Anda di halaman 1dari 11

EVALUASI PANJANG KOLAM OLAK (Ld) DAN PANJANG

LONCATAN (Lj) PADA PEREDAM ENERGI


BENDUNG,JL. TERUSAN KECUBUNG,
KOTA – MALANG

JURNAL

Oleh:

NELSON PINA MAU


NIM. 2012520035

Diajukan Untuk Melengkapi Tugas Akhir Dan Memenuhi Syarat-Syarat


Untuk Mencapai Gelar Sarjana Teknik

UNIVERSITAS TRIBHUWANA TUNGGADEWI

FAKULTAS TEKNIK

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL

MALANG

2016
EVALUASI PANJANG KOLAM OLAK (Ld) DAN PANJANG
LONCATAN (Lj) PADA PEREDAM ENERGI
BENDUNG,JL. TERUSAN KECUBUNG, KOTA – MALANG
Nelson Pina Mau*), Dian Norvy Kh**), Kiki Frida S***)
PS. Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Tribhuwana Tunggadewi

ABSTRAK
Aspek hidraulik pada bendung merupakan salah satu faktor yang penting dalam
perencanaan Peredam Energi (Stilling Basin) air yang jatuh, sehingga sisa energi air di
hilir kolam olak menjadi minimal sehingga gerusan dasar sungai tidak membahayakan.
Yang jadi masalah adalah kedalaman gerusan hilir bendung seberapa jauh
membahayakan sehingga perlu dilakukan analisis dengan tujuan untuk mengetahui profil
bendung Eksisting dan peredam energi yang mana lebih stabil, mendapatkan hasil Lj +
Ld yang diperlukan untuk bendung yang akan direncanakan kembali, mengetahui
evaluasi panjang kolam olak Lj + Ld terhadap existing dan stabilitas. Evaluasi dilakukan
dengan menghitung debit rencana pada kolam (Q), kecepatanaliran air pada
kedalamankritis (Vz), kedalaman kritis (Yz), dan bilangan Froude (Fr). Dari hasil
perhitungan, diperoleh debit rencana sebesar 7,356 m3/dt, kecepatanaliran air pada
kedalamankritis sebesar 3,2827 m/dt, kedalaman kritis sebesar 0,153 m dan bilangan
froude 6,522. Hasil perhitungan ini merupakan hasil dari perencanaan peredam energi.
Artinya kasil evaluasi yang dilakukan mengharuskan kolam olak perlu dilakukan
perencanaan baru untuk mengantisipasi gerusan. Dari hasil perhitungan dan analisis
diperoleh nilai Fr pada profil bendung adalah 6,25 berada di bawah hilir bendung,
panjang loncatan hidrolis adalah 14 m dan panjang kolam olak 7 m.

PENDAHULUAN suatu gerusan.Aliran diatas mercu


Latar Belakang bendung dapat menunjukkan berbagai
Aspek hidraulik pada bendung perilaku disebelah hilir bendung, akibat
merupakan salah satu faktor yang kedalaman air yang ada. Adapun
penting dalam perencanaan Peredam kemungkinan – kemungkinan yang
Energi (Stilling Basin) air yang jatuh, terjadi dari pola aliran di atas bendung
sehingga sisa energi air di hilir kolam akan mengakibatkan kondisi aliran air di
olak menjadi minimal sehingga gerusan atas mercu bendung sebagai berikut:
dasar sungai tidak membahayakan.
- Aliran tenggelam : akan
Perencanaan kolam olak mengikuti
menimbulkan gangguan di
standar yang ada sebenarnya sudah
permukaan berupa timbulnya
memadai. Yang jadi masalah adalah
gelombang.
kedalaman gerusan hilir bendung
seberapa jauh membahayakan. Bendung - Loncatan tenggelam :
besar dan komplek perlu model, tapi diakibatkan oleh kedalaman air di
untuk bendung kecil dan sederhana tidak hilir terlalu besar.
perlu dimodel.Apalagi untuk dasar
- Keadaan loncat air : dimana
sungai yang mempunyai outcrop (batuan
kedalaman air di hilir sama
dasar sungai pasif) tidak ragu lagi adanya
dengan kedalaman konjungsi,

