Anda di halaman 1dari 28

ABSTRAK

Telah dilakukan percobaan yang berjudul “ Pengaruh Konsentrasi dan Suhu Terhadap
Laju Reaksi “. Bertujuan untuk mempelajari pengaruh perubahan konsentrasi dan suhu
terhadap laju reaksi. Metode yang digunakan pada percobaan ini yaitu pengenceran,
pengendapan, dan pemanasan. Prinsip yang digunakan pada percobaan ini adalah banyak
tumbukan akibat jumlah partikel atau molekul dan peningkatan energi aktivasi akibat
peningkatan suhu. Hasil pada percobaan pengaruh perubahan konsentrasi pada laju reaksi
yaitu pada konsentrasi 05M ; 0,1M ; 0,15M ; 0,2M ; 0,25M dibutuhkan waktu berturut-turut
72s; 30s; 22s; 16s; 12s membuktikan bahwa konsentrasi mempengaruhi laju reaksi. Semakin
besar konsentrasi maka semakin cepat laju reaksinya dan pada percobaan pengaruh suhu pada
laju reaksi yaitu pada suhu 50ºC, 60 ºC, dan 70ºC dibutuhkan waktu berturut-turut 23s; 14s;
10s membuktikan bahwa suhu mempengaruhi laju reaksi. Semakin besar suhu maka semakin
cepat laju reaksinya.

Kata Kunci : Pengenceran, Laju Reaksi, Konsentrasi, Suhu.


PERCOBAAN IV

PENGARUH KONSENTRASI DAN SUHU TERHADAP LAJU REAKSI

I. TUJUAN PERCOBAAN
I.1 Mempelajari pengaruh perubahan konsentrasi pada laju reaksi
II.1Mempelajari pengaruh konsentrasi pada laju reaksi

II. TUJUAN PUSTAKA


II.1. Laju Reaksi
Laju reaksi adalah laju pengurangan konsentrasi molar pereaksi akan laju
pertambahan konsentrasi molar hasil reaksi dalam satuan waktu. Laju reaksi
menyatakan molaritas zat terlarut dalam reaksi yang dihasilkan setiap detik. Reaksi
kimia berlangsung dengan laju yang berbeda-beda (Purba, 2007)
Hubungan kuantitatif antara konsentrasi pereaksi dengan laju reaksi
dinyatakan dalam suatu persamaan, yaitu persamaan laju reaksi. Contoh reaksi:
mA + nB → cC + dD
Persamaan laju reaksinya adalah:
V = K [A]x [B]y
Dimana: V = kecepatan laju reaksi
K = tetapan laju reaksi
[A] = konsentrasi A
[B] = konsentrasi B
x = orde reaksi terhadap pereaksi A
y = orde reaksi terhadap pereaksi B
(Purba, 2007)
II.2. Orde Reaksi
Orde reaksi menyatakan besarnya pengaruh konsentrasi pereaksi pada laju
reaksi:
II.2.1. Orde Nol
Reaksi dinyatakan orde nol terhadap salah satu pereaksinya apabila
perubahan konsentrasinya pereaksi tersebut tidak mempengaruhi laju reaksi.
Persamaan laju reaksi yang berorde nol, yaitu V = K [A]o
Gambar 1. Grafik Orde Nol
(Petrucci, 1992)
II.2.2. Orde Satu
Suatu reaksi dikatakan berorde satu terhadap salah satu pereaksinya
jika laju reaksi berbanding lurus dengan konsentrasi pereaksi tersebut dilipat
tigakan maka laju reaksi tersebut akan menjadi 3’ atau 3 kalinya. Persamaan laju
reaksinya yaitu, V = K [A]1

Gambar 2. Grafik Orde Satu


(Petrucci, 1992)
II.2.3. Orde Dua
Suatu reaksi dikatakan berorde dua terhadap salah satu pereaksinya
jika laju reaksinya merupakan pangkat dua dari konsentrasi pereaksi itu. Apabila
konsentrasi zat tersebut dilipat tigakan, maka laju reaksi akan menjadi 32 atau 9
kali lebih besar.

