Anda di halaman 1dari 40

Proposal Tugas Akhir Uji Kekerasan

Dengan Menggunakan Metode Brinell

PROPOSAL TUGAS AKHIR

“ Analisa Pengujian Kekerasan Material Baja Karbon Rendah, Besi,


Tembaga, Alumunium, serta Zn (seng) dengan Menggunakan Metode
Uji Kekerasan Brinell “

Disusun oleh :

Nama : KRISTIANTO SURO NUGROHO


NIM : 2006030398

PROGRAM S1 TEKNIK MESIN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS PAMULANG
TANGERANG SELATAN
2010

Kristianto Kentunk De Lacortez Page 1


Proposal Tugas Akhir Uji Kekerasan
Dengan Menggunakan Metode Brinell

Daftar Isi

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ............................................... 1


1.2 Permasalahan ............................................... 2
1.3 Pembatasan Masalah ........................................ 2
1.4 Identifikasi Masalah ......................................... 2
1.5 Tujuan ..................................................... 3
1.6 Manfaat . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 3
1.7 Sistematika Skripsi ......................................... 3

BAB II TEORI PENUNJANG

2.1 Pengertian Kekerasan ......................................... 4


2.2 Macam – macam Pengujian Kekerasan ........................... 5
2.2.1 Pengujian Kekerasan dengan Penetrasi Beban Dinamis . . . . . . . . . . . . . . . . . 5
2.2.2 Pengujian Kekerasan dengan Penetrasi Beban Statis ................. 5
2.3 Pengujian Kekerasan Mikro ................................... 6
2.4 Pengujian Kekerasan Rockwell . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 9
2.5 Pengujian Kekerasan Vickers . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 13
2.6 Pengujian Kekerasan Brinell . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 15
2.7 Prosedur Pengujian Material . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 20
2.8 Material Benda Uji . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 21
2.8.1. Baja Karbon .............................................. 21
2.8.2. Besi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 25
2.8.3. Tembaga . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 28
2.8.4. Aluminium . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 29
2.8.5. Seng .......................................... .......... 31
2.9 Spesifikasi Perancangan Alat Brinell . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 34
2.9.1. Spesifikasi Pada Chasing Alat Brinell . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 35
2.9.2. Spesifikasi Pada Meja Benda Uji, Ulir, dan Pemutar Ulir Alat Brinell. . . . . . 36

DAFTAR PUSTAKA . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 38

Kristianto Kentunk De Lacortez Page 2


Proposal Tugas Akhir Uji Kekerasan
Dengan Menggunakan Metode Brinell

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangan teknologi sekarang begitu cepat seiring dengan waktu untuk


membantu mempermudah kegiatan Manusia. Berbagai penelitian telah dilakukan oleh
berbagai institusi dari seluruh penjuru Dunia untuk menemukan teknologi baru.
Penemuan baru tersebut sebagai modal awal untuk menciptakan teknologi yang lebih
mutakhir dan efisien dari teknologi sebelumnya. Berbagai upaya pun dilakukan untuk
menciptakan teknologi baru, misalnya dengan membangun laboratorim yang mendukung
penelitian, lomba sience, maupun pemberian beasiswa – beasiswa bagi Mahasiswa
berprestasi. Dunia permesinan memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan
teknologi yang ada saat ini, di satu sisi sebagai produsen teknologi baru yang ada dan di
sisi lain sebagai konsumen yang membutuhkan teknologi dalam proses produksi.
Penelitian terus dilakukan untuk menghasilkan teknologi baru dengan tujuan
meningkatkan kesejahteraan manusia serta mempermudah manusia dalam melakukan
sesuatu.
Semakin modern teknologi yang ada saat ini tidak diimbangi dengan ketelitian
maupun kejujuran dari para pelaku kecurangan ekonomi, sehingga hanya karena rupiah
mereka dapat mengesampingkan keunggulan kualitas dan lebih memprioritaskan
kuantitas, yang berbanding terbalik dengan prinsip seorang desainer atau Insinyur
terdahulu yang lebih memperhatikan keselamatan konsumen dengan menghasilkan
kualitas yang baik di banding kuantitas yang banyak namun merugikan keselamatan
konsumen. Banyaknya tabung gas yang meledak contohnya, hal seperti itu wajar terjadi
dikarenakan prinsip seorang perancang atau desainer sedikit demi sedikit terkikis akibat
biaya material serta pembuatan yang serba mahal pada saat ini, sehingga para perancang,
pembuat, maupun penjual mau tidak mau menerapkan prinsip ekonomi dalam prinsip
kerjanya saat ini. Oleh karena itu di butuhkan acuan standar uji kekerasan dari suatu
material agar para perancang dan pembuat memiliki patokan dasar dalam merancang
atau membuat sesuatu agar tidak merugikan atau membahayakan keselamatan penikmat
maupun pengguna teknologi.
Salah satu cara untuk mengetahui kekuatan atau ketahanan suatu material dan
sebagai pendukung bagi spesifikasi suatu material adalah dengan menggunakan metode

Kristianto Kentunk De Lacortez Page 3


Proposal Tugas Akhir Uji Kekerasan
Dengan Menggunakan Metode Brinell

uji kekerasan. Walaupun uji tarik, uji puntir, dan mekanika perpatahan pun tak dapat di
tinggalkan, uji kekerasan di anggap lebih spesifik untuk mengetahui ketahanan suatu
material terhadap deformasi, yang untuk logam tertentu terdapat sifat untuk menyatakan
ukuran ketahanannya terhadap deformasi plastik dan deformasi permanen.

Walaupun demikian, pada pengujian kekerasan memiliki ketahanan terhadap


indentasi permanen akibat beban dinamis atau statis yang pada bahan yang sama
dapat diklasifikasikan berdasarkan kekerasannya, dengan kekerasan tersebut dapat di
tentukan penggunaan dari bahan tersebut. Oleh karena itu dalam penyusunan Skripsi
ini penulis mengambil judul “ Analisa Pengujian Kekerasan Material Baja
Karbon Rendah, Besi, Tembaga, Alumunium, serta Zn (seng) dengan
Menggunakan Metode Uji Kekerasan Brinell ”.
1.2 Permasalahan
Bagaimana menganalisa kekerasan logam baja karbon rendah, besi, tembaga,
alumunium, serta seng (ZN) dengan menggunakan metode pengujian Brinell, serta
membandingkan alat uji Brinell hasil Tugas Akhir Mahasiswa dengan hasil pengujian
Standar Nasional Indonesia (SNI) agar mendapatkan data yang lebih spesifik terhadap uji
kekerasan Brinell.
1.3 Pembatasan Masalah
Untuk membatasi masalah yang ada, penulis memberikan suatu batasan – batasan
mengenai pengetahuan dasar tentang Pengujian Kekerasan dengan Penetrasi Beban
Statis, pengetahuan tentang bahan yang akan di uji, prosedur pengujian bahan dengan
metode Brinell, perhitungan jarak untuk mengetahui kekuatan material dan juga
pengkalibrasian hasil uji dengan standar yang ada. Apabila terjadi kekurangan dalam
batasan masalah maupun dalam pembuatan proposal skripsi ini, mohon ditambahkan.
1.4 Identifikasi Masalah
Dalam menganalisa kekerasan logam baja karbon rendah, besi, tembaga,
alumunium, serta seng (ZN) dengan menggunakan metode pengujian Brinell dapat
meliputi beberapa masalah, diantaranya adalah :
1. apa itu uji kekerasan dengan metode Brinell ?
2. apa saja karakteristik benda yang akan di uji ?
3. Bagaimana prosedur pengujian bahan dengan metode Brinell itu dilakukan ?
4. Bagaimana cara mengetahui nilai kekerasan suatu material ?
5. Bagaimana analisa dari pengujian alat hasil sendiri dengan standar yang sudah ada ?

