Anda di halaman 1dari 62

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Masa globalisasi menuntut adanya perkembangan dan perubahan di segala
bidang, salah satu diantaranya adalah bidang kesehatan. Dengan berbagai
inovasi yang dilakukan di bidang kesehatan, perubahan bidang ilmu
pengetahuan dan teknologi, maka terjadi peningkatan usia harapan hidup warga
Indonesia dan ini memberikan dampak tersendiri dalam upaya peningkatan
derajat atau status kesehatan penduduk.

Penyelenggaraan upaya kesehatan oleh bangsa Indonesia untuk mencapai


peningkatan derajat hidup sehat bagi setiap penduduk adalah merupakan hakekat
pembangunan kesehatan yang termuat didalam Sistem Kesehatan Nasional
(SKN) dengan tujuan agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat
yang optimal, sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum dari tujuan nasional.
Agar tujuan dapat tercapai secara optimal, diperlukan partisifasi aktif dari
seluruh anggota masyarakat bersama petugas kesehatan. Hal ini menyatakan
bahwa setiap orang berkewajiban untuk ikut serta dalam memelihara dan
meningkatkan derajat kesehatan perorangan, keluarga dan lingkungan.

Peningkatan taraf hidup masyarakat Indonesia diberbagai bidang kehidupan


mengakibatkan pergeseran pola kehidupan masyarakat diantaranya bidang
kesehatan. Dengan berkembangnya paradikma “sehat-sakit”, saat ini telah terjadi
pergeseran, antara lain : perubahan upaya kuratif menjadi upaya preventif dan
promotif, dan segi kegiatan yang pasif menunggu masyarakat berobat ke unit-
unit pelayanan kesehatan menjadi kegiatan penemuan kasus yang bersifat aktif.
Hal ini akan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat untuk
ikut berperan serta secara aktif dalam upaya peningkatan status kesehatannya.

Masyarakat atau komunitas sebagai bagian dari subyek dan obyek pelayanan
kesehatan dan dalam seluruh proses perubahan hendaknya perlu dilibatkan
secara lebih aktif dalam usaha peningkatan status kesehatannya dan mengikuti
seluruh kegiatan kesehatan komunitas. Hal ini dimulai dari pengenalan masalah
kesehatan sampai penanggulangan masalah dengan melibatkan individu,
keluarga dan kelompok dalam masyarakat.

Dalam upaya peningkatan kemampuan dengan individu, keluarga dan kelompok


ditatanan pelayanan kesehatan komunitas dengan menerapkan konsep kesehatan
dan keperawatan komunitas, serta sebagai salah satu upaya menyiapkan tenaga
perawat professional dan mempunyai potensi keperawatan secara mandiri sesuai
dengan kompetensi yang harus dicapai, maka mahasiswa Fakultas Ilmu
Kesehatan dan Keperawatan Program Studi S1 Keperawatan Tahap Profesi Ners
Universitas Muhammadiyah Banjarmasin kelompok 03 melaksanakan Praktik
Profesi Ners Stage Keperawatan Komunitas dan keluarga di Desa Padang
Panjang Kecamata Karang Intan Kab.Banjar dengan menggunakan 3
pendekatan, yaitu pendekatan keluarga, kelompok dan masyarakat.

Pendekatan keluarga dilakukan dengan cara setiap mahasiswa melakukan


pendataan dengan mendatangi ke rumah-rumah tiap kepala keluarga untuk
mengetahui keluarga dengan resiko tinggi sebagai kasus keluarga yang tersebar
di RT.01 sampai RT.3. Pendekatan secara kelompok dilakukan dengan cara
pembentukan kelompok kerja kesehatan, pembentukan kelompok kerja lanjut
usia, memberdayakan kader kesehatan dan PKK serta mendayagunakan
kelompok karang taruna. Dengan pendekatan masing-masing komponen
diharapkan dapat memberikan hasil yang lebih nyata kepada masyarakat.
Sedangkan pendekatan masyarakat sendiri dilakukan melalui kerja sama yang
baik dengan instansi terkait dan seluruh komponen kota untuk mengikutsertakan
warga dalam upaya pencegahan dan peningkatan kesehatan. masyarakat yang
dimotori oleh Puskesmas diharapkan dapat mengenal masalah kesehatan yang
terjadi diwilayahnya, membuat keputusan tindakan kesehatan bagi anggota
keluarga/masyarakatnya, mampu memberikan perawatan, menciptakan
lingkungan yang sehat serta memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada di
masyarakat.
Selain itu, selama proses belajar klinik di komounitas, mahasiswa
mengidentifikasi populasi dengan resiko tinggi dan sumber yang tersedia untuk
bekerja sama dengan komunitas dalam merancang, melaksanakan dan
mengevaluasi perubahan komunitas dengan penerapan proses keperawatan
komunitas dan pengorganisasian komunitas. Harapan yang ada, masyarakat akan
mandiri dalam upaya meningkatkan status kesehatannya.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Setelah mengikuti kegiatan Praktik Profesi Ners Stage Keperawatan
Komunitas, keluarga dan gerontik mahasiswa dapat memiliki
pengalaman dalam memberikan perawatan kesehatan masyarakat dengan
menggunakan metode atau pendekatan proses keperawatan baik terhadap
individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat.
1.2.2 Tujuan Khusus
Setelah mengikuti kegiatan Praktik Profesi Ners Stage Keperawatan
Komunitas, keluarga dan gerontik mahasiswa mampu :
1.2.2.1 Mengkaji kebutuhan kesehatan komunitas.
1.2.2.2 Merencanakan intervensi keperawatan kesehatan komunitas
berdasarkan diagnosis kesehatan komunitas dan kebutuhan
kesehatan utama dengan penekanan pada kelompok resiko tinggi
(ibu, anak, dan usia lanjut).
1.2.2.3 Merumuskan masalah kesehatan yang ditemukan dimasyarakat.
1.2.2.4 Melaksanakan implementasi keperawatan dan merumuskan
masalah kesehatan yang ditemukan dimasyarakat.
1.2.2.5 Melaksanakan pencatatan dan pelaporan data yang berhubungan
dengan tindakan keperawatan kesehatan komunitas.
1.2.2.6 Mengevaluasi pelayanan keperawatan kesehatan berdasarkan
hasil yang diharapkan atau kriteria yang telah ditetapkan.
1.2.2.7 Menghayati peranannya sebagai anggota tim kesehatan dan
bekerja sama secara efektif dan efisien.
1.2.2.8 Melaksanakan pendokumentasian asuhan keperawatan
komunitas untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dengan
menggunakan sumber yang ada dan potensial serta
menggunakan teknik tepat guna termasuk melakukan rujukan
dan menyusun strategi pendidikan kesehatan

1.3 Kegiatan
1.3.1 Waktu Pelaksanaan
Pelaksanaan Praktik Profesi Ners Stage Keperawatan Komunitas dan
keluarga dimulai dari tanggal 05 Maret sampai dengan 12 April 2019
1.3.2 Lokasi Kegiatan
Kegiatan Praktik Profesi Ners Stage Keperawatan Komunitas,
dilaksanakan di Kabupaten Banjar, di wilayah kerja Puskesmas, yaitu
wilayah kerja Puskesmas Karang Intan 2 dan schedule kegiatan
terlampir.

1.4 Manfaat Kegiatan


1.4.1 Untuk Mahasiswa
Manfaat yang didapat dari Praktik Profesi Ners Stage Keperawatan
Komunitas dan keluarga ini baginers muda, antara lain :
1.4.1.1 Dapat mengaplikasikan konsep kesehatan komunitas dan
keluarga secara nyata kepada masyarakat.
1.4.1.2 Belajar menjadi model profesional dalam menerapkan asuhan
keperawatan komunitas dan keluarga.
1.4.1.3 Meningkatkan kemampuan berpikir kritis, analitis, dan
bijaksana dalam menghadapi dinamika masyarakat dan
keluarga.
1.4.1.4 Meningkatkan keterampilan komunikasi, kemandirian, dan
hubungan interpersonal.
1.4.2 Untuk Masyarakat
Manfaat yang didapat dari Praktik Profesi Ners Stage Keperawatan
Komunitas dan keluarga ini bagi masyarakat dan keluarga, antara lain:
1.4.2.1 Mendapatkan kesempatan seluas-luasnya untuk berperan aktif
dalam upaya peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit.
1.4.2.2 Mendapatkan kemampuan untuk mengenal, mengerti, dan
menyadari masalah kesehatan serta mengetahui cara
penyelesaian masalah yang dialami masyarakat dan keluarga.
1.4.2.3 Masyarakat mengetahui gambaran status kesehatannya dan
mempunyai upaya peningkatan status kesehatan tersebut.

1.4.3 Untuk Institusi Pendidikan


Manfaat yang didapat dari Praktik Profesi Ners Stage Keperawatan
Komunitas dan Kelarga ini bagi pihak pendidikan, antara lain :
1.4.3.1 Salah satu tolak ukur keberhasilan Program Studi S1
Keperawatan Tahap Profesi Ners Universitas Muhammadiyah
Banjarmasin khususnya di bidang keperawatan komunitas dan
keluarga.
1.4.3.2 Sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam pengembangan
model praktik keperawatan komunitas, keluarga dan gerontik
selanjutnya.
1.4.4 Profesi Kesehatan khususnya keperawatan
Manfaat yang didapat dari Praktik Profesi Ners Stage Keperawatan
Komunitas, keluarga dan gerontik ini bagi profesi keperawatan, antara
lain :
1.4.4.1 Upaya menyiapkan tenaga perawat yang profesional, berpotensi
secara mandiri sesuai dengan kompetensi yang telah ditentukan
terutama di lingkup keperawatan komunitas, keluarga dan
gerontik.
1.4.4.2 Memberikan suatu model baru dalam keperawatan komunitas,
keluarga dan gerontik sehingga profesi mampu
mengembangkannya.
1.4.4.3 Salah satu bukti profesionalisme keperawatan yang
komprehensif telah terwujudkan.

1.5 Sistematika Penulisan


Dalam penyusunan laporan Asuhan Keperawatan Komunitas ini, penulis
menggunakan metodelogi pendekatan komperehensif melalui proses Asuhan
Komunitas yang dituangkan dalam beberapa bab yaitu sebagai berikut :
1.5.1 Bab pertama, pendahuluan yang menguraikan tentang latar belakang,
tujuan, manfaat, kegiatan, sistematika penulisan dan metodelogi penulisan.
1.5.2 Bab kedua, tinjauan teoritis yang menguraikan tentang teori-teori terdiri
dari : keperawatan kesehatan komunitas, tujuan dan fungsi keperawatan
komunitas, sasaran, ruang lingkup perawatan kesehatan komunitas,
kegiatan praktik keperawatan komunitas, prinsip dasar, model pendekatan
dan langkah-langkah proses keperawatan.
1.5.3 Bab ketiga, asuhan komunitas yang membahas tentang penerapan asuhan
keperawatan yang meliputi 2 (dua) tahapan yaitu tahap persiapan dan
tahap pelaksanaan yang terdiri dari pengkajian, analisa data, penentuan
masalah kesehatan (penapisan masalah kesehatan, prioritas masalah,
planning of action), perencanaan kegiatan, pelaksanaan, dan evaluasi.
1.5.4 Bab keempat, penutup yang meliputi kesimpulan dan saran.

1.6 Metodelogi Penulisan


Metode Asuhan Keperawatan Komunitas yang digunakan dalam penulisan
laporan ini adalah melalui suatu kasus yang kemudian melaporkan langsung
hasil asuhan keperawatan yang dilaksanakan pada masyarakat atau komunitas
dengan pendekatan proses keperawatan yang meliputi : pengkajian, analisa data,
penapisan masalah, prioritas masalah, planning of action (POA), perencanaan
kegiatan asuhan komunitas, implementasi/pelaksanaan beserta evaluasi.
BAB 2
TINJAUAN TEORITIS

2.1 Keperawatan Kesehatan Komunitas


Tujuan pembangunan kesehatan nasional adalah untuk mencapai hidup sehat
bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang
optimal. Dengan demikian, pembangunan dibidang kesehatan mempunyai arti
penting dalam kehidupan nasional khususnya dalam memelihara dan
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang erat kaitannya dengan
pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia sebagai salah satu modal
dasar pembangunan nasional.

Berdasarkan pembangunan nasional yang ingin dicapai oleh pemerintah


Indonesia, maka direncanakanlah suatu strategi pendekatan untuk menggalang
potensi yang ada pada masyarakat sehingga masyarakat dapat berperan aktif
dalam upaya meningkatkan derajat kesehatannya secara mandiri melalui
perawatan kesehatan komunitas.

