Anda di halaman 1dari 51

LAPORAN TUTORIAL

MODUL 3 BLOK 17
PERAWATAN PADA PERIODE GIGI BERCAMPUR

Kelompok 5

Tutor : Drg. Lendrawati MDSc

Ketua : Sarah nabila wiguna

Sekretaris Meja : Ulfa rizalni

Sekretaris Papan : Shafira aulia fikrie

Siti hartsur rahmy

Sonya juita

Syntha mustika yasri dewi


Varen nadya antoni

Tatha Febilla

Velya apro

Vikra prasetya waldi

Fakultas Kedokteran Gigi


Universitas Andalas
2019
MODUL 3

Skenario 3

‘’ parahnya gigi anaknya ‘’

Seorang ibu membawa dua anaknya dafi usia 10 tahun dan vinda usia 12 tahun ke
RSGMP UNAND untuk konsultasi keadaan gigi anaknya yang tidak normal. Pemeriksaan
intra oral dafi menunjukkan : relasi molar kelas 1, jarak gigit -3,5 mm,tumpang gigit 3 mm.
Gigi 75 prematur loss,gigi 13 dan 23 partial erupsi namun ectopic. Analisa perhitungan
menunjukkan kekurangan ruang untuk erupsi gigi 35 adalah 3,7 mm.

Pemeriksaan intra oral gigi vinda protrusif anterior maksila dengan jarak gigit 10 mm,
tumpang gigit 4 mm,palatal bite. Relasi molar menunjukkan tonjolan mesio bukal molar satu
atas terletak antara mesio bukal molar satu bawah dan tepi distal tonjol bukal premolar dua
bawah.

Setelah dilakukan anmnesa, dokter gigi merujuk kasus dafi dan vinda ke dokter gigi
spesialis ortodonti untuk mendapatkan perawatan modifikasi pertumbuhan.

Bagaimana saudara menjelaskan kasus diatas?

A. Langkah Seven Jumps


1. Mengklarifikasi terminologi yang tidak diketahui dan mendefinisikan hal-hal
yang dapat menimbulkan kesalahan interpretasi
2. Menentukan masalah
3. Menganalisa masalah melalui brain storming dengan menggunakan prior
knowledge
4. Membuat skema atau diagram dari komponen-komponen permasalahan dan
mencari korelasi dan interaksi antar masing-masing komponen untuk membuat
solusi secara terintegrasi
5. Memformulasikan tujuan pembelajaran
6. Mengumpulkan informasi di perpustakaan, internet, dan lain-lain

7. Sintesa dan uji informasi yang telah diperoleh


B. Uraian
Langkah 1: Terminologi

1. Ectopic adalah gigi yang erupsi di luar lengkung ,gangguan erupsi pada gigi
bercampur yang menyebabkan resorpsi akar gigi tetangga
2. Prematur loss adalah gigi decidui hilang sebelum gigi permanen siap erupsi

Langkah 2: Menentukan masalah

1. Apa diagnosa kasus skenario?


2. Apa etiologi kasus skenario?
3. Bagaimana analisa perhitungan ruang gigi bercampur?
4. Apa hubungan prematur loss 7.5 dengan kurang ruang gigi 3.5?
5. Bagaimana pencegahan efek dari prematur loss?
6. Apa indikasi perawatan gigi bercampur ?
7. Apa rencana perawatan kasus skenario?
8. Kenapa dirujuk ke Sp.Ortho?
9. Apa modifikasi pertumbuhan?
10. Apa saja piranti kasus gigi bercampur?
11. Bagaimana hubungan skenario dengan bad habit?

Langkah 3: Menganalisa masalah

1. Diagnosa kasus skenario


 Dafi : kelas 1 angle tipe 2 dewey
 Vinda : kelas 2 angle divisi 1
2. Etiologi kasus skenario
 Genetik-gigi besar-ectopic
 Bad habit
 Persistensi gigi desidui-ectopic
 Gigi erupsi abnormal pada dataran oklusi
 Panjang lengkung abnormal-tuberositas maxilary terlambat
3. Analisa perhitungan ruang
 Metode nance :
-hubungan mesiodistal desidui dengan permanen
- C,M1,M2
- selisih rungan yang tersedia dan dibutuhkan RA : 0,9 mm RB : 1,7
mm
 Metode hukaba
 Metode moyers :
- Untuk gigi insisivus RB dan dihubungkan dengan tabel
probabilitas moyers
4. hubungan prematur loss 7.5 dengan kurang ruang gigi 3.5
 M1 permanen mesial drifting
 Edukasi
 Distal shoe
5. Sama dengan no 4
6. Indikasi perawatan gigi bercampur
 Malokusi
 Prematur loss
 Usia 6-13 tahun
 Pasien kooperatif
 Edukasi bad habit

7. rencana perawatan

 Dafi : peninggi gigitan ,ekstraksi gigi persistensi,skrup ekspansi


 Vinda : myofunctional activator,skrup ekspansi,trainer

8. kenapa dirujuk

 Drg pada skenario mengkhawatirkan kelainan skeletal


 Kasus kompleks : mod.pertumbuhan
9. modifikasi pertumbuhan

 Modifikasi pertumbuhan rahang pada masa gigi bercampur

10. piranti pada gigi bercampur

 Space maintainer
 Space regainer : skrup ekspansi

11. hub skenario dengan bad habit

 Bisa berhubungan contohnya seperti menopang dagu,tongue


thrusting ,menggigit kuku

Skema

Dafi (10th) Vinda (12)

-relasi M kelas 1 -kelas 2 div 1

- OJ -3,5 mm - OJ 10 mm

-OB 3mm -OB 4 mm

- 7.5 prematu loss -palatal bite

- 1.3 dan 2.3 ectopic dan


partial erupsi

- 3.5 kurang ruang 3,7 mm

Perawatan gigi bercampur

Analisi ruang jenis Pencegahan (ortho Bad habit


perawatan preventif space
(piranti space maintainer
regainer)
Langkah 5: Tujuan pembelajaran

1. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan analisis ruang

2. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan pencegahan (ortho preventif space


maintainer )

3. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan jenis perawatan (piranti space regainer )

4. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan bad habit

Langkah 6: Mengumpulkan informasi di perpustakaan, internet dan lain-lain

1. analisis ruang

Analisis Gigi Bercampur

Van der Linden, mengatakan bahwa pada saat gigi geligi insisivus rahang
bawah terlihat tumbuh berdesakan maka diperlukan analisis untuk memprediksi
apakah gigi geligi kaninus, premolar pertama, dan premolar kedua yang belum erupsi
akan mendapat tempat yang cukup pada lengkung rahang (cit. Sonawane).3 Analisis
gigi bercampur merupakan metode untuk memprediksi keadaan gigi saat dewasa.
Tujuan dari analisis gigi bercampur adalah untuk menentukan jumlah ruang yang
tersedia pada rahang untuk erupsi gigi permanen dan untuk kepentingan penyelarasan
oklusal. Terdapat tiga faktor yang perlu diperhatikan pada analisis gigi bercampur
yaitu ukuran seluruh gigi anterior permanen sampai gigi molar pertama permanen,
perimeter rahang, dan perkiraan perubahan perimeter rahang akibat pertumbuhan dan
perkembangan. Analisis gigi bercampur membantu kita memprediksi terjadinya gigi
berjejal atau diastema yang akan terjadi saat seluruh gigi sulung digantikan oleh gigi
permanen.10
Perawatan ortodonti yang tepat pada periode gigi bercampur sangat tergantung
pada ketepatan analisis ruang pada gigi bercampur.7 Terdapat tiga metode yang
digunakan untuk menentukan lebar mesiodistal gigi kaninus, premolar pertama, dan
premolar kedua yang belum erupsi yaitu: (1) metode radiografi, (2) metode non
radiografi dengan rumus korelasi-regresi, (3) metode gabungan radiografi dan rumus
korelasi-regresi.

Metode Radiografi
Terdapat beberapa analisis dengan metode radiografi yang telah dikembangkan
untuk memprediksi lebar mesiodistal gigi kaninus, premolar pertama, dan premolar
kedua permanen yang belum erupsi yaitu analisis Nance (1947) dan analisis Bull
(1959).7 Nance (1947) adalah orang pertama yang melakukan pengukuran besar gigi
kaninus dan molar sulung serta besar gigi kaninus dan premolar yang belum erupsi
secara radiografi. Ia menemukan kesamaan antara besar gigi yang terlihat pada
radiografi dengan standar besar mesiodistal gigi yang dikeluarkan oleh Black (1902)
(cit. Ngesa, Hucal).
Pengukuran dimensi gigi dengan menggunakan metode radiografi memerlukan
kualitas gambar yang baik dan tidak kabur. Teknik radiografi periapikal merupakan
teknik yang sering digunakan karena perbesaran ukuran gigi yang belum erupsi dapat
disesuaikan dengan derajat perbesaran ukuran gigi yang telah erupsi. Ketepatan
metode pengukuran ini sangat bergantung pada teknik pengambilan gambar yaitu
jarak target film, ada tidaknya distorsi pada film, kejelasan batas mahkota, dan

overlapping. Pada gigi yang mengalami rotasi akan sulit dilakukan pengukuran secara
tepat. Foster dan Wylie (1958) menyatakan pengukuran gigi secara langsung
lebih bisa dipercaya dibandingkan dengan pengukuran yang diperoleh dari radiografi
intraoral dengan kualitas yang meragukan.
Berbagai prosedur lain telah dikembangkan untuk meningkatkan tingkat akurasi
pengukuran. De Paula dkk., menyarankan penggunaan teknik radiografi dengan
kemiringan wajah 45o untuk memprediksi lebar mesiodistal gigi yang belum erupsi
(cit. Nourallah). Felicio menyimpulkan bahwa teknik Cone-Beam Computed
Tomography (CBCT) akurat untuk memprediksi lebar mesiodistal gigi yang belum
erupsi karena hasil radiografi merupakan gambaran tiga dimensi.

Metode non Radiografi


Prediksi lebar mesiodistal gigi kaninus dan premolar permanen yang belum
erupsi dilakukan dengan metode non radiografi, yang pada prinsipnya dikembangkan
dari perhitungan korelasi dan regresi. Analisis dengan metode non radiografi
memiliki beberapa keuntungan yaitu prediksi gigi geligi yang belum erupsi dapat
dilakukan dengan menggunakan lebar gigi geligi permanen yang telah erupsi
sempurna, tanpa membutuhkan peralatan khusus seperti radiografi, perhitungannya
sangat sederhana, memiliki systematic error yang minimal, dapat dilakukan oleh
pemula maupun ahli, dapat dilakukan dengan cepat, dapat dilakukan pada model
maupun di mulut dengan ketepatan yang baik, dan dapat digunakan untuk kedua
rahang. Adanya korelasi yang cukup besar antara besar gigi geligi insisivus
mandibula dengan jumlah lebar mesiodistal gigi kaninus dan premolar pada kedua
rahang merupakan alasan utama keempat gigi insisivus mandibula digunakan sebagai
gigi prediktor dalam memprediksi jumlah ruang yang dibutuhkan bagi gigi geligi
yang belum erupsi.Selain itu, gigi insisivus mandibula dipilih sebagai gigi
prediktor karena gigi geligi ini erupsi lebih awal pada masa geligi bercampur dan
letaknya berada di tengah-tengah lengkung gigi sehingga diperoleh akses pengukuran
yang mudah dan akurat, baik pada mulut secara langsung maupun pada model studi
gigi. Gigi insisivus mandibula juga tidak memiliki banyak variasi bentuk dan ukuran.
Dengan erupsi gigi insisivus mandibula dan gigi molar pertama permanen maka
sebagian besar pertumbuhan yang diharapkan pada lengkung mandibula telah
dicapai.
Terdapat beberapa analisis non radiografi pada model berdasarkan perhitungan
regresi dan korelasi yang telah dikembangkan yaitu sebagai berikut: analisis Moyers
(1958, 1973, 1988), analisis Tanaka-Johnston (1974) analisis Sitepu (1983),
analisis Kuswandari-Nishino (2006).

