Anda di halaman 1dari 3

MASALAH IMUNISASI DAN PENANGGULANGANNYA

Beberapa orang tua merasa khawatir untuk melakukan imunisasi terhadap anak mereka, karena
mereka takut anak akan mengalami efek samping yang serius atau bahkan terkena penyakit itu sendiri.
Sebenarnya hal tersebut tidak perlu ditakutkan, karena meskipun komponen dari vaksin tersebut adalah
organisme penyebab penyakit, tetapi mereka sudah dilemahkan atau dimatikan. Bahkan pada beberapa
jenis vaksin, yang digunakan adalah bagian tubuh dari organisme tersebut, sehingga tidak mungkin untuk
menyebabkan penyakit. Beberapa vaksin tertentu memang dapat menimbulkan efek samping seperti rasa
sakit di tempat penyuntikan ataupun demam, akan tetapi reaksi lain yang lebih serius jarang terjadi. Bisa
dianggap reaksi efek samping akibat pemberian vaksin lebih kecil dibandingkan dengan resiko kesehatan
akibat penyakit tersebut dimasa yang akan datang , apabila tidak diberikan vaksinasi. Bahkan bisa
dibilang imunisasi adalah investasi awal untuk kesehatan anak di masa depan.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua sebelum membawa anak mereka untuk
diimunisasi, antara lain :

1) Kapan harus menunda atau menghindari pemberian imunisasi pada anak


Jika anak menderita sakit/demam & rewel, meskipun bila hanya batuk/pilek biasa tanpa
demam & rewel, anak masih bisa tetap di imunisasi.
Jika anak mempunyai reaksi alergi pada pemberian imunisasi sebelumnya. Beritahu
dokter jika anak memiliki alergi terhadap bahan latex, karena terdapat salah satu jenis
imunisasi yang memiliki aplikator dari latex.
Jika anak memiliki masalah/penyakit pada sistem pencernaannya, konsultasikan dahulu
ke dokter.
Jika anak baru-baru ini menerima transfusi darah atau gamma globulin.
Jika anak mempunyai masalah sistem kekebalan tubuhnya akibat penyakit tertentu seperti
kanker, sedang mengkonsumsi steroid atau obat penekan sistem kekebalan tubuh lainnya
atau sedang menjalani proses terapi radiasi atau kemoterapi.
2) Merawat anak setelah imunisasi
Apabila mengalami demam, anak dapat diberikan paracetamol atau ibuprofen, tergantung dari
usia anak, untuk dosis tepatnya dapat konsultasi ke dokter. Jika anak mengalami muntah atau
diare, berikan cairan sesering mungkin & awasi tanda atau gejala terjadinya dehidrasi seperti
misalnya buang air kecil yang tidak sesering biasanya. Jika ada reaksi lain yang tidak terduga
sehabis imunisasi, sebaiknya konsultasi kembali ke dokter yang menangani.

3) Pencatatan Imunisasi
Bila melakukan imunisasi di RS, biasanya orang tua akan mendapatkan buku untuk mencatat
imunisasi apa saja yang telah dilakukan & yang belum dilakukan serta waktu harus melakukan
imunisasi tersebut. Pencatatan imunisasi ini penting untuk dilakukan, sehingga tidak terjadi
tumpang tindih antara imunisasi yang belum & telah dilakukan. Apabila saat melakukan
imunisasi tidak diberikan buku, dapat juga membuat buku sendiri yang mencatat waktu imunisasi,
umur anak saat imunisasi,jenis imunisasi yang dilakukan & tempat melakukan imunisasi dengan
paraf dokter yang melakukan imunisasi.
Dalam tren dunia kesehaan modern bukan lagi soal pengobatan, tapi pencegahan. Kalau ditunggu
anak sakit dulu, biayanya jadi tinggi sekali. Belum nanti antibiotikanya enggak mempan, harus pakai
antibiotik yang makin canggih, sehingga tentunya makin mahal. Permasalahan itu ditambah harus dirawat
di rumah sakit, bahkan sampai orangtuanya tidak bisa kerja. Kalau semua itu dihitung-hitung, jauh lebih
mahal dari biaya vaksin.