Kristianto Kentunk De Lacortez Page 4


Proposal Tugas Akhir Uji Kekerasan
Dengan Menggunakan Metode Brinell

1.5 Tujuan
1. Penelitian bertujuan untuk mengetahui nilai pengujian kekerasan bahan dengan
metode pengujian Brinell.
2. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kontrol suatu produk.
3. Penelitian untuk mengetahui kekurangan yang terdapat pada alat uji.
1.6 Manfaat
1. Untuk mengetahui karakteristik bahan material yang akan di uji.
2. Untuk mendapatkan data uji kekerasan yang kongkrit dari suatu bahan material yang
akan di uji dengan menggunakan metode pengujian Brinell.
3. Sebagai bahan koreksi dalam pembuatan alat uji agar memiliki kualitas yang lebih
baik.
1.7 Sistematika Skripsi
Proposal skripsi yang disusun memiliki sistematika sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Bagian pendahuluan ini berisi halaman judul, abstrak, latar belakang, batasan
masalah, identifikasi masalah, tujuan, manfaat, sistematika skripsi pengantar, daftar isi,
daftar lampiran.
BAB II TEORI
Pada bab ini akan dijelaskan mengenai pengertian teori pendukung dari uji
kekerasan secara umum, serta klasifikasi bahan uji menurut unsur logam secara
mendasar, serta beberapa pengetahuan untuk menunjang pengujian.
BAB III IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN
Pada bab ini akan dijelaskan mengenai tentang penerapan dan juga pengujian dari
uji kekerasan dengan metude pengujian Brinell secara lebih mendalam.
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini akan dijelaskan mengenai perhitungan – perhitungan mengenai uji
kekerasan Brinell serta analisis terhadap hasil perhitungan tersebut.
BAB V KESIMPULAN DAN PENUTUP
Pada bab ini akan diuraikan tentang kesimpulan dan saran dari apa yang telah
penulis uraikan dalam bab – bab sebelumnya.

Kristianto Kentunk De Lacortez Page 5


Proposal Tugas Akhir Uji Kekerasan
Dengan Menggunakan Metode Brinell

BAB II
TEORI PENUNJANG

2.1. Pengertian Kekerasan


Kekerasan suatu bahan sampai saat ini masih merupakan peristilahan yang kabur,
yang mempunyai banyak arti tergantung pada pengalaman pihak-pihak yang terlibat.
Pada umumnya, kekerasan menyatakan ketahanan terhadap deformasi, dan untuk logam
dengan sifat tersebut merupakan ukuran ketahanannya terhadap defornasi plastik atau
deformasi permanen. Untuk orang-orang yang berkecimpung dalam mekanika pengujian
bahan, banyak yang mengartikan kekerasan sebagai ukuranketahanan terhadap lekukan.
Untuk para insinyur perancang, kekerasan sering di artikan sebagai ukuran kemudahan
dan kuantitas khusus yang menunjukkan sesuatu mengenai kekuatan dan perlakuan panas
dari suatu logam. Adapun definisi kekerasan sangat tergantung pada cara pengujian
tesebut dilakukan. Beberapa dari definisi tersebut adalah sebagai berikut :

a. Ketahanan terhadap indentasi permanen akibat beban dinamis atau statis -


kekerasan indentasi.
b. Energi yang diserap pada beban impact (Kekerasan Pantul).
c. Kekerasan terhadap goresan (Kekerasan Goresan).
d. Ketahanan terhadap abrasi (Kekerasan Abrasi).
e. Ketahanan terhadap pemotongan atau pengeboran (Mampu Mesin).
f. Untuk logam, hanya kekerasan lekukan yang banyak menarik perhatian dalam
kaitannya di bidang rekayasa.

Kekerasan goresan merupakan perhatian utama para ahli mineral. Dengan


mengukur kekerasan, berbagai mineral dan bahan-bahan yang lain, disusun
berdasarkan kemampuan goresan yang satu terhadap yang lain. Kekerasan goresan
diukur sesuai dengan skala Mohs. Skala ini terdiri atas 10 standar mineral disusun
berdasarkan kemampuannya untuk digores. Mineral paling lunak pada skala ini
adalah talk (kekerasan goresan 1), sedangkan intan mempunyai kekerasan 10. Kuku -
jari mempunyai kekerasan sekitar 2, tembaga yang di lunakkan kekerasannya sekitar
3, dan martensit 7. Namun Skala Mohs tidak cocok untuk logam, karena interval
skala pada nilai kekerasan yang tinggi, tidak benar. Logam yang paling keras
mempunyai harga kekerasan pada skala Mohs, antara 4 sampai 8. Suatu jenis lain

Kristianto Kentunk De Lacortez Page 6


Proposal Tugas Akhir Uji Kekerasan
Dengan Menggunakan Metode Brinell

pengukuran kekerasan goresannya adalah mengukur kedalaman atau lebar goresan-


pada permukaan benda uji yang di buat oleh jarum penggores yang terbuat dari intan
dan yang di beri beban yang terbatas. Cara ini merupakan metode yang sangat
berguna untuk mengukur kekerasan relatif kandungan-kandungan mikro, tetapi
metode ini tidak memberikan ketelitian yang besar atau kemampu-ulangan yang
tinggi.
Pada pengukuran kekerasan dinamik, biasanya penumbuk di jatuhkan ke
permukaan logam dan kekerasan dinyatakan sebagai energi tumbuknya. Skeleroskop
Shore yang merupakan contoh paling umum dari suatu alat penguji kekerasan
dinamik, mengukur kekerasan yang sinyatakan dengan tinggi lekukan atau tinggi
pantulan. Hasil pengujian kekerasan tidak dapat langsung digunakan dalam desain se-
perti halnya hasil pengujian tarik. Namun demikian pengujian kekerasan banyak di-
lakukan, sebab hasilnya dapat digunakan sebagai berikut:

a. Pada bahan yang sama dapat diklasifikasikan berdasarkan kekerasannya. Dengan


kekerasan tersebut dapat di tentukan penggunaan dari bahan tersebut.
b. Sebagai kontrol kualitas suatu produk. Seperti mengetahui homogenitas akibat
suatu proses pembentukan dingin, pemaduan, heat treatment, case hardening dan
sebagainya.

2.2. Macam-Macam Pengujian Kekerasan

2.2.1. Pengujian Kekerasan dengan Penetrasi Beban Dinamis


Pengujian Kekerasan dengan dasar beban dinamis diantaranya :
1. Shore Scleroscope.
2. Herbert.
3. Hammer poldi dan sebagainya.

2.2.2. Pengujian Kekerasan dengan Penetrasi Beban Statis


Pada umumya pengujian kekerasan yang sering dilakukan adalah pengujian
yang berdasarkan penetrasi akibat beban statis. Pengujian kekerasan ini
berdasarkan material yang lebih keras dapat menggores material yang lebih
lunak. Oleh sebab itu hasil pengujian bersifat relatif.

Kristianto Kentunk De Lacortez Page 7


Proposal Tugas Akhir Uji Kekerasan
Dengan Menggunakan Metode Brinell

Angka kekerasan dinyatakan dengan skala Mohs yaitu dari material yang
terlunak dengan angka 1, dan Diamond material yang terkeras dengan angka 15.

Adapun pengujian ini dibagi dua yaitu :


4. Untuk mengukur kekerasan bagian kecil (fasa pada struktur mikro) atau lapisan -
lapisan tipis dari suatu material digunakan pengujian kekerasan Microhardness.
5. Untuk spesimen yang cukup tebal digunakan pengujian kekerasan Rockwell,
Vickers, dasn Brinell.

2.3. Pengujian Kekerasan Mikro


Banyak persoalan metalurgi memerlukan data-data mengenai kekerasan pada
daerah yang sangat kecil. Pengukuran gradien kekerasan pada permukaan yang
dikarburasi, pengukuran kekerasan kandungan tunggal pada struktur mikro, atau
penentuan kekerasan roda gigi arloji, merupakan tipe persoalan dari jenis pengu jian
kekerasan mikro. Pemakaian uji kekerasan goresan untuk keperluan persoalan di atas
telah di bahas sebelumnya, tetapi ternyata lebih baik menggunakan uji lekukan.
Pengembangan penumbuk Knoop oleh Biro Standar Nasional dan pengenalan uji
Tukon untuk mengkontrol pemakaian beban di bawah 25g, menyebabkan pengujian
kekerasan mikro merupakan kegiatan laboraturium yang rutin. Untuk itu sebelum
diuji kekerasan, spesimen harus dipoles dan dietsa terlebih dahulu, untuk pengamatan
indentasi Microhardness Tester dilengkapi dengan mikroskop.

Penumbuk Knoop adalah intan kasar yang di bentuk menjadi piramida yang di
desain sedemikian rupa sehingga di hasilkan lekukan bentuk intan dengan
perbandingan panjang dan yang rendah adalah 7:1. Sedangkan beban yang digunakan
mulai dari 25 gr sampai dengan 3600 gr. Angka kekerasan Knoop (KHN) adalah
beban dibagi luas proyeksi lekukan yang tidak akan kembali ke bentuk semula.

