Anda di halaman 1dari 18

HALAMAN JUDUL

i
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .............................................................................................................................. i


DAFTAR ISI.......................................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ............................................................................................................................ 1
1.2 Tujuan .......................................................................................................................................... 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA........................................................................................................... 2
2.1 Perhitungan Angka Kuman ....................................................................................................... 2
2.2 Perhitungan secara langsung ..................................................................................................... 3
2.3 Perhitungan Tidak Langsung .................................................................................................... 4
2.4 Standar Perhitungan .................................................................................................................. 7
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ........................................................................................... 9
3.1 Waktu dan Tempat ..................................................................................................................... 9
3.2 Alat dan Bahan............................................................................................................................ 9
3.3 Prosedur Kerja ............................................................................................................................ 9
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN............................................................................................. 11
4.1 Hasil............................................................................................................................................ 11
4.2 Pembahasan ............................................................................................................................... 11
BAB V PENUTUP............................................................................................................................... 15
5.1 Kesimpulan ................................................................................................................................ 15
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................................... 16

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Mikroorganisme adalah makhluk yang sangat kecil dan hanya dapat dilihat dibawah
mikroskop. Salah satu jenis mikroorganisme adalah bakteri. Bakteri merupakan
organisme uniselular yang tumbuh dengan cara pembelahan biner yaitu satu sel
membelah secara simetris. Koloni bakteri adalah sekumpulan dari bakteri-bakteri
yang sejenis yang mengelompok menjadi satu dan membentuk suatu koloni-koloni
(Volk, 1993).

Pertumbuhan mikroorganisme yang membentuk koloni dapat dianggap bahwa


setiap koloni yang tumbuh berasal dari satu sel, maka dengan menghitung jumlah
koloni dapat diketahui penyebaran bakteri yang ada pada bahan. Jumlah mikroba
pada suatu bahan dapat dihitung dengan berbagai macam cara,tergantung pada
bahan dan jenis mikrobanya (Dwidjoseputro, 2005).

Dalam analisa mikrobiologi, menghitung jasad renik mikroorganisme suatu sediaan


obat, harus diperhitungkan sifat-sifat dari bahan yang akan diperiksa, terutama:
kelarutan, kemungkinan adanya zat anti mikroba, dan derajat kontaminasi yang
dperkirakan. Untuk mempermudah penghitungan koloni diperlukan pengetahuan
mengenai morfologi bakteri tersebut sehingga media pertumbuhan yang akan
digunakan sesuai dengan sifat bakteri tersebut.

1.2 Tujuan
Mempelajari perhitungan secara tidak langsung pada kuman aerob dalam cawan
petri dengan metode pengeceran bertingkat

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Perhitungan Angka Kuman

Pertumbuhan dapat didefinisikan secara umum yaitu sebagai pertambahan


secara teratur semua komponen di dalam sel hidup. Pada organisme multiseluler,
(ber sel satu), pertumbuhan adalah pertambahan jumlah sel, yang juga berarti
penambahan jumlah organisme yang membentuk populasi atau satu biakan. Pada
organisme seonostik (aseluler), selama pertumbuhan ukuran sel menjadi besar,
tetapi tidak terjadi pembelahan sel (Dwidjoseputro, 2005).

Untuk mengetahui perkembangan atau pertumbuhan suatu bakteri


membutuhkan pembuatan media dengan metode perhitungan bakteri yang ada
dalam media. Ada banyaknya metode yang digunakan dalam menghitung jumlah
bakteri secara kuantitatif dari suatu populasi bakteri. (Volk, 1993).

Penentuan jumlah angka mikroorganisme sangat penting dilakukan untuk


menetapkan keamanan suatu sediaan farmasi dan makanan. Berbagai metode telah
dikembangkan untuk menghitung jumlah mikroorganisme. Metode tersebut
menghitung jumlah sel, massa sel, atau isi sel yang sesuai dengan jumlah sel (Volk,
1993).
Koloni adalah kumpulan dari mikrobia yang memilki kesamaan sifat-sifat
seperti bentuk, susunan, permukaan, dan sebagainya. Sifat-sifat yang perlu
diperhatikan pada koloni yang tumbuh di permukaan medium adalah
(Dwidjoseputro, 2005) :

1. Besar kecilnya koloni. Ada koloni yang hanya serupa suatu titik, namun ada
pula yang melebar sampai menutup permukaan medium.
2. Bentuk. Ada koloni yang bulat, ada yang memanjang. Ada yang tepinya
rata, ada yang tidak rata.

