Anda di halaman 1dari 29

‫ الحمد هلل والصالة والسالم على رسول هللا‬, ‫علَ ْي ُك ْم َو َرحْ َمةُ هللاِ َوبَ َر َكاتُه‬

َ ‫سالَ ُم‬
َّ ‫ال‬, ‫بسم هللا الرحمن الرحيم‬

Halaqah yang ke 1, Mengapa Kita Harus Mempelajari Tauhid

Kaum muslimin yang dimulyakan oleh Allāh ‫س ْب َحانَهُ َو تَعَالَى‬


ُ , ini adalah
halaqoh yang pertama dari silsilah belajar tauhid yang berjudul
“Mengapa Kita Harus Mempelajari Tauhid?

Mempelajari tauhid merupakan kewajiban setiap muslim, baik laki-laki


maupun wanita, karena Allāh ‫س ْب َحانَهُ َو تَعَا َل‬ ُ menciptakan manusia dan jin
adalah hanya untuk bertauhid yaitu meng-esakan ibadah kepada Allāh
‫س ْب َحانَهُ َو تَعَالَى‬
ُ . Allāh ‫س ْب َحانَهُ َو تَعَالَى‬
ُ berfirman :

‫وَمَا ﺧَلَﻘْﺖُ الْﺠِﻦَّ وَاْﻹِﻧْﺲَ ﺇِﻻَّ لِﻴَﻌْﺒُﺪُون‬

’’Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah
kepadaKu’’.(Surat Adz-Dzariyaat 56)

Oleh karena itulah Allāh ‫س ْب َحانَهُ َو تَعَالَى‬


ُ telah mengutus para Rasul kepada
setiap ummat tujuannya adalah untuk mengajak mereka kepada tauhid.
Allāh ‫س ْب َحانَهُ َو تَعَالَى‬
ُ berfirman :

َ‫… ۖ وَلَﻘَﺪْ بَﻌَﺜْﻨَا ﻓِﻲ كُﻞِّ ﺃُمَّةٍ رَسُﻮلًا ﺃَنِ اعْﺒُﺪُوا اللَّهَ وَاﺟْﺘَﻨِﺒُﻮا الﻄَّاﻏُﻮﺕ‬

’’Dan sungguh-sungguh Kami telah mengutus kepada setiap ummat


seorang Rasul yang mereka berkata kepada kaumnya, ’’Sembahlah
Allāh dan jauhilah thaghut’’. (Surat AnNahl 36)

Makna thaghut adalah segala sesembahan selain Allāh ‫س ْب َحانَهُ َو تَعَالَى‬


ُ

Oleh karena itu seorang muslim yang tidak memahami tauhid, yang
merupakan inti dari ajaran Islam, maka sebenarnya dia tidak memahami
agamanya meskipun dia telah mengaku mempelajari ilmu-ilmu yang
banyak.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh yang pertama ini dan in
syā Allāh kita bertemu kembali pada halaqoh yang ke-2.

‫هللا على ﻧبيﻧا محمد و على آله و صحبه ﺃﺟمﻌين‬


ِ ُ‫علَ ْي ُك ْم َو َر ْح َمة‬
‫ الحمد هلل والصالة والسالم على‬, ‫هللا َو َب َر َكاتُه‬ َ ‫سالَ ُم‬
َّ ‫ال‬, ‫بسم هللا الرحمن الرحيم‬
‫رسول هللا‬

Halaqah yang ke 2, Tauhid adalah syarat mutlak untuk masuk ke


dalam surga.

Saudaraku.. Orang yang menginginkan kebahagiaan di surga maka


dia harus memiliki modal yang satu ini yaitu modal bertauhid. Tidak
akan masuk ke dalam surga kecuali orang-orang yang bertauhid
meskipun terkadang dia di adzab sebelumnya ke dalam neraka
karena dosa yang dia lakukan. Nabi ‫ ﷺ‬bersabda:

‫ع ْب ُد هللا‬َ ‫سى‬ َ ‫ َوﺃ َ َّن ِع ْي‬،ُ‫س ْولُه‬ َ ‫ َوﺃ َ َّن ُم َح َّمدًا‬،ُ‫ش ِه َد ﺃ َ ْن َﻻ ِﺇلَهَ ِﺇ َّﻻ هللا َو ْح َدهُ َﻻ ش َِري َْك لَه‬
ُ ‫ع ْب ُدهُ َو َر‬ َ ‫َم ْن‬
َ‫علَى َما َكان‬ َ ُ‫ار َح ٌّق ﺃ َ ْد َﺧلَهُ هللا ال َﺟﻧَّة‬ َ َّ‫ َو َك ِل َمتُهُ ﺃ َ ْلﻘَاهَا ﺇِلَى َم ْريَ َم َو ُر ْو ٌح ِم ْﻧهُ َو ْال َﺟﻧَّةَ َح ٌّق َوالﻧ‬،ُ‫س ْولُه‬ ُ ‫َو َر‬
ْ
‫ِمنَ ال َﻌ َم ِل‬

"Barang siapa yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang


berhaq disembah kecuali Allâh, tidak ada sekutu bagi-Nya dan
bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-
Nya, dan bersaksi bahwasanya Isa adalah Hamba Allâh dan juga
Rasul-Nya, dan kalimat-Nya " Ya Allâh tiupkan kepada Maryam dan
ruh dari Allâh ‫س ْب َحانَهُ َو ت َ َعالَى‬
ُ dan bersaksi bahwasanya surga adalah
benar dan neraka adalah benar" maka Allâh ‫س ْب َحا َنهُ َو تَعَالَى‬ ُ akan
memasukkan dia ke dalam surga sesuai dengan apa yang telah
diamalkan" (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits yang lain Nabi kita ‫ ﷺ‬bersabda:

‫ يَ ْبت َ ِغى بِ َذ ِل َك َو ْﺟهَ هللا‬. ‫ار َم ْن قَا َل ﻻَ ﺇِلَهَ ﺇِﻻَّ هللا‬


ِ َّ‫علَى الﻧ‬
َ ‫ﻓَإ ِ َّن هللا قَ ْد َح َّر َم‬

"Sesungguhnya Allâh ‫س ْب َحانَهُ َو تَعَالَى‬


ُ telah mengharamkan neraka bagi
orang yang mengatakan laa illa ha ilallah tidak ada sesembahan
yang berhaq disembah kecuali Allâh, yang dia mengharap dengan
kalimat tersebut wajah Allâh ‫س ْب َحا َنهُ َو تَعَالَى‬
ُ " (HR. Bukhari dan Muslim)
Ini menunjukkan kepada kita bahwasanya modal utama untuk
mendapatkan surga Allâh ‫س ْب َحانَهُ َو تَعَالَى‬
ُ adalah dengan bertauhid.
itulah halaqah yang ke 2 dan sampai bertemu kembali pada
halaqah selanjutnya.

‫وصلى هللا على ﻧبيﻧا محمد و على آله و صحبه ﺃﺟمﻌين‬

‫ الحمد هلل والصالة والسالم على رسول هللا‬, ‫علَ ْي ُك ْم َو َرحْ َمةُ هللاِ َو َب َر َكاتُه‬
َ ‫سالَ ُم‬
َّ ‫ال‬, ‫بسم هللا الرحمن الرحيم‬

Halaqah yang ke 3, Bahaya Kesyirikan

Akhil karim..
Tauhid adalah amalan yang paling Allâh ‫س ْب َحانَهُ َو تَعَالَى‬ ُ cintai, sebaliknya syirik
(menyekutukan Allâh dalam beribadah) adalah amalan yang sangat Allâh
murkai. Allâh ‫س ْب َحانَهُ َو تَعَالَى‬
ُ memang Maha Pengampun akan tetapi bila
seseorang meninggal dunia dalam keadaan berbuat syirik besar kepada
Allâh ‫س ْب َحانَهُ َو تَعَالَى‬
ُ , Maka ‫س ْب َحانَهُ َو تَعَالَى‬
ُ tidak akan mengampuni dosa syirik
tersebut.

Orang tersebut akan kekal di dalam Neraka selama-lamanya dan tidak ada
harapan baginya untuk masuk ke dalam surga-Nya Allâh ‫س ْب َحانَهُ َو تَعَالَى‬
ُ ,
Sungguh ini adalah sebuah kerugian yang tidak ada kerugian yang lebih
besar daripada kerugian ini.

Allâh ‫س ْب َحانَهُ َو تَعَالَى‬


ُ berfirman:

‫هللا ﻻَيَ ْغ ِف ُر ﺃَن يُ ْش َركَ بِ ِه َويَ ْغ ِف ُر َمادُونَ َذلِكَ ِل َمن يَشَآ ُء‬
َ ‫ِﺇ َّن‬

"Sesungguhnya Allâh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan masih


mengampuni dosa yang lain bagi siapa yang dikehendaki". (An-Nisaa : 48)

Allâh ‫ تَعَالَى‬juga berfirman:

‫ار‬
ٍ ‫ص‬َ ‫لظالِمِينَ ِم ْن ﺃَﻧ‬ ُ َّ‫علَ ْي ِه ْال َﺟﻧَّةَ َو َمأ ْ َواهُ الﻧ‬
َّ ‫ار َو َما ِل‬ َ ُ‫ِﺇﻧَّهُ َمن يُ ْش ِر ْك ِباهللِ ﻓَﻘَ ْد َح َّر َم هللا‬

“Sesungguhnya, barang siapa yang menyekutukan Allâh, maka Allâh


mengharamkan baginya surga, dan tempat kembalinya adalah neraka, dan
tidak ada penolong bagi orang-orang zhalim” (QS. Al-Maidah: 72)

Oleh karena itu hati-hatilah saudaraku dengan dosa yang satu ini. Terkadang
seseorang terjerumus ke dalam dosa ini sedangkan dia tidak menyadarinya,
Bentengilah dirimu dengan perisai ilmu yaitu ilmu Agama, belajarlah dan
berdo'alah kepada Allâh..

Berdo'alah kepada Allâh ‫س ْب َحانَهُ َو تَعَالَى‬ُ dengan sejujur-jujurnya. Semoga


Allâh ‫س ْب َحانَهُ َو تَعَالَى‬
ُ melindungi kita dan keluarga kita dari perbuatan syirik ini.

Itulah halaqah yang ke 3 dan sampai bertemu kembali pada halaqah


selanjutnya..

‫وصلى هللا على ﻧبيﻧا محمد و على آله و صحبه ﺃﺟمﻌين‬

‫ الحمد هلل والصالة والسالم على‬, ‫سالَ ُم َعلَ ْي ُك ْم َو َر ْح َمةُ هللاِ َوبَ َر َكاتُه‬
َّ ‫ال‬, ‫بسم هللا الرحمن الرحيم‬
‫رسول هللا‬

Halaqah yang ke 4, syirik Membatalkan Amalan

Pernahkah Anda kehilangan file data berharga, hasil kerja


keras Anda selama berhari-hari atau berbulan-bulan atau
bahkan bertahun-tahun? bagaimanakah perasaan Anda saat itu?
sedih bukan! terkadang seseorang berani untuk membayar
jutaan rupiah asal file yang berharga tersebut kembali.

