berulang tersebut dilakuakn dengan menerapkan konsep berpikir (eksperimen
pikiran) dan ditindaklanjuti dengan ujicoba lapangan (eksperimen instruksional). Eksperimen
pikiran dibutuhkan dalam menganalisis dan merancang desain yang lebih baik, sedangkan
eksperimen pembelajaran dibutuhkan untuk mengevaluasi keandalan produk secara empirik.

Pada dasarnya ada 3 fase yang dilakukan dalam penelitian pengembangan yakni :

1. Fase penilaian awal


2. Fase pengembangan
3. Fase penilaian

Menurut Nieveen (1999) pada fase ini, peneliti menilai efektivitas intervensi. Setiap fase
tersebut memiliki kriteria evaluasi yang berbeda yaitu sebagai berikut :

Fase Kriteria
Fase penilaian pendahuluan Menekankan pada validasi isi (content
validity)
Fase pengembangan prototipe Pada awal pengembangan menekankan
kepraktisan dan validitas konstruk yakni
konsistensi.
Pada akhir pengembangan menekankan pada
kepraktisan dan efektivitas.
Fase penilaian Kepraktisan dan efektivitas.
Sebuah intervensi dapat dikatakan praktis
jika dapat digunakan pada pengaturan yang
sudah dirancang dan dikembangkan.
Intevensi tersebut dapat dikatakan efektif jika
penerapan atau penggunaannya menghasilkan
dampak sesuai harapan.

Langkah-langkah yang dilakuakn pada masing-masing fase pada penelitian pengembangan


dapat dideskripsikan sebagai berikut :

1. Fase penelitian awal


Mencakup analisis kebutuhan dan konteks reviu literatur, serta pengembangan
kerangka teori dan kerangka konseptual untuk studi.
2. Fase pengembangan
Mencakup pengembangan prototipe atau intervensi yang diikuti dengan pengujian
bersiklus.
3. Fase penilaian
Mencakup evaluasi sumatif untuk menentukan apakah solusi atau intervensi yang
diberikan dapat memenuhi kriteria yang telah dietapkan. Pada fase ini dapat
dihasilkan untuk perbaikan intervensi.

Berikut ini dideskripsikan contoh pertanyaan untuk masing-masing fase tersebut :

Fase Pertanyaan
Fase Penilaian Awal 1. Kesenjangan apa yang ada antara
teori dan praktik pendidikan?
2. Informasi apa yang dapat
dikumpulkan dari penelitian yang
ada?
3. Apa kebutuhan peserta didik?
4. Bagaimana karakteristik
audiens/peseta didik?
Fase Pengembangan 1. Apa target belajar untuk
intevensi/inovasi yang dilakukan?
2. Strategi apa yang mungkin dapat
menjadi solusi?
3. Bagaimana mengidentifikasi kinerja?
4. Teori apakah yang mendukung
intervensi?
Fase Penilaian 1. Apakah intervensi dapat digunakan,
valid, dan relevan?
2. Apakah intervensi dapat membuat
pembelajaran menjadi lebih efisien
dan efektif?
3. Apa pengaruh penerapan intevensi
pada audiens/peseta didik?
4. Faktor-faktor apakah yang membuat
intevensi dapat diadaptasi dan
diterima sebagai solusi
permasalahan?

2.8 Model-Model Penelitian dan Pengembangan

Langkah-langkah yang diterapkan dalam penelitian dan pengembangan sangat beragam


namun tetap mencakup 4 fase utama dalam pelaksanaan R&D. Menurut Nunamaker dkk
(1991) mengembangkan model R&D dengan 5 tahapan yaitu :

1. Menkonstruksi kerangka konseptual


2. Mengembangkan arsitektur sistem
3. Menganalisa dan merancang sistem
4. Membuat prototipe
5. Menguji dan mengevaluasi prototipe

Berdasarkan pekerjaan Nunamaker tersebut, Peffers dkk (2007) mengembangkan model 6


fase yakni :

1. Mengidentifikasi masalah yang memotivasi penelitian


2. Mendeskripsikan tujuan penelitian
3. Merancang dan mengembangkan produk
4. Menguji produk
5. Mengevaluasi hasil uji coba
6. Mengkomunikasi hasil

Menurut Thiagarajan dkk (1974) mengembangkan model 4D (Define, Design, Develop,


Desiminate), yakni :