Analisis Tanaka-Johnston
Tanaka-Johnston pertama kali memperkenalkan analisisnya pada tahun 1974.
Analisis Tanaka-Johnston merupakan pengembangan dari perhitungan regresi Moyers
untuk memprediksi lebar mesiodistal gigi kaninus, premolar pertama, dan premolar
kedua permanen yang akan erupsi. Analisis Tanaka-Johnston dikembangkan dari 506
sampel yang berasal dari keturanan Eropa Utara. Analisis Tanaka-Johnston memiliki
koefisien korelasi sebesar 0,63 untuk maksilla dan 0,65 untuk mandibula. Sedangkan
standard error of estimate yang dimiliki adalah 0,86 mm untuk gigi rahang atas dan
0,85 mm untuk gigi rahang bawah. Analisis ini tidak membutuhkan foto radiografi
maupun tabel sehingga mudah dihafal dan praktis digunakan. Analisis ini
menggunakan lebar mesiodistal keempat gigi insisivus mandibula dalam
perhitungannya.
Dalam analisis Tanaka-Johnston, setengah dari jumlah lebar mesiodistal
keempat gigi insisivus mandibula dihitung. Kemudian ditambahkan 10,5 mm untuk
memprediksi jumlah lebar mesiodistal gigi kaninus dan premolar yang akan erupsi
pada mandibula dalam satu kuadran. Pada maksila rumus ditambahkan 11,0 mm

untuk memprediksi jumlah lebar mesiodistal gigi kaninus dan premolar pada maksila
dalam satu kuadran. Setelah itu, jumlah lebar gigi pada seluruh rahang dijumlahkan
dan dibandingkan dengan ruang yang tersedia pada rahang (space available).5,8-10,27,29
Rumus analisis Tanaka-Johnston dapat dilihat pada rumus di bawah ini.
Rumus :
• Perkiraan Lebar Mesiodistal Kaninus dan Premolar Permanen Mandibula dalam
satu kuadran
lebar mesiodistal keempat insisivus mandibula : 2 dan di tambah 10,5 mm
• Perkiraan Lebar Mesiodistal Kaninus dan Premolar Permanen Maksila dalam
satu kuadran
lebar mesiodistal keempat insisivus mandibula : 2 dan di tambah 11,0 mm

Analisis Moyers
Analisis Moyers menggunakan jumlah lebar mesiodistal insisivus mandibula
dalam memprediksi jumlah lebar kaninus dan premolar maksila dan mandibula pada
berbagai tingkat kepercayaan yaitu 5% - 95% dan membentuk tabel probabilitas
menggunakan perhitungan regresi. Pada awalnya tabel prediksi tersebut digunakan
untuk laki-laki dan perempuan secara bersamaan (1973). Namun kemudian tabel
tersebut disempurnakan dengan membedakan antara laki-laki dan perempuan (1988).
Tingkat kepercayaan 50% adalah tingkat kepercayaan untuk perhitungan yang lebih
akurat. Namun, Moyers merekomendasikan tingkat kepercayaan 75% digunakan
untuk kebutuhan klinis karena pada level ini ada kecenderungan nilai lebar
mesiodistal yang diprediksi setara atau lebih kecil dari lebar mesiodistal yang
sebenarnya. Format tabel ini sebenarnya berfungsi untuk mencegah para klinisi
memperoleh nilai yang tidak sesuai dengan nilai lebar mesiodistal yang
sebenarnya.
Cara menggunakan analisis moyers adalah sebagai berikut :
1. Lebar mesiodistal keempat gigi insisivus permanen mandibula diukur dan
dijumlahkan.
2. Jika terdapat gigi insisivus yang berjejal, tandai jarak antar insisivus dalam
lengkung gigi tiap kuadran dimulai dari titik kontak gigi insisivus sentralis
mandibula.
3. Ukur jarak tanda di bagian anterior (bagian distal gigi insisivus lateralis
permanen) ke tanda di permukaan mesial dari gigi molar pertama permanen (space
available). Dapat dilakukan menggunakan kawat atau dengan kaliper.
4. Jumlah lebar mesiodistal keempat gigi insisivus mandibula dibandingkan
dengan nilai pada tabel proporsional dengan tingkat kepercayaan 75% untuk
memprediksi lebar gigi kaninus dan premolar maksila dan mandibula yang akan
erupsi pada satu kuadran.
5. Bandingkan jumlah ruang yang tersedia dengan ruang yang diprediksi (dari
tabel) pada kedua rahang. Jika diperoleh nilai negatif, maka dapat disimpulkan
adanya kekurangan ruang.

Metode Kombinasi / Gabungan


Metode ini menggabungkan teknik radiografi dan teknik perhitungan pada
model dalam memprediksi jumlah lebar mesiodistal gigi kaninus dan premolar yang
akan erupsi pada kedua rahang. Metode ini merupakan metode yang paling akurat
karena menggabungkan keuntungan dari metode radiografi dan metode rumus
prediksi untuk meningkatkan daya prediktibilitas.
Metode ini pertama kali dikembangkan oleh Hixon dan Oldfather (1958).
Kemudian Staley memodifikasi metode ini sehingga standard error of estimate dapat
diturunkan menjadi 0,44 dan koefisien korelasinya meningkat menjadi 0,92.
Cara menggunakan analisis Hixon dan Oldfather adalah sebagai berikut :
1. Lebar mesiodistal gigi insisivus sentralis dan gigi insisivus lateralis pada satu
kuadran diukur pada model studi.
2. Dilakukan pengukuran secara langsung lebar mahkota gigi premolar pertama
dan kedua yang belum erupsi pada foto radiografi.
3. Jumlahkan hasil pengukuran pada model studi dan foto radiografi.
4. Lihat pada grafik prediksi untuk menentukan gigi kaninus, premolar pertama,
dan premolar kedua yang belum erupsi.
Gambar 1. Grafik Prediksi analisis Hixon & Oldfather

Faktor yang Mempengaruhi Analisis Gigi Bercampur


Dalam analisis gigi bercampur, tingkat ketepatan dan kesesuiannya akan sangat
dipengaruhi oleh adanya variasi ukuran gigi. Ukuran gigi lebih banyak dipengaruhi
oleh faktor herediter dibandingkan dengan faktor lingkungan.
Ho dan Freer (cit. Hussein) menyatakan bahwa variasi ukuran gigi maksilla dan
mandibula tidak hanya terlihat antara laki-laki dan peremepuan tetapi juga terlihat
dari perbedaan ras.

Jenis Kelamin
Hattab dkk., melakukan pengukuran lebar mesiodistal gigi permanen pada 198
orang Jordania yang berumur 13-19 tahun dengan menggunakan kaliper. Hasil
penelitian diperoleh bahwa laki-laki memiliki ukuran gigi yang lebih besar dari
perempuan dan gigi insisivus lateralis maksila memilki tingkat variabilitas lebih besar
sementara gigi molar pertama memiliki tingkat variabilitas terendah dalam ukuran
lebar mesiodistal. Selain itu, Tome dkk., dalam penelitiannya menyatakan adanya
perbedaan tingkat keakuratan analisis dimana analisis lebih akurat pada sampel lakilaki
dibandingkan pada sampel perempuan.Dari penelitian-penelitian tersebut
terlihat bahwa jenis kelamin berpengaruh pada ukuran gigi dan berpengaruh juga
pada tingkat ketepatan analisis gigi bercampur.

Ras
Seperti halnya jenis kelamin, ras juga mempengaruhi baik ukuran gigi maupun
ukuran rahang individu. Suku Batak termasuk ras Paleomongoloid atau ras Melayu
yang mendominasi populasi masyarakat di Indonesia. Ras Paleomongoloid terdiri
atas Proto-Melayu (Melayu tua) dan Deutro-Melayu (Melayu muda). Yang termasuk
suku bangsa Proto-Melayu adalah Batak, Gayo, Sasak, Nias, dan Toraja, sedangkan
yang termasuk suku bangsa Deutro-Melayu adalah Aceh, Minangkabau, Rejang
Lebong, Lampung, Jawa, Madura, Bali, Bugis, Manado, Sunda kecil timur dan
Melayu. Kedua kelompok suku bangsa ini memiliki perbedaan fisik maupun dimensi
gigi dan lengkung geliginya.
Suku Batak termasuk dalam kelompok suku bangsa Proto-Melayu.
Simanjuntak melaporkan bahwa lebar mesiodistal gigi suku Batak lebih besar dari
suku Jawa dan Madura, tetapi lebih kecil dibandingkan ras campuran Proto Melayu
dan Deutro Melayu. Selain itu, lebar dan panjang lengkung gigi suku Batak lebih
besar dibandingkan ras campuran Proto Melayu dan Deutro Melayu. Adanya
perbedaan latar belakang ras/etnik dapat mempengaruhi perkembangan gigi geligi
dan perkembangan oklusal seseorang. Hal ini dapat berpengaruh pada ketepatan dari
masing-masing analisis gigi bercampur. Dalam penelitian ini menggunakan sampel
suku Batak.

2. pencegahan (ortho preventif space maintainer )

Orthodonti preventif

Bagian dari praktek ortodonti yang berhubungan dengan pendidikan terhadap pasien
dan orang tua,mengawasi pertumbuhan dan perkembangan gigi geligi dan struktur
kraniofasial,prosedur diagnostik untuk memprediksi kemungkinan adanya maloklusi dan
prosedur perawatan untuk mencegah maloklusi.

Prosedur preventiv : antisipasi perkembangan masalah maloklusi

Misalnya : pencabutan supermerary teeth sebelum malposisi gigi

Usaha preventiv

1. edukasi orang tua

2. kontrol karies

3. perawatan gigi geligi desidui (prematur loss,persistensi,tambalan baik)

4. menghilangkan kebiasaaan jelek

5. menjaga keseimbangan oklusi-prematur kontak


6. mencegah gangguan oklusi

7. pencabutan gigi berlebihan

8. space maintainer

9. mempertahankan kuadran gigi geligi

SPACE MAINTAINER
alat yang digunakan untuk menjaga ruang
akibat kehilangan dini gigi sulung, alat ini yang
dipasang diantara dua gigi
Fungsi:
1. Mencegah pergeseran dari gigi ke ruang yang
terjadi akibat pencabutan dini.
2. Mencegah ekstrusi gigi antagonis dari gigi yang
dicabut dini.
3. Memperbaiki fungsi pengunyahan akibat
pencabutan dini.
4. Memperbaiki fungsi estetik dan bicara setelah
pencabutan dini.

INDIKASI
1. Apabila terjadi kehilangan gigi sulung dan gigi
penggantinya belum siap erupsi menggantikan
posisi gigi sulung tersebut dan analisa ruang
menyatakan masih terdapat ruang yang
memungkinkan untuk gigi permanennya.
2. Jika ada kebiasaan yang buruk dari anak,
misalnya menempatkan lidah di tempat yang
kosong atau menghisap bibir maka pemasangan
space maintainer ini dapat diinstruksikan sambil
memberi efek menghilangkan kebiasaan buruk.
3. Adanya tanda-tanda penyempitan ruang
4. Kebersihan mulut (OH) baik.

INDIKASI
Pada gambar ini terlihat kehilangan gigi
molar kedua sulung rahang bawah
kanan yang merupakan indikasi
penggunaan space maintainer

Gambaran ini memperlihatkan


penggunaan distal shoe space maintainer
yang meluas ke begian mesial dari gigi
M1 yg sedang erupsi, untuk mencegah
gigi M1 mengalami tipping dan berada di
atas gigi P2 pada saat erupsi

Dalam gambar ini gigi m1 kanan dan


kiri atas missing pada anak 6 tahun
sehingga dibutuhkan penggunaan space
maintainer

Dalam gambar ini gigi i1 dan i2 kanan


dan kiri missing pada anak 4 tahun
sehingga dibutuhkan penggunaan space
maintainer

Pada gambar ini, gigi m2 missing pada


anak berumur 9 tahun dan gigi M1 telah
erupsi seluruhnya sehingga dibutuhkan
penggunaan space maintainer

Penggunaan space maintainer unilateral


dalam gambar pada anak berumur 6
tahun ini diperlukan karena jika tidak
gigi m2 akan mengalami mesial drifting,
dan akan bertambah parah jika alat
tidak digunakan selama fase aktif dari
erupsi gigi M1.
Dalam gambar ini gigi m1 bawah kanan
missing pada anak 6 tahun sehingga
dibutuhkan penggunaan space
maintainer

Space maintainer merupakan indikasi


untuk kasus pada anak berumur 4 tahun
pada gambar di bawah

KONTRA INDIKASI
1. Tidak terdapat tulang alveolar yang menutup
mahkota gigi tetap yang akan erupsi.
2. Kekurangan ruang untuk erupsi gigi permanen
3. Ruangan yang berlebihan untuk gigi tetapnya
erupsi
4. Kekurangan ruang yang sangat banyak sehingga
memerlukan tindakan pencabutan dan
perawatan orthodonti
5.Gigi permanen penggantinya tidak ada

SYARAT-SYARAT SPACE MAINTAINER


1. menjaga ruang dimensi proksimal
2. tidak menggangu erupsi gigi antagonisnya
3. tidak menggangu erupsi gigi permanen
4. tidak mempengaruhi fungsi bicara,
pengunyahan, dan fungsi pergerakan mandibula
5. dapat mencegah ekstrusi gigi lawan
6. tidak memberikan tekanan abnormal pada gigi
penyangga
7. tidak mengganggu jaringan lunak
8. disain yang sederhana, ekonomis dan mudah
dibersihkan.

3. jenis perawatan (piranti space regainer )

Space regainer adalah alat aktif yang digunakan untuk memperoleh kembali ruangan
yang telah menyempit pada lengkung gigi. Fungsi space regainer tidak menciptakan ruangan
yang baru tapi untuk mendapatkan kembali ruangan yang pernah ada akibat shifting/drifting
gigi yang telah mengalami penyempitan oleh beberapa sebab, seperti premature loss,
menegakkan kembali gigi permanen yang miring dan maloklusi kelas I tipe 5 (neutroklusi
dengan mesial drifting)
Hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan space regainer apakah terdapat ruangan yang
cukup untuk gigi dalam keadaan posisi tegak, dalam perawatan ortho khususnya dengan space
regainer gigi harus diputar, diluruskan atau digeser, terdapat interferensi oklusal antara gigi
RA dan RB, bentuk akar dari gigi yang akan dirawat ortho normal atau bengkok dan adanya
kelainan jaringan periodontal.
Premature loss pada gigi sulung dapat merusak perkembangan gigi yang normal. Bergesernya
gigi sulung dan permanen yang berdekatan kedalam tempat yang kosong akibat premature
loss gigi sulung dapat mengganggu erupsi dari gigi
Gambar 3. Removable Space Regainer dengan Expansi Screw pada Kedua Sisi

Removable space regainer dipasang dengan kontrol seminggu sekali (gambar. 4). Setiap
minggu, skrup diaktivasi sampai jarak yang dibutuhkan tercapai. Selain itu, “landasan
acrylic” dikontrol secara seksama untuk memberi jalan gigi yang sedang erupsi dibawahnya.