*) Mahasiswa
1
**) Dosen Pembimbing I
***) Dosen Pembimbing II
loncat air, terjadi apabila karena banyaknya bangunan
kedalaman air di hilir kurang dari rumah, dan pertambahan
kedalaman konjungsi sehingga penduduk.
loncatan air akan bergerak ke - Bangunan peredam energi yang
hilir. ada kurang berfungsi secara
Dari beberapa kasus di atas tidak boleh maksimal
terjadi, karena loncatan air akan - Dimensi saluran peredam energi
menghempas bagian sungai yang tidak memerlukan perencanaan ulang
terlindungi dan menyebabkan karena sudah tidak layak lagi hal
penggerusan yang luas.Sebelum aliran air ini disebab karena mengalami
yang melintasi bagian pelimpah perubahan akibat sedimentasi
dikembalikan lagi kedalam sungai, maka dan penumpukan sampah
aliran dengan kecepatan yang tinggi dalam sehingga saluran tersumbat.
kondisi super kritis tersebut diperlambat - Dari hilir ke hulu lebar bendung
dan dirubah pada kondisi aliran sub kritis. sudah maksimal hanya kurangnya
Dengan demikian kandungan energi kesadaran akan pemeliharan
dengan daya penggerus yang sangat kuat masyarakat terhadap bendung
yang timbul dalam aliran tersebut harus tersebut kurang maksimal
diredusir hingga mencapai tinggkat yang sehingga terjadi kerusakan pada
normal kembali, sehingga aliran tersebut peredam energi.
kembali kedalam sungai tanpa - Akan direncanakan perhitungan
membahayakan kestabilan alur sungai. nilai V (kecepatan) sehingga nilai
Identifikasi Masalah Fr (froude)akan diperkecil maka
Lokasi yang di pilih dalam lokasi akan dihitung nilai Q pada
ini adalah Kecamatan Dau Kabupaten bangunan peredam energi.
Malang (Jawa Timur), dimana kondisi Rumusan Masalah
saluran irigasinya kurang memadai Berdasarkan uraian latar belakang
terutama pada Bangunan Peredam di atas maka di dalam penelitian ini
Energi yang lama saat ini pada musim rumusan masalah yang diambil yaitu:
hujan Kecamatan Dau mengalami - Bagaimana profil bendung
kerusakan pada saluran irigasi sekitar Existing dan pebedaan
daerah tersebut. Menurut pengamatan energinya?
sementara, bahwa kejadian kerusakan - Berapa Lj + Ld yang diperlukan
pada saluran irigasi di daerah tersebut untuk Bendung?
terjadi karena semakin bertambahnya air - Bagaimanakah Evaluasi panjang
di bendungan, kurangnya kesadaran kolam olak Lj + Ld terhadap
masyarakat akan pentingnya bangunan Existing dan Stabilitasnya?
peredam energi pada saluran irigasi dan Batasan Masalah
semakin berkurangnya kemampuan Pokok–pokok batasan masalah di
bendungan untuk menampung besarnya Kecamatan Dau yang menjadi batasan
debit air yang ada akibat berkurangnya masalah studi ini adalah :
luas lahan terbuka karena semakin - Perencanaan perbaikan sistem
majunya pembangunan. peredam energi pada saluran
Ada beberapa faktor yang diperkirakan irigasi sesuai dengan kebutuhan
sebagai penyebab banjir diantaranya : sekarang berdasarkan
- Perubahan tataguna lahan yang permasalahan yang ada.
dulunya luas menjadi sempit

