Anda di halaman 1dari 17

PENYELESAIAN KONFLIK PERTANAHAN BERBASIS NILAI-

NILAI KEARIFAN LOKAL DI NUSA TENGGARA BARAT*

H. M. Galang Asmara**, Arba***, dan Yanis Maladi****

Abstract Abstrak
This research aims to analyse government Penelitian ini bertujuan mengkaji kebijakan
policies and local wisdom values in the pemerintah dan nilai-nilai kearifan lokal
matter of land conflict resolution. Results yang berkaitan dengan upaya penyelesaian
show that the resolution is dominated konflik pertanahan. Hasil penelitian
by nonlitigation efforts, including peace menunjukkan bahwa penyelesaian sengketa
agreement through negotiation, discussion, tanah didominasi oleh pola penyelesaian
and mediation. Therefore, principles of nonlitigasi, misalnya perdamaian melalui
adat law in resolving conflicts should be negosiasi, musyawarah mufakat, dan
empowered, preserved, and socialised. mediasi. Dengan demikian, prinsip-prinsip
hukum adat dalam penyelesaian konflik perlu
dibina, dilestarikan, dan disosialisasikan.

Keywords: konflik pertanahan, kearifan lokal, hukum adat, penyelesaian nonlitigasi

A. Latar Belakang hubungan-hubungan hukum subyek hukum


Sengketa atau konflik hak tanah meru- dengan tanah serta penyelesaian sengketa
pakan salah satu bentuk konflik yang mem- hak atas tanah. Masalah sengketa tanah tidak
butuhkan perhatian yang serius dari berbagai mencakup sengketa antarperorangan atau
kalangan, terutama kalangan pemerintah. antarkelompok saja, melainkan juga seng-
Yang dimaksud dengan kalang­an pemerin- keta antarperorangan atau kelompok dengan
tah dalam hal ini adalah Badan Pertanahan negara selaku penguasa.
Nasional yang diberi tugas menangani ma- Konflik pertanahan terjadi sejak za-
salah pertanahan, mulai dari pengaturan per­ man sebelum kemerdekaan hingga sekarang
untukan, penggunaan, penyediaan, peman- ini. Pada zaman penjajahan, konflik perta-
faatannya sampai pada urusan pemberian nahan terjadi karena perbedaan kepentingan
jaminan kepastian hukum dan hak, mengatur antara penjajah dengan kaum yang dijajah


*
Laporan Penelitian Dibiayai oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional,
sesuai dengan Surat Perjanjian Pelaksanaan Hibah Kompetitif Penelitian sesuai Prioritas Nasional Tahun
2009.
**
Dosen Fakultas Hukum Universitas Mataram (Jalan Majapahit Nomor 62 Mataram).
***
Dosen Fakultas Hukum Universitas Mataram (Jalan KH. Mansyur IV/27b Dasansari-Kebunsari Ampenan).
****
Dosen Fakultas Hukum Universitas Mataram (Jalan Semanggi II Nomor 10 Mataram).
2 MIMBAR HUKUM Volume 22, Nomor 1, Februari 2010, Halaman 1 - 200

(pribumi), sehingga berimbas pada konflik semakin meningkat di wilayah Nusa


hukum, yaitu dengan berlakunya dualisme Tenggara Barat?
hukum pertanahan. Akan tetapi di era ke- 2. Bagaimana pola-pola penyelesaian
merdekaan dan reformasi sekarang ini, kon- seng­keta tanah dan aturan hukum apa
flik pertanahan muncul karena pertentangan yang digunakan dalam penyelesaian
kepentingan perorangan dan pertentangan konflik pertanahan pada masyarakat
kepentingan antar kelompok. Selain itu adat di wilayah Nusa Tenggara Barat?
juga karena pertentangan antara kepenting­
an umum dengan kepentingan perorangan C. Metode Penelitian
dan kelompok masyarakat. Contoh nyata Dalam melakukan penelitian ini, pe­
konflik vertikal antara masyarakat petani neliti mempelajari tentang latar belakang
Desa Tanak Awu dengan PT Angkasa Pura terjadinya sengketa tanah serta pola-pola pe-
(kepentingan pemerintah). Berbagai konflik nyelesaian yang dilakukan oleh masyarakat
pertanahan horizontal yang terjadi di kalang­ di NTB. Tindakan masyarakat tidak dilihat
an masyarakat disebabkan oleh persoalan dan sisi hukum belaka, akan tetapi hendak
warisan, pemekaran wilayah dan kekaburan dilihat juga dengan variabel sosial lainnya,
batas wilayah seperti yang terjadi di Keca- yang pada akhirnya dalam masalah pene-
matan Wera, yaitu konflik perbatasan antara litian ini akan bertumpu pada dua model
Desa Nunggi dan Desa Wora pada 2006. pendekatan.
Jika sengketa atau konflik tanah ti­dak Pertama, model Interaction Approach.
mendapat perhatian serius dan tidak dicari- Model pendekatan ini bertumpu pada tujuh
kan pola-pola penyelesaian yang arif dan bi- proposisi dasar yang kemudian mengkristal
jaksana, maka konflik vertikal maupun kon- menjadi tujuh prinsip metodologi, yaitu:
flik horizontal tidak akan bisa terselesaikan (1) simbol dan interaksi itu menyatu, (2)
dengan baik dan arif. Harapan akan kepas- peneliti harus sekaligus mengaitkan antara
tian hukum dan kepastian hak atas tanah simbol dengan jatidiri, lingkungan dan
hanya menjadi harapan dan impian belaka. hubungan sosial, (3) simbol dan makna
Oleh karena itu, perlu diupayakan mencari tidak terlepas dan sikap pribadi, (4)
model penyelesaian terbaik untuk sengketa/ situasi direkam sebagai menggambarkan
konflik pertanahan. simbol dan maknanya, (5) motode yang
digunakan mampu merefleksikan bentuk
B. Perumusan Masalah perilaku dan proses, (6) mampu menangkap
Berdasarkan pada latar belakang makna di balik interaksi, dan (7) ketika
tersebut di atas, maka permasalahan yang memasuki lapangan “sensitzing” atau yang
dikaji dalam penelitian tahun pertama ini mengarahkan pemikiran harus dirumuskan
adalah sebagai berikut: untuk lebih operasiorial.
1. Faktor-faktor apa saja yang menjadi Kedua, model Rational Approach.
penyebab terjadinya konflik pertanahan Pendekatan ini berpijak pada makna secara
di masyarakat yang akhir-akhir ini ontologis, bergerak dari empirik yang logis
Asmara, Arba, dan Maladi, Penyelesaian Konflik Pertanahan 3