𝑝 𝑃
KHN = 𝐴 = 𝐿2 𝐶 (2)
𝑝

Dimana : P = beban yang diterapkan (kg).

𝐴𝑝 = luas proyeksi lekukan yang tidak pulih ke bentuk semula (𝑚𝑚2 ).

L = panjang diagonal yang lebih panjang.


C = konstantauntuk seriap penumbuk (ditentukan oleh pabrik pembuat).

Kristianto Kentunk De Lacortez Page 8


Proposal Tugas Akhir Uji Kekerasan
Dengan Menggunakan Metode Brinell

Untuk memudahkan perhitungan, biasanya dibuat tabel diagonal terpanjang dengan


d (Um), beban P (gr) dan angka kekerasan knoop KHN (kg/mm 2 ).

136o
136o

Gambar 2. The 136 (Degree) Diamond Pyramid Indenter. (Courtesy : Wilson


Mechanical Instrument Division American Chain & Cable Company, Inc).

Micro Hardness Tester dapat juga menggunakan indentor piramid intan


Vickers. Dengan demikian maka hasil pengujian adalah angka kekerasan Vickers H v
(kg/mm2). Indentasi dari indentor knoop ditujukan pada Gambar 2.1.

d1

d2

d1 : d2 = 7 : 1

Gambar 2.1. Indentasi dari Indentor knoop.

Bentuk penumbuk Knoop yang khusus, memberikan kemungkinan membuat


lekukan yang lebih tepat di banding lekukan yang dihasilkan pengujian Vickers,
sebagai contoh mengukur gradien kekerasan yang curam. Keuntungan lain ialah
bahwa untuk diagonal lain yang panjang, luas dan kedalaman kekuatan Knoop kira-
kira hanya 15% dari lekukan Vickers untuk panjang diagonal yang sama.

Kristianto Kentunk De Lacortez Page 9


Proposal Tugas Akhir Uji Kekerasan
Dengan Menggunakan Metode Brinell

Hal ini sangat berguna untuk mengukur kekerasan lapisan yang tipis, atau
apabila mengukur kekerasan bahan getas, dimana kecenderungan terjadinya patah
sebanding dengan volume bahan-bahan yang di tegangkan.

Posisi Operasi

172o-30’
W

d
130o

Gambar 2.2. Sketsa Geometris Knoop Indentor.

Diagonal panjang jejak Knoop pada dasarnya tidak dipengaruhi oleh


pengambilan bentuk elastik untuk beban-beban diatas 300 g. Akan tetapi, untuk
beban yang lebih ringan, maka suatu pengembalian secara elastis yang kecil menjadi
lebih besar. Kedua faktor diatas mempunyai pengaruh untuk pembacaan kekerasan
yang tinggi, sehingga biasanya angka kekerasan Knoop yang teramati membesar
sejalan dengan penurunan beban, untuk beban di bawah 300 g. Tarasov dan Tibault
telah mengemukakan bahwa jika dibuat koreksi untuk pengembalian bentuk elastis
dan ketajaman pengamatan, maka angka kekerasan Knoop konstan untuk beban
dibawah 100 g.

Kristianto Kentunk De Lacortez Page 10


Proposal Tugas Akhir Uji Kekerasan
Dengan Menggunakan Metode Brinell

2.4. Pengujian Kekerasan Rockwell


Uji kekerasan yang paling banyak di gunakan di Amerika Serikat adalah uji
kekerasan Rockwell. Hal ini di sebabkan oleh sifat-sifatnya yaitu : cepat, bebas dari
kesalahan manusia, mampu untuk membedakan perbedaan kekerasan yang kecil pada
baja yang di perkeras, dan ukuran lekukannya kecil, sehingga bagian yang mendapat
perlakuan panas yang lengkap, dapat diuji kekerasannya tanpa menimbulkan
kerusakan. Uji ini menggunakan kedalaman lekukan pada beban yang konstan
sebagai ukuran kekerasannya. Mula-mula diterapkan beban kecil sebesar 10 kg untuk
menempatkan benda uji. Hal ini akan memperkecil jumlah preparasi permukaan yang
di butuhkan dan juga memperkecil kecinderungan untuk terjadi penumbukan keatas
atau penurunan yang di sebabkan oleh penumbuk. Kemudian diterapkan beban yang
besar, dan secara otomatis kedalaman lekukan akan terekam pula gage penunjuk yang
menyatakan angka kekerasan. Penunjuk tersebut terdiri atas 100 bagian, masing-
masing bagian menyatakan penembusan sedalam 0,00008 inci. Petunjuk kebalikan
sedemikian hingga kekerasan yang tinggi yang berkaitan dengan penembusan yang
kecil, menghasilkan penunjukkan angka kekerasan yang tinggi. Hal ini sesuai dengan
angka kekerasan lain yang telah dijelaskan sebelumnya. Tetapi tidak seperti
penentuan kekerasan cara Vickers dan Brinell, yang mempunyai satuan kg per
milimeter kuadrat (kg/mm2), angka kekerasan Rockwell semata-mata tergantung pada
kita.

Gambar 2.3 Cara kerja mesin penguji kekerasan Rockwell.

Kristianto Kentunk De Lacortez Page 11


Proposal Tugas Akhir Uji Kekerasan
Dengan Menggunakan Metode Brinell

Suatu kombiasi antara beban dan penumbuk, tidak akan memberikan hasil yang
memuaskan, unuk bahan-bahan yang mempunyai daerah kekerasan yang luas.
Biasanya digunakan penumbuk berupa kerucut intan 120° dengan puncak yang
1
hampir bulat dan dinamakan penumbuk Brale, serta bola baja berdiameter inci dan
16
1
inci. Beban besar yang di gunakan adalah 60, 100, dan 150 kg. Karena kekerasan
8

Rockwell tidak tergantung pada bebean dan penumbuk, maka diperlukan mengenai
kombinasi yang digunakan. Hal ini dilakukan dengan cara memberikan awalan huruf
pada angka kekerasan yang menunjukkan kombinasi beban dan penumbuk tertentu
untuk skala beban yang digunakan. Suatu kekerasan Vickers yang tidak mempunyai
awalan huruf, tidak mempunyai arti.

Gambar 2.4 Media Pengujian Rockwell.

Baja yang diperkeras yang diuji pada skala C dengan menggunakan penumbuk
intan dan beban besar 100 kg. Daerah dari skala tersebut adalah dari 𝑅𝐵 0 hingga 𝑅𝐵
100. skala A (penumbuk intan, beban besar 60 kg) merupakan skala kekerasan
Rockwell yang paling luas, yang dapat di gunakan untuk bahan-bahan mulai dari
tembaga yang di lunakkan hingga kabrida sementara (cemented cabride). Terdapat
skala yang dapat di gunakan untuk keperluan-keperluan khusus.
Angka kekerasan Rockwell B dan Rockwell C dinyatakan sebagai kedalaman
indentasi dapat ditulis sebagai berikut :

Kristianto Kentunk De Lacortez Page 12


Proposal Tugas Akhir Uji Kekerasan
Dengan Menggunakan Metode Brinell

kedalaman indentasi (mm)


R B  130 
0,002

(2.1)

kedalaman indentasi (mm)


R C  100 
0,002

Skala yang umum dipakai dalam pengujian Rockwell adalah :

a. HRa (Untuk material yang sangat keras).


1
b. HRb (Untuk material yang lunak). Identor berupa bola baja dengan diameter Inchi
6

dan beban uji 100 Kgf.

c. HRc (Untuk material dengan kekerasan sedang). Identor berupa Kerucut intan
dengan sudut puncak 120 derjat dan beban uji sebesar 150 kgf.

Skala dan Indentor Beban Skala yang


Huruf Depan Dibaca
Mayor

Group I

B Bola 1/16“ 100 Merah

C Kerucut Intan 150 Hitam

Group II

A Kerucut Intan 60 Hitam

D Kerucut Intan 60 Hitam

E Bola 1/8” 100 Merah

F Bola 1/16” 60 Merah

G Bola 1/16” 150 Merah

H Bola 1/8” 60 Merah

K Bola 1/16” 150 Merah

Kristianto Kentunk De Lacortez Page 13


Proposal Tugas Akhir Uji Kekerasan
Dengan Menggunakan Metode Brinell

Group III

L Bola ¼” 60 Merah

M Bola ¼” 100 Merah

P Bola ¼” 150 Merah

R Bola ½” 100 Merah

S Bola ½” 100 Merah

V Bola ½” 150 Merah

Tabel 2. Skala kekerasan Rockwell dan Huruf Depan.

