Anda di halaman 1dari 125

PRAKTEK KERJA LAPANGAN I

EVALUASI MANUAL SMK3, PENERAPAN P3K, DAN GAMBARAN


PEKERJAAN DI CONFINED SPACE
DI LAPINDO BRANTAS, INC
06 JULI 2015 – 25 AGUSTUS 2015

Oleh:
DEBBY DAVIANI PRAWATI
IMANUDIN FAJAR ASHARI
DIHAQ TARIQUL FIRDAUSY

PROGRAM PENDIDIKAN DIPLOMA III


PROGRAM STUDI HIPERKES DAN KESELAMATAN KERJA
FAKULTAS VOKASI
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2015
PRAKTEK KERJA LAPANGAN I

EVALUASI MANUAL SMK3, PENERAPAN P3K, DAN PEKERJAAN DI


CONFINED SPACE
DI LAPINDO BRANTAS, INC
06 JULI 2015 – 25 AGUSTUS 2015

Oleh:
DEBBY DAVIANI PRAWATI 101310113011
IMANUDIN FAJAR ASHARI 101310113040
DIHAQ TARIQUL FIRDAUSY 101310113054

PROGRAM PENDIDIKAN DIPLOMA III


PROGRAM STUDI HIPERKES DAN KESELAMATAN KERJA
FAKULTAS VOKASI
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2015

ii
iii
iv
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan

Karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Laporan Praktek Kerja Lapangan

dengan judul “Evaluasi Manual SMK3, Penerapan P3K, dan Gambaran Pekerjaan di

Confined Space di Lapindo Brantas, Inc.”, sebagai salah satu persyaratan akademis

dalam rangka menyelesaikan pendidikan di Program Pendidikan Diploma III

Program Studi Hiperkes dan Keselamatan Kerja Fakultas Vokasi Universitas

Airlangga.

Laporan Praktek Kerja Lapangan ini dilaksanakan untuk mengenal dan

memahami penerapan Hiperkes dan Keselamatan Kerja, melakukan identifikasi

potensi bahaya, mengevaluasi penerapan SMK3, menilai penerapan P3K dengan

peraturan perundangan yang berlaku, serta melakukan identifikasi bahaya yang ada

di confined space.

Selama melaksanakan Praktek Kerja Lapangan ini, kami telah banyak

mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga kami ingin mengucapkan terima

kasih kepada yang terhormat :

1. Ibu Erwin Dyah Nawawinetu, dr., M.Kes, selaku Ketua Program Pendidikan

Diploma III Program Studi Hiperkes dan Keselamatan Kerja Fakultas Vokasi

Universitas Airlangga.

v
2. Bapak Dr. Abdul Rohim Tualeka, Drs., M.Kes, selaku dosen pembimbing Praktek

Kerja Lapangan.

3. Bapak Agus Wiro selaku pembimbing instansi/lapangan di Lapindo Brantas, Inc.

4. Seluruh karyawan Lapindo Brantas, Inc baik yang ada di head office maupun di

plant terutama Bapak Bambang Handoko selaku HSE Manager, Bapak Taufik

Hidayat selaku HSE Kordinator, Bapak Latief Syukur selaku Safety Officer, Bapak

Nanang, Bapak Ryan, Bapak Khusnul atas waktu dan pengalaman yang diberikan

kepada kami.

5. Teman-teman Hiperkes dan Keselamatan Kerja angkatan 2013.

6. Semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Kami menyadari bahwa laporan yang tersusun ini jauh dari kesempurnaan,

sehingga kritik dan saran sangat kami harapkan. Semoga Laporan Praktek Kerja

Lapangan ini berguna baik bagi diri kami maupun pihak lain yang memanfaatkan.

Surabaya, 4 Oktober 2015

vi
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ii

HALAMAN PENGESAHAN iii

HALAMAN PERSETUJUAN iv

KATA PENGANTAR v

DAFTAR ISI vii

DAFTAR TABEL x

DAFTAR GAMBAR xii

DAFTAR LAMPIRAN xiii

BAB I PENDAHULUAN 1

1.1 Latar Belakang 1

1.2 Identifikasi Masalah 6

1.3 Rumusan Masalah 8

BAB II TUJUAN DAN MANFAAT 9

2.1 Tujuan Praktek Kerja Lapangan 9

2.1.1 Tujuan Umum 9

2.1.2 Tujuan Khusus 9

2.2 Manfaat Praktek Kerja Lapangan 10

2.2.1 Manfaat bagi Mahasiswa 10

vii
2.2.2 Manfaat bagi Perguruan Tinggi 10

2.2.3 Manfaat bagi Instansi 11

BAB III METODE KEGIATAN 12

3.1 Rancangan Praktek Kerja Lapangan 12

3.2 Waktu dan Lokasi Praktek Kerja Lapangan 12

3.2.1 Waktu Praktek Kerja Lapangan 12

3.2.2 Lokasi Praktek Kerja Lapangan 12

3.3 Teknik Pengumpulan Data 13

3.3.1 Pengumpulan Data Primer 13

3.3.2 Pengumpulan Data Sekunder 13

3.3.3 Tahap Pelaksanaan PKL 14

3.3.4 Rincian Pelaksanaan PKL 15

BAB IV HASIL KEGIATAN 28

4.1 Sejarah Singkat Perusahaan 28

4.1.1 Lokasi Perusahaan 28

4.1.2 Perkembangan Perusahaan 29

4.2 Visi dan Misi Perusahaan 33

4.2.1 Visi Perusahaan 33

4.2.2 Misi Perusahaan 33

4.3 Bahan dan Proses Produksi 34

4.3.1 Bahan Produksi 34

viii
4.3.2 Proses Produksi 35

4.4 Komitmen dan Kebijakan Perusahaan 38

4.4.1 Komitmen Perusahaan 38

4.4.2 Kebijakan Perusahaan 39

4.5 Organisasi Perusahaan 40

4.5.1 Struktur Organisasi Perusahaan 40

4.5.2 Struktur Komite K3LL 41

4.5.3 Struktur P2K3 Perusahaan 41

4.6 Program Kerja Perusahaan 42

4.6.1 Pengukuran Kebisingan 42

4.6.2 Inspeksi Safety Sign 44

4.7 Hasil audit confined space 47

BAB V PEMBAHASAN 52

5.1 Evaluasi SMK3 52

5.1.1 Pengertian SMK3 52

5.1.2 Dasar Hukum SMK3 53

5.1.3 Konsep Sistem Manajemen K3 53

5.2 Penerapan P3K di Lapindo Brantas,Inc 68

5.2.1 Definisi P3K 68

5.2.2 Landasan Hukum 69

5.2.3 Maksud, Tujuan, dan Sasaran 70

ix
5.2.4 Petugas P3K 73

5.2.5 Pelaksanaan P3K 76

5.2.6 Fasilitas P3K 76

5.2.6.1 Ruang P3K 76

5.2.6.2 Kotak P3K dan Isi 77

5.2.6.3 Alat Evakuasi dan Transportasi 77

5.2.7 Pengawasan P3K 78

5.3 Gambaran Pekerjaan di Confined Space 78

5.3.1 Pengertian Confined Space 78

5.3.2 Dasar Hukum Confined Space 79

5.3.3 Persyaratan Masuk Confined Space 80

5.3.4 Persyaratan Kesehatan 82

5.3.5 Sistem Perijinan 84

5.3.6 Izin Kegiatan 85

5.3.7 Gambaran Confined Space di LBI 86

BAB VI PENUTUP 92

6.1 Kesimpulan 92

6.2 Saran 92

DAFTAR PUSTAKA 93

LAMPIRAN 94

x
DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Jadwal Kegiatan PKL Secara Umum 15

Tabel 3.2 Jadwal Kegiatan PKL Mahasiswa 15

Tabel 4.1 Bahan Baku Proses Produksi 34

Tabel 4.2 Pengukuran Kebisingan 42

Tabel 4.3 Inspeksi Safety Sign 44

Tabel 4.4 Hasil audit Confined Space 47

Tabel 5.1 Jumlah petugas P3K 74

Tabel 5.2 Jumlah kotak P3K 74

Tabel 5.3 Isi kotak P3K 77

Tabel 5.4 Contoh Ruang Terbatas 86

xi
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Skema Proses Produksi 35

Gambar 2 Struktur Organisasi Perusahaan 40

Gambar 3 Struktur Komite K3LL 41

Gambar 4 Struktur P2K3 41

Gambar 5 Gambaran Prinsip Dasar Penerapan K3 54

xii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat Panggilan PKL dan Tata Tertib PKL

Lampiran 2 Komitmen dan Kebijakan Lapindo Brantas, Inc

Lampiran 3 Form Ijin Masuk

Lampiran 4 Form Daftar Ijin Kerja

Lampiran 5 Form Ijin Kerja Dingin

Lampiran 6 Form Ijin Kerja Panas

Lampiran 7 Form Daftar Petugas P3K

Lampiran 8 Form Daftar Pengawasan Kesehatan

Lampiran 9 Form Jadwal Pemantauan Lingkungan Kerja

Lampiran 10 Petunjuk Daerah Pemakaian APD

Lampiran 11 Standar Pemakaian APD

xiii
BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Penerapan teknologi maju dalam proses produksi di berbagai

perusahaansemakin meningkat, sehingga bahaya yang dihasilkan juga semakin

beraneka ragamdan dapat berakibat buruk pada pekerjaan serta lingkungan

kerja.Sehinggaapabila tidak dikendalikanmaka dapat mengakibatkan gangguan

kesehatan atau penyakit. Bahaya yang dapat timbul diantaranya suhu ekstrim,

kebisingan, getaran, radiasi, penerangan ditempat kerja serta tekanan udara

ektrim. Untuk mengontrol seluruh bahaya keselamatan dan kesehatan kerja maka

harus ada manajemen kesehatan dan keselamatan kerja untuk mengurangi potensi

bahaya yang mungkin akan muncul dan dapat membahayakan para pekerja.

K3 memiliki tujuan untuk mencegah, mengurangi bahkan menihilkan

resiko kecelakaan kerja (zero accident). Penerapan konsep sebagai bentuk

investasi jangka panjang yang memberikan keuntungan yang berlimpah di masa

yang akan datang, bukan sebagai program yang menghabiskan biaya perusahaan.

Pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah suatu upaya

untuk menciptakan tempat kerja yang aman dari bahaya kecelakaan, sehat, bebas

dari pencemaran lingkungan, sehingga dapat mengurangi terjadinya angka

kecelakaan kerja, yang pada akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan

produktifitas kerja.

1
Banyak faktor penyebab terjadinya suatu kecelakaan, yang dapat

dikelompokkan menjadi 2yaitu,pertama adalahkondisi berbahaya (unsafe

condition)adalah keadaan yang tidak aman dari mesin, peralatan, bahan,

lingkungan kerja, proses kerja, sifat pekerjaan dan cara kerja. Kedua

adalahperbuatan berbahaya (unsafe act) adalah perbuatan bahaya dari manusia

yang dapat terjadi karena kurangnya pengetahuan dan keterampilan pelaksana,

ketelitian dan kelemahan daya tahan tubuh, serta sikap dan perilaku kerja yang

tidak baik.

Lapindo Brantas Inc merupakan salah satu perusahaan kontraktor

kerjasama yang ditunjuk SKKMIGAS untuk melakukan eksploitasi dan

eksplorasi migas di wilayah Sidoarjo, Jawa Timur. Produk yang dihasilkan

berupa CNG yang dibuat dengan melakukan kompresi metana (CH4) yang di

ekstrak dari gas alam (propana, butana dan lain-lain). Produk ini memiliki

komposisi gas metana lebih dari 90% dan digunakan sebagai bahan bakar gas.

Bahan baku yang digunakan adalah gas alam yang kemudian akan di

proses, dalam proses produksinya sekitar 95% menggunakan tenaga mesin dan

peralatan berteknologi tinggi seperrti gas kompresor, separator, GDU dan

metering unit serta beberapa bahan kimia(glicol) yang diperlukan untuk proses

penyerapan air pada gas. Dengan adanya proses produksi yang menggunakan

tenaga mesin maka dapat dipastikan adanya resiko kesehatan dan keselamatan

yang mungkin terjadi di Lapindo Brantas Inc. Bahaya yang dapat terjadi adalah

kebisingan, kebocoran, ledakan, kebakaran, iritasi dan lain sebagainya.

2
Penerapan kesehatan dan keselamatan kerja wajib diperhatikan untuk

melindungi pekerja dari bahaya kesehatan dan keselamatan kerja, kerugian dan

kerusakan harta benda serta masyarakat dari pencemaran dan kerusakan

lingkungan. Penerapan beberapa program K3 perlu dilakukan untuk mencegah

terjadinya resiko K3 yang berpotensi di perusahaan.

Pada tahun 2005 Lapindo Brantas Incmenerapkan Sistem Manajemen

Kesehatan Keselamatan Kerja dan Lindungan Lingkungan. Kemudian dengan

terbitnya PP Nomer 50 Tahun 2012 maka Lapindo Brantas Incmelakukan

perubahan dokumen SMK3LL menjadi Sistem Manajemen Kesehatan

Keselamatan Kerja (SMK3)dan Sistem Manajemen Lingkungan (SML). Dari

hasil evaluasi manajemen terkait SMK3 dan SML yang ada ternyata memiliki

kerangka berfikir yang sama yaitu “Plan, Do, Check, Action”, maka Manajemen

Lapindo Brantas Incmerevisi dokumen yang ada menjadi Sistem Manajemen

Kesehatan Keselamatan Keja dan Lindungan Lingkungan

(SMK3LL).Penggabungan ini, pada dasarnya adalah memperluas aspek

perencanaan terkait dengan analisis resiko kecelakaan kerja dengan memasukkan

aspek pengelolaan dampak lingkungan.

Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (SMK3) maupun

Sistem Manajemen Lingkungan (SML) adalah bagian dari sistem manajemen

perusahaan secara keseluruhan dalam rangka pengendalian risiko yang berkaitan

dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien,

produktif, dan tidak membahayakan lingkungan masyarakat sekitar tempat kerja.

3
Berbagai cara dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan adanya bahaya

tetapi tidak mungkin bahaya tersebut dihilangkan karenamanusia pun tidak dapat

mengendalikan apa yang akan terjadi nanti, sehingga perlu tindakan pertolongan

pertama.

Pertolongan pertama (P3K) adalah upaya pertolongan dan perawatan

sementara terhadap korban kecelakaan sebelum mendapat pertolongan yang lebih

sempurna dari dokter atau paramedic (Suharni,2011).Perawatan luka adalah

penangananluka sehingga dapat membantu proses penyembuhan luka

(Kusyati,2003).

Berikut merupakan usaha secara umum yang perlu dialakukan

semaksimal mungkin ketika terjadi kecelakan:

1. Menyelamatkan nyawa korban

2. Meringankan penderitaan serta mencegah agar cedera tidak semakin

parah

3. Mempertahankan daya tahan tubuh korban hingga pertolongan lebih

baik dapat diberikan.

Namun dalam mengeksploarasi dan mengeksploitasi minyak dan gas

membutuhkan tiga parameter peting dalam hal tersebut yaitu High Technology

(membutuhkan teknologi yang tinggi), High Risk (memiliki resiko yang tinggi),

High Cost (membutuhkan biaya yang besar). Dalam dunia minyak dan gas

tersebut salah satunya memiliki Ruang terbatas (Confined spaces) mengandung

beberapa sumber bahaya baik yang berasal dari bahan-bahan kimia yang

mengandung racun dan mudah terbakar dalam bentuk gas, uap, asap, debu, dsb.