Saudaraku sekalian..
Syirik adalah dosa besar yang bisa membatalkan amalan
seseorang. Allâh ‫س ْب َحانَهُ َو تَعَالَى‬
ُ telah berfirman:

‫ط َّن َع َملُ َك َو َلت َ ُكوﻧ ََّن ِمنَ ْالﺧَا ِس ِرينَ َب ِل‬ َ ‫ﻲ ِﺇلَي َْك َو ِﺇلَى الَّذِينَ ِم ْن قَ ْب ِل َك لَ ِئ ْن ﺃ َ ْش َر ْك‬
َ ‫ﺕ لَ َي ْح َب‬ ِ ُ ‫َولَﻘَ ْد ﺃ‬
َ ‫وح‬
َّ ‫َّللا ﻓَا ْعبُ ْد َو ُك ْن ِمنَ ال‬
َ‫شا ِك ِرين‬ َ َّ

“Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu Wahai Muhammad


(Nabi-nabi) dan orang-orang sebelummu bahwa "Apabila kamu
berbuat syirik Maka sungguh akan batal amalanmu dan jadilah
engkau termasuk orang-orang yang merugi" Maka sembahlah
Allâh saja dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang
bersyukur". (QS. Az-Zumar: 65-66)
Dalam ayat ini, seorang Nabi pun apabila dia berbuat syirik
maka batal amalannya, Oleh karena itu, saudara sekalian
jagalah amalan Anda yang sudah Anda tabung bertahun-tahun,
jangan biarkan amalan tersebut hilang begitu saja hanya
karena kejahilan Anda terhadap Tauhid dan juga syirik.
terkadang sebuah perbuatan yang kita anggap biasa bisa
menghancurkan amalan sebesar gunung dan belum tentu ada
waktu lagi untuk bisa menabung kembali.

Itulah halaqah yang ke 4 dan sampai bertemu kembali pada


halaqah selanjutnya.

‫وصلى هللا على ﻧبيﻧا محمد و على آله و صحبه ﺃﺟمﻌين‬

‫والصالة والسالم‬ ‫ الحمد هلل‬, ‫سالَ ُم َعلَ ْي ُك ْم َو َر ْح َمةُ هللاِ َو َب َر َكاتُه‬


َّ ‫ال‬, ‫بسم هللا الرحمن الرحيم‬
‫على رسول هللا‬

Halaqah yang ke 5, Taubat Dari Kesyirikan

Orang yang berbuat syirik saudara sekalian dan dia meninggal dunia
tanpa bertaubat kepada Allâh maka dosa syirik tersebut tidak akan
diampuni. Namun, apabila dia bertaubat sebelum dia meninggal, maka
Allâh ‫س ْب َحانَهُ َو تَعَالَى‬
ُ akan mengampuni dosanya bagaimanapun besar
dosa tersebut. Taubat Nasuha adalah taubat yang terpenuhi di
dalamnya 3 syarat :

1. Menyesal,
2. Meninggalkan perbuatan tersebut,
3. Bertekad kuat untuk tidak mengulangi lagi.

Allâh ‫س ْب َحانَهُ َو ت َ َعالَى‬


ُ berfirman:

ُ ُ‫وب َﺟ ِميﻌًا ِﺇﻧَّهُ ُه َو ْالغَف‬


‫ور‬ َ ُ‫هللا يَ ْغ ِف ُر الذُّﻧ‬ ُ َ‫علَى ﺃَﻧفُ ِس ِه ْم ﻻَت َ ْﻘﻧ‬
َ ‫طوا ِمن َّرحْ َم ِة هللاِ ِﺇ َّن‬ َ ‫قُ ْل يَا ِعبَادِي الَّذِينَ ﺃَس َْرﻓُوا‬
‫الر ِحيم‬
َّ

"Katakanlah Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas


terhadap diri sendiri yaitu dengan berbuat dosa , janganlah kalian
berputus asa dari rahmat Allâh.Sesungguhnya Allâh mengampuni dosa
semuanya.Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang".(Az-Zumar 39:53)

Rasulullâh ‫ ﷺ‬bersabda:
‫ِﺇ َّن هللا َي ْﻘ َب ُل ت َْو َبةَ ْالﻌَ ْب ِد َما لَ ْم يُغ َْر ِﻏ ْر‬

"Sesungguhnya Allâh menerima taubat seorang hamba selama Ruh


Belum sampai ke tenggorokan". (HR.Tirmidzi dan juga Ibnu Majah dan
dihasankan oleh syaikh Al-Albany rahimahullâh)

Para sahabat Nabi ‫ ﷺ‬tidak semua lahir dalam keadaan islam. Bahkan
banyak diantara mereka masuk islam ketika sudah besar dan
sebelumnya bergelimang dengan kesyirikan, supaya tidak terjerumus
kembali ke dalam kesyirikan maka seseorang harus mempelajari tauhid
dan memahaminya dengan baik, Mengetahui jenis-jenis kesyirikan
sehingga dia bisa menjauhi kesyirikan tersebut.

Itulah halaqah yang ke 5 dan sampai berjumpa kembali pada halaqah


selanjutnya

‫وصلى هللا على ﻧبيﻧا محمد و على آله و صحبه ﺃﺟمﻌين‬

‫ الحمد هلل والصالة والسالم على رسول هللا‬, ‫علَ ْي ُك ْم َو َرحْ َمةُ هللاِ َوبَ َر َكاتُه‬
َ ‫سالَ ُم‬
َّ ‫ال‬, ‫بسم هللا الرحمن الرحيم‬

Halaqah yang ke 6, Apa Itu Tauhid.

Saudara sekalian semoga Allâh ‫س ْب َحانَهُ َو تَعَالَى‬


ُ memberikan pemahaman
kepada kita semua, sebelum kita jauh melangkah di dalam silsilah ini
tentunya kita harus benar-benar memahami apa makna Tauhid yang wajib
kita pelajari dan kita amalkan.

Tauhid secara bahasa adalah mengesakan, Apapun secara Istilah maka


Tauhid adalah : mengesakan Allâh di dalam beribadah. Seseorang tidak
dinamakan bertauhid sehigga dia meninggalkan peribadatan kepada selain
Allâh Seperti :

-Berdoa kepada selain Allâh,


-Bernadzar untuk selain Allâh,
-Menyembelih untuk selain Allâh dll.

Apabila seseorang beribadah kepada Allâh dan menyerahkan sebagian


Ibadah kepada selain Allâh, siapapun dia entah itu seorang Nabi, Malaikat
atau yang lain maka inilah yang dinamakan dengan syirik ( menyekutukan
Allâh ‫س ْب َحانَهُ َو تَعَالَى‬
ُ di dalam beribadah, Allâh ‫س ْب َحانَهُ َو تَعَالَى‬
ُ berfirman:

َ َ‫َو ِﺇ ْذ قَا َل ﺇِب َْراهِي ُم ألَبِي ِه َوقَ ْو ِم ِه ِﺇﻧَّﻧِى بَ َرآ ٌء ِ ّم َّمأ ت َ ْﻌبُدُونَ ِﺇﻻَّ الَّذِي ﻓ‬
‫ط َرﻧِﻲ‬

"Dan ingatlah ketika Ibrohim berkata kepada Bapaknya dan Kaumnya,


Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah kecuali Dzat
yang telah menciptakan aku" (QS az-Zukhruf : 26-27)

Rasûlullâh ‫ ﷺ‬bersabda :

ِ‫مَﻦْ قَالَ ﻻَ ﺇِلَهَ ﺇِﻻَّ اللهُ وَ كَفَﺮَ بِﻤَا يُﻌْﺒَﺪُ مِﻦْ دُوْنِ اللهِ حَﺮُمَ مَالُهُ وَدَمُهُ وَ حِﺴَابُهُ عَلىَ الله‬

"Barang siapa yang mengatakan laa illa ha ilallah dan mengingkari segala
sesuatu yang disembah selain Allâh maka haram hartanya dan darahnya
( tidak boleh diganggu) dan perhitungannya ( hisabnya) adalah atas
Allâh ‫س ْب َحانَهُ َو ت َ َعالَى‬
ُ ". (HR. Muslim)

Oleh karena itu rukun kalimat tauhid ‫ ال اله اال هلل‬ada 2 :

1. Nafi ( pengingkaran) pada kalimat ‫ ال اله‬Artinya : tidak ada tuhan yang


berhaq disembah,
maksudnya adalah mengingkari tuhan-tuhan selain Allâh.
2. Itsbat / penetapan pada kalimat ‫ اال هلل‬artinya (kecuali Allâh) Maksudnya
adalah
menetapkan Allâh sebagai satu-satunya sesembahan.

Wallâhul muafiq,
‫وصلى هللا على ﻧبيﻧا محمد و على آله و صحبه ﺃﺟمﻌين‬

Kajian 07 – HSI 01 – Termasuk Syirik


Memakai Jimat
Saudaraku sekalian, Allah adalah dzat yang memiliki manfaat dan
mudharat. Kalau Allah menghendaki manfaat kepada seseorang maka
tidak akan ada yang bisa mencegahnya, demikian pula sebaliknya
ketika Allah menghendaki untuk menimpakan suatu musibah kepada
seseorang maka tidak ada yang bisa menolaknya.
Keyakinan tersebut melazimkan kita sebagai seorang muslim untuk
hanya bergantung kepada Allah semata dan merasa cukup dengan
Allah dalam usaha mendapatkan manfaat dan menghindari mudhorot
seperti dalam mencari rezeki, mencari keselamatan, mencari
kesembuhan dari penyakit, dll. Dan tidak bergantung sekali-kali kepada
benda-benda yang diharamkan seperti jimat, wafaq, susuk, dan
berbagai macam jenisnya.
Rasulullah bersabda :
‫علَّقَ ت َ ِمي َمةً فَقَ ْد أَش َْرك‬ َ ‫علَ ْي ِه َو‬
َ ‫سلَّ َم َم ْن‬ ُ َّ ‫صلَّى‬
َ ‫َّللا‬ َ ‫َّللا‬ ُ ‫ي أَنَّ َر‬
ِ َّ ‫سو َل‬ ِ ‫ع ْق َبةَ ب ِْن ع‬
ِِّ ‫َام ٍر ا ْل ُج َه ِن‬ ُ ‫ع َْن‬
Dari ‘Uqbah bin ‘Amir Al Juhanniy, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda, “Barang siapa mengalungkan jimat, maka ia telah
berbuat syirk.” [HR. Ahmad dan Hakim. Al Mundziri dalam At
Targhib dan Al Haitsami dalam Al Majma’ berkata, “Para perawi Ahmad
adalah tsiqah.” Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Ash
Shahiihah (492)].

Apabila meyakini bahwa barang tersebut adalah sebab atau perantara


maka ini termasuk syirik kecil karena dia telah menjadikan sesuatu yang
bukan sebab sebagai sebab. Padahal yang berhak untuk menentukan
sesuatu itu sebab atau tidak adalah Allah. Kemudian apabila dia
meyakini bahwa barang tersebut dengan sendirinya memberikan
manfaat dan memberikan mudhorot maka ini termasuk syirik besar yang
bisa mengeluarkan seseorang dari Islam. Semoga Allah memudahkan
kita dan juga saudara-saudara kita untuk meninggalkan perbuatan syirik
yang sudah tersebar ini dan menjadikan ketergantungan hati kita dan
mereka hanya kepada Allah. Hasbunallah wa ni’mal wakil.