Proses keperawatan adalah serangkaian perbuatan atau tindakan untuk


menetapkan, merencanakan dan melaksanakan pelayanan keperawatan dalam
rangka membantu klien untuk mencapai dan memelihara kesehatannya
seoptimal mungkin. Tindakan keperawatan tersebut dilaksanakan secara
berurutan, terus menerus, saling berkaitan dan dinamis. Selanjutnya menetapkan
langkah proses keperawatan sebagai proses pengumpulan data, pengkajian,
perencanaan dan pelaksanaan (Wolf, Weitzel dan Fuerst, 1979). Jadi, proses
keperawatan komunitas adalah metode asuhan keperawatan yang bersifat ilmiah,
dinamis, sistematis, kontinu, dan berkesinambungan dalam rangka memecahkan
masalah kesehatan dari individu, keluarga, kelompok, atau masyarakat yang
langkah-langkahnya dimulai dari (1) pengkajian: pengumpulan data, analisis
data, dan penentuan masalah, (2) diagnosis keperawatan, perencanaan tindakan
keperawatan, pelaksanaan, dan evaluasi tindakan keperawatan (Wahit, 2005).
Proses keperawatan komunitas mencakup individu, keluarga dan kelompok
khusus yang memerlukan pelayanan asuhan keperawatan. Dalam perawatan
kesehatan komunitas keterlibatan kader kesehatan, tokoh masyarakat formal dan
informal, sangat diperlukan dalam setiap tahap pelayanan keperawatan secara
terpadu dan menyeluruh sehingga masyarakat benar-benar mampu dan mandiri
dalam setiap upaya pelayanan kesehatan dan keperawatan yang diberikan.

Keperawatan komunitas perlu dikembangkan di tatanan pelayanan kesehatan


dasar yang melibatkan komunitas secara aktif, sesuai keyakinan keperawatan
komunitas secara aktif, sesuai keyakinan keperawatan komunitas. Sedangkan
menurut American Nurses Association (ANA, 1980) didasarkan pada asumsi :
1. Sistem pelayanan kesehatan bersifat kompleks.
2. Pelayanan kesehatan primer, sekunder dan tersier merupakan komponen
pelayanan kesehatan.
3. Keperawatan merupakan sub system pelayanan kesehatan , di mana hasil
pendidikan dan penelitian melandasi praktek.
4. Fokus utama adalah keperawatan primer sehingga keperawatan komunitas
perlu dikembangkan di tatanan kesehatan utama.

Adapun unsur-unsur perawatan kesehatan mengacu kepada asumsi-asumsi dasar


mengenai perawatan kesehatan masyarakat, yaitu :
1. Bagian integral dari pelayanan kesehatan khususnya keperawatan.
2. Merupakan bidang khusus keperawatan.
3. Gabungan dari ilmu keperawatan, ilmu kesehatan masyarakat dan ilmu
sosial (interaksi sosial dan peran serta masyarakat).
4. Sasaran pelayanan adalah individu, keluarga, kelompok khusus dan
masyarakat baik yang sehat maupun yang sakit.
5. Ruang lingkup kegiatan adalah upaya promotif, preventif, kuratif
rehabilitatif dan resosiliatif dengan penekanan pada upaya preventif dan
promotif.
6. Melibatkan partisipasi masyarakat.
7. Bekerja secara tim.
8. Menggunakan pendekatan pemecahan masalah dan perilaku.
9. Menggunakan proses keperawatan sebagai pendekatan ilmiah.
10. Bertujuan untuk meningkatkan hidup sehat dan derajat kesehatan
masyarakat secara keseluruhan.

2.2 Tujuan Dan Fungsi Perawatan Kesehatan Komunitas


2.2.1 Tujuan
a. Tujuan umum
Meningkatkan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat sehingga
tercapai derajat kesehatan yang optimal agar dapat menjalankan
fungsi kehidupan sesuai dengan kapasitas yang mereka miliki.
b. Tujuan khusus
Untuk meningkatkan kemampuan individu, keluarga, kelompok
khusus dan masyarakat dalam hal :
1. Mengidentifikasi masalah kesehatan dan keperawatan yang
dihadapi.
2. Menetapkan masalah kesehatan/keperawatan dan prioritas
masalah.
3. Merumuskan berbagai alternatif pemecahan masalah
kesehatan/keperawatan.
4. Menanggulangi masalah kesehatan/keperawatan yang mereka
hadapi.
5. Penilaian hasil kegiatan dalam memecahkan masalah kesehatan
atau keperawatan.
6. Mendorong dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam
pelayanan kesehatan/keperawatan.
7. Meningkatkan kemampuan dalam memelihara kesehatan secara
mandiri (self care).
8. Menanamkan perilaku sehat melalui upaya pendidikan
kesehatan.
9. Lebih spesifik lagi adalah untuk menunjang fungsi puskesmas
dalam menurunkan angka kematian bayi, ibu dan balita serta
diterimanya norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera.
10. Tertanganinya kelompok-kelompok risiko tinggi yang rawan
terhadap masalah kesehatan.
2.2.2 Fungsi
a. Memberikan pedoman dan bimbingan yang sistematis dan ilmiah
bagi tenaga kesehatan masyarakat dan keperawatan dalam
memecahkan masalah klien melalui asuhan keperawatan.
b. Agar masyarakat mendapatkan pelayanan yang optimal sesuai
dengan kebutuhannya dalam kemandiriannya di bidang kesehatan.
c. Memberikan asuhan keperawatan melalui pendekatan pemecahan
masalah, komunikasi yang efektif dan efisien serta melibatkan peran
serta masyarakat.
d. Agar masyarakat bebas mengemukakan pendapat berkaitan dengan
permasalahannya atau kebutuhannya sehingga mendapatkan
penanganan dan pelayanan yang cepat dan pada akhirnya dapat
mempercepat proses penyembuhannya.

2.3 Sasaran
Sasaran perawatan kesehatan komunitas adalah individu, keluarga kelompok dan
masyarakat, baik yang sehat maupun yang sakit yang mempunyai masalah
kesehatan/perawatan.
1. Individu
Individu adalah bagian dari anggota keluarga. Apabila individu tersebut
mempunyai masalah kesehatan atau keperawatan karena ketidakmampuan
merawat diri sendiri oleh suatu hal dan sebab, maka akan dapat
mempengaruhi anggota keluarga lainnya baik secara fisik, mental maupun
sosial.
2. Keluarga
Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat, terdiri atas kepala
keluarga, anggota keluarga lainnya yang berkumpul dan tinggal dalam suatu
rumah tangga karena pertalian darah dan ikatan perkawinan atau adopsi, satu
dengan lainnya saling tergantung dan berinteraksi. Bila salah satu atau
beberapa anggota keluarga mempunyai masalah kesehatan/keperawatan,
maka akan berpengaruh terhadap anggota keluarga lainnya dan keluarga-
keluarga yang ada di sekitarnya.
3. Kelompok Khusus
Kelompok Khusus adalah kumpulan individu yang mempunyai kesamaan
jenis kelamin, umur, permasalahan, kegiatan yang terorganisasi yang sangat
rawan terhadap masalah kesehatan. Termasuk di antaranya adalah:
a. Kelompok khusus dengan kebutuhan khusus sebagai akibat
perkembangan dan pertumbuhannya, seperti: 1) ibu hamil; 2) bayi baru
lahir; 3) balita; 4) anak usia sekolah; serta 5) usia lanjut.
b. Kelompok dengan kesehatan khusus yang memerlukan pengawasan dan
bimbingan serta asuhan keperawatan, di antaranya adalah: 1) penderita
penyakit menular, seperti: TBC, lepra, AIDS, penyakit kelamin dan
lainnya; 2) penderita dengan penyakit tidak menular, seperti: penyakit
Hipertensi, diabetes mellitus, jantung koroner, cacat fisik, gangguan
mental dan lain sebagainya.
c. Kelompok yang mempunyai risiko terserang penyakit, di antaranya: 1)
wanita tuna susila; 2) kelompok penyalahgunaan obat dan narkoba; 3)
kelompok-kelompok pekerja tertentu; dan lain-lain.
d. Lembaga sosial, perawatan dan rehabilitasi, di antaranya adalah: 1) panti
werdha; 2) panti asuhan; 3) pusat-pusat rehabilitasi (cacat fisik, mental
dan sosial); serta 4) penitipan balita.
4. Masyarakat
Masyarakat adalah sekelompok manusia yang hidup dan bekerja sama cukup
lama sehingga mereka dapat mengatur diri mereka dan menganggap diri
mereka sebagai satu kesatuan sosial dan batas-batas yang telah ditetapkan
dengan jelas. Masyarakat merupakan kelompok individu yang saling
berinteraksi, saling tergantung, dan bekerja sama untuk mencapai tujuan.
Dalam berinteraksi sesama anggota masyarakat akan muncul banyak
permasalahan, baik permasalahan sosial, kebudayaan, perekonomian, politik,
maupun kesehatan khususnya.

2.4 Ruang Lingkup Perawatan Kesehatan Komunitas


Ruang lingkup praktek keperawatan masyarakat meliputi: upaya-upaya
peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan (preventif), pemeliharaan
kesehatan, pengobatan (kuratif), pemulihan kesehatan (rehabilitatif), dan
mengembalikan serta memfungsikan kembali baik individu, keluarga, kelompok,
dan masyarakat ke lingkungan sosial dan masyarakatnya (resosialisasi). Dalam
memberikan asuhan keperawatan komunitas, kegiatan yang ditekankan adalah
upaya preventif dan promotif dengan tidak mengabaikan upaya kuratif,
rehabilitatif, dan resosiliatif.
1. Upaya Promotif
Upaya promotif dilakukan untuk meningkatkan kesehatan individu,
keluarga, keluarga, kelompok, dan masyarakat dengan jalan memberikan:
a. Penyuluhan kesehatan
b. Peningkatan gizi
c. Pemeliharaan kesehatan perseorangan
d. Pemeliharaan kesehatan lingkungan
e. Olahraga secara teratur
f. Rekreasi
g. Pendidikan seks
2. Upaya Preventif
Upaya preventif ditujukan untuk mencegah terjadinya penyakit dan
gangguan terhadap kesehatan individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat
melalui kegiatan :
a. Imunisasi massal terhadap bayi, balita, dan ibu hamil.
b. Pemeriksaan kesehatan secara berkala melalui posyandu, puskesmas,
maupun kunjungan rumah.
c. Pemberian vitamin A dan yodium melalui posyandu, puskesmas,
ataupun di rumah.
d. Pemeriksaan dan pemeliharaan kehamilan, nifas, dan menyusui.
3. Upaya Kuratif
Upaya kuratif ditujukan untuk merawat dan mengobati anggota-anggota
keluarga, kelompok, dan masyarakat yang menderita penyakit atau masalah
kesehatan, melalui kegiatan :
a. Perawatan orang sakit di rumah (HomeNursing).
b. Perawatan orang sakit sebagai tindak lanjut perawatan dari puskesmas
dan rumah sakit.
c. Perawatan ibu hamil dengan kondisi patologis di rumah, ibu bersalin,
dan nifas.
d. Perawatan payudara.
e. Perawatan tali pusat bayi baru lahir.
4. Upaya Rehabilitatif
Upaya rehabilitatif merupakan upaya pemulihan kesehatan bagi penderita-
penderita yang dirawat di rumah, maupun terhadap kelompok-kelompok
tertentu yang menderita penyakit yang sama, misalnya kusta, TBC, cacat
fisik dan lainnya, dilakukan melalui kegiatan :
a. Latihan fisik, baik yang mengalami gangguan fisik seperti penderita
kusta, patah tulang, maupun kelainan bawaan.
b. Latihan-latihan fisik tertentu bagi penderita-penderita penyakit tertentu,
misalnya TBC: latihan nafas dan batuk; penderita stroke: fisioterapi
manual yang mungkin dilakukan oleh perawat.
5. Upaya Resosiliatif
Upaya resosiliatif adalah upaya mengembalikan individu, keluarga, dan
kelompok khusus ke dalam pergaulan masyarakat, di antaranya adalah
kelompok-kelompok yang diasingkan oleh masyarakat karena menderita
suatu penyakit, misalnya kusta, AIDS, atau kelompok-kelompok masyarakat
khusus seperti khusus Wanita Tuna Susila (WTS), tuna wisma, dan lain-
lain. Disamping itu, upaya resosiliatif meyakinkan masyarakat untuk dapat
menerima kembali kelompok yang mempunyai masalah kesehatan tersebut
dan menjelaskan secara benar masalah kesehatan yang mereka derita. Hal
ini tentunya membutuhkan penjelasan dengan pengertian atau batasan-
batasan yang jelas dan dapat dimengerti.