4
Selain itu masih terdapat bahaya lain berupa terjadinya oksigen defisiensi atau

sebaliknya kadar oksigen yang berlebih, suhu yang ekstrem, terjebak atau

terliputi (Engulfment), maupun resiko fisik lainnya yang timbul seperti

kebisingan, permukaan yang basah/licin dan kejatuhan benda keras yang

terdapat dalam ruang terbatas, yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja dan

menimbulkan cedera ringan hingga sampai dengan kematian tenaga kerja yang

bekerja di dalamnya. Dalam usaha pencegahan terjadinya kecelakaan kerja dan

penyakit akibat kerja yang ditimbulkan oleh hal-hal tersebut diatas, maka

diperlukan adanya pendidikan dan pelatihan K3 tentang Ruang Terbatas

(Confined spaces). Keharusan tersedianya personil dengan kompetensi sebagai

petugas K3 Ruang Terbatas (Confined spaces) di perusahaan berdasarkan

keputusan Dirjen Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan Kep. No.

113/DJPPK/IX/ 2006. Program pelatihan kompetensi petugas K3 utama di ruang

terbatas (Confined space) merupakan program kerjasama penyelenggara dan

Kemenakertrans RI untuk mempersiapkan petugas-petugas K3 Utama di

perusahaan, yang mampu bekerja secara aman dan dapat melaksanakan prosedur

kerja di ruang terbatas untuk memenuhi ketentuan pemerintah SE.NO.

01/DJPPK/I/2011 tentang kompetensi, kurikulum dan persyaratan

khusus Petugas Keselamatan & Kesehatan Kerja Utama Ruang Terbatas

(Confined space).

5
I.2 Identifikasi Masalah

Lapindo Brantas Inc merupakan yang merupakan salah satu perusahaan

Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang ditunjuk SKKMIGAS untuk

melakukan proses pengeboran minyak dan gas bumi di Indonesia. Dalam

kegiatan operasinya, selain menggunakan tenaga manusia perusahaan juga

menggunakan mesin produksi sebagai penunjang kegiatan operasional

perusahaan. Oleh karena itu penerapanSMK3LL merupakan suatu bagian

terpenting dalam setiap kegiatan operasional perusahaan. Hal ini juga sesuai

dengan Peraturan Pemeintah No. 50 Tahun 2012 tentang Penerapan SMK3 dan

ISO 14000 tentang Sistem Manajemen Lingkungan, maupun OHSAS 18001

Tentang Sistem Mnajemen K3.

Sistem Manajemen Kesehatan Keselamatan Kerja dan Lindungan

Lingkungan merupakan bagian dari sistem manajemen secara keseluruhan yang

meliputi struktur organisasi, perencanaan, tanggung-jawab, pelaksanaan,

prosedur, proses dan sumber daya yang dibutuhkan bagi pengembangan,

penerapan, pencapaian, pengajian danpemeliharaankebijakan Kesehatan,

Keselamatan Kerja dan Lindungan Lingkungan dalam rangka pengendalian

resiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang

aman, efisien dan produktif.

Maka dari itu Lapindo Brantas Incmelakukan revisi Manual Book

SMK3LL yang dapat digunakan sebagai buku panduan. Manual SMK3 meliputi

kebijakan, tujuan, rencana, prosedur K3, instruksi kerja, formulir, catatan dan

6
tanggung jawab serta wewenang tanggung jawab K3 untuk semua tingkatan

dalam perusahaan (PP Nomer 50 Tahun 2012).

Berbagai cara dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan adanya

bahaya tetapi tidak mungkin bahaya tersebut dihilangkan karenamanusia pun

tidak dapat mengendalikan apa yang akan terjadi nanti sehingga perlu tindakan

pertolongan pertama.

Pertolongan pertama (P3K) adalah upaya pertolongan dan perawatan

sementara terhadap korban kecelakaan sebelum mendapat pertolongan yang lebih

sempurna dari dokter atau paramedic (Suharni,2011).Perawatan luka adalah

penangananluka sehingga dapat membantu proses penyembuhan luka

(Kusyati,2003).

Ruang terbatas (Confined spaces) mengandung beberapa sumber bahaya

baik yang berasal dari bahan-bahan kimia yang mengandung racun dan mudah

terbakar dalam bentuk gas, uap, asap, debu, dsb. Selain itu masih terdapat bahaya

lain berupa terjadinya oksigen defisiensi atau sebaliknya kadar oksigen yang

berlebih, suhu yang ekstrem, terjebak atau terliputi (Engulfment), maupun resiko

fisik lainnya yang timbul seperti kebisingan, permukaan yang basah/licin dan

kejatuhan benda keras yang terdapat dalam ruang terbatas, yang dapat

mengakibatkan kecelakaan kerja dan menimbulkan cedera ringan hingga sampai

dengan kematian tenaga kerja yang bekerja di dalamnya. Dalam usaha

pencegahan terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang

ditimbulkan oleh hal-hal tersebut diatas, maka diperlukan adanya pendidikan dan

pelatihan K3 tentang Ruang Terbatas (Confined spaces). Keharusan tersedianya

7
personil dengan kompetensi sebagai petugas K3 Ruang Terbatas (Confined

spaces) di perusahaan berdasarkan keputusan Dirjen Pembinaan Pengawasan

Ketenagakerjaan Kep. No. 113/DJPPK/IX/ 2006. Program pelatihan kompetensi

petugas K3 utama di ruang terbatas (Confined space) merupakan program

kerjasama penyelenggara dan Kemenakertrans RI untuk mempersiapkan petugas-

petugas K3 Utama di perusahaan, yang mampu bekerja secara aman dan dapat

melaksanakan prosedur kerja di ruang terbatas untuk memenuhi ketentuan

pemerintah SE.NO. 01/DJPPK/I/2011 tentang kompetensi, kurikulum dan

persyaratan khusus Petugas Keselamatan & Kesehatan Kerja Utama Ruang

Terbatas (Confined space).

I.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan beberapa

masalah, antara lain:

1. Bagaimana gambaran penerapan Sistem Manajemen Kesehatan

Keselamatan Kerja (SMK3) di Lapindo Brantas Inc?

2. Bagaimana bentuk penerapan P3K di Lapindo Brantas Inc?

3. Bagaimana gambaran pelaksanaan bekerja di ruang terbatas (Confined

space)?

8
BAB II

TUJUAN DAN MANFAAT

II.1.Tujuan Praktik Kerja Lapangan

II.1.1.Tujuan Umum

Tujuan umum dari pelaksanaan PKL ini adalah untuk

memperolehpengalaman keterampilan, penyesuaian sikap

danpenghayatanpengetahuan di dunia kerja dalam rangka memperkaya

pengetahuan, sikap dan keterampilan yang sudah didapat dalam bidang

keselamatan dan kesehatan kerja (K3) serta mempelajari penerapan

Kesehatan Keselamatan Kerja di Lapindo Brantas Inc.

II.1.2.Tujuan Khusus

a. Mengetahuibagaimana penerapan Sistem Manajemen Kesehatan

Keselamatan Kerja dan Lindungan Lingkungan di Lapindo

Brantas Inc.

b. Mengerti pengertian dan penerapan emergency respons plans

c. Mengerti penanganan dan penerapan pertolongan pertama pada

kecelakaan

d. Mengetahui gambaran pelaksanaan bekerja di ruang terbatas

(Confined space)?

e. Mengetahui apa saja upaya pencegahan untuk menghindari

terjadinya kecelakaan di ruang terbatas (Confined space)

9
II.2.Manfaat Penelitian

II.2.1.Bagi Mahasiswa

a. Mengaplikasikan teori yang telah didapat selama menempuh

pendidikan di D3 Hiperkes dan Keselamatan Kerja, Universitas

Airlangga.

b. Mendapatkan pengetahuan tambahan dan bimbingan mengenai

pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Lapindo

Brantas Inckhususnya Sistem Manajemen Kesehatan dan

Keselamatan Kerja dan Sistem Manajemen Lingkungan.

c. Sebagai sarana latihan dan penerapan ilmu pengetahuan

perkuliahan khususnya dalam bidang K3 di Perusahaan

II.2.2.Bagi Program Studi Hiperkes dan Keselamatan Kerja

a. Sebagai sarana untuk menjalin relasi antara Prodi D3 Hiperkes

dan Keselamatan Kerja, Universitas Airlangga dengan Lapindo

Brantas Inc.

b. Sebagai gambaran nyata mengenai dunia Keselamatan dan

kesehatan kerja di Lapindo Brantas Inc. sehingga dapat dijadikan

bahan referensi untuk perkuliahan sekaligus sebagai motivasi agar

mahasiswa lebih giat belajar.

c. Mencetak calon tenaga kerja yang terampil dalam melaksanakan

tugas dan pekerjaan.

10
II.2.3.Bagi Perusahaan

a. Membantu pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja di

Lapindo Brantas Incbaik secara teknis maupun administratif.

b. Merupakan sarana untuk menjembatani antara perusahaan atau

instansi dengan lembaga pendidikan untuk bekerjasama lebih

lanjut baik bersifat akademis maupun non akademis.

c. Perusahaan dapat melihat tenaga kerja yang potensial dikalangan

mahasiswa sehingga apabila suatu saat perusahaan membutuhkan

karyawan bisa merekrut mahasiswa tersebut.

d. Perusahaan dapat memperoleh bantuan pemikiran dan tenaga

dalam rangka meningkatkan kinerja perusahaan.

e. Dapat melaksanakan salah satu bentuk tanggung jawab sosial

perusahaan kepada masyarakat.

11
BAB III

METODE KEGIATAN

III.1.Rancangan Praktik Kerja Lapangan

Praktik Kerja Lapangan dilakukan secara observasional. Data

yangterkumpul dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam narasi, serta

memberikan gambaran tentang suatu keadaan secara obyektif.

III.2.Waktu dan Lokasi Praktik Kerja Lapangan

III.2.1.Waktu Praktik Kerja Lapangan

Pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan dimulai pada tanggal 06Juli

2015 – 25 Agustus 2015. Waktu praktik kerja lapangan disesuaikan

dengan jam kerja Lapindo Brantas IncSidoarjo yaitu dimulai hari senin

hingga jum’at pukul 07.00 – 15.30 WIB untuk bulan Ramadhan,

dandimulai hari senin hingga jum’at pukul 07.00 – 16.00 WIB untuk

selain bulan ramadhan.

III.2.2.Lokasi Praktik Kerja Lapangan

Praktik Kerja Lapangan di laksanakan di:

Nama Perusahaan : Lapindo Brantas Inc

Alamat Perusahaan : Jl. Kahuripan Nirwana Kav 4-7 No.8 Sidoarjo

Gas Plant : Wunut

No.Telp Perusahaan : 031-8912638

12
III.3.Teknik Pengumpulan Data

III.3.1.Pengumpulan Data Primer

Pengumpulan data primer dengan metode wawancara dilakukan

secara langsung kepada Manajer HSE dan Staff, termasuk pembimbing

lapangan selama melakukan Praktik Kerja Lapangan di Lapindo Brantas

Inc. Wawancara yang dilakukan tergolong wawancara terbuka (tanpa

kuisioner khusus/list pertanyaan khusus) karena proses wawancara juga

dilaksanakan tanpa merencanakan siapa saja yang akan dijadikan

responden.

III.3.2. Pengumpulan Data Sekunder

Data sekunder merupakan data yang bersumber dari benda tertulis

seperti buku, dokumen perusahaan, dan peraturan atau kebijakan di

Lapindo Brantas Inc, pencatatan dan pelaporan lain yang mendukung

penelitian ini, dan juga data beserta foto hasil kegiatan penerapan

keselamatan kesehatan kerja (K3).

a. Teknik Pengolahan dan Analisis Data

Setelah data yang dibutuhkan terkumpul, baik secara primer

maupun sekunder maka akan dilakukan pengolahan dan analisis data,

dan hasilnya akan dianalisis dengan menggunakan teori yang

relevan.Kemudian hasil tersebut disajikan dalam bentuk narasi. Analisa

13
dan pembahasan yang dilakukan dengan cara menyusun laporan

kegiatan selama praktek kerja lapangan dengan membahas permasalahan

yang ada di perusahaan setelah berdiskusi dan berkonsultasi dengan

pihak terkait di perusahaan dan dosen pembimbing Universitas.

Hasil pengumpulan, pengolahan dan analisis data tersebut

digunakan untuk menarik kesimpulan dan rekomendasi yang kami

berikan sebagai hasil akhir laporan PKL di Lapindo Brantas Inc.

III.3.3 Tahap Pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan

Praktik Kerja Lapangan dibagi dalam beberapa tahapan kegiatan,

antara lain:

1. Pengarahan pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan oleh Dosen

Pembimbing.

2. Pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan di Lapindo Brantas Inc.

3. Pembuatan laporan Praktik Kerja Lapangan beserta bimbingan

laporan.

4. Penyerahan laporan hasil Praktik Kerja Lapangan di perusahaan.

14
Tabel 3.1 Jadwal Kegiatan Praktik Kerja Lapangan

Jenis kegiatan Minggu ke -

1 2 3 4 5

Penetapan tujuan

Survey dan studi

pustaka

Identifikasi masalah

Penyelesaian masalah

Penyusunan laporan

III.3.4Rincian Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan

Tabel 3.2 Kegiatan Mahasiswa

Tanggal Pukul Tempat Kegiatan Pembimbing

06-07- 07.00- Kahuripan Pengenalan video Pak Agus


2015 09.00 Nirwana tentang safety Wiro
induction di
Lapindo Brantas
Inc

09.00- Kahuripan Penjelasan Pak Bambang


12.00 Nirwana kegiatan PKL oleh Handoko Pak
Manajer HSE Taufik
Hidayat

15
12.00- Kahuripan Istirahat dan Sholat

13.00 Nirwana

13.00- Kahuripan Penjelasan Gas Pak Taufik

15.30 Nirwana alam

07-07- 07.00- Kahuripan Penjelasan Gas Pak Taufik,

2015 12.00 Nirwana alam, review Pak Bambang

Manual SMK3

12.00- Kahuripan Istirahat dan Sholat

13.00 Nirwana

13.00- Kahuripan Penjelasan Gas Pak Taufik

15.30 Nirwana alam

08-07- 07.00- Wunut Safety Briefing Pak Latief

2015 08.30 Syukur

08.30- Wunut Membersihkan

12.00 tempat
Pak Latief
penampungan
Syukur
semetara limbah

B3

16
12.00- Wunut Istirahat dan Sholat

13.00

13.00- Wunut Membersihkan

15.30 tempat
Pak Latief
penampungan
Syukur
semetara limbah

B3

09-07- 07.00- Wunut Safety Briefing Pak Latief

2015 08.30 Syukur

08.30- Wunut, Membersihkan

10.00 Kahuripan tempat


Pak Latief
Nirwana penampungan
Syukur, Pak
semetara limbah
Bambang
B3, review Manual

