Anda di halaman 1dari 6

Dalam proses pengambilan keputusan dapat menggunakan berbagai macam model,

tergantung kepada tujuan pengambilan keputusan. Secara umum model dapat dibedakan atas
model kualitatif dan kuantitatif. Model kualitatif pada umumnya menggunakan skala ordinal dan
nominal, paling sering dipergunakan dalam ilmu sosial, budaya, dan politik. Misalnya,
smoothing factor untuk melakukan peramalan. Model kuantitatif Iebih menggunakan skala
interval dan rasio dan juga dapat menggabungkan skala ordinal dan nominal. Model yang
termasuk dalam kuantitatif adalah ekonometrika dan linear programming. Model ekonometrika
biasanya digunakan untuk peramalan atau prediksi dengan tingkat akurasi tinggi.
2.1.2. Kerangka Pembangunan Wilayah
2,1.2.1.Teori Pembangunan dan Pertumbuhan Wilayah
Menurut Rahardjo Adisasmita (2005), pembangunan wilayah (regional) merupakan fungsi
dari potensi sumber daya alam, tenaga kerja dan sumber daya manusia, investasi modal, prasarana
dan sarana pembangunan, transportasi dan komunikasi, komposisi industri, teknologi, situasi
ekonomi dan perdagangan antar wilayah, kemampuan pendanaan dan pembiayaan pembangunan
daerah,kewirausahaan (kewiraswastaan), kelembagaan daerah dan lingkunganpembangunan
secara luas. Semua faktor diatas merupakan hal yang penting, tetapi masih dianggap terpisah-pisah
satu sama lain dan belum menyatu sebagai komponen yang membentuk basis untuk penyusunan
teori pembangunan wilayah (regional) secara yang komprehensif.
Dalam melaksanakan pembangunan diperlukan landasan teori yang mampu menjelaskan
hubungan korelasi antara fakta-fakta yang diamati sehingga dapat merupakan kerangka orientasi
untuk analisis dan membuat ramalan terhadap gejala-gejala baru yang diperkirakan akan terjadi.
Dengan semakin majunya studi-studi pembangunan ekonomi, banyak teori telah diperkenalkan,
dan teori-teori tersebut dapat digunakan sebagai landasan untuk menjelaskan pentingnya
pembangunan Wilayah.
Teori Aliran Klasik
Aliran Klasik yang dipelopori oleh Adam Smith pada akhir abad ke-18 berpendapat bahwa
tingkat output dan harga keseimbangan hanya dapat dicapai bila perekonomian berada pada tingkat
kesempatan kerja penuh (full employment) dan keseimbangan dengan tingkat kesempatan kerja
penuh itu hanya dapat dicapai melalui bekerjanya mekanisme pasar secara bebas (free operation
of market mechanism). Pertumbuhan ekonomi disebabkan oleh faktor akumulasi modal dan
perkembangan jumlah penduduk. Dengan adanya akumulasi modal akan memungkinkan
dilaksanakannya spesialisasi atau pembagian kerja sehingga produktivitas tenaga kerja dapat
ditingkatkan. Dampaknya akan mendorong penambahan investasi (pembentukan modal) dan
persediaan modal (capital stock) yang selanjutnya diharapkan akan meningkatkan pendapatan.
Teori Aliran Neo Klasik
Aliran Neo Klasik menggantikan aliran Klasik. Ahli-ahli Neo Klasik banyak
menyumbangkan pemikiran mengenai teori pertumbuhan ekonomi, yaitu sebagai berikut.
a. Akumulasi modal merupakan faktor penting dalam pertumbuhan ekonomi.
b. Pertumbuhan ekonomi merupakan proses yang gradual.
c. Pertumbuhan ekonomi merupakan proses yang harmonis dan kumulatif.
d. Aliran Neo Klasik merasa optimis terhadap pertumbuhan (perkembangan).
Meskipun model pertumbuhan Neo Klasik telah digunakan secara luas dalam analisis
regional namun beberapa asumsinya tidak tepat, yakni: (a) full employment yang terus menerus
tidak dapat diterapkan pada sistem multi-regional di mana persoalan-persoalan relgional timbul
disebabkan karena perbedaan-perbedaan geografis dalam hal tingkat penggunaan sumber daya;
dan (b) persaingan sempurna tidak dapat diberlakukan pada perekonomian dan spesial.
Tingkat pertumbuhan terdiri dari tiga sumber, yaitu akumulasi penawaran tenaga kerja,
modal dan kemajuan teknik. Model Neo Klasik menarik perhatian ahli-ahli teori ekonomi regional