2.5 Kegiatan Praktek Keperawatan Komunitas


Kegiatan praktek keperawatan komunitasyang dilakukan perawat mempunyai
lahan yang luas dan tetap menyesuaikan dengan tingkat pelayanan kesehatan
wilayah kerja perawat, tetapi secara umum kegiatan praktek keperawatan
komunitas adalah sebagai berikut :
1. Memberikan asuhan keperawatan langsung kepada individu, keluarga,
kelompok khusus, baik di rumah (home nursing), di sekolah (school health
nursing), di perusahaan, di posyandu, di polindes, dan daerah binaan
kesehatan masyarakat.
2. Penyuluhan/pendidikan kesehatan masyarakat dalam rangka merubah
perilaku individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat.
3. Konsultasi dan pemecahan masalah kesehatan yang dihadapi.
4. Bimbingan dan pembinaan sesuai dengan masalah yang mereka hadapi.
5. Melaksanakan rujukan terhadap kasus-kasus yang memerlukan
penanganan lebih lanjut.
6. Penemuan kasus pada tingkat individu, keluarga, kelompok, dan
masyarakat.
7. Sebagai penghubung antara masyarakat dengan unit pelayanan kesehatan.
8. Melaksanakan asuhan keperawatan komunitas, melalui pengenalan
masalah kesehatan masyarakat, perencanaan kesehatan, pelaksanaan dan
penilaian kegiatan dengan menggunakan proses keperawatan sebagai suatu
usaha pendekatan ilmiah keperawatan.
9. Mengadakan koordinasi di berbagai kegiatan asuhan keperawatan
komunitas.
10. Mengadakan kerja sama lintas program dan lintas sektoral dengan instansi
terkait.
11. Memberikan keteladanan yang dapat dijadikan panutan oleh individu,
keluarga, kelompok, dan masyarakat yang berkaitan dengan keperawatan
dan kesehatan.

2.6 Prinsip Dasar


Perawatan kesehatan masyarakat merupakan bidang khusus dalam ilmu
keperawatan, yang merupakan gabungan ilmu keperawatan, ilmu kesehatan, dan
ilmu sosial (WHO, 1959). Suatu bidang dalam keperawatan yang merupakan
perpaduan antara keperawatan dan kesehatan masyarakat dengan dukungan
peran serta masyarakat (Rapat Kerja Keperawatan Kesehatan Masyarakat,
1989). Dengan demikian ada 3 teori yang menjadi dasar ilmu perawatan
kesehatan masyarakat yaitu : (1). Ilmu keperawatan, (2). Ilmu kesehatan
masyarakat, dan (3). Ilmu sosial (peran serta masyarakat).
2.6.1 Ilmu keperawatan
Konsep keperawatan dikarakteristikkan oleh 4 komponen konsep pokok
yang menjadi paradigma dalam keperawatan, dimana menggambarkan
hubungan teori-teori yang membentuk susunan yang mengatur teori-teori
tersebut berhubungan satu dengan lainnya, yaitu : konsep manusia,
konsep kesehatan, konsep masyarakat, dan konsep keperawatan.
(Christine Ibrahim, 1986).
2.6.2 Ilmu kesehatan masyarakat
Dalam mengaplikasikan praktek asuhan keperawatan dalam komunitas
diperlukan pengetahuan penunjang yang berkaitan dengan kesehatan
masyarakat, dalam melihat perspektif proses terjadinya masalah
kesehatan masyarakat yang erat kaitannya dengan ilmu epidemiologi,
ilmu statistik kesehatan sehingga masalah tersebut diketahui faktor
penyebab dan alternatif pemecahannya. Termasuk juga diperlukan
pemahaman tentang konsep puskesmas, PHC atau Posyandu, dan untuk
merubah perilaku masyarakat diperlukan pengetahuan yang berkaitan
dengan pendidikan kesehatan masyarakat. (Soekidjo Notoadmojo, 2003).
2.6.3 Ilmu sosial
Pengetahuan sosial kemasyarakatan penting untuk dipahami oleh seorang
perawat kesehatan masyarakat dalam menjalankan tugasnya, sebab akan
berhadapan dengan kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat.
Pengetahuan sosial yang dimaksud adalah ilmu pengembangan dan
pengorganisasian masyarakat, pendekatan edukatif dan teori tentang
pendekatan perubahan perilaku. Hal ini bisa dirasakan oleh petugas
kesehatan saat menjalankan tugas, peran, dan fungsinya dalam keluarga,
kelompok, atau masyarakat dengan berbagai latar belakang agama,
budaya, pendidikan, ekonomi, norma, adat istiadat, dan aturan-aturan
yang berlaku dalam masyarakat. (Nasrul Effendi, 1999). Dengan
memahami pengetahuan ilmu sosial petugas kesehatan masyarakat dapat
melakukan pendekatan untuk merubah perilaku masyarakat ke arah yang
positif dalam memelihara kesehatan keluarga, kelompok, dan masyarakat
sehingga menuju kemandirian (self care), di mana mereka diharapkan
dapat mengenal dan merumuskan masalah kesehatan yang mereka
hadapi, memprioritaskan dan mencari alternatif pemecahan masalah
melalui perencanaan bersama, kemudian melaksanakan kegiatan bersama
berdasarkan perencanaan yang mereka buat serta menilai hasil yang telah
dicapai.
2.7 Model Pendekatan
Pendekatan yang digunakan perawat dalam memecahkan masalah kesehatan
masyarakat yangditujukan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat
secara keseluruhan adalah pendekatan pemecahan masalah (problem solving
approach) yang dituangkan dalam proses keperawatan dengan memanfaatkan
pendekatan epidemiologi yang dikaitkan dengan upaya kesehatan dasar (PHC).

Pendekatan pemecahan masalah dimaksudkan bahwa setiap masalah yang


dihadapi individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat akan dapat diatasi oleh
perawat melalui keterampilan melaksanakan intervensi keperawatan sebagai
bidang keahliannya dalam melaksanakan profesinya sebagai perawat kesehatan
masyarakat.

Bila kegiatan perawatan komunitas dan keluarga menggunakan pendekatan


terhadap keluarga binaan disebut sebagai family approach, maka bila pembinaan
keluarga berdasarkan atas seleksi kasus yang datang ke puskesmas yang dinilai
memerlukan tindak lanjut disebut dengan case approach, sedangkan bila
pendekatan yang digunakan adalah pendekatan yang dilakukan terhadap
masyarakat daerah binaan melalui survei mawas diri dengan melibatkan
partisipasi masyarakat disebut community approach.

2.8 Langkah-Langkah Proses Keperawatan


Langkah-langkah dalam proses keperawatan di antaranya adalah sebagai berikut:
(1) Proses keperawatan terbagi dalam empat tahap yaitu: identifikasi,
pengumpulan data, rencana dan kegiatan, serta penilaian (Depkes RI).
(2) Proses keperawatan terbagi dalam enam tahap yaitu: membina hubungan
saling percaya dengan klien, pengkajian, penentuan tujuan bersama,
merencanakan tindakan bersama klien, melaksanakan kegiatan sesuai
dengan rencana, dan hasil evaluasi (Freeman).
(3) Proses keperawatan terbagi dalam empat tahap yaitu: pengkajian,
perencanaan, implementasi, dan evaluasi (SG Bailon).
Dari beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pada
dasarnya langkah-langkah dalam proses keperawatan komunitas adalah :
1. Pengkajian
2. Diagnosis keperawatan
3. Perencanaan atau intervensi
4. Pelaksanaan atau implementasi
5. Evaluasi atau penilaian

Langkah-langkah dalam proses keperawatan di atas akan dibahas satu persatu


dan lebih mendalam.
1. Pengkajian (assessment)
Pengkajian adalah merupakan upaya pengumpulan data secara lengkap dan
sistematis terhadap masyarakat untuk dikaji dan dianalisis sehingga masalah
yang dihadapi oleh masyarakat baik individu, keluarga, atau kelompok yang
menyangkut permasalahan pada fisiologis, psikologis, sosial ekonomi,
maupun spiritual dapat ditentukan. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan
perawat kesehatan masyarakat dalam mengkaji masalah kesehatan baik di
tingkat individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat adalah :
a. Pengumpulan Data
Tujuan pengumpulan data dimaksudkan untuk memperoleh informasi
mengenai masalah kesehatan yang dihadapi individu, keluarga, kelompok
khusus, masyarakat melalui wawancara, observasi, studi dokumentasi
dengan menggunakan instrumen pengumpulan data dalam menghimpun
informasi, sehingga dapat ditentukan tindakan yang harus diambil untuk
mengatasi masalah tersebut yang menyangkut aspek fisik, psikologis,
sosial ekonomi, dan spiritual serta faktor lingkungan yang
mempengaruhinya. Oleh karena itu, data yang dikumpulkan harus akurat
dan dapat dilakukan analisa data untuk pemecahan masalah. Pengkajian
yang diperlukan adalah inti komunitas beserta faktor lingkungannya.
Elemen pengkajian komunitas menurut Anderson dan Mc Forlane (1958)
terdiri dari inti komunitas yaitu meliputi demografi, populasi, nilai-nilai
keyakinan, dan riwayat individu termasuk riwayat kesehatan. Sedangkan
faktor lingkungannya adalah lingkungan fisik, pendidikan, keamanan dan
transportasi, politik dan pemerintahan, pelayanan kesehatan dan sosial,
komunikasi, ekonomi serta rekreasi.
Jenis data secara umum dapat diperoleh dari data subjektif dan objektif.
Data subjektif adalah data yang diperoleh dari keluhan atau masalah yang
dirasakan oleh individu, keluarga, kelompok, dan komunitas yang
diungkapkan secara langsung melalui lisan. Sedangkan data objektif
merupakan data yang diperoleh melalui suatu pemeriksaan, pengamatan,
dan pengukuran.

Sumber data yang dikumpulkan dalam tahap pengkajian dapat berupa


data primer atau data sekunder. Data primer adalah data yang
dikumpulkan oleh pengkaji yang dalam hal ini mahasiswa atau perawat
kesehatan masyarakat dari individu, keluarga, kelompok, dan komunitas
berdasarkan hasil pemeriksaan atau pengkajian. Sedangkan data sekunder
merupakan data yang diperoleh dari sumber yang tepercaya misalnya :
kelurahan, catatan riwayat kesehatan klien, atau medical record (Wahit,
2005).

Ada berbagai cara dalam pengumpulan data yaitu sebagai berikut :


1. Wawancara atau anamnesa
Wawancara adalah kegiatan komunikasi timbal balik yang berbentuk
tanya jawab antara perawat dengan pasien atau keluarga pasien,
maupun masyarakat tentang hal yang berkaitan dengan masalah
kesehatan pasien. Wawancara harus dilakukan dengan ramah, terbuka,
menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh
pasien atau keluarga pasien dan selanjutnya hasil wawancara atau
anmnesa dicatat dalam format proses keperawatan.
2. Pengamatan
Pengamatan dalam keperawatan komunitas dilakukan meliputi aspek
fisik, psikologis, dan sikap dalam rangka menegakkan diagnosis
keperawatan. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan panca
indera dan hasilnya dicatat dalam format proses keperawatan.
3. Pemeriksaan fisik
Dalam keperawatan komunitas di mana salah satunya asuhan
keperawatan yang diberikan adalah asuhan keperawatan keluarga,
maka pemeriksaan fisik yang dilakukan dalam upaya membantu
menegakkan diagnosis keperawatan dengan cara : inspeksi (yaitu
melakukan pengamatan pada bagian tubuh pasien atau keluarga yang
sakit), palpasi (yaitu pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan cara
meraba pada bagian tubuh yang mengalami gangguan), auskultasi
(yaitu pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan cara mendengarkan
bunyi bagian tubuh tertentu dan biasanya perawat komunitas
menggunakan stetoskop sebagai alat bantu untuk mendengarkan
denyut jantung, bising usus, suara paru, dan sebagainya), dan perkusi
(adalah cara pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan cara
mengetukkan jari telunjuk atau alat reflexhammer pada bagian tubuh
yang diperiksa).
Setelah data diperoleh, kegiatan selanjutnya adalah pengolahan data
dengan cara sebagai berikut :
(1) Klasifikasi data atau kategorisasi data dengan cara :
a. Karakteristik demografi
b. Karakteristik geografi
c. Karakteristik sosial ekonomi
d. Sumber dan pelayanan kesehatan (Anderson & MC Farlene
1988).
(2) Perhitungan presentase cakupan dengan menggunakan Telly.
(3) Tabulasi data
(4) Interpretasi data

b. Analisa Data
Analisa data adalah kemampuan untuk mengaitkan data dan
menghubungkan data dengan kemampuan kognitif yang dimiliki
sehingga dapat diketahui tentang kesenjangan atau masalah yang
dihadapi oleh masyarakat apakah itu masalah kesehatan atau masalah
keperawatan. Tujuan dari analisa data adalah sebagai berikut :
(1) Menetapkan kebutuhan komunitas
(2) Menetapkan kekuatan
(3) Mengidentifikasi pola respons komunitas
(4) Mengidentifikasi kecenderungan penggunaan pelayanan kesehatan.