SML

10.00- Wunut Pengajian Rutin

12.00

12.00- Wunut Istirahat dan Sholat

13.00

13.00- Wunut Observasi Plant Pak Latief

17
15.30 Syukur

10-07- 07.00- Kahuripan Pengerjaan tugas Pak Taufik

2015 12.00 Nirwana dari Pak Taufik

12.00- Kahuripan Istirahat dan Sholat

13.00 Nirwana

13.00- Kahuripan Pengerjaan tugas Pak Taufik

15.30 Nirwana dari Pak Taufik

11-07- LIBUR

2015

12-07- LIBUR

2015

13-07- 07.00- Kahuripan Pengerjaan tugas Pak Taufik

2015 12.00 Nirwana dari Pak Taufik

12.00- Kahuripan Istirahat dan Sholat

13.00 Nirwana

13.00- Kahuripan Pengerjaan tugas Pak Taufik

15.30 Nirwana dari Pak Taufik

14-07- 07.00- Kahuripan Pengerjaan tugas Pak Taufik

2015 12.00 Nirwana dari Pak Taufik

18
12.00- Kahuripan Istirahat dan Sholat

13.00 Nirwana

13.00- Kahuripan Pengerjaan tugas Pak Taufik

15.30 Nirwana dari Pak Taufik

15-07-

2015 s/d
CUTI LIBUR LEBARAN

22-07-

2015

23-07- 07.00- Kahuripan Pengerjaan tugas Pak Taufik

2015 12.00 Nirwana dari Pak Taufik

12.00- Kahuripan Istirahat dan Sholat

13.00 Nirwana

13.00- Kahuripan Pengerjaan tugas Pak Taufik

16.30 Nirwana dari Pak Taufik

24-07- 07.00- Kahuripan Pengerjaan tugas Pak Taufik

2015 12.00 Nirwana dari Pak Taufik

12.00- Kahuripan Istirahat dan Sholat

13.00 Nirwana

13.00- Kahuripan Pengerjaan tugas Pak Taufik

19
16.30 Nirwana dari Pak Taufik

25-07- LIBUR

2015

26-07- LIBUR

2015

27-07- 07.00- Kahuripan Pengerjaan tugas Pak Taufik

2015 12.00 Nirwana dari Pak Taufik

12.00- Kahuripan Istirahat dan Sholat

13.00 Nirwana

13.00- Kahuripan Pengerjaan tugas Pak Taufik

16.00 Nirwana dari Pak Taufik

28-07- 07.00- Kahuripan Pengerjaan tugas Pak Taufik

2015 12.00 Nirwana dari Pak Taufik

12.00- Kahuripan Istirahat dan Sholat

13.00 Nirwana

13.00- Kahuripan Pengerjaan tugas Pak Bambang

16.30 Nirwana dari Pak Taufik Handoko

21.00- Wunut Izin Pak Latief

24.00 Syukur

20
29-07- 07.00- Wunut Pengerjaan tugas Pak Taufik

2015 10.00 dari Pak Taufik

10.00- Wunut Pengajian dan Seluruh

12.00 Halal bihalal Karyawan

12.00- Wunut Istirahat dan Sholat

13.00

13.00- Wunut Monthly Sefety Dept.

16.00 Meeting Maintanence,

Dept.

Produksi,

HSE, dll

30-07- 07.00- Wunut Safety Briefing Pak Latief

2015 08.30 Syukur

08.30- Wunut 12 Melihat Pekerja

12.00 pemasangan pipa

penyangga.

12.00- Wunut Istirahat dan Sholat

13.00

21
13.00- Wunut Pengukuran Sign Pak Latief

16.00 di plant Syukur

31-07- 07.00- Kahuripan Pengerjaan tugas Pak Taufik

2015 12.00 Nirwana dari Pak Taufik

12.00- Kahuripan Istirahat dan Sholat

13.00 Nirwana

13.00- Kahuripan Pengerjaan tugas Pak Taufik

17.00 Nirwana dari Pak Taufik

01-08- LIBUR

2015

02-08- LIBUR

2015

03-08- 07.00- Kahuripan Pengerjaan tugas Pak Taufik

2015 12.00 Nirwana dari Pak Taufik

12.00- Kahuripan Istirahat dan Sholat

13.00 Nirwana

13.00- Kahuripan Pengerjaan tugas Pak Taufik

16.00 Nirwana dari Pak Taufik

04-08- 07.00- Kahuripan Pembuatan Mahasiswa

22
2015 10.00 Nirwana Laporan PKL

10.00- Kahuripan HSE Meeting Pak Bambang

12.00 Nirwana Handoko, Pak

Taufik

Hidayat, Pak

Agus Wiro,

Pak Ryan

12.00- Kahuripan Istirahat dan Sholat

13.00 Nirwana

13.00- Kahuripan Pembuatan Mahasiswa

17.00 Nirwana Laporan PKL

05-08- 07.00- Kahuripan Pembuatan Mahasiswa

2015 12.00 Nirwana Laporan PKL

12.00- Kahuripan Istirahat dan Sholat

13.00 Nirwana

13.00- Kahuripan Pembuatan Mahasiswa

16.00 Nirwana Laporan PKL

23
06-08- 07.00- Kahuripan Pembuatan Mahasiswa

2015 12.00 Nirwana Laporan PKL

12.00- Kahuripan Istirahat dan Sholat

13.00 Nirwana

13.00- Kahuripan Pembuatan Mahasiswa

16.30 Nirwana Laporan PKL

07-08- IZIN

2015

08-08- LIBUR

2015

09-08- LIBUR

2015

10-08- 07.00- Wunut Pembuatan Pak Khusnul

2015 12.00 Laporan PKL

12.00- Wunut Istirahat dan Sholat

13.00

13.00- Wunut Pembuatan Pak Khusnul

16.00 Laporan PKL

24
11-08- 07.00- Wunut Plant Tour Pak Khusnul

2015 12.00

12.00- Wunut Istirahat dan Sholat

13.00

13.00- Wunut Plant Tour Pak Khusnul

16.00

12-08- 07.00- Wunut Pengukuran Pak Ihsan

2015 12.00 bersama BLH pada (BLH)

Inlet, Outlet, dan

Evaporation pond

12.00- Wunut Istirahat dan Sholat

13.00

13.00- Wunut Perbaikan dan Pak Latif

16.00 Pembaharuan Syukur

kotak P3K di plant

dekat Tempat

Pembuangan

Sementara B3

13-08- 07.00- Kahuripan Pembuatan Mahasiswa

2015 12.00 Nirwana Laporan PKL

25
12.00- Kahuripan Istirahat dan Sholat

13.00 Nirwana

13.00- Wunut Pembuatan Mahasiswa

16.00 Laporan PKL

14-08- 07.00- Wunut Lomba 17 Agustus Karyawan

2015 12.00

12.00- Wunut Istirahat dan Sholat

13.00

13.00- Wunut Pembuatan Mahasiswa

16.00 Laporan PKL

15-08- LIBUR

2015

16-08- LIBUR

2015

17-08- LIBUR

2015

18-08- 07.00- Wunut Pembuatan Pak Fatkur

26
2015 12.00 Laporan PKL

12.00- Wunut Istirahat dan Sholat

13.00

13.00- Wunut Pembuatan Pak Fatkur

14.00 Laporan PKL

14.00- Kahuripan Pembuatan Pak Fatkur

16.00 Nirwana Laporan PKL

19-08- 07.00- Wunut Pembuatan laporan Mahasiswa

2015 12.00 PKL

12.00- Wunut Istirahat dan Sholat

13.00

13.00- Wunut Pembuatan laporan Mahasiswa

16.00 PKL

20-08- 07.00- Wunut Plant Tour Mahasiswa

2015 12.00

Wunut Istirahat dan Sholat

Wunut Pembuatan Mahasiswa

Laporan PKL

21-08- 07.00- Wunut Pembuatan Mahasiswa

27
2015 12.00 Laporan PKL

12.00- Wunut Istirahat dan Sholat

13.00

13.00- Wunut Mengurutkan Mahasiswa

16.00 dokumen terkait

22-08- LIBUR

2015

23-08- LIBUR

2015

24-08- 07.00- Wunut Pembuatan

2015 11.00 Laporan PKL

11.00- Wunut Pengajian

13.00

13.00- Wunut Pembuatan

16.00 Laporan PKL

25-08- Mengunjungi dan


Tempat
2015 07.00- menghadiri Pak Latief
Lumpur
16.00 kunjungan Syukur
Lapindo
Presiden RI

28
29
BAB IV

HASIL KEGIATAN

IV.1.Sejarah Singkat Lapindo Brantas Inc

Lapindo Brantas Incmerupakan suatu perusahaan swasta Indonesia yang

didirikan berdasarkan Hukum Negara Bagian Delaware, Amerika Serikat.

Lapindo Brantas dibentuk pada tahun 1996 dengan membeli saham milik

HUFFCO dan menjadi operator dari Kontrak Production Sharing (KPS) Blok

Brantas, di Jawa Timur. KPS Brantas pada awalnya mempunyai wilayah kerja

seluas 15.000 km2, yang diberikan pada tahun 1990 oleh PERTAMINA. Saat ini

wilayah kerja KPS Brantas seluas 7500 km2. KPS Brantas sudah melakukan 5

(Lima) pemboran eksplorasi sejak tahun 1993 sampai tahun 1994. Dari usaha-

usaha eksplorasi ini ditemukan lapangan gas Wunut yang terletak di Kecamatan

Porong, Kabupaten Sidoarjo, kira-kira 30 km sebelah selatan Kota Surabaya.

Lapangan Wunut dinyatakan komersial dan sudah berproduksi mulai bulan

Januari 1999.

IV.1.1.Lokasi Lapindo Brantas Inc

Main office adalah tempat pusat kegiatan perkantoran dan administratif, di

Lapindo Brantas Incmain office letaknya terpisah dengan gas plant yaitu

berlokasi Kahuripan Nirwana village, namun untuk di area plant juga terdapat

office yang teridiri dari beberapa departemen meliputi departemen

30
maintenance,Facilitis and Construction, HSE, Produksi, Engineering dan

Poliklinik.

Lapindo Brantas Inc melakukan kegiatan ekplorasi dan produksi di dua

lapangan, yaitu Lapangan Wunut dan Lapangan Tanggulangin. Lapangan Wunut

beroperasi sejak tahun 1999 sedangkan Lapangan Tanggulangin beroperasi pada

akhir tahun 2009.

Di Lapangan Wunut terdapat 22 (dua puluh dua) sumur yang terletak di

11 (sebelas) desa di wilayah 2 (dua) kecamatan sebagai berikut:

1. Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo: Desa Kedungboto, Gedang,

Wunut, Candipari, Lajuk, dan Kesambi.

2. Kecamatan Krembung, Kabupaten Sidoarjo: Desa Ploso, Waung, Jenggot,

Rijeni danJiken.

Sedangkan Lapangan Tanggulangin terdapat 5 (lima) sumur yang terletak di

Desa Kalidawir, Kedungasri, dan Kedungbanteng, termasuk dalam

Kec.Tanggulangin, Kab. Sidoarjo.

IV.1.2.Perkembangan Lapindo Brantas Inc

a. 1990 Wilayah kerja Blok Brantas diberikan kepada HUFFCO.

Melakukan Survey SAR

b. 1991 Survei Seismik Darat sepanjang 966 km dan Seismik Laut

sepanjang 2050 km.

31
c. 1992 Survei Seismik Darat sepanjang 1014 km dan Seismik Laut

sepanjang 1572 km

d. 1993 Pemboran 2 sumur eksplorasi : Porong #1, kedalaman 8400

kaki dan Baluran #1, kedalaman 13700 kaki. Kedua sumur

kosong (dry hole)

e. 1994 Pemboran 3 sumur eksplorasi : Wunut #1, kedalaman 2900

kaki; Toto-1 kedalaman 6500 kaki dan Jombang-1

kedalaman 4900 kaki. Wunut #1 ditemukan gas sedangkan

kedua sumur lainnya kosong (dry hole).

f. 1995 Pemboran sumur Wunut-2 dengan kedalaman 4200 kaki.

Membuat POD (Plan of Development) Lapangan Gas

Wunut ke Pertamina BPPKA.

g. 1996 Pembelian HUFFCO oleh LAPINDO.

Memperoleh persetujuan POD Lapangan Wunut.

h. 1998 Pemboran sumur-sumur pengembangan Wunut #10, Wunut

#1A, dan Wunut #8 serta kerja ulang Sumur Wunut

#1.Membangun Stasiun Pengumpul Gas di lokasi Wunut

#1, Desa Kedungboto, Kecamatan Porong, Kabupaten

Sidoarjo.

i. 1999 Produksi gas pertama tanggal 25 Januari dan disalurkan ke

PGN (Perusahaan Gas Negara)Kapasitas produksi dari 4

sumur sebesar 22 juta kaki kubik per hari.2000

32
Melakukan negosiasi untuk meningkatkan volume

penjualan gas PGNdan menawarkan gas belum terjual ke

konsumen gas lain di lingkungan Jawa Timur.

j. 2001 Menyelesaikan pemboran sumur eksplorasi Tanggulangin

#1 (discovery; 3,018 ft).

Mulai melakukan pemboran sumur eksplorasi Carat

#1.Meningkatkan volume penjualan gas ke PGN menjadi

rata-rata 11 MMscfd.

Melakukan upgrading fasilitas produksi gas Wunut

menjadi 50 MMscfd.

k. 2002 Menyelesaikan p-emboran eksplorasi carat #1 dan grati #1

Melakukan pemboran sumur-sumur pengembangan

Wunut#9 dan Wunut #3.

Mulai melakukan pemboran sumur delineasi Tanggulangin

#2.

Melakukan pemasangan 2 ea, 8“ Trunklines dari arahtimur.

Meningkatkan volume penjualan gas PGN menjadi rata-

rata 21 MMscfd.

l. 2003 Menyelesaikan pemboran sumur explorasi Tanggulangin

#2 dan sumur pengembangan Wunut #4 dan Wunut #5.

Menyelesaikan kerja ulang sumur Wunut #2.

Meningkatkan volume penjualan gas menjadi 50 MMscfd.

33
m. 2004 Melakukan upgrading wunut gas plant hingga berkapasitas

80MMscfd.

Pemboran sumur Tanggulangin-3 berhasil menemukan

minyak pada tahun 2004 dan 2005 yaitu sebesar 80

MMscfd.

n. 2005 Melakukan pengeboran lepas pantai pada sumur Bisma-1,

yang berhasil menemukan gas biogenic di reservoir yang

dituju.

o. 2006 Terjadi semburan lumpur didekat sumur pengeboran

explorasi Banjarpanji-1, yang didahului dengan peristiwa

gempa bumi tektonikdi pantai selatan Yogyakarta 2 hari

sebelumnya.

Survey seismic 2D di Selat Madura sepanjang 1,879 km

yang meliputiWilayah daerah Situbondo, Probolinggo dan

Pasuruan.

p. 2008 PGN dan Lapindo kembali memperpanjang kontrak jual

beli gas dengan volume 6.1 MMscfd di tahun 2008.

q. 2009 Meningkatkan produksi gas menjadi 13 juta kaki kubik per

hari yang produksi awalnya hanya sekitar 7 juta kaki kubik

per hari.