Uji kekerasan Rockwell sangat berguna dan mempunyai kemampuan ulang


(reproducible) asalkan sejumlah kondisi sederhana yang diperlukan dapat dipenuhi.
Sebagian besar hal-hal yang disusun berikut dapat diterapkan dengan baik pada uji
kekerasan yang lain :
1. Penumbuk dan landasan harus bersih dan terpasang dengan baik.
2. Permukaan benda yang akan diuji harus bersih dan kering, halus, dan bebas dari
oksida.
3. Permukaan yang kasar biasanya dapat menggunakan uji Rockwell.
4. Permukaan harus datar dan tegak lurus terhadap penumbuk.
5. Uji untuk permukaan silinder akan memberikan pembacaan hasil pembacaan
yang rendah, kesalahan yang terjadi tergantung pada lekungan, beban,
penumbuk, dan kekerasan bahan. Juga telah dipublikasikan koreksi secara teoritis
dan empiris.
6. Daerah diantara lekukan-lekukan harus 3 sampai 5 kali diameter lekukan.
7. Kecepatan penerapan beban harus dibakukan. Hal ini dilakukan dengan cara
mengatur daspot pada mesin uji Rockwell. Tanpa pengontrolan beban secara
hati-hati dapat terjadi variasi nilai kekerasan yang cukup besar pada bahan-bahan
yang sangat lunak. Untuk bahan-bahan dimikian gagang pengoperasian mesin uji
Rockwell harus dikembalikan keposisi semula segera setelah beban besar
diterapkan secara penuh.

Kristianto Kentunk De Lacortez Page 14


Proposal Tugas Akhir Uji Kekerasan
Dengan Menggunakan Metode Brinell

2.5. Pengujian Kekerasan Vickers


Uji kekerasan Vickers menggunakan penumbuk piramida intan yang dasarnya
berbentuk bujur sangkar. Besarnya sudut antara permukaan-permukaan piramid yang
saling berhadapan adalah 136°. Sudut ini dipilih, karena nilai tersebut mendekati
sebagian besar nilai pebandingan yang diinginkan antara diameter lekukan dan
diameter bola penumbuk pada uji kekerasan Brinell. Karena bentuk penumbuknya
piramid, maka pengujian ini sering dinamakan uji kekerasan piramida intan. Angka
kekerasan piramida intan (DPH), atau angka kekerasan Vickers (VHN atau VPH),
didefinisikan sebagai beban dibagi luas permukaan lekukan. Pada prakteknya luas ini
dihitung dari pengukuran mikroskopik panjang diagonal jejak. HV (Hardness
Vickers) dapat di tentukan dari persamaan berikut :

P d2 d2
Hv  dimana A 
A 2 cos 22 o 1,8544

P
Jadi Hv = 1,8544 (2.2)
2
d

dimana Hv = angka kekerasan Vickers (kg/mm 2).

P = beban yang besarnya (5, 10, 20, 50, 100 atau 200 kg) tergantung
ketebalan spesimen.

A = luas indentasi (mm2).

d  d2
d = diagonal rata-rata. d 1
2

Uji kekerasan Vickers banyak dilakukan penelitian, karena metode tersebut


memberikan hasil serupa kekerasan yang kontinyu, untuk suatu beban tertentu dan
digunakan pada logam yang sangat lunak, yakni HV-nya 5 hingga logam yang sangat
keras, dengan HV 1500. Dengan uji kekerasan Rockwell, yang telah dijelaskan, atau
uji kekerasan Brinell, biasanya diperlukan perubahan beban atau penumbuk pada
nilai kekerasan tertentu, sehingga pengukuran pada suatu skala kekerasan yang
ekstrim tidak bisa di bandingkan dengan skala kekerasan yang lain.

Kristianto Kentunk De Lacortez Page 15


Proposal Tugas Akhir Uji Kekerasan
Dengan Menggunakan Metode Brinell

Karena jejak yang dibuat dengan penumbuk piramida serupa secara geometris dan
tidak terdapat persoalan mengenai ukurannya, maka HV tidak tergantung pada beban.

Gambar 2.5. Media Pengujian Rockwell.

Pada umumnya hal ini dipenuhi, kecuali pada beban yang sangat ringan. Beban
yang biasanya di gunakan pada uji Vickers berkisar antara 1 hingga 120 kg,
tergantung kepada kekerasan yang akan diuji. Hal-hal yang menghalangi keuntungan
pemakaian metode Vickers adalah uji kekerasan Vickers tidak dapat digunakan untuk
pengujian rutin karena pengujian tersebut lamban, memerlukan persiapan permukaan
benda uji yang hati-hati dan terdapat pengaruh kesalahan manusia yang besar pada
penentuan panjang diagonal. Lekukan yang benar yang dibuat oleh penumbuk
piramida intan harus bebentuk bujur sangkar. Akan tetapi, penyimpangan yang telah
dijelaskan secara berkala karena keadaan demikian terdapat pada logam-logam yang
dilunakkan dan mengakibatkan pengukuran panjang diagonal yang berlebihan.
Bentuk demikian diakibatkan oleh penimbunan diatas logam-logam di sekitar
pemukaan penumbuk.

Kristianto Kentunk De Lacortez Page 16


Proposal Tugas Akhir Uji Kekerasan
Dengan Menggunakan Metode Brinell

136o

d1 d2

Gambar 2.6

Pengujian Kekerasan Vickers.

2.6. Pengujian Kekerasan Brinell


Uji kekerasan lekukan yang pertama kali banyak di gunakan serta disusun
pembakuannya adalah metode yang di ajukan oleh J.A Brinell pada tahun1900. Uji
kekerasan Brinell berupa pembentukan lekukan pada permukaan logam dengan
memakai bola baja berdiameter 10 mm dan di beri beban 3000 kg. Untuk logam
lunak, beban di kurangi hingga tinggal 500 kg, untuk menghindarkan jejak yang
dalam, dan untuk bahan yang sangat keras, digunakan paduan kabrida tungsten, untuk
memperkecil terjadinya distorsi identor. Beban diterapkan selama waktu tertentu,
biasanya 30 detik, dan diameter lekukan diukur dengan mikroskop gaya rendah,
setengah beban tersebut di hilangkan. Kemudian di cari harga rata-rata dari 2 sampai
3 buah pengukuran diameter pada jejak yang berarah tegak lurus. Permukaan dimana
lekukan akan dibuat harus relatif halus, bebas dari debu atau kerak.

Kristianto Kentunk De Lacortez Page 17


Proposal Tugas Akhir Uji Kekerasan
Dengan Menggunakan Metode Brinell

Angka kekerasan Brinell (HB) atau (BHN) dinyatakan sebagai beban P dibagi luas
permukaan lekukan. Rumus angka kekerasan tersebut adalah :

𝑃
HB = atau (2.2)
𝐴

2P
HBN 
BHN (2.3)
2 2
D(D  D  d )

Dimana

BHN = Angka kekerasan Brinell (kg/mm 2).

P = Beban (kg).

D = Diameter bola (mm).

d = Diameter rata-rata indentasi (mm).

Hardness Tester Brinell

Gambar 2.7 Gambar dan Skema Mesin Uji Brinell.

Kristianto Kentunk De Lacortez Page 18


Proposal Tugas Akhir Uji Kekerasan
Dengan Menggunakan Metode Brinell

Pada metode Brinell Indentor berbentuk bola ditekan kepermukaan benda uji dan
diameter hasil penekanan diukur setelah identor dipindahkan dari benda uji. Pengujian
kekerasan dengan metode Brinnel bertujuan untuk menentukan kekerasan
suatu material dalam bentuk daya tahan material terhadap bola baja (identor) yang
ditekankan. Pada permukaan material uji tersebut (speciment). Idealnya, pengujian
Brinnel diperuntukan bagi material yang memiliki kekerasan Brinnel sampai 400 HB,
jika lebih dati nilai tersebut maka disarankan menggunakan metode pengujian Rockwell
ataupun Vickers. Angka Kekerasan Brinnel (HB) didefinisikan sebagai hasil bagi
(Koefisien) dari beban uji (F) dalam Newton yang dikalikan dengan angka faktor 0,012
dan luas permukaan bekas luka tekan (injakan) bola baja (A) dalam milimeter persegi.

