Anda di halaman 1dari 6

Abstrak

Dalam rangka menumbuhkembangkan semangat kompetisi masing-masing daerah untuk membangun


ekonomi rakyat melalui koperasi, perlu diadakan pemeringkatan daerah yang menggambarkan kinerja
sekaligus komitmen dari Pemerintah Daerah untuk pemberdayaan Koperasi dan UKM dalam semangat
otonomi daerah.

Tujuan dari penelitian ini adalah menemukenali indikator-indikator penilaian dalam pembangunan daerah
dalam bidang perkoperasian dan merumuskan model pemeringkatan daerah dalam pembangunan
koperasi. Manfaat studi ini adalah sebagai bahan masukan untuk pemeringkatan beberapa daerah dalam
pembangunan koperasi, memotivasi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan dalam
pembangunan koperasi dan meningkatkan semangat kompetisi antar daerah dalam pembangunan
koperasi. Lingkup kegiatan dikaitkan dengan lokasi, maka sesuai dengan perumusan dqn penetapan
indikator dan bobotnya, akan dilakukan dua tahapan operasional kegiatan. Tahap Pertama adalah
menjaring, menentukan, dan menetapkan indikator dan bobot indikator dengan cara Focus Group
Discussion (FGD) yang dilaksanakan di Jakarta. Tahap kedua adalah tahap survei. Survei mengumpulkan
data dilaksanakan di lima provinsi sebagai sampel uji sahih. Pengumpulan data dan informasi dilakukan di
masing-masing ibukota provinsi. Survei menghasilkan data untuk menentukan parameter dan indeks
indikator. Lokasi studi: sebanyak lima provinsi, yakni Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bali, Sulawesi
Selatan, dan Nusa Tenggara Barat.

Kesimpulan studi ini adalah sebagai berikut.

1. Indikator daerah dalam pembangunan koperasi mencakup tiga kelompok indikator, yaitu
indikator kelembagaan koperasi, indikator usaha, dan indikator peran pemerintah dan
pembangunan wilayah. Indikator berjumlah 18, yaitu: (1) jumlah koperasi; (2) jumlah anggota
koperasi; (3) kualitas koperasi, yang terdiri atas: (a) koperasi aktif; (b) pelaksanaan RAT; (c)
koperasi penerima penghargaan; dan (d) koperasi klasifikasi; (4) peningkatan kualitas sumberdaya
manusia koperasi; (5) Volume usaha (output) koperasi; (6) permodalan koperasi; (7)
fabungan/simpanan . anggota koperasi; (8) investasi koperasi; (9) aset koperasi; (10) ekspor
koperasi; (11)kredit perbankan untuk koperasi; (12) Sisa Hasil Usaha (SHU); (13) dana perkuatan
untuk koperasi; (14) dana dekonsentrasi untuk pembangunan koperasi; (15) anggaran
pembangunan. koperasi daerah; (16) penyerapan tenaga kerja kOperasi; (17) nilai tambah
koperasi, (18) pembayaran pajak koperasi.
2. Indikator yang termasuk dalam bobot lima besar teratas adalah kualitas koperasi, anggaran
pembangunan koperasi daerah, peningkatan kualitas SDM, volume usaha, dan jumlah kopérasl.
Sementara ltu, Indikator yang termasuk dalam lima besar terbawah adalah ekspor koperasi, pajak
koperasi, SHU, kredit koperasi, dan asset koperasi.
3. Lndikator-indikator yang dihasilkan dalam studi ini sangat memadai Untuk menjelaskan performa
daerah dalam pembangunan koperasi karena indikator tersebut mewakili koperasi,
pembangunan wilayah dan nasional.
4. Model untuk analisis pemeringkatan disebui sebagai Cooperative Development Regional
Performance (CDRP). Model ini sangat memadai untuk menjelaskan pemeringkatan karena
menggunakan metode indeks yang merangkum berbagai indikator yang berbeda jenis dan
menginteraksikan performa koperasi (Regional Cooperative Size/RCS) dengan pembangunan
wilayah dan nasional (Regional Development Size/RDS) secara integratif. Untuk menentukan
rating dan perngkat digunakan Cooperative Index of CDRP (CICDRP).
5. RCS yang tinggi pada sebuah provinsi belum tentu menunjukkan kemampuan provinsi dalam
pembangunan koperasi karena. masih sangat tergantung pada. kemampuan ekonomi provinsi
tersebut (RDS). Dalam kasus ini ditunjukkan oleh Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan antara lain
jumlah koperasi.
6. Dari uji sahih penerapan model diperoleh peringkat provinsi sampel dalam pembangunan
koperasi pada tahun 2006 secara berturut-turut adalah: (1) Bali; (2) Sulawesi Selatan; (3) NTB; (4)
Sumatera Barat; (5) Sumatéra Utara. Bali dan Sulawesi Selatan selalu berada pada posisi peringkat
teratas selama tahun 2004 2006.
7. Dari uji sahih penerapan model CDRP, Provinsi Bali pada umumnya menunjukkan performa baik.
8. Persediaan data sangat terbatas untuk analisis secara komprehensif berdasarkan model CDRP.
Data yang tidak tersedia dah bélum‘ menjadi bagian dari statistik pembangunan koperasi dan
wilayah adalah: (1) pembiayaan pendidikan koperasi; (5) investasi koperasi; (3) aset dunia usaha
provinszi dan nasional; (4) ekspor koperasi; (S) kredit perbankan untuk koperasi; (6) dana
perkuatan/bergulir; (7) dan dekonsentrasi; (8) nilai tambah koperasi; (9) pembayaran pajak
koperasi.
9. Pemeringkatan ini dapat berguna dalam penerapan kebijakan pemerintah pusat dan daerah
untuk periode berikutnya. Juga sekaligus dapat memberikan potret kepemimpinan daerah baik
pihak eksekutif maupun legislatif daerah yang bersangkutan.

