Anda di halaman 1dari 36

TUGAS KELOMPOK

PAPPER ASUHAN KEPERAWATAN KEGAWAT DARURATAN

(MULTIPLE TRAUMA)

KELOMPOK 8:

1. BENY ARIS SETIAWAN (17.017)


2. ERVINA MAYA SAVITRI (17.030)
3. KISTIA RITA SANTI (17.044)
4. MIMIN INDAH LESTAR (17.054)
5. SATRIATRI NUGROHO (17.077)

KELAS: II B

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN

AKPER KESDAM IV/DIPONEGORO SEMARANG

2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Trauma adalah penyebab kematian utama pada manusia antara usia 1-44
tahun. Pada kelompok usia yang lebih tua, penyebab kematian ini hanya
dilampauii oleh kanker dan penyakit kardiovaskuler. Bagaimanapun kerugian
akibat trauma dalam hal kehilangan kesempatan hidup produktif, melebihi
kerugian yang ditimbulkan oleh kanker dan penyakit kardiovaskuler. Sebagai
penyebab utama kematian dan kecacatan, trauma telah menjadi masalah
kesehatan dan social yang signifikan.
Multiple trauma adalah keadaan yang di sebabkan oleh luka atau cedera
defenisi ini memberikaan gambaran superficial dari respon fisik terhadap
cedera, trauma juga mempunyai dampak psikologis dan social. Pada
kenyataannya trauma adalah kejadian yang bersifat holistic dan dapat
menyebabkan hilangnya produktif seseorang. Berdasarkan mekanismenya,
terdapat trauma tumpul yang biasanya disebabkan karena kecelakaan
kendaraan bermotor dan trauma tajam biasanya disebabkan karena tusukan,
tikaman atau tembakan senapan.
Kecelakaan lalu lintas merupakan permasalahan kesehatan global sebagai
penyebab kematian, disabilitas, dan defisit mental. Menurut World Health
Organization (WHO) pada tahun 2015 kecelakaan lalu lintas merupakan
penyebab kematian urutan kesebelas di seluruh dunia dan menelan korban
jiwa sekitar 1,25 juta manusia setiap tahun.(Depkes RI, 2017).
Trauma dapat diakibatkan oleh kecelakaan lalu lintas. Trauma yang
paling banyak terjadi pada saat kecelakaan lalu lintas adalah trauma kepala.
Trauma kepala akibat kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab utama
disabilitas dan mortalitas di negara berkembang. Keadaan ini umumnya
terjadi pada pengemudi motor tanpa helm atau memakai helm yang tidak
tepat dan yang tidak memenuhi standar. (Depkes RI, 2015).
B. TUJUAN
1. Untuk mengetahui definisi multiple trauma.
2. Untuk mengetahui etiologi multiple trauma.
3. Untuk mengetahui patofisiologi multiple trauma.
4. Untuk mengetahui manifestasi klinis multiple trauma.
5. Untuk mengetahui klasifikasi multiple trauma.
6. Untuk mengetahui pemeriksaan multiple trauma.
7. Untuk mengetahui penatalaksanaan pra hospital dan intra hospital
multiple trauma.
8. Untuk mengetahui asuhan kegawatdaruratan multiple trauma.
C. MANFAAT
Terkait dengan tujuan, maka papper pembelajaran ini diharapkan dapat
memberi manfaat.
1. Dari segi akademis, merupakan sumbangan bagi ilmu pengetahuan
khususnya dalam hal asuhan keperawatan pada pasien multi trauma
2. Dari segi praktis, makalah pembelajaran ini bermanfaaat bagi :
a. Bagi mahasiswa Akper Kesdam IV/ Diponeggoro Semarang
b. Hasil papper pembelajaran ini dapat menjadi masukkan bagi
mahasiswa Akper Kesdam IV/ Diponeggoro lainnya dalam hal
melakukan asuhan keperawatan pada paien multi trauma.
c. Untuk Penulis
Hasil penulisan makalah ini dapat menjadi salah satu rujukan
bagi penulis berikutnya, yang akan melakukan penulisan pada
asuhan keperawatan pada pasien multi trauma.
BAB II
KONSEP TEORI