Analisa data dilaksanakan berdasarkan data yang telah diperoleh dan


disusun dalam suatu format yang sistematis. Dalam menganalisa data
memerlukan pemikiran yang kritis. Data yang terkumpul kemudian
dianalisa seberapa besar faktor stresor yang mengancam dan seberapa
berat reaksi yang timbul di komunitas. Selanjutnya dirumuskan masalah
atau diagnosa keperawatan. Menurut Mueke (1987) masalah tersebut
terdiri dari: 1) masalah sehat-sakit; 2) karakteristik populasi; serta 3)
karakteristik lingkungan.

c. Perumusan Masalah Kesehatan


Berdasarkan analisa data dapat diketahui masalah kesehatan dan
keperawatan yang dihadapi oleh masyarakat, sekaligus dapat dirumuskan
yang selanjutnya dilakukan intervensi. Namun demikian masalah yang
telah dirumuskan tidak mungkin dapat diatasi sekaligus. Oleh karena itu,
diperlukan prioritas masalah.
Dalam menentukan prioritas masalah kesehatan masyarakat dan
keperawatan perlu mempertimbangkan berbagai faktor sebagai kriteria,
di antaranya adalah:
1. Perhatian masyarakat
2. Prevalensi kejadian
3. Berat ringannya masalah
4. Kemungkinan masalah untuk diatasi
5. Tersedianya sumber daya masyarakat
6. Aspek politis

Prioritas masalah juga dapat ditentukan berdasarkan hierarki kebutuhan


menurut Abraham H. Maslow yaitu sebagai berikut :
1. Keadaan yang mengancam kehidupan
2. Keadaan yang mengancam kesehatan
3. Persepsi tentang kesehatan dan keperawatan
Dalam menyusun atau mengurut masalah atau diagnosis komunitas sesuai
dengan prioritas (penapisan) yang digunakan dalam keperawatan komunitas
adalah format penapisan menurut Mueke, dengan format yaitu sebagai
berikut:
Kriteria Penapisan
Tersedia Sumber

Kemungkinan untuk pendidikan kesehatan


Sesuai dengan peran perawat komunitas

Sesuai dengan program pemerintah


Diagnosa

Kemungkinan untuk diatasi


Keperawatan

Sumber daya peralatan


Komunitas
Jumlah yang berisiko

JUMLAH SKORE
Sumber daya tempat
Sumber daya waktu

Sumber daya orang


Sumber daya dana
Minat masyarakat
Besarnya risiko

Menetapkan Skala prioritas dilakukan untuk menentukan tindakan yang


lebih dahulu ditanggulangi karena dianggap dapat mengancam kehidupan
masyarakat secara keseluruhan dengan mempertimbangkan: 1) masalah
spesifik yang mempengaruhi kesehatan masyarakat; 2) kebijaksanaan
nasional dan wilayah setempat; 3) kemampuan dan sumber daya
masyarakat, dan 4) keterlibatan, partisipasi, dan peran serta masyarakat.
Kriteria skala prioritas :
1) Perhatian masyarakat, meliputi: pengetahuan, sikap, keterlibatan emosi
masyarakat terhadap masalah kesehatan yang dihadapi dan urgensinya
untuk segera ditanggulangi.
2) Prevalensi menunjukkan jumlah kasus yang ditemukan pada suatu kurun
waktu tertentu.
3) Besarnya masalah adalah seberapa jauh masalah-masalah tersebut dapat
menimbulkan gangguan terhadap kesehatan masyarakat.
4) Kemungkinan masalah untuk dapat dikelola dengan mempertimbangkan
berbagai alternatif dalam cara-cara pengelolaan masalah-masalah yang
menyangkut biaya, sumber daya, sarana yang tersedia dan kesulitan yang
mungkin timbul (Effendi Nasrul, 1995).

2. Diagnosis keperawatan
Diagnosis keperawatan adalah respons individu pada masalah kesehatan
baik yang aktual maupun potensial. Masalah aktual adalah masalah yang
diperoleh pada saat pengkajian sedangkan masalah potensial adalah masalah
yang mungkin timbul. Jadi, yang dimaksud dengan diagnosis keperawatan
adalah suatu pernyataan yang jelas, padat, dan pasti tentang status dan
masalah kesehatan pasien yang dapat diatasi dengan tindakan keperawatan.
Dengan demikian diagnosis keperawatan ditetapkan berdasarkan masalah
yang ditemukan. Diagnosis keperawatan akan memberikan gambaran
tentang masalah dan status kesehatan masyarakat baik yang nyata (aktual)
maupun yang mungkin akan terjadi (potensial). Dasar penentuan masalah
keperawatan kesehatan masyarakat antara lain : 1) masalah yang ditetapkan
dari data umum; b) masalah yang dianalisa dari kesenjangan pelayanan
kesehatan. Diagnosis keperawatan mengandung komponen utama yaitu
sebagai berikut :
a. Problem (masalah)
Problem merupakan kesenjangan atau penyimpangan dari keadaan
normal yang seharusnya terjadi.
b. Etiologi (penyebab)
Menunjukkan penyebab masalah kesehatan atau keperawatan yang dapat
memberikan arah terhadap intervensi keperawatan yang meliputi:
1) Perilaku individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat.
2) Lingkungan fisik, biologis, psikologis, dan sosial.
3) Interaksi perilaku dan lingkungan.
c. Sign atau symptom (tanda dan gejala)
Merupakan informasi yang perlu untuk merumuskan diagnosa atau
serangkaian petunjuk timbulnya suatu masalah.
Perumusan diagnosis keperawatan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu
sebagai berikut :
1) Dengan rumus PES (Problem + Etiologi + Symptom)
2) Dengan rumus PE (Problem + Etiologi)
Jadi, menegakkan diagnosa keperawatan minimal harus mengandung dua
komponen tersebut di atas, di samping mempertimbangkan hal-hal
sebagai berikut :
1. Kemampuan masyarakat untuk menanggulangi masalah
2. Sumber daya yang tersedia dari masyarakat
3. Partisipasi dan peran serta masyarakat

3. Perencanaan (intervensi) keperawatan


Perencanaan keperawatan adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan
yang akan dilaksanakan untuk mengatasi masalah sesuai dengan diagnosis
keperawatan yang telah ditentukan dengan tujuan terpenuhinya kebutuhan
pasien. Jadi, perencanaan asuhan keperawatan kesehatan masyarakat
disusun berdasarkan diagnosa keperawatan yang telah ditetapkan dan
rencana asuhan keperawatan disusun harus mencakup: perumusan tujuan,
rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan, dan kriteria hasil
untuk menilai pencapaian tujuan.
a. Perumusan tujuan
Dalam merumuskan tujuan harus memenuhi kriteria yaitu sebagai
berikut:
1) Berfokus pada masyarakat
2) Jelas dan singkat
3) Dapat diukur dan diobservasi
4) Realistik
5) Ada target waktu
6) Melibatkan peran serta masyarakat
Dalam pencapaian tujuan dengan menggunakan formulasi kriteria yang
mencakup yaitu sebagai berikut :
T = S + P + K.1 + K.2
Keterangan :
T = Tujuan
S = Subjek
P = Predikat
K.1 = Kondisi
K.2 = Kriteria
Selain itu dalam perumusan tujuan :
1) Dibuat berdasarkan goal = sasaran dibagi hasil akhir yang
diharapkan
2) Perilaku yang diharapkan berubah
S = Spesifik
M = Measurable atau dapat diukur
A = Attainable atau dapat dicapai
R = Relevant/Realistic atau sesuai
T = Time-Bound atau waktu tertentu
S = Sustainable atau berkelanjutan
b. Rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan
Langkah-langkah dalam perencanaan keperawatan kesehatan masyarakat
yaitu sebagai berikut :
1. Identifikasi alternatif tindakan keperawatan.
2. Tetapkan teknik dan prosedur yang akan digunakan.
3. Melibatkan peran serta masyarakat dalam menyusun perencanaan
melalui kegiatan musyawarah masyarakat desa atau lokakarya mini.
4. Pertimbangkan sumber daya masyarakat dan fasilitas yang tersedia.
5. Tindakan yang akan dilaksanakan harus dapat memenuhi kebutuhan
yang sangat dirasakan masyarakat.
6. Mengarah kepada tujuan yang akan dicapai.
7. Tindakan harus bersifat realistik.
8. Disusun secara berurutan.
c. Kriteria hasil untuk menilai pencapaian tujuan
Penentuan kriteria dalam perencanaan keperawatan komunitas adalah
sebagai berikut :
1. Menggunakan kata kerja yang tepat.
2. Dapat dimodifikasikan.
3. Bersifat spesifik :
1) Siapa yang melakukannya ?
2) Apa yang dilakukan ?
3) Di mana dilakukan ?
4) Kapan dilakukan ?
5) Bagaimana melakukan ?
6) Frekuensi melakukan ?

4. Pelaksanaan (implementasi) keperawatan


Pelaksanaan merupakan tahap realisasi dari rencana asuhan keperawatan
yang telah disusun. Dalam pelaksanaan tindakan keperawatan perawat
kesehatan masyarakat harus bekerja sama dengan anggota tim kesehatan
lainnya, dalam hal ini melibatkan pihak Puskesmas, bidan desa, dan anggota
masyarakat. Prinsip yang umum digunakan dalam pelaksanaan atau
implementasi pada keperawatan komunitas adalah sebagai berikut :
a. Inovatif
Perawat kesehatan masyarakat harus mempunyai wawasan luas dan
mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi (IPTEK) dan berdasarkan iman dan takwa (IMTAQ).
b. Integrated
Perawat kesehatan masyarakat harus mampu bekerja sama dengan
sesama profesi, tim kesehatan lain, individu, keluarga, kelompok, dan
masyarakat berdasarkan asas kemitraan.
c. Rasional
Perawat kesehatan masyarakat dalam melakukan asuhan keperawatan
harus menggunakan pengetahuan secara rasional demi tercapainya
rencana program yang telah disusun.
d. Mampu dan mandiri
Perawat kesehatan masyarakat diharapkan mempunyai kemampuan dan
kemandirian dalam melaksanakan asuhan keperawatan serta kompeten.
e. Ugem
Perawat kesehatan masyarakat harus yakin dan percaya atas
kemampuannya dan bertindak dengan sikap optimis bahwa asuhan
keperawatan yang diberikan akan tercapai. Dalam melaksanakan
implementasi yang menjadi fokus adalah : program kesehatan
komunitas dengan strategi komunitas organisasi dan partnerships in
community.
Selain prinsip di atas, prinsip lain yang perlu diperhatikan adalah :
a. Berdasarkan respons masyarakat.
b. Disesuaikan dengan sumber daya yang tersedia pada masyarakat.
c. Meningkatkan kemampuan masyarakat dalam pemeliharaan diri sendiri
serta lingkungannya.
d. Menekankan pada aspek peningkatan kesehatan dan pencegahan
penyakit.
e. Mempertimbangkan kebutuhan kesehatan dan perawatan masyarakat
secara essential.
f. Memperhatikan perubahan lingkungan masyarakat.
g. Melibatkan partisipasi dan peran serta masyarakat dalam pelaksanaan
perawatan.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan yaitu :


1) Keterpaduan antara: biaya, tenaga, waktu, lokasi, sarana dan prasarana
dengan pelayanan kesehatan maupun lintas sektor lainnya.
2) Keterlibatan petugas kesehatan lain, kader, dan tokoh masyarakat dalam
rangka alih peran.
3) Tindakan keperawatan yang dilakukan dicatat dan didokumentasikan.
4) Adanya penyelenggaraan sistem rujukan baik medis maupun rujukan
kesehatan.

Level pencegahan dalam praktek keperawatan komunitas terdiri atas :


a) Pencegahan Primer
Pencegahan yang terjadi sebelum sakit atau ketidakfungsinya dan
diaplikasikannya ke dalam populasi sehat pada umumnya dan
perlindungan khusus terhadap penyakit.
b) Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder menekankan diagnosa diri dan intervensi yang
tepat untuk menghambat proses patologis, sehingga memperpendek
waktu sakit dan tingkat keparahan.
c) Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier dimulai pada saat cacat atau terjadi ketidakmampuan
stabil atau menetap atau tidak dapat diperbaiki sama sekali. Rehabilitasi
sebagai pencegahan primer lebih dari upaya menghambat proses
penyakit sendiri, yaitu mengembalikan individu kepada tingkat
berfungsi optimal dari ketidakmampuannya.

5. Penilaian/Evaluasi
Evaluasi memuat keberhasilan proses dan keberhasilan tindakan
keperawatan. Keberhasilan proses dapat dilihat dengan membandingkan
antara proses dengan pedoman atau rencana proses tersebut. Sedangkan
keberhasilan tindakan dilihat dengan membandingkan antara tingkat
kemandirian masyarakat dalam perilaku kehidupan sehari-hari dan tingkat
kemajuan kesehatan masyarakat komunitas dengan tujuan yang telah
ditetapkan atau dirumuskan sebelumnya. Evaluasi dilakukan atas respons
komunitas terhadap program kesehatan. Hal-hal yang perlu dievaluasi
adalah masukan (input) pelaksanaan (proses) dan hasil akhir (output).
Penilaian yang dilakukan berkaitan dengan tujuan yang akan dicapai, sesuai
dengan perencanaan yang telah disusun semula. Ada 4 dimensi yang harus
dipertimbangkan dalam melaksanakan penilaian yaitu : a) daya guna; b)
hasil guna; c) kelayakan; serta d) kecukupan. Kegiatan yang dilakukan
dalam penilaian menurut Narul Effendy, 1998 adalah sebagai berikut :
a. Membandingkan hasil tindakan yang dilaksanakan dengan tujuan yang
telah ditetapkan.
b. Menilai efektifitas proses keperawatan mulai dari tahap pengkajian
sampai dengan pelaksanaan.
c. Hasil penilaian keperawatan digunakan sebagai bahan perencanaan
selanjutnya apabila masalah belum teratasi.
Perlu dipahami bersama oleh perawat kesehatan masyarakat bahwa evaluasi
dilakukan dengan melihat respons komunitas terhadap program kesehatan.
Macam evaluasi: (1) formatif dan summatif, (2) input, procces, dan output.
Fokus evaluasi adalah :
a) Relevansi atau hubungan antara kenyataan yang ada dengan
pelaksanaan.
b) Perkembangan atau kemajuan proses.
c) Efisiensi biaya.
d) Efektivitas kerja.
e) Dampak : apakah status kesehatan meningkat/menurun, dalam jangka
waktu berapa.

