Anda di halaman 1dari 10

ARTIKEL PENELITIAN

PENGARUH PENAMBAHAN AEROSIL TERHADAP SIFAT FISIK SUPPOSITORIA


EKSTRAK DAUN BAYAM DURI (Amaranthus Spinosus, Linn) DENGAN BASIS
BERLEMAK (Oleum Cacao)

Evi Mulyani

Dosen Program studi D III Farmasi, Fakultas Ilmu Kesehatan,


Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

e-mail: evi.muly4ni@gmail.com

ABSTRAK

Bayam duri (Amaranthus spinosus Linn) merupakan tanaman dengan kandungan


kuersetin yang digunakan masyarakat Indonesia sebagai obat wasir dengan cara direbus,
kemudian air rebusan digunakan untuk mencuci dan mengompres bagian anus. Penggunaan
dengan cara tersebut tidak efisien dan tidak efektif, sehingga harus diformulasikan dalam
sediaan yang cocok yaitu suppositoria dengan basis berlemak (Oleum cacao). Karena oleum
cacao mempunyai viskositas rendah dan sukar bercampur dengan ekstrak maka perlu
ditambahkan aerosil, dimana aerosil merupakan zat tambahan yang digunakan sebagai
pendispersi dan mampu meningkatkan viskositas. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui bagaimana pengaruh penambahan aerosil terhadap sifat fisik sediaan
suppositoria ekstrak daun bayam duri dengan basis berlemak (oleum cacao). Ekstrak daun
bayam duri dibuat menggunakan metode soxhletasi dengan pelarut etanol dan di lakukan
penguapan dengan rotary evaporator sehingga diperoleh ekstrak kental, kemudian di
identifikasi kandungan zat aktifnya (kuersetin) dengan metode KLT densitometri. Pembuatan
suppositoria ekstrak daun bayam duri menggunakan metode peleburan dengan penambahan
aerosil 1% (FI), 2% (FII), dan 3% (FIII). Suppositoria yang dihasilkan kemudian diuji sifat
fisiknya seperti keseragaman bobot, kekerasan, suhu leleh, dan waktu leleh. Data kemudian di
analisis secara teoritis dengan membandingkan hasil uji dengan persyaratan yang sudah
ditentukan dalam literatur dan secara statistik menggunakan one way ANOVA dan uji Tukey
dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukan bahwa semua formula
suppositoria ekstrak daun bayam duri memenuhi persyaratan sifat fisik kecuali FI (1%) yang
mempunyai nilai kekerasan < 1,8 kg (1,73 kg). Hasil analisis secara statistik menunjukan bahwa
penambahan aerosil berpengaruh terhadap kekerasan suppositoria kecuali FI (1%) dan FII
(2%), penambahan aerosil juga berpengauh pada suhu leleh FI (1%) dan FIII (2%), sedangkan
pada waktu leleh penambahan aerosil berpengaruh terhadap semua formula.

Kata kunci : Bayam duri (Amaranthus spinosus,Linn), Oleum cacao, Aerosil

PENDAHULUAN cara merebus daun bayam duri kemudian air


Bayam duri (Amaranthus Spinosus,Linn) rebusan tersebut dicucikan pada anus, hal
merupakan tanaman tradisional indonesia tersebut kurang efektif dalam penyiapan
yang mengandung kuersetin (Flavonoid) dan maupun penggunaan. Untuk mengatasi hal
mempunyai fungsi sebagai antiinflamasi pada tersebut maka ekstrak daun bayam duri
wasir/hemorroid. Penggunaan bayam duri dibuat dalam bentuk sediaan yang cocok
sebagai antihemorroid di masyarakat dengan yaitu suppositoria dengan basis berlemak

Jurnal Surya Medika Volume 1 No. 2 [2016] 41


Pengaruh Penambahan Aerosil Terhadap Sifat Fisik Suppositoria Ekstrak Daun Bayam Duri
(Amaranthus Spinosus, Linn) Dengan Basis Berlemak (Oleum Cacao)