Banyak orangtua yang menyesali kelalaiannya ketika anak sakit. Beberapa waktu yang lalu, misalnya,
orangtua panik karena banyak anak di Indonesia terkena Polio. Sampai-sampai pemerintah perlu
mencanangkan “Indonesia Bebas Polio”. Peristiwa itu seakan “membangunkan” kita akan pentingnya
imunisasi, terutama bagi balita.

Imunisasi sangat diperlukan untuk memberikan perlindungan, pencegahan, sekaligus membangun


kekebalan tubuh terhdap berbagai penyakit menular maupun penyakit berbahaya yang dapat
menimbulkan kecacatan tubuh bahkan kematian.

 Efektifitas Imunisasi
Apakah setelah di imunisasi 100% bebas dari penyakit ? Ternyata tidak, karena daya
perlindungan imunisasi hanya mencapai 96%, jadi tidak mencekal penyakit sampai 100 %,
sehingga jangan terburu-buru menyalahkan imunisasinya bila anak sakit, padahal sudah
diimunisasi. Apalagi setelah diimunisasi, kekebalan sebenarnya sudah ada dan daya tahan tubuh
jadi lebih tinggi, sehingga sakit yang dideritanya tak bakal separah seperti bila tidak diimunisasi.
Sangat kecil kemungkinan imunisasi akan mengalami kegagalan. Apalagi, kegagalan imunisasi
pada dasarnya dapat dicegah bila semua prosedur dijalankan dengan baik. Imunisasi telah terbukti
sangat aman dengan melakukannya sesuai prosedur, seperti pemberian imunisasi sesuai jadwal,
vaksinnya disimpan di tempat yang baik, dan tidak kadaluwarsa
 Amankah Imunisasi ?
Masih sering dijumpai orang tua yang menunda bahkan menolak imunisasi. Umumnya
lantaran masih ragu terhadap keamanan imunisasi. Hal ini bisa dimengerti karena informasi yang
tersebar mengenai dugaan efek samping imunisasi. Salah satu yang paling santer adalah berita
anak sakit atau bahkan meninggal setelah mendapatkan vaksin polio. Belum lagi kecurigaan
imunisasi menyebabkan autisma.
Memang, imunisasi menyebabkan KIPI atau Keadian Ikutan Pasca imunisasi, yakni
semua kejadian sakit dan kematian yang terjadi dalam kurun waktu 1 bulan setelah imunisasi.
Pada keadaan tertentu, lama pengamatan dapat mencapai 42 hari atau bahkan 6 bulan. Namun
sebagian besar KIPI hanya ringan dan akan mereda sendiri. Bahwa reaksi lain yang berat dan tak
terduga juga ada, akan tetapi amat jarang terjadi.
Yang pasti, vaksin secara umum sudah terbukti aman. Tingkat perlindungan yang
diberikan jauh lebih besar ketimbang efek samping yangmungkin timbul. Efek samping imunisasi
juga lebih ringan ketimbang efekbila anak tak diimunisasi. Begitupun tuduhan sebagai penyebab
autisma, juga tak terbukti. Jadi,tak ada alasan untuk menolak pemberian vaksin selama si kecil
dalam kondisi sehat, pertumbuhannya baik, dan tidak memiliki riwayat alergi imunisasi.
 Imunisasi yang diwajibkan
Sesuai dengan program organisasi kesehatan dunia WHO (Badan Kesehatan Dunia),
pemerintah mewajibkan lima jenis imunisasi bagi anak-anak, yang disebut Program
Pengembangan Imunisasi (PPI). Sedangkan tujuh jenis lainnya dianjurkan untuk menambah daya
tahan tubuh terhadap beberapa jenis penyakit. Wajib itu artinya semua anak yang tinggal di
Indonesia wajib diberikan lima jenis imunisasi untuk mencegah tujuh jenis penyakit
Meski penting, namun pemerintah tak mewajibkan semua jenis imunisasi. Hanya ada 5
jenis imunisasi yang wajib diberikan kepada anak yaitu imunisasi BCG (Bacillus Calmette-
Guerin), hepatitis B, DTP (Difteri Tetanus Pertusis), Polio, dan campak. Sedangkan imunisasi
yang lain sifatnya hanya dianjurkan. Bukan benyakit yang hendak dicekalnya tergolong tak