2
- Penelitian ini berlokasi di sungai memperlihatkan dimensi-dimensi dasar
Landungsari, Kec. Dau, Kota – kolam olak USBR tipe III. Panjang
Malang. kolam olak dapat sangat diperpendek
Tujuan Penelitian dengan menggunakan blok-blok halang
Tujuan penelitian ini adalah sebagai dan blok-blok muka. Jika kolam itu
berikut: dibuat dari pasangan batu.
- Mengetahui profil bendung Analisa Stabilitas Konstruksi
Eksisting dan peredam energi yang Konstruksi lantai peredam yang telah
mana lebih stabil sehingga peneliti direncanakan harus dikontrol
harus merencanakan model stabilitasnya terhadap gaya – gaya yang
peredam energi yang akan dipakai. bekerja, baik dalam kondisi normal
- Mendapatkan hasil Lj + Ld yang maupun gempa.
diperlukan untuk Bendungyang Analisa stabilitas yang dilakukan
akan direncanakan kembali. terhadap konstruksi lantai peredam
- Mengetahui evaluasi panjang anergi meliputi :
kolam olak Lj + Ld terhadap - Stabilitas terhadap guling
existing dan stabilitas mana yang - Stabilias terhadap geser
lebih baik sehingga peneliti harus - Stabilitas terhadap daya dukung
merencanakan model kolam olak tanah
yang akan dipakai. Adapun gaya – gaya yang bekerja antara
Manfaat Penelitian lain :
Adapun manfaat dari penelitian ini - Tekanan air statis
adalah sebagai berikut: - Tekanan air dinamis
- Dapat memberikan solusi dalam - Tekanan tanah
menyikapi permasalahan yang - Berat air
terjadi pada bangunan peredam - Berat sendiri bangunan
energi yang terletak di sungai - Gaya akibat pengaruh gempa
Landungsari, kepada Pemerintah - Tekanan uplift
Kota Malang.
Rumus – rumus analisa stabilitas
- Menambah pemahaman dan
wawasan bagi peneliti sebagai SF=
bekal untuk mengabdi kepada Stabilitas terhadap geser (Suryono
Nusa dan Bangsa. Sosrodarsono, 1981)
- Memberikan sumbangsih SF=
pemikiran kepada bangsa dan
negara. Kedalaman normal SF 1, 50
- Pengembangan ilmu pengetahuan Keadaan gempa SF 1,10
di bidang teknik sipil. Dengan :
- Menambah literatur ilmiah bidang SF = Angka keamanan
Teknik Sipil di Universitas V=Jumlah gaya Vertikal (ton)
Tribhuwana Tunggadewi. H = Jumlah gaya horizontal ( ton )
LANDASAN TEORI
Profil Bendung C = Gaya kohesi antara dasar pondasi
dengan tanah pondasi
Menurut Anonim 2 (1986), untuk
L = Panjang pondasi yang ditinjau ( m)
bilangan Froude di atas 4,5 kolam olak
Tan = Faktor geser antara dasar
USBR tipe III khusus dikembangkan
untuk bilangan-bilangan Froude yang pondasi dan pondasi

3
Stabilitas terhadap daya dukung tanah ( Diasumsikan bahwa panjang loncatan
Varshney, 1971 ) harus memberikan panjang minimum
e= - kolam olakan:
LB/yc=3[a/yc]0.3+(18–20[y1/yc])
= Tinggi energi yang terjadi dapat
Dengan : = Besarnya reaksi daya dirumuskan : E0 = a + 1,5 yc
Berdasarkan penelitian Moore,
dukung tanah ( t )
Bakhmeteff, Feodoroff, dan Rand telah
= Daya dukung yang diijinkan ( t mendapatkan bukti bahwa geometri
) aliran pada pelimpah terjunan lurus
= Jumlah gaya vertikal ( t ) dapat dijelaskan dengan fungsi
= Luas dasar pondasi per unit meter bilangan terjunan yang didefinisikan
sebagai (Chow, 1989): D = q2/gh3
panjang ( )
Dengan q adalah debit tiap satuan
B = Lebar pondasi lebar, (g) percepatan gravitasi bumi,
e = Eksentrisitas ( m ) dan h adalah tinggi terjunan.
= Jumlah momen vertikal ( m ) Perhitungan dimensi peredam energi
= Jumlah momen horisontal (t m ) tipe Vlugter menggunakan rumus
Daya dukung ijin material tanah. (Standart Perencanaan Irigasi KP-02)
Untuk menentukan besarnya daya yaitu :
dukung tanah yang diijinkan
hc = Jika 0,5 < 2,0 maka
,digunakan rumus OSHAKI
(Suryono, 1983) menggunkan rumus : t = 2,4 hc + 0,4 z
= = jika 2,0 < 15,0 maka menggunkan
Dengan : = faktor bentuk pondasi rumus : t = 3,0 hc + 0,1 z
Nc, Nt, Nq = koef daya dukung dari a = 0,28 hc
OSHAKI
C = kohesi tanah D = R = L = (Z + t – H1)
= berat isi tanah (t/m3) Dimana:
Df = kedalaman pondasi (m) Q= debit banjir rencana (m3/dt)
Jenis Loncatan q = debit satuan, (m3/dt/m’)
Penelitian tentang aliran superkritis Be= lebar bendung (m)
yang terbentuk pada saluran tejunan hc= kedalaman kritis (m)
tegak telah banyak dilakukan, antara g = percepatan gravitasi (m/dt 2)
lain oleh Moore (1943) Rand (1955) a = tinggi ambang akhir (m)
dan Dominguez (1958, 1974) (Montes, D=kedalaman lantai peredam energi
1998). R = jari-jari kolam olak (m)
Berdasarkan penelitian Dominguez, L = panjang lantai peredam energi (m)
pada kondisi saluran segi empat z = beda tinggi muka air hulu dan hilir
mendatar. t = Kedalaman air hilir (m)
(Montes, 1998): d/yc = 3 [a/yc]0.3 Setelah aliran keluar dari kolam olakan
Menurut Rand(1943):d/yc=4,3[a/yc]0.9 menuju ke hilir maka aliran akan
Menurut Dominguez (1944): berubah berangsur – angsur dalam
L/yc = 18 – 20 [y1/yc] saluran non prismatis. Luas penampang
tidaklah konstan sepanjang saluran

