Anda di halaman 1dari 7

MATERI SEBELUMNYA

Beberapa perbedaan penekanan arti industry pendorong dijabarkan sebagai berikut:


1. Industry pendorong harus relative besar kapasitasnya agar mempunuai pengaruh
kuatbaik langsung maupun tidak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi
2. Industry pendorong harus merupakan sektor yang berkembang dengan cepat
3. Jumlah dan intensitas hubungannya dengan sektor-sektor lainnya harus penting sehingga
besarnya pengaruh yang ditimbulkan dapat diterapkan kepada unit-unit ekonomi lainnya.
Dari sisi tata ruang geografis, industri-industri pendorong dan industri-industri yang dominan
mendorong terjadinya aglomerasi-aglormerasi pada kutub-kutub pertumbuhan di mana mereka
berada. Jelaslah bahwa industri pendorong mempunyai peranan penting dalam proses
pertumbuhan ekonomi.
2.1.2.2. Model Pembangunan Ekonomi Wilayah
1. Model I, menitikberatkan pada pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB), model ini
berkembang pada dekade tahun 1950-an dan tahun 1960-an
2. Model II menitikberatkan pada pemerataan dan pemenuhan kebutuhan pokok,
berkemban pada decade 1970-an.
3. Model III, menitikberatkan pada pembanguggg kualitas sumber daya manusia (SDM),
berkembang pada dekade tahun 1980-an.
4. Model IV, berkembang pada akhir abad ke-20 dan memasuki abad ke-21 di mana
dunia mengalami perubahan yang sangat mendasar, yaitu memasuki era gIobalisasi
dan liberalisasi sehingga memerlukan penguatan daya saing ekonomi masing-masino
wilayah.
2.1 .2.3 Strategi Pembangunan Ekonoml Wilayah
Pemerintah daerah merupakan pemegang kekuasaan di daerah untuk mengambil keputusan
menentukan kebijakan pembangunan yang tepat bagi suatu wilayah sesual dengan potensi
sumber daya yang dimiliki dan sasaran ekonomi dan sosial yang telah ditetapkan. Strategi
pembangunan yang dapat diambil pemerintah daerah harus mengacu pada hal-hal yang berupa
prasarana, penanaman modal pemerintah, keseimbangan antara berbagai sektor dan wilayah
serta peran yang timbul akibat perdagangan antar daerah.
A. Strategi Pembangunan Prasarana (Infrastructure Development Strategy)
Pembangunan prasarana mempunyai kegunaan eksternal bagi perekonomian dalam arti
manfaatnya dinikmati bersama-sama oleh masyarakat. Prasarana ekonomi merujuk pada
lnvestasi yang berupa jalan umum, sistem pengangkutan, irigasi, sistem pembuangan air,
pelayanan air bersih, dan sebagainya.
B. Strategi Pembangunan yang Seimbang atau Tidak Seimbang (Balanced or unbalanced
Growth Strategy)
- Strategi pembancunan yang seimbang adalah melaksanakan pembangunan sektor
pertanian dan sektor industri secara serentak dan serempak. Sektor pertanian
diusahakan pada sebagian besar penduduk daerah pedesaan, komoditas yang
dihasilkan sub sektor tanaman pangan adalah untuk memenuhi kebutuhan pangan
penduduk pedesaan dan perkotaan, serta digunakan sebagai bahan baku industri dan
sebagian lainnya diperdagangkan antarpulau dan diekspor. Pembangunan sektor
pertanian dan sektor industri akan memperkokoh struktur perekonomian suatu
wilayah.
- Mengingat sumber daya ekonomi di negara berkembang sangat terbatas, pemerintah
hanya dapat membiayai program pembangunan yang tidak seimbang. Dalam strategi
pembangunan tidak seimbang, harus diperhatikan pemilihan bidang usaha atau
sektor yang dapat memberikan daya imbas menumbuhkan bidang usaha atau sektor-
sektor lainnya dalam perekonomian.
C. Strategi Keseimbangan Antar Daerah (lnterregional Equilibrium Strategy) .
Keseimbangan antardaerah adalah salah satu tujuan strategi pembangunan yang tidak
berat sebelah. Pemerintah menyusun perencanaan pembangunan yang tidak dipusatkan
di suatu daerah (sub wilayah) melainkan dilakukan di beberapa daerah (sub wilayah)
tergantung pada besar kecilnya potensi sumber daya dan kondisi geografis daerah-daerah
(sub-sub wilayah) yang bersangkutan. Keseimbangan antar daerah adalah penting artinya
bagi suatu wilayah atau negara yang luas. Sebaliknya tidak penting bagi sebuah negara
atau wilayah yang relatif kecil.
D. Strategi Pembangunan yang Berorientasi ke Dalam dan ke Luar (Inward Looking
Development and Outward-Looking Development)
- Strategi pembangunan berorientasi ke dalam ditujukan untuk memajukan sektor
industri di dalam wilayah untuk menggantikan perdagangan yang mendatangkan
barang dan jasa yang berasal dari luar wilayah.