Gambar 3. Grafik Orde Dua


(Petrucci, 1992)
II.3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Laju Reaksi
Laju reaksi terlihat dari perubahan dari konsentrasi molekul reaktan atau
konsentrasi molekul produk per satuan waktu. Laju reaksi tidak tetap, melainkan
berubah terus-menerus seiring dengan perubahan konsentrasi. Faktor-faktor yang
mempengaruhi laju reaksi adalah:
II.3.1. Luas Permukaan
Luas permukaan zat yang digunakan untuk bereaksi mempengaruhi
kecepatan laju reaksi. Suatu zat yang berbentuk serbuk lebih cepat bereaksi
daripada zat yang berbentuk kepingan. Hal ini karena zat yang berbentuk
serbuk mempunyai bidang sentuh yang lebih luas sehingga tumbukan akan
lebih sering terjadi. Luas permukaan total zat akan semakin bertambah bila
ukurannya diperkecil. Semakin halus zat makan laju reaksinya akan semakin
cepat karena luas permukaan yang bereaksi semakin besar (Oxtoby, 2001)
II.3.2. Konsentrasi
Suatu zat yang bereaksi mempunyai konsentrasi yang berbeda-beda.
Konsentrasi menyatakan pengaruh kepekatan atau zat yang berperan dalam
proses reaksi. Semakin besar nilai konsentrasi, maka laju reaksi akan
semakin cepat. Hal ini dikarenakan zat yang konsentrasinya mengandung
banyak jumlah partikel, sehingga partikel-partikel yang disusun lebih rapat,
sehingga akan sering bertumbukan, dan reaksi cepat terjadi (Utami, 2009)
II.3.3. Temperatur
Setiap partikel selalu bergerak dengan naiknya temperatur, energi
gerak atau energi kinetik partikel bertambah, sehingga tumbukan akan lebih
sering terjadi. Dengan frekuensi tumbukan yang semakin besar, maka
kemungkinan terjadinya tumbukan efektif yang menghasilkan reaksi juga
semakin besar.
Suhu atau temperatur juga mempengaruhi energi potensial suatu zat.
Zat-zat yang energi potensialnya kecil, jika bertumbukan akan sukar
menghasilkan tumbukan efektif, hal ini dikarenakan zat-zat tersebut tidak
mampu melampaui energi aktivasi. Dengan menaikkan suhu, maka hal ini
akan memperbesar energi potensial, sehingga ketika bertumbukan akan
menghasilkan energi (Utami, 2009)
II.3.4. Katalis
Katalis adalah suatu zat yang berfungsi mempercepat terjadinya reaksi,
namun di akhir reaksi katalis dapat didapatkan kembali. Fungsi katalis
adalah menurunkan energi aktivasi, sehingga jika dalam suatu reaksi
ditambahkan katalis, maka reaksi akan lebih mudah terjadi. Hal ini
disebabkan karena zat-zat yang bereaksi akan lebih mudah melampaui
energi aktivasi (Utami, 2009)
Kehadiran katalis dalam suatu reaksi dapat memberikan mekanisme
alternatif untuk menghasilkan hasil reaksi dengan energi yang lebih rendah
diabndingkan dengan reaksi yang tanpa katalis. Energi pengaktifan yang
lebih rendah menunjukkan bahwa jumlah bagian dari molekul-molekul
yang memiliki energi kinetik yang cukup untuk bereaksi jumlahnya lebih
banyak, jadi, kehadiran katalis adalah membantu meningkatkan terjadinya
tumbukan yang efektif, yang berarti juga memperbesar laju reaksi
(Supardi, 2008).
II.4. Hasil Kali Kelarutan
Keseimbangan kelarutan yaitu kesetimbangan antara seperti elektrolit yang
sedikit larut dengan larutan jenuhnnya. Bila dalam suatu larutan jenuh MA
mengandung elektrolit biner (menghasilkan 2 ion) yang sedikit larut, terdapat
padatan MA maka keseimbangan dapat dituliskan sebagai berikut
MA(s) ⇌ M+(aq) + A-(aq) (Bird, 1987)
Untuk hal-hal yang keseimbangan larutan elektrolitnya sedikit larut biasanya
digunakan Ksp. Untuk elektrolit yang mudah larut seperti NaCl, asumsi bahwa
K=Ksp tidak berlaku, selain itu aktivitas ion-ion elektrolit akan berkurang bila
dilarutkan dalam larutan yang mengandung ion senama. Akan tetapi, jika ion-ion
tidak senama atau efek garam, meningkatkan kelarutan (Bird, 1987).
Nilai hasil kali kelarutan juga dapat digunakan untuk menduga pengendapan
jika hasil kali ion lebih besar daripada Ksp maka akan mengendap (bird, 1987).
II.5. Metode Perhitungan Laju Reaksi
II.5.1. Metode Integral
Dengan metode ini, harga K dihitung dengan persamaan laju menuju
integral dari data konsentrasi dan waktu. Untuk reaksi :
1. Orde 1

2. Orde 2

Harga a adalah konstan tetapi (a-x) bergantung pada waktu. Jika K


yang diperoleh dari berbagai waktu adalah konstan, maka orde reaksinya
adalah satu (Keenan,1984).