Rekomendasi yang perlu mendapat perhatian adalah sebagai berikut.

1. Indikator dan model CDRP yang dlhasilkan pada studi ini dapat digunakan untuk memeringkat
seluruh provlnsl, kabupaten, dan kota di Indonesia.
2. Untuk meningkatkan posisi daerah dalam pembangunan koperasi, pemerintah pusat dan daerah
perlu memerhatikan indikator yang bernilai rendah.
3. Dalam rangka pemeringkatan daerah (provinsi, kabupaten, dan kota), dalam pembangunan
koperasi sebaiknya menggunakan model CDRP.
4. Pemerintah pusat dan setiap pemerintah daerah (kementerian negara KUKM, Dinas-dinas KUKM,
BPS Daerah dan Pusat) sebaiknya menampilkan statistik pembangunan keperasi sesuai dengan
indikator-indikator pemeringkatan ini. Dalam rangka ini, Menteri Negara KUKM mengeluarkan
kebijakan dalam bentuk Peraturan Menteri Negara KUKM (Permen KUKM).
5. Untuk mengetahui sejauh mana posisi masing-masing daerah dalam pembangunan koperasi dan
meningkatkan semangat berkompetisi dan daya saing dalam era globalisasi, sebaiknya
dilaksanakan kegiatan pemeringkatan daerah (provinsi, kabupaten, kota) setiap tahun.
6. Untuk menjaga independensi dan objektivitas, pelaksana pemeringkatan daerah dalam
pembangunan koperasi sebaiknya oleh lembaga independen yang mempunyai kompetensi dalam
bidang assessment/rating.
7. Perlu dilakukan sosialisasi kepada masing-masing stakeholder, baik tingkat pusat maupun tingkat
daerah.
8. Perlu dilakukan pelatihan kepada petugas yang terkait dengan implementasi pemeringkatan, baik
dari unsur pemerintah tingkat pusat maupun daerah.
BAB I. Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Sejalan dengan kebijakan otonomi daerah, sejak tahun 1998 pemerintah pusat telah
mendelegasikan kewenangan pengelolaan kepada daerah, kecuali urusan agama, pertahanan, keuangan,
luar-negeri, dan kehakiman, sebagaimana tercantum di dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004
tentang Pemerintahan Daerah. Salah satu urusan pemerintahan yang telah dilimpahkan adalah
pemberdayaan koperasi yang diharapkan dapat menjadi penggerak ekonomi rakyat di daerah. Sebagai
perwujudan dari kepedulian terhadap perkembangan dan pembinaan koperasi, pemerintah terus
berupaya untuk merumuskan kebijakan yang tepat dan dapat dengan mudah diterapkan seiring dengan
era otonomi yang terus digulirkan. Langkah nyata yang saat ini tengah diupayakan oleh pemerintah adalah
pengembangan koperasi yang marhpu meningkatkan nilai tambah, penyerapan tenaga kerja, dan
kemandirian. Langkah ini memiliki beberapa keunggulan antara lain lebih fokusnya kebijakan yang
diambil, lebih terarahnya distribusi informasi, serta tingkat kompetisi dan efisiensi yang tinggi dari pelaku
usaha dan antar daerah.