Kajian 08 –
Kajian 08 – HSI 01 – Bertabarruk (Mencari Berkah)

ِ ُ‫علَ ْي ُك ْم َو َرحْ َمة‬


‫ الحمد هلل والصالة والسالم على رسول هللا‬, ‫هللا َوبَ َركَاتُه‬ َ ‫سالَ ُم‬
َّ ‫ال‬, ‫بسم هللا الرحمن الرحيم‬

Kaum Muslimin.. Barokah adalah banyaknya kebaikan dan langgengnya.


Allâh Subhânahu wa Ta’ala adalah Dzat yang berbarokah artinya banyak
kebaikanNya. Allâh ‫س ْب َحانَهُ َو ت َ َعالَى‬
ُ berfirman:
‫تبرك هلل رب الﻌالمين‬
”Dan Allâh adalah Dzat yang memberikan keberkahan atau kebaikan kepada
sebagian makhlukNya sehingga makhluk tersebut menjadi Makhluk yang
berbarokah dan banyak kebaikanya”. Allâh ‫س ْب َحانَهُ َو تَعَالَى‬
ُ juga berfirman:

َ‫ار ًكا َو ُهدًى ِل ْل َﻌالَمِين‬


َ َ‫اس لَلَّذِي بِبَ َّكةَ ُمب‬
ِ َّ‫ض َع ِللﻧ‬ ٍ ‫ِﺇ َّن ﺃ َ َّو َل بَ ْي‬
ِ ‫ﺕ ُو‬

“Sesungguhnya rumah yang pertama yang Allâh letakkan bagi manusia untuk
beribadah adalah yang ada di makkah yang berbarokah dan petunjuk bagi
seluruh alam”. (QS. Ali Imron: 96)
Ka’bah diberikan barokah oleh Allâh ‫س ْب َحانَهُ َو تَعَالَى‬
ُ dan cara mendapatkan
barokahnya atau kebaikannya adalah dengan melakukan ibadah di sana.
Allâh ‫س ْب َحانَهُ َو تَعَالَى‬
ُ berfirman:
َ ‫ِﺇﻧَّا ﺃ َ ْﻧزَ ْلﻧَاهُ ﻓِﻲ لَ ْيلَ ٍة ُم َب‬
َ‫ار َك ٍة ِﺇﻧَّا ُكﻧَّا ُم ْﻧذ ِِرين‬

“Sesungguhnya kami telah menurunkan Alquran pada malam yang


berbarokah, sesungguhnya kami memberikan peringatan”.(QS. Ad Dukhan :
3)
Malam lailatul qodr adalah malam yang berbarokah dan cara mendapatkan
barokahnya dan juga kebaikannya adalah dengan melakukan ibadah di
malam tersebut. Seorang ulama berbarokah dengan ilmunya dan juga
dakwahnya, cara mencari keberkahannya dan juga kebaikannya adalah
dengan menimba ilmu dari ulama tersebut. Disana ada barokah yang sifatnya
dzaatiyah yaitu dzat yang berbarokah dimana barokah seperti ini bisa
berpindah, barokah jenis ini hanya Allâh berikan kepada para Nabi dan juga
Rasul. Oleh karena itu, dahulu para sahabat Nabi ‫ ﷺ‬bertabarruk dengan
bekas air wudhu Nabi ‫ ﷺ‬rambut beliau, keringat beliau dan lain-lain.

Sepeninggal beliau Rasûlullâh ‫ ﷺ‬mereka tidak melakukan hal ini kepada Abu
Bakar dan Umar dan para sahabat yang lain, dan ini menunjukkan
bahwasanya ini adalah kekhususan para Nabi dan juga para Rasul. Meminta
barokah hanya kepada Allâh dan dengan cara yang di syariatkan. Adapun
meminta barokah dari Allâh dengan sebab yang tidak disyariatkan seperti
dengan mengusap dinding mesjid tertentu, atau mengambil tanah kuburan
tertentu dan lain-lain, maka ini termasuk dalam syirik kecil, Semoga
Allâh ‫س ْب َحانَهُ َو تَعَالَى‬
ُ memberkahi kita dan keluarga kita. Aamiin.
Inilah halaqah yang ke 8 dan sampai bertemu kembali pada halaqah
selanjutnya
‫وصلى هللا على ﻧبيﻧا محمد و على آله و صحبه ﺃﺟمﻌين‬

‫ الحمد هلل والصالة والسالم على رسول هللا‬, ‫علَ ْي ُك ْم َو َرحْ َمةُ هللاِ َوبَ َر َكاتُه‬
َ ‫سالَ ُم‬
َّ ‫ال‬, ‫بسم هللا الرحمن الرحيم‬
Halaqah yang ke 9, Termasuk Syirik Besar Menyembelih Untuk Selain
Allâh ‫س ْب َحانَهُ َو ت َ َعالَى‬
ُ

Menyembelih termasuk ibadah yang agung di dalam agama Islam ini.


Didalamnya ada pengagungan terhadap Allâh Robb semesta alam dan
merupakan wujud cinta dengan mengorbankan sebagian harta kita
untuk Allâh Seperti : Ibadah qurban di hari raya, Aqiqah, dan juga
Hadiyuh bagi sebagian jama'ah haji.

Allâh ‫س ْب َحانَهُ َو تَعَالَى‬


ُ telah memerintahkan kita menyerahkan ibadah yang
mulia ini hanya untuk Allâh semata. Sebagaimana firman Allâh ‫س ْب َحانَهُ َو‬ ُ
َ َ
‫تعَالى‬

‫ص ِّل ِل َر ِبّ َك َوا ْﻧ َح ْر‬


َ َ‫ﻓ‬

“Maka shalatlah dan menyembelihkan untuk Tuhanmu''.(QS. Al Kautsar :


2)

Barang siapa yang menyerahkan ibadah menyembelih ini untuk selain


Allâh dalam rangka mengagungkan dan mendekatkan diri kepada selain
Allâh sama saja kepada seorang Nabi atau kepada seorang wali, atau
kepada jin dan lain² maka dia telah terjatuh kepada syirik besar yang
mengeluarkan seseorang dari islam, membatalkan amalannya dan
terkena ancaman laknat dari Allâh ‫س ْب َحانَهُ َو ت َ َعالَى‬
ُ , sebagaimana sabda
Rasulullâh ‫ﷺ‬

‫لﻌن هلل من ذبح لغير هلل‬

"Allâh melaknat seseorang yang menyembelih untuk selain Allâh" (HR.


Muslim)

Dan Makna dari laknat adalah dijauhkan dari Rahmat Allâh ‫س ْب َحانَهُ َو تَعَالَى‬
ُ .
Oleh karenanya, janganlah sekali-kali kita sebagai seorang muslim
berkorban dan menyembelih untuk selain Allâh sedikitpun, Meskipun
dengan seekor lalat, dengan harapan untuk mendapatkan manfaat atau
terhindar dari mudhorot. Kita harus yakin sebagai seorang muslim
bahwa manfaat dan juga mudhorot di tangan Allâh ‫س ْب َحانَهُ َو ت َ َعالَى‬
ُ semata.
Dan hanya kepada-Nya lah seorang muslim bertawwakal.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah yang ke 9 ini dan sampai
bertemu kembali pada halaqah selanjutnya
‫وصلى هللا على ﻧبيﻧا محمد و على آله و صحبه ﺃﺟمﻌين‬
‫ الحمد هلل والصالة والسالم على رسول هللا‬, ‫علَ ْي ُك ْم َو َرحْ َمةُ هللاِ َوبَ َر َكاتُه‬
َ ‫سالَ ُم‬
َّ ‫ال‬, ‫بسم هللا الرحمن الرحيم‬

Halaqah yang ke 10, Termasuk Syirik Bernadzar Untuk Selain Allâh.

Bernadzar untuk Allâh adalah seseorang mengatakan misalnya wajib bagi


saya melakukan ibadah ini dan itu untuk Allâh , atau dengan mengatakan
saya bernadzar untuk Allâh bila terlaksana hajat saya.

Bernadzar kaum muslimin yang di muliakan oleh Allâh ‫س ْب َحانَهُ َو تَعَالَى‬ ُ adalah
Ibadah dan sebuah bentuk pengagungan. Karenanya bernadzar ini tidak
diperkenankan kecuali untuk Allâh ‫س ْب َحانَهُ َو تَعَالَى‬
ُ semata, seperti seseorang
bernadzar untuk Allâh akan berpuasa satu hari jika lulus ujian, atau
bernadzar untuk Allâh akan mengadakan umrah jika sembuh dari penyakit
dan lain-lain. Allâh ‫س ْب َحانَهُ َو تَعَالَى‬
ُ berfirman:

ُُ ‫ار‬
ٍ ‫ص‬َ ‫لظا ِل ِمينَ ِم ْن ﺃَﻧ‬
َّ ‫َو َمآﺃَﻧفَ ْﻘتُم ِ ّمن ﻧَّفَﻘَ ٍة ﺃ َ ْو ﻧَ َذ ْرتُم ِ ّمن ﻧَّ ْذ ٍر ﻓَإ ِ َّن هللاَ يَ ْﻌلَ ُمهُ َو َما ِل‬

“Dan apa yang kalian infaqkan atau yang kalian nadzarkan, maka
sesungguhnya Allâh ‫س ْب َحانَهُ َو تَعَالَى‬
ُ mengetahuinya...” (Al-Baqarah: 270)

Allâh ‫ تَعَالَى‬mengabarkan bahwasanya Allâh mengetahui nadzar para


hambanya di dalam ayat ini, dan akan membalas dengan balasan yang baik.
Ini menunjukkan bahwasanya nadzar adalah ibadah yang seorang muslim
akan diberikan pahala atas nadzar tersebut. Dan Menunaikan nadzar apabila
dalam ketaatan hukumnya adalah wajib. Berdasarkan firman Allâh ‫س ْب َحانَهُ َو‬
ُ
‫تَعَالَى‬

َ ُ‫َو ْليُوﻓُوا ﻧُذ‬


‫ور ُهم‬

"Dan supaya mereka menunaikan nadzar-nadzar mereka".

Dan sabda Nabi ‫ﷺ‬:

‫من ﻧذر ان يطيع هلل ﻓليطﻌه ومن ﻧذر ان يﻌصيه ﻓال يﻌصه‬

"Barang siapa yang bernadzar untuk menaati Allâh maka hendaknya


menaatinya, dan barang siapa bernadzar untuk memaksiati Allâh maka
janganlah dia memaksiatiNya (HR. Bukhari)

Bernadzar untuk selain Allâh termasuk syirik besar, yang mengeluarkan


seseorang dari islam. Seperti, Seseorang bernadzar apabila sembuh dari
penyakit maka akan menyembelih untuk wali fulan, atau berpuasa untuk
syeikh fulan dan lain-lain. Semoga Allâh ‫س ْب َحانَهُ َو تَعَالَى‬
ُ melindungi kita dan
keturunan kita dari perbuatan syirik. Aamiin.

Itulah halaqah yang ke 10 dan sampai bertemu kembali pada halaqah


selanjutnya (Insyâ Allâh)

‫وصلى هللا على ﻧبيﻧا محمد و على آله و صحبه ﺃﺟمﻌين‬

‫ الحمد هلل والصالة والسالم على رسول هللا‬, ‫ال َّسالَ ُم َع َل ْي ُك ْم َو َرحْ َمةُ هللاِ َوبَ َركَاتُه‬, ‫بسم هللا الرحمن الرحيم‬

Halaqah yang ke-11 dari Silsilah Belajar Tauhid adalah tentang “Ar-Ruqyah (Jampi-
jampi)”

Ruqyah yaitu bacaan yang dibacakan kepada orang yang sakit supaya sembuh.
Bacaan ini diperbolehkan selama tidak ada kesyirikan.