karena mengandung teori tentang mobilisasi faktor. Implikasi persaingan sempurna adalah modal
dan tenaga kerja yang berpindah apabila balas jasa faktor-faktor tersebut berbeda-beda. Modal
akan mengalir dari daerah yang mempunyai tingkat biaya tinggi ke daerah yang mempunyai
tingkat biaya rendah karena keadaan ini memberikan suatu penghasilan (return) yang lebih tinggi.
Teori Aliran Keynes dan Pagca Keynes
Bersamaan dengan masa depresi yang melanda dunia tahun 1930-an, muncullah pemikiran
John Maynard Keynes yang mengemukakan perubahan besar. Keynes dalam bukunya yang
berjudul General Theory of Employment, Interest and Money (1936) menyatakan bahwa karena
upah bergerak lamban, sistem kapitalisme tidak akan secara otomatis akan mencapai kepada
keseimbangan penggunaan tenaga kerja penuh (full-employmem equilibrium). Oleh karena itu,
akibat yang ditimbulkan saat itu adalah pengangguran yang sangat berlebih yang dapat diperbaiki
melalui kebijakan fiskal atau moneter untuk meningkatkan permintaan agregat.
Aliran Pasca Keynes memperluas teori Keynes menjadi teori output dan kesempatan kerja
dalam jangka panjang yang menganalisis fluktuasi jangka pendek untuk mengetahui adanya
perkembangan jangka panjang. Beberapa persoalan penting dalam analisis Pasca Keynes adalah
sebagai berikut.
a. Syarat-syarat apakah yang diperlukan untuk mempertahankan perkembangan
pendapatan yang mantap (steady growth) pada tingkat pendapatan dalam ke sempatan kerja penuh
(full employment income) tanpa mengalami deflasi ataupun inflasi.
b. Apakah pendapatan itu benar-benar bertambah pada tingkat sedemikian rupa sehingga
dapat mencegah terjadinya kemacetan yang lama atau tingkat inflasi yang terus menerus.
Teori Basis Ekspor (Export Base Theory)
Teori basis ekspor adalah bentuk model pendapatan yang paling sederhana. Teori ini
menyederhanakan suatu sistem regional menjadi dua bagian yaitu daerah yang bersangkutan dan
daerah-daerah lainnya. Masyarakat di dalam satu wilayah dinyatakan sebagai suatu sistem sosial
ekonomi. Sebagai suatu sistem, keseluruhan masyarakat melakukan perdagangan dengan
masyarakat lain di luar batas wilayahnya. Faktor penentu (determinan) pertumbuhan ekonomi
dikaitkan secara langsung kepada permintaan akan barang dari daerah lain di luar batas masyarakat
ekonomi regional. Pertumbuhan industri yang menggunakan sumber daya lokal termasuk tenaga
kerja dan material (bahan) untuk komoditas ekspor, akan meningkatkan kesempatan kerja dan
kesejahteraan masyarakat.
Untuk menganalisis basis ekonomi suatu wilayah, salah satu teknik yang lazim digunakan
adalah location quotient (LQ). Teknik LQ digunakan untuk mengetahui seberapa besar tingkat
spesialisasi sektor-sektor basis atau unggulan (leading sectors).Dalam teknik LQ berbagai peubah
(faktor) dapat digunakan sebagai indikator pertumbuhan wilayah misalnya kesempatan kerja
(tenaga kerja) dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) suatu wilayah.
Analisis location quotient merupakan suatu alat yang dapat digunakan dengan mudah,
cepat dan tepat. Karena kesederhanaannya, teknik LQ dapat dihitung berulang kali dengan
menggunakan berbagai peubah acuan dan periode waktu. Location quotient merupakan rasio
antara jumlah tenaga kerja pada sektor tertentu (misalnya industri) atau PDRB terhadap total
jumlah tenaga kerja sektor tertentu (industri) atau total nilai PDRB di suatu daerah (kabupaten)
dibandingkan dengan rasio tenaga kerja dan sektor yang sama di provinsi di mana kabupaten
tersebut berada dalam lingkupnya. Perhitungan LQ dapat dilakukan pula untuk membandingkan
indikator di tingkat provinsi dengan di tingkat nasional.
Analisis LQ dimaksudkan untuk mengidentifikasi dan merumuskan komposisi dan
pergeseran sektor-sektor basis suatu wilayah dengan menggunakan Produk Domestik Regional
Bruto (PDRB) sebagai indikator pertumbuhan wilayah.
Formulasi matematisnya adalah:

𝑉1𝑅 /𝑉 𝑅
LQ =
𝑉1/𝑉
di mana:
𝑉1𝑅 : Nilai PDRB suatu sektor kabupaten/kota
𝑉 𝑅 : Nilai PDRB seluruh sektor kabupaten/kota
𝑉1 : Nilai PDRB suatu sektortingkat provinsi
V : Nilai PDRB seluruh sektor tingkat provinsi.
 Jika LQ lebihbesar dari 1, sektor tersebut merupakan sektor basis, artinya tingkat
spesialisasi kabupaten lebih tinggi dari tingkat provinsi.
 Jika LQ lebih kecil dari 1, merupakan sektor non basis, yaitu sector yang tingkat
spesialisasinya lebih rendah dari tingkat provinsi.
 Jika LQ sama dengan 1, berarti tingkat spesialisasi kabupaten sama dengan tingkat
provinsi.

Teori Sektor (Sector Theory of Growth)


Setiap wilayah mengalami perkembangan meliputi siklus jangka pendek dan jangka
panjang. Faktor-faktor dalam analisis perkembangan jangka pendek yang umumnya digunakan
adalah penduduk, tenaga kerja, upah, harga, teknologi dan distribusi penduduk, tetapi laju
pertumbuhan jangka panjang biasanya diukur menurut keluaran (output) dan pendapatan. Pada
umumnya pertumbuhan dapat terjadi sebagai akibat dari faktor-faktor penentu endogen maupun
eksogen yaitu faktor-faktor yang terdapat di dalam wilayah yang bersangkutan atau faktor-faktor
di luar wilayah atau kombinasi dari keduanya.
Alasan dari perubahan atau pergeseran sektor tersebut dapat dilihat dari sisi permintaan
dan sisi penawaran. Pada sisi permintaan, yaitu elastisitas pendapatan dari permintaan untuk
barang dan jasa yang disuplai oleh industri manufaktur dan industri jasa adalah lebih tinggi
dibandingkan untuk produk-produk primer. Maka, pendapatan yang meningkat akan diikuti gleh
perpindahan (realokasi) sumber daya dari sektor primer ke sektor manufaktur dan sektor jasa. Sisi
penawaran yaitu realokasi sumber daya tenaga kerja dan modal dilakukan sebagai akibat dari
perbedaan tingkat pertumbuhan produktivitas dalam sektor-sektor tersebut.
Teori Pertumbuhan Wilayah dan Struktur Industri (Regional Growth and Industrial Structure).
Interpretasi pertumbuhan wilayah dalam arti dinamika struktur industri adalah sangat
penting. Alasannya adalah kerangka dasar analisis pertumbuhan wilayah adzan iokasi industri
secara komprehensif dan konsisten diperlukan untuk memahami dan mengevaluasi ekononii sub
nasional (wilayah) dan pembangunan fisik. Analisis tersebut menggunakan tiga asumsi, yaitu: (1)
bahwa pertumbuhan wilayah secara overall (volume kegiatan ekonomi) ditentukan oleh kondisi
bermacam- -macam faktor lain dari pada pendapatan regional per kapita (aspek kesejahteraan dari
pertumbuhan); (2) bahwa pembangunan masa depan adalah hasil dari kegiatan dan keputusan masa
lalu dan sekarang; dan (3) bahwa faktor-faktor kritis dalam pola pertumbuhan wilayah yang terus
berubah itu adalah hasil keputusan perusahaan-perusahaan mengenai lokasi dan output (jika dilihat
ke belakang adalah sebagai Input, dan dihubungkan ke depan adalah pasar dari industri-industri
dalam perekonomian).
Peranan suatu wilayah sebagai komponen direpresentasikan oleh sektor industri dan
struktur industri yang terdapat pada masing-masing wilayah. Ada bermacam-macam industri yaitu
industri besar, sedang dan kecil dan terdapat pula industri yang mempunyai tingkat pertumbuhan
tinggi, lamban dan bahkan ada yang stagnan. Ada suatu wilayah yang memiliki keunggulan
lokasional (Iocational advantage) yang memungkinkan pengembangan industri. Sebaliknya
Wilayah-wilayah lain tidak memiliki keunggulan lokasional sehingga pengembangan industri
mengalami hambatan.
Teori Kausasi Kumulatif (Cummulative Causation Theory)
Tahun 1955, sepuluh tahun setelah Perang Dunia II berakhir Gunnar Myrdal
mengemukakan tiga kesimpulan penting, yaitu sebagai berikut.
a) Dunia dihuni oleh segelintir negara-negara yang sangat kaya dan sejumlah besar
negara-regara yang sangat miskin.
b) Negara-negara kaya melaksanakan pola perkembangan ekonomi yang terus menerus
sedangkan negara-negara miskin mengalami perkembangan yang sangat lamban dan
bahkan ada yang mandeg.
c) Jurang ketidakmerataan ekonomi antara negara-negara kaya dan negara-negara miskin
semakin bertambah besar.
Ada dua asumsi pokok yang tidak realistis yang melemahkan teori ekonomi tradisional
untuk menjelaskan ketidakmerataan itu, yaitu: pertama, adalah keseimbangan stabil (stable
equilibrium) artinya system perekonomian pasar selalu bergerak menuju kepada keseimbangan,
dan kedua, analisis ekonomi dibatasi pada faktor-faktor ekonomi saja akibatnya variabel-variabel
non ekonomi diperlakukan sebagai data yang sudah tertentu (ceteris paribus). Sedangkan antara
faktor ekonomi dan faktor non-ekonomi terdapat saling keterkaitan dan saling pengaruh yang
bersifat sirkuler satu sama lain.
Teori Lokasi dan Aglomerasi
Teori Lokasi
Dari sekian banyak teori lokasi dan teori perwilayahan yang telah ada, beberapa di
antaranya yang dianggap penting yaitu Von Thunen (1826), A. Weber (1909), W. Christaller
(1933), A. Losch (1944), F. Perroux (1955), W. lsard (1956), dan J. Friedmann (1964). Von
Thunen telah mengembangkan hubungan antara perbedaan lokasi pada tata ruang (spatial location)
dan pola penggunaan lahan. Menurut von Thunen jenis pemanfaatan lahan dipengaruhi oleh
tingkat sewa lahan dan didasarkan pula pada aksesibilitas relatif. Lokasi berbagai jenis produksi
pertanian (seperti menghasilkan tanaman pangan, perkebunan, dan sebagainya) ditentukan oleh
kaitan antara harga barang- barang hasil dalam pasar dan jarak antara daerah produksi dengan
pasar penjualan. Kegiatan yang mampu menghasilkan panen fisik tertinggi per hektar akan
ditempatkan pada kawasan konsentris yang pertama di sekitar kota karena keuntungan yang tinggi
per hektar memungkinkan untuk membayar sewa lahan yang tinggi. Kawasan produksi berikutnya
kurang intensif dibandingkan dengan kawasan produksi yang pertama, demikian seterusnya.
2. Kekuatan Aglomerasi dan Deglomerasi
Aglomerasi adalah terkonsentrasinya kegiatan-kegiatan industri dan kegiatan-kegiatan
lainnya pada suatu tempat. Sebaliknya, deglomerasi adalah dekonsentrasi atau dispersi kegiatan-
kegiatan industri dan kegiatan-kegiatan lainnya pada beberapa tempat. Untuk menganalisis
pembangunan kota dan wilayah perlu dipahami sepenuhnya mengenai kekuatan-kekuatan
aglomerasi dan deglomerasi.
Terdapat tiga kategori kekuatan yang merupakan manfaat aglomerasi yaitu sebagai berikut:
1) Penghematan skala (scale economies).
2) Penghematan lokalisasi
3) Penghematan urbanisasi