- Sebaliknya strategi pembangunan yang berorientasi ke luar menganggap bahwa
perdagangan ke luar wilayah merupakan motor pertumbuhan. Perekonomian di
dalam wilayah dikembangkan ke arah pembangunan industri (kecil dan menengah)
untuk melayani pasar di luar wilayah. Barang-barang diproduksi dengan biaya murah
karena potensi sumber daya yang dimiliki relatif besar sehingga wilayah yang
bersangkutan mempunyai daya saing yang tinggi. Keuntungan perdagangan ke luar
wilayah dapat digunakan untuk membayar pembelian barang dari luar wilayah.
E. Strategi ”Kebutuhan Pokok” (Basic Needs Strategy)
Strategi kebutuhan pokok muncul karena kegagalan pembangunan ekonomi yang telah
dilaksanakan selama sekitar lima dasawarsa yang lalu ternyata tidak berhasil
mengentaskan kemiskinan lapisan masyarakat bawah. Secara konseptual, kebutuhan
pokok meliputi dua unsur utama yaitu (1) kebutuhan minimum keluarga untuk konsumsi
pribadi yang meliputi pangan dalam jumlah yang memadai, sandang. dan papan yang
memadai; dan (2) pelayanan penting yang disediakan untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat, seperti air bersih, listrik, sanitasi, kesehatan, dan pendidikan.
2.1.3. Kerangka Pembangunan Koperasi '
2.1 .3.1 Ciri dan Prinsip Koperasi
Koperasi mempunyai ciri khusus yang membedakan koperasi dengan organisasi
perusahaan lainnya. Pakar koperasi Professor Hans H. Muenkner dari Universitas Philipps,
Marburg, Jerman, menyatakan bahwa ciri khusus koperasi adalah swadaya, jumlah
anggota yang berubah, perusahaan yang dibiayai dan diawasi bersama, dan tujuannya
meningkatkan kepentingan anggota.
- Ciri swadaya mencerminkan pengelolaan sendiri oleh anggota sehingga setiap
anggota berhak ikut serta dalam kepengurusan koperasi, bertanggungjawab sendiri
dalam hal kesinambungan keberadaan koperasi dan akibat yang timbul dari kegiatan
koperasi.
- Jumlah anggota yang berubah mencerminkan keterbukaan bagi yang memiliki
kepentingan yang sama atau altruisti.
- Ciri perusahaan yang dibiayai dan diawasi bersama mencerminkan ciri pengurusan
dan tanggung jawab bersama.
- Ciri tujuan peningkatan kepentingan anggota mencerminkan promosi anggota melalui
pengurus dan manajer koperasi.
Di Indonesia, prinsip-prinsip koperasi hampir sama, namun dengan penyesuaian pada
suku bunga terbatas atas modal menjadi pembagian keuntungan koperasi menurutjasa
anggota. Ciri dan prinsip koperasi Indonesia mendasari sistem pengelolaan sumber daya
Indonesia berdasarkan kekeluargaan dan demokratis yang termuat dalam UUD 1945.
Pada pasal 33 UUD 1945 secara jelas terungkap bahwa pembangunan ekonomi Indonesia
adalah untuk mencapai kemakmuran masyarakat, bukan kemakmuran orang seorang.
2.1.3.2. Tinjauan Kebijakan
Praktik-praktik koperasi membutuhkan landasan hukum yang tepat dan tegas dalam
béntuk undang-undang (UU). Ketentuan dalam UU menjadi dasar mengelola koperasi dan
menghasilkan kebijakan pembangunan perkoperasian di Indonesia. UU Nomor 12/1967
merupakan UU yang melandasi pembangunan koperasi sejak Orde Baru berkuasa.
Kemudian, UU Nomor 12/1967 diubah menjadi UU Nomor 25 Tahun 1992 sebagai wujud
dari keinginan pemangku kepentingan menyesuaikan perubahan dan usulan
pembaharuan UU koperasi pada seminar UU koperasi tahun 1984 di Singapura.
Berbagai kebijakan sebagai derivasi dari UU dikeluarkan oleh pemerintah. Di samping itu,
untuk meningkatkan percepatan pembangunan, kabinet Indonesia berisikan
Kementerian KUKM. Dari berbagai kebijakan itu terlihat bahwa orientasi pembangunan
koperasi lebih pada memperkuat kelembagaan dan usaha koperasi dengan harapan dapat
meningkatkan ekonomi rakyat. Pemerintah pusat mengeluarkan kebijakan menyangkut
keberadaan koperasi di daerah dengan upaya memberikan penilaian. Terakhir,
pemerintah melalui Kementerian Negara KUKM mengeluarkan kebijakan Peraturan
Menteri (Permen) KUKM Nomor O6/Per/M.KUKM/N/2006 tentang Pedoman Penilaian
Koperasi/Koperasi Award dan Permen Nomor 03/Per/14-KUKM/I/2007 tentang Pedoman
Penilaian Provinsi/Kabupaten/Kota Koperasi.
2.1.4. Pilihan Model Pembangunan Koperasi dan Wilayah
Berdasakan bahasan teori dan empiris tersebut, berikut ini diberikan model teoretis
pembangunan koperasi dan pembangunan wilayah sebagai sebuah kerangka berpikir tuntuk
menemukan variabel atau indikator-indikator terukur dalam model pemeringkatan daerah dalam
pembangunan koperasi.