َ‫ف ب ِْن َمالِكٍ قَا َل كُﻨَّا ﻧَﺮْقِﻲ ﻓِﻲ الْﺠَاهِلِﻴَّةِ ﻓَﻘُلْﻨَا يَا رَسُﻮلَ اللَّهِ كَﻴْﻒَ تَﺮَى ﻓِﻲ ذَلِﻚَ ﻓَﻘَالَ اعْﺮِضُﻮا عَلَﻲَّ رُقَاكُﻢْ لَا بَأْس‬
ِ ‫َع ْن َع ْو‬
ٌ‫بِالﺮُّقَى مَا لَﻢْ يَﻜُﻦْ ﻓِﻴهِ شِﺮْك‬

Dari ‘Auf bin Mālik radiyallāhu ‘anhu berkata; Kami dahulu meruqyah di zaman
Jahiliyyah, maka kami bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam,
“Yā Rasūlullāh, apa pendapatmu tentang ruqyah ini?” Rasūlullāh ‫ ﷺ‬bersabda :
“Perlihatkanlah kepadaku ruqyah-ruqyah kalian, sesungguhnya ruqyah tidak
mengapa selama tidak ada kesyirikan”. (HR. Abū Dāwūd, dishahīhkan oleh Syaikh
Al-Albani rahimahullāh).

Ruqyah yang tidak ada kesyirikan seperti ruqyah dari:

• Ayat-ayat AlQur’an
• Do’a-do’a yang diajarkan Nabi ‫ ﷺ‬dan ini lebih utama.
• Do’a-do’a yang lain yang diketahui kebenaran maknanya baik dengan bahasa
Arab maupun dengan selain bahasa Arab.

Kemudian hendaknya orang yang meruqyah ataupun yang diruqyah meyakini


bahwasanya ruqyah hanyalah SEBAB semata, tidak berpengaruh dengan
sendirinya dan tidak boleh seseorang bertawakal kepada sebab tersebut.

Seorang Muslim mengambil sebab dan bertawakkal kepada Dzat yang


menciptakan sebab tersebut yaitu Allāh ‫س ْبحَانَهُ َو تَعَالَى‬
ُ . Ruqyah yang mengandung
kesyirikan adalah jampi-jampi atau bacaan yang mengandung permohonan kepada
selain Allāh, entah kepada seorang jin ataupun seorang wali sekalipun, biasanya
disebutkan disitu nama-nama mereka.

Tidak jarang jampi-jampi seperti ini dicampur dengan ayat-ayat Al-Qurān atau
dengan nama-nama Allāh atau dengan kalimat yang berasal dari bahasa Arab,
tujuannya adalah satu yaitu untuk mengelabui orang-orang yang jahil dan tidak
tahu. ruqyah yang mengandung kesyirikan telah dijelaskan oleh Rasūlullāh
‫ ﷺ‬dalam sabda Beliau :
ٌ‫ﺇِنَّ الﺮُّقَى وَالﺘَّﻤَائِﻢَ وَالﺘِّﻮَلَةَ شِﺮْك‬

’’Sesungguhnya jampi-jampi dan jimat-jimat dan juga pelet adalah syirik’’. (HR. Abū
Dāwūd, Ibnu Mājah dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullāh)

Itulah halaqah yang ke-11 dan sampai bertemu kembali pada dihalaqah
selanjutnya.

‫وصلى هللا على ﻧبيﻧا محمد و على آله و صحبه ﺃﺟمﻌين‬

‫ الحمد هلل والصالة والسالم على رسول هللا‬, ‫ال َّسالَ ُم َع َل ْي ُك ْم َو َرحْ َمةُ هللاِ َوبَ َركَاتُه‬, ‫بسم هللا الرحمن الرحيم‬

Halaqah yang ke-12 “Berdo’a Kepada Selain Allāh Adalah Syirik Besar”.

Berdo’a kepada Allāh adalah seseorang menghadap Allāh dengan maksud supaya
Allāh ‫س ْبحَانَهُ َو ت َ َعالَى‬
ُ mewujudkan keinginannya, baik dengan meminta atau dengan
merendahkan diri, mengharap dan takut kepada Allāh ‫س ْبحَانَهُ َو تَ َعالَى‬
ُ . Berdo’a dengan
makna di atas adalah ibadah.

Berkata An-Nu’mān Ibnu Basyīrin radhiyallāhu ‘anhu, “Aku mendengar Nabi


‫ ﷺ‬bersabda : ‘Do’a adalah ibadah, ’Kemudian Beliau ‫ ﷺ‬membaca ayat:

َ‫وَقَالَ رَبُّﻜُﻢُ ادْعُﻮﻧِﻲ ﺃَسْﺘَﺠ ِﺐْ لَﻜُﻢْ ۚ ﺇِنَّ الَّﺬِيﻦَ يَﺴْﺘَﻜْﺒِﺮُونَ عَﻦْ عِﺒَادَتِﻲ سَﻴَﺪْﺧُلُﻮنَ ﺟَهَﻨَّﻢَ دَاﺧِﺮِيﻦ‬

“Dan Rabb kalian berkata, ‘Berdo’alah kalian kepadaKu, niscaya Aku akan
mengabulkan kalian. Sesungguhnya orang- orang yang sombong dari beribadah
kepada-Ku, mereka akan masuk ke dalam neraka jahanam dalam keadaan
terhina’.” (Ghāfir:60) (HR. Abū Dāwūd, Tirmidzi, Nasāi, Ibnu Majah dan dishahihkan
oleh Syaikh Al-Albani rahimahullāh).

Dan makna “beribadah kepadaKu” adalah “berdoa kepadaKu”.

Apabila do’a adalah ibadah yang merupakan hak Allāh semata, maka berdo’a
kepada selain Allāh dengan merendahkan diri di hadapannya, mengharap dan juga
takut kepadanya, sebagaimana ketika dia mengharap dan takut kepada Allāh
adalah termasuk syirik besar.

Dan termasuk jenis do’a adalah:

⑴Istighātsah (meminta dilepaskan dari kesusahan)


⑵Isti’ādzah (meminta perlindungan)
⑶Isti’ānah (meminta pertolongan)

Apabila di dalamnya ada perendahan diri, pengharapan dan takut, maka ini adalah
ibadah, hanya diserahkan kepada Allāh ‫س ْبحَانَهُ َو تَعَالَى‬
ُ semata. Dan perlu kita ketahui
bahwasanya boleh seseorang beristighātsah, beristi’ādzah, beristi’ānah kepada
seorang makhluk dengan 4 syarat:

⑴ Makhluk tersebut masih hidup.


⑵Dia berada di depan kita atau bisa mendengar ucapan kita.
⑶Dia mampu sebagai makhluq untuk melakukannya.
⑷Tidak boleh seseorang bertawakkal kepada sebab tersebut, akan tetapi
bertawakkal kepada Allāh ‫س ْبحَانَهُ َو ت َ َعالَى‬
ُ yang menciptakan sebab.

Orang yang beristighātsah, beristi’ādzah atau beristi’ānah kepada orang yang


sudah mati atau kepada orang yang masih hidup akan tetapi tidak berada di depan
kita atau tidak mendengar ucapan kita atau meminta makhluk perkara yang tidak
mungkin melakukan kecuali Allāh, maka ini termasuk syirik besar.

Itulah halaqah ke-12 dan sampai bertemu di halaqah selanjutnya.

‫وصلى هللا على ﻧبيﻧا محمد و على آله و صحبه ﺃﺟمﻌين‬

ِ ُ‫علَ ْي ُك ْم َو َرحْ َمة‬


‫ الحمد هلل والصالة والسالم على رسول هللا‬, ‫هللا َوبَ َركَاتُه‬ َ ‫سالَ ُم‬
َّ ‫ال‬, ‫بسم هللا الرحمن الرحيم‬

Halaqoh yang ke-13 dari silsilah kita kali ini adalah tentang Syafā’at.

Syafā’at adalah meminta kebaikan bagi orang lain di dunia maupun di akhirat. Allâh dan
Rasul-Nya telah mengabarkan kepada kita tentang adanya syafā’at pada hari kiamat. Diantara
bentuknya adalah bahwasanya Allāh mengampuni seorang muslim dengan perantara do’a
orang yang telah Allāh izinkan untuk memberikan syafa’at.

Syafa’at akhirat ini harus kita imani dan kita berusaha untuk meraihnya. Dan modal utama
untuk mendapatkan syafā’at akhirat adalah bertauhid dan bersihnya seseorang dari kesyirikan.
Rasūlullāh ‫ ﷺ‬bersabda ketika beliau mengabarkan tentang bahwasanya beliau memiliki
syafā’at pada hari kiamat, beliau mengatakan:

َ ‫ﻲ ﻧَائِلَةٌ ﺇِ ْن شَا َء هللا َم ْن َماﺕَ مِ ْن ﺃ ُ َّمتِﻲ ﻻ يُ ْش ِركُ بِاهلل‬


‫ش ْيئًا‬ َ ‫ﻓَ ِه‬

“Syafa’at itu akan didapatkan insyā’ Allāh oleh setiap orang yang mati dari umatku yang tidak
menyekutukan Allāh sedikitpun.” (Hadits Shahih Riwayat Muslim)

Merekalah orang-orang yang Allāh ridhai karena ketauhidan yang mereka miliki. Allâh
berfirman:

…‫ضى‬ ْ ‫…و َﻻ يَ ْشفَﻌُونَ ِﺇ َّﻻ ِل َم ِن‬


َ َ ‫ارت‬ َ

“…Dan mereka (yaitu para nabi para malaikat & juga yang lain) tidak memberikan syafā’at
kecuali bagi orang-orang yang Allāh ridhai…”. (Al-Anbiyaa’ 28)

Syafā’at di akhirat ini berbeda dengan syafā’at di dunia. Karena seseorang pada hari kiamat
tidak bisa memberikan syafā’at bagi orang lain kecuali setelah diizinkan oleh Allāh Subhānahu
wa Ta’ālā, sampai meskipun dia seorang nabi atau seorang malaikat sekalipun. Sebagaimana
firman Allāh ‫س ْبحَانَهُ َو تَعَالَى‬
ُ :

‫ٓ مَﻦ ذَا الَّﺬِى يَﺸْفَعُ عِﻨﺪَهُۥٓ ﺇِلَّا بِإِذْﻧِهِۦ‬


“Tidaklah ada yang memberikan syafa’at di sisi Allāh ‫ تَعَالَى‬kecuali dengan izin-Nya.” (Al-
Baqarah 255)

Oleh karena itu permintaan syafā’at hanya ditujukan kepada Allāh, Zat yang memilikinya.
Seperti seseorang mengatakan dalam yang do’anya, “Ya Allāh, aku meminta syafa’at Nabi-
Mu.” Ini adalah cara meminta syafā’at yang diperbolehkan.