Selama ini, secara statistik telah terlihat perkembangan koperasi secara lokal, regional, dan nasional.
Menurut Kementerian Koperasi dan UKM bahwa sebaran koperasi telah menyeluruh pada 33 provinsi dan
440 kabupaten/kota pada tahun 2006. Dari 138.411 jumlah koperasi terdapat 27.042.342 'orang an'ggota
koperasi, 29.207orang manajer, ‘dah 278.441 orang karyawan. Memerhatikan data tersebut, tampaknya
tidak ada masaleh dengan kehadiran koperasi karena secara kuantitas kehadiran koperasi cukup tinggi.
Namun pada sisi lain, dalam pembangunan daerah belum mencerminkan peran sentral koperasi. Jumlah
orang miskin di lndonésia masih sangat banyak mencapai lebih dari 37 juta orang,_ dan posisi daerah
dalam konteks keterkaitan pembangunan koperasi dengan daerah dan nasional belum terlihat.

Kementerian Koperasi dan UKM (KUKM) melalui Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya KUKM, khususnya
Asisten Deputi Urusan Penelitian Koperasi, pada tahun 2007 Imempunyai kegiatan studi pemeringkatan
daerah dalam pembangunan koperasi. Studi ini merupakan gagasan awal mencari model yang cocok
untuk pemeringkatan daerah dalam pembangunan koperasi. Kajian ini merupakan hasil dari studi tersebut
yang merupakan jawaban atas permasalahan studi menyangkut pemeringkatan.

1.2 Rumusan Masalah

Pada uraian latar belakang keberadaan koperasi dengan mengacu pada statistik koperasi, secara
kuantitas berdasarkan beberapa indikator telah 'menunjukkan performa cukup baik karena daerah
(kabupaten/kota) rata-rata telah mempunyai 314 unit kOperasi dengan anggota koperasi sebanyak
61.460 orang, manajer 66 orang, dan karyawan koperasi sebanyak 633 orang. Berdasarkan provinsi, Fata-
rata provinsi memiliki 4.194 unit koperasi dengan anggota koperasi sebanyak 819.465 orang, 885 orang
manajer, dan 8.438 orang karyawan koperasi. Berbagai pertanyaan muncul dari performa koperasi secara
regional. Apakah angka-angka di atas cukup menjelaskan bahwa pembangunan koperasi sudah baik?
Bagaimana melihat performa daerah dalam pembangunan koperasi? Hal inilah yang menjadi persoalan
yang membutuhkan analisis lebih dalam.
Sejalan dengan era reformasi dan globalisasi, mencari jawaban atas permasalahan di ata;
'merupakan bagian dari perubahan proses pembangunan berdasarkan otonomi daerah. Kepala Daerah
diberikan kewenangan yang besar. dalam pembangunan dengan pelimpéhan urusan pembangunan
termasuk koperasi sehingga Kepala Daerah juga harus ikut bertanggung jawab terhadap kebérhasilan
pembangunan koperasi. Bagaimana model dan indikator pembangunan koperasi yang terintegrasi dengan
pembangunan daerah dan nasional menjadi permasalahan yang perlu dipecahkan melalui studi ini.