2
3. Kenaikan permukaan. Ada koloni yang rata saja dengan permukaan
medium, ada pula yang timbul yaitu menjulang tebal di atas permukaan
medium.
4. Halus kasarnya permukaan. Ada koloni yang permukaannya halus, ada yang
permukaannya kasar dan tidak rata.
5. Wajah permukaan. Ada koloni yang permukaannya mengkilat, ada yang
permukaannya suram.
6. Warna. Kebanyakan koloni bakteri berwarna keputihan atau kekuningan.
7. Kepekatan. Ada koloni yang lunak seperti lendir, ada yang keras dan kering.

Secara kuantitatif koloni bakteri dapat dihitung dengan cara menghitung


populasinya secara umum atau dengan kata lain menghitung seluruh sel bakteri
yang ada dalam media termasuk sel yang mati, dan menghitung sel bakteri hidup
dengan menggunakan teori pendekatan (Dwidjoseputro, 2005).

Menurut Jutono, dkk (1980) ada 2 cara perhitungan jumlah mikrobia yaitu
perhitungan secara langsung (direct method) dan secara tidak lengsung (indirect
method).

2.2 Perhitungan secara langsung

Perhitungan jumlah mikrobia secara langsung, dipakai untuk menentukan


jumlah mikrobia keseluruhan baik yang mati maupun yang hidup. Ada beberapa
cara perhitungan antara lain:

1. Menggunakan cara pengecatan dan pengamatan mikrospis


Pada cara ini mula-mula dibuat preparat mikroskopik pada gelas benda,
suspensi bahan atau biakan mikrobia yang telah diketahui volumenya diratakan
di atas gelas benda pada suatu luas tertentu setelah itu preparat dicat dan
dihitung jumlah rata-rata sel tiap petak atau tiap bidang pemandangan
mikroskop. Luas bidang pemandangan mikroskop dihitung dengan mengukur
garis tengahnya. Jadi jumlah mikrobia yang terdapat pada gelas benda

3
seluruhnya dapat dihitung, sehingga dapat diperoleh jumlah mikrobia tiap cc
bahan atau cairan yang diperiksa (Jutono dkk, 1980).

2. Menggunakan filter membrane (miliphore filter)


Suspensi bahan mula-mula disaring sejumlah volume tertentu kemudian
disaring dengan filter membrane yang telah disterilkan terlebih dahulu. Dengan
menghitung jumlah sel rata-rata tiap kesatuan luas pada filter membran dapat
dihitung jumlah sel dari volume suspensi yang disaring (Jutono dkk, 1980).

3. Menggunakan counting chamber


Perhitungan ini dapat menggunakan haemacytometer, Petroff-Hausser
Bacteria Counter, dan alat-alat lainnya yang sejenis. Dasar perhitungannya ialah
dengan menempatkan 1 tetes suspensi bahan atau biakan mikrobia pada alat
tersebut, ditutup dengan gelas penutup kemudian diamati dengan mikroskop
dengan perbesaran sesuai besar kecilnya mikrobia. Dengan menentukan jumlah
sel rata-rata tiap petak (ruangan) yang telah diketahui volumenya dan alat
tersebut dapat ditentukan jumlah sel mikrobia tiap cc (Jutono dkk, 1980).

2.3 Perhitungan Tidak Langsung

Perhitungan mikrobia secara tidak langsung, dipakai untuk menentukan


jumlah mikrobia keseluruhan baik yang mati maupun yang hidup atau hanya
menentukan jumlah mikrobia yang hidup saja. Untuk menentukan jumlah mikrobia
yang hidup dapat dilakukan setelah suspensi bahan atau biakan mikrobia
diencerkan beberapa kali dan ditumbuhkan dalam medium dengan cara tertentu
tergantung dari macamnya bahan dan sifat mikrobianya (Jutono dkk, 1991).