Bukan dengan meminta langsung kepada Nabi Muhammad ‫ ﷺ‬seperti mengatakan, “Yaa
Rasūlullāh, berilah aku syafā’atmu.” Atau dengan cara menyerahkan sebagian ibadah kepada
makhluk dengan maksud meraih syafā’atnya. Karena cara seperti ini adalah cara yang
dilakukan oleh orang-orang musyrikin zaman dahulu.

Allāh ‫س ْبحَانَهُ َو تَعَالَى‬


ُ berfirman:

‫وَيَﻌْﺒُﺪُونَ مِﻦْ دُون ِ اللَّهِ مَا لَا يَﻀُﺮُّهُﻢْ وَلَا يَﻨْفَﻌُهُﻢْ وَيَﻘُﻮلُﻮنَ هَﺆُلَاﺀِ شُفَﻌَاﺅُﻧَا عِﻨْﺪَ اللَّهِ ۚ قُﻞْ ﺃَتُﻨَﺒِّﺌُﻮنَ اللَّهَ بِﻤَا لَا يَﻌْلَﻢُ ﻓِﻲ الﺴَّﻤَاوَاﺕِ وَلَا ﻓِﻲ‬
‫الْأَرْﺽِ ۚ سُﺒْﺤَاﻧَهُ وَتَﻌَالَى عَﻤَّا يُﺸْﺮِكُﻮن‬

“Dan mereka menyembah kepada selain Allāh, sesuatu yang tidak memudharati mereka dan
tidak pula memberikan manfaat & mereka berkata: “Mereka adalah pemberi syafa’at bagi kami
disisi Allāh”. Katakanlah: “Apakah kalian akan mengabarkan kepada Allāh sesuatu yang Allāh
tidak ketahui di langit maupun di bumi?”. Maha Suci Allāh dan Maha Tinggi dari apa yang
mereka sekutukan.” (Yunus 18)

Itulah yang bisa kami sampaikan pada halaqoh kali ini dan sampai bertemu kembali pada
halaqoh selanjutnya.

‫ الحمد هلل والصالة والسالم على رسول هللا‬, ‫ال َّسالَ ُم َع َل ْي ُك ْم َو َرحْ َمةُ هللاِ َوبَ َركَاتُه‬, ‫بسم هللا الرحمن الرحيم‬

Halaqah yang ke 14 Berlebihan Terhadap Orang Shalih Pintu Kesyirikan

Orang yang sholih adalah orang yang baik karena mengikuti syariat Allâh baik
dalam hal Aqidah, Ibadah maupun Muamalah. Mereka memiliki derajat yang
berbeda-beda di sisi Allâh ‫س ْبحَانَهُ َو ت َ َعالَى‬
ُ . Kita sebagai seorang muslim diperintahkan
untuk mencintai mereka, kita juga diperintahkan untuk mengikuti jejak mereka
dalam kebaikan.

Berteman dan bermajelis dengan mereka adalah sebuah keberuntungan,


membaca perjalanan hidup mereka bisa menambah keimanan dan meneguhkan
hati kita, Menghormati mereka adalah diperintahkan selama masih dalam batas-
batas yang diizinkan agama.

Namun, berlebih-lebihan terhadap orang yang sholih seperti mendudukan mereka


diatas kedudukannya sebagai manusia, atau menyifati mereka dengan sifat-sifat yg
tidak pantas kecuali untuk Allâh, maka ini hukumnya haram, tidak diperbolehkan
menurut agama.

Karena menjadi pintu terjadinya kesyirikan dan penyerahan sebagian ibadah


kepada selain Allâh. Mencintai Rasulullâh ‫ ﷺ‬melebihi cinta kita kepada orang tua,
anak dan semua manusia adalah sebuah kewajiban agama.
Sebagaimana dalam hadits. Namun beliau melarang kita berlebih-lebihan terhadap
beliau dengan mendudukkan beliau diatas kedudukan beliau sebenarnya yaitu
sebagai seorang Hamba Allâh dan Rasul. Beliau ‫ ﷺ‬bersabda:

‫ﻻ تطروﻧﻲ كما اطرﺕ الﻧصارى عيسى ابن مريم ﻓإﻧما اﻧا عبده ﻓﻘولوا عبد هلل ورسوله‬

Janganlah kalian berlebih-lebihan terhadapku, sebagaimana orang-orang nasrani


berlebih-lebihan terhadap 'Isa ibnu Maryam. Sesungguhnya aku adalah hambaNya,
maka katakanlah hamba Allâh dan RasulNya (HR. Al-Bukhori)

Beliau adalah seorang hamba maka tidak boleh disembah dan Beliau adalah
seorang Rasul maka tidak boleh dicela dan diselisihi, Apabila berlebih-lebihan
terhadap sebaik-baik manusia yaitu Rasulullâh ‫ ﷺ‬tidak diperbolehkan, maka
bagaimana dengan yang lain?

Dan diantara bentuk ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap orang orang sholih adalah
meyakini bahwasanya mereka mengetahui ilmu ghoib, atau membangun di atas
kuburan mereka, atau beribadah kepada Allâh ‫س ْبحَانَهُ َو ت َ َعالَى‬
ُ disamping kuburan
mereka dan lain-lain.

Dan yang paling parah adalah menyerahkan sebagian ibadah kepada mereka.
Semoga Allâh ‫س ْبحَانَهُ َو تَعَالَى‬
ُ melapangkan hati kita untuk menerima kebenaran.

Itulah halaqah yang ke 14 dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya..

‫وصلى هللا على ﻧبيﻧا محمد و على آله و صحبه ﺃﺟمﻌين‬

‫ الحمد هلل والصالة والسالم‬, ‫سالَ ُم َعلَ ْي ُك ْم َو َر ْح َمةُ هللاِ َوبَ َر َكاتُه‬
َّ ‫ال‬, ‫بسم هللا الرحمن الرحيم‬
‫على رسول هللا‬
Halaqah yang ke 15 "Sihir "

Ayyuhal Ikhwah.. Sihir bermacam-macam jenisnya dan sihir yang merupakan kesyirikan adalah sihir
yang terjadi dengan meminta pertolongan kepada syetan, dan syetan tidak akan menolong seseorang
kecuali setelah melakukan perkara yg dia ridhoi yaitu:

-Kufur kepada Allâh,


-Kafir kepada Allâh

Dengan cara menyerahkan sebagaian ibadah kepada syetan tersebut atau dengan menghina Al-Qur'an
atau dengan mencela agama dan lain-lain. Allâh berfirman :

‫س ْح َر‬ َ َّ‫اطينَ َكفَ ُروا يُﻌَ ِلّ ُمونَ الﻧ‬


ّ ِ ‫اس ال‬ َّ ‫ان َولَ ِك َّن ال‬
ِ َ‫شي‬ ُ ‫سلَ ْي َم‬
ُ ‫َو َما َكفَ َر‬
"Dan bukanlah sulaiman yang kafir akan tetapi syetan-syetanlah yang kafir, mereka mengajarkan sihir
kepada manusia" (QS. Al-Baqarah :102)

Rasulullâh ‫ ﷺ‬bersabda yang artinya:


"Jauhilah 7 perkara yang membinasakan, para sahabat bertanya "Ya Rasulullâh apa 7 perkara tersebut?
Maka beliau Shalallâhu 'alaihi Wasallam mengatakan : "Syirik kepada Allâh,Sihir,dan
seterusnya".(Muttafaqun Alaih)

Hukuman bagi seorang tukang sihir jenis ini adalah hukuman mati, bila dia tidak bertobat sebagaimana
telah dicontohkan oleh para sahabat Nabi ‫ ﷺ‬dan yang berhak melakukan hukuman tersebut adalah
pemerintah yang sah dan bukan individu.

Mempelajari sihir termasuk perkara yang diharamkan bahkan sebagian ulama menghukumi pelakunya
keluar dari islam. Demikian pula, meminta supaya disihirkan juga perbuatan yang haram. Karena
Rasulullâh ‫ ﷺ‬mengabarkan bukan termasuk pengikut beliau orang yang menyihir dan orang minta
disihirkan. Sebagaimana dalam sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh Al-Bazzar dalam musnadnya
dan dishohihkan oleh syeikh Albani rahimahullâh.

Seorang muslim hendaknya mengambil sebab untuk membentengi diri dari sihir, diantaranya adalah
dengan menjaga dzikir-dzikir yang disyariatkan seperti :

-Dzikir pagi dan petang


-Dzikir setelah sholat 5 waktu
-Dzikir akan tidur
-Dzikir mau makan
-Dzikir masuk rumah dan keluar rumah
-Dzikir masuk kamar kecil dan keluar kamar kecil dan lain-lain.

Dan membersihkan diri dan juga rumah dari perkara-perkara yang membuat ridho syetan, seperti :

-Jimat- jimat,
-Musik - musik,
-Gambar-gambar makhluk bernyawa dan lain-lain.

Dan apabila qadarullâh terkena sihir maka hendaknya dia bersabar, merendahkan diri kepada Allâh
memohon dari-Nya kesembuhan, dan berpegang dengan ruqyah-ruqyah yang disyariatkan. Dan jangan
sekali-kali dia berusaha untuk menghilangkan sihir dengan cara meminta bantuan jin, baik secara
langsung, maupun lewat dukun, paranormal dan semisal mereka.

Semoga Allâh ‫ سُ ْبحَانَهُ َو تَعَالَى‬melindungi kita dan keluarga kita dari semua kejelekan di dunia dan juga di
akhirat. Aamiin..

Itulah halaqah yang ke 15 dan sampai bertemu kembali pada halaqah yang selanjutnya

‫وصلى هللا على ﻧبيﻧا محمد و على آله و صحبه ﺃﺟمﻌين‬


‫ الحمد هلل والصالة والسالم‬, ‫سالَ ُم َعلَ ْي ُك ْم َو َر ْح َمةُ هللاِ َوبَ َر َكاتُه‬
َّ ‫ال‬, ‫بسم هللا الرحمن الرحيم‬
‫على رسول هللا‬
Halaqah yang ke 16 "Perdukunan"

Dukun adalah orang yang mengaku mengetahui sesuatu yang ghoib. Yang tidak diketahui oleh
kebanyakan manusia seperti:

-Mengetahui barang yang hilang,


-Pencurinya,
-Mengetahui ramalan nasib dan lain-lain.

Dia mengaku mengetahui hal² tersebut dengan cara-cara tertentu seperti :

-Melihat bintang,
-Menggaris di tanah,
-Melihat air di mangkuk dan lain-lain.

Dengan cara ini para dukun memakan harta manusia.

Saudaraku sekalian.. Ketahuilah, perdukunan dengan namanya yang bermacam² adalah perkara yang
diharamkan dalam agama islam. Ilmu ghoib yang mereka akui pada hakikatnya adalah kabar dari jin
yang mereka mintai bantuan. sedangkan, cara-cara tersebut hanyalah untuk menutupi kedoknya
sebagai seorang yang meminta bantuan jin dan juga syaithan.

Kita sudah mengetahui bersama bahwa iblis sudah berjanji akan menyesatkan manusia dan menyeret
mereka bersamanya ke dalam neraka. Iblis dan juga keturunannya tidak akan membantu sang dukun
kecuali apabila dukun tersebut kafir kepada Allâh.

Para ulama menghukumi dukun sebagai orang yang kafir dengan sebab ini, dan harta yang dia
dapatkan dari pekerjaan ini adalah harta yang haram.