II.5.2. Metode Grafik


Dari aljabar diketahui bahwa fungsi garis lurus adalah y = ax+b, jika
diterapkan pada persamaan untuk orde reaksi satu adalah

Dengan demikian jika log[A] dialurkan terhadap t dan diperoleh garis


lurus maka orde reaksi adalah satu (Petrucci, 1992).
II.5.3. Metode Laju Awal
Dalam metode ini, dilakukan sederetan eksperimen dengan konsentrasi
yang berbeda-beda. Kemudian, dengan membandingkan laju awal, maka
dapat ditarik kesimpulan tentang laju reaksi. Salah satunya adalah cara
waktu fraksi. Metode ini hanya digunakan untuk reaksi-reaksi yang
berkaitan dengan zat-zat yang bereaksi yang mempunyai konsentrasi sama
dan biasanya digunakan waktu paruh. Hukum laju dapat ditentukan dari
mekanisme yang mempunyai tahap penentu laju reaksi. Jika salah satu reaksi
erlementer dalam suatu mekanisme berlangsung sangat lambat dibandingkan
dengan yang lainnya. Reaksi erlementer yag lambat ini adalah tahap penentu
laju reaksi (Petrucci, 1992).
II.6. Teori Tumbukan
Menjelaskan reaksi berdasarkan tumbukan molekul yaitu frekuensi tumbukan
pada probabilitas yang memungkinkan tumbukan terjadi menjadi reaksi kimia.
Menurut teori tumbukan sederhana, laju reaksi didasarkan pada :
1. Jumlah persatuan volum persatuan waktu.
2. Molekul-molekul yang diambil bagian dalam tumbukan harus mempunyai
energi yang cukup (energi pengaktivasi). Sebelum molekul-molekul
tersebut berubah menjadi produk (Petrucci, 1992)
II.7. Energi Aktivasi
Energi aktivasi adalah energi yang harus dimiliki molekul untuk dapat
bereaksi. Semakin tinggi energi aktivasi, maka semakin kecil fraksi kereaktifannya,
sehingga reaksi berlangsung semakin lambat (Petrucci, 1992).
II.8. Persamaan Arrhenius
Persamaan Arrhenius mendefinisikan secara kuantitatif hubungan antara
energi dengan onstanta laju reaksi sesuai dengan persamaan yang diusulkan oleh
Arrhenius pada tahun 1889 :

Dimana K adalah konstanta laju rearsi, A adalah factor frekuensi dan Ea adalah
energi aktivasi. Persamaan tersebut dalam bentuk logaritma dapat ditulis:

Persamaan tersebut analog dengan persamaan garis lurus, yang sering


disimbolkan dengan y=mx+c, maka hubungan antara energi aktivasi suhu dan laju

relatif dapat dianalisis dalam bentuk grafik lnK vs dengan gradient –( ) dan

intersep lnA (Tim Dosen Kimia Fisik, 2011).


II.9. Pengendapan
Pengendapan adalah proses membentuk endapan yaitu padatan yang
dinyatakan tidak larut dalam air walaupun endapan tersebut sebenarnya mempunyai
kelarutan sekecilapapun. Prosedur analisis menentukan jumlah pereaksi yang
digunakan atau ditambahkan ke dalam sampel/analat agar terbentuk endapan.
Dalam kasus dimana jumlah pengendap tidak disebutkan, biasanya dapat dilakukan
estimasi kasar dengan cara perhitungan sederhana yang melibatkan konsentrasi
pereaksi dan perkiraan berat zat/konstituen yang ada. Biasanya disarankan
pemakaian pengendap berlebih karena kelarutan endapan-endapan berkurang atau
menurun, yang disebabkan oleh efek ion yang sama. Kelebihan pengendap yang
banyak tidak diinginkan, bukan saja karena pemborosan pereaksi tetapi juga karena
endapan dapat cenderung melarut kembali dalam kelebihan pereaksi yang banyak,
membentuk ion rangkai (kompleks) (Svehla, 1995).
II.10.Analisa Bahan
II.10.1.Na2S2O3
 Sifat Fisik
Berbentuk padat berupa serbuk kristal atau granula tidak berwarna atau
putih, tidak berbau, BM=158,1g/mol, higroskopis, Td =100ºC, Tl = 40ºC
 Sifat Kimia
Larut dalam air panas dan sebagian larut dalam air dingin, tidak larut
dalam alcohol, terurai perlahan dalam larutan berair (Mulyono, 2005)
II.10.2.HCl
 Sifat Fisik
Larutan tak berwarna, BM = 36,5g/mol, Td = 85ºC, Tl = -14ºC
 Sifat Kimia
Termasuk asam kuat, dilarutkan dengan mereaksikan NaCl dengan
H2SO4 pekat, larut dalam pelarut air (Mulyono, 2005).
II.10.3.Akuades
 Sifat Fisik
Berbentuk cair pada suhu kamar, Tb = 0ºC, Tl = 100ºC, tidak berasa,
tidak berwarna, tidak berbau
 Sifat Kimia
Merupakan persenyawaan hidrogen dan oksigen. Pelarut universal.
(Basri, 1996)
III.
III. METODELOGI PERCOBAAN
III.1. Alat dan Bahan
III.1.1 Alat
a. Gelas Ukur
b. Stopwatch
c. Erlenmeyer
d. Termometer
e. Bunsen, kaki tiga, dan kasa
f. Pipet Volume
III.1.2 Bahan
a. Na2S2O3 0,25M
b. HCl 1M
c. Akuades
III.2. Skema Kerja
III.2.1. Pengaruh Perubahan Konsentrasi

