Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Neonatus atau bayi baru lahir (BBL) merupakan hasil reproduksi yang

berhasil dilahirkan oleh seorang ibu hamil, sebagai suatu makhluk yang “unik“ oleh

karena mempunyai kemampuan untuk beradaptasi dengan kehidupan ekstrauterin. Di

dalam rahim kebutuhan nutrisi dan oksigen dipenuhi sepenuhnya oleh ibu melalui

mekanisme uteroplasental. Begitu lahir seorang bayi harus mampu melakukan

adaptasi agar bisa bertahan hidup. Kemampuan adaptasi ini sangat tergantung pada

maturitas organ , kondisi janin (berat lahir, masa gestasi) dan faktor lingkungan

(sebagian adalah faktor ibu). Proses adaptasi yang tidak berjalan semestinya dapat

mengakibatkan keadaan gawat darurat neonatus yang dapat menjadi pangkal

bencana, karena dapat mengakibatkan kematian atau kecacatan (Sholeh, 2016).

Dalam rangka memberikan pelayanan kesehatan komprehensif bagi bayi baru

lahir dimulai sejak janin dalam kandungan sampai dengan bayi berumur 28 hari di

puskesmas dan jaringannya, maka setiap tenaga kesehatan harus mematuhi standar

pelayanan yang sudah ditetapkan. Standar yang dijadikan acuan antara lain : Standar

Pelayanan Kebidanan (SPK), Pedoman Asuhan Persalinan Normal (APN), dan

Pelayanan Neonatal Esensial Dasar (Kemenkes RI, 2010).

Pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir yang berkualitas dapat mencegah

tingginya angka kematian. Di Indonesia, angka kematian bayi baru lahir pada anak-

anak yang ibunya mendapatkan pelayanan antenatal dan pertolongan persalinan oleh

1
2

profesional medis adalah seperlima dari angka kematian pada anak-anak yang ibunya

tidak mendapatkan pelayanan ini (Unicef, 2012).

Saat lahir, mekanisme pengaturan suhu tubuh pada BBL, belum berfungsi

sempurna. Oleh karena itu, jika tidak segera dilakukan upaya pencegahan kehilangan

panas tubuh maka BBL dapat mengalami hipotermia. Bayi dengan hipotermia,

berisiko tinggi untuk mengalami sakit berat atau bahkan kematian. Hipotermia

mudah terjadi pada bayi yang tubuhnya dalam keadaan basah atau tidak segera

dikeringkan dan diselimuti walaupun berada di dalam ruangan yang relatif hangat.

Bayi prematur atau berat lahir rendah lebih rentan untuk mengalami hipotermia.

Walaupun demikian, bayi tidak boleh menjadi hipertermia (temperatur tubuh lebih

dari 37,5°C) (Kemenkes RI, 2010).

Peningkatan pengetahuan dan keterampilan petugas kesehatan merupakan

upaya strategi dalam pencapaian penurunan angka kematian bayi, salah satunya

dengan kegiatan pelatihan program neonatal pada tingkat desa sampai rumah sakit.

Angka kejadian dan angka kematian BBLR akibat komplikasi seperti Asfiksia,

Infeksi, Hipotermia, Hiperbilirubinemia masih tinggi, didiharapkan Bidan terutama

Bidan di Desa sebagai ujung tombak pelayanan yang mungkin menjumpai kasus.

BBLR memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai sesuai dengan

kompetensi dan fasilitas yang tersedia. Bidan dan perawat yang terampil dan

kompeten dalam manajemen BBLR diharapkan dapat menangani kasus BBLR

dengan baik dan benar, serta dapat menyebarkan pengetahuannya kepada keluarga

mengenai penanganan BBLR menggunakan cara yang mudah dan sederhana

(Kemenkes, RI, 2010).


3

Pada waktu kelahiran, tubuh bayi baru lahir mengalami sejumlah adaptasi

psikologik. Bayi memerlukan pemantauan ketat untuk menentukan masa transisi

kehidupannya ke kehidupan luar uterus berlangsung baik. Bayi baru lahir juga

memburuhkan asuhan yang dapat meningkatkan kesempatan untuknya menjalani

masa transisi dengan baik. Mekanisme kehilangan suhu tubuh bayi dapat terjadi (1)

akibat kontak langsung dengan tubuh bayi ke benda sekitarnya, (2) panas dapat

hilang dari tubuh bayi karena terpapar langsung dengan udara sekitarnya, (3) panas

dipancarakan dari tubuhnya yang berada dalam lingkungan yan g lebih dingin dan,

(4) bayi kehilangan panas melalui proses penguapan udara (Suparyanto, 2015).

Bidan berperan dalam memberikan asuhan masa nifas untuk dapat

memastikan ibu merasa nyaman dalam menjalani peran barunya dan selalu

memberikan dukungan dalam proses adaptasi yang dilalui ibu. Seorang bidan harus

bersikap ramah, tanggap dan sabar dalam upaya memberikan pelayanan yang terbaik

untuk klienya. Asuhan masa nifas normal merupakan wewenang dan tanggung jawab

bidan untuk melaksanakan kompetensi dan ketrampilan memberikan asuhan yang

sesuai dengan kebutuhan setiap individu (Suparyanto, 2015).

Menurut Sunardi (2013) faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan

bidan tentang termoregulasi meliputi pendidikan, sikap, sumber informasi, pelatihan,

masa kerja dan pengalaman. Sedangkan menurut Eka (2013) faktor-faktor yang

mempengaruhi pengetahuan bidan tentang termoregulasi meliputi pendidikan, sikap,

pelatihan dan masa kerja.