A. DEFINISI
Multiple trauma adalah keadaan yang di sebabkan oleh luka atau cedera
definisi ini memberikaan gambaran superficial dari respon fisik terhadap
cedera, trauma juga mempunyai dampak psikologis dan sosial. Pada
kenyataannya trauma adalah kejadian yang bersifat holistic dan dapat
menyebabkan hilangnya produktif seseorang. Informasi tentang pola atau
mekanisme terjadinya cedera seringkali akan sangat terbantu dalam
mendiagnosa kemungkinan gangguan yang diakibatkan. Trauma tumpul
terjadi pada kecelakaan kendaraan bermotor ( KKB) dan jatuh, sedangkan
trauma tusuk (penetrasi) seringkali diakibatkan oleh luka tembak atau luka
tikam.
Sebagai penyebab utama kematian dan kecacatan, trauma telah menjadi
masalah kesehatan dan social yang signifikan. Trauma yang terjadi seringkali
melibatkan beberapa regio tubuh. Pada multipel trauma, sering terjadi
perdarahan yang akan mengakibatkan kematian. Selain itu, pada multipel
trauma juga terjadi keadaan hipoperfusi dan asidosis serta koagulopati yang
juga akan meningkatkan mortalitas pasien multipel trauma.
Multiple trauma atau politrauma adalah apabila terdapat 2 atau lebih
kecederaan secara fisikal pada regio atau organ tertentu, dimana salah satunya
bisa menyebabkan kematian dan memberi impak pada fisikal, kognitif,
psikologik atau kelainan psikososial dan disabilitas fungsional. Trauma
kepala paling banyak dicatat pada pasien politrauma dengan kombinasi dari
kondisi yang cacat seperti amputasi, kelainan pendengaran dan penglihatan,
post-traumatic stress syndrome dan kondisi kelainan jiwa yang lain.
B. ETIOLOGI
Trauma dapat disebabkan oleh benda tajam, benda tumpul, atau peluru.
Luka tusuk dan luka tembak pada suatu rongga dapat di kelompokan dalam
kategori luka tembus. Untuk mengetahui bagian tubuh yang terkena, organ
apa yang cedera ,dan bagaimana derajat kerusakannya, perlu diketahui
biomekanik terutama cedera pada trauma dapat terjadi akibat tenaga dari luar
berupa benturan, perlambatan (deselerasi), dan kompresi, baik oleh benda
tajam , benda tumpul, peluru, ledakan, panas, maupun zat kimia . Akibat
cedera ini dapat menyebabkan cedera muskuloskeletal dan kerusakan organ.
C. PATOFISIOLOGI
Respon metabolik pada trauma dapat dibagi dalam tiga fase :
1. Fase pertama berlangsung beberapa jam setelah terjadinya trauma. Dalam
fase ini akan terjadi kembalinya volume sirkulasi, perfusi jaringan, dan
hiperglikemia.
2. Pada fase kedua terjadi katabolisme menyeluruh, dengan imbang
nitrogen yang negative, hiperglikemia, dan produksi panas. Fase ini yang
terjadi setelah tercapainya perfusi jaringan dengan baik dapat
berlangsung dari beberapa hari sampai beberapa minggu, tergantung
beratnya trauma, keadaan kesehatan sebelum terjadi trauma, dan tindakan
pertolongan medisnya.
3. Pada fase ketiga terjadi anabolisme yaitu penumpukan kembali protein
dan lemak badan yang terjadi setelah kekurangan cairan dan infeksi
teratasi. Rasa nyeri hilang dan oksigenasi jaringan secar keseluruhan
sudah teratasi. Fase ini merupakan proses yang lama tetapi progresif dan
biasanya lebih lama dari fase katabolisme karena isintesis protein hanya
bisa mencapai 35 gr /hari.
D. MANIFESTASI KLINIS
1. Laserasi, memar, ekimosis.
2. Hipotensi
3. Tidak adanya bising usus
4. Hemoperitoneum
5. Mual dan muntah
6. Adanya tanda “Bruit” (bunyi abnormal pada auskultasi pembuluh darah,
biasanya pada arteri karotis)
7. Nyeri
8. Pendarahan
9. Penurunan kesadaran
10. Sesak
11. Tanda Kehrs adalah nyeri di sebelah kiri yang disebabkan oleh
perdarahan limfa. Tanda ini ada saat pasien dalam posisi recumbent.
12. Tanda Cullen adalah ekimosis periumbulikal pada perdarahan peritoneal
13. Tanda Grey-Turner adalah ekimosis pada sisi tubuh ( pinggang ) pada
perdarahan retroperitoneal.
14. Tanda Coopernail adalah ekimosis pada perineum,skrotum atau labia
pada fraktur pelvis.
15. Tanda Balance adalah daerah suara tumpul yang menetap pada kuadran
kiri atas ketika dilakukan perkusi pada hematoma limfe.
E. KLASIFIKASI
1. Trauma Tumpul
Pada kecelakaan kendaraan mobil, badan kendaraan memberikan
sebagian perlindungan dan menyerap energi dari hasil benturan tabrakan.
Pengendara atau penumpang yang tidak menggunakan sabuk pengman,
bagaimanapun akan terlempar dari mobil dan dampaknya mendapat
cedera tambahan. Pengendara sepeda motor mempunyai perlindungan
yang minimal dan seringkali akan menderita cedera yang lebih parah
apabila terlempar dari motor.
Perlambatan yang cepat selama KKB atau jatuh dapat menyebabkan
kekuatan yang terputus yang dapat merobek struktur tertentu. Organ-
organ yang berdenyut seperti jantung dapat terlepas dari pembuluh besar
yang menahannya. Demikian juga organ-organ abdomen (limpa, ginjal,
usus) akan terlepas dari mesenteri.
Tipe kedua trauma tumpul termasuk kompresi yang disebabkan oleh
kekuatan tabrakan berat. Pada kasus demikian, jantung dapat terhimpit
diantara sternum dan tulang belakang. Hepar, limpa, dan pancreas juga
sering tertekan terhadap tulang belakang. Cedera karena benturan
seringkali menyebabkan kerusakan internal dengan sedikit tanda-tanda
trauma eksternal.
Tipe kerusakan pada kendaraan seringkali memberikan petunjuk-
petumjuk cedera spesifik yang diderita pada KKB. Stir atau kemudi
kendaraan yang bengkok atau rusak memperbesar dugaaan akan
kemungkinan cedera pada dada, iga, jantung, trakea, tulang belakang atau
abdomen. Trauma kepala dan wajah, cedera tulang belakang servikal dan
cedera trakeal sering berkaitan dengan kerusakan pada kaca depan mobil
atau dashboard. Benturan lateral dapat menyebabkan patah iga, luka dada
penetrasi akibat pegangan pintu atau jendela, cedera limpa atau hepar dan
fraktur pelvis.
2. Trauma Penetrasi
Luka tembak berkaitan dengan derajat kerusakan yang lebih tinggi
dari luka-luka tikaman. Peluru dapat menyebakan lubang di sekitar
jaringan dan dapat terpecah atau merubah arah dalam tubuh,
mengakibatkan peningkatan cedera. Perdarahan internal, perforasi organ,
dan fraktur kesemuanya dapat disebabkan oleh cedera penetrasi. Dengan
menggunakan keterampilan pengkajian yang baik dan kewaspadaan pada
mekanisne terjadinya cederam, perawat unit perawatan kritis dapat
membantu dalam mengidentifikasi cedera yang tidak didiagnosa di unit
kegawatdaruratan.
3. Trauma Torakik
Kurang lebih 25% dari kematian karena trauma adalah karena cedera
torakik. Banyak cedera toraks yang secara potensial mengancam jiwa,
misalnya tension atau pneumotoraks terbuka, hemotoraks massif, iga
melayang (flail chest) dan tamponade jantung, dapat ditangani secara
cepat dan mudah, seringkali tanpa operasi besar. Jika tidak ditangani,
maka akan mengancam jiwa. Cedera pada paru dan iga :
a. Pneumotoraks dan hematoraks
Trauma tumpul dan penetrasi dapat menyebabkan pneumotoraks
dan hemotoraks. Seringkali satu-satunya tindakan yang diperlukan
adalah pemasangan selang dada. Hemotoraks massif (>1.500ml pada
awalnya atau >100-200ml/jam) akan memerlukan torakotomi,
sedangkan selang dada untuk mengembangkan kembali paru-paru
seringkali sudah memadai tamponade dengan sumber perdarahan
yang lebih kecil. Intervensi pembedahan juga mungkin diperlukan
dalam kasus pneumotoraks terbuka (luka menyedot dada) atau
kebocoran udara yang tidak terkontrol.
Selain memberikan perawatan rutin post operasi (spirometri,
batuk, latihan napas dalam), perawatan unit perawatan kritis harus
mengkaji fungsi pernapasan dan hemodinamik dengan cermat.
Pasien dengan cedera paru mempunyai resiko lebih besar untuk
mengalami komplikasi pulmonal seperti atlektaksis, pneumonia, dan
empiema. Selang dada harus dikaji patensi dan fungsinya serta
dokter harus diberitahu jika drainase menjadi berlebihan. Untuk
kehilangan darah dalam jumlah besar dari selang dada, mungkin
harus dilakukan ototranfusi.
b. Iga melayang
Iga melayang terjadi bila trauma tumpul menyebabkan fraktur
multiple iga, menyebabkan ketidakstabialan dinding dada. Iga
melayang berkaitan dengan pneumotoraks, hemotoraks kontusio
pulmonal, kontusio miokardial. Tujuan utama dari perawatan
terhadap tulang iga mengambang adalah untuk meningkatkan
ventilasi yang adekuat. Jika status pernapasan terganggu atau
diperlukan operasi untuk cedera terjadi, maka ada indikasi
pemasangan intubasi dan ventilasi mekanis. Mungkin juga
digunakan tekanan akhir ekspirasi positif (PEEP). Pada kejadian
yang langka, mungkin dilakukan stabilisasi operatif dengan kawat
dan staples. Fraktur iga tidak pernah dibalut karena hal ini nantinya
hanya akan mengurangi fungsi pulmonal.
Fraktur iga sering berkaitan dengan nyeri hebat. Control nyeri
yang adekuat dapat meningkatkan ekspansi paru tanpa memerlukan
ventilasi mekanis jangka panjang. Sering diberikan analgesi
parenteral, intramuscular, atau analgesia yang dikontrol pasien.
Analgesic sistemik tidak cukup kuat untuk menghilangkan nyeri iga
melayang, sehingga membutuhkan metode lain untuk meringankan
nyeri seperti blok interkosta atau analgesia epidural.
Asuhan keperawatan pada pasien dengan iga melayang
ditujukan pada pengkajian dan pengontrolan nyeri deisertai dengan
peningkatan oksigenasi dan pertukaran gas yang adekuat.
Hipoventilasi akiibat nyeri meningkatkan resiko terhadap komplikasi
pernapasan, termasuk atlektaksis dan pneumonia. Berbagai
intervensi untuk memperbaiki fungsi pernapasan dapat dilaksanakan
termasuk batuk dan napas dalam, spirometrik, drainase, dan
chapping, mukolitik, bronkodilator, pernapasan tekanan positif
intermitten (PTPI), suksion endotrakeal dan nasotrakeal,
bronkoskopi terapeutik. Serangkaian pengkajian pulmonal, termasuk
sinar x-dada, gas-gas arterial darah, pemeriksaan fisik, dan kadang-
kadang pemantauan dengan oksimetrik adalah penting.
c. Kontusio pulmonal
Kontusio pulmonal adalah memar pada parenkim paru,
seringkali akibat trauma tumpul. Gangguan ini dapat tidak
terdiagnosa pada foto dada awal. Bagaimanapun adanya fraktur iga
atau iga melayang harus mengarah pada dugaan kemungkinan
adanya kontusio pulmonal. Kontusio pulmonal terjadi bila
perlambatan cepat memecahkan dinding sel kapiler, menyebabkan
hemoragi dan ekstravasasi plasma dan protein ke dalam alveolar dan
spasium interstisial.
Hal ini mengakibatkan atlektaksis dan konsolidasi, mengarah
pada pengalihan (shunting) intrapulmonal dan hipoksemia. Tanda-
tanda dan gejala-gejalanya tgermasuk dispnea, rales, hemoptisis,
takipnea. Kontusio yang hebat juga akan mengakibatkan
peningkatan tekanan puncak jalan udara, hipoksemia, dan asidosis
respiratorik. Kontusio pulmonal mirip dengan ARDS dimana
keduanya berespon sangat terburuk terhadap fraksi inspirasi oksigen
yang tinggi (FiO2).
Perbedaan antara kontusio pulmonal dan ARDS