4
nonprismatis. Dalam hal ini berlaku METODOLOGI
persamaan sebagai berikut ; Kondisi Geografis
E1 = h1 + Z1 + Secara geografis Kota Malang terletak
pada koordinat 112o 06’ - 112o 07’ Bujur
E2 = h2 + Z2 + + hf + he Timur dan 7o06’ - 8o02’ Lintang Selatan.
Kota Malang dikelilingi oleh gunung-
hf = x gunung yaitu Gunung Arjuno di sebelah
utara, Gunung Semeru di sebelah Timur,
he = K gunung Kawi dan Panderman di sebelah
Barat serta Gunung Kelud di sebelah
=
Selatan. Wilayah Kota Malang
Dengan : merupakan daerah perbukitan dan
h1 = Tinggi air pada penampang 1 (m) dataran tinggi serta dilewati oleh sungai
Z1 =Ketinggian dasar di atas bidang baik sungai besar maupun sungai kecil.
persamaan pada penampang 1 (m) Kota Malang merupakan daerah yang
U1= Kecepatan pada penampang 1 terletak pada ketinggian antara 200 – 499
(m dt -1) meter dari permukaan air laut.
h2 = Tinggi air di penampang 2 (m) Penyebaran Daerah wilayah dataran
Z2 =Ketinggian dasar di atas bidang tinggi meliputi daerah kecamatan Klojen,
persamaan pada penampang 2 (m) Sukun, Lowokwaru, Dau, Blimbing dan
U2 = Kecepatan pada penampang 2 Daerah Kecamatan Kedungkandang
(m dt-2) bagian barat. Tingkat kemiringan di
hf = Kehilangan tekanan akibat dataran tinggi cukup bervariasi, di
gesekan (m) beberapa tempat merupakan suatu
he =Kehilangan tekanan daerah dataran dengan kemiringan 2 –
akibat perubahan bentuk (m) 5º, sedangkan dibagian lembah
g = Percepatan gravitasi (m dt -2) perbukitan rata-rata kemiringan 8 – 15%
x = Jarak penampang kontrol hulu Pengolahan Data
dan hilir (m) Besarnya debit yang melimpas di atas
= Kemiringan gesekan rata – rata bendung yang berkaitan dengan harga
koefisien pelimpah debit ( C ) yang akan
N = Kekasaran dasr suluran
berubah sesuai dengan perubahan debit.
= Jari – jari hidrolis rata – rata
- Kondisi bendung I .
Kedalam normal dan kedalaman kritis : Kondisi bendung pada saat air melimpas
= dengan harga koefisien pelimpah debit
(c) maka akan dihitung dengan
= menggunakan rumus sebagai berikut :
Q = C . B. h2/3
Dengan : Dengan : C = koefisien limpasan
Q = Debit air (m3.dt) B = lebar bendung
Hn = Kedalaman normal (m) h = tinggi terjunan
Hc = Kedalaman kritis (m) - Kondisi Bendung II.
So = Kemiringan dasar saluran Dihitung dengan menggunakan rumus
B = Lebar dasar saluran (m) sebagai berikut :
M = kemirinngan dinding saluran Q = Q 1 + Q2
Dengan :
Q1 = debit yang lewat bentangan