Teori Tempat Sentral


Christaller mengembangkan pemikirannya tentang penyusunan suatu model wilayah
perdagangan yang berbentuk segi enam atau heksagonal. Teorinya adalah teori tempat sentral
(central place theory). Heksagonal yang terbesar memiliki pusat paling besar sedangkan
heksagonal yang terkecil memiliki pusat paling kecil. Secara horizontal, model Christaller
menunjukkan kegiatan-kegiatan manusia yang tersusun dalam tata ruang geografi dan tempat-
tempat sentral (pusat-pusat) yang lebih tinggi ordenya mempunyai wilayah perdagangan atau
wilayah pelayanan yang lebih luas dibandingkan pusat-pusat yang kecil. Sedangkan secara vertikal
model tersebut memperlihatkan bahwa pusat-pusat untuk perencanaan wilayah. Distribusi tata
ruang dan besarnya pusat-pusat kota merupakan unsur yang sangat penting dalam struktur wilayah
nodal dan melahirkan konsep-konsep dominasi dan polarisasi.
Teori Kutub Pertumbuhan
Sebagaimana diketahui bahwa potensi dan kemampuan masing-masing wilayah berbeda-
beda satu sama lainnya, Juga masalah pokok yang dihadapinya tidak sama sehmgga usaha-usaha
pembangunan sektoral yang akan dilaksanakan harus disinkronisasikan dengan usaha-usaha
pembangunan regional. Teori lokasi klasik ternyata tidak berlaku secara sempurna karena
beranggapan bahwa semua kegiatan berlangsung di atas permukaan (surface) yang sama,
perbedaan geografis dianggap tidak ada, fasilitas transportasi terdapat ke segala jurusan, bahan
mentah (baku) industri, pengetahuan teknis dan kesempatan produksi adalah seragam di seluruh
wilayah. Sebagai akibat dari ketidaksempurnaan pendekatan klasik tersebut kemudian timbullah
permikiran baru yaitu teori kutub pertumbuhan (growth pole). Teori Francois Perroux ini
menyatakan bahwa pembangunan atau pertumbuhan tidak terjadi di semua wilayah, tetapi terbatas
hanya pada beberapa tempat tertentu dengan variabel yang berbeda-beda intensitasnya.