1. Define
Adalah fase penetapan dan pendefinisian syarat-syarat pembelajaran. Fase ini
mencakup 5 langkah pokok yaitu :
 Analisis ujung depan
 Analisis karakteristik peseta didik
 Analisis tugas untuk mengidentifikai keterampilan-keterampilan utama
 Analisis konsep untuk mengidentifikasi konsep-konsep yang akan diajarkan
 Perumusan tujuan pembelajaran

2. Design
Adalah fase perancangan perangkat pembelajaran. Fase ini mencakup 4 langkah yakni
:
 Penyusunan tes standar
 Pemilihan media yang sesuai dengan karakteristik materi dan tujuan
pembelajaran
 Pemilihan format bahan ajar yang akan dikembangkan
 Membuat rancangan awal sesuai format yang dipilih

3. Develop
Adalag fase untuk meghasilkan produk pengembangan. Fase ini mencakup 2 langkah
yakni :
 Validasi ahli atau penilaian pakar yang dilanjutkan dengan revisi produk agar
lebih berkualitas.
 Uji coba produk yang dilakukan untuk memperoleh masukan

4. Dessimate
Adalah fase untuk mempromosikan produk agar dapat diterima oleh pengguna.
Diseminasi dapat dilakukan di kelas lain untuk mengetahui efektivitas penggunaan
perangkat pembelajaran atau pada forum tertentu untuk mendapatkan masukan guna
penyempurnaan produk.

Model pengembangan diartikan sebagai proses desain konseptual dalam upaya


peningkatan fungsi dari model yang telah ada sebelumnya, melalui penambahan komponen
pembelajaran yang dianggap dapat meningkatkan kualitas pencapaian tujuan (Sugiarta,
2007). Berikut akan diuraikan model-model penelitian dan pengembangan diantaranya:

1. R&D Menurut Kemp


Menurut Kemp dalam Trianto (2007) Pengembangan perangkat merupakan suatu
lingkaran yang kontinum. Tiap-tiap langkah pengembangan berhubungan langsung dengan
aktivitas revisi. Pengembangan perangkat ini dimulai dari titik manapun sesuai di dalam
siklus tersebut.
Model pengembangan sistem pembelajaran ini memuat pengembangan perangkat
pembelajaran. Terdapat sepuluh unsur rencana perancangan pembelajaran. Kesepuluh
unsur tersebut adalah:
1. Identifikasi masalah pembelajaran
2. Analisis siswa
3. Analisis tugas
4. Merumuskan indikator
5. Penyusunan instrumen evaluasi
6. Strategi pembelajaran
7. Pemilihan media atau sumber belajar.
8. Merinci pelayanan penunjang
9. Menyiapkan evaluasi hasil belajar dan hasil program
10 Melakukan kegiatan revisi perangkat pembelajaran

2. R & D Versi Dick and Carey


Perancangan pengajaran menurut sistem pendekatan model Dick & Cerey, yang
dikembangkan oleh Walter Dick & Lou Carey dalam Trianto (2007). Model
pengembangan ini ada kemiripan dengan model yang dikembangkan Kemp, tetapi
ditambah dengan komponen melaksanakan analisis pembelajaran, terdapat beberapa
komponen yang akan dilewati di dalam proses pengembangan dan perencanaan tersebut.
Dari model tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
1) Identifikasi tujuan (Identity Instruyctional Goals).
2) Melakukan analisis instruksional (Conducting a goal Analysis). .
3) Mengidentifikasi tingkah aku awal / karakteristik siswa (Identity Entry Behaviours,
Characteristic)
4) Merumuskan tujuan kinerja (Write Performance Objectives)
5) Pengembangan tes Acuan aatokan (Developing criterian-referenced test items).
6) Pengembangan strategi pengajaran (Develop instructional strategy).
7) Pengembangan atau memilih pengajaran (Develop and select instructional materials).
8) Merancang dan melaksanakan evaluasi formatif (Design and conduct formative
evaluation).
9) Menulis perangkat (Design and conduct summative evaluation).
10) Revisi pengajaran (Instructional revitions).