Gambar 2.8 Media Pengujian Brinnel.

Pengujian kekerasan Brinell merupakan pengujian standard secara industri t etapi


karena penekannya terbuat dari bola baja yang berukuran besar dan beban besar, maka
bahan lunak atau keras sekali tidak dapat diukur kekerasannya. dinyatakan sebagai
beban P dibagi luas permukaan tekukan.

𝑃 𝑃
BHN = 𝜋 = (2.4)
( 2 )𝐷²(1−𝑐𝑜𝑠𝜃) 𝜋𝐷𝑡

Kristianto Kentunk De Lacortez Page 19


Proposal Tugas Akhir Uji Kekerasan
Dengan Menggunakan Metode Brinell

Dimana:
P = beban yang diterapkan (kg).
D = diameter bola (mm).
d = diameter lekukan (mm).
t = kedalaman jejak (mm).

Satuan dari BHN adalah kilogram per milimeter kuadrat. Akan tetapi BHN tidak
memenuhi konsep fisika, karena persamaan (2.4), tidak melibatkan tekanan rata-rata
pada permukaan lekukan.

Gambar 2.9 Parameter-parameter dasar pada pengujian Brinell.

Untuk mendapatkan BHN yang sama dengan beban atau diameter bola yang tidak
standar, diperlukan keserupaan lekukan secara geometris. Keserupaan geometris akan
diperoleh, sejauh besar sudut 2∅ tidak berubah. Persamaan (2.5) menunjukan bahwa agar
∅ dan BHN tetap konstan, beban dan diameter bola harus divariasikan memenuhi
perbandingan

𝑃1 𝑃2 𝑃3
𝐷12 = 2 =
𝐷2 𝐷32
(2.5)

Jejak yang relatif besar dari pada kekerasan Brinell memberikan keuntungan dalam
membagikan secara pukul rata ketidak seragaman lokal. Jejak Brinell yang besar
ukuranya dapat menghalangi pemakaian uji tersebut, untuk benda uji yang kecil atau
pada bagian yang kritis terhadap tegangan, dimana lekukan yang terjadi dapat
menyebabkan kegagalan (failure).

Kristianto Kentunk De Lacortez Page 20


Proposal Tugas Akhir Uji Kekerasan
Dengan Menggunakan Metode Brinell

Identor atau bola kecil untuk pengujian Brinell ini dibuat dari baja biasa atau baja
yang disepuh atau dari karbit wolfram, dimana pemakainya tergantung kepada kekerasan
benda yang akan diselidiki. Diameter bola tersebut bervariasi yaitu 1,25 mm, 25 mm, 5
mm dan 10 mm dengan tujuan pemakaian tertentu. Waktu yang dipakai untuk menekan
identor ke material benda uji akan mempengaruhi hasil uji. Untuk material yang
mempunyai titik lebur Ts > 600 °C. Waktu yang dibutuhkan harus 10 detik dan untuk
material dengan Ts < 600 °C, waktu yang dibutuhkan minimum 30 detik.

Gambar 2.10 Bola Identor berdiameter 10.

Gambar 2.11 Dudukan Identor.

Kristianto Kentunk De Lacortez Page 21


Proposal Tugas Akhir Uji Kekerasan
Dengan Menggunakan Metode Brinell

Gambar 2.12 Identor uji kekerasan Brinell berdiameter 10 jenis baja.

Pernyataan hasil uji Brinell yang lengkap biasanya memuat nilai kekerasan, diameter
bola, besar gaya yang dipakai untuk menekan bola dan waktu yang dibutuhkan untuk
bola, misalnya 350 HB 5/250/30 berarti diameter bola yang dipakai 5 mm, gaya untuk
250
menekan bola adalah = 2450 N dan waktu yang dibutuhkan untuk menekan bola
0,102

adalah 30 detik.

2.7. Prosedur Pengujian Material


1. Indentor diukur dengan micrometer, jika indentornya dari diamond cukup
diamati saja.
2. Memasang indentornya pada pemegang indentor.
3. Menempatkan pemegang indentor pada mesin.
4. Menempatkan beban yang sesuai pada mesin.
5. Meletakkan beban yang sesuai pada mesin
6. Menaikan tabel mesin dengan memutar hand wheel sehingga Indentor
mengadakan penetrasi pada spesimen, jarum penunjuk kecil (pada skala kecil)
menunjukan angka 3. Pada saat ini beban mula-mula adalah10 kg kemudian
skala besar dibaca (Pembacaan pada beban awal).
7. Memutar handle sehingga terjadi penetrasi berarti pembebanan penuh.
8. Setelah handel tidak bergerak lagi, skala dibaca (pembacaan pada beban penuh).
9. Handle dikembalikan keposisi semula kemudian skala dibaca (pembacaan pada
relieving).
10. Untuk pengujian kekerasan Vickers dan brinell, diagonal indentasi dan diameter
indentasi diukur dengan loupe pengukur.

Kristianto Kentunk De Lacortez Page 22


Proposal Tugas Akhir Uji Kekerasan
Dengan Menggunakan Metode Brinell

2.8. Material Benda Uji


2.8.1. Baja Karbon

Baja karbon menurut kandungannya dapat digolongkan menjadi 3 macam, yakni :

1. Baja karbon rendah [Kadar Karbon antara 0,1% hingga 0,20%].

a) Pengerasan baja melalui pengerjaan dingin.


b) Digunakan untuk bodi mobil, dan konstruksi.
c) Contoh baja karbon rendah adalah baja paduan rendah berkuatan tinggi
(high strength low alloy steel).
d) Ketahanan korosi baja HSLA lebih baik dari baja karbon rendah.
e) Digunakan untuk jembatan, menara, kolom pendukung untuk bangunan
tinggi dan tabung bertekanan.

Seri AISI/SAE Kekuatan Keuletan (%) Kegunaan


atau ASTM luluh (Mpa)

1020 180 28 Panel mobil, paku & kawat

1020 205 25 Pipa, baja struktur & lembar

A36 220 23 Baja struktur (jembatan &


bangunan)

A516 grade 70 260 21 Tabung bertekanan rendah

A440 290 21 Struktur

A633 grade E 380 23 Struktur

A656 grade I 552 15 Rangka truk & jalan kereta api

Tabel 2.1 Sifat Mekanik Baja Karbon Rendah dan HSLA.

Kristianto Kentunk De Lacortez Page 23


Proposal Tugas Akhir Uji Kekerasan
Dengan Menggunakan Metode Brinell

2. Baja Karbon sedang [Kadar Karbon antara 0,25% hingga 0,55%].

a) Pengerasan baja melalui perlakuan panas.


b) Digunakan untuk :

- Roda kereta api.


- Track kereta api.
- Gear.
- Crankshaft.
- Komponen struktur yg mempunyai kekuatan tinggi, tahan pakai dan
tangguh.

3. Baja Karbon tinggi [Kadar Karbon antara 0,55% hingga 1,75%].

a) Keras, kuat dan keuletannya rendah.


b) Pengerasan baja melalui perlakuan panas.
c) Digunakan untuk :

- Pekakas.
- Dies.
- Pisau.
- Per.
- Kawat berkekuatan tinggi.

Kristianto Kentunk De Lacortez Page 24


Proposal Tugas Akhir Uji Kekerasan
Dengan Menggunakan Metode Brinell

Tabel 2.2 Klasifikasi Baja Karbon Menurut AISI/SAE.

Kristianto Kentunk De Lacortez Page 25


Proposal Tugas Akhir Uji Kekerasan
Dengan Menggunakan Metode Brinell

Pembagian baja karbon yang lain yaitu : baja hipoeutektoid [Kadar


Karbon Kurang dari 0,8%], baja eutektoid [Kadar Karbon 0,8%] dan baja
hipereutektoid [Kadar Karbon lebih dari 0,8%]. Fasa-fasa padat yang
adadidalam baja :

a. Ferit (alpha) : Merupakan sel satuan (susunan atom-atom yang paling


kecil dan teratur) berupa Body Centered Cubic (BCC = kubus pusat
badan), Ferit ini mempunyai sifat magnetis, agak ulet, agak kuat, dll.
b. Autenit : Merupakan sel satuan yang berupa Face Centered Cubic
(FCC =kubus pusat muka), Austenit ini mempunyai sifat Non magnetis,
ulet, dll.
c. Sementid (besi karbida) : Merupakan sel satuan yang berupa orthorombik,
Semented ini mempunyai sifat keras dan getas.
d. Perlit : Merupakan campuran fasa ferit dan sementid sehingga mempunyai
sifat kuat.
e. Delta : Merupakan sel satuan yang berupa Body Centered Cubic
(BCC = kubus pusat badan).