Ada beberapa cara perhitungan antara lain:

1. Menggunakan sentrifuge
Caranya ialah 10 cc biakan cair mikrobia disentrifuge dengan
menggunakan sentrifuge yang biasa digunakan untuk menentukan jumlah
butir-butir darah. Kecapatan dan waktu sentrifugasi harus diperhatikan.

4
Setelah ditentukan volume mikrobia keseluruhan maka dapat dipakai untuk
menentukan jumlah sel-sel mikrobia tiap cc, yaitu dengan membagi volume
mikrobia keseluruhan dengan volume rata-rata tiap sel mikrobia (Suriawiria,
2005).

2. Berdasarkan kekeruhan
Dasar penentuan cara ini ialah jika seberkas sinar dilakukan pada suatu
suspensi mikrobia maka makin pekat (keruh) suspensi tersebut, makin besar
intensitas sinar yang diabsorbsi sehingga intensitas sinar yang diteruskan makin
kecil (Jutono dkk, 1980). Untuk perhitungan jumlah bakteri berdasarkan
kekeruhan digunakan alat-alat seperti photoelectric turbidimeter
electrophotometer, spectrophotometer, nephelometer, dan alat-alat lain yang
sejenis. Alat-alat ini menggunakan sinar monokromatik dengan panjang
gelombang tertentu (Dwijoseputro, 2005).

3. Menggunakan cara pengenceran


Cara ini dipakai untuk menentukan jumlah mikrobia yang hidup saja.
Dasar perhitungannya ialah mengencerkan sejumlah volume tertentu suatu
suspensi bahan atau biakan mikrobia secara bertingkat. (Jutono dkk, 1980).

4. Menggunakan cara Most Probable Number (MPN)


Metode ini dilakukan pengenceran dengan beberapa kali ulangan, secara
matematik hasilnya dapat untuk menentukan kemungkinan besar jumlah
mikrobia yang terdapat dalam suspense. (Jutono dkk, 1980).

5. Berdasarkan jumlah koloni (Plate count)


Cara ini yang paling umum digunakan untuk perhitungan jumlah
mikrobia. Dasarnya ialah membuat suatu seri pengenceran bahan dengan
kelipatan 10 (Jutono dkk, 1980).

5
Menurut Jutono (1980), tidak semua jumlah bakteri dapat dihitung. Ada beberapa
syarat perhitungan yang harus dipenuhi, yaitu :

1. Jumlah koloni tiap petridish antara 30-300 koloni, jika memang tidak ada
yang memenuhi syarat dipilih yang jumlahnya mendekati 300.
2. Tidak ada koloni yang menutup lebih besar dari setengah luas petridish,
koloni tersebut dikenal sebagai spreader.
3. Perbandingan jumlah bakteri dari hasil pengenceran yang bertururt-turut
antara pengenceran yang lebih besar dengan pengenceran sebelumnya, jika
sama atau lebih kecil dari 2 hasilnya dirata-rata, tetapi jika lebih besar dari
2 yang dipakai jumlah mikrobia dari hasil pengenceran sebelumnya.
4. Jika dengan ulangan setelah memenuhi syarat hasilnya dirata-rata.

Dalam perhitungan jumlah mikroorganisme ini seringkali digunakan


pengenceran. Pada pengenceran dengan menggunakan botol cairan terlebih dahulu
dikocok dengan baik sehingga kelompok sel dapat terpisah. Pengenceran sel dapat
membantu untuk memperoleh perhitungan jumlah mikroorganisme yang benar.
Namun pengenceran yang terlalu tinggi akan menghasilkan lempengan agar dengan
jumlah koloni yang umumnya relatif rendah (Hadioetomo, 1990).

Pengenceran dilakukan agar setelah inkubasi, koloni yang terbentuk pada


cawan tersebut dalam jumlah yang dapat dihitung. Dimana jumlah terbaik adalah
antara 30 sampai 300 sel mikrobia per ml, per gr, atau per cm permukaan (Fardiaz,
1993). Prinsip pengenceran adalah menurunkan jumlah sehingga semakin banyak
jumlah pengenceran yang dilakukan, makin sedikit sedikit jumlah mikrobia, dimana
suatu saat didapat hanya satu mikrobia pada satu tabung. Inkubasi dilakukan selama
2 x 24 jam karena jumlah mikrobia maksimal yang dapat dihitung, optimal setelah
masa tersebut yaitu akhir inkubasi. Selama masa inkubasi, sel yang masih hidup
akan membentuk koloni yang dapat dilihat langsung oleh mata (Waluyo, 2004).