Data dari penelitian di California, Amerika Serikat menunjukkan bahwa pada

tahun 2016 terdapat sekitar 64% kasus hipotermi pada bayi baru lahir dengan berat
4

lahir cukup dan insidennya semakin meningkat seiring dengan semakin rendahnya

berat bayi baru lahir sehingga dapat memberikan pelayanan yang maksimal dan

mengurangi angka kematian bayi (Irma, 2017).

Di Indonesia pada umumnya inkubator memiliki geometrid an dimensi

sederhana dengan dinding tunggal, sehingga kurang mampu membantu tercapai NTE

sehingga tubuh bayi dapat kehilangan panas. 4 atau 40% ibu bersalin, bayinya

mengalami Hipotermi dengan suhu rata-rata kurang dari 36,50C sedangkan 6 atau

60% ibu bersalin bayinya tidak mengalami Hipotermia dengan rata-rata suhu 36,5-

3,700C (Irma, 2017).

Sementara menurut data Provinsi Nanggroe Aceh Darusalam Penyebab

kematian bayi di Aceh, diantaranya adalah penyakit asfiksia (25 %), BBLR (21 %),

gangguan kelainan saluran pernafasan (11 %), kelainan cacat kongenital (10 %),

gangguan kelainan partus (6 %), demam (4 %), gangguan kelainan jantung (4 %),

gangguan kelainan saluran cerna (3 %), aspirasi (3 %), diare (2 %), pneumonia (2

%), sepsis (2 %), infeksi (1 %) serta penyakit lainnya (6 %) (Dinkes Aceh, 2016).

Menurut data Dinas Kesehatan Kabupaten Pidie didapatkan bahwa jumlah

bayi tahun 2016 yaitu sebanyak 4.323 bayi sedangkan jumlah seluruh bidan di

Kabupaten Pidie tahun 2016 yaitu sebanyak 1.536 orang, menurut data dari

Puskesmas Padang Tiji jumlah bidan di Puskesmas tersebut yaitu sebanyak 61 orang.

Berdasarkan wawancara penulis dengan 7 orang bidan di Puskesmas Padang

Tiji didapatkan hasil bahwa bidan menangani proses persalinan secara normal dan

ada beberapa bidan melakukan termoregulasi pada bayi baru lahir khususnya bayi

dengan hiportermia.
5

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam

penelitian ini adalah "Bagaimanakah Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi

Pengetahuan Bidan Tentang Termoregulasi Pada Bayi Baru Lahir Di

Puskesmas Padang Tiji Kecamatan Padang Tiji Kabupaten Pidie Tahun 2018?”

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan

Bidan Tentang Termoregulasi Pada Bayi Baru Lahir Di Puskesmas Padang

Tiji Kecamatan Padang Tiji Kabupaten Pidie Tahun 2017.

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan

Bidan Tentang Termoregulasi Pada Bayi Baru Lahir Di Puskesmas

Padang Tiji Kecamatan Padang Tiji Kabupaten Pidie Tahun 2017 ditinjau

dari segi sikap.

b. Untuk mengetahui Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan

Bidan Tentang Termoregulasi Pada Bayi Baru Lahir Di Puskesmas

Padang Tiji Kecamatan Padang Tiji Kabupaten Pidie Tahun 2017 ditinjau

dari segi pelatihan.


6

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Responden

Hasil penelitian ini dapat meningkatkan ilmu yang didapatkan sehingga

dapat mengembangkan pelayanan kesehatan dan dapat memberikan

pertolongan terhadap terjadinya thermogulasi pada bayi baru lahir.

2. Bagi Instansi pelayanan

Hasil penelitian ini diharapkan bisa dijadikan masukan bagi pengelola

program kesehatan untuk mengembangkan pendidikan kesehatan terhadap

pertolongan pertama terhadap terjadinya thermogulasi pada bayi.

3. Bagi Institusi pendidikan

Diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan bacaan

dan bahan untuk penelitian selanjutnya.

4. Bagi Peneliti Selanjutnya

Sebagai bahan awal dalam melakukan penelitian selanjutnya yang

berhubungan dengan asuhan sayang ibu, sehingga pengetahuan dan wawasan

dalam bidang penelitian serta sebagai penerapan ilmu yang telah didapat

selama studi.

5. Bagi peneliti

Dapat memperkaya konsep teori yang menyongsong perkembangan

ilmu pengetahuan kebidanan khususnya pada pengetahuan bidan penanganan

terhadap terjadinya thermogulasi pada bayi.


7

E. Keaslian Penelitian

Penelitian Dhesi Ari Astuti (2008) dengan judul “Gambaran Pengetahuan

Bidan Dengan Penatalaksanaan Bati Baru Lahir Dengan Hipotermi Pada Bidan

Delima Bantul”. Penelitian ini dilakukan bulan Juni 2008 dengan menggunakan

desain penelitian deskriptif. Tehnik sampel dengan random sampling. Hasil

penelitian yaitu 75% berada dalam katagori baik pengetahuan bidan dalam

penanganan hipothermi, 25% pendidikan yang ditamatkan adalah Akademi

kebidanan , 100 % bidan bekerja dalam waktu yang belum cukup lama dan 56,3%

mendapatkan pelatihan APN/PONED/IMD.