(Oleum cacao). Faktor yang paling mampu menyerap air sampai 40% berat,
menentukan dalam pembuatan suppositoria tanpa kehilangan sifatnya sebagai serbuk
adalah pemilihan basis, oleum cacao yang mengalir bebas (Voigt, 1984). Aerosil
merupakan basis yang mempunyai beberapa adalah silikon dioksida murni secara agregat
sifat yang memenuhi syarat sebagai basis amorf nano ukuran partikel utama
suppositoria seperti, dapat meleleh dalam memberikan efek sifat alir yang baik pada
suhu tubuh dan stabil. Tapi disamping bahan yang berbentuk serbuk. Ini
kelebihan tersebut ternyata oleum cacao juga memberikan efek kekentalan dan thixotropy
mempunyai kekurangan yang dapat dengan dispersing pada bahan cair
mempengaruhi sifat fisik suppositoria, (Semenov et al., 2002). Fungsi aerosil dalam
beberapa penelitian menyebutkan bahwa formulasi dan teknologi farmasi adalah
oleum cacao sukar bercampur dengan sebagai penstabil emulsi, bahan thixotropic
ekstrak dan mempunyai viskositas yang dan suspending agent dalam sediaan semi
rendah sehingga dapat terjadi sedimentasi padat. Dalam sediaan tablet aerosil juga
partikel yang tersuspensi dalam proses digunakan sebagai bahan disintegrant,
pembuatan dan pencetakan (Raymond et al., sedangkan dalam formulasi suppositoria
2006). Untuk mengatasi hal tersebut, dapat aerosil digunakan untuk meningkatkan
dilakukan penambahan suatu bahan atau zat viscositas, mencegah sedimentasi pada saat
yang dapat meningkatkan viskositas dan pencetakan serta menurunkan kecepatan
berfungsi sebagai pendispersi yang baik pelepasan obat (Raymond et al., 2006).
sehingga dihasilkan suppositoria yang METODOLOGI
memenuhi standar dalam sifat fisik. Aerosil A. Alat
adalah suatu zat yang dapat meningkatkan Pada penelitian ini alat yang digunakan
viskositas dan sebagai pendispersi dalam adalah alat-alat gelas, alat cetak supositoria,
sediaan suppositoria (Raymond et al.,2006) alat uji waktu leleh (Erweka jenis SSP), alat
dengan konsentrasi 2% - 5% (Voigt, 1984). uji titik lebur (pipa “U” dengan diameter 0.8
Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk cm), alat uji kekerasan, lemari pendingin
melihat pengaruh penambahan aerosil (Toshiba), stop watch, penangas air
dengan konsentrasi yang berbeda - beda (Memert), timbangan analitik (Mettler Toledo
(variasi) terhadap sifat fisik ekstrak daun Dragon 04), fase diam cellulosa, seperangkat
bayam duri yang dihasilkan. alat sokhlet, rotary evaporator (Heidolph tipe
Aerosil merupakan serbuk yang Heizbad WB), Viscometer (Brookfield
sangat longgar, bercahaya kebiruan, rontgen viscometer DV – 1 Prime), bejana, heating
amorf berwarna putih, terdispersi tinggi, mantle (Gopal), magnetic stirrer (Heidolph

Jurnal Surya Medika Volume 1 No. 2 [2016] Page 42


Evi Mulyani

laborota 4000), moisture balance (Mettler Tabel I. Formula Suppositoria Ekstrak Daun
Bayam Duri dengan variasi
Toledo seri HB 43 Halogen), TLC scanner
penambahan Aerosil
(Camag TLC scanner 3).
Bahan Formula Formula Formula
B. Bahan I II III
Pada penelitian ini bahan-bahan yang Ekstrak 0,35 g 0,35 g 0,35 g
O.Cacao 2.63 g 2,61 g 2,58 g
digunakan adalah daun bayam duri Aerosil 0,03 g 0,05 g 0,08 g
(diperoleh dari desa Purwosari, Sindudadi, Keterangan :
Formula I : Penambahan Aerosil 1 %
Mlati, Sleman Yogyakarta), aquadest (kualitas Formula II : Penambahan Aerosil 2 %
Formula III : Penambahan Aerosil 3%
farmasetis), oleum cacao (kualitas
farmasetis), Aerosil (kualitas farmasetis), HASIL DAN PEMBAHASAN
paraffin cair (kualitas farmasetis), etanol, A. Determinasi Tanaman
kloroform : methanol : asam asetat 10% (90 : Identifikasi ini dilakukan dengan mengamati
10 : 0,1) (kualitas farmasetis). dan mencocokan ciri – ciri morfologi dari
C. Prosedur Kerja tanaman menggunakan buku Flora of Java
Determinasi tanaman bayam duri (Amaranthus (Backer and Van Den Brink, 1968), sebagai
spinosus, Linn)
Sortasi,pencucian, acuan dalam menentukan kunci determinasi.
Pengeringan simplisia, Hasil determinasi yaitu :
blender.
Serbuk daun bayam duri 4b-2b-3b-4b-5a-6b-7b-8b-9b-10b-11b-12b-