Berkaitan dengan ramalan yang kadang benar, maka sebagai yang dikabarkan oleh Nabi ‫ ﷺ‬dalam
hadits yang shohih bahwa para jin bekerjasama untuk mencuri kabar dari langit. Apabila mendengar
sesuatu maka jin yang di atas akan mengabarkan kepada yang dibawahnya dan seterusnya sehingga
sampai ke telinga dukun, terkadang dia terkena lemparan bintang sebelum menyampaikan kabar
tersebut, dan terkadang pula sempat menyampaikan sebelum akhirnya terkena lemparan bintang.

Kabar sedikit ini atau kabar sedikit yang sampai ini akan ditambah²i oleh dukun tersebut dengan
kedustaan yang banyak. Apa yang benar terjadi sesuai dengan yang dia kabarkan akan dijadikan alat
mencari pembenaran dan kepercayaan dari manusia. Orang islam dilarang sekali-kali datang ke dukun
dengan maksud meminta bantuan bagaimanapun susahnya keadaan dia. Rasulullâh ‫ ﷺ‬bersabda yang
artinya :

Barang siapa yang mendatangi seorang dukun kemudian membenarkan apa yang dia ucapkan, maka
dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad (HR.Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah
dan dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani Rahimahullâh )

Rasulullâh ‫ ﷺ‬bersabda :

‫من اتى عراﻓا ﻓسأ له عن شﻲء لم تﻘبل له صال ة اربﻌين ليلة‬


Barang siapa yang mendatangi dukun, kemudian bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka tidak
diterima darinya sholat selama 40 hari (HR. Muslim)

Meskipun sebagian ulama berpendapat bahwa mendatangi dukun tidak sampai mengeluarkan
seseorang dari islam. Namun kedua hadits diatas cukup menunjukkan besarnya dosa orang yang
mendatangi dukun. Semoga Allâh ‫س ْبحَانَهُ َو تَعَالَى‬
ُ menjadikan kita merasa cukup dengan yang halal dan
menjauhkan kita dari yang haram.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah ke 16. Dan sampai bertemu kembali pada halaqah
berikutnya..

‫وصلى هللا على ﻧبيﻧا محمد و على آله و صحبه ﺃﺟمﻌين‬


‫ الحمد هلل والصالة والسالم على رسول هللا‬, ‫ال َّسالَ ُم َع َل ْي ُك ْم َو َرحْ َمةُ هللاِ َوبَ َركَاتُه‬, ‫بسم هللا الرحمن الرحيم‬

Pelajaran yang ke-17 dari Silsilah Belajar Tauhid adalah tentang “Tathayyur”, yaitu
merasa sial dengan sesuatu.

Tathayyur adalah merasa akan bernasib sial karena melihat atau mendengar
kejadian tertentu, Seperti:
• Melihat tabrakan atau,
• Orang yang berkelahi atau, yang semisalnya.

Kemudian hal tersebut menyebabkan dia tidak jadi melaksanakan hajatnya, seperti
bepergian, berdagang dan lain-lain. Tathayyur termasuk syirik kecil apabila
perasaan tersebut kita ikuti, Rasūlullāh ‫ ﷺ‬bersabda,

ّ ِ ُ‫َم ْن َر َّدتْه‬
َ‫الطيَ َرة ُ ِم ْن َحا َﺟ ٍة ﻓَ َﻘ ْد ﺃ َ ْش َرك‬

“Barangsiapa yang thiyarah menyebabkan dia tidak jadi melaksanakan hajatnya


maka dia telah berbuat syirik.” (Hadits shahīh diriwayatkan oleh Imām Ahmad)

Perasaan ini sebenarnya tidak akan mempengaruhi takdir, sebagaimana hal ini
dinafikan dan di ingkari oleh Rasūlullāh ‫ﷺ‬, Beliau bersabda,

‫ارة‬ ّ ِ َ‫َوﻻ‬
َ َ‫الطي‬

“Tidak ada thiyārah.” (HR Bukhari dan Muslim)

Maksudnya, thiyārah ini hanya sebuah perasaan saja yang tidak akan berpengaruh
terhadap takdir Allāh ‫س ْبحَانَهُ َو تَعَالَى‬
ُ ,. Oleh karena itu seorang Muslim tidak boleh
mengikuti was-was syaithān ini. Dan hendaknya dia Memiliki keyakinan yang kuat
bahwa semua yang terjadi di permukaan bumi berupa kebaikan & keburukan
adalah dengan takdir Allāh semata, Yakin bahwa tidak (ada yang) mendatangkan
kebaikan kecuali Allāh dan tidak (ada yang) melindungi dari keburukan kecuali
Allāh. Hanya bertawakal kepada Allāh semata dan berbaik sangka kepada
Allāh ‫س ْبحَانَهُ َو ت َ َعالَى‬
ُ ,.

Apabila datang perasaan tersebut maka hendaknya segera dihilangkan dengan


tawakkal dan tetaplah dia melaksanakan hajatnya. Dan apa yang terjadi setelah itu
adalah takdir Allāh semata.

Adapun tafā’ul maka diperbolehkan didalam agama kita. Tafā’ul artinya adalah
berbaik sangka kepada Allāh karena melihat atau mendengar sesuatu. Dahulu Nabi
‫ ﷺ‬sering bertafā’ul seperti ketika Perjanjian Hudaibiyah. Utusan Quraisy saat itu
bernama Suhail. Dan Suhail adalah bentuk pengecilan dari kata “sahl” yang artinya
“yang mudah”. Maka Beliau pun berbaik sangka kepada Allāh bahwa perjanjian ini
akan membawa kemudahan dan kebaikan bagi umat Islam.

Maka benarlah persangkaan Beliau. Allāh ‫س ْبحَا َنهُ َو تَعَا َلى‬


ُ , membuka setelah itu (yaitu
setelah perjanjian tersebut) pintu-pintu kemudahan bagi umat Islam.

Itulah halaqah yang ke-17 dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
‫الحمد هلل والصالة والسالم على رسول هللا و على‬, ‫علَ ْي ُك ْم َو َرحْ َمةُ هللاِ َوبَ َر َكاتُه‬
َ ‫سالَ ُم‬
َّ ‫ال‬, ‫بسم هللا الرحمن الرحيم‬
‫آله و صحبه ﺃﺟمﻌين‬

Halaqah yang ke-18 dari Silsilah Belajar Tauhid adalah tentang “Meramal
Nasib Dengan Bintang”.

Bintang adalah makhluq yang menunjukkan kebesaran Allāh dan kebesaran


Penciptanya, Allāh ‫تَعَالَى‬, telah mengabarkan di dalam Al-Qurān bahwa bintang
ini memiliki 3 faidah:

⑴ Sebagai perhiasan langit.


⑵ Sebagai pelempar syaithān.
⑶ Sebagai petunjuk manusia, seperti :

-Mengetahui arah utara atau selatan


-Mengetahui arah daerah, arah kiblat
-Mengetahui kapan datangnya musim menanam, musim hujan dan lain-lain.

Allāh tidak menciptakan bintang untuk perkara yang lain selain 3 perkara di
atas. Seorang salaf, Qatādah Ibn Di’āmah As-Sadūsi, seorang ulama yang
meninggal kurang lebih pada tahun 110 H. Beliau menjelaskan bahwa,

“Barangsiapa yg meyakini bahwasanya bintang memiliki faidah yang lain,


selain 3 hal di atas maka dia telah bersalah dan berbicara tanpa
ilmu.” (Ucapan ini dikeluarkan Al-Imām Al-Bukhāri di dalam Shahih beliau)

Contohnya adalah meyakini bahwasanya terbit dan tenggelamnya bintang


atau berkumpul dan berpisahnya beberapa bintang berpengaruh kepada
keberuntungan seseorang di masa yang akan datang, dalam masalah rejeki,
jodoh dan lain-lain.

Seperti kolom yang ditemukan di beberapa koran dan juga majalah.


Membacanya dan mempercayainya adalah perbuatan yang haram dan
termasuk dosa besar. Sebagian ulama mengatakan hukumnya seperti orang
yang mendatangi dukun dan bertanya kepadanya. Ancamannya tidak
diterima shalatnya selama 40 hari.

Hendaknya kita semua takut kepada Allāh. Dan janganlah sekali-kali


mencoba membaca kolom-kolom tersebut. Dan jangan juga memasukkannya
ke dalam rumah kita. Kita tutup segala pintu yang bisa merusak ‘aqidah kita
dan juga keluarga kita. Karena ‘aqidah merupakan modal kita memasuki
surganya Allāh ‫س ْب َحانَهُ َو تَعَالَى‬
ُ , dengan selamat.

Inilah halaqah yang ke-18 dan sampai bertemu kembali pada halaqah yang
selanjutnya.
‫و صلى هللا على ﻧبيﻧا محمد و على آله و صحبه ﺃﺟمﻌين‬

ِ ُ‫علَ ْي ُك ْم َو َرحْ َمة‬


ُ‫هللا َوبَ َركَاتُه‬ َ ‫سالَ ُم‬
َّ ‫ال‬
‫الحمد هلل والصالة والسالم على رسول هللا و على آله و صحبه ﺃﺟمﻌين‬

Halaqah yang ke-19 dari Silsilah Belajar Tauhid kita kali ini adalah tentang “Bersumpah
Dengan Selain Nama Allāh”.

Kaum Muslimīn yang dimuliakan oleh Allāh ‫س ْب َحانَهُ َو تَعَالَى‬


ُ , Sumpah adalah menguatkan
perkataan dengan menyebutkan sesuatu yang diagungkan, baik oleh orang yang
berbicara maupun yang diajak bicara. Kalau (dalam) bahasa ‘Arab maka
menggunakan:

• Huruf wawu (‫)و‬ َ


• Huruf ba (‫)ب‬ َ
• Huruf ta ( َ‫)ﺕ‬

Adapun Bahasa Indonesia dengan menggunakan kata “Demi”.

Bersumpah hanya diperbolehkan dengan nama Allāh semata, misalnya mengatakan:

✓ Wallāhi
✓ Demi Rabb yang menciptakan langit dan bumi
✓ Demi Zat yang jiwaku berada di tanganNya
✓ Dan lain-lain.

Adapun makhluq, bagaimanapun agungnya di mata manusia maka tidak boleh kita
bersumpah dengan namanya, misalnya dengan mengatakan:

✘ Demi Rasūlullāh
✘ Demi Ka’bah
✘ Demi Jibrīl
✘ Demi langit dan bumi
✘ Demi bulan dan bintang
✘ Dan lain-lain.

Ini semua termasuk jenis pengagungan terhadap makhluq yang terlarang, Rasūlullāh
‫ ﷺ‬bersabda,

َ‫َّللا ﻓَﻘَ ْد ﺃ َ ْش َرك‬ َ َ‫َم ْن َحل‬


ِ َّ ‫ف بِغَي ِْر‬

“Barang siapa yang bersumpah dengan selain nama Allāh maka sungguh dia telah
berbuat syirik.” (HR Abū Dāwūd, Tirmidzi dan di shahihkan oleh Syaikh Al-Albāni
rahimahullāh)

Syirik dalam hadits ini pada asalnya adalah syirik kecil yang tidak mengeluarkan
seseorang dari Islam. Namun bisa sampai kepada syirik besar bila dia mengucapkan
sumpah dengan makhluq disertai pengagungan seperti kalau dia mengagungkan
Allāh ‫س ْب َحانَهُ َو تَعَالَى‬
ُ ,, yaitu pengagungan ibadah, Seperti sumpah yang di lakukan oleh
orang-orang musyrik dengan mengatakan:

✘ Demi Wisnu
✘ Demi Dewa Fulan
✘ Demi Lāta
✘ Dan lain-lain.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah yang ke-19 ini dan sampai bertemu
kembali pada halaqah yang selanjutnya.

