Anda di halaman 1dari 6

Relaksasi Progresif

A. Pengertian Relaksasi Progresif


Relaksasi progresif adalah salah satu cara dari teknik relaksasi yang
mengkombinasikan latihan napas dalam dan serangkaian seri kontraksi dan relaksasi
otot tertentu (Kustanti dan Widodo, 2008).
Teknik relaksasi otot progresif memusatkan perhatian pada suatu aktivitas otot
dengan mengidentifikasi otot yang tegang kemudian menurunkan ketegangan dengan
melakukan teknik relaksasi untuk mendapatkan perasaan relaks (Herodes, 2010).
Terapi relaksasi ini dilakukan dengan gerakan mengencangkan dan
melemaskan otot–otot pada satu bagian tubuh pada satu waktu, untuk memberikan
perasaan relaksasi secara fisik. Gerakan mengencangkan dan melemaskan secara
progresif kelompok otot ini dilakukan secara berturut-turut (Synder & Lindquist,
2002).
Menurut Pranata (2013) relaksasi otot progresif merupakan teknik yang
memfokuskan relaksasi dan peregangan pada sekelompok otot dalam suatu keadaan
rileks. Teknik yang digunakan berdasarkan suatu rangsangan pemikiran untuk
mengurangi kecemasan dengan menegangkan sekelompok otot dan kemudian rileks.
Efek relaksasi otot progresif dapat mengurangi nyeri akibat ketegangan,
kondisi mental yang lebih baik, mengurangi kecemasan, meningkatkan aktifitas
parasimpatis, memperbaiki tidur, menurunkan tekanan darah, meningkatkan kerja
fisik sehingga relaksasi otot progresif memiliki efek jangka panjang dalam
meningkatkan kualitas hidup (Dhyani, 2015).

B. Tujuan Relaksasi Progresif


Pada saat tubuh dan pikiran rileks, secara otomatis ketegangan yang seringkali
membuat otot-otot mengencang akan diabaikan (Zalaquet & mcCraw, 2000 dalam
ramdhani & Putra, 2009).
Terapi relaksasi merupakan sarana psikoterapi efektif sejenis terapi perilaku
yang dikembangkan oleh Jacobson dan Wolpe untuk mengurangi kecemasan dan
ketegangan otot-otot, syaraf yang bersumber pada objek-objek tertentu (Goldfried dan
Davidson, 1976 dalam Subandi, 2002).
Tujuan terapi relaksasi otot progressif adalah untuk:
1. Menurunkan ketegangan otot, kecemasan, nyeri leher dan punggung, tekanan darah
tinggi, frekuensi jantung, laju metabolisme.
2. Mengurangi disritmia jantung, kebutuhan oksigen.
3. Meningkatkan gelombang alfa otak yang terjadi ketika klien sadar dan tidak
memfokuskan perhatian serta relaks.
4. Meningkatkan rasa kebugaran, konsentrasi.
5. Memperbaiki kemampuan untuk mengatasi stress.
6. Mengatasi insomnia, depresi, kelelahan, iritabilitas, spasme otot, fobia ringan,
gagap ringan.
7. Membangun emosi positif dari emosi negative.

C. Manfaat Relaksasi Progresif


Menurut Pranata (2013) relaksasi otot progresif dapat meningkatkan aktivitas
fisik maupun psikologis. Gerakan dari relaksasi dan kontraksi otot dapat merangsang
sistem saraf parasimpatis yaitu nuclei rafe yang terletak dibawah pons dan medulla
sehingga akan terjadi penurunan metabolisme tubuh, denyut nadi, tekanan darah,
frekuensi nafas, peningkatan sekresi serotonin yang dapat mengakibatkan tubuh
menjadi rileks dan mudah tertidur. Ketika melakukan gerakan relaksasi sel syaraf
akan mengeluarkan opiate peptides yaitu rasa nyaman yang dialirkan keseluruh tubuh
(Person, 2008).
Relaksasi otot progresif akan menurunkan produksi kortisol dalam darah,
menurunkan kadar noreprineprine, menstimulasi suprachiasmatic nuclei untuk
menghasilkan sensasi nyaman dan timbul rasa kantuk (Saeedi, 2012).