Ekstraksi dengan soxhletasi dengan etanol 70%


13b-14a-15a (golongan 8)-109b-119b-120b-
128b-129b-135b-136b-139b-140b-142b-
Ampas Fraksi etanol 143b-146a-147a-148b-149a
Rotary evaporator
Ekstrak kental
(Amaranthaceae) 1b-4a Amaranthus
Uji Kekentalan spinosus L.
ekstrak,organolptis,
kadar air,Identifikasi
kandungan zat aktif(
KLT)
dibuat suppositoria dengan metode peleburan

Formula 1 Formula II Formula III

Suppositoria
Gambar I. Amaranthus spinosus,Linn
Evaluasi Sifat Fisik Suppositoria (Anonim, 2005).
Uji keseragaman
bobot,kekerasan,
B. Pemeriksaan Kualitas Ekstrak Daun
suhu leleh, waktu
leleh. Bayam Duri
Analisis hasil

Jurnal Surya Medika Volume 1 No. 2 [2016] 43


Pengaruh Penambahan Aerosil Terhadap Sifat Fisik Suppositoria Ekstrak Daun Bayam Duri
(Amaranthus Spinosus, Linn) Dengan Basis Berlemak (Oleum Cacao)

Ekstrak daun bayam duri yang merupakan zat kuersetin dan ekstrak daun bayam duri
aktif dalam pembuatan suppositoria kemudian mempunyai harga retardation factor (Rf) yang
dilakukan uji untuk memastikan kualitas hampir sama yaitu harga Rf standar
ekstrak yang digunakan bagus. Beberapa uji kuersetin 0,29 dan harga Rf ekstrak daun
yang dilakukan meliputi uji organoleptis yang bayam duri 0,30. Dilihat dari harga Rf
bertujuan untuk mengetahui bentuk, warna, menunjukkan bahwa ekstrak daun bayam duri
bau dari ekstrak daun bayam duri yang telah positif memiliki kandungan kuersetin. Selain
dihasilkan , kekentalan, dan kadar air. Berikut uji kandungan, ekstrak daun bayam duri juga
hasil uji ekstrak daun bayam duri: di lakukan uji kuantitatif yang bertujuan untuk
Tabel II. Hasil uji ekstrak daun bayam duri mengetahui seberapa besar kandungan
No Jenis Pemeriksaan Hasil kuersetin sebagai zat aktif yang terdapat
1 Organoleptis
a. Warna Hijau tua dalam ekstrak tersebut. Hasil uji kuantitatif
b. Bau Khas tersebut menunjukan bahwa kadar kuersetin
c. Rasa Pahit
d. Bentuk Cairan Kental dalam ekstrak etanol daun bayam duri adalah
2 Kadar air 16,8% 0,17 %.
3 Kekentalan 2962,6 cp
D. Sifat Fisik Suppositoria
C. Uji Kandungan Kuersetin dengan KLT
Densitometri
E.

Formula I Formula II

Formula III
Gambar III. Suppositoria ekstrak daun bayam
duri

Secara organoleptis suppositoria yang


dihasilkan berbeda dalam warna dan
Gambar II. Grafik Harga Rf standar kuersetin homogenitas. Dari ketiga formula diatas,
(a) dan sampel ekstrak bayam duri (b).
Dari hasil evaluasi densitometri TLC formula III menunjukan hasil suppositoria
chromatogram dapat dilihat bahwa standar yang baik jika dilihat secara visual (warna
hijau tua merata yang menunjukan

