Anda di halaman 1dari 8

TUGAS MATA KULIAH AKUNTANSI FORENSIK DAN FRAUD

AUDITING
20 PERTANYAAN BESERTA JAWABAN

Dosen Pengampu Nur Probohudono S.E., M.Si., Ph.D., Ak., CA.,CFrA

Disusun Oleh
Bambang Ahmad Indarto S431808003

PROGRAM STUDI MAGISTER AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
PERTANYAAN

1. Sebutkan 5 atribut seorang akuntan forensik dalam melakukan investigasi terhadap


fraud.
2. Sebutkan karakteristik seorang pemeriksa fraud.
3. Sebutkan kualifikasi seorang investigator.
4. Sebutkan 6 kualitas akuntan forensik.
5. Jelaskan aoa yang dimaksud independen, objektif, skeptis dalam ranah audit
investigatif.
6. Sebutkan kode etik akuntan forensik.
7. Jelaskan tiga wilayah hukum menurut Lord John Flecther Moulton
8. Jelaskan standar-standar yang digunakan untuk audit investigatif untuk perusahaan.
9. Jelaskan standar-standar yang digunakan untuk audit investigatif untuk keuangan
negara.
10. Jelaskan kondisi memungkinkan terjadinya risiko kecurangan.
11. Sebutkan standar akuntansi forensik.
12. Jelaskan fakor-faktor untuk mencegah terjadinya kecurangan.
13. Sebutkan 4 alat bukti dalam investigasi kecurangan.
14. Sebutkan alternatif yang digunakan sebagai korban kecurangan.
15. Etika dalam melakukan investigasi kecurangan.
16. Tindakan preventif untuk mencega kecurangan.
17. Apakah skeptisme merupakan bentuk ketidaksukaan dengan unsur subyektif?
18. Apakah pengaruh fee auditor mampu mempengaruhi tingkat kemampuan auditor
investigatif ?
19. Apakah dalam melakukan audit investigatif keamanan auditor harus dijaga?
20. Posisi whistleblowing seperti apa?

JAWABAN

1. Atribut seorang akuntan forensik dalam melakukan investigasi terhadap Fraud:


 Hindari pengumpulan fakta dan data yang berlebihan secara prematur. Dari awal
upayakan “menduga” siapakah pelaku kecurangan.
 Fokus pada pengumpulan bukti dan barang bukti untuk proses pengadilan. Auditor
harus mampu membuktikan “niat pelaku melakukan kecurangan”.
 Kreatif dalam menerapkan teknik investigatif, berpikir seperti pelaku fraud, jangan
dapat ditebak.
 Auditor fraud harus tahu bahwa banyak kecurangan dilakukan dengan
persekongkolan sehingga harus memiliki indra atau intuisi yang tajam untuk
merumuskan “teori mengenai persekongkolan”.
 Mengenali pola fraud yang memungkinkan investigator menerapkan teknik
investigatif yang ampuh.

2. Pemeriksa Fraud harus memiliki keahlian teknis, kemampuan mengumpulkan fakta dari saksi
secara fair, tidak memihak, sahih, dan akurat serta mampu melaporkan fakta-fakta secara
akurat dan lengkap.

3. Kualifikasi Investigator
 Tidak gagabah atau sifat kehati-hatian;
 Menjaga kerahasiaan pekerjaan;
 Kreatif;
 Pantang menyerah;
 Berani;
 Jujur;
 Memiliki kemampuan pendekatan manusia;
 Ketangguhan mencari informasi seluas-luasnya

4. Enam kualifikasi Akuntan Forensik


 Kreatif
 Rasa ingin tahu
 Tak pantang menyerah
 Akal Sehat
 Business Sense
 Percaya diri

5. Independen, Objektif, Skeptisme


Independen adalah keadaan bebas dari pengaruh, tidak dikendalikan oleh pihak lain, tidak
tergantung pada orang lain. Dalam SPAP (IAI, 2001: 220.1) auditor diharuskan bersikap
independen, artinya tidak mudah dipengaruhi, karena ia melaksanakan pekerjaannya untuk
kepentingan umum (dibedakan di dalam hal ia berpraktik sebagai auditor intern).
Obyektivitas adalah suatu kualitas yang memberikan nilai atas jasa yang diberikan anggota.
Prinsip obyektivitas mengharuskan anggota bersikap adil, tidak memihak, jujur secara
intelektual, tidak berprasangka atau bias, serta bebas dari benturan kepentingan atau dibawah
pengaruh pihak lain
Skeptisme merupakan sikap/pikiran selalu mempertanyakan atau mengasumsikan kerentanan
terhadap suatu kecurangan tetapi juga tidak membenarkan kejujuran yang absolut.

6. kode etik akuntan forensik


 Integritas (sikap jujur, walaupun tidak diketahui orang lain)
 Rasa hormat dan kehormatan (respect dan honor)
 Nilai-nilai luhur lainnya yang menciptakan rasa percaya (trust) dari pengguna dan
stakeholder lainnya.
7. Tiga wilayah hukum menurut Lord John Flecther Moulton
 Wilayah hukum positif
Wilayah dimana seseorang patuh karena ada hukum dan adanya hukuman bagi yang
tidak patuh.
 Wilayah kebebasaan (free choice)
Wilayah dimana seseorang mempunyai kebebasan penuh dalam menentukan
sikapnya.
 Wilayah kesopan-santunan (manners) atau etik
Dalam wilayah ini tidak ada hukum yang memaksakan tindak tanduk kita, namun kita
merasakan bahwa kita tidak bebas memilih/melakukan apa yang kita inginkan.