A B
Gambar 4.
a. Sebelum Pemasangan space regainer
b. Setelah Pemasangan space regainer
Hilangnya gigi sulung secara dini disebabkan kebanyakan oleh karies atau trauma.
Pada kasus ini, pasien mengalami kehilangan gigi secara prematur yang berhubungan dengan
gigi molar permanen yang “tipping” atau “mesial drifting” yang mengakibatkan kehilangan
panjang lengkung gigi yang mengakibatkan berjejalnya gigi-gigi permanen. Kehilangan gigi
molar sulung kedua yaitu gigi 75 dan 85 yang tidak dapat diperbaiki dan ekstraksi satu tahun
sebelumnya, yang mengakibatkan “tipping” dari gigi molar I permanen yaitu gigi 36 dan 46
maka terjadi kehilangan tempat untuk gigi 35 dan 45. Untuk mengembalikan tempat ini maka
dibuat space regainer.

Menurut Lin, dkk (2007) pemeliharaan tempat untuk erupsi gigi permanen
dibutuhkan suatu alat aktif atau pasif untuk mencegah kehilangan tempat untuk tumbuhnya
gigi permanen. Ada beberapa klasifikasi dari space regainer yang digunakan untuk
memulihkan tempat yang hilang. Pemulihan tempat untuk mengembalikan tempat yang hilang
karena bergesernya gigi setelah hilangnya gigi sulung secara prematur diperlukan alat space
regainer yang dapat membuka tempat untuk mengembalikan posisi gigi permanen yang
tipping keposisi semula dalam lengkung gigi.

Menurut Moyers, RS (1991) indikasi dari “space regainer” adalah bila terjadi
prematur loss pada gigi sulung molar pertama dan kedua pada maxilla/ mandibular, kemudian
adanya erupsi ektopik dari molar pertama gigi permanen, adanya satu atau lebih dari gigi
sulung yang hilang sebelum waktunya, kehilangan tempat pada lengkung gigi akibat
bergesernya kemesial dari gigi molar pertama permanen ini untuk maloklusi kelas I tipe 5.
Adapun kontra indikasi untuk space regainer adalah bila jarak untuk erupsi gigi permanen
sudah cukup, tidak memperlihatkan adanya tanda-tanda penutupan tempat gigi permanen,
panjangnya lengkung gigi tidak memadai, jika pemasangan space regainer akan memperparah
maloklusi yang sudah ada, pada kasus over bite, kelas I tipe III dan maloklusi kelas III.
Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam perencanaan pembuatan space
regainer adalah cukupnya jarak yang dibutuhkan untuk erupsi gigi permanen secara normal,
pergerakkan gigi yang dibutuhkan (rotasi, miring, tipping, bodyli) kemudian apakah adanya
gangguan oklusi dari gigi-gigi yang berlawanan; bentuk gigi dan akar gigi yang akan digeser.
Pasien ini jelas indikasi untuk pembuatan space regainer karena kurangnya jarak dalam
lengkung gigi setelah gigi 74 dan 84 dicabut, diperkirakan gigi akan erupsi normal tetapi
karena adanya kehilangan gigi 85 dan 75 maka molar permanen akan bergeser ke mesial, ini
membuat maloklusi kelas I tipe 5.
Gambar 5. Studi Model Rahang Atas dan Rahang Bawah

Masalah jarak dan gigi yang berdesakan pada rahang serta ketidak seimbangan otot
dan pengaruh – pengaruh lingkungan harus diperhitungkan dengan menggunakan analisis
konvensional. Analisis jarak konvensional pertama kali diajukan oleh Nance pada tahun 1947
(dalam Cameron dan Richard, 2003). Nance menganalisa dengan membandingkan berapa
jarak yang tersedia dengan jarak

yang dibutuhkan dengan menghitung dan mengukur dari lengkung mesial gigi molar
pertama pada satu sisi dengan mesial gigi molar pertama permanen pada sisi yang berlawanan
ini dilakukan dengan memisahkan gigi – gigi kedalam lengkung gigi yang dapat diukur
sebagai suatu garis lurus dengan kawat ligatur.

Metode lain dengan mengukur jarak yang dibutuhkan adalah jumlah lebar mesiodistal
gigi insisif permanen yang sudah erupsi pada mandibula dan jumlah lebar dari gigi kaninus
dan premolar yang belum erupsi. Ukuran dari gigi permanen yang belum erupsi dapat diukur
dengan mengukur gigi dalam foto rontgen dan disesuaikan dengan tabel prediksi.

Setelah kalkulasi dan analisis dilakukan dari foto panoramik dan studi model,
diketahui bahwa 2,16 mm jarak yang dibutuhkan untuk erupsi gigi 35 dan 2,25 mm untuk
erupsi gigi 45. Penutupan dari ruangan kemungkinan disebabkan oleh “tipping” dari gigi 44
yang sedang erupsi dan mesial drifting dari gigi 36 dan 46. Tujuan dari terapi ini adalah untuk
mendapatkan ruangan yang hilang.
Pemulihan ruangan dalam kasus ini didapat karena satu atau lebih dari gigi sulung
yang hilang, ada beberapa jarak dalam lengkung gigi yang hilang karena mesial drifting dari
gigi molar permanen serta analisis dari gigi campuran memperlihatkan ruangan dapat
dipulihkan karena mempunyai ruangan yang cukup untuk semua gigi sulung maupun gigi
permanen (gigi campuran). Harus dibedakan dimana hubungan ukuran gigi dengan dasar
tulang alveolar dimana tidak terdapat ruangan yang cukup untuk gigi permanen. Diskusi pada
saat ini berpusat pada pasien yang mempunyai panjang lengkung gigi yang cukup. Tapi, oleh
karena adanya mesial drifting dari gigi molar pertama dan lingual tipping dari gigi insisif
maka koreksi harus tertuju pada penyebab kehilangan tempat tersebut.
Ada dua tipe space regainer : fixed space regainer dan removable space regainer.
Fixed space regainer adalah suatu alat yang tidak bisa dibuka oleh pasien dan dapat
memindahkan gigi permanen yang bergeser kedalam posisinya dalam lengkung gigi.
Sedangkan removable space regainer adalah alat yang dapat dipasang dan dilepas oleh
pasiennya sendiri.
Removable space regainer selalu bilaterals komponen – komponennya seperti partial denture
yaitu acrylic major connector, “C-clasps”/ “adam claps” lingual arch, oklusal rest atau
direct bonded buttons.
Adapun keuntungan dan kerugian dari fixed space regainer dan removable space regainer
Keuntungan removable space regainer
1. chair side time lebih cepat
2. mudah dibersihkan dan pemeliharaan oral hygine yang baik
3. harus kontrol karies supaya kemungkinan karies lebih sedikit
4. dapat digunakan bersamaan dengan prosedur preventif yang lain
5. tidak memerlukan persiapan dari gigi yang berdekatan

Keuntungan fixed space regainer


1. hanya membutuhkan kerjasama pasien yang sedikit
2. tidak mudah rusak atau mudah diganti pada bentuk yang stabil dan mudah dimanipulasi
3. tekanan yang digunakan dapat diatur
4. tidak mudah hilang perbaiki
5. progness dari terapi lebih cepat
6. dapat menimbulkan gerakan ‘’drifting’’ (geser)
7. dianjurkan untuk terapi rotasi gigi

Kerugian removable space regainer


1. kemungkianan pasien tidak memakai alatnya
2. lebih mudah rusak
3. hambatan pada pertumbuhan lateral dari rahang karena adanya ‘’claps”
4. terjadinya iritasi dan ulserasi dari jaringan lunak
5. alat dapat hilang
6. memerlukan kerjasama yang baik dari pasien
7. hanya menimbulkan gerakkan tipping

Kerugian fixed space regainer


1. mahal
2. sulit dibersihkan risiko karies lebih tinggi
3. sulit diperbaiki bila rusak
4. memerlukan skill yang tinggi untuk membuatnya
5. memerlukan waktu dan sulit dibuat
6. dapat lepasa karena makanan yang lengket

Ada beberapa tipe dari removable space regainer yaitu: (1) split saddle space
regainer yang digunakan bila jarak yang harus dipulihkan memerlukan jarak yang lebih
banyak (gambar 6). Bagian yang aktif dari koil dipasang dari akrilik dan dibentuk kedalam
loop yang menghubungkan kedua “saddle”. Untuk mengaktivasinya, loop harus dibuka
sedikit demi sedikit dengan menggunakan pemotong kawat; (2) expansion screw regainer
dimana jack screw digunakan untuk mengembalikan ruangan (gambar 7). Jarak 3 mm dapat
dicapai dengan menggunakan screw expansi yang diaktivasi dengan menggunakan kunci
yang diputar arah jarum jam ¼ putaran seminggu 2x; (3) Recurved helical coil finger spring
space regainer dimana per (helical spring) ada dalam dua konfigurasi, bisa satu atau dua
seperti peniti. Dapat menggerakkan gigi sampai 3-4 mm. Untuk mendapatkannya, diameter
dari coil harus dilebarkan.
A B

Gambar 6. a. Split Sadle Space Regainer; b. wire loop shaped sadle; c. Spring on a split sadle
regainer
A B

Gambar 7. A. Screw expansi regainer dengan kuncinya; b. Komponen screw ekspansi; c.


Expansi screw dengan split sadle regainer

Gambar 8. Recurved Helical coil finger spring space regainer


Pada kasus lengkung gigi memendek, ukur berapa jarak yang pasti yang harus
dipulihkan dan gerakkan gigi yang paling mungkin untuk memulihkan jaraknya. Seringkali,
gerakkan distal dari graham pertama yang permanen dibutuhkan. Pemilihan dari alat space
regainer bergantung pada tipping, rotasi, translasi atau kombinasi dari gerakkan tersebut.
Tipping dan rotasi kembali ke posisi normal biasanya lebih mudah terjadi dengan
menggunakan finger springer dibandingkan alat banded. Space regainer diperlukan hanya
untuk mengembalikan tempat yang diperlukan untuk erupsi gigi permanen.

Space regainer terdiri dari :


1) Labial bows : sering suatu labial bows yang sederhana hanya menekuk suatu kawat. Ini
membantu mempertahankan alat dalam mulut, dan mencegah gigi di rahang atas untuk
bergerak ke depan. Labial bow harus diletakkan jauh dari gingival karena hanya digunakan
untuk retensi, tetapi jangan sampai menekan pada papilla interdental. Biasanya, ini didesain
dalam oklusal embrasure antara insisiv lateral dan kaninus, atau distal dari gigi kaninus.
2) Acrylic : secara sederhana, dasar dari removable space regainer dibuat dari akrilik.
Biasanya akrilik yang lembut digunakan supaya tidak menghalangi gigi permanen yang
sedang erupsi.
3) Clasps (cangkolan) : clasps sederhana sebagai clasps interproximal atau wrap around
clasps dapat digunakan. Selain itu, adam’s clasps, ball clasps atau C-clasps dapat juga
digunakan sebagai retensi.
4) Komponen aktif : komponen-komponen aktif seperti per : coil springs, helical coil springs,
knee springs. Skrup digunakan dalam removable space regainer, yang paling sering
digunakan adalah tipe yang mempunyai dua bagian atau dengan benang di tengah silinder
yang diputar dengan kunci yang memisahkan kedua bagian dengan jarak yang sudah dihitung
sebelumnya biasanya ± 2 mm untuk masing-masing seperempat putaran.

Konstruksi dari removable space regainer harus dibuat sesederhana mungkin dan
lebih murah sehingga dapat dijangkau oleh pasien. Pada kasus ini dibuat space regainer
seperti yang dilihat pada gambar 3 yaitu menggunakan suatu expansi screw yang didesain
pada sisi kiri sementara di sisi yang lain dipasang koil dan expansi screw dan adam claps
sebagai retensi, labial blow sebagai komponen pasif (gambar 3). Digunakan expansi screw
karena mudah diaktivasi hanya dengan memutar kunci kearah jarum jam ¼ putaran setiap
minggu, dan dapat menggerakkan gigi maksimum 3 mm. Coil spring didesain untuk rotasi
dan tipping dari gigi 44 yang sedang erupsi untuk memulihkan tempat. Caranya dengan
mengaktivasi koil-koil tersebut dengan melebarkan diameter dari koil. Expansi screw
dipasang pada 44 dan 34 supaya mendapatkan ruangan pada kedua sisi pada lengkung gigi
mandibula. Labial bow dari 73 ke 83 sebagai komponen pasif digunakan untuk retensi dan
membantu dalam mempertahankan alat dalam mulut. Untuk retensi, adam clasps digunakan
pada 36 dan 46. Alasan penggunaan adam clasps untuk retensi dicapai dan C-clasps tidak
digunakan karena gigi kaninus masih dalam proses erupsi dan clasps akan menghambat
proses erupsi yang normal. Flanger dari dasar akrilik tidak boleh terlalu panjang ke dalam
festibulum untuk memungkinkan pertumbuhan lateral dari rahang. Harusnya hanya menutupi
sepertiga dari alveolar ridge.
Sebelum pemasangan, pasien diberi instruksi untuk oral hygiene dan perawatan alat
dan cara membukanya. Setelah pemasangan, pasien diberitahu untuk kembali seminggu sekali
untuk aktivasi sampai tercapai jarak yang dibutuhkan dan alat digunakan sebagai retensi
sampai premolar kedua erupsi.