50mL Na2S2O3 0,25M


Labu Ukur
Pengenceran dengan 0mL akuades
Penggojogan lalu dimasukkan dalam erlenmeyer
Pembuatan tanda “x” pada kertas putih
Penempatan erlenmeyer tepat diatas tanda “x”
Penambahan 2mL HCl 1M dan nyalakan stopwatch
Pengadukan/penggojogan larutan dan pengamatan dari atas
Pencatatan waktu yang diperlukan dan suhu setelah tanda “x” tidak
dapat terlihat lagi
Hasil
40mL Na2S2O3 0,25M
Labu Ukur
Pengenceran dengan 10mL akuades
Penggojogan lalu dimasukkan dalam erlenmeyer
Pembuatan tanda “x” pada kertas putih
Penempatan erlenmeyer tepat diatas tanda “x”
Penambahan 2mL HCl 1M dan nyalakan stopwatch
Pengadukan/penggojogan larutan dan pengamatan dari atas
Pencatatan waktu yang diperlukan dan suhu setelah tanda “x” tidak
dapat terlihat lagi
Hasil

30mL Na2S2O3 0,25M


Labu Ukur
Pengenceran dengan 20mL akuades
Penggojogan lalu dimasukkan dalam erlenmeyer
Pembuatan tanda “x” pada kertas putih
Penempatan erlenmeyer tepat diatas tanda “x”
Penambahan 2mL HCl 1M dan nyalakan stopwatch
Pengadukan/penggojogan larutan dan pengamatan dari atas
Pencatatan waktu yang diperlukan dan suhu setelah tanda “x” tidak
dapat terlihat lagi
Hasil
20mL Na2S2O3 0,25M
Labu Ukur
Pengenceran dengan 30mL akuades
Penggojogan lalu dimasukkan dalam erlenmeyer
Pembuatan tanda “x” pada kertas putih
Penempatan erlenmeyer tepat diatas tanda “x”
Penambahan 2mL HCl 1M dan nyalakan stopwatch
Pengadukan/penggojogan larutan dan pengamatan dari atas
Pencatatan waktu yang diperlukan dan suhu setelah tanda “x” tidak
dapat terlihat lagi
Hasil

10mL Na2S2O3 0,25M


Labu Ukur
Pengenceran dengan 40mL akuades
Penggojogan lalu dimasukkan dalam erlenmeyer
Pembuatan tanda “x” pada kertas putih
Penempatan erlenmeyer tepat diatas tanda “x”
Penambahan 2mL HCl 1M dan nyalakan stopwatch
Pengadukan/penggojogan larutan dan pengamatan dari atas
Pencatatan waktu yang diperlukan dan suhu setelah tanda “x” tidak
dapat terlihat lagi
Hasil
III.2.2. Pengaruh Perubahan Suhu

15mL Na2S2O3 0,25M


Erlenmeyer
Pemanasan selama 5 menit pada suhu 50ºC pada penangas air
Pengukuran suhu dan penempatan erlenmeyer tepat diatas tanda “x”
Penambahan 2mL HCl 1M dan nyalakan stopwatch
Pengadukan/penggojogan larutan sampai tanda “x” tidak terlihat
Penghentian stopwatch, pencatatan waktu, dan pengamatan hasil
warna larutan
Hasil

15mL Na2S2O3 0,25M


Erlenmeyer
Pemanasan selama 5 menit pada suhu 60ºC pada penangas air
Pengukuran suhu dan penempatan erlenmeyer tepat diatas tanda “x”
Penambahan 2mL HCl 1M dan nyalakan stopwatch
Pengadukan/penggojogan larutan sampai tanda “x” tidak terlihat
Penghentian stopwatch, pencatatan waktu, dan pengamatan hasil
warna larutan
Hasil

15mL Na2S2O3 0,25M


Erlenmeyer
Pemanasan selama 5 menit pada suhu 70ºC pada penangas air
Pengukuran suhu dan penempatan erlenmeyer tepat diatas tanda “x”
Penambahan 2mL HCl 1M dan nyalakan stopwatch
Pengadukan/penggojogan larutan sampai tanda “x” tidak terlihat
Penghentian stopwatch, pencatatan waktu, dan pengamatan hasil
warna larutan
Hasil

IV. DATA PENGAMATAN


1. Pengaruh Konsentrasi Terhadap Laju Reaksi

Konsetrasi Na-
No. Waktu ( s ) Keterangan
tiosulfat ( M )
1. 0.25 12 Natrium Tiosulfat tak
berwarna ketika
ditambahkan HCl mulai
2. 0.20 16
terjadi perubahan warna
menjadi putih keruh.
3. 0.15 22 Semakin besar konsetrasi
semakin sedikit waktu yang
diperlukan untuk larutan
4. 0.10 30
berubah warna (cepat).