Kontusio pulmonal ARDS


Awitan gagal pernapasan Awitan gagal pernapasan mendadak.
bertahap.
Perubahan-perubahan Perubahan-perubahan gambaran radiografi
gambaran radiografi seringkali tertunda 2-3 hari setelah timbul
dapat segera terlihat. gejala- gejala.
Infiltrat setempat. Infiltrat menyebar.
Dapat mengarah pada Dapat mengarah pada fibrosis pulmonal
terbentuknya rongga dan kronis.
abses.
Pasien dengan kontusio ringan memerlukan pengamanan ketat.
Perlu sering dilakukan pengukuran gas darah arterial (GDA) atau
oksimetri nadi. Inter vensi keperawatan tambahan termasuk
pengkajian pernapasan yang kerap, perawatan pulomonal dan control
nyeri. Fisioterapi dada dan analgesia epidural kontinu juga akan
sangat bermanfaat. Kontusion pulmonal yang parah akan
memerlukan dukungan ventilator dengan TAEP. Kateter arteri
oksimetrik pulmonal ( oximetri Swans-Ganz) dan biasanya aliran
arteri untuk membantu memantau GDA, hemodinamik dan
parameter respiratori (pengiriman oksigen, pirau intrapulmonal).

Meskipun ventilasi alveolar membaik dengan penambahan


TAEP, aliran darah ke alveoli dapat berkurang, mengarah pada
pirau intrapulmonal. Untuk mengoptimalkan perfusi jaringan dan
oksigenasi, setiap pergantian pada TAEP membutuhkan status
pirau, pengiriman oksigen, dan indicator lain perfusi jaringan (curah
jantung, tekanan darah, haluaran urine). Pernapasan yang parah,
peningkatan atau paralisis dapat menjadi tanda untuk menurunkan
pemakaian energi dan kebutuhan oksigen. Tempat tidur berrotasi
seperti Roto-Rest (Kinetic Concepts, Ins., San Antonio, TX) juga
harus dipertimbangkan. Penggunaan ventilasi jet frekuensi tinggi
untuk tipe cidera seperti ini masih merupakan suatu kontroversia.
Kontusio unilateral berat dapat ditangani dengan ventilasi paru
independen simultan dan membaringkan posisi pasien dengan bagian
cidera di sebelah atas.
Penatalaksanaan cairan juga penting. Masukkan dan haluarkan,
berat badan setiap hari, tekanan vena central, tekanan desak kapiler
pulmonal harus dipantau. Konsentrasi medikasi mungkin diperlukan
untuk mengurangi masukan yang berlebihan, dan diuretik akan
diperlukan secara periodik. Pembatasan ketat cairan tidak
dianjurkan. Sebaliknya, keseimbangan cairan harus dipertahankan
pada tingkat mendekati normal untuk mendukung curah jantungdan
pengiriman oksigen. Karena paru yang basah dan mengalami
kontusio mengalami kemampuan untuk membersihkan bakteri,
mungkin diberikan antibiotik profilaktik. Steroid profilaktik dan
pemberian protein tetap menjadi suatu hal yang kontroversial.
Pneumonia dan gangguan ARDS adalah komplikasi yang umum.
d. Cidera Trakeobronkial
Cedera pada trakea atau bronki dapat disebabkan oleh trauma
tumpul atau penetrasi dan seringkali disertai dengan kerusakan pada
esofagus dan vaskuler. Ruptur bronki sering terjadi berkaitan dengan
fraktur iga bagian atas atau pneumotoraks. Cedera trakeobronkial
yang parah mempunyai angka kematian yang tinggi, bagaimana pun
dengan bertambah baiknya perawatan dan transportasi prarumah
sakit akhir-akhir ini, maka makin banyak pasien ini yang bertahan
hidup.
Cidera jalan udara seringkali tidak tersamar. Tanda-tandanya
termasuk dispnea (adakalanya satu-satunya tanda), hemoptasis,
batuk, dan emfisema subkutan. Berdasarkan sinar-x dada dapat
memberikan tanda pada dokter terhadap kemungkinan adanya
cedera, bagaimanapun biasanya diagnosa dibuat dengan bronkoskopi
atau selama operasi. Perbaikan operasi dengan ventilasi mekanis
pascaoperasi melalui selang endotrakeal atau trakeostomi akan
diperlukan.
Asuhan keperawatan melibatkan pengkajian terhadap oksigenasi
dan pertukaran gas, disertai dengan perawatan pulmonal yang tepat.
Selama beberapa hari pertama, dokter akan melakukan bronkoskopi
untuk melihat tempat yang diperbaiki serta untuk memberikan
suction yang lebih efektif. Pneumonia adalah komplikasi jangka
pendek, sedangkan stenosis trakeal dapat terjadi kemudian.
4. Cedera pada Jantung
a. Kontusio Miokard
Memar pada miokardium kebanyakan disebabkan oleh benturan
dada pada batang stir atau dashboard selama KKB. Perlambatan
cepat mengakibatkan jantung yang berdenyut akan menbentur
dinding dada anterior. Ventrikel kanan, karena letaknya di sebelah
anterior, adalah yang paling sering terkena. Kontusio juga dapat
terjadi apabila jantung terdesak diantara sternum dan tulang
belakang.
Gejala-gejala kontusio jarang bervariasi dari tidak ada gejala
(umum) sampai pada gagal jantung kongestif yang berat dan syok
kardiogenik. Setelah trauma, keluhan-keluhan tentang nyeri dada
harus di evaluasi dengan cermat. Perubahan-perubahan ECG
nonspesifik sering terlihat dan dapat mencakup setiap tipe disritmia.
Takikardia sinus, kontraksi atrial ventrikular prematur, takikardia
supraventrikular paroksimal, blok berkas his kanan, atau perubahan-
perubahan gelombang ST dan T adalah hal yang paling umum.
Secara histologi, kontusio jantung mirip dengan infark miokardial.
Diagnosa bisa sulit ditegakkan. Untuk menegakkannya dilakukan
serangkaiaan pemeriksaan EKG dan serangkaian pengukuran kreatin
kinase isoenzim miokardial, namun pemeriksaan ini tidak 100%
sensitif. Ada dokter yang menginstruksi pemeriksan ekokardiogram
dua dimensi untuk memeriksa komplikasi-komplikasi dan tingkat
cedera manakala kontusio sudah dipastikan terjadi.
Pemantauan dengan ketat diperlukan sampai kontusio
miokardial telah disingkirkan. Yang lebih umum dari kontusio
miokardial yang sudah dipastikan adalah cedera tipe “konkusio”
(gegar) yang dapat pilih. Tanda-tanda dan gejala-gejala yang bersifat
temporer akan terlihat tanpa adanya perubahan dalam isoenzim.
Selama diagnosanya belum jelas, oksigenasi, hemodinamik, dan
toleransi aktivitas harus diamati dengan cermat. Jika timbul
takikardia, maka penyebab-penyebab alternatif seperti nyeri,
penipisan volume herus menjadi pertimbangan. Manakala kontusio
sudah dipastikan, maka tindakan yang dilakukan serupa dengan
untuk infark miokardial akut.
b. Cedera Penetrasi jantung
Cedera penetrasi pada jantung mengakibatkan kematian korban
prarumah sakit sekitar 60% sampai 90% dari kasus. Pada 10%
sisanya, hemoragi dan syok adalah yang umum terlihat. Luka tikam
kecil yang mengenai ventrikel ada kalanya menutup sendiri karena
tebalnya muskulatur ventrikular. Pada kondisi dimana terjadi
hemoragi terus menerus, volume yang hilang harus diganti, dan
operasi perbaikan diperlukan. Pada kasus-kasus parah, torakotomi
departemen gawat darurat mungkin harus dilakukan sebagai tindakan
untuk menyelamatkan jiwa.
Setelah operasi perbaikan, kateter arteri pulmonal dn selang
arterial dipasang untuk memudahkan pemantauan hemodinamik
dengan cermat. Vasopresor atau agen-agen inotropik mungkin
diperlukan untuk mempertahankan tekanan darah dan curah jantung
yang adekuat. Keseimbangan cairan dan elektrolit, sejalan dengan
irama jantung, harus dipantau dengan seksama. Bunyi jantung harus
dikaji terhadap murmur, yang menandakan kelainan katup atau
septum, dan sebagai tanda-tanda gagal jantung kongestif. Drainase
selang dada dan mediastinal harus sering dicatat. Berikan plasma
beku segar dan platelet, sesuai instruksi, untuk memperbaiki
koagulopati. Komplikasi termasuk hemoragi berlanjut dan sindrom
poskardiotomi.
5. Trauma Abdomen
Rongga abdomen memuat baik organ yang padat maupun yang
berongga. Trauma tumpul kemungkinan besar menyebabkan kerusakan