6
2.4 Standar Perhitungan

Perhitungan jumlah koloni dilakukan dengan hitungan cawan (Total Plate


Counts) berdasarkan pertumbuhan dapat dilihat langsung tanpa mikroskop. Metode
hitungan cawan cukup sensitif untuk menentukan jumlah mikroorganisme yang
masih hidup dengan menghitung beberapa jenis mikroorgaisme sekaligus
mengisolasi dan mengidentifikasi yang berasal dari suatu mikroorgabisme yang
mempunyai penampakan pertumbuhan spesifik. Dengan metode TPC jumlah
koloni dalam contoh dihitung sebagai berikut : Koloni per ml atau per gram =
jumlah koloni per cawan x 1/FP (faktor pengenceran) Selanjutnya cawan petri yang
dipilih dan dihitung mengandung jumlah koloni antara 30-300 (Permana dan
Kusmiati, 2007).

Menurut Fardiaz (1993) data dilaporkan sebagai SPC harus mengikuti peraturan-
peraturan sebagai berikut:

1. Hasil yang dilaporkan hanya terdiri dari dari dua angka, yaitu angka
pertama didepan koma dan angka kedua dibelakang koma. Jika angka yang
ketiga sama dengan atau lebih besar dari 5, harus dibulatkan satu angka
lebih tinggi pada angka yang kedua

2. Jika semua pengenceran yang dibuat untuk pemupukan menghasilkan angka


kurang dari 30 koloni pada cawan petri, hanya junmlah koloni pada
pengenceran terendah yang dihitung. Hasilnya dilaporkan sebagai kurang
dari 30 dikalikan dengan besarnya pengenceran, tetapi jumlah yang
sebenarnya harus dicantumkan dalam tanda kurung.

3. Jika semua pengenceran yang dibuat untuk pemupukan menghasilkan lebih


dari 300 koloni pada cawan petri, hanya jumlah koloni pada pengenceran
yang tertinggi yang dihitung, misalnya dengan cara menghitung jumlahnya
pada ¼ bagian cawan petri, kemudian hasilnya dikalikan empat. Hasilnya
dilaporkan sebagai lebih dari 300 dikalikan dengan besarnya pengenceran,
tetapi jumlah yang sebenarnya harus dicantumkan dalam tanda kurung.

4. Jika cawan dari dua tingkat pengenceran menghasilkan koloni dengan


jumlah antara 30 dan 300, dan perbandingan antara hasil tertinggi dan
terendah dari kedua pengenceran tersebut lebih tersebut lebih kecil atau
sama dengan 2, tentukan rata-rata dari kedua nilai tertentu dengan
memperhitungkan pengencerannya. Jika perbandingan antara hasil tertinggi
dan terendah lebih besar dari , yang dilaporkan hanya hasil yang terkecil.

7
5. Jika digunakan dua cawan petri (duplo) per pengenceran, data yang diambil
salah satu, meskipun salah satu dari cawan duplo tersebut tidak memenuhi
syarat di antara 30 dan 300.

8
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat


Pratikum ini dilaksanakan pada hari selasa tanggal 27 maret 2019 jam
13:01-15:30 WIB di laboratorium mikrobiologi–virologi jurusan farmasi fakultas
farmasi dan sains UHAMKA

3.2 Alat dan Bahan


 Cawan petri  Drugle sky
 Tabung reaksi  Mikro pipet
 Cotton bud  Tip ( biru )
 Timbangan analitik  Tip ( kuning )
 Lumpang  Pemakar spirtus
 Alu  Laminar air flow
 vortex  Jarum inoculum
 Inkubator  Plastic wrap
 Tanah  Medium PDA