D. Indikasi dan Kontraindikasi Relaksasi Progresif


1. Indikasi
Menurut Setyoadi dan Kushariyadi (2011, hlm.108) bahwa indikasi dari terapi
relaksasi otot progresif, yaitu:
a. Klien yang mengalami insomnia.
b. Klien sering stres.
c. Klien yang mengalami kecemasan.
d. Klien yang mengalami depresi.
2. Kontraindikasi
Beberapa hal yang mungkin menjadi kontra indikasi latihan relaksasi otot
progresif antara lain adalah cidera akut atau ketidaknyamanan muskuloskeletal,
dan penyakit jantung berat atau akut (Fritz, 2005 dalam Mashudi, 2011). Latihan
Relaksasi otot progresif dapat meningkatkan rileks yang dapat menyebabkan
hipotensi, sehingga perlu memeriksa tekanan darah untuk mengidentifikasi
kecenderungan hipotensi (Snyder & Lindquist, 2002 dalam Mashudi, 2011).
E. Pesiapan Klien
1. Jelaskan tujuan, manfaat, prosedur, dan pengisian lembar persetujuan terapi pada
klien.
2. Posisikan tubuh klien secara nyaman yaitu berbaring dengan mata tertutup
menggunakan bantal dibawah kepala dan lutut atau duduk dikursi dengan kepala
ditopang, hindari posisi berdiri.
3. Lepaskan asesoris yang digunakan seperti kacamata, jam, dan sepatu.
4. Longgarkan ikatan dasi, ikat pinggang atau hal lain yang sifatnya mengikat ketat.

F. Teknik Relaksasi Progresif


Menurut Setyoadi dan Kushariyadi (2011) persiapan untuk melakukan teknik ini
yaitu:
1. Persiapan
a. Persiapan alat dan lingkungan: kursi, bantal, serta lingkungan yang tenang dan
sunyi.
b. Pahami tujuan, manfaat, prosedur.
c. Posisikan tubuh secara nyaman yaitu berbaring dengan mata tertutup
menggunakan bantal di bawah kepala dan lutut atau duduk di kursi dengan
kepala ditopang, hindari posisi berdiri.
d. Lepaskan asesoris yang digunakan seperti kacamata, jam, dan sepatu.
e. Longgarkan ikatan dasi, ikat pinggang atau hal lain sifatnya mengikat.
2. Prosedur
a. Gerakan 1: Ditunjukan untuk melatih otot tangan.
1) Genggam tangan kiri sambil membuat suatu kepalan.
2) Buat kepalan semakin kuat sambil merasakan sensasi ketegangan yang
terjadi. Pada saat kepalan dilepaskan, rasakan relaksasi selama 10 detik.
3) Gerakan pada tangan kiri ini dilakukan dua kali sehingga dapat
membedakan perbedaan antara ketegangan otot dan keadaan relaks yang
dialami.
4) Lakukan gerakan yang sama pada tangan kanan.
b. Gerakan 2: Ditunjukan untuk melatih otot tangan bagian belakang.
1) Tekuk kedua lengan ke belakang pada peregalangan tangan sehingga otot
di tangan bagian belakang dan lengan bawah menegang.
2) Jari-jari menghadap ke langit-langit.
c. Gerakan 3: Ditunjukan untuk melatih otot biseps (otot besar padabagian atas
pangkal lengan).
1) Genggam kedua tangan sehingga menjadi kepalan.
2) Kemudian membawa kedua kapalan ke pundak sehingga otot biseps akan
menjadi tegang.
d. Gerakan 4: Ditunjukan untuk melatih otot bahu supaya mengendur.
1) Angkat kedua bahu setinggi-tingginya seakan-akan hingga menyentuh
kedua telinga.
2) Fokuskan perhatian gerekan pada kontrak ketegangan yang terjadi di bahu
punggung atas, dan leher.
e. Gerakan 5 dan 6: Ditunjukan untuk melemaskan otot-otot wajah (seperti dahi,
mata, rahang dan mulut).
Gerakan otot dahi dengan cara mengerutkan dahi dan alis sampai otot terasa
kulitnya keriput.
Tutup keras-keras mata sehingga dapat dirasakan ketegangan di sekitar mata
dan otot-otot yang mengendalikan gerakan mata.
f. Gerakan 7: Ditujukan untuk mengendurkan ketegangan yang dialami oleh otot
rahang. Katupkan rahang, diikuti dengan menggigit gigi sehingga terjadi
ketegangan di sekitar otot rahang.
g. Gerakan 8: Ditujukan untuk mengendurkan otot-otot di sekitar mulut. Bibir
dimoncongkan sekuat-kuatnya sehingga akan dirasakan ketegangan di sekitar
mulut.
h. Gerakan 9: Ditujukan untuk merilekskan otot leher bagian depan maupun
belakang.
1) Gerakan diawali dengan otot leher bagian belakang baru kemudian otot
leher bagian depan.
2) Letakkan kepala sehingga dapat beristirahat.
3) Tekan kepala pada permukaan bantalan kursi sedemikian rupa sehingga
dapat merasakan ketegangan di bagian belakang leher dan punggung atas.
i. Gerakan 10: Ditujukan untuk melatih otot leher bagian depan.
1) Gerakan membawa kepala ke muka.
2) Benamkan dagu ke dada, sehingga dapat merasakan ketegangan di daerah
leher bagian muka.
j. Gerakan 11: Ditujukan untuk melatih otot punggung.
1) Angkat tubuh dari sandaran kursi.
2) Punggung dilengkungkan.
3) Busungkan dada, tahan kondisi tegang selama 10 detik,kemudian relaks.
4) Saat relaks, letakkan tubuh kembali ke kursi sambil membiarkanotot
menjadi lurus.
k. Gerakan 12: Ditujukan untuk melemaskan otot dada.
1) Tarik napas panjang untuk mengisi paru-paru dengan udarasebanyak-
banyaknya.
2) Ditahan selama beberapa saat, sambil merasakan ketegangan dibagian
dada sampai turun ke perut, kemudian dilepas.
3) Saat tegangan dilepas, lakukan napas normal dengan lega.
4) Ulangi sekali lagi sehingga dapat dirasakan perbedaan antarakondisi
tegang dan relaks.
l. Gerakan 13: Ditujukan untuk melatih otot perut.
1) Tarik dengan kuat perut ke dalam.
2) Tahan sampai menjadi kencang dan keras selama 10 detik, lalu dilepaskan
bebas.
3) Ulangi kembali seperti gerakan awal untuk perut.
m. Gerakan 14-15: Ditujukan untuk melatih otot-otot kaki (seperti paha dan
betis).
1) Luruskan kedua telapak kaki sehingga otot paha terasa tegang.
2) Lanjutkan dengan mengunci lutut sedemikian rupa sehingga ketegangan
pindah ke otot betis.
3) Tahan posisi tegang selama 10 detik, lalu dilepas.
4) Ulangi setiap gerakan masing-masing dua kali.
DAFTAR PUSTAKA