dan etis; sedangkan secara epistimologis dan studi dokumen. Dalam pe­ngumpulan
menggunakan kerangka berfikir interpretative data tersebut, peneliti sendiri sebagai instru-
understanding (verstehen). men utama penelitian. Sebelum pengum-
Penelitian ini dilakukan di Nusa pulan data penelitian melalui tiga teknik di
Teng­­gara Barat, yakni pada 2 kota dan 7 atas, maka terlebih dahulu perlu dilakukan
kabupaten di Pulau Lombok dan Sumbawa. penciptaan rapport1 untuk meminimalisir
Dari 9 kabupaten dan kota tersebut, kami keterasingan peneliti dengan para informan
mengambil sampel wilayah sesuai dengan dan atau responden penelitian dan sekaligus
tiga wilayah hukum adat yang hidup di untuk menjajaki kerjasama.
wilayah Pulau Lombok dan Sumbawa, yaitu Teknik wawancara, dilakukan de­ngan
Kabupaten Lombok Barat dan Kabupaten orang-orang yang mengetahui dan mema-
Lombok Tengah yang mewakili Suku Sasak hami permasalahan yang diteliti yaitu: ma-
(hukum adat Sasak), Kabupaten Sumbawa syarakat yang merasa memiliki hak atas
yang mewakili Suku Samawa (hukum tanah yang menjadi objek sengketa, juga
adat Samawa), dan Kabupaten Bima yang dilakukan dengan pihak-pihak yang men-
mewakili Suku Mbojo (hukum adat Mbojo). jadi lawan masyarakat. Selain itu dilakukan
Sumber data dan bahan hukum dalam wawancara dengan informan kunci yaitu
penelitian ini adalah sebagai berikut: kepala desa, ketua dan anggota LMD atau
1. Data kepustakaan: terdiri dan bahan orang-oraang yang mengetahui dan intens
hukum primer berupa peraturan per­ menangani permasalahan tersebut.
undangan dan kebijakan-kebijakan Observasi dilakukan untuk mengum­
yang berkaitan dengan penelitian. Se- pulkan data yang tidak dapat digali atau
dangkan bahan hukum sekunder berupa dikumpulkan lewat wawancara, peneliti me­
karya-karya ilmiah, buku-buku, hasil- lihat secara langsung kondisi dan luas tanah
hasil penelitian, jurnal-jurnal ilmiah, yang menjadi objek sengketa. Keadaan
dan lain-lain. dan perilaku masyarakat sasaran yang ber­
2. Data lapangan, terdiri dari data primer sengketa. Sedangkan studi dokumen di­la­
yaitu data yang diperoleh langsung di kukan untuk memperoleh data resmi di
lapangan berupa jawaban dan penjelas­ kepala dusun atau di kantor desa.
an dari responden dan informan, data Analisis data dilakukan dalam suatu
sekunder berupa dokumen-dokumen proses, yakni pelaksanaannya sudah mu­
resmi, tulisan-tulisan maupun buletin- lai dikerjakan sejak pengumpulan data
buletin yang berkaitan dengan perma- dilakukan secara intensif sampai setelah
salahan penelitian. selesai pengumpulan data. Untuk menelusuri
Pengumpulan data-data penelitian di­­la­ sengketa penguasaan hak atas tanah yang
kukan dengan melalui wawancara mendalam menjadi fokus penelitian ini adalah data yang
(depth interview), observasi (observation). berkaitan dengan berbagai fenomena yang

1
Faisal, Sanafiah, 1990, Penelitian Kualitatif Dasar-dasar dan Aplikasi, YA3, Malang. hlm. 54-55.
4 MIMBAR HUKUM Volume 22, Nomor 1, Februari 2010, Halaman 1 - 200

terjadi selama sengketa itu berlangsung. tentang suatu hak, klaim atau tuntutan di
Data yang tersusun dalam kelompok feno­ satu pihak berhadapan dengan pihak lain,
mena tersebut mengungkapkan para pihak hal yang berkaitan dengan hukum.
yang bersengketa (interpretasi emik) di­ Selanjutnya Vilhelm Aubert mengata­
pa­kai sebagai dasar untuk menyusun kan bahwa sengketa atau konflik sebagai
deskripsi menurut persepsi peneliti (inter­ suatu keadaan di mana dua orang atau lebih
pre­tasi etik) mengenai hal-hal yang melatar­ terlibat pertentangan secara terang-terangan.4
belakangi terjadinya sengketa, dan wujud Secara teoritis dapat dibedakan menjadi
atau manifestasi sengketa dan upaya-upaya dua yaitu konflik kepentingan (conflict of
yang dilakukan oleh para pihak dalam interest) dan klaim atas hak (claim of rights).
menyelesaikan sengketanya. Sedangkan Merrills condong menggunakan
istilah sengketa dengan makna “suatu
D. Hasil Penelitian dan Pembahasan perselisihan khusus yang terkait fakta
1. Pengertian istilah sengketa atau hukum atau kebijakan di mana dua pihak
konflik saling berhadapan antara yang mengklaim
Kedua istilah sengketa dan konflik dan yang menolak”.
seringkali dipakai sebagai suatu padanan
kata dan dianggap mempunyai makna yang 2. Tanah Salah Satu Sumber Sengketa
sama. Akan tetapi sesungguhnya kedua Sejak dahulu tanah menjadi sumber
istilah itu memiliki karakteristik yang sengketa atau konflik dan tidak jarang
berbeda. Tidak semua konflik menimbulkan menimbulkan korban jiwa. Sebagai suatu
sengketa, sebaliknya setiap sengketa adalah gejala sosial, sengketa atau konflik agraria
konflik.2 adalah suatu proses interaksi antara dua (atau
Kovach mengatakan conflict berasal lebih) orang atau kelompok yang masing-
dari bahasa Latin con (together) dan masing memperjuangkan kepentingannya
fligere (to strike)3. Jadi conflict adalah as atas objek yang sama, yaitu tanah dan benda-
an encounter with arms, a fight, a battle, a benda lain yang berkaitan dengan tanah.5
prolonged struggle. Secara singkat, definisi Namun sengketa atau konflik tanah yang
ini menjelaskan bahwa konflik adalah suatu terjadi sangat tergantung kepada kondisi
perjuangan manusia menyangkut perbedaan hubungan agraris yang ada, serta sistem dan
berbagai prinsip, pernyataan dan argumentasi kebijakan yang berlaku pada kurun waktu
yang berlawanan. Black menyatakan bahwa tersebut.
sengketa adalah konflik atau kontroversi, Pada masa Orde Baru, sengketa atau
konflik mengenai klaim/hak pernyataan konflik yang terjadi terkait dengan kebijakan

2
Rohmad, Abu, 2008, Paradigma Resolusi Konflik Agraria, Walisongo Press. hlm. 9.
3
ibid. hlm. 10.
4
ibid., hlm 11.
5
Wiradi, Gunawan, 1999, Kebijakan Agraria/Pertanahan yang Berorientasi Kerakyatan dan Berkeadilan,
Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional Pertanahan, diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Pertanahan
Nasional (STPN) di Yogyakarta, Tanggal 25-26 Februari 1999. hlm. 35.
Asmara, Arba, dan Maladi, Penyelesaian Konflik Pertanahan 5

pemerintah yang memberikan keleluasaan atau konflik-konflik yang dimunculkan ham-