PGN dan Lapindo kembali memperpanjang kontrak jual

beli gas dengan volume3.5 MMscfd

34
r. 2010 Perpanjangan kontrak jual beli gas dengan PGN dengan

volume 8 MMscfd. Penandatanganan perjanjian jual beli

gas dengan PT PETROGASJATIM UTAMA mengenai

city gas.

s. 2011 Perpanjangan kontrak jual beli gas dengan PGN dengan

volume 8 MMscfd

IV.2.Visi dan Misi Lapindo Brantas Inc

IV.2.1.VISI:

a. Melakukan Kontribusi dalam pembangunan Bangsa Infonesia melalui

pemenuhan energy minyak dan gas bumi.

b. Meningkatkan nilai tambah perusahaan kepada stakeholders.

c. Diakui oleh dunia sebagai perusahaan migas dan menajadi produsen

utama gas di wilayah Jawa Timur.

IV.2.2.MISI:

a. Menjalankan operasi secara ekonomis, dapat dipertanggungjawabkan,

dan melakukan seluruh kegiatan operasi sesuai dengan standard HSE

yang tinggi.

b. Menemukan sumber-sumber gas baru dilapangan yang dimiliki

perusahaan.

c. Menggali, menemukan, dan mengembangkan prospek baru di area-

area Blok Brantas.

d. Melakukan kembali kegiatan eksplorasi pada area 2.

35
IV.3. Bahan Dan Proses Produksi Lapindo Brantas Inc

IV.3.1. Bahan Baku

Dalam proses produksi di Lapindo Brantas Incterdiri dari

beberapa bahan baku yang nantinya akan di proses sehingga menjadi gas

yang siap didistribusikan ke konsumen. Beberapa bahan baku produksi

gas di Lapindo Brantas Incadalah :

Tabel 4.1 Bahan Baku Gas

No. Komponen Rumus Kimia Komponen (Mol %)

1 Nitrogen N2 2,662

2 Kabon Dioksida Co2 1,303

3 Methana CH4 93,534

4 Ethana C2H6 1,376

5 Propanana C3H8 0,667

6 1-Butana i-C4H10 0,160

7 N-Butana n-C4H10 0,179

8 1-Pentana i-C5H12 0,062

9 N-Pentana n-C5H12 0,035

10 Hexana Plus C6+ 0,022

36
IV.3.2Proses Produksi

Proses produksi merupakan kegiatan yang dilakukan untuk

mengolah gas mentah yang berasal dari dalam bumi menjadi gas yang

dapat di gunakan manusia. Plant pengolahan gas Lapindo Brantas

Incberadadi wilayah Sidoarjo Jawa Timur. Lapindo Brantas Incmemiliki

dua tempat proses produksi yaitu plant Wunut dan plant Tanggulangin.

Untuk proses produksi di kedua plant tersebut secara umum hampir

sama namun ada beberapa perbedaan di bagian alur produksi. Untuk

skema proses produksi secara umum yang terdapat di plant Lapindo

Brantas Inc. Dapat dilihat pada skema 1.

Gambar IV.1

Skema Proses Produksi

Proses produksi gas meliputi sumur, separator, kompresor, GDU dan

meteering.

37
a. Sumur

Sumur migas adalah hasil dari eksploitasi yang mengeluarkan

kandungan minyak dan gas. Untuk Sumur yang di eksploitasi

kandungan terbesarnya adalah gas. cara melakukan eksploitasi terdapat

2 macam yaitu :

1. Short String (SS)

2. Long String (LS)

Total sumur di Lapindo Brantas yang telah dieksploitasi sebanyak

22 sumur di daerah wunut dan 5 sumur di daerah Tanggulangin. Namun

saat ini yang aktif berproduksi ada 10 sumur yang berada di produksi di

Plant Wunut dan 5 sumur di Tanggulangin. Dari masing-masing sumur

gas yang dihasilkan memiliki tekanan yang berbeda-beda. Untuk sumur

yang sudah lama di eksploitasi maka tekananya akan semakin menurun.

saat ini sumur yang terdapat di plant Tanggulangi merupakan eksploitasi

yang baru maka tekanannya masih tinggi namun untuk plant Wunut ada

beberapa yang mengalami beberapa penurunan tekanan.

b. Separator

Separator adalah vessel bertekanan yang melakukan pengumpulan

aliran gas dari sumur dan pemisahan antara minyak, gas dan liquid.

Secara umum separator dibedakan menjadi 2 yaitu :

1. Separator 2 fase

2. Separator 3 fase

38
Dalam proses produksi gas di Lapindo Brantas Incmenggunakan 2

fase yaitu memisahkan antara liquid dengan gas. Setelah liquid dan gas

terpisah, gas akan dialirkan menuju Gas Dehidrations Unit (GDU) dan

liquid akan di tampung di tangki liquid.

Berdasarkan tekanan gas, separator dibedakan menjadi dua yaitu :

1. Separator bertekanan tinggi(high pressure separator)

Gas yang sudah bertekanan tinggi lebih dari 335 akan langsung

dialirkan menuju GDU.

2. Separator bertekanan rendah (low pressure separator)

Gas yang bertekanan rendah akan dialirkan ke gas kompressor

untuk diproses lebih lanjut.

Separator yang terdapat di masing-masing plant Lapindo Brantas

Incterdapat perbedaan karena adanya perbedaan tekanan gas yang

dihasilkan oleh sumur. Plant Tanggulangin terdapat satu jenis separator

yaitu separator bertekanan tinggi dan plant Wunut terdapat dua separator

yaitu separator bertekanan tinggi dan separator bertekanan rendah.

c. Gas Kompressor

Gas kompressor adalah tangki bertekanan tinggi yang berfungsi

untuk menaikkan tekanan gas yang rendah. Proses untuk menaikkan

tekanan gas ada 2 tahapan yaitu :

1. Suction 33 dengan discharge 150 psig

39
2. Suction 150 dengan discharge 425 psig

d. Gas Dehidrations Unit (GDU)

Gas Dehidrations Unit adalah unit yang memproses gas menjadi

lebih murni dengan bantuan senyawa kimia Tri Ethylene Glycol. Glycol

berfungsi untuk mengikat senyawa air atau senyawa lainnya selain gas.

Setelah gas menjadi murni selanjutnya dialirkan menuju scrubber

kemudian melewati meteering unit.

e. Meteering Unit

Meteering unit adalah unit yang mengontrol pencatatan gas yang

dihasilkan dari proses produksi yang akan di distribusikan ke konsumen.

Cara pencatatan ada 2 yaitu :

1. Gas Flow Computer secara otomatis

2. Presure Indicator secara manual yang dapat mencatat suhu,

tekanan gas.

IV.4.Komitmen dan Kebijakan Lapindo Brantas Inc

IV.4.1.Komitmen Lapindo Brantas Inc

1. Melindungi semua kesehatan dan keselamatan semua pekerja dan

anggota masyarakat yang terpengaruh oleh kegiatan oprasi

perusahaan.

40
2. Melindungi lingkungan hidup, mencegah, dan mengurangi

terjadinya pencemaran lingkungan selama kegiatan operasi

perusahaan.

3. Mematuhi perundang-undangan dan peraturan terkait dengan

pelaksanaan program “Kesehatan, Keselamatan, Kerja dan

Lindungan Lingkungan / K3LL”.

4. Memanfaatkan material, energi, dan sumber daya secara efisien.

IV.4.2.Kebijakan Lapindo Brantas Inc

1. Menerapkan sistem manajemen yang memadai dalam pengelolaan

K3 yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengukuran,

pelaporan dan pendokumentasian kinerja sebagai landasan

pekerjaan yang berkelanjutan.

2. Menerapkan sistem kepemimpinan, komunikasi efektif, dan

pelatihan yang memadahi untuk meningkatkan kesadaran dan

kompetensi pekerja agar dapat melaksanakan pekerjaannya dengan

benar, aman, dan memiliki tanggung jawab yang sama dalam hal

pelaksanaan K3 sehingga setiap orang berkewajiban dan

berwenang untuk menghentikan pekerjaan jika dianggap tidak

aman.

3. Menerapkan penilaian resiko dan menggunakan teknologi terbaik

untuk mengurangi potensi bahaya dan dampak yang tidak

diinginkan dalam setiap tahap dan jenis perusahaan.

41
IV.5.Struktur Organisasi, Komite K3LL dan P2K3 Lapindo Brantas Inc

IV.5.1.Struktur Organisasi Lapindo Brantas Inc

Gambar IV.2

President

Technical
Assistant

Intrnal Contr VP Exploration VP Operation VP HR and VP Finance HSE Manager


Manager Support

Drilling & Petroleum Area Manager Facility, Eng & PR & Eksernal
Workover Engineer Const Manager manager
Manager Manager

Production Maintenance HSE


Superintendent Superintendent Coordinator

Supervisor Supervisor HSE


Officer

Struktur Organisasi Lapindo Brantas Inc

42
IV.5.2Komite K3LL Lapindo Brantas Inc

Gambar IV.3

Komite K3LL Lapindo Brantas Inc

IV.5.3P2K3 Lapindo Brantas Inc

Gambar IV.4

Strukrur Organisasi P2K3 Lapindo Brantas Inc


43
IV.6Program Kerja Perusahaan

IV.6.1Pengukuran Kebisingan

Nama perusahaan : LAPINDO BRANTAS Inc

Alamat perusahan : Kahuripan Nirwana Kav 4-7 No.8

Tanggal pelaksanaan : 27 Juli 2015

Alat yang digunakan : Sound Level Meter

Tabel 4.2 Hasil Pengukuran Kebisingan

Hasil
Lokasi Rata-
No. Pengukuran Keterangan
Pengukuran Rata
(dB. A)

1. Desa Pentar Sewu 39.0 37.7 38.35 Arah angin dari

barat ke timur

2. Pintu Gerbang Pos 50.9 48.8 49.85 -

Tanggulangin

3. Air Compressor 84.0 80.3 82.15 Arah angin dari

Tanggulangin timur ke barat

4. Metring Indo gas / 47.5 47.1 47.3 Sumber bising

Banten gas dari air

compressor
M-9201-B
karena tidak
Metring PJU M-
ada aliran gas

44
9201-B

5. Jembatan Kali 42.4 40.2 41.3 Sumber bising

Dawir suara radio dari

warkop

6. Desa Pesawahan RT 43.0 44.4 43.7 Sumber bising

05 suara musik

Hajatan

7. Desa Pesawahan RT 41.5 43.1 42.3 Sumber bising

04 suara musik

Hajatan, Arah

angin dari timur

ke barat

8. Pos Kamling Desa 39.9 38.5 39.2 Sumber bising

Pesawahan suara music

9. Desa Kedung Boto 43.2 43.0 43.1 -

RT 03

10. Desa Kedung Boto 39.4 40.3 39.85 -

RT 04

11. Gas Compressor 95.3 95.1 95.2 1m dari sumber

Wunut bising gas

45
compressor

12. Depan Noise Barier 78.8 79.1 78.95 Sumber bising

gas compressor

13. Belakang Noise 57.0 57.4 57.2 Sumber bising

Barier gas compressor

14. Pos Pintu Gerbang 58.1 57.2 57.65 -

Wunut

IV.6.2Inspeksi Rambu-Rambu(safety sign) di Gas Plant Wunut

Tabel 4.3 Inspeksi Rambu Rambu K3

No Gambar Nama Rambu - Rambu P L Unit Ket

1. Visitor Must Report to 101 51 1 -

Control Room

2. Use PPE 100 51 1 -

46
3. Handphone, Camera, & 100 50 1 -

heat sources are

prohibited

4. Dilarang Masuk Bagi 60 50 1 -

yang Tidak

Berkepentingan

5. Kenakan Pelindung 60 50 1 -

Telinga dikala Mesin

Hidup

6. Kenakan topi dan 60 50 3 -

Sepatu safety

7. Jagalah Kebersihan dan 60 50 1 -

Kerapian

8. Matikan HP Anda 80 50 1 -

47
9. Dilarang Merokok 60 50 1 -

10. Glycolpump (P240 43 29 1 Buat

A/B) Stiker

baru

11. Awas Berbahaya 81 50 3 -

12. Evaporation pond 100 61 1 -

13. Sampling point emisi 85 62 1 -

14. Sampling point air 88 60 1 -

terproduksi

Evaporation Pond

48
15 Open drain pond 91 61 1 -

16. Sampling point air 100 62 1 -

drainase Open drain

pond

IV.7 Hasil Audit Confined space

Area confined space di Lapindo Brantas Incsecara berkala dilakukan audit

untuk memantau kondisi confined space yang ada di lapangan / plant. Audit

confined space biasanya dilakukan paling tidak 6 bulan sekali.

Tabel 4.4 Audit Confined space

NO AUDIT ITEMS YES NO

1. Apakah Area Authority memiliki daftar ruang terbatas √

yang terdapat di area kerjanya?

2. Apakah Area Authority melakukan proteksi ruang √

terbatas pada saat operasi normal, berupa pembatas

fisik (pengunci manhole, dsb) / stiker (tanda

49
peringatan) / SOP peralatan?

3. Apakah karyawan mengerti kriteria ruang terbatas? √

4. Apakah seluruh persyaratan pekerjaan sudah √

dilengkapi (pengujian gas, pemeriksaan ruang

terbatas, dsb) sesuai dengan izin kerja ruang terbatas

yang dibuat, dan diverifikasi oleh pengawas?

5. Apakah pekerja memahami parameter yang perlu √

diketahui sebelum pekerjaan dilaksanakan? (observasi

pada saat pekerjaan dilakukan)

6. Apakah TRA tersedia dan sudah mengidentifikasi √

seluruh bahaya yang ada berikut penanggulangan

resikonya?

7. Apakah TRA sudah didiskusikan dan disosialisasikan √

kepada seluruh pekerja dalam Tool Box Talk?

8. Apakah petugas siap siaga sudah ditunjuk dan √

memahami tugas dan tanggung jawabnya?

9. Apakah pekerja terkait dalam aktifitas ruang terbatas √

sudah memiliki kompetensi yang sesuai? (AGT level 1

dan 3, pekerja yang memasuki ruang terbatas, pekerja

siap siaga, dan pengawas)

50
10. Apakah pemeriksaan ruang terbatas telah dilakukan √

sebelum pekerjaan dimulai?

11. Apakah prosedur komunikasi telah ditentukan? √

12. Apakah para pekerja mengetahui siapa yang harus √

dihubungi dan apa yang harus dilakukan dalam

kondisi darurat?

13. Apakah area kerja sudah diberi pembatas dan tanda √

peringatan keselamatan?

14. Apakah jenis peralatan yang digunakan sudah dinilai √

layak dan sesuai dengan karakteristik ruang terbatas?

(mis: tidak berpotensi menimbulkan percikan api)

15. Apakah tahapan isolasi, pembuangan isi, pembilasan √

dan ventilasi telah dilakukan?

16. Apakah alat pengujian gas telah terdaftar di LBI, √

terkalibrasi dan telah dilakukan 'bump test'?

17. Apakah pengujian gas sudah dilakukan dengan baik √

dan benar? (sebelum pekerjaan dan selama pekerjaan

berlangsung)

18. Apakah metode sirkulasi udara tersedia dan efektif? √

51
19. Apakah airline compressor yang digunakan telah √

dilakukan perawatan rutin (ceklist/daftar pemakaian;

penggantian oli & filter)?

20. Apakah prosedur penyelamatan darurat tersedia dan √

dipahami oleh pengawas dan seluruh pekerja terkait?

21. Apakah peralatan minimum untuk penyelamatan √

tersedia dan diinspeksi secara berkala?

22. Apakah terdapat akses keluar masuk yang aman pada √

saat memasuki ruang terbatas?