3. Versi Borg and Gall


Menurut Borg and Gall (1989) yang dimaksud dengan model penelitian dan
pengembangan adalah “a process used develop and validate educational product”.
Kadang-kadang penelitian ini juga disebut “research based development”, yang muncul
sebagai strategi dan bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
Menurut Borg dan Gall (1989) dalam Sukmadinata (2005) menjelaskan ada sepuluh
langkah pelaksanaan strategi penelitian dan pengembangan, yaitu:
1. Penelitian dan pengumpulan data (research and information collecting).
2. Perencanaan (planning)
3. Pengembangan draf produk (develop preliminary form of product)
4. Uji coba lapangan awal (preliminary field testing)
5. Merevisi hasil uji coba (main product revision)
6. Uji coba lapangan (main field testing)
7. Penyempurnaan produk hasil uji lapangan (operasional product revision)
8. Uji pelaksanaan lapangan (operasional field testing)
9. Penyempurnaan produk akhir (final product revision)
10. Diseminasi dan implementasi (Dissemination and implementation)

4. Versi 4D
Metode pengembangan (Development Research) dengan menggunakan pendekatan
pengembangan model 4D (four-D model). Adapun tahapan model pengembangan meliputi
tahap pendefinisian (define), tahap perancangan (design), tahap pengembangan (develop)
dan tahap ujicoba (disseminate). Tahapan yang dilakukan pada penelitian ini baru sampai
pada tahap pengembangan (develop).

5. Versi ADDIE
Munir (2010) menggunakan lima tahapan pengembangan multimedia yaitu tahap
analisis, desain, pengembangan, implementasi dan penilaian. Model pengembangan
tersebut dikenal dengan model ADDIE(Analysis-Design-Develop-Implement- Evaluate).
ADDIE muncul pada tahun 1990-an yang dikembangkan oleh Reiser dan Mollenda.Salah
satu fungsinya ADIDE yaitu menjadi pedoman dalam membangun perangkat dan
infrastruktur program pelatihan yang efektif, dinamis dan mendukung kinerja pelatihan itu
sendiri.
Model ini menggunakan 5 tahap pengembangan yakni :
1. Analysis (analisa)
2. Design (desain / perancangan)
3. Development (pengembangan)
4. Implementation (implementasi/eksekusi)
5. Evaluation (evaluasi/ umpan balik)

2.9 Teknik Penyusunan Laporan Penelitian Pengembangan

Penelitian dan Pengembangan atau Research and Development (R&D) adalah


metode penelitian yang digunakan untuk mengembangkan produk atau menyempurnakan
produk. Produk tersebut dapat berbentuk benda atau perangkat keras, seperti buku, modul,
alat bantu pembelajaran di kelas atau di laboratorium atau juga terangkat
lunak (Software) seperti program komputer, modul pembelajaran dan lain-lain.
Dalam pelaksanaan penelitian danpengembangan, ada beberapa metode
yang digunakan, yaitu metode deskriptif, evaluatif, dan eksperimental. Variasi metode inilah
yang mendasari substansi proposal yang harus disusun.

Secara umum, garis besar isi usulan penelitian dan pengembangan dapat disusun dengan
sistematika sebagai terikut:

BAB I : PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

B. Rumusan Masalah

C. Tujuan Penelitian

D. Manfaat Hasil Penelitian

BAB II : LANDASAN TEORI

A. Deskripsi Teori

B. Kerangka Berpikir
C. Produk yang Akan Dihasilkan

BAB III : METODE PENELITIAN

A. Metode Penelitian

B. Desain dan Prosedur Penelitian

C. Populasi dan Sampel

D. Instrumen Penelitian

E. Analisis Data

JADWAL KEGIATAN PENELITIAN

PERINCIAN BIAYA PENELITIAN

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRANBIODATA

2.10 Kelebihan dan Kekurangan


Kelebihan :
1) Pendekatan R & D mampu menghasilkan suatu produk/model yang memiliki nilai
validasi tinggi, karena produk tersebut dihasilkan melalui serangkaian uji coba di
lapangan dan divalidasi oleh ahli.
2) Pendekatan R & D merupakan penghubung antara penelitian yang bersifat teoritis
dengan penelitian yang bersifat praktis.
3) Metode penelitian yang ada dalam R & D cukup komprehensif, mulai dari metode
deskriptif, evaluatif, dan eksperimen.
4) Mendorong proses inovasi produk/model yang tiada henti sehingga diharapkan akan
selalu ditemukan produk/model yang selalu actual dengan tuntutan kekinian.
5) Mampu mengatassi kebutuhan nyata dan mendesak (real needs in the here-and-now)
melalui pengembangan solusi atas suatu masalah sembari menghasilkan
pengetahuan yang bisa digunakan di masa mendatang.
Kekurangan:
1) Pada prinsipnya memerlukan waktu yang relative panjang, karena prosedur yang
harus ditempuh relatif kompleks.
2) Tidak bisa digeneralisasikan secara utuh, karena penelitian R & D ditujukan untuk
pemecahan masalah “here and now”, dan dibuat berdasar sampel (spesifik), bukan
populasi.
3) Penelitian R & D memerlukan sumber dana dan sumber daya yang cukup besar.

2.11 Validasi
A. Pengertian Validasi
Istilah Validasi pertama kali dicetuskan oleh Dr. Bernard T. Loftus, Direktur Food
and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat pada akhir tahun 1970-an, sebagai
bagian penting dari upaya untuk meningkatkan mutu produk industri farmasi. Hal ini
dilatar belakangi adanya berbagai masalah mutu yang timbul pada saat itu yang mana
masalah-masalah tersebut tidak terdeteksi dari pengujian rutin yang dilaksanakan oleh
industri farmasi yang bersangkutan. Selanjutnya, Validasi juga diadopsi oleh negara-
negara yang tergabung dalam Pharmaceutical Inspection Co-operation/Scheme (PIC/S),
Uni Eropa (EU) dan World Health Organization (WHO). Bahkan, Validasi merupakan
aspek kritis (substantial aspect) dalam penilaian kualitas industri farmasi yang
bersangkutan.
Validasi diartikan sebagai suatu tindakan pembuktian dengan cara yang sesuai
bahwa tiap bahan, proses, prosedur, kegiatan, sistem, perlengkapan atau mekanisme
yang digunakan dalam produksi dan pengawasan akan senantiasa mencapai hasil yang
diinginkan.
Dari definisi-definisi tersebut tersebut di atas membawa pengertian, bahwa :
a. Validasi adalah suatu tindakan pembuktian, artinya validasi merupakan suatu
pekerjaan “dokumentasi”.
b. Tata cara atau metode pembuktian tersebut harus dengan “cara yang sesuai”,
artinya proses pembuktian tersebut ada tata cara atau metodenya, sesuai dengan
prosedur yang tercantum dalam CPOB.
c. “Obyek” pembuktian adalah tiap-tiap bahan, proses, prosedur, kegiatan, sistem,
perlengkapan atau mekanisme yang digunakan dalam produksi dan pengawasan
mutu (ruang lingkup).
d. Sasaran/target dari pelaksanaan validasi ini adalah bahwa seluruh obyek
pengujian tersebut akan senantiasa mencapai hasil yang diinginkan secara terus
menerus (konsisten).