4. bad habit

Pengertian Oral Habit


Dalam Kamus Dorland kebiasaan didefenisikan sebagai sesuatu bersifat permanen
dan konstan yang menunjukkan aktifitas berulang secara otomatis disebabkan oleh proses
alami yang kompleks dimana melibatkan kontraksi otot yang dapat berefek pada fungsi
mastikasi, respirasi, fonetik, dan estetik.2
Kebiasaan normal menyebabkan konstruksi fungsi dentofasial dan memegang
peranan penting dalam perkembangan wajah normal dan fisiologi oklusal. Sebaliknya,
kebiasaan buruk dapat menyebabkan gangguan dalam pola perkembangan dentofasial. Setiap
kebiasaan dapat menyebabkan tekanan abnormal pada struktur dentofasial yang menyebabkan
malformasi pada struktur dan hubungan interstruktural.10

Perkembangan Oral habit


Oral habit sering kali ditemukan pada anak-anak sejak berusia satu bulan. Hal ini
tidak akan menyebabkan masalah yang berarti dalam rongga mulut saat itu, karena pada
dasarnya tubuh dapat memberikan respon terhadap rangsangan dari luar sejak masih dalam
kandungan. Respon tersebut merupakan pertanda bahwa perkembangan psikologis anak
sudah dimulai, terlihat dari tingkah laku spontan atau reaksi berulang. Permasalahan akan
muncul ketika kebiasaan tersebut terus berlanjut hingga anak mulai memasuki usia sekolah
dimana kebiasaan ini terus dilakukan karena orang tua kurang memperhatikan anaknya. Jika
kebiasaan tersebut dihentikan sebelum masa erupsi gigi permanen, hal tersebut tidak akan
memberikan efek jangka panjang. Namun jika kebiasaan tersebut berkelanjutan maka dapat
terjadi keadaan openbite anterior, posterior crossbites, dan maloklusi lainnya.
Menurut Christensen dan Fields, oral habit dideteksi pada usia 3-6 tahun melalui
pemeriksaan klinis yang merupakan masalah penting karena pada usia ini oral habit dianggap
abnormal. 1
Perkembangan oral habit terbagi menjadi 3 periode yaitu periode mengisap, periode
menggigit, dan periode multiple transfer. Periode mengisap berkembang sejak bayi masih
trimester ketiga dalam kandungan ibu. Kebiasaan ini dilakukan berkembang untuk melatih
sistem neuromuskular dimana merupakan perkembangan sistem sempurna yang ditemukan
sejak lahir sehingga fase mulut pada bayi yang baru lahir terpenuhi dengan baik. Keahlian
mengisap jari ini dimulai sejak minggu ke-19 karena otak bayi telah mencapai jutaan saraf
motorik sehingga ia mampu membuat gerakan sadar tersebut. Masa transisi dari periode
mengisap ke periode menggigit terjadi dalam periode yang singkat dan disebut sebagai
periode transisi. Periode menggigit berkembang sejak usia pra-sekolah (4-5 tahun) dan
berakhir pada usia sekolah (6-12 tahun).
Macam-macam Oral habit Pada Anak
Ada beberapa macam kebiasaan buruk pada anak, di antaranya adalah mengisap ibu
jari atau jari tangan (thumb or finger sucking), mengisap bibir atau menggigit bibir (lip
sucking or lip biting), mengisap botol susu (bottle sucking), menjulurkan lidah (tongue
thrusting), bernafas melalui mulut (mouth breathing), dan bruksisme (bruxism).
Kebiasaan mengisap ibu jari (Thumb or finger sucking)
A. Gambaran Umum Thumb/Finger Sucking
Oral habit telah berkembang sejak bayi masih dalam kandungan ibunya yaitu refleks
mengisap ibu jari, dimana lama-kelamaan akan menjadi kebiasaan yang menyenangkan
baginya karena merasa sangat nyaman sehingga dapat membuatnya tertidur. Apabila
kebiasaan ini tetap bertahan hingga tumbuhnya gigi permanen maka akan dapat menimbulkan
masalah dengan lengkung gigi dan pertumbuhannya dalam mulut. Seberapa sering seorang
anak mengisap ibu jari akan menentukan muncul atau tidaknya masalah kesehatan gigi.
Thumb/finger sucking adalah sebuah kebiasaan dimana anak menempatkan jari atau
ibu jarinya di belakang gigi, kontak dengan bagian atas mulut, mengisap dengan bibir, dan
gigi tertutup rapat. Aktivitas mengisap jari dan ibu jari sangat berkaitan dengan otot-otot
sekitar rongga mulut.
Gambar 1. Kebiasaan thumb and finger sucking.
Sumber : http://travel.okezone.com/read/2009/12/29/196/289072/ayo-cegah-anak-mengisap-
jempol. Accessed on 20th Jun 2011

Kebiasan mengisap ibu jari merupakan satu-satunya gerakan yang dilakukan pada
saat bayi baru lahir untuk mendapatkan makanan. Mengisap ibu jari pada tahun-tahun
pertama haruslah dipandang sebagai hal yang normal dan belum perlu untuk dicegah. Karena
kalau dicegah, akan menyebabkan kekacauan perkembangan psikologi anak, sedangkan
akibat yang ditimbulkan terhadap gigi dan rahang belum dapat dipastikan.
Mengisap ibu jari pada bayi kurang dari 6 bulan merupakan salah satu ekspresi bayi
untuk kebutuhan mengisap, terutama kalau sedang lapar. Tetapi setelah bayi berusia lebih dari
6 bulan, mengisap jari memberikan arti lain. Bayi ini membutuhkan ketentraman dan
kenikmatan sama seperti yang pernah mereka alami dulu sewaktu masih kecil. Kini mereka
akan mengisap jari kalau sedang lelah atau mengantuk. Bagi mereka ibu jari merupakan salah
satu benda penghibur. Seringkali nilai ibu jari sedemikian pentingnya bagi anak, sehingga
setelah bertahun-tahun kemudian mereka baru ingin berhenti melakukan kebiasaan tersebut.
Mengisap ibu jari merupakan sebuah perilaku, bukan sebuah gangguan. Seiring
pertambahan usia, diharapkan kebiasaan buruk tersebut akan hilang dengan sendirinya.
Kebiasaan ini sering ditemukan pada anak-anak usia muda dan bisa dianggap normal
pada masa bayi dan akan menjadi tidak normal jika berlanjut sampai masa akhir anak-
anak. Hal ini sering terjadi dalam masa pertumbuhan, sebanyak 25-50% pada anak-anak yang
berusia 2 tahun dan hanya 15-20% pada anak-anak yang berusia 5-6 tahun.
Sebagian anak mempunyai kebiasaan mengisap sesuatu (misalnya jari) yang tidak
memberi nilai nutrisi (non-nutritive), sebagai suatu kebiasaan yang dapat dianggap wajar.
Akan tetapi, kebiasaan mengisap yang berkepanjangan akan menghasilkan maloklusi.
Keadaan ini dapat terjadi karena adanya kombinasi tekanan langsung dari ibu jari dan
perubahan pola tekanan bibir dan pipi pada saat istirahat. Tekanan pipi pada sudut mulut
merupakan tekanan yang tertinggi. Tekanan otot pipi terhadap gigi-gigi posterior rahang atas
ini meningkat akibat kontraksi otot buccinator selama mengisap pada saat yang sama,
sehingga memberikan risiko lengkung maksila menjadi berbentuk V, ukurannya sempit dan
dalam.
Ada beberapa variasi maloklusi tertentu tergantung jari yang diisap dan juga
penempatan jari yang diisap. Sejauh mana gigi berpindah tempat berkorelasi dengan lamanya
pengisapan per hari daripada oleh besarnya kekuatan pengisapan. Seorang anak yang
mengisap kuat-kuat tetapi hanya sebentar tidak terlalu banyak berpengaruh pada letak
giginya, sebaliknya seorang anak yang mengisap jari meskipun dilakukan tidak terlalu kuat
tetapi dalam waktu yang lama (misalnya selama tidur malam masih menempatkan jari di
dalam mulut) dapat menyebabkan maloklusi yang nyata.
Bila jari ditempatkan di antara gigi atas dan bawah, lidah terpaksa diturunkan yang
menyebabkan turunnya tekanan lidah pada sisi palatal geligi posterior atas. Pada saat yang
sama tekanan dari pipi meningkat dan muskulus buccinator berkontraksi pada saat mengisap.
Tekanan pipi paling besar pada sudut mulut dan mungkin keadaan ini dapat menjelaskan
mengapa lengkung maksila cenderung berbentuk huruf V dengan kontraksi pada regio
kaninus daripada molar. Kebiasaan mengisap yang melebihi batas ambang keseimbangan
tekanan dapat menimbulkan perubahan bentuk lengkung geligi, akan tetapi sedikit
pengaruhnya terhadap bentuk rahang.
Aktivitas mengisap jari sangat berhubungan dengan otot-otot rongga mulut. Aktivitas
ini sangat sering ditemukan pada anak-anak usia muda dan bisa dianggap normal pada masa
bayi, meskipun hal ini menjadi tidak normal jika berlanjut sampai masa akhir anak-anak.
Sebagian besar anak akan menghentikan kebiasaan ini dengan sendirinya pada usia antara 2
hingga 4 tahun, walaupun demikian lebih mudah untuk menghentikan setiap kebiasaan ketika
masih awal.
Kebiasaan mengisap jari pada awal masa anak-anak kelihatannya merupakan aktivitas
bawaan pada banyak anak, tetapi berlanjutnya aktivitas ini setelah masa bayi berlalu adalah
hasil belajar. Pada kedua keadaan ini, kebiasaan mengisap jari yang berlanjut akan mulai
terbentuk sejak awal perkembangan oklusal hingga bisa mengubah posisi gigi-geligi.
Anak-anak sering sekali mempunyai kebiasaan buruk mengisap ibu jari atau
menggigit kuku atau pensil. Kebiasaan buruk ini bila tidak lekas dihentikan pada anak
sebelum gigi permanennya tumbuh, akan menyebabkan terganggunya perkembangan gigi
permanen yang dapat menyebabkan maloklusi (gigi yang tidak pas pada saat rahang ditutup).
Kebiasaan mengisap jari hanya akan benar-benar merupakan masalah jika kebiasaan
ini berlanjut sampai periode gigi geligi tetap. Kelihatannya kebiasaan ini tidak mempengaruhi
pertumbuhan bagian basal dari rahang, karena efeknya terbatas pada gigi geligi dan prosesus
alveolaris dari rahang. Bila kebiasaan ini dihentikan, segmen dento-alveolar biasanya akan
bertumbuh ke posisi oklusal yang tepat, kecuali bila beberapa faktor, seperti aktivitas lidah
atau bibir menghalanginya. Belum diketahui apakah gigitan terbalik unilateral bisa membaik
dengan spontan.
B. Etiologi Thumb/Finger Sucking
Kebiasaan mengisap jari dapat disebabkan oleh hal-hal berikut; Orangtua terlambat
memberi minum susu pada anak yang sudah berusia 1-2 tahun sehingga anak mencari benda-
benda lain untuk dimasukkan ke dalam mulutnya. Kurang eratnya jalinan kasih sayang antara
orang tua dengan anaknya sehingga anak mencari perhatian dengan melakukan hal-hal yang
tidak disukai orang tuanya. Anak mengalami gangguan emosi, misalnya merasa sedih dan
kesepian sehingga mencari ketenangan dengan cara mengisap jarinya.
Bayi kurang puas mengisap susu dari ibu. Hal ini mungkin terjadi karena hanya sedikit
ASI yang keluar akibat adanya gangguan kesehatan pada ibu, sehingga tidak mencukupi
kebutuhan si anak. Mungkin ibu terlalu sibuk bekerja di luar rumah. Selain itu ada juga ibu
yang memang tidak ingin menyusui bayinya karena takut bentuk buah dadanya menjadi jelek.
Sebagai gantinya bayi diberi susu botol dengan bentuk puting susu ibu, sehingga gerak
fisiologis otot-otot bibir, lidah dan pipi tidak normal. Pada saat bayi mengisap susu ibunya,
bibir akan menempel pada susu ibu dan tumbuh perasaan nyaman. Tetapi jika bayi mengisap
susu dari dot yang tidak sesuai maka perasaan tersebut sama sekali tidak ada. Apalagi kalau
lubang dot terlalu besar maka kebiasaan mengisap dari mulut bayi sama sekali berkurang
sehingga mencari kepuasan dan kenikmatan dengan mengisap sesuatu, dimana yang paling
mudah yaitu ibu jari.
Hampir 80% bayi mempunyai kebiasaan mengisap ibu jari atau jari lainnya. Biasanya
keadaan ini terjadi sampai bayi berusia sekitar 18 bulan. Akan tetapi, kadang-kadang masih
dijumpai pada anak usia prasekolah bahkan sampai berumur 4 tahun ke atas. Secara alami ia
mulai menggunakan otot bibir dan mulut. Ketidakpuasan mengisap ASI dapat membuat anak
suka mengisap jari tangannya sendiri. Jika kebiasaan ini berlanjut dapat berakibat
pertumbuhan gigi berubah posisi. Adanya kebiasaan oral mempengaruhi kegagalan dalam
menyusui dan konsekuensinya mungkin menyebabkan penyapihan dini (proses penghentian
penyusuan ASI pada bayi) atau sebaliknya penyapihan dini menyebabkan tidak terpenuhinya
kebutuhan anak untuk mengisap dan akhirnya bayi mengisap yang tidak bergizi seperti
mengisap ibu jari dan penggunaan botol yang dapat menghasilkan maloklusi.
Selain untuk memuaskan insting mengisap, faktor lain yang dapat menyebabkan
kebiasaan buruk adalah keinginan untuk menarik perhatian, rasa tidak aman, dan sehabis
dimarahi atau dihukum. Beberapa psikiater percaya bahwa mengisap ibu jari untuk menarik
perhatian ibu, ini disebabkan oleh kebutuhan anak untuk dekat pada ibunya. Kurangnya cinta
dan perhatian pada bayi dan anak-anak dapat meningkatkan resiko untuk mengisap jari. Rasa
jemu terhadap permainan dan keadaan sekelilingnya, maka dengan cara mengisap ibu jari
akan merupakan hal yang dapat mengatasi kesukaran yang dihadapinya. Mengisap memiliki
efek menyenangkan, menenangkan, dan sering membantu anak untuk bisa tertidur. Namun,
akan mengkhawatirkan bila gigi permanen mulai erupsi (sekitar usia 5 tahun) karena akan
mengubah bentuk gigi, palatum, atau gigitan pada anak.
C. Akibat Thumb/Finger Sucking
Kebiasaan mengisap jari atau benda-benda lain dalam waktu yang berkepanjangan
dapat menyebabkan maloklusi. Dari faktor-faktor penyebab maloklusi, yang paling
menentukan tingkat keparahan adalah intensitas, frekuensi, dan durasi pengisapan. Maloklusi
yang terjadi juga ditentukan oleh jari mana yang diisap, dan bagaimana pasien meletakkan
jarinya pada waktu mengisap yang menimbulkan adanya tekanan ke arah atas gigi depan, dan
bagian bawah jari akan menekan lidah sehingga mendorong gigi bawah dan bibir sedangkan
dagu terdesak ke dalam. Akibatnya anak dapat memiliki profil muka yang cembung akibat
gigi depan yang maju. Anak yang terbiasa menghisap jempol atau menghisap dot umumnya
lebih besar kemungkinan untuk memiliki wajah yang kurang proporsional saat remaja hingga
dewasa, dibandingkan dengan anak yang diberi ASI dalam periode waktu yang cukup lama
dan tidak pernah memiliki kebiasaan menghisap jari atau dot.
Efek kebiasaan mengisap terhadap perkembangan oklusal sangat bervariasi, dan
sampai batas tertentu tergantung pada pola aktivitas kebiasaan yang sesungguhnya. Mengisap
ibu jari bisa diperkirakan akan memberi efek yang berbeda daripada mengisap jari lain.
Kadang-kadang tidak terlihat adanya efek sama sekali. Tapi yang paling sering terjadi adalah
adanya ibu jari di antara gigi-gigi yang sedang bererupsi akan membuat timbulnya gigitan
terbuka anterior, yang biasanya asimetris, lebih nyata pada sisi yang digunakan untuk
mengisap ibu jari. Jika lidah juga protrusi, gigitan terbuka cenderung lebih besar, sehingga
gigi-gigi anterior rahang atas protrusif. Di samping itu palatum bagian depan menjadi tinggi,
sehingga bentuk lengkung rahang menjadi segitiga tidak oval dan susunan gigi depan menjadi
lebih maju dari sebagaimana seharusnya, area untuk tumbuh giginya menjadi lebih sempit.
Akibatnya, gigi menjadi tumbuh bertumpuk-tumpuk. Perkembangan rahang ke arah lateral
terganggu, seringkali juga terlihat gigitan terbalik disebabkan oleh menyempitnya tekanan
udara intraoral, yang barangkali terkombinasi dengan aktivitas otot-otot bukal. Penyempitan
ringan dari lengkung gigi ini bisa menyebabkan rahang bawah menempati jalur penutupan
translokasi, dengan disertai perkembangan gigitan terbalik pada salah satu sisi yang pada
akhirnya membutuhkan perawatan ortodonti untuk mengembalikan gigi mereka ke posisi
yang seharusnya.