23. Apakah daftar pekerja masuk dan keluar ruang √

terbatas dikelola dengan baik, berikut dengan ijin kerja

tersedia dan di tampilkan di dekat area kerja?

24. Apakah ruang terbatas sudah terisolasi dan manhole √

dikunci setiap saat?

25. Apakah SA & PA melakukan inspeksi sebelum √

pekerjaan dimulai?

26. Apakah pemeriksaan kesehatan pekerja dilakukan √

sebelum memasuki area ruang kerja terbatas?

27. Apakah semua pekerja terkait menggunakan APD √

52
yang diperlukan dengan benar?

28. Apakah APD khusus sudah tersedia dengan jumlah √

yang mencukupi dan diinspeksi secara berkala?

(khususnya SCBA)

29. Apakah SA mengevaluasi hasil pengujian gas yang √

dilakukan pada saat pekerjaan berlangsung?

30. Apakah latihan penyelamatan darurat dengan skenario √

penyelamatan dari ruang terbatas sudah pernah

dilakukan?

53
BAB V

PEMBAHASAN

V.1.GAMBARAN SISTEM MANAJEMEN KESEHATAN DAN

KESELAMATAN KERJA

V.1.1.Pengertian SMK3

Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang (SMK3)

adalah bagian dari sistem manajemen perusahaan secara keseluruhan dalam

rangka pengendalian risiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna

terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif (PP No 50 Tahun

2012).

Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja ialah bagian dari

sebuah sistem manajemen organisasi (perusahaan) yang digunakan

untukmengembangkandan menerapkan Kebijakan K3 danmengelola resiko

K3 perusahaan. (OHSAS 18001:2007)

Menurut Tarwaka 2014, Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan

Kerja adalah bagian dari sistem manajemen secara keseluruhan yang meliputi

struktur organisasi, perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan, penerapan,

pencapaian, pengkajian, dan pemeliharaan kebijakan keselamatan dan kesehatan

kerja dalam rangak pengendalian resiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja

guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien, dan produktif. (Tarwaka,

2014)

54
V.1.2. Dasar Hukum SMK3

Dasar Hukum penerapan SMK3 di Lapindo Brantas Incadalah:

1. Undang-Undang No 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.

2. Undang-Undang No 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

3. PP No. 50 Tahun 2012 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan

Kesehatan Kerja.

4. Peraturan Menteri Tenaga Kerja No 4 Tahun 1987 tentang Panitia

Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3).

V.1.3. Konsep Sistem Manajemen K3

Sistem Manajemen K3 didasarkan pada suatu prinsip umun yang

terintregasi dengan sistem manajemen lainnya. Dengan demikian diharapkan

bahwa Sistem Manajemen yang diaudit akan sesuai.

Dalam UU No. 13 Tahun 2003 Pasal 87 [1] tentang ketenagakerjaan

dinyatakan bahwa; setiap perusahaan wajib menerapkan Sistem Manajemen K3

yang terintegrasi dengan sistem manajemen perusahaan. Selanjutnya ketentuan

mengenai penerapan Sistem Manajemen K3 diatur dalam PP No. 50 Tahun 2012.

Standart lain yang biasa digunakan di Indonesia adalah OHSAS 18001:2007.

Namun OHSAS lebih bersifat sukarela, yang artinya jika suatu perusahaan telah

menerapkan Sistem Manajemen K3 maka gugurlah kewajiban perusahaan

tersebut menerapkan OHSAS.

Untuk menerapkan Sistem Manajemen K3 seperti yang tertuang dalam

Pasal 6 PP No. 50 Tahun 2012 beserta pedoman penerapan pada Lampiran 1,

maka organisasi perusahaan diwajibkan untuk menerapkan SMK3 yang


55
dilakukan berdasarkan kebijakan nasional yang meliputi 5 Prinsip Dasar

Penerapan SMK3.

Penerapan SMK3 meliputi penetapan kebijakan K3;perencanaan

K3;pelaksanaan rencana K3;pemantauan dan evaluasi kinerja K3;

danpeninjauan dan peningkatan kinerja SMK3.

Gambar V.1

Prinsip Dasar SMK3

1. Penetapan Kebijakan K3

Adanya kebijakan K3 yang dinyatakan secara tertulis dan di tanda

tangani oleh pengurus yang memuat keseluruhan visi dan tujuan

perusahaan, komitmen dan tekad melaksanakan K3, kerangka dan

program kerja yang mencakup kegiatan perusahaan secara menyeluruh.

56
Kebijakan perusahaan harus selalu ditinjau ulang untuk peningkatan

kinerja K3. Di Lapindo Brantas Inckebijakan K3 ditinjau setiap tahun

yang disesuaikan dengan peraturan dan perundangan yang berlaku.

2. Perencanaan K3

Merupakan tahapan dimana perusahaan menetapkan dan

memprioritaskan tujuan-tujuan perusahaan secara jelas. Rencana-rencana

untuk setiap program K3 harus dikembangkan secara detail serta

ketersediaan sumber daya keuangan dan sumber daya lainnya harus

dipertimbangkan sebelum mengambil keputusan.

2.1. Identifikasi bahaya, penilaian resiko, penentuan pengendalian

Identifikasi Bahaya dan Penilaian Resiko adalah salah satu

elemen yang penting dalam Sistem Manajemen Keselamatan Kesehatan

Kerja (SMK3). Identifikasi bahaya dilaksanakan guna menentukan

rencana penerapan K3 di lingkungan Perusahaan.Identifikasi bahaya

ditujukan pada segala sumber, situasi maupun aktivitas yang berpotensi

menimbulkan cedera ataupun penyakit akibat kerja. Dalam bagian ini

Lapindo Brantas Incmemiliki beberapa prosedur penunjang, diantara lain

adalah sebagai berikut:

a. HSEP-HSE-007Proseduridentifikasibahaya

1. HSEF-HSE-007-01Form identifikasibahaya,

penilaian, pengendalianresiko

57
2. HSEF-HSE-007-02Form daftarbahaya

3. HSEF-HSE-007-03Form tinjauanulang HIRA

2.2. Peraturan perundangan dan persyaratan lain

Perusahaan menjamin peraturan perundang–undangan dan

persyaratan lainnya sesuai dengan sistem bisnis yang dijalankan, aktivitas

operasional perusahaan, produk, proses, fasilitas, peralatan/mesin,

bahan/material, tenaga kerja dan lokasi perusahaan. Perusahaan

menginformasikan dan mengomunikasikan kepada seluruh pihak yang

berhubungan dengan penerapan K3 di Perusahaan (termasuk tenaga

kerja, kontraktor, pemasok, pengunjung dan tamu) mengenai peraturan

perundangan-undangan dan persyaratan lain yang digunakan oleh

Perusahaan dalam menerapkan K3 di lingkungan Perusahaan. Lapindo

Brantas Incmemiliki Form informasidanperundangan K3 (HSEF-HSE-

019-01) untuk memantau kesesuaian perundangan K3 yang berlaku

beserta pembaharuan perundangan apabila tersedia.

2.3. Tujuan dan program

Perusahaan menetapkan target dan program-program K3

berdasarkan kebijakan K3 yang ditetapkan, hasil identifikasi bahaya,

penilaian dan pengendalian resiko serta identifikasi peraturan perundang-

undangan dan persyaratan lain yang diperlukan guna penerapan K3 di

lingkungan Perusahaan. Lapindo Brantas Incmengupayakan agar target

dan program K3 berjalan dengan baik, hal ini juga diatur dalam beberapa

58
dokumen terkait, diantaranya HSEP-HSE-002 Prosedurpenetuantujuan

target dan program, Form Program Manajemen K3LL, HSEF-HSE-002-

001, dan Form Catatan Kinerja Program Manajemen K3LL, HSEF-HSE-

002-002

2.4. Sasaran SMK3 Perusahaan

Tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan ditinjau kembali secara teratur

sesuai dengan perkembangan. Tujuan dan sasaran K3 paling sedikit

memenuhi kualifikasi:

1) dapat diukur;

2) satuan/indikator pengukuran; dan

3) sasaran pencapaian.

3. Pelaksanaan Rencana K3

Menerapkan Rencana K3 secara efektif dengan mengembangkan

kemampuan dan mekanisme pendukung yang diperlukan untuk mencapai

kebijakan, tujuan dan sasaran K3.

3.1. Sumber daya, Peran dan Tanggung Jawab

1. Pengadaan sumber daya manusia sesuai kebutuhan dan

memiliki kompetensi kerja serta kewenangan dibidang K3

59
2. Pengidentifikasian kompetensi kerja yang diperlukan pada

setiap tingkatan manajemen perusahaan dan menyelenggarakan

setiap pelatihan yang dibutuhkan

3. Pembuatan ketentuan untuk mengkomunikasikan informasi K3

secara efektif

4. Pembuatan peraturan untuk memperoleh pendapat dan saran

para ahli

5. Pembuatan peraturan untuk pelaksanaan konsultasi dan

keterlibatan pekerja/buruh secara aktif.

Perusahaan memiliki dokumen terkait untuk memastikan bahwa

aspek Sumber Daya, Peran, dan Tanggung jawab berjalan dengan baik.

Berikut adalah dokumen terkait:

1. HSEP-HSE-003 Prosedurkomite K3LL

2. HSEP-HSE-004 Prosedurrapat K3LL

3. HSEF-HSE-004-01Form hasil rapat komite K3LL

4. HSEP-AST-006 Prosedurinformasikeselamatan proses

3.2. Kompetensi, Pelatihan, dan Kepedulian

Perusahaan menjamin kelayakan seluruh personil yang dibutuhkan

untuk melaksanakan penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan

Kesehatan Kerja layak dan berkompeten untuk melaksanakan Penerapan

Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja di lingkungan

Perusahaan berdasarkan latar belakang, keahlian, pelatihan dan

pengalaman personil masing-masing. Perusahaan melaksanakan


60
identifikasi kebutuhan-kebutuhan pelatihan untuk seluruh personil di

bawah kendali Perusahaan berdasarkan kompetensi, keahlian dan resiko

bahaya terkait jabatan dan jenis pekerjaan guna menjamin pelaksanaan

dan penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja

secara baik di lingkungan Perusahaan. Prosedur yang digunakan

adalahHSEP-AST-018 PelatihanKeterpaduanMekanik, HSEP-HRG-015

Prosedurpelatihan K3, HSEF-HRG-015-01Form

catatankehadiranpelatihan, HSEF-HRG-015-02Form

evaluasihasilpelatihan, HSEF-HRG-015-03Form evaluasiinstruktur,

HSEP-HRG-016 Prosedurkompetensi personal, HSEF-HRG-016-01Form

komptensidanlisensi.

3.3. Komunikasi, Partisipasi, dan Konsultasi

Untuk menjamin penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan

Kesehatan Kerja, maka Perusahaan menyusun sistem komunikasi untuk

mendukung pelaksanaan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan

Kerja yang baik di tempat kerja. Komunikasi meliputi komunikasi

internal antar bagian maupun sesama bagian dalam struktur organisasi

Perusahaan maupun komunikasi eksternal dengan pihak lain seperti

kontraktor, pemasok, pengunjung, tamu dan masyarakat luas maupun

pihak ke tiga yang bekerja-sama dengan Perushaaan yang berkaitan

dengan K3.

61
Perusahaan mengikutsertakan seluruh personil di bawah kendali

Perusahaan untuk berperan aktif dalam partisipasi dan konsultasi

mengenai penerapan K3 di tempat kerja. Partisipasi/konsultasi personil

dapat dilakukan secara berkelompok maupun individu. Partisipasi secara

kelompok dapat dilaksanakan melalui rapat (pertemuan) yang

dijadwalkan secara rutin maupun non-rutin oleh Perusahaan atau

Manajemen Representatif penerapan K3 di tempat kerja. Sedangkan

partisipasi/konsultasi secara individu dapat dilaksanakan melalui

menghubungi langsung Manajemen Representatif penerapan K3 di tempat

kerja untuk dikonsultasikan ke Manajemen Atas.Prosedur yang biasa

digunakan dalam aspek ini adalah HSEP-HSE-030 Prosedur pengelolaan

K3LL kontraktor, HSEF-HSE-030-01Form evaluasikinerjakontraktor,

SML-PL-005 Prosedur komunikasi.

3.4. Pengendalian Dokumen

Seluruh dokumentasi dan informasi yang digunakan dalam

penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja perlu

diidentifikasi dan dikendalikan. Pengendalian dokumentasi termasuk di

dalamnya ialah mengenai tata cara persetujuan dokumen, penerbitan,

penyimpanan dan pemusnahan dokumen.

Seluruh dokumen dan dokumentasi akan tersedia saat diperlukan

dalam kondisi operasional rutin maupun non-rutin termasuk saat keadaan

darurat. Seluruh dokumentasi akan dimuat dalam sebuah daftar dokumen

62
resmi yang dikelola oleh Sekretaris Panitia Pembina Keselamatan dan

Kesehatan Kerja termasuk informasi-informasi mengenai wewenang

persetujuan dokumen, penerbitan, penyebaran, revisi, lokasi,

penyimpanan dan pemusnahan dokumen.

Dokumen dan dokumentasi terkait akan di masukkan ke dalam

form yang telah disediakan, diatara lain adalah . SML-PL-001

Prosedurpengendaliandokumen, HSEF-HSE-009-01 Form dokumen K3

internal, HSEF-HSE-009-02 Form dokumen K3 eksternal, HSEF-HSE-

009-03 Form daftardistribusidokumen K3, HSEF-HSE-009-04 Form

status revisi, HSEF-HSE-009-05 Form permintaanperubahandokumen

K3, HSEF-HSE-010-01 Form daftarcatatan K3, HSEF-HSE-012-01 Form

izinkerjapanas, HSEF-HSE-012-02 Form izinkerjadingin, HSEF-HSE-

012-03 Form izinmasuk, HSEF-HSE-012-06 Form daftarizinkerja.

3.5. Pengendalian Operasioanal

Setelah seluruh bahaya K3 di tempat kerja telah diidentifikasi

dan dipahami, Perusahaan menerapkan pengendalian operasi yang

diperlukan untuk mengelola resiko-resiko terkait bahaya-bahaya K3 di

tempat kerja serta untuk memenuhi peraturan perundang-undangan dan

persyaratan lainnya terkait dengan penerapan K3 di tempat kerja.

Prioritas pengendalian operasi ditujukan pada pilihan

pengendalian yang memiliki tingkat kehandalan yang paling tinggi

selaras dengan hierarki pengendalian resiko/bahaya K3 di tempat kerja.

63
Pengendalian operasi akan diterapkan dan dievaluasi secara

bersamaan untuk mengetahui tingkat keefektifan dari pengendalian

operasi serta terintegrasi (tergabung) dengan keseluruhan Sistem

Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Perusahaan.

Perusahaan menyiapkan berbagai macam prosedur dan form

terkait, sebagai berikutHSEP-HSE-014 Prosedurrambu-rambu K3LL,

HSEF-HSE-014-01 Form kebutuhanrambu K3LL, HSEP-HSE-026

Prosedurpengawasan kesehatan, HSEF-HSE-022-05 Form

laporanpelayananmedisdan P3K, HSEF-HSE-022-06 Form laporanklinik

, HSEF-HSE-026-01 Form daftarpengwasankesehatan, HSEF-

HSE-022-01 Form daftarpetugas P3K, HSEF-HSE-022-02 Form

penilaian area untuk P3K, HSEF-HSE-022-03 Form permintaanobat P3K,

HSEF-HSE-022-04 Form PemakaianAlat P3K, SML-PL-009

Prosedurpengeloalaanlimbah, HSEF-HSE-020-01 Form daftar limbah,

SML-PL-012 Prosedurmanajemen material B3.