5
bendung ( Deflasi) Bagan Alir Penelitian
Q2 = debit yang melimpah (Inflasi )
Q2 = Q1, semua deflasi dihitung dengan
cara coba – coba (submerged flow)
Dicoba Elevasi muka air di down stream
akan menggunakan angka C (koefisien
limpasan) sehingga bisa mengetahui : h1
, hd, bef, dan Q, sehingga untuk
mengetahui angka pada elevasi muka air
di down stream
Dengan cara yang sama untuk Design
Flood Water Level (DFWL) dilakukan cara
coba–coba (triall and error) tinggi elevasi
di hilir, sehingga diperoleh besar debit
pada kondisi air banjir.
Analisa Hidrolika Untuk
Perencanaan Dimensi Dan Elevasi
Lantai Peredam Energi
Dari perhitungan kapasitas pengaliran
debit yang melimpas di atas mercu
bendung, diperoleh beberapa besaran
debit yang perlu untuk dianalisa, yaitu
selain debit pada saat deflasi juga debit
yang lebih kecil dan melimpah diatas
mercu bendung. Gambar 1 : Bagan Alir Penelitian
Panjang loncatan hidrolis.
Loncatan yang terjadi dapat didorong ke PEMBAHASAN
hiilir atau dapat menjadi terendam Profil Muka Air di Atas Bendung
tergantung dari apakah kedalaman air Langkah perhitungan :
hilir adalah lebih kecil atau lebih besar - Tentukan harga Z
daripada kedalaman yang berurutan - Dengan coba-coba didapat nilai
dengan h1. Loncatan hidrolis dapat Yz
digunakan sebagai peredam energi, yang - Hitung Vz dan Fz
meliputi sebagian atau seluruh kolam - Elevasi lereng bendung = elevasi
kanal saluran yang disebut kolam olakan. mercu bendung – z
Peredam energi tersebut berguna untuk - Elevasi muka air = elevasi lereng
mencegah erosi yang mungkin terjadi bendung + Yz
pada saluran pelimpah, dengan cara Persamaan yang digunakan :
memperkecil kecepatan aliran pada - Perhitungan Yz
lapisan pelindung hingga pada suatu titik Vz =
di mana aliran tidak mempunyai
- Perhitungan Vz
kemampuan untuk mengkikis dasar
saluran di bagian hilir. Yz =
- Perhitungan Fr = Fr =
- Elevasi lereng bendung =
108,622 – Z

6
- Elevasi muka air = Elevasi lereng He :0,75
EL :+108,244

bendung + Yz Hd :0,75

2/3
1 Q 
Ho    
P : 2,5

 c Be 
Y2 : 1,4
2/3 EL :+106,122
 1 7,356  Y1 : 0,5
    1,141m P:1

 1 6,04  Ld = 7 Lj = 7

Vz = Gambar 3 : Bendung yang direncanakan.


= =7,981 m/dt
Yz = Panjang Loncatan Hidrolis
Loncatan hidrolis yaitu naiknya air secara
= = 0,153 m tiba-tiba dari air yang mengalir dengan
kecepatan tinggi berkedalaman rendah
bergabung dengan air yang mengalir
= 7,981 x 0,153 = 1,218 m3/dt dengan kecepatan rendah dan
berkedalaman tinggi.
Fr = Rumus untuk perhitungan panjang
loncatan hidrolis :
= = 6,522
Lj = 5 ( Y2 – Yz)
Dimana : Dengan :
Q = debit rencana yang mengalir = Lj = panjang loncatan
7,356 m3/dt Yz = kedalaman air sebelum loncatan
Be = lebar efektif bendung = 10 m Y2 = tinggi loncatan di hilir
Vz = kecepatan aliran air pada Jadi : Lj = 5 (Y2- YZ)
kedalaman kritis = 5. (1,403 - 0,153) = 6,25≈ 7 m
Yz = kedalaman kritis Elevasi Dasar Kolam Olakan
Fr = bilangan Froude Dimensi Kolam Olakan
z =1m Data teknis :
Z = P + z = 2,5 + 1 = 3,5 m Fr = 4,5
Untuk Fr >= 4,5 dan V < 18 m/dt,
Gambar Profil Bendung maka digunakan Kolam Olakan USBR
Tipe III
h = 0,40m
Kedalaman air di kolam olakan
Yb = Y2
H = 2,50m
= 1,403 m
Panjang kolam olakan (Ld)
1m
Ld = 5 . Yb = 5 . 1,403 = 7,0 m
Analisa Stabilitas Konstruksi
1m 6m
Konstruksi lantai peredam yang telah
Gambar 2 : Bendung Exsisting di lokasi direncanakan harus dikontrol
stabilitasnya terhadap gaya – gaya yang
bekerja, baik dalam kondisi normal
maupun gempa.
Analisa stabilitas yang dilakukan
terhadap konstruksi lantai peredam
anergi meliputi :
= Stabilitas terhadap guling