Setyoadi, K. 2011. Terapi Modalitas Keperawatan Jiwa pada Klien Psikogeriatrik. Jakarta :
Salemba Medika.

Dhyani, D., Sen, S., & Raghumahanti, R. 2015. Effect Of Progressive Muscular Relaxation
On Stress And Disability In Subjects With Chronic Low Back Pain. Journal Of
Nursing And Health Science. Vol. 4 No. 1.

Pranata, AE. 2013. Dampak Relaksasi Progresif Pada Klien Yang Mengalami Kecemasan
Dan Masalah Tidur Sebelum Pelaksanaan Oprasi Kolostomi Diruang 19 dan 17
RSU.Dr.Saiful Anwar Malang. Jurnal Kesehatan Dr.Soebandi. Vol. 1 No. 2.

Persson, (2008). Relaxation As Treatment For Chronic Musculoskeletal Pain. Physical


Therapy Reviews. Vol. 13 hal 355-365.

Saedi, M., Ashktorab, Tahereh., Saatchi, Kiarash., Zayeri, Farid., Amir, Sedighe., & Akbari,
Ali. (2012). The Effect Of Progressive Muscle Relaxation On Sleep Quality Of
Patients Undergoing Hemodialysis. Journal Of Critical Care Nursing. Vol. 5 No.1.

Snyder, M. dan Lindquist, R. 2002. Complmentary/ alternative therapies in nursing, (4thed).

New York: Spinger Publishinng Company.

Fritz, Z. 2005. Sport and exercise massage: Comprehensive in athletics, fitness, and
rehabilitation, St. Louis, Missouri Mosby. Inc.