yang serius organ-organ padat dan trauma penetrasi sebagian besar
melukai organ-organ berongga. Kompresi dan perlambatan dari trauma
tumpul menyebabkan fraktur pada kapsula dan parenkim organ padat,
sementara organ berongga dapat kolaps dan menyerap energi benturan.
Bagaimana pun usus yang menempati sebagian besar rongga abdomen,
rentan untuk mengalami oleh trauma penetrasi. Secara umum, organ-
organ padat berespons terhadap trauma dengan perdarahan. Organ-organ
berongga pecah dan mengeluarkan isinya dan ke dalam rongga
peritoneal, menyebabkan peradangan dan infeksi.
Diagnosis dini adalah penting pada trauma abdomen. Pasien yang
memperlihatkan adanya cedera abdomen penetrasi fasia dalam
peritoneal, ketidakstabilan hemodinamik, atau tanda-tanda dan gejala-
gejala abdomen akut dilakukan eksplorasi dengan pembedahan. Pada
kebanyakan kasus trauma abdomen lainnya, dilakukan lavase peritoneal
diagnostic (LPD). LPD yang positif juga mengharuskan dilakukan
eksplorasi pembedahan.
Baik LPD ataupun CT scan adalah 100% diagnostic, sehingga
pasien-pasien trauma dengan hasil negative harus diobservasi. Dilakukan
serangkaian pengukuran tingkat hematokrit dan amylase. Pengobatan
nyeri mungkin ditunda sehingga tidak mengaburkan tanda-tanda dan
gejala-gejala yang potensial. Masukan per oral juga ditunda untuk
berjaga-jaga jika dilakukan pembedahan. Pasien dikaji untuk
mendapatkan tanda-tanda abdomen akut, seperti distensi, rigiditas,
guarding, dan nyeri lepas. Eksplorasi pembedahan menjadi perlu dengan
adanya awitan setiap tanda-tanda dan gejala-gejala yang
mengindikasikan cedera. Penggunaan CT abdomen telah memperoleh
popularitas dan sering digunakan atau sebagai tambahan pada LPD.
Cedera retroperitoneal, seringkali terlewatkan dengan LPD dan bahkan
dengan pembedahan eksplorasi, sering dapat diidentifikasi dengan CT
scan. Namun CT scan tidak dapat terlalu diandalkan dalam mendeteksi
cedera pada organ-organ berongga.
a. Cedera pada lambung dan usus halus
Cedera lambung yang signifikan jarang ditemui, namun usus
halus lebih umum mengalami cedera. Meskipun sering mengalami
kerusakan oleh trauma penetrasi, trauma tumpul juga dapat
menyebabkan usus halus memar. Konvolusi multiple adakalanya
membentuk loop tertutup yang dapat menjadi sasaran pecah karena
meningkatnya tekanan dari benturan dengan kemudi atau sabuk
pengaman. Mobilitas usus di sekitar titik tetap (seperti ligamentum
treitz) mencetuskan terjadinya cedera dengan adanya perlambatan.
Cedera tumpul usus halus atau lambung dapat terlihat dengan
adanya darah pada aspirasi nasogastrik atau hematemesis. Namun
sering tidak terdapat tanda-tanda fisik dan diagnosis tidak dapat
ditegakkan sampai timbul peritonitis. Cedera penetrasi biasanya
menyebabkan LPD positif. Meskipun kontusio usus ringan dapat
diatasi secara konservatif (dekompresi lambung dan menunda
masukan per oral), pembedahan biasanya diperlukan untuk
memperbaiki luka-luka penetrasi.
Dekompresi pasca operasi, baik dengan selang nasogastrik atau
selang lambung, dipertahankan sampai fungsi usus pulih. Pada
kebanyakan kasus selang makan, jejunustomi dipasang sebelah distal
dari tempat yang diperbaiki. Selang pemberi makan dapat
dipasangkan segera pasca operasi. Dengan ditingkatkannya
konsentrasi dan frekuensi pemberian makan secara bertahap, maka
pengkajian secara berkala terhadap tanda-tanda intolerans (distensi,
muntah) adalah penting. Karena lambung dan usus halus
mengandung jumlah bakteri yang signifikan, maka resiko terhadap
sepsis adalah kecil, namun pemberian antibiotic profilaktik dapat
dilakukan kapan saja terjadi perforasi usus. Pada sisi lain, getah
asam lambung mengiritasi peritoneum dan dapat menyebabkan
peritonitis. Potensial komplikasi lainnya termasuk perdarahan pasca
operasi, hipovolemia karena “spasium ketiga”, serta timbulnya
fistula atau obstruksi. Beberapa dari keadaan ini mengharuskan
adanya tindakan pembedahan tambahan. Sindrom malabsorpsi jarang
terjadi kecuali jika lebih dari 200 cm usus telah diangkat.
b. Cedera pada duodenum dan pancreas
Pancreas dan duodenum akan dibahas bersama-sama karena
keduanya adalah organ-organ retroperitoneal dan secara anatomi dan
fisiologi mempunyai hubungan yang dekat. Diperlukan kekuatan
yang besar untuk mencerai organ-organ ini, karena organ-organ ini
terlindung dengan baik, jauh di dalam abdomen. Cedera pada organ
yang berdekatan hampir selalu ada. Letak retroperitoneal membuat
cedera ini sulit untuk didiagnosa karena LPD sering negative, oleh
karena itu CT scan abdomen sangat penting untuk keadaan ini.
Tanda-tanda dan gejala-gejala dapat mencakup abdomen akut,
peningkatan kadar amylase serum, nyeri epigastrik yang menjalar ke
punggung, mual, dan muntah.
Laserasi minor atau kontusio hanya akan memerlukan
pemasangan drain, sedangkan luka-luka besar memerlukan
perbaikan pembedahan. Kebanyakan cedera pankreatik akan
membutuhkan drain pasca operasi untuk menghindari pembentukan
fistula. Pankreatektomi distal atau anstomosis Roux-en-Y adalah dua
prosedur yang umum dilakukan pada cedera tubuh dan bagian ekor
pancreas. Adakalanya limpa juga harus diangkat karena banyaknya
perlekatan vascular. Kerusakan pada kaput pancreas berkaitan
dengan cedera duodenal dan hemoragi hebat karena kedekatan dari
struktur vascular. Prosedur pembedahan yang dilakukan pada kasus-
kasus ini termasuk pankreotikoduodenektomi, anastomosis ROUX-
en-Y, dan pada keadaan yang langka dilakukan pankreatektomi total.
Pengkajian dan asuhan keperawatan pasca operasi adalah sama
untuk berbagai prosedur. Patensi drain harus dipertahankan dan
pasien dipantau terhadap timbulnya fistula. Perlindungan terhadap
kulit adalah penting jika fistula sudah terbentuk, karena tingginya
kandungan enzim dari getah pankreatin. Pengkajian keseimbangan
cairan dan elektrolit adalah penting karena fistula pankreatik
mengakibatkan kehilangan cairan juga kalium dan bikarbonat.
Stimulasi pancreas dapat dikurangi dengan pemberian
hiteralimentasi parental atau pemberian makanan jejuna daripada
diet oral. Awitan diabetes mellitus jarang terjadi kecuali jika
dilakukan pankreatektomi total. Komplikasi lainnya termasuk
perdarahan dari fistula yang mengikis ke dalam pembuluh,
peritonitis, sepsis intra abdominal atau sistemik, pancreatitis, dan
obstruksi usus mekanis.
Cedera pada duodenum sendiri dapat disembuhkan dengan
anastomosis primer atau Billroth II. Selang duodenostomi mungkin
dipasang untuk dekompresi dan selang jejunustomi untuk pemberian
makanan. Trauma tumpul pada duodenum juga dapat menyebabkan
hematoma intramural, yang dapat mengarah pada obstruksi
duodenal. Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan diatrizoate
(Gastrografin) gastrointestinal atas. Obstruksi menyeluruh umumnya
memerlukan drainase pembedahan dari hematoma.
c. Cedera pada kolon
Cedera pada kolon biasanya berkaitan dengan trauma penetrasi.
Sifat dari cedera paling sering menuntut segera dilakukannya
operasi eksplorasi. Perbaikan primer adalah tindakan pilihan untuk
laserasi kolon. Pada beberapa keadaan, perlu dilakukan perbaikan
eksterior atau kolostomi. Selang sekostomi bisa dipasang untuk
dekompresi. Jaringan subkutan dan kulit pada tempat insisi mungkin
dibiarkan terbuka untuk mengurangi kemungkinan terjadinya infeksi
luka. Kolon mempunyai jumlah bakteri yang tinggi, tumpahnya isi
kolon dapat mencetuskan terjadinya sepsis intra abdominal dan