7
= Stabilias terhadap geser Rv = -185,70 kN
= Stabilitas terhadap daya RH = +22,20 kN
dukung tanah Mo = - 743,62 kNm di sekitar titik 0 (+)
Adapun gaya – gaya yang bekerja antara Garis tangkap gaya resultante sekarang
lain : dapat ditentukan sehubungan dengan
Tekanan air statis titik 0.
= Tekanan air dinamis h =∑MH/∑RH =126/22,20= 5,68 m
= Tekanan tanah v =∑MV/∑RV =868,6/185,7 = 4,68 m
= Berat air Eksentrisitas :
= Berat sendiri bangunan e =(L/2) – (M/Rv)
= Gaya akibat pengaruh gempa =(20,9/2) – (743,6/185,7)
= Tekanan uplift = 6,44 >3,5 m ....OK
Rumus – rumus analisa stabilitas Daya Dukung Tanah :
SF= ∑Mt/∑Mg =Rv/L ( 1 + 6e/L)
Dari perhitungan sebelumnya didapat = 185,7/20,9 (1 + 6 . 6,44/20,9)
panjang loncatan hidrolis sejauh 7 m = 25,33 kN/m2< 150 ...OK
(lebih besar dari panjang kolam olak), maks = 108,0 kN/m2
maka untuk mencegah terjadinya gerusan
min = 2,20 kN/m2
pada lantai kolam olakan, direncanakan
panjang kolam olakan ≈ panjang Daya dukung yang diijinkan untuk pasir
loncatan hidrolis (= 7 m). dan kerikil adalah 200 – 600 kN/m2
Tinggi (qc), panjang (Pc), dan lebar (bc) Keamanan S untuk daya dukung adalah:
chute block : S= = = 1,85 > 1,25 ...OK
Qc = Pc = bc = Yj = 0,146 m Keamanan terhadap gelincir tanpa
Tinggi end sill (ambang ujung ) tekanan tanah pasif :
As = Yz(18 +Fr)/18
=0,153(18+6,5)/18 =0,208 m S =f x
Jarak antara chute block (Sc):
= 0,5 x = 4,18> 1,5 ...OK
Sc = Yz = 0,153 m
Tinggi block halang (n3) : Keamanan terhadap gelincir dengan
n3 = Yz(4+Fr)/6 tekanan tanah pasif :
=0,153(4+6,5)/6 = 0,267 m S =f x
Lebar dan jarak antara block halang (n) :
n = 0,5 . n3 = 0,5 x = 2,70> 1,5 ...OK
= 0,5 . 0,267 = 0,134 m
Jarak antara buffle block dengan chute Tabel 1: Rekapitulasi Perhitungan
Stabilitas
block ( La ) : Rekapitiulasi Hasil Muka Air Muka Air
La  0,82  Y2  0,82  1,403  1,150m Perhitungan Banjir Rendah
1. Stabilitas 378 > 1,5 
Jarak antara dinding dengan chute block Guling OK
6,44 > 3,5
dc  0,5  Yz  0,5  0,153  0,076 m m ....OK
Jarak antara dinding dengan buffle block 2. Stabilitas 6,65 > 1,5
Geser 2,70 > 1,5 OK
db  0,375  n3  0,375  0,267  0,100 m
...OK
Tebal ujung atas buffle block ( tb ) : 3. Daya Dukung 23,35
Tanah KN/m2<
tb  0,2  n3  0,2  0,267  0,053m 25,33
150
kN/m2 <
Gaya – gaya resultante yang bekerja pada 150 ...OK kN/m2
bendung adalah: OK