5. 0.05 72

2. Pengaruh Suhu Terhadap Laju Reaksi

Konsentrasi Suhu Suhu Keterangan


No. Na-tiosulfat Awal Akhir Waktu ( s )
(M) ( °C ) ( °C )
Natrium Tiosulfat
1. 0.25 70 60 10 tak berwarna ketika
ditambahkan HCl
setelah pemanasan

2. 0.25 60 51 14 mulai terjadi


perubahan warna
menjadi putih
kekuningan.
Semakin tinggi suhu
semakin sedikit
waktu yang
diperlukan untuk
3. 0.25 50 42 23
larutan berubah
warna (cepat). Dan
penurunan suhu
akhir setelah
perubahan warna.
V. HIPOTESA

Akan dilakukan percobaan yang berjudul “ Pengaruh Konsentrasi dan Suhu Terhadap
Laju Reaksi “. Bertujuan untuk mempelajari pengaruh perubahan konsentrasi dan suhu
terhadap laju reaksi. Prinsip yang digunakan pada percobaan ini adalah banyak tumbukan
akibat jumlah partikel atau molekul dan peningkatan energi aktivasi akibat peningkatan
suhu. Metode yang digunakan pada percobaan ini yaitu pengenceran, pengendapan, dan
pemanasan. Hasil yang akan didapatkan diperkirakan bahwa laju reaksi akan semakin
besar seiring dengan naiknya konsentrasi larutan dan suhu.
VI. PEMBAHASAN

Telah dilakukan percobaan berjudul “Pengaruh Konsentrasi dan Suhu terhadap


Laju Reaksi” yang bertujuan untuk mempelajari pengaruh perubahan konsentrasi
pada laju reaksi dan untuk mempelajari pengaruh suhu pada laju reaksi. Metode yang
digunakan pada pecobaan ini adalah pengenceran, pengendapan, dan pemanasan.
Prinsip percobaan ini adalah banyaknya tumbukan akibat jumlah partikel atau
molekul dan peningkatan energi aktivasi akibat peningkatan suhu.

VI.1. Pengaruh Perubahan Konsentrasi pada Laju Reaksi


Pada percobaan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perubahan
konsentrasi terhadap laju reaksi. Metode pada percobaan ini adalah
pengenceran dan pengendapan. Prinsip percobaan ini adalah teori tumbukan
yang menjelaskan reaksi berdasarkan tumbukan molekul, yaitu frekuensi
tumbukan pada probabilitas yang memungkinkan tumbukan terjadi menjadi
reaksi kimia (Petrucci, 1992). Dalam percobaan ini, digunakan larutan
Na2S2O3 0,25M 10mL ; 20mL ; 30ml ; 40mL ; 50mL yang diencerkan dengan
aquadest dalam volume akhir 50mL sehingga didapatkan berbagai konsentrasi
yaitu 0,05M ; 0,1M ; 0,15M ; 0,2M ; 0,25M. Tujuan pengenceran adalah untuk
memperoleh konsentrasi yang bervariasi sebagai pembanding untuk
mengetahui kecepatan reaksi yang berlangsung akibat dari konsentrasi yang
berbeda tersebut. Digunakan variasi konsentrasi agar dapat mengetahui
pengaruh perubahan konsentrasi. Pada proses pengenceran terjadi peristiwa
pelarutan, dimana rasio partikel terlarut didalam larutan berkurang akibat
penambahan pelarut sehingga tumbukan antar partikel menjadi jarang. Larutan
Na2S2O3 diltuangkan kedalam Erlenmeyer setelah di encerkan dan dibawahnya
terdapat kertas putih dengan tanda “X”. fungsi dari tanda “x’ dibawah
Erlenmeyer adalah untuk mengetahui seberapa cepat larutan tersebut akan
mengendap apabila di rekasikan dengan HCl. Untuk mengetahui kecepatan
terbentuknya endapan belerang dan memperoleh endapan belerang akibat
reaksi pengendapan ditambahkan 2 mL HCl 1M pada setiap larutan Na2S2O3
dengan berbagai konsentrasi. Pada saat yang sama dengan ditambahkannya
HCl, stopwatch dinyalakan dan kemudian dilakukan
pengadukan/penggojogan. Pengadukan/penggojogajn bertujuan agar kedua
larutan tersebut bercampur secara homogen, yang akan meningkatkan
frekuensi tumbukan antar partikel sehingga reaksi cepat berlangsung
membentuk endapan (Chang, 2005). Reaksi yang terjadi ketika HCl
ditambahkan kedalam larutan natrium tiosulfat adalah:
Na2S2O3(aq) + 2HCl(aq) → 2NaCl(aq) + H2O(l) + SO2(g) + S(s)↓
(Svehla, 1985)
Berdasarkan konsep mol, M=n/v, maka dapat dilihat bahwa mol zat
sebanding dengan konsentrasi. 1 mol mengandung 6,02 x 1023 partikel,
sehingga jika mol suatu zat besar maka otomatis jumlah partikelnya akan
semakin banyak sehingga akan menyebabkan larutan menjadi jenuh dan lama
kelamaan mengendap.
Pengendapan terjadi berkaitan dengan hasil kali ion (Qsp). Jika Ksp
dilampui maka terjadi pengendapan (Qsp>Ksp) dan jika Ksp belum diketahui
maka belum terjadi pengendapan Qsp<Ksp, jika Qsp=Ksp maka larutan tepat
jenuh (Chang,2005).
Setelah larutan mengendap dan tanda silang tidak terlihat, maka
stopwatch dimatikan dan mencatat waktu reaksi berlangsung pada konsentrasi
0,05M ; 0,1M ; 0,15M ; 0,2M ; 0,25M memperoleh waktu secara berturut-
turut 72s; 30s; 22s; 16s; 12s. Dari hasil percobaan ini terlihat bahwa semakin
tinggi konsentrasi, maka laju reaksinya juga akan semakin cepat. Mekanisme
yang terjadi yaitu dengan semakin tingginya konsentrasi artinya didalam suatu
larutan terdapat jumlah partikel yang semakin banyak pula. Semakin banyak
jumlah partikel dalam suatu larutan maka akan semakin mudah untuk terjadi
tumbukan. Dan dapat dikatakab konsentrasi mempengaruhi laju reaksi.
Sehingga dapat diperoleh grafik hubungan antara konsentrasi reaktan Na 2S2O3