kepada pemilik modal dalam melakukan pir selalu bisa diredam, dan dihambat oleh
berbagai investasi dengan maksud mening­ kekuasaan sehingga tidak menjadi meluas.6
katkan pertumbuhan ekonomi. Kebijakan-
kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah 3. Perlawanan Masyarakat Petani
telah menempatkan pemerintah dan swasta Gerakan perlawanan masyarakat petani
sebagai aktor dominan dalam proses tampaknya sudah lama menjadi perhatian
pembangunan yang akhirnya menyebabkan para ahli. Menurut Siahaan, perlawanan
munculnya sengketa atau konflik. Berbagai dan protes sosial masyarakat petani dapat
sengketa atau konflik agraria (tanah) yang dikelompokkan menjadi tiga macam hal ini
terjadi dapat dipahami sebagai suatu proses sesuai dengan apa yang pernah dilakukan
akumulasi faktor produksi, yang dalam hal oleh para ahli, yaitu pendekatan moral
ini dapat dilihat sebagai berikut: ekonomi, pendekatan historis dan pendekatan
Pertama, sengketa atau konflik terjadi ekonomi politik.
dalam konteks perebutan sumber daya Pendekatan moral ekonomi. Pendekatan
agraria, dalam sengketa atau konflik agraria moral yang melahirkan suatu moral ekonomi
ini yang terjadi sebenarnya bukanlah masalah yang lebih “mendahulukan selamat” (safety
kelangkaan sumber daya tanah, melainkan first), dan menjauhkan diri dari garis bahaya
perebutan sumber daya agraria berupa (danger line) etika subsistensi dan sosiologi
ekspansi besar-besaran oleh pemodal untuk subsistensi di kalangan masyarakat petani
menguasai sumber agraria yang sebelumnya merupakan suatu hal yang khas di dalam
dikuasai oleh rakyat. kehidupan masyarakat petani-petani Asia.
Kedua, sengketa atau konflik terjadi Pendekatan historis lebih menitikberatkan
dalam konteks pemaksaan terhadap komo- perhatiannya pada komunitas kesejarahan
ditas tertentu. Pemaksaan untuk menanam yang terdapat pada suatu masyarakat.
komoditas yang telah ditentukan melahirkan Sedangkan pendekatan ekonomi politik
konflik-konflik tanah, di sektor pertanian, lebih menitikberatkan pada perlawanan
khususnya subsektor perkebunan, konflik masyarakat petani yang didasarkan pada
tanah muncul akibat penentuan komoditas pertimbangan individual rasional masyarakat
yang dimaksudkan untuk mendorong kebu- petani terhadap perubahan yang dikalkulasi
tuhan ekspor. akan merugikan dan bahkan mengancam
Tiga, sengketa atau konflik terjadi mereka, atau sekurang-kurangnya, perubahan
dalam konteks massa mengambang (floating ini telah dinilai menghalang-halangi usaha
mass). Sengketa atau konflik tanah muncul yang mereka lakukan untuk meningkatkan
ketika petani tidak mempunyai kaitan de- taraf hidup.
ngan elemen kekuatan di atasnya. Pada saat Teori yang relevan dikedepankan
petani tidak mempunyai aliansi ke manapun, ­adalah teori konflik dari Ralph Dahren-
posisinya menjadi lemah. Sengketa-sengketa dorf dan teori Interaksionisme Simbolik.

6
Suhendar dan Winarni, 1998, Petani dan Konflik Agraria, AKATIGA. hlm. 178.
6 MIMBAR HUKUM Volume 22, Nomor 1, Februari 2010, Halaman 1 - 200

Pendekatan konflik berpangkal pada ang- itu tidak terikat oleh ruang dan waktu.
gapan dasar sebagai berikut: Pertama, se- Sebagai fenomena hukum, setiap sengketa
tiap masyarakat senantiasa berada dalam memerlukan tindakan penyelesaian dan
per­ubahan yang tidak pernah berakhir, tidak ada suatu sengketa tanpa adanya
atau dengan kata lain, 10 perubahan sosial penyelesaian.7
merupakan gejala dalam setiap masyarakat. Penyelesaian sengketa atau konflik
­Kedua, setiap masyarakat mengandung kon- pada kondisi masyarakat yang masih seder-
flik-konflik di dalam dirinya, atau dengan hana, di mana hubungan kekerabatan dan
kata lain, konflik adalah gejala yang melekat kelompok masih kuat, maka pilihan insti-
di dalam setiap masyarakat. Ketiga, setiap tusi untuk meyelesaikan sengketa atau kon-
unsur di dalam suatu masyarakat memberi- flik yang terjadi diarahkan kepada institusi
kan sumbangan bagi terjadinya disintegrasi yang bersifat kerakyatan (folk institutions),
dan perubahan-perubahan sosial. Keempat, karena institusi penyelesaian sengketa atau
setiap masyara­kat terintegrasi di atas pengua­ konflik yang bersifat tradisional bermakna
saan atau dominasi oleh sejumlah orang atas sebagai institusi penjaga keteraturan dan
sejumlah orang lain. pengembalian keseimbangan magis dalam
Sedangkan menurut teori interaksio­ masyarakat. Sedangkan konflik-konflik atau
nisme simbolik bahwa konflik atau sengketa sengketa-sengketa yang terjadi dalam ma-
itu muncul karena ada perbedaan persepsi syarakat modern, di mana relasi sosial lebih
atas makna objek. Dengan meminjam bersifat individualistik dan berorientasi pada
logika teori interaksionisme simbolik, perekonomian pasar, cenderung diselesaikan
maka penggunaan tanah memiliki makna melalui institusi penyelesaian sengketa yang
nilai-nilai tertentu dan memiliki daya kerja mengacu pada hukum negara (state institu-
yang luas tergantung dari sudut pandang tions) yang bersifat legalistik.
penggunaan atau pemanfaatannya, yaitu Pada masyarakat Suku Sasak di Pulau
untuk kepentingan bangsa atau negara, untuk Lombok, penyelesaian sengketa acapkali
kepentingan rakyat bersama, serta untuk dilakukan di luar peradilan formal dengan
kepentingan rakyat sebagai kesatuan. cara musyawarah untuk mencapai mufakat.
Husni menyatakan bahwa masyarakat Suku
4. Model-Model Penyelesaian Sengketa Sasak cenderung menyelesaikan sengketanya
Pada Masyarakat. di luar peradilan formal yang pada umumnya
Sengketa adalah fenomena hukum dengan melibatkan pihak ketiga seperti Tuan
yang bersifat universal yang dapat terjadi di Guru, tokoh agama, pemuka adat dan kepala
mana saja dan kapan saja, karena sengketa desa.

7
Munir, Mochamad, 1997, Penggunaan Pengadilan Negeri Sebagai Lembaga untuk Menyelesaikan Sengketa
dalam Masyarakat: Kasus Penyelesaian Sengketa yang Berkaitan dengan Tanah dalam Masyarakat di Kabu-
paten Bangkalan Madura, Disertasi S3 Program Pascasarjana Universitas Airlangga.
Asmara, Arba, dan Maladi, Penyelesaian Konflik Pertanahan 7