Gambar 2. Kebiasaan mengisap ibu jari menyebabkan openbite anterior


Sumber : http://apotek-tunas.blogspot.com/2008/11/rapikan-gigi-sejak-dini.html.
Accessed on 20th Jan 2011

Kebiasaan mengisap jari pada fase geligi sulung tidak mempunyai dampak pada gigi
permanen bila kebiasaan tersebut telah berhenti sebelum gigi permanen erupsi. Bila kebiasaan
ini terus berlanjut sampai gigi permanen erupsi akan terdapat maloklusi dengan tanda-tanda
berupa insisivus atas proklinasi dan terdapat diastema, gigitan terbuka, lengkung atas sempit
serta retroklinasi insisivi bawah.
Bila kebiasaan mengisap ibu jari bertahan sampai umur 4 tahun maka akan
menyebabkan maloklusi gigi susu dan permanen, juga dapat menyebabkan masalah pada
tulang-tulang di sekitar mulut. Resiko tinggi ditemukan pada anak yang mengisap ibu jari
pada waktu siang dan malam. Dengan pengisapan yang terus menerus terjadi jari abnormal
seperti hiperekstensi jari, terbentuk callus, iritasi, eksema, dan paronikia (jamur kuku). Efek
psikologis pada anak akan menimbulkan menurunnya kepercayaan diri anak karena anak
sering diejek oleh saudara atau orangtuanya. Dapat juga terjadi keracunan yang tidak
disengaja, anak yang mengisap ibu jari terpapar tinggi terhadap keracunan yang tidak
disengaja, misalnya keracunan Pb. Resiko infeksi saluran cerna pun meningkat.
D. Penanganan Thumb/Finger Sucking
 Perawatan psikologis
Bila kebiasaan ini menetap setelah anak berumur 4 tahun, maka orang tua disarankan
untuk mulai melakukan pendekatan kepada anak agar dapat menghilangkan kebiasaan
buruknya tersebut, antara lain :
a) Mengetahui penyebab. Ketahui kebiasaan anak sehari-hari termasuk cara anak
beradaptasi terhadap lingkungan sekitar. Faktor emosional dan psikologis dapat menjadi
faktor pencetus kebiasaan mengisap ibu jari.
b) Menguatkan anak. Menumbuhkan rasa ketertarikan pada anak untuk menghentikan
kebiasaan tersebut. Orang tua diingatkan untuk tidak memberikan hukuman pada anak
karena anak akan makin menolak untuk menghentikan kebiasaan ini.
c) Mengingatkan anak. Buat semacam agenda atau kalender yang mencatat keberhasilan
anak untuk tidak mengisap ibu jari.
d) Berikan penghargaan. Orang tua dapat memberikan pujian dan hadiah yang disenangi si
anak, bila anak sudah berhasil menghilangkan kebiasaannya.
 Perawatan eksta oral
Perawatan ekstra oral yang dapat dilakukan pada anak yang memiliki kebiasaan
mengisap ibu jari atau jari tangan lainnya, antara lain :
a) Ibu jari atau jari diolesi bahan yang tidak enak (pahit) dan tidak berbahaya, misalnya
betadine. Ini diberikan pada waktu-waktu anak sering memulai kebiasaannya mengisap
ibu jari.
b) Ibu jari diberi satu atau dua plester anti air.
c) Penggunaan thumb guard atau finger guard.

Gambar 3. Thumb guard dan finger guard


Sumber : http://www.plioz.com/braeak-the-habit-thumbguard-and-fingerguard/#more-376.
Accessed on 20th Jun 2011

d) Sarung tangan.
e) Penggunaan thumb crib (fixed palatal crib) pada bagian palatum.

Gambar 4. Thumb crib


Sumber : http://www.medicalera.com/info_answer.php?thread=13548.
Accessed on 20th Jun 2011
Pada umumnya mengisap ibu jari dapat diberhentikan dengan memberikan nasehat
berupa penjelasan secara halus dan bijaksana untuk mendapatkan kerjasama yang baik dengan
anak mengenai kebiasaan buruk mengisap ibu jari, misalnya kotoran pada sela-sela kuku akan
masuk ke mulut dan menyebabkan sakit perut. Usahakan anak sadar dan tahu betul mengapa
ia harus menghentikan kebiasaannya. Karena anak-anak memiliki keterbatasan kemampuan
penalaran secara logis, namun tidak ada salahnya memberitahukan bahwa akan jauh lebih
baik gigi yang terlihat di masa depan jika mereka menghentikan kebiasaan itu.
Selanjutnya jangan biarkan anak melamun atau berkhayal, berilah kesibukan dengan
menemani bermain atau memberi dongeng sebelum tidur. Jangan sekali-kali melarang secara
langsung dengan keras misalnya mencabut ibu jari yang sedang diisap dengan kasar atau
mengejek dan memperolok-olok. Hal ini akan mengganggu perkembangan jiwanya. Apabila
kebiasaan tersebut disertai kebiasaan lain misalnya menarik-narik ujung rambut, memegang-
megang daun telinga, menarik ke arah baju, ujung bantal dan lain-lain maka usaha pertama
ialah menghilang kebiasaan sekunder tersebut misalnya, rambut dipotong pendek, anak diberi
baju kaos, tanpa kerah, tidur tanpa bantal dan lain-lain maka kebiasaan primernya akan
berhenti. Dapat pula kita memberikan permen atau kue sebagai pengganti ibu jari yang
diisapnya, memberikan pujian, upah atau hadiah kecil sebagai imbalan untuk
menghentikannya.
Adapun upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah kebiasaan mengisap jari pada
anak antara lain; mengusahakan agar bayi mengisap susu ibu selama mungkin maksimal 2
tahun. Jika ibu terpaksa tidak dapat menyusui, berikan dot yang sesuai dengan bentuk puting
susu ibu. Kalau keluarnya air susu ibu terlalu deras sehingga anak cepat kenyang, berilah dot
latihan yang bentuknya sesuai dengan bentuk puting susu ibu untuk menyalurkan kemampuan
naluri mengisap dari si bayi. Ibu harus mengusahakan pemberian makan dan minum tepat
pada waktunya sehingga bayi tidak merasa lapar.
Kebanyakan anak-anak akan menghentikan sendiri kebiasaan mereka tersebut pada
kisaran umur 2-4 tahun, namun lebih mudah jika orang tua menghentikan kebiasaan tersebut
sedini mungkin. Kalau kebiasaan mengisap jari dapat berhenti sebelum anak berusia 5 tahun,
maka kelainan yang timbul dapat membaik dengan sendirinya karena fungsi otot-otot sekitar
mulut yang normal. Namun tidak demikian bila gigi tetap telah muncul dan kegiatan
mengisap ibu jari maupun botol susu masih berlanjut hingga melewati usia 6 tahun dan
berlangsung intensif akan merupakan kebiasaan buruk dan akibat yang ditimbulkan tidak
dapat baik dengan sendirinya sehingga terpaksa harus diperbaiki dengan bantuan perawatan
ortodonsi yang akan memerlukan biaya tidak sedikit.
Anak yang berusia 3 tahun berilah perhatian dan kasih sayang yang lebih. Akan
tetapi, apabila kebiasaan tersebut masih terus berlanjut, orangtua dapat mencoba mengoleskan
bahan-bahan atau obat pada permukaan ibu jari dengan cairan yang pahit (kina), pedas (lada)
atau rasa getir (minyak kayu putih) pada jari yang sering mereka isap. Usaha lain yaitu
memberi sarung tangan atau membalut ibu jari dengan alat tertentu seperti plester.(14,25,27)
Jika anak yang berumur 4 tahun keatas masih juga melakukan kebiasaan mengisap
ibu jari, dimana seharusnya anak ini sudah mengalihkan perhatiannya dengan bermain, maka
secara psikologis ada sesuatu yang tidak normal. Untuk menghilangkan kebiasaan buruk
tersebut, orangtua harus mencari penyebabnya dahulu. Apabila penyebabnya sudah diketahui,
secara bertahap orangtua dapat menghilangkannya dengan cara melakukan pendekatan
psikologis kepada anak.
Apabila usia anak lebih dari 7 tahun dan masih melakukannya, sebaiknya orangtua
bekerjasama dengan dokter gigi untuk menghentikan kebiasaan buruk si anak. Dokter gigi
akan membuat alat ortodonti untuk mencegah berkontaknya ibu jari dengan langit-langit
rongga mulut sehingga kenikmatan mengisap jari akan terhalangi oleh alat tersebut.
Perawatan ini baru dilakukan apabila metode pendekatan psikologis tidak berhasil. Alat
ortodonsi yang dibutuhkan dalam menangani kasus ini adalah removable appliance atau
palatal arch modified yang berfungsi untuk menghentikan siklus yang menyenangkan yang
berhubungan dengan kebiasaan menghisap jari.
Dapat juga digunakan perban AceTM yang dibungkus pas tapi tidak terlalu ketat pada
pertengahan lengan yang biasa digunakan untuk kegiatan mengisap jari. Tangan tidak
tercakup, dan perban tidak menghambat aliran darah di lengan. Setelah di tempat tidur, anak
akan berpikir bahwa ia dapat menempatkan jari pada mulutnya. Namun dengan adanya
perban Ace™ yang memiliki elastisitas cukup tinggi akan mengeluarkan jari dari mulutnya
sehingga memungkinkan untuk jatuh pada saat anak tertidur.
Sudah banyak waktu dan usaha yang dicurahkan untuk mendorong anak-anak
berhenti mengisap jari, tapi efek mengisap bibir biasanya kurang disadari. Hasil berbagai
percobaan menunjukkan bahwa usaha untuk menghentikan kebiasaan mengisap jari biasanya
gagal kecuali jika si anak sendiri yang ingin menghentikannya. Pada kasus ini, pemasangan
piranti di dalam mulut anak sesudah mendiskusikannya dengan si anak, biasanya sudah cukup
untuk menghentikan kebiasaan tersebut. Dengan kata lain, ini berarti menunda setiap usaha
untuk menghentikan kebiasaan tersebut sampai anak berusia 8 tahun atau lebih, dimana pada
usia tersebut kebanyakan anak memang sudah menghentikan kebiasaan ini.
Mengisap Bibir/Menggigit Bibir (Lip Sucking/Lip Biting)
A. Gambaran Umum Lip Sucking/Lip Biting
Kebiasaan buruk pada anak-anak sering dihubungkan dengan keadaan psikologis
penderitanya. Kebiasaan yang sering dilakukan pada anak usia 4-6 tahun ini, dapat merubah
kedudukan gigi depan atas ke arah depan, sedang gigi depan bawah ke arah dalam. Gigi yang
protrusi akibat dari kebiasaan mengisap bibir bawah sejak kecil menyebabkan anak sering
menjadi bahan pembicaraan teman-temannya, sehingga secara psikologis anak merasa kurang
percaya diri. Oleh sebab itu, intensitas mengisap bibir bawah juga semakin meningkat. Selain
menyebabkan protrusi, kebiasaan ini juga dapat membuat pertumbuhan gigi menjadi tertahan.
Salah satu penelitian menunjukkan 50% anak-anak tuna wisma yang mempunyai oral habit,
prevalensi mengisap atau menggigit bibir sebanyak 17,37%.(
Kestabilan dan posisi gigi banyak mempengaruhi keseimbangan otot-otot sekitarnya.
Kekuatan dari otot-otot orbicularis oris dan otot-otot buccinator yang diseimbangkan oleh
kekuatan yang berlawanan dari lidah. Keseimbangan otot-otot daerah sekitar mulut dapat
mengganggu apabila pasien memiliki kebiasaan buruk seperti mengisap ibu jari, menjulurkan
lidah, mengisap bibir, dan bernafas melalui mulut.