dengan persatuan waktu dan grafik hubungan antara ln [Na2S2O3] dengan ln .


Dari data dan grafik menunjukkan bahwa larutan dengan konsentrasi
besar menyebabkan reaksi akan lebih cepat berlangsung, karena dengan
konsentrasi besar berarti jumlah partikel zat dalam larutan tersebut semakin
banyak. Partikel yang banyak tersebut akan lebih sering tumbukan, dengan
bertambahnya frekuensi tumbukan dari partikel maka reaksi berlangsung cepat
dan begitu dengan sebaliknya (Utami, 2009).
Untuk menentukan pengaruh konsentrasi terhadap laju reaksi, digunakan

grafik antara [Na2S2O3] dengan . Dan didapatkan grafik :

Diperoleh persamaan garis secara manual y = 0,333x-0,00225 sedangkan


persamaan secara excel diperoleh y = 0,3361x-0,0027. Persamaan ini terdapat
pada grafik hubungan antara [Na2S2O3] terhadap persatuan waktu. dan nilai R2
yang didapat yaitu 0.9933 yang mendekati 1 yang menandakan kevalidan data
tersebut. Perbedaan antara perhitungan manual dan excel karena perbedaan
pembulatan.
Untuk menentukan orde yang terjadi pada reaksi ini, digunakan

perhitungan ln[Na2S2O3] terhadap ln dan didapatkan grafik:


Diperoleh persamaan garis secara manual y = 1,0829x – 0.99804
sedangkan persamaan secara excel diperoleh y = 1,0826x-0,9987. Persamaan

ini terdapat pada grafik hubungan antara ln[Na2S2O3] terhadap ln . dan nilai R2

yang didapat yaitu 0,9937 yang mendekati 1 yang menandakan kevalidan data
tersebut. Perbedaan antara perhitungan manual dan excel karena perbedaan
pembulatan.
Dari persamaan tersebut didapatkan orde reaksi yaitu orde reaksi 1