pembentukan abses.
Asuhan keperawatan pasca operasi difokuskan pada pencegahan
infeksi. Penggantian balutan penting untuk insisi terbuka dan
biasanya diberikan antibiotic profilaktik. Pada kasus perbaikan kolon
eksterior dan dilakukan anastomosis ujung ke ujung eksterior untuk
memudahkan identifikasi kebocoran. Kolon eksterior harus dijaga
agar tetap lembab dan ditutup dengan balutan yang tidak melekat
atau kantung untuk melindungi integritas jahitan. Karena sepsis
adalah komplikasi utama pada cedera kolon, mungkin diperlukan
serangkaian prosedur radiografi dan pembedahan untuk menemukan
dan mengalirkan abses.
d. Cedera pada hepar
Setelah limpa, hepar adalah organ abdomen yang paling umum
mengalami cedera. Baik trauma tumpul maupun trauma penetrasi
dapat menyebabkan cedera. Pasien dalam persentase yang kecil
dapat ditangani non operasi dengan serangkaian CT scan. Pada
banyak kasus, baik sifat dari cedera atau LPD positif atau CT scan
digabung dengan kondisi klinis pasien akan menuntut dilakukannya
pembedahan. Trauma hepatic dapat menyebabkan kehilangan
banyak darah ke dalam peritoneum, namun perdarahan dapat
berhenti secara spontan. Laserasi kecil dperbaiki, sedangkan cedera
lebih besar dapat memerlukan reseksi segmental atau debridement.
Pada kasus hemoragi tak terkontrol, hepar dibungkus. Setelah
dibungkus, abdomen ditutup atau hanya ditutup dengan penutup
(mesh). Prosedur pembedahan tambahan diperlukan dalam beberapa
hari kemudian untuk mengangkat pembungkus dan memperbaiki
laserasi. Cedera besar pada hepar juga memerlukan drainase empedu
dan darah pasca operasi melalui drain (Penrose, Davol, atau Jackso-
Pratt).
Setelah pembedahan, mungkin timbul syok hipovolemik dan
koagulapati. Hemostatis inkomplit juga mungkin terjadi dan harus
dibedakan dari perdarahan akibat koagulopati. Perdarahan hebat
karena hemostatis inkomplit mengharuskan kembali ke ruang operasi
untuk pengangkatan bekuan, pembungkusan, dan perbaikan
tambahan. Dengan koagulopati, perdarahan timbul dari berbagai
tempat, sedangkan dengan hemostatis inkomplit perdarahan terutama
berasal dari tempat pembedahan. Asuhan keperawatan termasuk
penggantian produk darah sambil memantau hematokrit dan
pemeriksaan koagulasi. Pengkajian tipe dan jumlah selang drainase
disertai keseimbangan cairan, juga adalah penting. Potensial
komplikasi dari cedera hepar termasuk abses hepatic atau
perihepatik, obstruksi atau kebocoran saluran empedu, sepsis,
ARDS, dan KID.
e. Cedera pada limpa
Limpa adalah organ abdomen yang paling umum mengalami
cedera, lebih sering sebagai akibat trauma tumpul. Adanya fraktur
iga kiri bawah dapat meningkatkan kecurigaan terhadap cedera
limpa. Tanda-tanda dan gejala-gejala yang ditunjukkan termasuk
dukungan nutrisi parenteral. Diberikan transfuse darah berulang,
namun hematokrit dan tekanan darah sistolik tetap rendah (Ht = 20-
25%, TDS = 90 mmHg). Perdarahan internal berkelanjutan
mengharuskan pasien kembali ke ruang operasi untuk tindakan
debridement dan pembungkusan ulang hepar. Sampai hari
berikutnya, perdarahan berhasil diatasi. Pembungkus lalu dilepaskan,
laserasi liver dapat diperbaiki dan dipasang selang drain.
Pada hari berikutnya, timbul tanda-tanda dan gejala-gejala
sepsis pada pasien, termasuk kenaikan suhu dan jumlah sel darah
putih, takikardia, takipnea, peningkatan curah jantung, penurunan
tahanan vascular sistemik, dan penurunan tingkat kesadaran. Biakan
diperoleh dan pemberian antibiotic dimulai. Kemudian berkembang
ARDS dan GGA, meningkatkan kebutuhan dukungan ventilator dan
hemodialisis.
Asuhan keperawatan intensif perlu untuk mengatasi gangguan
yang ada dan mencegah komplikasi lebih lanjut. Dukungan
psikososial bagi pasien dan keluarganya juga diberikan. Setelah
prosedur pembedahan ketiga untuk debridement jaringan nekrotik
dan mengalirkan abses perihepatik, akhirnya pasien mulai membaik.
Beberapa minggu kemudian, dukungan dialysis dan ventilator
dihentikan. Dua bulan setelah masuk rumah sakit, pasien keluar dari
unit rawat intensif, dan tiga minggu kemudian diperbolehkan
pulang.
6. Trauma Pelvik
a. Cedera pada Kandung Kemih
Kandung kemih dapat mengalami laserasi atau pecah, paling
sering sebagai konsekuensi trauma tumpul. Cedera pada kangdung
kemih sering kali berhubungan dengan fraktur pelvik.adanya
hematuria ( nyata atau mikroskopik ), nyeri abdomen bawah, atau
tidak mampuan berkemih memerlukan pemeriksaan terhadap cidera
uretra dengan uretrogram retrograd sebelum pemasangan kateter
urine. Cidera pada kandung kemih dapat mennyebabkan ekstravasasi
urine intraperitonial atau ekstraperitoneal. Ekstravasi
ekstraperitoneal sering dapat ditangani dengan drainase kateter urine
. ektravasi intraperitoneal, bagaimanapun memerlukan pembedahan.
Mungkin dipasang selang sistostomi suprapubik . komplikasi jarang
tejadi infeksi karena kateter urine atau sepsis akibat ekstra vasasi
urine.
b. Fraktur Pelvik
Fraktur pelvik yang kompleks berkaitan dengan mortalitas yang
tinggi. Hemoragi sekunder adalah penyebab yang paing sering dari
kematian dini, sedangkan sepsis menyebabkan penundaan mortalitas.
Radiografi dan scan CT dapat memastikan adanya dan menentukan
tingkat fraktur pelvik. Fraktur pelvik sering sering menyebabkan
laserasi pembuluh – pembuluh kecil yang mengeluarkan darah ke
dalam jaringan lunak pada rongga retroperineal. Areal ini meluas
dari difragma sampai ke pertengahan paha dan akan menampung
beberapa liter darah sebelum terjadi tamponade. Angiogram sering
kali diperlukan untuk menemukan letak dan menyumbat sumber
darah.
Kontrol terhadap hemoragi merupakan pokok permasalahan
primer. PASG mungkin dipasang pada fase prarumah sakit atau di
unit gawat intensif. PASG dapat membantu membelat pelvis dan
tamponade hemoragi, karena PASG menurunkan volume tidal, maka
ada kemungkinan dibutuhkan bantuan ventilator mekanik. Fiksasi
internal atau eksternal adalah lebih efektif dalam menstabilkan
fraktur juga dalam mengontrol perdarahan. selain itu, fiksasi dini
mengurangi nyeri dan membantu ambulasi lebih dini. Pembedahan
untuk mengontrol hemoragi mungkin juga diperlukan .
Perhatian utama dari perawat unit perawatan kritis adalah untuk
mencegah syok hemoragi. Tranfusi multiple dan pemantauan
hemodinamik diperlukan dalam kasus hemoragi yang signifikan.
Hematoma pelvik dapat menjadi sumberdari sepsis dan dapat
memerlukan drainase perkuata atau pembedahan. Komplikasi utama
lain dari fraktur pelvik termasuk keterlibatan saraf pelvik dan emboli
pulmonal. Penting untuk dilakukan terapi fisik yang berkepanjangan
dan rehabilitasi yang sering.
7. Trauma pada Ekstremitas
a. Fraktur
Fraktur sering terjadi pada trauma tumpul, kurang jarang pada
trauma penetrasi. Manakalah radiografi sudah memastikan adanya
fraktur, maka harus dilakukan stabilitas atau perbaikan fraktur.
Karena prosedur ortopedik akan memakan banyak waktu,sehingga
cidera lain yang mengancam jiwa harus terlebih dahulu di atasi, dan
operasi perbaikan dapat di tunda sampai masalah itu teratasi. Fiksasi
internal fraktur sering memungkinkan ambulasi dini pada pasien
dengan cidera multiple yang mungkin akan mengalami komplikasi
akibat tirah baring berkepanjangan (ulkus dekubitus, emboli
pulmonal, penyusutan otot).
Penatalaksanaan fraktur juga dapat dikerjakan dengan fiksasi
eksternal atau traksi skeletal . fraktur terbuka akan memerlukan