Gambar 5. Kebiasaan lip sucking/lip biting


Sumber : Palmer, B. The importance of breastfeeding as it relates to the total health
section B Missouri J. 2002

Gigi berada dalam keadaan keseimbangan dinamis yang konstan. Keseimbangan


kekuatan antar otot yang dipercaya dapat mempengaruhi posisi dan kestabilan dent alveolar
complex. Graber mendeskripsikan mekanisme otot-otot buccinator. Dalam mekanisme ini,
kekuatan yang mendorong gigi dihasilkan oleh otot orbicularis oris, otot buccinators, otot
penarik superior pharyngeal yang diseimbangkan oleh kekuatan yang berlawanan dari lidah.
Kerja yang berlebihan otot-otot orbicularis mempengaruhi pertumbuhan kraniofasial, memicu
terjadinya penyempitan lengkung gigi, mengurangi ruang untuk gigi dan lidah serta
terhalangnya pertumbuhan mandibula.
B. Etiologi Lip Sucking/Lip Biting
Beberapa faktor penyebab yang menjadi etiologi dari kebiasaan mengisap bibir atau
menggigit bibir adalah :
a) Stress. Cobalah untuk mencari tahu apa yang mungkin membuat anak stress dan bantu
mereka untuk menghadapinya. Dalam hal ini orang tua harus berperan aktif mencari tahu
tentang sebab-sebab kebiasaan mengisap bibir pada anaknya. Berikan kesempatan anak
untuk berbicara mengenai hal-hal yang mungkin mengkhawatirkan mereka, melakukan
kontak mata, dan aktif mendengarkan.
b) Variasi atau sebagai pengganti dari kebiasaan mengisap ibu jari atau jari. Hal ini
dilakukan untuk memuaskan insting mengisap si anak karena mengisap memiliki efek
menyenangkan, menenangkan, dan sering membantu anak untuk bisa tertidur.
C. Akibat Lip Sucking/Lip Biting
Kebiasaan mengisap atau menggigit bibir bawah akan mengakibatkan hipertonicity
otot-otot mentalis. Kebiasaan buruk dapat menjadi faktor utama atau merupakan faktor yang
kedua. Kebiasaan mengisap bibir yang menjadi faktor utama akan terdapat overjet yang besar
dengan gigi anterior rahang atas condong ke labial dan gigi anterior rahang bawah condong
ke lingual diikuti perbedaan skeletal yang ringan. Kebiasaan mengisap bibir mengakibatkan
overjet normal. Kebiasaan mengisap bibir sebagai faktor kedua biasanya terjadi disebabkan
oleh perbedaan sagital, seperti retrognatik mandibula. Inklinasi gigi incisivus rahang atas bisa
normal dan jarak antara gigi rahang atas dan rahang bawah terjadi setelah proses adaptasi.
D. Penanganan Lip Sucking/ Lip Biting
Penanganan yang dapat dilakukan untuk menghilangkan kebiasaan mengisap bibir
atau menggigit bibir pada anak-anak antara lain:
a) Myotherapi (latihan bibir)
 Memanjangkan bibir atas menutupi incisivus rahang atas dan menumpangkan bibir
bawah dengan tekanan di atas bibir atas
 Memainkan alat tiup
b) Orang tua harus berperan aktif mencari tahu tentang sebab-sebab yang membuat anak
stress. Konsultasi dengan seorang psikiater merupakan salah satu hal yang dapat
membantu dalam menghilangkan kebiasaan buruk ini.
Menjulurkan Lidah (Tongue thrusting)
A. Gambaran Umum Tongue thrusting
Sejak tahun 1958, istilah tongue thrust atau menyodorkan lidah telah dijelaskan dan
dibahas dalam pembicaraan dan diskusi dalam bidang kedokteran gigi serta dipublikasikan
oleh banyak penulis. Telah dicatat bahwa sejumlah besar anak-anak pada usia sekolah
memiliki kebiasaan menyodorkan lidah. Menurut literatur baru-baru ini, sebanyak 67-95%
dari anak-anak yang berusia 5-8 tahun melakukan kebiasaan tongue thrust dalam jangka
waktu yang lama akan berhubungan dengan masalah orthodontik atau gangguan pengucapan.
Pada satu negara, kira-kira 20-80% pasien orthodontik memiliki beberapa bentuk kasus
tongue thrust.
Kebiasaan mendorong lidah sebetulnya bukan merupakan kebiasaan tetapi lebih
berupa adaptasi terhadap adanya gigitan terbuka misalnya karena mengisap jari. Kebiasaan
menjulurkan lidah biasanya dilakukan pada saat menelan. Pola menelan yang normal adalah
gigi pada posisi oklusi, bibir tertutup, dan lidah berkontak dengan palatum. Ada 2 bentuk
penelanan dengan menjulurkan lidah, yaitu :
a) Penelanan dengan menjulurkan lidah sederhana, biasanya berhubungan dengan
kebiasaan mengisap jari.
b) Menjulurkan lidah kompleks, berhubungan dengan gangguan pernafasan kronis, bernafas
melalui mulut, tonsillitis atau faringitis.
Dari teori keseimbangan, tekanan lidah yang ringan tetapi berlangsung lama pada gigi
dapat menyebabkan adanya perubahan letak gigi dan menghasilkan efek yang nyata.
Dorongan lidah yang hanya sebentar tidak akan menghasilkan perubahan pada letak gigi.
Tekanan lidah pada penelanan yang tidak benar hanya berlangsung kira-kira 1 detik.
Penelanan secara ini hanya terjadi kurang lebih 800 kali pada saat seseorang terjaga dan
hanya sedikit pada waktu tidur sehingga sehari hanya kurang dari 1000 kali. Tekanan selama
seribu detik (kurang lebih 17 menit) tidak cukup untuk mempengaruhi keseimbangan.
Sebaliknya, pasien yang meletakkan lidahnya ke depan sehingga memberikan tekanan yang
terus-menerus pada gigi, meskipun tekanan yang terjadi kecil tetapi berlangsung lama, dapat
menyebabkan perubahan letak gigi baik jurusan vertikal maupun horizontal. Pada pasien yang
posisi lidahnya normal pada saat menelan tidak banyak pengaruhnya terhadap letak gigi.
Kebiasaan tongue thrusting, yaitu suatu kebiasaan menjulurkan lidah ke depan dan
menekan gigi-gigi seri pada waktu istirahat, selama berbicara atau menelan. Adanya
kebiasaan menjulurkan lidah ke depan ini memungkinkan terjadinya ketidakseimbangan otot-
otot di sekitar lengkung gigi dan otot-otot mulut, sehingga dapat mempengaruhi posisi gigi.
Gigi depan atas akan merongos ke depan dan terjadi gigitan terbuka. Dan apabila menekan
lidah ke pipi sambil menggigitnya maka dapat menyebabkan gigi belakang menjadi miring ke
arah dalam. Terjadi penyimpangan pola menelan dan berbicara yang tidak normal.
Pada umumnya penderita tongue thrust menampilkan ciri tertentu pada ekspresi
wajah pada saat menelan, yaitu bibir menutup dan otot-otot sekeliling mulut tegang pada
posisi istirahat kedua bibir dan lidah menutupi permukaan gigi-gigi bawah atau lidah
menjulur ke depan, bernapas melalui mulut, dan mengisap ibu jari. Kebiasaan menjulurkan
lidah ini biasanya timbul karena adanya pembesaran amandel atau tonsil, lengkung gigi atas
yang menyempit, lidah yang besar, atau karena aspek psikologis.
Menjulurkan lidah merupakan kebiasaan menempatkan lidah dalam posisi yang salah
pada saat menelan, terlalu jauh ke depan atau ke samping. Diperkirakan bahwa setiap 24 jam
menelan 1.200 hingga 2.000 kali, dengan tekanan sekitar 4 pon tiap kali menelan. Tekanan ini
konstan sehingga lidah akan memaksa gigi keluar dari kesejajaran lengkung gigi. Selain
tekanan yang diberikan saat menelan, mengganggu saraf dan juga mendorong lidah terhadap
gigi ketika sedang beristirahat. Ini merupakan kebiasaan, spontan dari alam bawah sadar yang
sulit untuk diperbaiki.
B. Etiologi Tongue thrusting
Sebenarnya, tidak ada penyebab spesifik dari masalah tongue thrust ini. Namun
diduga hal-hal yang dapat menyebabkan tongue thrust tersebut antara lain yaitu :
1. Jenis puting susu buatan yang diberikan pada bayi.
2. Kebiasaan mengisap ibu jari. Walaupun mengisap jari tidak dilakukan lagi, akan tetapi
telah terbentuk openbite maka lidah sering terjulur ke depan untuk mempertahankan
penutupan bagian depan selama proses penelanan.
3. Alergi, hidung tersumbat, atau obstruksi pernapasan sehingga bernafas melalui mulut
yang menyebabkan posisi lidah turun di dasar mulut.
4. Tonsil yang besar, adenoid, atau infeksi tenggorokan yang menyebabkan kesulitan pada
saat menelan. Pangkal lidah membesar ketika tonsil mengalami inflamasi, sehingga
untuk mengatasinya mandibula secara refleks turun ke bawah, memisahkan gigi, dan
menyediakan ruangan yang lebih untuk lidah dapat terjulur ke depan selama menelan,
agar didapat posisi yang lebih nyaman.
5. Ukuran lidah yang abnormal atau macroglossia, dapat mengubah keseimbangan tekanan
lidah dengan bibir dan pipi sehingga incisivus bergerak ke labial.
6. Faktor keturunan, misalnya sudut garis rahang.
7. Kelainan neurologis dan muskular serta kelainan fisiologis lainnya.
8. Frenulum lingual yang pendek (tongue tied).
C. Akibat Tongue thrusting
Kebiasaan menjulurkan lidah ke depan, memungkinkan terjadinya
ketidakseimbangan otot-otot di sekitar lengkung gigi dan otot-otot mulut, sehingga dapat
mempengaruhi posisi gigi. Gerakan menelan dengan posisi lidah menjulur akan menimbulkan
maloklusi pada gigi anak seperti gigi-gigi seri atas dan bawah terdorong ke arah bibir
(protrusi) dan terjadi gigitan terbuka (open bite).
Jika pasien biasa menjulurkan lidah, bibir akan menjadi sedemikian kencang, tetapi
tidak dapat melakukan prosedur penelanan mekanis sampai bibir-bibir membuka rongga
mulut. Dalam mekanisme penelanan yang normal, lidah berada di atap mulut dan ketika
pasien menelan, maka lidah akan melebar dan ikut memberi gaya ekspansi transversal pada
segmen-segmen bukal. Tetapi, pada kasus pasien dengan kebiasaan menjulurkan lidah,
lidahnya tidak menggeser secara vertikal ke arah palatum. Lidah malah bergerak melewati
gigi-gigi anterior dan menyebabkan gigi memencar.
Tongue thrust merupakan akibat lanjut dari anak yang mempunyai kebiasaan
mengisap ibu jari, meski tidak semua anak yang mengisap ibu jari melakukan tongue thrust.
Diagnosa tongue thrust dapat diketahui oleh dokter gigi dengan alat khusus untuk memeriksa
tongue thrust, yaitu dengan alat Linguometer yang dimasukkan ke dalam mulut pasien.
Beberapa masalah yang ditimbulkan akibat tongue thrust, antara lain :
a) Anterior openbite merupakan kasus yang paling umum terjadi akibat tongue thrust.
Dalam kasus ini, bibir depan tidak menutup dan anak sering membiarkan mulutnya
terbuka dengan posisi lidah lebih maju daripada bibir. Secara umum, lidah yang
berukuran besar biasanya disertai menjulurkan lidah. Openbite anterior pada umumnya
mengakibatkan gangguan estetik, pengunyahan maupun gangguan dalam pengucapan
kata-kata yang mengandung huruf “s”, “z”, dan “sh”.
b) Anterior thrust. Gigi incisivus atas sangat menonjol dan gigi incisivus bawah tertarik ke
dalam oleh bibir bawah. Jenis ini paling sering terjadi disertai dengan dorongan
M.mentalis yang kuat.
c) Unilateral thrust. Secara karakteristik, ada gigitan terbuka pada satu sisi.
d) Bilateral thrust. Gigitan anterior tertutup namun gigi posterior dari premolar pertama ke
molar dapat terbuka pada kedua sisinya. Kasus seperti ini pada umumnya sangat sulit
untuk dikoreksi.
e) Bilateral anterior openbite, dimana hanya gigi molar yang berkontak. Pada kasus ini
ukuran lidah yang besar juga mempengaruhi.
f) Closed bite thrust menunjukkan protrusi ganda yang berarti gigi-gigi rahang atas maupun
rahang bawah mengalami gigitan yang terbuka lebar.
Posisi lidah yang tidak normal dan penyimpangan yang dinamakan gerakan lidah
yang normal saat menelan telah lama terkait dengan openbite anterior dan protrusi incisivus
rahang atas. Prevalensi posisi lidah secara anterior relatif tinggi pada anak-anak, Proffit
menyatakan bahwa kondisi ini sering disebut tongue thrust, deviate swallow, visceral
swallow, atau infantile swallow. Dia juga percaya bahwa dua alasan utamanya berhubungan
dengan psikologi (maturasi) dan anatomi (pertumbuhan) anak itu sendiri. Bayi normal
memposisikan lidahnya secara anterior di dalam mulut saat posisi istirahat dan menelan.