Jurnal Surya Medika Volume 1 No. 2 [2016] Page 44


Evi Mulyani

homogenitas suppositoria) hal ini dapat


disebabkan karena suppositoria formula III Tabel III. Hasil uji sifat fisik suppositoria
ekstrak daun bayam duri dengan variasi
mempunyai konsentrasi aerosil yang lebih
penambahan konsentrasi aerosol
besar (3%). Aerosil yang berfungsi sebagai Sifat Fisik Formula Formula Formula
pendispersi mempunyai sifat lipofil (-Si) dan I II III
Bobot (g) 3,01±0,0 3,01±0,0 3,00±0,0
hidrofil (-Ho), sehingga jika konsentrasi 2 2 0
aerosil tinggi maka kemampuan untuk Kekerasa 1,73±0,1 1,8 ± 2,00 ±
n (kg) 0 0,12 0,00
mengikat molekul air (ekstrak) dan molekul Titik leleh 32,5±0,5 33,33±0, 34,66±1,
yang mengandung lemak (Oleum cacao) (°C) 5 52 36
Waktu 3,37±0,0 5,25±0,2 5,99±0,3
makin besar dan menyebabkan penurunan leleh 9 4 7
tegangan antarmuka keduanya, sehingga (menit)
ekstrak dan oleun cacao dapat bercampur
a. Keseragaman Bobot
sempurna.
Hasil uji bobot rata – rata suppositoria
Selain itu perubahan warna pada
ekstrak daun bayam duri formula I 3,01 gram
suppositoria juga dapat disebabkan karena
CV 0,66%, formula II 3,01 gram CV 0,66%,
adanya reaksi yang terjadi dari penambahan
dan formula III adalah 3,00 gram dengan CV
aerosil itu sendiri karena dari sifat kimianya
0%. Dari data tersebut menunjukan bahwa
aerosil mampu berinteraksi ataupun berikatan
bobot suppositoria yang dihasilkan memenuhi
antar molekulnya sendiri dan aerosil
syarat keseragaman bobot menurut
mempunyai (-Si) yang sangat aktif mengikat
farmakope dimana tidak ada dua
senyawa lain. Hal ini dapat dinilai dari
suppositoria yang masing-masing bobotnya
ketercampuran ekstrak dengan basis pada
menyimpang lebih dari 5% dan tidak satupun
saat dicampurkan dan homogenitas setelah
suppositoria yang bobotnya menyimpang
pencetakan. Dilihat dari sifat aerosil tersebut
lebih dari 10% dari bobot rata - rata
maka selain mempengaruhi homogenitas
suppositoria (Anonim, 1995).
pada saat mencampurkan ekstrak dan oleum
Hasil perbandingan uji keseragaman
cacao juga dapat mempengaruhi sifat fisik
bobot suppositoria ekstrak daun bayam duri
suppositoria yang lainya, sehingga setelah
dengan variasi penambahan aerosil dapat
dicetak masing-masing suppositoria harus
dilihat dalam grafik berikut :
melewati beberapa uji fisik seperti
keseragaman bobot, kekerasan, suhu leleh
dan waktu leleh.

Jurnal Surya Medika Volume 1 No. 2 [2016] 45


Pengaruh Penambahan Aerosil Terhadap Sifat Fisik Suppositoria Ekstrak Daun Bayam Duri
(Amaranthus Spinosus, Linn) Dengan Basis Berlemak (Oleum Cacao)