debridemen dengan pembedahan. Tanggung jawab keperawatan
termasuk pengkajian neurovaskular, sejalan dengan perawatan lika
dan pin. Fraktur terbuka mempunyai resiko tinggi terhadap infeksi.
Potensial komplikasi lainnya adalah emboli lemak dari fraktur tulang
panjang dan sindom kompartemen. Asuhan keperawatan harus di
arahkan terhadap pencegahan dan deteksi dini tentang masalah –
masalah ini. Perawat juga harus bekerja sama dengan terapis fisik
untuk meningkatkan kekuatan dan mobilisasi dini.
b. Dislokasi
Dislokasi menimbulkan rasa nyeri yang sangat hebat. Dislokasi
mudah dikenali karena adanya perubahan dari anatomi yang normal.
Dislokasi sendi umumnya tidak mengancam jiwa, tapi memerlukan
tindakan darurat karena apabila tidak dilakukan tindakan secepatnya,
akan menyebabkan gangguan pada daerah distal yang mengalami
dislokasi. Sangat sulit diketahui apakah fraktur disertai dengan
dilokasi atau tidak, maka sangat penting untuk mengetahui denyut
nadi, gerakan dan gangguan persyarafan distal dari dislokasi.
Kebanyakan tindakan yang baik untuk klien adalah menyangga dan
meluruskan ekstremitas ke posisi yang lebih menyenangkan untuk
klien dan membawanya ke pelayanan kesehatan yang terdapat
fasilitas ortopedi yang baik.
8. Cedera vaskular
Cedera vaskular seringkali mengakibatkan perdarahan atau
trombosis pembuluh. Cedera vaskular biasanya disebabkan oleh trauma
penetrasi, dan kurang sering karena fraktur. Ultrasonografi doppler seing
digunakan untuk mendiagnosa cedera vaskular perifer. Angiogram juga
dapat digunakan untuk menetukan tempat cedera dan mengidentifikasi
fistula arteriovenosa, psudoaneurisme, dan penutupan intima. Dilakukan
perbaikan pembedahan primer atau tandur vaskular. Segera setelah
periode pascaoperasi, terdapat resiko perdarahan berlanjut atau oklusi
trombotik dari pembuluh keduannya mengharuskan kembali kekamar
operasi.
Perawat harus mengkaji nadi distal, warna kulit, sensasi gerakan ,
dan suhu ekstrimitas yang cedera. Indeks ankel – brakial (ABI) serinkali
berguna dalam mendeteksi perkembangan oklusi setelah trauma
ekstrimitas bawah. Untuk meghitung nilai ABI, tekanan darah sistolik
pada pergelangan kaki di bagi dengan tekanan darah sistolik lengan .
penurunan ABI menunjukkan peningkatan gradien tekanan yang menembus
pembuluh. Metoda ini memberikan data yang lebih objektif ketimbang hanya
meraba nadi. Perawat juga harus memperhatikan perkembangan sindrom
kompartemen.
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Radiologi
a. Pemeriksaan X-Ray untuk screening trauma tumpul.
b. Rontgen untuk screening adalah Ro-foto cervical lateral, Thorax AP
dan pelvis AP dilakukan pada pasien trauma tumpul dengan
multitrauma. Rontgen foto abdomen tiga posisi (telentang, setengah
tegak dan lateral decubitus) berguna untuk melihat adanya udara
bebas dibawah diafragma ataupun udara di luar lumen
diretroperitoneum, yang kalau ada pada keduanya menjadi petunjuk
untuk dilakukan laparatomi. Hilangnya bayangan psoas
menunjukkan kemungkinan cedera retroperitoneal
2. Pemerikasaan X-Ray untuk screening trauma tajam
Pasien luka tusuk dengan hemodinamik yang abnormal tidak
memerlukan pemeriksaan X-Ray pada pasien luka tusuk diatas umbilicus
atau dicurigai dengan cedera thoracoabdominal dengan hemodinamik
yang abnormal, rontgen foto thorax tegak bermanfaat untuk
menyingkirkan kemungkinan hemo atau pneumothorax, ataupun untuk
dokumentasi adanya udara bebas intraperitoneal. Pada pasien yang
hemodinamiknya normal, pemasangan klip pada luka masuk maupun
keluar dari suatu luka tembak dapat memperlihatkan jalannya peluru
maupun adanya udara retroperitoneal pada rontgen foto abdomen tidur.
3. Pemeriksaan Laboratorium
a. Pemeriksaan darah lengkap untuk mencari kelainan pada darah itu
sendiri
b. Penurunan hematokrit/hemoglobin
c. Peningkatan Enzim hati: Alkaline fosfat,SGPT,SGOT
d. Koagulasi : PT,PTT
4. MRI
5. Angiografi untuk kemungkinan kerusakan vena hepatic
6. CT Scan
7. Radiograf dada mengindikasikan peningkatan diafragma,kemungkinan
pneumothorax atau fraktur tulang rusuk VIII-X.
8. Scan limfa
9. Ultrasonogram
10. Peningkatan serum atau amylase urine
11. Peningkatan glucose serum
12. Peningkatan lipase serum
13. DPL (+) untuk amylase
14. Peningkatan WBC
15. Peningkatan amylase serum
16. Elektrolit serum
17. AGD
G. PENATALAKSANAAN PRA HOSPITALDAN INTRA HOSPITAL
1. Pra Hospital
a. Seluruh penanganan penderita sebaiknya berlangsung dalam
koordinasi dengan dokter di rumah sakit.
b. Titik berat diberikan pada penjagaan airway, control perdarahan dan
syok, imobilisasi penderita dan pengiriman ke rumh sakit terdekat
yang cocok, sebaiknya ke suatu pusat trauma yng diakui.
c. Waktu di tempat kejadian (scene time) yang lama harus dihindari.
d. Mengumpulkan keterangan yang akan dibutuhkan di rumah sakit,
seperti waktu kejadian, sebab kejadian, dan riwayat penderita.
Mekanisme kejadian dapat menerangkan jenis dan berat perlukaan.
2. Intra Hospital
a. Dilakukan persiapan untuk menerima penderita, sehingga dapat
dilakukan resusitasi dalam waktu cepat.
b. Perencanaan sebelum penderita tiba, meliputi:
1) Ruangan/ daerah resusitasi
2) Perlengkapan airway (laringoskop, ETT) disiapkan dan dicoba
3) Cairan kristaloid (sudah dihangatkan)
4) Tenaga medic
5) Formulir rujukan ke pusat trauma
6) Proteksi: masker, kaca mata, baju kedap air, sepatu dan sarung
tangan kedap air, bila ada kontak dengan cairan tubuh penderita.
H. ASUHAN KEGAWATDARURATAN
1. Pengkajian Primer
a. Airway (jalan nafas)
Pemeriksaan jalan napas pada pasien multi trauma merupakan
prioritas utama. Usaha untuk kelancaran jalan nafas harus di lakukan
dengan cara clin lift atau jaw thrust secara manual untuk membuka
jalan nafas.
b. Breathing (dan ventilasi)
Semua penderita trauma harus mendapat suplai oksigen yang
tinggi kecuali jika terdapat kontrindikasi terhadap tindakkan ini.
Bantuan ventilasi harus dimulai jika usaha pernapasan inadekuat.
c. Circrulation (sirkulasi)
Jika ada gangguan sirkulasi segera tanggani dengan pemasangan
IV line. Dan tentukan status sirkulasi dengan mengkaji
nadi,mencatat irama dan ritmenya.
d. Disability (evaluasi neurologis)
Pantau status neurologis secara cepat meliputi tingkat kesadaran
dan GCS,dan ukur reaksi pupil serta tanda-tanda vital.
2. Pengkajian Sekunder
a. Kepala
1) Inspeksi dan palpasi keseluruhan kulit kepala ; hal ini penting
karena kulit kepala biasanya tidak terlihat karena tertutup
rambut.
2) Catat adanya pendarahan, laserasi memar, atau hematom.
3) Catat adanya darah atau drainase dari telinga. Inspeksi adanya
memar di belakang telinga.
4) Kaji respons orientasi pasien akan waktu,tempat,dan diri.
Observasi bagaimana pasien merespons pertanyaan dan
berinteraksi dengan lingkungan.
5) Catat adanya tremor atau kejang.
b. Wajah
1) Inspeksi dan palpasi tulang wajah.
2) Kaji ukuran pupil dan reaksinya terhadap cahaya. Catat apakah
lensa kontak terpasang ; jika ya lepaskan
3) Catat adanya darah atau drainase dari telinga, mata, hidung, atau
mulut.
4) Observasi bibir, daun telinga, dan ujung kuku terhadap sianosis.
5) Cek adanya gigi yang tanggal.
6) Cek adanya gigi palsu. Jika ada pasien mengalami penurunan
tingkat kesadaran atau gigi palsu mempengaruhi jalan nafas,
lepaskan ; lalu di beri nama dan simpan di tempat yang aman
(lebih baik berikan pada keluarganya).
7) Inspeksi lidah dan mukosa oral terhadap trauma.