B. Jenis-Jenis Validasi
1. Validitas Isi
Saifuddin Azwar (2015: 42) menjelaskan bahwa validitas isi merupakan
validitas yang diestimasi lewat pengujian terhadap kelayakan atau relevansi isi tes
melalui analisis rasional oleh panel yang berkompeten atau melalui expert judgment.
Kemudian, Heri Retnawati (2016: 17) menjelaskan bahwa validitas isi terkait
dengan analisis rasional terhadap domain yang hendak diukur untuk mengetahui
keterwakilan instrumen dengan kemampuan yang hendak diukur.
Djemari Mardapi (2008: 16), menambahkan, kesahihan isi dapat dilihat dari
kisi-kisi tes, yaitu matrik yang menunjukkan bahan tes serta tingkat berpikir yang
terlibat dalam mengerjakan tes. Kesahihan ini ditelaah sebelum tes digunakan.
Selanjutnya Saifuddin Azwar (2015: 42) menjelaskan bahwa validitas isi merupakan
validitas yang diestimasi lewat pengujian terhadap kelayakan atau relevansi isi tes
melalui analisis rasional oleh panel yang berkompeten atau melalui expert judgment.
Melalui hal tersebut dapat dipahami bahwa, validitas isi lebih berkaitan dengan
kesesuaian item tes dengan materi yang akan diukur. Keterkaitan antara item tes
dengan materi ini memang hanya dapat diuji kelayakannya oleh pakar yang
berkompeten pada materi tersebut. Walaupun akan bersifat subyektif, namun
judgment dari pakar tetap diperlukan untuk meninjau apakah tes telah mencakup
keseluruhan isi kawasan kemampuan yang akan diukur menurut sudut pandang dari
materi tersebut, atau dalam kata lain judgment pakar tetap diperlukan dalam hal ini
karena judgment tersebut dapat dipertanggung jawabkan.
Selain berkaitan dengan upaya mengetahui kesesuaian antara isi item dengan
materi yang akan diukur, Saifuddin Azwar (2015: 42) menjelaskan bahwa, “validitas
isi juga berkaitan dengan item-item yang harus relevan dengan tujuan yang hendak
diukur, yakni item-item yang tidak keluar dari batasan tujuan ukur”. Walaupun
isinya komprehensif, tetapi bila tes tersebut mengikutsertakan pula item-item yang
tidak relevan dan berkaitan dengan hal-hal di luar tujuan ukurnya, maka validitas tes
tersebut tidaklah dapat dikatakan memenuhi ciri validitas yang seungguhnya.
Validitas isi sendiri dibagi menjadi dua, yakni validitas tampang (face vaidity)
dan validitas logis (logical validity). Validitas tampang bersifat kualitatif dan
judgmental karena berasal dari expert judgment. Sedangkan, validitas logis bersifat
kuantitatif, yang dilakukan dengan menghitung seberapa tinggi kesepakatan para
expert. Hal ini dapat dilakukan dengan mencari koefisien validitas isi-Aiken’V atau
rasio validitas isi-Lawshe’s CVR.
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa validitas isi berkaitan dengan
ketepatan isi suatu instrumen dengan materi yang hendak diungkap dan tujuan dari
penilian. Validitas tampang ini dapat dilakukan dengan mengkonsultasikan isi
instrumen dengan pakar/ahli/ expert judgment. Hasil dari telaah pada tampang
beberapa ahli tersebut kemudian diolah untuk mencari koefisien validitas isi, untuk
memenuhi validitas logis, sehingga validitas isi terpenuhi secara keseluruhan.

2. Validitas Konstruk
Saifuddin Azwar (116) menjelaskan bahwa validasi konstruk membuktikan apakah
hasil pengukuran yang diperoleh melalui item-item tes berkorelasi tinggi dengan
konstruk teoritik yang mendasari penyusunan tes tersebut.
Selanjutnya, Bambang Subali (2012: 43) mengemukakan bahwa, “persoalan yang
dihadapi dalam pemenuhan validitas konstruk dalam ranah kognitif bukan hanya
teerbatas pada kesesuaian item dengan indikator dengan pencapaian kompetensi.
Persoalan yang mendasar adalah apakah sejumlah kompetensi yang diukur berada
pada satu dimensi”. Berdasarkan pengertian tersebut, dapat dipahami bahwa validasi
konstruk berkaitan konstruk dari item yang dikembangkan, yang disesuaikan dengan
kompetensi yang hendak diketahui. Agar dapat mengetahui validitas konstruk ini
tentu yang dilakukan adalah menjabarkan apa yang hendak diukur. Bambang Subali
(2012: 43) menjelaskan bahwa.
Cara untuk memenuhi validitas konstruk adalah dengan membuat definisi
operasional variabel yang akan diukur. Jika akan mengukur minat, maka dibuat
terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan minat secara operasional. Dari definisi
operasional yang sudah dirumuskan selanjutnya dicari indikator-indikatornya. Dengan
cara demikian, pemenuhan unidimensionalitas variabel yang akan diukur berpeluang
dapat dipenuhi. Setelah variabel yang akan diukur dijabarkan ke dalam indikator-
indikatornya barulah disusun pertanyaan-pertanyaan yang mencerminkan masing-
masing indikator tersebut. Dengan demikian, alat uji akan memiliki kesahihan
konstruk jika item-itemnya mencerminkan indikator-indikator dari variabel yang
diukur.
Maka, untuk dapat memenuhi validitas konstruk ini dapat dilakukan melalui
penelaahan definisi operasional variabel yang akan diukur, indikator yang
dikembangkan dan pertanyaan-pertanyaan yang disusun.
Kemudian, untuk mendapatkan ketepatan konstruk, tidak hanya diperlukan
penelaahan namun juga pengujian secara empiris. Sebagaimana yang dikemukakan
oleh Djemari Mardapi (2008: 16) yang menyatakan bahwa, bukti kesahihan konstruk
diperoleh validitas dari hasil penggunaan tes, yaitu data empirik. Djemari Mardapi
(2008: 20-21) menjelaskan bahwa,validasi bisa mencakup studi empiris bagaimana
catatan pengamat atau judge dan evaluasi data bersamaan dengan analisis ketepatan
proses dengan penafsiran definisi konstruk. Bukti berdasarkan pola respons mencakup
konstruk validiti, yaitu sejauh mana hasil pengukuran dapat ditafsirkan sesuai dengan
definisi yang digunakan. Definisi atau konsep yang diukur berasal dari teori yang
digunakan. Oleh karena itu harus ada pembahasan teori yang menjadi penentuan
konstruk suatu instrumen atau tes.
Selanjutnya, Saifudin Azwar (2015: 45) juga mengemukakan bahwa validitas
konstruk merupakan validitas yang menunjukkan sejauh mana hasil tes mampu
mengungkap suatu trait atau suatu konstrak teoritik yang hendak diukurnya. Pengujian
validitas konstrak merupakan proses yang terus berlanjut sejalan dengan
perkembangan konsep mengenai trait yang diukur. Hasil dari uji empiris ini, dapat
diketahui validitasnya baik melalui teori tes klasik maupun teori respon butir.