8
KESIMPULAN Sehingga dapat diketahui bahwa
Berdasarkan dari hasil pembahasan dapat stabilitasnya aman.
disimpulkan bahwa :. SARAN
Profil bendung existing dan peredam Untuk mengantisipasi dan mengurangi
energi yang dihitung adalah: b, h, A, P, S, kerusakan pada kolam olak USBR tipe
R, V, Q, dan Fr. Dari perhitungan III yang terjadi kerusaka peredam energi
tersebut profil aliran adalah super ritis pada bagunan bendung, maka saran yang
dengan nilai Fr = 6,25 berada dibawah kami sampaikan antara lain :
hilir bendung. Kolam olak yang akan Pemeliharaan rutin dengan jangka waktu
dipakai adalah kolam olak USBR tipe III tertentu meliputi pembersihan sampah
karena dari hasil perhitungan didapat yang dapat mengakibatkan pendangkalan
nilai Froude (Fr) 6,5 diatas 4,5 sehingga dan penyumbatan aliran air. Penyusun
peneliti harus merencanakan model menyadari bahwa penulisan tugas akhir
bendung dan peredam energi yang akan yang berjudul ‘Evaluasi Panjang
dipakai.Berdasarkan perhitungan predam Kolam Olak (Ld) dan panjang
ebergi maka dihasilkan panjangg loncatan (Lj) pada Peredam Energi
loncatan hidrilos adalah 14 m yang Bendung. Jl. Terusan Kecubung,
terdiri dari perhitungan Loncatan Kota Malang’’ ini masih jauh dari yang
Hidrolis (Lj) yang didapat adalah 6,25 sempurna karena keterbatasn waktu dan
m 7 m, dan Panjang kolam olak (Ld) tenaga. Penulis sangat mengharapkan
adalah 7 m. Melihat dari kondisi kritikan dan saran yang konstruktif
lapangan dimana panjang lintasan untuk bisa menyempurnakan hasil studi
loncatan hidrolis kurang dari 14 m maka penelitian ini agar lebih bermaanfaat baik
peneliti menggunakan chute block setiap bagi mahasiswa generasi baru maupun
3,5 m dengan maksud untuk lebih pihak lain yang memiliki bakat dibidang
mempercepat peredam energi. Sesuai ini.
dengan gambar karakteristik kolam olak. Penelitian ini bisa dilanjutkan dengan
Hasil perhitungan evaluasi panjang analisis hidrolika dari hasil perencanaan
kolam olak Lj + Ld terhadap existing model USBR tipe III di modifikasi.
yaitu berpengaruh pada desain peredam DAFTAR PUSTAKA
energi dan material yang akan dipilih Anonym, 1986. Technical Standart of
pasangan batu dimensi, dengan jumlah Rubber Dam, Second Edition, Kokudo
momen adalah -604,78 kNm yaitu beban Kaihatsu Gijutsu Sentaa, Japan
mati dan tekanan air pada saat debit Sosrodarsono, Suryono.,1983,( Varshney,
rendah dan banjir , sehingga peneliti 1971 ) Koefisien Daya Dukung Tanah,
merencanakan model kolam olak yang Penerbit Pradnya Paramita, Jakarta
akan dipakai sesuai dengan model kolam Moore (1943) Rand (1955) dan
olak yang ada pada gambar perencanaan Dominguez (1958, 1974) (Montes, 1998)
diatas, maka hasil perhitungan stabilitas Kedalaman konjungsi dan jarak
guling, geser pada perencanaan peredam loncatan hidraulik terjunan tegak
energi adalah aman dengan: .Anonim., 1986,Karakteristik Kolam Olak
Fr : 6,5> 4,5 USBR tipe III Untuk Bilangan Froude (Fr)di atas
Eksentrisitas (e) : 6,65 > 3,5 ....OK KP - 02.2010, Perhitungan Dimensi Peredam
Tekanan tanah ( maks) : = 23,35 Energi,Keputusan Direktur
kN/m2< 150 kN/m2 ...OK Jenderal Pengairan, Indonesia
Geser ( ) : 3,78 > 1,5... OK Rangga Raju K.G., 1989:, Aliran berubah
berangsur – angsur.

9
10