5. Gambaran Umum tentang Konflik lalu tidak sesuai dengan aturan


Hak Atas Tanah di Lokasi Sampel di hukum (hukum agama) yang
Wilayah Nusa Tenggara Barat me­ru­gikan ahli waris tertentu.
Hasil penelitian menunjukan baik pa­ Demikian pula, banyak jual beli,
da masyarakat adat Suku Sasak, Samawa, sewa menyewa yang dilakukan
maupun Mbojo, konflik tanah warisan men- oleh masyarakat yang dilakukan
duduki posisi yang lebih tinggi jumlahnya, dengan lisan saja atau surat bukti
selanjutnya konflik tanah karena jual beli, di bawah tangan.
sewa menyewa, dan tukar menukar, konflik 3. hukum adat setempat, munculnya
penyerobotan hak, dan terakhir konflik an- sengketa, yang dalam hal ini dise-
tara masyarakat dengan pemerintah. babkan adanya pelaksanaan pera-
Tingginya angka konflik tanah warisan lihan hak atas tanah yang didasar-
pada masyarakat di wilayah NTB ini menurut kan pada hukum adat setempat.
penjelasan dari beberapa responden dan 4. pemekaran wilayah dan batas
informan yang kami wawancarai disebabkan wilayah, akhir-akhir ini di wilayah
pelaksanaan pembagian warisan yang ber­ NTB sering terjadi pemekaran
laku pada masyarakat ketiga suku yang wilayah sehingga banyak terjadi
mendiami wilayah NTB pada masa lalu, dan kasus ketidakjelasan batas wilayah
sebagian masih berlaku sampai sekarang pada masing-masing desa dan
yaitu berdasarkan pada adat kebiasaan kecamatan.
masyarakat setempat. 5. ganti rugi tanah, terutama dalam
Ada beberapa faktor penyebab terja­ hal pengadaan tanah untuk ke-
dinya konflik pertanahan pada masyarakat pentingan umum oleh pemerintah,
di wilayah Provinsi NTB, yaitu: maka sering terjadi ganti rugi ta-
A. Faktor hukum; nah yang dirasakan belum mem-
1. aturan hukum, dalam hal ini ter­ berikan jaminan keadilan bagi
jadi sengketa disebabkan aturan masyarakat, sehingga masyarakat
hukum kurang jelas, bahkan karena yang merasa dirugikan mengaju-
banyak aturan hukum yang sudah kan keberatan.
tidak ditaati oleh masyarakat. B. Faktor nonhukum
2. pemahaman hukum masyarakat, 1. ekonomi, akhir-akhir ini sumber
akhir-akhir ini pemahaman hukum produksi ekonomi masyarakat
masyarakat terhadap persoalan ber­upa tanah pertanian semakin
warisan, persoalan jual beli, sewa sempit sementara manusianya se-
menyewa, dan lainnya semakin makin banyak, akibatnya banyak
meningkat, sehingga banyak mun- orang-orang yang merasa sebagai
cul sengketa warisan, sengketa ahli waris terhadap tanah melaku-
jual beli, sewa-menyewa, sebab kan gugatan warisan, bahkan ta-
banyak pembagian warisan yang nah wakaf pun digugat kembali
dilakukan oleh masyarakat masal oleh ahli warisnya.
8 MIMBAR HUKUM Volume 22, Nomor 1, Februari 2010, Halaman 1 - 200

2. pendidikan, semakin maju dan konflik secara nonlitigasi adalah penyelesaian


tingginya tingkat pendidikan ma- konflik pertanahan yang dilakukan oleh para
syarakat, maka semakin banyak pihak di luar lembaga peradilan, yaitu dapat
anggota masyarakat yang mem- dilakukan dengan negosiasi, musyawarah
persoalkan dan mempertahankan mufakat, atau mediasi.
hak dan kewajibannya jika diabai- Penyelesaian konflik pertanahan de­
kan oleh pihak lain. ngan negosiasi dilakukan oleh para pihak
3. komunikasi dua arah, kurang- yang bersengketa untuk mendapatkan kese-
nya komunikasi antara salah satu pakatan bagi kedua pihak dengan jalan win-
pihak yang merasa dirugikan de­ win solution, tidak ada pihak yang merasa
ngan yang menerbitkan kerugian dirugikan. Penyelesaian sengketa pertanahan
mengakibatkan munculnya konflik secara musyawarah dan mufakat dilakukan
pertanahan yang berkepanjangan. oleh para pihak untuk menyelesaikan seng­
4. budaya masyarakat, ini juga sangat ketanya dengan melibatkan keluarga para
berpengaruh terhadap terjadinya pihak yang disaksikan oleh pemuka agama
konflik pertanahan. Pada kelompok atau pemuka masyarakat. Sedangkan penye­
kehidupan tertentu masih terdapat lesaian sengketa pertanahan secara mediasi
suatu sikap budaya masyarakat yaitu di mana para pihak menunjuk pihak-
yang masih mempertahankan pola pihak tertentu yang dihormati dan dihar-
atau adat istiadat masa lampau gainya sebagai mediator (penengah) dalam
sehingga dapat memicu sengketa penyelesaian tersebut. Untuk lebih jelasnya
tanah. di bawah ini digambarkan pola penyelesaian
sengketa yang terjadi pada masyarakat adat
2. Pola-Pola Penyelesaian Konflik Per­ di wilayah NTB berdasarkan hasil wawan-
tanahan dan Aturan Hukum yang cara dengan responden.
Digunakan oleh Masyarakat Adat di Data dalam tabel di atas menunjukkan
Nusa Tenggara Barat. bahwa dari berbagai jenis konflik pertanah­
A. Pola-Pola Penyelesaian Konflik an yang terjadi di masyarakat, baik yang
Pertanahan di Masyarakat Adat di terjadi di kalangan masyarakat Suku Sasak,
Wilayah NTB. Samawa, maupun Mbojo yang mendiami
Pola-pola penyelesaian konflik perta­ wilayah NTB ini mayoritas dilakukan secara
nahan yang terjadi di dalam masyarakat nonlitigasi dibandingkan dengan menyele-
adalah dapat dalam bentuk penyelesaian saikan secara litigasi Hal ini menunjukkan
konflik secara litigasi dan penyelesaiaan bahwa mayoritas masyarakat di wilayah
konflik secara nonlitigasi. Penyelesaian NTB ini menginginkan pola penyelesaian
konflik secara litigasi adalah penyelesaian sengketa dalam konflik pertanahan dilaku-
konflik yang dilakukan melalui lembaga kan secara damai, yaitu melalui negosiasi,
pengadilan formal, sedangkan penyelesaian musyawarah-mufakat dan mediasi.
Asmara, Arba, dan Maladi, Penyelesaian Konflik Pertanahan 9

Tabel 6.
Pola-pola penyelesaian sengketa tanah pada masyarakat se-NTB
Pola Jenis Konflik
Penyelesaian indiv. indiv. masy. masy.
No.
Konflik dengan dengan dengan dengan Rerata Persen (%)
Pertanahan indiv. masy. masy. pem.
1. Litigasi 24 16 - 6 11,5 21,30 %
2. Non litigasi 30 38 54 48 42,5 78,70 %
Jumlah 54 54 54 54 54 100%
Sumber data: Data primer diolah.

Secara umum, pola-pola penyelesaian Akan tetapi, masing-masing lingkungan


sengketa/konflik pertanahan yang dilakukan hukum di wilayah Nusa Tenggara Barat ini
oleh masyarakat adalah sebagai berikut: ne- mempunyai pola atau tata cara sendiri-sendiri
gosiasi; musyawarah mufakat; dan mediasi. dalam menyelesaikan konflik pertanahan.
Negosiasi dilakukan dengan jalan di mana Dalam masyarakat hukum adat Sasak,
para pihak yang berkonflik duduk bersama tatacara penyelesaian sengketa dilakukan
untuk mencari jalan yang terbaik dalam pe- dengan cara sebagai berikut:
nyelesaian konflik dengan prinsip bahwa pe- 1. pertama-tama para pihak yang berseng­
nyelesaian itu tidak ada pihak yang dirugikan keta duduk bersama untuk menyele-
(win-win solution), kedua belah pihak tidak saikan sengketanya dengan cara nego-
ada yang merasa dirugikan. Musyawarah siasi;
mufakat adalah langkah lebih lanjut dari ne- 2. jika cara negosiasi ini tidak bisa meng-
gosiasi. Jika dalam negosiasi tidak terdapat hasilkan kesepakatan bagi para pihak,
kesepakatan yang saling menguntungkan, maka pihak yang dirugikan melaporkan
maka langkah lebh lanjut adalah melakukan perselisihannya tersebut kepada kepala
musyawarah mufakat dengan melibatkan pi- dusun atau klian atau kepada adat dan
hak lain selaku penengah. Pihak lain tersebut pemuka agama;
adalah bisa anggota keluarga, bisa pemuka 3. selanjutnya kepala adat atau pemuka
agama, atau pemuka adat, bahkan aparat agama tersebut memanggil para pihak,
desa. Hasil musyawarah mufakat tersebut atau keluarga dekat dan tetua-tetua adat
selanjutnya dibuatkan surat kesepakatan ber- untuk menyaksikan proses musyawarah
sama yang ditandangani oleh para pihak dan tersebut;
para saksi yang disebut dengan “akta per- 4. dalam musyawarah tersebut, yang
damaian”. Sedangkan dalam penyelesaian ber­­­tindak selaku penengah adalah
secara mediasi, yaitu masyarakat melibatkan pemerintah (pemerintah desa atau ke-
pemuka adat, pemuka agama atau kepala camatan), pemuka agama (kyai, tuan-
desa atau camat sebagai mediatornya. tuan guru), atau tokoh adat/pemangku
10 MIMBAR HUKUM Volume 22, Nomor 1, Februari 2010, Halaman 1 - 200