3.3 Prosedur Kerja


Prosedur pelaaksanaan pada pratikum ini yaitu :
a. Isolasi Mikroorganisme Dari Udara dan Lingkungan
1. Buat medium PDA kemudian tuang PDA ke dalam cawan petri steril
secara aseptis.
2. Ratakan agar dengan membentuk aangka delapan setelah itu dinginkan.
3. Dari lingkungan udara: buka tutup cawan petri selama 5 menit kemudian
tutup kembali. Dari nafas: buka tutup cawan petri secukupnya kemudian
hemuskan aliran udara kedalamnya.
4. Dari lingkungan: ambil cotton bud secara aseptis, gosokan pada sumber
lingkungan (meja), kemudian kkita goreskan cotton bud tersebut di atas
permukaan agar. Inkubasi 24-48 jam

9
b. Isolasi Mikroorganisme Dari Sampel Tanah
1. Timbang tanah seberat 1 gram
2. Tanah seberat 1 gram dimasukan ke dalam akuades steril 9 ml (tabung
pengenceran 10-1) secara aseptis dan divortex, lalu ambil 1 ml larutan
masukan dalam 9 ml akuades steril (pengenceran 10-2) dan selanjutnya
dilakukan pengenceran bertingkat sampai 10-7
3. Dari masing-masing 3 pengenceran terakhir (pengenceran 10-4,10-5,10-
6
) diambil 0,1 ml untuk ditanam secara spread plate pada medium petri
PDA dan NA
4. Inkubasi pada suhu 370C selama 24- 48 jam
5. Koloni akan tumbuh pada ketiga cawan tersebut kemudian dipilih koloni
yang relatif terpisah dari koloni lain dan koloni yang mudah dikenali
6. Koloni yang terpilih kemudian ditumbuhkan atau dimurnikan ke PDA
dan NA baru dengan teknik streak method.
7. Inkubasi selama 24-48 jam pada suhu 370C.
8. Hitung jumlah mikroba yang ada dengan standar perhitungan

10
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Tujuan praktikum : Menghitung Jumlah Kuman Pada Cawan Petri Dengan


Metode Pengenceran
Tanggal praktikum : 27 Maret 2019

4.1 Hasil
Tabel 4.1 Hasil Perhitungan Angka Kuman
-4
10 10-5 10-6 SPC ( Standar Plate Count)
25 3 - < 3,0 x 105(2,5 x 105)

Perhitungan:

Jumlah Koloni = 25 x 1/10-4 = 25 x 104 = 2,5 x 105


= < 30 x 1/10-4 (2,5 x 105)
= < 30 x 1/104 (2,5 x 105)
= < 3,0 x 1/105 (2,5 x 105) CFUs

4.2 Pembahasan
Pada praktikum kali ini dilakukan penghitungan koloni bakteri pada sampel
Tanah sampah. Metode yang dilakukan untuk menghitung suatu koloni pada sampel
yaitu metode hitungan cawan. Metode ini merupakan analisis untuk menguji
cemaran mikroba dengan menggunakan metode pengenceran dan metode cawan
sebar.

Metode penyebaran (Spread Plate Method) dilakukan dengan cara


menyebarkan sampel yang telah diencerkan diatas permukaan pelat agar dalam
cawan petri. Metode penyebaran lebih efektif dalam perhitungan cawan karena
bakteri dapat tersebar merata ke seluruh cawan dengan minimnya penumpukan
tetapi resiko terkena kontaminannya tinggi. Sedangkan cawan tuang cenderung

11
sulit dilihat koloninya jika penuangannya tidak sempurna dengan adanya koloni yan
bertumpuk.

Pertama yang dilakukan adalah pengenceran sampel sebanyak 6 kali dengan


perbandingan 1 : 10. Pengenceran dilakukan dengan memindahkan sampel
menggunakan volume pipet yang ujungnya diberi penyumbat kapas sebanyak 1 ml
kedalam tabung reaksi yang berisi aquades steril sebanyak 9 ml. Dilakukan 6 kali
pengenceran yaitu10-1 10-2 10-3 10-4, 10-5, dan 10-6. Pemberian sumbat kapas pada
ujung volume pipet berfungsi untuk menghindari kontaminasi dari mulut ke dalam
sampel pada saat pemindahan / pengenceran sampel.