3.6. Kesigapan dan Tindakan Darurat

Perusahan menyediakan sarana-prasarana dan fasilitas-fasilitas

keadaan darurat di tempat kerja seperti jalur evakuasi, sarana pemadam

api, tempat aman berkumpul keadaan darurat serta sarana-sarana

keselamatan lain yang diperlukan untuk menanggulangi keadaan darurat

Perusahaan.Perusahaan membentuk unit kerja khusus dalam manajemen

64
perusahaan yang memiliki tugas khusus untuk menanggulangi keadaan

darurat perusahaan. Unit kerja tersebut ialah Unit Tanggap Darurat

Perusahaan.Prosedur yang berlaku adalah SML-PL-008

Prosedurtanggapdarurat.

4. Penentuan dan Evaluasi Kinerja K3

Mengukur, memantau, dan mengevaluasi kinerja K3 serta

melakukan tindakan perbaikan dan pencegahan, yang mencakup hal-hal

sebagai berikut:

a. Adanya inspeksi, pengujian, dan pemantauan yang

berkaitan dengan tujuan dan sasaran di tempat kerja.

b. Adanya audit sistem manajemen K3 secara berkala untuk

mengetahui efektifitas penerapan sistem manajemen K3.

c. Tindakan pencegahan dan perbaikan secara sistematik dan

efektif yang dilaksanakan oleh pihak manajemen

4.1. Evaluasi kepatuhan, Pengukuran kinerja dan inspeksi

Pengukuran kinerja K3 menggunakan metode pengukuran

proaktif dan metode pengukuran reaktif di tempat kerja. Prioritas

pengukuran kinerja K3 menggunakan metode pengukuran proaktif

dengan tujuan untuk mendorong peningkatan kinerja K3 dan mengurangi

kejadian kecelakaan kerja di tempat kerja.

65
Inspeksi merupakan suatu rangkaian kegiatan pemeriksaan

terhadap suatu obyek tertentu.Daftar Periksa (Checklist) Inspeksi Tempat

Kerja disiapkan secara khusus untuk setiap area yang akan digunakan

untuk setiap inspeksi. Daftar Periksa mencakup suatu pemeriksaan

terhadap setiap pengendalian yang diterapkan sebagai hasil dari Laporan

Tim Penilai Resiko (Risk Assessment Team / RAT). Berikut ini adalah

daftar dokumen terkait HSEP-HSE-024

Prosedurpenyelidikankecelakaankerja, HSEF-HSE-024-01 Form

penyelidikankecelakaankerja, HSEP-HSE-027

Prosedurinspeksitempatkerja, HSEF-HSE-027-02 Form

inspeksitempatkerja, SML-PL-013 Prosedurpemantauandanpengukuran,

HSEF-HSE-025-01 Form jadwalpemantauanlingkungankerja.

4.2. Investigasi kecelakaan, ketidaksesuaian, tindakan perbaikan, dan

tindakan pencegahan

Perusahaan melaksanakan investigasi insiden untuk mencegah

terulangnya kembali kejadian insiden di kemudain hari serta untuk

mengidentifikasi peluang untuk peningkatan K3 di tempat kerja.

Investigasi kecelakaan dilaksanakan dengan pendekatan metode untuk

menyelidiki akar penyebab terjadinya suatu insiden. Sekretaris Panitia

Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja berkewajiban untuk

melaksanakan investigasi insiden sesuai jadwal yang telah ditetapkan

oleh pimpinan perusahaan.

66
Perusahaan melaksanakan identifikasi terhadap potensi-potensi

ketidaksesuaian ataupun adanya ketidaksesuaian, tindakan perbaikan dan

pencegahan untuk menjamin keefektifan penerapan Sistem Manajemen

Keselamatan dan Kesehatan Kerja di tempat kerja. Lapindo Brantas

Incmenyiapkan beberapa dokumen berupa prosedur ataupun form untuk

mendukung aspek ini. Contoh dokumen terkait adalah SML-PL-011

Prosedurketidaksesuaian, HSEP-HSE-029

Prosedurpermintaantindakanperbaikan.

4.3. Pengendalian Catatan

Pengendalian catatan K3 dilakukan dengan cara pengelompokan,

penandaan, penyimpanan, pemeliharaan dan pemusnahannya untuk

memudahkan pengambilan dan menjaga agar catatan itu tetap terpelihara

selama waktu yang ditentukan.Seluruh catatan, rekaman dan laporan K3

dipelihara untuk menunjukkan keefektifan penerapan Sistem Manajemen

Keselamatan dan Kesehatan Kerja Perusahaan dan pengelolaan resiko-

resiko K3 di tempat kerja.Semua catatan akan dipertahankan dalam

kondisi dibaca dan diidentifikasi dengan aktivitas yang terlibat. Catatan

akan disimpan dan dipelihara sedemikian rupa untuk meminimalkan

kerusakan, kerusakan atau kerugian, namun memberikan akses siap untuk

informasi. Contoh form terkait adalah HSEF-HSE-010-01 Form

daftarcatatan K3
67
4.4. Audit SMK3

Audit digunakan untuk untuk meninjau dan menilai kinerja dan

efektivitas Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Perusahaan. Audit internal dilaksanakan oleh Panitia Pembina

Keselamatan dan Kesehatan Kerja untuk mengetahui dimana Sistem

Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja telah diterapkan dan

dipelihara secara tepat. Audit SMK3 adalah pemeriksaan secara sistematis

dan independen terhadap pemenuhan kriteria yang telah ditetapkan untuk

mengukur suatu hasil kegiatan yang telah direncanakan dan dilaksanakan

dalam penerapan SMK3 di perusahaan. Proses evaluasi kinerja SMK3

dilaksanakan untuk memeriksa kesesuaian kegiatan antara perencanaan

terhadap pelaksanaan dan kepatuhan terhadap peraturan perundangan.

Untuk mengidentifikasi ketidaksesuaian yang perlu diperbaiki agar

tercapai proses perbaikan berkesinambungan. Dalam aspek ini Lapindo

Brantas Incmemberikan prosedur dan form penunjang pelaksanaan audit,

diantara lain SML-PL-007 Prosedur audit, HSEP-HSE-028 Prosedur audit

internal, HSEF-HSE-028-02 Form status tindakanperbaikanhasil audit,

HSEF-HSE-028-01 Form jadwal audit.

4.5. Tinjauan Manajemen

Tinjauan Manajemen dilaksanakan oleh Pimpinan Perusahaan

(Direktur) dan dilaksanakan secara berkala, secara umum minimal 1 tahun

68
sekali untuk meninjau penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan

Kesehatan Kerja Perusahaan.

Tinjauan Manajemen fokus terhadap keseluruhan kinerja Sistem

Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja dengan memperhatikan

hal-hal sebagai berikut :

a. Kesesuaian Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja

terhadap operasional dan aktivitas Perusahaan.

b. Kecukupan pemenuhan penerapan Sistem Manajemen

Keselamatan dan Kesehatan Kerja terhadap Kebijakan K3

Perusahaan.

c. Keefektifan penyelesaian tindakan perbaikan dan tindakan

pencegahan serta hasil-hasil lain yang dicita-citakan.

Tinjauan manajemen juga memiliki prosedur dan form penunjang,

misalnya SML-PL-010 Prosedurkajianmanajemen, HSEF-HSE-005-

01Form jadwaltinjauanulang program K3LL, HSEP-HSE-005

Prosedurrapattinjauanmanajemen, HSEF-HSE-005-02Form

risalahrapattinjauanmanajemen.

5. Peninjauan dan Peningkatan Kinerja K3

Tinjauan ulang penerapan SMK3, paling sedikit meliputi:

1. Evaluasi terhadap kebijakan K3

2. Tujuan, sasaran dan kinerja K3

3. Hasil temuan audit SMK3

69
4. Evaluasi efektifitas penerapan SMK3 dan kebutuhan untuk

pengembangan SMK3.

Perbaikan dan peningkatan kinerja dilakukan berdasarkan pertimbangan:

1. Perubahan peraturan perundang-undangan

3. Tuntutan dari pihak yang terkait dan pasar

4. Perubahanproduk dan kegiatan perusahaan

5. Perubahanstruktur organisasi perusahaan

6. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk

epidemologi

7. Hasil kajian kecelakaan dan penyakit akibat kerja

8. Adanya pelaporan

9. Adanya saran dari pekerja/buruh.

V.2.Penerapan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan

V.2.1.Definisi P3K

Menurut Permenakertrans RI No. 15 Tahun 2008 Tentang Pertolongan

Pertama Pada Kecelakaan Di Tempat Kerja yakni upaya pemberian pertolongan

pertama secara cepat dan tepat kepada pekerja/ buruh dan/atau orang lain yang

berada di tempat kerja yang mengalami sakit atau cidera di tempat kerja.

70
Pertolongan pertama sangatlah penting di dalam sebuah perusahaan untuk

memberikan pertolongan sesaat kepada pekerja ataupun pertolongan orang yang

berada di sekitar tempat kerja.P3K hanyalah sementara karena pertolongan yang

sesungguhnya tetap merujuk kepada rumah sakit untuk mendapatkan perawatan

selanjutnya.

V.2.2Landasan Hukum

1. Undang-undang No. 1 tahun 1970

a. Pasal 3 :syarat-syarat Keselamatan Kerja untuk memberikan P3K

b. Pasal 9 ayat (3): kewajiban membina tenaga kerja dalam pemberian P3K

2. Permennakertrans No.Per.03/Men/1982

a. Pasal 2 :Tugas pokok PKK,Pelaksanaan P3K,Pendidikan petugas P3K

3. Undang-undang No. 3 Tahun 1969

a. Pasal 19 :Setiap badan , lembaga atau dinas pemberi jasa, atau bagiannya

yang tunduk kepada konvensi ini, dengan memperhatikan besarnya dan

kemungkinan bahaya harus :Menyediakan Apotek atau pos P3K sendiri

atau Memelihara apotik atau pos P3K bersama-sama dengan

badan,lembaga atau kantor pemberi jasa atau bagiannya.Mempunyai satu

atau lebih lemari, kotak atau perlengkapan P3K

4. Permenakertrans RI No. 15/Men/VIII/2008 Tentang Pertolongan Pertama Pada

Kecelakaan Di Tempat Kerja.

71
a. Pasal 3 :Tentang persyaratan mendapatkan lisensi petugas P3K.

b. Pasal 4 :Petugas boleh meninggalkan pekerjaannya untuk memberikan

P3K

c. Pasal 5 :Jumlah petugas dihitung berdasar jumlah pekerja & potensi

bahaya

d. Pasal 6 :Tugas Petugas P3K.

e. Pasal 7 :Safety sign tentang P3K.

f. Pasal 9 :Syarat ruang P3K.

g. Pasal 11:Alat evakuasi dan Transportasi.

V.2.3 Maksud,Tujuan dan Sasaran

Maksud pertolongan pertama adalah memberikan pertolongan kepada

korban tidak hanya pekerja, namun juga ketika terjadi kecelakaan disekitar

tempat tersebut akan tetapi hal ini hanya bersifat sementara hingga korban tetap

dirujuk ke rumah sakit terdekat.

Ada tiga sasaran pada pertolongan pertama yakni:

1. Menyelamatkan

2. Mencegah terjadinya kecacatan pada korban

3. Mempercepat penyembuhan

Tugas dari pertolongan pertama:

1. Mengetahui apa yang terjadi tanpa membahayakan keselamatan diri

sendiri.

72
2. Menenangkan,melindungi korban dari bahaya lebih lanjut dan

merawat penderita sebagai sebagi pertolongan pertama.

3. Tetap mengantarkan,merujuk ke rumah sakit terdekat dengan

segera.

Pokok Tindakan Pertolongan Pertama

a. Jangan Panik

Jangan panik bukan berarti lamban.Bertindaklah cekatan tetapi

tetap dalam kondisi yang tenang.Apabila kecelakaan bersifat

massal,maka korban-korban yang menderita ringan dapat dikerahkan

untuk ikut membantu dengan pengarahan dan petunjuk yang singkat

dan jelas.

b. Perhatikanlah Pernafasan korban

Jika memungkinkan berikanlah nafas buatan namun dengan

melalui media seperti selang karena ditakutkan mulut korban

terkontaminasi bahan beracun sehingga hal tersebut dapat menular

kepada penolong.

c. Menghentikan pendarahan

Jika terdapat pendarahan yang keluar dari pembuluh darah

besar,hal itu dapat menyebabkan kematian dalam kurun waktu 3-5

menit.Dengan peristiwa tersebut penolong dapat mempergunakan sapu

tangan atau kain yang bersih dengan cara menekankan pada tempat

73
pendarahan dan ikatlah sapu tangan tersebut dengan sabuk atau kain

panjang dengan menyobek baju dan ikatlah dengan kuat.

d. Perhatikan apakah ada tanda-tanda shock

Jika ada tandashock,korban segera diterlentangkan dengan

kepala lebih rendah dari bagiantubuh lainnya.Apabila jika korban

mengalami cedera di dada dan menderita sesak nafas (masih sadar)

letakkanlah dalam sikap setengah duduk.

e. Jangan memindahkan korban secara terburu-buru.

Korban tidak boleh dipindahkan dari tempatnya sebelum

dipastikan jenis serta keparahan cedera yang dialamikecuali ditempat

yang tidak memungkinkan misal tempat kebakaran.Dalam mengusung

korban,usahakan korban tetap terlindungi dan pastikan saluran

pernafasan korban tidak tersumbat oleh kotoran atau muntahan.Dan

posisi mengusung dengan cara jika dilakukan dengan dua orang yakni

letakkan kepala di dekat pengusung di belakangdengan demikian

pengusung akan dapat memperhatikan hal-hal tadi.

Dalam Kecelakaan misal,urutanprioritas korban yang harus ke

tempat pertolongan lanjutan yakni:

1. Korban dengan luka di dada atau perut yang disertai dnegan oleh

sesak nafas.

74
2. Korban dengan luka di dada atau perut yang disertai dengan

oleh pendarahan dalam rongga-rongga tersebut.

3. Korban dengan luka terbuka di perut.

4. Korban yang diberi torniket.

5. Korban dengan luka di kepala.

6. Korban dengan cedera pada tulang belakang.

7. Korban dengan luka bakar.

8. Korban dengan patah tulang pinggul,paha dan betis.

V.2.4 Petugas P3K

Petugas P3K di tempat kerja adalah pekerja/buruh yang ditunjuk

oleh pengurus/pengusaha dan diserahi tugas tambahan untuk

melaksanakan P3K di tempat kerja. Petugas P3K di tempat kerja harus

memiliki lisensi dan buku kegiatan P3K dari Kepala Instansi yang

bertanggungjawab di bidang ketenagakerjaan setempat dalam hal ini

bersertifikat yang dikeluarkan oleh Disnaker Setempat atau

Kemenakertransi RI.

Jumlah petugas P3K di tempat kerja disesuaikan dengan jumlah

pekerja/buruh yang bekerja pada lokasi tsb.