Perubahan ini dapat diamati seperti gambar di bawah ini :


Gambar 2.1 Peran memandirikan klien dalam menanggulang
masalah kesehatan
Keterangan:

: Peran
Masyarakat

: Peran
Perawat

Pada gambar di atas dapat dijelaskan alih peran untuk memandirikan klien
dalam menanggulangi masalah kesehatan. Pada awalnya peran perawat
lebih besar dari pada klien dan berangsur-angsur peran klien lebih besar dari
pada perawat.
Kegunaan evaluasi adalah sebagai berikut :
1) Menentukan perkembangan keperawatan kesehatan masyarakat yang
diberikan.
2) Menilai hasil guna, daya guna, dan produktivitas asuhan keperawatan
yang diberikan.
3) Menilai asuhan keperawatan dan sebagai umpan balik untuk
memperbaiki atau menyusun rencana baru dalam proses keperawatan.
Dalam hasil evaluasi, terdapat tiga kemungkinan yaitu :
1) Tujuan tercapai
Apabila individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat telah
menunjukkan kemajuan sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan.
2) Tujuan tercapai sebagian
Apabila tujuan itu tidak tercapai secara maksimal, sehingga perlu dicari
penyebab dan cara memperbaikinya atau mengatasinya.
3) Tujuan tidak tercapai
Apabila individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat tidak
menunjukkan perubahan kemajuan sama sekali bahkan timbul masalah
baru. Dalam hal ini perlu dikaji secara mendalam apakah terdapat
problem dalam data, analisis, diagnosis, tindakan, dan faktor-faktor
yang lain yang tidak sesuai sehingga menjadi penyebab tidak
tercapainya tujuan.

Tujuan akhir dari perawatan komunitas adalah kemandirian keluarga yang


terkait dengan lima tugas keluarga yaitu : mengenal masalah kesehatan,
mengambil keputusan tindakan kesehatan, merawat anggota keluarga,
menciptakan lingkungan yang dapat mendukung upaya peningkatan
kesehatan keluarga serta memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang
tersedia, sedangkan pendekatan yang digunakan adalah pemecahan masalah
keperawatan yaitu melalui proses keperawatan
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS
Di Desa Padang Panjang
Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar

Asuhan keperawatan yang telah dilaksanakan oleh mahasiswa kelompok 03 Fakultas


Ilmu Kesehatan dan Keperawatan Program Studi S1 Keperawatan Tahap Profesi Ners
Universitas Muhammadiyah Banjarmasin melaksanakan Praktik Profesi Ners Stage
Keperawatan Komunitas dan Keluarga berlangsung mulai tanggal 05 Maret sampai
dengan 12 April 2019 Di Desa Padang Panjang Kec. Karang Intan Kab. Banjar
Kalimantan Selatan.

3.1 Tahap Persiapan


Kegiatan praktik keperawatan komunitas dan keluarga diawali dengan kegiatan
penerimaan mahasiswa yang dilaksanakan pada tanggal 05 Maret 2019 di Aula
Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar. Dalam acara serah terima tersebut
mahasiswa mendapatkan penjelasan dari Bapak camat atau yang mewakili,
Pihak Dinas Kesehatan Kab. Banjar dan Pihak Pendidikan Universitas
Muhammadiyah Banjarmasin. Selanjutnya mahasiswa merencanakan acara temu
kenal dengan masyarakat.

3.2 Pengkajian
3.2.1 Data Demografi
Desa Sungai Tabuk Kota adalah salah satu desa yang terletak di
Kecamatan Sungai Tabuk dengan luas 4,29 km2.
a. Kota/Kabupaten : Banjar
b. Kecamatan : Karang Intan
c. Nama Jalan : Jl. IP. M. Noor
d. Desa : Padang Panjang
e. RT : 1-3
f. RW :-
g. Batas-Batas Wilayah:
- RT 01 : Sungai Landas dan Karang Intan
- RT 02 : Mandiangin Timur
- RT 03 : Desa Sungai Ullin

Desa Padang Panjang di Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar,


Desa Padang Panjang adalah salah satu dari 26 (dua puluh empat) Desa
yang berada di wilayah Kecamatan Karang Intan 2 Kabupaten Banjar.
Desa Padang Panjang terdiri dari 3 RT dan memiliki jumlah penduduk
1221 jiwa yang terdiri dari 612 laki-laki dan 608 jiwa perempuan
dengan jumlah kepala keluarga 325 KK. Diambil data yang diperoleh
dari hasil pengkajian.

3.2.2 Tabulasi Data Penduduk


Setelah dilakukan wawancara dan observasi pada pengkajian data dari
tanggal 07 Juni – 09 Maret 2019 didapatkan data sebagai berikut:
Jumlah KK : 325 KK
Jumlah Jiwa : 1221 Jiwa
3.2.2.1. Total jumlah warga Per RT

Warga Per RT Jumlah Persen (%)

RT 1 447 36, 6%

RT 2 491 40,2 %
RT 3 283 23,2 %
Total 1221 100%

Berdasarkan data di atas, jumlah penduduk paling banyak adalah


RT 02 dengan jumlah penduduk 491 warga (40,2 %), sedangkan
penduduk dengan jumlah sedikit adalah RT 03 dengan jumlah
penduduk 283 warga (23,2 %).

3.2.2.2. Total Berdasarkan Jenis Kelamin


Jenis Kelamin Jumlah Persen (%)
Pria 612 50,1%
Wanita 608 49,9%
Total 1221 100
Berdasarkan data di atas, jumlah penduduk di desa Padang
Panjang berdasarkan jenis kelamin adalah laki-laki dengan
jumlah 612 orang (50,1%). Sedangkan jumlah wanita di desa
Padang Panjang adalah 608 orang (49,9%).

3.2.2.3. Total Berdasarkan Usia

Kategori Usia Jumlah Persen (%)


Balita (0 – 5 tahun) 294 24,1%
Anak – anak (6 – 11 tahun) 221 18,1%
Remaja Awal (12 – 16) 102 8,4%
Remaja Akhir (17 – 25) 187 15,3%
Dewasa Awal (26 – 35) 205 16,8%
Dewasa Akhir (36 – 45) 107 8,8%
Lansia Awal (46 – 55) 64 5,2%
Lansia Akhir (56 – 65) 20 1,6%
Manula (> 65 tahun) 21 1,7%
Total 1221 100 %

Berdasarkan data di atas, jumlah penduduk di desa Padang


Panjang berdasarkan usia yang terbanyak adalah adalah Balita
dengan jumlah 294 orang (24,1%). Sedangkan berdasarkan usia
yang sedikit adalah Lansia Akhir sebanyak 20 orang (1,6%).

3.2.2.4. Total Berdasarkan Status Perkawinan

Status Perkawinan Jumlah Persen (%)


Kawin 616 50,5 %
Belum kawin
548 44,8 %
Cerai hidup 2,1%
26
Cerai Mati 31 2,5 %
Total 1221 100 %

Berdasarkan data di atas, jumlah penduduk di desa Padang


Panjang berdasarkan status perkawinan terbanyak adalah status
kawin dengan jumlah 616 orang ( 50,5 %). Sedangkan
persentase status perkawinan terendah adalah Cerai Hidup
dengan jumlah 26 orang ( 2,1 %).
3.2.2.5. Total Berdasarkan Kehamilan (Khusus Perempuan wanita
10-54)
Kehamilan Jumlah Persen (%)
Ya 12 3,6 %
Tidak 326 96,4%
Total 308 100.0

Berdasarkan data di atas, jumlah penduduk berdasarkan data


kehamilan di desa Padang Panjang adalah 12 orang (100%).

3.2.2.6. Total Distribusi Warga Berdasarkan Pendidikan


Pendidikan Jumlah Persen (%)
Tidak Sekolah 321 26,3%

Tidak Tamat SD 124 10,2%

Tamat SD 312 25,6%

TAMAT SLTP 197 16,1%

Tamat SLTA 222 18,2%

Tamat D1,D2,D3 35 2,8%

Tamat PT 10 0,8%
Total 1221 100%

Berdasarkan tabel di atas, distribusi penduduk yang paling


banyak mempunyai pendidikan tingkat SD yaitu 312 orang
(25,6%). Sedangkan penduduk yang berpendidikan dengan
jumlah terendah dengan Tamat Perguruan tinggi adalah 10
orang (0,8%).

3.2.2.7 Total Distribusi Warga berdasarkan pekerjaan


Pekerjaan Jumlah Persen (%)
Tidak Bekerja 483 39,6%

Sekolah 289 23,7%


PNS/Pegawai, 27 2,2%
TNI/Polri 8 0,7%
Wiraswasta/swasta 242 19,8%
Petani 79 6,5%
Buruh 46 3,7%
Lainnya 47 3,8%
Total 1221 100 %
Berdasarkan tabel di atas sebagian besar penduduk dengan tidak
bekerja yaitu sebesar 483 orang (39,6%). Sedangkan persentasi
pekerjaan terendah adalah TNI/POLRI dengan Jumlah 8 orang
(0,7%).

3.2.2.8 Total distribusi Warga berdasarkan Agama (Per Jiwa)


No Agama Frekuensi %
1 Islam 1220 99,9 %
2 Katolik 1 0,1%
Total 1221 100

Berdasarkan tabel di atas mayoritas agama yang dianut oleh


penduduk Desa Padang Panjang adalah Islam yaitu sebanyak
962 orang ( 99,9 % ) sedangkan Agama Katolik yaitu 1 orang (
0,1 % )

3.2.3 Data Kesehatan Penduduk (per KK)


3.2.3.1. Total Penyakit Tuberkolosis

Diagnosis TB Jumlah Persentase (%)


B Ya 7 2,2 %
e Tidak 318 97,8 %

r Total 325 100,0

dasarkan data di atas dari total jumlah KK yang terdiagnosa TB


Paru berjumlah 7 KK (2,2%) dan yang tidak terdiagnosa TB
paru berjumalah 318 KK (97,8%)

3.2.3.2. Total Minum Obat TB Teratur

Minum Obat
Jumlah Persentase (%)
TB
Ya 5 71,4 %
Tidak 2 28,6 %
Total 7 100 %
B
Berdasarkan data di atas dari total jumlah penduduk yang
minum obat TB yaitu 5 orang (71,4%).
3.2.3.3. Total Penyakit Hipertensi

Diagnosis
Jumlah Persentase (%)
Hipertensi
Ya 62 19,1 %
Tidak 263 80,9 %
Total 325 100 %

Berdasarkan data di atas jumlah penduduk dengan Penyakit


Hipertensi adalah 62 orang dari 62 KK (19, 1%).

3.2.3.4. Total Minum Obat Hipertensi Secara Teratur

Minum Obat Hipertensi Secara


Jumlah Persen (%)
Teratur
Ya 60 96,8 %
Tidak 2 3,2 %
Total 62 100 %

Berdasarkan data di atas jumlah penduduk dengan Minum


Obat Hipertensi Secara Teratur adalah 60 orang dari 60 KK
(96,8 %).

3.2.3.5. Total Gangguan Jiwa

Gangguan Jiwa Jumlah Persen (%)


Ya 3 0,9 %
Tidak 322 99, 1 %
Total 325 100

Berdasarkan data di atas, jumlah penduduk di desa Balau yang


mengalami gangguan jiwa 3 Orang (0,9%).

3.2.3.6. Total minum obat jiwa

Minum Obat Jiwa Jumlah Persen (%)


Tidak 3 100 %
Ya 0 0%
Total 3 100%

Berdasarkan data di atas, jumlah penduduk di desa Padang


Panjang tidak ada yang minum obat jiwa dengan jumlah 0
orang (0 %).
3.2.3.7. Anggota Keluarga Yang Dipasung

Anggota Keluarga Yang


Dipasung Jumlah Persen (%)
Tidak 3 100 %
Ya 0 0%
Total 3 100 %

Berdasarkan data di atas, dari total 3 KK didesa Padang Panjang


tidak ada Anggota Keluarga Yang Dipasung.

3.1.3.8. Kartu Jaminan Kesehatan

Kartu Jaminan
Jumlah Persen (%)
Kesehatan
Ya 126 38,8 %
Tidak 199 61,2 %
Total 325 100 %

Berdasarkan data di atas, jumlah penduduk yang memiliki kartu


jaminan kesehatan adalah 126 orang (38,8%). Sedangkan yang
tidak memiliki kartu jaminan kesehatan adalah 199 orang
(61,2%).