Pentingnya melakukan pengenceran pada metode plating adalah untuk


mengantisipasi munculnya TNTC / TBUD dan TFTC. Karena apabila pengenceran
yang di lakukan terlalu tinggi, maka koloni yang terbentuk hanya sedikit.
Sedangkan apabila pengenceran kita di lakukan terlalu rendah, maka
kecenderungan menghasilkan TNTC / TBUD akan lebih besar. Koloni yang
terbentuk cenderung tumbuh bertumpuk-tumpuk juga sampai tak bisa dihitung
(Hadiutomo, 1990).

TNTC adalah singkatan dari Too Numerous To Count, sedangkan TBUD


adalah singkatan dari Tidak Bisa Untuk Dihitung. Ini adalah kondisi dimana koloni
yang terbentuk pada media terlalu banyak sampai tidak memungkinkan untuk
dihitung, jumlah koloni telah melewati batas penghitungan 30-300. Hal ini dapat
terjadi karena faktor pengencerannya masih rendah sehingga konsentrasi bakteri di
dalam suspensi masih banyak. Bisa juga karena penyebaran yang kurang merata
sehingga membuat bakteri tumbuh secara bertumpuk dan susah dihitung. Hal ini
dapat diatasi dengan membuat pengenceran yang lebih tinggi lagi dan lebih
memperhatikan homogenisasi di setiap penginokulasian. Namun hal ini bisa juga
terjadi karena adanya kontaminan yang masuk ke dalam media dan ikut berproses
(Barazandeh, 2008).

12
Kelemahan metode pengenceran adalah keselektifan hasil perhitungan yang
kadang menjadi bias. Kondisi pertumbuhan kontaminan, termasuk komposisi
media yang digunakan, waktu inkubasi, suhu dan pH sangat menentukan bakteri
yang dapat tumbuh dari seluruh populasi yang ada (Harmita, 2008).

Pada saat pemindahan sampel, dilakukan di dekat api supaya steril dari
kontaminan. Sterilisasi yaitu proses mematikan semua mikroorganisme dengan
pemanasan, dengan tujuan untuk membebaskan bahan dari semua mikroba perusak
(Anton, 2003). Kemudian sampel yang sudah diencerkan dimasukan kedalam
cawan petri sesuai dengan pengencerannya yaitu 10-4, 10-5, dan 10-6 sebanyak 0,1
ml. Setelah larutan sampel berada pada cwan petri, kemudian sampel di campur
dengan media agar, lalu di homogenkan supaya bakteri tersebar pada cawan petri
secara merata. Setelah itu di inkubasi selama 24 jam dengan suhu kamar sekitar 35
– 37o C.

Metode penghitungan cawan menggunakan media agar karena apabila


koloni tumbuh pada media agar akan lebih mudah mengamatinya. Berbeda apabila
menggunakan media broth. Pada media broth akan lebih sulit dalam menghitung
koloni karena bentuknya adalah cair. Apabila bentuknya padat seperti agar, maka
akan lebih mudah menghitungnya (Hadiutomo, 1990).

Suhu yang di gunakan pada saat inkubasi adalah suhu kamar sekitar 35 –
37o C karena suhu inkubasi tersebut sudah sangat sesuai dan dapat mendukung
pertumbuhan mikroba dengan sangat baik. Suhu tersebut sangat disukai mikroba,
oleh karena itu mereka jadi lebih cepat tumbuh dan berkembang biak. Apabila suhu
tersebut dinaikkan, maka mikroba tersebut bisa mati atau terdenaturasi kecuali
mikroba yang memang bersifat thermophilik. Dan apabila suhu tersebut diturunkan,
mikroba tersebut juga akan mati karena tak tahan suhu dingin dan akan rusak karena
enzimnya telah inaktif (Pelczar, 2006).

13
Dari hasil inkubasi didapatkan bakteri pada cawan petri. Pada cawan petri
10-4 di dapatkan koloni bakteri sebanyak 25 koloni, cawan petri 10-5 didapatkan
koloni bakteri sebanyak 3 koloni, dan cawan petri 10-6 tidak didapatkan koloni. Dari
hasil di atas sesuai dengan literatur yaitu semakin tinggi pengenceran maka jumlah
koloni semakin sedikit.