1.3 Tujuan dan Manfaat

Sesuai latar belakang dan rumusan masalah di atas, tujuan dan manfaat studi ini adalah sebagai berikut.

1.3.1 Tujuan Studi


1) Menemukenali indikator-indikator penilaian dalam pembangunan daerah dalam bidang
perkoperasian.
2) Merumuskan model pemeringkatan daerah dalam pembangunan koperasi..

1.3.2 Manfaat Studi


1) Sebagai bahan. masukan untuk pemeringkatan beberapa daerah dalam pembangunan koperasi.
2) Memotivasi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan dalam pembangunan koperasi.
3) Meningkatkan semangat kompetisi antar daerah dalam pembangunan koperasi.

1.4 Sasaran dan Output

Sasaran kualitatif dari kegiatan ini adalah terdapatnya hasil studi tentang model pemeringkatan
daerah dalam pembangunan koperasi. Adapun sasaran kuantitatif adalah terdapatnya informasi
mengenai indikator, model, dan mekanisme pemeringkatan yang mencakup lima provinsi sampel. Output
studi ini adalah tersusunnya buku hasil studi model pemeringkatan daerah dalam pembangunan koperasi.
BAB II. Kerangka Pikir dan Ruang Lingkup Studi

2.1 Kerangka Pikir

Empat komponen utama daIam penyusunan kerangka pikir studi ini adalah: (1) konsepsi model;
(2) kerangka pembangunan wilayah; (3) kerangka pembangunan koperasi yang merupakan bagian tak
terpisahkan dari pembangunan wilayah; dan (4) formulasi 'model integratif pembangunan koperasi
dengan Wilayah. Secara teori dan empiris, keempat aspek tersebut dijelaskan berturut-turut di bawah ini.

2.1.1 Konsepsi Model

Studi ini merupakan sebuah studi model untuk pemeringkatan daerah dalam pembangunan
koperasi. Oleh karena itu, yang hendak dihasilkan adalah sebuah model yang terukur setelah melalui uji
sahih untuk mendapatkan peringkat daerah dalam pembangunan koperasi. Secara teoretis, sebuah model
merqpakan abstraksi dari dunia nyata. Begitu kompleksnya dunia nyata karena mengahdung sangat
banyak indikator dan permasalahan sehingga suatu studi tidak mungkin mampu menyelesaikan semua
aspek yang kompleks. Model memberikan solusi atas kekompleksan dunia nyata agar diperoleh hasil yang
memadai untuk kepentingan pengambilan keputusan (Taha, 1982; Bronson, 1982; Nasendi dan Anwar,
1985; Johnson, 1986; Dimiyafi dan Dimiyati, 1987; Makridakis dan Wheelright, 1989; Mulyono, 1999).

Gambar 1. Peran Model dalam Pengambilam Keputusan (Nasendi dan Anwar, 1985)

Sebagaimana terlihat pada Gambar 1, Nasendi dan Anwar menyatakan bahwa model * dibangkitkan dari
teori dan fakta atau kenyataan dan hasil prosesnya dipergunakan sebagai Pola Dasar Sistem (PDS) yang
mengandung visi dan misi, landasan, dan asas. PDS melahirkan Strategi dan Kebijakan (S&K) yang
merupakan arah dan langkah-langkah apa yang harus dilakukan. Sementara itu, S&K melahirkan proyek
pelaksanaan kebijakan yang mengandung kegiatan.

Suatu model yang baik harus memenuhi tiga persyaratan, yakni: (1) kesesuaian, model harus mampu
merangkum unsur-unsur pokok dari persoalan yang dihadapip (2) kesederhanaan, model harus sesuai
dengah kemampuan dan kepentingan; dan (3) keserasian, model harus mampu hmengesampingkan hal-
hal yang tak berguna). Berdasarkan tipe, dimensi, fungsi, tujuan, dan tingkat abstraksinya, terdapat tiga
jenis model, yakni Model Ikonik, Model AnalOg, dan Model Matematika.