adat/pengemban adat yang bijaksana; sebagai berikut:


5. keputusan yang diambil didasarkan 1. tidak ada pihak yang merasa kalah dan
pada musyawarah-mufakat yang saling tidak ada pihak yang merasa menang
menguntungkan kedua belah pihak; (prinsip win-win solution);
6. kesepakatan kedua belah pihak tersebut 2. keputusan atas dasar keikhlasan, se­
dibuat secara tertulis berupa akta per- hingga tidak ada lagi rasa dendam antar
damaian yang ditanda tangani oleh para sesama;
pihak dan saksi-saksi dan penengah. 3. keputusan tersebut tidak boleh berten­
Sedangkan di kalangan masyarakat tangan dengan syariat (agama) dan adat
hukum adat Samawa dan masyarakat hukum istiadat;
adat Mbojo, pola penyelesaian sengketanya 4. keputusan tidak memihak, tidak berat
pada prinsipnya sama: sebelah;
1. Pertama-tama para pihak yang berseng- 5. keputusan harus mempunyai kekuatan
keta melakukan negosiasi langsung hukum yang tetap, tidak boleh dirubah
untuk menyelesaikan masalahnya; oleh siapapun, kecuali dengan musya­
2. Jika jalan negosiasi ini tidak bisa menye­ warah lagi;
lesaikan persoalan, maka langkah se- 6. keputusan harus disertai dengan ancam­
lanjutnya adalah musyawarah mufakat. an hukuman bagi yang tidak mentaati,
Bagi yang dirugikan akan melaporkan yaitu harus diusir dari kehidupan terse-
persoalan ini kepada pemuka masyara- but/dikucilkan.
kat/adat atau pemuka agama. Pemuka Khusus pada masyarakat adat Suku
masyarakat/adat atau pemuka agama Mbojo, jika musyawarah mufakat tidak bisa
mengirim kurir kepada para pihak un- menyelesaikan persoalan tersebut, maka
tuk mengkaji akar masalahnya, dan langkah selanjutnya yang ditawarkan kepada
selanjutnya pemuka masyarakat/adat para pihak adalah sumpah penentu, yaitu
atau pemuka agama mengumpulkan “sumpah ngaha dana”.10 Bagi yang bohong
tetua-tetua dalam masyarakat untuk akan mati lebih dahulu dan jasadnya tidak
“mbolo weki”8 atau “tokal beliuk sier diterima oleh tanah dan Allah SWT. Sumpah
karante”9. Para tetua yang diundang pemutus ini tidak hanya mengenai mereka
adalah tetua-tetua yang: berpengalam­ yang bersumpah, akan tetapi berakibat pada
an, punya ilmu, berakhlak baik, jujur, keturunan-keturunannya selanjutnya.
dan tanpa pamrih, ikhlas, serta hindari Jika jalan itu semua tidak bisa menye­
mengundang orang yang bersikap seba­ lesaikan persoalan, maka pihak yang merasa
gai pe­ngipas/pengom­por. dirugikan dan mampu membiayai proses
Pengambilan keputusan dalam musya­ perkara tersebut, maka akan menempuh
warah ini harus mengandung prinsip-prinsip jalur hukum litigasi (melalui pengadilan).

8
[Adat Mbojo], duduk bersama untuk musyawarah mufakat.
9
[Adat Samawa], duduk bersama-sama untuk saling mendengar satu sama lain.
10
bersumpah dengan nama Allah SWT disertai dengan memakan tanah.
Asmara, Arba, dan Maladi, Penyelesaian Konflik Pertanahan 11

Pengadilan adalah jalan terakhir jika jalan Universitas Mataram sekaligus sebagai
nonlitigasi tidak bisa menyelesaikan suatu salah seorang ahli Hukum Adat Sasak yang
persoalan tersebut. kami wawancarai mengatakan bahwa, dalam
kaitannya dengan upaya penyelesaian konflik
B. Prinsip-Prinsip Hukum Adat dalam ini, di dalam adat Sasak tecermin dalam
Penyelesaian Sengketa Berdasarkan ungkapan-ungkapan kearifan antara lain:
Kearifan Lokal di Wilayah NTB “Empaq bau, aiq meneng, tunjung ti-
1. Prinsip-Prinsip Hukum Adat dan lah” = ikan tertangkap, air tetap jernih,
Kearifan Lokal Suku Sasak bunga teratai tidak rusak/utuh (dalam
Nilai kearifan lokal Suku Sasak atau penyelesaian masalah menghasilkan
dikenal dengan nilai-nilai budaya “Sasak” kepuasan kedua belah pihak, kedua
yang merupakan obyek nonmateriil yang belah pihak merasa menang dan tidak
sulit diukur dengan tolok ukur yang bersifat ada yang merasa kalah).
materiil namun sesungguhnya nilai budaya “Adeq ta tao jauk aiq” = supaya
yang lazim dikenal sebagai nilai kearifan kita bisa membawa air (dalam suatu
itu, dapat dirasakan sebagai pemandu setiap perselisihan/pertengkaran yang mema-
orang secara naluriah, intuitif, dan akurat nas, kita mampu menjadi pendingin).
kepada kebajikan. Dengan demikian maka “Sifat anak empaq tao pesopoq diriq”
nilai-nilai budaya (kearifan) itu akan dapat = sifat anak ikan bisa menyatukan diri
meningkatkan kualitas seseorang apabila (mengandung nasihat untuk selalu
diamalkan dan ditegakkan dalam menjalani menghindari berbantahan satu sama
kehidupan bermasyarakat dan bernegara. lain).
Sehubungan dengan penyelesaian kon­ “Sikut tangkong leq awak mesaq” =
flik, pada masyarakat Suku Sasak dikenal ukur baju pada badan sendiri (ung-
adanya prinsip-prinsip pokok penyelesaian kapan ini mengandung makna, segala
sengketa, sebab dalam masyarakat hukum perbuatan atau tingkah laku kita kepada
adat Sasak tidak menghendaki adanya orang lain, hendaknya kita ukur pada
putusan kalah menang dalam penyelesaian diri kita sendiri).11
suatu sengketa, akan tetapi harus mengarah
kepada perdamaian yang diselesaikan de­ Prinsip berlakunya hukum adat Sasak,
ngan musyawarah mufakat. Dalam upaya adalah sangat terbuka dalam menerima ke­
penyelesaian itu, kedua belah pihak bisa ane­karagaman. Hal ini tercermin dalam
saling menjaga perasaan masing-masing ungkapan-ungkapan lain, yakni: “tutuk lain
(tao saling undur pasang). jajak, lian desa lian adat, mawa desa mawa
Menurut H. L. Syafruddin, salah se­ adat”.
orang ahli Hukum Adat Fakultas Hukum