3.1.3.9. Merokok
Merokok Jumlah Persen (%)
Ya (Setiap hari,Sering/kadang-
204 62,8 %
kadang)

Tidak (Tidak/Sudah berhenti) 121 37, 2 %


Total 325 100 %

Berdasarkan data di atas, jumlah penduduk yang merokok


adalah 204 orang (62,8%). Sedangkan yang tidak merokok
adalah 121 orang (37,2%).

3.1.3.10. Fasilitas Air Bersih dan Jamban Keluarga


a. Sarana Air Bersih
Sarana Air Bersih Jumlah KK Persen (%)
Ya 325 100 %
Tidak 0 0%
Total 325 100 %

Berdasarkan tabel di atas, seluruh masyarakat Desa


Padang Panjang mengunakan sarana air bersih di
lingkungan rumah yaitu 315 KK (100%).

b. Sumber Air

Sumber Air Jumlah Persen (%)

PDAM,sumur pompa, sumur


323 99,4 %
gali, mata air terlindungi
Sumur terbuka, air sungai,
2 0,6 %
danau/telaga
Total 325 100 %

Berdasarkan tabel di atas, jumlah penduduk yang


menggunakan sumber air PDAM, sumur pompa, sumur
gali, mata air terlindungi adalah 323 KK ( 99,4 %),
sednagkan yang tidak menggunakan yaitu 2 KK (0,6%).

c. Jamban Keluarga
Jamban Jumlah KK Persen (%)
Ya 325 100 %
Tidak 0 0%
Total 325 100,0

Berdasarkan tabel di atas, sebanyak 325 KK (100%)


penduduk memiliki jamban keluarga di rumah.

d. BAB di Jamban
BAB di Jamban Jumlah Persentase
Ya 316 97,2 %
Tidak 9 2,8 %
Total 325 100

Berdasarkan tabel di atas, jumlah sebanyak 316 KK


(97,2%) yang BAB dijamban, sedangkan yang tidak 9 KK
(2,8%).

e. Jenis Jamban
Jenis Jamban Jumlah Persentase
Closet,leher
322 99,1%
angsa/plengsengan

Jamban cemplung 3 0,9%


Total 325 100

Berdasarkan tabel di atas, sebanyak 322 KK


menggunakan closet, leher angsa (99,1 %), sedangkan
jamban cemplung 2 KK (0,9%).

3.2.4 Data Reproduksi


3.2.4.1. Total Penggunaan Alat Kontrasepsi (khusus wanita yang
berstatus menikak)

Penggunaan Alat
Jumlah Persen (%)
Kontrasepsi
Ya 183 67,8%
Tidak 97 32,2 %
Total 270 100%

Berdasarkan data di atas, yang menggunakan alat kontrasepsi


183 orang (67,8%), sedangkan yang tidak 5 orang (32,2 %).

3.2.4.2. Bersalin di fasilitas kesehatan (khusus khusu ibu yang memiliki


anggota keluarga berumur <12 bulan)

Bersalin di fasilitas kesehatan Jumlah Persen (%)

Ya 51 77,3
Tidak 15 22,7 %
Total 66 100

Berdasarkan data di atas, jumlah ibu yang memiliki anggota


keluarga berumur kurang dari 12 bulan yang melahirkan di
fasilitas kesehatan berjumlah 51 orang (77,3%), dan yang tidak
bersalin di fasilitas kesehatan 15 orang (22,7%)
3.2.4.3. Asi Ekslusif (7-23 bulan)
Penggunaan Asi Ekslusif Jumlah Persen (%)
Ya 41 89,1 %
Tidak 5 10, 9 %
Total 46 100%
Berdasarkan data di atas, yang menggunakan ASI eksklusif 41
orang (89,1%), sedangkan yang tidak 5 orang (10,9 %).

3.2.4.4. Pemantauan Balita (Balita 2-59 bulan)


Pemantauan Balita Jumlah Persen (%)
Ya 137 96,4%
Tidak 4 3,6%
Total 142 100%

Berdasarkan data di atas, jumlah pemantauan balita yang


berumur 2 sampai 59 bulan di desa Padang Panjang sebanyak
137 orang (96,4 %) sedangkan yang tidak dilakukan pemantauan
adalah 2 orang (3,6 %).

3.2.4.5. Imunisasi Lengkap (12-23 bulan)


Imunisasi
Jumlah Persen (%)
Lengkap
Ya 94 97,9 %
Tidak 2 2,1 %
Total 96 100

Berdasarkan data di atas, jumlah balita yang berumur 12-23


bulan yang imunisasinya lengkap di desa Padang Panjang
sebanyak 94 orang (97,9 %), sedangkan yang tidak dilakukan
imunisasi lengkap 2 orang (2,1%).

3.3 Analisa Data


No Data Masalah Etiologi
1 DS : Resiko tinggi Kurangnya
- Saat pengkajian, sebagian besar warga peningkatan motivasi
mengatakan penyakit yang di derita adalah angka terjadinya dalam
hipertensi. hipertensi dan melaksanakan
- Sebagian warga mengatakan batuk menahun dan tubercolosis kegiatan
- Sebagian masyarakat desa yang menderita pemeliharaan
tubercolusis mengatakan sudah merasa sembuh kesehatan
dan tidak ingin meminum obat lagi.
- Warga desa yang menderita tubercolusis
mengatakan tidak menggunakan masker dan
bergaul bebas bersama keluarga dirumah dan
lingkungan.
- Sebagian besar masyarakat mengatakan sering
merokok.
DO :
- Dalam hasil tabulasi penyakit terbanyak yang
diderita adalah hipertensi yaitu sebanyak 62
orang (19,1%).
- Dari hasil pendataan penyakit warga dalam
satu tahun terakhir didapatkan data kedua
tertinggi adalah penyakit tubercolusis sebanyak
7 orang (2,2%).
- Dari hasil pendataan warga yang merokok
yaitu sebanyak 204 (62,8%)

2 DS : Resiko tinggi Ketidakmamp


- Sebagian warga mengatakan dilingkungannya terjadinya uan
terdapat banyak sekali lalat penularan masyarakat
- Sebagian warga mengatakan terdapat peternakan penyakit akibat memodifikasi
ayam disekitar lingkunganya lingkungan lingkungan
- Sebagian warga mengatakan lingkungannya penuh lalat
berbau kotoran ayam
DO:
- Terlihat lalat disekitar rumah warga
- Terlihat lalat menggerumuni kendaraan
mahasiswa
- Tercium aroma tidak sedap (kotoran ayam)
disekitar rumah warga yang dekat dengan
peternakan ayam.

3.4 Penampisan Masalah ( Skoring )


MASALAH
NO A B C D E F G H I J K L Total Prioritas
KESEHATAN
1 Resiko tinggi 4 4 4 5 3 2 4 4 3 3 3 3 42 1
peningkatan angka
terjadinya hipertensi
dan tubercolusis b.d
Kurangnya
pengetahuan
masyarakat (merokok)

2 Resiko tinggi 4 4 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 39 2
terjadinya penularan
penyakit (lingkungan
penuh lalat) b.d
Ketidakmampuan
masyarakat
memodifikasi
lingkungan

Keterangan
1. Kriteria Penapisan
A. Sesuai dengan peran perawat komunitas
B. Jumlah yang berisiko
C. Besarnya risiko
D. Kemungkinan untuk pendidikan kesehatan
E. Minat masyarakat
F. Kemungkinan untuk diatasi
G. Sesuai dengan program pemerintah
H. Sumber daya tempat
I. Sumber daya waktu
J. Sumber daya dana
K. Sumber daya peralatan
L. Sumber daya orang
2. Keterangan pembobotan :
1. Sangat rendah
2. Rendah
3. Cukup
4. Tinggi
5. Sangat tinggi

SKORING

1. Resiko tinggi peningkatan angka terjadinya hipertensi dan tubercolosis b.d


Kurangnya motivasi dalam melaksanakan kegiatan dalam memelihara
kesehatan (merokok)

No Kriteria Skor Bobot Hasil Pembenaran


1 Sifat masalah Karena
- Tidak/kurang sehat 3 1 hiprtensi,TBC,
- Ancaman kesehatan 2 1 bahaya merokok
- Krisis atau keadaan 1 merupakan maslah
sejahtera kesehatan yang
dapat
membahayakan
terhadap kesehatan

2 Kemungkinan masalah dapat Karena untuk


diubah 2 1 melakukan
- Dengan mudah 1 2 penanganan
- Hanya sebagian 0 penyakit tersebut
- Tidak dapat diubah membutuhkan
kedisiplinan dan
kepatuhan setiap
individu

3 Potensial masalah dapat Karena


dicegah 3 1 pencegahan
- Tinggi 2 1 hipertensi dapat
- Cukup 1 dilakukan dengan
- Rendah cara diet nutrisi
yang tepat dan
menjaga pola
aktivitas
sedangkan untuk
mencegah TBC
dapat dilakukan
dengan pengunaan
masker bagi yang
belum menderita
dan pengobatan
teratur bagi yang
menderita

4 Menonjolnya masalah Masyarakat


- Masalah berat, harus 2 mengatakan
segera ditangani 1 1 hipertensi
- Ada masalah, tetapi 1 merupakan
tidak perlu segera 0 masalah yang
ditangani. perlu ditangani
- Masalah tidak
dirasakan
Total: 4

2. Resiko tinggi terjadinya penularan penyakit (lingkungan penuh lalat) b.d


Ketidakmampuan masyarakat memodifikasi lingkungan

No Kriteria Skor Bobot Hasil Pembenaran


1 Sifat masalah Karena lalat
- Tidak/kurang sehat 3 merupakan salah
- Ancaman 2 1 0,7 satu faktor
kesehatan 1 penyeberan
- Krisis atau penyakit
keadaan sejahtera
2 Kemungkinan masalah Karena akibat
dapat diubah 2 dari kotoran
- Dengan mudah 1 2 0,5 ayam sehingga
- Hanya sebagian 0 membutuhkan
- Tidak dapat diubah tindakan
terhadap
pengelolaan
kotoran ayam
3 Potensial masalah dapat Dengan cara
dicegah 3 pengelolaan
- Tinggi 2 1 0,7 kotoran ayam
- Cukup 1 dan pola hidup
- Rendah bersih dan sehat
4 Menonjolnya masalah Masyarakat
- Masalah berat, 2 merasa
harus segera 1 terganggu
ditangani 1 0,5 dengan bau
- Ada masalah, 0 kotoran ayam
tetapi tidak perlu akan tetapi sudah
segera ditangani. terbiasa dan
- Masalah tidak merupakan
dirasakan sumber
penghasilan
masyarakat
Total 2,4

3.5 Prioritas Masalah


1. Resiko tinggi peningkatan angka terjadinya hipertensi dan tubercolusis b.d
Kurangnya pengetahuan masyarakat (merokok)
2. Resiko tinggi terjadinya penularan penyakit (lingkungan penuh lalat) b.d
Ketidakmampuan masyarakat memodifikasi lingkungan
3.6 Perencanaan Keperawatan
Diagnosa
No NOC NIC
Keperawatan
`1. Resiko tinggi Setelah dilakukan tindakan 1. Pengkajian
peningkatan keperawatan selama 5 kali - Kaji tingkat pengetahuan klien terkait
angka pertemuan, komunitas masalah penyakit hipertensi, penyebab,
terjadinya menunjukan prilaku kepatuhan tanda dan gejala serta nutrisi untuk
hipertensi dan dengan kriteria hasil : penderita hipertensi
tubercolusis - TUM : - Kaji tingkat pengetahuan klien terkait
b.d Kurangnya Peningkatan pengetahuan masalah penyakit TBC, penyebab,
pengetahuan klien masalah penyakit tanda dan gejala serta pencegahan.
masyarakat hipertensi, TBC an bahaya - Kaji tingkat pengetahuan klien terkait
(merokok) merokok masalah bahaya merokok, akibat dari
merokok, bahaya merokok terhadap
- TUK : lingkungan
peningkatan pengetahuan 2. Pendidikan Kesehatan kepada
terkait masalah kesehatan individu/keluarga
klien serta mampu - Berikan pendidikan kesehatan tentang
memodifikasi kebutuhan penyakit hipertensi, tubercolosis dan
nutrisi yang ada bahaya merokok seperti penyebab dan
dilingkungan keluarga tanda gejala, serta penanganan dan
nutrisi bagi penderita hipertensi, tanda
gejala TBC, penanganan TBC,
pencegahan kekambuuhan TBC dan
bahaya terhadap lingkungan sekitar.
Bahaya merokok, efek dari merokok,
cara agar mengurangi konsumsi
merokok.
- Berikan penjelasan dengan bahasa
yang mudah dimengerti dan pelan,
ulangi bila diperlukan.
- Motivasi peningkatan status kesehatan
klien
- Fasilitasi menggunakan layanan
kesehatan yang sesuai kebutuhan.
- Mencari informasi yang berhubungan
dengan kesehatan dari berbagai
sumber
- Memiliki rasa tanggung jawab untuk
membuat pilihan yang sehat
- Keluarga mengetahui tentang
pengertian, tanda gejala dan cara
penanganan penyakit.
3. Pemeriksaan berkala tekanan darah
2 Resiko tinggi Setelah dilakukan tindakan 1. memberikan pengetahuan terkait
terjadinya keperawatan selama 5 kali modifikasi lingkungan yang sehat
penularan pertemuan, komunitas (menjaga kebersihan dari lalat)
penyakit menunjukan lingkungan yang 2. membuat komunitas berpartisipasi dalam
(lingkungan memenuhi syarat kesehatan melaksanakan pencegahan terhadap
penuh lalat) dengan kriteria hasil : populasi lalat
b.d - Komunitas mampu 3. berikan demontrasi terkait cara cuci tangan
Ketidakmamp mengenali sanitasi dan 4. berikan masyarakat (para siswa SD di desa
uan lingkungan yang sehat padang panjang) terlibat dalam
masyarakat - Komunitas mampu demonstrasi untuk mampu melaksanakan
memodifikasi melakukan cuci cuci tangan.
lingkungan tangan.