3.1 (suka minyak) dan hidrofil (suka air). Gugus


3.05 lipofil akan mengikat oleum cacao sebagai
Bobot Suppositoria
3
2.95 basis dengan ikatan van der walls dan bagian
2.9
2.85 hidrofilnya akan mengikat air dari ekstrak
2.8
Formula I
daun bayam duri dengan ikatan hidrogen, jika
Formula II
Formula III
semakin banyak konsentrasi aerosil yang
Variasi konsentrasi Aerosil
Gambar IV. Hubungan keseragaman bobot ditambahkan maka ikatan-ikatan antar
dengan variasi penambahan konsentrasi partikel tersebut semakin banyak dan makin
aerosil pada suppositoria.
kompak sehingga viskositas juga meningkat
Hasil analisis statistik dengan metode dan membuat formula menjadi lebih keras,
one way ANOVA dengan taraf kepercayaan sehingga membutuhkan beban yang besar
95% menunjukan nilai probabilitas > 0,05 juga untuk mematahkan suppositoria. Jika
yaitu 0,314. Hal ini menunjukan bahwa Ho kekerasan suppositoria terlalu rendah atau
diterima dan berarti bahwa tidak ada dibawah 1,8 kg maka dikhawatirkan dapat
perbedaan yang bermakna antara rata-rata menyebabkan kerusakan atau menghasilkan
bobot suppositoria pada masing – masing stabilitas sifat fisik yang kurang baik.
formula, sehingga tidak perlu dilakukan uji Hubungan penambahan konsentrasi
Tukey. Dapat disimpulkan bahwa variasi aerosil terhadap kekerasan suppositoria
konsentrasi aerosil dari ketiga formula seperti disajikan dalam gambar berikut :
mempunyai pengaruh yang sama terhadap
bobot suppositoria. 2

b. Kekerasan suppositoria 1.9


Kekerasan (Kg)

Dari uji kekerasan suppositoria ekstrak 1.8


daun bayam duri pada formula I 1.7
menghasilkan nilai rata-rata kekerasan 1,73
1.6
kg, formula II 1,8 kg, dan formula III 2,0 kg.
1.5
Suppositoria yang dihasilkan memenuhi Formula I Formula II Formula III
persyaratan kekerasan yaitu 1,8 – 2,0 kg Variasi penambahan konsentrasi Aerosil

(Lieberman et al., 1996). Dari ketiga formula Keterangan :


Formula I : Penambahan Aerosil 1%
menunjukan bahwa makin besar konsentrasi Formula II : Penambahan Aerosil 2%
Formula III : Penambahan Aerosil 3%
aerosil yang ditambahkan maka makin keras
Gambar V. Hubungan kekerasan dengan
suppositoria yang dihasilkan, hal ini
variasi penambahan konsentrasi aerosil
dikarenakan aerosil yang berfungsi sebagai pada suppositoria.
pendispersi mempunyai dua sifat yaitu lipofil

Jurnal Surya Medika Volume 1 No. 2 [2016] Page 46


Evi Mulyani

Dari hasil uji statistik menggunakan mempunyai sifat lipofil dan hidrofil yang akan
metode one way ANOVA dengan taraf mengikat partikel – partikel yang ada pada
kepercayaan 95% diperoleh nilai probabilitas oleum cacao dan ekstrak. Makin banyak
<0,05 yaitu 0,01. Dilihat dari nilai probabilitas konsentrasi aerosil yang ditambahkan maka
maka Ho ditolak sehingga dilanjutkan dengan makin banyak mengikat partikel, jika ikatan-
uji Tukey dengan taraf kepercayaan 95% ikatan tersebut bertambah banyak dan
untuk mengetahui adanya perbedaan yang menjadi kuat maka butuh energi (panas) yang
bermakna antar formula terhadap kekerasan lebih tinggi untuk melepaskan ikatan-ikatan
suppositoria. Berikut disajikan tabel hasil uji tesebut atau melelehkanya. Dari data hasil uji
Tukey yang menunjukan adanya perbedaan tersebut menunjukan bahwa suppositoria
bermakna antar formula : ekstrak daun bayam duri masuk dalam
Tabel IV. Signifikan antar formula terhadap persyaratan suhu leleh, dimana suhu leleh
kekerasan suppositoria
yang dipersyaratkan yaitu tidak lebih dari
Formula I II III
I - + 37°C (Lieberman et al., 1996). Makin tinggi
II - + konsentrasi aerosil yang ditambahkan maka
III + +
Keterangan : makin tinggi suhu yang dibutuhkan untuk
(+) : Berbeda bermakna suppositoria meleleh dan makin rendah
(- ) : Berbeda tidak bermakna
konsentrasi aerosil maka suhu yang
Dari hasil uji Tukey menunjukan bahwa
dibutuhkan untuk melelehkan suppositoria
formula II berbeda tidak bermakna dengan
makin rendah. Hubungan penambahan
formula I dan formula II, sedangkan formula I
konsentrasi aerosil terhadap suhu leleh
dan III menunjukan adanya perbedaan yang
suppositoria seperti disajikan dalam gambar
bermakna. Hal ini menunjukan bahwa makin
berikut :
besar konsentrasi aerosil yang ditambahkan
Suhu Leleh (ºC)