11
Syafruddin, H.L., 2009, Revitalisasi Nilai-nilai Budaya Sasak dalam Pengalaman dan Penegakkannya,
(Makalah Seminar Nasional) Hasil-hasil penelitian pada Universitas Mataram dalam rangka Dias Natalis ke
47.
12 MIMBAR HUKUM Volume 22, Nomor 1, Februari 2010, Halaman 1 - 200

Sejalan dengan pernyataan di atas, laksanakan perintah agama Allah


beberapa pemuka adat Sasak yang kami dan bertakwa kepadanya;
wawancarai, antara lain: Bapak Zulkarnaen 7. Soloh, artinya damai, ikhlas,
(mantan Camat Batulayar), H. Tanjidillah tenggang rasa, baik dalam berbuat
(Kepala Desa Suka Makmur Gerung) maupun dalam berperilaku.
Kabupaten Lombok Barat, Lalu Wiratamrin
(Kepala Desa Mancan, Praya Timur), 2. Prinsip-Prinsip Hukum Adat dan
H.Habibullah (Kepala Dusun Batumulik, Kearifan Lokal Suku Samawa
Praya) Lombok Tengah, mengatakan bahwa Menurut masyarakat Suku Samawa,
terdapat nilai pokok dalam adat Sasak yang nilai-nilai kearifan seperti nilai kebersa-
disebut dengan “tindih” yaitu insan kamil/ maan, kekeluargaan dan musyawarah mu-
manusia sejati yang berpribadi luhur dunia fakat dalam berbagai hal adalah suatu keha-
dan akhirat. Sebagai insan kamil maka harus rusan bersama. Setiap persoalan, baik yang
perpegang teguh pada beberapa prinsip ber­hubungan dengan persoalan kehidupan
pokok (nilai-nilai kearifan lokal) dalam maupun yang berhubungan dengan persoa-
penyelesaian konflik yang hidup dan selalu lan kematian selalu dilaksanakan secara ber-
dipatuhi oleh masyarakat, yaitu: sama-sama, musyawarah dan mufakat. Ke-
1. Patut, artinya melaksanakan sesu­ serasian, keseimbangan, keselarasan dalam
atu hal dengan baik, mampu mem- kehidupan, baik yang bersifat lahir maupun
bedakan bahwa yang hak adalah yang batin, baik urusan dunia maupun urus­
hak dan yang batil adalah batil; an yang berkaitan dengan akhirat harus dise-
2. Patuh, artinya taat, tunduk baik laras dan diseimbangkan. Antara kepentin-
kepada ketentuan agama maupun gan bersama dan kepentingan individu juga
kepada pemimpin/penguasa dalam harus diseimbang dan diselaraskan. Intinya
masyarakat; adalah terwujudnya kehidupan dunia yang
3. Pacu, artinya jujur dan rajin, harmonis dan humanis dan kehidupan akhi-
jujur dalam berbuat, jujur dalam rat yang memperoleh naungan dan perlin­
berkata-kata, rajin melaksanakan dungan dari Allah SWT.
hukum-hukum Allah maupun Prinsip-prinsip yang demikian ini,
hukum Negara; oleh pemerintah Kabupaten dituangkan
4. Solah, artinya berperilaku yang dalam satu prinsip utama (motto Kabupaten
indah, yang baik sehingga siapa Sumbawa) yaitu “Sabalong sama lewa”,
pun akan simpati kepadanya; yakni pembangunan yang seimbang, artinya
5. Onyak, artinya selalu berhati-hati dalam pembangunan harus seimbang,
baik dalam berbuat maupun dalam serasi dan harmonis antara pembangunan
berkata-kata, baik dalam bertindak jasmani (fisik) dan rohani (keimanan), atau
sebagai penengah maupun sebagai keseimbangan antara pembangunan lahiriah
pihak yang bersengketa; dan pembangunan batiniah.
6. Sholeh, artinya beriman dan ber- Selain prinsip utama tersebut di
takwa, dalam arti selalu taat me­ atas, Muhammad Sood, salah seorang
Asmara, Arba, dan Maladi, Penyelesaian Konflik Pertanahan 13

ahli Hukum Adat pada Fakultas Hukum jangan langsung dimakan, pahit jangan
Universitas Mataram sekaligus putra asli langsung dibuang, artinya setiap orang
kelahiran Samawa dengan merujuk pada hendaknya berhati-hati dalam berkata,
penjelasan dari H. Abdul Hamid (salah satu berbuat atau menghadapi sesuatu.
tokoh masyarakat Samawa) mengatakan - Suru lalo, kelek datang, eneng beang
bahwa dalam menyelesaikan masalah- = apabila dipanggil-datang, disuruh-
masalah hukum pada masyarakat Sumbawa pergi, diminta-berikan. Artinya setiap
mengenal beberapa prinsip hukum tertentu orang sebagai warga masyarakat harus
atau lebih tepat disebut dengan simbol- patuh dan hormat pada pemimpinnya,
simbol hukum adat. Simbol-simbol tersebut atau orang yang lebih muda hendaknya
merupakan istilah yang mengandung makna patuh dan hormat pada orang yang lebih
keadilan, keseimbangan, dan kebersamaan tua.
dan pembangunan, antara lain sebagai - Selain dari asas-asas hukum atau
berikut:12 simbol-simbol hukum adat tersebut di
- Bosang barisi, ramang no berek = atas, di kenal pula ucapan/lafaz sumpah
keranjang berisi, jala tidak robek, yang berbunyi “Lamin ku bola no
artinya dalam menyelesaikan konflik, umatku ling Nabi Muhammad, lamim
hendaknya jangan ada pihak yang ku mate no roaku ling tana, ke ku lis
dikalahkan atau dimenangkan. pang garis Islam”, Artinya: Apabila
Maksudnya apabila kita menyelesaikan saya bohong, saya tidak dijadikan
permasalahan, upayakan penyelesaian umat oleh Nabi Muhammad, jika saya
secara musyawarah sehingga kedua meninggal saya ditolak oleh tanah, dan
belah pihak tidak ada yang merasa saya keluar dari garis agama Islam.
dirugikan, mereka sama-sama saling
menerima satu sama lain (berdamai). 3. Prinsip-Prinsip Hukum Adat dan
- Senap semu, nyaman nyawe = sejuk, Kearifan Lokal Suku Mbojo
tertib dan tentram. Artinya dalam H. M. Hilir Ismail (salah seorang tokoh
kehidupan bermasyarakat diharapkan adat masyarakat Suku Mbojo) dalam maka-
terciptanya ketertiban, ketentraman, lahnya yang berjudul “Adat Sebagai Cita-
ketenangan dan keharmonisan. cita dan Sistem Nilai Budaya”13 mengatakan
- Riam remo, nyaman nyawe = tenang, bahwa dalam adat Mbojo ada dua jenis
tentram, harmonis. Artinya hidup ide atau cita-cita, yaitu: yang ingin dicapai
dalam kebersamaan dalam segala aspek dalam jangka panjang “ntika ro sana mori di
kehidupan dunia akhira”14, dan yang kedua adalah cita-
- Kanyung manis na langsung kakan, pit cita yang diwujudkan dalam jangka pendek,
na langsung bolang = walaupun manis meliputi, “ndiha ro nggari uma ro salaja”15,