Dimana m adalah orde reaksi (n). dari hasil percobaan, m yang


dihasilkan 1,0826. Sehingga termasuk dalam orde reaksi 1.
VI.2. Pengaruh Suhu Terhadap Laju Reaksi
Pada percobaan ini bertujuan unuk mempelajari pengaruh suhu pada
laju reaksi. Metode yang digunakan dalam percobaan ini adalah pengenceran,
pemanasan, dan pengendapan. Prinsipnya adalah peningkatan energi aktivasi
akibat peningkatan suhu. Dalam percobaan ini 15 mL Na2S2O3 0.25M
diencerkan dengan aquadest menjadi 50 mL. Pengenceran ini bertujuan agar
konsentrasi yang diperoleh tidak terlalu pekat. Selanjutnya larutan Na 2S2O3
yang telah diencerkan dibagi menjadi 3 larutan setiap 10 mL untuk
memvariasikan suhu. Variasi suhu yang diberikan pada percobaan ini adalah
50oC, 60oC, dan 70oC. Variasi suhu bertujuan sebagai pembanding untuk
mengetahui kecepatan reaksi yang berlangsung akibat perbedaan suhu.
Setelah larutan Na2S2O3 dipanaskan pada suhu yang diinginkan,
erlenymeyer yang berisi larutan Na2S2O3 diletakkan diatas kertas putih yang
telah diberi tanda X. Selanjutnya ditambahkan HCl secara bersamaan dengan
menyalakan stopwatch dan dilakukan penggoyangan. Penambahan HCl 1 M
bertujuan untuk memperoleh endapan belerang akibat reaksi pengendapan.
HCl dapat diganti dengan asam yang memiliki karakter yang hampir sama
seperti HNO3, HCO3,dan H2SO4. Sedangkan penggoyangan bertujuan agar
kedua larutan tersebut bercampur secara homogen yang akan meningkatkan
frekuensi tumbukan antar partikel sehingga reaksi cepat berlangsung
membentuk endapan (Chang, 2005).
Reaksi yang terjadi sebgai berikut:
Na 2 S 2 O 3( aq) + 2HCl (a q) → 2NaCl (a q) + H 2 S 2 O 3 (aq )
S2O32-(aq) + 2H+(aq)→H2O(l) + SO2(g) + S(s)
(Svehla, 1985).
Pengendapan terjadi berkaitan dengan hasil kali ion (Qsp). Harga Qsp
lebih besar dari hasil kali kelarutan (Ksp) menyebabkan larutan jenuh dan
terbentuk endapan belerang (Chang, 2005).
Setelah larutan mengendap dan tanda X tidak terlihat lagi, maka
stopwatch dimatikan dan mencatat waktu untuk reaksi berlangsung pada suhu
50oC, 60oC, dan 70oC diperoleh waktu secara berturut turut 10 s, 14 s, dan 23
s. dari data ini dapat diketahui bahwa pada temperature yang berbeda
menyebabkan kecepatan reaksi yang berbeda pula atau dapat dikatakan
memengaruhi laju reaksi. Larutan pada temperature tinggi menyebabkan
tumbukan antar partikel lebih sering terjadi. Partikel – partikel bergerak cepat
menimbulkan energi gerak atau kinetic yang besar sehingga rekasi akan
berlangsung lebih cepat. Energi yang dimiliki partikel sehingga akan
melampaui energi minimum untuk bereaksi disebut energi aktivasi (Pettruci,
1992).
Melalui persamaan Arrhenius:

y=c +m×x
Dari persamaan diatas dapat dibuat kurva vs ln K. Reaksi ini dianggap

reaksi orde satu.


Grafik 6.2.1 Hubungan antara persatuan suhu (1/T) dengan ln K.
Berdasarkan grafik 6.2.1, diperoleh nilai intersepnya adalah -3.7328,
nilai slopenya adalah 142.88 dan R2 = 0,958. Harga R2 hampir mendekati 1
yang mengindikasikan bahwa persamaan Arrhenius cukup valid dipakai untuk
pengujian kinetika reaksi oleh karena suhu. Pada grafik 6.2.1 juga
menjelaskan hubungan antara ln K dan 1/T berbanding terbalik, semakin kecil
ln k maka nilai 1/T rata-rata semakin besar. Hal ini membuktikan bahwa
semakin tinggi suhu maka Ea semakin kecil dan laju reaksi semakin cepat dan
waktu yang dibutuhkan semakin sedikit sehingga memperbesar laju reaksi.
Diperoleh y = 142.88x – 3.7328, sehingga energi aktivasi diperoleh sebesar
-1.187 kJ/mol.
VII. PENUTUP
VII.1. Kesimpulan
VII.1.1. Pada percobaan pengaruh perubahan konsentrasi pada laju reaksi yaitu
pada konsentrasi 05M ; 0,1M ; 0,15M ; 0,2M ; 0,25M dibutuhkan
waktu berturut-turut 72s; 30s; 22s; 16s; 12s membuktikan bahwa
konsentrasi mempengaruhi laju reaksi. Semakin besar konsentrasi
maka semakin cepat laju reaksinya.
VII.1.2. Pada percobaan pengaruh suhu pada laju reaksi yaitu pada suhu 50ºC,
60 ºC, dan 70ºC dibutuhkan waktu berturut-turut 23s; 14s; 10s
membuktikan bahwa suhu mempengaruhi laju reaksi. Semakin besar
suhu maka semakin cepat laju reaksinya.
VII.2. Saran
VII.2.1. Praktikan diharapkan teliti pada pembacaan termometer pada saat
pemanasan dan menjaga agar suhu tetap konstan.
VII.2.2. Praktikan diharapkan teliti pada pembacaan pipet ukur pada saat
pengenceran.
VII.2.3. Praktikan diharapkan melakukan raktikum sesuai dengan prosedur.