maka suhu yang dibutuhkan suppositoria 36


untuk meleleh juga semakin tinggi. 34
32
c. Suhu Leleh Series 1
30
Dari uji ini dihasilkan suhu yang Formula Formula Formula
VariasiI penambahan
II IIIkonsentrasi…
dibutuhkan untuk suppositoria meleleh pada
masing – masing suppositoria yaitu formula I
32,5°C, formula II 33,33°C, dan formula III Keterangan :
Formula I : Penambahan Aerosil 1%
34,66°C. Hal ini menunjukan bahwa aerosil Formula II : Penambahan Aerosil 2%
Formula III : Penambahan Aerosil 3%
dapat mempengaruhi suhu leleh suppositoria,
karena aerosil sebagai pendispersi
Jurnal Surya Medika Volume 1 No. 2 [2016] 47
Pengaruh Penambahan Aerosil Terhadap Sifat Fisik Suppositoria Ekstrak Daun Bayam Duri
(Amaranthus Spinosus, Linn) Dengan Basis Berlemak (Oleum Cacao)

Gambar VI. Hubungan suhu leleh dengan syarat waktu leleh yang ditentukan yaitu
variasi penambahan konsentrasi aerosil pada
kurang dari 30 menit (Lieberman et all.,
suppositoria.
1996). Dari hasil uji ini menunjukan bahwa F I
Hasil uji statistik menggunakan metode
merupakan suppositoria yang memiliki nilai –
one way ANOVA diperoleh probabilitas < 0,05
nilai sifat fisik yang paling rendah sedangkan
yaitu 0,03 sehingga Ho ditolak dan dilanjutkan
F III mempunyai waktu leleh yang paling lama
dengan uji Tukey untuk mengetahui adanya
(5,99 menit), tingkat kekerasan (2,00kg) dan
perbedaan suhu leleh yang bermakna antar
suhu lebur (34,6ºC). Hal ini dapat disebabkan
formula. Berikut disajikan tabel hasil uji Tukey
karena dari sifat aerosil sebagai zat
yang menunjukan adanya perbedaan
pendispersi yang dapat mengikat bagian
bermakna antar formula :
hidrofil dan lipofil dari campuran ekstrak
dengan oleum cacao, konsentrasi yang lebih
Tabel V. Signifikan antar formula terhadap
suhu leleh Suppositoria besar akan membentuk ikatan antar partikel
Formula I II III yang lebih banyak dan kompak, sehingga
I - +
II - - butuh beban (kg) dan tenaga (°C) yang cukup
III + - besar, serta waktu (menit) yang cukup lama
Keterangan :
(+) : Berbeda bermakna untuk melepaskan ikatan – ikatan tersebut.
(-) : Berbeda tidak bermakna
Dari hasil uji yang dilakukan dalam penelitian
ini menunjukan bahwa makin banyak
Dari hasil uji Tukey menunjukan bahwa
konsentrasi aerosil yang ditambahkan maka
formula II berbeda tidak bermakna dengan
makin meningkat pula nilai-nilai sifat fisik dari
formula I dan formula II, sedangkan formula I
suppositoria ekstrak daun bayam duri
dan III menunjukan adanya perbedaan yang
tersebut. Hubungan penambahan konsentrasi
bermakna. Hal ini menunjukan bahwa makin
aerosil terhadap kekerasan suppositoria
besar konsentrasi aerosil yang ditambahkan
seperti disajikan dalam gambar berikut :
maka suhu yang dibutuhkan suppositoria
untuk meleleh juga semakin tinggi.
waktu Leleh (Menit)

6
d. Waktu Leleh
4
Uji yang dilakukan pada suppositoria 2
ekstrak daun bayam duri menghasilkan waktu 0
Formula Formula Formula
leleh pada F I 3,37 menit, F II 5,25 menit, dan I II III
F III 5,99 menit. Hal ini menunjukan bahwa Variasi penambahan konsentrasi
Aerosil
waktu yang dibutuhkan suppositoria ekstrak
daun bayam duri untuk meleleh masuk dalam Keterangan :
Formula I : Penambahan Aerosil 1%