12
Sood, Muhammad, 2005, Prinsip-prinsip Hukum Adat Samawa yang Menunjang Pembangunan di Bidang
Hukum, (Makalah Seminar) Fakultas Hukum Universitas 45 Mataram. hlm. 16.
13
Ismail, M. Hilir, 1997, Sosialisasi Maja Labo Dahu, (Makalah Seminar), Bima-NTB. hlm. 5.
14
indah dan bahagia kehidupan di dunia dan akhirat.
15
kehidupan yang indah dan semarak di lingkungan rumah tangga atau keluarga.
14 MIMBAR HUKUM Volume 22, Nomor 1, Februari 2010, Halaman 1 - 200

“ndiha ro nggari dei kampo ro mporo”16, “ma maja labo dahu si rewo labo dou ma
“ndiha ro nggari dei dana ro rasa”.17 mboto wati ntaumu iwa”.22
Cita-cita luhur ide-ide tersebut akan Fungsi dan peranan falsafah “maja labo
terwujud apabila dilaksanakan secara dahu” ini bagi masyarakat Suku Mbojo untuk
bersama-sama dan konsisten oleh sumber menumbuhkan dan meningkatkan keimanan
daya manusia yang berkualitas, yakni dan ketaqwaan seseorang/masyarakat untuk
berkualitas dari aspek ilmu pengetahuan dan melaksanakan tugas dan kewajibannya di
kualitas dari aspek iman dan takwa. Untuk muka bumi sebagai khalifah Allah, dan
dapat menjadi sumber daya manusia yang selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT.
berkualitas yang akan dapat mewujudkan Selalu meningkatkan hubungan dengan
ide-ide dan cita-cita luhur tersebut maka Allah SWT maupun hubungannya dengan
harus berpegang teguh pada satu prinsip sesama manusia.
utama yang disebut maja labo dahu18 sebagai H. Abdullah Tayeb memberikan makna
fu’u mori ro woko.19 kata “maja labo dahu” sebagai berikut:
H. M. Hilir Ismail mengatakan bahwa 1. malu dan takut kepada Tuhan Yang
ungkapan kata maja labo dahu sebagai fu’u. Maha Esa;
mori ro woko, bagi masyarakat Suku Mbojo 2. atas kesadaran sendiri patuh dan taat
memiliki makna yang cukup luas bagi kepada peraturan-peraturan pemerintah
manusia, baik dari segi sare’a, hakeka dan serta norma-norma yang berlaku dalam
ma’rifa.20 masyarakat;
Kata “maja labo dahu” dapat berarti 3. memahami apa yang disuarakan dalam
positif, dan dapat berarti negatif. Arti bicara, tidak asal bunyi;
positifnya tecermin dalam kata “Maja kai 4. kerjakan pekerjaan yang terpuji, hindari
pu ma taho, dahu kai pu maha iha” artinya diri dari perbuatan tercela;
“malu pada hal yang baik dan takut pada hal 5. berani karena benar takut karena salah;
yang buruk”, ini bermakna bahwa manusia 6. tidak sombong dan rendah hati;
memiliki rasa maja (malu) apabila menjauhi 7. tangan di atas lebih baik dari tangan di
kebaikan dan kebenaran, dahu (takut) yakni bawah;
bahwa manusia wajib menjauhi kejahatan. 8. malu dan takut kepada polisi, jaksa,
Sedangkan arti negatif dari maja labo dahu hakim yang melekat dalam diri sepan­
ini tecermin dalam kata “ma maja ro dahu si jang hayat;
sodi guru wati di ma loa santoi mori”21 dan

16
kehidupan yang indah dan bahagia di kampung halaman.
17
kehidupan yang indah bahagia di seluruh negeri.
18
malu dan takut.
19
tiang atau pedoman hidup.
20
syariat, hakikat, dan marifat.
21
kalau malu dan takut bertanya kepada guru maka tidak bisa pandai sepanjang hidupnya.
22
kalau malu dan takut bergaul sama orang banyak maka tidak akan punya teman (sahabat).
Asmara, Arba, dan Maladi, Penyelesaian Konflik Pertanahan 15

9. taat dan hormat kepada ibu, bapak, guru artinya: berkumpul, duduk sama ren-
dan orang tua-tua; dah, berdiri sama tinggi, duduk bersama
10. tahan dengan sabar, pantang mundur, untuk bermusyawarah dan bermufakat
mengejar cita-cita. atas dasar kekeluargaan guna menyele-
Falsafah “maja labo dahu” ini juga saikan suatu persoalan.
mempunyai peranan penting dalam upaya 3. Ngahi rawi pahu, artinya apa yang
penyelesaian konflik. Apabila seseorang diucapkan/diikrarkan harus diikuti atau
yang memegang teguh prinsip “maja labo diwujudkan dengan pelaksanaan nyata.
dahu” ini, maka dia akan selalu berkata, 4. Su’u sawa’u sia sawale, artinya ba­
berbuat dan bertindak secara jujur dalam gaimanapun berat beban yang diem­
menghadapi segala persoalan, baik ban harus dijalankan dengan sabar
persoalan yang berkaitan dengan hubungan dan tabah, pantang lari dari tanggung
dengan Allah SWT maupun persoalan yang jawab.
berkaitan dengan hubungan dengan sesama 5. Olo honggo ade mubu, artinya menarik
manusia, masyarakat, bangsa dan negara. rambut dalam tepung, maknanya dalam
Seseorang yang “maja labo dahu” akan menyelesaikan suatu persoalan tidak
terpancar dalam dirinya sifat: taqwallah ada yang merasa dirugikan (win-win
(takut kepada Allah), sidik (jujur), amanah solution).
(menyampaikan), tablig (berkata benar), 6. Wonto rui dei hi’i, artinya mencabut duri
cerdik (pandai), dan adil (seimbang antara dalam daging, bahwa menyelesaikan
hak dan kewajiban). masalah itu segala sesuatu persoalan
Selain prinsip/falsafah “maja labo harus diselesaikan secara detail sampai
dahu” menurut pemuka-pemuka agama dan pada akar masalahnya.
pemuka masyarakat yang diwawancarai, 7. Sumpa ngaha dana, artinya sumpah
antara lain H.M. Yusuf Ibrahim mantan makan tanah, maknanya adalah “sumpah
kepala SD & Ketua LKMD Desa Wora- pemutus/penentu”. Sumpah ini akan
Wera, M. Umar Iskandar, salah seorang berakibat bagi yang berbohong akan
pemuka agama Kecamatan Bolo, Jakariah mati, sama dengan sumpah pocong.
AR, pensiunan pegawai Camat Monta,
dan lain-lain, mengatakan bahwa dalam C. Hukum-hukum yang Digunakan un­
penyelesaian sengketa dalam masyarakat tuk Penyelesaian Sengketa Tanah
terdapat beberapa nilai-nilai kearifan yang Pada umumnya mayoritas masyarakat
melandasi penyelesaian konflik tersebut, di Nusa Tenggara Barat beragama Islam
yaitu, antara lain: sehingga pola hidup, budaya dan adat istiadat
1. Renta ba rera ka poda ba ade karawi yang berlaku lebih dipengaruhi oleh agama
ba weki, artinya apa yang diikrarkan yang dianutnya, yaitu Agama Islam.
oleh lidah harus sesuai dengan suara Hazairin yang mengemukakan suatu
hati nurani dan harus pula diamalkan. teori baru yang dinamakan teori “receptie
2. Bolo ro dampa atau mafaka ro dampa, a contrario”. Teori ini menyatakan bahwa
16 MIMBAR HUKUM Volume 22, Nomor 1, Februari 2010, Halaman 1 - 200