3. Validitas Berdasarkan Kriteria


Saifuddin Azwar menjelaskan (2015: 131) dalam prosedur validasi berdasar
kriteria (criterion-related validity), tes yang akan diestimasi validitas hasil ukurnya
disebut sebagai predictor. Statistik yang digunakan dalam pendekatan validasi ini
adalah statistik korelasi antara distribusi skor tes sebagai prediktor
Contoh Lembar Validasi Angket :

LEMBAR ANGKET VALIDASI AHLI MEDIA PEMBELAJARAN


ASPEK ISI [MATERI]

A. Identitas
Nama : Ayu Sri Menda Br Sitepu
Kls/NIM : 8186175009
Judul : Aplikasi Media Pembelajaran Kalkulus Materi Turunan Menggunakan
Matlab
Tanggal : 09 April 2019

B. Tujuan
Tujuan penggunaan instrumen ini adalah untuk mengukur kevalidan “Aplikasi
Media Pembelajaran Kalkulus Materi Turunan Menggunakan Matlab”.

C. Petunjuk
1. Bapak/Ibu diminta memberikan penilaian dengan cara memberi tanda (√) pada
kolom yang telah tersedia.
2. Makna poin validasi adalah sebagai berikut:
1 = Sangat Kurang Baik 2 = Kurang Baik
3 = Cukup Baik 4 = Baik 5 = Sangat Baik

D. Tabel Penilaian

No. Pernyataan Penilaian


5 4 3 2 1
Kualitas Materi
1 Tidak ada aspek (indikator) yang menyimpang
2 Keluasan cakupan isi materi
3 Kejelasan isi materi (termasuk SK, KD, Indikator)
4 Uraian isi materi
5 Kejelasan contoh yang disertakan
6 Kecakupan contoh yang disertakan
Kualitas Bahasan
7 Kejelasan bahasa yang digunakan
8 Kesesuaian bahasa dengan sasaran pengguna
Kualitas Soal Latihan
9 Kesesuaian latihan/tes dengan kompetensi
10 Keseimbangan soal latihan/tes evaluasi dengan materi
11 Runtutan soal evaluasi yang disajikan
TOTAL SKOR

E. Masukan Validator

Medan, 09 April 2019


Validator

( )
LEMBAR ANGKET VALIDASI AHLI MEDIA PEMBELAJARAN
ASPEK TAMPILAN

A. Identitas
Nama : Ayu Sri Menda Br Sitepu
Kls/NIM : 8186175009
Judul : Aplikasi Media Pembelajaran Kalkulus Materi Turunan Menggunakan
Matlab
Tanggal : 09 April 2019

B. Tujuan
Tujuan penggunaan instrumen ini adalah untuk mengukur kevalidan “Aplikasi
Media Pembelajaran Kalkulus Materi Turunan Menggunakan Matlab”.