ِ ُ‫علَ ْي ُك ْم َو َرحْ َمة‬


‫ الحمد هلل والصالة والسالم على رسول هللا‬, ‫هللا َوبَ َركَاتُه‬ َ ‫سالَ ُم‬
َّ ‫ال‬

Halaqah yang ke-20 dari Silsilah Belajar Tauhid adalah tentang “Riyā”.

Ayyuhāl ikhwāh, Riyā’ adalah seorang mengamalkan sebuah ibadah bukan karena
ingin pahala dari Allāh, akan tetapi ingin dilihat manusia dan dipuji. Riyā’
hukumnya HARAM dan dia termasuk syirik kecil yang samar, yang tidak
mengeluarkan seseorang dari Islam.

Riyā’ adalah di antara sebab tidak diterimanya amal ibadah seseorang, bagaimanapun
besar amalan tersebut. Rasūlullāh ‫ ﷺ‬bersabda :

ُ‫قَالَ اللَّهُ تَﺒَارَكَ وَتَﻌَالَى ﺃَﻧَا ﺃَﻏْﻨَى الﺸُّﺮَكَاﺀِ عَﻦِ الﺸِّﺮْكِ مَﻦْ عَﻤِﻞَ عَﻤَالً ﺃَشْﺮَكَ ﻓِﻴهِ مَﻌِﻲ ﻏَﻴْﺮِي تَﺮَكْﺘُهُ وَشِﺮْكَه‬

“Allāh berkata: ‘Aku adalah Zat yang paling tidak butuh dengan syirik. Barangsiapa
yang mengamalkan sebuah amalan dia menyekutukan Aku bersama yang lain di
dalam amalan tersebut maka Aku akan meninggalkannya dan juga
kesyirikannya’.” (HR Muslim)

Sebagian ulama berpendapat bahwa syirik yang kecil tidak ada harapan untuk
diampuni Allāh, artinya dia harus di adzab supaya bersih dari dosa riyā’ tersebut,
berbeda dengan dosa besar yang ada di bawah kehendak Allāh, ;

◆ Kalau Allāh menghendaki maka akan diampuni langsung dan,


◆ Kalau Allāh menghendaki maka akan diadzab.

Mereka berdalil dengan keumuman ayat:

ُ‫ﺇِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِﺮُ ﺃَنْ يُﺸْﺮَكَ بِهِ وَيَغْفِﺮُ مَا دُونَ ذَلِﻚَ لِﻤَﻦْ يَﺸَاﺀ‬

“Sesungguhnya Allāh tidak mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa yang lain
bagi siapa yang dikehendaki.” (QS An Nisā: 48)

Tahukah kita siapa orang yang pertama kali nanti akan dinyalakan api neraka dengan
mereka? Mereka bukanlah preman-preman di jalan atau pembunuh yang kejam tapi
mereka justru adalah orang-orang yang beramal shalih. mereka adalah orang yang:
• ⑴ Mengajarkan Al Qurān supaya dikatakan sebagai seorang qāri, seorang yang suka
membaca, seorang yang mahir membaca.
• ⑵ Orang yang berinfaq supaya dikatakan dermawan.
• ⑶ Berjihad supaya dikatakan sebagai seorang pemberani.

Beramal bukan karena Allāh, Sebagaimana hal ini dikabarkan oleh Nabi ‫ ﷺ‬dalam
hadits yang shahih. Oleh karena itu, saudara sekalian, ikhlash-lah di dalam
beramal..dan ikhlash adalah barang yang sangat berharga. Para salaf kita, merekapun
merasakan beratnya memperbaiki hati mereka.

Dan hanya kepada Allāh kita meminta keikhlashan di dalam beramal, menjauhkan kita
dari riyā’, sum’ah, ‘ujub dan berbagai penyakit hati. dan marilah kita biasakan untuk
menyembunyikan amal kita kecuali kalau memang ada mashlahat yang lebih kuat.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah yang ke-20 ini dan sampai bertemu
kembali pada halaqah yang selanjutnya.

‫ الحمد هلل والصالة والسالم على رسول هللا‬, ‫علَ ْي ُك ْم َو َرحْ َمةُ هللاِ َوبَ َر َكاتُه‬
َ ‫سالَ ُم‬
َّ ‫ال‬

Halaqah yang ke-21 dari Silsilah Belajar Tauhid adalah tentang Cinta Kepada
Allāh”.

Mencintai Allāh merupakan ibadah yang agung. Cinta yang merupakan


ibadah ini mengharuskan seorang Muslim merendahkan dirinya di hadapan
Allāh, mengagungkan Allāh, yang akhirnya akan membawa seseorang untuk
melaksanakan perintah Allāh dan juga menjauhi apa yang Allāh larang, Inilah
cinta yang merupakan ibadah. Barangsiapa yang menyerahkan cinta seperti
ini kepada selain Allāh maka dia telah berbuat syirik besar. Allāh ‫س ْب َحانَهُ َو‬
ُ
‫ ت َ َعالَى‬berfirman :

ِ‫وَمِﻦَ الﻨَّاسِ مَﻦْ يَﺘَّﺨِﺬُ مِﻦْ دُونِ اللَّهِ ﺃَﻧْﺪَادًا يُﺤِﺒُّﻮﻧَهُﻢْ كَﺤُﺐِّ اللَّهِ وَالَّﺬِيﻦَ آَمَﻨُﻮا ﺃَشَﺪُّ حُﺒًّا لِلَّه‬

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menjadikan selain Allāh


sebagai sekutu-sekutu Allāh. Mereka mencintainya sebagaimana mereka
mencintai Allāh. Adapun orang-orang yang beriman maka cinta mereka
kepada Allāh jauh lebih besar”. (QS Al Baqarah: 165)

Adapun cinta yang merupakan tabi’at manusia, seperti cinta keluarga, harta,
pekerjaan dan lain-lain, maka hal ini diperbolehkan selama tidak melebihi
cinta kita kepada Allah. Apabila seseorang mencintai perkara-perkara
tersebut melebihi cintanya kepada Allāh maka dia telah melakukan dosa
besar. Allāh berfirman yang artinya:

“Katakanlah; ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum


keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang
kalian khawatiri kerugiannya, dan juga rumah-rumah tempat tinggal yang
kalian sukai, itu semua lebih kalian cintai dari pada Allāh dan Rasul-Nya dan
juga berjihad di jalan Allāh, maka tunggulah sampai Allāh ‫س ْب َحانَهُ َو‬
ُ
‫ ت َعَالَى‬mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allāh tidak akan memberi petunjuk
kepada orang-orang fasik”. (QS At Taubah: 24)

Ketika terjadi pertentangan antara dua kecintaan maka disini akan nampak
siapa yang lebih dia cintai. Dan akan nampak siapa yang cintanya benar dan
siapa yang cintanya hanya sebatas ucapan saja.

Diantara cara untuk memupuk rasa cinta kita kepada Allāh adalah dengan:

1. Mentadabburi (memperhatikan) ayat-ayat Al Qurān.


2. Memikirkan tanda tanda kekuasaan Allāh ‫س ْب َحانَهُ َو ت َ َعالَى‬
ُ di alam semesta.
3. Mengingat-ingat berbagai kenikmatan yang Allāh berikan.

Itulah halaqah yang ke-21 dan sampai bertemu kembali pada halaqah
selanjutnya.

‫و صلى هللا على ﻧبيﻧا محمد و على آل ﻧبيﻧا محمد و على آله و صحبه ﺃﺟمﻌين‬

‫ الحمد هلل والصالة والسالم على رسول هللا‬, ‫سالَ ُم َعلَ ْي ُك ْم َو َر ْح َمةُ هللاِ َو َب َر َكاتُه‬
َّ ‫ال‬
Halaqah yang ke-22 dari Silsilah Belajar Tauhid adalah tentang “Takut Kepada Allāh”.

Ayyuhal ikhwah, Di antara keyakinan seorang muslim adalah bahwasanya manfaat dan mudharat
adalah di tangan Allāh ‫س ْبحَانَهُ َو تَعَالَى‬
ُ semata. Seorang Muslim tidak takut kecuali kepada Allāh dan tidak
bertawakal kecuali kepada Allāh.

✓ Takut kepada Allāh yang dibenarkan adalah takut yang membawa pelakunya untuk:

⑴ Merendahkan diri di hadapan Allāh.


⑵ MengagungkanNya.
⑶ Membawanya untuk menjauhi larangan Allāh ‫سُ ْبحَانَهُ َو تَعَالَى‬
⑷ Melaksanakan perintahNya.

✘ Bukan takut :

⑴ Yang berlebihan yang membawa kepada keputus-asaan terhadap rahmat Allāh.


⑵ Yang terlalu tipis yang tidak membawa pemiliknya kepada keta’atan kepada Allāh .

Takut seperti ini adalah ibadah. Tidak boleh sekali-kali seorang Muslim menyerahkan takut seperti ini
kepada selain Allāh.

Dan barangsiapa menyerahkannya kepada selain Allāh, maka dia telah terjerumus ke dalam syirik
besar, yang mengeluarkan seseorang dari Islam. Seperti orang yang takut (terkena) mudharat (dengan)
wali fulan yang sudah meninggal kemudian takut tersebut menjadikan dia merendahkan diri di hadapan
kuburannya dan juga mengagungkannya. Hendaknya seorang Muslim meneladani Nabi Ibrāhīm
‘Alaihissalām ketika beliau berkata yang artinya:
“Dan aku tidak takut dengan sesembahan kalian, mereka tidak memudharati aku kecuali apabila
Rabbku menghendakinya.” (QS Al An’ām: 80)

Di antara takut yang diharamkan adalah takutnya seseorang kepada makhluq yang melebihi takutnya
kepada Allāh, sehingga takut tersebut membuat dia meninggalkan perintah Allāh atau melanggar
larangan Allāh, Seperti Orang yang meninggalkan jihad yang wajib atasnya karena takut kepada orang-
orang kafir Atau, tidak melarang kemungkaran karena takut celaan manusia padahal dia mampu.

Allāh berfirman yang artinya:

“Sesungguhnya itu hanyalah syaithān yang menakut-nakuti kalian, wahai orang-orang yang beriman,
dengan wali-walinya (penolong-penolongnya). Karena itu janganlah kalian takut kepada mereka tetapi
takutlah kalian kepadaKu jika kalian benar-benar orang yang beriman” (QS Āli ‘Imrān: 175 )

Di antara cara menghilangkan rasa takut kepada makhluq yang diharamkan adalah:

⑴ Berlindung kepada Allāh dari bisikan syaithan.


⑵ Mengingat sabda Nabi ‫ ﷺ‬yang artinya:

“Ketahuilah bahwa seandainya umat semuanya berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu,
niscaya mereka tidak bisa memberikan manfaat kecuali dengan apa yang sudah Allāh tulis, dan
seandainya mereka berkumpul untuk memberikan mudharat kepadamu niscaya mereka tidak bisa
memberikan mudharat kecuali dengan apa yang sudah Allāh tulis.” (HR Tirmidzi dan dishahihkan
Syaikh Al Albani Rahimahullāh)

Diperbolehkan takut yang merupakan tabiat manusia, seperti:

⑴ Takut kepada panasnya api.