“hukum adat baru berlaku jika tidak 1. Konflik pertanahan di kalangan ma-
bertentangan dengan hukum Islam”. Di syarakat hukum adat di wilayah Nusa
beberapa wilayah Indonesia, terdapat pen­ Tenggara Barat disebabkan oleh faktor
duduk yang mayoritasnya beragama Islam yuridis dan faktor nonyuridis. Faktor
dan kuat menjalankan agama mereka itu. yuridis berupa: aturan hukum tertulis,
Dengan demikian, ada kecenderungan bahwa hukum adat, pemahaman hukum ma-
masyarakat di wilayah-wilayah tersebut syarakat, ganti rugi tanah yang tidak
menghendaki berlakunya hukum Islam pada layak, serta pemekaran dan penentuan
perbuatan hukum tertentu, seperti dalam batas wilayah; sedangkan faktor nonyu­
perkawinan, pewarisan, penyelesaian konflik ridis berupa tingkat pendidikan, eko-
dan kekeluargaan lainnya, seperti misalnya nomi, budaya masyarakat, komunikasi,
di Minangkabau, Aceh, Pulau Lombok, dan dan sikap masyarakat dan penguasa.
Pulau Sumbawa. 2. Pola-pola penyelesaian sengketa tanah
Dengan demikian, maka pemberlakuan yang terdapat di dalam masyarakat hu-
hukum agama (Islam) oleh masyarakat hukum kum adat di wilayah Nusa Tenggara
adat di wilayah NTB dalam penyelesaian Barat ini didominasi oleh pola penyele-
konflik pertanahan adalah suatu yang lumrah saian konflik secara nonlitigasi, yaitu
dan oleh masyarakat, hukum agamalah perdamaian (soloh dalam istilah adat
yang adil dan memberikan keadilan dalam Sasak dan Sumawa dan ka sabua ade
menyelesaikan suatu persoalan. Hal ini dalam istilah adat Bima), dengan me-
tecermin dari prinsip hidup yang merupakan lalui negosiasi, musyawarah mufakat,
norma hukum yang berlaku pada masyarakat dan mediasi. Dalam mediasi, yang ber-
Suku Sasak, Samawa dan Mbojo, yang tindak selaku mediator adalah pemuka
menyatakan, “Adat bersendikan Syara’, adat/masyarakat, pemuka agama (kyai,
Syara’ bersendi Kitabullah”. Prinsip tersebut tuan guru), kepala dusun, kepala desa,
juga mengisyaratkan kepada kita bahwa atau camat.
segala perbuatan atau adat kebiasaan yang 3. Dalam penyelesaian konflik, masing­-
kita laksanakan hendaknya sesuai dengan masing lingkungan hukum adat di
norma-norma hukum yang berlaku, baik wilayah NTB mempunyai prinsip-prin-
hukum pemerintah maupun hukum yang sip pokok atau falsafah pokok yang
telah tumbuh dari masyarakat (hukum adat), mempunyai makna kebersamaan, per-
dan norma-norma hukum tersebut juga harus damaian, dan keseimbangan dalam
dilandasi oleh norma-norma agama (Islam) kehidupan bermasyarakat yang selalu
yang berdasarkan Kitab Allah yaitu Al- ditaati dan dipegang teguh oleh ma-
Qur’an dan juga Sunah Rasul (Al-Hadits). syarakat di lingkungan masyarakat hu-
kum adat tersebut. Hukum adat Sasak
E. Kesimpulan mengenal prinsip “aik meneng, tunjang
Berdasarkan uraian tersebut di atas, tilah, dan mpak bau” artinya ‘air tetap
maka dapat disimpulkan sebagai berikut: jernih, bunga di kolam tetap indah, dan
Asmara, Arba, dan Maladi, Penyelesaian Konflik Pertanahan 17

tercapai kedamaian’; hukum adat Sa- hukum negara, sesuai dengan prinsip
mawa mengenal prinsip “senap semu, yang hidup di masyarakat Suku Sasak,
nyaman nyawe, riam remo” yang berar- Samawa dan Mbojo, yang menyatakan
ti ‘sejuk, tertib, tentram dan harmonis’; “Adat bersendikan Syara’, Syara’
sementara hukum adat Mbojo menge- bersendikan Kitabullah”. Baik hukum
nal prinsip: “maja labo dahu, rombo ro pemerintah maupun hukum yang telah
ntiri”, artinya, “malu dan takut, lurus tumbuh dari masyarakat (hukum adat),
dan jujur (tegakkan kebenaran)”. harus dilandasi oleh norma-norma
4. Aturan hukum yang digunakan oleh agama (Islam) yang berdasarkan Kitab
masyarakat adat dalam penyelesaian Allah yaitu Al-Qur’an dan Sunah Rasul
konflik pertanahan adalah hukum adat (Al-Hadits).
yang bersendikan hukum agama dan

DAFTAR PUSTAKA

Faisal, Sanafiah, 1990, Penelitian Kualitatf Sood, Muhammad, 2005, Prinsip-prinsip


Dasar-dasar dan Aflikasi, YA3, Hukum Adat Samawa yang Menunjang
Malang. Pembangunan di Bidang Hukum,
Ibrahim, Johnny, 2005, Teori & Metode Pe­ (Makalah Seminar) Fakultas Hukum
nelitian Hukum Normatif, Bayumedia Universitas 45 Mataram.
Publishing. Suhendar & Winarni, 1998, Petani dan
Ismail, M. Hilir, 1997, Sosialisasi Maja Labo Konflik Agraria, AKATIGA.
Dahu, (Makalah Seminar), Bima-NTB. Syafruddin, H.L., 2009, Revitatalisasi Nilai-
Moleong, Lexy J., 2000, Metodologi Pene- nilai Budaya Sasak dalam Pengalaman
litian Kualitatif, Remaja Rosdakarya, dan Penegakkannya, (Makalah Seminar
Bandung. Nasional) Hasil-hasil penelitian pada
Munir, Mochamad, 1997, Penggunaan Universitas Mataram dalam rangka
Pengadilan Negeri Sebagai Lembaga Dias Natalis ke 47.
untuk Menyelesaikan Sengketa dalam Rohmad, Abu, 2008, Paradigma Resolusi
Masyarakat: Kasus Penyelesaian Seng­ Konflik Agraria, Walisongo Press.
keta yang Berkaitan dengan Tanah Wiradi, Gunawan, 1999, Kebijakan Agra­
dalam Masyarakat di Kabupaten Bang- ria/Pertanahan yang Berorientasi Ke­
kalan Madura, Disertasi S3 Program rak­yatan dan Berkeadilan, Makalah
Pascasarjana Universitas Airlangga. di­sampaikan dalam Seminar Nasional
Nasution, S., 1996, Metode Penelitian Natu- Pertanahan, diselenggarakan oleh Seko-
ralistik Kualitatif, Tarsito, Bandung. lah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN)
Soekanto, Soerjono, 1984, Pengantar Pene- di Yogyakarta, Tanggal 25-26 Februari
litian Hukum, Universitas Indonesia, 1999.
Pres, Jakarta.