75
Tabel 5.1 Jumlah Petugas P3K

Klasifikasi Tempat Kerja Jumlah Pekerja Petugas P3K

Tempat Kerja dengan 25-150 1 orang

potensi bahaya rendah- >150 1 orang untuk setiap

sedang 150 orang/lebih

Tempat kerja dengan ≤100 1 orang

potensi bahaya tinggi >100 1 orang untuk setiap

100 orang/kurang

Petugas P3K di tempat kerja mempunyai tugas yaitu :

1. Melaksanakan tindakan P3K di tempat kerja

2. Merawat fasilitas P3K di tempat kerja

3. Mencatat setiap kegiatan P3K dalam buku kegiatan

4. Melaporkan kegiatan P3K kepada pengurus.

Tabel 5.2 Jumlah Kotak P3K

Jumlah kotak P3K tiap


Pekerja Jenis kotak P3K
unit kerja

Kurang 26 pekerja A 1 kotak A

1 kotak B atau 2
26 – 50 pekerja B/A
Kotak A

51-100 pekerja C/B/A 1 koatak C atau,2

76
kotak B atau,4 kotak

A atau,1 kotak B dan

2 kotak A

1 kotak C atau,2

koatak B atau,4 kotak


Setiap 100 pekerja C/B/A
A atau,1 kotak B dan

2 kotak A

Keterangan :

1 kotak B setara dengan 2 kotak A

1 kotak C setara dengan 2 kotak B

Lapindo Brantas Inc terdapat 1 paramedis yang telah memilih seritifkat

P3K dan gawat darurat dan sekarang memiliki level advance.Paramedis ini

bertugas untuk menginspeksi kotak P3K yang telah kosong dan menguji tekanan

darah setiap seminggu sekaili dan yang terpenting memberikan pertolongan

pertama kepada korban yang terluka.

Berdasarkan No.Per.15/MEN/VII/2008 bab II pasal 3 – 7 hasilnya

Lapindo Brantas Inctelah menerapkan ketentuan tersebut dengan baik karena

bahaya di Lapindo Brantas Incmemiliki resiko bahaya tinggi dan pekerja

lapangan< 200 memiliki 1 paramedis. Hal tersebut dapat disimpulkan Lapindo

Brantas Inctelah menerapkan P3K di tempat kerja.

77
V.2.5 Pelaksanaan P3K

Lapindo Brantas Inc adalah salah satu perusahaan Kontraktor Kontrak

Kerja Sama (KKKS) yang ditunjuk SKK untuk melakukan pengelolaanminyak

dan gas bumi di Indonesia dan sekarang terdapat ±125 tenaga kerja yang terbagi

menjadi bagian maintenance,proses produksi,control room,administrasi dst.

Lapindo Brantas Inc memiliki lima staff HSE(Health Safety

Environment)yakni satu HSE manager,dua HSE Officer,satu HSE

Coordinatorterdapat satu paramedis berada dalam naungan HRD(Human

Resources Department).

Berdasarkan No.Per.15/MEN/VII/2008 bab 1 pasal 2 ayat 1 yang

berbunyi, ‘’Pengusaha wajib menyediakan petugas P3K dan fasilitas P3K’’ dan

ayat 2 yang berbunyi, ‘’Pengurus wajib melaksanakan P3K di tempat

kerja’’.Hasilnya Lapindo Brantas Inctelah menerapkan P3K dengan baik dan

benar.

V.2.6 Fasilitas P3K

V.2.6.1 Ruang P3K

Lapindo Brantas Incmemiliki ruang P3K di lapangan Wunut-

Tanggulangin dimana klinik ini dekat dengan parkiran dan titik kumpul

evakuasi.Letak klinik ini tersendiri dengan bangunan lainnya.Didalamnya

terdapat 1 kamar tidur.Alat pengukur berat badan dan tinggi serta papan laporan

78
korban kecelakaan.Namun pada saat ituklinik tersebut digunakan sebagai ruang

maintenance sehingga klinik saat itu tidak ada.

V.2.6.2 Kotak P3K dan Isi

Lapindo Brantas Incterdapat kotak P3K yang terdapat di pos satpam,

ruang kontrol, TPS limbah B3.Kotak P3K terbuat dari bahan kayu dengan

lambang berwarna merah bukan hijau.Jika terdpat kecelakaan atau kesehatan

terganggu pekerja dapat langsung mengambilnya di kotak P3K, namun pengisian

ulang yang dilakukan belum secara maksimal dikarenakan Paramedis yang masih

baru dan belum untuk berkeliling di lapangan/plan.Berikut merupakan isi yang

ditemui di tempat:

Tabel 5.3 Isi Kotak P3K di Lapangan

No. Nama Obat Jumlah

1. Entrostop,Diapet @ 1 keplek

2. Kasa steril 1 gulungan

3. Betadine 1 botol

4. Kapas 1 gulungan

V.2.6.3 Alat Evakuasi dan Transportasi

Alat evakuasi yang terdapat di Lapindo Brantas Incyakni berupa tandu

dan di wunut 1 terdapat dua tandu satu diletakkan di klinik namun sekarang
79
masih di tempati maintenance dan satu lagi di departemen F&C dan mungkin di

sini terdapat ambulance yang dipersiapkan khusus untuk korban namun jika

terjadi hal yang darurat akan menggunakan mobil yang tersedia di parkiran dan

juga sudah terdapat sopir yang selalu siap.

V.2.7 Pengawasan P3K

Pelaksanaan pengawasan P3K di Lapindo Brantas Incbelum dilakukan

dengan secara maksimal baik itu pengawssan pada fasilitas P3K maupun

pengawasan terhadap personil pelaksana P3K yang dilkukan oleh pihak

disnaker.Pengawasan terhadap Per.No.15/MEN/VII/2008 ini dilakukan oleh

pengawas ketenagakerjaan pada instansi yang bertanggung jawab di bidang

ketenagakerjaan pada Pemerintah provinsi dan Pemerintah kabupaten/kota.

V.3 Gambaran pelaksanaan bekerja di ruang terbatas (Confined space)

V.3.1Pengertian Confined space

Menurut OHSA, confined spaces adalah sebuah ruangan yang

mempunyai tiga karakteristik, yaitu mempunyai luas yang terbatas, mempunyai

keterbatasan pintu untuk masuk dan keluar, serta tidak didisain untuk pekerjaan

yang terus menerus. Ruang terbatas tidak dirancang sebagai tempat kerja yang

dilakukan terus menerus contohnya seperti tanki, pipa, dan bejana lainnya. Di

dalam ruang terbatas tidak ada ventilasi, sirkulasi udara terbatas dan minim sekali

oksigen. Ciri-ciri dari confined spaces adalah memiliki bukaan yang terbatas baik

80
untuk masuk maupun keluar, terdapat ruang untuk masuk yang cukup besar atau

setidaknya ada bagian yang terbuka, berpotensi menggandung gas beracun dan

ventilasi yang tidak memadai.

Bekerja di dalam ruang terbatas (confined spaces) mempunyairesiko

terhadap keselamatan dan kesehatan pekerja di dalamnya. Olehkarenanya

diperlukan aturan dalam rangka memberikan jaminanperlindungan

terhadap pekerja dan aset lainnya, baik melalui peraturanperundang-undangan,

program memasuki ruang terbatas dan persyaratanataupun prosedur untuk

memasuki dan bekerja di dalam ruang terbatas.Mengandung beberapa sumber

bahaya baik yang berasal dari bahan kimiayang mengandung racun dan mudah

terbakar dalam bentuk gas, uap, asap,debu dan sebagainya. Selain itu masih

terdapat bahaya lain berupaterjadinya oksigen defisiensi atau sebaliknya

kadar oksigen yangberlebihan, suhu yang ekstrem, terjebak atau

terliputi(engulfment),maupun resiko fisik lainnya yang timbul seperti kebisingan,

permukaanyang basah atau licin dan kejatuhan benda keras yang terdapat di

dalamruang terbatas tersebut yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja

sampaidengan kematian tenaga kerja yang bekerja di dalamnya.

V.3.2Dasar Hukum Confined Spaces

Dasar hukum yang mendasari K3 ruang terbatas (confined spaces) Lapindo

Brantas Inc adalah sebagai berikut :

1. Undang Undang No. 3 tahun 1969 tentang Persetujuan Konvensi

ILO No.120 mengenai Hygiene dalam Perniagaan dan Kantor-Kantor


81
2. Undang Undang No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja

3. Undang Undang No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan

4. Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. Kep. 187/Men/1999

tentang Pengendalian Bahan Kimia Berbahaya di Tempat Kerja

5. Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja No. SE.01/Men/1997 tentang

Nilai Ambang Batas Faktor Kimia di udara Lingkungan Kerja

6. Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja dan Transmigra si No.

SE.117/Men/PPKPKK/III/2005 tentang Pemeriksaan Menyeluruh

Pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Pusat

Perbelanjaan, Gedung Bertingkat, dan Tempat Publik Lainnya.

V.3.3Persyaratan Memasuki Ruang Terbatas

Untuk memasuki ruang terbatas (confined spaces) Lapindo Brantas Inctelah

memenuhi beberapa persyaratan yang sesuai dengan Pedoman Keselamatan dan

Kesehatan Kerja di Ruang Terbatas (confined spaces) Direktorat Pengawasan

Norma Keselamatan Kesehatan Kerja 2006. Adapun persyaratannya adalah

sebagai berikut :

1. Jika penutup akses atau pintu masuk dibuka, pada jalur tersebut harus

dipasang selusur, penutup sementara atau penghalang sementara

lainnya untuk mencegah masuknya pekerja tanpa disengaja dan untuk

melindungi pekerja di dalam ruang terbatas tersebut dari masuknya

benda asing ke dalam ruangan.

82
2. Sebelum pekerja memasuki ruangan, udara di dalam ruangan harus

diuji terlebih dahulu, berturut-turut untuk kadar oksigen, gas dan uap

yang mudah terbakar dan kontaminan udara yang berpotensi

berbahaya dengan peralatan yang telah dikalibrasi. Setiap peerja yang

memasuki ruangan atau perwakilan pekerjaan tersebut, wajib diberi

kesempatan untuk mengawasi pengujian tersebut.

3. Tidak boleh ada udara berbahaya dalam ruangan tersebut jika terdapat

pekerja di dalammnya.

4. Wajib menyediakan sistem aliran udara secara kontinyu, dengan

ketentuan sebagai berikut :

a. Pekerja tidak boleh memasuki ruangan sebelum udara berbahaya

di dalamnnya dibersihkan terlebih dahulu.

b. Aliran udara tersebut diarahkan sedemikian rupa sehingga dapat

mencapai area dimana pekerja akan berada dan harus

berlangsung terus menerus selama pekerja berada di dalam.

c. Pengaturan aliran udara tersebut harus diperoleh dari sumber yang

bersih dan tidak boleh meningkatkan bahaya dalam ruangan.

5. Udara dalam ruangan harus diuji secara berkala sesering mungkin

untuk memastikan bahwa pengaturan aliran udara dapat mencegah

akumulasi udara yang berbahaya dalam ruangan.

6. Jika terdeteksi udara berbahaya selama kegiatan berlangsung, maka

yang harus dilakukan adalah :

83
a. Setiap pekerja harus meninggalkan ruang terbatas tersebut

secepatnya.

b. Ruangan harus dievaluasi untuk menentukan bagaimana udara

berbahaya tersebut dapat terjadi.

c. Harus dilakukan pemeriksaan untuk melindungi pekerja dari udara

berbahaya tersebut sebelum kegiatan berikutnya berlangsung.

V.3.4Persyaratan Kesehatan Untuk Orang Yang Bekerja di Ruang Terbatas

Bekerja di ruang terbatas dapat memberikan tekanan fisik dan psikologis.

Hal ini dikarenakan kualitas penerangan yang buruk dan ruangan yang sempit,

dapat menyebabkan gangguan pengelihatan dan keseimbangan karena

menurunnya fungsi koordinasi dari peredaran darah yang tidak normal.Pengurus

wajib memastikan pekerja yang bekerja di ruang terbatas dalam keadaan sehat

secara fisik dan dinyatakan oleh dokter pemeriksa kesehatan kerja bahwa pekerja

tersebut tidak mempunyai riwayat. Dalam hal ini Lapindo Brantas Inctelah

memenuhi beberapa persyaratan yang sesuai dengan (Direktorat Pengawasan

Norma Keselamatan Kesehatan Kerja, 2006) :

1. Sakit sawan atau epilepsi

2. Penyakit jantung atau gangguan jantung

3. Asma, bronchitist atau sesak napas apabila kelelahan

4. Gangguan pendengaran

5. Sakit kepala yang dapat menyebabkan disorientasi, contohnya seperti

migran atau vertigo


84
6. Klaustrophobia atau gangguan mental lainnya

7. Gangguan atau sakit tulang belakang

8. Kecacatan penglihatan permanen

9. Penyakit lainnya yang dapat membahayakan keselamatan selama

bekerja di ruang terbatas

Menurut Direktorat Pengawasan Norma Keselamatan Kesehatan Kerja

(2006) terdapat beberapa tips aman bekerja di ruang terbatas yang juga

diterapkan oleh Lapindo Brantas Inc, antara lain :

1. Lakukan identifikasi bahaya sebelum melakukan pekerjaan di ruang

terbatas

2. Lakukan ijin kerja sebelum masuk untuk pengendalian bahaya.

Karena dengan ijin kerja petugas safety akan membantu pekerja dalam

memverifikasi bahaya di ruang terbatas yang kemungkinan akan

kontak dengan pekerja

3. Sebelum memasuki ruang terbatas pekerja didampingi petugas safety

wajib melakukan pengukuran kadar gas berbahaya, seperti karbon

monoksida atau CO (gas racun dari pembakaran tidak sempurna),

methana atau CH4 (gas yang mudah terbakar atau meledak) dan

kandungan O2 dalam ruang terbatas

4. Setelah diverifikasi kondisi lingkungan dalam kondisi aman, lakukan

penguncian sumber energi dengan metode lockout tagout (LOTO)

5. Penuhi dan pakai alat pelindung diri sesuai bahaya dan resiko yang

diterima seperti : masker, helm, sepatu, dan sarung tangan


85
6. Untuk memperlancar ventilasi udara di ruang terbatas maka sediakan

ventilasi dengan blower jika diperlukan

7. Operator, Supervisor atau section head harus mengetahui dan

mempersiapkan P3K atau tanggap darurat jika ada kondisi yang

darurat

8. Berikan pencahayaan yang cukup di dalam ruang terbatas, karena ada

beberapa orang yang takut gelap (claustrophobia).

V.3.5Sistem Perijinan

Sebelum kegiatan dilangsungkan, pengurus wajib mendokumentasikan

kelengkapan langkah-langkah pencegahan seperti yang telah diatur. Ahli K3

Lapindo Brantas Incyang dicantumkan dalam surat ijin wajib menandatangani

ijin tersebut untuk mensahkan kegiatan. Ijin yang telah lengkap harus diberikan

pada saat dimulai kegiatan kepada seluruh petugas utama yang berwenang atau

perwakilannya, dengan memasangnya pada pos kegiatan atau dengan cara lain

yang sama efektifnya, agar petugas utama dapat memastikan bahwa persiapan

awal sebelum memulai kegiatan telah selesai dilaksanakan. Durasi kegiatan yang

tercantum dalam surat ijin tidak boleh melebihi waktu yang diperlukan untuk

menyelesaikan tugas atau pekerjaan yang dicantumkan dalam ijin.