Gambar 6. Kebiasaan tongue thrust


Sumber : Palmer, B. The importance of breastfeeding as it relates to the total health
section B Missouri J. 2002

D. Penanganan Tongue thrusting


Penanganan yang bisa dilakukan untuk menghilangkan kebiasaan menyodorkan lidah
pada anak-anak adalah :
a) Terapi bicara
b) Latihan myofunctional
Menarik bibir bawah pasien. Sementara bibir menjauh dari gigi, pasien diminta untuk
menelan. Jika pasien biasa menyodorkan lidahnya, bibir akan menjadi sedemikian kencang
seolah berusaha untuk menarik jari-jari yang menarik bibir pada saat pasien berusaha
menelan. Pasien yang menyodorkan lidah tidak dapat melakukan prosedur penelanan mekanis
sampai bibir-bibir membuka rongga mulut.
c) Latihan lidah
Berlatih meletakkan posisi lidah yang benar saat menelan. Pasien harus belajar
melakukan “klik”. Prosedur ini mengharuskan pasien meletakkan ujung lidah pada atap mulut
dan menghentakkannya lepas dari palatum untuk membuat suara klik. Posisi lidah pada
palatum selama aktivitas ini kira-kira seperti posisi jika menelan dengan tepat. Pasien juga
diminta membuat suara gumaman dimana pasien akan mengisap udara ke dalam atap
mulutnya di sekeliling lidah. Selama latihan ini, lidah secara alamiah meletakkan dirinya ke
atap anterior palatum. Selanjutnya pasien akan meletakkan ujung lidah di posisi ini dan
menelan. Latihan ini dilakukan terus-menerus sampai gerakan otot-otot menjadi lebih mudah
dan alamiah
Bernapas melalui mulut (Mouth breathing)
A. Gambaran Umum Mouth breathing
Kebiasaan bernapas melalui mulut dapat diamati pada orang-orang yang juga
melakukan kebiasaan menjulurkan lidah (mendorong gigi dengan lidah sehingga
menyebabkan terjadinya gigitan terbuka di anterior. Gingivitis juga dapat terlihat pada orang
dengan kebiasaan ini. Perubahan-perubahan pada gingiva, meliputi eritema, edema,
pembesaran gingiva, dan mengkilatnya permukaan gingiva di daerah yang cenderung menjadi
kering. Regio maksila anterior adalah daerah yang sering terlibat. Efek merusak pada
kebiasaan ini biasanya karena iritasi pada daerah yang mengalami kekeringan atau dehidrasi
pada permukaannya. 1
Anak yang bernapas melalui mulut biasanya berwajah sempit, gigi depan atas maju ke
arah labial, serta bibir terbuka dengan bibir bawah yang terletak di belakang insisivus atas.
Karena kurangnya stimulasi muskular normal dari lidah dan karena adanya tekanan berlebih
pada kaninus dan daerah molar oleh otot orbicularis oris dan buccinator, maka segmen bukal
dari rahang atas berkontraksi mengakibatkan maksila berbentuk V dan palatal tinggi.
Sehingga anak dengan kebiasaan ini biasanya berwajah panjang dan sempit.
B. Etiologi Mouth breathing
Kebiasaan bernapas melalui mulut ini dipicu oleh tersumbatnya hidung sebagai
saluran pernapasan normal. Hal ini dapat terjadi karena adanya kelainan anatomi hidung atau
penyakit-penyakit hidung, antara lain polip hidung, sinusitis, rhinitis kronis dan pembesaran
tonsil di belakang hidung. Pada beberapa orang, kebiasaan ini biasanya disertai lemahnya
tonus bibir atas.25
Pernapasan mulut terjadi karena seseorang tidak mampu untuk bernafas melalui
hidung akibat adanya obstruksi pada saluran pernafasan atas. Kebiasaan ini disebabkan oleh
penyumbatan rongga hidung, yang dapat mengganggu pertumbuhan tulang di sekitar mulut
dan rahang, wajah menjadi sempit dan panjang, dan gigi bisa jadi “tonggos”. Pernafasan
mulut menghasilkan suatu model aktivitas otot wajah dan otot lidah yang abnormal. Bernafas
melalui mulut menyebabkan mulut sering terbuka sehingga terdapat ruang untuk lidah berada
di antara rahang dan terbentuklah openbite anterior.
Bernafas melalui hidung berkaitan dengan fungsi-fungsi normal pengunyahan dan
menelan serta postur lidah dan bibir yang melibatkan aksi muskulus yang normal dimana
akan menstimulasi pertumbuhan fasial dan perkembangan tulang yang adekuat. Adaptasi dari
pernafasan hidung ke pernafasan mulut menyebabkan terjadinya beberapa hal yang tidak
sehat, seperti infeksi telinga tengah yang kronis, sinusitis, infeksi saluran nafas atas, gangguan
tidur, dan gangguan pertumbuhan wajah. Pernafasan mulut seringkali berhubungan dengan
penurunan asupan oksigen ke dalam paru-paru, yang dapat menyebabkan berkurangnya
energi. Anak-anak yang bernafas melalui mulut seringkali mudah lemah dalam latihan
olahraga.
Cara bernafas melalui mulut sering merupakan reaksi terhadap berbagai jenis
obstruksi nasal dan/atau nasofaring. Obstruksi nasal tersebut dapat disebabkan oleh alergi,
hipertrofi dan inflamasi tonsil atau adenoid, diviasi septum nasal, pembesaran konka dan
hipertrofi membran mukosa nasal. Jika obstruksi tersebut bersifat sementara, seperti pada
waktu flu dan alergi, maka perubahan struktur ini tidak permanen, tetapi dapat juga menjadi
permanen setelah obstruksi tadi hilang yang mengakibatkan timbulnya kebiasaan bernafas
melalui mulut.
Kegagalan hidung untuk berfungsi sebagai saluran pernafasan utama, akan
menyebabkan tubuh secara otomatis beradaptasi dengan menggunakan mulut sebagai saluran
untuk bernafas. Kegagalan ini biasanya disebabkan oleh karena adanya hambatan atau
obstruksi pada saluran pernafasan atas. Obstruksi pada saluran pernafasan atas dapat
disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu :
1. Faktor psikologis, meliputi anak-anak yang mengalami kecemasan, rasa sakit dan
frustasi, anak-anak dengan retardasi mental, anak-anak yang mengalami trauma
kecelakaan.
2. Faktor lokal, merupakan penyebab terjadinya pernafasan mulut yang disebabkan oleh
keadaan dari gigi dan mulut, meliputi : pencabutan gigi sulung yang terlalu cepat,
kehilangan gigi permanen, adanya gangguan oklusal, seperti kontak prematur antara gigi
atas dan bawah, adanya mahkota atau tumpatan yang tinggi.
3. Faktor sistemik, meliputi :
a. Gangguan endokrin (merupakan penyebab secara tidak langsung). Kelainan endokrin
pascalahir dapat menyebabkan percepatan atau hambatan pertumbuhan muka,
mempengaruhi derajat pematangan tulang, penutupan sutura, resorpsi akar gigi
sulung, dan erupsi gigi permanen.
b. Defisiensi nutrisi, akibat konsumsi nutrisi yang tidak adekuat atau konsumsi nutrisi
yang tidak efisien. Nutrisi yang baik ikut menentukan kesehatan seorang anak,
nutrisi yang kurang
c. baik mempunyai dampak yang menyerupai penyakit kronis. Penyakit kronis pada
anak-anak dapat mengubah keseimbangan energi yang diperlukan untuk
pertumbuhan. Pada anak yang menderita penyakit kronis hampir semua energi yang
didapatkan kadang-kadang kurang mencukupi untuk beraktivitas dan bertumbuh.
d. Gangguan temporomandibular.
e. Infeksi, meliputi : hiperplasia adenoid dan tonsil. Hiperplasia adenoid dan tonsil
biasanya disebabkan oleh karena paparan yang rekuren terhadap infeksi tonsil
(tonsillitis). Tipe infeksi bisa virus seperti influenza, parainfluenza, dan rhinovirus,
maupun bakteri seperti betahemolitik, streptococcus, staphylococcus, pneumococcus,
dan hemophilococcus.
4. Rhinitis alergi merupakan penyakit yang sering dijumpai di masyarakat. Salah satu
penyebab obstruksi jalan nafas hidung pada anak adalah alergi rhinitis, yaitu mukosa
hidung akan mengalami pembengkakan dan selanjutnya menutup aliran udara.
Kebanyakan rhinitis alergi dapat disebabkan oleh adanya partikel-partikel di udara,
rokok, makanan, dan binatang.
5. Malformasi kongenital dan tumor seringkali muncul pada masa kanak-kanak.
Malformasi kongenital seperti stenosis koanal dan atresia bisa hilang cepat. Tumor
meliputi enchephalocle, chordoma, teratoma, cranipharyngioma, serta kista nasoalveolar
dan nasopharingeal.
C. Akibat Mouth Breathing
Kebiasaan bernafas melalui mulut dapat menyebabkan udara yang masuk kemulut
menjadikan vasokonstriksi (pengecilan pembuluh darah) dari pembuluh kapiler di oral
mukosa sehingga memudahkan terkenanya infeksi dan dapat menyebabkan gingivitis
(peradangan gusi). Selain itu juga menyebabkan bau mulut pada orang yang bernafas melalui
mulut karena adanya plak yang melekat pada gigi dan lidah. Akibat lain yang ditimbulkan
yaitu rahang atas sempit, gigi belakang atas miring ke arah dalam, gigi depan atas tonggos
(protrusif) dan terjadi gigitan depan terbuka (openbite).
Gambar 7. Akibat mouth breathing
Sumber: http://atlantagentledental.com/articles/airway/. Accessed on 20th Jun 2011

Bernapas melalui mulut membuat banyak masalah potensial. Jika mulut membuka,
maka mandibula turun. Gigi-giginya tidak beradu di daerah posterior, sehingga memberi
kemungkinan gigi-geligi bererupsi secara berlebihan yang mengakibatkan terjadinya pola
perkembangan high angle skeletal. Pasien harus dapat bernapas melalui hidungnya, jika
mungkin dengan kedua bibir sama sekali rileks. Oleh karena itu, semua pasien yang bernapas
melalui mulut dianjurkan untuk memeriksakan diri pada spesialis telinga, hidung dan
tenggorokan sebelum dimulainya perawatan ortodonti.
Pembesaran jaringan adenoid nasofaring pada anak-anak merupakan faktor yang
sering berperan dalam obstruksi nasal. Jaringan adenoid telah ada setelah umur 6-12 bulan
yang kemudian akan membesar dan kemudian pada umur 2-3 tahun, hampir separuh
nasofaring ditempati oleh jaringan adenoid. Sebelum pubertas, jaringan adenoid akan mulai
mengecil secara perlahan-lahan. Biasanya, pertumbuhan fasial (dengan meningkatnya jarak
antara basis krani dan palatum) cukup untuk memenuhi jalannya udara pernafasan. Jika
ekspansi terjadi, apakah dengan adanya pembesaran abnormal jaringan adenoid, reduksi laju
pertumbuhan tinggi wajah posterior, atau dengan adanya kombinasi kedua hal tersebut, maka
jalan nafas akan menjadi inadekuat. Anak dengan keadaan seperti ini akan bernafas melalui
mulut.
Bernafas melalui mulut diperkirakan dapat mempengaruhi aktivitas otot-otot orofasial
seperti otot bibir, lidah, dan lain-lain. Perubahan aktivitas otot-otot tersebut akan menuntun
terjadinya modifikasi pola pertumbuhan wajah dan postur kepala yang dapat mengakibatkan
timbulnya deformitas dentofasial. Menurut Proffit, bernafas merupakan penentu utama postur
rahang dan lidah (dan sedikit mempengaruhi kepala), oleh sebab itu mungkin saja perubahan
cara bernafas, seperti bernafas melalui mulut dapat merubah postur kepala, rahang, dan lidah.
Hal ini akan merubah ekuilibrium tekanan pada rahang dan gigi dan mempengaruhi
pertumbuhan rahang dan posisi gigi.
Anak-anak yang secara alami disusui pada bulan pertama kelahiran kemungkinan
besar bernafas dari hidung, begitupun berkurangnya menyusui ASI merupakan salah satu
faktor yang memberi kontribusi terjadinya pernafasan oral atau oronasal. Penelitian yang
dilakukan oleh Leite et al yang menganalisis 100 anak-anak berusia antara 2 dan 11 tahun
membuktikan bahwa botol susu merupakan salah satu penyebab pernafasan oral sebesar 40%.
Beberapa akibat yang dapat ditimbulkan oleh kebiasaan bernafas melalui mulut pada
anak-anak antara lain:
a) Bibir rahang atas dan rahang bawah tidak menutup sempurna
Pada bibir penderita pernafasan mulut nampak agak terbuka untuk memungkinkannya
bernafas. Adaptasi mulut untuk pernafasan mulut yang kronis dapat terjadi perubahan dimana
bibir atas dan bibir bawah berada dalam posisi terbuka, akibatnya penderita akan mengalami
kesulitan dalam menelan makanan yang masuk ke dalam mulut.
b) Adenoid facies
Hal ini ditandai dengan penyempitan lengkung rahang atas, hipertrofi dan keringnya
bibir bawah, hipotonus bibir atas dan tampak memendek, tampak adanya overbite yang nyata.
Dikarenakan adanya fungsi yang abnormal, penderita pernafasan mulut memiliki karakteristik
seperti postur mulut terbuka, lubang hidung mengecil dan kurang berkembang, arkus faring
tinggi dan pasien tampak seperti orang bodoh.