Gambar 4. Model Kerangka Pikir Pembangunan Koperasi

Gambar 5. Model kerangka pikir pembangunan wilayah

2.1.5. Tinjauan Arti Penting Pemeringkatan


Informasi menyangkut pemeringkatan telah menjadi kebutuhan penting tidak hanya bagi
pemerintah tetapi juga swasta. Hal ini_terjadi karena perubahan tatanan perekonomian dunia
dewasa ini yang ditandai oleh globalisasi. Implikasi ekonomi dari globalisasi adalah kompetisi.
Kemampuan negara, perusahaan, dan individu meningkatkan kompetisi sangat tergantung pada
pengetahuan menyangkut posisi masing-masing dalam interaksinya baik secara global, nasional,
regional, maupun lokal. Dalam rangka itu pula berbagai upaya pemeringkatan telah dilakukan
oleh Lembaga internasional dan nasional. Pada Lembaga internasional, The International
Management Development (IMD) yang setiap tahunnya menerbitkan rating dan pemeringkatan
daya saing negara-negara. The Political and Economic Risk Country (PERC) selalu menerbitkan
posisi negara-negara dalam hal risiko. The Standard & Poor (SP) dan Moody di Hongkong selalu
menerbitkan rating negara-negara dalam bidang finansial. UNCTAD di Genewa dalam laporan
tahunannya dalam buku the World Investment Report (WIR) memeringkat negara - negara dalam
menarik investasi asing (FDI) setiap tahunnya. Business Monitor International (SMU di Singapura
menerbitkan pemeringkatan negara-negara dalam hal risiko ekonomi dan politik.
Di Indonesia Lembaga Survei Indonesia (LSI) menjadi rujukan dalam melihat arah
perkembangan politik dalam pemilihan kepala daerah di Indonesia. Lembaga riset Danareksa
(dRI) juga berusaha menerbitkan rating kinerja perusahaan di Indonesia. Hasil publikasi setiap
lembaga pemeringkat sangat mempengaruhi proses pembangunan. Para pengambil keputusan
segera bereaksi dan mengevaluasi kembali kebijakannya apabila hasil pemeringkatan
menunjukkan posisinya rendah. Di samping itu, citra negara dan bangsa atau Iembaga yang
menjadi objek penagfpingkatan sangat terpengaruh oleh hasil pemeringkatan.
Kekuatan dari pemeringkatan sangat tergantung pada metodologi. Indikator dan model
analisis menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam upaya pemeringkatan. Indikator tidak hanya
menyangkut ekonomi, tetapi juga nonekonomi dan semua indikator harus terukur. Pada
umumnya dengan banyaknya indikator yang digunakan dalam pemeringkatan, metode
penentuan akhir yang lazim digunakan adalah metode indeks.
Dengan memerhatikan TOR, sangat jelas tercantum dalam masalah dan tujuan studi bahwa
indikator dan rumusan model menjadi output dari studi ini. Oleh karena itu, pengembangan
indikator yang menyangkut pembangunan koperasi harus sudah jelas terlihat dalam studi ini.
2.2. Ruang Lingkup
Sejalan dengan TOR, ruang lingkup kegiatan mencakup kegiatan itu sendiri, waktu
pelaksanaan, dan tahapan kajian Lingkup kegiatan mengenai inventarisasi pembangunan
ekonomi dan wilayah adalah data dan inventarisasi informasi pembangunan regional dan
nasional menurut teori dan praktik pembangunan ekonomi. Menyangkut gambaran administrasi
pemerintahan dan pembangunan adalah informasi kebijakan dan praktik pemerintahan dan
pembangunan. Menyangkut perkoperasian adalah informasi mengenai perkembangan koperasi
berdasarkan data agregat provinsi. Menyangkut teknik penetapan peringkat daerah dalam
pembangunan adalah dalamproses penetapan indikator dan model yang melibatkan sebanyak
mungkin pemangku kepentingan.
Lingkup kegiatan dikaitkan dengan lokasi maka sesuai dengan perumusan dan penetapan
indikator dan bobotnya, akan dilakukan dua tahapan operasional kegiatan. Tahap Pertama
adalah menjaring, menentukan, dan menetapkan indikator dan bobot indikator dengan cara