Ahli K3 Lapindo Brantas Incwajib menghentikan kegiatan dan

membatalkan ijin kegiatan apabilakegiatan seperti yang dicantumkan dalam surat

ijin telah dilaksanakan, atau kondisi yang tidak diperbolehkan dalam ijin kegiatan

timbul dalam ruangan, pengurus wajib menahan setiap ijin kegiatan yang telah
86
dibatalkan minimal 1 tahun untuk mengkaji ulang program untuk ruang terbatas

dengan ijin khusus seperti yang diatur. Setiap masalah yangtimbul selama

kegiatan akan dicatat dalam ijin tersebut sehingga revisi dapat dilakukan.

V.3.6Ijin kegiatan

Ijin kegiatan pada PT Lapindo Berantas Inc telah sesuai dengan yang

dimaksud dalam Pedoman Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Ruang Terbatas

(confined spaces) Direktorat Pengawasan Norma Keselamatan Kesehatan Kerja

2006 yang memuat:

a. Ruang terbatas dengan ijin khusus yang akan dimasuki

b. Kegiatan yang dilangsungkan di dalamnya

c. Tanggal dan durasi kegiatan yang telah disahkan dalam ijin kegiatan

d. Petugas-petugas utama yang bekerja dalam ruangan, baik dengan

penulisan nama atau cara lain (seperti penggunaan jadwal kerja) untuk

memudahkan petugas madya mengetahui petugas utama yang akan

bekerja dalam ruangan untuk jangka waktu tertentu, dengan cepat dan

akurat.

e. Nama pekerja yang bertugas sebagai petugas madya

f. Nama ahli K3 yang bertugas, dengan spasi untuk tanda tangan atau initial

ahli K3 yang mensahkan kegiatan

g. Bahaya dari ruangan yang akan dimasuki

87
h. Langkah-langkah yang diambil untuk mengisolasi ruangan dan untuk

menghilangkan atau mengendalikan bahayadari ruang terbatas dengan ijin

khusus tersebut sebelum dimulai kegiatan

i. Kondisi yang masih diperbolehkan untuk melakukan kegiatan

j. Hasil dari pengujian awal dan berkala yang seperti yang diatur

k. Tim penyelamat dan tim tanggap darurat yang dapat dipanggil dan cara

untuk memanggilnya (seperti peralatan yang digunakan dan nomor yang

dapat dihubungi)

l. Prosedur komunikasi yang digunakan oleh petugas utama dan petugas

madya untuk mempertahankan hubungan selama kegiatan berlangsung

Peralatan, seperti APD, peralatan pengujian, alat komunikasi, system

alarm, alat-alat penyelamatan yang harus disediakan seperti yang diatur

dalam pedoman ini Informasi lain yang dirasakan perlu, sesuai dengan

kondisi ruangan, untuk memastikan Keselamatan pekerja

m. Ijin tambahan lainnya, seperti untuk melakukan kerja panas, yang telah

dikeluarkan untuk mengesahkan pekerjaan tersebut dalam ruang terbatas

dengan ijin khusus.

V.3.7Gambaran Confined Spaces di Lapindo Brantas Inc

Lapindo Brantas Incmemiliki beberapa tanki dan vessel dengan fungsi

masing-masing yang termasuk dalam jenis ruang terbatas (confined spaces).

Dikatakan ruang terbatas apabila seseorang yang bekerja dengan sebagian

maupun seluruh anggota tubuhnya berada di dalam ruang terbatas, antara lain:

88
a. Tangki penyimpanan, bejana transpor, boiler, dapur/tanur, silo dan

jenis tangki lainnya yang mempunyai lubang lalu orang

b. Ruang terbuka di bagian atas yang melebihi kedalaman 1,5 meter

seperti lubang lalu orang yang tidak mendapat aliran udara yang

cukup

c. Jaringan perpipaan, terowongan bawah tanah dan struktur lainnya

yang serupa

d. Ruangan lainnya di atas kapal yang dapat dimasuki melalui lubang

yang kecil seperti tangki kargo, tangki minyak dan sebagainya (Direktorat

Pengawasan Norma Keselamatan Kesehatan Kerja, 2006).

Tabel 5.4 Contoh Ruang Terbatas di Lapindo Brantas Inc

No. Gambar Nama / nomor aset Fungsi

1 Diesel fuel tank Tempat


penyimpanan
bahan bakar
solar

2 Low pressure Separator dua


separator (V-110) fase ini
berfungsi
sebagai pemisah
gas dengan
liquid

89
3 Liquid tank (T-130) Vessel ini
digunakan
sebagai
penampung
liquid
(campuran air,
mineral,
kondensat)

4 Condensat tank Untuk


menampung
(T-140) kondensat
(minyak) yang
terpisah dari
(T-130)

5 Flash separator Sebagai tempat


pemisah liquid
(V-280) glycol agar lebih
bersih

6 Scrubber (V-160) Digunakan


sebagai tempat
penampung
Glycol murni /
baru

90
7 Glycol Contactor Sebagai tempat
terjadinya
(V-210) (kontak) antara
gas dengan
glycol, hal ini
dimaksudkan
agar gas yang
terproduksi
tidak
mengandung air.

8 Glycol reboiler Reboiler


tank (atas) dan berfungsi untuk
source drum memanaskan
(bawah) glycol sehingga
air yang terikut
(V-260) oleh glycoldari
kontaktor dapat
menguap.

Source drum
untuk
menampung
glycoldari
reboiler.

9 KO-Drum Berfungsi untuk


menampung
(V-121) liquid yang
masih terikut
sebelum menuju
ke flare.

91
10 Glycol separator Tempat
(V-2820) penampung
glycol (unit
pengeringan).
Berfungsi untuk
mengurangi
kadar uap air /
pengeringan.

11 Glycol scrubber Sebagai tempat


(V-220) penyaringan sisa
kondensat yang
masuk pada skat

12 Tangki air di Menampung air


samping musholla untuk supply air
bersih.

13 Drum air samping Drum air


musholla sebelum di-
filtrasi dan
ditampung di
tangki
penampung air
bersih.

92
Dari hasil audit yang didapat, ahli K3 Lapindo Brantas Incruang terbatas

telah melakukan proteksi pada saat operasi normal berupa pembatas, pengunci

manhole, tanda peringatan dan SOP. Mengenai SOP sendiri juga dilakukan revisi

tiap satu tahun sekali atau jika dalam keadaan tertentu yang sesuai dengan

kondisi plan dan dipublikasikan kepada seluruh tenaga kerja dalam Tool Box Talk

khususnya di ruang terbatas. Apabila ada tenaga kerja yang belum memahami

SOP tersebut, maka akan didampingi oleh orang yang telah memahami SOP

untuk melakukan pekerjaannya. Sebelum memulai pekerjaan di ruang terbatas

juga dilakukan pemeriksaan berupa pengecekan pada tanki yang tidak sesuai

seperti melihat keadaan tanki, ventilasi udara dengan membuka manholesetelah

itu dilakukan pengecekan gas menggunakan gas detector, apabila tidak terjadi

kebocoran gas tenaga kerja segera memulai pekerjaannya. Jika pada saat

melakukan pekerjaan di ruang terbatas terdapat kendala, tenaga kerja diwajibkan

untuk segera menuju master area. Saat melakukan pekerjaan, peralatan yang

digunakan sudah dinilai layak yang sesuai dengan karakteristik ruang terbatas,

hanya saja pernah ada peralatan yang kurang baik tetapi tidak sampai

menimbulkan near miss bagi para tenaga kerja. Sedangkan peralatan yang

mengalami kerusakan akan diletakkan pada maintenence untuk diperbaiki dan

dilakukan perawatan dengan pengecekan setiap seminggu sekali.

93
BAB VI

PENUTUP

VI.1Kesimpulan

1. Berdasarkan evaluasi yang telah dilakukan, Lapindo Brantas, Inc telah


memiliki dokumen Manual SMK3sesuai dengan PP Nomer 50 Tahun
2012 dan OHSAS 18000.
2. Lapindo Brantas Inc tidak memiliki klinik namun mereka memiliki ruang
P3K yang digunakan untuk mengobati korban kecelakaan, namun tempat
tersebut masih dipergunakan untuk ruang maintenance sementara
dikarenakan petugas P3K disana masih baru karena petugas yang lama
telah pensiun.
3. Lapindo Brantas Inc telah memiliki pengendalian yang cukup baik dalam
penanganan confined spaces. Hal ini telah dibuktikan dengan temuan
positif pada hasil audit.

VI.2Saran

1. Mempertahankan dokumen Manual SMK3LL tersebut dan selalu

mengupdate peraturan peraturan baru agar dokumen manual tetap

relevan.

2. Lapindo Brantas Inc Memindahkan ruang engineer ke tempat lain agar

klinik tetap bisa beroperasi.

3. Lapindo Brantas Inc Melengkapi kotak P3K sesuai peraturan yang ada.

Dan tetap melakukan pemantauan terhadap kelengkapan isi kotak P3K

tersebut.

4. Lapindo Brantas Inc Mempertahankan cara kerja yang aman ketika

bekerja di confined space.

94
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1970. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.

Anonim. 2007. Occupational Health and Safety Management System-Requirements.

Occupational Health and Safety Assessment Series (OHSAS) 18001:2007.

Anonim. 2012. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2012

tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

Tarwaka.2008.Keselamatan dan Kesehatan Kerja "Manajemen dan Implementasi

K3 di Tempat Kerja". Surakarta: Harapan Press.

Suma’mur. 2009. Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja. Jakarta : Gunung

Agung.

Anonim.2008. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2008

tentang pertolongan pertama pada kecelakaan kerja di tempat kerja.

Anonim. 2011. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 13

Tahun 2011 tentang NAB Faktor fisika dan faktor kimia di tempat kerja.

Anonim. 1969. Undang Undang Nomer 3 tahun 1969 tentang Persetujuan

Konvensi ILO No.120 mengenai Hygiene dalam Perniagaan dan Kantor-

Kantor

Anonim. 2006. Direktorat Pengawas Norma K3 tentang Pedoman K3 di Ruang

Terbatas(confined space).

95
\
FORM IJIN MASUK

Status Dokumen : Dokumen Terkendali


No : HSEF-HSE-012-
No. Revisi : 00 Tanggal Efektif : 16 April 2014
03
FORM IJIN KERJA DINGIN

Status Dokumen : Dokumen Terkendali


Halaman 106 dari 1
No : HSEF-HSE-012-
No. Revisi : 00 Tanggal Efektif : 16 April 2014
02
FORM IJIN KERJA PANAS

Status Dokumen : Dokumen Terkendali


No : HSEF-HSE-012-
No. Revisi : 00 Tanggal Efektif : 16 April 2014
01
FORM DAFTAR PETUGAS
P3K

Daftar berikut ini berisi daftar terbaru dari petugas P3K dalam perusahaan :

NAMA DEPARTEMEN PELATIHAN TANGGAL TANGGAL


STANDAR SERTIFIKAT PEMBARUAN
P3K SERTIFIKAT

Status Dokumen : Dokumen Terkendali


No : HSEF-HSE-022-
No. Revisi : 00 Tanggal Efektif : 16 April 2014
01
FORM DAFTAR
PENGAWASAN KESEHATAN

NAMA AREA BAHAYA JENIS TANGGAL


PEKERJA PEMERIKSAAN REVIEW
DAN TANGGAL

Status Dokumen : Dokumen Terkendali


No : HSEF-HSE-026-
No. Revisi : 00 Tanggal Efektif : 16 April 2014
01
FORM JADWAL
PEMANTAUAN LINGKUNGAN
KERJA

AHAYA YANG LOKASI JENIS FREKUENSI PETUGAS


DIAWASI PENGUJIAN YANG
BERTANGGUN
G JAWAB

Kebisingan

Pencahayaan

Ventilasi

Temperatur

Kelembaban

Emisi
kendaraan
bermotor

Radiasi

Debu

Uap Organik

Asap

Status Dokumen : Dokumen Terkendali


No : HSEF-HSE-025-
No. Revisi : 00 Tanggal Efektif : 16 April 2014
01
PETUNJUK DAERAH
PEMAKAIAN APD

Perlindungan Daerah yang Memerlukan Jenis APD

Semua daerah kerja di perusahaan dan pekerjaan  Semua helm keselamatan yang
lapangan dibuat sesuai standar
Pelindung Kepala  Helm dari bahan logam tidak
Pengecualian : Ruangan Kantor diperkenankan (persyaratan Migas
dan Pertamina)

Semua daerah kerja di perusahaan dan pekerjaan


lapangan Semua jenis sepatu atau boot
Pelindung Kaki keselamatan yg dibuat sesuai standar
Pengecualian : Ruang kantor atau daerah yang
ditentukan oleh Manajemen Lapangan

Semua daerah kerja di perusahaan dimana diketahui


terdapat bahaya terhadap mata Semua harus dari jenis yang
Termasuk, tetapi tidak terbatas pada : disetujui :
Pelindung Mata  Bengkel  Pelindung muka
 Laboratorium  Goggle
 Penanganan B3  Kaca mata pengelasan
 Pengelasan / gerinda

Semua daerah kerja di perusahaan dimana terdapat


kegiatan : Semua harus dari jenis yang
Pelindung Tangan  Penanganan material disetujui :
 Pemakaian B3  Sarung tangan katun
 Pekerjaan manual  Sarung tangan kulit
 Pemakaian alat atau perkakas  Sarung tangan karet
 Sarung tangan tahan panas
Semua daerah kerja di perusahaan yang memiliki  Penutup telinga
Pelindung Telinga kebisingan (melebihi 85 dB)  Pelindung telinga disposible

Digunakan untuk :  SCBA (Self Contained Breathing


 Penanganan B3 Apparatus)
Pelindung  Daerah berkadar debu tinggi  Masker anti debu
Pernafasan  Tim Pemadam Kebakaran

Pelindung Badan Digunakan untuk :


 Pekerjaan manual  Coverall
 Pemakaian B3  Chemical Suit
 Pengelasan  Welding Leather
 Pekerjaan di area basah

Semua anggota pemadam kebakaran


Lain-lain Perlengkapan pemadam kebakaran memiliki APD yang sesuai dengan
tugasnya

Status Dokumen : Dokumen Terkendali

No : HSEP-HSE-013 No. Revisi : 00 Tanggal Efektif : 1 Februari 2005


STANDAR PEMAKAIAN APD

Pelindung Pelindung Coverall Sarung Pelindung Pelindung Pelindung Lain- Keterangan


PEKERJAAN Kepala Kaki Tangan Telinga Mata Pernafasan lain

1 Semua personil √ √ √ A A A A A
lapangan √ √ √ √ √ A A A
 Operator √ √ A A A Alas, sarung tangan
√ √ √
 Electrician A A A karet
√ √ √ √ √
 Mekanik A A A
 Peralatan √ √ √ √ √
√ √ √
 Pengelasan √ √ √ √ A
A A A APD untuk
 Helper √ √
√ √ √ pengelasan

2 Manajemen √ √ √ A A A A A
Lapangan

3 Tamu / Pengunjung √ √ √ A A A A A
*)

Keterangan :
√ = wajib A = sesuai kebutuhan
*) tenaga kerja dari kantor pusat, instansi pemerintah, pelajar atau mereka yang berkunjung dalam waktu singkat (non reguler)
Status Dokumen : Dokumen Terkendali

No : HSEP-HSE-013 No. Revisi : 00 Tanggal Efektif : 1 Februari 2005