Gambar 8. Anak dengan wajah adenoid. Ciri khas anak yang bernafas melalui mulut
Sumber : http://www.entkent.com/tonsils-adenoids.html. Accessed on 19th Jan 2011

Akibat dari fungsi yang abnormal ini, anak-anak yang bernafas dengan mulut
beresiko mengembangkan suatu tipe perkembangan wajah yang disebut “wajah adenoid” atau
sindrom muka panjang. Individu ini dapat ditandai dengan posisi mulut yang terbuka, nostril
yang kecil dan kurang berkembang, bibir atas yang pendek, “gummy smile”, ketinggian muka
vertikal yang meningkat pada 1/3 wajah bagian bawah, ketinggian dentoalveolar yang
berlebihan, dan palatum yang dalam. Selain itu terjadi gingivitis marginal anterior di sekitar
gigi anterior.
c) Maloklusi
d) Gigitan terbuka (openbite)
Pada pernafasan mulut, posisi mandibula lebih ke distal mengakibatkan gigi incisivus
bawah beroklusi dengan rugae palatum. Ketidakteraturan gigi geligi juga dapat ditemui pada
maksila yang kurang berkembang, utamanya pada segmen anteromaksiler serta lengkung
basal yang sempit.
Bruksisme (Bruxism)
A. Gambaran Umum Bruxism
Bruksisme atau yang paling sering dikenal dengan istilah kerot (tooth grinding)
adalah mengatupkan rahang atas dan rahang bawah yang disertai dengan grinding
(mengunyahkan) gigi-gigi atas dengan gigi-gigi bawah. Bruksisme adalah kebiasaan bawah
sadar (sering tidak disadari) walaupun ada juga yang melakukannya ketika tidak tidur.
Bruksisme dapat dilakukan dengan tekanan keras sehingga menimbulkan suara yang keras,
tapi dapat juga tanpa suara yang berarti. Jika bruksisme dilakukan dengan tekanan kerot yang
keras, akan terjadi keausan gigi yang parah dan berlangsung dalam waktu cepat.
Bruksisme biasa terjadi pada anak. Kebiasaan ini biasanya muncul pada malam hari,
dan berlangsung dalam periode waktu yang lama, sehingga dapat menyebabkan gigi sulung
dan gigi permanen abrasi. Kebiasaan ini timbul pada masa gigi-geligi sedang tumbuh. Dan
jika bertahan hingga anak dewasa biasanya disertai dengan adanya stres emosional,
parasomnia, trauma cedera otak, ataupun cacat neurologis, dengan komplikasi erosi gigi, sakit
kepala, disfungsi sendi temporomandibular, dan nyeri pada otot-otot pengunyahan.
Bruxism adalah kebiasaan buruk berupa menggesek-gesek gigi-gigi rahang atas dan
rahang bawah, bisa timbul pada masa anak-anak maupun dewasa. Reding, Rubright, and
Zimmerman melaporkan 15% anak dan remaja dalam studi mereka menunjukkan adanya
beberapa tingkatan bruxism. Biasanya terjadi pada malam hari dan jika dilanjutkan dalam
jangka waktu yang lama bisa berakibat abrasi gigi permanen. Ketika kebiasaan tersebut
berlangsung hingga masa dewasa maka mengakibatkan penyakit periodontal dan atau
gangguan temporomandibular joint. Sebagai tambahan, kasus disfungsi temporomandibular
joint lebih banyak terjadi di kalangan perempuan dewasa daripada laki-laki dewasa.(47,40,4)
Bruxism didefinisikan sebagai gerakan mengerat dan gerakan grinding dari gigi yang
bersifat non-fungsional. Istilah ini dalam literatur sering disebut dengan beberapa istilah yang
lain, yaitu neuralgia traumatic, occlusal habit neurosis, dan parafungsional. Pasien yang
mengalami bruxism (bruxer), biasanya tidak menyadari kebiasaan buruk yang dimilikinya
tersebut, walaupun bruxism kadang-kadang diikuti dengan suara yang mengganggu, namun
pasien yang bersangkutan seringkali baru mengetahui kebiasaan yang dimilikinya itu dari
orang tua atau teman tidurnya. Bruxism dapat juga terjadi pada siang hari, misalnya pada saat
individu yang bersangkutan mengalami stress, namun bruxism yang paling parah adalah
bruxism yang terjadi pada malam hari.
Bruxism pada malam hari terjadi selama tidur dan anak biasanya tidak menyadari
masalah ini. Kejadian ini biasanya singkat, berlangsung 8-9 detik, dengan terdengar suara
grinding. Bruxism pada siang hari terutama terkait dengan mengepalkan dari gigi dan
umumnya tidak menghasilkan suara terdengar. Bruxism yang diamati pada 5-20% anak-anak.
Peningkatan frekuensi selama masa kanak-kanak, memuncak pada usia 7-10 tahun dan
menurun setelah itu.
Gambar 9. Akibat bruxism
Sumber:http://www.nidcr.nih.gov/OralHealth/OralHealthInformation/ChildrensOralHealth/O
ralConditionsChildrenSpecialNeeds.htm. Accessed on 30th Jan 2011

Pada saat tidur di malam hari, biasanya penderita akan mengeluarkan suara gigi-gigi
yang beradu. Bila dilihat secara klinis, tampak adanya abrasi pada permukaan atas gigi-geligi
rahang atas dan rahang bawah. Bila lapisan email yang hilang cukup banyak dapat timbul rasa
ngilu pada gigi-gigi yang mengalami abrasi. Kadang terlihat adanya jejas atau tanda yang
tidak rata pada tepi lidah.
Berdasarkan tipe gerakannya, ada bruxism yang memperlihatkan gerakan grinding
dan ada juga yang memperlihatkan gerakan static clenching, lebih banyak pada perempuan
daripada laki-laki yang menggrinding giginya, tetapi laki-laki dan perempuan yang
melakukan clenching jumlahnya sama. Clark menegaskan bahwa bruxism tipe clenching yang
berhubungan dengan kontraksi muskulus yang kuat dan berkelanjutan adalah lebih berbahaya.
Bruxism lebih sering dimiliki oleh kaum wanita dibandingkan pria.
B. Etiologi Bruxism
Pada beberapa individu kebiasaan bruksisme bersifat herediter. Anak-anak yang
memiliki orangtua dengan kebiasaan bruksisme lebih cenderung melakukan kerot daripada
anak-anak yang orang tuanya tidak mengerot. 1
Hubungan antara kondisi emosional dan tegangan otot sepertinya lebih mudah untuk
dipahami. Peningkatan tegangan otot masseter berhubungan langsung dengan kondisi stres
harian. Ada satu penelitian yang membuktikan bahwa meningkatnya stres (yang ditunjukkan
dengan kandungan epinefrin di urin) berkorelasi dengan meningkatnya aktivitas otot masseter
pada malam hari. Penelitian-penelitian tersebut secara konsisten menunjukkan kuatnya
hubungan antara aktivitas otot masseter yang nonfungsional (dikunyahkan tapi tidak untuk
mengunyah makanan) dengan stres. Pada penelitian lain, ada yang menghubungkan antara
faktor predisposisi dalam rongga mulut, yang berupa hubungan oklusal yang malrelasi atau
adanya sangkutan oklusal atau interferens, yang dapat memicu terjadinya bruksisme jika
dikombinasikan dengan stres atau kondisi cemas.
Pada anak-anak, kadang kebiasaan ini timbul pada masa gigi-geligi sedang tumbuh.
Berikut adalah empat penyebab terjadinya bruxism, antara lain :
1. Faktor psikologis
Etiologi dari bruxism termasuk kebiasaan, stress emosional (misalnya respon
terhadap kecemasan, ketegangan, kemarahan, atau rasa sakit), parasomnia (gangguan tidur
yang muncul pada ambang batas antara saat terjaga dan tidur, misalnya gangguan mimpi
buruk dan gangguan berjalan sambil tidur). Menurut beberapa penelitian yang dianggap
berkaitan dengan manifestasi dari bruxism, antara lain gangguan kepribadian, meningkatnya
stress, adanya depresi, dan kepekaaan terhadap stress.
Anak-anak yang memiliki kebiasaan bruxism ternyata memiliki tingkat
kecemasan yang lebih daripada anak-anak yang tidak memiliki kebiasaan bruxism. Tanda-
tanda bruxism seperti tingkat kecemasan yang tinggi, temporomandibular disorders, dan
kerusakan gigi sebaiknya dirawat pada masa kanak-kanak sebelum menjadi masalah ketika
anak telah tumbuh dewasa.
2. Faktor morfologi
Oklusi gigi geligi dan anatomi skeletal orofasial dianggap terkait dalam
penyebab dari bruxism. Perbedaan oklusal, gangguan oklusal yang bentuknya dapat berupa
trauma oklusal ataupun tonjol yang tajam, gigi yang maloklusi secara historis dianggap
sebagai penyebab paling umum dari bruxism. Disharmoni lokal antara bagian-bagian sistem
alat kunyah yang berdampak pada peningkatan tonus otot di region tersebut juga dipandang
sebagai salah satu etiologi yang hingga saat ini masih dapat diterima banyak kalangan.
3. Faktor patofisiologis
Bruxism kemungkinan terjadi akibat kelainan neurologis yaitu ketidakmatangan
sistem neuromuskular mastikasi, perubahan kimia otak, alkohol, trauma, penyakit, dan obat-
obatan. Hal ini berpotensi sistemik menyebabkan aktivitas parafunctional melalui alergi
makanan, kekurangan gizi, dan disfungsi endokrin. Penyelidikan efek gangguan gizi dan
endokrin bersama dengan parasit pencernaan pada fungsi otot mastikasi, serat kepekaan
terhadap trigeminal sampai potensi alergi kemungkinan berguna untuk penelitian di masa
depan baik temporomandibular disorders dan hiperaktivitas otot mastikasi.
Faktor neurokimia tertentu, yaitu obat-obatan. Efek samping dari obat yang akan
menimbulkan bruxism adalah Amfetamin yang digunakan dalam mengatasi gangguan
attention-deficit/hyperactivity (ADHD) seperti methylphenidate dan pemakaian jangka
panjang Serotonin. Selain itu, bruxism ditemukan lebih sering pada pecandu narkoba berat
serta perokok.
4. Temporomandibular Disorders (TMD)
Penderita TMD cenderung memiliki insiden bruxism yang lebih tinggi dari gangguan
psikologis seperti stress, kecemasan, dan depresi. Faktor-faktor ini dapat menyebabkan
kebiasaan parafunctional. Gabungan dari dua atau lebih faktor etiologi yang diperlukan untuk
menyebabkan terjadinya bruxism, tetapi besarnya faktor-faktor tidak penting dalam kaitannya
dengan besarnya bruxism.

Daftar Pustaka
1. Aztecortholab. 2002. Space regainer and space regainer laboratory.retrived at
http://www.aztecortholab.com/appliances.htm
2. Cameron C Angus and Richard P Widmer.2003. Handbook of Pediatric Dentistry Second
Edition. Mosby Elsevier. China.
3. Omar A. Bawazir. 2009. Evaluation of Space Mainteiners Febricated by Dental Students :
A Retrospective Study. Pakistan Oral & Dental Journal Vol 29, No. 2 (December 2009)
4. Yuniasih EN, Soenawan H, 2006.Menghilangkan kebiasaan menghisap bibir dengan alat
bumper. Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. Edisi Khusus KPPIKG XIV.
5.Trasti. 2007. Pertumbuhan dan pekembangan orokraniofacial yang normal.
FakultasKedokteran Gigi Universitas Indonesia.

Anda mungkin juga menyukai