8. Standar-standar yang digunakan untuk audit investigatif untuk perusahaan


 Seluruh investigasi harus dilandasi praktik terbaik yang diakui (accepted best
practices).
 Kumpulkan bukti-bukti dengan prinsip kehati-hatian (due care) sehingga bukti-bukti
tadi dapat diterima di pengadilan.
 Pastikan bahwa seluruh dokumentasi dalam keadaan aman, terlindungi dan diindeks
dan jejak audit tersedia.
 Pastikan bahwa para investigator mengerti hak-hak asasi pegawai dan senantiasa
menghormatinya.
 Beban pembuktian pada yang “menduga” pegawainya melakukan kecurangan, dan
pada penuntut umum yang mendakwa pegawai tersebut, baik dalam kasus hukum
administratif maupun hukum pidana.
 Cakup seluruh substansi investigasi dan kuasai seluruh target yang sangat kritis
ditinjau dari segi waktu.
 Liput seluruh tahapan kunci dalam proses investigasi, termasuk perencanaan,
pengumpulan bukti dan barang bukti, wawancara, kontak dengan pihak ketiga,
pengamanan mengenai hal-hal yang bersifat rahasia, ikuti tata cara atau protokol,
dokumentasi dan penyelenggaraan catatan, melibatkan dan/atau melapor ke polisi,
kewajiban hukum, dan persyaratan mengenai pelaporan.

9. Pendekatan digunakan untuk audit investigatif untuk keuangan negara


 Ubah setiap tujuan pemeriksaan menjadi beberapa pertanyaan tentang aspek tertentu
dari program yang diperiksa (tujuan, pengendalian intern, kegiatan, operasi, output,
outcome).
 Identifikasi ketentuan perundang-undangan yang terkait langsung dengan aspek
tertentu yang menjadi bahan pertanyaan tadi.
 Tentukan penyimpangan dari ketentuan peraturan perundang-undangan yang secara
signifikan dapat memengaruhi jawaban atas pertanyaan tadi.

10. Kondisi memungkinkan terjadinya risiko kecurangan


 Lemahnya manajemen yang tidak bisa menerapkan pengendalian intern yang ada atau
tidak bisa mengawasi proses pengendalian
 Pemisahan tugas yang tidak jelas
 Transaksi-transaksi yang tidak lazim dan tanpa penjelasan yang memuaskan
 Kasus di mana pegawai cenderung menolak liburanatau menolak promosi
 Dokumen-dokumennya hilangatau tidak jelas, atau manajemen selalu menunda
memberikan informasi tanpa alasan yang jelas
 Informasi yang salah atau membingungkan
 Pengalaman pemeriksaan atau investigasi yang lalu dengan temuan mengenai
kegiatan-kegiatan yang perlu dipertanyakan atau bersifat kriminal.

11. Standar akuntansi forensik


 Independensi
 Objektivitas
 Kemahiran Profesional
 Pelaksanaan Tugas Telaahan

12. Fakor-faktor untuk mencegah terjadinya kecurangan


 Menciptakan budaya jujur dan beretika.
 Keteladanan perilaku manajemen puncak
 Mempekerjakan pegawai yang tepat
 Mengomunikasikan ekspektasi dari kejujuran dan integritas
 Menciptakan lingkungan kerja yang positif\

13. Empat alat bukti dalam investigasi kecurangan.


 Bukti testimonial
 Bukti dokumentasi
 Bukti fisik
 Pengamatan pribadi

14. Alternatif yang digunakan sebagai korban kecurangan.


 Tidak mengambil tindakan hukum
 Tindakan secara Pidana
 Tindakan secara Perdata
15. Etika dalam melakukan investigasi kecurangan.

 Investigasi harus dilakukan hanya untuk mengungkapkan kebenaran atas


permasalahan yang masih dipertanyakan
 Investigator harus berhati-hati Untuk menghindari adanya teknik Investigasi yang
mencurigakan
 Investigator harus melaporkan Semua fakta secara jujur dan objektif

16. Tindakan preventif untuk mencega kecurangan

 Secara akurat mengidentifikasi sumber dan mengukur risiko


 Mengimplementasikan pengendalian preventif dan pengendalian detektif yang sesuai
untuk mengurangi resiko-resiko
 Membuat pemonitoran secara menyeluruh oleh pegawai
 Memiliki auditor internal dan eksternal yang melakukan pengecekan independen pada
kinerja.

17. Skeptisme merupakan bentuk ketidaksukaan dengan unsur subyektif?

Tidak. Skeptisme merupakan bentuk sikap tidak mudah percaya dengan auditee. Ini
merupakan prinsip dimana auditor harus berpendirian tidak mudah dipenagurhi.

18. Pengaruh fee auditor mampu mempengaruhi tingkat kemampuan auditor investigatif ?

Bisa jadi karena audit investigatif memerlukan daya analisa yang tinggi dengan risiko
yang sangat tinggi pula. Hal ini mendorong semakin tinggi fee maka semakin profesional
pula tugas dilakukan oleh auditor.

19. Apakah dalam melakukan audit investigatif keamanan auditor harus dijaga?

Harus dan wajib karena risiko yang sangat tinggi memungkinkan auditor mendapat
ancaman intimidasi dan intervensi dari auditee

20. Posisi whistleblowing seperti apa?


Merupakan pihak yang harus dilindungi dan dimintai keterangan sebagai second opinion
atas kasus yang diungkapkan kepermukaan. Identitas harus dianonimkan sebagai bentuk
dan upaya kemanan yang akan timbul atas kesaksian yang diberikan.