.
LEMBAR PENGESAHAN

Semarang, 29 April 2018

Praktikan,

Farhan Irfandi Kurniawan Salma Aisyafalah


24030116140107 24030116130108

Hana Maria Nurun Aziza Ratna Dwi Ayuni


24030116140109 24030116130111

Zia Uzlifatul Fauzia Al Hasan


24030116140112

Mengetahui,
Asisten,

Febriani Kusuma Wardani


24030114120027
DAFTAR PUSTAKA

Bird, Tony. 1987. Kimia Fisik untuk Universitas. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Chang, R. 2005. Kimia Dasar: Konsep-Konsep Inti Jilid I. Jakarta: Erlangga.

Mulyono. 2005. Membuat Reagen Kimia di Laboratorium. Jakarta: Bumi Aksara.

Oxtoby. 2001. Kimia Modern. Jakarta: Erlangga

Purba, Michael. 2007. Kimia untuk SMA Kelas X. Jakarta: Erlangga.

Supardi, Kasmadi Imam, dan Gatot Luhbandjono. 2008. Kimia Dasar II. Semarang: UPT.
UNNES Press.

Svehla, G. 1985. Buku Teks Analisis Kualitatif Makro dan Semimakro. Jakarta: PT. Kalman
Media Pustaka.

Utami, dkk. 2009. Kimia Dasar Universitas. Jakarta: Erlangga.


LAMPIRAN

1. Perhitungan Pengenceran Konsentrasi Na2S2O3 0,25M


a. V Na2S2O3 = 10mL
V H2O = 40mL
V1M1 = V2M2
10mLx0,25 M = 50ml x M2
0,05M = M2
b. V Na2S2O3 = 20mL
V H2O = 30mL
V1M1 = V2M2
20mLx0,25 M = 50ml x M2
0,1M = M2
c. V Na2S2O3 = 30mL
V H2O = 20mL
V1M1 = V2M2
30mLx0,25 M = 50ml x M2
0,15M = M2
d. V Na2S2O3 = 40mL
V H2O = 10mL
V1M1 = V2M2
40mLx0,25 M = 50ml x M2
0,2M = M2
e. V Na2S2O3 = 50mL
V H2O = 0mL
V1M1 = V2M2
50mLx0,25 M = 50ml x M2
0,25M = M2
2. Perhitungan Grafik antara [Na2S2O3] vs

No. x ([Na2S2O3]) (M) Xy x2


y( )
1 0,05 0,0139 6.95x10-4 2.5x10-3
2 0,1 0,0333 3.33x10-3 10x10-3
3 0,15 0,0455 6.75x10-3 22.5x10-3
4 0,2 0,0625 1,25x10-2 40 x10-3
5 0,25 0,0833 2.08x10-2 62.5 x10-3
∑ 0,75 0,2385 0,044075 137,5 x10-3
rata- 0,15 0,0477 8,815x10-3 0,0275
rata
3. Perhitungan Grafik antara ln [Na2S2O3] vs ln

No. x (ln A) xy x2
y ( ln )
1 -2,99573 -4,27587 12,8093 8,9742
2 -2,30250 -3,402198 7,8339 5,3015
3 -1,89719 -3,090043 5,8623 3,5989
4 -1,60945 -2,77258 4,4622 2,5902
5 -1,38629 -2,48530 3,4454 1,9216
∑ -10,1909 -16,0250 34,4131 22.386
rata-rata -2,03818 -3,20518 6,88262 4,4772

m = 5. 34,4131-(-10,1909)(-16,0259)
5.22,386 – (-10,1909)2
m = 172,0655 – 163,3186
111,932-103,8544
m = 8,7472
8,0776
m = 1,0829 (orde reaksi mendekati 1)

-3,20518 = 1,0829.(-2,03818) + c
c = -0.99804
Persamaan garis:

y = 1x – 0.99804
4. Perhitungan Grafik antara

M1 . V1 = M2 . V2
0.25 M . 15 ml = M2 . 50 ml
M2 = 0.075 M

 T = 50oC = 323 K
t = 10s

 T = 60oC = 333 K
t = 14s

 T = 70oC = 343 K
t = 23s

No ln K x.y X2

x y
1. 0.003095975 K-1 0.28766 8.9029 x 10-4 9.5851 x 10-6
2. 0.003003003 K-1 -0.04879 -1.4652 x 10-4 9.0180 x 10-6
3. 0.002915452 K-1 -0.545227 -15.8945 x 10-4 8.4999 x 10-6
∑ 0.00901443 K-1 0.30632 -8.4568 x 10-4 27.103 x 10-6
Rata – 0.00300481 K-1 -0.10210667 -2.8189 x 10-4 9.0343 x 10-6
rata

y =c -m.x

dimana,
y = ln k

m=-

x=

c = ln A
sehingga,

m=-

Ea = 898.081 kJ/mol