Banyaknya bakteri yang terkandung dalam suatu tanah dapat menjadi


indikator kualitas suatu tanah. Bakteri tersebut dapat mempengaruhi sifat fisik dan
sifat kimia tanah. Bakteri tanah dapat diisolasi pada medium buatan. Jumlah bakteri
yang dapat tumbuh dalam medium ditunjukkan dalam suatu bentuk koloni atau
colony forming units (CFU) dari suatu sel bakteri. Metode untuk perhitungan ini
menggunakan pengenceran berseri atau pengenceran serial dari sampel yang
mengandung mikroorganisme. Koloni bakteri yang muncul akibat pertumbuhan
mikroorganisme, diasumsikan berasal dari satu sel bakteri. Oleh karena itu, jumlah
bakteri pada sampel asal dapat ditentukan dengan menghitung jumlah koloni dan
memperhitungkan faktor pengenceran (Hadiutomo, 1990).

Hasil perhitungan angka kuman yang di dapat pada pengenceran 10-4 adalah
< 3,0 x 1/105 (2,5 x 105) CFUs, hal yang menyebabkan perhitungan angka kuman
tidak memenuhi syarat yaitu kurang dari 30 mungkin dikarenakan tanah yang di
ambil sedikit dan saat penggerusan tanah tidak homogen atau pada saat pemipetan
tidak tepat dan pengerjaan yang kurang aseptis membuat angka kuman kurang dari
30 sehingga tidak memenuhi syarat yaitu dalam kisaran 30-300 koloni.

14
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

1. Jumlah kuman perhitungan kuman yang didapat tergantung pada jumlah


bakteri yang terdapat saat pengenceran.
2. Prinsip metode cawan hitung (Plate Count) adalah jika sel mikroba
yang masih hidup ditumbuhkan pada medium agar, maka sel mikroba
tersebut akan berkembang biak dan membentuk koloni yang dapat dilihat
lansung dengan mata tanpa menggunakan mikroskop.
3. Pengencceran serial/bertingkat merupakan penambahan pelarut dalam suatu
senyawa dan berakibat menurunnya kadar kepekatan atau tingkat
konsentrasi dari senyawa yang dilarutkan/diencerkan.
4. Perhitungan angka kuman bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh
bahan tercemar oleh mikroba.
5. Hasil perhitungan angka kuman didapat kurang dari 30 koloni. Kisaran
yang paling tepat untuk digunakan menghitung adalah 30-300 koloni

15
DAFTAR PUSTAKA

Anton, W. 2008. Mikrobiologi Umum. Malang : Universitas Brawijaya

Barazandeh, N. 2008.Microbiology Titles . Jerman : Springer-Verlag Berlin


Heidelberg Media.

Dwidjoseputro, D. 2005. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakarta : Djambatan

Fardiaz, S. 1993. Mikirobiologi Pangan. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta..

Hadioetomo, R. 1990. Mikrobiologi Dasar-Dasar Dalam Praktek. Gramedia.


Jakarta.

Plezar. 2006. Dasar-Dasar-Mikrobiologi. Jakarta : UI Press

Waluyo, L. 2004. Mikrobiologi Umum. UMM Press. Malang.

Hadioetomo, R. 1990. Mikrobiologi Dasar-Dasar Dalam Praktek. Jakarta


: Gramedia.

Harmita. 2008. Analisis Hayati. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC:Jakarta.

Jutono, J., Soedarsono, S., Hartadi, S., Kabirun, S., Suhadi, D., Soesanto. 1980.
Pedoman Praktikum Mikrobiologi Umum. Yogyakarta : Departemen
Mikrobiologi Fakultas Pertanian UGM.

Permana D.R., dan Kusmiati. 2007. Isolasi Kapang Patogen Dari Bahan Kitosan
Sebagai Pengawet Makanan Snack Ubi Jalar (Ipomea Batatas, L). LIPI.
Bogor

Suriawiria,U. 2005. Mikrobiologi Dasar. Jakarta : Papas Sinar Sinanti.

Volk. 1993. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta : Erlangga.

16