44
3.7 POA (Planning Of Action)
PLANNING OF ACTION (POA) ASUHAN KOMUNITAS
DI DESA PADANG PANJANG KECAMATAN KARANG INTAN
KABUPATEN BANJAR KALIMANTAN SELATAN

No Diagnosa Tujuan Sasaran Strategi Rencana Kegiatan Hari/tgl Tempat Evaluasi


keperawatan Kriteria Standar
komunitas
1 Resiko tinggi Untuk menekan Warga desa KIE - Penyuluhan dan - Polindes Verbal - Warga mengetahui
peningkatan angka kejadian padang pendidikan kesehatan - Gedung bahaya merokok,
angka terjadinya hipertensi dan panjang tentang bahaya serbaguna pengertian, tanda
hipertensi dan tubercolusis dengan merokok, penyakit - Yasinan gejala dan penanganan
tubercolusis b.d memberikan hipertensi, dan (wanita) penyakit hipertensi
Kurangnya pengetahuan kepada tubercolusis - Handil maullid dan tubercolusis di
motivasi dalam masyarakat tentang (laki-laki) rumah
melaksanakan penyakit hipertensi, - Mengadakan Tensi - Home base
kegiatan tubercolusis dan Gratis
pemeliharaan bahaya merokok
kesehatan

2 Resiko tinggi Untuk memberi Warga desa KIE - Penyuluhan Kesehatan - RT. 3 Verbal - Warga mengetahui
terjadinya pengetahuan kepada padang tentang bahaya penyakit- bahayanya penyakit-
penularan warga tentang panjang penyakit yang dapat penyakit yang dapat
penyakit akibat penyakit-penyakit RT. 3 disebabkan oleh lalat disebakan oleh lalat
lingkungan penuh yang dapat dan perilaku hidup serta mengetahui dan
lalat b.d disebabkan oleh lalat bersih dan sehat. menerapkan perilaku
Ketidakmampuan dan pentingnya hidup sehat
masyarakat pengelolaan - Penyuluhan Kesehatan
memodifikasi lingkungan bersih dan Demonstrasi tentang
lingkungan dan hidup sehat. cuci tangan dengan
benar

45
3.8 Implementasi Keperawatan
No. Diagnosa Tanggal Pelaksanaan Kegiatan Evaluasi
1. Risiko tinggi Sabtu, 23 Maret 1. Pemberian pelayanan 1. Evaluasi struktur :
peningkatan 2019 di RT 01 kesehatan gratis : a. Rencana penyuluhan telah dilakukan sehari sebelum acara dilaksanakan.
angka terjadinya dan RT 02 pada Pemeriksaan Tekanan Darah b. Materi penyulu han serta leaflet telah dipersiapkan 1 hari sebelum
hipertensi dan pukul 20.00 2. Penyuluhan tentang persiapan pelaksanaan kegiatan
tubercolusis WITA dan RT 03 Pengertian, penyebab, tanda c. Kegiatan penyuluhan dilaksanakan pada masyarakat Desa Padang Panjang
berhubungan pada Pukul 16.00 dan gejala, pencegahan dan di RT 01 dan 02 dirumah warga dan RT 03 di TPA.
dengan WITA. penatalaksanaan pada 2. Evaluasi proses :
Kurangnya hipertensi a. Acara bejalan lancar
pengetahuan 3. Penyuluhan tentang b. 80% peserta yang aktif bertanya terhadap materi penyuluhan.
masyarakat Pengertian, penyebab, tanda c. 98 % peserta mengikuti pemeriksaan tekanan darah.
(merokok) dan gejala, pencegahan dan d. Penyuluhan dilaksanakan di desa Padang Panjang
penatalaksanaan pada 3. Evaluasi hasil :
tuberkolosis a. Warga desa Padang Panjang dapat memahami tentang materi penyakit
4. Penyuluhan tentang bahaya (hipertensi, tuberkolosis dan bahaya merokok) yang diberikan oleh ners
merokok muda
5. GERMAS b. Warga desa Padang Panjang dapat mengetahui Tekanan darah mereka
sehingga dapat dilakukan tindakan selanjutnya
c. Warga desa Padang Panjang memahami tindakan yang dilakukan untuk
mencegah meningkatnya tekanan darah, pencegahan tuberkolosis dan
mengetahui bahaya merokok.
2 Risiko tinggi Sabtu, 23 Maret 1. Penyuluhan tentang bahaya 1. Evaluasi struktur :
terjadinya 2019 RT 03 pada penyakit oleh lalat terkait a. Rencana penyuluhan telah dilakukan sehari sebelum acara dilaksanakan.
penularan Pukul 16.00 penjelasan, siklus lalat, b. Materi penyulu han serta leaflet telah dipersiapkan 1 hari sebelum
penyakit WITA dan penyakit yang ditularkan oleh persiapan pelaksanaan kegiatan
(lingkungan Jum’at, 22 Maret lalat, cara pencegahan dan c. Kegiatan penyuluhan dilaksanakan pada masyarakat Desa Padang Panjang
penuh lalat) 2019 SDN penanganan lalat. di RT 03 di TPA dan di SDN Desa Padang Panjang.
berhubungan Padang Panjang 2. Penyuluhan dan demonstrasi 2. Evaluasi proses :
dengan pada pukkul tentang cara cuci tangan 6 a. Acara bejalan lancar
Ketidakmampuan 09.00 WITA langkah b. 85% peserta yang aktif bertanya terhadap materi penyuluhan.
masyarakat c. 97 % peserta mengikuti memahami penjelasan tentang bahaya lalat dan cara
memodifikasi cuci tangan.
lingkungan d. Penyuluhan dilaksanakan di desa Padang Panjang di RT 03 di TPA dan di
SDN Desa Padang Panjang.
3. Evaluasi hasil :
a. Warga desa Padang Panjang RT 03 dapat memahami tentang materi bahaya
lalat yang diberikan oleh ners muda dan siswa SDN Padang Panjang dapat
memahami penjelasan tentang cuci tangan 6 langkah
b. Warga desa Padang Panjang RT 03 dapat melaksakan kegiatan terkait bahaya
lalat dengan cara melakukan pencegahan terhadap bahaya lalat yang
diberikan oleh ners muda dan siswa SDN Padang Panjang dapat melakukan
cuci tangan 6 langkah.
BAB 4
PEMBAHASAN

Praktek Keperawatan komunitas merupakan bagian aplikasi dari keperawatan


komunitas yang diadakan sejak tanggal 07 Maret sampai dengan 29 Maret 2019.
Praktek Keperawatan komunitas ini merupakan bagian dari praktek keperawatan
yang memiliki beberapa tahapan proses keperawatan, yaitu proses Pengkajian,
Diagnosa, Intervensi, Implementasi dan Evaluasi Keperawatan.

4.1 Pengkajian
Pengkajian merupakan upaya pengumpulan data secara lengkap dan
sistematis terhadap masyarakat untuk dikaji dan dianalisis sehingga masalah
kesehatan yang dihadapi oleh masyarakat baik individu, keluarga atau
kelompok yang menyangkut permasalahan pada fisiologis, psikologis, sosial
ekonomi, maupun spiritual dapat ditentukan (Mubarak, 2005).

Berdasarkan rencana proses pengkajian ini dilakukan dalam waktu 5 hari


pada tanggal 07 Maret – 11 Maret 2019, di Desa Padang Panjang RT 01 – RT
03. Jumlah kepala keluarga di lingkungan Desa Padang Panjang yaitu 325
KK. Hasil pengkajian penyakit yang diderita warga Desa Padang Panjang
Kecamatan Karang Intan pada saat dilakukan pengkajian pertama terbanyak
adalah menderita hipertensi dan banyak jumlah perokok

Dalam melaksanakan proses pengkajian ners muda mendapat beberapa faktor


pendukung dan penghambat, antara lain :
4.1.1. Faktor Pendukung.
Faktor pendukung dalam tahap pengkajian adanya dukungan dari para
perangkat desa diantaranya kepala desa, Ketua RT, perangkat desa dan
masyarakat yang kooperatif. Lokasi geografis Desa Padang Panjang
berada di jalan utama kabupaten sehingga semua kepala keluarga bisa
dijangkau dengan mudah. Pembagian peran dan tugas pada mahasiswa
dibagi secara merata sehingga bisa dijalankan dengan baik.
Bimbingan dan arahan dari masing-masing preseptor berjalan dengan
lancar sehingga mahasiswa mampu dengan cepat beradaptasi
dilingkungan masyarakat

48
4.1.2. Faktor Penghambat.
Dalam tahap pengkajian, kelompok mengalami kendala atau faktor
penghambat antara lain kesulitan menemui warga pada pagi dan siang
hari dikarenakan pada pagi hingga sore hari warga bekerja, dan pada
siang hari warga menggunakan waktu untuk beristirahat, hal tersebut
yang membuat mahasiswa kesulitan untuk melakukan
pengkajian.Sebagian rumah keluarga ada juga yang menolak yang
tidak dietahui sebabnya, karena lagsung ditolak da nada yang tidak
membukakan pintu.

4.2 Diagnosa keperawatan komunitas


Diagnosa keperawatan adalah respon individu pada masalah kesehatan baik
yang aktual maupun potensial. Masalah aktual adalah masalah yang diperoleh
pada saat pengkajian, sedangkan masalah potensial adalah masalah yang
mungkin timbul kemudian. Jadi, diagnosa keperawatan adalah suatu
pernyataan yang jelas, padat dan pasti tentang status dan masalah kesehatan
yang dapat diatasi dengan tindakan keperawatan. Dengan demikian diagnosis
keperawatan ditetapkan berdasarkan masalah yang ditemukan. Diagnosa
keperawatan akan memberi gambaran masalah dan status kesehatan
masyarakat baik yang nyata (aktual), dan yang mungkin terjadi (potensial)
(Mubarak, 2005).

Setelah dilakukan proses pengkajian di Desa Padang Panjang, Ners Muda


menemukan beberapa masalah kesehatan yaitu : Risiko tinggi peningkatan
angka terjadinya hipertensi dan tubercolusis berhubungan dengan Kurangnya
pengetahuan masyarakat (merokok) dan risiko tinggi terjadinya penularan
penyakit (lingkungan penuh lalat) berhubungan dengan Ketidakmampuan
masyarakat memodifikasi lingkungan.

Penapisan masalah keperawatan (prioritas) dilakukan bersama warga Desa


Padang Panjang dalam acara Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) II yang
dilakukan di gedung serba guna di desa Padang Panjang. Dalam proses
penapisan masalah ini, Ners Muda masih mendapatkan beberapa faktor
pendukung dan penghambat antara lain:
4.2.1 Faktor pendukung.
Faktor pendukung yang dalam hal ini yaitu sebagian besar warga
sangat antusias dengan acara yang diadakan, penggunaan media yang
menarik perhatian warga, penguasaan materi yang baik oleh
mahasiswa.
4.2.2 Faktor penghambat.
Waktu pelaksanaan Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) yang
dilaksanakan pada waktu malam hari lebih didominasi oleh penduduk
laki-laki dan kesibukan warga membuat tidak semua warga yang
diundang dapat menghadiri MMD II.
4.3 Perencanaan
Perencanaan keperawatan adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan
yang akan dilaksanakan untuk mengatasi masalah sesuai dengan diagnosis
keperawatan yang telah ditentukan dengan tujuan terpenuhinya kebutuhan
pasien (Mubarak, 2005). Jadi perencanaan asuhan keperawatan kesehatan
masyarakat disusun berdasarkan diagnosa keperawatan yang telah ditetapkan
dan rencana keperawatan yang disusun harus mencakup perumusan tujuan,
rencana tindakan keperawatan yang akan dilakukan dan kriteria hasil untuk
menilai pencapaian tujuan (Mubarak, 2005).