NO NAMA BANDA KEKERASAN


1 Grafit 0,5 – 1
2 Batu kapur 2
3 Kapur 3
4 Spat lumer 4
5 Apatit 5
6 Baja lunak 6
7 Spaat lapangan 6
8 Kwarsa 7
9 Batu 1/2 permata topas 8
10 Baja yang disepuh keras 8
11 Sejenis batu permata korund 9
12 Intan 10

Tabel 2.3 Standar kekerasan Brinell untuk material.

Kristianto Kentunk De Lacortez Page 26


Proposal Tugas Akhir Uji Kekerasan
Dengan Menggunakan Metode Brinell

Gambar 2.13 Diagram Kesetimbangan Besi – karbon.

2.8.2. Besi

Besi adalah logam yang berasal dari bijih besi (tambang) yang banyak
digunakan untuk kehidupan manusia sehari-hari dari yang bermanfaat sampai
dengan yang dapat merusakkan. Dalam tabel periodik, besi mempunyai
simbol Fe dan nomor atom 26. Besi juga mempunyai nilai ekonomis yang tinggi.

Besi adalah logam yang paling banyak dan paling beragam penggunaannya.
Hal itu karena beberapa hal, diantaranya:

- Kelimpahan besi di kulit bumi cukup besar,


- Pengolahannya relatif mudah dan murah, dan
- Besi mempunyai sifat-sifat yang menguntungkan dan mudah dimodifikasi.

Salah satu kelemahan besi adalah mudah mengalami korosi. Korosi


menimbulkan banyak kerugian karena mengurangi umur pakai berbagai barang
atau bangunan yang menggunakan besi atau baja.

Kristianto Kentunk De Lacortez Page 27


Proposal Tugas Akhir Uji Kekerasan
Dengan Menggunakan Metode Brinell

Korosi pada besi memerlukan oksigen dan air, Berbagai jenis material logam
contohnya Zink dan Magnesium dapat melindungi besi dari korosi. Cara-cara
pencegahan korosi besi yang akan dibahas berikut ini didasarkan pada dua sifat
tersebut.

1. Pengecatan. Jembatan, pagar, dan railing biasanya dicat. Cat menghindarkan


kontak dengan udara dan air. Cat yang mengandung timbel dan zink (seng)
akan lebih baik, karena keduanya melindungi besi terhadap korosi.
2. Pelumuran dengan Oli atau Gemuk. Cara ini diterapkan untuk berbagai
perkakas dan mesin. Oli dan gemuk mencegah kontak dengan air.
3. Pembalutan dengan Plastik. Berbagai macam barang, misalnya rak piring dan
keranjang sepeda dibalut dengan plastik. Plastik mencegah kontak dengan
udara dan air.
4. Tin Plating (pelapisan dengan timah). Kaleng-kaleng kemasan terbuat dari
besi yang dilapisi dengan timah. Pelapisan dilakukan secara elektrolisis, yang
disebut tin plating. Timah tergolong logam yang tahan karat. Akan tetapi,
lapisan timah hanya melindungi besi selama lapisan itu utuh (tanpa cacat).
Apabila lapisan timah ada yang rusak, misalnya tergores, maka timah justru
mendorong atau mempercepat korosi besi. Hal itu terjadi karena potensial
reduksi besi lebih negatif daripada timah. Dengan demikian, timah mendorong
korosi besi. Akan tetapi hal ini justru yang diharapkan, sehingga kaleng-kaleng
bekas cepat hancur.
5. Galvanisasi (pelapisan dengan Zink). Pipa besi, tiang telepon dan berbagai
barang lain dilapisi dengan zink. Berbeda dengan timah, zink dapat
melindungi besi dari korosi sekalipun lapisannya tidak utuh. Hal ini terjadi
karena suatu mekanisme yang disebut perlindungan katode. Oleh karena
potensial reduksi besi lebih positif daripada zink, maka besi yang kontak
dengan zink akan membentuk sel elektrokimia dengan besi sebagai katode.
Dengan demikian besi terlindungi dan zink yang mengalami oksidasi
(berkarat). Badan mobil-mobil baru pada umumnya telah digalvanisasi,
sehingga tahan karat.
6. Cromium Plating (pelapisan dengan kromium). Besi atau baja juga dapat
dilapisi dengan kromium untuk memberi lapisan pelindung yang mengkilap,
misalnya untuk bumper mobil.

Kristianto Kentunk De Lacortez Page 28


Proposal Tugas Akhir Uji Kekerasan
Dengan Menggunakan Metode Brinell

Magnesium adalah logam yang jauh lebih aktif (berarti lebih mudah berkarat)
dari pada besi. Jika logam magnesium dikontakkan dengan besi, maka magnesium
itu akan berkarat tetapi besi tidak. Cara ini digunakan untuk melindungi pipa baja
yang ditanam dalam tanah atau badan kapal laut. Secara periodik, batang
magnesium harus diganti.

Keterangan Umum Unsur


Nama, Lambang, Nomor atom besi, Fe, 26
Deret kimia logam transisi
Golongan, Periode, Blok 8, 4, d
Penampilan Metalik mengkilap keabu-abuan
Massa atom 55,845(2) g/mol
Konfigurasi elektron [Ar] 3d6 4s2
Jumlah elektron tiap kulit 2, 8, 14, 2
Ciri-ciri atom
Struktur kristal kubus pusat badan
Bilangan oksidasi 2, 3, 4, 6 (oksida amfoter)
Elektronegativitas 1,83 (skala Pauling)
Energi ionisasi 762,5 kJ/mol
Jari-jari atom 140 pm
Jari-jari atom (terhitung) 156 pm
Jari-jari kovalen 125 pm
Lain-lain
Sifat magnetik feromagnetik
Resistivitas listrik (20 °C) 96,1 nΩ·m
Konduktivitas termal (300 K) 80,4 W/(m·K)
Ekspansi termal (suhu kamar) 5120 m/s
Kecepatan suara 5120 m/s
Modulus Young 211 GPa
Modulus geser 82 GPa
Modulus ruah 170 GPa
Nisbah Poisson 0,29
Skala kekerasan Mohs 4,0
Kekerasan Vickers 608 MPa
Kekerasan Brinell 490 MPa

Tabel 2.4 Keterangan Unsur Besi dan Standar.

Kristianto Kentunk De Lacortez Page 29


Proposal Tugas Akhir Uji Kekerasan
Dengan Menggunakan Metode Brinell

2.8.3. Tembaga

Tembaga atau kuprum adalah suatu unsur kimia dalam tabel periodik yang
memiliki lambang Cu dan nomor atom 29. Lambangnya berasal dari bahasa Latin
yaitu Cuprum. Tembaga merupakan konduktor panas dan listrik yang baik. Selain
dari pada itu unsur ini memiliki korosi yang lambat sekali. Biasannya. tembaga
dicampurkan dengan timah untuk membuat perunggu.

Dalam proses perebusan kelapa sawit, lori pengangkut buah dimasukkan ke


dalam sebuah tabung yang suhunya mencapai 400° C. Setiap lori dilengkapai
dengan bantalan gelinding yang berfungsi sebagai roda sehingga mudah
dimasukkan dengan cara ditarik di atas rel. Akibat adanya pemanasan, bantalan
tersebut mudah pecah dan biasanya umur pakainya hanya sampai 2 minggu saja.
Penelitian ini dimaksudkan untuk mencari bahan dan jenis bantalan pengganti yang
memiliki umur pakai lebih panjang.

Eksperimen dimulai dengan melakukan survey langsung di pabrik kelapa sawit


dan uji komposisi bahan bantalan gelinding. Selanjutnya membuat prototipe
bantalan dengan proses cor berdasarkan komposisi hasil uji kimia, memasang
sebagai roda lori dan digunakan sebagaimana kondisi opersinya. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa penambahan Cu, Pb, dan Sn dapat meningkatkan sifat
mekanik bahan paduan, perlakuan panas dgn suhu 400°C dengan waktu tunggu 1
jam dan variasi media pendingin dapat meningkatkan kekerasan permukaan
material.