Jurnal Surya Medika Volume 1 No. 2 [2016] Page 48


Evi Mulyani

Formula II : Penambahan Aerosil 2% mempunyai nilai kekerasan < 1,8 kg (1,73


Formula III : Penambahan Aerosil 3%
Gambar VII. Hubungan waktu leleh dengan kg).
variasi penambahan konsentrasi aerosil pada 2. Penambahan variasi konsentrasi aerosil
suppositoria
Uji statistik menggunakan one way berpengaruh terhadap kekerasan

ANOVA diperoleh nilai probabilitas < 0,05 suppositoria kecuali FI dan FII,

yaitu 0,043. Dari nilai probabilitas tersebut penambahan variasi konsentrasi aerosil

maka perlu dilakukan uji Tukey dengan taraf juga berpengauh pada suhu leleh FI dan

kepercayaan 95% untuk melihat adanya FIII, sedangkan pada waktu leleh

perbedaan waktu leleh yang signifikan penambahan aerosil berpengaruh

terhadap tiap formula. Berikut disajikan tabel terhadap semua formula.

hasil uji Tukey yang menunjukan adanya


perbedaan bermakna antar formula : DAFTAR PUSTAKA
1. Anonim, 1995, Farmakope Indonesia,edisi
Tabel VI. Signifikan antar formula terhadap IV, Departemen Kesehatan Republik
waktu leleh suppositoria Indonesia, Jakarta, 404.
Formula I II III
I + + 2. Becker, C. A., & Van den Brink, R. C. B.,
II + + 1968, Flora of Java (Spermatophytes only)
III + + vol II, Groningan-The Netherlands,
Keterangan : Wolters-Noordhoff. N. V
(+) : Berbeda bermakna
(--) : Berbeda tidak bermakna 3. Lieberman, H.A., Rieger, M.M., and
Banker, G.S., 1996, Pharmaceutical
Di lihat dari hasil tersebut dapat Dosage Form, Disspers System, in three
volume, Vol.2, Marcel Dekker.Inc, New
disimpulkan bahwa perbedaan konsentrasi
York, 473.
aerosil yang ditambahkan untuk tiap formula
memberikan pengaruh yang berbeda secara 4. Pristianty, L., Ekarina, H., dan Rosita, N.,
2004, Uji Karakteristik Fisis dan Pelepasan
bermakna terhadap waktu leleh suppositoria, Diklofenak Dietilamonium dari Berbagai
makin besar konsentrasi penambahan aerosil Basis Suppositoria, Majalah Farmasi
Airlangga, Vol. 4, No. 1, 6-12 (diakses 01
maka makin lama waktu yang dibutuhkan Desember 2008).
suppositoria untuk meleleh.
5. Raymond, C.R., Paul, J.S., and Siân, C.O.,
KESIMPULAN 2006, Pharmaceutical Excipients,
1. Semua formula suppositoria ekstrak daun Pharmaceutical Press and the American
Pharmacists Association, America, 127.
bayam duri dengan penambahan Aerosil
1% (FI), 2% (FII), 3% (FIII) memenuhi 6. Semenov, A.D., Golikova, E.V., Grigor'ev,
V.S., Kulagin K.M., 2002, Structurization
persyaratan sifat fisik (kekerasan, suhu of Aerosil OX50 Dispersions, Russian
leleh, dan waktu leleh) kecuali FI yang Journal of General Chemistry, Volume 72,

Jurnal Surya Medika Volume 1 No. 2 [2016] 49


Pengaruh Penambahan Aerosil Terhadap Sifat Fisik Suppositoria Ekstrak Daun Bayam Duri
(Amaranthus Spinosus, Linn) Dengan Basis Berlemak (Oleum Cacao)

Number 1, pp. 17-25(9) (diakses 01


Desember 2008).

7. Sudjadi, 2007, Kimia Farmasi


Analisis.Pustaka pelajar, Yogyakarta, 98 –
111.

8. Voigt, R., 1984, Buku Pelajaran Teknologi


Farmasi, Edisi V, diterjemahkan oleh
Soendani N.S., Mathilda, B.W., Gadjah
Mada University Press, Yogyakarta, 282-
306.

Jurnal Surya Medika Volume 1 No. 2 [2016] Page 50