Rencana tindakan keperawatan komunitas dirumuskan bersama-sama dengan


warga Desa Padag Panjang setempat pada waktu pelaksanaan Musyawarah
Masyarakat Desa (MMD) II di gedung serba guna desa Padang Panjang. Pada
proses ini diperoleh kesepakatan dengan warga yang meliputi waktu, tempat
dan penanggung jawab setiap kegiatan yang akan dilaksanakan. Kegiatan
yang direncanakan untuk mengatasi masalah kesehatan yang muncul antara
lain: upaya meningkatkan pengetahuan masyarakat melalui pelaksanaan
pendidikan kesehatan (penyuluhan) tentang masalah yang muncul di
masyarakat

Dalam proses perencanaan tindakan keperawatan komunitas ini mahasiswa


masih mendapatkan beberapa faktor pendukung dan penghambat antara lain:
4.3.1. Faktor pendukung.
Faktor pendukung yang dalam hal ini yaitu kepala Desa, Ketua RT,
tokoh masyarakat dan perwakilan warga sangat mendukung akan
kegiatan tersebut, serta mau bekerja sama dan memfasilitasi segala hal
yang dibutuhkan mahasiswa demi kelancaran kegiatan tersebut
sehingga mempermudah dalam menentukan waktu dan tempat
pelaksanaan kegiatan tersebut.
4.3.2. Faktor penghambat.
Tidak semua warga hadir dalam kegiatan kegiatan penyuluhan yang
dilakukan tiap RT dikarenakan kesibukan dan kadang kelelahan
setelah seharian berkebun.

4.4 Implementasi
4.4.1. Risiko tinggi peningkatan angka terjadinya hipertensi dan tubercolusis
berhubungan dengan Kurangnya pengetahuan masyarakat (merokok)
4.4.1.1 Pendidikan kesehatan
Penyuluhan kesehatan adalah kegiatan pendidikan yang
dilakukan dengan cara menyebarkan pesan, menanamkan
keyakinan, sehingga masyarakat tidak saja sadar, tahu dan
mengerti, tetapi juga mau dan bisa melakukan suatu anjuran
yang ada hubungannya dengan kesehatan (Naomi, 2002).

Penyuluhan kesehatan yang diberikan untuk mengatasi


masalah kesehatan tersebut adalah penyuluhan tentang
penyakit (hipertensi, tubercolosis, GERMAS dan bahaya
merokok) yang dilakukan baik pada seluruh warga masyarakat
di Desa Padang Panjang sebagai target keperawatan
komunitas. Penyuluhan tentang beberapa masalah kesehatan
tersebut dilaksanakan di RT 01 dan 02 dirumah warga dan di
RT 03 di TPA

4.4.2. Risiko tinggi terjadinya penularan penyakit (lingkungan penuh lalat)


berhubungan dengan Ketidakmampuan masyarakat memodifikasi
lingkungan
4.4.2.1 Pendidikan kesehatan
Penyuluhan kesehatan adalah kegiatan pendidikan yang
dilakukan dengan cara menyebarkan pesan, menanamkan
keyakinan, sehingga masyarakat tidak saja sadar, tahu dan
mengerti, tetapi juga mau dan bisa melakukan suatu anjuran
yang ada hubungannya dengan kesehatan (Naomi, 2002).

Penyuluhan kesehatan yang diberikan untuk mengatasi


masalah kesehatan tersebut adalah penyuluhan tentang bahaya
penularan lalat dan cara cuci tangan 6 langkah yang dilakukan
baik pada warga masyarakat di Desa Padang Panjang RT 03
dan cuci tangan pada siswa Sekolah Dasar Negeri Padang
Panjang sebagai target keperawatan komunitas. Penyuluhan
tentang beberapa masalah kesehatan tersebut dilaksanakan di
RT 03 di TPA dan Sekolah Dasar Negeri Padang Panjang

4.5 Evaluasi
Evaluasi memuat keberhasilan proses dan keberhasilan tindakan keperawatan.
Keberhasilan proses dapat dilihat dengan membandingkan antara proses
dengan pedoman atau rencana proses tersebut. Sedangkan keberhasilan
tindakan dapat dilihat dengan membandingkan antara tingkat kemandirian
masyarakat dalam perilaku kehidupan sehari-hari dan tingkat kemajuan
kesehatan masyarakat komunitas dengan tujuan yang telah ditetapkan atau
dirumuskan sebelumnya (Mubarak, 2005).

Kegiatan yang telah dirumuskan dalam perencanaan bersama dengan warga


telah dilaksanakan semua. Semua kegiatan dapat dilaksanakan sesuai dengan
rencana yang disusun walaupun masih terdapat beberapa hambatan baik
internal (dari mahasiswa) maupun eksternal (dari masyarakat dan
lingkungan). Dari beberapa hambatan yang ada, sebagian hambatan dapat
tertutupi oleh faktor pendukung.

Berikut evaluasi untuk tiap diagnosa keperawatan Komunitas :


4.5.1. Risiko tinggi peningkatan angka terjadinya hipertensi dan tubercolusis
berhubungan dengan Kurangnya pengetahuan masyarakat (merokok)
4.5.2.1. Evaluasi struktur :
a. Rencana penyuluhan telah dilakukan sehari sebelum
acara dilaksanakan.
b. Materi penyulu han serta leaflet telah dipersiapkan 1
hari sebelum persiapan pelaksanaan kegiatan
c. Kegiatan penyuluhan dilaksanakan pada masyarakat
Desa Padang Panjang di RT 01 dan 02 dirumah warga
dan RT 03 di TPA.

4.5.2.2. Evaluasi proses :


a. Acara bejalan lancar
b. 80% peserta yang aktif bertanya terhadap materi
penyuluhan.
c. 98 % peserta mengikuti pemeriksaan tekanan darah.
d. Penyuluhan dilaksanakan di desa Padang Panjang
4.5.2.3. Evaluasi hasil :
a. Warga desa Padang Panjang dapat memahami tentang
materi penyakit (hipertensi, tuberkolosis dan bahaya
merokok) yang diberikan oleh ners muda
b. Warga desa Padang Panjang dapat mengetahui
Tekanan darah mereka sehingga dapat dilakukan
tindakan selanjutnya
c. Warga desa Padang Panjang memahami tindakan yang
dilakukan untuk mencegah meningkatnya tekanan
darah, pencegahan tuberkolosis dan mengetahui bahaya
merokok.

4.5.2. Risiko tinggi terjadinya penularan penyakit (lingkungan penuh lalat)


berhubungan dengan Ketidakmampuan masyarakat memodifikasi
lingkungan
4.5.2.1. Evaluasi struktur :
a. Rencana penyuluhan telah dilakukan sehari sebelum acara
dilaksanakan.
b. Materi penyulu han serta leaflet telah dipersiapkan 1 hari
sebelum persiapan pelaksanaan kegiatan
c. Kegiatan penyuluhan dilaksanakan pada masyarakat Desa
Padang Panjang di RT 03 di TPA dan di SDN Desa
Padang Panjang.

4.5.2.2. Evaluasi proses :


a. Acara bejalan lancar
b. 85% peserta yang aktif bertanya terhadap materi
penyuluhan.
c. 97 % peserta mengikuti memahami penjelasan tentang
bahaya lalat dan cara cuci tangan.
d. Penyuluhan dilaksanakan di desa Padang Panjang di RT
03 di TPA dan di SDN Desa Padang Panjang.
4.5.2.3 Evaluasi hasil :
a. Warga desa Padang Panjang RT 03 dapat memahami
tentang materi bahaya lalat yang diberikan oleh ners
muda dan siswa SDN Padang Panjang dapat memahami
penjelasan tentang cuci tangan 6 langkah
b. Warga desa Padang Panjang RT 03 dapat melaksakan
kegiatan terkait bahaya lalat dengan cara melakukan
pencegahan terhadap bahaya lalat yang diberikan oleh
ners muda dan siswa SDN Padang Panjang dapat
melakukan cuci tangan 6 langkah.
BAB 5

PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Praktek klinik keperawatan komunitas yang dilaksanakan pada tanggal 05
Maret sampai dengan 31 Maret 2019 merupakan salah satu program profesi
untuk menghasilkan tenaga perawat yang profesional sesuai dengan
kompetensi yang ditentukan. Sebagai aplikasi nyata dari konsep keperawatan
komunitas, diberikan asuhan keperawatan komunitas kepada masyarakat
Desa Padang Panjang Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar Provinsi
Kalimantan Selatan.

Pendekatan dalam memberikan asuhan keperawatan komunitas adalah


pendekatan proses keperawatan yang meliputi 4 tahap, yaitu pengkajian,
perencanaan, tindakan dan evaluasi yang dilaksanakan secara integral dan
komprehensif dalam meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengenal
masalah kesehatanya dan mampu menciptakan berbagai alternatif dalam
upaya meningkatkan derajat kesehatanya.

Dari keempat tahapan tersebut dapat dilaksanakan dengan baik oleh ners
muda, kader dan masyarakat desa Padang Panjang Kecamatan Karang Intan
Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan. Dalam pelaksanaanya tidak
pernah lepas dari aral dan rintangan, akan tetapi hal tersebut dapat diatasi
dengan baik tanpa mengganggu aktivitas. Secara umum tingkat keberhasilan
praktek klinik keperawatan komunitas adalah 90% dengan antusiasme warga
masyarakat dan peran serta aktif serta bantuan berbagai pihak.

5.2 Saran
5.2.1 Pihak Puskesmas Karang Intan 2
5.2.1.1 Diharapkan lebih meningkatkan pembinaan terhadap
kelompok-kelompok yang terdapat dimasyarakat khususnya
dibidang kesehatan, sehingga apa yang menjadi upaya
Puskesmas untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat
diwilayah kerjanya dapat tercapai dengan baik.
5.2.1.2 Terbukanya kerjasama yang lebih lanjut dengan Universitas
Muhammadiyah Banjarmasin
5.2.2 Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar
Kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar agar lebih meningkatkan
dan memberikan arahan tentang perilaku hidup bersih dan sehat
(PHBS) kepada masyarakat, khususnya masyarakat Desa Padang
Panjang serta penatalaksanaan terhadap penyakit-penyakit yang
diderita oleh masyarakat khususunya di Desa Padang Panjang.
5.2.3 Masyarakat
Disarankan agar masyarakat rutin dalam memeriksakan kesehatannya
serta menjaga lingkungan agar tetap bersih.
5.2.4 Pihak Pendidikan
5.2.4.1 Dalam proses persiapan memasuki program praktek klinik
keperawatan komunitas yang dibekalkan kepada ners muda
hendaknya terstruktur dan mengintegrasikan keseluruh
konsep keperawatan klinik dengan kondisi lapangan,
sehingga didapatkan kesamaan ide, pendapat, kesepakatan
dan persepsi menuju peningkatan efektifitas pelaksanaan
praktik-praktik dilapangan
5.2.4.2 Untuk meningkatkan, memperluas dan mempermudah
hubungan instansi yang terkait praktik klinik keperawatan
komunitas dengan ners muda, diharapkan adanya kerjasama
antara pendidikan dengan instansi terkait, baik berupa
kontrak waktu atau dalam bentuk yang lain.
5.2.5 Mahasiswa S1 Keperawatan selanjutnya
5.2.5.1 Bekali diri anda dengan konsep keperawatan komunitas dan
keluarga, proses pengorganisasian masyarakat, tehnik
komunikasi dan interaksi sosial
5.2.5.2 Pertahankan kebersamaan dan kerjasama baik antar anggota
kelompok sebagaimana yang telah kami lakukan, sebab itu
modal utama keberhasilan kita.
5.2.5.3 Lakukan analisa situasi lingkungan dari praktik sebelumnya
sebagai wacana dan modal perencanaan selanjutnya.
5.2.5.4 Tunjukan profesionalisme kita sebagai perawat sehingga
memberikan kesan yang membekas bagi masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA

Herdman & Kamitsuru (2018). NANDA-I Diagnosis Keperawatan Definisi


dan Klasifikasi. Edisi 11. Jakarta : EGC
Mubarak. Wahit Iqbal (2005), Pengantar Keperawatan Komunitas 1,
Jakarta : Sagung Seto
Mubarak. Wahit Iqbal (2013), Ilmu Keperawatan Komunitas, Jakarta :
Sagung Seto
Mubarak. Wahit Ikbal. Chayatin Nurul. Santoso Bambang Adi (2009),
Ilmu Keperawatan Komunitas buku 2 Konsep dan Aplikasi, Jakarta :
Salemba Medika
Naomi. E. Ervin (2014), Advanced Community Helth Nursing Practice:
Population-Focused Care, New Jersey: Pearson Education Inc
Nasrul Effendi (2011), Perawatan Kesehatan Masyarakat, Jakarta: EGC.
Palestin. Bondan (2015), Model Kemitraan Keperawatan Komunitas
Dalam Pengembangan Kesehatan Masyarakat, retieved may 12nd
2008 from http://bondankomunitas.blogspot.com/2007/01/model-
kemitraan-keperawatan-komunitas_ 10. html
DOKUMENTASI

1. Musyawarah Masyarakat Desa I


2. Musyawarah Masyarakat Desa II
3. Penyuluhan Kesehatan di SDN Padang Panjang (Jum’at, 22 Maret 2019)
4. Penyuluhan Kesehatan di RT 03 (Sabtu, 23 Maret 2019)
5. Penyuluhan Kesehatan di RT 01 dan RT 02 (Sabtu, 23 Maret 2019)