C. Petunjuk
1. Bapak/Ibu diminta memberikan penilaian dengan cara memberi tanda (√) pada
kolom yang telah tersedia.
2. Makna poin validasi adalah sebagai berikut:
1 = Sangat Kurang Baik 2 = Kurang Baik
3 = Cukup Baik 4 = Baik 5 = Sangat Baik

D. Tabel Penilaian

Penilaian
No. Pernyataan
5 4 3 2 1
Kualitas Grafis
1 Tata letak teks dan gambar
2 Kesesuaian pemilihan background
3 Kesesuaian pemilihan ukuran dan jenis huruf
4 Kesesuaian warna
5 Kemenarikan sajian gambar animasi
6 Kesesuaian pemilihan gambar animasi dengan materi
Kualitas Tombol
7 Kemenarikan tampilan tombol (button)
8 Keteraturan dan konsistensi tampilan tombol
TOTAL SKOR
E. Masukan Validator

Medan, 09 April 2019


Validator
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1. Terdapat banyak definisi dari penelitian dan pengembangan / research and
development (R&D) dari beberapa ahli. Dari pendapat para ahli tersebut dapat
diambil kesimpulan bahwa penelitian dan pengembangan (R&D) adalah metode
penelitian yang bertujuan untuk menghasilkan produk-produk tertentu serta menguji
validitas dan keefektifan produk tersebut dalam penerapannya.
2. Tujuan penelitian pengembangan khusus dalam bidang pendidikan dibedakan
berdasarkan aspek pengembangan, yakni bagian kurikulum, teknologi dan media,
pelajaran dan instuksi, dan pendidikan guru didaktis.
3. Terdapat beberapa versi model penelitian dan pengembangan menurut para ahli,
misalnya model penelitian dan pengembangan versi kemp,dick and carey, borg and
gall, 4D, ADDIE, dll.
4. Dalam pelaksanaan penelitian dan pengembangan, ada beberapa metode
yang digunakan, yaitu metodedeskriptif, evaluatif, dan eksperimental. Variasi
metode inilah yang mendasari substansi proposal yang harus disusun.Laporan yang
dibuat harus selalu dilampiri dengan produk yang dihasilkan beserta spesifikasi dan
penjelasannya.
5. Seperti halnya metode yang lainnya, metode penelitian dan pengembangan juga
memiliki kelebihan dan kekurangan. Pendekatan R&D mampu menghasilkan
produk/model yang memiliki nilai validasi tinggi dan menemukan produk/model
yang selalu actual dengan tuntutan zaman sehingga menghasilkan pengetahuan yang
bisa digunakan di masa mendatang. Akan tetapi pada prinsipnya R&D memerlukan
waktu yang relative panjang serta memerlukan sumber dana dan daya yang cukup
besar. Juga tidak bisa digeneralisasikan seraca utuh.
3.2 Saran
Setelah menyusun kesimpulan kami melanjutkan untuk merumuskan saran-saran
sebagai berikut :
1) Perlu dilakukannya kelanjutan mengenai pemahaman penelitian perkembangan
dan penelitian .
2) Peneliti memahami segal model peelitian dan pengembangan yang akan
dijadikan landasan untuk menyelesaikan penelitiannya sehingga akan tersusun
dan terarah.
3) Bagi guru diharapkan dapat menggunakan metode penelitian r & d dan dapat
menciptakan atau mengembangkan suatu produk yang dapat mempermudah
siswa mencapai hasil belajar yang memuaskan.
4) Bagi para peneliti yang akan melakukan penelitian Sosialisasi produk media
pembelajaran juga diperlukan. Harapannya dapat membantu peran guru dalam
proses pembelajaran dan dapat diaplikasikan pada semua jenjang pendidikan
yang nantinya dapat dikembangkan lebih baik, lebih kreatif dan lebih inovatif.
DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Zainal. 2014. Penelitian Pendidikan. Bandung: Rosdakarya.

Munir. 2009. Pembelajaran Jarak Jauh. Bandung : Alfabeta

Sani Abdullah Ridwan, dkk. 2017. Penelitian Pendidikan. Tangerang : Tira Smart

Sugiyono, 2011. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Jakarta: Alfhabeta

Trianto. 2012. Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta: Bumi Aksara.