berbahaya, melainkan karena harganya yang relatif mahal dan tak terjangkau oleh banyak
keluarga di Indonesia.
 Kelebihan Imunisasi
Dalam beberapa kasus seperti buku kesehatan hilang, ganti dokter atau hal yang lain
seorang anak mendapatkan imunisasi yang berlebihan. Yang seharusnya sekali tetapi diberikan 2
kali. Berbahayakah hal ini ? Jangan khawatir anak kelebihan imunisasi, tidak ada istilah overdosis
dalam imunisasi sebagaimana kalau kelebihan obat. Sejauh ini belum pernah dilaporkan akibat
yang ditimbulkan karena imunisasi yang berlebihan. Justru daya tahan anak akan terpacu lagi dan
meningkat. Jadi kalau ayah ibu lupa apakah bayinya sudah diimunisasi atau belum, boleh
diimunisasi saja lagi. Karebna ak ada bahayanya, malah jadi lebih safe.
 Kondisi Saat Imunisasi
Anak yang akan mendapat imunisasi harus dalam kondisi sehat. Karena, imunisasi
diberikan dengan memasukkan virus yang dilemahkan atau bagian dari bakteri ke dalam tubuh.
Untuk membentuk kekebalan yang tinggi, anak harus dalam kondisi fit. Anak yang sedang sakit,
misalnya diare atau demam berdarah, badannya sedang memerangi penyakit. Jika dimasukkan
kuman atau virus lain dalam imunisasi, maka tubuhnya akan bekerja sangat berat, sehingga
kekebalan yang terbentuk tidak tinggi. Dalam kondisi penyakit ringan seperti diare, batuk-pilek
biasa, bukan merupakan indikasi kontra atau diperbolehkan untuk imunisasi. Tapi batuk-pilek
atau penyakit dengan demam tinggi, sebaiknya jangan diberikan imunisasi.
Harus diwaspadai pada anak yang memiliki kekebalan tubuh yang rendah. Misalnya anak
tewrinfeksi TBC, AIDS, atau penyakit berat lain seperti kanker. Berbahaya juga jika anak tengah
meminum obat-obat khusus yang menurunkan daya tahan. Jika ada anak yang mengalami
kondisi-kondisi seperti itu, harus menunggu hingga ia sembuh, minimal hingga kondisinya
sedang bagus. Jika sedang minum obat, ditunggu hingga obatnya selesai.
 Imunisasi Halal
Banyak sekali perdebatan mengenai hukum dari imunisasi terutama mengenai imunisasi
polio. Telah kita ketahui bersama bahwa dalam imunisasi polio menggunakan vaksin yang dalam
proses pembuatannya menggunakan enzim yang mengandung porcine (babi). Memang semua hal
yang mengandung sesuatu yang najis itu adalah haram. Sebelumnya yang menjadi bahan rujukan
dari sumber resmi yang berwenang dalam hal pemberian imunisasi yaitu Departemen kesehatan
dan Majelis Ulama Indonesia. Ada dua hal penting yang digunakan sebagai landasan atau dasar
pemberian imunisasi polio:
Vaksinasi polio ini sangat penting agar anak-anak kita tidak tertular virus polio. Virus ini
cukup berbahaya. Jika anak terkena sulit untuk diobati. Anak bangsa, khususnya Balita, perlu
diupayakan agar terhindar dari penyakit Polio, antara lain melalui pemberian vaksin imunisasi.
Vaksin khusus tersebut (IPV) dalam proses pembuatannya menggunakan enzim yang
berasal dari porcine (babi), namun dalam hasil akhir tidak terdeteksi unsur babi, dan belum
ditemukan IPV jenis lain yang dapat menggantikan vaksin tersebut. Sehingga Departemen
Kesehatan perlu mendapatkan fatwa dari MUI untuk menentukan apakah imunisasi polio tersebut
halal atau haram. Dan sudah sangat jelas MUI telah mengeluarkan fatwa bahwa imunisasi polio
tersebut adalah halal. Itu adalah fatwa menurut MUI, sehingga apabila beberapa orang ada yang
berpandangan lain tentu sah-sah saja, namun sebaiknya tidak memprovokasi. Kebebasan memilih
tentu merupakan hak setiap orang tua apakah anaknya akan diimunisasi atau tidak.