c. Leher
1) Observasi adanya bengkak atau deformitas di leher.
2) Cek spinal servikal utuk devormitas dan nyeri pada palpasi.
Perhatikan jangan menggerakkan leher atau kepala pasien
dengan kemungkinan trauma leher sampai fraktur servikal sudah
dipastikan.
3) Observasi adanya deviasi trakea.
4) Observasi adanya distensi vena jugularis.
d. Dada
1) Inspeksi dinding dada untuk kualitas dan kedalaman pernafasan
dan untuk kesimetriasan pergerakan. Catat adanya segmen
flailchest.
2) Cek adanya fraktur iga dengan melakukan penekanan pada
tulang iga pada posisi lateral, lalu anterior dan posterior ;
manufer ini menyebabkan nyeri pada pasien dengan fraktur iga.
3) Catat keluhan pasien akan nyeri,dispnea,atau sensasi dada terasa
berat.
4) Catat memar, pendarahan, luka atau emfisema subkutaneus.
5) Auskultasi paru utuk kualitas dan kesimetrisan bunyi napas.
e. Abdomen
1) Catat adanya distensi, perdarahan, memar, atau abrasi,
khususnya di sekitar organ vital seperti limpa atau hati.
2) Auskultasi abdomen untuk bising usus sebelum mempalpasi
mengkaji secara benar.
f. Genetalia dan pelvis
1) Oservasi untuk abrasi, perdarahan, hematoma, edema, atau
discharge.
2) Observasi adanya gangguan kemih.
g. Tulang belakang
1) Mulai tempatkan satu tangan di bawah leher pasien. Dengan
lembut palpasi vertebrata. Rasakan adanya deformitas dan catat
lokasinya jika terdapat respon nyeri pada pasien.
2) Perhatian : jangan pernah membalik pasien untuk memeriksa
tulang belakang sampai trauma spinal sudah di pastikan. Jika
anda harus membalik pasien (misalnya luka terbuka) gunakan
tehnik log-roll.
3) Catat adanya keluhan nyeri dari pasien ketika mempalpasi sudut
costovertebral melewati ginjal.
h. Ekstremitas
Cek adanya pendarahan ,edema , nyeri ,atau asimetris tulang
atau sendi mulai pada segmen proksimal pada setiap ekstremitas
dan palpasi pada bagian distal.
3. Masalah keperawatan
a. (00132) Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik.
b. (00032) Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan nyeri,
hiperventilasi, deformitas tulang, deformitas dinding dada.
c. (00044) Keruskan integritas jaringan berhubungan dengan trauma
vascular, proedur pembedhan.
d. (00146) Ansietas berhubungan dengan ancaman pada status terkini.
4. Intervensi
TUJUAN DAN
DIAGNOSA INTERVENSI
KRITERIA HASIL
(00132) Nyeri akut Setelah dilakukan (1400) Manajemen Nyeri
berhubungan tindakan keperawatan a. lakukan pengkajian
dengan agen cidera …x 24 jam, diharapkan nyeri komprehensif
fisik. nyeri berkurang atau meliputi lokasi,
hilang. Dengan criteria karakteristik, durasi,
hasil: kualitas, dan
a. (160502) mengenali intensitas nyeri.
kapan nyeri terjadi b. Ajarkan teknik non
ditingkatkan dari farmakologi.
skala 2 (jarang c. Ajarkan metode
menunjukkan) ke farmakologi untuk
skalaa 5 (secara menurunkan nyeri.
konsisten d. Gunakan tindakan
menunjukkan). pengontrol nyeri
b. (160503) sebelum nyeri
menggunakan bertabah berat.
tindakan e. Dukung istrahat/ tidur
pencegahan yang adekuat untuk
ditingkatkan dari membantu
skala 2 (jarang menurunkan nyeri.
menunjukkan) ke
skalaa 5 (secara
konsisten
menunjukkan).
c. (160511) melaporkn
nyeri yang
terkontrol
ditingkatkan dari
skala 2 (jarang
menunjukkan) ke
skalaa 5 (secara
konsisten
menunjukkan).
(00032) Setelah dilakukan (3140) Manajemen Jalan
Ketidakefektifan tindakan keperawatan Nafas
pola napas …x 24 jam, diharapkan a. Posisikan pasien
berhubungan ketidakefektifan pola untuk
dengan nyeri, napas berkurang atau memaksimalkan
hiperventilasi, hilang. Dengan criteria ventilasi.
deformitas tulang, hasil: b. Masukkan NPA atu
deformitas dinding a. (041501) frekuensi OPA sebagaimana
dada. pernapasan mestinya.
ditangkan dari c. Motivasi psien untuk
skala3 (deviasi bernafas pelan.
sedang dari kisran d. Auskultasi suara
normal) ke skala 5 nafas.
(tidak ada deviasi e. Monitor status
dari kisaran normal). pernapasn daan
b. (041503) kedalaman oksigenasi,
inspirasi ditangkan sebagaimana
dari skala3 (deviasi mestinya.
sedang dari kisran
normal) ke skala 5
(tidak ada deviasi
dari kisaran normal).
c. (041522) suara nafas
tambahan
ditingkatkan dari
skala 3 (cukup) ke
skala 5 (tidak adda).
(00044) Keruskan Setelah dilakukan (3660) Perawatan Luka
integritas jaringan tindakan keperawatan a. Monitor kaakteristik
berhubungan …x 24 jam, diharapkan luka.
dengan trauma kerusakan integritas b. Singkirkan benda-
vascular, proedur jaringan berkurang atau benda yang tertanam
pembedhan. hilang. Dengan criteria pada luka.
hasil: c. Bersihkan dengan
a. (110115) lesi pada noral saline.
kulit ditingkatkan d. Oleskan salep yang
dari skala 2 (cukup sesuai dengan lesi.
berat) keskala 4 e. Berikan balutan yang
(ringan). sesuai.
b. (110117)Jaringan f. Pertahankan teknik
parut ditingkatkan balutan steril ketika
dari skala 2 (cukup melakukan perawatan
berat) keskala 4 luka.
(ringan).
c. (110123) nekrosis
ditingkatkan dari
skala 2 (cukup
berat) keskala 4
(ringan).
(00146) Ansietas Setelah dilakukan (5820) Pengurangan
berhubungan tindakan keperawatan Kecemasan
dengan ancaman …x 24 jam, diharapkan a. Gunakan pendekatan
pada status terkini. ansietas berkurang atau yang tenang dan
hilang. Dengan criteria meyakinkan.
hasil: b. Berikan informasi
a. (121105) perasaan factual terkait
gelisah ditingkatkan diagnosis, perawatan,
dari skala 3 (sedang) dan prognosis.
ke skala 5 (tidak c. Berikan objek yang
ada). memberikan perasaan
b. (121119) aman.
peningkatan tekanan d. Kaji untuk tanda
darah ditingkatkan verbal dn non verbal
dari skala 3 (sedang) kecemasan.
ke skala 5 (tidak
ada).
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Multi trauma adalah keadaan yang di sebabkan oleh luka atau cedera
definisi ini memberikaan gambaran superficial dari respon fisik terhadap
cedera, trauma juga mempunyai dampak psikologis dan social. Trauma dapat
disebabkan oleh benda tajam, benda tumpul, atau peluru. Akibat cedera ini
dapat menyebabkan cedera muskuloskeletal dan kerusakan organ. Trauma
terjadi dalam 3 fase : Fase pertama berlangsung beberapa jam setelah
terjadinya trauma. Dalam fase ini akan terjadi kembalinya volume sirkulasi,
perfusi jaringan, dan hiperglikemia. Pada fase kedua terjadi katabolisme
menyeluruh, dengan imbang nitrogen yang negative, hiperglikemia, dan
produksi panas. Pada fase ketiga terjadi anabolisme yaitu penumpukan
kembali protein dan lemak badan yang terjadi setelah kekurangan cairan dan
infeksi teratasi. Rasa nyeri hilang dan oksigenasi jaringan secar keseluruhan
sudah teratasi.
Penilaian awal pasien trauma terdiri atas survei primer dan survei
sekunder. Pada survei primer terdapat proses penilaian, intervensi, dan
evaluasi yang berkelanjutan. Komponen survei primer adalah sebagai berikut
A: Airway (jalan napas), B: Breathing (pernapasan), C: Circulation
(sirkulasi), D: Disability (defisit neurologis), E: Exposure and environmental
control (pemaparan dan kontrol lingkungan). Pada survei sekunder
pemeriksaan lengkap mulai dari head to toe. Dalam pemeriksaan survei
sekunder ini apabila didapatkan masalah, maka tidak diberikan tindakan
dengan segera. Hal-hal tersebut dicatat dan diprioritaskan untuk tindakan
selanjutnya. Untuk mengingat survei sekunder ialah huruf F ke I. F: Full Set
of Vital Signs, Five Interventions, and Facilitation of Family Presence
(Tanda-tanda vital, 5 intervensi, dan memfasilitasi kehadiran keluarga).