Paduan tembaga yang dihasilkan memiliki komposisi 76 % Cu, 11,8% Zn,


0.833 Ni, 0.466 Fe, 6.872 Sn dan 5.106 Pb dengan angka kekerasan Brinell 60.
Nilai angka keausan 0,000013 gr/min. Setelah dilakukan uji unjuk kerja bantalan
luncur yang menggunakan material dapat bertahan selama 4 bulan.

Tembaga ketika sedikit melepasi takat leburnya mengekalkan warna kilauan


merah jambu apabila cahaya yang mencukupi (dalam hal ini dari pada denyar atau
pancaran kamera) dipancarkan ke atas warna pijar jingganya.

Kristianto Kentunk De Lacortez Page 30


Proposal Tugas Akhir Uji Kekerasan
Dengan Menggunakan Metode Brinell

Keterangan Umum Unsur


Nama, Simbol, Nomor Atom tembaga, Cu, 29
Siri kimia logam peralihan
Kumpulan, Kala, Blok 11, 4,
Rupa logam merah jambu
Jisim atom 63.546(3) g/mol
Konfigurasi elektron [Ar] 3d10 4s1
Bilangan elektron per petala 2, 8, 18, 1
Sifat atom
Struktur hablur kubus berpusat muka
Keadaan pengoksidaan 2, 1(oksida bes lemah)
Keelektronegatifan 1.90 (skala Pauling)
Tenaga pengionan 745.5 kJ/mol
Jari-jari atom 145 pm
Jari-jari kovalen 138 pm
Jari-jari Van der Waals 140 pm
Lain-lain
Sifat kemagnetan diamagnet
Rintangan elektrik (20 °C) 16.78 nΩ·m
Kekonduksian terma (300 K) 401 W/(m·K)
Pengembangan terma (25 °C) 16.5 µm/(m·K)
Kelajuan bunyi 3810 m/s
Modulus Young 130 GPa
Modulus ricih 48 GPa
Modulus pukal 140 GPa
Nisbah Poisson 0.34
Skala kekerasan Mohs 3.0
Kekerasan Vickers 369 MPa
Kekerasan Brinell 874 MPa

Tabel 2.5 Keterangan Unsur Tembaga dan Standar.

2.8.4. Aluminium

Aluminium ialah unsur kimia. Lambang aluminium ialah Al, dan nomor
atomnya 13. Aluminium adalah logam paling berlimpah. Aluminium bukan
merupakan jenis logam berat, namun merupakan elemen yang berjumlah sekitar
8% dari permukaan bumi dan paling berlimpah ketiga. Aluminium terdapat dalam
penggunaan aditif makanan, antasida, buffered aspirin, astringents, semprotan-

Kristianto Kentunk De Lacortez Page 31


Proposal Tugas Akhir Uji Kekerasan
Dengan Menggunakan Metode Brinell

hidung, anti perspirant, air minum, knalpot mobil, asap tembakau, penggunaan
aluminium foil, peralatan masak, kaleng, keramik, dan kembang api.

Aluminium merupakan konduktor listrik yang baik. Terang dan kuat.


Merupakan konduktor yang baik juga buat panas. Dapat ditempa menjadi
lembaran, ditarik menjadi kawat dan diekstrusi menjadi batangan dengan
bermacam-macam penampang. Tahan korosi.

Aluminium digunakan dalam banyak hal. Kebanyakan darinya digunakan


dalam kabel bertegangan tinggi. Juga secara luas digunakan dalam bingkai jendela
dan badan pesawat terbang. Ditemukan di rumah sebagai panci, botol minuman
ringan, tutup botol susu. Aluminium juga digunakan untuk melapisi lampu mobil
dan compact disks.

Keterangan Umum Unsur


Nama, lambang, nomor atom aluminium, Al, 13
Deret kimia logam miskin
Golongan, periode,blok 13, 3, p
Penampilan keperakan
Berat atom standar 26,9815386(13) g·mol−1
Elektron per kelopak 2, 8, 3
Sifat atom
Struktur kristal kubus berpusat muka 0,4049 mm
Energi ionisasi (lebih lanjut) 1st: 577,5 kJ·mol−1
Jari-jari atom 125 pm
Jari-jari atom (perhitungan) 118 pm
Jari-jari kovalen 118 pm
Lain-lain
Pembenahan magnetik paramagnetik
Konduktivitas termal (300 K) 237 W·m−1·K−1
Kecepatan suara (thin rod) (suhu kamar) 5000 m·s−1
Modulus Young 70 GPa
Modulus geser 26 GPa
Modulus limbak 76 GPa
Rasio Poisson 0,35
Kekerasan Mohs 2,75
Kekerasan Viker 167 MPa
Kekerasan Brinell 245 MPa

Tabel 2.6 Keterangan Unsur Aluminium dan Standar.

Kristianto Kentunk De Lacortez Page 32


Proposal Tugas Akhir Uji Kekerasan
Dengan Menggunakan Metode Brinell

2.8.5. Seng

Seng adalah unsur kimia dengan lambang kimia Zn, nomor atom 30, dan
massa atom relatif 65,39. Ia merupakan unsur pertama golongan 12 pada tabel
periodik. Beberapa aspek kimiawi seng mirip dengan magnesium. Hal ini
dikarenakan ion kedua unsur ini berukuran hampir sama.

Selain itu, keduanya juga memiliki keadaan oksidasi +2. Seng merupakan
unsur paling melimpah ke-24 di kerak Bumi dan memiliki lima isotop stabil. Bijih
seng yang paling banyak ditambang adalah sfalerit (seng sulfida).

Kuningan, yang merupakan campuran aloi tembaga dan seng, telah lama
digunakan paling tidak sejak abad ke-10 SM. Logam seng tak murni mulai
diproduksi secara besar-besaran pada abad ke-13 di India, manakala logam ini
masih belum di kenal oleh bangsa Eropa sampai dengan akhir abad ke-16.
Para alkimiawan membakar seng untuk menghasilkan apa yang mereka sebut
sebagai "salju putih" ataupun "wol filsuf".

Kimiawan Jerman Andreas Sigismund Marggraf umumnya dianggap sebagai


penemu logam seng murni pada tahun 1746. Karya Luigi Galvani dan Alessandro
Volta berhasil menyingkap sifat-sifat elektrokimia seng pada tahun 1800.

Pelapisan seng pada baja untuk mencegah perkaratan merupakan aplikasi


utama seng. Aplikasi-aplikasi lainnya meliputi penggunaannya pada baterai dan
aloi.

Terdapat berbagai jenis senyawa seng yang dapat ditemukan, seperti seng
karbonat dan seng glukonat (suplemen makanan), seng klorida (pada deodoran),
seng pirition (pada sampo anti ketombe), seng sulfida (pada cat berpendar), dan
seng metil ataupun seng dietil di laboratorium organik.

Seng merupakan zat mineral esensial yang sangat penting bagi tubuh. Terdapat
sekitar dua milyar orang di negara-negara berkembang yang kekurangan asupan
seng. Defisiensi ini juga dapat menyebabkan banyak penyakit.

Pada anak-anak, defisiensi ini menyebabkan gangguan pertumbuhan,


mempengaruhi pematangan seksual, mudah terkena infeksi, diare, dan setiap
tahunnya menyebabkan kematian sekitar 800.000 anak-anak di seluruh
dunia. Konsumsi seng yang berlebihan dapat menyebabkan ataksia, lemah lesu,

Kristianto Kentunk De Lacortez Page 33


Proposal Tugas Akhir Uji Kekerasan
Dengan Menggunakan Metode Brinell

dan defisiensi tembaga. Dalam bahasa sehari-hari, seng juga dimaksudkan sebagai
pelat seng yang digunakan sebagai bahan bangunan.

Seng merupakan logam yang berwarna putih kebiruan, berkilau, dan bersifat
diamagnetik. Walau demikian, kebanyakan seng mutu komersial tidak berkilau.
Seng sedikit kurang padat daripada besi dan berstruktur kristal heksagonal.

Logam ini keras dan rapuh pada kebanyakan suhu, namun menjadi dapat
ditempa antara 100 sampai dengan 150 °C. Di atas 210 °C, logam ini kembali
menjadi rapuh dan dapat dihancurkan menjadi bubuk dengan memukul-
mukulnya. Seng juga mampu menghantarkan listrik.