⑵ Takut kepada binatang buas.

Dan takut seperti ini bukanlah takut yang merupakan ibadah dan juga bukan takut yang membawa
seseorang meninggalkan perintah atau melanggar larangan Allāh. Ini adalah takut yang tabiat, yang
para Nabi pun tidak terlepas darinya.

‫ الحمد هلل والصالة والسالم على رسول هللا‬, ‫ال َّسالَ ُم َع َل ْي ُك ْم َو َرحْ َمةُ هللاِ َو َب َركَاتُه‬, ‫بسم هللا الرحمن الرحيم‬

Halaqah yang ke-23 dari Silsilah kita adalah tentang “Ta’at Ulama Dalam
Kebenaran”.

Ulama adalah orang-orang yang memiliki ilmu tentang Allāh dan juga agamanya,
Ilmu yang membawa dirinya untuk bertaqwa kepada Allāh ‫س ْبحَانَهُ َو تَعَالَى‬
ُ , Mereka
adalah pewaris para nabi dan kedudukan mereka di dalam agama Islam adalah
sangat tinggi, Allāh telah mengangkat derajat para ulama dan memerintahkan kita
untuk ta’at kepada mereka selama mereka menyeru dan mengajak kepada
kebenaran dan juga kebaikan. Allāh Ta’ālā berfirman :

‫سو َل َوﺃُو ِلﻲ ْاأل َ ْم ِر ِم ْﻧ ُك ْم‬ َّ ‫َّللا َوﺃ َ ِطيﻌُوا‬


ُ ‫الر‬ َ َّ ‫ۖ َيا ﺃَيُّ َها الَّذِينَ آ َمﻧُوا ﺃ َ ِطيﻌُوا‬

“Wahai orang-orang yang beriman, ta’atlah kepada Allāh dan ta’atlah kepada Rasul
dan ulil amri kalian.” (QS An Nisā: 59)

Dan ulil amri disini mencakup ulama dan juga umarā (pemerintah), menghormati
mereka (yaitu para ulama) bukan berarti menta’ati mereka dalam segala hal
sampai kepada kemaksiatan,
'ulama, ayyuhal ikhwah, seperti manusia yang lain. Ijtihad mereka terkadang salah
dan terkadang benar.

* Kalau benar, mereka mendapatkan 2 pahala.


* Kalau salah, mereka mendapatkan 1 pahala.

Apabila jika telah jelas kebenaran bagi seorang Muslim dan jelas bahwasanya
seorang ulama menyelisihi tersebut dalam sebuah permasalahan, maka tidak boleh
seseorang mena’ati ulama tersebut kemudian dia meninggalkan kebenaran,
Rasūlullāh ‫ ﷺ‬bersabda:

“Tidak ada keta’atan dalam kemaksiatan. Sesungguhnya keta’atan hanya didalam


kebenaran” (Muttafaqun ‘alaih)

Apabila seseorang menta’ati ulama dalam kemaksiatan kepada Allāh, maka dia
telah menjadikan ulama tersebut sebagai pembuat syariat dan bukan penyampai
syariat, seperti yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nashrani. Allāh
berfirman :

ِ ‫ار ُه ْم َو ُر ْه َباﻧَ ُه ْم ﺃ َ ْر َبابًا ِم ْن د‬


‫ُون هللا‬ َ ‫…ات َّ َﺧذُوا ﺃَحْ َب‬

“Mereka (orang-orang Yahudi & Nasrani) menjadikan ulama dan ahli ibadah
mereka sebagai sesembahan selain Allāh.” (QS At Taubat: 31)

Rasūlullāh ‫ ﷺ‬menjelaskan ayat ini, Beliau mengatakan:

“Ketahuilah bahwa mereka bukan beribadah kepada para ulama dan ahli ibadah
tersebut, akan tetapi mereka, apabila menghalalkan apa yang Allāh haramkan,
maka mereka ikut menghalalkan. Dan apabila ulama dan ahli ibadah tersebut
mengharamkan apa yang Allāh halalkan maka mereka pun ikut
mengharamkan.” (Hadits ini hasan diriwayatkan oleh At-Tirmidzi)

Itulah halaqah yang ke-23 sampai bertemu pada halaqah yang selanjutnya.

‫ الحمد هلل والصالة والسالم على رسول هللا‬, ‫ال َّسالَ ُم َع َل ْي ُك ْم َو َرحْ َمةُ هللاِ َوبَ َركَاتُه‬, ‫بسم هللا الرحمن الرحيم‬

Halaqah yang ke-24 berjudul “Menyandarkan Nikmat Kepada Allāh”.

Termasuk keyakinan yang harus diyakini dan diingat oleh setiap Muslim bahwa
kenikmatan dengan segala jenisnya adalah dari Allāh. Allāh berfirman:

َّ َ‫َو َما بِ ُك ْم ِم ْن ﻧِ ْﻌ َم ٍة ﻓَ ِمن‬


ِ‫َّللا‬

“Kenikmatan apa saja yang kalian dapatkan maka asalnya adalah dari Allāh.” (QS
An Nahl: 53)
Dan termasuk syirik kecil apabila seseorang mendapatkan sebuah kenikmatan dari
Allāh kemudian menyandarkan kenikmatan tersebut kepada selain Allāh. Seperti
mengatakan:

• “Kalau pilot tidak mahir niscaya kita sudah celaka.”


• “Kalau tidak ada angsa niscaya uang kita sudah dicuri.”
• “Kalau bukan karena dokter niscaya saya tidak sembuh.”

Ini semua adalah menyandarkan kenikmatan kepada sebab. Allāh berfirman:

‫َّللا ث ُ َّم يُﻧ ِك ُروﻧَ َها‬


ِ ّ َ‫يَ ْﻌ ِرﻓُونَ ﻧِ ْﻌ َمﺕ‬

“Mereka mengenal nikmat Allāh kemudian mereka mengingkarinya.” (QS An Nahl:


83)

Seharusnya dia sandarkan kenikmatan tersebut kepada Allāh, Zat yang


menciptakan sebab. Seperti dengan mengatakan:

• “Kalau bukan karena Allāh niscaya kita sudah celaka.”


• “Kalau bukan Allāh niscaya uang kita sudah hilang.”
• “Kalau bukan karena Allāh niscaya saya tidak akan sembuh.”

Karena apa? Karena Allāh-lah yang memberikan nikmat keselamatan, nikmat


keamanan, nikmat kesembuhan. Sedangkan makhluk hanyalah sebagai alat
sampainya kenikmatan tersebut kepada kita. Kalau Allāh menghendaki niscaya
Allāh tidak akan menggerakkan makhluk-makhluk tersebut untuk menolong kita. Ini
semua, bukan berarti seorang Muslim tidak boleh berterima kasih kepada orang
lain.

Seorang Muslim diperintah untuk mengucapkan syukur dan terima kasih kepada
seseorang yang berbuat baik kepadanya karena mereka menjadi sebab
kenikmatan ini. Bahkan diperintah untuk membalas kebaikan tersebut dengan
kebaikan atau dengan do’a yang baik.

Namun pujian dan penyandaran kenikmatan tetap hanya kepada Allāh semata. ‫وهللا‬
‫تعالى أعلم‬

Itulah yang bisa kita sampaikan pada kali ini dan sampai bertemu kembali pada
halaqah yang selanjutnya.

‫سالَ ُم َع َل ْي ُك ْم‬
َّ ‫ال‬, ‫و صلى هللا على ﻧبيﻧا محمد و على آل ﻧبيﻧا محمد و على آله و صحبه ﺃﺟمﻌيﻧبسم هللا الرحمن الرحيم‬
‫ الحمد هلل والصالة والسالم على رسول هللا‬, ‫َو َرحْ َمةُ هللاِ َوبَ َركَاتُه‬

Halaqah yang ke-25 dari Silsilah Belajar Tauhid kali ini adalah tentang “Ridha
Dengan Hukum Allāh”.
Allāh Ta’āla sebagai pencipta manusia sangat menyayangi mereka, Dialah Ar-
Rahmān Ar-Rahīm. Dan di antara bentuk kasih sayangNya adalah menurunkan
syari’at supaya manusia mendapatkan kebahagiaan dan terhindar kesusahan
didunia maupun akhirat.

Dia-lah Yang Maha Mengetahui dan Dia-lah Yang Maha Bijaksana, hukumnya
penuh dengan keadilan, hikmah dan juga kebaikan, meskipun hal ini terkadang
samar atas sebagian manusia.

Oleh karena itu, menjadi keharusan bagi seorang Muslim dan juga Muslimah untuk,
Ridha dengan hukum Allāh, dan yakin bahwasanya kebaikan semuanya di dalam
hukum Allāh.

Di dalam segala bidang kehidupan (meliputi) :

• ‘Aqidah
• Akhlaq
• Adab
• Mu’āmalah
• Ekonomi
• Kenegaraan
• Dan lain-lain.

Meng-Esakan Allāh di dalam hukum-hukumNya adalah termasuk konsekuensi


tauhid, Allāh berfirman:

َ ‫سولَهُ ﻓَ َﻘ ْد‬
‫ض َّل‬ ُ ‫َّللا َو َر‬
َ َّ ‫ص‬ِ ‫سولُهُ ﺃ َ ْم ًرا ﺃ َ ْن يَ ُكونَ لَ ُه ُم ْال ِﺧيَ َرة ُ ِم ْن ﺃ َ ْم ِر ِه ْم ۗ َو َم ْن يَ ْﻌ‬
ُ ‫َّللاُ َو َر‬ َ َ‫َو َما َكانَ ِل ُمﺅْ ِم ٍن َو َﻻ ُمﺅْ ِمﻧَ ٍة ﺇِذَا ق‬
َّ ‫ضى‬
ً‫ض َال ًﻻ ُمبِيﻧا‬
َ

“Dan tidaklah pantas bagi seorang laki-laki yang mu’min dan wanita yang mu’minah
apabila Allāh dan Rasul-Nya telah menetapkan sesuatu ketetapan, akan ada bagi
mereka pilihan yang lain di dalam urusan mereka.Dan barangsiapa yang
mendurhakai Allāh dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah sesat dengan
kesesatan yang nyata.” (QS Al-Ahzab: 36)

Saudaraku, Alhamdulillāh dengan izin dan karunia-Nya sampailah kita pada bagian
yang terakhir dari Silsilah Tauhid, yaitu bagian ke-25.

Dan dengan ini saya akhiri silsilah ini. Dan bukan berarti kita sudah merasa cukup.
Apa yang disampaikan hanyalah sebagian kecil dari ilmu tauhid itu sendiri. Belajar
tauhid dan mengamalkannya tidak akan berhenti sampai ajal menjemput kita.

Ikutilah majelis-majelis ilmu yang membahas tentang tauhid ini.

Bacalah buku-buku yang berkaitan dengan tauhid yang telah ditulis oleh para
ulama yang terpercaya. Semoga Allāh ‫س ْبحَانَهُ َو تَعَالَى‬
ُ merahmati kita semua,
menghidupkan dan juga mematikan kita di atas tauhid.
SILSILAH 01

TAU H I D