B. SARAN
Yang harus dilakukan perawat terlebih dahulu saat menangani pasien
multi trauma yaitu mempertahankan jalan napas, memastikan pertukaran
udara secara efektif, dan mengontrol pendarahan. Perawat harus melakukan
pendekatan primary dan secondary survey. Pendekatan ini berfokus pada
pencegahan kematian dan cacat pada jam-jam pertama setelah terjadinya
trauma. Dalam pendekatan primary, perawat melakukan Airway (jalan
napas), Breathing (pernapasan), Circulation (sirkulasi), Disability (defisit
neurologis), dan Exposure and environmental control (pemaparan dan kontrol
lingkungan).
DAFTAR PUSTAKA

Bulechek, Gloria M, et al. 2013. Nursing Interventions Classification (NIC).


ELSEVIER
Depkes RI. 2015. Hasil Utama Riskesdas 2015. Kementerian Kesehatan Badan
peenelitian dan Pengembangan Kesehatan
Depkes RI. 2017. Hasil Utama Riskesdas 2017. Kementerian Kesehatan Badan
peenelitian dan Pengembangan Kesehatan
Ikatan Ahli Bedah Indonesia. Komisi Trauma (IKABI). 2014. Advanced Trauma
Life Support for Doctors. America Collage of Surgeon Committee on Trauma
Kartikawati, Dewi. 2014. Buku Ajar Dasar-Dasar Keperawatan Gawat Darurat.
Jakarta: Salemba Medika
Moorhead, Sue, et al. 2013. Nursing Outcomes Classification (NOC). ELSEVIER
NANDA-I. 2017. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2018-2020.
Jakarta: EGC