Dibandingkan dengan logam-logam lainnya, seng memiliki titik lebur (420 °C)
dan tidik didih (900 °C) yang relatif rendah. Dan sebenarnya pun, titik lebur seng
merupakan yang terendah di antara semua logam-logam yang ada
selain raksa dankadmium.

Terdapat banyak sekali aloi yang mengandung seng. Salah satu contohnya
adalah kuningan (aloi seng dan tembaga). Logam-logam lainnya yang juga
diketahui dapat membentuk aloi dengan seng adalah aluminium, antimon, bismut,
emas, besi, timbal, raksa, perak, timah, magnesium, kobalt, nikel, telurium,
dan natrium.
Walaupun seng maupun zirkonium tidak bersifat feromagnetik, aloi ZrZn2
memperlihatkan feromagnetisme di bawah suhu 35 K.

Kristianto Kentunk De Lacortez Page 34


Proposal Tugas Akhir Uji Kekerasan
Dengan Menggunakan Metode Brinell

Keterangan Umum Unsur


Nama, Lambang, Nomor atom seng, Zn, 30
Deret kimia logam transisi
Golongan, Periode, Blok 12, 4, d
Penampilan abu-abu muda kebiruan
Massa atom 65,409(4) g/mol
Konfigurasi elektron [Ar] 3d10 4s2
Jumlah elektron tiap kulit 2, 8, 18, 2
Sifat atom
Struktur kristal heksagonal
Bilangan oksidasi 2 (Oksida amfoter)
Elektronegativitas 1,65 (skala Pauling)
Energi ionisasi 906,4 kJ/mol
Jari-jari atom 135 pm
Jari-jari kovalen 131 pm
Jari-jari Van der Waals 139 pm
Lain-lain
Sifat magnetik diamagnetik
Resistivitas listrik (20 °C) 59,0 nΩ·m
Konduktivitas termal (300 K) 116 W/(m·K)
Ekspansi termal (25 °C) 30,2 µm/(m·K)
Kecepatan suara (pada wujud kawat) 3850m/s
Modulus Young 108 GPa
Modulus geser 43 GPa
Modulus ruah 70 GPa
Nisbah Poisson 0,25
Skala kekerasan Mohs 2,5
Kekerasan Brinell 412 MPa

Tabel 2.7 Keterangan Unsur Seng dan Standar.

Kristianto Kentunk De Lacortez Page 35


Proposal Tugas Akhir Uji Kekerasan
Dengan Menggunakan Metode Brinell

2.9 Spesifikasi Perancangan Alat Brinell


6 5

7
8
1
10
187879

9 3
12 11
2
13
14
15 4
16

18

19

17
KETERANGAN :

1. CHASING 11. IDENTOR

2. HIDROLIK 12. ALAT DIGITAL

3. PIPA HIDROLIK 13. BENDA UJI

4. KLEP HIDROLIK 14. MEJA UJI

5. AS TUAS PENGUNGKIT 15. KARET ULIR

6. TUAS PENGUNGKIT 16. ULIR

7. PIRINGAN BEBAN UJI 17. PEMUTAR ULIR

8. BEBAN IDENTOR 18. PENYANGGA HIDROLIK

9. SENSOR 19. AS HIDROLIK

10. PEMEGANG IDENTOR

Kristianto Kentunk De Lacortez Page 36


Proposal Tugas Akhir Uji Kekerasan
Dengan Menggunakan Metode Brinell

2.9.1. Spesifikasi Pada Chasing Alat Brinell

110 mm 450 mm

135 mm

120°

650 mm
335 mm
110 mm
100°

160 mm

470 mm

Gambar 2.14 Chasing Alat Uji Brinell.

Berdasarkan kekuatan kontruksi, chasing merupakan sebuah pondasi bagi

komponen-komponen pada uji kekerasan Brinell. Pada pemilihan material

chasing, jenis bahan yang digunakan adalah baja karbon rendah dan berbentuk

plat. Berikut ini bentuk spesifikasi chasing alat Brinell adalah sebagai berikut:

- Tinggi keseluruhan 650 mm. - Panjang sisi bawah 470 mm.

- Tinggi sisi atas 135 mm. - Lebar sisi atas 110 mm.

- Jarak tinggi sisi tengah 340 mm. - Lebar sisi bawah 110 mm.

- Tinggi sisi bawah 160 mm. - Sudut pada sisi atas 120°.

- Panjang sisi atas 450 mm. - Sudut pada sisi bawah 100°.

Kristianto Kentunk De Lacortez Page 37


Proposal Tugas Akhir Uji Kekerasan
Dengan Menggunakan Metode Brinell

2.9.2. Spesifikasi Pada Meja Benda Uji, Ulir, dan Pemutar Ulir Alat Brinell

∅ 170 mm
20 mm

70 mm

∅ 30 mm

Gambar 2.15 Meja Benda Uji Alat Brinell.

Sebagai penopang atau landasan tekanan waktu pengujian meja benda uji

harus memiliki kekuatan yang cukup untuk menopang beban tekanan. pada

pemilihan material meja benda uji, jenis bahan yang digunakan adalah baja ST45

dan berbentuk plat. Betuk spesifikasi meja benda uji adalah sebagai berikut:

- Diameter lingkaran adalah 170 mm.

- Tebal meja benda uji 20 mm.

- Diameter pengikat meja benda uji adalah 30 mm.

- Panjang pengikat meja benda uji adalah 70 mm.

∅40 mm

350 mm

Gambar 2.16 Ulir Meja Benda Uji Alat Brinell.

Kristianto Kentunk De Lacortez Page 38


Proposal Tugas Akhir Uji Kekerasan
Dengan Menggunakan Metode Brinell

Sebagai penggerak meja uji, ulir sangat berperan sebagai penggerak.

Disamping samping harus tahan gesek ulir juga harus tahan terhadap korosi

sehinggga tidak menghambat terhadap gerak putaran. Ulir yang dipakai pada uji

kekerasan Brinell adalah ulir jenis kasar metris dan pada pemilihan bahan pada ulir

ini menggunakan sebuah baja ST45. Betuk spesifikasi pada meja benda uji adalah

sebagai berikut:

- Diameter ulir 40 mm.

- Panjang ulir 350 mm.

∅140 mm

40 mm

∅40 mm

Gambar 2.17 Pemutar Meja Benda Uji Alat Brinell.

Sebagai penggerak ulir dan di putar oleh operator penguji maka pada pemutar

meja benda uji dibuat desain semaksimal mungkin sehingga mudah untuk di

operasikan. Desain berbentuk lingkaran cukup mudah untuk di operasikan, maka

pada uji kekerasan brinell dibuatlah sebuah bentuk lingkaran. pada pemilihan

material pemutar meja benda uji, jenis bahan yang digunakan adalah baja ST45

dan bentuk spesifikasi pemutar meja benda uji adalah sebagai berikut:

- Diameter lingkaran adalah 140 mm

- Tebal pemutar meja benda uji 20 mm

- Diameter ulir dalam 40mm

Kristianto Kentunk De Lacortez Page 39


Proposal Tugas Akhir Uji Kekerasan
Dengan Menggunakan Metode Brinell

DAFTAR PUSTAKA

1. George E. Dieter, Sriati Djaprie, “ Mechanical Metallurgy ”, 3rd edition .,


(Jakarta : Erlangga, 1990).
2. B.J.M Beuner, B.S Anwir/Matondang, “ Pengetahuan Bahan “, 3rd edition .,
(Jakarta : Bhrata Karya Aksara, 1980).
3. D. Tabor, “ The Hardness of Metals “, 1st edition ., (New York : Oxford
University Press, 1951).
4. E.R Petty, Hardness Testing, “ In Techniques of Metals Research “, Vol 5, Pt. 2,
R.F. Bunshaw (ed) ., (New York : Wiley – Intercience, 1971).
5. Westbrook .J. H. And H, “ The Sience Of Hardness Testing and Its Research
Aplications “, Conrad (ed) ., (Ohio : American Society for Metals, Metals Park,
1973).
6. R.S Sutton and R.h Meyer, “ ASTM Standard, ASTM Bull “, SAE Handbook, ASM
Metals Handbook ., Oktober 1953.
7. H. Buckle, “ Metall “, 4st edition ., 1953.
8. http://www.google.co.id , Internet Searching.
9. http://www.wikipedia.co.id , Education Website.
10. http://www.sniformetal.co.id , Hardness Metals Indonesian Nations Standard 2010.

Kristianto Kentunk De Lacortez Page 40

Anda mungkin juga menyukai