Focus Group Discussion (FGD) yang dilaksanakan di Jakarta. Tahap Kedua adalah tahap survei.
Survei mengumpulkan data dilaksanakan di lima provinsi sebagai sampel uji sahih. Pengumpulan
data dan informasi dilakukan di masing-masing ibukota provinsi. Survei menghasilkan data untuk
menentukan parameter dan indeks indikator.
Menyangkut lingkup waktu dinyatakan selama satu tahun pada tahun anggaran 2007.
Lingkup kerja menyangkut tahapan kajian terdiri dari delapan tahapan, yakni pembahasan dan
penyempurnaan TOR, penyusunan dan pembahasan riset desain, inventarisasi peta
perkoperasian, inventarisasi indikator pembangunan perkoperasian melalui temu pakar,
pembobotan indikator melalu'i FGD, diskusi dan perurndsan model, uji sahih model, dan
rekomendasi.
3.1 . Jenis Studi
Memerhatikan substansi, konseptual, dan dimensi pembangunan perkoperasian dan wilayah,
serta kepentingan studi, maka jenis studi ini adalah subject-matter research. Subject-matter
research adalah riset multidisiplin atas suatu subjek yang diminati untuk pengambilan keputusan
terhadap problem praktis. Ini terlihat dari aspek perkope-rasian dan wilayah yang bersifat
multidisiplin dan menyangkut subjek tertentu yakni pembangunan perkoperasian. am
3.2. Lokasi Studi
Sesuai TOR, lokasi studi telah ditetapkan sebelumnya atau purposive samplirlug, sebanyak lima
provinsi, yakni Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bali, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat.
3.3. Jenis dan Sumber Data
Seluruh indikator yang digunakan dalam kajian ini harus terukur. Oleh karena itug analisis yang
digunakan adalah kuantitatif. Sedangkan analisis kualitatif dipakai untuk merumuskan seberapa
jauh nilai kuantitatifnya. Jenis data utama adalah data sekunder dalam lingkup wilayah provinsi
dan nasional. Sumber data utama adalah Kementeriah Negara KUKM. BPS dan Bl Pusat, Dinas
KUKM tingkat provinsi. BPS dan Bappeda tingkat provinsi, BI Wilayah, Kadin provinsi, serta Dinas
Perindustrian provinsi.
3.4. Metode Studi
Analisis deskriptif dilakukan untuk menggambarkan kondisi pembangunan koperasi dan ekonomi
dalam bentuk tabel dan atau grafik sehingga penarikan kesimpulan menjadi mudah dipahami.
Studi ini menggunakan metode deskriptif, kualitatif, dan kuantitatif. Memerhatikan ruang lingkup
pemeringkatan yang merupakan upaya untuk mengetahui posisi daerah dalam pembangunan
koperasi, studi ini menggunakan metode kualitatif berdasarkan skala rasio dalam bentuk indeks.
Berdasarkan pengalaman berbagai lembaga nasional dan internasional, pemeringkatan selalu
menggunakan metode indeks.
3.5. Indikator Pembangunan
Indikator yang digunakan dalam kajian ini merupakan representasi mikro pada level koperasi dan
agregat pada level regional dan nasional. Pengelompokan indikator dilakukan terlebih dahulu
dari diskusi dan tulisan sebelumnya oleh Asdep Urusan Paneiitian Koperasi pada awal tahun
2007. lndikator-indikator tersebut dikelompokkan atas indikator-indikator pembangunan
koperasi dan pembangunan wilayah dan nasional.
3.6. Prinsip Pemerangkatan Daerah
Sebagai upaya untuk mengetahui Posisi daerah, studi pemeringkatan daerah *ini mencakup
beberapa prinsip, yakni;
3.6.1. Hubungan Integratif
Adanya hubungan integratif antara pembangunan koperasi daerah dengan
nasional, pembangunan daerah dengan pembangunan nasional, pembangunan
koperasi dengan pembangunan daerah dan nasional.

3.6.2. Transparansi dan Objektivitas


Transparansi dan objektivitas dalam assesment pemeringkatan, dengan
pengertian bahwa dilakukan secara terbuka, jelas, rasional; dan dapat
dipertanggungjawabkan secara ilmiah dalam pengukuran indikator.
3.6.3. Berbasis Daerah
Produk pemeringkatan daerah dalam pembangunan koperasi berbasis daerah